Hari Kartini yang Terasa Berbeda di 2021

Hari Kartini tahun 2021 ini, ada yang terasa berbeda. Biasanya, setiap hari Kartini, 21 April, kami menelpon ke Indonesia untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada emak mertua yang kami panggil Eyang girl.

Tahun lalu ternyata menjadi kesempatan terakhir kami mengucapkan selamat ulang tahun. Emak sudah menghadap sang pencipta di akhir April 2020 yang lalu.

Lanjutkan membaca “Hari Kartini yang Terasa Berbeda di 2021”

Mengapa Memilih Kuliah di Informatika ITB

Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret 2021 ini sekilas terlihat gampang. Apa susahnya menjawab pertanyaan: Mengapa dulu memilih jurusan yang dipilih.

Tantangan Blogging Bulanan Komunitas MamahGajahNgeblog

Ternyata, setelah direnung-renungkan, agak sulit buat saya menuliskannya menjadi 500 kata. Karena saya sendiri tidak ingat lagi persisnya alasan sesungguhnya memilih jurusan Informatika ITB itu kenapa.

Setelah ditunda-tunda sekian lama, karena sudah akhir bulan, waktunya untuk menuliskannya. Siapa tahu ada yang pengalamannya sama dengan saya dalam memilih jurusan kuliah.

Lanjutkan membaca “Mengapa Memilih Kuliah di Informatika ITB”

Iklan Jaman Dulu

Hari ini, Joe menceritakan kepada saya kalau dia menemukan video tentang siaran iklan di TVRI tahun 70-an. Bagian yang menarik dari video tersebut adalah, sebelum iklannya ditayangkan, ada 1 menit peringatan yang kurang lebih mengingatkan saya dengan nasihat orang tua saya waktu saya kecil (dan masih saya aplikasikan sampai sekarang).

Lanjutkan membaca “Iklan Jaman Dulu”

24 November 2003

Hari itu merupakan hari terakhir di bulan puasa di tahun 2003. Karena perkuliahan sedang libur, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke rumah sepupuku Dea yang ada di Depok. Joe, teman kuliahku S2 saat itu juga berencana pulang ke rumah orangtuanya di Depok. Aku belum pernah naik bis ke Depok. Biasanya kalau ke Jakarta, aku akan naik kereta api dan berhenti di Gambir. Tapi, naik bis AC biayanya lebih ekonomis daripada naik kereta api, dan relatif lebih cepat juga. Jadilah kami naik bis bareng dari Bandung ke Depok pada hari itu.

Foto iseng di dalam bis dari tempat kami duduk
Lanjutkan membaca “24 November 2003”

Sepuluh Tahun Kemudian

Kemarin Joe menemukan tulisan saya di tahun 2010, katanya saya diminta untuk meneruskan tulisan ini sesuai dengan janji di akhir tulisan:

Saya tidak tahu apakah saya masih akan di Chiang mai, atau kembali ke Bandung atau …. di suatu kota yang tak pernah terpikirkan sebelumnya? Entahlah… mungkin saja 10 tahun lagi saya tidak ngeblog lagi, tapi kalau saya masih ngeblog, saya akan menemukan tulisan ini dan membuat sambungan tulisan mengenai 10 tahun berlalu lagi hehehhe..

Awal membaca tulisan itu, saya lupa pernah menulis begitu dan bahkan sudah hampir lupa dengan siapakah teman seperjuangan itu. Lalu ketika membaca komentar dan balasan komentar saya, saya jadi ingat lagi, siapa teman seperjuangan yang disebutkan dengan tulisan itu.

Memang, walaupun tahun 2010 saya sudah berniat untuk lebih rajin menuliskan kisah kehidupan ini di blog, baru tahun 2018 saya benar-benar mulai menulis blog dengan rutin. Terimakasih KLIP yang membuat saya kembali ngeblog.

Dan apakah kabar 10 tahun sejak tulisan itu? Kami masih di Chiang Mai, dan saya akhirnya berhasil membuat teman seperjuangan saya itu kembali ngeblog di tahun 2020 ini (padahal dia mau bikin blog baru sejak 2010 loh). Memang begitulah, terkadang saya bingung juga mau menuliskan apa lagi di blog ini, rasanya semua hal sudah dituliskan, tapi ya ternyata masih banyak hal yang akhirnya terlupakan karena tidak dtuliskan.

Tahun 2010

Mei, 2010, masih berdua saja

Tulisan itu ditulis bulan Mei tahun 2010. Waktu itu saya belum punya anak dan belum terlalu betah di Chiang Mai dan belum terlalu lancar berbahasa Thai. Waktu itu, sepertinya saya masih rajin merajut dan menjahit, tapi kegiatan ngeblog masih tergantung angin berhembus dan lebih sering tidak menulis daripada menulis. Ada banyak hal yang terjadi tapi tidak semuanya dituliskan.

