Joshua dan Angka

Posting ini cuma mau mendokumentasikan beberapa cara Joshua bermain dengan angka, supaya ingat kapan dia semakin mengenal angka. Semua ini mau-maunya dia saja dan gak pernah kami suruh, jadi dia memang kreatif kalau mau belajar sesuatu bisa menemukan caranya sendiri.

Sekarang ini Joshua sudah lancar berhitung sampai beberapa ratus, bahkan menghitung mundur dari 100 kembali ke nol juga dia sering lakukan dengan sabar (saya yang ga sabar nungguin dia ngitung mundur hehehe).

hitung 100 ke 200 pakai punya kakaknya

Oh ya, Joshua paling lancar menghitung dalam bahasa Inggris. Tapi juga dia bisa berhitung sampai 20 dalam bahasa Indonesia dan Thailand. Beberapa waktu lalu dia mulai mempelajari menghitung dalam bahasa Mandarin sampai 10, dan waktu saya belajar angka dalam bahasa Korea, dia juga ikutan menghitung dalam bahasa Korea sampai 20 hehehe.

Selain mainan playdough untuk membuat angka-angka, sekarang ini kalau dikasih ipad ujung-ujungnya juga menulis angka sambil memilih warnanya. Dia akan menuliskan angka, lalu misalnya menyebut five blue. Kalau kita ada disampingnya, kita akan dia tarik untuk ikut menyebutkan five blue.

Kadang-kadang dia sangat rajin, bikin bingkai angka pakai warna hitam, lalu warna tengahnya dia isi warna berbeda. Lalu ya dia minta kita sebut nama angkanya dan warnanya.

Selain menulis angka, dia juga senang mengetik angka. Kalau papanya lagi bekerja dengan laptop, dia akan mengambil alih laptop dan mengetik nomor-nomor.

mengetik angka

Joshua ini memang ada musimnya, sebelumnya musim alphabet, lalu musim berusaha membaca, lalu musim menghapalkan tabel perkalian tanpa mengerti konsep perkalian. Sekarang ini musimnya kembali membentuk angka sambil mempelajari dasar penjumlahan.

Dia suka menjumlahkan dengan jarinya, atau dengan benda-benda yang bisa dia hitung, atau bahkan dengan menggambarkan bulatan-bulatan untuk dihitung di white board.

Saya gak tahu setelah ini musim apalagi untuk Joshua, tapi selama dia mau belajar dengan semangat (tanpa disuruh), saya sih senang karena tandanya dia memang ingin belajar dan mudah-mudahan semangat belajarnya tetap ada sampai besar nantinya.

Joshua dan Playdough

Joshua saat ini berumur 3 tahun 9 bulan. Dia sudah bisa berhitung sampai 100 dari beberapa bulan yang lalu, saya lupa persisnya. Setiap kali dia sedang semangat dengan 1 hal, dia akan mengulang-ulang hal yang sama setiap harinya sampai dia merasa menguasai hal tersebut atau ada hal lain yang lebih menantang buat dia.

Setelah beberapa waktu lalu dia berusaha menghapal tabel perkalian, dia kembali lagi tertarik dengan angka. Kali ini dia punya hobi baru, main playdough. Cetakan playdoughnya ada angka dan huruf, entah kenapa dia cuma mau bikin angka saja. Saya coba tawarkan, mau bikin a b c, dia bilang nggak, mau angka saja.

Sudah beberapa hari ini dia dengan tekun main playdough bikin angka 0 sampai 10, lalu diteruskan sampai beberapa belas. Awalnya tentunya dia minta kami yang bantuin, tapi belakangan dia mulai bisa main sendiri. Pemilihan dough juga ternyata membantu membuat dia bisa main sendiri.

Sebelumnya, kami main playdough homemade. Lalu karena saya belum bikin lagi, papanya inisiatif beliin playdough merek Crayola. Playdough Crayola ini ternyata gampang sekali mengering. Baru dimainkan pagi hari, sorenya sudah jadi kepingan keras seperti sengaja dikeringkan.

Pengalaman mengeringnya playdough crayola, membuat kami membeli merk PlayDoh. Tapi ya ternyata kalau dimainkannya seharian dan gak langsung disimpan, keesokan harinya doughnya terasa agak mengering walau gak seperti Crayola.

