Kenapa Masih Ngeblog

Alkisah, sekitar bulan Oktober di tahun 2000 saya mulai jadi blogger. Postingnya menggunakan blogspot.com. Sekitar tahun 2004, Joe ngajakin ngeblog bareng aja, biar dia yang urusin hosting, template dan lain sebagainya. Saya pikir lumayan ya saya ga usah mikirin hal-hal teknis, kalau mau nulis ya nulis aja. Eh tapi, ternyata karena ga harus “ngurusin” blog, beberapa tahun malahan saya jadi malas nulis dan sempat diingetin Joe buat mulailah menulis lagi.

Kenapa saya bisa tahu persis kapan saya mulai ngeblog? karena walaupun blog lama itu sudah ditutup, arsipnya masih ada dan bisa saya lihat. Tulisan saya dulu sangat personal dan emosional hahahah. Contoh tulisan personal dan gak penting adalah: dari membaca arsip blog lama, saya bisa tahu kapan saya beli hp siemens kuning m35. Isi postingnya juga ya cuma beberapa baris, seperti status facebook saja hehee. Gak penting banget ya.

Setahun terakhir ini, saya kembali rajin ngeblog. Awalnya, memaksakan diri dengan ikutan grup yang memberikan tantangan minimum 1 posting 1 minggu. Menulis blog itu sebenarnya gampang, gak ada aturan baku, apalagi kalau blog pribadi. Tapi menulis di media yang kita gak tahu siapa saja yang membaca, kita perlu memperhatikan jangan sampai tulisan kita menjadi boomerang ataupun terlalu banyak memberikan informasi yang tidak seharusnya jadi konsumsi umum.

Pernah ada pernyataan soal blog itu hanya trend sesaat. Setelah kemarin blogwalking di blog saya sendiri dan menemukan hampir semua teman ngeblog dulu sudah gak ngeblog lagi, saya pikir ada benarnya kegiatan ngeblog itu trend sesaat, sekarang ini sudah digantikan dengan kegiatan posting ke sosial media yang juga trendnya berganti-ganti. Tapi blog itu sendiri (sebagai media) bukan trend sesaat, masih banyak blog menarik hingga saat ini. Sekarang ini saya menemukan ada banyak sekali blogger yang aktif mengajak menulis/kegiatan literasi.

Banyak blogger yang sangat serius, serius hanya menulis topik tertentu dengan tata bahasa yang benar. Serius membangun imagenya di kalangan penulis, dan banyak juga blogger yang akhirnya jadi penulis buku . Penulis buku juga banyak yang tetap ngeblog sebagai sarana untuk mempromosikan bukunya. Akhirnya ngeblog ini gak jauh-jauh dari dunia literasi.

Dalam 15 tahun ngeblog bareng, kami juga punya beberapa blog yang kami coba pisahkan untuk membahas topik tertentu. Semua tulisan kami itu ada yang masih tetap dipublish, walaupun blognya sudah tidak di update lagi. Saya punya 2 blog lain yang sepertinya tidak akan di update lagi, tapi isinya masih berguna jadi dibiarkan saja gak ditutup.

Waktu anak-anak lahir, Joe juga bikinkan blog masing-masing, tapi akhirnya kami kurang rajin untuk mengupdatenya (selain kadang ada rasa kuatir kalau terlalu banyak upload foto anak atau cerita soal anak, nanti ada yang salah gunakan foto-fotonya dan atau jadi melanggar privasi anak).

Sekarang ini kami memutuskan untuk lebih banyak mengisi blog ini saja. Joe masih akan menulis hal-hal super teknis di blog nya yang lain, dan hal-hal agak teknis di sini. Saya masih akan menulis berbagai topik random yang belakangan ini mulai terkategori antara kehidupan di Chiang Mai, bahasa Thai, kdrama, homeschooling, dan seputar anak-anak. Joe juga masih akan menuliskan hal-hal non teknis di sini. Topik non teknis yang ditulis dengan style orang teknis contohnya ini nih: susahnya jadi hantu cewek film Jepang. Terus, ada yang tahu gak kalau tulisan Jadilah Bintang ini bukan tulisan saya.

Ada banyak cerita tentang blog ini, kepikiran 15 tahun ini nulis apa ja sih? banyak topik yang sama ditulis berulang kali. Banyak juga hal yang sekedar opini dituliskan dan waktu saya baca lagi, opini saya belum berubah dan bahkan hampir menuliskan hal yang sama lagi. Kadang-kadang karena tidak ada topik khusus, saya malah kesulitan mencari ide tulisan. Ada hari-hari di mana saya punya banyak hal yang pengen saya tuliskan, tapi tidak ada waktu, ada juga hari-hari di mana saya punya banyak waktu tapi gak punya ide tulisan.

Sebelum menuliskan tulisan ini, saya iseng membaca-baca random tulisan kami yang lama. Membaca juga komentar-komentar yang mungkin dulu kelewat gak pernah saya baca. Saya baru ingat pernah menulis protes soal persepsi mengenai cerita romantis, dan ternyata banyak komentar yang saya belum baca.

Dari tulisan di blog ini, kami juga sering mendapatkan beberapa pertanyaan dari orang-orang non batak yang akan menikah dengan orang batak. Tapi karena kasus tiap orang beda, kami mana bisa sih kasih patokan soal nikah aja atau jangan nikah hehehe.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih belum aktif menulis lagi, kami bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Chiang Mai. Waktu bertemu dia bilang gini: mbak, mas, nulisnya sering-sering dong, saya senang pas ketemu blognya jadi lebih kebayang Chiang Mai itu seperti apa.

