Joshua dan Puzzle Spelling

Suatu pagi, tiba-tiba Joshua meminta mainan spelling. Saya pikir, spelling yang mana? udah lama dia mainnya domino dan tangram, kenapa juga tiba-tiba minta spelling. Terus dia jelasin: puzzle spelling. Dia berusaha membongkar-bongkar kotak penyimpanan karena dia tau aja mainan yang lama tidak terlihat itu artinya masuk kotak penyimpanan.

mainannya dikeluarkan semua dari kotak sebelum disusun

Jonathan bilang: dia minta daftar spelling aku kayaknya. Jadi di buku pelajaran Jonathan setiap harinya ada daftar spelling, pernah juga kami minta Joshua yang bacain daftar spellingnya ke Jonathan. Tapi itu beberapa minggu lalu. Jadi aneh juga dia tiba-tiba minta spelling.

Akhirnya saya ingat mainan puzzle spelling yang memang sudah lama saya simpan jauh-jauh, karena terakhir dimainkan itu cuma dikeluarkan dari kotaknya tapi tidak dimainkan. Setiap saya bereskan, akan dia keluarkan lagi dari kotaknya, dan lagi-lagi gak dimainkan.

Saya keluarkan mainannya dan tanya: spelling puzzle yang ini? Dia langsung semangat ambil tapi meminta saya yang mainkan spellingnya. Lah gimana sih, minta mainan tapi nyuruh.

langsung kerjain beberapa kata

Akhirnya saya bilang: ini mama susun begini, Joshua yang cari gambar dan kata yang mau dieja. Kalau dulu, saya akan serahkan puzzlenya yang tinggal disusun jadi 1 kata/gambar. Tapi kali ini saya hanya buka semua gambar ke arah atas dan suruh dia yang cari gambar dan kata yang bisa disusun.

kata yang udah selesai disusun berdekatan

Awalnya semangat mencari beberapa kata. Dia ambil beberapa huruf, sambil menyebutkan nama huruf dan bagaimana bunyi huruf itu. Lalu setelah dia susun dia akan sebut kata yang dibentuk. Waktu menyusun kata ‘cake’, dia sempat ragu apakah di bacanya bunyi kek atau cek dan minta persetujuan dari saya mana bunyi yang benar. Saya bilang c-a-k-e itu dibaca bunyinya kek. Lalu dia mengulangi mengeja per huruf dan menyebut kata yang dibentuk.

Setelah menyusun beberapa kata, dia bosan dan berusaha ambil mainan lain. Saya bilang: kalau mau main yang lain, puzzlenya disimpan dulu. Tapi dia bilang jangan disimpan, dia mau main. Tapi ya gitu berulang beberapa kali. Nyari mainan yang ga ada dan tetap gak saya kasih hehehe.

Karena saya harus masak, saya tinggal dia main sendiri. Saya bilang: Joshua susun semua puzzlenya ya, kalau sudah selesai baru boleh main yang lain. Nah pas saya selesai makan, dan dia mungkin sudah mencium aroma makanan terhidang di meja makan, dia datang ke dapur dan bilang: Mama, I’m done with puzzle spelling. I want to eat now.

Saya awalnya pikir done itu ya artinya dia bosen aja dan ga mau main lagi. Eh ternyata, done itu beneran dia selesaikan semuanya hehehe. Padahal tadi gayanya malas-malasan gitu ngerjainnya setelah beberapa kata.

Saya ajak dia membaca kata-kata yang dia susun. Dan setelah itu saya tanya: mau main lagi? dia bilang: No, I want to eat now. Hehehe lapar ya ngerjain spelling puzzle aja.

Karena dia selesai mengerjakan semua puzzle spelling, saya puji dia dan bilang dia boleh makan lebih awal (biasanya makan siang nunggu papanya datang).

Kadang-kadang, mainan yang bikin berantakan seperti spelling ini saya malas memberikannya, karena butuh waktu buat membereskannya dan lebih sering dibiarkan saja dan ga terus dimainkan. Tapi kalau dikasih mainan spelling app terus-terusan, jadinya anaknya main gadget mulu dong.

selesai tanpa bantuan saya hehehe

Jadi ya tak mengapalah sesekali kasih mainan ini dan siap-siap beberes setelahnya hehehe. Dengan mainan puzzle begini, anak bukan cuma belajar spelling, tapi dia bergerak juga dan mencari gambar mana yang bisa menjadi kata.