PlayDoh orange

Tadi pagi, Joshua insist mau main playdough yang orange, selama ini dia tidak menunjukkan punya warna favorit, ternyata sekarang dia mulai punya warna favorit.

Setelah beberapa lama main dengan dough orange yang sudah agak keras, akhirnya saya bujukin supaya ganti warna, dan dia pilih warna biru.

PlayDoh Biru

Hari ini, dia membuat bola-bola untuk dihitung setiap kali selesai membuat angkanya. Jadi dia akan cetak angka, lalu menunjuk sejumlah bulatan dough yang ada sambil berhitung.

Joshua selalu menemukan cara bermainnya sendiri, kadang-kadang saya heran darimana ide dia untuk bermain seperti itu. Tapi biasanya ya saya ikuti saja maunya seperti apa, asal gak harus terus menerus ditemani.

Sepertinya kalau PlayDoh kali ini habis, saya harus bikin sendiri lagi supaya bisa puas mainnya dan gak selalu kekeringan seperti sekarang.

Masa Liburan Sekolah di Chiang Mai

Tahun ajaran akademik di Chiang Mai dimulai sekitar pertengahan bulan Mei sampai Oktober, lalu anak-anak sekolah akan libur sekitar sebulan dan term ke-2 mulai November sampai Maret. Lalu anak sekolah di sini akan libur sekitar 2 bulan, jadi pas Liburan Songkran alias Tahun Baru Thailand di pertengahan April, sekolah itu sudah pasti libur.

Biasanya liburan Songkran orang Thailand berkumpul bersama keluarga atau jalan-jalan sekeluarga untuk liburan musim panas. Di saat libur sekolah, arus lalu lintas juga lebih kosong dari biasanya, karena tentunya tidak ada kesibukan antar jemput anak ke sekolah. Tapi kan Songkran itu cuma beberapa hari, sedangkan liburan sekolah itu 2 bulan. Anak-anak liburan sekolah ngapain aja dong?

Satu hal yang saya perhatikan berbeda dengan di Indonesia jaman saya sekolah dulu, masa liburan di sini itu banyak kegiatan di sekolah yang disebut summer camp atau holiday camp. Jangan bayangkan camp itu kegiatan menginap, camp ini sebenarnya gak beda dengan kegiatan sekolah, tapi ya tentunya lebih banyak mainnya, gak harus pakai seragam dan gak ada pekerjaan rumah.

Kegiatan camp yang ditawarkan sekolah-sekolah ini biasanya merupakan alternatif buat orangtua yang ga bisa cuti untuk pergi liburan ke luar kota. Saya perhatikan, untuk orangtua yang anaknya masih kecil, camp ini walau harganya lebih mahal dari uang sekolah biasanya, tapi jadi solusi untuk menitipkan anak daripada anaknya main gadget aja seharian.

Untuk homeschoolers seperti kami, kegiatan camp ini merupakan waktunya untuk sosialisasi dan sekalian sebagai hari “liburan mama dari mengajar” hehehe. Minggu lalu Jonathan dan Joshua saya ikutkan salah satu camp selama 5 hari. Setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Mereka cukup senang karena mendapatkan banyak teman baru dan kegiatan yang berbeda dari biasanya. Buat Jonathan, dia senang karena libur dari mengerjakan tugas sekolah, buat Joshua ya pengalaman kalau sekolah seperti apa.

Kegiatan camp nya ngapain aja sih? ya biasanya mereka sosialisasi dengan anak-anak lain, masak-masak, eksperimen science, bikin craft bareng, dan tentunya melatih anak-anak punya keteraturan. Untuk anak seumuran Joshua, mereka bahkan dikasih kesempatan tidur siang setelah jam makan siang.

Kegiatan camp yang diadakan sekolah-sekolah sifatnya tidak wajib diikuti dan mereka menerima umum yang bukan murid di sekolah tersebut. Biasanya setiap minggu akan dibuat tema yang berbeda-beda. Anak-anak bisa daftar hanya 1 minggu atau ikut full. Kalau liburnya sebulan, misal mau ikut full harganya akan lebih murah dibanding ambil perminggu. Kegiatan camp ini win-win sih, anak-anak happy, orangtua yang bekerja bisa tetap bekerja, orangtua yang biasanya ngadepin anak 24 jam jadi bisa istirahat sejenak hehehe.

