Chiang Dao

Hari ini, kami jalan-jalan ke Chiang Dao bareng temen-temen Indonesia di Chiang Mai. Cuma 4 keluarga Indonesia, ga sebanyak rencana semula. Tapi ada 1 teman dari teman, keluarga Thai Singapura, jadi total ada 9 orang dewasa dan 7 anak-anak berusia antara 3.5 tahun – 8 tahun.

Doi Chiang Dao

Chiang Dao lokasinya gak jauh dari Chiang Mai sekitar 80 km atau 1.5 jam driving, tapi ini kali pertama buat kami ke sini. Kami berangkat santai, sekitar jam 10 dari rumah, dan karena berhenti dulu di jalan, kami sampai di penginapan sekitar jam 12 siang. Kami menginap di Chiang Dao Story Camp,  tidak jauh dari tujuan wisata Chiang Dao Cave.

Sebagian dari rombongan memilih tenda dan sebagian tinggal di bungalow sederhana. Setelah menurunkan bawaan, kami memutuskan untuk makan siang di dekat tempat wisata tujuan utama di Chiang Dao, Selesai makan dan istirahat, sekitar jam 2.30 kami pun memutuskan masuk ke Goa di Chaing Dao.

Bungalow di Chiang Dao Story Camp

Sebenarnya, saya dan Joe bukan orang yang terlalu suka adventure, tapi kami pikir, ya sesekali melihat goa supaya Jonathan melihat stalaktit dan stalagmit dan juga kami pikir kebanyakan tempat wisata di Thailand sudah cukup dirapihkan, jadi tidak akan terlalu sulit. Tapi ternyata….cukup sulit hahaha.

Biaya masuk ke dalam Goa, harga Thai 20 baht, harga asing 40 baht, anak-anak gratis. Di dalam goa, kami bisa menyewa guide yang juga akan membawakan lampu petromax. Biaya guide 200 baht untuk 5 orang, dan lampunya 200 baht. Karena kami ada 9 orang dewasa, kami menyewa 2 orang guide (2 lampu). Oh ya, bagian goa ini ada 2, bagian yang masih sangat asli tanpa lampu dan bagian yang sudah dipasang lampu di sepanjang goanya.

Awalnya jalannya cuma naik tangga biasa, saya pikir, oke ini cuma bakal capek naik turun saja,. Lalu di bagian dalam, mulailah jalannya pun tidak rata dan kadang agak licin. Lalu ada bagian di mana kami harus menunduk untuk bisa masuk ke bagian goa berikutnya. Ada 3 pintunya dan bagian pertamanya merupakan pintu paling gampang.

Explorasi Goa sambil gendong anak 22 kg.

Pintu ke-2 berupa lorong sekitar 1 meter. Untuk melewati bagian ini, bener-bener perlu keterampilan merangkak. Kalau ga malu sama yang lain, saya sudah pengen balik kanan pulang hahaha. Ternyata pintu masuk goa ke-3 lebih sulit lagi karena walau lorongnya agak lebih besar dari yang sebelumnya, tapi ternyata lorongnya lebih panjang. Di bagian ini, saya salut dengan Joe yang bisa sambil bawa Joshua melewati lorong goa nya.

Selanjutnya rutenya cukup mudah. Dalam hati saya cukup yakin jalan keluar goa nya pasti bukan dari jalan yang sama dengan masuk dan akan lebih mudah rutenya. Asumsi saya ada benarnya, tapi ternyata tidak lebih mudah karena kami harus turun melewati tangga yang cukup terjal, yang untungnya sebagian besar ada pegangannya (sebagian hanya cukup 1 orang lewat dan sebagian anak tangga sangat tinggi bahkan untuk saya. Di bagian ini saya pikir, mungkin lebih mudah kalau keluar dari jalan masuknya tadi, saya salut melihat guidenya bisa melewati rute dalam goa dengan memakai sendal jepit!.

Singkat cerita, sampai di luar goa kami ditawarkan untuk melihat bagian goa yang sudah terpasang lampu-lampunya. Tapi ya semua sudah letih, terutama Joe yang sebagian besar harus menggendong Joshua yang sudah 22 kg. Salut dengan Joe bisa turun tangga sambil gendong anak. Salut juga dengan Jonathan bisa turun tangga yang sangat curam (kayaknya saya lebih deg2an dibanding Jonathan).

Sampai penginapan, sorenya kami makan bersama barbeque-an. Teman-teman rombongan sangat berpengalaman mempersiapkan acara begini. Mereka sudah mempersiapkan daging dan sayur-sayuran untuk dipanggang dan saya bisa tinggal makan hehehe. Bersyukur kalau hari ini cuacanya cerah dan tidak hujan seperti prakiraan cuaca pada saat kami memutuskan untuk jadi jalan-jalan hari ini.

Oh ya, sedikit catatan, walaupun ada iklan 4G di pintu masuk goa, tapi Joe mengecek begitu masuk ke dalam bagian goa yang gelap, gak ada tuh koneksi internet sama sekali hehehe. Kirain iklannya itu menunjuukan mereka sudah memasang hotspot di banyak tempat di dalam goa.

Secara keseluruhan, pengalaman hari ini anak-anak cukup enjoy berlari-larian dan bermain bersama. Tapi kayaknya saya ga akan masuk goa di Thailand lagi sampai anak-anak cukup mandiri dan bisa membantu saya nantinya hahahaha.

DIY Workshop di McDonald’s

Hari ini Jonathan ikutan workshop di Mc Donald’s bareng anak-anak grup homeschooling Thai. Ceritanya beberapa minggu lalu saya kepikiran gimana caranya ya biar Jonathan punya teman berlatih ngobrol Thai, soalnya tetangga rumah kami anaknya sudah agak besar dan jam keluar rumahnya jarang bareng dengan Jonathan. Hasil dari nanya ke temen yang ikutan co-op tapi orang Thai, saya disarankan gabung ke grup homeschooling orang Thai. Tadinya agak ragu-ragu karena sampai sekarang baca bahasa Thai buat saya itu masih sering malasnya daripada memaksakan diri baca. Tapi ya masa sih anak disuruh belajar, sendirinya ga maju-maju belajar baca Thainya. Akhirnya sayapun masuk FB group yang isinya semua pake bahasa Thai.

