Ralph Breaks the Internet

Sudah lama gak nonton ke bioskop, film ini release tahun 2018 tapi baru bisa nonton film ini sekarang di rumah. Ceritanya masih seputar persahabatan Ralph dan princess Vanellope. Untuk baca plotnya bisa liat di sini. Film ini merupakan sequel dari film Wreck-It Ralph. Tapi kalaupun belum nonton film pertamanya, kita bisa menonton film ini tanpa merasa ada yang kurang. Film pertama kesimpulannya terciptanya persahabatan antara Ralph tokoh permainan arcade Wreck-It Ralph dan Vanellope tokoh pembalap dari game arcade Sugar Rush. Cerita film ke-2 ini cukup menarik menjelaskan mengenai internet. Pertama digambarkan mereka menginstal WiFI di Arcade Center, dan disitulah asal mula Ralph dan Vanellope bisa menjelajahi dunia Internet.

poster Ralph Breaks the Internet, sumber dari internet

Penggambaran Internet yang cukup menarik adalah adanya Mr. KnowsMore untuk tempat bertanya banyak hal. Ada e-bay tempat orang-orang berbelanja dengan sistem lelang dan harus membayar dengan kartu kredit, ada TubeBuzz dimana orang-orang berusaha mendapatkan heart sebanyak-banyaknya dan bisa di monetize. Selain itu ada juga keliatan gedung-gedung dengan lambang Amazon, Google, Pinterest, dan Instagram.

Selain menggambarkan apa saja yang ada di internet, termasuk bagaimana sebuat video viral untuk sesaat dan kemudian digantikan oleh yang lain, ada juga penggambaran bagaimana agen-agen bekerja untuk mengundang orang lain mengklik video yang dipromosikan dengan harapan mendapatkan heart (atau like). Jumlah heart itu bisa dikonversi menjadi sejumlah uang yang bisa dipakai untuk membeli benda beneran. Misi Ralph dan Vanellope adalah membeli spare part untuk Gamenya Vanellope dari e-bay, dan untuk mendapatkan uang untuk membelinya mereka berusaha membuat video yang bisa menghasilkan uang.

Selain bagian menghasilkan uang dari konten video, di film ini juga digambarkan adanya virus yang bisa menginfeksi internet. Namanya virus, tentu saja membuat internet sempat kacau. Virusnya digambarkan karena adanya insecurities dari Ralph yang kemudian insecuritiesnya diduplikasi. Cara film ini menceritakannya tentu saja lebih menarik daripada apa yang saya tuliskan di sini, jadi jangan pikir film ini film teknikal ya, ini film anak-anak hehehe.

Bagian lain yang menarik dari film ini adalah ketika Ralph membaca komen-komen yang ada tentang videonya. Lalu ada yang bilang begini: Rule no 1 di Internet: jangan pernah baca bagian komen. Ya walaupun begitu banyak orang yang memberikan like, di internet akan selalu ada orang yang tidak suka dengan apa yang kita share dan memberi komentar yang negatif. Kalau saya sih menerapkan prinsip lebih baik gak komen daripada ngasih komentar negatif. Godaan untuk menuliskan hal-hal berupa kritik negatif sering ada sih, tapi kalau memang ada hal yang perlu dikritik, lebih baik menyampaikan langsung daripada komentar yang di set publik lalu mengundang orang lain menambah komentar negatif lainnya. Oops jadi curcol, oke balik lagi ke cerita film ya.

Satu hal yang bikin saya terhibur ketika melihat princess dari film-film Disney juga ada di film ini. Cinderella, Rapunzel, Mulan, Elsa, Anna, Snow White dan beberapa tokoh lain yang saya tidak kenal. Awalnya saya pikir putri-putri ini cuma sekedar supaya film ini menarik penonton yang udah menonton film-film Disney sebelumnya, tapi ternyata mereka cukup punya peranan. Lucu ketika melihat mereka berganti baju dengan kaos biasa dan tanpa gaun, lalu bilang ah kenapa baru tau sekarang mengenai baju begini yang sangat nyaman. Saya juga merasa lucu ketika mereka tidak percaya Vanellope seorang putri lalu memberikan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan kalau dia putri.