September Ceria

Entah kenapa, setiap masuk bulan September, kata pertama yang terpikir adalah: September Ceria. Jadi karena hari ini lagi banyak kegiatan seharian keluar rumah, ya sekalian aja deh jadi cerita memulai September dengan ceria.

langit biru, awan putih, dan matahari bersinar cerah!

Pagi-pagi kami udah keluar rumah buat ke dokter gigi Joshua. Sebenarnya gak pagi banget sih, jam 9.30. Biasanya sih Minggu itu hari bermalas-malasan di rumah, jadi keluar jam 9.30 itu termasuk keluar pagi hehehe. Ke dokter gigi ini bagian dari bersihkan gigi rutin saja sih, kata dokter gigi Joshua semua bagus. Cuma 20 menit di dokter gigi sudah termasuk bayar hehehe. Belum jam 10 udah di luar rumah, kalau langsung pulang pasti malas keluar lagi, jadi ya udah deh kita lanjutkan aja jalan-jalan.

masih harus dipegangin, tapi ya prosesnya udah lebih cepet dari biasanya

Bulan Agustus kemarin ada banyak sekali hari hujan, bahkan tadi malam juga masih gerimis sepanjang malam. Eh pagi-pagi hari ini matahari bersinar cerah, pilihan jatuh ke taman kota yang sudah lama tidak dikunjungi karena hujan.

Ternyata ada banyak hal baru di taman kota. Beberapa alat olahraga bertambah. Kursi-kursi untuk pengunjung juga ada yang baru. Kalau dulu umumnya kursi dari bahan kayu, sekarang bertambah kursi dari bahan besi. Selain bagian dari taman kota, ada lagi yang baru di dekat taman, yaitu: restoran! Biasanya kalau main ke taman suka bingung mau makan di mana, nah persis sebelah taman sekarang ini ada restoran baru buka jual ayam hainan. Tadi coba beli dan rasanya lumayanlah. Semoga aja restorannya bertahan lama, kadang-kadang beberapa restoran di Chiang Mai cepat banget bergantinya kalau gak laku.

restoran ayam hainan sebelah taman

Pulang dari taman setelah mampir beli makanan, kami pun pulang ke rumah. Sampai rumah belum jam 12 siang! Prestasi ya, pagi-pagi udah pergi 2 tempat dan belum jam 12 siang hahaha. Masih sempat ngurusin jemuran yang kemarin gak kering karena hujan seharian.

nongkrong bentar sambil ngobrol sebelum liat sale

Setelah makan siang, saya keluar rumah lagi dong. Tujuan kali ini: ngemall! Janjian ama temen-temen Indonesia termasuk yang bawain kopi Aroma titipan dari Bandung (cihuy). Oh ya, yang bikin cihuy juga adalah: Joe bersedia jagain anak-anak di rumah, jadi kali ini ngemall tanpa bawa buntut. Niatnya mau liat sale sebenarnya (kalau bawa anak kan ribet milih-milihnya), tapi ternyata duitnya masih milik saya, nggak ada benda yang cocok buat di beli selain makanan cemilan hahaha. Niatnya padahal belanja baju anak-anak, eh salenya gak ada bagian baju anak. Nanya sama beberapa penjaga mereka juga nggak tau malah suruh ke bagian mall yang bukan sale. Ah kalau itu sih besok-besok aja biar ada alasan kalau ke mall lagi.

Pulang dari mall masih jam 3.30 sore, idih ini jam baik hati ya hari ini, udah banyak ke mana-mana, jumlah langkah aja udah lebih dari 5000 tapi masih jam kecil hehehhe. Setelah istirahat sebentar pergi lagi ke gereja. Pulang gereja mampir belanja di Rimping dan sampai rumah belum jam 7. Abis makan baru terasa capeknya haha. Ini nulis blog juga mata mulai kerasa ketarik-tarik hehehe.

Ada 1 bagian di Rimping yang mulai mengurangi pemakaian plastik bungkusan, jadi diikat pake daun pisang.