Lanjutkan membaca “Sepuluh Tahun Kemudian”

Agustus 2009 dalam Kenangan

Hari ini, Minggu 2 Agustus 2020. Sekitar 11 tahun yang lalu, tanggal yang sama juga jatuh di hari Minggu. Hari ini di Chiang Mai mendung sejak pagi, dan kabarnya memang akan ada hujan selama beberapa hari ke depan. Membaca memory di Facebook dari 11 tahun yang lalu, hati ini jadi terkenang lagi dengan masa-masa 11 tahun yang lalu.

Sebenarnya, sejak tahun 2009, setiap akhir Juli sampai awal Agustus, perasaan ini akan selalu kembali ke masa lalu. Dari beberapa waktu lalu ingin menuliskan ingatan tentang 11 tahun yang lalu, tapi rasanya terlalu emosional dan sulit untuk menuliskannya tanpa merasakan kembali emosi di masa itu.

memory dari Facebook Agustus 2009

Kenangan yang tidak akan terlupakan walaupun setiap mengingatnya hati ini sesak rasanya. Pengalaman pertama ikut menginap di lorong ICU di sebuah RS di Medan. Saya ingat sekali, di akhir Juli tahun 2009, mama saya mengabarkan bapak sakit dan dirawat di RS lewat pesan singkat  SMS. Sebenarnya, bukan baru kali itu saja bapak masuk rumah sakit. Sudah sejak beberapa tahun sebelumnya, bapak pernah beberapa kali dirawat karena sesak napas, dan mama hanya mengabari setelah bapak kembali sehat.

Masa itu, orangtua dan saya belum pakai WhatsApp, atau fasilitas telepon lewat internet seperti sekarang. HP nya belum pada pintar, internetnya juga belum menjadi kebutuhan buat orangtua. Membaca pesan singkat itu, saya langsung menelpon ke Medan dan entah kenapa reaksi pertama saya tentu saja ingin pulang. 

Bapak melarang niat saya untuk pulang, katanya jangan sampai rusak pekerjaan karena pulang ke Medan. Lagipula, bapak yakin sekali kalau dia akan sembuh dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi setelah saya diskusi dengan Joe, kami memutuskan untuk pulang, setidaknya untuk melihat situasi bapak saya. 

Lanjutkan membaca “Agustus 2009 dalam Kenangan”

Mengenang masa-masa di ITB

Saya ini bukan termasuk orang yang membanggakan diri jadi alumni ITB. Saya juga tidak mengenal ITB sebelum masuk ITB. Tapi karena hari ini adalah ulang tahun yang ke-100 ITB, saya ingin bercerita kenangan masa saya di ITB.

Saya masuk S1 ITB tahun 1998, sempat bekerja sebentar di ITB. Sempat ingin jadi dosen di ITB dan mendapatkan beasiswa S2 di ITB dengan ikatan dinas. Akhirnya pindah ke Chiang Mai tahun 2007. Selama hampir 9 tahun, ada banyak kenangan di ITB.

Masuk ITB

Sebagian orang sudah mengincar masuk ITB dari sejak masuk SMU. Saya dulu nggak terlalu memikirkan akan masuk perguruan tinggi mana. Waktu kelas 3 SMU saya mulai ikutan bimbingan belajar yang dekat dengan sekolah dan setelah beberapa kali try out, saya merasa percaya diri bisa masuk UI atau UGM. Suatu hari di tempat bimbingan belajar ada guru bahasa Inggris pengganti, setelah melihat nilai kuis saya, dia nanya: “kamu milih ke mana?” saya jawab “UI dan UGM Pak“, dan dengan logat Batak-nya dia bilang “Ah, kau kalau mau milih ITB udah pasti lulus ini“.

Hal kecil itu yang membuat saya memilih ITB dan UGM. Saya mencoba masuk PMDK UI tapi tidak diterima, saya juga sempat mencoba ujian STT Telkom dan juga gagal. Malam hari sebelum pengumuman UMPTN, saya baru terpikir: “kalau saya nggak diterima UMPTN, saya mau ngapain ya?”, dan itu membuat saya jadi cemas. Akhirnya saya berdoa untuk bisa menerima apapun yang terjadi dan bahwa Tuhan akan memilihkan jalan terbaik untuk saya.

Saya masih ingat pagi-pagi ke pasar untuk mencari koran pengumuman UMPTN. Waku UMPTN saya ketemu teman dari kelas lain dan namanya saya temukan duluan. Saya ingat saya terpisah beberapa kelas dari teman saya itu ketika UMPTN (nomor ujiannyalebih dari saya), jadi saya langsung lompat beberapa puluh baris di atasnya mencari nama saya dan deg-degan tidak ketemu. Ternyata nama saya persis di atas nama teman saya itu (jadi semua antara kelas kami nggak lulus).