Dulu waktu Jonathan ikut kelas aerial silk dan piano, ada juga kegiatan camp seperti ini. Pilihannya bisa setengah hari ataupun dari jam 9 sampai jam 3 sore. Di tempat les gambar Jonathan juga sekarang ini ada minggu kraft khusus. Biasanya les nya sekali datang itu 2 jam, untuk kegiatan membuat craft ini, 1 sesi nya 3 jam dan setiap hari.

Karena sudah ada yang mengumpulkan informasi summer camp ini, saya gak akan tuliskan detail apa saja camp yang ada. Silakan kunjungi blog family guide in Chiang Mai untuk melihat ada apa saja kegiatan camp di tahun 2019 ini.

Kalau di Indonesia ada gak ya kegiatan liburan begini yang diisi dengan berbagai hal yang menarik untuk anak-anak? Kalau dulu sih jaman saya sekolah, udah jelas gak ada, tapi sekarang kan udah beda jamannya dengan dulu. Kalau dulu libur sekolah gak butuh camp, tinggal main ama anak tetangga seharian, nah kalau sekarang gimana?

Finger Counting

Saya baru tahu, kalau ternyata menghitung dengan jari itu ada perbedaan di berbagai negara. Selama ini saya pikir, yang penting jari yang diacungkan itu sesuai dengan jumlah yang disebut. Beberapa hari ini saya perhatikan Joshua kalau menghitung kok 1 acungkan telunjuk , 2 – buka telunjuk dan jari tengah, 3 – jempol, telunjuk dan jari tengah, lah waktu 4, dia melipat jempol dan membuka telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Saya pikir, ribet banget sih, kenapa 4 nya dia gak cuma buka 1 jari manis saja. Ternyata, sepertinya dia menirukan finger counting sistem american sign language.

sumber : https://www.wikihow.com/Count-to-100-in-American-Sign-Language

Waktu iseng-iseng belajar berhitung angka bahasa Korea, saya juga perhatikan mereka memakai jari yang berbeda dengan biasanya yang saya pakai. Dan karena iseng, saya jadi google dan menemukan gak cuma Korea yang beda, tapi juga antara eropa, amerika, jepang dan cina itu juga ada beda sistem penggunaan jari untuk berhitungnya.

sumber: https://www.researchgate.net/figure/Finger-counting-system-in-Korean-Sign-Language-from-the-viewers-perspective-Note-that_fig1_221792959

Ternyata waktu saya menggoogle lebih banyak lagi, ada berbagai riset mengenai finger counting ini. Hal yang mungkin bagi kita biasa saja, ternyata bisa dibahas secara serius hehehe. Bukan cuma jari yang teracung yang dihitung, tapi jari mana yang dlipat atau sisi mana yang ditunjukkan juga bisa berbeda-beda maknanya.

sumber : https://www.researchgate.net/figure/Finger-counting-systems-in-German-German-Sign-Language-DGS-and-Chinese-Domahs-et_fig2_221792959

Jadi kira-kira kalau kamu biasanya menghitung dengan metode jari yang mana? Kalau saya sampai 5 mengikuti cara Chinese, tapi berikutnya mulai 6 ya saya cuma menambahkan tangan 1 lagi dan mengulang 1 sampai 5 di tangan ke-2 untuk menghitung sampai 10. Siapa sangka ternyata kita bisa menghitung sampai lebih dari 5 hanya menggunakan 1 tangan saja.

Buku Baru: Seri Secret Coders

Masih cerita soal buku yang di beli di Big Bad Wolf Desember lalu. Jonathan gak sengaja memilih 1 buku Secret Coders. Sebenarnya beli buku ini awalnya tertarik karena judulnya saja, dan saya malah gak tau isinya berupa komik. Ceritanya mengenai seorang anak usia 12 tahun yang pindah sekolah dan menemukan beberapa misteri yang ternyata bisa dipecahkan dengan pemrograman. Buku ini sejenis pengenalan pemrograman juga buat Jonathan.

Buku yang kami beli di BBW itu hanya buku nomor 2. Waktu kami kembali ke BBW lagi untuk mencari nomor lainnya, kami gak berhasil menemukannya. Akhirnya karena Jonathan sudah baca buku ke-2 itu berkali-kali, kami memutuskan untuk memnbeli buku lainnya dari Amazon.

