Cerita Homeschooling Kami

Salah satu manfaat dari homeshooling yang kami rasakan adalah, anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Seperti sekolah biasa, saya menetapkan jam sekolah setiap harinya dan ada jadwal mingguan. Jam sekolah kami setiap hari selesai sarapan lalu mandi, sekolah dimulai sampai jam 12 siang. Kalaupun belum selesai, bisa dilanjutkan sampai jam 1.30 lalu tidur siang. Dalam prakteknya, ada hari-hari di mana bangun kesiangan lalu tidak bisa menyelesaikan target harian sebelum makan siang. Saya juga menetapkan jadwal hari libur, tapi ya hari libur inipun bisa digeser kalau memang ada keperluannya.

Chiang Mai sekarang ini sedang dingin terutama di pagi hari. Sore hari udaranya cukup enak, matahari bersinar tapi suhu udara tidak terlalu panas. Cuaca yang sangat bagus untuk lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah. Biasanya, kalau memang ada janji main bareng temen di playground, jadwal belajar bisa digeser ke sore dan malam hari, atau ya diliburkan saja hari itu.

Anak-anak lebih suka belajar tanpa meja

Jonathan biasanya saya suruh mengerjakan pekerjaanya di meja makan (yang tentunya sudah dibersihkan selesai sarapan). Dulunya saya siapkan meja belajar di ruang terpisah, tapi karena Joshua juga sering pengen ikut-ikutan sama Jonathan, meja makan menjadi solusi karena lebih besar dan bisa duduk sama-sama. Tapi kadang-kadang mereka juga lebih senang menulis sambil tiduran, atau menulis di atas sofa. Karena Joshua sebenarya belum mulai kegiatan sekolah formal, saya bebaskan saja Joshua menulis di mana dia mau, tapi belakangan Jonathan juga ikutan maunya nulis bukan di meja yang disarankan.

Hari ini, suhu udara di pagi hari berkisar 17 – 19 derajat Celcius. Bangun pagi merupakan tantangan tersendiri hahaha. Udara yang dingin juga membuat daya tahan tubuh menurun. Enaknya ya bangun jangan pagi-pagi banget. Hari ini, Jonathan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sekolahnya sesuai jadwal. Karena tidur siang lebih penting, pekerjaan sekolah dilanjutkan setelah bangun tidur.

Sebelum melanjutkan pelajaran, anak-anak main di trampolin dan perosotan dulu. Setelah puas bermain, saya ambil meja untuk Jonathan mengerjakan pekerjaanya di luar rumah. Joshua ga mau kalah, dia juga mau ikut-ikutan belajar menulis.

Joshua gak butuh meja untuk menulis, dia lebih suka tiduran di lantai. Saking asiknya menulis, dia bergeser dari arah perosotan sampai arah trampolin. Jonathan bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya lebih cepat dari biasanya walau di luar banyak gangguan. Mungkin besok-besok bisa di coba untuk lebih sering belajar di luar seperti ini hehehe.

Kalau di kirim ke sekolah, mungkin kesempatan untuk belajar di luar seperti ini tidak banyak, dan ada kecenderungan anaknya bakal main doang dan ga mau disuruh ngerjain pelajarannya. Kalau berdua doang begini, tadi bisa main cukup lama tapi tidak lama banget, dan waktu saya suruh menyelesaikan pekerjaan sekolah yang ditinggal tidur siang, Jonathan langsung mengerjakan tanpa tawar menawar karena sudah puas bermain.

Kegiatan Homeschooling kami sekarang ini sudah berjalan dengan speed seperti biasa. Kalau semester lalu kami mengikuti co-op di hari Senin, semester ini kami mengikuti kegiatan group homeschool yang diadakan setiap hari Selasa. Bedanya, semester ini group homeschoolnya ada gurunya, jadi saya bisa meninggalkan anak-anak di sana dan harapannya saya jadi bisa punya me-time.

Hari Selasa lalu, Joshua masih nangis-nangis waktu saya tinggal walaupun ada Jonathan juga di sana. Tapi ya akhirnya dia diam juga walaupun belum mau mengikuti kegiatan yang dilakukan bersama. Sebenarnya, memang Joshua belum perlu diberikan kegiatan belajar terstruktur, karena dia itu super rajin belajar sendiri hehehe. Saya mengirim dia ke grup homeschool supaya dia punya teman bermain dan mengasah kemampuan sosialnya. Besok hari Selasa lagi, semoga saja Joshua sudah lebih enjoy dan gak nangis-nangis waktu saya tinggalkan.