Seberapa randomnya tulisan kami, senang kalau ada yang mendapatkan informasi atau sekedar perspektif baru. Semoga tahun ini bisa tetap konsisten menulis setiap hari dan bisa semakin banyak berbagi cerita, opini dan pandangan dalam hidup ini.

Bisa bahasa pemrograman apa?

Sering ada yang bertanya ke saya: pak, bisa bahasa pemrograman apa aja sih? Biasanya hanya saya jawab: banyak (karena memang banyak). Tapi di posting ini saya ingin cerita lebih lengkap tentang bahasa-bahasa yang pernah saya pakai. Karena sudah lebih dari 25 tahun sejak saya belajar bahasa pemrograman pertama sudah banyak yang saya coba.

Sumber: TIOBE Index

Saya pertama kali belajar sendiri bahasa BASIC di IBM PC dan juga di Apple II/e ketika masih SMP. Karena belajar sendiri jadinya kurang terstruktur, tapi BASICsangat berkesan buat saya. Saya sekarang tetap ingat bagaimana memprogram dalam BASIC (dan sempat mengajari juga dasar-dasarnya ke Jonathan). Saya bahkan sempat membeli AppGameKit, sebuah tool untuk membuat game dengan bahasa BASIC modern

Program iseng dalam BASIC/App Game Kit yang hampir seribu baris

Ketika SMU, saya belajar Pascal juga ototidak (contoh berbagai program hasil otodidak bisa dilihat di posting ini). Waktu kuliah di ITB, bahasa Pascal juga diajarkan jadi saya lebih paham lagi, termasuk juga untuk membuat berbagai struktur data. Saya sempat belajar Visual Basic, dan sempat membuat beberapa aplikasi tapi ketika kenal Delphi, ini jadi bahasa favorit saya karena bahasanya memang sangat dekat dengan Pascal tapi visual.

Bahasa yang masih saya pakai sehari-hari sampai saat ini adalah C dan juga C++. Beberapa contoh aplikasi yang saya buat: Alkitab untuk OS Symbian dan Blackberry 10. Beberapa karya saya dalam C bisa dilihat di Github. Saya merasa cukup paham C, karena bisa membayangkan translasinya ke assembly. Walaupun sudah memakai C++, saya sering merasa ada hal-hal mengejutkan yang saya temui.

Pengetahuan saya mengenai bahasa R sangat terbatas. Saya mengenal bahasa ini hanya karena pernah membimbing anak buah di kantor untuk integrasi C++ dengan R. Jadi saya sekedar bisa membaca dan membuat skrip kecil sekedar testing integrasi, tapi tidak pernah menulis skrip besar dalam R.

Di kampus dulu kami juga diajari Lisp, ini masih saya pakai untuk konfigurasi editor Emacs. Di kampus juga diperkenalkan bahasa Prolog dan Fortran, tapi keduanyatidak pernah saya pakai lagi sejak lulus. Walau tidak memprogram dalam Fortran, ada beberapa library Fortran yang dipakai di kode C++, jadi secara tidak langsung pengetahuan Fortran masih berguna.

Bahasa pemrograman untuk web yang pertama kali saya pelajari adalah Perl. Tentunya Perl ini tidak hanya untuk memprogram web, tapi bisa dipakai untuk membuat berbagai aplikasi command line. Saya pernah menulis seri artikel belajar Perl dulu di majalah Master Web.

Sekarang saya tidak pernah lagi memprogram dalam Perl dan lebih sering memakai Python untuk berbagai skrip yang saya tulis. Berbagai aplikasi web kecil untuk keperluan internal kantor juga saya buat dalam Python. Ketika belajar Machine Learning, ada lebih banyak library dalam Python.

Dalam pelajaran Machine Learning dari Coursera, MATLAB juga dipakai (tepatnya saya memakai Octave, software open source yang cukup kompatibel dengan MATLAB). Dari dulu saya sering membantu berbagai program kecil MATLAB teman-teman di ITB, tapi tidak pernah benar-benar mendalami bahasanya.

Di kampus dulu saya sempat bekerja di ITB untuk mengolah data ITB. Untuk konektivitas hardware (Scanner dan Printer) bahasa yang dipakai adalah Java. Java merupakan bahasa dinamik yang saya pahami sampai internalnya (level byte codenya). Saya juga cukup hapal semua API dasarnya (maklum dulu belum ada Stack Overflow jadi baca dokumentasi JDK hampir tiap hari sampai hapal). Sampai sekarang saya masih cukup fasih memakai Java karena masih sering berhadapan dengan ini. Di jaman Blackberry saya juga membuat berbagai aplikasi dalam Java.

Meskipun sudah belajar dasar-dasar Kotlin, tapi saya belum merasa mahir memakai ini. Di kepala saya, saya bisa membayangkan tiap kode Java akan seperti apa bytecodenya, tapi untuk Kotlin saya tidak selalu bisa memetakan hal tersebut. Padahal Kotlin ini seharusnya kompatibel dengan Java, tapi karena belum paham internalnya, saya merasa kurang nyaman.

Groovy adalah bahasa lain yang masih berhubungan dengan Java. Saya hanya mengenal ini karena ini dipakai oleh Gradle. Sejauh ini saya merasa kurang nyaman dengan Syntax ekstranya dan lebih memilih Java saja jika memang menargetkan JVM.

Di tahun 2000an PHP mulai sangat populer dan beberapa aplikasi mulai dibuatkan versi webnya. Ketika saya bekerja di kampus, PHP juga dipakai untuk menampilkan berbagai data ke publik. Saya mulai memakai PHP sejak versi 3. Pengetahuan PHP ini juga sangat berguna untuk pentesting.

