Blogwalking di Blog sendiri

Hari ini saya sedang terlalu banyak yang ingin dituliskan seputar relationship, pasangan dan pernikahan. Tapi karena seringkali hal-hal yang ingin dituliskan itu sudah pernah ditulis, supaya ga terlalu banyak pengulangan akhirnya saya melakukan pencarian ke tulisan-tulisan kami yang lama.

Awalnya, kepikiran nulis soal persiapkan pernikahan sebelum itu dimulai termasuk persiapan biaya pesta. Gimana caranya biar pesta pernikahan gak membuat kehidupan pernikahan nantinya jadi susah karena harus bayar hutang ke rentenir demi biaya pesta. Terus adalagi baca berita soal wanita yang mengakhiri hidupnya karena pengantin pria gak punya cukup uang untuk mas kawin sesuai permintaan keluarganya. Tapi sepertinya hal itu dibahas di lain hari saja.

Tanpa sengaja saya jadi menemukan tulisan-tulisan lama yang dituliskan Joe dan saya. Tulisan terbaik hasil blogwalking malam ini jatuh ke tulisan tentang memahami kehidupan. Tulisan ini tulisan Joe di tahun 2008, pandangan tentang hubungan antar manusia (relationship). Sebenarnya hampir keseluruhan tulisan pengen saya kutip kembali, tapi dari semua paragraph, bagian ini kira-kira mendasari semuanya:

Hal yang membuat hidup indah adalah karena kita bisa berbagi dengan banyak orang. Tapi ada hal yang membuat hidup kadang nggak enak dijalani, yaitu karena kita harus berhubungan dengan banyak orang. Menurutku manusia itu pada dasarnya jahat, tapi sebagian besar bisa menampakkan hanya sisi baiknya saja ke orang lain. Pemahamanku yang pertama mengenai manusia adalah: berhati-hatilah pada orang lain.

YN

Jadi pada dasarnya orang lain itu bikin hidup ini indah tapi juga bisa gak enak. Mungkin akan banyak yang tidak setuju tentang bagian: manusia itu pada dasarnya jahat. Tapi dasarnya jahat bukan berarti jahat banget, kita juga selalu berusaha menunjukkan sisi baik kita. Makanya peringatannya berhati-hati aja sama orang sambil menikmati keindahan berbagi hidup. Ah kalimatnya jadi rumit yah, tapi ya kira-kira begitulah. Manusia membutuhkan manusia lainya – baik ataupun jahat.

Tulisan berikut yang juga nemu dari hasil blogwalking malam ini mengenai pasangan hidup yang ditulis Joe di tahun 2014. Tulisan ini sebenarnya lebih kurang sama dengan yang akan saya tuliskan, tapi saya minta Joe yang nulis karena dia biasanya lebih bagus struktur nulisnya. Kesimpulan dari tulisan itu mengenai pasangan ideal juga sebenarnya hasil diskusi berdua.

Bagi saya, pasangan hidup saya adalah semuanya: sahabat, orang yang sepadan untuk saya ajak diskusi, orang yang terdekat bagi saya, orang yang bisa saya percaya sepenuhnya, dalam hal keuangan, rahasia dan semuanya. Secara singkat: saya berbagi hidup dengan orang tersebut.

YN

Tulisan di blog ini hanya sepersekian dari obrolan kami setiap harinya. Kami itu ngobrolin dari A sampai Z, mulai cerita perkembangan anak, gadget yang baru release, game yang menarik buat dimainkan, masalah di kantor, sampai cerita yang terjadi di belahan bumi lain juga bisa jadi topik obrolan, dan sejauh ini kami selalu punya pandangan yang sama (adakalanya di mulai dengan berbeda pandangan tapi berakhir dengan yang satu ikut yang lain hahaha).

Tulisan terakhir yang saya baca malam ini dan pingin saya bagikan ulang adalah tulisan tentang menikah dan usia. Kalau ini tulisan saya di tahun 2007, waktu itu baru 2 bulan menikah tapi tulisannya masih berlaku sampai sekarang. Bagian yang ini saya kutip sebagai berikut:

Kembali ke para remaja 20 tahunan yang sudah memikirkan menikah, mungkin mereka kebanyakan nonton sinetron yang selalu happy ending, atau mungkin mereka hanya membaca cerita serial cantik ataupun dongeng pengantar tidur di mana ceritanya selalu berakhir bahagia. Apakah mereka pernah membaca tentang “bagaimana mengelola keuangan”, sedangkan mungkin saja mereka selalu mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari orangtua mereka tanpa mencari. Atau.. “peran suami dan istri dalam rumahtangga”, atau..”masalah-masalah yang mungkin timbul dalam keluarga” atau “cara berargumen yang baik”. Semua judul itu fiktif, tapi..setidaknya semua itu sudah harus terpikirkan sebelum menikah (selain masalah bagaimana membesarkan anak dsb).

RN

Untuk bagian ini, tulisannya bisa diedit untuk semua yang sedang mempersiapkan diri untuk menikah, sudahkan Anda mempersiapkan diri untuk mengetahui kalau menikah itu bukan happy endingnya kisah fairy tale. Menikah itu titik awal, jadi belajarlah mengenai judul-judul fiktif yang saya sebutkan diatas, mungkin sekarang sudah banyak buku-buku soal mengelola keuangan rumahtangga, peran suami istri dalam keluarga, masalah yang mungkin timbul dalam pernikahan dan juga cara berargumen dengan pasangan Anda.

Kalau kami dulu sebelum menikah, membaca buku Selamatkan Pernikahan Anda Sebelum Pernikahan Itu Dimulai. Dalam buku itu dibahas berbagai hal termasuk hal-hal yang saya sebut di atas.

Hal yang perlu disadari oleh orang-orang yang akan menikah adalah pesta pernikahan itu bukanlah segalanya, jadi jangan sampai berhutang demi pesta yang terlihat wah. Lebih penting kehidupan setelah pernikahan (marriage) daripada hari pesta pernikahan (wedding) itu sendiri. Jangan karena pesta yang cuma beberapa jam, kehidupan pernikahan jadi serasa seperti neraka.

Sekarang ini persiapan pernikahan lebih banyak memperhatikan foto prewedding, gedung pesta, cetak undangan yang indah dan bulan madu impian. Semua itu membutuhkan biaya!. Kehidupan pernikahan nantinya juga lebih banyak biayanya loh, apalagi kalau sudah punya anak. Jadi jangan sampai memulai kehidupan rumahtangga dengan hutang ataupun langsung mengakhiri hidup karena calon pasangan gak menyanggupi mahar, padahal kan harusnya bisa menunda pernikahan sampai duit cukup, atau ya meyakinkan keluarga kalau mereka itu bukan sedang jual anak maka harus pasang harga.