Tapi ya senang memulai September dengan baik. Bahkan mataharipun seperti menegaskan memberi keceriaan dengan bersinar tanpa mau kalah dengan hujan (mungkin hujannya besok hahaha). Bersyukur untuk hari ini dan besok bisa berkegiatan di rumah sepanjang hari lagi hehehe.

Membuang Obat Kadaluarsa

Pagi ini selesai sarapan Jonathan mengeluh bilang sakit kepala. Saya coba cek ternyata dia agak hangat. Padahal pagi-pagi bangun dia masih main trampolin dan sepedaan seperti biasa. Saya suruh dia istirahat dan banyak minum air sambil dipasang kompres cool fever dulu.

Sampai jam makan siang, kakinya dingin dan dia mengeluh AC nya kedinginan, padahal biasanya dia selalu mengeluh panas dan minta pasang AC walaupun di luar hujan. Saya langsung tahu kalau demamnya belum turun dan malah tambah tinggi. Cek pakai termometer 38,6 C. Karena dia mengeluh gak bisa tidur dan menggigil, plus makan siang tidak ada selera, saya pikir ya sudah saatnya dikasih parasetamol.

obat kadaluarsa yang perlu di buang

Waktu cek persediaan obat, loh parasetamol yang ada di kulkas sudah kadaluarsa dari tahun 2018!, cek obat-obatan lain, semuanya sudah kadaluarsa. Ternyata terakhir ke dokter itu kira-kira 2 tahun lalu dan tanggalnya sekitar agustus akhir/september awal. Di satu sisi berpikir: berarti anak-anak gak pernah sakit demam selama 2 tahun terakhir. Saya ingat terakhir kali itu Jonathan dan Joshua itu sakitnya lebih ke masalah pencernaan dan gak pernah butuh parasetamol dan obat-obatan batuk pilek lainnya.

Beberapa waktu lalu, kami juga baru membuang beberapa botol betadine dan obat parasetamol buat orang dewasa yang biasanya jadi persediaan di rumah. Tentunya setelah dibuang perlu untuk membeli yang baru karena betadine, band-aid, kapas, cool fever dan parasetamol itu sudah seperti perlengkapan P3K di rumah.

Sebelum membuang obat-obatan kadaluarsa, saya jadi bertanya-tanya sendiri, botol-botol kaca bekas obat sebaiknya di recycle atau dibuang begitu saja ke tempat sampah. Terus ada juga beberapa obat tablet masih dalam kemasan pertablet, kalau dibuang begitu saja bakal ada yang mungut gak ya? Akhirnya tadi tablet yang ada saya keluarkan dari kemasannya. Untuk obat syrup, saya buang dulu isinya keluar dan botolnya dibilas dikit setelah labelnya di lepasin. Terus botol-botolnya dikumpulkan untuk dikasihin ke recycle aja. Minimal kacanya tidak akan membahayakan buat tukang sampah.

Karena hari ini hujan sejak siang sampai sore, akhirnya saya titip Joe aja yang beli obat sebelum pulang ke rumah. Setelah makan sore dan minum obat, demamnya Jonathan sudah berkurang. Sebelum tidur saya pastikan ukur lagi dengan termometer sudah normal 36,5 C. Semoga malam ini dia bisa tidur nyenyak dan demamnya gak kembali lagi. Agak kuatir juga karena sekarang ini sedang banyak nyamuk dan sudah ada beberapa kasus demam berdarah di Chiang Mai, termasuk di komplek sini ada 1 yang kena.

Kalau ada yang punya saran cara membuang botol obat kosong ataupun obat kadaluarsa, bagi-bagi tips ke saya ya.

Rutinitas Saat Ini

Sebenarnya hari ini sudah hampir bolos menulis, tapi karena beberapa waktu belakangan ini Joshua melihat saya menulis sebelum tidur, dia menyuruh saya duduk dan menulis waktu masuk kamar. Jadi kepikiran untuk menuliskan soal rutinitas kami saat ini.

