Liburan Akhir Tahun 2019 ke Sukothai (Part 1)

Sebelum lupa dengan berbagai fakta selama liburan akhir tahun kemarin, ada baiknya saya memulai menceritakan perjalanan Akhir tahun 2019 kemarin. Kami berangkat hari Sabtu tanggal 28 Desember 2019 dan kembali ke Chiang Mai tanggal 31 Desember 2019. Kenapa gak sekalian malam tahun baru di Sukothai? Karena tanggal 2 Januari 2020, Joe sudah masuk kerja lagi. Lagipula, kami bukan tipe yang keluar malam tahun baru untuk melihat keramaian count down.

Di mana Sukothai itu?

Sukothai itu letaknya sekitar 300 Km dari Chiang Mai. Sukothai masih merupakan area utara dari Thailand, tapi lebih dekat ke arah tengah Thailand. Bisa dibilang Sukothai ini ada di antara Chiang Mai dan Bangkok. Biasanya, liburan akhir tahun banyak orang berlibur ke arah utara Thailand termasuk Chiang Mai karena udaranya dingin, kami sengaja melawan arah supaya menghindari tempat yang terlalu padat.

Rencana liburan ke Sukothai ini sebenarnya bisa dibilang agak mendadak. Walaupun sudah lama tinggal di Chiang Mai, kami termasuk jarang traveling dalam Thailand karena jatah libur Joe biasanya kami pakai untuk pulang ke Indonesia. Kebetulan akhir tahun 2018 dan tahun baru 2019 kami sudah pulang agak lama ke Indonesia, dan akhir taun 2019 pekerjaan di kantor Joe juga sedang super sibuk, jadi kami memang tidak ada rencana untuk pulang ke Indonesia. Tapi karena di Thailand ada libur akhir tahun sekitar 5 hari (dari hari Sabtu sampai hari Rabu), maka tidak ada salahnya ambil kesempatan liburan.

Naik apa Chiang Mai – Sukothai?

Liburan akhir tahun ini bukan cuma kami saja, kami berangkat dengan salah satu keluarga Indonesia yang juga sudah lama di Chiang Mai (dan 5 tahun yang lalu, waktu Joshua belum lahir, kami juga liburan akhir tahun bareng). Berhubung mereka sudah pernah ke Sukothai sebelumnya, urusan perencanaan diserahkan ke mereka (kali ini saya gak usah sibuk browsing cari ini itu hehehe).

Awalnya, kami berencana menyewa mobil dengan 7 tempat duduk dan gantian menyetir mobil. Perjalanan ke Sukothai kalau ditempuh dengan mobil itu sekitar 4,5 – 5 jam. Jalan lintas antar provinsinya cukup bagus, dan hanya sedikit area yang banyak belokannya. Tapi, setelah mempertimbangkan supaya semua bisa menikmati liburan tanpa ada perasaan lelah menyetir, kami putuskan naik bus saja. Naik bus dari Chiang Mai ke Sukothai biayanya cukup murah, dewasa membayar 290 baht, anak-anak 210 baht (jadi kami sekeluarga membayar 1000 baht).

Untuk perbandingan, kalau kami menyewa mobil, biasanya biaya sewa mobil 1 hari saja belum termasuk bahan bakar sekitar 2000 Baht – 2500 Baht. Kalau sewa beberapa hari, tentu saja totalnya jadi lebih mahal. Lagipula, tujuan yang ingin dikunjungi di Sukothai sudah jelas, dan bisa dilakukan dengan naik songtew ataupun tuktuk. Untuk tujuan yang agak jauh dari Sukothai, kami menyewa mobil 1 hari saja di sana.

