Istana Anak-Anak TMII

Foto di depan Istana Anak-anak

TMII singkatan dari Taman Mini Indonesia Indah. Dulu taunya ya tempat melihat versi kecil dari Indonesia. Untuk masuk ke area TMII dikenakan biaya 25000/orang. Di dalam TMII ada berbagai tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Rasanya sehari tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat di dalam TMII.

Peta Taman Mini Indonesia Indah

Hari ini kami menghabiskan waktu hampir 5 jam cuma di bagian Istana Anak-Anak yang ada di TMII. Secara keseluruhan tempat ini cukup menyenangkan buat anak-anak bermain. Tiket masuk tidak mahal (10000 rupiah per orang) dan ada berbagai permainan ekstra dengan tambahan bayaran antara 5000 – 15000 rupiah. Kalaupun memilih untuk tidak menaiki wahana apapun, ada banyak area playground gratis dan panggung pertunjukan yang tidak bayar lagi.

Di dalam area Istana anak-anak ada beberapa toko yang berjualan makanan, cemilan, minuman dan es krim dengan harga di bawah harga mall. Sebelum pintu masuk juga ada beberapa jualan makanan dan minuman. Saya perhatikan, beberapa miniatur rumah daerah juga disulap menjadi tempat makan.

Beberapa penjual makanan sebelum pintu masuk Istana Anak-Anak.

Sebelum masuk ke dalam, saya pikir, kenapa ya gak dijual tiket terusan TMII, jadi kita bisa main apa saja sepuasnya tanpa harus mikirin bayar ini itu lagi. Tapi setelah kami menghabiskan 5 jam untuk 1 tempat, saya mengerti kalau dengan cara sekarang ini kita tidak harus bayar mahal, anak-anak bisa bermain sepuasnya. Kami hanya perlu membayar beberapa mainan saja di dalam Istana Anak-anak, karena walaupun ada beberapa wahana mini seperti di dunia fantasi dengan harga murah, anak-anak tidak tertarik menaikinya. Kalau anak tidak tertarik, tentu saja kita gak menawarkan hahaha.

Dari pengalaman hari ini, kami masih pengen ke TMII lagi tapi mungkin buat liburan berikutnya. Sedikit hal yang agak mengganggu saya ketika di Istana Anak-Anak ya, masalah asap rokok dan sampah. Saya tahu kalau ini masih masalah umum di Indonesia, tapi saya agak sedih melihat tempat bermain anak-anak di mana orangtuanya membuat anak-anak menjadi perokok pasif.

pengunjung ramai sekali

Untuk masalah sampah, kalau dulu mungkin masalahnya kurangnya tempat sampah. Hari ini saya perhatikan kalau tempat sampah sudah cukup banyak, tapi sepertinya mungkin masalah kebiasaan orang yang terlalu banyak datang ini bukan tipe orang yang biasa membuang sampah pada tempatnya kali ya. Kadang saya herannya ada tempat sampah sangat dekat, tapi ada saja yang meninggalkan sampahnya di dekat tempat sampah itu. Padahal tinggal 1 langkah lagi mungkin dia bisa memasukkan sampahnya ke dalam tempatnya.

Dipikir-pikir, daripada bermain ke playground mall, main ke tempat ini lebih puas bermain dan gak merobek kantong hehehe. Tadi udaranya juga cukup baik, matahari bersinar tapi ada angin yang berhembus memberikan rasa adem. Ramalan cuaca akan hujan, tapi ternyata gerimisnya datang setelah kami sudah di jalan pulang. Harapannya semoga tempat ini harganya kalaupun naik ga banyak naiknya, tapi ya perawatannya juga semakin baik dan siapa tahu dikemudian hari ada larangan merokok di kawasan bermain Istana Anak-anak ini.

Jimmers Mountain Resort dan Cimory Riverside

Sambungan cerita kemarin mengenai jalan-jalan ke puncak.  Joe diajakin outing kantor Xynexis di Jimmers Mountain Resort. Kebetulan ada 1 teman yang bawa keluarga juga dan punya anak perempuan umur 2 tahun 8 bulan. Jadi ya, pas bapak-bapak ikutan acara games, saya punya teman ngobrol dan anak-anak juga punya teman baru. Kesan pertama mengenai tempat tujuan: wow pemandangannya Indah, walaupun suhu udara siang-siang terasa panas, tapi ga sepanas Jakarta sih, cuma mataharinya aja yang menyengat.

