Memrise: Aplikasi Buat Belajar Bahasa

Catatan: review ini saya tulis berdasarkan opini pribadi, dan saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Saya menginstal Memrise sudah lama. Jonathan malah duluan makai Memrise baru saya ikutan. Awalnya, Jonathan iseng-iseng pengen belajar bahasa Spanish katanya. Terus belakangan saya ikutan mencoba instal juga untuk melihat ada bahasa apa saja yang ditawarkan dan seperti apa sih Memrise itu.

Bisa belajar banyak bahasa sekaligus

Sekilas, memrise ini seperti flash card saja. Bedanya kalau flash card biasa itu, kita harus menyiapkan sendiri kata-katanya dan tidak ada suaranya. Dengan Memrise, selain menawarkan untuk mengulang-ulang kosa kata, ada bagian latihan mendengarkan, latihan mengucapkan, latihan mendengar orang lokal berbicara, latihan mengeja, dan juga mulai dari level kata sampai menyusun kalimat. Oh ya, kursus yang kita pilih bisa di download secara offline, jadi tidak ada alasan tidak bisa belajar karena kehabisan paket data.

Saya mulai iseng belajar Korea pakai Memrise beberapa bulan lalu. Memrise ini bisa digunakan secara gratis, tapi ada beberapa fitur yang dibatasi untuk versi gratisnya. Karena melihat saya dan Jonathan waktu itu cukup rajin, akhirnya kami memutuskan untuk membayar subscription Memrise ini. Pertimbangannya, dengan 60 USD per tahun, bisa belajar beberapa bahasa sekaligus, jauh lebih murah daripada pergi ke kursus bahasa. Sekarang ini ada penawaran lifetime subcription dengan biaya 100 USD, tapi kami belum membeli yang lifetime subscription.

informasi subscription

Setelah selesai materi Korean 1, saya sempat berhenti lama, dan baru melanjutkan lagi akhir-akhir ini. Salah satu hal yang sekarang saya jadikan tantangan buat saya adalah, menjaga supaya jangan sampai ada hari bolos belajar. Sejauh ini sudah 27 hari terakhir saya selalu ingat untuk berlatih Korean 2.

Setiap hari kita bisa tentukan berapa banyak target kata baru yang ingin dipelajari. Beberapa hari pertama, saya tidak mau bikin target yang terlalu sulit. Cukup 5 kata baru per hari, dan biasanya cukup 5 menit juga selesai. Belakangan ini saya ganti targetnya menjadi 15 kata baru per hari.

Untuk 15 kata baru ini, karena levelnya juga semakin sulit, saya butuh sekitar 15 – 20 menit setiap harinya. Kalaupun saya gak punya waktu 20 menit yang berkesinambungan, saya bisa belajar 5 menit pagi hari, 5 menit setelah makan siang dan 10 menit sore hari. Pokoknya sih dibikin fun aja seperti main game, karena kadang-kadang saya bisa ngantuk juga belajarnya hahaha.

Oh ya, waktu dulu belajar Korean 1, saya pikir belajar Korea pakai Memrise ini cuma sampai level 2 saja. Tapi belakangan saya lihat, ada 7 kursus yang ditawarkan untuk belajar Korea ini. Jadi tambah semangat buat bikin target sesegera mungkin menyelesaikan Korean 2.

Supaya ada gambaran, berikut ini contoh cara belajar bahasa menggunakan Memrise Korean1. Waktu saya mulai belajar, saya belum membaca sama sekali mengenai alphabet hangeul. Dengan pengulangan yang berkali-kali, lama-lama saya jadi ingat bentuk dan asosiasi dengan bunyinya.

