San Kamphaeng Hot Springs

Pemandangannya menyejukkan walaupun matahari bersinar terik

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hot Springs lagi, sekalian Jonathan main dengan teman barunya. Tempat ini gak jauh dari Chiang Mai, cuma sekitar 45 menit nyetir, jalannya juga bagus dan mulus sampai-sampai jalannya dibatasi maksimum 80 km/jam biar orang-orang gak ngebut. Lokasinya di kaki bukit, jadi tidak ada jalanan menanjak.

Walaupun tempat ini tidak terlalu jauh, kami terakhir ke sini ya beberapa tahun lalu pas oppung ke Chiang Mai juga. Entah kenapa pas eyang datang, kami lupa dengan tempat ini, padahal tempat ini sangat cocok untuk bersantai-santai dan tidak banyak berjalan naik turun seperti Doi Pui. Walaupun sudah pernah ke sana sebelumnya, baru hari ini mengetahui ada banyak hal yang bisa dilakukan selain rendam kaki dan rebus telur.

Beberapa tahun lalu, kami datang agak kesorean. Tukang berjualan makanan sudah mau pada tutup (tukang jualan tutup jam 4.30), waktu itu kami cuma sempat rebus telur (bisa beli di sana, telur puyuh 10 biji 40 baht dan telur ayam 3 biji 20 baht). Tiket masuknya masih sama dengan beberapa tahun lalu. Kami masih dapat harga Thai, walaupun di sana ada tulisan kalau harga Thai itu untuk pemegang ID Thai saja. Harga Thai Dewasa 40 baht, anak-anak 20 baht, mobil kalau mau masuk ke dalam juga bayar 40 baht. Harga orang asing dewasa 100 Baht, anak-anak 50 Baht.

Selain telur rebus, biasanya di sana kita bisa membeli makanan khas Thai seperti Somtam dengan nasi ketan, ayam goreng, mie instan, nasi ketan dalam bambu dan tentu saja ada kopi selain minuman bersoda lainnya. Kalau mau piknik di sana juga bisa saja kita bawa makanan sendiri. Saya perhatikan ada banyak yang bawa tikar dan keluarin makanan sendiri. Seperti umumnya di tempat wisata di Chiang Mai, harga makanan di dalam tempat wisata gak berbeda dengan di luar lokasi. Tapi memang makanannya buat makanan kualitas istimewa, tapi lebih ke makanan selera lokal.

Untuk merebus telur, kita bisa merebusnya langsung di dalam air panas belerang yang panasnya sekitar 105 derajat Celcius. Waktu yang dibutuhkan untuk merebusnya tergantung selera kita apakah mau setengah matang atau matang banget. Semakin lama direbus di air panas, ya tentunya semakin matang. Paling lama sekitar 10 menit, kita sudah mendapatkan telur yang cukup matang. Selama menunggu, kita tidak perlu kuatir keranjang telur kita akan diambil orang, karena di sana orang-orangnya cukup tertib mengambil yang memang punyanya saja. Jadi selama menunggu, kita bisa saja rendam kaki. Air untuk merendam kakinya suhunya berkisar 45 – 55 derajat celcius, harus hati-hati sebelum memutuskan merendam kaki, karena sepertinya ketika suhu di atas 50 derajat, airnya lumayan panas banget.

playground

Selain makan, untuk anak-anak tersedia juga playground. Beberapa mainan kadang-kadang mulai rusak, tapi secara keseluruhan masih cukup fun buat bermain apalagi kalau ada temannya, pasti bisa bermain lebih lama. Kalau bosan main di playground, anak-anak bisa eksplorasi sekitar tempat itu. Lokasinya sangat luas, di sana tersedia juga tempat untuk camping, pijat, kolam renang, privat room untuk rendam badan, ataupun kalau mau menginap tersedia juga kamar penginapan untuk di sewa. Kami belum pernah menginap di sana, tapi sepertinya kalau mau outing bareng teman-teman beberapa keluarga, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi bersama-sama dan menginap 1 malam.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 12.15 dan kembali lagi ke rumah sekitar jam 6.30 malam. Awalnya, kami sudah rencana pulang sektiar jam 4.30 sore, tapi karena saya baru tahu ada kolam renang dan Jonathan tadi pagi gak jadi berenang dengan oppung, jadilah kami memutuskan Jonathan dan oppung berenang dulu. Kolam renangnya air belerang juga, tapi suhunya dijaga sekitar 40 – 41 derajat celcius.

Jona berenang dengan oppung

Untuk berenang dikenakan biaya tambahan, harganya seperti harga masuk juga, orang lokal Dewasa 50 Baht, anak-anak 20 Baht, orang asing Dewasa 100 Baht dan anak-anak 50 Baht. Kolam renangnya tidak ramai, kamar mandi untuk membersihkan badan sehabis berenang juga cukup bersih, malahan di kamar mandi perempuan tersedia hair dryer segala.

Secara keseluruhan, tempat ini cukup bersih. Banyak tempat duduk untuk bersantai dan menikmati makanan. Banyak pohon dan tempat rindang sehingga tidak terganggu dengan terik matahari. Banyak tempat sampah yang bahkan dikategorikan untuk sampah bekas makanan, plastik dan keranjang bekas telur. Banyak tempat penampungan botol atau kaleng yang siap untuk didaurulang. Banyak tempat pijet dan tersedia banyak petunjuk arah dan peta lokasi di mana kita berada, sehingga tidak akan tersesat dan petunjuknya juga ada dalam bahasa Inggris.