Tulisan kali ini saya akhiri dengan salah satu kutipan di diktat kuliah, lupa persisnya buku mana dan oleh siapa tapi kira-kira sebagai berikut: Hidup ini adalah kesediaan menerima akibat dari pilihan.

Nostalgia di Sekolah Dasar

Hari ini saya sedang melatih diri untuk mencoba mengingat seberapa ingatan saya sekarang tentang masa kecil saya. Kalau mengingat secara spesifik, rasanya kok sulit, tapi ada beberapa hal yang saya ingat secara random.

Saya gak pernah diberi uang jajan dari kecil. Waktu SD kelas 1, lokasi sekolah itu dekat dari rumah jadi saya bisa jalan kaki. Orang tua saya gak pernah memberi saya uang jajan. Saya juga ga punya kebiasaan jajan. Ada sih warung-warung di depan sekolah, ada juga yang jual mainan, tapi saya tidak pernah punya keinginan untuk membeli apa-apa.

Nah tapi seperti pernah saya tulis sebelumnya, waktu SD kelas 1, tanpa saya mengerti beberapa teman menyerahkan uang jajannya 100 rupiah sehari ke saya karena mereka menyontek PR dari saya. Saya sudah gak ingat lagi PR jaman SD itu kayak apa ya? rasanya saya gak pernah juga berlama-lama ngerjain PR. Biasanya bahkan pulang sekolah saya tinggal main-main saja. Uang yang diberi teman saya itu ya saya kumpulin aja. Kalau sudah banyak saya tukar dengan lembaran uang 1000-an ke mama saya. Uangnya saya kumpulkan di dompet di rumah.

Setelah kelas 3 SD, saya diberikan ongkos becak atau bemo untuk sekolah karena kami pindah rumah agak jauh dari sekolah. Saya ingat kelas 3 SD itu saya masuk sekolah jam 1 siang sampai jam 5 siang. Iya saya sekolahnya SD Negeri Inpres yang bangkunya gak cukup untuk semua kelas masuk bersamaan. Jadi kelas 1 itu masuk sekolah jam 10 – 12, kelas 2 masuk jam 7.45 – 12, kelas 3 – 5 masuk siang jam 1- 5, lalu kelas 6 SD masuk pagi lagi.

Kelas tertentu saya bisa sharing becak dengan kakak saya, sisanya ya saya kadang jalan kaki setengah jalan supaya bayar angkotnya lebih murah dan sisanya saya kantongi. Ada kalanya juga saya naik sepeda ke sekolah. Saya gak ingat umur berapa saya bisa mahir naik sepeda, tapi saya ingat sering naik sepeda itu kelas 4 atau 5 SD.

Saya ingat, kadang-kadang ada les tambahan dari gurunya untuk acara sekolah, misalnya menari atau les tambahan ketika kelas 6 SD. Les tambahan ini wajib. Jadi sekolah pagi sampai jam 1, semua disuruh pulang dulu lalu datang lagi jam 3- 5. Saya ingat kadang-kadang saya bermain sepeda cukup jauh juga dengan teman-teman saya sepulang dari les tambahan. Tapi kalau sekarang ditanya daerah mana dulu sepedaanya, saya gak ingat lagi hehehe.

Ada memor yang juga saya ingat banget, waktu itu datang dokter untuk vaksinasi gratis. Saya yang sebenarnya takut bilang ke guru kalau menurut orangtua saya, saya sudah dapat imunisasi lengkap, jadi saya gak perlu lagi disuntik. Ada beberapa teman yang juga gak ikut imunisasi lagi, dan kami mengetawai teman-teman yang nangis ketika disuntik (padahal sendirinya kabur hahahha).

Memori paling berkesan waktu kelas 6 SD itu ketika saya masuk TV untuk acara cerdas cermat, walaupun kami kalah dan cuma dapat juara 3. Nah tapi hadiahnya dipakai sama kepala sekolahnya dan gak dikasihin ke kami huhuhuhu. Saya ingat banget kalau saya ajak 2 teman saya yang ikutan tim cerdas cermat untuk menghadap kepala sekolah meminta hadiah yang diberikan, tapi ya waktu itu saya belum bisa menang argumen lawan kepala sekolah hehehehe.

Gimana dengan teman-teman masa SD, masih ada yang ingat? Yang saya ingat paling teman yang masuk ke SMP yang sama. Teman yang ikut cerdas cermat bahkan sampai SMA masih ketemu lagi walau cuma 1 orang yang sekelas sama saya. Sekarang masih kontak? masih sama 1 orang, yang 1 lagi nggak tau kabarnya. Ada beberapa nama teman-teman SD yang masih saya ingat, tapi waktu saya coba cari di FB saya tidak menemukannya.

Salah satu hal yang juga lucu kalau diingat, waktu SD itu pertemanan bisa dari deket banget lalu jadi musuhan (eskete), terus nanti baikan lagi dan jadi deket banget lagi. Penyebab musuhannya apa? saya ga ingat lagi. Namanya juga anak-anak ya, hal-hal kecil aja bisa bikin ribut.

Setelah menulis beberapa kenangan SD ini, ada banyak kenangan lain muncul di kepala, misalnya kenangan masak air sampai gosong di ruang guru, berantem sama temen 1 kelompok karena masalah pinjam tip-ex, jadi mata-mata di kelas yang suka disuruh guru mencatat siapa yang ribut ketika guru perlu keluar ruangan sebentar. Di suruh membantu ibu guru nulis di papan tulis (padahal tulisan saya gak bagus-bagus amat). Bikin guru berantem karena saya sebel dijadiin kurir bolak balik buat menyampaikan pesan mereka ke guru lain (ini sebenarnya dasar aja gurunya hubungannya udah ga bagus, terus ngapain juga saya harus mondar mandir menyampaikan pesan dengan awalan: kata bu A bla bla bla).

Ternyata memori itu bekerjanya butuh dipancing ya, kalau udah ingat 1 hal, bisa jadi kemana-mana hahahhaa. Sepertinya tulisan random ini harus diakhiri sebelum tambah random lagi :). Menyenangkan juga mengingat-ingat masa kecil, siapa tau nanti ada teman SDN 060855 nyasar ke blog ini dan ingat saya hehehe.

Sekolah Ideal?

Tahun ajaran baru di Thailand untuk sekolah dengan kurikulum Thai baru saja dimulai minggu ini. Sedangkan untuk sekolah Internasional, tahun ajaran baru akan dimulai nanti sekitar akhir Juli atau awal Agustus. Di kalangan teman-teman saya di Indonesia juga sepertinya mulai sibuk dengan pendaftaran tahun ajaran baru. Ada yang anaknya lulus SD dan akan masuk SMP. Ponakan saya juga ada yang akan masuk SMP dan SMA. Melihat obrolan mengenai pencarian sekolah membuat saya berpikir sendiri dengan berbagai pendapat tentang sistem sekolah.