Selain kata, kita juga belajar mengingat frasa dan kalimat. Semua kata-kata ini akan dipelajari dengan berbagai metode. Metode belajarnya tentu saja mengingat kata baru dan mereview kata-kata yang lama. Aplikasi memrise akan secara otomatis memilihkan metode mana yang akan dilakukan, tapi kita juga bisa memilih mau latihan dengan metode yang mana.

berbagai metode belajar dan review

Kadang-kadang saya masih menebak dalam menjawab pertanyaanya. Tapi seringkali jawabannya juga sudah sangat jelas yang mana. Kalau kita salah menjawab, kita akan diberi kata tersebut sebagai kata baru, lalu kita akan banyak dipandu sebelum kemudian diulang lagi setelah 2 atau 3 pertanyaan berikut. Karena adanya pengulangan berkali-kali, lama-lama kita jadi ingat.

Untuk setiap metode belajar dan review, kita diberi beberapa jenis pertanyaan yang berganti-ganti, misalnya:

  • Setelah menampilkan informasi kata dan penulisan dan pengucapan,
  • berikutnya kita diminta untuk menuliskan ejaannya.
  • Untuk kata yang baru, sudah ada hintnya, tapi setelah beberapa kali, kita akan diminta mengisi sendiri.
  • Ada juga diberikan 3 suara, kita pilih mana yang paling tepat dengan kata yang diminta.
  • Kita diminta mengetikkan kata/kalimat yang kita dengar
  • mendengar orang lokal bicara, lalu memilih mana kalimat yang disebutkan
  • menyusun kata-kata dari kalimat yang kita dengar

Untuk belajar bahasa lain, saya belum coba lagi, tapi kira-kira metodenya akan sama variasinya. Sekilas saya lihat untuk bahasa Mandarin, dimulai dengan romanisasi, lalu lama kelamaan kita juga diminta mengingat alphabetnya. Ada keinginan belajar bahasa lainnya, tapi kita lihat saja nanti ya hehehehe.

Selain Memrise, ada banyak aplikasi lain yang bisa dipakai untuk belajar bahasa. Dulu saya pernah melihat aplikasi Rosetta Stone untuk belajar bahasa Thai. Dari hasil googling, ada juga aplikasi DuoLingo. Tapi akhirnya yang membedakan adalah, tidak semua aplikasi memiliki bahasa yang ingin kita pelajari. Saat ini, saya cukup senang menambah kosa kata bahasa Korea dengan menggunakan aplikasi Memrise ini.

Mencoba Mi Band 3

Setelah lama memakai smart band tak bermerk seharga 17 dollar, akhirnya hari ini memutuskan membeli Mi Band 3. Sebenarnya smart band yang sebelumnya masih bekerja dengan baik dan baru saja saya ganti talinya, lagipula saya gak memakainya untuk tracking langkah atau lari. Selama ini lebih terpakai untuk notifikasi kalau ada telepon masuk saja. Saya selalu set HP saya tanpa nada dering kecuali memang sedang menunggu pesanan delivery makanan haha. Nah kalau lagi di luar sama anak-anak, kadang saya gak tahu kalau ada telepon masuk. Dengan bantuan smart band, saya bisa tahu ada telepon atau pesan masuk.

Bagusan mana? yang hitam atau yang merah?

Mi Band 3 harganya 2 x lipat smart band saya yang lama, tapi juga masih lebih murah dibandingkan smart watch lainnya. Alasan saya membeli Mi Band 3 ini karena jam yang lama softwarenya sudah tidak diupdate lagi. Setiap kali ganti HP, Joe harus mengatur secara khusus supaya jam nya bisa terhubung ke HP. Selain itu, entah kenapa belakangan ini jam tangannya sering terputus koneksinya dari HP, dan saya menyadarinya biasanya setelah ada panggilan tak terjawab di HP saya.

Belakangan ini saya juga mulai sering berenang, nah jam yang lama tidak tahan air, sedangkan si Mi Band 3 ini katanya walaupun tidak punya aplikasi khusus untuk mengukur berapa jauh kita sudah berenang, tapi versi ini sudah tahan air dan bisa di bawa berenang. Jadi ya…bertambahlah alasan buat beli. Siapa tahu juga ke depannya jadi rajin buat mencapai target jumlah langkah seharinya hehehe.

