Audio Book: Interview with the Robot

Udah tau belum, Audible dari Amazon menggratiskan bagian cerita untuk anak-anaknya? Isinya selain buku cetak yang dinarasikan, ada juga beberapa buku yang memang terbitnya berupa buku suara alias audio book saja. Audible stories ini bisa diakses dari laptop, komputer, handphone, ataupun tablet dengan menggunakan browser tanpa menginstal aplikasinya.

Dengerin buku gratis selama sekolah di rumah di https://stories.audible.com/start-listen

Kalau sudah bosan dengan semua buku yang ada di rumah, atau bosan dengan tontonan Netflix, atau kepengen variasi kegiatan bersama anak, bisa dicoba untuk mendengarkan audio book bersama.

Lanjutkan membaca “Audio Book: Interview with the Robot”

Belajar ala Joshua

Saya termasuk beruntung, tidak perlu susah payah mengenalkan huruf, angka dan membaca ke Joshua. Saya lupa persisnya sejak umur berapa dia menunjukkan ketertarikan dengan huruf dan angka. Tapi di umur belum 5 tahun, dia masih suka sekali dengan huruf dan angka dan sudah bisa membaca.

Nggak ke sekolah bukan berarti gak belajar. Anak-anak belajar dari bermain. Jadi untuk orangtua yang anaknya masih di bawah 6 tahun, gak usah pusing dengan tugas berjibun dari sekolah. Anak gak akan belajar kalau dipaksa, mending juga diajak main.

Beberapa mainan yang selalu dimainkan oleh Joshua tanpa bosan dalam mempelajari huruf dan angka. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk masa-masa di rumah saja ini. Sebagian besar mainan sudah kami punya dari Jonathan kecil, tapi rasanya Joshua lebih banyak memainkan semuanya tanpa bosan.

Kalaupun di rumah saja, saya belum mengatur apa saja yang harus dikerjakan Joshua. Biasanya dia akan memilih sendiri apa yang dia mau. Rumah berantakan tidak masalah, selesai bermain bisa diajak untuk merapihkan. Berikut ini beberapa mainan yang sering dimainkan Joshua siapa tahu bisa jadi inspirasi dalam masa social distancing

LEGO

main lego juga bisa untuk belajar huruf

Lego selain bisa membentuk-bentuk sesuai petunjuk, bisa juga untuk dipakai bikin huruf dan angka. Kalau anak suka dengan hal yang lain, ajak dia membentuk hal-hal lain dengan menggunakan lego.

Lanjutkan membaca “Belajar ala Joshua”

Pythagoras dan Menghitung Akar Kuadrat

Catatan: tulisan ini bukan penjelasan rumus pythagoras ataupun cara mencari akar kuadrat, tapi tentang anak yang suka iseng menghitung apa saja untuk latihan soal.

Anak-anak senang sekali bermain di kamar kerja papanya. Mereka kadang-kadang ikut sibuk mengganggu papanya yang sibuk sementara mamanya pura-pura sibuk di dapur atau kadang memang lagi sibuk nulis blog. Ceritanya, papanya baru beli monitor komputer. Jadi tadi dia sibuk mengukur-ukur monitor papanya dan menghitung-hitung di kertas. Saya pikir: kenapa tidak langsung diukur pakai meteran juga diagonalnya? Tapi ya begitulah, kadang-kadang Jonathan suka menantang dirinya sendiri.

Ternyata, Jonathan terinspirasi untuk menghitung diagonal dari monitor itu dengan menerapkan rumus pythagoras dan menghitung akar kuadrat yang dipelajari dari buku The Murderous Maths yang dia baca. Selesai menghitung, dia melaporkan ke papanya, dan papanya cerita ke saya.

Lanjutkan membaca “Pythagoras dan Menghitung Akar Kuadrat”

Kosa kata Bahasa Indonesia Jonathan

Sejak kecil, Jonathan sudah kami ajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Di masa awal, dia sudah bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari lagu-lagu yang dia dengarkan dan buku yang kami bacakan.

Sekitar umur 3,5 tahun, kami masukkan Jonathan ke preschool Thai, dan dia pun mulai bisa berbahasa Thai selain Indonesia dan Inggris.