Saya belajar Javascript sejak jaman awal memakai web dulu. Dulu saya hanya membuat skrip-skrip kecil untuk menambah interaktivitas web. Saya sempat meninggalkan bahasa ini, tapi sejak ES6 mulai mengikuti lagi. Saya sempat mendalami JS ketika membuatkan sebuah aplikasi berbasis AngularJS untuk organisasi teman yang butuh aplikasi mendadak. Sampai saat ini saya tidak pernah membuat aplikasi serius di sisi server dengan nodejs (menurut saya PHP atau Python lebih praktis untuk kebanyakan aplikasi sisi server). Saat ini yang Javascript saya pakai untuk membuat browser extension untuk dipakai sendiri.

Saya kenal bahasa Ruby dan bisa memakainya. Saya bahkan pernah menyelesaikan CTF yang memakai bytecode Ruby. Tapi saya tidak pernah mahir dalam Ruby karena sejujurnya: saya tidak pernah menemukan kasus di mana saya memilih Ruby. Untuk website saya lebih suka memakai Python (Django atau Flask tergantung sebesar apa webnya), sedangkan untuk berbagai scripting ada lebih banyak library Python yang tersedia. Secara umum Python juga lebih cepat.

Saya belajar bahasa Lua ketika memprogram dengan game framework Marmalade. Dulu saya bisa dapat gratis gamepad dari Blackberry jika mengirimkan game dengan framework tersebut. Ketika memakai ESP8266 saya juga kadang memilih Lua untuk berbagai aplikasi sederhana.

Selagi membuat game untuk Jonathan dulu saya sangat tertarik dengan bahasa Haxe. Saya suka dengan bahasa ini karena cukup dekat dengan ActionScript 3 (saya hanya tahu AS3 ini, tapi tidak bisa Action Script 2). Haxe bisa dikompilasi menjadi kode C++, ActionScript 3, Javascript dsb.

Saat ini saya memahami beberapa bahasa assembly untuk beberapa platform: x86 (16 bit sampai 64 bit), ARM (thumb, ARM32, dan ARM64), MIPS (MIPS32), AVR, dan 6502. Saya kenal berbagai bahasa ini dalam rentang waktu lama. Contohnya: saya belajar assembly x86 16 bit di jaman DOS. Saya belajar ARM sejak memakai Symbian (dan tahun lalu menang CTF dengan hadiah ke Hongkong karena skill ini). Saya belajar AVR sejak belajar Arduino (terpakai untuk RHME sampai dapat training ke Belanda), belajar MIPS ketika memakai router dengan prosessor MIPS dan belajar 6502 karena tertarik dengan game lama.

Saya sempat tertarik juga memprogram dalam bahasa Forth (pernah saya tuliskan di sini), tapi tidak ketemu akan diaplikasikan di mana. Sekarang berbagai board murah (misalnya ESP8266 dan ESP32) bisa diprogram dengan C/C++ dan hasilnya sudah sangat cepat sedangkan jika butuh eksplorasi Javascript, Micropython dan Lua juga tersedia.

Untuk shell scripting, saya hanya fasih menggunakan bash. Shell lain juga bisa tapi saya sering kali harus membaca dulu manual pagenya. Biasanya saya mengkombinasikan bash shell ini dengan GNU Awk. Di Windows saya bisa memakai batch file (batch versi Windows saat ini hanya berbeda sedikit dari jaman DOS dulu). Saya mengerti Powershell dan ketika mengikuti Flare on ada beberapa persoalan membongkar skrip Powershell, tapi saya kurang mahir memakai ini.

Meskipun sudah banyak membaca mengenai Go, tapi saya belum pernah membuat program serius. Jika sekedar ingin membuat skrip kecil, Python masih lebih enak (contoh: membaca file per baris di Go lebih ribet daripada di Python), sedangkan jika butuh performance lebih tinggi: C++ masih lebih bagus dan sekarang dengan C++11 ke atas, syntax C++jadi semakin mudah dibaca. Go sepertinya lebih cocok jika butuh sesuatu yang konkuren, tapi tergantung jenis konkurensi yang diinginkan, ini pun bisa dilakukan dengan mudah di C++ (threading sudah jadi standar di C++11).

Dalam Index TIOBE, SQL termasuk dalam bahasa pemrograman. Saya paham SQL standar, dan saya juga tahu dialek Mysql, SQLite dan PostgresSQL. Untuk DBMS lain seperti MS SQL dan Oracle, saya belum pernah menulis sendiri Stored Procedure (walau sering membaca topik ini karena masalah SQL Injection).

Dalam dunia .NET saya hanya paham C#. Saya juga bisa membaca Visual Basic .NET karena sangat dekat syntaxnya dengan C# tapi saya akan kesulitan jika harus menulis kode baru dengan Visual Basic .NET. Pengetahuan saya mengenai C# dan teknologi .NET secara umum tidak sedalam pengetahuan saya mengenai Java.

Meskipun belum pernah membuat aplikasi besar, saya cukup mengenal Objective C. Ini saya pelajari dulu waktu beli iBook pertama yang masih memakai Power PC. Saya sempat belajar Swift versi pertama, tapi kemudian Apple beberapa kali mengubah bahasanya, dan sampai sekarang saya belum berusaha mengikuti lagi.