Pindah ke Bandung adalah kali pertama saya jauh dari orang tua. Untungnya saya masih punya saudara walau rumahnya di daerah Kopo, agak jauh dari kampus dan perlu naik angkot dua kali. Saya agak kaget di ITB ada yang namanya Tahap Persiapan Bersama (TPB) di mana di tahun pertama pelajarannya adalah materi dasar seperti Matematika, Fisika, Kimia, Olahraga, Agama, dsb tanpa materi dari jurusan yang kita pilih.

Setelah setahun, saya sudah mulai bisa mroyek dan bisa memilih kost dekat kampus (walking distance). Bagi saya waktu itu tempatnya cukup mewah: kamar saya punya kamar mandi di dalam (walau kamar mandinya tidak punya air panas), ada dapur bersama, ada telepon bersama, ada pembantu untuk cuci dan setrika dan bisa memesan catering untuk sarapan.

Masa-masa di Kampus

Melihat sekolah asal teman-teman sekelas, sejak awal Saya sudah merasa pasti akan jadi mahasiswa golongan kurang berprestasi, dan itu membuat saya tidak memiliki beban selama di kampus. Saya banyak ngoprek, banyak mroyek, dan berusaha belajar sebanyak mungkin. Ternyata setelah lulus, IP saya masih sedikit lebih dari 3. Bukan cuma oprekan teknis, selama di ITB saya ikutan kegiatan agama: Persekutuan Sion, PMK, dan juga kegiatan rohani di Teknik Informatika.

Saya beruntung tidak dikeluarkan karena insiden yang pernah saya ceritakan di sini. Setelah kejadian itu saya sempat menjadi administrator jaringan. Ilmunya sempat saya pakai untuk mensetup jaringan di Institut Teknologi DEL. Pergi ke DEL adalah kali pertama saya pergi ke pulau di luar pulau Jawa. Oprekan saya di bidang open source membuat saya dikirim oleh ITB ke beberapa simposium open source di Asia, mewakili Indonesia.

Ada begitu banyak kisah suka dan duka selama di kampus, tapi dalam kenangan saya, masa-masa di kampus itu adalah awal masa bahagia. Di situ awal saya bisa banyak ngoprek, ketemu banyak orang baik, dengan dosen-dosen yang amat berkesan. Sampai sekarang saya masih ngoprek, masih berkomunikasi dengan teman-teman, dan bahkan sampai sekarang saya masih kontak dengan dosen-dosen yang dulu mengajar saya.

Saya ini orangnya kurang ambisius, lebih suka ngoprek dan bermain-main daripada mengejar karir. Setelah lulus, saya sempat bergabung dengan PT Divusi di ITB selagi memikirkan langkah hidup berikutnya. Di situ saya bertemu Risna, dan kami mengambil S2 bareng dengan beasiswa dari ITB. Di situ sepertinya hidup sudah pasti: kami akan S2, lulus dan jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan menentukan jalan lain. ITB yang saat itu sedang beralih ke BHMN tidak bisa mempekerjakan orang baru selama jangka waktu tertentu, jadi akhirnya kami (dan semua dengan kontrak yang sama) dibebaskan dari kewajiban kami.

Belasan Tahun Setelahnya

Sekarang saya masih sering ketemu dengan banyak orang dari ITB, baik itu adik kelas maupun kakak kelas. Untuk teman-teman yang dari satu jurusan, ada topik sama yang bisa dibicarakan tentang masa-masa di kampus. Sudah sangat sedikit sekali teman SD, SMP dan SMU yang saya ingat, tapi teman-teman dari ITB masih banyak.

Setelah bertemu banyak orang ITB dan melihat karir mereka sekarang ini, saya bisa melihat: tidak semua orang ITB sukses, tidak semuanya cemerlang dalam segala aspek kehidupan, dan tidak semua alumni ITB baik (misalnya ada yang tertangkap korupsi). Banyak orang ITB yang saya kenal yang tidak ambisius dan mengerjakan apa saja yang mereka sukai, entah itu jadi karyawan biasa, pegawai negeri, jadi peternak ataupun profesi lain.

Mungkin yang istimewa dari ITB adalah sejarahnya yang sudah panjang dan namanya dikenal orang. Kepopuleran ini membuat banyak orang di ITB berusaha sebaik mungkin untuk berhasil dan untuk berlaku baik (takut dibilang “malu-maluin aja, anak ITB kok kayak gitu”). Mungkin tidak selalu begitu, tapi setidaknya ketika masih menjadi mahasiswa semangat itu masih ada.

Bagi saya sendiri: menengok kembali 22 tahun yang lalu, saya tahu Tuhan menjawab doa saya dan sudah memilihkan jalan yang terbaik untuk hidup saya. Banyak ilmu yang saya dapat di ITB, juga pertemanan dan bahkan jodoh saya juga ketemu di ITB.