Setelah umur 4,5 tahun, kami masukkan dia ke sekolah Australia yang hanya menggunakan bahasa Inggris. Sejak saat itu, Jonathan hanya mau berbicara bahasa Inggris (dengan aksen Australia) dan semakin jarang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Thainya.

Sejak mulai homeschool, Jonathan mulai lagi berbicara bahasa Indonesia di rumah selain menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Thainya tetap jadi nomor 3 karena dia tidak punya teman bermain orang Thai (teman Thainya bisa berbahasa Inggris juga). Teman-temannya dari berbagai negara di grup homeschool umumnya bisa berbahasa Inggris. Jadi kalau di luar dia menggunakan bahasa Inggris, sedangkan di rumah bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris.

Setelah beberapa tahun homeschooling, Jonathan sudah semakin bisa berbicara bahasa Indonesia, tapi untuk membaca sampai sekarang (umur 9 tahun) saya belum ajari secara khusus. Kadang-kadang dia sudah mulai bisa membaca teks bahasa Indonesia, tapi dengan nada membaca yang agak aneh terdengar hehehe.

Hari ini, berhubung di Jakarta sedang banyak kegiatan sekolah di rumah, dan banyak aplikasi bahasa Indonesia untuk belajar yang digratiskan, saya pikir ini kesempatan yang tepat untuk mencobakan bagaimana kalau Jonathan harus sekolah dengan materi yang berbahasa Indonesia.

Jadi tadi pagi, dia duduk manis menonton depan handphone dan merasa bosan. Sesekali dia akan bertanya: ini apa artinya? itu apa artinya? Dan sayapun menyadari masih banyak sekali kosa kata bahasa Indonesia yang belum pernah Jonathan dengar.

Percakapan kami sehari-hari tidak pernah membicarakan kata-kata: pemulung, ataupun sumber daya alam, budi daya, unggul, deklamasi, makanan pokok dan banyak kata-kata yang ternyata saya juga butuh lama berpikir untuk menjelaskan dengan mudah.

Walaupun banyak tidak mengertinya, Jonathan mau mencoba mengerjakan soal latihan. Saya hanya menyuruh dia menonton kelas streaming pagi, tapi tanpa disuruh dia malah mengerjakan soal latihan Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA terpadu, sambil sesekali bertanya ini apa itu apa. Latihan soal yang dia kerjakan juga bukan dari materi yang dia tonton paginya, tapi ya saya biarkan saja.

Dari pelajaran hari ini, saya jadi tahu bagaimana meningkatkan kosa kata bahasa Indonesia Jonathan. Kasih aja terus soal latihan berbahasa Indonesia selama dia mau. Kalau ada yang tidak jelas jawabannya, bisa cari di wikipedia.

Hari ini dia jadi belajar apa saja makanan pokok di Indonesia selain nasi. Dia juga belajar batu bara itu bahasa Inggrisnya apa, dan berasal dari fosil apa batu bara itu. Ada juga pertanyaan mengenai pohon Jarak, yang mana saya juga tidak tahu apa bahasa Inggrisnya pohon jarak. Dan dia juga belajar apa kegunaan dari jahe, kunyit, dan daun jarak dan daun jambu biji.

Senangnya belajar homeschool itu ya begini. Minggu ini memang saya masih meliburkan dia dari kurikulum utama yang kami pakai, tapi tentunya akan saya pakai kesempatan untuk menambah kosa kata bahasa Indonesia sambil menambah pengetahuan umum yang mungkin tidak pernah saya ajarkan sebelumnya.

Sekolah di Rumah

Catatan: Tulisan ini tidak sedang memperdebatkan definisi homeschool, sekolah di rumah, home based education, distance learning, online learning, learning from home dan metode-metode yang menyebabkan anak belajar di rumah di bawah pengawasan orangtua.

Beberapa hari belakangan ini, saya banyak baca pengumuman di berbagai belahan dunia termasuk di DKI Jakarta mengenai sekolah ditutup dan kegiatan belajar dipindahkan di rumah sebagai salah satu langkah mencegah penyebaran virus covid-19. Berbagai reaksi dari orangtua dan siswa bermunculan.