Jonathan main trampolin tiap pagi

Sejak Jonathan bisa naik sepeda tanpa roda bantu, kami membelikan dia sepeda baru dan juga membeli 1 sepeda lipat untuk Joe pakai. Sudah beberapa bulan ini, setiap bangun pagi setelah main trampolin, mereka keluar bersepeda keliling komplek rumah. Mereka tidak bersepeda hanya kalau hujan. Sebenarnya pengen juga mengajak Joshua bersepeda, tapi dia tidak menunjukkan ketertarikan untuk belajar sepeda, jadi ya sementara ini Joe dan Jonathan saja yang bersepeda. Saya menemani Joshua di rumah.

main sepeda kalau tidak hujan setiap hari

Setiap hari kami juga makan bersama. Makan pagi dan siang pasti bersama (kecuali hari di mana Jonathan ada kegiatan dengan grup homeschoolingnya), makan malam kadang-kadang tidak bersama kalau Jonathan ada jadwal Taekwondo.

Walaupun Jonathan tidak berangkat ke sekolah, tapi hampir setiap hari ada kegiatan di luar rumah. Kegiatan mengerjakan buku pelajaran hanya sampai sebelum makan siang, dan kegiatan keluar rumah biasanya setelah jam makan siang. Hari Sabtu dan Minggu jadi hari untuk keluarga.

Joshua mainan block domino disusun membentuk huruf

Setiap minggunya Jonathan ada kelas Art (1 x 2 jam), kelas piano (1 x 1 jam), kelas taekwondo (2 x 1,5 jam), kelas renang (1 x 30 menit) dan kelas kumon Thai (2 x 1 jam). Untuk kelas kumon Thai, walau ke kelas kumon hanya 2 x seminggu, tapi setiap harinya Jonathan harus mengerjakan lembar kerja kumon Thai. Jonathan dan Joshua juga pergi ke kumpulan homeschool 1 x seminggu dan kelas sensori 2 x 1 jam. Kumpulan homeschool ini berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore dan lokasinya dekat dari rumah.

Yoga, salah satu kegiatan di grup homeschool

Untuk Joshua, karena kami belum mulai kegiatan Homeschool secara terstruktur, dia belum kami ikutkan ke kelas-kelas tambahan. Di rumah biasanya dia akan berlatih sendiri, menulis di papan tulis, menyusun puzzle tangram atau domino, atau bernyanyi-nyanyi.

Joshua rajin berlatih menulis, ada yang tahu huruf apa itu?

Kegiatan saya sendiri jadi banyak disibukkan dengan antar jemput Jonathan dan Joshua. Untuk kegiatan yang sampai agak malam, Joe yang mengantar Jonathan, sedangkan saya dan Joshua di rumah. Kadang-kadang Joshua dan saya ikutan juga sekalian makan malam di luar.

Karena sering antar jemput dan menunggu, saya jadi punya waktu untuk mengerjakan memrise atau sekedar membaca. Pernah juga mencoba untuk menulis, tapi ya masih belum bisa langsung fokus, jadi saya malas bawa-bawa laptop dan memilih mengerjakan yang bisa dikerjakan di HP saja.

Kegiatan menulis blog ini saya kerjakan biasanya selesai makan malam. Entah kenapa, walaupun ada ide atau kebanyakan ide, saya sulit menulis di pagi atau siang hari. Makanya beberapa hari ini Joshua melihat saya menulis di saat dia akan tidur. Jadinya sudah beberapa kali kalau dia masuk kamar untuk tidur, dan melihat saya tidak duduk di depan komputer untuk menulis, dia akan bilang: “Mama, go to your chair and write!”. Demikian juga dengan hari ini, padahal saya sudah niat bolos aja nulisnya. Begitulah rutin buat anak-anak. Mereka mungkin belum belajar membaca jam, tapi mereka mengingat urutan kegiatan, termasuk mengingat kalau dia mau tidur apa saja yang harus dilakukan sebelumnya termasuk apa yang harus dilakukan mama papanya hehehe.

Perjalanan Phuket-Chiang Mai

Liburan kami selesai hari Rabu, tanggal 31 Juli 2019. Jadwal penerbangan berangkat jam 2 dari Phuket. Berdasarkan pengalaman waktu datang, butuh waktu hampir 2 jam dari mendarat sampai ke hotel, jadi kami siap-siap lebih awal dan memesan mobil jemputan untuk datang jam 9.30.

