Sedia Back-up Sebelum Hilang

Kemarin, waktu lagi asik ngobrol dengan teman di WhatsApp, tiba-tiba messagenya gak kunjung terkirim. Saya pikir koneksi internet di rumah lagi terputus. Buka-buka Facebook, isinya kok ga berubah ya. Coba buka instagram malah ga bisa sama sekali dengan pesan yang mengatakan tidak ada koneksi internet. Sempat agak heran, karena jelas-jelas saya sedang streaming film dan artinya koneksi internet baik-baik saja. Setelah saya nanya Joe, baru deh ketauan kalau bukan internet rumahnya yang bermasalah, tapi layanan Facebook, WhatsApp dan Instagram yang notabene dimiliki oleh 1 perusahaan yang sama yang sedang down.

Setelah Joe kasih tau kalau layanannya yang down, saya jadi googling, dan ternyata tepat sebulan sebelumnya Facebook juga mengalami masalah yang sama dengan alasan ada perubahan konfigurasi server yang mengakibatkan beberapa hal jadi tidak bisa diakses sama sekali.

berita facebook down

Saya tau kebanyakan orang mungkin tidak bermasalah dengan layanan down ini, tapi untuk orang yang memasang iklan di FB atau mungkin mengandalkan WhatsApp untuk berkomunikasi masalah pekerjaan, pastinya berasa kerugian walau itu cuma 2.5 jam.

Layanan online itu ya begitu resikonya. Makanya saya memilih untuk tidak hanya pakai WA tapi juga Telegram dan Line di handphone saya. Ya mungkin akan ada alasan: tapi hp saya dah penuh memorynya, atau tapi hp saya sudah lambat banget. Kalau begitu, ya pakai sms aja deh hehehe.

Buat perusahaan sebesar FB, layanan down ini bisa saja terjadi. Beberapa waktu lalu di bulan Maret, MySpace tanpa sengaja menghilangkan semua musik yang diupload user-nya sebelum 2015 waktu sedang memindahkan server. Kebayang ya kalau misal kita menyimpan musik karya kita di sana untuk back-up tapi malahan hilang. Nangis berhari-hari juga ya tetep aja ga kembali datanya.

Saya jadi ingat, pada suatu masa account e-mail saya juga pernah dihapus admin karena salah informasi, yang tentunya menghapus seluruh inbox saya. Namanya sudah dihapus, ya ga bisa dikembalikan lagi, jadilah saya hanya bisa merelakan saja. Untungnya waktu itu tidak ada data yang terlalu penting yang saya butuhkan dan saya masih punya salinan berkas yang saya anggap penting.

Hidup di era digital ini memang memanjakan kita dengan berbagai kemudahan, memory handphone penuh kita back-up foto ke layanan online seperti google photos. Menyimpan tulisan juga bisa di google drive. Banyak juga yang menyimpan kenangan foto di Facebook ataupun instagram. Lalu kalau tiba-tiba account dihapus, hilanglah semuanya dalam waktu sekejap mata.

Pelajaran dari memakai layanan online ya untuk data yang kita anggap penting, kita harus tetap punya salinannya secara offline. Kalau dulu waktu masih kuliah saya ingat diajarkanya misalnya kita bisa mempunyai salinannya di usb terpisah atau compact disk. Tapi semuanya itu juga bisa hilang kalau gak hati-hati menyimpannya. Akhirnya ya tetap harus punya beberapa salinan untuk data super penting.

Data digital ini sangat mudah diduplikasi, sangat mudah dimodifikasi dan sangat mudah juga dihapus. Dan semua itu bisa terjadi bukan karena sistem yang salah, tapi kadang-kadang faktor kelalaian manusianya juga. Terus gimana dong? ya jangan mengandalkan 1 layanan saja.

Salah satu alasan kenapa saya akhirnya lebih suka bercerita di blog daripada di media sosial FB walaupun gak banyak yang komen adalah, karena blog ini dikelola sendiri (alias Joe yang urusin). Inipun pernah beberapa kali bermasalah kalau server tempat kami hosting error. Tapi dari pengalaman, kami selalu membackup blog ini di server terpisah dari tempat hosting, jadi kalau hostingnya misalnya tiba-tiba menghapus semua data di server, data kami tetap ada salinannya.