Vanellope: Hi.
[The Princessess all assume attack postions, each with holding an item, specific to their character, as a weapon]
Vanellope: Woah, woah, ladies! I’m a…princess too!
Pocahontas: What kind of a princess are you?
Vanellope: Uh…
Rapunzel: Do you have magic hair?
Vanellope: No.
Elsa: Magic hands?
Vanellope: No.
Cinderella: Do animals talk to you?
Vanellope: No.
Snow White: Were you poisoned?
Vanellope: No.
Aurora, Tiana: Cursed?
Vanellope: No!
Rapunzel, Belle: Kidnapped or enslaved? 
Vanellope: No! Are you guys okay? Should I call the police?
Rapunzel: Do people assume all your problems got solved because a big strong man showed up?
Vanellope: Yes! What is up with that?
Pocahontas, Merida, Rapunzel, Elsa, Aurora, Moana: She is a princess!
[Snow White pokes her head in and sings a few happy notes]

percakapan Vanellope dengan putri-putri Disney

Selain percakapannya putri ini, ada banyak bagian lain yang cukup menarik. Tapi dari keseluruhan film ini yang paling saya suka adalah persahabatan antara Ralph dan Vanellope. Mereka tidak memaksakan bersahabat itu harus selalu bersama-sama, dan walaupun tidak berada di arcade yang sama, mereka tetap menjalin komunikasi dan bertukar cerita secara rutin. Saya jadi agak merenung, mengingat teman-teman yang dulu terasa sangat dekat tapi sekarang saya bahkan gak tahu kabarnya karena walaupun mereka punya akses ke Internet, tapi saya merasa setelah gak ngobrol sekian lama jadi gak tau juga mau mulai bertanya dari mana. Kalau saya nanya kebanyakan ntar saya disangka interogasi lagi hehehe.

Anyway, film ini hiburan menarik untuk mengisi akhir pekan di tonton dengan anak-anak. Kalau anaknya sudah agak besar, setelah nonton bisa dilanjutkan pelajaran pengenalan internet dan bagaimana supaya tetap aman di Internet hehehe.

Applikasi untuk Mengenal Huruf Thai

Tulisan ini masih ada sambungannya dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Nah kalau misalnya mantap nih mau jalan-jalan atau tinggal di Chiang mai, hal berikut yang perlu diketahui adalah bahasa Thai itu berbeda dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Tulisannya bukan dengan alphabet a-z seperti yang kita kenal dan satu hal lagi yang sangat perlu diperhatikan, bahasa Thai itu bahasa yang tonal. Jadi kalau kita mengucapkan sesuatu, nada naik turun suara kita bisa membuat kata yang transliterasinya sama berbeda makna.

Nah supaya familiar dengan huruf-huruf Thai, kalau ada yang mau mengenal 44 konsonan, 32 vokal, tone marks dan angka dalam tulisan Thai, bisa coba donlot aplikasi KengThai. Aplikasi ini ada versi lite yang bisa dipakai secara gratis dan cukuplah kalau mau pengenalan tahap awal. Kalau misalnya punya anak kecil, nah aplikasi ini juga cocok buat anak kecil belajar tracing huruf Thai hehehe. Aplikasi ini tersedia di AppStore untuk iOS maupun GooglePlay untuk Android.

Ada banyak aplikasi untuk belajar bahasa Thai, tapi saya suka dengan aplikasi ini untuk mengenalkan hurufnya dulu. Aplikasi ini juga mengenalkan cara menulis huruf Thai. Berbeda dengan menuliskan alphabet latin, menuliskan huruf Thai ada aturannya, bukan sekedar asal terlihat sama bentuknya. Setiap huruf Thai juga ada namanya dan bunyinya. Kalau sudah bisa mengingat sebagian besar informasi dari game ini, tahap berikutnya baru deh mencoba aplikasi untuk belajar bahasa Thai.

Dulu, waktu saya di awal belajar bahasa Thai, aplikasi ini belum ada. Saya kursus bahasa Thai untuk percakapan saja dan tidak langsung belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Kalau saya mengulang dari awal, rasanya saya akan memilih untuk belajar membaca dan menulis langsung sambil belajar percakapannya. Sekarang ini setelah nyaman bisa berbahasa Thai, ada kemalasan tersendiri untuk memaksakan diri membaca dan menulis bahasa Thai, apalagi karena tidak ada kebutuhan.

Joshua dan Jonathan belajar menulis huruf Thai menggunakan applikasi ini, selain juga dengan bantuan poster di rumah dan buku-buku yang bisa di trace yang bisa di beli dengan murah. Dibandingkan aplikasi lain, aplikasi ini antar mukanya lebih besar dan lebih gampang untuk tracingnya. Gambarnya juga cukup menarik dan suaranya cukup jelas untuk ditirukan. Sekarang ini, Joshua sudah bisa mengingat keseluruhan 44 konsonan Thai, tapi karena dia masih belum mengerti konsep menggabungkan konsonan dan vokal, dia belum bisa diajarkan untuk membaca bahasa Thai yang menggabungkan konsonan dan vokalnya.