Packing pulang ke rumah itu selalu lebih mudah daripada berangkat, apalagi kami tidak membeli oleh-oleh. Saya baru packing pagi harinya hehehe (jangan ditiru yah).

Packing di pagi hari

Pagi itu Jonathan minta berenang sebelum sarapan. Karena sarapan memang baru tersedia jam 8 pagi, dan entah kenapa kami selalu bangun sebelum jam 7 di saat liburan, ya Jonathan dan papanya berenang dulu deh pagi-pagi.

Biasanya kami sarapan dulu baru mandi, tapi hari itu kami mandi dulu baru sarapan. Jam 8-an kami sarapan santai. Selesai sarapan, cek out hotel dan mobil jemputan sudah datang. Sekitar jam 10 kurang kami sudah berangkat ke bandara.

Untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan saat pulang, biasanya saya akan mengecek beberapa kali semua laci, lemari dan kamar mandi. Cek juga isi tas apakah semua dompet, hp dan passport masih ada di tas. Setelah yakin tidak ada yang ketinggalan baru deh tutup koper dan kunci.

Perjalanan ke bandara Phuket relatif lancar, sekitar jam 11-an kami sudah sampai. Waktu berangkat dari Chiang Mai, kami sempat disuruh menunggu untuk memasukkan bagasi karena kami datang 5 menit lebih awal dari jam cek-in di buka. Saya sempat mikir, kalau belum bisa masukkan bagasi, ya paling harus makan sambil bawa bagasi. Ternyata walau kami datang masih 3 jam sebelum keberangkatan ke Chiang Mai, kami bisa memasukkan bagasi langsung dan bahkan masuk ke ruang tunggu.

Ruang tunggu domestik Phuket Airport

Ruang tunggu domestik di Phuket ini cukup besar dan tidak ada sekat-sekat ruangannya. Ada banyak restoran di dalamnya, jadi sambil menunggu bisa makan siang dulu. Biasanya saya perhatikan hampir di setiap airport yang kami datangi ada McDonalds ataupun KFC, nah kemarin itu saya tidak menemukan sama sekali di bagian dalam. Ada beberapa restoran SubWay dan coffee shop. Sempat agak repot mencari makan siang Joshua, kami pikir menu telur dadar itu gampang dicari di mana saja, ternyata di airport domestik Phuket tidak ada yang jual telur dadar, adanya telur mata sapi. Makanan seperti spaghetti carbonara juga tidak ada. Untungnya Joshua masih cukup kenyang sarapan tadi pagi, jadi dia gak rewel kelaparan hehehe.

Main Tangram menunggu masuk ke pesawat

Harga makanan di Phuket relatif mahal, dan harga makanan di airport lebih mahal lagi. Biasanya, kalau ada KFC atau McDonalds sih kami memilih makan di sana, atau kalau jam terbangnya pas dengan jam makan siang, kami sudah akan memilih prebook meal. Tapi kali ini karena jam terbangnya sudah lewat jam makan siang, kami memilih makan di airport biar ada kegiatan juga dan gak terlalu lapar karena kelewat jam makan siang hehehe.

Ruang tunggu domestik airport Phuket ada banyak restoran di dalamnya

Kami bersyukur, selama kami liburan di Phuket, walaupun bulan Juli itu namanya sedang musim hujan, kami kebagian matahari cerah tanpa hujan sama sekali. Perjalanan berangkat dan kembali ke Chiang Mai juga tidak ada delay dan semua lancar. Di pesawat menuju Chiang Mai, Joshua sukses tidur, sepertinya sudah gak penasaran lagi dan mengerti tinggal pulang ke rumah hehehe. Pesawat mendarat jam 4 sore, setelah ambil bagasi, kami pesan taksi ke rumah. Di Chiang Mai ada taksi ke arah dalam kota 150 baht. Karena rumah kami dekat, kami cukup membayar 150 baht sampai ke rumah. Kalau jaraknya jauh atau bawaannya banyak, harus membayar sedikit lebih mahal. Sekitar jam 4.30 kami sudah sampai di rumah.

Hal yang perlu diingat untuk perjalanan lain kali: jangan lupa cek-in online 48 jam sebelumnya.

