Ujian Taekwondo Jonathan

Yay Sabuk Merah

Hari ini Jonathan ujian ganti sabuk taekwondo. Tidak terasa sekarang sudah sabuk merah. Sistem sabuk Taekwondo yang diikuti Jonathan mulai dari putih-kuning-kuning hijau-hijau-hijau biru – biru – biru coklat – coklat – coklat merah dan sekarang merah. Gak terasa tak jauh lagi tau-tau bakal sabuk hitam. Sistem warna sabuk ini tergantung dari klubnya masing-masing, tapi garis besarnya ya sama.

Jonathan ikut taekwondo sejak kami homeschooling sekitar 2 tahun lalu. Kelas ini menjadi bagian dari pelajaran olahraga selain untuk sosialisasi. Walau ada beberapa teman yang silih berganti, tapi ada juga beberapa teman yang seumuran dengan Jonathan dan latihan di hari yang sama. Biasanya di hari menjelang ujian ganti sabuk, semua anak akan semakin rajin latihan dan jadi lebih sering main juga sebelum pelajaran dimulai. Ujian di adakan di hari yang sama untuk semua siswa dan biasanya diadakan setiap 3 bulan.

foto bersama selesai ujian ganti sabuk

Saya tidak pernah ikutan kelas bela diri, tapi kami sengaja ikutkan Jonathan kelas bela diri. tujuan kami mengikutkan Jonathan ke kelas ini selain untuk olahraga juga untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Setiap kali ujian biasanya mereka akan diminta untuk mematahkan lembaran papan, kadang dengan cara ditendang, bisa juga dengan pukulan tangan. Setiap habis ujian, anak-anak pada bangga bisa matahin lembaran kayu.

Di kelas taekwondo mereka juga diajarkan aturan seorang yang menguasai taekwondo setiap kelas berakhir. Mereka juga diingatkan kalau apa yang mereka pelajari itu bukan untuk berantem atau menyerang orang lain. Kalau ada yang melanggar aturan atau tidak sungguh-sungguh ketika kelas berlangsung, gurunya bisa memberi teguran dan kadang disuruh pulang belakangan dengan duduk diam memikirkan kesalahannya.

Sebagian gerakan ujian yang dikirimkan gurunya

Sambil menunggu Jonathan ujian taekwondo, hari ini kami bertemu dengan keluarga Indonesia yang dulu pernah lama di Chiang Mai. Kak Lina dan keluarga kangen pengen ketemu Jonathan dan Joshua, sekalian pengen liat Jonathan yang dulunya masih baru belajar jalan tau-tau sekarang udah sabuk merah. Joshua jadi ngemall lagi deh dan main di kolam bola lagi, tapi dia malah senang karena hari ini ngemallnya dengan papa juga.

Sabtu yang sibuk dan menyenangkan, jadilah hari ini gak bisa nulis panjang-panjang hehehe.

Joshua dan ABC

Belakangan ini, kami mulai jarang ajak Joshua ke mall karena terakhir ke mall suka ga susah diajak pindah tempat, sementara kalau ke mall itu kan gak bisa cuma diam di 1 tempat saja karena biasanya ya ke mall itu buat anter Jonathan taekwondo sambil beli ini dan itu.

Hari ini Joe gak bisa anter Jonathan, jadi saya yang harus anter Jonathan ke kelas taekwondonya. Kelas taekwondonya ini lokasinya di mall Central Airport Plaza, dan ya Joshua gak bisa ditinggal karena di sini kami gak punya orang lain yang bisa dititipin Joshua di rumah.

Tadinya saya sempat mikir, aduh ini Joshua diajak ngapain ya beberapa jam di mall. Ternyata, karena udah cukup lama gak ngemall, malah nemu ada beberapa mainan gratisan yang berubah dan malah jadi bisa bikin Joshua cukup lama bermainnya.