Setelah belajar mengenal huruf, tahap berikutnya adalah mengenal kata-kata dalam bahasa Thai. Nah untuk ini akan saya tuliskan di posting terpisah. Belajar bahasa itu tidak cukup dengan 1 app atau 1 buku saja. Kunci dari belajar bahasa adalah kita harus menggunakan bahasa itu. Contohnya, walaupun bertahun-tahun sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, tapi untuk menulis dalam bahasa Inggris, grammar saya masih sering kacau. Untuk bahasa Thai juga vocabulary yang tidak dipakai banyak yang saya lupa walaupun pernah belajar.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi app atau buku untuk belajar bahasa Thai, silakan tulis di komen ya.

Jonathan dan Global Art

Jonathan dari kecil gak suka mewarnai. Dari dulu kalau menggambar juga ya suka asal-asal saja. Sejak homeschooling, karena saya tidak sabar ajarin teknik gambar warna ataupun yang mengarah ke art, saya daftarkan Jonathan ikutan kelas di Global Art dekat rumah.

Global Art ini franchise international, mereka punya program yang cukup jelas step by stepnya. Tiap level ada buku kerja untuk muridnya, di akhir level anak akan diberi semacam test kecil dan diberi laporan ke orangtua. Sejak ikutan kelas di sana, Jonathan sudah menyelesaikan 2 buku (1 buku kira-kira 10 gambar), dan sekarang sudah hampir menyelesaikan buku ke – 3.

Tujuan saya masukkan Jonathan ke Global Art untuk menjadi bagian dari homeschoolnya karena saya tidak bisa mengajar art. Awalnya saya pikir masa sih mewarnai saja harus dilesin? tapi ternyata setelah sekian lama saya bisa lihat kalau lesnya gak sekedar mewarnai. Ada teknik mewarnai mulai dari menggunakan crayon, pensil warna, cat air dan kadang-kadang ada selingan kelas handicraft juga.

Awalnya, fokusnya memang teknik mewarnai, tapi sekarang ini Jonathan mulai diajarkan untuk membuat ilustrasi. Pertama Jonathan harus menentukan apa cerita dari yang mau digambarkan. Lalu Jonathan diminta untuk membuat sket sendiri. Gurunya akan membantu memberikan sketsa yang lebih bagus, lalu Jonathan diminta untuk menggambar sendiri dan tentunya sambil dipandu. Setelah digambar baru diwarnai.

Jonathan belajar di sana 1 x seminggu, dan sekali datang sekitar 2 jam. Kadang-kadang dia butuh 2 kali datang untuk menyelesaikan 1 pekerjaan. Kelasnya sebenarnya bukan kelas privat, tapi karena kami bisa datang di saat tidak ada anak lain yang datang, jadinya seperti kelas privat. Bagusnya kalau tidak ada anak lain, Jonathan tidak jadi terdistract buat ngobrol atau main mulu.

Di masa-masa liburan sekolah, biasanya akan ada kegiatan khusus selama seminggu (opsional), nah kadang-kadang kalau handicraftnya menarik saya akan ijinkan Jonathan ikutan kelas khusus sekalian kesempatan dia untuk bertemu teman-teman baru.

Sekarang ini Joshua belum saya ikutkan ke Global Art, karena Joshua masih mau disuruh mewarnai walau tetap saja belum rapi. Nanti rencananya kalau dia sudah 4 tahun, mau ikut kelas trial dulu untuk melihat apakah dia bisa belajar di Global Art atau tidak.

Fishing Game

Mainan ini umurnya udah 6 tahun (dari april 2013), dulunya dibelikan sama temennya Joe buat Jonathan. Waktu itu Jonathan masih berumur 2 tahunan dan mainan ini untuk anak 3 tahun ke atas. Nah kebetulan, sebelum ke Bandung kami sudah beli mainan serupa yang lebih kecil di Depok, tapi karena mainan ini lebih besar, tentunya kami bawa ke Chiang Mai dan masih awet sampai sekarang dan bisa dimainkan sama Joshua juga.

bisa main bareng

Dulunya, mainan ini banyak saya simpan, sesekali dikeluarkan dan setiap dikeluarkan dimainkan sampai baterenya habis. Setelah batere habis, karena gak ada suaranya Jonathan bosan. Sebelum ikan-ikannya hilang, saya rapihkan dan simpan kembali ke dalam kotaknya dan masukkan lemari hahaha.