Joe dengan Joshua, saya dengan Jonathan

Semakin dekat dengan waktu keberangkatan, semakin sedikit pilihan tempat duduk. Waktu berangkat kami masih bisa membeli kursi dengan pilihan anak-anak duduk dengan Joe, dan saya diseberang. Waktu pulang, kami hampir lupa cekin dan ga ada pilihan lain, jadinya dapat 2 di kiri dan 2 di kanan, untungnya masih dalam baris yang sama.

Kalau kita perjalanan sendiri, mungkin tidak masalah ditempatkan di mana saja, tapi kalau bawa anak dan keluarga, lebih enak kalau bisa duduk dalam baris yang sama.

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah: pastikan menimbang bawaan sebelum berangkat. Waktu berangkat, timbangan kami lagi habis batere, saya kira-kira aja mikirnya 20 kg itu cukup untuk bawaan kami. Ternyata waktu ditimbang, kelebihan 2 kg. Untungnya, si mbak counter baik hati dan hanya mengingatkan lain kali manage bawaan sesuaikan dengan beban bagasi yang dibeli. Karena sudah tau begitu, waktu pulang kami beli yang 25kg.

Dari pengalaman terbang pada saat bukan jam makan, dipikir-pikir ada baiknya tetap memesan prebook meal terutama untuk anak-anak. Membeli makanan di pesawat seringnya udah kehabisan duluan walaupun kita bersedia membayar lebih mahal. Kalau berangkat dari rumah, bisa juga membawa bekal sesuai dengan makanan yang biasa di makan anak.

Namanya liburan, ada bagian lelahnya tapi ya nikmati saja. Pengeluaran juga pasti ekstra, tapi tentunya sudah ada anggarannya makanya kita berangkat. Rencanakan liburan dengan baik terutama anggarannya, supaya semua bisa menikmati dan gak perlu merasa bersalah kalau membeli makanan yang lebih mahal dari biasanya hehehe.

Cerita liburan Phuket selesai sampai tulisan ini. Lain kali saya akan tuliskan review pengalaman kami mengenai hotel yang kami tempati selama di Phuket.

Cerita Liburan Phuket Hari ke-3: Rawai Kids Park dan Pantai Rawai

Hari Selasa 30 Juli 2019, merupakan hari ke 3 dan sekaligus hari terakhir kami untuk eksplorasi Phuket. Karena sekarang ini lagi musim hujan dan banyak warning mengenai air laut yang sedang agak naik, kami tidak merencanakan untuk naik boat (selain itu Joshua juga selalu menjawab tidak mau kalau diajak naik boat). Jadi rencana hari terakhir ini kami akan eksplorasi sekitar hotel saja.

Pagi hari kami sarapan dulu dan berenang di hotel. Selesai berenang, kami ambil shuttle dari hotel untuk ke Pantai Rawai. Sebelum berangkat, saya baca ada tempat bermain anak-anak di dekat pantai Rawai yang juga ada restorannya. Karena sudah waktunya makan siang, kami memutuskan untuk belok ke arah Rawai Park tersebut.

Shuttlenya lebih besar dari bajaj/tuktuk

Ibu-ibu yang membawa shuttlenya baik hati, kami diantar sampai ke kids park. Kalaupun jalan, dari pantai ke kids park ini ya sekitar 500 m lah.

jam buka dan petunjuk dilarang bawa makanan masuk

Biaya masuk kids park ini untuk hari biasa 200 baht/anak untuk main sepuasnya. Orang dewasa dikenakan biaya juga 100 baht/orang. Untuk weekend dan hari libur, biaya anak-anaknya 350 baht, sedangkan dewasa sepertinya tetap 100 baht. Tempat ini cukup murah kalau dibandingkan tempat bermain di mall di Chiang Mai ataupun di Jakarta. Biaya 200 baht/anak itu bisa akses ke waterpark, playground outdoor, sand area dan juga tempat bermain indoor yang ber AC.