Gak berapa lama bergabung, saya baca pengumuman mengenai workshop ini. Ada 3 paket harga yang ditawarkan, dan harganya seperti kita beli paket burger untuk di makan sendiri. Saya penasaran, kira-kira workshopnya ngapain aja ya? karena saya lihat anak-anak yang daftar workshop, rata-rata antara 5 dan 6 tahun. Saya pikir, ga mungkin dong mereka diajak goreng-gorengnya di McD.

Hari ini, sekitar jam 11 siang kami sudah tiba di lokasi workshop. Pertama kami harus daftar, memilih paket mana yang ingin dikerjakan dan bayar di tempat. Sembari menunggu semua yang sudah daftar sebelumnya hadir, anak-anak diberi kertas dan crayon untuk mewarnai. Beberapa anak langsung mewarnai dengan tekun.

Sekitar jam 11.20, anak-anak diminta berbaris berdasarkan ketinggian. Anak-anak dibagi dalam 2 grup, mereka akan diajak untuk tour melihat dapurnya Mc Donald. Sayangnya bagian yang ini saya dan orangtua lainnya ga ikutan, jadi ga tahu persisnya ada apa saja di dapurnya Mc Donald. Setiap kelompok di minta untuk berbaris memegang bahu teman di depannya dan berjanji untuk tidak memegang benda-benda di dapur dan tekun mendengarkan. Salah satu bagian yang saya sempat lihat, di bagian Mc Cafe nya, ada lemari es dan juga mesin untuk susu, minuman pepsi dan lain-lain.

Kalau dari cerita Jonathan, mereka juga masuk ke ruangan freezernya, dan juga dijelaskan mengenai proses menerima proses drive thru. Kataya dijelaskan ada sensor untuk mengetahui ada mobil yang datang memesan. Anak-anak di bawa keluar untuk melihat titik drive thrunya. Bagian ini Jonathan kemungkinan sudah hapal, karena beberapa kali kami mampir beli drive thru walau itu sekedar beli ice cream cone hehehe. Saya juga lihat anak-anak diberi penjelasan mengenai mesin kasirnya. 

Sekitar jam 11.50, anak-anak dimnta kembali duduk dan diberikan video mengenai Mc Donald di Thailand. Sebelum memulai workshop menyusun burger, mereka diberi kuis berdasarkan video yang ditonton dan diberi hadiah bukut tulis kecil apabila menjawab dengan benar. Di luar dugaan saya, walaupun videonya menggunakan audio bahasa Thai, tapi karena ada informasi tertulis dalam bahasa Inggris, Jonathan cukup mengingat beberapa fakta, dan berhasil menjawab pertanyaan pertama mengenai tahun berapa Mc Donald masuk ke Thailand. Saya dan beberapa orang tua lain ga nyimak bagian yang itu, dan Jonathan duluan angkat tangan dan menjawab 1985.

Ada yang unik dengan cara memberi kuis di sini. Anak-anak di minta untuk mendengarkan pertanyaan dan memegang kupingnya selama pertanyaan diajukan. Lalu siapa yang tahu jawabannya dipersilahkan mengangkat tangannya. Mungkin cara ini bukan cara baru, tapi buat saya, hal ini baru dan masuk akal. Dengan memegang kupingnya, kita yakin anak-anak  memasang kuping mendengarkan pertanyaan. 

Setelah beberapa pertanyaan diajukan, akhirya sampai juga ke bagian workshop yang dinanti-nantikan yaitu mempersiapkan burger. Saya jadi baru tau juga bagaimana mereka menyusun burger dan membungkusnya. Pertama sisi atas roti burger adala sisi yang diberikan saus tomat dan saus paprika. Lalu susun sayuran selada dan tomat di atas saus tadi. Bagian daging burger di letakkan di sisi bawah burger, lalu di tangkupkan ke sisi yang sudah ada sayuran dan tomat. Berikutnya untuk melipat bungkusan burger, letakkan burger di tengah dalam keadaan terbalik dan kertas dengan orientasi portait, lalu sisi kertas yg dekat ke kita di lipat ke bagian atas burger. Lalu burger di balikkan sambil melipat kertas. Setelah burger tiak terbalik lagi dan berada di tengah kertas, sisi kanan dan kiri kertas bisa dilipat ke bagian bawah burger.  Dan selesailah sudah mempersiapkan burger dan siap untuk disajikan.

Mungkin karena umur anak-anaknya masih kecil-kecil, mereka tidak diajak untuk mengiris sayur, tomat ataupun memanggang roti dan patty untuk burgernya. Semua hal-hal tersebut sudah dipersiapkan oleh pegawai Mc Donald nya. Dipikir-pikir, hal sederhana begitu saja anak-anak sudah senang ya. Melihat bagaimana dapurnya dan belajar mempersiapkan burger sambil memai celemek dan topi chef. Dan diakhir, tentu saja makan burger yang mereka persiapkan plus french friesnya. Kegiatan workshop diakhiri foto bersama dan pemberian sertifikat.

Selesai workshop, tentunya anak-anak bermain-main di ruangan bermain yang ada di Mc Donald. Jonathan cukup enjoy dengan kegiatan hari ini, pulang ke rumah jam 2 siang dia langsung tidur siang. Senangnya lagi, karena dia bisa dapat beberapa teman baru. Beberapa keluarga homeschool Thai cukup bisa berbahasa Inggris. Saya sih tadi ngobrol pake bahasa Thai, kalau obrolannya ga rumit-rumit amat, saya masih bisalah ngerti mereka ngobrolin apaan hehehe. 

Cukup positif dengan pengalaman bareng homeschoolers Thai hari ini. Kegiatannya menarik, gak mahal, semua happy dan saya senang dapat beberapa teman baru untuk kembali mengasah bahasa Thai saya yang sudah lama ga bertambah vocabularynya. Semoga lain kali ada kegiatan lainnya yang juga cocok untuk Joshua dan mereka bisa berlatih bahasa Thainya juga.