Hidup di era digital akan lebih nyaman kalau kita tidak hanya mengandalkan layanan tertentu saja. Selalu punya cadangan/salinan untuk semua yang kita anggap penting.

Pertemanan dan Interaksi di Media Sosial

Sejak internet semakin menjangkau semua orang, ada banyak orang terhubung di media sosial (medsos). Teman-teman lama maupun baru, sekarang ini lebih banyak terhubung melalui medsos. Sejak telepon genggam semakin pintar, kita semakin jarang menghapalkan nomor telepon orang lain. Jangankan nomor telepon orang lain, nomor telepon kita sendiri saja kadang-kadang kita tidak hapal. Setelah menambahkan teman ke medsos, atau ke aplikasi chat seperti WA, Line, Telegram, setelah itu kalau ada perlu kita lebih sering kontak lewat aplikasi chat daripada telepon biasa.

Menerima pertemanan di medsos ini kadang agak dilematis. Misalnya, waktu saya pakai nama belakang saya dengan marga saya, ada banyak sekali orang batak yang berusaha menambahkan saya padahal tidak kenal dengan saya. Atau, ada juga saudara-saudara yang saya gak terlalu kenal, tapi karena ada mutual friends maka mereka berusaha menambahkan saya. Kadang-kadang saya terima pertemanan, kadang-kadang saya biarkan saja begitu. Atau kadang saya terima, lalu kalau tidak ada interaksi saya unfriend lagi hehehee.

Contoh lain yang juga bikin saya ragu-ragu menerima pertemananya adalah teman sesama alumni di SMA ataupun ITB. Biarpun sama-sama satu angkatan atau sama-sama satu jurusan beda angkatan, tapi kalau pada dasarnya gak pernah ngobrol sebelumnya, biasanya gak langsung saya terima. Temen-temen Joe juga kadang menambahkan saya jadi teman karena kami satu almamater, tapi ya kalau misalnya saya merasa gak benar-benar kenal, akhirnya saya diamkan saja. Toh kalau saya posting di FB hampir selalu Joe juga saya tag.

Ada beberapa alasan kenapa saya ragu-ragu menerima pertemanan di medsos, antara lain:

  1. Saya ga merasa benar-benar kenal, biasanya dengan yang seperti ini, walaupun saya terima pertemanan akhirnya gak ada tegur sapa sama sekali. Jadi ya tetap aja gak kenal dong judulnya. Fakta kalau kami bersaudara (jauh) atau sesama alumni tidak akan berubah walaupun gak temanan di medsos kan.
  2. Kalau yang meminta pertemanan itu timelinenya banyak jualan, sudah pasti tidak akan saya terima. Kalau saya butuh beli sesuatu, saya cari sendiri ke online shop.
  3. Timeline banyak share link soal politik dan banyak debat kusir. Saya gak suka membacanya jadi lebih baik gak usah dijadikan teman.
  4. Kalau banyak ikutan quiz atau main game juga biasanya tidak akan saya terima langsung jadi teman di medsos. Capek scroll timeline kalau cuma dapat hasil quiz atau notifikasi game doang.
  5. Timeline yang mengajak temenan kosong, jadi dia join medsos untuk kepo tapi gak mau berbagi berita. Nah untuk model begini biasaya kalaupun saya terlanjur terima gak lama akan saya unfriend.

Buat saya, media sosial ini bukan lagi dunia maya di mana saya hanyalah sebuah user id. Karena kami jauh dari tanah air, pertemanan di medsos ini menjadi jalan untuk mengetahui kabar berita teman-teman dan keluarga, serta berbagi kabar berita. Jadi kalau berteman di medsos tapi tidak ada interaksi, ya sepertinya tidak perlu juga jadi teman.

