Hex Editor

Saya beruntung dulu ketika kali pertama belajar komputer lebih dari 25 tahun yang lalu, saya hanya punya satu pilihan sistem operasi: DOS. Sistem operasi ini sangat sederhana dan bisa dimengerti sampai sangat detail. Waktu itu hanya ada 1 filesystem yang bisa dipakai untuk DOS: File Allocation Table (FAT).

PC Tools

Salah satu tool yang sangat membantu saya mendalami berbagai hal yang berhubungan dengan komputer adalah PC Tools. Software “ajaib” ini punya banyak fungsi, dan salah satunya adalah sebagai hex editor. Dengan hex editor ini dulu mudah sekali untuk mengubah string dalam sebuah program (misalnya iseng mengganti pesan error jadi bahasa Indonesia).

Hex editor ini juga berguna untuk memahami mengenai filesystem FAT. Misalnya jika tidak sengaja menghapus sebuah file, saya bisa mengedit sendiri FAT untuk mengembalikan huruf pertama file tersebut. Dalam FAT, jika file dihapus, hanya huruf pertamanya diganti dengan 0xE5, dan selama file belum ditimpa, maka bisa dengan mudah dikembalikan.

Sejak saat itu di berbagai sistem operasi, hex editor menjadi salah satu tool andalan. Berbagai varian tool ini telah membantu saya memahami banyak hal, dari mulai hal kecil misalnya mengecek apakah ada karakter spesial yang tidak terlihat dengan editor teks, sampai memahami format sebuah file.

Di Linux saya tidak memakai tool khusus, biasanya saya melihat representasi hexa sebuah file di command line dengan hexdump (dengan parameter -C). Jika ingin interaktif sayamenggunakan midnight commander (mc) yang merupakan tiruan dari Norton commander yang dulu saya pakai di DOS.

Hex viewer/editor di Midnight Commander

Emacs, editor favorit saya, juga memiliki fitur untuk melihat dan mengedit file dalam mode hex. Ini sangat berguna untuk mengedit file yang tidak terlalu besar (dalam orde megabyte). Jika filenya terlalu besar, emacs terasa lambat, tapi ini wajar karena emacs adalah editor teks yang tidak dirancang khusus untuk file biner berukuran besar.

hexl-mode di Emacs

Di Windows saat ini saya suka memakai HxD. Editor ini cukup lightweight, gratis dan dapat mengedit file berukuran besar dengan cepat. Software ini juga masih diupdate hingga saat ini. Fungsi-fungsi tambahannya (MD5, histogram, dsb) juga cukup berguna.

HxD di Windows

Sekarang ini tidak terlalu mudah untuk memahami sebuah sistem dengan menggunakan hex editor karena berbagai hal sudah sangat kompleks. Contohnya: filesystem EXT2/3/4 atau NTFS sudah terlalu rumit dibaca manual dengan hex editor.

Khusus untuk reverse engineering, sekarang ini sebenarnya banyak juga tool yang bisa membantu memahami format file, misalnya 010 Editor (komersial) dan Kaitai Struct (open source). Tapi tetap saja diperlukan banyak membaca sebelum bisa mulai, tidak seperti jaman dulu di mana semua masih sangat sederhana.

Cerita Jaman Kos

Sebelum tidur, Jonathan suka meminta diceritakan mengenai suatu hal dari masa lalu. Setelah mendapatkan cerita mengenai masa kuliah papanya dan mengenal istilah rumah kos, dia sekarang pengen dengar cerita dari saya juga. Dipikir-pikir, kalau dulu orangtua saya bercerita soal masa dulu waktu mereka sekolah, saya sering ga terbayang kira-kira apa yang akan saya ceritakan ke anak cucu saya. Ternyata dari sejak jaman masih kuliah sampai sekarang, sudah banyak hal-hal yang berbeda sekali dengan yang dialami Jonathan sekarang.

Saya ingat, waktu kost pertama dan ke-4, dapurnya itu gak ada yang namanya kompor gas kayak jaman sekarang. Yang disediakan dari tempat kost hanya kompor minyak tanah pakai sumbu, yang untuk meyalakannya saja butuh waktu dan kalau gak hati-hati pancinya gampang gosong.