Joe ikutan acara games

Di dekat lobby, ada halaman rumput yang keliatan dirawat dengan baik. Di situ ada 1 perosotan kecil, tapi cukup bikin anak-anak happy sambil menunggu orangtuanya ngobrol sejenak. Setelah makan siang, Joe dan teman-temannya ada acara team building, ibu-ibunya nemenin anak deh main. Gak disangka, di sana ada playground soft area yang lumayan banget buat anak-anak happy bermain. Kita perlu bayar untuk bisa main di sana 20 ribu rupiah/anak, tapi ya itu sudah dapat kaos kaki. Biaya segitu itu ya bisa main sepuasnya sampai kita check out lagi. Lumayan bangetlah jadinya para emak bisa duduk ngobrol sementara, anak-anak yang cuma ber 3 aja tapi udah happy banget lari-larian main perosotan dan segala mainan yang ada di area playground.

kasih makan ikan sebelum main di playground

Sekitar jam 2 siang, akhirnya bisa check in ke kamar, sebelumnya ga bisa check in karena kamarnya masih dibersihkan dan rombongan sebelumnya belum pada checkout. Memang sepertinya tempat ini sering digunakan untuk acara outing kantor, saya perhatikan bahkan selain rombongan kami, ada juga rombongan grup lain yang pada pakai seragam, dan ketika kami akan pulang juga sudah ada lagi rombongan group lain. Untung resort yang cukup besar dan sering jadi tempat outing, staf di tempat ini terlihat kurang banyak. Tapi ya mungkin karena mereka ga selalu ramai jadi ga merasa butuh punya banyak staf.

Proses bersih-bersih kamar sepertinya  terburu-buru, mereka lupa melengkapi perlengkapan kamar seperti keset kaki dan tissue di kamar mandi, untungnya waktu saya telepon resepsionis, gak lama kemudian mereka langsung antar keset kaki dan tissuenya. Masalahnya kalau ga ada lap kaki dari kamar mandi, lantai kamarnya jadi licin, hampir saja anak-anak terpeleset sebelum keset kakinya datang.

Setelah anak-anak udah capek bermain di playground (termasuk saya juga udah capek dan pengen rebahan), saya ajak anak-anak tidur siang dulu dengan iming-iming bangun tidur nanti berenang. Sukses juga anak-anak tidur lebih 1 jam hehehe. Waktu anak-anak bangun, gak lama kemudian Joe selesai acaranya, berhubung anginnya mulai dingin saya jadi males berenang, untungnya Joe baik hati mau nemenin anak-anak main air hehehe.

Jonathan semangat sekali mau berenang, dan mungkin karena dia sudah lebih besar, dia ga merasa airnya dingin, langsung semangat nyemplung. Kolamnya ada bagian khusus anak-anak, jadi cukup aman juga untuk Jonathan yang belum bisa berenang. Jonathan semangat sekali melatih mengambang di air, sepertinya sudah saatnya untuk mengirimkan Jonathan ke kelas berenang lagi.

Setelah 15 menit-an, Joshua mau juga masuk ke kolam

Berbeda dengan Jonathan yang sangat bersemangat untuk berenang, Joshua juga semangat ganti baju renang tapi waktu merasakan dinginnya air, dia agak takut untuk langsung nyemplung ke kolam. Setelah sekitar 15 menit, akhirnya baru deh dia masuk ke kolam, setelah sebelumnya cuma duduk-duduk dan rendam kaki di pinggir kolam. Untungnya, Joe mau aja diajakin duduk-duduk dulu, main-main dulu dan akhirnya masuk nyemplung di kolam.

Selesai berenang dan mandi, waktunya makan malam. Udaranya makin dingin. Habis makan, para bapak ada acara lagi sambil ada yang karaokean. Karena dingin, para ibu dan anak memilih masuk kamar menghangatkan badan sambil ngobrol dan biarin anak-anak rebutan mainan hahaha.

Malamnya udara sampai 20 derajat di luar, tapi kalau semua pintu tertutup udara dalam kamar terasa panas kalau AC ga menyala. Jonathan dan Joshua yang tidur sore sebelum berenang gak langsung bisa tidur. Tapi ya untungnya akhirnya tidur juga setelah saya setel AC dan kasih timer 2 jam. 