Masa menjelang pemilu, banyak yang bilang timeline medsosnya terasa panas dengan berbagai berita. Buat saya hal ini tidak terjadi, karena dari masa pemilu 5 tahun lalu dan masa pilkada DKI tahun lalu, saya sudah memfilter banyak berita dari timeline saya. Untuk kategori teman dan saudara yang memang tidak ada interaksi biasanya saya unfriend (karena toh mereka gak merasa butuh tahu kabar saya), untuk teman dan saudara yang memang masih ada interaksi tapi terlalu banyak komentar politik saya unfollow.

Sekarang ini selain unfollow, ada lagi pilihan snooze. Kalau unfollow kita tidak akan menerima update sama sekali sampai kita follow lagi. Untuk berhenti sementara waktu (misalnya selama masa jelang pemilu ini), bisa juga kita snooze selama 30 hari.

snooze dan unfollow

Sekarang ini dari sekian banyak medsos yang ada, saya hanya aktif di FB. Saya gak suka instagram dan twitter. Antar muka untuk berinteraksi ataupun update cerita/foto di instagram gak lebih baik dari FB. Saya tahu sebagian besar teman-teman saya sekarang mulai meninggalkan FB dan beralih mengupdate instagram saja. Tapi kalau mau komen di Instagram itu rasaya kurang enak membacanya. Kalau twitter udah dari dulu saya gak suka, bacanya lebih pusing lagi soalnya.

Saya masih memakai Facebook selain karena antarmuka untuk interaksinya lebih enak dibaca, di FB kita bisa berinteraksi dalam grup juga. Untuk berinteraksi dalam grup FB, kita tidak harus berteman dengan semua anggota grup dan tetap bisa saling berbalas komentar. Kalau kemudian kita menambahkan teman dari grup menjadi teman kita, ya gak masalah kalau memang ada interaksi sebagaimana teman. Biasanya saya hanya tambahkan teman dari grup yang saya ikuti kalau memang jenis grup yang aktif berdiskusi, bukan cuma grup jualan hehehe.

Bagaimana dengan WhatsApp grup? Ya ini beda lagi. Biasanya WAGrup sifat percakapannya ya kalau sempat baca dan nimbrung, kalau udah kelewat, ya gak harus di balasin juga semua pesan yang masuk. Sekarang ini saya cuma punya sedikit WAGrup. Biasanya WAGrup yang terlalu ramai akan saya mute atau malah saya keluar dari sana.

Saat ini WAGrup saya cuma sedikit, paling ada WAGrup temen sekelas SMA, temen yang hobinya sama, dan keluarga. WAGrup keluarga juga bukan keluarga besar, tapi lebih ke keluarga langsung saja. Untuk WAG keluarga besar, saya memilih tidak gabung karena biasanya terlalu ramai dan tidak selalu ada yang penting.

Pada akhirnya, mari gunakan media sosial dengan bijak. Jangan karena sudah bayar paket data bulanan, lalu kita merasa bebas mau nulis apa saja di media sosial. Media sosial ya media untuk bersosialisasi, bukan untuk kepo, bukan untuk debat kusir, bukan untuk cari pelanggan. Media sosial masih lebih baik digunakan untuk berdiskusi, saling menyemangati, saling berbagi kabar baik dan bahagia dan bagi-bagi hadiah juga boleh hehehhee.

Memrise: Aplikasi Buat Belajar Bahasa

Catatan: review ini saya tulis berdasarkan opini pribadi, dan saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Saya menginstal Memrise sudah lama. Jonathan malah duluan makai Memrise baru saya ikutan. Awalnya, Jonathan iseng-iseng pengen belajar bahasa Spanish katanya. Terus belakangan saya ikutan mencoba instal juga untuk melihat ada bahasa apa saja yang ditawarkan dan seperti apa sih Memrise itu.

Bisa belajar banyak bahasa sekaligus

Sekilas, memrise ini seperti flash card saja. Bedanya kalau flash card biasa itu, kita harus menyiapkan sendiri kata-katanya dan tidak ada suaranya. Dengan Memrise, selain menawarkan untuk mengulang-ulang kosa kata, ada bagian latihan mendengarkan, latihan mengucapkan, latihan mendengar orang lokal berbicara, latihan mengeja, dan juga mulai dari level kata sampai menyusun kalimat. Oh ya, kursus yang kita pilih bisa di download secara offline, jadi tidak ada alasan tidak bisa belajar karena kehabisan paket data.