Pemandangannya yang indah kombinasi pepohonan, bunga dan langit biru sungguh membuat kami merasa betah berlama-lama di sana. Lain kali semoga bisa mencari informasti mengenai biaya menginap atau camping di sana, supaya bisa bermain lebih puas lagi.

Doi Pui Hmong Tribal Village

Ini lanjutan cerita jalan-jalan hari Sabtu lalu. Karena lokasinya relatif dekat, pulang dari melihat bunga Sakura di Ban Khun Chang Khian, kami mampir ke Doi Pui untuk makan siang dan melihat taman bunga yang ada di Hmong Village di Doi Pui.

Jalan ke daerah perkampungan ini sedikit lebih baik daripada jalan ke lokasi Sakura, tapi ya, lumayan curam juga dan beberapa bagian jalan ada yang rusak tergerus air di musim hujan. Setelah jalan berbelok-belok ditengah hutan, tiba juga di perkampungan yang kalau di lihat dari atas, hanya sedikit sekali perumahan yang ada di sana.

Hmong VIllage di lihat dari view point Doi Pui

Penduduk sekitar sini sepertinya hidup dari menerima turis di desanya sambil menjual berbagai produksi hasil tenunan atau kerajinan tangan dari kain tenun dan juga dari perak, kopi dan buah-buahan yang dikeringkan. Di sana banyak sekali yang berjualan berbagai hal yang sebenarnya bisa ditemukan juga di pasar warorot Chiang Mai, dengan harga yang lebih murah. Awalnya saya juga kaget, loh kok bisa lebih murah? kan tempat wisata? biasanya kan tempat wisata lebih mahal daripada pasar? Ya jelas saja lebih murah, karena merekalah produsen dari benda-benda yang dijual di Chiang Mai.

Berbagai kain tenun sudah jadi baju, rok dan jaket

Buat beberapa orang, tujuan ke tempat ini selain untuk makan siang setelah melihat sakura atau mungkin melihat Doi Suthep, tentunya untuk membeli oleh-oleh. Berbagai kain tenun di jual dengan cukup murah dibandingkan harga di Warorot. Motifnya juga banyak yang lebih cantik. Selain berbagai produk dari kain, mereka juga menjual kacang almond, kacang macadamia, buah-buahan yang sudah dikeringkan, bermacam perhiasan dari silver, obat-obatan tradisional dan permainan tradisional dari kayu.

Eh hampir kelupaan, mereka juga menjual berbagai biji kopi. Salah satu hasil pertanian di Doi Pui ya kopi. Saya gak beli kopinya, karena stok kopi yang di bawa dari Indonesia masih banyak banget, sedangkan kalau kopi dibiarkan berlama-lama, rasanya jadi tidak enak. Jadi ya, toh gampanglah kalau mau nyari kopi Thailand kapan saja.

Silakan pilih, mau tas, kacang almond atau buah lengkeng dikeringkan
berbagai herbal/obat tradisional juga ada

Setelah melewati banyak sekali tukang jualan dengan jalanan yang naik turun, akhirnya sampai juga di pintu masuk untuk melihat taman bunga Doi Pui. Taman bunganya ini sekalian disebut sebagai Hill Tribe Village Museum. Selain bunga, mereka juga berusaha mengenalkan pakaian adat dan rumah tradisional suku Hill Tribe. Tiket masuknya cukup murah, per orang hanya 10 baht saja.

Tiket masuk ke taman, cuma 10 baht

Tepat dipintu masuk ke taman, ada yang menawaran jasa menyewa baju Hill Tribe untuk foto-foto. Tapi karena mama saya tidak mau (dan saya juga gak pernah kepengen), kami gak bikin foto dengan baju tradisional Hill Tribe. Untuk lokasi yang sangat luas, walaupun relatif banyak pengunjung, tempat ini terasa sepi. Walau demikian saya perhatikan ada beberapa yang datang ke sana emang sengaja untuk foto dengan pakaian tradisional Hill Tribe.

Kami pernah ke Doi Pui ini sekitar 11 tahun yang lalu. Tapi selain bunga-bunganya, banyak hal terasa berbeda dari ingatan. Entah kenapa rasanya sekarang ini tukang jualannya tambah banyak, dan sepertinya kita sengaja diputerin melewati tukang jualan sebelum masuk ke taman bunganya. Jadi teringat dulu di borobodur juga untuk keluar dari sana, harus melewati banyaaaak sekali tukang jualan.

Setelah jalan cukup banyak naik turun tangga, sampai di taman bunganya, tadaaaa masih banyak lagi dong tangganya, untungnya anak-anak semangat tinggi karena tempatnya luas dan bisa puas naik turun tangga dan lihat bunga-bunga. Joshua yang di jalan sudah istirahat tidur, langsung semangat 45 mengeksplorasi kebun bunganya.

Siapkan tenaga, naik turun tangga sambil lihat bunga
lupa menghitung berapa banyak anak tangga

Setelah sampai agak atas, sampailah di sebuah rumah sample yang isinya kurang lebih sama saja dengan rumah tradisional jaman dulu di Indonesia. Saya ingat, pernah ke rumah tradisional Batak, dalamnya kira-kira sama peralatan masaknya, bedanya kalau di Indonesia rumahnya berupa rumah panggung. Di sini, mungkin karena pada dasarnya mereka suku yang hidup di pegunungan, mereka ga takut banjir, jadi rumahnya ya gak bentuk rumah panggung.

contoh dalamnya rumah tradisional suku Hmong, mirip juga dengan kampung kita di Indonesia
contoh dapur dari rumah suku Hmong

Walaupun lelah naik turun tangga, tapi rasanya hati puas melihat keindahan alam ciptaan Tuhan. Mata ini rasanya refreshing banget lihat langit biru, gunung yang hijau dan bunga berwarna-warni. Aih jadi puitis deh karena seharian mata di manja dengan bunga-bunga.