Pagi hari, bangun jam 7-an karena ada panggilan untuk sarapan. Awalnya kepikiran untuk ijinkan anak-anak berenang lagi, tapi udaranya masih dingin. Joshua berulang-ulang tunjuk ke kolam renang sambil bilang: I have so much fun at the beach, no I mean pool (ini setelah berkali-kali kami koreksi bukan beach tapi pool akhirnya dia ngoreksi diri sendiri). Kami memilih untuk langsung sarapan dan mandi. Sebelum check out, anak-anak sempat main lagi di playground dan kasih makan ikan. Ikannya gede-gede dan warna-warni, lucu memang melihat ikannya berenang mengikuti bagian mana ada makanan.

Jam 10-an, kami ikut pulang dengan rombongan naik bis. Sebelum pulang kami mampir ke Cimory Riverside untuk membeli oleh-oleh. Saya beberapa kali dengar nama Cimory, tapi baru kali ini ke sana, tempatnya sangat dekat dengan penginapan. Ternyata di Cimory Riverside selain bisa beli oleh-oleh dan makan minum di restorannya untuk membeli aneka produk olahan susu sapi, ada tempat bermainnya juga.

Area bermain anak di Cimory Riverside gratis, selain itu ada juga area untuk menyusuri jalanan hutan dan aquarium, di aquariumnya katanya bisa memberi makan dan juga memegang bintang laut. Tapi karena waktunya ga cukup, kami cuma bermain di area bermain gratisnya saja. Mungkin lain kali kalau pulang, bisa juga sesekali direncanakan main-main ke Cimory, apalagi toh dari Depok sebenarnya tempat itu gak jauh.

Di dekat Cimory sedang ada pekerjaan membuat jembatan, kemungkinan jembatan itu akses dari penginapan di seberang untuk bisa ke Cimory dengan mudah. Tadi itu jadinya pemandangan ke arah sungainya jadi kurang indah karena jembatannya belum selesai. Mungkin kalau udah selesai bakal jadi lebih indah karena jembatannya lucu berwarna merah.

Tadi karena ikut bis, kami ikut ke arah kota dan gak langsung ke Depok dari puncak. Sebenarnya jadi buang-buang waktu, tapi anak-anak tidur di bis dan mereka sepertinya menikmati perjalanan dengan bis. Jadilah kami anggap aja naik bisnya bagian dari jalan-jalan hahaha. Perjalanan pulang cukup lancar dan gak macet, mungkin karena sebagian orang sudah cuti dan liburan. Jalanan di Jakarta masih ramai dan padat tapi masih bisa jalan dan ga stuck total.

Jonathan dan Joshua menikmati acara jalan-jalan ke puncak, apalagi karena mereka puas bermain dan punya teman baru. Joe yang udah lama ga pernah ikutan acara outing kecapean haha, karena selain ikutan acara dia juga masih ditempelin anak-anak melulu. Tapi dia juga bilang cukup happy bisa sesekali jalan-jalan ke puncak dan ikutan outing begitu. Saya udah pasti dong paling happy, bisa liburan agak santai sedikit dengan pemandangan indah dan teman baru juga.

Liburan Hari ke-6: Perpustakaan Nasional

Hari ini janjian ketemu dengan Bu Inge di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia . Saya baru tau kalau ada perpustakaan keren seperti pusnas ini. Dulu pernah sekilas baca berita soal perpustakaan yang dilengkapi dengan ruang khusus untuk koleksi anak-anak dengan tempat yang nyaman untuk anak-anak membaca, tapi kalau bukan karena Bu Inge ada acara di pusnas, saya ga kepikiran bakal berkunjung ke pusnas pada liburan kali ini.

maket gedung perpustakaan nasional

Kami berangkat naik Grab lagi dari Depok. Perjalanannya cukup lancar, akan tetapi ketika sudah memasuki kawasan jl. medan merdeka selatan, ada penutupan ruas jalan karena ada demo. Google Map menyarankan memutar mengitari monas dulu, tapi bakal butuh waktu sekitar 20 menit, padahal kalau jalan tinggal 500 meter. Akhirnya kami putuskan untuk jalan saja, toh jalanannya cukup teduh dengan banyaknya pohon-pohon besar di pinggir jalan.

foto dulu sebelum masuk perpustakaan

Kesan pertama melihat bagian depan Perpustakaan Nasional, saya cukup kagum dengan hal-hal yang dipamerkan di gedung depannya di sana. Cara mereka menatanya juga terlihat cukup menarik dan artistik (padahal saya bukan orang yang mengerti banyak mengenai seni). Di bagian belakangnya ada gedung 24 lantai yang menyimpan berbagai koleksi buku. 