Menu makanan di restorannya harganya juga tidak terlalu mahal. Kami makan ber-4 sekitar 500 baht (ini tentunya tergantung dari porsi makanan yang dipesan juga).

main pasir sebelum makan

Sambil menunggu makanan datang, anak-anak main pasir dulu. Lalu setelah makan, anak-anak main di playground outdoor. Karena kami sudah berenang di hotel, saya tidak membawa baju ganti untuk bermain di area waterparknya. Jonathan kepingin main di waterparknya, tapi ya, mataharinya juga sangat panas waktu itu. Waterparknya kolam dangkal dengan slide dan sesekali ada busa disemprotkan ke kolam. Mungkin lain kali kalau main ke sana bisa dari pagi karena kalau saya baca websitenya mereka menyediakan sarapan jam 7 pagi.

waterpark keliatan dari restoran, tapi anak-anak gak mainan ini lagi karena sudah berenang di hotel

Selesai makan, anak-anak main di playground di luar, setelah itu karena panas kami masuk ke playground indoor.

Khusus ruang bermain indoor wajib menggunakan kaus kaki. Kalau tidak membawa kaus kaki, kita bisa membeli seharga 40 baht sepasang. Ruangannya cukup luas dan ada banyak pilihan mainan. Setelah agak lelah bermain, kami istirahat dan makan eskrim di area bermain outdoor. Setelah itu, kami pikir anak-anak sudah akan minta pulang, eh ternyata mereka minta masuk ke dalam lagi.

Sekitar jam 4.30 sore, akhirnya kami memutuskan membawa anak-anak jalan ke pantai. Joshua sudah terlihat mengantuk dan kecapean. Kami beli susu di family mart di seberang pantai Rawai dan bermain sebentar di pantai.

Pantai Rawai ini lebih besar daripada pantai Yanui, tapi ada lebih banyak perahu yang sandar di sana. Kami tidak menjalani keseluruhan pantai, jadi tidak melihat di bagian mana kira-kira anak-anak bermain air. Karena Joshua mulai terlihat makin ngantuk, akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel sekitar jam 5.

Karena Shuttle dari hotel hanya ada 1 arah ke pantai dan tidak sebaliknya, kami memanggil grab untuk pulang ke hotel. Sebenarnya kalau Joshua dalam kondisi tidak mengantuk, kemungkinan kami akan jalan pulang, karena jaraknya ke hotel hanya sekitar 1,3km dan jalannya biasa saja. Tapi gak mungkin menggendong Joshua sejauh itu, jadi kami naik Grab saja. Biaya Grab di Phuket tergolong mahal kalau dibandingkan dengan di Chiang Mai. Untuk sampai jarak tertentu sepertinya biaya minimumnya 370 baht.

Pulang ke hotel, Joshua masih melanjutkan tidurnya. Sepertinya dia benar-benar kehabisan tenaga setelah bermain berjam-jam di Rawai Park. Kami memutuskan untuk makan malam di hotel saja dan istirahat supaya perjalan pulang esoknya kami semua dalam keadaan segar.

Cerita Liburan Phuket hari ke-2: Aquarium, Mall dan Big Budha

Hari Senin 28 Juli 2019 merupakan hari libur di Thailand. Awalnya sempat khawatir kalau tempat wisata bakal ramai sekali, tapi ternyata perjalanan masih lancar dan tidak ada tempat yang terlalu padat.

Untuk perjalanan hari tersebut, saya menyewa mobil seharian dengan supir. Setelah cek harga di sana-sini, supir ini sama dengan yang menjemput kami dari bandara. Kalau airport transfer 800 baht (jarak airport ke hotel yang kami tempati hampir 50 km), nah untuk sewa mobil seharian dia bilang dari pagi sampai jam 7 sore (sekitar 10 jam) 2000 baht. Harga di web yang saya temui untuk sewa dengan supir sekitar 8 jam itu semuanya lebih dari 2200 baht.

Selesai sarapan, sekitar jam 9.30 kami sudah menuju Aquarium Phuket. Perjalanan dari hotel ke aquarium lancar dan jalanan relatif sepi. Karena kami punya tiket MusePass, kami tidak perlu membayar sama sekali. Jika harus bayar harga tiket masuk orang asing dewasa 180 baht dan anak-anak 100 baht. Harga orang lokal sekitar setengah dari orang asing.

video beberapa foto selama di aquarium phuket

Aquarium Phuket ini tempatnya lebih kecil dari aquarium Chiang Mai, di luarnya kita bisa berjalan menyusuri pinggiran pantai.