Saya mulai iseng belajar Korea pakai Memrise beberapa bulan lalu. Memrise ini bisa digunakan secara gratis, tapi ada beberapa fitur yang dibatasi untuk versi gratisnya. Karena melihat saya dan Jonathan waktu itu cukup rajin, akhirnya kami memutuskan untuk membayar subscription Memrise ini. Pertimbangannya, dengan 60 USD per tahun, bisa belajar beberapa bahasa sekaligus, jauh lebih murah daripada pergi ke kursus bahasa. Sekarang ini ada penawaran lifetime subcription dengan biaya 100 USD, tapi kami belum membeli yang lifetime subscription.

informasi subscription

Setelah selesai materi Korean 1, saya sempat berhenti lama, dan baru melanjutkan lagi akhir-akhir ini. Salah satu hal yang sekarang saya jadikan tantangan buat saya adalah, menjaga supaya jangan sampai ada hari bolos belajar. Sejauh ini sudah 27 hari terakhir saya selalu ingat untuk berlatih Korean 2.

Setiap hari kita bisa tentukan berapa banyak target kata baru yang ingin dipelajari. Beberapa hari pertama, saya tidak mau bikin target yang terlalu sulit. Cukup 5 kata baru per hari, dan biasanya cukup 5 menit juga selesai. Belakangan ini saya ganti targetnya menjadi 15 kata baru per hari.

Untuk 15 kata baru ini, karena levelnya juga semakin sulit, saya butuh sekitar 15 – 20 menit setiap harinya. Kalaupun saya gak punya waktu 20 menit yang berkesinambungan, saya bisa belajar 5 menit pagi hari, 5 menit setelah makan siang dan 10 menit sore hari. Pokoknya sih dibikin fun aja seperti main game, karena kadang-kadang saya bisa ngantuk juga belajarnya hahaha.

Oh ya, waktu dulu belajar Korean 1, saya pikir belajar Korea pakai Memrise ini cuma sampai level 2 saja. Tapi belakangan saya lihat, ada 7 kursus yang ditawarkan untuk belajar Korea ini. Jadi tambah semangat buat bikin target sesegera mungkin menyelesaikan Korean 2.

Supaya ada gambaran, berikut ini contoh cara belajar bahasa menggunakan Memrise Korean1. Waktu saya mulai belajar, saya belum membaca sama sekali mengenai alphabet hangeul. Dengan pengulangan yang berkali-kali, lama-lama saya jadi ingat bentuk dan asosiasi dengan bunyinya.

Selain kata, kita juga belajar mengingat frasa dan kalimat. Semua kata-kata ini akan dipelajari dengan berbagai metode. Metode belajarnya tentu saja mengingat kata baru dan mereview kata-kata yang lama. Aplikasi memrise akan secara otomatis memilihkan metode mana yang akan dilakukan, tapi kita juga bisa memilih mau latihan dengan metode yang mana.

berbagai metode belajar dan review

Kadang-kadang saya masih menebak dalam menjawab pertanyaanya. Tapi seringkali jawabannya juga sudah sangat jelas yang mana. Kalau kita salah menjawab, kita akan diberi kata tersebut sebagai kata baru, lalu kita akan banyak dipandu sebelum kemudian diulang lagi setelah 2 atau 3 pertanyaan berikut. Karena adanya pengulangan berkali-kali, lama-lama kita jadi ingat.

