Review Homeschooling Grade 3 Term 1

Mulai besok, saya memutuskan untuk meliburkan kegiatan homeschooling Jonathan. Pelajaran kelas 3 yang sudah dimulai sejak bulan Juli dengan jadwal mengerjakan workbook 4 hari seminggu berhasil menyelesaikan lebih dari target materi yang direncanakan semula. Rencananya term ke-2 akan dimulai setelah kembali dari Indonesia. Liburan panjang dulu kayak sekolah-sekolah juga kan ada liburan panjang hehehe.

Kegiatan homeschool grade 3 ini lebih banyak dikerjakan Jonathan secara mandiri. Kegiatannya masih seperti sebelumnya dimulai jam 9 pagi dan selesai sebelum jam 12 siang. Hari tertentu bisa selesai jam 1.30 karena paginya ada kegiatan les piano 1 jam di luar rumah. Dibandingkan tahun sebelumnya, sekarang ini jadwalnya sudah semakin jelas dan saya juga berusaha mencetak jadwal mingguan untuk Jonathan. Kami masih cukup fleksibel, tapi biasanya saya upayakan kalau tidak terpaksa kami tetap kerjakan semuanya dipagi hari.

Kenapa dipagi hari? biar siang hari bisa istirahat atau main-main atau kalau ada kegiatan luar rumah gak harus mikirin harus segera pulang supaya menyelesaikan pekerjaan sekolah. Kadang kalau terpaksa ya bisa juga diliburkan dadakan hahaha. Dengan kegiatan 4 hari sekolah 1 minggu dan rata-rata 3 jam sehari, rasanya Jonathan punya banyak waktu untuk membaca dan beristirahat. 

Dari target kurikulum yang kami pakai, berikut ini jumlah pelajaran yang sudah selesai:

  • Math 5 buku dari 10 buku
  • Reading 5 buku dari 10 buku
  • Language Arts 5 buku dari 10 buku
  • Bible 3 buku dari 5 buku
  • Science 5 buku dari 10 buku
  • Social Studies 4 buku dari 6 buku

Pelajaran Bible dan Social Studies semester depan bisa lebih cepat selesai. Tapi ada juga beberapa rencana yang tidak berlanjut. Awalnya kami ingin juga melakukan pelajaran ekstra dengan papa di malam hari, pelajaran story of the world dan science in the beginning. Tapi karena papanya lagi banyak kerjaan, dan basically pelajaran dari CLE sudah ada social studies dan science, maka kami putuskan menunda melanjutkan 2 buku itu. Rencananya nanti kalau ada waktu di term ke-2 kami akan lanjutkan pelajaran dengan 2 buku tersebut.

Bagaimana dengan nilai akademiknya? Dari hasil test yang dilakukan setiap pelajaran ke-5, ke-10 dan ke-16 (dalam 1 buku ada 16 pelajaran), rata-rata nilainya masih diatas 90. Walau nilai akademik masih bagus, masalah fokus belajar Jonathan masih kurang bagus. Kadang-kadang saya masih harus selalu mengingatkan dia supaya ga bengong, terutama di hari-hari di mana ada libur kejepit, pasti deh fokusnya bubar jalan lagi.

Tulisan Jonathan masih kurang bagus dibandingkan dengan anak seumurnya. Walau begitu, secara umum tulisannya sudah semakin baik, terutama kalau dia ga buru-buru menuliskannya. Mengikuti instruksi kadang masih suka terlewat, misalnya beberapa problem matematika dia masih skip kerjakan. Pengerjaan latihan speed drill matematika untuk persoalan pengurangan juga masih kurang baik. 

Pelajaran yang paling dia sukai sekarang ini Reading, Bible dan Social Studies karena bisa dikerjakan dengan sangat cepat. Untuk pelajaran math dia bisa mengerti konsep baru dengan cepat. Sejauh ini dia sudah mempelajari tabel perkalian sampai perkalian 12 dan mulai dikenalkan dengan konsep pembagian. 