Setelah ada Joshua, mainan ini sudah beberapa kali dikeluarkan juga. Jonathan juga masih suka memainkannya. Waktu Joshua masih kecil banget, dia senang mendengarkan musiknya dan kebanyakan Jonathan dan papanya yang main pancing-pancing ikan. Mainan ini gak terlalu mudah dimainkan, karena harus nunggu ikannya terbuka mulutnya baru bisa dipancing. Tapi mainan ini cukup seru karena kadang-kadang sudah kepancing eh lepas lagi. Mainan ini bisa dimainkan sampai 30 menitan, sebelum akhirnya bosan dan beralih ke mainan lain.

jangan buang kotaknya, supaya mainannya tidak ada yang hilang

Setelah 6 tahun, karena kami kadang-kadang lupa mengeluarkan baterenya ketika menyimpan, tempat baterenya mulai berkarat. Setelah dibersihkan sama Joe, masih bisa dimainkan dan berjalan dengan baik. Ikan-ikannya juga masih utuh jumlahnya, walau kadang-kadang mulut ikannya ada yang gampang lepas, tapi ya masih bisa dipasang kembali. Pancingnya dari 4 sekarang tersisa 2, sepertinya ada yang patah dan ada juga yang dibuang-buang dan waktu membereskan gak ketemu jadi ya masih ada 2 masih bisa main berdua, jadi cukuplah.

Sekarang ini, Jonathan dan Joshua kadang berebutan juga mainnya. Tapi karena ini mainan untuk 3 tahun ke atas, saya kasih pengertian ke Jonathan kalau ini bukan mainan Jonathan lagi tapi udah jadi mainan Joshua. Untungnya Jonathan mau ngerti dan mungkin dia senang juga dianggap anak besar. Kalau mereka mulai rusuh dan gak mau akur, mainannya saya simpan.

Setelah bosan mancing, biasanya Joshua mulai memainkannya dengan menyusun ikan-ikannya menjadi huruf-huruf. Joshua memang sangat rajin menyusun semua benda jadi huruf dan angka. Tapi biasanya dia akan membiarkan mainannya berbunyi, dan dia sibuk menyusun dari A sampai Z, lalu angka sampai bosan.

apapun mainannya, pasti disusun jadi huruf sama Joshua

Kadang-kadang mereka ingat untuk mematikan mainannya, tapi ya untungnya bunyi mainan ini tidak terlalu kencang. Baterenya memakai batere kecil AAA 3 biji. Sekali ganti batere, mainan ini bisa dimainkan sekitar seminggu. Setelah seminggu saya simpan dan keluar lagi kalau dicariin hehehe.

Mainan ini cukup bagus untuk melatih kesabaran memancing. Tapi kalau gak sabar memancing, ya bisa juga kayak Joshua dipakai untuk menyusun huruf, angka dan bentuk-bentuk. Dulu saya pakai juga untuk mengenalkan warna dan menghitung jumlah ikan yang berhasil dipancing. Ada yang anaknya punya mainan ini? kira-kira anaknya suka mainkannya seperti apa?

Curhat Potty Training

Tiap anak berbeda, tapi ada timeline yang bisa jadi garis besar untuk perkembangan tiap anak. Katanya gak baik membanding-bandingkan anak, tapi ya mau tak mau, punya anak 2 secara gak langsung jadilah membandingkan. Dulu potty training Jonathan juga ga mudah, tapi sebelum 3,5 tahun Jonathan sudah bisa dinyatakan lulus potty training. Setelah agak besar pernah sekali dua kali insiden terutama kalau dia kecapean dan gak ke toilet dulu sebelum tidur, tapi ya masih dalam batas wajar, karena dalam setahun gak lebih dari 3 kali insidennya terjadi.

Sekarang Joshua 3 tahun 8 bulan, tapi masih pakai popok :(. Awalnya sih mikirnya ya santai aja, ada teori baru, anak-anak itu gak perlu di potty train, ntar juga dia akan mengerti dan bisa ngerti untuk ke toilet. Tapi karena badan Joshua cukup besar untuk umurnya, semakin susah mencari popok untuk ukuran dia. Maka kamipun memutuskan waktunya untuk mengajari Joshua ke toilet.