Pemandangan dari atas taman bunga
seger ya lihat bunga warna warni bermekaran

Jonathan yang biasanya diajak jalan sering mengeluh capai, hari itu tidak mengeluh sama sekali. Dia cukup menikmati perjalanan dan juga ikutan mengamati bunga-bunga yang ada. Melihat orang-orang antri foto di papan nama Doi Pui, Jonathan juga gak mau kalah dan minta di fotoin. Jarang-jarang dia minta di foto dan duduk bagus. Biasanya juga diajak foto gak mau diem gerak mulu.

banyak yang ngantri buat foto di sini, jadi Jonathan ikutan minta di foto

Setelah puas melihat Doi Pui, kami pulang langsung ke Chiang Mai. Perjalanan cukup lancar walaupun masih banyak mobil dari arah Chiang Mai yang baru akan naik ke gunung dan mungkin saja mau melihat Sakura juga.

Sebenarnya, ada sedikit terpikir mampir lagi ke tempat lain (Doi Suthep atau Bu Bhing Palace, tapi melihat anak-anak udah pada teler di mobil, ya sudah kami pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Entah kapan lagi akan melihat Doi Pui Village, kalau ga ada yang minta dianter ke sana, kemungkinan sih gak akan ke sana. Apa sekalian jadi guide Chiang Mai untuk orang Indonesia ya, biar bisa sering-sering jalan-jalan ke sini hehehehe.

CentralPlaza Airport Chiang Mai Update

Hari ini main ke Airport plaza lagi, surprise juga karena ternyata tempat main yang selama ini di renovasi sudah selesai. Selain tempat main berbayar, tempat mainan gratisnya juga ada tambahan mainannya. Tadi Joshua masih tetep main di area bermain gratisannya doang, tapi saya sempatkan foto untuk area bermain berbayarnya. Karena kami berencana makan sore dan Joe mau beli iPhone, jadi ya emang ga bisa juga kalau anak-anak mau main berlama-lama.

Selain mesin arcade yang selama ini sudah ada, saya perhatikan hal terbaru dari tempat bermian itu adalah adanya karaoke box dan play area yang lebih luas. Ada sekitar 6 karaoke box. Saya bukan orang yang suka karaoke-an, tapi jadi teringat, dulu di Indonesia juga banyak kotak-kotak kecil untuk karaoke-an di mall. Kapan-kapan saya pengen cek, lagu-lagunya kira-kira bahasa Thai semua atau ada bahasa lain-lain.

karaoke box

Tempat bermain berbayar juga cukup luas dibanding sebelumnya. Biayanya saya perhatikan masih sama. Biaya bermain 2 jam 200 baht / anak atau kalau mau ninggalin anak seharian 500 baht. Eh maksudnya misalnya ortunya mau nonton bioskop, nah anaknya tinggalin aja main di situ. Kami belum pernah ninggalin anak di tempat bermain buat nonton soalnya anaknya selalu pengen ikut nonton juga hahaha. Di tempat itu, anak dapat kesempatan kegiatan masak juga. Dan tema masakannya setiap bulannya sudah ditentukan.

Karena tempatnya masih baru, semua terlihat masih kinclong. Kurang tahu juga apakah Joshua bakal enjoy main di sana, tapi sepertinya Jonathan sih bakal enjoy banget, apalagi kalau ada temannya main. Joshua sih main lego di tempat gratisan aja bisa enjoy lama. Herannya, kalau di rumah di kasih lego bukannya di mainkan, malah di lempar-lempar doang *sigh*, masak harus beli meja legonya biar anaknya mau betah main?

Jonathan juga mulai suka berkreasi mainan lego kalau di mall, kalau di rumah ada beberapa set lego di beli belum dipasang juga karena dia gak gitu suka ngikutin buku petunjuk dan lebih suka bikin sesuatu pakai imajinasinya. Kadang-kadang cuma dia yang bisa melihat bentuk yang dia maksud hehehe. Tapi ya saya biarkan saja, katanya kan perlu anak-anak mengembangkan imajinasinya.

kreasi lego Jonathan katanya boat dengan kipas yang tinggi

Selain tempat bermain selesai direnovasi, tadi saya perhatikan lift yang biasa untuk mengangkut barang juga dindingnya diganti dan jauh lebih bersih. Sepertinya mall ini memang masih terus-menerus direnovasi. Senang rasanya, ga perlu ngemall jauh-jauh ke tempat lain dan semuanya terasa baru. Mall nya juga tidak terlalu ramai, jadi gak stress liat orang banyak hehehe.

Untuk lantai bawahnya, saya belum tau ada perubahan apalagi. Tadi sekilas cuma liat ada sedikit hiasan menyambut tahun baru Cina, tapi hiasannya tidak sebanyak menyambut acara Natal.

Ide untuk Sarapan

Beberapa pertanyaan yang paling sering muncul tiap malam selain (mau nulis apa ya hari ini), adalah besok mau sarapan apa ya. Sebenarnya kalau mau ikutin kemalasan saya, maunya pagi itu cukup sarapan sereal aja tiap hari, tinggal stok macem-macem sereal dan tuang susu deh. Tapi karena kemalasan itu tidak baik untuk dituruti, maka perlu untuk bikin variasi sarapan demi kesehatan bersama (idealnya ya begitu).