Sensory Play

Di group homeschooling term ini, saya kebagian ngajar kelas sensory play untuk anak umur 3 dan 4 tahun. Sebenarnya ada banyak sekali ide-ide yang bisa di lihat di internet, tapi umumnya ide yang ada itu banyak yang settingnya lebih cocok di rumah, karena habis main akan berantakan sekali. Akhirnya setiap minggunya cari ide yang ga terlalu berantakan dan kira-kira ga terlalu lama mempersiapkannya. 

Sesuai namanya, kelas sensory ini intinya bermain-main yang menstimulasi sensori/panca indra anak. Jadi bisa berupa mainan yang menstimulasi indra peraba (telapak tangan dan kaki), indra pengecap (lidah), indra penglihatan (mata) dan indra penciuman (hidung) dan indra pendengaran (kuping). Kalau mau tahu lebih banyak mengenai stimulasi sensory dan permainan untuk sensory ini bisa di google, hasilnya sebenarnya hal-hal yang sering kita mainkan sehari-hari.

Berikut ini beberapa kegiatan yang kami lakukan. Sejauh ini ada 10 kali pertemuan. Tiap pertemuan berlangsung selama 50 menit. Jumlah murid dalam kelas berkisar antara 5 sampai 8 anak. Untungnya saya dibantu oleh 2 orang tua lainnya, jadi kalau ada anak yang ga tertarik dengan kegiatan yang saya persiapkan, mereka tetap bisa diperhatikan dan gak mengganggu kelas.

Mainan dengan squishy bag. Persiapannya malam sebelumnya tepung dicampur air di kasih warna, terus dimasukkan ke dalam ziploc. Selain tepung berwarna ini di masukkan googly eyes atau beads warna warni. Anak-anak senang disuruh mencari-cari googly eyes atau beads dan juga cukup senang menggeser-geser isi dari ziplocnya yang tentunya sudah diamankan dengan lakban di pinggirannya supaya isinya ga keluar. Sayangnya kelas ini saya ga foto sama sekali. Idenya saya dapat dari wesbsite ini.

Salah satu kesempatan, saya minta anak-anak tracing telapak tangannya. Lalu kami bantu memberikan lem dan mereka bisa menempelkan pom pom untuk menghias tangan masing-masing. Saya instruksinya mereka tracing 1 tangan saja, tapi anak-anak itu ada yang minta untuk ditracing 2 tangan.

tracing tangan lalu dihias pom pom

Salah satu kegiatan yang juga anak-anak senang adalah mencicipi buah. Waktu itu saya bawa buah mangga, pepaya dan pisang yang sudah saya potong-potong dari rumah. Mereka yang biasanya berlari-larian ga selalu mau dengarin saya duduk manis nunggu giliran disuapin buah hahaha. Ada anak yang suka hanya buah tertentu, ada juga yang suka semua buah, tapi sebelum mereka makan, tentunya saya tanya dulu warnanya apa dan baunya bagaimana, baru ditanyakan rasanya apa.

Salah satu sesi kelas, saya ajak anak-anak bikin butterfly dari cetakan tangan. Anak-anak menghias kupu-kupu dengan washi tape. Bagian yang ini gabungan antara sensory peraba dan penglihatan karena washi tapenya ada bermacam patternnya selain mengkilat-kilat.

Mingggu berikutnya saya bawa balon, balonnya saya isi pompom lalu ditiup. Balon lainnya diisi dengan biji kacang hijau, ada juga balon yang saya isi garam. Lalu mereka membanding-bandingkan bunyinya. Di akhir kelas, mereka mainan balon yang saya tiup. Sayangnya karena minggu berikutnya ada salah satu orangtua yang alergi latex, jadilah dilarang bawa balon ke kegiatan homeschooling.

Pernah juga saya bawa bola-bola dari rumah, niatnya bola itu ditempelkan ke kertas contact. Kertas ini seperti stiker besar yang ukurannya sekitar 50 cm x 1 m. Tapi anak-anak ternyata ga suka dengan sensasi yang terlalu sticky. Saya pernah juga coba tempelkan beberapa pompom di atas kertas stiker, lalu anak-ana diminta jalan di atasnya, sebagian besar anak menolak dan menghindari berjalan diatas kertas stiker.

menempelkan bola di kertas stiker

Kelas yang bikin semua aktif berpartisipasi itu bermain playdough, pinginnya setiap minggu kasih main playdough biar ga capek ngajar hahaha. Tapi masalahnya selesai bermain playdough ini effort untuk bershinnya banyak. Apalagi kalau kita ga perhatikan, tau-tau playdoughnya udah nempel ke karpet di sana. Mainnya mereka seru, bersihinnya setelah main ga seru buat gurunya hahaha.

Ada lagi kegiatan yang anak-anak suka, mewarnai dengan cat air. Untuk mencegah potensi berantakan, mewarnainya di dalam ziploc. Idenya print gambarnya, masukkan ke dalam ziploc beserta warna yang ingin dicampurkan. Anak-anak disuruh meratakan catnya sesuai dengan gambarnya. Setelah selesai tunggu kering lalu gunting mengikuti gambar. 

Minggu lalu saya ingat, kami bermain lomba meniup pompom. Jadi awalnya saya ajarkan anak-anak meniup udara dan merasakan tiupannya di tangannya. Lalu kalau sudah bisa, saya ajak mereka meniup pompom ke arah tertentu. Lalu setelah mereka bisa, saya ajak mereka meniup pom pom nya pakai sedotan, dan mereka bisa berlomba siapa yang bisa meniup pom pom paling jauh.

