Indonesia Memang Lebih Indah

Setelah 2 hari berada di Bandung, akhirnya sudah nyampe Depok lagi.

Di Bandung tidak sempat bertemu 1 orang temanpun sama sekali :(, ternyata emang lebih mudah ketemu teman-teman di internet daripada ketemu antara Kopo-Antapani-Buahbatu-Cimahi. Ya… tapi setidaknya misi di Bandung kesampaian untuk ngubek-ngubek BEC,berhasil menemukan 2 gadget menarik dan bersantai di Jhony Andrean.Nonton film belum kesampaian, tapi masih bisa di Depok lah ntar, gampang.

Misi berikutnya di Bandung yang kesampaian adalah mengeksplor daerah wisata di sekitar Jawa Barat. Sekian lama tinggal di Bandung ga sempat jalan-jalan ke sekitar Bandung, setelah tinggal jauh dari Bandung disempet-sempetin ke tempat wisata yang menurut gue sih Indonesia emang jauh lebih indah dibanding negara lain di Asia, sayangnya, tempat wisatanya ga terlalu dikelola seperti di Chiang Mai. Tapi tetap saja, turis domestik banyak banget. Sayangnya acara jalan-jalan di ganggu gerimis hujan, huh. Oh ya, ternyata sate kelinci rasanya ga jauh beda dari sate ayam, tapi lebih enak dari sate kambing (kebetulan sate kambingnya keras euy).

Kunjungan singkat ke Bandung tapi cukup menyenangkan. Ga tau kapan lagi ke Bandung, tapi selalu ada alasan untuk mudik ke Bandung.

Belajar Bahasa Thai

Sejak awal bulan Juni, gue sudah memulai belajar bahasa Thai di YMCA Chiang Mai. Sekarang sudah bulan Oktober, artinya sudah 4 bulan belajar bahasa Thai dan sudah 5 bulan tinggal di Thailand. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah : “gimana udah bisa ngomong bahasa Thai?” dan jawabnya adalah kalau yang diharapkan bisa seperti berbicara bahasa Indonesia, itu masih jauh, tapi kalau dalam taraf bisa memesan makanan dan mengerti kalau ditanya orang Thai sudah bisa. Target berikutnya adalah bisa menonton acara TV Thailand, dan mungkin juga film Thailand 🙂 (kemarin sih menonton sinetron Thai sudah bisa, abis intinya hampir tidak beda dengan sinetron Indonesia :P).

Rencana awal mau belajar di satu tempat sampai mahir lalu kemudian belajar baca tulis. Tapi kok ya perasaan belakangan ini ga maju-maju dan jalan di tempat. Semua disebabkan guru di tempat kursus ga bisa menjelaskan pertanyaan dengan bahasa Inggris yang baik (bahkan terkadang dia ga ngerti apa pertanyaan muridnya). Akhirnya banting setir pindah ke AUA Chiang Mai yang frekuensi belajarnya tiap hari dan bahasa Inggris gurunya lebih oke (dan gue semakin senang karena di AUA ada perpustakaan yang meminjamkan majalah dan buku-buku berbahasa Inggris, hal yang langka di Chiang Mai. Buku sih banyak, tapi kalau bisa meminjam kan jadi lebih hemat daripada beli).

Di tempat sebelumnya sebenarnya gue udah belajar selama 3×30 jam = 90 jam. Tetapi dengan pertimbangan untuk mendapatkan ilmu yang lebih lengkap, di tempat baru gue belajar lagi dari awal, dari jam ke-0. Hasilnya? tentu saja gue bisa mengikuti dengan mudah. Padahal dulu sempat takut untuk ikutan disitu karena konon kabarnya belajar di tempat ini memang belajar di kelas cuma 2 jam tapi prakteknya karena banyak PR dsb bisa-bisa jadi berjam-jam. Mungkin terlalu dini juga kalau gue bilang terlalu mudah, karena pada dasarnya gue baru mengikuti kelas sekitar 12 jam di kelas yang baru. (tapi memang dengan begini gue seperti mereview semua yang sudah gue ketahui sebelumnya sih, semoga bisa tetap mudah mengikutinya)

Karena gue merasa ini awal yang baru, dan karena gue sudah cukup mengerti apa yang diajarkan di kelas, timbullah ide untuk mendokumentasikan pelajaran di kelas dalam bentuk tulisan di blog. Ya..sekalian sebagai catatan buat gue dan juga berbagi buat siapa saja yang tertarik belajar bahasa Thai. Nah kalau tertarik untuk tau bagaimana sih bahasa Thai itu, atau sekedar mencari bacaan karena kurang kerjaan, silakan kunjungi www.risna.info . Sekarang sih isinya masih ga banyak, semoga saja saya tetap konsisten menulis setiap harinya yah :).