Berikut ini beberapa menu sarapan yang pernah dan masih kami makan setiap paginya. Menunya di rotasi sesuai dengan kondisi ketersediaan bahan di rumah. Beberapa menu sempat populer sekian lama, sampai akhirnya Jonathan bosan. Kadang-kadang, kalau lagi rajin, bisa jadi tiap orang punya menu sarapan yang berbeda.

Menu Nasi

Nasi putih dan lauk telur, bisa telur mata sapi atau telur dadar. Kalau ada daging giling atau steak tuna kaleng, bisa juga telur dadarnya dicampur daging giling atau steak tuna. Pernah juga telur dadarnya diisi irisan wortel dan daun bawang. Belakangan ini tapi Jonathan tidak suka kalau melihat ada sayur di dalam telur dadarnya, jadi ya kalau lagi buru-buru paling makan nasi pake telur dadar plain saja. Waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan sarapan seperti ini tergantung ada nasi sisa hari kemarin atau tidak. Kalau ada nasi sisa, ya nasinya tinggal dipanaskan di microwave, dan berarti waktu yang dibutuhkan hanya untuk mendadar telur. Kalau nasi lagi gak ada ya masak nasi sekitar 15 menit.

Kalau lagi ada bahan, selain dadar telur, saya juga goreng bacon buat tambahan lauk. Oh ya, pernah juga ada masa di mana Jonathan suka makan nasi putih pakai telur orak-arik (scramble egg) dan bacon atau sosis. Semakin banyak bahan tersedia, semakin kenyang deh sarapan paginya (dan tentunya semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkannya). Tapi menu paling populer itu ya nasi telur dadar. Karenanya stok telur itu wajib ada di rumah setiap harinya.

telur dadar, telur mata sapi dan telur orak arik, udah kayak restoran aja pesan menu beda-beda

Kalau ada waktu cukup santai dan ada sisa nasi cukup banyak, saya bikin nasi goreng asal-asal plus telur dadar. Kenapa namanya nasi goreng asal-asal? karena ya masaknya emang cuma pakai butter, sayur kalau ada, bacon/sosis/tuna iris kecil-kecil lalu kasih kecap asin dan sedikit kecap manis. Oh ya, bumbunya cuma garam bawang putih andalan. Rasanya kayak apa tuh? walau asal-asal tapi ya rasanya dapat dari isinya dan garam bawang putih plus kecap. Seperti biasa, kalau lagi rajin pakai irisan sayur wortel dan kol, itupun kalau anak-anak lagi gak picky melihat sayur dalam nasi gorengnya.

sosis bentuk octopus

Lauk lain yang juga pernah hits adalah sosis yang di goreng seperti octopus. Ini sih niru dari temennya Joe yang share di FB dan kebetulan Jonathan lihat dan jadi kepingin juga. Sayangnya Joshua tetep belum mau makan sosis, jadi ya paling kalau makan sosis ini untuk Jonathan dan Joe saja.

Menu dengan nasi ini merupakan menu favorit Joe, karena basically dia perutnya perut nasi. Katanya kalau sarapan gak pake nasi rasanya kurang kenyang.

Menu dengan Mie

Menu favorit semua orang di rumah kami itu Indomie Kari Ayam pakai telur, tapi karena tidak baik makan mie instan setiap hari dan keterbatasan persediaan Indomie Kari Ayam, ya..harus realistis, kalaupun lagi punya stock, kami makannya 1 x seminggu saja. Kadang-kadang kalau stok Indomie Kari Ayam sudah habis, ya kami pakai mie instan lokal. Selain ditambah telur kadang-kadang kami tambahkan baso atau bacon atau sayuran hijau.

Mie Goreng Indomie juga jadi menu favorit berikutnya. Tapi saya merasa menyiapkan mie goreng Indomie ini gak segampang masak mie rebus, ada tahapan mencampur setelah merebus. Di musim dingin mie gorengnya juga cepat sekali dingin. Baru saja selesai mencampur bumbu, mie gorengnya sudah dingin.

Kalau lagi super rajin dan ada waktu lebih, pernah juga saya masak mie goreng pakai mie telur atau bihun jadi bukan mie instan. Tentunya butuh waktu ekstra untuk mengiris sayuran dan merendam mie telu atau bihunnya sebentar. Bumbunya apa? ya pakai garam bawang putih dan kecap saja. Anak-anak belum makan pedas, jadi memang kami jarang makan pakai cabe, apalagi untuk sarapan.

Menu dengan mie yang juga pernah hits di rumah kami adalah spaghetti yang ditusukkan ke sosis, lalu di rebus. Biasanya makannya di siram dengan bumbu spaghetti bolognese dari prego yang di beli botolan atau kalengan. Tapi menu begini jarang saya sediakan belakangan ini karena mulai jarang beli sosis dan Joshua lebih suka bumbu spaghetti carbonara daripada bumbu spaghetti bolognese.

spaghetti sosis

Menu Cereal

Pernah suatu masa, kami hampir setiap hari makan oatmeal muffin untuk sarapan. Walaupun dibentuk seperti muffin, tapi sebenarnya muffin ini 100 persen menggunakan bahan oatmeal yang dicampur dengan pisang, apel atau wortel dan raisin. Ceritanya waktu itu lagi diet hehehe. Sekarang, sesekali saya masak menu ini terutama kalau lagi dikasih pisang 2 sisir sama ibu tukang pijat kami yang punya kebun pisang. Anak-anak suka makan oatmeal pisang begini, tapi supaya anak-anak bisa lebih lancar makannya, saya kurangi oatmealnya dan ditambahkan tepung sedikit. Makannya tentunya disiram susu putih segar. Nyam, sekarang sih bikinnya yang isi 12, kalau isi 6 begini sudah pasti gak cukup hehehe.