Sebenarnya ada banyak jenis smart band/smart watch yang tahan air dan bisa dipakai berenang selain memberi notifikasi telepon dan pesan masuk, tapi saya membeli Mi Band 3 karena benda ini cukup murah, batere tahan lama dan fungsinya cukup untuk kebutuhan saya. Saya gak butuh tracker aneh-aneh, tapi kalaupun butuh untuk hitung langkah, lari, atau heart rate selain berenang semua sudah ada di Mi Band 3. Jadi dengan harga murah dapat fitur lebih dari cukup untuk saya, ya…jelas dong beli ini aja.

Kesan pertama lihat jam ini lucu juga dan terasa lebih ringan dari jam sebelumnya. Sayangnya, untuk chargingnya saya butuh charger khusus, tidak seperti jam saya sebelumnya yang bisa langsung bisa di charge tanpa kabel ke USB. Memang sih kalau ada colokan masuk ke USB langsung, jamnya jadi agak lebih panjang dari seharusnya. Tapi ya repot karena kabelnya gak standar, kalau hilang bisa berabe.

Semoga generasi mi band berikutnya bisa di charge langsung tanpa kabel seperti versi jam saya yang lama

Kata Joe, talinya nanti bisa beli warna-warna lain, tapi sekarang ini saya mau lihat juga berapa lama kira-kira umur tali yang hitam. Kalau sudah bosan boleh juga nanti beli warna lain biar berasa jam baru lagi hehehe. Semoga juga jam ini tahan lama kayak jam versi sebelumnya, kapan-kapan kalau udah lebih tau banyak plus minusnya akan saya tuliskan lagi.

Mengingat Jadwal di HP

Dengan memilih homeschooling, kami bisa menyusun jadwal lebih leluasa. Tapi karena banyak kelas tambahan, jadilah terasa lebih sulit mengingat semua jadwal kalau tidak dituliskan terutama kalau ada kegiatan tambahan yang di luar jadwal. Tahun lalu saya mencoba memakai diary/organizer fisik untuk mengingat jadwal termasuk merencanakan jadwal pelajaran, tapi hanya berhasil dipakai 1 bulan saja. Kadang-kadang waktu ada yang perlu ditulis, bukunya lagi gak di tas, sampai rumah jadi lupa deh.

Sejak gagal pakai buku fisik, saya mulai membiasakan diri mencatat jadwal di aplikasi Calendar yang ada di HP saja. Calendar di android ini bisa dishare juga ke Joe, jadi kalau ada appointment yang bukan hal rutin mingguan, saya tambahkan di Calendar dan bikin reminder berupa notifikasi maupun e-mail. Kalender yang kami pakai juga di sinkronisasi ke gmail. Jadwal yang sering terlupakan itu biasanya janji ke dokter gigi, karena cuma 6 bulan sekali, biasanya klinik gigi nya akan menelpon untuk mengingatkan janji untuk esok harinya, tapi kalau mengandalkan nunggu telepon repot juga kalau mau bikin rencana jalan-jalan di akhir pekan.

Tampilan kegiatan per hari

Calendar ini bisa diubah tampilannya untuk melihat schedule saja, jadwal sehari termasuk jamnya ataupun secara keseluruhan jadwal 1 bulan. Jadwal saya itu biasanya isinya ya jadwal antar jemput anak-anak. Terkadang ada juga kegiatan bersama atau khusus untuk saya. Sebenarnya hari ini, niatnya mau datang ke kumpulan perajut, tapi karena mata sangat mengantuk, saya putuskan buat tidur siang sama Joshua saja hehehe.