Dari semua mainan yang ada, tema permainan Joshua selalu membentuk ABC dan 123. Mainan di mall tadi juga akhirnya ga jauh-jauh dari membentuk huruf dan angka. Ini saya posting sekalian siapa tau bisa jadi ide ngajakin anak main. Oh ya, semua ini bukan saya yang ajarin tapi, Joshua aja selalu kreatif mainan apa aja dijadikan bentuk huruf dan angka.

bisa tebak Jonathan yang mana?

Setelah antar Jonathan ke kelas taekwondonya, perhentian pertama adalah kolam bola. Kolam bola ini baru sekali ini Joshua mainkan, karena terakhir kami ke mall belum ada mainan ini. Kolam bolanya dangkal, jadi Joshua bisa singkirkan bola-bolanya dan punya tempat kosong untuk mulai berkreasi dengan huruf-hurufnya. Saya gak berhasil foto semua huruf, lagipula sebelum selesai sampai Z ada anak-anak lain ikutan masuk ke kolam bola dan jadinya ga bisa main huruf-huruf lagi deh.

Lumayan lama juga main di kolam bola sebelum diganggu anak-anak lain itu. Selanjutnya mau pindah untuk main lego, tapi eh chocho train gratisan lagi berhenti, jadilah kita naik train dulu. Di train pas foto-foto, Joshua juga sempat bikin beberapa huruf ABC waktu lagi diajakin selfi. Tapi karena hasil fotonya kurang bagus, lebih baik gak diupload di sini hehehe.

Naik train itu mutar keliling lumayan waktunya hampir 15 menit, ditambah dengan waktu menunggu kereta berangkat ya lumayan menghabiskan waktu 20 menit. Kalau lagi gak ada kerjaan di mall, ya beginilah bawa anak mainan gratisannya kereta api gratisan ini berasa menyenangkan karena gak harus ngejar-ngejar Joshua hehehe.

Abis naik kereta api, akhirnya lanjut ke tujuan semula. Mainan lego gratisan juga. Oh ya semua mainan gratisan ini untungnya letaknya di lantai yang sama, tapi lokasinya tidak bersebelahan. Bisa dibilang dari satu tempat ke tempat yang lain ya dari ujung ke tengah dan dari tengah ke ujung satunya hehehe.

Mainan lego juga dibentuk jadi ABC. Ketika sampai di huruf D, Joshua teringat dengan D for domino. Selanjutnya ya legonya dijadikan seperti domino, dibentuk angka dan dijatuhkan hehehe.

Tadi lumayan mainan lego dominonya, dari angka 1 sampai 10. Akhirnya sampai saya harus bujukin dia biar udahan karena Jonathan sudah mau selesai latihan taekwondonya dan saya juga sudah lapar.

Biasanya kalau diajakin makan, Joshua akan semangat sekali langsung mau makan, tapi entah kenapa tadi mungkin dia belum lapar dan cukup lama membujuk dia biar udahan. Pas setelah angka 10 dia udah mau pergi, eh balik lagi mulai dengan huruf A, untung berhasil dialihkan dan jadi juga makan sebelum pulang ke rumah.

Total hari ini di mall dari jam 5 sampai jam 8. Mungkin buat mall di Jakarta segitu mah sebentar ya, tapi buat mall di sini itu dah lama, apalagi kalau harus nungguin anak main tapi gak bisa ditinggal main sendiri hehehe. Bersyukur Joshua hari ini moodnya bagus dan mau diajak pindah-pindah tempat. Senang dengan mall di sini juga yang menyediakan banyak mainan gratisan, jadi ngemall itu gak harus banyak biaya ekstra untuk mainan anak-anak.

Homeschool tahun ke – 3 menggunakan CLE

Hari ini tanggal 1 Juli 2019 kami mulai lagi dengan kegiatan homeschool kami setelah libur selama bulan Juni. Tahun ini Jonathan memasuki tahun ke-3 sekolah di rumah, sebelumnya saya tanyakan juga apakah dia mau kembali ke sekolah saja, tapi jawabannya masih lebih senang dengan sekolah di rumah.