Kalau cuaca lagi bagus seperti sekarang, dan anak-anak akur bermain dan gak susah waktu di suruh mengerjakan pekerjaan sekolah, rasanya kegiatan homeschool terasa jauh lebih menyenangkan. Semoga saja ada lebih banyak hari-hari seperti ini daripada hari-hari di mana anak sulit konsentrasi dan saya harus bawel baru kerjaan selesai hehehehe.

Hidden Village Chiang Mai

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hidden Village Chiang Mai. Terakhir kami ke sana sekitar akhir tahun 2017, dan ternyata kali ini ada banyak perubahan yang cukup menarik di tempat ini. Dulunya, waktu tempat ini baru dibuka, kesan pertama dari tempat ini adalah tempat untuk melihat animatronik berbagai jenis Dinosaurus. Hari ini, bisa dibilang tempatnya sudah lebih fun dan bukan sekedar melihat pajangan Dinosaurus yang itu-itu saja.

Tiket masuk ke tempat ini ternyata membedakan harga lokal dan harga turis asing. Untuk harga lokal diatas 100 cm dikenakan biaya 50 baht/orang. Anak di bawah 100 cm gratis. Untuk harga asing ada 3 level harga, di bawah 100cm gratis, anak sampai dengan 130 cm 100 baht, dewasa 200 baht. Seperti biasa, dengan jurus bertanya dalam bahasa Thai, kami dapat harga lokal (lumayan masuk kantong deh sisanya hehehe).

Ticket counter dengan berbagai penjelasan harga

Hal terbaru yang langsung menarik perhatian kami adalah, restorannya menyediakan menu buffet. Kami sudah beberapa kali makan di restoran di dalam hidden village, dan dulunya selalu merasa tempat itu terlalu sepi dan makanannya sering lama datangnya. Rasanya sih lumayan oke walau harganya sedikit agak mahal. Salah satu tujuan hari ini ke sana emang mau jalan-jalan sekalian makan malam.

Tulisan besar-besar yang kami lihat mengenai harga buffet semuanya pakai huruf Thai. Setelah melihat foto-foto di tempat pembelian tiket, saya baru menyadari kalau skema harga untuk makanan buffet nya juga membedakan harga lokal dan harga asing. Untuk buffetnya, anak-anak di bawah 100 cm sama-sama gratis. Untuk harga lokal anak di bawah 130 cm bayar 129 baht, sedangkan dewasa bayar 259 baht/orang. Nah harga asingnya menurut saya terlalu mahal:anak di bawah 130 cm harganya 250 baht, dewasa 400 baht.

Menu buffetnya lumayan sih, bukan cuma makanan yang sudah tersedia seperti spaghetti, sosis, salad dan buah-buahan saja, tapi juga kita bisa memesan steak, pizza dan bahkan menu nasi goreng ala makanan Thailand. Tadinya kami berencana membeli makanan biasa aja dan gak usah beli buffet nya, tapi karena mereka bilang Joshua boleh gratis, ya…akhirnya kami beli juga deh buffet untuk 3 dewasa. Hasilnya rusak diet hahaha, tapi ya senang juga sih karena penutupnya ada eskrim juga hehehe. Ini beberapa contoh makanan yang kami pesan. Katanya makanan ini bisa di pesan lebih dari 1 porsi per orang kalau emang kuat makannya hahaha.

Haduh, malah jadi cerita makan-makannya lebih banyak dari tempatnya. Oke kembali ke cerita lokasi hidden villagenya seperti apa sih. Tambahan yang baru yang menarik untuk anak-anak, sekarang ini ada yang namanya animal village. Di animal village ada ayam, kelinci dan kolam ikan Koi. Dengan membayar sekitar 20 baht, anak-anak mendapat kesempatan untuk memberi makan ayam, kelinci atau ikan. Yang di beli itu biasanya tempat makanannya. Tadi, karena anak-anak lebih pengen main di playground dan toh kemarin baru dari zoo feeding berbagai farm animal juga, jadilah kami putuskan tidak berhenti di bagian itu.