Muffin oatmeal ini selain untuk sarapan juga bisa untuk snack sore anak-anak setelah mereka bangun tidur siang dan sebelum jam makan malam. Waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan sarapan ini agak lama, tapi bedanya dengan masak mie goreng atau nasi goreng adalah, saya gak harus stand by depan kompor. Saya butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencampur semua bahan dan 25 menit memasak adonan di oven. Hal yang kurang saya suka selesai masak ini cucian piring jadi banyak hehehe.

Selain Muffin Oatmeal, menu sereal favorit tentunya beli sereal dalam kemasan. Mulai dari weetbix, koko krunch, granola, ataupun corn flake. Kadang-kadang saya campur-campur beberapa sereal dan tambahin buah. Makannya bisa pakai yoghurt atau pakai susu putih plain. Khusus Joshua, sejauh ini dia cuma suka koko krunch saja. Jonathan sudah lebih banyak variasi menu sereal yang dia mau, makanya kotak persediaan sereal bisa banyak jenis tersedia di rumah.

yoghurt buah

Pernah juga kami lagi dalam mode diet, di masa itu saya juga lagi rajin bikin yoghurt, jadilah sarapan kami cuma yoghurt dan buah saja. Dipikir-pikir kalau Joe pernah bisa sarapan begini, kenapa sekarang maunya nasi melulu dan ngeluh ga kenyang kalau sarapan sereal atau roti doang ya hehehe.

Saya juga pernah mencoba menyiapkan oatmeal yang di rendam yoghurt semalamam dan dicampur berbagai jenis buah dan chia seed. Sebenarnya enak-enak saja sih sarapan begitu, tapi kadang-kadang emang ada rasa kurang kenyang hahaha.

Menu Roti

Menu roti ini favorit saya karena praktis menyediakannya tinggal beli, oles-oles isi jadi deh. Dulu sering bikin roti di toast lalu di oles dengan jam ataupun butter lalu di taburin ceres.

Belakangan bikin French Toast yang super sederhana. Roti di celupkan ke telur, lalu di panggang di atas teflon. Hidangkan setelah di beri lapisan madu atau butter dan ceres (sesuai selera saja). Jonathan paling suka makan french toast dengan susu kental manis dan ceres. Sayangnya Joshua belum suka dengan menu ini. Untuk Joshua biasaya roti di oles butter lalu dikasih ceres atau coklat oles saja.

Waktu ikut kelas coursera mengenai makanan untuk anak-anak, dapat ide juga bikin telur mata sapi di tengah-tengah roti. Lupa namanya apa, tapi kira-kira roti tengahnya di potong, lalu di atas teflon kita bikin telur mata sapi deh di tengah-tengah roti. Jadinya telur berbingkai roti.

Pancake

Menu pancake ini juga butuh waktu untuk menyiapkannya, dan biasanya Joe yang lebih jago masaknya dibanding saya, apalagi kalau mau dibikin bentuk-bentuk seperti di video Nerdy Nummies. Joshua gak suka pancake, jadi kalau bikin pancake akhirnya saya bikin yang biasa saja dan yang makan saya dan Jonathan (karena Joe pun akhirnya makan nasi kayak Joshua).

Nerdy Nummies video membuat Rilakuma Bear pancake

Bubur Sumsum

Menu terbaru yang baru saya pelajari bikinnya itu bubur sumsum. Waktu di Depok, Jonathan sempat sakit dan gak bisa makan apa-apa selain bubur sumsum. Setelah di sini saya belajar masaknya, eh dia gak pernah mau makan bubur sumsum, jadinya saya masak bubur sumsum buat saya dan mama saya yang lagi di sini saja hehehe. Joshua dan Joe juga gak mau makan bubur sumsum, kayaknya karena ada pilihan lain sih, coba kalau ga ada pilihan lain, kemungkinan besar mereka juga akan makan bubur sumsumnya hehehe.

bubur sumsum

Udah sebanyak ini pilihan sarapan, tapi tiap malam kepikiran besok sarapan apa ya? terutama karena ada menu yang butuh waktu untuk menyiapkannya, atau ada menu yang gak bisa dibikin karena gak lengkap bahannya. Kadang-kadang juga karena ga semua makan menu tersebut, rasanya effortnya besar kalau harus menyiapkan lebih dari 1 macam menu.

Menu favorit saya untuk menyiapkannya tentunya yang paling mudah itu sereal, tapi kalau susu lagi habis, otomatisa gak bisa sedia sereal. Menu favorit berikut tentunya bikin mie instan dan telur, tapi kalau ga ada telur ya ga enak bikinnya. Akhirnya makan apapun besok pagi itu memang harus disiapkan dulu bahan-bahannya di hari sebelumnya. Kalau ada ide sarapan yang gampang dan enak (dan bukan tinggal beli), bagi-bagi ide di komen ya.