Sebenarnya apa sih yang dicari orangtua dari sebuah sekolah? kenapa sebuah sekolah bisa lebih populer daripada sekolah yang lain? Kenapa sekolah ada yang mahal dan ada yang mahal banget? Kenapa sekarang ini ada kecenderungan memasukkan anak sekolah swasta walau untuk cari biayanya orangtua harus banting tulang mencari duitnya? Di Chiang Mai sini misalnya, kenapa ada banyak sekali sekolah Internasional, bilingual dan sekolah swasta? Memang ada banyak expat tinggal di sini, tapi siswa sekolah Internasional bukan hanya anak-anak expat, anak Thai juga banyak, dan sekolah Internasionalnya menurut saya terlalu banyak hehehe.

Sebagai orangtua yang pernah galau mencari sekolah, ada beberapa hal yang dipertimbangkan sebelum mendaftarkan anak ke sebuah sekolah. Berikut ini merupakan opini saya dan sedikit komentar dengan keadaan sekolah yang saya amati di sini maupun seandainya kami tinggal di Indonesia.

Sekolah itu idealnya:

  • Tidak jauh dari rumah: dengan begini anak bisa dilatih untuk pergi dan pulang sendiri kalau sudah agak besar. Saya ingat dari kelas 1 SD saya jalan kaki sendiri ke sekolah. Jalannya tidak melewati jalan besar, jadi orangtua saya tidak perlu kuatir. Kelas 3 SD, kami pindah rumah, saya harus naik bemo atau becak. Saya sudah bisa antar adik saya naik bemo ke sekolah karena walaupun agak jauh tapi tidak terlalu jauh juga. Ketika SMP, sekolahnya agak lebih jauh dari SD saya, tapi saya bisa naik angkutan sendiri dan pernah juga naik sepeda ke sekolah. Saya ingat, kadang-kadang saya jalan kaki untuk menghemat ongkos, dan jatah ongkosnya jadi uang jajan hehehe.
  • Uang sekolah tidak mahal: saya dan kakak saya semua sekolah di sekolah negeri dari SD, SMP, SMA. Orangtua saya bukan orang kaya yang banyak pilihan untuk menyekolahkan kami di sekolah swasta. Uang sekolah negeri pastinya lebih murah daripada sekolah swasta. Sekarang ini kabarnya sekolah negeri infrastrukturnya tidak seragam, jadi banyak juga orang yang memilih sekolah negeri yang “populer”. Di Thailand sini, saya kurang tahu mengenai sekolah negeri, tapi sekolah swastanya juga ada banyak tingkatan, mulai dari yang biasa saja sampai yang mahal banget. Karena kami bukan orang lokal, kami mencari sekolah yang punya kurikulum dalam bahasa Inggris, pilihannya hanya ada di sekolah Internasional. Sekolah internasional pilihannya ya mahal atau mahal banget.
  • kualitas pendidikannya bagus, kurikulum dan guru-gurunya tidak sering berganti-ganti: untuk hal ini biasanya diketahui dari kualitas alumni sekolah tersebut. Kalau di sini misalnya, ada teman saya yang ingin sekali anaknya masuk sekolah dasar tertentu karena dia ingin anaknya jadi dokter, dan lulusan sekolah yang dia inginkan itu banyak yang sukses termasuk jadi dokter. Sekolah menjadi populer dan dianggap bagus karena lulusannya melanjutkan ke sekolah populer berikutnya.
  • pekerjaan rumah tidak banyak: ini sih beda-beda ya tiap orang tua, tapi kalau saya sih pengennya anak itu gak usah bawa pulang kerjaan sekolah, biar di rumah bisa main aja yang banyak, apalagi misalnya kayak di sini jam sekolahnya aja udah dari pagi sampe sore, kalau pulang ada PR untuk tiap pelajaran, kasian anaknya.
  • kegiatan ekstrakurikuler: ini juga tergantung orangtuanya, banyak orangtua yang mendaftarkan anaknya berbagai kegiatan sepulang dari sekolah ataupun di akhir pekan. Rasanya kalau kami tidak homeschool, saya harapkan Jonathan belajar art, bahasa Thai, music, pendidikan jasmani semuanya cukup di sekolah saja dan bisa memilih 1 kegiatan saja di akhir minggu. Dulu waktu saya SMP, saya ingat saya cuma ikut kursus bahasa Inggris 3 kali seminggu, itupun kursusnya dekat rumah. Waktu SD saya gak ikut kursus apapun, SMA saya ikut bimbingan belajar setelah kelas 3 SMA dan sebelumnya gak ikut kursus apapun.
  • beban akademis yang seimbang: untuk anak usia TK ya diberi beban anak TK, jangan terlalu banyak akademis. Anak TK itu sepatutnya ya banyakan bermainnya daripada duduk mengerjakan workbook. Untuk anak SD, diajari mulai dari membaca sampai ketika lulus SD mulai bisa berpikir menyelesaikan permasalahan. Untuk anak SMP ya mulai lebih meningkat beban akademisnya, tapi bukan berarti pekerjaan rumah seabrek-abrek. SMA saya ingat semakin banyak beban akademis, apalagi sudah menjelang ujian memasuki perguruan tinggi. Tapi itupun karena anak sudah semakin dewasa, mereka sudah makin mengerti prioritas antara belajar atau berorganisasi.
  • lingkungan teman-temannya yang baik-baik: anak-anak itu terbentuk bukan hanya di rumah, tapi juga dari lingkungan sekolah. Banyak cerita anak tidak mau sekolah karena dinakalin teman atau sering berantem di sekolah, tapi ya saya sendiri ingat waktu SD saya pernah dicakar oleh teman saya karena awalnya perang mulut saat dia menyebut nama bapak saya dengan tidak sopan. Saya tidak tahu kondisi saat ini, tapi dulu itu salah satu cara memancing kerusuhan adalah mencari tahu nama bapak orang lain, lalu diucapkan dengan tidak hormat (entah siapa yang memulai seperti ini).

Nah, kalau untuk kami, sekarang ini tahapannya anak kami 1 di usia sekolah dasar dan 1 bahkan belum perlu untuk mulai masuk TK. Setelah melakukan pencarian sekolah di sini, karena tidak menemukan yang ideal akhirnya pilihan kepada homeschooling. Apakah homeschooling paling ideal? untuk saat ini ya begitulah.