Selain animal village, ada tambahan permainan seperti komidi putar. Ada juga pet village. Di pet village ini anak-anak bisa memberi susu ke babi atau sapi. Bisa juga naik kuda pony dengan biaya tertentu. Di tempat ini juga kami gak berhenti, soalnya berasa agak bau kayak di peternakan hahaha.

Selain animal village dan pet village, area hidden village yang luas ini berisi banyak display yang unik seperti serangga raksasa, kupu-kupu raksasa ataupun bunga rafflesia. Tempat ini intinya sih kebanyakan buat foto-foto orang dewasa. Untuk anak-anak tempat ini cocok untuk lari-larian, bermain di playground, mengenal berbagai farm animal dan juga belajar mengenai nama-nama dan bentuk dinosaurus.

Tujuan berikutnya ke Dinosaurs Village. Nah di sinilah ada banyak animatronic dinosaurs. Oppung yang sebelumnya belum pernah melihat seperti ini awalnya kaget. Oppung jadi bertanya-tanya itu gimana mereka menggerakkannya. Jonathan yang sudah beberapa kali dibawa ke sana pun menjawab dan berusaha menjelaskan ke oppung dengan bahasa Indonesia.

Di dalam Dinosaurs Village, selain melihat dinosaurus, anak-anak bisa bermain dengan inflatable playground dengan membayar 20 baht saja. Selain itu ada juga tempat yang lebih cocok untuk anak yang lebih muda soft play area dengan tambahan biaya 40 baht/20 menit. Soft play area membutuhkan kaus kaki sebelum anak masuk ke dalamnya. Selain 2 tempat bermain ini, ada lagi permainan seperti naik dinosaurus besar tapi saya lupa memfoto dan mengingat harganya.

Tadi kami sampai di sana sekitar jam 4.30, matahari masih cukup terang tapi sudah tidak panas lagi. Setelah berlari-larian dan bermain-main di playground sambil melihat-lihat display yang ada, anak-anak pun merasa lapar. Walau belum jam 6 kami putuskan untuk makan saja. Sekitar jam 7.20 kami pun pulang dengan perut kenyang hehehe.

Kalau mau makan buffetnya, mungkin ada baiknya datangnya agak pagi. Tempat ini buka jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Jadi pagi bisa jalan-jalan dulu, setelah lelah ya makan sambil ngadem (restorannya ber ac). Abis makan, kalau anak-anak belum habis tenaganya masih bisa lanjut bermain lagi hehehe. Tadi akhirnya memutuskan makan buffet alasannya karena udah lama gak makan steak hahaha. Sepertinya bisa jadi tempat yang bisa dijadwalkan untuk dikunjungi di tahun 2019 ini.

Pilot Frixion Ballpoint dan Marker

Pilot Frixion ini merupakan jenis pulpen dan marker yang bisa dihapus. Awalnya tahu jenis pulpen ini waktu membeli Elfin Book (buku yang bisa dilap pakai lap basah berkali-kali). Setelah sekian lama, akhirnya menemukan kalau bisa beli ballpoint dan markernya di Lazada Thailand. Ada juga pilihan kalau mau membeli isinya saja.

ballpoint dan markers Pilot Frixion

Bedanya pulpen yang dibeli sekarang dengan yang sudah pernah dibeli sebelumnya hanya soal tutupnya saja. Kalau sebelumnya ketika memakai pulpen sering sekali mencari-cari tutupnya di mana, nah karena yang ini ballpoint yang sistem click, jadi tidak ada tutup yang hilang. Untuk menghapusnya juga bisa langsung gunakan bagian belakang pulpen, atau ya kalau ditulisnya di ElfinBook bisa langsung dilap basah seperti biasa.

Pilot Frixion Marker dan Ballpoint

Untuk markernya, tutupnya masih model di lepas seperti sebelumnya. Tujuan dibeli marker, supaya nulis di Elfin Book bisa lebih banyak pilihan warna. Selain itu tujuan utamanya tentu saja untuk dipakai Joshua. Selama ini, setiap kali Joshua dikasih buku baru, dia akan mengisi 1 halaman dengan 1 huruf besar dan 1 huruf kecil, dilengkapi dengan gambarnya dan dia mulai mewarnai juga. Dalam waktu singkat, seluruh halaman sudah diisi.