Untuk pelajaran tahun ini, Jonathan sudah masuk ke materi kelas 4 SD. Kami masih memakai kurikulum yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya dari CLE. Setelah pengalaman tahun ke-2 kemarin, kali ini mulai lebih gampang untuk mengatur jadwal. Jumlah pelajaran yang kami pakai dari CLE ada 6 pelajaran. Selain ini Jonathan masih belajar piano, Art, Thai dan Taekwondo. Masa liburan di bulan Juni, Jonathan juga belajar berenang lagi. Rencananya pelajaran berenang hanya akan diteruskan selama 6 minggu ke depan.

Untuk pelajaran Math dan Language Art jumlah pelajarannya masih sama, dalam 1 tahun ada 10 buku, dalam 1 buku ada 16 pelajaran, di mana pelajaran ke-5 dan ke-10 berupa kuis dan pelajaran ke-16 berupa test dari keseluruhan pelajaran di buku. Untuk 2 pelajaran ini alokasi waktunya belajar setiap hari sekitar 45 menit.

Spelling dan Penmanship, masih perlu banyak latihan

Untuk pelajaran Reading kelas 4 ini hanya ada 5 buku (sebelumnya ada 10 di kelas 2 dan 3), pelajaran Social Studies dan Bible juga hanya ada 5 buku. Jumlah pelajaran dalam setiap bukunya juga sama dengan Math dan Language Art. Rencananya Social Studies dan Bible cukup dipelajari 2 kali seminggu, sedangkan Reading tetap 3 kali seminggu. Untuk 3 pelajaran ini alokasi waktunya sekitar 30 menit 1 pelajaran. Oh ya selama bulan Juli dan Agustus, kami hanya akan belajar 3 hari seminggu untuk materi CLE, sisanya ya materi di luar rumah.

Pelajaran Science strukturnya agak berbeda dari yang lain. Ada 10 buku untuk tahun ajaran ini, tapi di dalamnya hanya ada 28 topik. Rencananya pelajarannya 1 minggu 1 topik. Setiap buku ada 2 atau 3 topik dan setiap akhir buku juga selalu ada testnya. Untuk pelajaran science ini biasanya Jonathan akan mengerjakan pertanyaan di buku sekitar 30 menit, lalu jika ada eksperimen dia akan kerjakan bareng papanya di akhir pekan. Kalau ada yang tertarik untuk mencari tahu apa saja yang dipelajari di kurikulum CLE, bisa liat garis besar pelajarannya di link ini.

Sejak semester 2 tahun lalu, kami tidak mengikuti co-op homeschool lagi, tapi saya menemukan grup homeschool yang lokasinya dekat rumah dan saya tidak harus ikut mengajar. Jadi sekali seminggu, Jonathan dan Joshua akan bermain dan belajar di sana sekaligus bersosialisasi. Joshua masih belum terlalu mau ikut kegiatan belajarnya, tapi ya bermainnya sudah mulai senang karena sudah kenal juga dengan pengajar dan teman-temannya di sana. Jadi sekali seminggu saya bisa me-time hehehe.

Setelah menghomeschool selama 2 tahun, persiapan untuk tahun ke-3 terasa lebih mudah, seperti tahun sebelumnya saya menyiapkan jadwal per-minggu. Kegiatan belajar di rumah masih sama, dari pagi sampai jam makan siang. Kegiatan belajar di luar rumah biasanya setelah makan siang dan bisa berubah sesuai kebutuhan. Jadwal libur juga masih bisa diatur sesuai dengan kebutuhan hehehe.