Jangan bandingkan perjalanan menggunakan mobil pribadi dengan menggunakan Bus antar kota. Kalau soal nyamannya dan cepatnya, pastilah naik mobil pribadi akan lebih nyaman dan cepat. Tapi kalau nyetir sendiri artinya ada kemungkinan lelah kalau-kalau jalanan macet. Perjalanan dengan Bus antar kota ini banyak berhentinya karena ada beberapa penumpang yang naik dan turun di beberapa kota di antara Chiang Mai dan Sukothai sehingga waktu tempuhnya jadi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Perjalanan Chiang Mai – Sukothai

Total perjalanan dari Chiang mai ke Sukothai dengan naik bus sekitar 7 jam. Bus berhenti di Lamphun, Lampang, dan Tak sebelum sampai ke Sukothai. Sukothai juga ternyata bukan titik berhenti terakhir dari Bus yang kami tumpangi. Setelah kami turun, bus masih melaju lagi menuju Phitsanulok dan berhenti terakhir di Khon Kaen. Mungkin kapan-kapan, bisa direncanakan untuk mengunjungi kota-kota lain tersebut.

Oh ya, catatan tambahan kalau mau naik bus Chiang Mai – Sukothai, sebaiknya ditanyakan apakah ada kamar mandi di dalam karena perjalanan cukup lama dan repot kalau tidak ada kamar mandi di dalam. Apakah disediakan makanan (tergantung operatornya ada yang berhenti makan siang, dan ada yang hanya memberikan snack saja. Jangan lupa untuk persiapkan bawa jaket karena AC nya lumayan dingin. Kalau membawa anak kecil, ada baiknya siapkan makanan kecil/makanan yang memang anak itu suka. Karena kalaupun ada berhenti untuk makan, ada kemungkinan makanannya tidak cocok untuk anak-anak.

Kami bersyukur sepanjang jalan, anak-anak tidak ada yang mabuk di jalan, ada sedikit perjalanan dari Lamphun menuju Lampang yang jalannya cukup banyak belokannya dan membuat agak pusing, tapi tidak ada kejadian mabuk darat hehehe.

Ada apa di Sukothai?

Ada 2 tujuan utama untuk dilihat di perjalanan kami ke Sukothai, yaitu: Sukothai Historical Park dan Si Satchanalai Historical Park. Kedua tempat ini sama-sama berisi reruntuhan temple yang dibangun dari jaman kerajaan Sukothai yang dikelola oleh pemerintah Thailand dengan bantuan UNESCO dan disahkan sebagai World Heritage Site. Sesuai dengan namanya, perjalanan kami ke Sukothai ini sebenarnya juga dalam rangka mengenalkan sejarah Thailand ke Jonathan (sambil kami juga belajar lagi hehehe).

Di mana menginap di Sukothai?

Kota Sukothai ada sebutan old city (kota tua) dan new city (kota baru) seperti halnya di Chiang Mai. Kota tua nya merupakan kota yang terletak dekat dengan tujuan wisata. Ada banyak penginapan di sana, tapi biasanya untuk mencari makanan agak lebih terbatas pilihannya. Kami memilih untuk menginap di new city dengan alasan kemudahan mencari makan malam dan juga mini market kalau dibutuhkan membeli ini dan itu. Selain itu, di new city ada pasar malam yang hanya ada di hari Sabtu. Pasar malam itu juga sempat kami kunjungi karena lokasinya sangat dekat dengan tempat kami menginap.

Jarak antara old city dan new city tidak jauh, cuma sekitar 12 km. Untuk mengunjungi kota tua, ada banyak pilihan mulai dari songtew, tuktuk, ataupun sewa songtew. Oh ya, dari terminal bus ke penginapan, kami menyewa songtew dengan membayar 200 baht. Jarak dari terminal bus ke penginapan di new city tidak lebih dari 10 menit. Dari penginapan ke old city kami naik songtew dan membayar 300 baht 1 kali jalan. Jadi pulang pergi sekitar 600 baht. Sedangkan untuk perjalanan ke Si Satchanalai yang berjarak sekitar 60 km dari Sukothai, kami menyewa mobil dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore dengan biaya 2500 baht (termasuk supir dan bahan bakar).

Cerita lengkapnya mengenai kunjungan kami ke reruntuhan temple yang ada akan saya lanjutkan di bagian berikutnya ya.

Selamat Tahun Baru 2020: Tetap Bersyukur

Setelah beberapa hari tidak menulis, dan setelah liburan akhir tahun 2019 kemarin, ada banyak sekali yang ingin dituliskan di blog ini. Tapi ijinkan saya mengucapkan selamat memasuki tahun 2020 kepada teman-teman yang mampir ke blog ini.