Rencananya dengan memberikan ElfinBook plus marker, kalaupun bukunya penuh, nantinya bisa dengan mudah dihapus saja. Sebelumnya dicobakan memakai pulpennya, tapi karena cara memegang pulpen belum benar, Joshua selalu susah untuk menulis dengan pulpen Pilot Frixion. Dengan dibelinya marker ini, Joshua jadi lebih mudah menulis di Elfin Book. Dengan menulis di buku yang bisa dihapus, tentunya gak buang-buang buku lagi kan. Ujung-ujungnya hemat di kantong juga ramah lingkungan karena ga buang-buang kertas.

Pegang pulpennya belum bisa dikoreksi, jadi lebih mudah menulis pakai marker

Sebenarnya ada banyak warna marker dan juga pulpennya. Tergoda mau beli segala warna, tapi dipikir-pikir lebih baik beli secukupnya. Awalnya mau beli dari aliexpress atau dari situs yang mengirim dari luar Thailand. Tanpa sengaja, ketemu iklan shopee di FB. Karena belum pernah belanja di Shopee, kami mencari dari Lazada Thailand saja. Cuma menunggu beberapa hari, pulpennya sudah sampai di rumah. Kadang-kadang iklan yang muncul di FB ada gunanya juga hehehe.

Mungkin bertanya-tanya berapa harganya? Kemarin ada banyak variasi harga. Tapi yang kami beli untuk marker 6 warna harganya 300 baht, untuk ballpoint 3 warna harganya 285 baht. Ada lagi selain pulpen dan marker, yaitu highlighter, tapi saya gak beli karena ga merasa butuh.

Saya kurang tahu, apakah pemakai pilot Frixion ini aware dengan kemampuan menghilangnya tulisan dengan produk ini apabila kepanasan selain basah. Kalau buat saya, utamanya ya untuk menulis di ElfinBook saja. Kalau misalnya untuk menulis diary, bisa-bisa kalau salah nyimpan bukunya, lalu bukunya kepanasan, daaan kita ga bisa baca lagi pas mau membaca ulang tulisan kita.

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya: jadi pilot Frixion ini cuma berguna kalau mau menulis di buku yang tahan basah? Jawabnya tidak, bisa saja kita pakai untuk dibuku mana saja, asal kita aware kalau bukunya kepanasan ada kemungkinan tulisannya suatu hari akan menghilang. Kalau tujuan kita memang ingin membuat catatan sementara dan justru berkeinginan supaya tulisan itu akan hilang setelah beberapa waktu, penggunaan pulpen ini akan sangat berguna. Setelah kita ingin menghapus isinya, kita bisa biarkan bukunya di mobil kepanasan. Biasanya panasnya mobil itu cukup panas untuk membuat tulisan menggunakan pilot Frixion dari buku biasa menghilang.

Oh ya, kenapa beli pulpen banyak kalau Joshua pakai marker? karena ballpoint merahnya buat saya koreksi kerjaan homeschool Jonathan. Yang biru dan yang hitam buat saya dan Jonathan pakai. Jonathan menulis jurnalnya juga menggunakan pulpen Pilot Frixion.

Awalnya waktu dia mau nulis, dia ga menemukan pinsilnya, jadi saya kasihlah pulpen yang ada di dekat saya yang kebetulan adanya pulpen Pilot Frixion. Nah ternyata karena ujung pulpennya cukup kecil, tulisan Jonathan bisa lumayan rapih, selain itu kalau dia salah menulisnya masih bisa dihapus dan ditulis ulang dengan cukup bersih. Tentunya saya ga boleh lupa untuk memfoto tulisan Jonathan di jurnalnya secara berkala, buat jaga-jaga kalau bukunya tiba-tiba kena panas matahari dan isinya hilang.

Art in Paradise Chiang Mai

Hari ini kami ke Art in Paradise Chiang Mai lagi. Sebenarnya sudah beberapa kali ke sana, dan setiap kali menunda posting karena banyaknya foto yang diambil. Beberapa foto pernah di posting cerita liburan akhir tahun 2013. Sebenarnya sebelum hari ini, sudah pernah juga ke art in paradise, tapi ya waktu itu gak di posting di blog, tapi di posting di FB doang.