Untuk Joshua, saya masih tetap belum memberikan jadwal khusus, tapi ya pada dasarnya dia akan suka ikut-ikutan membaca flashcard, menyusun pattern block, menyusun domino, ataupun main piano dan bernyanyi. Kadang-kadang dia akan menulis di whiteboard atau membaca buku yang ada di rak buku. Joshua masih 4 tahun, kalau ikut kurikulum Thai, harusnya dia sudah di TK-2, tapi ya saya merasa TK itu gak perlu belajar akademis, lebih penting ikutin aja dia tertariknya apa. Lagipula Joshua sudah bisa baca, tulis dan mengerti konsep penjumlahan. Joshua sekarang ini lebih penting diajakin main aja yang banyak biar jangan mikirin ABC dan 123 mulu.

Materi homeschool CLE untuk level Preschool dan TK juga sudah ada di rumah, sesekali saya berikan ke Joshua kalau dia kelihatan ingin ikutan mengerjakan sesuatu di buku. Tapi karena cuma ada 8 buku tipis untuk preschool dan 10 buku untuk 1 tahun TK, sedangkan Joshua bisa mengerjakan beberapa halaman sekaligus kalau dikasih bukunya, jadi ya saya tidak berikan tiap hari hehehe. Kadang-kadang karena Joshua sudah bisa membaca, saya terpikir memberikan saja materi yang agak advance, tapi saya urungkan niat itu karena tidak ingin dia jadi bosan sekolah nantinya.

Rencananya tahun ini mulai mengajari Jonathan membaca bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Indonesia. Tapi saya belum kepikiran cara terbaik mengajarkan bahasa Indonesia. Yang terpikir sekarang ini dengan membuat dia membaca nyaring buku bahasa Indonesia 1 cerita setiap hari.

Untuk tata bahasa Indonesia, penggunaan tanda baca sebenarnya mirip dengan apa yang dia pelajari di pelajaran bahasa Inggris, terutama untuk aturan penulisan dengan huruf kapital ataupun penulisan singkatan. Tapi ya sepertinya ada beberapa hal yang berbeda, terutama untuk penulisan nomor dengan titik dan bukan koma. Kalau ada yang punya saran cara atau buku untuk mengajarkan bahasa Indonesia ke anak SD, silakan tuliskan di komen ya.

Bulan Juni kemarin, saya juga mendapatkan komunitas baru sesama homechoolers tapi yang banyak berdomisili di Indonesia. Jadi saya bisa tanya-tanya banyak dan mulai memikirkan dan mempersiapkan untuk Jonathan ikut ujian persamaan nantinya. Senang rasanya mengetahui semakin banyak komunitas homeschooler di Indonesia, jadi bisa banyak tempat bertanya dan bertukar informasi.

Joshua dan Alfabet

Beberapa waktu lalu, saya menuliskan mengenai kegiatan Joshua bermain tangram yang membentuk huruf dan angka. Sebelumnya dia sudah pernah bermain juga dengan pattern block, tapi saya pikir dia tidak tertarik dengan mainan itu dan beberapa kali saya sudah berniat untuk menjual saja pattern blocknya. Tapi hari ini saya baru menyadari, ternyata saya salah!

Kesalahan saya adalah, salah dalam memberikan pola yang harus ditiru. Joshua tidak tertarik untuk mengikuti pola gambar-gambar, tapi ketika tadi saya berikan 1 huruf A dan a, dia langsung kerjakan dengan cepat. Memang sejak kenal huruf, Joshua menunjukkan ketertarikan terhadap semua jenis huruf (bahkan huruf Thai dan Rusia!). Jadi, bukan Joshua tidak tertarik dengan pattern block, tapi dia tidak tertarik dengan pattern non alfabet.

awalnya meniru dari kertas yang saya print untuk Jonathan dulu

Tadi sore, bangun dari tidur siang, Joshua bongkar-bongkar lemari mainan dan memilih main pattern block. Awalnya dia menyusun sendiri huruf-huruf. Bahkan dia berusaha mendirikan pattern blocknya menjadi seperti domino yang dijatuhkan. Lalu saya ingat kalau saya punya pola untuk pattern block yang dulu saya persiapkan untuk Jonathan. Salah satu pola yang ada adalah pola membentuk hurf A dan a.