Pelajaran diluar buku CLE, dia masih ikut kelas piano, taekwondo, kumon bahasa Thai dan kelas menggambar di Global Art. Term 1 ini juga kami mengikuti co-op selama 3 bulan dan dia belajar Beginning Gymnastic, What’s in the Bible dan Fun Science. Pelajaran yang paling dia suka di co-op itu Fun Science, karena setiap kali mereka mengadakan percobaan yang buat dia sangat menarik.

Dipikir-pikir, dengan jadwal homeschooling sekarang ini, Jonathan belajar cukup banyak. Yang kurang itu teman hahaha. Rencananya untuk tahun depan, saya akan masukkan Jonathan ke sebuah program di mana dia bisa bertemu dengan orang yang sama setiap minggunya. 

Kehidupan homeschooling kami juga sekarang ini masih sangat santai. Bangun tidak buru-buru, tidur malam tetap tidak lebih dari jam 10. Siang bisa istirahat. Setiap jumat sore bisa jalan-jalan ke park. Sabtu atau minggu masih bisa ke zoo atau jalan ke tempat lain sama papa. Rencana untuk menambah jadwal berenang belum juga dilaksanakan karena di tempat Jonathan dulu belajar berenang sedang tidak ada guru bahasa Inggrisnya. Saya mencoba mengajar sendiri, tapi dia lebih suka main-main kalau berenang dibandingkan belajar berenang.

Secara berkala kami masih tanyakan ke Jonathan apakah dia mau kembali ke sekolah supaya punya banyak teman (dengan jadwal harus bangun pagi, tidur awal, kemungkinan ada banyak PR). Tapi sejauh ini jawabannya masih sama: mau sekolah di rumah saja. Ah senangnya besok liburan homeschooling, artinya sayanya juga libur mengajar dan ingetin dia kerjain kerjaan sekolahnya hehehee.

Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.

Review Mainan Tupperware Shape – O Ball

Saya baru tahu Tupperware memproduksi mainan juga setelah membeli bola yang berisikan puzzle bentuk-bentuk geometri ini. Waktu Jonathan masih 2 tahun, saya pernah melihat mainan seperti ini ketika sedang playdate di gereja, tapi saya tidak memperhatikan kalau bola biru merah ini merk tupperware.

Waktu Joshua masih bayi, saya gak sengaja menemukan mainan ini di sebuah toko barang bekas dari Jepang yang jualnya kiloan. Sempat pesimis kalau bentuk-bentuknya masih lengkap, tapi ternyata masih lengkap 10 puzzle bentuk di dalamnya. Serasa nemu harta karun deh.

Sejak Joshua masih belum bisa jalan, sekitar 1 tahunan dia sudah senang main dengan puzzle bola ini. Dia bisa main cukup lama dan berkali-kali walau sudah berhasil dia minta main lagi dan lagi.

Setelah agak lama saya perhatikan, baru saya melihat ada tulisan Tupperware di bola nya. Lalu saya juga baru mengamati, di dalam bentuk geometrinya ada angka dan titik-titik sejumlah angkanya. Kalau diperhatikan mereka berusaha membuat angka yang tercetak di dalamnya sejumlah sisi dari bentuk geometrinya. Mulai 1 untuk lingkaran dan 10 untuk bentuk bintang.

Selain bermain memasukkan puzzle ke dalam bolanya, Joshua juga berusaha menyebutkan nama bentuknya setiap kali sebelum memasukkan bentuk ke dalam bola.  Setelah dia mengenal angka, dia juga suka mengurutkan objeknya berdasarkan angka di dalamnya.

Barusan saya iseng membaca review benda ini, ternyata mainan ini merupakan mainan klasik dari puluhan tahun silam. Ada yang anaknya sudah berumur 30 tahunan dan mainan ini diwariskan ke cucuya. Kalau melihat dari material plastiknya memang cukup kuat, asalkan jumlah shapesnya nggak hilang, mainan ini memang bisa bertahan cukup lama.

Tapi sepertinya, daripada disimpan puluhan tahun, mainan ini akan saya donasikan atau dijual lagi saja. Lumayan kan bisa untuk beli mainan lainnya hehehe. Tapi untuk sekarang ini, walau mainan ini sudah terlalu gampang untuk Joshua mainkan, dia masih suka memainkannya cukup lama. 