Sekarang bahasa yang berusaha saya dalami adalah Rust. Dulu saya mengikuti bahasa ini, tapi kemudian ada beberapa perubahan dan kemudian saya menunggu lagi sampai bahasanya stabil. Sekarang ini sepertinya sudah cukup stabil, walau masih ada beberapa fitur yang masih akan diperkenalkan untuk mempermudah pemakaian bahasa ini.

Rust ini didengungkan sebagai bahasa yang type safe, dan ini mengingatkan saya pada Ada yang dulu diajarkan di kuliah. Saya melupakan bahasa Ada ini cukup lama sampai Bos menyebutkan bahwa ada rekannya di Jerman yang mulai memakai lagi Ada, setelah itu saya sempat melihat-lihat lagi. Andaikan ada cukup banyak library untuk Ada, sepertinya saya ingin lagi mencoba membuat program dalam Ada.

Untuk mengajari Jonathan saya jadi belajar Scratch (bahasa visual untuk anak anak). Selain itu saya jadi belajar bahasa pemrograman Logo karena Jonathan membaca seri buku Secret Coders.

Meskipun saya sudah belajar banyak bahasa dan memakai di aplikasi nyata, ada banyak bahasa lain yang saya mulai tapi tidak saya teruskan.

  • Bahasa D: keuntungannya dibandingkan C tidak terlalu banyak, IDE yang support bahasa ini juga sedikit
  • Erlang dan Elixir: sebenarnya ini menarik dan sempat tertarik karena dipakai oleh ejabberd dan RabbitMQ, tapi saya tidak menemukan kasus (untuk saya pribadi) di mana bahasa ini cocok
  • Haskell: ini menarik, tapi menurut saya kurang praktis
  • COBOL: sempat baca-baca dan coba-coba karena kenal dengan developer di bank yang sedang belajar ini. Tujuannya teman saya itu mau menggantikan seniornya, sedangkan saya hanya iseng jadi tidak diteruskan
  • Dart: tadinya tertarik, tapi pemakaiannya terbatas. Sekarang dengan adanya flutter saya jadi ingin coba lagi
  • Scala: bahasanya ribet banget

Lalu ada bahasa-bahasa yang belum pernah saya sentuh sama sekali misalnya: SAS, LabView, Ladder Logic, dsb. Ini biasanya memang hanya untuk dipakai di tempat tertentu saja dan kebetulan saya belum pernah butuh itu.

Penutup

Perlu ditekankan bahwa sejak belajar bahasa pertama (BASIC) hingga saat ini sudah lebih dari 25 tahun. Sepertinya saat ini saya tahu kurang dari 25 bahasa, dan hanya benar-benar menguasai sekitar 10 saja (dalam arti cukup percaya diri untuk membuat produk dalam bahasa tersebut).

Rata-rata saya butuh waktu beberapa tahun memakai satu bahasa sampai merasa nyaman dengan bahasa itu. Jadi jangan merasa harus belajar banyak bahasa sekaligus dalam waktu singkat. Saya dulu mempelajari tiap bahasa ini biasanya diawali oleh suatu alasan:

  • Minat sendiri: waktu belajar BASIC dan Pascal
  • Memang wajib di kuliah: Prolog, Fortran, Lisp
  • Diperlukan dalam pekerjaan: waktu belajar PHP dan Java
  • Coba-coba tren: Ruby (karena Ruby On Rails)

Biasanya jika ada tujuan khusus membuat sesuatu maka saya lebih cepat bisa menguasai bahasa itu. Jika tidak ada tujuan khusus, maka saya sekedar tahu, lalu lupa lagi.

Jika sudah memiliki dasar yang kuat di satu bahasa, beberapa bahasa lain akan mudah dipelajari. Contoh: secara konsep C# dan Visual Basic .NET tidak jauh berbeda hanya Syntaxnya yang beda. Jika sudah memiliki dasar Java, beberapa bahasa lain turunannya seperti Kotlin dan Groovy mudah dipelajari. Bahasa dengan paradigma fungsional memang sangat bebeda dengan bahasa prosedural, tapi jika sudah menguasai salah satunya, mempelajari yang lain juga tidak sulit.

Saya menuliskan ini jadi bernostalgia dengan masa-masa belajar tiap bahasa di atas. Untuk para pemula: santai saja, belajarlah setahap demi setahap dan buatlah sesuatu ketika belajar bahasa baru.

Tentang Kopdar

Kemarin teman saya bercerita, kalau temannya ada yang baru kopdar. Saya sudah lama sekali gak dengar kata kopdar ini, jadi teringat masa-masa di Bandung dulu ikutan kopdar komunitas, ataupun nemenin temen kopdar. Kopdar ini singkatan dari kopi darat, alias ketemuan di dunia nyata dengan teman (atau teman-teman yang selama ini interaksinya di dunia online).

Kalau dulu mungkin orang kenalan kebanyakan dari IRC atau platform chat lainnya (Yahoo, ICQ dan atau Mailing List), sekarang ini sosial media juga menjadi salah satu tempat ketemuan orang di dunia online. Banyak yang saya tahu menambah teman dari FB atau instagram, kalau saya sih biasanya yang ada di sosial media saya adalah orang-orang yang memang saya kenal langsung atau belakangan ini dari group menulis yang membuat saya mulai rajin ngeblog lagi.

Kopdar itu ngapain sih? ya sebenarnya kopdar itu intinya ketemuan. Setelah sekian lama ngobrol pake tulisan dan atau video call, terutama untuk orang-orang yang mungkin sedang cari jodoh sekalian ketemu di dunia nyata. Bisa juga ketemuan kalau mau tukar proyek, ngasih proyek atau bertukar ilmu.