Tidak semua jadwal saya masukkan ke aplikasi Calendar. Biasanya kegiatan rutin mingguan sudah bisa saya ingat saja selain supaya calendarnya tidak kelihatan penuh. Saya tidak suka kalau jadwalnya kelihatan penuh hehehe. Selain jadwal, di aplikasi Calendar kita juga mengeset reminder untuk hal-hal seperti bayar rekening air dan listrik supaya tidak kelupaan.

Tampilan daftar kegiatan

Biasanya, saya mengeset tampilannya per bulan supaya ketahuan kira-kira bulan ini perlu ngapain saja. Kalau sudah diisi, supaya gak keliatan padat, baru saya ubah ke tampilan kegiatan saja. Tapi untuk mendapatkan feeling ada waktu kosong dalam sehari, saya ubah tampilannya per hari.

Kegiatan Jonathan terasa banyak karena berbeda dengan anak yang disekolahkan dan mendapat semua pelajaran di sekolah, Jonathan hampir setiap hari keluar rumah untuk pelajaran tambahan. Jadwal sekarang ini kelas art 1 kali seminggu, taekwondo 2 kali seminggu, kumon Thai 2 kali seminggu, piano 1 jam seminggu dan homeschool group 1 kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu biasanya sengaja dikosongkan untuk kegiatan bersama dengan papanya. Hari Senin sekarang ini kosong, karena kebanyakan tempat kursus tutup di hari Senin.

tampilan kegiatan bulanan

Dengan menyimpan jadwal di HP, sejauh ini saya jarang kelupaan sesuatu. Kemarin saya lupa menambahkan undangan dari rekan kerja Joe ke kalender, nah waktu guru piano Jona nelpon minta pindah jadwal, saya hampir saya lupa kalau Jumat sudah ada jadwal lain. Untungnya masih bisa di geser lagi ke hari lain hehe

Jadwal di HP ini bisa diintegrasi juga dengan kalender dari FB, tapi karena kebanyakan dapat notifikasi ulang tahun dari teman di FB, saya gak tampilkan di kalender saya. Toh kebanyakan kalau saya buka FB akan dapat notifikasi pengingat lagi di hari ulangtahun teman-teman di FB.

Dari dulu sampai sekarang, baru sekarang ini rasanya saya butuh banget mencatat jadwal kegiatan. Dulu mungkin kegiatannya gak banyak ya, dan rutin harian hampir sama, jadi gak butuh dicatat khusus. Sekarang ini yang usia sekolah baru 1 aja udah berasa banyak, gimana kalau nanti Joshua juga udah harus kursus ini itu ya hehehe. Mungkin kalau anak-anak di kirim ke sekolah, jadwalnya akan jauh lebih berkurang dan akhirnya Sabtu dan Minggu diisi dengan les seharian hehehe. Faktor lainnya kemungkinan karena faktor U, udah gak bisa ingat banyak hal hahahha.

Ada yang punya pengalaman sama soal memakai aplikasi Calendar untuk menyimpan jadwal? atau masih lebih suka nulis di buku fisik aja? Atau ada aplikasi yang direkomendasikan yang dirasa lebih oke dari Calendar? Sekarang ini sih buat saya aplikasi Calendar sudah terasa cukup, karena untuk kegiatan berulang, saya bisa tinggal copy dan ganti tanggal. Untuk kegiatan berulang setiap minggunya juga bisa di set sampai kapan berulangnya. Kalau masalah warna-warnanya sekarang ini saya pilih masih agak random, mungkin nantinya harus diasosiasikan untuk kategori kegiatan tertentu, supaya sekali lirik langsung tau kegiatannya apa dan untuk siapa (anak atau diri sendiri).

Nonton TV Indonesia Online

Sebenarnya kami bukan orang yang sering menonton TV, terutama acara TV yang banyak iklannya. Sejak tinggal di Chiang Mai kami sudah terbiasa tidak menonton TV, apalagi siaran TV Indonesia. Tapi setiap kali baru pulang dari Indonesia, karena di sana biasanya selalu ada TV menyala, Jonathan jadi ikutan nonton dan kamipun terpikir untuk mencari tahu bagaimana supaya bisa menonton siaran TV Indonesia.