Saya tidak tahu bagaimana nantinya pelaksanaan dari kegiatan belajar di rumah. Mungkin ada yang dalam bentuk memberikan lembaran kerja untuk dikerjakan di rumah seperti PR tapi lebih banyak dari biasanya. Mungkin ada yang mengadakan pelajaran streaming online – walaupun untuk hal ini saya tidak yakin kesiapan bandwith dari sekolah maupun dari setiap murid. Mungkin akan ada juga di mana orangtua harus mengambil dan mengantarkan hasil kerja anaknya setiap hari. Yang jelas, bagaimanapun pelaksanaannya, orang tua akan jadi lebih repot daripada sebelumnya.

Bagaimana kalau kedua orangtua harus bekerja seharian? Di beberapa negara, selain sekolah ditutup, pegawai kantor juga diperintahkan untuk bekerja dari rumah. Dengan asumsi ini, orangtua bisa mengawasi anaknya untuk mengerjakan pelajaran sekolahnya. Tapi bagaimana kalau kantor orangtuanya masih wajib masuk kerja? siapa yang akan mengawasi kegiatan belajar anak di rumah?

Lanjutkan membaca “Sekolah di Rumah”

Ketika Joshua Ada Maunya

Polusi di Chiang Mai sudah membuat kami lebih sering di rumah saja daripada keluar rumah. Musim panas juga bikin tambah malas keluar rumah. Tapi sepertinya Joshua mulai bosan di akhir pekan kalau hanya di rumah saja. Entah ide dari mana, dia mengajak papanya untuk mencari tulisan atau bentuk ABC di sekitar lingkungan rumah. Dia menyebutnya Nature Walk ABC. Beberapa kali karena polusi, kami menolak ajakannya. Ketika polusinya hanya di level moderate, papanya ajak dia jalan keliling komplek.

Saya tidak suka memakai masker, dan Joshua juga tidak suka memakai masker. Memang memakai masker ini tidak nyaman. Makanya kami juga mengurangi jalan-jalan di luar rumah dan memilih di rumah saja dengan memasang filter udara. Kami sudah berusaha menjelaskan sebelumnya, tapi setiap kali kami pasang maskernya, Joshua akan langsung melepaskannya.

Yay, akhirnya mau juga Joshua pakai masker ketika polusi
Lanjutkan membaca “Ketika Joshua Ada Maunya”

Buku Anak-Anak di iPusnas

Kali ini mau review beberapa buku anak-anak yang pernah dipinjam di iPusnas. Buat yang belum tahu apa itu iPusnas, bisa baca posting saya yang lama di sini. Jonathan memang belum lancar baca bahasa Indonesia, tapi kalau tidak dilatih dari sekarang, kapan lagi belajarnya.

Saya senang sekali menemukan beberapa buku anak-anak di iPusnas ternyata memakai 2 bahasa: Inggris dan Indonesia. Jadi saya berikan tugas ke Jonathan untuk membacanya. Dari setiap buku yang dia baca, saya minta Jonathan menuliskan minimum 10 kata bahasa Indonesia yang dia rasa baru untuknya.

Biasanya, untuk memberikan kenyamanan membaca buku digital, kami membacanya di tablet yang ukurannya cukup besar. Layar handphone tidak cukup besar untuk anak-anak. Jadi kami akan meminjamkan tablet yang tidak terinstal aplikasi sosial media, supaya ketika membaca tidak ada gangguan dari berbagai notifikasi lainnya.

Sejauh ini saya perhatian ada 2 pengarang yang karyanya saya suka dan berikan untuk dibacakan ke anak-anak: Watiek Ideo dan Arleen Amidjaja. Karya-karya mereka selain menggunakan 2 bahasa, ilustrasinya juga bagus dan kosa kata yang digunakan tergolong mudah untuk anak-anak, apalagi yang baru belajar membaca.

Setiap cerita dari karya mereka juga mengajarkan sesuatu ke anak dan ada pesan moralnya. Untuk yang lebih suka membeli buku fisik, beberapa dari buku ini juga memberikan kegiatan untuk dikerjakan anak-anak. Tapi untuk kami yang akses beli buku cuma setahun sekali, meminjam di ipusnas merupakan pilihan yang sangat membantu.

Lanjutkan membaca “Buku Anak-Anak di iPusnas”