Waktu kost pertama, saya dibelikan mama saya kompor gas kecil yang tabungnya bisa dibeli di minimarket, tapi tergolong mahal kalau sering-sering dipakai. Kompor itu dipakai untuk masak indomie saja kalau saya pingin sarapan Indomie. Saya lupa kompor itu akhirnya saya bawa ke Jakarta ke kakak saya atau ke Medan. Kompor jenis itu masih ada sampai sekarang dan biasanya digunakan kalau orang-orang mau kemping saja.

Kompor minyak dari tempat kost disediakan minyaknya sama ibu kost dan dibersihkan sama pembantunya ibu kost. Kami menggunakannya biasanya buat masak air kalau mau mandi air hangat. Pernah suatu kali pulang ospek penuh lumpur, saya harus menunggu air agak panas dulu sebelum mandi padahal itu sudah jam 2 dinihari. Untuk langsung tidur tanpa membersihkan badan bukanlah suatu pilihan. Nah tapi saya ingat juga, besoknya saya bablas ketiduran karena udah enaklah ya badan bersih tidur berselimut hangat. Alarm jam berbentuk ayam yang berkokok tak mampu membangunkan saya walaupun terletak di sebelah saya hahaha. Saya kebangun jam 10 pagi!, dan teman-teman kost saya pada protes karena si alarm ayam berkokok selama 30 menit dan saya tak bangun juga hahaha, mereka pikir saya gak di rumah dan cuma lupa mematikan setelan alarm.

Saya pindah kost beberapa kali di Bandung, saya ingat di kost ke-2 dan ke-3 kami punya kompor gas yang isi tabung gasnya kami beli secara patungan. Tapi walau udah ada kompor gas, ya tetap aja ya, kebanyakan dipakai buat masak indomie atau buat mandi air hangat haahaha. Kost-kostan ke-3 kembali lagi pakai kompor minyak tanah. Saya tadi sampai harus mencari video di YouTube untuk menjelaskan ke Jonathan soal bagaimana menyalakan kompor minyak tanah dan bedanya dengan kompor yang digunakan sekarang.

Jadi setelah bercerita bahwa dulu mama gak semudah sekarang buat menyalakan kompor, saya juga bercerita kalau mesin pemanas air itu bukan hal yang selalu ada di Indonesia seperti di sini. Eh tau-tau dia bergeser pertanyaan ke mesin cuci. Kapan mama pertama kali punya mesin cuci?

Jadilah teringat lagi, kalau dulu itu, walaupun waktu tinggal di rumah orangtua saya ada mesin cuci, tapi di kost-kostan itu tidak ada yang namanya mesin cuci. Kalau masih ada uang saku lebih, paling bayar ekstra untuk mencari mbak yang mencucikan dan menyetrika baju. Kadang-kadang di tempat kost ada yang membatasi sehari hanya boleh mencuci 2 potong pakaian. Ada juga yang bebas berapa banyak tapi bayarnya langsung ke mbaknya. Tapi ada juga tempat kost yang gak ada mbaknya. Jadi ada masa di mana saya mencuci baju sendiri manual!. Untungnya sejak jaman kuliah saya gak punya banyak baju berbahan jeans yang berat-berat, jadi urusan mencuci tergolong enteng.

Saya tahu di banyak tempat mencuci manual itu masih merupakan preferensi banyak orang, tapi kalau sekarang ini saya harus mencuci baju 4 orang tanpa mesin, rasanya udah kebayang pengen nangis karena bakal lama selesainya dan juga kapan keringnya hehehe. Memang ya, kalau kita udah terbiasa dengan teknologi, kembali melakukan hal manual itu kerasa jadi berat, padahal kalau dilakukan mungkin aja gak seberat itu (eh tapi saya ogah ah nyuci manual hahaha).

Ceritanya jadi kemana-mana, tapi memang begitu kalau Jonathan sudah mulai bertanya, bisa gak ada habisnya. Biasanya saya yang harus menyudahi ceritanya dan suruh dia ingat menanyakan lanjutannya di kemudian hari kalau memang masih penasaran. Tapi dari bertahun-tahun hidup sebagai anak kost, ada banyak hal yang gak bisa saya lakukan seandainya saya ga pernah dilatih dari rumah. Mana mungkin tiba-tiba saya bisa menyetrika atau tahu memisahkan mencuci baju luntur dan tidak luntur kalau nggak pernah diberitahu/disuruh kerja sama mama saya. Memang ada kemungkinan beberapa lifeskill bisa dipelajari kemudian dari video yang ada di YouTube, tapi rasanya bersyukur aja dari rumah sudah diajari melakukan berbagai hal, sehingga waktu jadi anak kost bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci baju dan menyetrika.