Untuk setiap metode belajar dan review, kita diberi beberapa jenis pertanyaan yang berganti-ganti, misalnya:

  • Setelah menampilkan informasi kata dan penulisan dan pengucapan,
  • berikutnya kita diminta untuk menuliskan ejaannya.
  • Untuk kata yang baru, sudah ada hintnya, tapi setelah beberapa kali, kita akan diminta mengisi sendiri.
  • Ada juga diberikan 3 suara, kita pilih mana yang paling tepat dengan kata yang diminta.
  • Kita diminta mengetikkan kata/kalimat yang kita dengar
  • mendengar orang lokal bicara, lalu memilih mana kalimat yang disebutkan
  • menyusun kata-kata dari kalimat yang kita dengar

Untuk belajar bahasa lain, saya belum coba lagi, tapi kira-kira metodenya akan sama variasinya. Sekilas saya lihat untuk bahasa Mandarin, dimulai dengan romanisasi, lalu lama kelamaan kita juga diminta mengingat alphabetnya. Ada keinginan belajar bahasa lainnya, tapi kita lihat saja nanti ya hehehehe.

Selain Memrise, ada banyak aplikasi lain yang bisa dipakai untuk belajar bahasa. Dulu saya pernah melihat aplikasi Rosetta Stone untuk belajar bahasa Thai. Dari hasil googling, ada juga aplikasi DuoLingo. Tapi akhirnya yang membedakan adalah, tidak semua aplikasi memiliki bahasa yang ingin kita pelajari. Saat ini, saya cukup senang menambah kosa kata bahasa Korea dengan menggunakan aplikasi Memrise ini.

Mencoba Mi Band 3

Setelah lama memakai smart band tak bermerk seharga 17 dollar, akhirnya hari ini memutuskan membeli Mi Band 3. Sebenarnya smart band yang sebelumnya masih bekerja dengan baik dan baru saja saya ganti talinya, lagipula saya gak memakainya untuk tracking langkah atau lari. Selama ini lebih terpakai untuk notifikasi kalau ada telepon masuk saja. Saya selalu set HP saya tanpa nada dering kecuali memang sedang menunggu pesanan delivery makanan haha. Nah kalau lagi di luar sama anak-anak, kadang saya gak tahu kalau ada telepon masuk. Dengan bantuan smart band, saya bisa tahu ada telepon atau pesan masuk.

Bagusan mana? yang hitam atau yang merah?

Mi Band 3 harganya 2 x lipat smart band saya yang lama, tapi juga masih lebih murah dibandingkan smart watch lainnya. Alasan saya membeli Mi Band 3 ini karena jam yang lama softwarenya sudah tidak diupdate lagi. Setiap kali ganti HP, Joe harus mengatur secara khusus supaya jam nya bisa terhubung ke HP. Selain itu, entah kenapa belakangan ini jam tangannya sering terputus koneksinya dari HP, dan saya menyadarinya biasanya setelah ada panggilan tak terjawab di HP saya.

Belakangan ini saya juga mulai sering berenang, nah jam yang lama tidak tahan air, sedangkan si Mi Band 3 ini katanya walaupun tidak punya aplikasi khusus untuk mengukur berapa jauh kita sudah berenang, tapi versi ini sudah tahan air dan bisa di bawa berenang. Jadi ya…bertambahlah alasan buat beli. Siapa tahu juga ke depannya jadi rajin buat mencapai target jumlah langkah seharinya hehehe.

Sebenarnya ada banyak jenis smart band/smart watch yang tahan air dan bisa dipakai berenang selain memberi notifikasi telepon dan pesan masuk, tapi saya membeli Mi Band 3 karena benda ini cukup murah, batere tahan lama dan fungsinya cukup untuk kebutuhan saya. Saya gak butuh tracker aneh-aneh, tapi kalaupun butuh untuk hitung langkah, lari, atau heart rate selain berenang semua sudah ada di Mi Band 3. Jadi dengan harga murah dapat fitur lebih dari cukup untuk saya, ya…jelas dong beli ini aja.

Kesan pertama lihat jam ini lucu juga dan terasa lebih ringan dari jam sebelumnya. Sayangnya, untuk chargingnya saya butuh charger khusus, tidak seperti jam saya sebelumnya yang bisa langsung bisa di charge tanpa kabel ke USB. Memang sih kalau ada colokan masuk ke USB langsung, jamnya jadi agak lebih panjang dari seharusnya. Tapi ya repot karena kabelnya gak standar, kalau hilang bisa berabe.