Foto sebelum masuk ke aquarium

Sayangnya di lokasi aquarium tidak ada restoran untuk makan siang, tapi ada coffee shop yang menjual snack, minuman dan es krim selain kopi setelah toko suvenir. Di toko suvenir ini ada puzzle abc yang bisa membuat Joshua betah lama bermain. Kalau orang lokal sini biasanya sudah persiapan bawa bekal untuk piknik, selesai melihat ikan mereka akan duduk dipinggir pantai sambil buka bekalnya.

Di aquarium phuket ada pertunjukan singkat yang juga berusaha mengajarkan kesadaran menjaga alam laut. Pertunjukannya ada animatronik mermaid gitu plus film singkatnya. Joshua agak takut melihatnya.

patung mermaid yang bersuara dan bergerak

Waktu kami ke sana, aquarium nya agak panas karena sepertinya AC nya rusak, tapi dibagian pertunjukan AC nya lumayan adem. Sekitar 1 jam, anak-anak mulai bosan keliling aquarium.

Belajar tentang umur sampah plastik – kesadaran lingkungan

Tujuan berikutnya mencari makan siang sekaligus ketemu teman saya di mall. Kesan tentang mall di Phuket: bagian food courtnya agak lebih mahal dari di Chiang Mai tapi lebih banyak pilihan makanan halal. Pilihan makanannya sama saja dengan di Chiang Mai, jadi lebih gampang memilih menu makan siangnya. Kami tidak menjelajah keseluruhan mall nya, karena kami menggunakan waktu makan sambil duduk ngobrol saja.

Oh ya, ketemu kak Imit dan keluarga ini bukan kebetulan. Jadi ceritanya, tahun lalu sudah diajakin ketemuan di Thailand selatan, tapi waktu itu kami belum bisa. Nah beberapa bulan lalu kak Imit kasih tau mereka berencana ke Phuket dan bertanya apakah kami ada rencana ke sana juga. Karena kebetulan kami belum ada rencana liburan, dan sudah 12 tahun menunda ke Thailand Selatan dengan berbagai alasan (dan pernah udah beli tiket ga jadi pergi karena belinya sebelum tahu hamil Joshua), jadi kami sempatkan kali ini untuk liburan ke Phuket sekalian ketemuan dengan kak Imit.

Selesai dari mall, kami melanjutkan ke view point Big Budha. Joshua ketiduran di mobil, dan walau sudah ditunggu sampai hampir 30 menit, dia nangis waktu dibawa turun. Akhirnya di Big Budha cuma sempat foto sedikit dan Joshua dibawa lagi ke mobil sama Joe. Saya dan Jonathan yang naik ke atas untuk foto-foto pemandangan kota Phuket dari atas. Bagian Big Budha sedang dalam renovasi, tapi tetap dibuka untuk umum.

Oh ya, untuk ke arah Big Budha ini, perjalanannya agak menanjak dan ada bagian yang kurang bagus. Masuk ke area Big Budha ada aturan pakaian yang tidak boleh terlalu terbuka, mereka meminjamkan sarung/scarf untuk menutupi bagian punggung atau kaki kalau ada yang terlalu terbuka. Banyak orang sembahyang ke sana. Tempat ini tidak memungut biaya alias gratis, tapi ada tempat untuk memberikan donasi jika kita ingin memberikan donasi untuk renovasi tempat ini. Waktu kami ke sana sudah agak sore tapi belum sampai matahari terbenam. Karena Joshua sudah agak rewel, kami tidak menunggu matahari terbenam. Kabarnya pemandangan matahari terbenam di Big Budha juga cukup indah.

Selesai dari Big Budha, kami pulang ke hotel. Kami pesan makan malam di hotel dan istirahat deh. Jonathan minta berenang lagi, tapi karena kami sudah lelah dan gak bisa menemani, kami suruh main di bathtub saja dan janjikan besok pagi berenangnya. Joshua sampai hotel sih udah tenang, apalagi setelah dikasih makan. Mainan di bathtub udah cukup buat dia hehehe.