Lalu, setelah menemukan sekolah yang ideal, apakah ada jaminan anak akan jadi sukses? Kalau menurut saya, ini semua kembali ke anaknya juga. Sekolah yang ideal tidak menjamin apapun. Sekolah ideal ini hanyalah harapan semata. Dalam kenyataanya, tidak semua orang bisa mendapatkan kondisi ideal. Banyak juga yang akhirnya harus bersekolah di sekolah yang jauh dari rumah, atau pekerjaan rumah yang banyak ataupun ketemu teman yang kurang baik. Tapi ya orangtua selalu berharap menemukan yang ideal, dengan harapan kalau sekolahnya bagus, gak mahal, dekat dari rumah, nantinya anaknya bisa berhasil di kemudian hari. Semua orangtua pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Plus Minus selama Tinggal di Chiang Mai (12 tahun)

Tanggal 4 Mei 12 tahun yang lalu, saya dan Joe untuk pertama kalinya sampai di Chiang Mai. Kota terbesar di utara Thailand yang memiliki 3 musim dan pernah menjadi tempat berlangsungnya acara Sea Games di tahun 1995. Karena setiap tahun akhirnya menuliskan hal yang serupa, kali ini saya akan coba menuliskannya dalam format yang agak berbeda. Saya akan mencoba menuliskan plus minus atau suka duka selama 12 tahun di sini.

Mari kita mulai dengan hal-hal yang menyenangkan alias plus nya tinggal di sini:

  • Makanannya enak-enak dan mirip dengan masakan Indonesia, harganya dulu sih sama dengan Indonesia, sekarang terasa lebih murah karena pas pulang ke Indonesia kalau makan di luar berasa lebih mahal.
  • Kemana-mana dekat, ke mall bisa cuma beberapa jam saja dan gak pake macet di jalan.
  • Banyak tempat buat anak-anak main yang gratisan dan kalau bayar juga gak terlalu mahal
  • Banyak komunitas orang asingnya yang sangat membantu terutama ketika masa baru awal sampai dan juga waktu baru punya anak
  • Ada komunitas homeschooling berbahasa Inggris ataupun Thai, tinggal pilih saja
  • Internet kencang dan terjangkau harganya
  • Orang yang merokok relatif sedikit, minimal di tempat umum jarang deh berasa asap rokok.
  • Ada musim dingin yang adem dan menyenangkan buat jalan-jalan dengan keluarga
  • Nilai tukar baht cukup stabil terhadap dollar, selama 12 tahun tidak ada kenaikan harga yang terasa banget.
  • Datang berdua sekarang sudah berempat :D, pengalaman hamil dan melahirkan di Chiang Mai, dokter dan rumahsakitnya cukup bagus dan mendukung untung memberikan ASI eksklusif. Suster di rumah sakitnya juga ramah dan baik hati semua walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas tapi hatinya tulus membantu.
  • Dokter gigi di sini bisa ga pake nunggu lama, jadi bisa bikin janji dan datang sesuai dengan jam yang dijanjikan.
  • Banyak dokter di sini bisa berbahasa Inggris, jadi untuk berbagai masalah kesehatan gak usah jadi frustasi karena bingung bahasa, beberapa rumah sakit malah menyiapkan jasa translator untuk pasien dari negara yang tidak berbahasa Inggris.
  • Orang Thai baik hati dan ramah
  • Buah-buahannya enak kalau lagi musim berbuah harganya juga murah
  • Merasa lebih aman daripada di Indonesia, kalaupun kelupaan kunci pintu gak usah kuatir bakal ada maling.
  • Jarang ada pemadaman listrik, kalaupun ada selalu ada pemberitahuan terlebih dahulu. Atau kalaupun terjadi karena hujan badai, paling lama pernah pemadaman itu sekitar 2 jam.
  • Bahasanya strukturnya mirip bahasa Indonesia, jadi lebih mudah mempelajarinya (yang sedikit susah belajar naik turun suaranya aja).

Pantesan aja betah ya tinggal di sini, soalnya banyak plusnya. Nah tapi sebenarnya mana ada sih tempat yang benar-benar sempurna. Pasti adalah kurang-kurangnya dikit, asal gak lebih banyak dari plusnya aja ya.

Berikut ini hal-hal yang bikin tinggal di Chiang Mai jadi kurang nyaman:

  • Ada musim polusi selama bulan Maret sampai pertengahan April. Polusi udara ini benar-benar hal paling gak enak dari kota ini, tapi ya masih bisa diakalin sih dengan filter udara dan mempersedikit pergi selama sebulan dalam setahun. Tahun ini polusinya agak lebih parah dan bertahan sampai awal Mei.
  • Musim panasnya lumayan dashyat, bisa sampai 44 derajat celcius, panas gabung ama polusi bikin malas keluar rumah. Kalau di rumah minimal bisa ngadem pake AC dan pasang filter udara.
  • Belum ada direct flight ke Indonesia, jadi untuk perjalan mudik butuh 1 hari pergi dan 1 hari pulang karena selalu ada transit dulu beberapa jam.
  • Harus ke imigrasi urus visa tinggal tiap tahun, dan lapor diri setiap 90 hari kalau gak keluar dari Thailand. Sekarang sebenarnya hal ini udah mulai gak jadi masalah, karena urusan imigrasi sudah semakin cepat prosesnya dibandingkan 12 tahun lalu.
  • Angkutan umumnya terbatas dan belum cover semua rute, jadi punya kenderaan pribadi itu wajib untuk kemudahan kemana-mana. Sekarang ini angkutan umum sudah lebih banyak daripada 12 tahun lalu, tapi ya tentunya lebih cepat bepergian kalau punya transportasi sendiri, apalagi kalau bawa anak kecil.
  • Gak bisa beli tanah/rumah sebagai orang asing di Thailand (banyak kok pilihan rumah kontrakan dengan range harga terjangkau).
  • Gak ada yang jual indomie kari ayam dan ceres (ini sih emang harus nyetok hahaha).

Udah itu aja, gak nemu lagi apa minusnya tinggal di sini. Semua minusnya juga masih bisa ditolerir makanya masih betah sampai sekarang di sini hehehe.

Pertanyaan yang selalu saya tanyakan setiap tahun: mau sampai kapan di Chiang Mai? Selama masih memungkinkan, masih betah di sini. Gimana dengan kemajuan pelajaran bahasa Thai? Udahlah, udah bisa ngobrol dan baca secukupnya hehehhe. Masih pengen bisa berbahasa Thai yang fasih seperti berbicara, membaca dan menulis bahasa Indonesia sih, tapi ya belum ada kebutuhan untuk benar-benar fasih berbahasa Thailand, jadilah kemampuan berbahasa Thai nya jalan di tempat. Tetap optimis semoga tahun berikutnya bisa lebih fasih lagi baca tulis dan ngobrol bahasa Thai nya biar makin betah di sini hehehhe.