Alkisah, waktu dulu mengajak Jonathan bermain pattern block, saya pernah mencetak beberapa pola termasuk huruf A dan beberapa gambar lain. Tapi karena Jonathan waktu itu kurang tertarik dengan permainan ini, saya tidak mencetak semua huruf. Untungnya, saya masih bisa mencari lagi sumber pola huruf tersebut. Karena printer masih belum beli yang baru, saya download file pdf nya dan saya pikir coba deh kasih ke Joshua di ipad saja. Hasilnya? Joshua dengan sabar mengerjakan semua huruf dari A sampai Z. Saya yang tidak sabar malah nungguin dia main hahaha.

Saya mencoba memfoto setiap huruf yang dia kerjakan, tapi karena saya masih harus menyiapkan makan malam, tau-tau Joshua sudah membereskannya dengan cepat begitu selesai huruf tersebut. Sambil menyusun huruf, kadang-kadang dia bernyanyi atau bersenandung, kadang juga mendeskripsikan apa yang dia lakukan. Sesekali dia menirukan juga seperti suara yang ada di app yang dia mainkan hehe.

Selesai huruf Z, dia kembali ke huruf A, dan meniru huruf A dari ipad. Sepertinya ada perbedaan menyelesaikan dengan meniru dari ipad dan meniru dari kertas, jadi biar lengkap dia ulangi ke A. Saya pikir dia akan terusin lagi ke B sampai Z, ternyata cukup mengerjakan A nya saja.

Selesai dengan pattern block, Joshua melanjutkan membuat huruf dengan lego duplo. Lego duplo ini pernah dia liat di YouTube, sudah beberapa kali dia berlatih bikin sendiri tanpa melihat contoh. Sepertinya apa saja bisa dia bangun asalkan polanya alfabet atau angka hehehe.

Lanjut dengan Lego Duplo block

Dari sejak awal pulang sampai selesai mainan membentuk semua huruf, sepertinya lebih 1,5 jam. Papanya sampai heran, kok bisa ya Joshua lihat ipad buat niruin alfabet doang, gak tertarik buat mainan lain yang dia tau ada banyak di ipad. Dia tidak tertarik main di ipad, beberapa kali malah tertarik buat mainan lego duplonya.

Pelajaran hari ini buat saya adalah kalau ngasih mainan ke Joshua dan dia tidak tertarik, bukan berarti dia benar-benar tidak tertarik, coba dalam bentuk Alfabet dan perhatikan apakah dia tertarik atau tidak.

Joshua juga sudah mulai bisa diajak membereskan mainannya. Waktu dia teralih perhatian ingin main duplo, saya tanyakan: pattern blocknya mau diberesin? karena dia merasa belum sampai huruf Z, ya dia akhirnya ninggalin duplonya dan melanjutkan pattern blocknya. Waktu sampai di huruf Z, dia bertepuk tangan dan berseru kesenangan: you did it!

Joshua berhenti bermain dengan duplo dan pattern block karena papanya pulang dan waktunya makan malam. Selesai makan, dia bantu saya beresin mainannya supaya pattern blocknya bisa di bawa ke kamar atas. Tapi sampai atas, dia melihat domino toy nya, dan memilih menyusun domino Alfabet.

Mainan domino alfabet ini juga sudah beberapa hari ini dia kerjakan dari A sampai Z, belakangan dia minta di foto susunanya sebelum dia jatuhkan. Intinya mainan apa saja akan disusun jadi alfabet dan angka hehehhe.

Naik Sepeda

Menurut beberapa sumber yang saya baca di Internet, kebanyakan anak umur 5-6 tahun (kadang kurang) sudah bisa diajari naik sepeda tanpa roda pembantu (training wheels). Tapi tidak semua anak bisa dan tidak semua anak mau diajari. Ini sekedar cerita bagaimana mengajari Jonathan yang agak telat, baru bisa bersepeda tanpa roda pembantu di usia 8 tahun.