Sedikit oleh-oleh dari liburan akhir tahun ke Sukothai dan Si Satchanalai kemarin adalah: kita tidak tau apa yang ada di depan kita, sampai kita menjalaninya. Kadang ketika melihat rintangan, ada perasaan takut dan ingin berhenti atau berbalik arah. Tapi kalau kita jalani bersama-sama, ada perasaan lebih berani untuk menjalaninya. Dan ketika kita sampai di tujuan, ada perasaan bangga dengan diri sendiri karena sudah mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran, walaupun mungkin tempat tujuan itu belum tentu super indah seperti yang kita pikirkan sebelumnya.

Apapun hasil dari perjalanan kita, tetap bersyukur karena kita sudah mengalahkan rasa takut dan selamat sampai tujuan. Bersyukur kita tidak kalah sebelum bertarung. Perjalanannya tidak kalah penting dari tujuannya.

Bersiap-siap untuk petualangan di Si Satchanalai Historical Park dengan sepeda

Aduh jalan-jalan apa meditasi sih kemarin itu ya hahaha. Jadi begini latar belakang renungan di atas. Alkisah, kami ke salah satu tempat wisata historical park tanpa membaca buku panduan terlebih dahulu. Seperti semua orang, kami memutuskan sewa sepeda untuk keliling historical park nya.

Kami mengikuti jalur yang banyak orangnya saja. Terus eh, kok di depan ada tanjakan dan ada larangan menaiki sepeda sambil menanjak. Kalau mau naik, kita harus menuntun sepeda kita atau tinggalkan saja di bawah.

Larangan menaiki sepeda sambil menanjak

Awalnya sempat ragu-ragu untuk naik ke atas tanjakan. Kami kuatir waktu turun malah lebih susah lagi, atau takut masih jauh dan ada tanjakan berikutnya. Takut kecewa juga kalau tujuannya tak seberapa indah. Kepikiran juga apa sebaiknya sepedanya ditinggalkan saja di bawah dan jalan ke atas.

Karena sama-sama tidak tahu berapa jauh lagi lokasi tujuan setelah tanjakan itu, kami memutuskan menuntun sepeda ke atas tanjakan. Lebih baik bersiap-siap, siapa tahu masih jauh tujuannya.

Keliatan gak tanjakannya? di foto sepertinya gak seberapa ya

Ternyata, setelah menuntun sepeda dengan susah payah, masih ada tangga lagi untuk naik ke atas. Setelah berhasil membawa sepeda sambil jalan menanjak, rasaya naik tangga tidak seberapa. Tapi alamak, ternyata botol minum yang saya bawa isinya hanya setengah dan Joe tidak bawa minum sama sekali. Tapi dengan ada yang sedikit itupun masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sampai di atas, Joe yang mendorong sepeda naik sambil bawa Joshua di boncengan sepeda udah mau pingsan sepertinya hahaha. Tapi ya setelah istirahat beberapa menit, akhirnya bisa menikmati pemandangan dari ketinggian. Tentunya walaupun tidak terlihat ketinnggiannya berapa, penting banget buat foto di sana haha.

Setelah beristirahat, baru deh bisa senyum pas di foto

Kalau tenaga sudah terkumpul, siapa takut untuk naik lebih tinggi lagi. Akhirnya Joe dan Joshua naik ke atas reruntuhan templenya juga. Waktu saya bilang ke Joshua: I’m so proud of you Joshua, terus Joshua jawab: I’m so proud of you too mama. Iya saya bangga Joshua mau duduk manis di sepeda walau sebelumnya gak biasa dibonceng sepeda. Nggak ngeluh walau panas-panasan matahari. Mau naik tangga dengan semangat walau sampai atas mukanya merah kepanasan. Semangat buat eksplorasi tempat baru walau belum sepenuhnya mengerti tempat apa ini.

Udah sampai atas, naik sampai atas lagi deh

Perjalanan turun tidak sesulit perjalanan naik karena kami memutuskan kembali ke arah kami datang. Kalau saja kami sudah tahu sebelumnya, mungkin kami akan memutuskan meninggalkan saja sepeda di bawah. Kalau kami sudah tahu sebelumnya, mungkin kami juga akan memutuskan untuk tidak usah naik saja karena tanpa sepedapun tanjakannya lumayan terjal.