Kenapa Masih Ngeblog

Alkisah, sekitar bulan Oktober di tahun 2000 saya mulai jadi blogger. Postingnya menggunakan blogspot.com. Sekitar tahun 2004, Joe ngajakin ngeblog bareng aja, biar dia yang urusin hosting, template dan lain sebagainya. Saya pikir lumayan ya saya ga usah mikirin hal-hal teknis, kalau mau nulis ya nulis aja. Eh tapi, ternyata karena ga harus “ngurusin” blog, beberapa tahun malahan saya jadi malas nulis dan sempat diingetin Joe buat mulailah menulis lagi.

Kenapa saya bisa tahu persis kapan saya mulai ngeblog? karena walaupun blog lama itu sudah ditutup, arsipnya masih ada dan bisa saya lihat. Tulisan saya dulu sangat personal dan emosional hahahah. Contoh tulisan personal dan gak penting adalah: dari membaca arsip blog lama, saya bisa tahu kapan saya beli hp siemens kuning m35. Isi postingnya juga ya cuma beberapa baris, seperti status facebook saja hehee. Gak penting banget ya.

Setahun terakhir ini, saya kembali rajin ngeblog. Awalnya, memaksakan diri dengan ikutan grup yang memberikan tantangan minimum 1 posting 1 minggu. Menulis blog itu sebenarnya gampang, gak ada aturan baku, apalagi kalau blog pribadi. Tapi menulis di media yang kita gak tahu siapa saja yang membaca, kita perlu memperhatikan jangan sampai tulisan kita menjadi boomerang ataupun terlalu banyak memberikan informasi yang tidak seharusnya jadi konsumsi umum.

Pernah ada pernyataan soal blog itu hanya trend sesaat. Setelah kemarin blogwalking di blog saya sendiri dan menemukan hampir semua teman ngeblog dulu sudah gak ngeblog lagi, saya pikir ada benarnya kegiatan ngeblog itu trend sesaat, sekarang ini sudah digantikan dengan kegiatan posting ke sosial media yang juga trendnya berganti-ganti. Tapi blog itu sendiri (sebagai media) bukan trend sesaat, masih banyak blog menarik hingga saat ini. Sekarang ini saya menemukan ada banyak sekali blogger yang aktif mengajak menulis/kegiatan literasi.

Banyak blogger yang sangat serius, serius hanya menulis topik tertentu dengan tata bahasa yang benar. Serius membangun imagenya di kalangan penulis, dan banyak juga blogger yang akhirnya jadi penulis buku . Penulis buku juga banyak yang tetap ngeblog sebagai sarana untuk mempromosikan bukunya. Akhirnya ngeblog ini gak jauh-jauh dari dunia literasi.

Dalam 15 tahun ngeblog bareng, kami juga punya beberapa blog yang kami coba pisahkan untuk membahas topik tertentu. Semua tulisan kami itu ada yang masih tetap dipublish, walaupun blognya sudah tidak di update lagi. Saya punya 2 blog lain yang sepertinya tidak akan di update lagi, tapi isinya masih berguna jadi dibiarkan saja gak ditutup.

Waktu anak-anak lahir, Joe juga bikinkan blog masing-masing, tapi akhirnya kami kurang rajin untuk mengupdatenya (selain kadang ada rasa kuatir kalau terlalu banyak upload foto anak atau cerita soal anak, nanti ada yang salah gunakan foto-fotonya dan atau jadi melanggar privasi anak).

Sekarang ini kami memutuskan untuk lebih banyak mengisi blog ini saja. Joe masih akan menulis hal-hal super teknis di blog nya yang lain, dan hal-hal agak teknis di sini. Saya masih akan menulis berbagai topik random yang belakangan ini mulai terkategori antara kehidupan di Chiang Mai, bahasa Thai, kdrama, homeschooling, dan seputar anak-anak. Joe juga masih akan menuliskan hal-hal non teknis di sini. Topik non teknis yang ditulis dengan style orang teknis contohnya ini nih: susahnya jadi hantu cewek film Jepang. Terus, ada yang tahu gak kalau tulisan Jadilah Bintang ini bukan tulisan saya.

Ada banyak cerita tentang blog ini, kepikiran 15 tahun ini nulis apa ja sih? banyak topik yang sama ditulis berulang kali. Banyak juga hal yang sekedar opini dituliskan dan waktu saya baca lagi, opini saya belum berubah dan bahkan hampir menuliskan hal yang sama lagi. Kadang-kadang karena tidak ada topik khusus, saya malah kesulitan mencari ide tulisan. Ada hari-hari di mana saya punya banyak hal yang pengen saya tuliskan, tapi tidak ada waktu, ada juga hari-hari di mana saya punya banyak waktu tapi gak punya ide tulisan.

Sebelum menuliskan tulisan ini, saya iseng membaca-baca random tulisan kami yang lama. Membaca juga komentar-komentar yang mungkin dulu kelewat gak pernah saya baca. Saya baru ingat pernah menulis protes soal persepsi mengenai cerita romantis, dan ternyata banyak komentar yang saya belum baca.

Dari tulisan di blog ini, kami juga sering mendapatkan beberapa pertanyaan dari orang-orang non batak yang akan menikah dengan orang batak. Tapi karena kasus tiap orang beda, kami mana bisa sih kasih patokan soal nikah aja atau jangan nikah hehehe.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih belum aktif menulis lagi, kami bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Chiang Mai. Waktu bertemu dia bilang gini: mbak, mas, nulisnya sering-sering dong, saya senang pas ketemu blognya jadi lebih kebayang Chiang Mai itu seperti apa.

Seberapa randomnya tulisan kami, senang kalau ada yang mendapatkan informasi atau sekedar perspektif baru. Semoga tahun ini bisa tetap konsisten menulis setiap hari dan bisa semakin banyak berbagi cerita, opini dan pandangan dalam hidup ini.

Bisa bahasa pemrograman apa?

Sering ada yang bertanya ke saya: pak, bisa bahasa pemrograman apa aja sih? Biasanya hanya saya jawab: banyak (karena memang banyak). Tapi di posting ini saya ingin cerita lebih lengkap tentang bahasa-bahasa yang pernah saya pakai. Karena sudah lebih dari 25 tahun sejak saya belajar bahasa pemrograman pertama sudah banyak yang saya coba.

Sumber: TIOBE Index

Saya pertama kali belajar sendiri bahasa BASIC di IBM PC dan juga di Apple II/e ketika masih SMP. Karena belajar sendiri jadinya kurang terstruktur, tapi BASIC sangat berkesan buat saya. Saya sekarang tetap ingat bagaimana memprogram dalam BASIC (dan sempat mengajari juga dasar-dasarnya ke Jonathan). Saya bahkan sempat membeli AppGameKit, sebuah tool untuk membuat game dengan bahasa BASIC modern

Program iseng dalam BASIC/App Game Kit yang hampir seribu baris

Ketika SMU, saya belajar Pascal juga ototidak (contoh berbagai program hasil otodidak bisa dilihat di posting ini). Waktu kuliah di ITB, bahasa Pascal juga diajarkan jadi saya lebih paham lagi, termasuk juga untuk membuat berbagai struktur data. Saya sempat belajar Visual Basic, dan sempat membuat beberapa aplikasi tapi ketika kenal Delphi, ini jadi bahasa favorit saya karena bahasanya memang sangat dekat dengan Pascal tapi visual.