Waktu masuk ke lantai dasar, kami mengamati ada toilet dan kafe. Ada direktori apa saja koleksi yang disimpan di setiap lantainya. Tujuan utama kami ketemu Bu Inge yang sedang menghadiri launching buku di ruang serbaguna lantai 4, tapi karena acara mereka belum selesai, kami sempatkan ke lantai 7 untuk melihat ada apa di ruang koleksi bacaan untuk anak-anak.

Di ruangan khusus anak-anak, kita diminta untuk melepaskan sepatu dan meninggalkan makanan dan minuman di luar ruangan. Untuk penyimpanan tas, tersedia loker dengan kunci yang bisa kita pegang. Oh ya layanana perpustakaan ini setahu saya koleksinya hanya bisa dibaca di tempat. Untuk bisa masuk dan membaca di situ, kita tidak harus menjadi anggota. Perpustakaan ini bebas biaya masuk. 

Saya senang melihat berbagai koleksi buku yang ada untuk anak-anak, bahkan ada majalah Bobo segala. Jadi teringat masa kecil di mana kami kadang-kadang dibelikan majalah Bobo. Koleksi buku bersampul tebal (board book) juga cukup lumayan. Buku-buku berbahasa Inggris ataupun bilingual juga banyak tersedia di sana. Ah rasanya waktunya ga cukup banyak untuk browse buku-buku yang ada di sana. 

dekorasi di depan pusnas

Setelah sekitar 30 menit di lantai 7, kami turun ke lantai 4 untuk bertemu dengan bu Inge. Ternyata ada kantin juga di lantai 4, jadilah kami makan di sana saja daripada menghabiskan watu di jalan untuk naik taksi lagi. Bertemu dengan bu Inge itu suatu hal yang ditunggu-tunggu oleh Jonathan. Walaupun Oma Inge (demikian anak-anak memanggil bu Inge) bukanlah nenek kandung mereka, tapi Jonathan dan Joshua bisa senang bermain dengan oma Inge seperti bermain dengan eyang girl nya. 

Selesai makan di lantai 4 kami iseng ke lantai 24 untuk melihat pemandangan yang ada di sana. Sayangnya tidak ada ruang untuk duduk ngobrol dengan enak di lantai 24, anginnya juga cukup kencang di sana, jadi kami ga berlama-lama di luar dan memutuskan kembali ke bagian koleksi anak di lantai 7.

Dari lantai 24 kami turun ke lantai 7 untuk kembali ke ruang baca anak lagi. Sedikit catatan, menunggu lift di lantai 24 memakan waktu lama, karena ketika kami akan turun, tiba-tiba lift yang naik sudah sampai lantai 21 berbalik arah lagi turun. Kalau cuma beberapa lantai, mungkin kami sudah akan turun tangga saja supaya ga lama nunggu liftnya. Saya perhatikan, di setiap lantai yang kami kunjungi ada mushollanya dan kamar kecilnya. Semuanya terlihat cukup bersih. Untuk ukuran sebuah tempat yang free entrance, saya merasa cukup senang berada di pusnas. Catatan lainnya, entah kenapa begitu masuk ke area perpustakaan, sinyal hp pada hilang, untungnya di dalam perpustakaan ada wifi yang gratis untuk umum dan ya cukup lah aksesnya. 

Setelah puas ngobrol-ngobrol di lantai 7, kami memutuskan untuk pulang dulu, eeeeh teryata sedang hujan. Akhitnya kami ngopi-ngopi sambil nyemil di kafe yang ada di lantai dasar tadi. Rasa kopinya lumayan lah ya, apalagi setelah beberapa hari cuma dapat kopi instan saja. Karena sudah agak sore, kami memesan makanan untuk anak-anak. Walau kafe nya terlihat kecil, makanan cemilannya lumayan banyak variasinya.

Setelah hujan berhenti, kami pun beranjak pulang. Tapi karena kami pulang bersamaan dengan jam orang pulang kerja, jalanan yang kami lalui banyak macetnya. Bahkan di jalan tol cuma bisa kecepatan 10-20 km / per jam. Sampai di rumah eyang, Joshua sukses tertidur kecapean.