Banyak teori terkait bagaimana cara membawa ke toilet dan kapan waktunya memulai potty train, tapi yang paling penting adalah membawa anak secara rutin dan mengerti apa itu pipis dan di mana tempatnya. Persoalan saat ini adalah: setiap kami bawa ke toilet, Joshua belum pernah mau pipis. Kadang-kadang bangun di pagi hari popoknya masih kering, di bawa langsung ke toilet, tetep aja gak pipis. Mungkin ini juga karena Joshua malas minum, jadi ya memang belum terasa pipis dan gak bisa memaksakan pipis.

Sekarang ini, akhirnya kami memakaikan celana biasa kalau di rumah, dengan resiko kalau dia kepipisan ya basah dan harus ngepel, dan hanya memakaikan popok kalau pergi. Belakangan dia mulai terlihat kayak orang kebelet pipis sambil pegang-pegang gitu, tapi sejauh ini di bawa ke toilet gak pernah mau jadi pipis, malah maunya main-main air. Terus tak lama setelah pasang celana lagi, baru deh dia pipis (dan harus ngepel huhuhu).

Masalah dia jarang minum juga masih harus dipikirkan gimana supaya dia suka minum. Dia suka minum, susu dan semua yang manis, tapi rasanya gak mungkin kan kalau dia dikasih minuman manis terus menerus. Jadi ya sekarang ini harus super sabar saja sampai dia mengerti dan bisa kasih tau dia butuh ke toilet.

Katanya orang-orang, emang lebih susah melatih anak laki-laki untuk potty train. Ya untungnya ini anak ke-2, jadi kami lebih sabar juga sih karena udah punya pengalaman sebelumnya. Tulisan ini juga sekedar jadi catatan buat ingat kapan kami memulai melatih Joshua ke toilet. Di masa depan kalau baca tulisan ini dan masa ini sudah berlalu, tentunya bisa berbagi tips lebih banyak.

Siapa yang lagi melatih anak ke toilet juga? semangat ya ibu-ibu dan bapak-bapak! Oh ya, para bapak, bantuin istri juga ya kalau latih anak ke toilet, apalagi kalau anaknya laki-laki.

Homeschool atau Kirim Anak ke Sekolah?

Kami pernah mengirim Jonathan ke sekolah selama 3 tahun sebelum akhirnya memutuskan menghomeschool Jonathan selama 1,5 tahun terakhir ini. Saya ingat, hari pertama kami mulai mantap menghomeschool ketika kami mulai menggunakan kurikulum dari CLE. Akhir Agustus 2017, Jonathan sering sakit, susah tidur cepat dan berakibat masih ngantuk waktu bangun dan di sekolah sering ketiduran. Di sekolah, Jonathan akhirnya lebih sering tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Awal memutuskan homeschool, saya sangat khawatir kalau kami jadi terlena dan tidak mengajarkan apapun ke Jonathan, apalagi saya masih belum menemukan kurikulum yang akan kami pakai. Saya khawatir terlalu santai, dan tahu-tahu waktu berlalu tanpa Jona belajar apapun. Saya sempat sedikit khawatir masalah apakah saya akan kuat secara mental untuk tidak marah-marah kalau Jonathan tidak mengerjakan tugasnya. saya nggak kuatir masalah tidak bisa mengajarkannya atau Jonathan tidak mengerti, saya lebih khawatir Jonathan tidak mau mendengar saya atau menolak mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Setelah membaca dan bertanya banyak hal soal homeschool, saya bersyukur kami menemukan kurikulum yang sesuai buat kami. Karena kurikulum yang kami pakai kami pesan dari Amerika, butuh waktu untuk menunggu kurikulum tiba. Kurikulum yang kami gunakan mempunyai scope dan sequence yang jelas. Ada tes di awal yang dapat digunakan untuk mengetahui anak sebaiknya di kelas berapa. Tiap unit pelajaran dikenalkan sedikit demi sedikit dan diberi soal latihan dan review dari pelajaran sebelumnya. kurikulum ini dilengkapi dengan buku manual untuk guru yang cukup lengkap dan juga kuis dan tes secara berkala. Sejauh ini saya tidak perlu terlalu banyak menjelaskan kepada Jonathan. semua penjelasan yang ada di buku cukup dia mengerti untuk mengerjakan soal latihan yang diberikan. Hasil tesnya selalu rata-rata di atas 90%.

Dalam masa transisi dari sekolah tiap hari menjadi mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah tiap hari, Jonathan kami berikan bahan-bahan mulai dari Brain Quest ataupun buku kumon yang kami peroleh di toko buku lokal. di awal tidak lebih dari 30 menit Jonathan sudah selesai pekerjaan sekolahnya. Jonathan langsung suka dengan rutinnya yang baru, karena dia tidak harus bangun pagi, dan kalau tidur agak larut (jam 10 – an), mama ga stress karena tau dia bisa bangun agak siang.