Sedikit tips sebelum ke tempat ini, karena tempat ini merupakan museum yang berisi gambar-gambar dengan teknik yang memberikan ilusi 3dimensi, maka siapkan kamera dengan batere yang cukup dan juga kapasitas penyimpanan yang lega. Kami belakangan ini hanya memakai kamera di HP, karena toh sudah berkali-kali ke sana. Kalau bawa anak kecil yang sangat suka berlari-lari seperti anak kami, yaa…bisa ga puas emang foto-fotonya, tapi bisalah gantian 1 orang ngejar dan 1 orang memfoto anak yang gak berlari-larian haha.

anaknya mau nolongin melepaskan mamanya nih

Tiket masuk ke tempat ini membedakan harga orang Thai dan orang asing. Seperti biasa, dengan modal berbahasa Thai plus nunjukin driving license Thai, kami bisa dapat harga lokal. Kalau mau dapat harga lebih murah, bisa juga check di traveloka atau klook. Kemarin saya cek, harga traveloka lebih murah daripada harga klook, tapi ya kami tadi beli pake harga Thai jadi lebih murah lagi hehehe.

Ada banyak sekali lukisan yang bisa di foto, tapi setiap kali kami ke sana kami gak berhasil berfoto di semua tempat. Biasanya ga bisa foto di semua tempat karena banyak pengunjung, jadi ya kadang harus antri buat foto, tapi belakangan ini gak bisa foto dengan tenang karena si kecil gak mau nunggu dan selalu lari duluan.

pas lagi pada lari-lari, cepet-cepet di foto

Kegiatan foto-foto bawa anak kecil emang cukup menantang, tapi kalau kita standby anak-anak itu ngerti kok apa yang harus dilakukan tanpa harus disuruh. Mungkin karena mereka juga bisa melihat ilusi jembatan ini, mereka langsung lari-larian melompat dari 1 kayu ke kayu lainnya. Untungnya papanya sudah siap sedia memfoto ke bagian itu. Lumayanlah ya, bisa pas banget seolah-olah mereka sedang berusaha melewati jembatan sampai ke seberang. Pada dasarnya mereka melewati jembatan itu berkali-kali. Dan setelah berkali-kali foto, dapatlah foto yang lumayan begini hehehe.

foto dengan Augmented Reality

Perbedaan yang paling signifikan yang ditambahkan setelah terakhir kami ke sana adalah: sekarang ada aplikasi yang menambahkan ARmode untuk memfotonya. Di hampir banyak lukisan, diberikan petunjuk di mana titik untuk mengarahkan AR Scannya. Untuk gambar di atas, dengan AR mode ada kesan salju turun. Efek salju turun ini tidak kelihatan kalau tidak menggunakan aplikasi AR nya.

Berikut ini juga bisa dilihat perbedaan foto diambil dengan AR dan tanpa AR. Dengan mode AR, majalahnya terlihat lebih realistis karena terletak di atas meja. Sedangkan mode tanpa AR ya memang terlihat seperti majalah, tapi sekitarnya kosong.

Museum dengan lukisan 3Dimensi ini sebenarnya sudah ada banyak di berbagai tempat. Tempat ini cukup fun kalau mau jalan-jalan tapi gak bisa jalan di luar karena hujan. Waktu yang dibutuhkan untuk melihat semuanya sekitar 1 sampai 3 jam. Kami tadi menghabiskan waktu sekitar 1 jam, cukup express karena Joshua yang lari dan gak mau nunggu. Tapi itupun udah cukup capek karena gedung museum 3D nya ada 2 lantai. Naik turun tangganya saja sudah lumayan lah ya hehehe.

Kalau ke Chiang Mai dan cuma punya waktu sebentar nunggu pesawat setelah check out hotel, bisa lah jalan-jalan ke sini buat foto-foto. Eh tapi, jangan datang sendiri, karena di sini gak bisa foto selfie. Kalau datang sendiri wajib bawa tripod. View pointnya biasanya beberapa meter di depan lukisannya. Gak mungkin kan untuk setiap foto minta tolong sama yang lewat hehehe.

Hari Anak di Thailand

Hari Anak di Thailand dirayakan setiap hari Sabtu ke-2 di bulan Januari. Perayaan hari anak di Thailand sudah ada sejak tahun 1955, tapi kami baru mengikuti kegiatan hari anak setelah Jonathan berumur sekitar 4 tahun. Sebelumnya, sepertinya kami kebetulan tidak pernah keluar rumah di hari Sabtu ke-2 bulan Januari, makanya kami gak menyadari mengenai adanya perayaan hari anak ini.