Pesan lainnya: ketidak tahuan bisa membuat kita lebih berani dan mencoba dengan lebih gigih. Kalau sudah tahu dan tetap ingin menjalani, bisa membuat kita lebih bersiap-siap dengan membawa minuman lebih banyak atau tidak perlu bawa sepeda naik karena pasti akan turun lagi.

Tahun 2020 ini dimulai dengan berbagai berita yang tidak semuanya membahagiakan. Di Jakarta, kakak saya (dan banyak penduduk di berbagai area Jakarta) rumahnya dan mobilnya terendam banjir. Beberapa orang lagi liburan keluar kota, dan tidak tahu bagaimana nasib rumahnya.

Di Chiang Mai, polusi sudah dimulai sejak akhir tahun lalu dan entahlah akan membaik atau tidak. Di Australia, musim kering membuat banyak semak-semak terbakar dan hampir seluruh daerah dilanda asap. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di depan kita. Tapi untuk semua hal yang akan datang, mari kita hadapi bersama dengan berani dan tidak cepat menyerah.

Tetap bersyukur untuk semua hal yang akan kita hadapi di tahun 2020 ini.

Selamat Natal 2019 dari Chiang Mai

Tadi malam, kami tidak menghadiri ibadah malam Natal. Acaranya jam 11 malam, dan udara sedang agak dingin. Joshua juga kemarin tidak cukup tidur siangnya. Jadi daripada malah jadi berisik kalau dipaksa bawa malam-malam, kami putuskan ikut ibadah Natal nya saja.

foto di gereja mengikuti ibadah Natal tadi pagi

Tadi pagi, setelah buka kado Natal di rumah dan Jonathan buka jahitan bareng Joe ke rumah sakit (ini ceritanya lain kali), kami menghadiri ibadah Natal jam 10 pagi di gereja CMCC.

Hari ini, ibadah Natal di gereja di buka dengan lagu yang musiknya Bohemian Rhapsody dari Queen tapi diganti liriknya menjadi kisah Natal (Bethlehemian Rhapsody). Anak-anak yang hadir langsung menyimak dengan seksama.

Bethlehemian Rhapsody – sumber: https://www.youtube.com/watch?v=FYh2OU4vtIk

Seperti biasa, salah satu acara ibadah Natal di gereja adalah: anak-anak di minta maju ke depan dan diminta untuk berbagi cerita dapat hadiah Natal apa. Jonathan yang ikut maju ke depan dengan lantang menjawab: I got a banana – dan tentunya yang mendengar pada tertawa. Setelah anak-anak lain menjawab dengan berbagai hadiah yang mereka terima, lalu ternyata ada 1 anak yang menjawab dia mendapat apple. Jonathan bilang lagi kalau dia juga memberikan pisang ke kami – dan semua tertawa lagi mendengarnya.

Lihat betapa bahagianya anak yang menerima pisang ini – sumber: https://youtu.be/oBBQHExuuec

Sebenarnya, cerita tentang hadiah banana ini inspirasinya dari video di YouTube. Tentang anak kecil yang begitu bahagianya menerima pisang sebagai hadiah – dan langsung memakannya. Joe sedang mengajarkan ke Jonathan kalau hadiah Natal itu gak harus selalu sesuatu yang mahal, kadang hal sederhana seperti pisang saja sudah cukup. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah: apapun yang kita terima, jangan lupa berterimakasih sudah diberikan hadiah. Kebetulan di rumah lagi ada pisang, jadilah Jonathan ikut-ikutan membungkus pisangnya dan letakkan jadi hadiah haha.

Selain dapat banana, sebenarnya kami sudah membelikan buku komik PokemonXY untuk Jonathan dan mainan mobilan remote control untuk Joshua. Kami juga membelikan alat mewarnai (gel pastel) supaya Joshua dan Jonathan lebih rajin mewarnai di rumah.