Secara keseluruhan, jalan-jalan ke perpustakaan cukup menyenangkan buat kami karena anak-anak kami menyukai buku. Yang menyenangkan juga harga makanan di pusnas cukup masuk akal dan ga semahal harga makan dimall. Koleksi buku bacaannya ada bahasa Inggris ataupun bilingual yang bisa dibaca anak-anak kami. Semoga di kemudian hari, di daerah-daerah semakin banyak perpustakaan yang bagus isinya seperti di perpustakaan nasional ini.

Liburan Hari ke-4: Jakarta Aquarium

Hari ini, kami dan keluarga adik-adik Joe jalan bareng ke Jakarta Aquarium. Lokasi Jakarta Aquarium ini di Neo SOHO Mall lantai LM dan LG. Sampai di sana, kami makan siang dulu di open Kitchen lantai 3A karena sudah hampir jam 12. Awalnya tempat makannya terlihat sepi. Jam 12 lewat sedikit tiba-tiba banyak sekali orang ada di mall (ya iyalah ya, namanya juga jam makan). Oh ya, mall ini tempat parkirnya di atas gedung mall nya sendiri. Masuk dan keluar parkiran terasa memusingkan karena naik gerakan memutar (spiral) beberapa lantai sampai atas.

Setelah makan, kami menuju lantai LM. Oh ya, harga tiket masuk untuk weekend lebih mahal dibanding hari biasa. Kami cari promosi pake kartu kredit BNI dan Traveloka. Kami beli tiket regular, karena biasanya anak-anak (terutama Joshua) masih takut dengan tontonan 5 Dimensi.  Tapi dengan promosi kartu BNI kami mendapatkan diskon 15 persen. Promosinya dengan 1 kartu hanya bisa untuk membeli 4 tiket dan kami punya 2 kartu BNI. Kami berangkat 12 orang, 6 dewasa dan 6 anak, tapi anak di atas 120 cm dihitung dewasa, jadilah kami harus membeli 7 dewasa dan 4 anak (1 anak masih bayi, dan anak di bawah 2 tahun belum dikenakan biaya).  Jadi kami beli 6 tiket dewasa dan 2 anak dengan kartu BNI dan 1 tiket dewasa plus 2 anak dengan Traveloka (kita ga bisa beli tiket anak doang dengan traveloka, jadi minimal harus ada 1 orang dewasanya).

Promosi begini sering berganti, jadi sebelum ke sana bisa cek dulu promosi yang masih berlaku. Kalau saya baca websitenya, ada juga promosi happy hour di hari biasa dan jam tertentu diskon 50 persen. Ada juga promosi moms and kids, di mana ibunya saja yang bayar dan anak di bawah umur tertentu gratis, Kenapa kami ga pergi hari biasa? karena hari biasa adik-adik Joe kerja, jadi weekend itu kesempatan yang langka buat ngumpul lengkap.

melihat ikan dari atas

Sekarang ke bagian cerita di dalamnya. Kesan pertama, tempatnya remang-remang dengan musik yang bikin ngantuk hehehehe, mungkin biar ikan-ikannya merasa tenang kali ya hehehe. Saya sempat agak kecewa karena di awal yang saya lihat kebanyakan hanya layar display saja dan bukan aquarium beneran, tapi ternyata ada juga bagian aquariumnya, di mana anak-anak bisa melihat ikan-ikan yang besar seperti ikan pari, hiu dan berbagai jenis ikan yang saya gak tau namanya.

Kalau diperhatikan dengan seksama, Jakarta Aquarium berusaha memberikan pengetahuan mengenai berbagai ikan yang ada di Indonesia dan juga kesadaran untuk menjaga lingkungan untuk tidak membuang plastik karena bisa membuat kerusakan lingkungan hidup di laut. Setiap display yang ada tersedia tablet yang menjelaskan jenis ikan, ukuran ikan dan di mana ditemukan biasanya. Kalau ke sana sebagai tugas sekolah, tentunya ada banyak sekali yang bisa dilaporkan oleh murid-muridnya. Sayangnya, saya tidak menemukan katalog lengkap ikan yang ditampilkan di website Jakarta Aquariumnya.

kesempatan menyentuh bintang laut

Selain ikan, jakarta aquarium juga menampilkan otter, turtle dan iguana. Anak-anak diberikan kesempatan memegang beberapa kura-kura kecil, bintang laut, ikan pari kecil dan beberapa jenis ikan kecil. Sebelum memegang ikan, harus cuci tangan dengan bersih tanpa sabun, dan setelahnya bisa mencuci tangan menggunakan sabun. 