Waktu saya baca di Internet, banyak juga orang tua yang bingung: anaknya sudah berusia X tahun (dengan X lebih dari 6), tapi belum bisa naik sepeda, perlukah dipaksa belajar? jawabannya pun beraneka ragam, ada yang bilang ini penting, dan ada yang bilang tidak penting. Tapi ada beberapa hal yang disetujui hampir semua orang:

  • Sepeda merupakan alat transportasi yang praktis, misalnya untuk dalam kampus atau tempat wisata tertentu
  • Bisa naik sepeda akan membantu nanti kalau mau naik motor, dan bahkan ketika naik mobil (belajar memperhatikan jalan dan lalu lintas)

Sejak umur 6 tahun itu sebenarnya Jonathan sudah dicoba untuk naik sepeda tanpa roda pembantu, tapi masih gagal. Masalah utama Jonathan adalah: tidak punya keinginan untuk bisa naik sepeda biasa. Di berbagai forum yang saya baca juga sama, masalah utama adalah: anaknya tidak mau belajar. Selalu ada alasan: panas, pengen pipis, jatuh sedikit bilang sakit lalu minta berhenti, dsb. Setelah dicoba beberapa kali akhirnya saya menyerah. Tahun berikutnya dicoba lagi, hasilnya masih sama, jadi saya menyerah lagi.

Di tahun sebelumnya saya juga pernah menunjukkan beberapa video Youtube tentang belajar naik sepeda. Tapi itupun masih tidak bisa diikuti. Sebagai catatan, tidak semua metode bisa dicoba karena alasan teknis:

  • banyak metode yang butuh tempat dengan karakteristik tertentu. Misalnya: tempat yang cukup landai tapi agak menurun dan luas
  • sebagian menyarankan melepas pedal sepeda, sedangkan tidak semua sepeda bisa mudah dilepas

Terpikir juga: mungkin sepedanya sudah terlalu kecil, jadi kami ganti sepeda, tapi tetap tidak berhasil.

Sekarang sedang masa liburan Jonathan, jadi tanggal 5 Juni lalu kami memutuskan untuk mencoba lagi. Hari pertama dan kedua masih sama: tidak ada niat belajar dan dalam 10 menit Jonathan sudah menyerah. Akhirnya saya suruh sendiri cari video belajar naik sepeda di Youtube yang menurutnya paling gampang.

Alfred Pennyworth: Why do we fall sir? So that we can learn to pick ourselves up

Setelah Jonathan mencari-cari beberapa video, dia ingin mencoba-coba yang dia lihat, tapi masih gagal juga. Akhirnya salah satu cara yang agak berbahaya dicoba: didorong oleh saya sampai kecepatan yang agak tinggi, lalu saya lepaskan agar dikayuh sendiri. Ini sebenarnya berisiko karena kalau belum bisa seimbang, jatuhnya bisa lumayan keras di aspal. Tapi ternyata Jonathan bisa mengayuh beberapa kayuhan. Dan setelah diulangi lagi: beberapa kayuhan lagi bisa. Sepanjang pagi itu saya terus mendorong dia. Walau sudah bisa mengayuh, dia sudah merasa capek setelah 15 menit latihan dan minta berhenti.

Esok harinya, tanggal 9, saya masih meneruskan mendorong. Tapi Jonathan akhirnya kepikiran berlari sedikit di atas sepeda, lalu pas sepeda mulai jalan, dia bisa mengayuh sampai beberapa meter. Ini titik di mana saya anggap dia sudah bisa: tidak dibantu mulainya, bisa mengayuh, bisa berhenti sendiri.

Setelah itu pelajaran masih terus berlanjut: dia harus bisa lebih lama lagi menyeimbangkan diri, tidak hanya beberapa kayuhan. Setelah beberapa hari, akhirnya keseimbangannya sudah lebih bagus. Sekarang semangatnya tinggi sekali untuk naik sepeda sendiri. Sekarang setelah bisa, dia menganggap naik sepeda itu fun, bahkan ketika gerimis pun ingin latihan. Kemarin Jonathan sudah bisa keliling kompleks rumah tidak saya temani.