Dari beberapa kali kopdar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat pertemuan pertama ini terasa lebih nyaman buat semua pihak yang bertemu (terutama buat yang mau cari jodoh wkwkwk)

Lokasi bertemu

Tentukan lokasi bertemu yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi juga. Biasanya restoran atau coffee shop jadi tempat yang cukup nyaman kalau misalnya sama-sama ngopi. Gak usah kuatir soal siapa yang bayar, namanya baru ketemu ya bayar masing-masing dong ah. Kalau ada yang mau bayarin gimana? ya gak ditolak dong, asal wajar-wajar saja, apalagi kalau misalnya ketemunya rame-rame, masa yang bayar ditumpukan pada 1 orang.

Ngobrol!

Nah kan ketemuan ini tujuannya ngobrol, ya ngobrollah. Topiknya apa? ya sama aja dengan topik selama ini waktu chatting. Bisa soal buku yang sedang dibaca kalau hobi baca, bisa soal film yang sedang tayang kalau hobi nonton, atau apalah topik yang selama ini bisa bikin betah chatting lama-lama.

Topik yang sebaiknya jangan dibicarakan: topik politik atau ngomongin artis, karena 2 topik itu gak akan ada habisnya. Kecuali misalnya udah tau punya pandangan politik yang sama atau selera yang sama terhadap artis tertentu, ya bolehlah diobrolin hehehe. Jangan juga ngobrolin temennya temen yang random banget atau curhat soal kerjaan kantor, karena biasanya agak susah mengikuti pembicaraan kalau gak kebayang siapa yang diomongin.

Oh iya, kalau lagi kopdar, kecuali sedang menunggu berita penting, sebaiknya gak usah ngobrol sambil liatin telepon genggam. Gak perlu juga langsung check in lokasi sambil upload foto ketemuan ke semua sosial media. Foto ya foto aja, nanti uploadnya setelah selesai ketemuannya. Karena kalau langsung upload foto, bisa-bisa akhirnya sibuk balas-balas komen bukannya ngobrol sama yang bertemu.

Berapa lama ketemunya?

Ini sih bebas ya, tapi kalau bisa sediakan waktu 1 – 2 jam. Karena kadang tergantung tempat bertemunya, siapa tau lama nungguin makanannya. Kalau makan buru-buru, ya gak bisa sambil ngobrol jugakan. Namanya ngobrol santai, kalau gak selesai ngobrolnya ya memang bakal bisa dilanjutkan online, tapi kan ini udah sengaja kopdar, masa sih cuma 30 menit. Biasanya juga pas ngobrol online bisa lebih lama dari itu kan heehehe.

Kalau memang lagi punya waktu banyak, abis makan/ngopi bisa dilanjutkan ke temat lain untuk sekedar nongkrong santai. Yang perlu dihindari ketika kopdar adalah minta ditemenin belanja (baik itu nyari buku, kosmetik atau baju), kecuali temennya itu emang lagi rencana shopping juga dan atau memang jago shopping. Kalau sekedar mampir di mini market bareng ya bolehlah. Satu lagi yang sebaiknya tidak dilakukan ketika kopdar: ngajak nonton bareng! mana bisa ngobrol di bioskop, kapan-kapan kalau emang udah cocok jadi temen bolehlah janjian kayak ama temen lama buat ke bioskop hehehe.

Boleh bawa teman gak?

Kalau temannya ini sebenarnya mutual friend atau malah yang berjasa ngenalin, boleh banget di bawa. Kalau misalnya ketemuannya dengan komunitas tertentu juga boleh banget bawa temen, asalkan temannya juga punya minat yang sama dengan komunitas itu. Terus ya pas ngobrol, jangan malah jadi ngajak temen kita doang yang ngobrol, tapi ya ajaklah teman baru itu ngobrol. Kalau kopdarnya dalam rangka mencari jodoh, ya… jangan bawa teman, nanti tau-tau berjodohnya sama teman yang di bawa pula hahahaha.

Saya pernah kopdar bawa teman, itu tapi karena saya janjian mau nginep di rumah temen saya waktu di luar kota dan biar gampang, ketemunya dengan teman saya itu di tempat yang sama dengan janjian sama si kopdar hehehe. Terus saya juga pernah jadi teman yang di bawa kopdar, tapi waktu itu karena komunikasi belum secanggih sekarang ada HP untuk gampang ngecek udah sampe atau belum, akhirnya kami gak menemukan orang yang mau diajak kopdar itu dan malah ngemall aja hehehe. Mungkin teman saya emang ga niat kopdarnya wkwkwk.

Kopdar yang paling berkesan itu buat saya bertemu dengan teman-teman sesama perajut. Pas ketemuan ngomongin benang dan lagi ngerjain apa, terus pulangnya biasanya bawa benang atau harta karun rajutan yang baru atau bisa shopping perlenengkapan rajut bareng.

Kalau sekarang ini, saya sudah gak pernah kopdar lagi. Paling-paling di sini ketemuan dengan warga Indonesia yang baru pindah ke Chiang Mai. Kalau kopdar komunitas harapannya suatu saat bisa ketemu dengan teman-teman di group Kelas LIterasi Ibu Profesional (KLIP), terutama yang sudah mau mampir baca tulisan saya selama beberapa bulan terakhir ini hehehe.

Hex Editor

Saya beruntung dulu ketika kali pertama belajar komputer lebih dari 25 tahun yang lalu, saya hanya punya satu pilihan sistem operasi: DOS. Sistem operasi ini sangat sederhana dan bisa dimengerti sampai sangat detail. Waktu itu hanya ada 1 filesystem yang bisa dipakai untuk DOS: File Allocation Table (FAT).