Waktu pertama kali mengetahui siaran TV Indonesia bisa ditonton dari internet (sekitar tahun 2008), rasanya senang sekali. Tapi setelah tahu, ya akhirnya tetap saja gak ditonton. Waktu itu masalahnya selain kami tidak terlalu merasa ingin menonton, juga nontonnya sering ada buffering dan terputus-putus. Daripada menonton acara terputus-putus, kami memilih menonton TV Series yang sudah di download hehehe.

Beberapa tahun lalu, kami juga memasang parabola di rumah atas permintaan eyang yang berkunjung ke Chiang Mai. Karena hiburan eyang ya nonton TV dan eyang tidak mengerti nonton acara TV Thailand, ya kami pun memasang parabola yang menghadap ke satelit yang menyiarkan siaran TV Indonesia. Seperti biasa, setelah eyang pulang, kami tidak lagi menonton acara TV Indonesia.

Beberapa kali setelah itu, setiap eyang datang, Joe harus mensetting ulang untuk mencari stasiun TV yang biasa di tonton eyang. Masalahnya, tidak semua siaran TV Indonesia berada dalam satelit yang sama, jadi hanya sebagian stasiun TV yang bisa kami tonton. Pernah juga kami merekam beberapa film Paw Patrol berbahasa Indonesia yang disiarkan di TV Indonesia, lalu Joe akan mengedit menghilangkan iklannya untuk ditonton anak-anak supaya mereka juga bertambah kosa kata bahasa Indonesianya.

Waktu pulang terakhir kemarin, Jonathan mengikuti beberapa film anak-anak yang diputar di AnTV dan juga menonton acara Killer Karaoke Indonesia. Waktu sampai di Chiang Mai, Jonathan meminta ke papanya supaya TV di sini bisa menonton siaran AnTV juga. Waktu Joe mencari tahu, eh ternyata siaran ANTV sudah pindah satelit, dan kami harus menggeser arah parabola kalau mau bisa menonton ANTV. Tapi ternyata, kami jadi menemukan kalau ternyata TV Indonesia sekarang ini sudah banyak live stremingnya di Internet dan bisa diakses secara gratis, jadi kami ga perlu susah payah lagi deh sekarang kalau mau nonton TV Indonesia.

hasil pencarian tv online Indonesia di google

Waktu saya memasukkan kata kunci tv online Indonesia ke Google, saya menemukan ada lebih dari 5 situs yang menyediakan jasa streaming TV Indonesia. Saya mencoba beberapa situs yang katanya nonton tanpa buffering. Pada dasarnya, nonton TV Streaming tergantung dengan kecepatan internet juga. Tapi yang saya heran, beberapa situs yang bilang sama-sama live streaming, tapi beda tayangannya bisa sampai lebih dari 2 menit. Karena saya mencobanya sudah tidak di Indonesia lagi, saya tidak tahu situs mana yang benar-benar live streamingnya sama persis dengan siaran TV dengan antena biasa. Kalau lagi nonton pertandingan siaran langsung sepak bola, bisa-bisa dengar tetangga bilang GOL duluan nih hehehe.

Dari berbagai situs yang dicoba, ada 1 situs yang cukup lancar di akses dan juga antar mukanya cukup gampang. Mereka juga membedakan antar muka untuk akses dari komputer atau dari handphone.

vidio dot com diakses dari handphone

Karena sekarang ini TV kami sudah terhubung dengan mini komputer untuk menonton Netflix, adanya layanan streaming TV Online ini juga mempermudah kami mengakses menonton TV Indonesia jika dibutuhkan. Parabolanya mungkin bisa diarahkan ke satelit mengakses siaran TV Thailand hehehe.