Bahasa yang masih saya pakai sehari-hari sampai saat ini adalah C dan juga C++. Beberapa contoh aplikasi yang saya buat: Alkitab untuk OS Symbian dan Blackberry 10. Beberapa karya saya dalam C bisa dilihat di Github. Saya merasa cukup paham C, karena bisa membayangkan translasinya ke assembly. Walaupun sudah memakai C++, saya sering merasa ada hal-hal mengejutkan yang saya temui.

Pengetahuan saya mengenai bahasa R sangat terbatas. Saya mengenal bahasa ini hanya karena pernah membimbing anak buah di kantor untuk integrasi C++ dengan R. Jadi saya sekedar bisa membaca dan membuat skrip kecil sekedar testing integrasi, tapi tidak pernah menulis skrip besar dalam R.

Di kampus dulu kami juga diajari Lisp, ini masih saya pakai untuk konfigurasi editor Emacs. Di kampus juga diperkenalkan bahasa Prolog dan Fortran, tapi keduanyatidak pernah saya pakai lagi sejak lulus. Walau tidak memprogram dalam Fortran, ada beberapa library Fortran yang dipakai di kode C++, jadi secara tidak langsung pengetahuan Fortran masih berguna.

Bahasa pemrograman untuk web yang pertama kali saya pelajari adalah Perl. Tentunya Perl ini tidak hanya untuk memprogram web, tapi bisa dipakai untuk membuat berbagai aplikasi command line. Saya pernah menulis seri artikel belajar Perl dulu di majalah Master Web.

Sekarang saya tidak pernah lagi memprogram dalam Perl dan lebih sering memakai Python untuk berbagai skrip yang saya tulis. Berbagai aplikasi web kecil untuk keperluan internal kantor juga saya buat dalam Python. Ketika belajar Machine Learning, ada lebih banyak library dalam Python.

Dalam pelajaran Machine Learning dari Coursera, MATLAB juga dipakai (tepatnya saya memakai Octave, software open source yang cukup kompatibel dengan MATLAB). Dari dulu saya sering membantu berbagai program kecil MATLAB teman-teman di ITB, tapi tidak pernah benar-benar mendalami bahasanya.

Di kampus dulu saya sempat bekerja di ITB untuk mengolah data ITB. Untuk konektivitas hardware (Scanner dan Printer) bahasa yang dipakai adalah Java. Java merupakan bahasa dinamik yang saya pahami sampai internalnya (level byte codenya). Saya juga cukup hapal semua API dasarnya (maklum dulu belum ada Stack Overflow jadi baca dokumentasi JDK hampir tiap hari sampai hapal). Sampai sekarang saya masih cukup fasih memakai Java karena masih sering berhadapan dengan ini. Di jaman Blackberry saya juga membuat berbagai aplikasi dalam Java.

Meskipun sudah belajar dasar-dasar Kotlin, tapi saya belum merasa mahir memakai ini. Di kepala saya, saya bisa membayangkan tiap kode Java akan seperti apa bytecodenya, tapi untuk Kotlin saya tidak selalu bisa memetakan hal tersebut. Padahal Kotlin ini seharusnya kompatibel dengan Java, tapi karena belum paham internalnya, saya merasa kurang nyaman.

Groovy adalah bahasa lain yang masih berhubungan dengan Java. Saya hanya mengenal ini karena ini dipakai oleh Gradle. Sejauh ini saya merasa kurang nyaman dengan Syntax ekstranya dan lebih memilih Java saja jika memang menargetkan JVM.

Di tahun 2000an PHP mulai sangat populer dan beberapa aplikasi mulai dibuatkan versi webnya. Ketika saya bekerja di kampus, PHP juga dipakai untuk menampilkan berbagai data ke publik. Saya mulai memakai PHP sejak versi 3. Pengetahuan PHP ini juga sangat berguna untuk pentesting.

Saya belajar Javascript sejak jaman awal memakai web dulu. Dulu saya hanya membuat skrip-skrip kecil untuk menambah interaktivitas web. Saya sempat meninggalkan bahasa ini, tapi sejak ES6 mulai mengikuti lagi. Saya sempat mendalami JS ketika membuatkan sebuah aplikasi berbasis AngularJS untuk organisasi teman yang butuh aplikasi mendadak. Sampai saat ini saya tidak pernah membuat aplikasi serius di sisi server dengan nodejs (menurut saya PHP atau Python lebih praktis untuk kebanyakan aplikasi sisi server). Saat ini yang Javascript saya pakai untuk membuat browser extension untuk dipakai sendiri.

Saya kenal bahasa Ruby dan bisa memakainya. Saya bahkan pernah menyelesaikan CTF yang memakai bytecode Ruby. Tapi saya tidak pernah mahir dalam Ruby karena sejujurnya: saya tidak pernah menemukan kasus di mana saya memilih Ruby. Untuk website saya lebih suka memakai Python (Django atau Flask tergantung sebesar apa webnya), sedangkan untuk berbagai scripting ada lebih banyak library Python yang tersedia. Secara umum Python juga lebih cepat.

Saya belajar bahasa Lua ketika memprogram dengan game framework Marmalade. Dulu saya bisa dapat gratis gamepad dari Blackberry jika mengirimkan game dengan framework tersebut. Ketika memakai ESP8266 saya juga kadang memilih Lua untuk berbagai aplikasi sederhana.

Selagi membuat game untuk Jonathan dulu saya sangat tertarik dengan bahasa Haxe. Saya suka dengan bahasa ini karena cukup dekat dengan ActionScript 3 (saya hanya tahu AS3 ini, tapi tidak bisa Action Script 2). Haxe bisa dikompilasi menjadi kode C++, ActionScript 3, Javascript dsb.

Saat ini saya memahami beberapa bahasa assembly untuk beberapa platform: x86 (16 bit sampai 64 bit), ARM (thumb, ARM32, dan ARM64), MIPS (MIPS32), AVR, dan 6502. Saya kenal berbagai bahasa ini dalam rentang waktu lama. Contohnya: saya belajar assembly x86 16 bit di jaman DOS. Saya belajar ARM sejak memakai Symbian (dan tahun lalu menang CTF dengan hadiah ke Hongkong karena skill ini). Saya belajar AVR sejak belajar Arduino (terpakai untuk RHME sampai dapat training ke Belanda), belajar MIPS ketika memakai router dengan prosessor MIPS dan belajar 6502 karena tertarik dengan game lama.