Kelas yang paling menarik perhatian anak-anak itu hari ini, saya ajak anak-anak memasukkan pom pom, biji kacang hijau, biji kacang merah, sedotan, googly eyes,  pipe cleaner, beras dan garam dimasukkan ke dalam botol. Lalu botolnya ditutup dan mereka bisa memutar botolnya dengan pelan untuk mencari googly eyes, atau mencari beads, atau memperhatikan pom pom di dalam botol. Atau mereka bisa juga membuat botol itu seperti alat musik yang kalau di goyangkan mengeluarkan bunyi gemerisik.

botol sensory

Saya ga selalu bisa memoto kegiatan kelas sensory ini, karena ya ga selalu yang direncanakan berhasil sesuai harapan, dan ada juga masalah privasi jadi ga bisa juga upload foto anak-anak lain di kelas yang bukan anak saya. Foto-foto akan saya lengkapi nanti, karena beberapa foto tersebar dalam beberapa bulan ini. 

Happy Birthday Jonathan

Hari ini, Jonathan berulang tahun ke-8 tahun. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini Jonathan ulang tahunnya ga dirayakan. Katanya dia mau minta dibeliin hadiah aja buat dia. Tadinya dia minta diajak jalan-jalan ke Singapura (karena tahun lalu saya dan papanya gantian ke Singapura tanpa anak-anak), tapi karena bulan September lalu udah ke HongKong dan ada rencana akhir tahun pulang ke Indonesia, kami kasih pengertian kalau libur papanya dan dananya terbatas buat travel. Jonathan dari kecil bisa dikasih pengertian, jadi dia ga akan nangis atau tantrum kalau maunya ga dikasih.

Karena saya ga ahli masak kue dengan hiasan, tadi pagi saya cuma masak oatmeal banana muffin sekalian ngabisin stok pisang di rumah. Kami pasang lilin dulu di atas muffinnya trus nyanyi happy birthday dan udah deh Jonathan tiup lilin. Sebelum tiup lilin, saya tanya dulu, mau pake berapa lilin. Dia malah nanya mau pake lilin binary atau yang biasa. Terus dia sibuk mikir-mikir kalau binary berapa lilin dipakai dan berapa lilin dinyalakan. 

Waktu ulang tahun eyangnya beberapa bulan lalu, kebetulan eyang lagi di Chiang Mai, nah di situ Jonathan juga yang semangat sekali pakai lilin ulang tahun hitungan binary. Dia selalu suka menghitung yang ga biasa. apalagi kalau dia tau hitungan-hitungan itu ada relasinya nantinya dengan pelajaran komputer. 

Dimasakin oatmeal banana muffin begitu aja Jonathan udah happy banget, dia bilang: ini salah satu makanan favoritku, yum. Hahaha gampang banget ya menyenangkan hati Jonathan. Lumayan ga usah beli kue ulang tahun :D. Lilin yang dipake aja sisa beli lilin waktu ulang tahun Joshua bulan Juni lalu hehehe.

Sesuai permintaan Jonathan, kalau ada yang berulang tahun di rumah, kegiatan homeschooling kami liburkan. Dia ga harus mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Kami juga yang biasanya makan siang di rumah, hari ini makan siang di luar sesuai dengan apa yang anak-anak mau. Bagian makan siang di luar sih request mamanya, biar libur masak hahaha. Seperti tahun sebelumnya, hari ini kami makan di pancake house.

Sore ini, katanya dia minta dimasakin nasi telur dan bacon, tapi berhubung stok bacon habis, rencananya akan ke makro dulu untuk belanja sekalian belanja bulanan.

Jadi hadiahnya apa nih buat Jonathan?  Karena hadiahnya belum sampai, jadi belum bisa diceritakan. Kemarin agak telat mesannya, harapan sampai hari ini tapi ternyata estimasi deliverednya hari Senin. Tapi dasar anak baik, dia ga dikasih hadiah ya ga nanya juga atau nagih hadiah. Dia taunya hari ini ulang tahun ga dirayakan, tapi udah tiup lilin dan udah dapat makan siang dan nanti menu makan malam sesuai maunya dia hahaha.

Senang rasanya punya anak yang ga banyak maunya. Nanti kalau hadiahnya datang hari Senin, pasti dia kegirangan deh, soalnya udah ga berharap dapat hadiah dia. Semoga tapi tahun-tahun berikutnya ga jadi ngarap hadiah melulu.

Hong Kong Trip: Jalan-jalan seputar Tsim Tsa Tsui

Tulisan ini merupakan bagian dari cerita jalan-jalan kami ke Hong Kong sejak 18 September – 23 September 2018.

Hari ke-3 di Hong Kong, Kamis 20 September 2018. Hari ke-3 ini, Joe pergi mengikuti acara BEVX, saya harus bawa anak-anak berkelana sendirian. Karena kecapean di Disneyland, dan udara Hong Kong yang banyak debu dan asap rokok, Joshua bersin-bersin sejak kami tiba di hotel Butterfly on Prat. 

Sebelum berangkat, Joe sempat berharap di hotelnya akan ada pokegym atau pokestop, dan harapannya terkabul, ada pokestop persis di hotelnya hahaha.

Sebelum memilih hotel ini, kami mempertimbangkan memilih AirBnB supaya bisa masak,  tapi ga sengaja nemu hotel ini yang lokasinya benar-benar dekat ke mana-mana (tujuan kami), dan dapat kamar yang cukup besar dengan 2 bed double dan 1 bed single (jadi bisa tidur lebih leluasa). Waktu di Disneyland Hotel, cuma dapat 2 bed double, jadi Joe dan Jonathan agak sempit-sempitan, di hotel ini mereka bisa seorang  1 bed dan saya share dengan Joshua. Hotel ini juga meminjamkan 1 HP yang bisa akses internet dan telepon lokal (walau tidak kami pakai), dan 1 mobile wi–fi dengan akses data unlimited (nah yang ini kepake banget). Harga kamarnya juga ga berbeda dengan harga AirBnB yang cukup untuk 2 dewasa dan 2 anak.