Waktu buku pelajarannya dari CLE sampai, Jonathan langsung senang sekali dan ga sabar untuk memulai, padahal saya berencana untuk membuat jadwal dulu. Tapi akhirnya kami pun langsung mulai dan saya merevisi jadwal secara bertahap. Karena tahun pertama homeschool saya merasa agak terlambat memulai, ada beban harus menyelesaikan semua dengan cepat. Beberapa bulan pertama kadang-kadang dalam 1 hari, Jonathan mengerjakan 2 unit pelajaran, tentunya kalau Jonathan masih semangat mengerjakannya. Hasilnya dalam waktu 8 bulan, kami menyelesaikan semua pelajaran untuk kelas 2 (yang biasanya dilakukan dalam 10 bulan). Hal ini bisa dilakukan karena hari libur kami tidak sebanyak hari libur sekolah, dan setelah semua selesai, kami libur panjang selama sebulan.

Kegiatan sekolah kami setiap harinya saya alokasikan pagi hari sampai sebelum makan siang. Jadi selesai sarapan dan mandi, langsung deh kerjakan pekerjaan sekolah. Setiap harinya kami belajar 3 atau 4 subjek dan rata-rata setiap subjek 30 -45 menit. Ada hari-hari di mana Jonathan agak bengong dan akhirnya 1 pelajaran memakan waktu lebih dari yang dialokasikan, kadang saya suruh dia berhenti di subjek itu dan ganti subjek. Subjek yang tidak selesai dikerjakan sore hari setelah bangun tidur siang (ya, Jonathan masih tidur siang kadang-kadang). Selesai makan siang, hari-hari tertentu Jonathan ada kegiatan di luar. Biasanya keluar rumah untuk pelajaran seni dan taekwondo atau main ketemu teman. Sekarang ini bisa dibilang setiap hari Jonathan keluar rumah. Secara berkala kami tanyakan apakah Jonathan ingin kembali ke sekolah biasa saja daripada sekolah di rumah? sejauh ini jawabannya selalu dia lebih suka homeschool. Sejak join dengan co-op, dia semakin senang dengan kegiatan homeschool, karena 1 kali seminggu, dia bertemu dengan teman-teman seumurannya sesama anak homeschool dan belajar hal yang berbeda dari yang ada di woworkbookny

Grade sebelumnya, kegiatan belajar di rumah saya jadwalkan 5 hari seminggu (Senin sampai Jumat), sabtu dan minggu libur karena papanya juga libur kerja. Semester lalu, karena ada kegiatan co-op di hari Senin, saya menjadwalkan 4 hari seminggu mengerjakan workbooknya di rumah. Grade 3 ini kami mulai di bulan Juli 2018, dan sekarang Februari 2019 kami sudah pertengahan buku ke-7. Desember lalu, kami kutin jadwal sekolah biasa, setelah buku ke-5, kami bisa ambil liburan semester, pulang ke Indonesia dan tidak mengerjakan buku sampai pertengahan Januari. Di pertengahan semester atau di saat papanya libur kantor, kami juga akan mengambil jatah libur.

Setelah ada pengalaman di tahun pertama, saya semakin bisa merasakan manfaat dan fleksibilitas dari homeschool. Saya juga udah ga terlalu banyak khawatir seperti di tahun pertama. Mungkin saya belum tau semua hal soal homeschool, tapi dari yang saya baca, tidak ada patokan yang kaku dalam menghomeschool. Homeschool itu upaya mendidik anak di rumah. Saya bisa bilang homeschool itu bukan cuma alternatif, tapi pilihan untuk setiap keluarga. Tidak semua orang harus memilih homeschool, tapi kalau memang bisa melakukannya, homeschool jauh lebih efektif dibandingkan kirim ke sekolah.

Untuk Jonathan homeschool itu sangat terasa manfaatnya dibandingkan belajar di sekolah. Dia tidak harus menghabiskan waktu terlalu lama di sekolah. Dia tidak harus bangun pagi-pagi, dan kalau ada hari di mana dia ga bisa tidur awal, dia selalu bisa bangun agak siang. Selama setahun ini Jonathan ga pernah sakit sampai menyebabkan dia ga bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Setahun ini berat badan Jonathan bertambah cukup signifikan karena dulu di sekolah kalau dia gak suka, dia ga makan siang dan gurunya ga ada yang memperhatikan sebanyak apa dia makan, sedangkan kalau di rumah saya pasti tau asupan makanannya cukup. Sejak gak ikutan co-op, saya menggantikan mengirim Jonathan ke group homeschool partime, di mana dia bertemu dengan anak homeschool lainnya 1 kali seminggu dan dia mendapatkan teman bermain dan belajar.