Warorot Market (Ta’ lat Warorot)

milih milih

Cerita ini masih lanjutan dari cerita Mae Sa Waterfall dan masih dalam rangka mengantar teman-teman dari Indonesia yang berkunjung ke Chiang Mai. Sebenarnya pasar ini seperti pasar biasa. Tapi tentunya lebih murah membeli oleh-oleh di pasar daripada di tempat wisata. Berhubung waktu mereka di Chiang Mai tinggal sedikit lagi dan belum tentu bisa jalan-jalan lagi, ya sudah kami ajak saja belanja di pasar Warorot. Lanjutkan membaca “Warorot Market (Ta’ lat Warorot)”

Mae Sa Waterfall (Naam Tok Mae Sa)

Sekitar 2 Minggu lalu, kami bertemu dengan 4 orang Indonesia yang datang ke Chiang Mai di gereja yaitu Pendeta Karia, Tuju, Lia dan Pendeta Essy. Mereka mengikuti Cultural Training yang diadakan oleh CTC di daerah Mae Rim. Kami tidak pernah ke daerah sana sebelumnya, tapi tentunya ini kesempatan untuk mempunyai alasan bepergian agak jauh dari rumah. Karena kami tidak mendapatkan alamat tempat trainingnya selain alamat PO BOX (dan tidak ada seorangpun yang bisa menjelaskan bagaimana cara menjemput teman-teman Indonesia itu), maka pada 1 minggu lalu (seminggu setelah kami bertemu), kami mengikuti mereka pulang ke daerah MaeRim (sekitar 17 km dari rumah kami).

maesa waterfallSingkat cerita, hari Sabtu kemarin kami berjanji untuk bertemu dengan mereka. Tadinya kami berencana mengajak mereka melihat Elephant Show di daerah Mae Sa, tetapi ternyata CTC sudah berencana mengajak mereka ke sana hari sabtu pagi. Karena kami terlambat bangun (well, jangan harap bangun pagi di hari sabtu hehe), kami akhirnya menyusul ke Mae Sa Elephant Camp (Sekitar 30 km dari rumah). Ceritanya, untuk memperlancar menyetir (dengan perkiraan trafficnya tidak terlalu padat), gue yang menyetir ke sana. Well..walau masih deg degan di beberapa tikungan (terutama karena jalannya yang menanjak dengan belokan yang cukup tajam), akhirnya kami sampe juga dengan selamat ke sana. Kesan tentang elephant camp? bau perkampungan di Indonesia yang banyak sapi. Ya..bau kotoran gajah hehehe… :p Lanjutkan membaca “Mae Sa Waterfall (Naam Tok Mae Sa)”

Night Bazaar

Cerita ini masih dalam rangka mengantar membeli oleh-oleh. Karena di pasar kurang banyak pernak pernik, kami memutuskan hari minggunya untuk ke Night Bazaar. Sesuai dengan namanya, tempat itu ramai di malam hari. Banyak orang berjualan berbagai macam pernak pernik (selain baju-baju yang bisa ditemukan di pasar juga). Pulang dari gereja langsung ke tempat makan yang bernama Kalare. Seperti biasa, makan dulu sebelum memulai aktivitas yang diyakini akan melelahkan.

Oh ya, kali ini kami ditemani dengan Bu Diana, seorang Indonesia yang sudah lebih lama tinggal di Chiang Mai. Well harus diakui, walau sudah beberapa bulan tinggal di sini, kami belum pernah mengeksplor daerah Night Bazaar ini. Tempat ini sangat ramaaaaaai oleh pedagang maupun pembeli. Padahal sekarang ini lagi low season katanya. Di night bazaar ada banyak pilihan pernak pernik dan oleh-oleh. Sejujurnya rasa pegal-pegal sisa aktivitas hari sabtu belum hilang. Lalu datang tawaran menarik dari Bu Diana untuk mencoba Foot, Back and Shoulder Massage di daerah Night Bazaar. Setelah yakin bahwa teman-teman yang mencari oleh-oleh tidak akan nyasar (ya ga mungkin nyasar wong daerahnya disitu-situ juga), kami memutuskan menunggu mereka belanja sambil massage.