Saya sempat tertarik juga memprogram dalam bahasa Forth (pernah saya tuliskan di sini), tapi tidak ketemu akan diaplikasikan di mana. Sekarang berbagai board murah (misalnya ESP8266 dan ESP32) bisa diprogram dengan C/C++ dan hasilnya sudah sangat cepat sedangkan jika butuh eksplorasi Javascript, Micropython dan Lua juga tersedia.

Untuk shell scripting, saya hanya fasih menggunakan bash. Shell lain juga bisa tapi saya sering kali harus membaca dulu manual pagenya. Biasanya saya mengkombinasikan bash shell ini dengan GNU Awk. Di Windows saya bisa memakai batch file (batch versi Windows saat ini hanya berbeda sedikit dari jaman DOS dulu). Saya mengerti Powershell dan ketika mengikuti Flare on ada beberapa persoalan membongkar skrip Powershell, tapi saya kurang mahir memakai ini.

Meskipun sudah banyak membaca mengenai Go, tapi saya belum pernah membuat program serius. Jika sekedar ingin membuat skrip kecil, Python masih lebih enak (contoh: membaca file per baris di Go lebih ribet daripada di Python), sedangkan jika butuh performance lebih tinggi: C++ masih lebih bagus dan sekarang dengan C++11 ke atas, syntax C++jadi semakin mudah dibaca. Go sepertinya lebih cocok jika butuh sesuatu yang konkuren, tapi tergantung jenis konkurensi yang diinginkan, ini pun bisa dilakukan dengan mudah di C++ (threading sudah jadi standar di C++11).

Dalam Index TIOBE, SQL termasuk dalam bahasa pemrograman. Saya paham SQL standar, dan saya juga tahu dialek Mysql, SQLite dan PostgresSQL. Untuk DBMS lain seperti MS SQL dan Oracle, saya belum pernah menulis sendiri Stored Procedure (walau sering membaca topik ini karena masalah SQL Injection).

Dalam dunia .NET saya hanya paham C#. Saya juga bisa membaca Visual Basic .NET karena sangat dekat syntaxnya dengan C# tapi saya akan kesulitan jika harus menulis kode baru dengan Visual Basic .NET. Pengetahuan saya mengenai C# dan teknologi .NET secara umum tidak sedalam pengetahuan saya mengenai Java.

Meskipun belum pernah membuat aplikasi besar, saya cukup mengenal Objective C. Ini saya pelajari dulu waktu beli iBook pertama yang masih memakai Power PC. Saya sempat belajar Swift versi pertama, tapi kemudian Apple beberapa kali mengubah bahasanya, dan sampai sekarang saya belum berusaha mengikuti lagi.

Sekarang bahasa yang berusaha saya dalami adalah Rust. Dulu saya mengikuti bahasa ini, tapi kemudian ada beberapa perubahan dan kemudian saya menunggu lagi sampai bahasanya stabil. Sekarang ini sepertinya sudah cukup stabil, walau masih ada beberapa fitur yang masih akan diperkenalkan untuk mempermudah pemakaian bahasa ini.

Rust ini didengungkan sebagai bahasa yang type safe, dan ini mengingatkan saya pada Ada yang dulu diajarkan di kuliah. Saya melupakan bahasa Ada ini cukup lama sampai Bos menyebutkan bahwa ada rekannya di Jerman yang mulai memakai lagi Ada, setelah itu saya sempat melihat-lihat lagi. Andaikan ada cukup banyak library untuk Ada, sepertinya saya ingin lagi mencoba membuat program dalam Ada.

Untuk mengajari Jonathan saya jadi belajar Scratch (bahasa visual untuk anak anak). Selain itu saya jadi belajar bahasa pemrograman Logo karena Jonathan membaca seri buku Secret Coders.

Meskipun saya sudah belajar banyak bahasa dan memakai di aplikasi nyata, ada banyak bahasa lain yang saya mulai tapi tidak saya teruskan.

  • Bahasa D: keuntungannya dibandingkan C tidak terlalu banyak, IDE yang support bahasa ini juga sedikit
  • Erlang dan Elixir: sebenarnya ini menarik dan sempat tertarik karena dipakai oleh ejabberd dan RabbitMQ, tapi saya tidak menemukan kasus (untuk saya pribadi) di mana bahasa ini cocok
  • Haskell: ini menarik, tapi menurut saya kurang praktis
  • COBOL: sempat baca-baca dan coba-coba karena kenal dengan developer di bank yang sedang belajar ini. Tujuannya teman saya itu mau menggantikan seniornya, sedangkan saya hanya iseng jadi tidak diteruskan
  • Dart: tadinya tertarik, tapi pemakaiannya terbatas. Sekarang dengan adanya flutter saya jadi ingin coba lagi
  • Scala: bahasanya ribet banget

Lalu ada bahasa-bahasa yang belum pernah saya sentuh sama sekali misalnya: SAS, LabView, Ladder Logic, dsb. Ini biasanya memang hanya untuk dipakai di tempat tertentu saja dan kebetulan saya belum pernah butuh itu.

Penutup

Perlu ditekankan bahwa sejak belajar bahasa pertama (BASIC) hingga saat ini sudah lebih dari 25 tahun. Sepertinya saat ini saya tahu kurang dari 25 bahasa, dan hanya benar-benar menguasai sekitar 10 saja (dalam arti cukup percaya diri untuk membuat produk dalam bahasa tersebut).

Rata-rata saya butuh waktu beberapa tahun memakai satu bahasa sampai merasa nyaman dengan bahasa itu. Jadi jangan merasa harus belajar banyak bahasa sekaligus dalam waktu singkat. Saya dulu mempelajari tiap bahasa ini biasanya diawali oleh suatu alasan:

  • Minat sendiri: waktu belajar BASIC dan Pascal
  • Memang wajib di kuliah: Prolog, Fortran, Lisp
  • Diperlukan dalam pekerjaan: waktu belajar PHP dan Java
  • Coba-coba tren: Ruby (karena Ruby On Rails)

Biasanya jika ada tujuan khusus membuat sesuatu maka saya lebih cepat bisa menguasai bahasa itu. Jika tidak ada tujuan khusus, maka saya sekedar tahu, lalu lupa lagi.

Jika sudah memiliki dasar yang kuat di satu bahasa, beberapa bahasa lain akan mudah dipelajari. Contoh: secara konsep C# dan Visual Basic .NET tidak jauh berbeda hanya Syntaxnya yang beda. Jika sudah memiliki dasar Java, beberapa bahasa lain turunannya seperti Kotlin dan Groovy mudah dipelajari. Bahasa dengan paradigma fungsional memang sangat bebeda dengan bahasa prosedural, tapi jika sudah menguasai salah satunya, mempelajari yang lain juga tidak sulit.