Pagi-pagi Joe duluan keluar dari hotel untuk ke acara BEVX, saya dan anak-anak masih melanjutkan istirahat. Kami sarapan seadanya saja, dan berencana makan siang agak awal. Sebelum jam 11, saya dan anak-anak keluar cari makan. Kali ini, setelah googling restoran yang family friendly kami ke Charlie Brown Cafe. Cuma butuh jalan 5 menit dari hotel, tapi karena Joshua lagi ga mau kerjasama, jalannya jadi agak lebih lama. Joshua gak suka jalan sendiri dan minta digendong, sepanjang jalan dia meringis antara ga mau jalan dan setiap ketemu gedung yang ada AC nya dia mau belok aja ke sana.

Setelah beberapa kali berhenti untuk membujuk Joshua jalan, akhirnya sampe juga di cafe nya. Untungnya menu nya cocok untuk Joshua, dan dia bisa makan banyak. Makan terbanyak sejak sampai di HongKong. Karena kami makan cukup lama dan Joshua masih kurang fit, saya putuskan pulang kembali ke hotel untuk tidur siang dan memutuskan untuk jalan sore bareng Joe aja. Dari google,  saya liat ada space museum berseberangan dengan lokasi acara Joe, jadi lebih baik jalan-jalan sore biar ga panas juga jalannya.

Karena anak-anak masih capek pasca jalan-jalan di Disneyland, setiba di hotel mereka tidur nyenyak. Menjelang jam 5 sore, saya dan anak-anak keluar lagi. Lokasi BEVX sekitar 10 menit dari hotel. Tapi karena lagi-lagi saya semi menyeret Joshua yang gak suka jalan di luar yang banyak orang dan bau rokok, saya kelewat lokasi BEVX. Biasanya selama ini saya melihat hotel selalu punya halaman yang cukup luas untuk parkir dan atau taman hotel, tapi ternyata hal ini ga berlaku di HongKong, gara-gara ini saya kelewat lokasi trainingnya Joe, karena saya pikir baru melewati pertokoan doang.

Setelah ketemu Joe, kami nyebrang langsung ke Space Museum. Di dalam Museum, Joshua langsung happy. Tiket masuk Space Museum ini cukup murah, untuk Joshua kami bahkan ga perlu membayar. Isi space museum ini cukup menarik bahkan untuk Joshua. Ada banyak yang bisa dicoba, pencet sana sini dan perhatikan apa yang terjadi.

Rencana selanjutnya cari makan sebelum pulang ke hotel, tapi saya baru menyadari kalau space museum ini bersebelahan dengan HongKong Cultural Centre, dan setiap jam 8 malam di sana bisa melihat Symphony of Lights. Ada 3 restoran di Hongkong Cultural Centre, kami pilih restoran yang menunya ga terlalu besar, tapi itupun tetap saja kami ga berhasil menghabiskan apa yang kami pesan. 

Sebelum jam 8 malam, kami sudah duduk manis untuk menunggu Symphony of Lights. Acara ini berlangsung tiap malam sekitar 15 menit, tapi saya heran kenapa tetep rame ya? Saya bertanya dalam hati, kira-kira ada gak penduduk HongKong yang akan setia datang tiap malam melihat Symphony of Lights, atau semua yang duduk di situ turis?

Selesai melihat Symphony of Lights, kami langsung jalan pulang ke hotel. Kali ini Joe menggendong Joshua karena dia sudah terlihat sangat capek sekali. Jonathan sudah mulai terlatih jalan banyak, dan karena enjoy dengan banyak yang dia alami selama di HongKong, mulai ga mengeluh soal jauh perjalanan, apalagi jalan sore/malam hari lebih enak karena ga ada panas matahari yang menyengat.

Hari ke-4, Jumat Joe masih ada 1 hari lagi kegiatan BEVX. Hari Jumat Joshua sudah lebih segar. Pagi-pagi, saya ajak anak-anak jalan ke Science Museum. Tapi begitu keluar dari hotel, Joshua seperti trauma jalan di trotoar HongKong. Setelah beberapa kali berhenti dan membujuk dia supaya jalan, kami sampai juga di Science Museum. Tiket masuk ke Science Museum juga tidak mahal. Ada pameran mengenai space juga, jadi kami seperti melihat extended dari Space Museum. Beberapa jam di sana, kami belum berhasil melihat semuanya. Sekitar jam 1 siang, saya ajak anak-anak pulang, karena biasanya kalau kelewat jam makan bisa-bisa Joshua ketiduran pas nunggu makanan.

Di jalan pulang, kami melewati komplek yang banyak restoran kecil-kecil. Saya putuskan untuk makan sebelum pulang, di restoran yang kebetulan ada meja kosongnya (jam makan siang hampir semua restoran penuh). Waktu menunggu makanan, hampir saja Joshua ketiduran, untungnya masih bisa dibangunkan dan bisa makan dengan lahap.

Sampai hotel, kami tidur siang lagi. Saya juga ketiduran hahaha. Ternyata jalan-jalan bawa 2 anak di negeri orang lebih berat daripada di Chiang Mai.  Selama di Hong Kong, rata-rata saya berjalan sekitar 10.000 langkah, sementara di Chiang Mai tinggal injek gas ke mana-mana hahhaa. Bener-bener ya dimanjakan banget sama kota Chiang Mai.

Sore harinya, kami putuskan untuk stay di Hotel saja. Kami simpan tenaga buat jalan-jalan hari Sabtu. Hari terakhir di HongKong dan kami merencanakan untuk ke puncak tertinggi di HongKong.

HongKong Trip: Disneyland Day 2

Tulisan ini merupakan bagian dari cerita jalan-jalan kami ke HongKong sejak 18 September – 23 September 2018.

Hari berikutnya Rabu 19 September 2018. Anak-anak bangun sebelum jam 7 karena tidur awal malam sebelumnya. Matahari di luar sudah cerah banget. Karena hari sebelumnya kami makan malam masih agak sore, pagi-pagi kami udah lapar. Bersyukur juga udah pesan sarapan di hotel, jadi bisa langsung turun buat sarapan. 