Buat saya sendiri, terasa lebih ringan sejak ga harus bangun pagi-pagi untuk antar jemput. Karena Jonathan juga sudah bisa membaca dan cepat mengerti sebuah konsep, saya ga harus susah payah mengajarkan sesuatu ke dia. Ada hari-hari di mana saya hanya perlu mengecek pekerjaanya saja. Kalau ada konsep yang dia belum mengerti saya akan beri penjelasan lebih banyak, dan Joe juga bisa bantu untuk memenjelaskan. Kadang-kadang kami berikan video penjelasan dan memberi kesempatan buat dia bertanya, atau belikan buku yang menarik minatnya saat ini.

Jadi kembali ke judul, homeschool atau kirim ke sekolah? sekarang ini saya akan pilih homeschool. Andai kami pulang ke Indonesiapun, saya akan tetap memilh homeschool. Semoga nantinya Joshua juga bisa dihomeschool seperti Jonathan. Semakin dijalani, walau ada hari-hari di mana Jonathan kurang bisa fokus, homeschooling ini lebih menjamin dia belajar sesuatu. Saya bersyukur, Jonathan cukup pintar dan bisa mengerti penjelasan yang diberikan. Masih ada hari-hari di mana saya kurang sabar mengajarkan sesuatu atau Jonathan yang bengong aja atau banyak bicara, tapi secara keseluruhan dia lebih banyak belajar daripada di sekolah.

Waktu kami ikutan co-op dan ngobrol dengan sesama orangtua yang menghomeschool anaknya, saya bisa melihat kalau anak homescholer juga cara belajarnya beda-beda. Ada anak yang belajar itu harus visual, misalnya untuk belajar math harus ada alat bantu fisiknya. Ada anak yang bisa mengerti dengan membuat craft terlebih dahulu. Saya juga jadi mengerti kenapa ada banyak sekali metode dan kurikulum homeschooling yang terbentuk.

Yang terpenting adalah anak punya kemampuan untuk belajar mandiri dan menerapkan apa yang dia pelajari dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi bekal di kemudian hari. Untuk saat ini kami tetap tidak kuatir dengan maslaah ijasah, karena jaman sekarang bukan ijasah yang dibutuhkan untuk jaminan masa depan, tapi yang diutamakan skill dan keuletan. Mau gigih berusaha dan tidak gampang menyerah.

Cerita Jaman Kos

Sebelum tidur, Jonathan suka meminta diceritakan mengenai suatu hal dari masa lalu. Setelah mendapatkan cerita mengenai masa kuliah papanya dan mengenal istilah rumah kos, dia sekarang pengen dengar cerita dari saya juga. Dipikir-pikir, kalau dulu orangtua saya bercerita soal masa dulu waktu mereka sekolah, saya sering ga terbayang kira-kira apa yang akan saya ceritakan ke anak cucu saya. Ternyata dari sejak jaman masih kuliah sampai sekarang, sudah banyak hal-hal yang berbeda sekali dengan yang dialami Jonathan sekarang.

Saya ingat, waktu kost pertama dan ke-4, dapurnya itu gak ada yang namanya kompor gas kayak jaman sekarang. Yang disediakan dari tempat kost hanya kompor minyak tanah pakai sumbu, yang untuk meyalakannya saja butuh waktu dan kalau gak hati-hati pancinya gampang gosong.

Waktu kost pertama, saya dibelikan mama saya kompor gas kecil yang tabungnya bisa dibeli di minimarket, tapi tergolong mahal kalau sering-sering dipakai. Kompor itu dipakai untuk masak indomie saja kalau saya pingin sarapan Indomie. Saya lupa kompor itu akhirnya saya bawa ke Jakarta ke kakak saya atau ke Medan. Kompor jenis itu masih ada sampai sekarang dan biasanya digunakan kalau orang-orang mau kemping saja.