Mainan ini selain mengenalkan bentuk dan angka, juga bisa dipakai untuk mengajarkan kata-kata buka, keluarkan, masukkan, urutkan. Ukurannya juga cukup besar dan tidak perlu kuatir di masukkan ke mulut, tapi juga tidak terlalu besar sehingga anak susah memegangnya. 

Kalau ada yang punya anak toddler dan bingung mau beliin mainan lagi, saya merekomendasikan mainan ini. Kalau bisa beli bekas saja, soalnya harganya barunya sepertinya cukup mahal. Asal bentuk-bentuknya masih lengkap, mainan ini masih cukup fun untuk dimainkan

Review TV Series Numberjacks

Hari ini mau mereview salah satu tontonan yang sering ditonton sama anak-anak. Awalnya nemu ga sengaja dari youtube, waktu itu mencari cara supaya Jonathan merasa lebih fun untuk belajar math facts, eh ternyata malah dapat serial yang sifatnya bukan cuma mengajarkan mathfacts saja.

Serial numberjacks merupakan animasi komputer yang disisipkan ke dunia nyata. Tokoh utama yang akan menyelesaikan permasalahan   adalah karakter animasi nomor mulai 0 sampai 9 dengan cara matematis. Seri ini asalnya dari UK, tapi bahasa Inggrisnya ga british-british amat. Kami biasanya memberikannya random kadang-kadang berdasarkan nomor yang akan jadi pahlawan. Satu episodenya sekitar 15 menitan, tapi ya di YouTube kadang sudah digabung misalnya semua episode untuk numberjacks nomor 4 dan 5.

Lanjutkan membaca “Review TV Series Numberjacks”

Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight

Buku ini salah satu yang saya beli di Big Bad Wolf kemarin. Saya belum pernah membaca tentang seri ini, sekilas dari judulnya sepertinya menarik, Space Taxi. Buku yang saya beli bundle 4 buku jadi 1 seharga 140 baht, tergolong sangat murah mengingat harga buku baru untuk chapter books biasanya sekitar 200-350 baht di toko buku Asiabooks. Judulnya Space Taxi, dibagian belakang bukunya ada klaim menyertakan fakta ilmiah juga. Saya pikir, karena Jonathan cukup suka membaca mengenai hal-hal yang terkait mengenai luar angkasa, buku ini akan menarik minatnya untuk membacanya.  

4 buku jadi 1 seharga 140 baht

Satu hal yang bikin saya suka dengan buku ini adalah: tulisan di dalamnya menggunakan font yang cukup besar. Saya tidak perlu kacamata saya untuk membacanya haha. Di dalamnya juga ada beberapa ilustrasi yang cukup membantu imajinasi untuk menikmati buku ini. Cerita dalam buku ini mengenai seorang anak bernama Archie Morningstar yang berumur 8 tahun 8 bulan 8 hari yang untuk pertama kalinya ikut papanya bekerja di malam hari. Papanya bekerja sebagai supir taxi dan jam kerjanya berbeda dengan jam kerja biasa, jadi ini seperti pengalaman pertamanya juga untuk boleh bergadang di malam hari hahaha.

Lanjutkan membaca “Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight”

Big Bad Wolf di Chiang Mai

Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sejak beberapa minggu lalu sudah berencana buat ke acara Big Bad Wolf Book Sale yang pertama kali diadakan di Chiang Mai. Selama ini cuma dengar ceritanya saja. Sebenarnya, buku di rumah sudah banyak, masih banyak juga yang belum selesai dibaca, tapi rasanya sulit menolak kesempatan melihat lautan buku.

Lautan Buku BBW Chiang Mai

Jadwal BBW itu seharusnya dimulai tanggal 30 November – 9 Desember 2018, tapi untuk hari ini mereka membuka untuk presales buat sebagian yang mendapatkan VIP Pass. Tapi kalau dilihat lagi, mereka tidak terlalu mengecek apakah yang datang punya VIP Pass atau tidak. Bagusnya datang hari ini masih belum terlalu ramai dan bisa lebih leluasa untuk browsing buku.