Senang rasanya akhirnya berhasil mengajari Jonathan. Walau masih khawatir juga kalau dia akan jatuh. Sepupunya yang sudah bisa naik sepeda pernah jatuh dan harus dijahit lalu trauma belum mau naik sepeda lagi. Sebagai hadiah saya pergi bersama Jonathan membelikan sepeda baru, saya juga sekalian membeli sepeda lipat supaya bisa masuk mobil jika ingin dibawa ke tempat wisata yang tidak ada penyewaan sepedanya.

Dari pengalaman mengajari Jonathan, kesimpulan saya: Tiap anak tidak sama, harus ditunggu niatnya dan kemampuannya naik sepeda. Tapi bukan berarti harus ditunggu dengan pasif, menurut saya tetap harus dicoba sambil diberi semangat. Kalau sudah dicoba beberapa kali dan tidak ada kemajuan, mungkin memang belum saatnya dan perlu dicoba lagi beberapa bulan ke depan.

Bawa Anak Potong Rambut

Setiap anak beda-beda, tapi entah kenapa punya anak 2 kalau di bawa potong rambut hasilnya sama susahnya. Waktu kecil, kami sering membiarkan Jonathan gondrong karena setiap di bawa ke tukang cukur pasti nangis-nangis. Udah coba berbagai cara tapi selalu gagal, sekarang kejadian yang sama terjadi dengan Joshua. Akhirnya sekali setahun kami paksa juga bawa dan biarkan anak menangis sambil dipegangin dan dicukur dengan cepat.

Selama 12 tahun di sini, kami selalu pergi ke tukang cukur yang sama di dekat rumah. Tukang cukur ini memang khusus untuk cukur laki-laki, biasanya ya tempat joe cukur rambut. Karena sudah kenal, mereka memaklumi kalau anak kami agak ribut sesekali pas di bawa cukur.

Sejak beberapa waktu lalu, karena sekarang tiap cukur bukan cuma Joe saya tapi juga Jonathan dan Joshua akhirnya saya minta nomor telpon dan kalau mau cukur menelpon dulu (ya, awal-awal mikirnya deket inilah, ngapain nelpon dulu, langsung aja datang hehehe). Tukang cukur ini juga sudah hapal sama kami, jadi kalau nelpon gak perlu sebut nama langsung tau: oh yang mau cukur papanya dan anak 2 ya. Mungkin mereka juga siap-siap bakal ada anak nangis gitu ya hahaa.

udah ga takut suara alat cukur

Oh ya, sampai umur 6 tahun rasanya Jonathan masih suka takut dengan suara alat cukur. Tapi sejak 7 tahun dia sudah mulai berani dan bahkan minta dikeramas segala seperti papanya. Kami pikir, ya kalau dengan begitu dia tidak ketakutan lagi di bawa potong rambut, tidak apa-apa bayar lebih, toh di sini cukur rambutnya bukan di salon mahal.

minta dikeramas juga

Sekarang ini Jonathan berani cukur tapi Joshua masih selalu takut cukur. Joe pergi sama Jonathan saja kalau cukur, lalu Joshua di bawa sendiri di hari lain supaya tidak kelamaan nungguin di tukang cukur. Tentunya sebelum ke tukang cukur, saya yang menelpon biar ga antri lama hehe.

Kalau ingat masa-masa sebelumnya, nanya ke orangtua lain kok anaknya gak masalah di bawa cukur, gak kebayang akhirnya Jonathan bisa duduk sendiri di tukang cukur walaupun menunggu sampai dia agak besar. Ya ada hal-hal yang akhirnya tidak jadi masalah setelah anak tumbuh besar, apalagi kalau anaknya tipe suka meniru papanya hehehe. Nah sekarang ini kami berusaha kasih tunjuk foto-foto dan video Jonathan cukur. Awalnya kami juga pernah bawa Joshua melihat papa dan kakaknya cukur, tapi Joshua tetep saja belum mau cukur dengan sukarela, akhirnya ya Joshua akan lebih sering gondrong sekarang ini hehehe.