Buku ini tersedia dalam format Kindle juga. Waktu kami mau beli akhir Februari lalu, Joe baru tahu kalau buku ke-6 baru akan terbit, dan versi kindlenya belum akan langsung ada. Setelah dibanding-bandingkan harganya, beli versi kindle 1 bukunya 7.6 USD, beli 5 buku kindle 39 USD, nah beli buku fisik 6 buku 40.84 USD, plus ongkos kirim ke Chiang Mai sekitar 10 USD totalnya 50.84 USD, jadi harga bukunya lebih mahal sedikit saja daripada versi kindlenya. Akhirnya rasanya masih tetap lebih murah beli buku fisik. Pertimbangan lainnya, baca komik itu lebih enak pakai buku fisik, jadilah kami beli complete box setnya.

Hari ini bukunya tiba, mengingat kami baru memesan sekitar 22 Februari, dan buku ke-6 nya baru terbit akhir Februari, buku ini tergolong cepat sampainya ke Chiang Mai. Sore ini Jonathan langsung menyelesaikan membaca 5 buku yang belum dia baca dalam waktu beberapa jam saja. Saya yakin, besok-besok dia masih akan mengulang-ulang baca buku ini, seperti halnya buku -buku seri lainnya yang dia punya.

Saya juga jadi ikut-ikutan membaca bukunya, dan ya ternyata ceritanya cukup menarik. Buku pertama menjelaskan konsep bilangan biner dengan mengenalkan istilan buka tutup. Kalau terbuka merepresentasikan 1 dan kalau tertutup merepresentasikan 0. Selain mengenalkan konsep biner, buku pertama ini juga mengenalkan pemrograman dengan mengenalkan instruksi Forward sekian langkah, Right or Left sekian derajat, dan sampai pada instruksi Repeat untuk mengulang-ulang instruksi sebanyak angka didepan instruksi Repeat.

Oh ya, cara menjelaskan suatu konsep di buku ini dibuat dalam bentuk percakapan antara 2 orang anak sekolah. Walau dalam cerita ini tokohnya berumur 12 tahun dan Jonathan masih 8 tahun, tapi Jonathan tidak kesulitan mengerti penjelasan dalam buku ini, mungkin karea dia udah mengenal apa itu bilangan biner dan juga udah sering mengganggu papanya minta diajari beberapa dasar pemrograman. Tapi saya merasa membaca buku ini tidak seperti membaca buku pelajaran pemrograman, semuanya dijelaskan dengan cukup sederhana. Ah andaikan saya baca buku ini sebelum kuliah dulu, mungkin saya akan lebih cepat ngerti pemrograman waktu tingkat 1 dulu hahaha.

Kalau melihat Jonathan selalu senang membaca buku-buku seperti ini, rasanya senang banget membelikan dia berbagai buku. Mudah-mudahan saja dia gak bosan dengan buku-buku seperti secret coders ini dan ya siapa tahu nanti besarnya bisa lebih jago mrogram dari papanya hehhehe.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi buku lainnya seri belajar pemrograman untuk anak-anak, tuliskan di komentar ya, supaya nambah bahan bacaan Jonathan hehehe.

Ralph Breaks the Internet

Sudah lama gak nonton ke bioskop, film ini release tahun 2018 tapi baru bisa nonton film ini sekarang di rumah. Ceritanya masih seputar persahabatan Ralph dan princess Vanellope. Untuk baca plotnya bisa liat di sini. Film ini merupakan sequel dari film Wreck-It Ralph. Tapi kalaupun belum nonton film pertamanya, kita bisa menonton film ini tanpa merasa ada yang kurang. Film pertama kesimpulannya terciptanya persahabatan antara Ralph tokoh permainan arcade Wreck-It Ralph dan Vanellope tokoh pembalap dari game arcade Sugar Rush. Cerita film ke-2 ini cukup menarik menjelaskan mengenai internet. Pertama digambarkan mereka menginstal WiFI di Arcade Center, dan disitulah asal mula Ralph dan Vanellope bisa menjelajahi dunia Internet.

poster Ralph Breaks the Internet, sumber dari internet

Penggambaran Internet yang cukup menarik adalah adanya Mr. KnowsMore untuk tempat bertanya banyak hal. Ada e-bay tempat orang-orang berbelanja dengan sistem lelang dan harus membayar dengan kartu kredit, ada TubeBuzz dimana orang-orang berusaha mendapatkan heart sebanyak-banyaknya dan bisa di monetize. Selain itu ada juga keliatan gedung-gedung dengan lambang Amazon, Google, Pinterest, dan Instagram.