Saya gak tau apa lagi kemajuan yang akan terjadi di masa Jonathan besar nanti, tapi sepertinya dia perlu juga diajari beberapa keahlian untuk mengurus dirinya sendiri. Siapa tahu nanti dia jadi anak kost juga kalau kuliahnya gak tinggal di kota yang sama dengan kami. Karena saya dan Joe sama-sama jadi anak kost setelah masa kuliah, kami juga mengajarkan ke anak-anak kalau mereka juga harus bisa mengurus dirinya sendiri nantinya setelah umur kuliah.

Mengembalikan Hobi Lama

Sebelum punya anak, saya sempat rajin merajut dan belajar jahit. Sejak Jonathan lahir, entah kenapa hobi merajut dan menjahit itu menguap terbang hilang. Mungkin karena saya kurang suka meninggalkan pekerjaan rajutan terlalu lama, akhirnya saya enggan untuk memulai. Beberapa kali mencoba mengembalikan mood, tapi ya akhirnya cuma browsing-browsing pola dan gak mulai juga.

Saya tahu punya anak bukan alasan untuk berhenti berhobi, tapi punya banyak rajutan yang gak kunjung selesai tidak membuat saya jadi rileks malah jadi senewen, maka akhirnya saya tinggalkan saja hal-hal yang bikin senewen. Hobi itu untuk dinikmati, bukan bikin jadi senewen toh hehehe.

Sekarang ini anak-anak sudah mulai besar. Saya merasa sudah waktunya saya punya waktu lagi untuk hobi saya. Anak-anak juga sudah mulai terbiasa bermain sendiri, asal mereka ga mainin benangnya sampai kusut, teorinya saya sudah bisa mulai merajut lagi.

Selama bertahun-tahun, benang dan jarum rajutan masih tersimpan rapi dan di bawa pindah rumah beberapa kali. Tahun ini saya mau kembali merajut lagi. Sepertinya kalau tahun ini masih gagal kembali merajut, harta karun merajutnya bisa di hibahkan saja ke orang-orang yang masih suka merajut.

Saya sudah menemukan komunitas merajut di kota ini, komunitasnya mengadakan pertemuan sekali seminggu dan kebetulan di hari yang sama dengan jadwal Jonathan les. Rencananya sesekali saya mau ikutan datang ketemu, supaya semangat berkaryanya tetap ada.

Selain mencari komunitasnya, kemarin saya memaksa diri untuk memulai mengerjakan hal yang kecil dan bisa selesai sekali duduk. Sambil nonton serial MacGyver, akhirnya selesai juga rajutan bunga rose. Rencananya nanti bunga ini akan ditempelkan di bandana, tapi bandananya belum dibikin hehehe. Sekarang lagi nyari-nyari motif bandana, dan udah dapat beberapa pattern yang bisa ditiru.

Setidaknya, hobi merajut ini bisa kelihatan hasilnya daripada hobi nonton film korea hahaha. Mending kalau nonton koreanya menghasilkan tulisan review, sejauh ini saya masih terlalu malas mereview film-film korea yang sudah saya tonton. Kalau dikombinasikan, bisa juga nonton kdrama sambil merajut hahaha.

Ngomongin kdrama dan merajut, saya ingat di salah satu kdrama yang saya tonton, si cowo merajut syal pink waktu dia sakit. Terus setelah dia sembuh dan mereka ketemu, syalnya dikasihin ke cewenya, dan diujung syalnya ada gulungan benang yang berisi cincin melamar si cewe. Ayo ada yang ingat ini kdrama yang mana? bisa jadi undian berhadiah nih. Hmm sayangnya saya jauh di Thailand, kalau nggak saya kasih hadiah benang deh hehehhe.

Kalau ada yang mau lihat tulisan lama soal hobi lama saya, bisa lihat di blog saya yang ini. Blognya udah gak pernah diupdate lagi. Mungkin nanti kalau udah banyak rajutannya baru deh diupdate lagi di sana.

Membaca Tulisan Lama

Berhubung hari ini lagi kurang ide, dan kebetulan lagi update cerita dengan teman yang dulu sama-sama rajin ngeblog, jadilah kepikiran bongkar-bongkar tulisan lama. Sebenarnya kegiatan membaca tulisan lama ini sudah sering dilakukan kalau lagi iseng, dan setiap kali pas membaca tulisan sendiri, malah lupa kenapa dulu nulis gitu ya?