Pulang dari gereja, kami ke mall untuk makan siang. Selesai makan, anak-anak dan Joe naik kereta api gratisan keliling mall, sementara saya membeli hadiah Natal untuk diri sendiri (duitnya udah ditransfer hahaa).

naik kereta keliling mall

Joe udah beli sendiri beberapa benda yang dia klaim sebagai hadiah Natal. Kapan-kapan biar dia cerita sendiri hehehe.

langsung dipakai nulis blog hehehe

Saya menghadiahi diri sendiri laptop Asus VivoBook 14 inch. Alasan beli laptop juga karena macbook yang selama ini saya pakai sudah beberapa bulan ini rusak dan belum berhasil dibenerin. Macbook itu juga sebenarnya layarnya sudah terasa sangat kecil dan tidak nyaman di mata. Alasan lain juga: kan sudah rajin ngeblog selama setahun lebih, jadi ya anggap aja biar lebih rajin lagi nulisnya hahaha (alesan ya).

susah banget ya foto keluarga yang bagus hehehe

Sekali lagi selamat Natal 2019 buat kita semua, Natal itu bukan hadiahnya tapi ya kalau dapat hadiah tentunya disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik (ini sih ngomong ke diri sendiri). Dan selamat menyambut tahun baru 2020. Untuk yang sedang berlibur, hati-hati di jalan dan jangan lupa berbagi cerita di blog masing-masing hehehe.

Perayaan Natal 2019 di Chiang Mai

Dibandingkan di Indonesia dulu, perayaan Natal yang diikuti selama di Chiang Mai ini tidak banyak. Kalau di Indonesia, dari sejak awal Desember sudah ada banyak perayaan Natal. Semakin banyak organisasi/komunitas yang diikuti, semakin banyak pula perayaan Natal yang perlu dihadiri. Saya ingat waktu masih di Medan, ada perayaan di gereja, ada di sekolah, ada Natal gabungan, belum lagi kadang-kadang ngikut perayaan Natal kantor orangtua saya (ini sih gak selalu ikutan hehehe).

Untung udaranya tidak sedingin minggu lalu

Di Thailand, hari Natal 25 Desember itu bukan hari libur. Biasanya, setiap tahunnya, acara yang kami usahakan datang itu adalah kebaktian malam Natal (24 Desember jam 11 malam), dan Joe ijin dari kantor untuk bisa mengikuti Kebaktian Natal 25 Desember di pagi harinya. Setelah Jonathan lahir, acara perayaan Natal yang kami ikuti bertambah 1: Carols by Candlelight.

Christmas Pageant 2019

Acara Carols by Candlelight ini biasanya jatuh sekitar hari Jumat, minggu Advent ke-2. Acaranya di mulai sore hari jam 7 malam. Udara dingin di kota Chiang Mai tidak menghalangi banyak orang untuk menghadiri acara ini. Format acaranya sangat berbeda dengan acara di Indonesia. Setiap tahun akan ada drama Natal yang sudah disesuaikan dengan jaman, pemerannya juga sebagian masih sambil baca karena biasanya cuma ada 1 kali latihan akhir.

Banyak anak-anak yang jadi malaikat, gembala dan domba

Acaranya outdoor di lapangan golf. Sangat jauh dari kekhusukan ibadah Natal tapi ya tetap berkesan. Anak-anak banyak yang berlari-larian dan mereka bisa ambil peran jadi malaikat, gembala ataupun jadi domba. Karena format acara musical, jadi seperti menonton drama musical di mana percakapannya berupa lagu.

Holy Family 2019

Ciri khas dari drama Natal ini adalah: mereka menggunakan bayi beneran diletakkan di palungan sebagai bayi Yesus. Waktu Jonathan masih bayi, dia juga pernah merasakan jadi bayi Yesus ditidurkan di palungan di malam yang dingin hehehe. Kami orangtuanya otomatis jadi Yosef dan Maria. Setiap tahun, selalu ada bayi yang lahir berdekatan dengan perayaan Natal ini. Tentunya bayinya bukan bayi yang baru lahir banget juga ya, Jonathan waktu itu berumur kira-kira sebulan dan masih agak banyak tidur.

Tahun-tahun sebelumnya Jonathan pernah ikutan jadi malaikat dan Joshua masih terlalu kecil untuk ikutan. Tahun ini karena kami terlambat datang, semua kostum sudah dipakai oleh anak-anak yang datang terlebih dahulu jadi mereka gak ikutan dalam dramanya.