informasi dalam tablet di berbagai tempat

Di lantai bawah, ada juga display seperti aquarium super besar, di mana kita bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang. Di lantai dasar ini juga ada display jelly fish dan ikan Piranha. Kalau diperhatikan, gerakan ikan piranha sangat sedikit, mereka cenderung terlihat diam. Gerakan jelly fish kalau diperhatikan juga seperti bisa menari-nari dan menghipnotis. Ada 1 ikan yang terlihat seperti rumput yang melayang-layang di air, tapi ya kalau diperhatikan dengan seksama ya ada matanya di bagian bawah.

ikan piranha

Terus terang, ada banyak hal yang saya tidak ketahui nama dan bentuknya sebelumnya dan karena ke Jakarta Aquarium saya jadi tahu, oooh ada ya ikan seperti itu, atau ooh ada ya penghuni laut yang lucu seperti itu. Untuk anak-anak, mungkin melihat sekali saja tidak akan cukup, tapi itulah gunanya memfoto sebanyak-banyaknya untuk kemudian nanti dikeluarkan fotonya dan dicari informasi lebih lanjut di internet heehehe.

Di dekat pintu keluar, ada teater 5D, panggung pertunjukan dan juga tempat untuk membeli foto. Kami tidak membeli fotonya karena harga fotonya 350 ribu rupiah. Saya juga tidak bisa komentar mengenai teater 5D karena kami ga beli tiket untuk masuk 5D. Kami menyempatkan menonton pertunjukan mermaidnya.

pertunjukan mermaid

Ceritanya dinarasikan dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tokoh-tokohnya hanya menari dan berekspresi, panggungnya di lengkapi dengan special effect asap dan lampu-lampu untuk memberi kesan tertentu. Saya cukup kagum dengan kreativitas mereka dalam membuat pertunjukannya walaupun mungkin lebih baik kalau pertunjukannya di lakukan dalam ruangan dan kursi yang lebih nyaman. Saya juga kagum dengan pemain yang bisa menari-nari seperti putri duyung. Mereka pasti harus latihan cukup banyak supaya bisa menahan napas sambil menari-nari dalam aquarium besar.

Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam dari sejak masuk sampai keluar. Anak-anak cukup puas melihat ikan dan juga pertunjukannya, walaupun ada bagian yang buat Joshua terasa menakutkan, karena tokoh ratu jahatnya beneran deh wajahnya jahat banget (hahaha aktingnya berhasil dong ya). 

Secara keseluruhan Jakarta Aquarium cukup menarik untuk anak-anak belajar dan mendapatkan pengalaman memegang ikan-ikan, Tapi saya tidak tahu kenapa harga weekend harus dibedakan dengan harga hari biasa. Satu hal yang terasa sangat berbeda dengan Chiang Mai, harga makanan di dalam Jakarta Aquarium sangat mahal. Milo 1 gelas 25 ribu rupiah (50 baht), padahal harga biasanya diluar kurang dari setengahnya. Kalau mau ke sana, sebaiknya cari harga promosi, bukan akhir pekan dan hari libur dan bawa bekal susu sendiri hahaha.

Cerita Liburan (Hari 1 & 2)

Setelah kemarin teler seharian karena nyampe Depok jam 12 malam dan terbangun subuh, kemaren jadi bolos menulis blog. Hari ini hampir bolos lagi, tapi kalau hari ini bolos lagi ada kemungkinan program menulis satu harinya bakal terhenti lama. Supaya nantinya di akhir liburan ga banyak yang harus dituliskan, saya akan tuliskan sedikit cerita 2 hari pertama di Depok.

Sesuai dengan misi utama buat mudik kali ini yaitu mengurus E-KTP,  hari pertama kami ke kantor kelurahan untuk melakukan perekaman data biometrik. Perekaman data mirip dengan pembuatan passport di KBRI Bangkok, bedanya selain foto dan sidik jari, untuk pembuatan e-KTP dilakukan perekaman retina mata juga. Waktu lihat hasil perekaman mata nya, saya pikir eh kok mata saya bagus ya hahahhaa. Proses perekaman data berjalan lancar dan semoga bisa segera memegang hasilnya sebelum pulang ke Chiang Mai.