Mudah-mudahan situs-situs TV Online ini bisa bertahan lama. Saya lihat, selain menyediakan konten streaming TV Online, mereka juga menyediakan layanan mengupload video untuk subscribernya. Ada juga layanan berbayar untuk menonton channel TV/film tertentu. Kalau untuk kebutuhan menonton streaming saja, untungnya kita ga harus repot-repot login atau bayar dan semoga tetap seperti itu.

Review Flo (Period Tracker)

Hari ini saya mau mereview aplikasi Period Tracker Flo, Pregnancy & ovulation Calendar yang saya gunakan untuk mencatat siklus tamu bulanan para wanita, kalau Anda pria dan belum menikah silakan skip post ini hehehe. Kalau Anda sudah menikah, silakan baca siapa tahu bisa berguna untuk pasangan Anda. Ada banyak aplikasi untuk mencatat siklus menstruasi di HP, awalnya saya ga sengaja menemukan aplikasi ini dan ternyata cukup akurat dan tentunya gratis tanpa iklan. Aplikasinya tersedia untuk android maupun iPhone.

Flo di Google Play

Saya pertama kali mencari tracker period ini sejak selesai menyapih anak pertama. Dulu saya tidak tahu kalau kita bisa membuat login profil dan datanya bisa tetap tercatat asalkan kita login dan sinkronisasi data kita ke servernya, Saya selalu instal aplikasi ini walau pindah HP beberapa kali. Selain mencatat siklus bulanan, aplikasi ini juga bisa mencatat banyak hal terkait kesehatan kita wanita. Saya juga sempat menggunakannya untuk mencatat progress kehamilan anak ke-2, sayangnya data yang itu hilang karena saya belum tahu mengenai fitur login pada waktu itu.

Lanjutkan membaca “Review Flo (Period Tracker)”

Google Trip – Travel planner

Kami bukan traveler, tapi ya senang juga jalan-jalan sesekali. Trus kalau ada rencana travel itu, kebanyakan waktu habis untuk browsing menyusun rencana perjalanan dan tempat-tempat untuk dikunjungi. Karena kami bukan traveler sejati dan bawa anak masih kecil-kecil, kami berusaha realistis kalau menyusun rencana perjalanan itu dalam 1 hari untuk tidak terlalu banyak menargetkan mengunjuni banyak tempat. 

Sebelum berangkat ke HongKong bulan September yang lalu, karena banyak kesibukan sebelum berangkat dan terlalu banyak informasi yang perlu dibaca, saya udah pusing duluan dan menyerah hahaha. Joe menyuruh saya menginstal aplikasi Google Trip di HP saya, dan aplikasi ini sangat bermanfaat untuk menyeleksi informasi yang terlalu banyak sebelumnya.

Tadinya saya sudah hampir lupa dengan aplikasi Google Trip ini, tapi karena ada rencana mau jalan-jalan dengan teman-teman di sini ke Chiang Dao (yang sebenarnya dekat dari Chiang Mai tapi kami belum pernah kunjungi), jadi teringat lagi dengan aplikasi ini. Bisa saja sebenarnya googling untuk mencari tempat menarik untuk dkunjungi, tapi ada terlalu banyak hasil pencariannya dan lagi-lagi saya jadi ga fokus.

Google Trip ini menambahkan data perjalanan kita secara otomatis dari  Gmail kita. Waktu menginstalnya pertama kali, semua pesanan tiket pesawat yang sebelumnya (dan memang gak pernah saya hapus) muncul dalam daftar trips saya. Jadi bisa ingat lagi, kapan aja kami pulang ke Indonesia, atau kapan kami travel ke kota lain.

Selain trip yang di ekstrak otomatis dari email pesanan pesawat dan hotel, sebenarnya kita bisa juga menambahkan sendiri tujuan wisata kita untuk membaca-baca atau merencanakan apa yang mau dilakukan dan dikunjugi. Kalau kita sudah membuat tujuan perjalanan kita, ada pilihan untuk mengunduh semua informasi yang kita butuhkan. Pilihan ini tentunya untuk memudahkan kalau misalnya di tempat tujuan kita tidak ada internet.