Jadi inget, dulu di Bandung sering refleksi di Jhonny Andrean, dan sejak tiba di Chiang Mai otomatis kami belum pernah refleksi lagi. Belum pernah benar-benar sempat untuk memanjakan diri berelaksasi di pijat. Hmm…jadi inget waktu di Bali. Untungnya biaya pijat di sini lebih murah di bandingkan Bali 😛 (setidaknya kami memilih tukang pijet yang cukup profesional tapi juga bukan tempat yang sudah sangat terkenalnya sampe jadi mahal). Di sini tempat pijet banyak banget, bahkan di depan apartemen juga ada 2 tempat. Tapi dari kemarin selalu ragu untuk mencoba massage. Takut ketagihan sih :p, kan gawat hehehe…

Setelah 1 jam massage, ternyata teman-teman yang belanja udah pada selesai. Mereka duduk menikmati tari-tarian yang disuguhkan di food court Kalare. Heran deh, kami sudah beberapa kali makan di Kalare (walaupun belum pernah wisata belanja di Night Bazaarnya), tapi biasanya di situ ga ada tari-tarian, paling pernah juga ngeliat orang nyanyi. Kenapa giliran sekarang ada yang nari? (loh kok sewot?). Bukan sewot sih hehehe, cuma agak hairan, minggu ini kok serasa jadi turis juga yah :P.

Anyway, cerita weekend ini emang beda dengan weekend lainnya. Walaupun sudah 3 bulan tinggal di Chiang Mai, tapi serasa baru kemarin tiba hehehe. Dan semakin kami berjalan-jalan di Chiang Mai, semakin kami menemukan kalau kekayaan alam Indonesia itu ga kalah deh dibanding negeri orang. Jadi pengen ke Grojokan Sewu, Tongging dan daerah wisata Indonesia kalau ada kesempatan pas mudik ntar.

Yoga Class

Sejak hari senin kemarin kami mulai kelas yoga di sini. Gerakannya masih yang dasar, tidak terlalu sulit, yang lebih sulit adalah mencerna kata-kata instrukturnya. Yap..instrukturnya menggunakan bahasa Thai sepanjang menjelaskan gerakan. Jelas aja jadi sulit konsentrasi, karena setiap kali kami harus melihat dengan seksama apa yang dilakukan instruktur lalu menirukannya.

Setidaknya dengan mengikuti kelas Yoga ini kami dapat 2 manfaat. Pertama badan yang lebih bugar dan kedua menambah vocabulary bahasa Thai hehehe..

Chiang Mai Zoo

Bertahun-tahun kuliah di Bandung dekat sekali dengan Kebun Binatang, tapi tidak pernah tergerak untuk menjenguk ke dalam. Pengen sih, tapi tidak ada kesempatan dan kadang memang tidak menyempatkan. Kali ini, mumpung Joe baru terima GPS, kami nyobain nyari jalan ke Chiang Mai Zoo menggunakan GPS itu. Horeee berhasil juga sampe ke Chiang Mai Zoo 🙂

Tiket masuk untuk orang lokal dan orang pendatang itu beda. Kami berdua plus mobil total harga tiketnya jadi 250 THB (atau sekitar 70 ribu rupiah). Walau belum pernah masuk ke kebun binatang Bandung, bisa dibilang Chiang Mai Zoo lebih bagus. Jenis hewannya lebih banyak, dan tentu saja, areanya jauh lebih luas. Enaknya, kita bisa berkeliling menggunakan mobil di dalam area Zoo, lalu mencari parkir terdekat dengan jenis hewan yang ingin kita lihat. Kalau kita ingin jalan juga boleh. Daerahnya cukup teduh karena banyak pohon besar yang melindungi. Oh ya, kalau tidak bawa mobil sendiri, di dalam Chiang Mai Zoo ada sejenis bis untuk berkeliling (tapi kami belum mencoba).

Anyway, ada 2 hewan yang tidak ada di kebun binatang di Indonesia (dan juga tidak ada di kebun binatang Bandung). Dengan asumsi sudah banyak binatang yang pernah kami lihat di Taman Safari Cisarua Bogor, maka kami hanya memfokuskan pada binatang yang belum pernah dilihat secara langsung sebelumnya seperti koala dan penguin. Akhirnya, ga harus jauh-jauh ke kutub untuk liat Penguin, dan ga harus ke australia buat liat koala 🙂