Saya menuliskan ini jadi bernostalgia dengan masa-masa belajar tiap bahasa di atas. Untuk para pemula: santai saja, belajarlah setahap demi setahap dan buatlah sesuatu ketika belajar bahasa baru.

Tentang Kopdar

Kemarin teman saya bercerita, kalau temannya ada yang baru kopdar. Saya sudah lama sekali gak dengar kata kopdar ini, jadi teringat masa-masa di Bandung dulu ikutan kopdar komunitas, ataupun nemenin temen kopdar. Kopdar ini singkatan dari kopi darat, alias ketemuan di dunia nyata dengan teman (atau teman-teman yang selama ini interaksinya di dunia online).

Kalau dulu mungkin orang kenalan kebanyakan dari IRC atau platform chat lainnya (Yahoo, ICQ dan atau Mailing List), sekarang ini sosial media juga menjadi salah satu tempat ketemuan orang di dunia online. Banyak yang saya tahu menambah teman dari FB atau instagram, kalau saya sih biasanya yang ada di sosial media saya adalah orang-orang yang memang saya kenal langsung atau belakangan ini dari group menulis yang membuat saya mulai rajin ngeblog lagi.

Kopdar itu ngapain sih? ya sebenarnya kopdar itu intinya ketemuan. Setelah sekian lama ngobrol pake tulisan dan atau video call, terutama untuk orang-orang yang mungkin sedang cari jodoh sekalian ketemu di dunia nyata. Bisa juga ketemuan kalau mau tukar proyek, ngasih proyek atau bertukar ilmu.

Dari beberapa kali kopdar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat pertemuan pertama ini terasa lebih nyaman buat semua pihak yang bertemu (terutama buat yang mau cari jodoh wkwkwk)

Lokasi bertemu

Tentukan lokasi bertemu yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi juga. Biasanya restoran atau coffee shop jadi tempat yang cukup nyaman kalau misalnya sama-sama ngopi. Gak usah kuatir soal siapa yang bayar, namanya baru ketemu ya bayar masing-masing dong ah. Kalau ada yang mau bayarin gimana? ya gak ditolak dong, asal wajar-wajar saja, apalagi kalau misalnya ketemunya rame-rame, masa yang bayar ditumpukan pada 1 orang.

Ngobrol!

Nah kan ketemuan ini tujuannya ngobrol, ya ngobrollah. Topiknya apa? ya sama aja dengan topik selama ini waktu chatting. Bisa soal buku yang sedang dibaca kalau hobi baca, bisa soal film yang sedang tayang kalau hobi nonton, atau apalah topik yang selama ini bisa bikin betah chatting lama-lama.

Topik yang sebaiknya jangan dibicarakan: topik politik atau ngomongin artis, karena 2 topik itu gak akan ada habisnya. Kecuali misalnya udah tau punya pandangan politik yang sama atau selera yang sama terhadap artis tertentu, ya bolehlah diobrolin hehehe. Jangan juga ngobrolin temennya temen yang random banget atau curhat soal kerjaan kantor, karena biasanya agak susah mengikuti pembicaraan kalau gak kebayang siapa yang diomongin.

Oh iya, kalau lagi kopdar, kecuali sedang menunggu berita penting, sebaiknya gak usah ngobrol sambil liatin telepon genggam. Gak perlu juga langsung check in lokasi sambil upload foto ketemuan ke semua sosial media. Foto ya foto aja, nanti uploadnya setelah selesai ketemuannya. Karena kalau langsung upload foto, bisa-bisa akhirnya sibuk balas-balas komen bukannya ngobrol sama yang bertemu.

Berapa lama ketemunya?

Ini sih bebas ya, tapi kalau bisa sediakan waktu 1 – 2 jam. Karena kadang tergantung tempat bertemunya, siapa tau lama nungguin makanannya. Kalau makan buru-buru, ya gak bisa sambil ngobrol jugakan. Namanya ngobrol santai, kalau gak selesai ngobrolnya ya memang bakal bisa dilanjutkan online, tapi kan ini udah sengaja kopdar, masa sih cuma 30 menit. Biasanya juga pas ngobrol online bisa lebih lama dari itu kan heehehe.

Kalau memang lagi punya waktu banyak, abis makan/ngopi bisa dilanjutkan ke temat lain untuk sekedar nongkrong santai. Yang perlu dihindari ketika kopdar adalah minta ditemenin belanja (baik itu nyari buku, kosmetik atau baju), kecuali temennya itu emang lagi rencana shopping juga dan atau memang jago shopping. Kalau sekedar mampir di mini market bareng ya bolehlah. Satu lagi yang sebaiknya tidak dilakukan ketika kopdar: ngajak nonton bareng! mana bisa ngobrol di bioskop, kapan-kapan kalau emang udah cocok jadi temen bolehlah janjian kayak ama temen lama buat ke bioskop hehehe.

Boleh bawa teman gak?

Kalau temannya ini sebenarnya mutual friend atau malah yang berjasa ngenalin, boleh banget di bawa. Kalau misalnya ketemuannya dengan komunitas tertentu juga boleh banget bawa temen, asalkan temannya juga punya minat yang sama dengan komunitas itu. Terus ya pas ngobrol, jangan malah jadi ngajak temen kita doang yang ngobrol, tapi ya ajaklah teman baru itu ngobrol. Kalau kopdarnya dalam rangka mencari jodoh, ya… jangan bawa teman, nanti tau-tau berjodohnya sama teman yang di bawa pula hahahaha.

Saya pernah kopdar bawa teman, itu tapi karena saya janjian mau nginep di rumah temen saya waktu di luar kota dan biar gampang, ketemunya dengan teman saya itu di tempat yang sama dengan janjian sama si kopdar hehehe. Terus saya juga pernah jadi teman yang di bawa kopdar, tapi waktu itu karena komunikasi belum secanggih sekarang ada HP untuk gampang ngecek udah sampe atau belum, akhirnya kami gak menemukan orang yang mau diajak kopdar itu dan malah ngemall aja hehehe. Mungkin teman saya emang ga niat kopdarnya wkwkwk.

Kopdar yang paling berkesan itu buat saya bertemu dengan teman-teman sesama perajut. Pas ketemuan ngomongin benang dan lagi ngerjain apa, terus pulangnya biasanya bawa benang atau harta karun rajutan yang baru atau bisa shopping perlenengkapan rajut bareng.

Kalau sekarang ini, saya sudah gak pernah kopdar lagi. Paling-paling di sini ketemuan dengan warga Indonesia yang baru pindah ke Chiang Mai. Kalau kopdar komunitas harapannya suatu saat bisa ketemu dengan teman-teman di group Kelas LIterasi Ibu Profesional (KLIP), terutama yang sudah mau mampir baca tulisan saya selama beberapa bulan terakhir ini hehehe.