Perayaan hari anak di Thailand cukup meriah, hampir semua pusat perbelanjaan mengusung tema tertentu dan memberikan kegiatan dan hadiah untuk anak-anak. Kegiatan yang paling ramai dikunjungi di Chiang Mai setiap tahunnya di pangkalan angkatan udara yang lokasinya dekat dengan bandara Chiang Mai. Kegiatan di sana mulai dari pesawat tempur yang mengadakan show, berbagai panggung pertunjukan dan kesempatan untuk naik ke dalam pesawat tempur dan berfoto di sana.

Tempat-tempat rekreasi dan restoran yang biasanya ramai dikunjungi oleh keluarga dengan anak-anak, biasanya semakin ramai karena pada hari Anak diberikan kesempatan masuk secara gratis untuk anak-anak (orang tuanya tetap harus bayar). Untuk restoran mereka juga memberikan menu spesial atau bahkan bisa juga makan gratis untuk anak-anak. Intinya di hari Anak, semua orangtua wajib bawa anak-anak keluar rumah karena banyak tempat menyediakan berbagai hal supaya anak-anak bisa bersenang-senang tanpa biaya.

Tahun-tahun sebelumnya kami sudah pernah ke lapangan udara melihat dan berfoto dengan pesawat tempur. Kegiatan di sana benar-benar ramai dan banyak jalannya. Kami juga pernah terjebak macet dari rumah ke mall yang biasanya hanya 10 menit jadi 1 jam karena berangkat kesiangan. Hari ini kami sudah tahu kalau kami gak kepingin terlalu capek berjalan jauh tapi ya pingin anak-anak menikmati juga perayaan hari anak di Thailand.

Mwnghibur diri dari kemacetan dengan foto bareng di mobil

Walaupun kami berangkat masih cukup awal (sekitar jam 10.15), tapi lalu lintas sudah cukup macet karena arah mall yang kami tuju sama dengan arah airport di mana kegiatan paling ramai diadakan. Sampai di mall jam 11-an, mall nya juga sudah ramai banget. Tahun ini beberapa mall merayakan hari anak 2 hari. Kami tidak berencana datang lagi besok, tapi mungkin mereka membuat acaranya 2 hari supaya yang anaknya belum puas bersenang-senang bisa datang lagi besoknya.

Tema acara di mall yang kami datangi berjudul take me to the sea. Ada panggung pertunjukan yang dihias dengan balon berbentuk seperti aneka binatang laut maupun karang laut. Ada juga pertunjukan putri duyung di dalam aquarium besar yang ada di dalam mall, tapi tadi kami cuma lihat dari lantai atas.

Karena lantai dasar sangat ramai, kami memilih untuk melihat-lihat di lantai atas dulu dan makan siang. Salah satu toko tempat biasanya Jonathan dan Joshua bermain lego mengadakan acara permainan sendiri dan relatif lebih sepi. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di lantai atas daripada di lantai bawah. Joshua dan Jonathan bergantian main lego, main puzzle, dan sama-sama dapat hadiah susu, permen dan gelas.

Selesai bermain di atas, kami lihat lantai bawah sudah tidak terlalu ramai. Jonathan cuma mau ngantri untuk mendapatkan cotton candy. Joshua sudah capek jadi dia main-main dengan papanya saja sambil menunggu Jonathan ngantri cotton candy. Sayangnya saya tidak tahu di mana toko yang menjual cotton candy selain di zoo dan atau di kegiatan-kegiatan anak-anak begini. Kalau saya tahu di mana toko yang selalu menjual cotton candy, pasti saya bujukin Jonathan untuk beli saja daripada ngantri. Ngantrinya lumayan lama karena entah kenapa semua anak pengen cotton candy dan biasanya gak setiap hari mereka diijinkan makan cotton candy hehehe.

Dipikir-pikir, sebenarnya jadi anak-anak itu paling menyenangkan ya. Mereka sehari-hari tidak punya banyak persoalan dalam hidup. Apalagi kalau masih kecil banget dan belum sekolah, belum ada yang namanya harus bangun pagi supaya berangkat ke sekolah ataupun mengerjakan pr dari sekolah. Kalau udah sekolah tapi sekolah di rumah juga masih cukup enak, asalkan nurut aja pas diajarin sama emaknya hehehe. Anak-anak itu tugasnya bermain sepuas-puasnya, supaya nanti kalau sudah besar bisa lebih fokus untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dan bukannya main minesweeper atau game online di jam kerja hehehe.