Untuk setiap kota tujuan, selain bisa melihat nomor pemesanan tiket pesawat ataupun hotel, kita juga bisa membaca-baca apa saja hal-hal yang bisa dilakukan di kota tujuan, usulan rencana perjalanan, kupon diskon dan juga daftar restoran untuk makan dan minum. Semua informasi yang tersedia ini sebenarnya hampir mirip dengan membaca trip advisor, ataupun mencari di google. Bedanya semua sudah dikategorikan dan di filter, jadi bacanya juga enak. Informasi sebuah tempat juga dilengkapi dengan review dan peta lokasi yang kalau kita pilih langsung bisa dibuka di google maps.

Biasanya, kalau lagi mau traveling, email konfirmasi pesanan akan saya forward juga ke Joe (dan sebaliknya), dengan aplikasi Google Trip kita bisa juga membagikan informasi pemesanan. Kalau yang kita kirimkan menginstall aplikasi ini di HP nya, dia akan bisa membaca informasi yang sama dengan yang kita lihat. Nantinya kita bisa juga menyimpan lokasi yang kira-kira menarik untuk dikunjungi, atau bahkan membuat rencana perjalanan harian sendiri ditambahkan ke dalam aplikasi ini.

Akhir tahun ini kami juga ada rencana pulang ke Indonesia, belum tau juga apakah sempat banyak jalan-jalan selama di Indonesia. Tapi nanti kalau lagi santai, jadi bisa baca-baca siapa tahu ada informasi menarik mengenai tempat-tempat untuk dikunjungi atau makanan yang direkomendasikan. Karena aplikasi ini mengumpulkan data dari internet, kebanyakan yang akan muncul itu kalau memang ada yang menuliskannya di internet. Semoga ada banyak orang yang rajin menulis review soal tempat-tempat di Indonesia.

Phone Holder di Mobil

Sejak dulu, nyari tempat meletakkan handphone di mobil supaya gampang untuk melihat google map sambil nyetir. Kadang-kadang ya biar ga repot juga kalau misal lagi nyetir tau-tau telpon bunyi, bisa tau siapa yang nelpon dan apakah penting atau tidak untuk segera minggir angkat telepon.

Bisa main pokemon kalau macet

Untuk masalah terima telepon sambil nyetir, sudah pernah juga pake bluetooth earphone, tapi kadang lupa memakainya dan seringnya bluetooth earphonenya akhirnya rusak karena lupa di charge. Belakangan akhirnya nemu beberapa alternatif supaya bisa meletakkan handphone dengan mudah dan terutama bisa lihat google map kalau dibutuhkan. Kalau ada telepon masuk juga bisa terima telepon dengan aktifkan speaker phone dan tangan tetap ga terganggu bisa nyetir seperti biasa.
Magnet di air vent

Phone holder favorit sekarang ini model magnet yang diletakkan di air vent/ac di tengah mobil. Untuk memakainya, di belakang handphone kita harus memakai besi yang nempel ke handphone. Kepingan besi seperti koin yang sangat tipis ini cukup murah, phone holder magnet nya juga sangat kecil.

Bulatan logam
Beli 5 seharga sekitar 12 ribu rupiah


Kelemahan dari benda ini, setiap handphone harus ditempelin koin besi yang nempel ke magnet supaya bisa memakai phone holdernya. Tapi buat saya dan Joe hal ini ga jadi masalah karena kita bisa membeli koin besinya yang sudah ada stickernya untuk ditempel ke handphone sekaligus beberapa dengan harga cukup murah.