Orang majus dan Unta

Satu hal yang juga selalu ada setiap tahunnya adalah: unta yang di bawa orang majus. Nah unta ini diperankan oleh orang juga tentunya. Terlihat lucu dari jauh. Joshua melihat unta langsung komentar :”look, there’s a camel!”. Tapi waktu acara hampir berakhir dan unta mendekati, si Joshua malahan agak malu-malu gitu. Mungkin dia heran, kenapa kaki unta pakai sepatu? Hehehe…

Untanya pakai sepatu? hahaha…

Selain acara Carols by Candlelight, masih akan ada beberapa rangkaian acara kegiatan Natal tahun ini di gereja yang kami ikuti. Tanggal 22 Desember 2019 akan ada acara Christmas Tea dan Christmas Service. Biasanya kita diminta untuk membawa sedikit kue-kue untuk saling berbagi. Acara kebaktian gereja juga dimulai lebih awal dari biasanya. Lalu tanggal 24 Desember, ada kebaktian malam Natal yang di mulai jam 11 malam. Biasanya akan selesai sekitar jam 12 untuk menyambut hari Natal nya. Lalu tanggal 25 Desember jam 10 pagi ada kebaktian Hari Natal.

Siapa tahu ada orang Indonesia yang sedang berencana untuk berlibur Natal di Chiang Mai dan butuh informasi soal kebaktian Natal, semoga informasi ini bisa berguna. Kalau kebetulan baca tulisan ini untuk tahun-tahun berikutnya, bisa coba cari informasinya di situs gerejanya langsung untuk mengetahui kegiatan Natal yang diadakan setiap tahunnya.

Ulang tahun Jonathan ke-9

Hari ini Jonathan masuk usia 9 tahun. Seperti tahun lalu, ulang tahunnya tidak dirayakan, tapi cukup dikasih hadiah dan makan bersama. Setelah lama berhomeschool dan jarang melihat perayaan ulang tahun anak lain, Jonathan tidak berharap perayaan ulang tahun.

Tahun ini hadiah yang saya berikan adalah buku Pokemon dan Minecraft. Buku Pokemon nya cukup tebal tapi sudah selesai dibaca dalam beberapa jam saja. Buku Minecraft nya baru satu box yang dibuka. Sebenarnya Jonathan juga meminta sebuah game untuk Nintendo Switch, tapi karena baru akan dirilis Minggu depan, jadi kami belum bisa belikan sekarang.

Meskipun tidak ada kegiatan homeschool hari ini, tapi tetap ada kegiatan kumon. Untungnya hari ini dia bisa cepat sekali menyelesaikannya. Setelah selesai, dia langsung menelpon saya dengan Video Call Facebook Kids dengan WIFI dari tempat kumon.

Setelah itu kami menunggu Risna yang sedang ikut pelatihan di Gereja, dan kemudian diteruskan dengan makan di Bear Hug Caffe.

Makanan dan minuman di tempat ini cocok untuk anak-anak, dihias cantik dan rasanya juga enak.

Sudah banyak perkembangan Jonathan di usia 8 tahun, dan semalam saya ngobrol banyak tentang targetnya di usia 9 tahun. Saya tidak perlu tuliskan di sini, tapi saya berharap keinginan dan target Jonathan bisa tercapai.

Jonathan Belajar Membaca Bahasa Indonesia

Jonathan sudah hampir 9 tahun. Sampai sekarang belum pernah saya kasih pelajaran khusus untuk membaca bahasa Indonesia. Harapannya memang dia bisa belajar sendiri hehehe. Hari ini bangun tidur siang saya menemukan buku pelajaran membaca bahasa Indonesia yang kami beli beberapa tahun lalu. Ternyata, anak kalau sudah bisa bahasa Indonesia lebih mudah membaca bahasa Indonesia tanpa diajari. Tapi tentunya beberapa kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari akan lebih sulit dibacanya.