PC Tools

Salah satu tool yang sangat membantu saya mendalami berbagai hal yang berhubungan dengan komputer adalah PC Tools. Software “ajaib” ini punya banyak fungsi, dan salah satunya adalah sebagai hex editor. Dengan hex editor ini dulu mudah sekali untuk mengubah string dalam sebuah program (misalnya iseng mengganti pesan error jadi bahasa Indonesia).

Hex editor ini juga berguna untuk memahami mengenai filesystem FAT. Misalnya jika tidak sengaja menghapus sebuah file, saya bisa mengedit sendiri FAT untuk mengembalikan huruf pertama file tersebut. Dalam FAT, jika file dihapus, hanya huruf pertamanya diganti dengan 0xE5, dan selama file belum ditimpa, maka bisa dengan mudah dikembalikan.

Sejak saat itu di berbagai sistem operasi, hex editor menjadi salah satu tool andalan. Berbagai varian tool ini telah membantu saya memahami banyak hal, dari mulai hal kecil misalnya mengecek apakah ada karakter spesial yang tidak terlihat dengan editor teks, sampai memahami format sebuah file.

Di Linux saya tidak memakai tool khusus, biasanya saya melihat representasi hexa sebuah file di command line dengan hexdump (dengan parameter -C). Jika ingin interaktif sayamenggunakan midnight commander (mc) yang merupakan tiruan dari Norton commander yang dulu saya pakai di DOS.

Hex viewer/editor di Midnight Commander

Emacs, editor favorit saya, juga memiliki fitur untuk melihat dan mengedit file dalam mode hex. Ini sangat berguna untuk mengedit file yang tidak terlalu besar (dalam orde megabyte). Jika filenya terlalu besar, emacs terasa lambat, tapi ini wajar karena emacs adalah editor teks yang tidak dirancang khusus untuk file biner berukuran besar.

hexl-mode di Emacs

Di Windows saat ini saya suka memakai HxD. Editor ini cukup lightweight, gratis dan dapat mengedit file berukuran besar dengan cepat. Software ini juga masih diupdate hingga saat ini. Fungsi-fungsi tambahannya (MD5, histogram, dsb) juga cukup berguna.

HxD di Windows

Sekarang ini tidak terlalu mudah untuk memahami sebuah sistem dengan menggunakan hex editor karena berbagai hal sudah sangat kompleks. Contohnya: filesystem EXT2/3/4 atau NTFS sudah terlalu rumit dibaca manual dengan hex editor.

Khusus untuk reverse engineering, sekarang ini sebenarnya banyak juga tool yang bisa membantu memahami format file, misalnya 010 Editor (komersial) dan Kaitai Struct (open source). Tapi tetap saja diperlukan banyak membaca sebelum bisa mulai, tidak seperti jaman dulu di mana semua masih sangat sederhana.

Cerita Jaman Kos

Sebelum tidur, Jonathan suka meminta diceritakan mengenai suatu hal dari masa lalu. Setelah mendapatkan cerita mengenai masa kuliah papanya dan mengenal istilah rumah kos, dia sekarang pengen dengar cerita dari saya juga. Dipikir-pikir, kalau dulu orangtua saya bercerita soal masa dulu waktu mereka sekolah, saya sering ga terbayang kira-kira apa yang akan saya ceritakan ke anak cucu saya. Ternyata dari sejak jaman masih kuliah sampai sekarang, sudah banyak hal-hal yang berbeda sekali dengan yang dialami Jonathan sekarang.

Saya ingat, waktu kost pertama dan ke-4, dapurnya itu gak ada yang namanya kompor gas kayak jaman sekarang. Yang disediakan dari tempat kost hanya kompor minyak tanah pakai sumbu, yang untuk meyalakannya saja butuh waktu dan kalau gak hati-hati pancinya gampang gosong.

Waktu kost pertama, saya dibelikan mama saya kompor gas kecil yang tabungnya bisa dibeli di minimarket, tapi tergolong mahal kalau sering-sering dipakai. Kompor itu dipakai untuk masak indomie saja kalau saya pingin sarapan Indomie. Saya lupa kompor itu akhirnya saya bawa ke Jakarta ke kakak saya atau ke Medan. Kompor jenis itu masih ada sampai sekarang dan biasanya digunakan kalau orang-orang mau kemping saja.

Kompor minyak dari tempat kost disediakan minyaknya sama ibu kost dan dibersihkan sama pembantunya ibu kost. Kami menggunakannya biasanya buat masak air kalau mau mandi air hangat. Pernah suatu kali pulang ospek penuh lumpur, saya harus menunggu air agak panas dulu sebelum mandi padahal itu sudah jam 2 dinihari. Untuk langsung tidur tanpa membersihkan badan bukanlah suatu pilihan. Nah tapi saya ingat juga, besoknya saya bablas ketiduran karena udah enaklah ya badan bersih tidur berselimut hangat. Alarm jam berbentuk ayam yang berkokok tak mampu membangunkan saya walaupun terletak di sebelah saya hahaha. Saya kebangun jam 10 pagi!, dan teman-teman kost saya pada protes karena si alarm ayam berkokok selama 30 menit dan saya tak bangun juga hahaha, mereka pikir saya gak di rumah dan cuma lupa mematikan setelan alarm.