Mari kita berikan anak-anak kesempatan bermain setiap harinya, jangan cuma disuruh ngerjain PR doang (ngingetin ke diri sendiri).

Kembali ke Rutinitas

Hari Senin kami mulai hari sekolah di rumah kami setelah liburan hampir 1 bulan di Indonesia. Berbeda dengan kegiatan sekolah biasanya, saya memberi tugas sekolah 1 pelajaran saja pada hari pertama dan 2 pelajaran pada hari ke-2. Rencananya baru minggu depan kami akan melakukan kegiatan homeschool secara penuh.

Kegiatan belajar di luar rumah juga sudah dimulai, tadi Jonathan sudah pergi ke kelas Kumon, tapi rencananya kelas Art baru dimulai minggu depan. Mengembalikan kegiatan ke rutin sebelumya bisa saja langsung semuanya sekaligus seperti halnya kalau belajar di sekolah, tapi saya ingin membangun mood sedikit demi sedikit supaya suasana belajarnya bisa tetap menyenangkan buat Jonathan.

Joshua tracing tulisan Thai

Joshua gak mau kalah, walau ga disuruh dia kembali sibuk dengan menulis di white board, menyanyikan berbagai math fact ataupun alphabet. Dia juga ingin mewarnai dan melatih kemampuan tracing huruf Thai selain huruf biasa. Untuk Joshua, saya tetap belum berikan pelajaran khusus, biasanya saya bebaskan dia mau mengerjakan apa dan malahan saya ajakin main mainannnya daripada belajar terus menerus.

Setelah berlibur lama di Indonesia, Joshua bisa menghitung dalam bahasa Indonesia sampai dengan 30 (tiga puluh), kadang-kadang masih gak mengerti cara Joshua mengenai pola urutan dari angka ataupun bagaimana dia menghapalkan berbagai fakta matematika. Sekarang ini Joshua menghapalkan tabel perkalian sampai perkalian 5 dalam bahasa Inggris dan mulai berusaha untuk mengucapkannya juga dalam bahasa Indonesia.

Ngomong-ngomong, waktu kami tiba di Chiang Mai beberapa hari lalu, udara tidak sedingin musim dingin, malahan cenderung panas. Eh tau-tau hari ini dari pagi udaranya dingin dan hujan. Belakangan ini memang cuaca di Chiang Mai agak aneh, ada hujan di musim dingin dan kadang juga ada hujan di musim panas. Untungnya musim hujan jadinya tidak selalu hujan dan sehari-harinya matahari selalu ada walau di musim hujan.

Kalau udara lagi dingin dan hujan rasanya agak enggan untuk melakukan kegiatan keluar rumah. Mudah-mudahan musim dinginnya kembali normal dalam arti hawa dingin dengan matahari yang cerah sehingga bisa enak jalan-jalan keluar rumah.

Sekarang ini saya harus menuliskan lagi jadwal harian kegiatan sekolah Jonathan yang baru. Ada beberapa hal yang ingin dipindahkan harinya untuk menambahkan kegiatan yang baru. Rasanya setelah terbiasa dengan beberapa hal di hari yang sama, untuk memindahkan kegiatan ke hari lain kadang-kadang gak mudah juga, apalagi kalau kegiatan itu mempengaruhi pengerjaan pelajaran sekolah.

Kadang saya terpikir, jam homeschooling kami yang udah sangat singkat saja masih bikin saya bingung atur jadwal untuk pelajaran di luar rumah seperti art, piano, bahasa Thai dan taekwondo, gimana ya dulu kami mengatur jadwalnya Jonathan waktu masih ke sekolah Senin sampai Jumat dari pagi sampai sore. Gak heran dulu setiap Sabtu dan Minggu, waktu kami tersita untuk mengantar Jonathan ke berbagai kegiatannya. Sekarang ini setiap Sabtu dan Minggu kami bisa berekreasi bersama-sama atau sekedar bermalas-malasan di rumah (family time).

Ternyata, memiliki rutin itu lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk mengatur anak-anak di bandingkan mode liburan yang kegiatannya berbeda setiap harinya. Dengan adanya rutin yang sama, lebih mudah juga menyuruh anak tidur siang (sekalian ikutan tidur siang kalau perlu).