Model  pertama pakai penjepit yang agak merepotkan

Dulu, sebelum menemukan benda ini, saya pakai model jepit yang di air vent maupun yang bisa diletakkan di kaca mobil ataupun di dashboard dengan menggunakan suction. Kelemahan dari benda model ini, kadang-kadang jepitannya sangat pendek, dan kalau kita pakai case untuk handphone kita, jepitannya kurang kuat dan handphone bisa terlepas. Atau seringkali yang terjadi, waktu saya memasang handphone di phone holder, phone holdernya tepat berada di tombol off untuk handphone saya, dan handphone saya jadi mati atau kadang-kadang jadi menyalakan kamera.

Situasinya, masuk mobil kita pengen langsung meletakkan handphone di phone holdernya, tapi kalau dengan model yang lama, saya harus menggunakan 2 tangan untuk meletakkan handphone dan juga seringnya butuh tenaga untuk membuka penjepitnya dan tau-tau handphonenya lepas atau handphone mati, rasanya kalau lagi buru-buru mengesalkan sekali. Dengan phone holder yang model magnet, saya masuk mobil bisa langsung letakkan handphone di phone holdernya dengan cara mendekatkannya dan langsung nempel deh, tanpa drama handphone mati ataupun kamera nyala tanpa sengaja.

Ngomong-ngomong, kesannya tulisan ini lagi iklan ya haha, nggak kok, saya tidak sedang mengendorse merk tertentu, saya cuma berbagi pengalaman setelah gonta ganti berbagai phone holder baru nemu phone holder yang paling cocok dengan magnet dan koin besi. Siapa tau ada yang mengalami masalah yang sama dengan saya setiap kali masang handphone di phone holder model jepit hp mati ataupun terlepas karena hp terlalu tebal oleh case. Waktu saya pakai hp model asus zenphone, hp nya sangat tebal dibanding hp biasa, dan juga terlalu berat untuk beban phone holder hitam jepit. Akhirnya saya beli phone holder jepit yang putih dengan suction. Masalah dengan suction, karena saya tempel di kaca mobil, kadang-kadang daya suctionnya tiba-tiba melemah dan phone holder lepas. Masalah handphone mati karena kejepit dibagian tombol off juga sering terjadi seperti kejadian dengan penjepit versi sebelumnya.

Kelemahan phone holder magnet yang ditempel di air vent ini juga ada, kadang-kadang kalau kita masangnya ga terlalu bagus di air vent, waktu kita berhenti dan mau ambil handphonenya, phone holdernya ikut terlepas. Tapi masalah ini bisa terjadi juga dengan model pertama. Tapi masalah ini ga terlalu mengesalkan seperti masalah handphone mati. Masalah lain, kalau hp kita model yang agak berat, bisa jadi hp kita terlepas dari magnetnya kalau ada jalanan yg tidak rata dan mobil agak kencang.

Model jepit lain yang juga repot, plus suctionnya sering lepas

Baru-baru ini, saya baru tahu juga ternyata ada phone case yang langsung ditempelin koin besi di belakangnya dan dilengkapi dengan ring untuk membuat hp bisa diletakkan berdiri juga. Saya pernah 2 kali beli ring yang di tempel di belakang handphone, tapi tempelannya gampang lepas.

Dengan adanya tempelan besi koin yang sekarang, saya juga bingung kalau mau tempelin ring di mana sebaiknya, akhirnya Joe nemu ternyata ada phone case yang sudah dilengkapi dengan ring dan besi untuk tempelan ke phone holder magnet. Senangnya 3 kebutuhan terjawab dengan 1 benda. Case, koin besi untuk phone holder dan ring untuk meletakkan handphone supaya bisa berdiri.

Saya kagum dan berterimakasih, ada aja yang kepikiran buat bikin aksesori yang dibutuhkan pengguna Handphone. Kemarin waktu cerita ke sepupu saya, ternyata dia belum belum tau ada phone holder model magnet. Nah karena ada yang belum tau, maka saya tuliskan saja di sini, siapa tau udah kesel dengan phone holder jepit yang sering bikin handphone mati seperti sebelumnya yang saya alami hehehe.