Bukunya untuk umur 4 – 6 tahun

Menurut tulisan di sampulnya, buku ini untuk umur 4 – 6 tahun. Tapi untuk anak yang selama ini hanya bisa baca bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya cuma dengan kami orantuanya, tidak ada salahnya dicoba suruh baca untuk mengetahui juga pemahamannya terhadap kata-kata dalam bahasa Indonesia.

gak pakai lama belajar bacanya

Beberapa kata yang dia tidak mengerti tapi bisa menebak itu misalnya: paman, bibi, sawah, ladang, desa. Jonathan tidak pernah manggil orang dengan paman dan bibi, adik-adik Joe dia panggil om dan tante, sedangkan dari keluarga saya panggilnya pakai panggilan batak hehehe. Kakek dan nenek saja perlu saya jelaskan lagi, karena dia manggilnya eyang boy dan eyang girl.

Beberapa kata yang dia sulit baca itu seperti: berdesakan, kendaraan dan umumnya kata dengan bunyi ng dan ny yang menggunakan akhiran. Beberapa kata dia selalu baca menggunakan bunyi e yang tajam. Lucunya baca lirik lagu pelangi-pelangi, dia tau bunyi e dalam kata “pelangi”, tapi selalu salah menyebut kata “pelukis” dengan bunyi e yang tajam, lalu kesulitan membaca kata “agung” dan “gerangan”. Kata-kata tersebut memang jarang kami gunakan dalam percakapan sehari-hari. Saya tidak pernah bertanya: “kenapa kamu sedih, ada apakah gerangan?” hihihihi.

Buku “Metode Ini Ibu Budi” dulu kami beli karena judulnya menarik. Kami pikir, dulu kami belajar membaca dengan keluarga Budi, jadi ya bisa sekalian cerita ke Jonathan bagaimana dulu kami belajar membaca. Walaupun ternyata anggota keluarga Budi dalam buku ini bukan Wati dan Iwan seperti buku jaman dulu hehehe.

Saya pikir Jonathan akan mulai membaca dengan mengeja, ternyata dia bisa langsung membacanya walau perlu diperbaiki sedikit di sana sini. Mungkin karena dia sudah mengenal bunyi alfabet bahasa Indonesia dan karena sejak homeschool dia sudah lebih banyak berbahasa Indonesia di rumah. Beberapa kata masih terasa aneh di kuping waktu dia baca hehehe.

Belajar membaca bahasa apapun memang pada akhirnya butuh latihan. Lebih baik lagi kalau mengerti dengan kata yang dibaca. Waktu pulang ke Indonesia, kami pernah membeli beberapa buku bilingual Inggris – Indonesia, tapi biasanya Jonathan akan langsung membaca bagian bahasa Inggrisnya. Mungkin saatnya membuat jam khusus untuk pelajaran latihan membaca bahasa Indonesia untuk menambah kosa kata dan memperlancar membaca bahasa Indonesia.

Ganti AC Mobil

Tulisan hari ini buat catatan pengingat saja kalau hari ini AC mobil diganti baru keseluruhan sistemnya.

Awalnya sejak 3 minggu lalu merasa kok AC mobilnya gak dingin walau udah diatur suhu paling dingin. Memang Chiang Mai walau sedang musim hujan, tiap sore jam 3-an itu panasnya luar biasa. Jadi saya pikir karena di luar sangat panas aja maka AC nya lama dinginnya.

Pagi hari masih gak masalah dan masih berasa agak dingin AC nya, tapi tiap sore yang terasa cuma angin saja. Kasian Joshua kadang pipinya sampai merah kepanasan. Akhirnya saya bawa ke bengkel untuk di cek apa yang jadi masalahnya. Baru sekitar 3 bulan sebelumnya kami bawa servis AC mobil untuk di bersihkan dan di isi freonnya, jadi saya pikir harusnya bukan masalah kehabisan freon.

Karena bengkel resmi lebih dekat dari bengkel yang biasa kami datangi, saya bawa mobil ke bengkel resmi untuk di cek apa masalahnya. Pengecekan tidak lama, cuma butuh kurang dari 1 jam. Tapi hasilnya ternyata semua sistem AC nya harus diganti karena ada kebocoran yang parah katanya. Selain itu mobilnya harus diinapkan karena butuh 2 hari kerja untuk mengerjakan bongkar pasang sistem AC. Karena waktu itu masih butuh tiap hari pakai mobil, saya tidak bisa langsung meminta mereka mengerjakan ganti AC, jadi saya bilang saya akan datang lagi kalau sudah ada waktu untuk menginapkan mobil di bengkel.