Semoga generasi mi band berikutnya bisa di charge langsung tanpa kabel seperti versi jam saya yang lama

Kata Joe, talinya nanti bisa beli warna-warna lain, tapi sekarang ini saya mau lihat juga berapa lama kira-kira umur tali yang hitam. Kalau sudah bosan boleh juga nanti beli warna lain biar berasa jam baru lagi hehehe. Semoga juga jam ini tahan lama kayak jam versi sebelumnya, kapan-kapan kalau udah lebih tau banyak plus minusnya akan saya tuliskan lagi.

Mengingat Jadwal di HP

Dengan memilih homeschooling, kami bisa menyusun jadwal lebih leluasa. Tapi karena banyak kelas tambahan, jadilah terasa lebih sulit mengingat semua jadwal kalau tidak dituliskan terutama kalau ada kegiatan tambahan yang di luar jadwal. Tahun lalu saya mencoba memakai diary/organizer fisik untuk mengingat jadwal termasuk merencanakan jadwal pelajaran, tapi hanya berhasil dipakai 1 bulan saja. Kadang-kadang waktu ada yang perlu ditulis, bukunya lagi gak di tas, sampai rumah jadi lupa deh.

Sejak gagal pakai buku fisik, saya mulai membiasakan diri mencatat jadwal di aplikasi Calendar yang ada di HP saja. Calendar di android ini bisa dishare juga ke Joe, jadi kalau ada appointment yang bukan hal rutin mingguan, saya tambahkan di Calendar dan bikin reminder berupa notifikasi maupun e-mail. Kalender yang kami pakai juga di sinkronisasi ke gmail. Jadwal yang sering terlupakan itu biasanya janji ke dokter gigi, karena cuma 6 bulan sekali, biasanya klinik gigi nya akan menelpon untuk mengingatkan janji untuk esok harinya, tapi kalau mengandalkan nunggu telepon repot juga kalau mau bikin rencana jalan-jalan di akhir pekan.

Tampilan kegiatan per hari

Calendar ini bisa diubah tampilannya untuk melihat schedule saja, jadwal sehari termasuk jamnya ataupun secara keseluruhan jadwal 1 bulan. Jadwal saya itu biasanya isinya ya jadwal antar jemput anak-anak. Terkadang ada juga kegiatan bersama atau khusus untuk saya. Sebenarnya hari ini, niatnya mau datang ke kumpulan perajut, tapi karena mata sangat mengantuk, saya putuskan buat tidur siang sama Joshua saja hehehe.

Tidak semua jadwal saya masukkan ke aplikasi Calendar. Biasanya kegiatan rutin mingguan sudah bisa saya ingat saja selain supaya calendarnya tidak kelihatan penuh. Saya tidak suka kalau jadwalnya kelihatan penuh hehehe. Selain jadwal, di aplikasi Calendar kita juga mengeset reminder untuk hal-hal seperti bayar rekening air dan listrik supaya tidak kelupaan.

Tampilan daftar kegiatan

Biasanya, saya mengeset tampilannya per bulan supaya ketahuan kira-kira bulan ini perlu ngapain saja. Kalau sudah diisi, supaya gak keliatan padat, baru saya ubah ke tampilan kegiatan saja. Tapi untuk mendapatkan feeling ada waktu kosong dalam sehari, saya ubah tampilannya per hari.

Kegiatan Jonathan terasa banyak karena berbeda dengan anak yang disekolahkan dan mendapat semua pelajaran di sekolah, Jonathan hampir setiap hari keluar rumah untuk pelajaran tambahan. Jadwal sekarang ini kelas art 1 kali seminggu, taekwondo 2 kali seminggu, kumon Thai 2 kali seminggu, piano 1 jam seminggu dan homeschool group 1 kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu biasanya sengaja dikosongkan untuk kegiatan bersama dengan papanya. Hari Senin sekarang ini kosong, karena kebanyakan tempat kursus tutup di hari Senin.