Selain menggambarkan apa saja yang ada di internet, termasuk bagaimana sebuat video viral untuk sesaat dan kemudian digantikan oleh yang lain, ada juga penggambaran bagaimana agen-agen bekerja untuk mengundang orang lain mengklik video yang dipromosikan dengan harapan mendapatkan heart (atau like). Jumlah heart itu bisa dikonversi menjadi sejumlah uang yang bisa dipakai untuk membeli benda beneran. Misi Ralph dan Vanellope adalah membeli spare part untuk Gamenya Vanellope dari e-bay, dan untuk mendapatkan uang untuk membelinya mereka berusaha membuat video yang bisa menghasilkan uang.

Selain bagian menghasilkan uang dari konten video, di film ini juga digambarkan adanya virus yang bisa menginfeksi internet. Namanya virus, tentu saja membuat internet sempat kacau. Virusnya digambarkan karena adanya insecurities dari Ralph yang kemudian insecuritiesnya diduplikasi. Cara film ini menceritakannya tentu saja lebih menarik daripada apa yang saya tuliskan di sini, jadi jangan pikir film ini film teknikal ya, ini film anak-anak hehehe.

Bagian lain yang menarik dari film ini adalah ketika Ralph membaca komen-komen yang ada tentang videonya. Lalu ada yang bilang begini: Rule no 1 di Internet: jangan pernah baca bagian komen. Ya walaupun begitu banyak orang yang memberikan like, di internet akan selalu ada orang yang tidak suka dengan apa yang kita share dan memberi komentar yang negatif. Kalau saya sih menerapkan prinsip lebih baik gak komen daripada ngasih komentar negatif. Godaan untuk menuliskan hal-hal berupa kritik negatif sering ada sih, tapi kalau memang ada hal yang perlu dikritik, lebih baik menyampaikan langsung daripada komentar yang di set publik lalu mengundang orang lain menambah komentar negatif lainnya. Oops jadi curcol, oke balik lagi ke cerita film ya.

Satu hal yang bikin saya terhibur ketika melihat princess dari film-film Disney juga ada di film ini. Cinderella, Rapunzel, Mulan, Elsa, Anna, Snow White dan beberapa tokoh lain yang saya tidak kenal. Awalnya saya pikir putri-putri ini cuma sekedar supaya film ini menarik penonton yang udah menonton film-film Disney sebelumnya, tapi ternyata mereka cukup punya peranan. Lucu ketika melihat mereka berganti baju dengan kaos biasa dan tanpa gaun, lalu bilang ah kenapa baru tau sekarang mengenai baju begini yang sangat nyaman. Saya juga merasa lucu ketika mereka tidak percaya Vanellope seorang putri lalu memberikan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan kalau dia putri.

Vanellope: Hi.
[The Princessess all assume attack postions, each with holding an item, specific to their character, as a weapon]
Vanellope: Woah, woah, ladies! I’m a…princess too!
Pocahontas: What kind of a princess are you?
Vanellope: Uh…
Rapunzel: Do you have magic hair?
Vanellope: No.
Elsa: Magic hands?
Vanellope: No.
Cinderella: Do animals talk to you?
Vanellope: No.
Snow White: Were you poisoned?
Vanellope: No.
Aurora, Tiana: Cursed?
Vanellope: No!
Rapunzel, Belle: Kidnapped or enslaved? 
Vanellope: No! Are you guys okay? Should I call the police?
Rapunzel: Do people assume all your problems got solved because a big strong man showed up?
Vanellope: Yes! What is up with that?
Pocahontas, Merida, Rapunzel, Elsa, Aurora, Moana: She is a princess!
[Snow White pokes her head in and sings a few happy notes]

percakapan Vanellope dengan putri-putri Disney

Selain percakapannya putri ini, ada banyak bagian lain yang cukup menarik. Tapi dari keseluruhan film ini yang paling saya suka adalah persahabatan antara Ralph dan Vanellope. Mereka tidak memaksakan bersahabat itu harus selalu bersama-sama, dan walaupun tidak berada di arcade yang sama, mereka tetap menjalin komunikasi dan bertukar cerita secara rutin. Saya jadi agak merenung, mengingat teman-teman yang dulu terasa sangat dekat tapi sekarang saya bahkan gak tahu kabarnya karena walaupun mereka punya akses ke Internet, tapi saya merasa setelah gak ngobrol sekian lama jadi gak tau juga mau mulai bertanya dari mana. Kalau saya nanya kebanyakan ntar saya disangka interogasi lagi hehehe.