Cerita Homeschooling Kami

Salah satu manfaat dari homeshooling yang kami rasakan adalah, anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Seperti sekolah biasa, saya menetapkan jam sekolah setiap harinya dan ada jadwal mingguan. Jam sekolah kami setiap hari selesai sarapan lalu mandi, sekolah dimulai sampai jam 12 siang. Kalaupun belum selesai, bisa dilanjutkan sampai jam 1.30 lalu tidur siang. Dalam prakteknya, ada hari-hari di mana bangun kesiangan lalu tidak bisa menyelesaikan target harian sebelum makan siang. Saya juga menetapkan jadwal hari libur, tapi ya hari libur inipun bisa digeser kalau memang ada keperluannya.

Chiang Mai sekarang ini sedang dingin terutama di pagi hari. Sore hari udaranya cukup enak, matahari bersinar tapi suhu udara tidak terlalu panas. Cuaca yang sangat bagus untuk lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah. Biasanya, kalau memang ada janji main bareng temen di playground, jadwal belajar bisa digeser ke sore dan malam hari, atau ya diliburkan saja hari itu.

Anak-anak lebih suka belajar tanpa meja

Jonathan biasanya saya suruh mengerjakan pekerjaanya di meja makan (yang tentunya sudah dibersihkan selesai sarapan). Dulunya saya siapkan meja belajar di ruang terpisah, tapi karena Joshua juga sering pengen ikut-ikutan sama Jonathan, meja makan menjadi solusi karena lebih besar dan bisa duduk sama-sama. Tapi kadang-kadang mereka juga lebih senang menulis sambil tiduran, atau menulis di atas sofa. Karena Joshua sebenarya belum mulai kegiatan sekolah formal, saya bebaskan saja Joshua menulis di mana dia mau, tapi belakangan Jonathan juga ikutan maunya nulis bukan di meja yang disarankan.

Hari ini, suhu udara di pagi hari berkisar 17 – 19 derajat Celcius. Bangun pagi merupakan tantangan tersendiri hahaha. Udara yang dingin juga membuat daya tahan tubuh menurun. Enaknya ya bangun jangan pagi-pagi banget. Hari ini, Jonathan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sekolahnya sesuai jadwal. Karena tidur siang lebih penting, pekerjaan sekolah dilanjutkan setelah bangun tidur.

Sebelum melanjutkan pelajaran, anak-anak main di trampolin dan perosotan dulu. Setelah puas bermain, saya ambil meja untuk Jonathan mengerjakan pekerjaanya di luar rumah. Joshua ga mau kalah, dia juga mau ikut-ikutan belajar menulis.

Joshua gak butuh meja untuk menulis, dia lebih suka tiduran di lantai. Saking asiknya menulis, dia bergeser dari arah perosotan sampai arah trampolin. Jonathan bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya lebih cepat dari biasanya walau di luar banyak gangguan. Mungkin besok-besok bisa di coba untuk lebih sering belajar di luar seperti ini hehehe.

Kalau di kirim ke sekolah, mungkin kesempatan untuk belajar di luar seperti ini tidak banyak, dan ada kecenderungan anaknya bakal main doang dan ga mau disuruh ngerjain pelajarannya. Kalau berdua doang begini, tadi bisa main cukup lama tapi tidak lama banget, dan waktu saya suruh menyelesaikan pekerjaan sekolah yang ditinggal tidur siang, Jonathan langsung mengerjakan tanpa tawar menawar karena sudah puas bermain.

Kegiatan Homeschooling kami sekarang ini sudah berjalan dengan speed seperti biasa. Kalau semester lalu kami mengikuti co-op di hari Senin, semester ini kami mengikuti kegiatan group homeschool yang diadakan setiap hari Selasa. Bedanya, semester ini group homeschoolnya ada gurunya, jadi saya bisa meninggalkan anak-anak di sana dan harapannya saya jadi bisa punya me-time.

Hari Selasa lalu, Joshua masih nangis-nangis waktu saya tinggal walaupun ada Jonathan juga di sana. Tapi ya akhirnya dia diam juga walaupun belum mau mengikuti kegiatan yang dilakukan bersama. Sebenarnya, memang Joshua belum perlu diberikan kegiatan belajar terstruktur, karena dia itu super rajin belajar sendiri hehehe. Saya mengirim dia ke grup homeschool supaya dia punya teman bermain dan mengasah kemampuan sosialnya. Besok hari Selasa lagi, semoga saja Joshua sudah lebih enjoy dan gak nangis-nangis waktu saya tinggalkan.

Kalau cuaca lagi bagus seperti sekarang, dan anak-anak akur bermain dan gak susah waktu di suruh mengerjakan pekerjaan sekolah, rasanya kegiatan homeschool terasa jauh lebih menyenangkan. Semoga saja ada lebih banyak hari-hari seperti ini daripada hari-hari di mana anak sulit konsentrasi dan saya harus bawel baru kerjaan selesai hehehehe.

Hidden Village Chiang Mai

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hidden Village Chiang Mai. Terakhir kami ke sana sekitar akhir tahun 2017, dan ternyata kali ini ada banyak perubahan yang cukup menarik di tempat ini. Dulunya, waktu tempat ini baru dibuka, kesan pertama dari tempat ini adalah tempat untuk melihat animatronik berbagai jenis Dinosaurus. Hari ini, bisa dibilang tempatnya sudah lebih fun dan bukan sekedar melihat pajangan Dinosaurus yang itu-itu saja.