tampilan kegiatan bulanan

Dengan menyimpan jadwal di HP, sejauh ini saya jarang kelupaan sesuatu. Kemarin saya lupa menambahkan undangan dari rekan kerja Joe ke kalender, nah waktu guru piano Jona nelpon minta pindah jadwal, saya hampir saya lupa kalau Jumat sudah ada jadwal lain. Untungnya masih bisa di geser lagi ke hari lain hehe

Jadwal di HP ini bisa diintegrasi juga dengan kalender dari FB, tapi karena kebanyakan dapat notifikasi ulang tahun dari teman di FB, saya gak tampilkan di kalender saya. Toh kebanyakan kalau saya buka FB akan dapat notifikasi pengingat lagi di hari ulangtahun teman-teman di FB.

Dari dulu sampai sekarang, baru sekarang ini rasanya saya butuh banget mencatat jadwal kegiatan. Dulu mungkin kegiatannya gak banyak ya, dan rutin harian hampir sama, jadi gak butuh dicatat khusus. Sekarang ini yang usia sekolah baru 1 aja udah berasa banyak, gimana kalau nanti Joshua juga udah harus kursus ini itu ya hehehe. Mungkin kalau anak-anak di kirim ke sekolah, jadwalnya akan jauh lebih berkurang dan akhirnya Sabtu dan Minggu diisi dengan les seharian hehehe. Faktor lainnya kemungkinan karena faktor U, udah gak bisa ingat banyak hal hahahha.

Ada yang punya pengalaman sama soal memakai aplikasi Calendar untuk menyimpan jadwal? atau masih lebih suka nulis di buku fisik aja? Atau ada aplikasi yang direkomendasikan yang dirasa lebih oke dari Calendar? Sekarang ini sih buat saya aplikasi Calendar sudah terasa cukup, karena untuk kegiatan berulang, saya bisa tinggal copy dan ganti tanggal. Untuk kegiatan berulang setiap minggunya juga bisa di set sampai kapan berulangnya. Kalau masalah warna-warnanya sekarang ini saya pilih masih agak random, mungkin nantinya harus diasosiasikan untuk kategori kegiatan tertentu, supaya sekali lirik langsung tau kegiatannya apa dan untuk siapa (anak atau diri sendiri).

Nonton TV Indonesia Online

Sebenarnya kami bukan orang yang sering menonton TV, terutama acara TV yang banyak iklannya. Sejak tinggal di Chiang Mai kami sudah terbiasa tidak menonton TV, apalagi siaran TV Indonesia. Tapi setiap kali baru pulang dari Indonesia, karena di sana biasanya selalu ada TV menyala, Jonathan jadi ikutan nonton dan kamipun terpikir untuk mencari tahu bagaimana supaya bisa menonton siaran TV Indonesia.

Waktu pertama kali mengetahui siaran TV Indonesia bisa ditonton dari internet (sekitar tahun 2008), rasanya senang sekali. Tapi setelah tahu, ya akhirnya tetap saja gak ditonton. Waktu itu masalahnya selain kami tidak terlalu merasa ingin menonton, juga nontonnya sering ada buffering dan terputus-putus. Daripada menonton acara terputus-putus, kami memilih menonton TV Series yang sudah di download hehehe.

Beberapa tahun lalu, kami juga memasang parabola di rumah atas permintaan eyang yang berkunjung ke Chiang Mai. Karena hiburan eyang ya nonton TV dan eyang tidak mengerti nonton acara TV Thailand, ya kami pun memasang parabola yang menghadap ke satelit yang menyiarkan siaran TV Indonesia. Seperti biasa, setelah eyang pulang, kami tidak lagi menonton acara TV Indonesia.

Beberapa kali setelah itu, setiap eyang datang, Joe harus mensetting ulang untuk mencari stasiun TV yang biasa di tonton eyang. Masalahnya, tidak semua siaran TV Indonesia berada dalam satelit yang sama, jadi hanya sebagian stasiun TV yang bisa kami tonton. Pernah juga kami merekam beberapa film Paw Patrol berbahasa Indonesia yang disiarkan di TV Indonesia, lalu Joe akan mengedit menghilangkan iklannya untuk ditonton anak-anak supaya mereka juga bertambah kosa kata bahasa Indonesianya.