Dulu, menulis blog itu bener-bener seperti mindahin unek-unek. Tapi demi menjaga privasi, seringkali tulisannya penuh dengan anonimitas. Nah masalahnya, sangkin anonimnya saya sendiri jadi lupa dulu itu ngomongin siapa ya? Terus baca komen-komennya, malah jadi ketawa-ketawa sendiri. Walaupun dulu sudah baca komen-komennya, tapi rasanya lupa kalau pernah baca teman-teman yang malah jadi panjang diskusi di komen padahal tulisan blognya singkat padat dan penuh anonimitas hahahaha.

Kadang-kadang waktu membaca tulisan lama, jadi ingat juga dengan beberapa hal yang terlupakan. Pernah juga pas membaca, saya pikir itu tulisan Joe, eh ternyata pas dilihat itu tulisan saya. Terus merasa heran sendiri, loh kok gaya tulisannya beda ya dari biasanya?

Kebiasaan menulis random ternyata bisa jadi hiburan buat diri sendiri juga. Tapi kalau memperhatikan tulisan sendiri, gaya bahasanya banyak berubah. Kalau dulu, ada banyak tulisan yang kurang positif, kalau sekarang saya berusaha menulis hal-hal yang lebih positif. Kalau kata Joe, kita menuliskan yang ingin kita ingat saja, kalau nulis yang kurang positif nanti gak enak pas membacanya kembali.

Dalam rangka menularkan menulis setiap hari, kemarin saya membelikan buku Diary 2019 buat Jonathan. Saya minta dia menuliskan sedikit cerita setiap harinya di diary itu dan untuk setiap tulisannya nantinya akan ada rewardnya 100B. Syaratnya tulisannya harus rapi dan menuliskannya mengikuti aturan penulisan yang benar (huruf kapital, tanda baca, dan spacing yang jelas). Tanpa disangka, karena ada rewardnya, Jonathan semangat banget buat nulis. Dia nanya apakah boleh menuliskan hal yang dia ingat di hari-hari sebelumnya? dan apakah ada rewardnya juga? waktu saya bilang boleh, diapun segera mengisi diarynya beberapa hari ke belakang.

Sebenarnya, sejak tahun lalu Jonathan sudah saya ajak untuk menulis jurnal singkat setiap harinya, tapi bertahan hanya sampai February saja. Pernah juga berusaha menyuruh dia menuliskannya menjadi blog post dengan memanfaatkan fitur voice typing di HP, tapi ya akhirnya ga jadi juga. Nah sekarang ini Jonathan perlu banyak latihan menulis, jadi ya sekalian saja menulis di buku diary.

catatan reward untuk hari yang udah ada tulisannya

Baru menulis 2 hari dia udah menghitung-hitung jumlah pendapatan yang akan dia peroleh di akhir tahun. Bahkan sudah meminta ada harga ekstra kalau ceritanya baguslah, atau edisi khusus gitu. Ya, semoga saja dia tetap rajin mengisinya, setidaknya kalau dia berhasil nulis setiap hari selama 2019, di akhir tahun dia akan bisa membaca ulang tentang hari-harinya selama setahun ini. Kegiatan Jonathan ini juga buat pengingat ke diri sendiri untuk menulis setiap hari.

Suatu saat tulisan ini juga akan jadi tulisan lama. Tadi kepikiran ngasih link ke contoh tulisan lama yang sangat anonim sehingga lupa tentang siapa dan bagaimana ceritanya, tapi sepertinya kalau dibuka tulisan lama secara random, selalu saja saya ketemu hal yang bahkan saya gak ingat saya nulis tentang apa. Biar saya tulisan ini dan tulisan-tulisan jenis itu menjadi hiburan saja, dan siapa tahu menjadi inspirasi tulisan di kemudian hari hahahaha.

Kenangan Akhir Tahun – Sambut Tahun Baru 2019

Sudah beberapa hari ga menuliskan tantangan sehari satu tulisan. Hari ini hari terakhir tantangan Desember dan sebelum memulai tahun yang baru, saya ingin mereview 10 tahun terakhir melalui status kenangan dari Facebook.