Tiket masuk ke tempat ini ternyata membedakan harga lokal dan harga turis asing. Untuk harga lokal diatas 100 cm dikenakan biaya 50 baht/orang. Anak di bawah 100 cm gratis. Untuk harga asing ada 3 level harga, di bawah 100cm gratis, anak sampai dengan 130 cm 100 baht, dewasa 200 baht. Seperti biasa, dengan jurus bertanya dalam bahasa Thai, kami dapat harga lokal (lumayan masuk kantong deh sisanya hehehe).

Ticket counter dengan berbagai penjelasan harga

Hal terbaru yang langsung menarik perhatian kami adalah, restorannya menyediakan menu buffet. Kami sudah beberapa kali makan di restoran di dalam hidden village, dan dulunya selalu merasa tempat itu terlalu sepi dan makanannya sering lama datangnya. Rasanya sih lumayan oke walau harganya sedikit agak mahal. Salah satu tujuan hari ini ke sana emang mau jalan-jalan sekalian makan malam.

Tulisan besar-besar yang kami lihat mengenai harga buffet semuanya pakai huruf Thai. Setelah melihat foto-foto di tempat pembelian tiket, saya baru menyadari kalau skema harga untuk makanan buffet nya juga membedakan harga lokal dan harga asing. Untuk buffetnya, anak-anak di bawah 100 cm sama-sama gratis. Untuk harga lokal anak di bawah 130 cm bayar 129 baht, sedangkan dewasa bayar 259 baht/orang. Nah harga asingnya menurut saya terlalu mahal:anak di bawah 130 cm harganya 250 baht, dewasa 400 baht.

Menu buffetnya lumayan sih, bukan cuma makanan yang sudah tersedia seperti spaghetti, sosis, salad dan buah-buahan saja, tapi juga kita bisa memesan steak, pizza dan bahkan menu nasi goreng ala makanan Thailand. Tadinya kami berencana membeli makanan biasa aja dan gak usah beli buffet nya, tapi karena mereka bilang Joshua boleh gratis, ya…akhirnya kami beli juga deh buffet untuk 3 dewasa. Hasilnya rusak diet hahaha, tapi ya senang juga sih karena penutupnya ada eskrim juga hehehe. Ini beberapa contoh makanan yang kami pesan. Katanya makanan ini bisa di pesan lebih dari 1 porsi per orang kalau emang kuat makannya hahaha.

Haduh, malah jadi cerita makan-makannya lebih banyak dari tempatnya. Oke kembali ke cerita lokasi hidden villagenya seperti apa sih. Tambahan yang baru yang menarik untuk anak-anak, sekarang ini ada yang namanya animal village. Di animal village ada ayam, kelinci dan kolam ikan Koi. Dengan membayar sekitar 20 baht, anak-anak mendapat kesempatan untuk memberi makan ayam, kelinci atau ikan. Yang di beli itu biasanya tempat makanannya. Tadi, karena anak-anak lebih pengen main di playground dan toh kemarin baru dari zoo feeding berbagai farm animal juga, jadilah kami putuskan tidak berhenti di bagian itu.

Selain animal village, ada tambahan permainan seperti komidi putar. Ada juga pet village. Di pet village ini anak-anak bisa memberi susu ke babi atau sapi. Bisa juga naik kuda pony dengan biaya tertentu. Di tempat ini juga kami gak berhenti, soalnya berasa agak bau kayak di peternakan hahaha.

Selain animal village dan pet village, area hidden village yang luas ini berisi banyak display yang unik seperti serangga raksasa, kupu-kupu raksasa ataupun bunga rafflesia. Tempat ini intinya sih kebanyakan buat foto-foto orang dewasa. Untuk anak-anak tempat ini cocok untuk lari-larian, bermain di playground, mengenal berbagai farm animal dan juga belajar mengenai nama-nama dan bentuk dinosaurus.

Tujuan berikutnya ke Dinosaurs Village. Nah di sinilah ada banyak animatronic dinosaurs. Oppung yang sebelumnya belum pernah melihat seperti ini awalnya kaget. Oppung jadi bertanya-tanya itu gimana mereka menggerakkannya. Jonathan yang sudah beberapa kali dibawa ke sana pun menjawab dan berusaha menjelaskan ke oppung dengan bahasa Indonesia.

Di dalam Dinosaurs Village, selain melihat dinosaurus, anak-anak bisa bermain dengan inflatable playground dengan membayar 20 baht saja. Selain itu ada juga tempat yang lebih cocok untuk anak yang lebih muda soft play area dengan tambahan biaya 40 baht/20 menit. Soft play area membutuhkan kaus kaki sebelum anak masuk ke dalamnya. Selain 2 tempat bermain ini, ada lagi permainan seperti naik dinosaurus besar tapi saya lupa memfoto dan mengingat harganya.

Tadi kami sampai di sana sekitar jam 4.30, matahari masih cukup terang tapi sudah tidak panas lagi. Setelah berlari-larian dan bermain-main di playground sambil melihat-lihat display yang ada, anak-anak pun merasa lapar. Walau belum jam 6 kami putuskan untuk makan saja. Sekitar jam 7.20 kami pun pulang dengan perut kenyang hehehe.

Kalau mau makan buffetnya, mungkin ada baiknya datangnya agak pagi. Tempat ini buka jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Jadi pagi bisa jalan-jalan dulu, setelah lelah ya makan sambil ngadem (restorannya ber ac). Abis makan, kalau anak-anak belum habis tenaganya masih bisa lanjut bermain lagi hehehe. Tadi akhirnya memutuskan makan buffet alasannya karena udah lama gak makan steak hahaha. Sepertinya bisa jadi tempat yang bisa dijadwalkan untuk dikunjungi di tahun 2019 ini.