Awalnya saya bingung mau milih makanan apa buat Joshua, akhirnya kami menemukan susu dan sereal di restoran untuk sarapan Joshua. Highlight dari sarapan di hotel adalah berfoto dengan Chef Mickey. Tapi berhubung chefnya cuma menyediakan sesi foto 30 menit, jadi kami harus antri foto juga sebelum Chefnya pergi. Anak-anak yang yang gitu kenal tokoh Mickey ya biasa aja deh hehehe.

Makanan sarapannya ada banyak jenis. Rasanya menurut saya biasa aja, ada pancake dibentuk kepala Mickey, ada buah-buahan, yoghurt, mie, nasi dan macem-macem deh. Tapi kalau kata Joe masih lebih berkesan dengan restoran di Jogja yang pernah kami kunjungi beberapa tahun lalu karena makanannya ada makanan khas Jogja (gudeg) dan ada jamu segala. Makanan di restoran Disneyland menurut saya agak standard, bahkan ga ada omellete yang diisi macam-macam yang biasanya jadi menu yang banyak ditunggu orang sampai ngantri.

Hari ke-2 sebelum ke Disneyland, selesai sarapan kami memutuskan jalan-jalan seputar hotel. Kami ga buru- buru ke Disneyland karena toh jam bukanya jam 10.30 pagi. Kami menemukan playground yang sangat sepi karena sepertinya anak-anak yang lain lebih suka berenang. Kami ga berenang karena saya ga siapin baju berenang, dan keputusan itu tepat karena kolam renangnya terbuka dan jam 8 pagi saja panasnya sudah terasa menyengat. Setelah puas bermain di playground yang menghadap ke laut, kami jalan sedikit mengitari halaman hotel sambil nangkap pokemon dan battle pokegym dan kembali ke kamar.

Karena jam check out hotel sekitar jam 11 dan kami masih mau bermain lagi di Disneyland (kami punya tiket untuk 2 hari), kami putuskan untuk langsung membawa koper ke area Disney supaya ga perlu balik lagi ke hotel. Di hotel juga ada penitipan koper, tapi daripada harus naik turun shuttle lagi sebelum naik taksi, lebih baik kami bawa koper sekalian. Sebenarnya di dalam resort Disneyland, dekat dengan tempat penitipan koper ada stasiun MRT juga, ada sedikit niat untuk naik MRT ke arah hotel berikutnya di kota. Saya bilang sedikit niat, karena kemungkinan besar kami sudah akan sangat lelah sehabis bermain di Disney dan naik MRT sambil membawa koper besar plus anak yang kemungkinan juga minta di gendong itu pastinya akan sangat merepotkan. Tapi ya pada akhirnya kami naik taksi langsung dari tempat bermain Disneylandnya sih karena jalur MRT untuk menuju hotel berikutnya itu memerlukan ganti jalur kereta dan kemungkinan besar jalannya lumayan jauh.

Biaya penitipan koper dihitung per potong, jadi kami bayar untuk 2 koper (1 besar dan 1 kecil). Hari ke-2 di Disneyland kami sudah lebih tau apa yang akan jadi tujuan kami. Saya sudah membaca-baca deskripsi permainan yang kira-kira juga akan cocok untuk Joshua. Kami memutuskan untuk tidak menyewa stroller, karena kami pikir, nantinya Joshua bisalah tidur pas kami istirahat makan siang. 

Tujuan pertama di hari ke-2 ke Fantasy Land. Pertama naik Flying Dumbo, untungnya di hari ke-2 ini walau matahari cukup menyengat, tapi beberapa waktu ada awan yang cukup membuat udara ga terlalu panas.

Selesai naik Flying Dumbo kami bertujuan ke It’s a small world. Tempat tujuan berikut ini isinya seperti istana boneka di TMII, tapi lagunya Joshua sudah kenal karena ada dalam playlist yang sering diputar di mobil. Tapi sebelum sampai ke it’s a small world, kami naik teacup yang muter-muter dulu karena kebetulan lewat dan antriannya kosong, jadi ya sekalian aja. Lagipula tempatnya juga ada atapnya, jadi cukup teduh.

Joshua cukup senang naik gajah terbang maupun teacup yang muter-muter. Pas masuk ke it’s a small world udaranya paling adem, Joshua langsung semangat banget menuju ke boatnya. Di Disney, semua wahana menyediakan tempat antrian yang cukup panjang, kalau lagi ga ada antrian jadinya jalannya jauh hehehe. Keluar dari It’s A Small World, berasa deh panas lagi.

Selesai dari istana boneka, kami memutuskan untuk ke Toy Story Land dulu sebelum makan, kalau sudah makan kuatir malah mual kalau mainannya agak mutar-mutar.  Mampir sebentar di Tomorrow Land karena Jonathan mau naik roller coaster ala star wars.

Karena Joshua ga bisa ikut naik (ada batasan tinggi 120 cm), saya dan Joshua menunggu di luar. Daripada bengong, saya beli eskrim bentuk kepala Mickey (40 HKD). Saya pikir, anggap aja pengganti beli susu. Selesai Jona dan papanya naik roller coaster ala star wars (yang katanya Jona lebih menyeramkan karena gelap), kami naik flying saucer (ini sebenarnya sama saja dengan flying dumbo).

Sebelum sampai di Toy Story Land, kami lewati Adventure Land lagi dan sedang ada pertunjukan orang Moana. Pertunjukannya pake bahasa Cina dan Inggris, Jona dan Joshua ga gitu tertarik. Ada banyak orang dan tempat duduknya juga sudah penuh. Jadi kami berhenti sebentar doang untuk istirahat sekalian berteduh. Pas lewat lagi, ada beberapa orang foto dengan tokoh Moana versi English. Komentar Joe: sepertinya yang foto dengan Moana bapak-bapak semua, anak-anaknya ga ada malahan hahahaha. Kalau komentar saya: aduh itu rambut Moana ketauan banget rambut palsu, masih bagusan rambut aku hahahahha.