Banyak hal terjadi dalam 1 hari, apalagi dalam 10 tahun. Saya tetap mengucap syukur kepada Tuhan karena dalam 10 tahun terkahir, Tuhan masih tetap menjaga dan menyertai kami seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, baru tahun ini kami mendapat kesempatan tutup tahun di Indonesia lagi. Berbeda dengan di Chiang Mai, di sini saya berharap ga ada dentuman petasan ataupun kembang api dan bisa melewatkan malam tahun baru dengan tidur nyenyak hehehe.

Oke kita hitung mundur sejak 10 tahun lalu:

Membaca status kenangan ini, saya jadi ingat dengan pengalaman pindah rumah pertama kali di Chiang Mai. Pindah rumah dari unit studio ke unit yang lebih luas dan lantai yang lebih tinggi. Melihat state rumah yang tadinya kosong lalu kami isi sampai penuh hihihi.

Tahun 2009, tahun di mana saya kehilangan bapak saya, makanya bikin status mengenai kehidupan. Akhir tahun cuma di rumah saja di Chiang Mai dengan memasak kue kering. Tadinya mau niru tradisi di Medan, tahun baru punya suguhan kue kering di rumah, tapi waktu itu masaknya buat di makan berdua doang hehehe.

Akhir tahun 2010, tahun pertama kami jadi orangtua. Tahun penantian sampai lahirnya Jonathan di bulan November. Makanya di tahun berikutnya 2011 juga statusnya ga jauh-jauh dari Jonathan hehe.

Akhir tahun 2011, harapannya Jonathan sudah besar dan saya sudah bisa kembali ke hobi jahit dan craft lainnya. Kenyataanya sampai sekarang mesin jahitnya bahkan belum masuk servis hahaha. Semoga ya 2019 dilaksanakan hehehe.

Tahun 2012 dan 2013 sepertinya saya sedang malas update status di FB, atau mungkin update statusnya di 1 Januari hari berikutnya. Jadinya ga ada jejak kenangan deh. Tapi saya ingat, tahun-tahun tersebut kami merayakan natal dan tahun baru di Chiang Mai dan ga pulang ke Indonesia.

Akhir tahun 2014, kami liburan bareng satu keluarga Indonesia di Chiang Mai lainnya yang sama-sama jagain Chiang Mai di akhir tahun. Tahun ini bisa dibilang liburan terakhir kami sebelum jadi family of 4. Saat liburan ini saya sedang hamil anak ke-2. Kalau hamil pertama saya gak kemana-mana, hamil ke-2 berani sedikit jalan di area yang cukup curam begini hehehe.

Akhir tahun 2015, kami liburan bareng teman Jonathan dari daycare yang mana mamanya jadi teman saya juga. Kami naik kereta api dari Chiang Mai ke Lampang biar Jonathan pernah naik kereta api hahaha. Waktu itu, Joshua baru 6 bulan, dan cukup menikmati perjalanan singkat yang inti perjalanannya cuma naik kereta api, naik delman, duduk ngopi dan pulang lagi ke Chiang Mai hehehe.

Sejak akhir tahun 2016 yang lalu, Joe terinspirasi buat bikin skrip 1 foto 1 hari selama 1 tahun, untuk melihat review hal-hal yang terjadi. Tahun lalu, walaupun saya tidak posting khusus juga di FB, kami juga ada video review 1 tahun dan untuk tahun ini sedang dikumpulin ama Joe. Besok saya akan posting review foto-foto setahun sejak tahun 2016, 2017 dan 2018.

Gak terasa ya, saya sudah bertambah tua 10 tahun. Mulai dari rajin ngeblog, lama ga ngeblog dan tahun ini kembali lagi berusaha aktif menulis blog. Banyak target di tahun 2018 yang belum berhasil di lakukan, tapi ya tentunya tidak menyerah dan akan mencoba lebih baik lagi di tahun 2019. Setelah bertahun-tahun kami merayakan Natal dan Tahun Baru di Chiang Mai, akhirnya tahun ini bisa menghabiskan hari-hari menjelang akhir tahun 2018 dengan keluarga Joe. Rencana semula kami akan ke Medan juga, tapi mama saya bersedia datang ke Depok untuk merayakan tahun baru bersama kami di Depok.

Selamat menyambut tahun baru buat kita semua. Semoga tahun 2019 kita semua tetap dalam lindungan Tuhan, diberikan kesehatan dan juga kesuksesan dalam menyelesaikan apa yang kita rencakan untuk dilakukan di tahun 2019. Tuhan memberkati kita semua.

