Backup data server dan personal

Saya sudah pernah mengalami masalah kehilangan data: komputer dicuri (waktu jaman kuliah), harddisk rusak, server cloud yang harddisknya rusak. Saya juga pernah memiliki masalah dengan account google, jadi saya tidak pernah percaya 100% dengan layanan cloud.

Saya pernah menulis tentang pentingnya backup untuk solusi ransomware. Di tulisan ini isinya lebih teknis, tentang berbagai software yang saya pakai untuk backup saat ini (rsync, rclone, borg backup, syncthing, seafile dan git).

NAS saat ini (Sudah saya bahas di posting ini)

Inspirasi membuat tulisan ini adalah karena salah satu dedicated server yang saya pakai harddisknya tiba-tiba rusak. Saya sudah menduga hal ini suatu saat akan terjadi karena 4 tahun yang lalu saya mendapatkan servernya dengan harga promo, dan saya cek umur harddisknya sudah cukup tua ketika menerima server tersebut.

Sebagai catatan: servernya hanya saya pakai untuk kegiatan pentest karena penyedia jasanya tidak memfilter paket dan tidak memberi warning jika ada kegiatan scanning dari server di sana. Saya pernah mencoba beberapa hosting yang akan langsung mematikan server dan mengemail saya, memberi tahu bahwa host Anda mungkin kena malware dan mencoba menyerang host lain (padahal ini scanning). Karena itu saya tidak keberatan jika data server ini hilang, tapi bayangkan jika ini terjadi di server Anda.

Pesan dari customer service
Lanjutkan membaca “Backup data server dan personal”

Nezha Single Board Computer RISC-V 64 Bit

RISC-V (baca: Risk Five) adalah instruction set architecture (ISA) yang sifatnya terbuka, jadi yang mengimplementasikan ISA ini tidak perlu membayar royalti ke pihak tertentu. Ini tidak seperti ARM atau x86 di mana yang mengimplementasikan perlu membayar royalti. Mirip dengan ARM, ada berbagai versi ISA ini yang bisa dipakai mulai dari microcontroller sampai desktop.

Nezha single board computer

Beberapa tahun terakhir sudah mulai ada yang mengimplementasikan RISC-V versi microcontroller (pernah saya bahas di sini) dengan harga relatif murah. Ini hanya bisa menjalankan Linux versi non-MMU. Kemudian sudah ada yang membuat versi desktop (SiFive HiFive Unmatched) tapi masih mahal. SBC dari Beaglebone sudah dibuat tapi masih untuk developer. Tapi bulan Mei lalu ada SBC baru yang relatif murah (99 USD) dan sudah bisa dipesan dari AliExpress.

Lanjutkan membaca “Nezha Single Board Computer RISC-V 64 Bit”

Memakai RAM rusak (parsial) di Linux

Linux memiliki fitur untuk melakukan deteksi RAM yang rusak parsial dan menskip bagian RAM tersebut. Dalam keadaan sangat terpaksa, fitur ini bisa dimanfaatkan. Gejala RAM rusak biasanya adalah: crash secara random. Terutama jika ini di OS yang masih “bersih” (baru direinstall).

Sumber: https://poorlydrawnlines.com/comic/an-idea/

Secara umum memakai RAM rusak bukan ide yang baik, dan RAM yang rusak sebaiknya diganti karena sangat berisiko merusak data. Tapi dalam kasus tertentu mungkin kita ingin tetap memakai RAM tersebut karena berbagai alasan, misalnya:

  • Supaya tetap bisa bekerja sambil menunggu RAM baru
  • RAM tidak bisa diganti karena disolder di motherboard
  • Komputer dipakai untuk keperluan tidak penting, misalnya sekedar untuk mainan anak-anak. Atau mungkin sekedar menampilkan iklan untuk pengunjung toko (tidak apa-apa jika sesekali crash)
Lanjutkan membaca “Memakai RAM rusak (parsial) di Linux”

Pinebook Pro setahun kemudian

Saya sudah pernah membahas mengenai laptop Pinebook dan Pinebook pro sebelumnya, tapi saya ulangi sedikit: kedua benda ini adalah laptop open source dari Pine64. Mereka ini membuat berbagai hardware terbuka. Misalnya saya pernah membahas mengenai PinePhone, ponsel Linux. Fokus utama mereka adalah menyediakan hardware, dan membiarkan komunitas yang mengurus bagian softwarenya.

Lanjutkan membaca “Pinebook Pro setahun kemudian”

Review PinePhone: Smartphone Open Source

PinePhone merupakan smartphone open source, salah satu proyek hardware dari Pine64. Tidak seperti smartphone Android, PinePhone ini dapat menjalankan sistem operasi Linux murni, dengan berbagai pilihan distribusi (distro) seperti di desktop dengan pilihan berbagai shell/desktop environment.