Setelah mampir sana sini, sampai juga di Toy Story Land, Joshua gembira banget liat tulisan ABC sampai Z yang super besar. Jadi agak gak enak sama orang-orang yang berusaha foto di situ, karena ya Joshua lalu lalang sambil bernyanyi-nyanyi gembira walaupun di bawah terik matahari. Setelah di distract, akhirnya sampai ke tujuan Toy Story Land, naik roller coaster yang bisa untuk semua umur dan tidak terlalu ekstrim (Slinky Dog Spin). Tapi ternyata, namanya roller coaster ya sama aja ya, tetep keliatan Joshua kurang suka naik roller coaster. Jonathan yang sudah naik yang lebih ekstrim tentunya cuma ketawa-tawa bahagia aja.

Selesai naik roller coaster, Jonathan pingin naik wahana yang ada Parachute drop. Di wahana ini sebenarnya Joshua bisa saja karena minimal 80 cm, tapi karena kami kuatir Joshua ga enjoy dan antriannya banyak, saya dan Joshua ga ikutan dan menunggu sambil Joshua puas-puasin liat ABC raksasa. Awalnya saya pikir kalau mereka jual versi mainannya, saya akan beli buat Joshua, tapi ternyata gak ada.

Setelah capek liat-liat ABC, akhirnya saya ajak Joshua jalan menunggu di area parachute drop. Saya dudukkan dia di kursi tempat latihan buat orang yang duduk di kursi roda. Eh ternyata dia ngantuk dan tertidur deh disitu. Karena Joe dan Jonathan masih lama diantrian, ya saya biarkan saja Joshua tidur disitu, sambil berharap ga ada orang yang perlu memakai itu (untungnya ga diusir juga sama petugas haha).

Sementara menunggu Joshua tidur, sebagai pemain Pokemon Go, kami mengambil alih satu Gym di area Parachute Drop.

Joshua masih kami biarkan tidur dikursi itu sekitar 25 menit, lalu kami gendong jalan sambil cari restoran.

Untungnya ga jauh berjalan dari situ kami menemukan restoran yang cukup adem dan ada menu nasi goreng segala di Explorer’s Club Restaurant di Mystic Point. Beberapa menu di restoran ini juga ada label Halalnya. Sambil menunggu saya order makanan, Joshua masih tidur sekitar 15 menit lagi.

Kami memutuskan  menutup perjalanan mengunjungi istana boneka lagi. Tapi setelah keluar dari Small World, Joshua mau naik Tea Cup lagi. Di sini HP Joe jatuh ke bawah Tea cupnya dan walaupun udah gorilla glass plus screen guard, HP Joe retak layarnya plus lensa kamera belakangnya juga retak. Masih nyala bisa dipakai, tapi layarnya ada bagian yang agak tajam dan berbahaya buat tangan, plus kamera depan belakang jadi blur.

Tadinya sudah cukup mau pulang, tapi karena wahana Winnie The Pooh lagi kosong dibanding hari sebelumnya, kami memutuskan masuk dulu ke Winnie The Pooh Storytime. 

Gak berasa, hari ke-2 kami bisa lebih banyak menikmati berbagai wahana. Tau-tau udah sore dan kami memutuskan untuk pulang supaya ga terlalu gelap sampai di hotel daerah Tsim Tsa Tsui. Kami naik taksi merah ke arah Tsim Tsa Tsui. Jonathan sangat terkesan dengan kode warna taksi di Hong Kong. Waktu dari Airport ke Disneyland, kami naik taksi berwarna biru, dari Disneyland ke Tsim Tsa Tsui kami naik taksi berwarna merah. Ada 1 jenis taksi lagi warna hijau tapi kami ga naik.

Sampai hotel Butterfly on Prat, sekitar jam 7-an, masukkin koper dan kami memutuskan makan di restoran Thailand sebelah hotel. Pelayan restorannya sebagian kurang bisa bahasa Inggris tapi bisa bahasa Thai, jadi mesennya malah pake bahasa Thai. Jauh-jauh ke Hong Kong pesen makanan Thai pake bahasa Thai hehehe.

Udah terlalu capek untuk menjelajah Hong Kong di waktu malam. Mampir di Cirlce K dan 7 Eleven akhirnya nemu susu coklat buat Joshua. Dan di sini lah saya mengalami kaget masalah sedotan, plastik bag dan merasa mini marketnya benar-benar mini dan barangnya ga sebanyak di Chiang Mai hehehe.

Hotelnya edkat McDonald’s, Circle K dan 7-Eleven

Kesimpulan hari ke-2: Kalau anak masih kecil, rasanya kurang optimal ke Disneyland. Sebaiknya menunggu anak tingginya 140 cm supaya bisa naik semua wahana dan harapannya kalau udah cukup besar, cukup kuat juga buat berjalan-jalan seharian menjelajahi Disneyland. Datang ke sana di hari biasa dan bukan musim liburan sekolah sangat membantu untuk tidak mengalami antrian panjang, tapi ya keputusan untuk langsung ke Disneyland di hari yang sama setiba di Hong Kong juga jadi ga efektif  di Disneylandnya.

Kalau mau lebih hemat, bisa juga menginap di area kota (bukan di Disneyland Resort), ke Disneyland hari berikutnya setelah sampai di Hong Kong, misalnya selesai sarapan naik MRT ke Disneyland, puas-puasin deh seharian dari jam 11.30 sampe jam 8 malam di Disneyland. Jadi bisa menghemat ga perlu titip koper segala, ataupun sewa stroller dan anak-anak juga udah segar tenaganya setelah tidur malam yang cukup. Bawa perbekalan makanan dan minuman dari Circle K atau 7 Eleven di kota, karena harga minuman di luar Disneyland berkisar 7 – 15 HKD saja.

Tapi ya, kami memang bukan traveler sejati. Udah tau ada aplikasi Disneyland sejak sebelum berangkat tapi tetap saja akhirnya di baca setelah sampai di sana hahahha. Jangan ditiru ya, kalau mau lebih fun lagi, sebaiknya baca informasi yang sudah banyak tersedia di internet, jadi gak kayak kami yang akhirnya banyakan jalannya daripada naik wahananya di hari pertama hehehhee. 