Estimasi harga ganti AC yang diberikan lumayan mahal, saya pikir apakah bengkel resmi ini mahal karena mereka bengkel resmi? Kalimat yang aneh ya, tapi maksudnya begini: saya pernah dengar komentar kalau bengkel resmi ini sering sengaja cari-cari kesalahan kecil sebuah mobil biar mereka dapat kerjaan, padahal kalau di bawa ke bengkel lain bisa jadi dikerjakan dengan harga setengahnya atau bahkan belum perlu diganti. Tapi ya saya pikir ga ada salahnya mengecek ke bengkel yang terakhir membersihkan sistem AC nya, siapa tau mereka bisa kasih estimasi harga lebih murah.

Setelah di cek di bengkel bukan resmi, ternyata hasil pengecekan kesimpulannya sama: semua sistem AC nya harus diganti. Mereka bisa mengerjakannya 1 hari kerja, tapi biayanya lebih mahal sekitar 25 persen dari estimasi bengkel resmi. Terus katanya sparepartnya gak bisa pake yang asli sesuai merk karena sparepart merk mobilnya jarang tersedia.

Saya sempat agak dilema. Kalau ngikutin hitungan ekonomi tentunya langsung milih masukin bengkel resmi saja. Tapi dilemanya karena harus diinapkan 2 hari kerja (yang mana di sini karena ga ada angkot kalau ga ada mobil itu repot mau kemana-mana). Setelah ditimbang-timbang dan ternyata bisa dapat pinjaman mobil dari bos baik hati, kami masukin mobil ke bengkel resmi.

Hari Rabu besok itu hari libur di Thailand, bengkel juga libur, jadi saya bikin janji untuk masukin mobil Senin pagi supaya bisa selesai Selasa sore (kan itungannya udah 2 hari kerja toh). Untungnya mereka menyanggupi, kalau mereka ga menyanggupi karena alasan banyak kerjaan, bisa-bisa kami masih harus berpanas-panasan sepanjang minggu ini setiap makai mobil.

Sesuai janji, hari ini mobilnya sudah selesai dipasang AC baru. Saya tanya ada garansi gak? Ternyata ada, garansi AC mobilnya 1 tahun atau 20000 km (yang mana duluan sampai). Sebenarnya ada tulisannya di receiptnya, tapi kan tulisannya semua bahasa Thai, kalau ga nanya mungkin saya ga akan tahu. Yang bikin saya senang sparepartnya ya dikasih yang asli sesuai merknya.

Jadi ternyata asumsi bengkel resmi suka mencari-cari alasan biar dapat kerjaan itu gak benar. Tapi salah satu alasan selama ini malas ke bengkel resmi itu karena biasanya mereka bahasa Inggrisnya payah, dan level bahasa Thai saya untuk pembicaraan teknis mobil suka gagap sendiri. Tapi dari pengalaman kali ini, ternyata saya bisa berkomunikasi dengan mereka. Level bahasa Inggris mereka cukup bisa dimengerti dan level bahasa Thai saya juga bisa mereka mengerti hehehe. Saya gak ingat tadi itu saya banyak ngomongnya pake bahasa apa, kadang-kadang milih bahasa itu dah jadi reflek tergantung siapa yang diajak bicara hehehe.

Jadi lain kali sepertinya kalau ada masalah dengan mobil, memang lebih baik ke bengkel resmi ya. Apalagi kalau bengkelnya lebih dekat dari rumah.

Oh ya catatan lain, katanya AC mobil itu rusak karena beberapa alasan, bisa jadi karena udah umurnya (padahal umur mobil kami masih kurang dari 10 tahun), atau katanya bisa jadi “sial” kemasukan sesuatu seperti kerikil ke dalam sistemnya yang merusak AC nya. Saya gak tau juga apakah AC mobil itu seperti ban mobil yang harus diganti setelah sekian km, tapi yang penting sekarang udah ga kepanasan lagi nyetir siang-siang.