Lanjutkan membaca “Big Bad Wolf di Chiang Mai”

Perjalanan sebuah Stroller

Stroller ini kami beli second hand dari orang yang anaknya sudah tidak mau duduk di stroller lagi. Menurut ceritanya mereka memiliki stroller ini selama 6 tahun dan dipakai oleh ke-2 anaknya. Kami membelinya ketika Joshua mulai bisa duduk, sebelum dia setahun sampai akhirnya beberapa bulan ini dia tidak mau lagi duduk si stroller karena sudah kesempitan. Stroller jaman Jonathan terlalu ringkih untuk membawa Joshua yang sejak kecil beratnya selalu diatas grafik anak seumurnya. Stroller bekas Jonathan kami berikan ke tukang pijet yang cucunya waktu itu sudah bisa duduk.

Kalau dipikir-pikir, stroller ini sudah di bawa ke banyak tempat. Keluarga yang menjual stroller ini ke kami bukan asli Chiang Mai, dan sepertinya dalam 6 tahun pastilah sudah banyak beberapa perjalanan dengan stroller ini. Kami saja yang memakainya sekitar 3 tahun, sudah membawa ke Indonesia beberapa kali. Yang jelas sudah dibawa ke Depok maupun ke Medan.

Untuk stroller berumur 9 tahun, benda ini masih sangat bagus dan kuat. Apalagi waktu awal kami membelinya, Jonathan kadang-kadang masih minta duduk di stroller juga (Joshua saya gendong). Beban yang dibawa stroller ini juga lumayan berat, Joshua saja kami bawa sampai dia beratnya 20-an kg.

Selain stroller, banyak barang-barang kebutuhan bayi yang kami beli second hand. Crib, car seat, baby gate juga contoh barang bayi yang bisa beli secondhand dan dijual lagi kalau sudah tidak butuh. Dipikir-pikir umur barang-barang bayi itu bervariasi, harganya juga kalau beli baru bisa jauh lebih mahal daripada membeli second hand. Kadang saya kepikiran kira-kira crib yang kami beli second dan sudah kami jual lagi, sekarang ini sudah berapa kali berpindah tangan.

Membeli benda bayi baru tentunya harganya lumayan mahal. Contohnya stroller ini saja kalau di cek di lazada, karena barang bukan asli Thailand, harganya masih diatas 10ribu baht. Waktu kami beli, harganya tinggal 2500 baht, dan sekarang ini masih bisa dipasarkan dengan harga 1000 baht. Mungkin pemilik berikutnya akan menjadi pemilik terakhir sebelum akhirnya rusak, kecuali baru sebentar pakai anaknya udah ga mau duduk di stroller lagi, mungkin masih bisa dijual kisaran 800 – 500 baht atau didonasikan ke orang lain.

Di kota ini, banyak orang asing yang kadang sekedar travel untuk beberapa bulan, ada juga yang tinggal bertahun-tahun tapi setiap tahunnya pulang ke negerinya, barang bayi seperti stroller, car seat, gendongan, mainan dan buku biasanya mereka bawa dari negeri asal. Bisa jadi mereka dihadiahi atau ya beberapa benda lebih murah di Amerika atau Eropa, dan mereka ga perlu kena biaya kirim ataupun biaya impor. Kalau beruntung, kadang bisa dapat barang bayi secondhand yang masih sangat bagus dengan harga kurang dari harga beli.

Anyway, tadinya mau cerita soal stroller tapi jadi cerita barang bayi pada umumnya hehehe. Tapi karena stroller yang biasanya dibawa jalan-jalan, kemungkinannya ya si stroller merupakan barang bayi yang paling banyak dibawa-bawa selain tas popok atau gendongan untuk yang prefer gendongan.

Kami lebih suka membawa stroller, biasanya bisa untuk membawa barang-barang ekstra digantung di stroller nya. Kalau tempat tujuannya tidak stroller friendly misalnya banyak tangga naik turun, bawa anak di stroller bisa bikin ribet juga. Stroller ini paling sering kami bawa ke mall, dulu Joshua mau duduk tenang dan di lepas sesekali waktu kami menunggu Jonathan latihan taekwondo. Sekarang ini stroller nya sudah terasa sempit untuk Joshua, dia lebih suka jalan atau lari menentukan tujuan sendiri. Waktunya menjual stroller untuk digunakan keluarga yang membutuhkannya.