Organisasi Pine64 membuat berbagai hardware open source yang saat ini meliputi: SBC (Single Board Computer), Laptop , Tablet, Smartphone, kamera security, Solder pintar, SmartWatch, dan beberapa hardware lain. Di posting ini saya hanya akan membahas PinePhone, dan kali lain saya akan membahas berbagai hardware lain dari Pine64 yang saya miliki.

PinePhone dengan OS KDE Plasma

Sebelum Anda kecewa membaca sampai akhir, kesimpulan saat ini: smartphone ini belum siap dipakai umum, tapi cocok untuk para hacker (orang yang suka ngoprek) baik hardware maupun software. Pinephone ini bukan satu-satunya smartphone open source yang ada saat ini, tapi ini yang paling murah (versi termurah: 149 USD) dan paling banyak pengembangnya. Proyek hardware open source lain adalah Librem 5 dari Purism tapi harganya beberapa kali lipat dari PinePhone (749 USD) dengan spesifikasi yang tidak beda jauh.

Lanjutkan membaca “Review PinePhone: Smartphone Open Source”

Memilih Printer

Sejak tinggal di Chiang Mai, kami sudah beberapa kali beli printer. Pernah beli yang laser, deskjet, inkjet, bahkan pernah beli yang agak hi-end pada masa itu bisa fax segala (padahal cuma butuh fitur scannernya). Kami juga sudah mencoba berbagai merk printer seperti Lexmark laser, HP deskjet print scan copy fax, Brother inkjet monochrome, Canon inkjet dengan tank yang dimodif maupun Canon inktank print scan copy.

Karena kami tidak memakai printer setiap hari, masalah yang paling sering terjadi adalah: tintanya kering! Yang paling menyebalkan adalah: setiap kali butuh ngeprint, selalu butuh waktu untuk membujuk printernya biar bekerja. Setelah printernya bekerja, eh kertasnya kadang-kadang miring masuknya dan berbagai masalah cetak lainnya.

Sebagai homeschooler, printer itu termasuk kebutuhan utama. Walaupun kami membeli kurikulum yang sudah berupa buku kerja, kadang kala ada banyak hal lain yang perlu dicetak untuk bacaan tambahan atau latihan soal. Sebagai orang IT, kami juga sering merasa butuh untuk scan dokumen, foto atau berbagai hal lain. Kebutuhan untuk memfotokopi passport juga ada setiap kali ada urusan ke imigrasi untuk perpanjangan ijin tinggal. Jadi kesimpulannya printer itu kebutuhan untuk kami walaupun tidak digunakan tiap hari.

Lanjutkan membaca “Memilih Printer”

Windows Subsystem for Linux

Salah satu alasan saya dulu menyukai OS X adalah: ada terminal di mana kita bisa menjalankan berbagai utility command line yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Sementara dulu di Windows kita perlu menginstall Cygwin atau MSys agar bisa memakai shell, dan perintah yang adapun sangat terbatas.

Tapi sejak beberapa tahun lalu Microsoft mendukung Windows Subsystem for Linux (WSL) atau kadang dikenal sebagai: bash on Windows. Begitu diumumkan, saya langsung mendaftar agar bisa langsung mencoba fiturnya. Awalnya saya tidak berharap banyak, tapi ternyata implementasinya memang bagus, dan ini sudah jadi sesuatu yang saya pakai setiap hari.

Teknologi yang dipakai WSL adalah menjalankan langsung syscall Linux di Windows. Jadi kita tidak perlu mengkompilasi ulang program kita di Linux, bisa langsung dicopy dan akan jalan di Windows. Tentunya ini hanya bisa jika semua library/dependency dicopy juga ke Windows. Microsoft hanya mendukung WSL ini di sistem 64 bit. Tidak 100% program Linux bisa jalan (apalagi jika mengakses hardware), tapi lebih dari 90% aplikasi yang saya butuhkan bisa jalan di WSL.

Setiap kali butuh perintah yang biasanya hanya ada di Linux (misalnya find), saya langsung mengetik “bash” untuk masuk ke shell bash di direktori saat ini, lalu menjalankan perintahnya. Microsoft tidak menyediakan XServer, tapi kita bisa memakai VcXsrv untuk menjalankan aplikasi X.

Gabungan berbagai program GUI Windows dan keampuhan command line Linux membuat saya jadi betah memakai Windows. Dulunya saya sempat ingin mendalami PowerShell, tapi baru tahu permukaannya saja sudah merasa bahwa bahasanya agak aneh. Sekarang sejak adanya WSL ini, saya jadi lebih jarang lagi memakai powershell.