Mencari Sekolah buat Joshua

Sekarang Joshua berumur 3 tahun 2 bulan dan masih belum dikirim ke sekolah/playgroup atau daycare manapun. Jonathan dulu umur 3 tahun kurang sudah dikirim ke daycare/taman bermain. Sebelumnya ga kepikiran mencari/memilih sekolah aja bisa jadi rumit. Mencari sekolah ini selalu jadi topik yang menarik buat saya karena di sini walaupun ada banyak sekolah, tapi mencari sekolah yang sesuai dengan kami itu ternyata ga mudah. Bahasa, harga, lokasi selain kualitas jadi pertimbangan sebelum mengirim anak ke sekolah/taman bermain.

Waktu Jona masih di daycare, saya bertemu dengan salah seorang ibu yang sama-sama mencari sekolah terbaik buat anak. Kami mengunjungi banyak sekali sekolah di Chiang Mai. Tapi karena teman saya ini orang Thailand kami lebih banyak mengunjungi sekolah Thai atau bilingual yang mengakomodasi orang asing. Dari dulu sekolah Internasional itu mahal, jadi kami ga pernah menargetkan sekolah Internasional. Kalau kata teman saya, anak dikirim ke sekolah Internasional cuma bisa berbahasa Inggris, dan kadang-kadang malah ga punya skill lainnya. Mungkin karena dia memandang sebagai orang lokal tinggal di negara sendiri, dia merasa kemampuan bahasa Inggris itu ga harus jadi kemampuan utama, apalagi kalau sampai harus bayar mahal. Dia juga punya beberapa ponakan yang lulusan sekolah Internasional tapi akhirnya kerjanya biasa saja dan penghasilannya ga berbeda dengan anak-anak lulusan sekolah lokal.

Saya sebagai lulusan sekolah negeri dari SD sampai kuliah, ga bisa argue juga mengenai sekolah Internasional. Kemampuan bahasa itu bisa dipelajari, kami ga pernah menargetkan anak-anak harus bisa bahasa Inggris dulu atau bahasa Thailand dulu, tapi karena kami ga tinggal di Indonesia kami malah menargetkan anak-anak harus tetap bisa berbahasa Indonesia selain bahasa apapun yang mereka suka.

Jonathan bisa bahasa Thai dan Inggris dan sempat cuma prefer bahasa Inggris. Sejak homeschool dan banyak berbahasa Indonesia, dia mulai lebih banyak kosa kata bahasa Indonesianya. Joshua sampai sekarang lebih banyak berbahasa Inggris walaupun mengerti bahasa Indonesia. Tapi belakangan dia juga mulai suka mengucapkan kata-kata bahasa Thai yang dia dengar. Kenapa kami memaksakan anak-anak harus bisa bahasa Indonesia padahal ga tinggal di Indonesia? ya karena mereka orang Indonesia dan oppung/eyangnya ga bisa bahasa Inggris ataupun Thai. Mereka harus bisa bahasa Indonesia biar bisa ngobrol dengan keluarga besar kalau lagi pulang kampung.

Di Chiang Mai, daycare yang gurunya bisa bahasa Inggris itu pilihannya ga banyak, dan harganya 2 kali lipat dari jaman Jona daycare. Kadang2 kepikiran, dulu orangtua kami rasanya ga pusing-pusing amat milih sekolah, mereka akan cari sekolah terdekat negeri yang mereka mampu bayar dan itupun kadang terasa berat tiap awal tahun ajaran karena harus beli baju seragam maupun buku pelajaran dan alat tulis, sepatu dan tas kalau misalnya yang sebelumnya sudah kekecilan/rusak.

Di Chiang Mai ada banyak orang asing. Ada banyak sekolah Internasional dan bilingual, setiap sekolah Thai juga selalu ada English Programnya, tapi dari hasil survei, walau mereka bilang English Programme atau Bilingual umumnya semua pemberitahuan ke orangtua atau penjelasan apapun pakai bahasa Thai. Harga uang sekolah di sini juga sangat beragam, yang pasti untuk sekolah Internasional, rata-rata berkisar mulai dari 250.000 baht/tahun atau diatas 110 juta per tahun. Saya tahu, di Indonesia uang sekolah Internasional juga ga murah, tapi karena kami bukan lulusan sekolah internasional dan merasa bisa berhasil tanpa sekolah internasional, kami jadi merasa sekolah internasional ga sepadan dengan harganya.

Untuk mengeluarkan uang sekolah ratusan juta per tahun sejak anak umur 3 tahun sampai lulus universitas kalau dihitung-hitung bakal jadi beban untuk anak itu juga. Pilihan daycare bisa lebih murah (walau ga murah banget juga), dan untuk umur di bawah 6 tahun, pendidikan formal itu belom dibutuhkan. Anak lebih butuh diajak bermain dan belajar life skill. Saya mencari sekolah paruh waktu buat Joshua, tapi inipun belum berhasil menemukan yang tepat. Dengan kemampuan akademis Joshua yang mulai membaca di umur 3 tahun, sepertinya bakal semakin sulit mencari sekolah yang tepat buat dia. 

Untuk sebelum umur 6 tahun, saya mencari sekolah yang tidak mahal, guru bisa berbahasa Inggris dan tidak menekankan akademik tapi lebih banyak mengajak anak bermain. Sekolah yang guru-gurunya ga sibuk main HP dan tetap mau perhatikan anak main walaupun judul kelasnya free play. Sekolah/daycare yang ga banyak kasih anak video walaupun itu kasih lagu nursery rhyme. Karena kalau gurunya main HP mulu atau kasih video doang akhirnya sama aja dengan saya dong dan bisa saya lakukan di rumah tanpa bayar atau ribet antar jemput hehehe. 

Pada akhirnya, walaupun saya sangat ingin mengirimkan Joshua ke sekolah supaya saya bisa lebih ringan tinggal ngajarin Jonathan di rumah tanpa harus ajak Joshua main, yang paling tepat sampai sekarang ini ya tidak mengirimkan Joshua ke sekolah. Beberapa pertimbangan nantinya mencari nanny biar bisa ninggalin Joshua dan Jona di rumah kalau mamanya butuh me time.