Saya pindah kost beberapa kali di Bandung, saya ingat di kost ke-2 dan ke-3 kami punya kompor gas yang isi tabung gasnya kami beli secara patungan. Tapi walau udah ada kompor gas, ya tetap aja ya, kebanyakan dipakai buat masak indomie atau buat mandi air hangat haahaha. Kost-kostan ke-3 kembali lagi pakai kompor minyak tanah. Saya tadi sampai harus mencari video di YouTube untuk menjelaskan ke Jonathan soal bagaimana menyalakan kompor minyak tanah dan bedanya dengan kompor yang digunakan sekarang.

Jadi setelah bercerita bahwa dulu mama gak semudah sekarang buat menyalakan kompor, saya juga bercerita kalau mesin pemanas air itu bukan hal yang selalu ada di Indonesia seperti di sini. Eh tau-tau dia bergeser pertanyaan ke mesin cuci. Kapan mama pertama kali punya mesin cuci?

Jadilah teringat lagi, kalau dulu itu, walaupun waktu tinggal di rumah orangtua saya ada mesin cuci, tapi di kost-kostan itu tidak ada yang namanya mesin cuci. Kalau masih ada uang saku lebih, paling bayar ekstra untuk mencari mbak yang mencucikan dan menyetrika baju. Kadang-kadang di tempat kost ada yang membatasi sehari hanya boleh mencuci 2 potong pakaian. Ada juga yang bebas berapa banyak tapi bayarnya langsung ke mbaknya. Tapi ada juga tempat kost yang gak ada mbaknya. Jadi ada masa di mana saya mencuci baju sendiri manual!. Untungnya sejak jaman kuliah saya gak punya banyak baju berbahan jeans yang berat-berat, jadi urusan mencuci tergolong enteng.

Saya tahu di banyak tempat mencuci manual itu masih merupakan preferensi banyak orang, tapi kalau sekarang ini saya harus mencuci baju 4 orang tanpa mesin, rasanya udah kebayang pengen nangis karena bakal lama selesainya dan juga kapan keringnya hehehe. Memang ya, kalau kita udah terbiasa dengan teknologi, kembali melakukan hal manual itu kerasa jadi berat, padahal kalau dilakukan mungkin aja gak seberat itu (eh tapi saya ogah ah nyuci manual hahaha).

Ceritanya jadi kemana-mana, tapi memang begitu kalau Jonathan sudah mulai bertanya, bisa gak ada habisnya. Biasanya saya yang harus menyudahi ceritanya dan suruh dia ingat menanyakan lanjutannya di kemudian hari kalau memang masih penasaran. Tapi dari bertahun-tahun hidup sebagai anak kost, ada banyak hal yang gak bisa saya lakukan seandainya saya ga pernah dilatih dari rumah. Mana mungkin tiba-tiba saya bisa menyetrika atau tahu memisahkan mencuci baju luntur dan tidak luntur kalau nggak pernah diberitahu/disuruh kerja sama mama saya. Memang ada kemungkinan beberapa lifeskill bisa dipelajari kemudian dari video yang ada di YouTube, tapi rasanya bersyukur aja dari rumah sudah diajari melakukan berbagai hal, sehingga waktu jadi anak kost bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci baju dan menyetrika.

Saya gak tau apa lagi kemajuan yang akan terjadi di masa Jonathan besar nanti, tapi sepertinya dia perlu juga diajari beberapa keahlian untuk mengurus dirinya sendiri. Siapa tahu nanti dia jadi anak kost juga kalau kuliahnya gak tinggal di kota yang sama dengan kami. Karena saya dan Joe sama-sama jadi anak kost setelah masa kuliah, kami juga mengajarkan ke anak-anak kalau mereka juga harus bisa mengurus dirinya sendiri nantinya setelah umur kuliah.

Mengembalikan Hobi Lama

Sebelum punya anak, saya sempat rajin merajut dan belajar jahit. Sejak Jonathan lahir, entah kenapa hobi merajut dan menjahit itu menguap terbang hilang. Mungkin karena saya kurang suka meninggalkan pekerjaan rajutan terlalu lama, akhirnya saya enggan untuk memulai. Beberapa kali mencoba mengembalikan mood, tapi ya akhirnya cuma browsing-browsing pola dan gak mulai juga.

Saya tahu punya anak bukan alasan untuk berhenti berhobi, tapi punya banyak rajutan yang gak kunjung selesai tidak membuat saya jadi rileks malah jadi senewen, maka akhirnya saya tinggalkan saja hal-hal yang bikin senewen. Hobi itu untuk dinikmati, bukan bikin jadi senewen toh hehehe.

Sekarang ini anak-anak sudah mulai besar. Saya merasa sudah waktunya saya punya waktu lagi untuk hobi saya. Anak-anak juga sudah mulai terbiasa bermain sendiri, asal mereka ga mainin benangnya sampai kusut, teorinya saya sudah bisa mulai merajut lagi.

Selama bertahun-tahun, benang dan jarum rajutan masih tersimpan rapi dan di bawa pindah rumah beberapa kali. Tahun ini saya mau kembali merajut lagi. Sepertinya kalau tahun ini masih gagal kembali merajut, harta karun merajutnya bisa di hibahkan saja ke orang-orang yang masih suka merajut.

Saya sudah menemukan komunitas merajut di kota ini, komunitasnya mengadakan pertemuan sekali seminggu dan kebetulan di hari yang sama dengan jadwal Jonathan les. Rencananya sesekali saya mau ikutan datang ketemu, supaya semangat berkaryanya tetap ada.

Selain mencari komunitasnya, kemarin saya memaksa diri untuk memulai mengerjakan hal yang kecil dan bisa selesai sekali duduk. Sambil nonton serial MacGyver, akhirnya selesai juga rajutan bunga rose. Rencananya nanti bunga ini akan ditempelkan di bandana, tapi bandananya belum dibikin hehehe. Sekarang lagi nyari-nyari motif bandana, dan udah dapat beberapa pattern yang bisa ditiru.

