Joke Matematika untuk anak-anak

Sampai saat ini Jonathan masih terus menerus membaca ulang seri buku Murderous Math dan masih suka segala hal yang berbau matematika. Sekarang dia senang kalau bisa mengerti sebuah joke yang berhubungan dengan matematika.

Contohnya mengenai basis bilangan biner:

There are only 10 types of people in the world: those who understand binary, and those who don’t.

Lalu mengenai oktal

Q. Why do mathematicians confuse Halloween and Christmas?
A. Because 31 Oct = 25 Dec.

Hal-hal yang berhubungan dengan simbol matematika.

Lalu mengenai pi

Dan permainan kata berdasarkan istilah-istilah di matematika.

Contoh lain yang berhubungan dengan geometri

Saya senang Jonathan mulai bisa menghargai joke-joke seperti ini. Sekarang setiap kali menemukan joke/meme lucu yang berhubungan dengan matematika (dan juga bahasa, tapi ini akan saya bahas kali lain) yang age appropriate untuk Jonathan akan saya simpan atau saya forward langsung ke account Jonathan.

Seri Buku Murderous Math

Murderous Math adalah seri buku edukasi matematika yang kami beli di Big Bad Wolf book sale. Isi bukunya adalah cerita ngalor ngidul kocak dengan banyak fakta matematika disisipkan di dalamnya. Buku ini juga memiliki banyak ilustrasi yang menarik.

Membahas Fibonacci

Pembahasan matematikanya dalam berbagai serinya cukup luas, dari mulai konsep bilangan (termasuk juga basis bilangan), geometri (konsep pengukuran, pythagoras, 2 dimensi dan 3 dimensi), uang, probabilitas dsb.

Saya tidak tahu apakah anak-anak yang tidak suka matematika akan suka buku ini atau tidak, tapi Jonathan (usia 8 tahun) sudah menyelesaikan membaca kesepuluh buku yang kami beli dan dia sangat menyukainya dan bahkan sering dibaca ulang. Saya yakin jonathan belum mengerti semuanya, tapi itu tidak membuat dia berhenti membaca bukunya karena lucu. Contohnya di dalam salah satu buku ada konsep mengenai persamaan kuadrat. Materi ini terlalu berat untuk anak umur 8 tahun.

Selain terhibur Jonathan jadi penasaran dengan berbagai konsep matematika. Jonathan sempat tertarik dengan Fibonacci, lalu beberapa hari terakhir ini Jonathan sangat penasaran dengan faktorial. Dia mengalikan sendiri sampai faktorial yang cukup besar di kertas. Dia juga penasaran berkali-kali: kenapa 0! = 1, kenapa bukan 0?. Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang saya harus ngecek dulu ke Google supaya yakin bisa memberi jawaban yang benar.

Dari buku ini saya bisa melihat bahwa meskipun Jonathan masih sering tidak teliti mengerjakan soal-soal penjumlahan dan perkalian di materi home schoolingnya, tapi dia memiliki minat dalam bidang matematika.
Saya juga berusaha memberikan trick question misalnya dalam kasus faktorial: berapa 2 digit terakhir 100! (jawabannya sangat mudah, ini hanya sekedar mengetes logika saja) . Meskipun belum diajarkan di materi homeschoolnya sekarang Jonathan sudah tahu apa itu bilangan pi.

Sebagian isi bukunya membuat Jonathan terlalu excited dan ingin mengajari semua orang trik tertentu. Contohnya mengenai perkalian 1089. Perkalian dengan bilangan ini memiliki properti yang menarik: digit pertama dan kedua menaik, sementara digit ketiga dan keempat menurun.

Waktu Big Bad Wolf book sale kami langsung membeli satu kotak (isi 10) bukunya. Dan kami tidak menyesal membeli langsung sekotak, tapi bagi yang anaknya mungkin tidak suka matematika bisa dicoba dulu membeli satu atau dua buku.

Carmen Sandiego

Carmen Sandiego adalah nama seri video game edukasi yang mengajarkan Geografi. Game pertamanya sudah lama: sejak 1985 (Where in the World Is Carmen Sandiego?) dan ada beberapa versi lagi setelah itu. Baru-baru ini kami menyelesaikan menonton serialnya di Netflix dan Jonathan cukup suka.

Berbeda dengan cerita gamenya di mana Carmen Sandiego adalah penjahat yang harus dikejar, di TV ini diceritakan dirinya sebagai orang baik. Ternyata pencurian yang dilakukan Carmen Sandiego adalah dari orang jahat, dan dikembalikan ke yang berhak (atau dikembalikan ke Museum). Wajahnyapun digambarkan sebagai gadis muda yang manis, bukan wanita yang agak menyeramkan seperti di gamenya.

Pelajaran Geografinya menurut saya kurang banyak, tapi lumayan memberi summary singkat tentang sebuah negara. Bahkan di salah satu misinya dia pergi ke Indonesia. Dijelaskan bahwa makanan pokok orang Indonesia adalah nasi dan wayang adalah salah satu seni budaya Indonesia. Lokasi lain yang dikunjungi Carmen di season 1 ini: Perancis, Ekuador, Belanda, Australia, India dan Amerika.

Ceritanya banyak aksinya dan cukup seru. Ada jalinan cerita dari episode pertama sampai terakhir, ceritanya juga cukup menarik untuk saya tonton, tidak terlalu kekanakan. Saat ini hanya ada 9 Episode di Season 1. Menurut yang saya baca di Internet, setidaknya akan ada 11 episode lagi, entah itu akan diteruskan di season 1 atau di season 2 belum jelas.