Pulang dari kantor kelurahan kami berkunjung ke pabrik kaca eyangnya Jonathan sambil nungguin eyangnya kerja dikit di sana. Rencana semula, mau lanjut ke mall, tapi karena masih capek sisa perjalanan hari sebelumnya, akhirnya anak-anak main aja di rumah dengan sepupunya yang pas banget udah libur sekolah sejak hari kemarin.

Hari ini, hari ke-2, kami udah lebih cukup banyak tidur. Siang hari kami ketemu lagi dengan sepupu Jonathan di mall Margo City yang lagi ada tempat main trampoline. Lumayan bisa naik Grab 1 rupiah pake OVO. Dipikir-pikir, biaya main di sini jauh lebih mahal daripada di Chiang Mai. Tadi itu untuk 45 menit bermain, biayanya sekitar 85 ribu rupiah termasuk kaus kaki. Kalau dikurskan ke thai baht, 85ribu itu sekitar 190 baht. Saya ingat, salah satu tempat bermain di mall di Chiang Mai ada yang tarifnya 120 baht/jam untuk weekend, atau sepanjang hari kalau hari biasa. Tapi ada juga sih mall lain yang mengenakan biaya per 3 jam (tapi saya lupa persisnya).

Karena Joshua tidur sesampainya kami di mall, yang main trampoline cuma Jonathan dengan 2 sepupunya. Papanya ke Starbuck biar Joshua bisa tidur lebih tenang. Eh ternyata malah kebangun dianya, ya udah dia ikutan makan cemilan di starbuck aja ama papanya. Saya nungguin Jonathan main. 

Selesai mainan trampoline, kami ke toko buku Gunung Agung. Rasanya entah kenapa walau udah punya banyak buku, tetep aja senang masuk ke toko buku. Joshua yang lagi tertarik dengan angka, mengambil poster angka 1 – 30 dan membaca bahasa Indonesianya (biasanya Joshua tahu satu – sepuluh saja dalam bahasa Indonesia). Tapi sekarang dia jadi tahu satu  sampai tigapuluh. Jonathan juga kami cobakan membaca buku belajar baca bahasa Indonesia, eh ternyata dia udah mulai bisa juga. Saya sih seneng banget, karena selama ini walau saya ga ngajarin membaca bahasa Indonesia secara khusus, kami mengajak dia ngobrol bahasa Indonesia ya tujuannya supaya perbendaharaan kata dia bertambah dan nantinya dia bisa baca bahasa Indonesia sendiri hehehehe.

Pulang dari mall, lanjut lagi pada ngumpul di rumah eyang. Kali ini semua cucu eyang ngumpul lengkap. Rumah jadi ramai deh dan anak-anak bisa main dengan akur tanpa insiden berantem. Ada sih bagian di mana Joshua mendorong-dorong sepupunya yang sebenernya seumuran tapi badannya lebih kecil, tapi ya mereka seperti tahu kalau mereka bersodara dan dorongannya itu cuma bercanda, jadi ya aman tentram bahagia lah eyangnya melihat cucu-cucunya ngumpul.

Liburannya masih panjang, ceritanya disambung besok-besok lagi supaya ga terlalu panjang hehehe.

Review Homeschooling Grade 3 Term 1

Mulai besok, saya memutuskan untuk meliburkan kegiatan homeschooling Jonathan. Pelajaran kelas 3 yang sudah dimulai sejak bulan Juli dengan jadwal mengerjakan workbook 4 hari seminggu berhasil menyelesaikan lebih dari target materi yang direncanakan semula. Rencananya term ke-2 akan dimulai setelah kembali dari Indonesia. Liburan panjang dulu kayak sekolah-sekolah juga kan ada liburan panjang hehehe.

Kegiatan homeschool grade 3 ini lebih banyak dikerjakan Jonathan secara mandiri. Kegiatannya masih seperti sebelumnya dimulai jam 9 pagi dan selesai sebelum jam 12 siang. Hari tertentu bisa selesai jam 1.30 karena paginya ada kegiatan les piano 1 jam di luar rumah. Dibandingkan tahun sebelumnya, sekarang ini jadwalnya sudah semakin jelas dan saya juga berusaha mencetak jadwal mingguan untuk Jonathan. Kami masih cukup fleksibel, tapi biasanya saya upayakan kalau tidak terpaksa kami tetap kerjakan semuanya dipagi hari.