Anyway, film ini hiburan menarik untuk mengisi akhir pekan di tonton dengan anak-anak. Kalau anaknya sudah agak besar, setelah nonton bisa dilanjutkan pelajaran pengenalan internet dan bagaimana supaya tetap aman di Internet hehehe.

Applikasi untuk Mengenal Huruf Thai

Tulisan ini masih ada sambungannya dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Nah kalau misalnya mantap nih mau jalan-jalan atau tinggal di Chiang mai, hal berikut yang perlu diketahui adalah bahasa Thai itu berbeda dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Tulisannya bukan dengan alphabet a-z seperti yang kita kenal dan satu hal lagi yang sangat perlu diperhatikan, bahasa Thai itu bahasa yang tonal. Jadi kalau kita mengucapkan sesuatu, nada naik turun suara kita bisa membuat kata yang transliterasinya sama berbeda makna.

Nah supaya familiar dengan huruf-huruf Thai, kalau ada yang mau mengenal 44 konsonan, 32 vokal, tone marks dan angka dalam tulisan Thai, bisa coba donlot aplikasi KengThai. Aplikasi ini ada versi lite yang bisa dipakai secara gratis dan cukuplah kalau mau pengenalan tahap awal. Kalau misalnya punya anak kecil, nah aplikasi ini juga cocok buat anak kecil belajar tracing huruf Thai hehehe. Aplikasi ini tersedia di AppStore untuk iOS maupun GooglePlay untuk Android.

Ada banyak aplikasi untuk belajar bahasa Thai, tapi saya suka dengan aplikasi ini untuk mengenalkan hurufnya dulu. Aplikasi ini juga mengenalkan cara menulis huruf Thai. Berbeda dengan menuliskan alphabet latin, menuliskan huruf Thai ada aturannya, bukan sekedar asal terlihat sama bentuknya. Setiap huruf Thai juga ada namanya dan bunyinya. Kalau sudah bisa mengingat sebagian besar informasi dari game ini, tahap berikutnya baru deh mencoba aplikasi untuk belajar bahasa Thai.

Dulu, waktu saya di awal belajar bahasa Thai, aplikasi ini belum ada. Saya kursus bahasa Thai untuk percakapan saja dan tidak langsung belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Kalau saya mengulang dari awal, rasanya saya akan memilih untuk belajar membaca dan menulis langsung sambil belajar percakapannya. Sekarang ini setelah nyaman bisa berbahasa Thai, ada kemalasan tersendiri untuk memaksakan diri membaca dan menulis bahasa Thai, apalagi karena tidak ada kebutuhan.

Joshua dan Jonathan belajar menulis huruf Thai menggunakan applikasi ini, selain juga dengan bantuan poster di rumah dan buku-buku yang bisa di trace yang bisa di beli dengan murah. Dibandingkan aplikasi lain, aplikasi ini antar mukanya lebih besar dan lebih gampang untuk tracingnya. Gambarnya juga cukup menarik dan suaranya cukup jelas untuk ditirukan. Sekarang ini, Joshua sudah bisa mengingat keseluruhan 44 konsonan Thai, tapi karena dia masih belum mengerti konsep menggabungkan konsonan dan vokal, dia belum bisa diajarkan untuk membaca bahasa Thai yang menggabungkan konsonan dan vokalnya.

Setelah belajar mengenal huruf, tahap berikutnya adalah mengenal kata-kata dalam bahasa Thai. Nah untuk ini akan saya tuliskan di posting terpisah. Belajar bahasa itu tidak cukup dengan 1 app atau 1 buku saja. Kunci dari belajar bahasa adalah kita harus menggunakan bahasa itu. Contohnya, walaupun bertahun-tahun sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, tapi untuk menulis dalam bahasa Inggris, grammar saya masih sering kacau. Untuk bahasa Thai juga vocabulary yang tidak dipakai banyak yang saya lupa walaupun pernah belajar.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi app atau buku untuk belajar bahasa Thai, silakan tulis di komen ya.