Pilot Frixion Ballpoint dan Marker

Pilot Frixion ini merupakan jenis pulpen dan marker yang bisa dihapus. Awalnya tahu jenis pulpen ini waktu membeli Elfin Book (buku yang bisa dilap pakai lap basah berkali-kali). Setelah sekian lama, akhirnya menemukan kalau bisa beli ballpoint dan markernya di Lazada Thailand. Ada juga pilihan kalau mau membeli isinya saja.

ballpoint dan markers Pilot Frixion

Bedanya pulpen yang dibeli sekarang dengan yang sudah pernah dibeli sebelumnya hanya soal tutupnya saja. Kalau sebelumnya ketika memakai pulpen sering sekali mencari-cari tutupnya di mana, nah karena yang ini ballpoint yang sistem click, jadi tidak ada tutup yang hilang. Untuk menghapusnya juga bisa langsung gunakan bagian belakang pulpen, atau ya kalau ditulisnya di ElfinBook bisa langsung dilap basah seperti biasa.

Pilot Frixion Marker dan Ballpoint

Untuk markernya, tutupnya masih model di lepas seperti sebelumnya. Tujuan dibeli marker, supaya nulis di Elfin Book bisa lebih banyak pilihan warna. Selain itu tujuan utamanya tentu saja untuk dipakai Joshua. Selama ini, setiap kali Joshua dikasih buku baru, dia akan mengisi 1 halaman dengan 1 huruf besar dan 1 huruf kecil, dilengkapi dengan gambarnya dan dia mulai mewarnai juga. Dalam waktu singkat, seluruh halaman sudah diisi.

Rencananya dengan memberikan ElfinBook plus marker, kalaupun bukunya penuh, nantinya bisa dengan mudah dihapus saja. Sebelumnya dicobakan memakai pulpennya, tapi karena cara memegang pulpen belum benar, Joshua selalu susah untuk menulis dengan pulpen Pilot Frixion. Dengan dibelinya marker ini, Joshua jadi lebih mudah menulis di Elfin Book. Dengan menulis di buku yang bisa dihapus, tentunya gak buang-buang buku lagi kan. Ujung-ujungnya hemat di kantong juga ramah lingkungan karena ga buang-buang kertas.

Pegang pulpennya belum bisa dikoreksi, jadi lebih mudah menulis pakai marker

Sebenarnya ada banyak warna marker dan juga pulpennya. Tergoda mau beli segala warna, tapi dipikir-pikir lebih baik beli secukupnya. Awalnya mau beli dari aliexpress atau dari situs yang mengirim dari luar Thailand. Tanpa sengaja, ketemu iklan shopee di FB. Karena belum pernah belanja di Shopee, kami mencari dari Lazada Thailand saja. Cuma menunggu beberapa hari, pulpennya sudah sampai di rumah. Kadang-kadang iklan yang muncul di FB ada gunanya juga hehehe.

Mungkin bertanya-tanya berapa harganya? Kemarin ada banyak variasi harga. Tapi yang kami beli untuk marker 6 warna harganya 300 baht, untuk ballpoint 3 warna harganya 285 baht. Ada lagi selain pulpen dan marker, yaitu highlighter, tapi saya gak beli karena ga merasa butuh.

Saya kurang tahu, apakah pemakai pilot Frixion ini aware dengan kemampuan menghilangnya tulisan dengan produk ini apabila kepanasan selain basah. Kalau buat saya, utamanya ya untuk menulis di ElfinBook saja. Kalau misalnya untuk menulis diary, bisa-bisa kalau salah nyimpan bukunya, lalu bukunya kepanasan, daaan kita ga bisa baca lagi pas mau membaca ulang tulisan kita.

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya: jadi pilot Frixion ini cuma berguna kalau mau menulis di buku yang tahan basah? Jawabnya tidak, bisa saja kita pakai untuk dibuku mana saja, asal kita aware kalau bukunya kepanasan ada kemungkinan tulisannya suatu hari akan menghilang. Kalau tujuan kita memang ingin membuat catatan sementara dan justru berkeinginan supaya tulisan itu akan hilang setelah beberapa waktu, penggunaan pulpen ini akan sangat berguna. Setelah kita ingin menghapus isinya, kita bisa biarkan bukunya di mobil kepanasan. Biasanya panasnya mobil itu cukup panas untuk membuat tulisan menggunakan pilot Frixion dari buku biasa menghilang.

Oh ya, kenapa beli pulpen banyak kalau Joshua pakai marker? karena ballpoint merahnya buat saya koreksi kerjaan homeschool Jonathan. Yang biru dan yang hitam buat saya dan Jonathan pakai. Jonathan menulis jurnalnya juga menggunakan pulpen Pilot Frixion.

Awalnya waktu dia mau nulis, dia ga menemukan pinsilnya, jadi saya kasihlah pulpen yang ada di dekat saya yang kebetulan adanya pulpen Pilot Frixion. Nah ternyata karena ujung pulpennya cukup kecil, tulisan Jonathan bisa lumayan rapih, selain itu kalau dia salah menulisnya masih bisa dihapus dan ditulis ulang dengan cukup bersih. Tentunya saya ga boleh lupa untuk memfoto tulisan Jonathan di jurnalnya secara berkala, buat jaga-jaga kalau bukunya tiba-tiba kena panas matahari dan isinya hilang.