Kenapa dipagi hari? biar siang hari bisa istirahat atau main-main atau kalau ada kegiatan luar rumah gak harus mikirin harus segera pulang supaya menyelesaikan pekerjaan sekolah. Kadang kalau terpaksa ya bisa juga diliburkan dadakan hahaha. Dengan kegiatan 4 hari sekolah 1 minggu dan rata-rata 3 jam sehari, rasanya Jonathan punya banyak waktu untuk membaca dan beristirahat. 

Dari target kurikulum yang kami pakai, berikut ini jumlah pelajaran yang sudah selesai:

  • Math 5 buku dari 10 buku
  • Reading 5 buku dari 10 buku
  • Language Arts 5 buku dari 10 buku
  • Bible 3 buku dari 5 buku
  • Science 5 buku dari 10 buku
  • Social Studies 4 buku dari 6 buku

Pelajaran Bible dan Social Studies semester depan bisa lebih cepat selesai. Tapi ada juga beberapa rencana yang tidak berlanjut. Awalnya kami ingin juga melakukan pelajaran ekstra dengan papa di malam hari, pelajaran story of the world dan science in the beginning. Tapi karena papanya lagi banyak kerjaan, dan basically pelajaran dari CLE sudah ada social studies dan science, maka kami putuskan menunda melanjutkan 2 buku itu. Rencananya nanti kalau ada waktu di term ke-2 kami akan lanjutkan pelajaran dengan 2 buku tersebut.

Bagaimana dengan nilai akademiknya? Dari hasil test yang dilakukan setiap pelajaran ke-5, ke-10 dan ke-16 (dalam 1 buku ada 16 pelajaran), rata-rata nilainya masih diatas 90. Walau nilai akademik masih bagus, masalah fokus belajar Jonathan masih kurang bagus. Kadang-kadang saya masih harus selalu mengingatkan dia supaya ga bengong, terutama di hari-hari di mana ada libur kejepit, pasti deh fokusnya bubar jalan lagi.

Tulisan Jonathan masih kurang bagus dibandingkan dengan anak seumurnya. Walau begitu, secara umum tulisannya sudah semakin baik, terutama kalau dia ga buru-buru menuliskannya. Mengikuti instruksi kadang masih suka terlewat, misalnya beberapa problem matematika dia masih skip kerjakan. Pengerjaan latihan speed drill matematika untuk persoalan pengurangan juga masih kurang baik. 

Pelajaran yang paling dia sukai sekarang ini Reading, Bible dan Social Studies karena bisa dikerjakan dengan sangat cepat. Untuk pelajaran math dia bisa mengerti konsep baru dengan cepat. Sejauh ini dia sudah mempelajari tabel perkalian sampai perkalian 12 dan mulai dikenalkan dengan konsep pembagian. 

Pelajaran diluar buku CLE, dia masih ikut kelas piano, taekwondo, kumon bahasa Thai dan kelas menggambar di Global Art. Term 1 ini juga kami mengikuti co-op selama 3 bulan dan dia belajar Beginning Gymnastic, What’s in the Bible dan Fun Science. Pelajaran yang paling dia suka di co-op itu Fun Science, karena setiap kali mereka mengadakan percobaan yang buat dia sangat menarik.

Dipikir-pikir, dengan jadwal homeschooling sekarang ini, Jonathan belajar cukup banyak. Yang kurang itu teman hahaha. Rencananya untuk tahun depan, saya akan masukkan Jonathan ke sebuah program di mana dia bisa bertemu dengan orang yang sama setiap minggunya. 

Kehidupan homeschooling kami juga sekarang ini masih sangat santai. Bangun tidak buru-buru, tidur malam tetap tidak lebih dari jam 10. Siang bisa istirahat. Setiap jumat sore bisa jalan-jalan ke park. Sabtu atau minggu masih bisa ke zoo atau jalan ke tempat lain sama papa. Rencana untuk menambah jadwal berenang belum juga dilaksanakan karena di tempat Jonathan dulu belajar berenang sedang tidak ada guru bahasa Inggrisnya. Saya mencoba mengajar sendiri, tapi dia lebih suka main-main kalau berenang dibandingkan belajar berenang.

Secara berkala kami masih tanyakan ke Jonathan apakah dia mau kembali ke sekolah supaya punya banyak teman (dengan jadwal harus bangun pagi, tidur awal, kemungkinan ada banyak PR). Tapi sejauh ini jawabannya masih sama: mau sekolah di rumah saja. Ah senangnya besok liburan homeschooling, artinya sayanya juga libur mengajar dan ingetin dia kerjain kerjaan sekolahnya hehehee.

Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.