Waktu pulang terakhir kemarin, Jonathan mengikuti beberapa film anak-anak yang diputar di AnTV dan juga menonton acara Killer Karaoke Indonesia. Waktu sampai di Chiang Mai, Jonathan meminta ke papanya supaya TV di sini bisa menonton siaran AnTV juga. Waktu Joe mencari tahu, eh ternyata siaran ANTV sudah pindah satelit, dan kami harus menggeser arah parabola kalau mau bisa menonton ANTV. Tapi ternyata, kami jadi menemukan kalau ternyata TV Indonesia sekarang ini sudah banyak live stremingnya di Internet dan bisa diakses secara gratis, jadi kami ga perlu susah payah lagi deh sekarang kalau mau nonton TV Indonesia.

hasil pencarian tv online Indonesia di google

Waktu saya memasukkan kata kunci tv online Indonesia ke Google, saya menemukan ada lebih dari 5 situs yang menyediakan jasa streaming TV Indonesia. Saya mencoba beberapa situs yang katanya nonton tanpa buffering. Pada dasarnya, nonton TV Streaming tergantung dengan kecepatan internet juga. Tapi yang saya heran, beberapa situs yang bilang sama-sama live streaming, tapi beda tayangannya bisa sampai lebih dari 2 menit. Karena saya mencobanya sudah tidak di Indonesia lagi, saya tidak tahu situs mana yang benar-benar live streamingnya sama persis dengan siaran TV dengan antena biasa. Kalau lagi nonton pertandingan siaran langsung sepak bola, bisa-bisa dengar tetangga bilang GOL duluan nih hehehe.

Dari berbagai situs yang dicoba, ada 1 situs yang cukup lancar di akses dan juga antar mukanya cukup gampang. Mereka juga membedakan antar muka untuk akses dari komputer atau dari handphone.

vidio dot com diakses dari handphone

Karena sekarang ini TV kami sudah terhubung dengan mini komputer untuk menonton Netflix, adanya layanan streaming TV Online ini juga mempermudah kami mengakses menonton TV Indonesia jika dibutuhkan. Parabolanya mungkin bisa diarahkan ke satelit mengakses siaran TV Thailand hehehe.

Mudah-mudahan situs-situs TV Online ini bisa bertahan lama. Saya lihat, selain menyediakan konten streaming TV Online, mereka juga menyediakan layanan mengupload video untuk subscribernya. Ada juga layanan berbayar untuk menonton channel TV/film tertentu. Kalau untuk kebutuhan menonton streaming saja, untungnya kita ga harus repot-repot login atau bayar dan semoga tetap seperti itu.

Review Flo (Period Tracker)

Hari ini saya mau mereview aplikasi Period Tracker Flo, Pregnancy & ovulation Calendar yang saya gunakan untuk mencatat siklus tamu bulanan para wanita, kalau Anda pria dan belum menikah silakan skip post ini hehehe. Kalau Anda sudah menikah, silakan baca siapa tahu bisa berguna untuk pasangan Anda. Ada banyak aplikasi untuk mencatat siklus menstruasi di HP, awalnya saya ga sengaja menemukan aplikasi ini dan ternyata cukup akurat dan tentunya gratis tanpa iklan. Aplikasinya tersedia untuk android maupun iPhone.

Flo di Google Play

Saya pertama kali mencari tracker period ini sejak selesai menyapih anak pertama. Dulu saya tidak tahu kalau kita bisa membuat login profil dan datanya bisa tetap tercatat asalkan kita login dan sinkronisasi data kita ke servernya, Saya selalu instal aplikasi ini walau pindah HP beberapa kali. Selain mencatat siklus bulanan, aplikasi ini juga bisa mencatat banyak hal terkait kesehatan kita wanita. Saya juga sempat menggunakannya untuk mencatat progress kehamilan anak ke-2, sayangnya data yang itu hilang karena saya belum tahu mengenai fitur login pada waktu itu.

Lanjutkan membaca “Review Flo (Period Tracker)”