Setidaknya, hobi merajut ini bisa kelihatan hasilnya daripada hobi nonton film korea hahaha. Mending kalau nonton koreanya menghasilkan tulisan review, sejauh ini saya masih terlalu malas mereview film-film korea yang sudah saya tonton. Kalau dikombinasikan, bisa juga nonton kdrama sambil merajut hahaha.

Ngomongin kdrama dan merajut, saya ingat di salah satu kdrama yang saya tonton, si cowo merajut syal pink waktu dia sakit. Terus setelah dia sembuh dan mereka ketemu, syalnya dikasihin ke cewenya, dan diujung syalnya ada gulungan benang yang berisi cincin melamar si cewe. Ayo ada yang ingat ini kdrama yang mana? bisa jadi undian berhadiah nih. Hmm sayangnya saya jauh di Thailand, kalau nggak saya kasih hadiah benang deh hehehhe.

Kalau ada yang mau lihat tulisan lama soal hobi lama saya, bisa lihat di blog saya yang ini. Blognya udah gak pernah diupdate lagi. Mungkin nanti kalau udah banyak rajutannya baru deh diupdate lagi di sana.

Membaca Tulisan Lama

Berhubung hari ini lagi kurang ide, dan kebetulan lagi update cerita dengan teman yang dulu sama-sama rajin ngeblog, jadilah kepikiran bongkar-bongkar tulisan lama. Sebenarnya kegiatan membaca tulisan lama ini sudah sering dilakukan kalau lagi iseng, dan setiap kali pas membaca tulisan sendiri, malah lupa kenapa dulu nulis gitu ya?

Dulu, menulis blog itu bener-bener seperti mindahin unek-unek. Tapi demi menjaga privasi, seringkali tulisannya penuh dengan anonimitas. Nah masalahnya, sangkin anonimnya saya sendiri jadi lupa dulu itu ngomongin siapa ya? Terus baca komen-komennya, malah jadi ketawa-ketawa sendiri. Walaupun dulu sudah baca komen-komennya, tapi rasanya lupa kalau pernah baca teman-teman yang malah jadi panjang diskusi di komen padahal tulisan blognya singkat padat dan penuh anonimitas hahahaha.

Kadang-kadang waktu membaca tulisan lama, jadi ingat juga dengan beberapa hal yang terlupakan. Pernah juga pas membaca, saya pikir itu tulisan Joe, eh ternyata pas dilihat itu tulisan saya. Terus merasa heran sendiri, loh kok gaya tulisannya beda ya dari biasanya?

Kebiasaan menulis random ternyata bisa jadi hiburan buat diri sendiri juga. Tapi kalau memperhatikan tulisan sendiri, gaya bahasanya banyak berubah. Kalau dulu, ada banyak tulisan yang kurang positif, kalau sekarang saya berusaha menulis hal-hal yang lebih positif. Kalau kata Joe, kita menuliskan yang ingin kita ingat saja, kalau nulis yang kurang positif nanti gak enak pas membacanya kembali.

Dalam rangka menularkan menulis setiap hari, kemarin saya membelikan buku Diary 2019 buat Jonathan. Saya minta dia menuliskan sedikit cerita setiap harinya di diary itu dan untuk setiap tulisannya nantinya akan ada rewardnya 100B. Syaratnya tulisannya harus rapi dan menuliskannya mengikuti aturan penulisan yang benar (huruf kapital, tanda baca, dan spacing yang jelas). Tanpa disangka, karena ada rewardnya, Jonathan semangat banget buat nulis. Dia nanya apakah boleh menuliskan hal yang dia ingat di hari-hari sebelumnya? dan apakah ada rewardnya juga? waktu saya bilang boleh, diapun segera mengisi diarynya beberapa hari ke belakang.

Sebenarnya, sejak tahun lalu Jonathan sudah saya ajak untuk menulis jurnal singkat setiap harinya, tapi bertahan hanya sampai February saja. Pernah juga berusaha menyuruh dia menuliskannya menjadi blog post dengan memanfaatkan fitur voice typing di HP, tapi ya akhirnya ga jadi juga. Nah sekarang ini Jonathan perlu banyak latihan menulis, jadi ya sekalian saja menulis di buku diary.

catatan reward untuk hari yang udah ada tulisannya

Baru menulis 2 hari dia udah menghitung-hitung jumlah pendapatan yang akan dia peroleh di akhir tahun. Bahkan sudah meminta ada harga ekstra kalau ceritanya baguslah, atau edisi khusus gitu. Ya, semoga saja dia tetap rajin mengisinya, setidaknya kalau dia berhasil nulis setiap hari selama 2019, di akhir tahun dia akan bisa membaca ulang tentang hari-harinya selama setahun ini. Kegiatan Jonathan ini juga buat pengingat ke diri sendiri untuk menulis setiap hari.

Suatu saat tulisan ini juga akan jadi tulisan lama. Tadi kepikiran ngasih link ke contoh tulisan lama yang sangat anonim sehingga lupa tentang siapa dan bagaimana ceritanya, tapi sepertinya kalau dibuka tulisan lama secara random, selalu saja saya ketemu hal yang bahkan saya gak ingat saya nulis tentang apa. Biar saya tulisan ini dan tulisan-tulisan jenis itu menjadi hiburan saja, dan siapa tahu menjadi inspirasi tulisan di kemudian hari hahahaha.