Salah satu kelebihan dari sekolah di rumah yang di rasakan saat ini, ada fleksibilitas untuk mengubah rutin yang ada kalau dibutuhkan, dan kalau misalnya terasa jenuh atau ada kegiatan khusus, jadwal bisa disesuaikan sewaktu-waktu hehehe. Misalnya seperti sekarang ini, lagi ada oppung yang datang ke Chiang Mai, kami bisa saja sewaktu-waktu meliburkan kegiatan sekolah dan menggantikannya di hari lain hehehe. Kalau ke sekolah mana bisa seperti itu.

Kalau anak punya rutin tertentu, otomatis saya juga rutinnya makin jelas. Kalau anak bisa tidur lebih awal, saya juga jadi bisa punya waktu buat menuliskan blog asalkan idenya sudah ada hehehe.

Istana Anak-Anak TMII

Foto di depan Istana Anak-anak

TMII singkatan dari Taman Mini Indonesia Indah. Dulu taunya ya tempat melihat versi kecil dari Indonesia. Untuk masuk ke area TMII dikenakan biaya 25000/orang. Di dalam TMII ada berbagai tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Rasanya sehari tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat di dalam TMII.

Peta Taman Mini Indonesia Indah

Hari ini kami menghabiskan waktu hampir 5 jam cuma di bagian Istana Anak-Anak yang ada di TMII. Secara keseluruhan tempat ini cukup menyenangkan buat anak-anak bermain. Tiket masuk tidak mahal (10000 rupiah per orang) dan ada berbagai permainan ekstra dengan tambahan bayaran antara 5000 – 15000 rupiah. Kalaupun memilih untuk tidak menaiki wahana apapun, ada banyak area playground gratis dan panggung pertunjukan yang tidak bayar lagi.

Di dalam area Istana anak-anak ada beberapa toko yang berjualan makanan, cemilan, minuman dan es krim dengan harga di bawah harga mall. Sebelum pintu masuk juga ada beberapa jualan makanan dan minuman. Saya perhatikan, beberapa miniatur rumah daerah juga disulap menjadi tempat makan.

Beberapa penjual makanan sebelum pintu masuk Istana Anak-Anak.

Sebelum masuk ke dalam, saya pikir, kenapa ya gak dijual tiket terusan TMII, jadi kita bisa main apa saja sepuasnya tanpa harus mikirin bayar ini itu lagi. Tapi setelah kami menghabiskan 5 jam untuk 1 tempat, saya mengerti kalau dengan cara sekarang ini kita tidak harus bayar mahal, anak-anak bisa bermain sepuasnya. Kami hanya perlu membayar beberapa mainan saja di dalam Istana Anak-anak, karena walaupun ada beberapa wahana mini seperti di dunia fantasi dengan harga murah, anak-anak tidak tertarik menaikinya. Kalau anak tidak tertarik, tentu saja kita gak menawarkan hahaha.

Dari pengalaman hari ini, kami masih pengen ke TMII lagi tapi mungkin buat liburan berikutnya. Sedikit hal yang agak mengganggu saya ketika di Istana Anak-Anak ya, masalah asap rokok dan sampah. Saya tahu kalau ini masih masalah umum di Indonesia, tapi saya agak sedih melihat tempat bermain anak-anak di mana orangtuanya membuat anak-anak menjadi perokok pasif.

pengunjung ramai sekali

Untuk masalah sampah, kalau dulu mungkin masalahnya kurangnya tempat sampah. Hari ini saya perhatikan kalau tempat sampah sudah cukup banyak, tapi sepertinya mungkin masalah kebiasaan orang yang terlalu banyak datang ini bukan tipe orang yang biasa membuang sampah pada tempatnya kali ya. Kadang saya herannya ada tempat sampah sangat dekat, tapi ada saja yang meninggalkan sampahnya di dekat tempat sampah itu. Padahal tinggal 1 langkah lagi mungkin dia bisa memasukkan sampahnya ke dalam tempatnya.

Dipikir-pikir, daripada bermain ke playground mall, main ke tempat ini lebih puas bermain dan gak merobek kantong hehehe. Tadi udaranya juga cukup baik, matahari bersinar tapi ada angin yang berhembus memberikan rasa adem. Ramalan cuaca akan hujan, tapi ternyata gerimisnya datang setelah kami sudah di jalan pulang. Harapannya semoga tempat ini harganya kalaupun naik ga banyak naiknya, tapi ya perawatannya juga semakin baik dan siapa tahu dikemudian hari ada larangan merokok di kawasan bermain Istana Anak-anak ini.