Kompor minyak dari tempat kost disediakan minyaknya sama ibu kost dan dibersihkan sama pembantunya ibu kost. Kami menggunakannya biasanya buat masak air kalau mau mandi air hangat. Pernah suatu kali pulang ospek penuh lumpur, saya harus menunggu air agak panas dulu sebelum mandi padahal itu sudah jam 2 dinihari. Untuk langsung tidur tanpa membersihkan badan bukanlah suatu pilihan. Nah tapi saya ingat juga, besoknya saya bablas ketiduran karena udah enaklah ya badan bersih tidur berselimut hangat. Alarm jam berbentuk ayam yang berkokok tak mampu membangunkan saya walaupun terletak di sebelah saya hahaha. Saya kebangun jam 10 pagi!, dan teman-teman kost saya pada protes karena si alarm ayam berkokok selama 30 menit dan saya tak bangun juga hahaha, mereka pikir saya gak di rumah dan cuma lupa mematikan setelan alarm.

Saya pindah kost beberapa kali di Bandung, saya ingat di kost ke-2 dan ke-3 kami punya kompor gas yang isi tabung gasnya kami beli secara patungan. Tapi walau udah ada kompor gas, ya tetap aja ya, kebanyakan dipakai buat masak indomie atau buat mandi air hangat haahaha. Kost-kostan ke-3 kembali lagi pakai kompor minyak tanah. Saya tadi sampai harus mencari video di YouTube untuk menjelaskan ke Jonathan soal bagaimana menyalakan kompor minyak tanah dan bedanya dengan kompor yang digunakan sekarang.

Jadi setelah bercerita bahwa dulu mama gak semudah sekarang buat menyalakan kompor, saya juga bercerita kalau mesin pemanas air itu bukan hal yang selalu ada di Indonesia seperti di sini. Eh tau-tau dia bergeser pertanyaan ke mesin cuci. Kapan mama pertama kali punya mesin cuci?

Jadilah teringat lagi, kalau dulu itu, walaupun waktu tinggal di rumah orangtua saya ada mesin cuci, tapi di kost-kostan itu tidak ada yang namanya mesin cuci. Kalau masih ada uang saku lebih, paling bayar ekstra untuk mencari mbak yang mencucikan dan menyetrika baju. Kadang-kadang di tempat kost ada yang membatasi sehari hanya boleh mencuci 2 potong pakaian. Ada juga yang bebas berapa banyak tapi bayarnya langsung ke mbaknya. Tapi ada juga tempat kost yang gak ada mbaknya. Jadi ada masa di mana saya mencuci baju sendiri manual!. Untungnya sejak jaman kuliah saya gak punya banyak baju berbahan jeans yang berat-berat, jadi urusan mencuci tergolong enteng.

Saya tahu di banyak tempat mencuci manual itu masih merupakan preferensi banyak orang, tapi kalau sekarang ini saya harus mencuci baju 4 orang tanpa mesin, rasanya udah kebayang pengen nangis karena bakal lama selesainya dan juga kapan keringnya hehehe. Memang ya, kalau kita udah terbiasa dengan teknologi, kembali melakukan hal manual itu kerasa jadi berat, padahal kalau dilakukan mungkin aja gak seberat itu (eh tapi saya ogah ah nyuci manual hahaha).

Ceritanya jadi kemana-mana, tapi memang begitu kalau Jonathan sudah mulai bertanya, bisa gak ada habisnya. Biasanya saya yang harus menyudahi ceritanya dan suruh dia ingat menanyakan lanjutannya di kemudian hari kalau memang masih penasaran. Tapi dari bertahun-tahun hidup sebagai anak kost, ada banyak hal yang gak bisa saya lakukan seandainya saya ga pernah dilatih dari rumah. Mana mungkin tiba-tiba saya bisa menyetrika atau tahu memisahkan mencuci baju luntur dan tidak luntur kalau nggak pernah diberitahu/disuruh kerja sama mama saya. Memang ada kemungkinan beberapa lifeskill bisa dipelajari kemudian dari video yang ada di YouTube, tapi rasanya bersyukur aja dari rumah sudah diajari melakukan berbagai hal, sehingga waktu jadi anak kost bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci baju dan menyetrika.

Saya gak tau apa lagi kemajuan yang akan terjadi di masa Jonathan besar nanti, tapi sepertinya dia perlu juga diajari beberapa keahlian untuk mengurus dirinya sendiri. Siapa tahu nanti dia jadi anak kost juga kalau kuliahnya gak tinggal di kota yang sama dengan kami. Karena saya dan Joe sama-sama jadi anak kost setelah masa kuliah, kami juga mengajarkan ke anak-anak kalau mereka juga harus bisa mengurus dirinya sendiri nantinya setelah umur kuliah.