Saya gak punya tips bagaimana membawa anak cukur supaya mereka mau cukur dengan sukarela selain: tunggu saja, pada waktunya mereka akan mengerti dan gak akan takut lagi potong rambut. Setelah anak bisa diajak ngobrol, mereka mungkin gak langsung berani, karena Jonathan sudah mengerti dari sejak sebelum 6 tahun, tapi pada saat waktunya dicukur, dia masih takut. Yang bisa kita lakukan ya kasih contoh, kasih pengertian, temani dan tunjukkan kalau cukur itu hanya sebentar dan toh setahun paling banyak 3 kali ke tukang cukur. Kalau rambut anaknya keriwil, setahun 2 kali juga cukup hehehe.

Review: Domino Train Toy

Beberapa waktu lalu, Joe liat mainan domino train toy, terus tertarik beli. Seperti biasa, yang suka pengen beli mainan itu papanya, mamanya bagian melarang hehehe. Tapi pas Joshua liat, eh dia jadi belajar konsep membariskan dan menjatuhkan mainan. Mainan apa aja yang bisa diberdirikan dia susun berbaris, terus berusaha dia jatuhkan seperti efek menjatuhkan domino. Joshua gak spesifik minta mainan, tapi ya karena liat dia seneng mainan begitu, akhirnya saya setuju beli mainan Domino train toy ini.

balok-balok disusun seperti domino, terus dijatuhkan

Tanggal 4 Juni Joe pesan mainannya dari aliexpress, dan hari ini mainannya sampai. Jonathan dan papanya mencoba mainannya langsung. Train toynya tentu saja butuh batere supaya bisa jalan. Kepingan dominonya pesan yang 60 keping. Lumayan sih trainnya gak berisik. Menjalankan kereta dan menjatuhkan dominonya cukup fun, tapi memasukkan domino ke tray susunan kereta api nya harus satu persatu dan agak repot.

toy train menyusun domino
domino dijatuhkan

Joshua juga senang banget liat toy trainnya menyusun dominonya, tapi kadang dia ga sabar untuk menyusun dominonya ke dalam tray jadi dia memilih untuk memberdirikan sendiri dominonya, lalu menjatuhkannya. Dia juga menyusun dominonya berdasarkan warna yang sama, atau kadang menyusun dominonya seperti huruf dan angka.

Joshua udah mainan domino nya beberapa jam hari ini. Dia selalu begitu, kalau ada mainan baru rajin banget mengeksplorasi dan menciptakan sendiri apa yang bisa dilakukan dengan mainan itu. Sebenarnya salah satu alasan saya awalnya melarang membeli mainan ini adalah: kepingannya ada terlalu banyak, dan repot membereskannya. Tapi tadi sih, saya ajak beresin dia mau beresin. Ya semoga aja tetep begitu ya. Kalau Joshua gak beresin, papanya dah janji akan bantuin beresin hehehe.

Untuk mainan seharga sekitar 15 USD termasuk ongkos kirim, mainan ini cukup fun dan bukan cuma untuk Joshua, Jonathan, papa dan saya juga senang juga menyusun dominonya. Paling senang sih emang pas menjatuhkan dan kalau sukses semua jatuh tanpa berhenti.

Plusnya mainan ini bisa dimainkan sendiri atau sama-sama karena kepingannya cukup banyak. Untuk sekarang ini saya biarkan saja Joshua menyusun kepingannya tidak selalu bisa dijatuhkan sekaligus. Minusnya, mainan ini butuh waktu buat menyusun ke tray kereta, dan juga buat beresinnya hehehe.