Nostalgia Hoka-Hoka Bento

Kemarin, waktu lagi bingung mau makan apa, tiba-tiba teringat dengan makanan yang sebenarnya bukan menu khas Indonesia. Dulu sering dikonsumsi sejak jaman mahasiswa sampai kerja. Waktu masih mahasiswa, makanan ini masuk kategori makanan mewah tapi setelah kerja, kalau ada rapat atau dinas di Jakarta, sering banget dapatnya menu makanan dari restoran Hoka-hoka Bento alias HokBen ini sampai bosan hahaha.

HokBen aka Hoka-hoka Bento

Tadi teringat lagi deh untuk memesan menu HokBen, delivery via telepon. Ternyata setelah sekian lama ga beli HokBen, ada beberapa perubahan dari penyajian HokBen ini. Dulu saya ingat, tulisan di kotak depannya masih berupa Hoka-Hoka Bento dengan logo karikaturnya lengkap dengan badan, tangan dan kaki. Sekarang, mungkin karena orang-orang sering menyebut HokBen doang untuk singkatan dati namanya, akhirnya mereka menuliskan nama HokBen doang di kotak kemasannya, dan logonya juga tinggal kepala doang. Karena penasaran, baca wikipedia, ternyata memang Hoka-hoka Bento ganti nama jadi HokBen doang sejak 2013.

Kemasan HokBen sekarang

Saya lupa, kapan terakhir kali makan di HokBen, tapi ternyata, setelah sekian lama rasanya masih tetap sama. Waktu menikmati HokBen, berasa jadi nostalgia teringat jaman doeloe. Masa mahasiswa, kalau ada yang traktir HokBen itu, rasanya mewaaaaah banget. Masa kerja, awal-awal kalau ada konsumsi rapat berupa HokBen rasanya bahagia (bahagia karena gak keluar duit lagi buat beli hahaha). Sampai akhirnya ada masa bosan dengan HokBen, karena kalau mau naik kereta api pulang dinas dari Jakarta ke Bandung atau kalau ada dinas di Jakarta, menu makanan yang sering di beli ya HokBen ini. 

Dulu saya pikir restoran HokBen ini franchise yang aslinya dimiliki orang Jepang karena menunya khas makanan Jepang. Belakangan saya ketahui kalau HokBen ini namanya aja restoran Jepang, tapi kepemilikannya ya asli Indonesia. Jadi teringat dengan restoran Jepang di Thailand yang namanya Oishi, awalnya saya pikir juga restoran asli dari Jepang, ternyata kepemilikannya asli Thailand.

Keunikan yang saya sukai dari makanan HokBen ini menurut saya nasinya lembut sehingga bisa dimakan menggunakan sumpit. Selain menu yakiniku, teriyaki, ekkado, katsu dan lain-lain, yang saya ingat dari HokBen ini juga puding coklat dan puding mangganya. Rasa puding coklatnya agak berubah, kalau dulu ada rasa rum yang agak keras, sekarang aroma rum nya sudah hilang. Tapi pada dasarnya puding coklatnya masih enak sih rasanya.

Dari harganya, menu HokBen ini buat saya sebenernya relatif mahal, tapi ya masih ga semahal makanan di mall di Jakarta. Sayangnya anak-anak cuma suka puddignya saja. Tadi Jonathan lebih memilih makan sate bumbu kacang yang dibeli eyang daripada makan menu HokBen. Lain kali kalau beli berarti bisa beli cuma buat papa mamanya doang, untuk Jonathan dan Joshua bisa dibelikan puddingnya doang hehehe. 

SosMed, Dulu dan Sekarang

Ini masih nyambung dengan nostalgia dulu dan sekarang e-mail, tapi sekarang mau bahas jejaring pertemanan alias sosmed. Masa awal internet mulai bisa dipakai umum, dengan segala pembahasan positif dan negatif, kebanyakan orang masih menjaga anonimitas. Sekarang ini dunia online sudah jadi ekstensi keberadaan kita di dunia nyata.

Pertama kali join jaringan pertemanan Friendster. Friendster awalnya jauh berbeda dengan Facebook sekarang. Jari kita menambahkan teman, dan diharapkan kita memberi testimony mengenai teman kita tersebut. Friendster berusaha menggabungkan platform blog juga ke jaringan pertemanannya, saya juga sempat ngeblog di Friendster, tapi pada akhirnya saya memilih kembali ke blog ini.

Lanjutkan membaca “SosMed, Dulu dan Sekarang”