Singkatnya: film ini bagus, recommended buat anak usia 7 tahun ke atas. Pelajaran geografinya cukup baik, tapi sebaiknya diberi suplemen informasi tambahan. Jonathan juga kadang saya tanya ulang mengenai fakta-fakta di film tersebut supaya ingat informasinya dan bukan hanya aksi dan cerita filmnya.

Curhat Potty Training

Tiap anak berbeda, tapi ada timeline yang bisa jadi garis besar untuk perkembangan tiap anak. Katanya gak baik membanding-bandingkan anak, tapi ya mau tak mau, punya anak 2 secara gak langsung jadilah membandingkan. Dulu potty training Jonathan juga ga mudah, tapi sebelum 3,5 tahun Jonathan sudah bisa dinyatakan lulus potty training. Setelah agak besar pernah sekali dua kali insiden terutama kalau dia kecapean dan gak ke toilet dulu sebelum tidur, tapi ya masih dalam batas wajar, karena dalam setahun gak lebih dari 3 kali insidennya terjadi.

Sekarang Joshua 3 tahun 8 bulan, tapi masih pakai popok :(. Awalnya sih mikirnya ya santai aja, ada teori baru, anak-anak itu gak perlu di potty train, ntar juga dia akan mengerti dan bisa ngerti untuk ke toilet. Tapi karena badan Joshua cukup besar untuk umurnya, semakin susah mencari popok untuk ukuran dia. Maka kamipun memutuskan waktunya untuk mengajari Joshua ke toilet.

Banyak teori terkait bagaimana cara membawa ke toilet dan kapan waktunya memulai potty train, tapi yang paling penting adalah membawa anak secara rutin dan mengerti apa itu pipis dan di mana tempatnya. Persoalan saat ini adalah: setiap kami bawa ke toilet, Joshua belum pernah mau pipis. Kadang-kadang bangun di pagi hari popoknya masih kering, di bawa langsung ke toilet, tetep aja gak pipis. Mungkin ini juga karena Joshua malas minum, jadi ya memang belum terasa pipis dan gak bisa memaksakan pipis.

Sekarang ini, akhirnya kami memakaikan celana biasa kalau di rumah, dengan resiko kalau dia kepipisan ya basah dan harus ngepel, dan hanya memakaikan popok kalau pergi. Belakangan dia mulai terlihat kayak orang kebelet pipis sambil pegang-pegang gitu, tapi sejauh ini di bawa ke toilet gak pernah mau jadi pipis, malah maunya main-main air. Terus tak lama setelah pasang celana lagi, baru deh dia pipis (dan harus ngepel huhuhu).

Masalah dia jarang minum juga masih harus dipikirkan gimana supaya dia suka minum. Dia suka minum, susu dan semua yang manis, tapi rasanya gak mungkin kan kalau dia dikasih minuman manis terus menerus. Jadi ya sekarang ini harus super sabar saja sampai dia mengerti dan bisa kasih tau dia butuh ke toilet.

Katanya orang-orang, emang lebih susah melatih anak laki-laki untuk potty train. Ya untungnya ini anak ke-2, jadi kami lebih sabar juga sih karena udah punya pengalaman sebelumnya. Tulisan ini juga sekedar jadi catatan buat ingat kapan kami memulai melatih Joshua ke toilet. Di masa depan kalau baca tulisan ini dan masa ini sudah berlalu, tentunya bisa berbagi tips lebih banyak.

Siapa yang lagi melatih anak ke toilet juga? semangat ya ibu-ibu dan bapak-bapak! Oh ya, para bapak, bantuin istri juga ya kalau latih anak ke toilet, apalagi kalau anaknya laki-laki.

Mengingat Jadwal di HP

Dengan memilih homeschooling, kami bisa menyusun jadwal lebih leluasa. Tapi karena banyak kelas tambahan, jadilah terasa lebih sulit mengingat semua jadwal kalau tidak dituliskan terutama kalau ada kegiatan tambahan yang di luar jadwal. Tahun lalu saya mencoba memakai diary/organizer fisik untuk mengingat jadwal termasuk merencanakan jadwal pelajaran, tapi hanya berhasil dipakai 1 bulan saja. Kadang-kadang waktu ada yang perlu ditulis, bukunya lagi gak di tas, sampai rumah jadi lupa deh.

Sejak gagal pakai buku fisik, saya mulai membiasakan diri mencatat jadwal di aplikasi Calendar yang ada di HP saja. Calendar di android ini bisa dishare juga ke Joe, jadi kalau ada appointment yang bukan hal rutin mingguan, saya tambahkan di Calendar dan bikin reminder berupa notifikasi maupun e-mail. Kalender yang kami pakai juga di sinkronisasi ke gmail. Jadwal yang sering terlupakan itu biasanya janji ke dokter gigi, karena cuma 6 bulan sekali, biasanya klinik gigi nya akan menelpon untuk mengingatkan janji untuk esok harinya, tapi kalau mengandalkan nunggu telepon repot juga kalau mau bikin rencana jalan-jalan di akhir pekan.

Tampilan kegiatan per hari

Calendar ini bisa diubah tampilannya untuk melihat schedule saja, jadwal sehari termasuk jamnya ataupun secara keseluruhan jadwal 1 bulan. Jadwal saya itu biasanya isinya ya jadwal antar jemput anak-anak. Terkadang ada juga kegiatan bersama atau khusus untuk saya. Sebenarnya hari ini, niatnya mau datang ke kumpulan perajut, tapi karena mata sangat mengantuk, saya putuskan buat tidur siang sama Joshua saja hehehe.

Tidak semua jadwal saya masukkan ke aplikasi Calendar. Biasanya kegiatan rutin mingguan sudah bisa saya ingat saja selain supaya calendarnya tidak kelihatan penuh. Saya tidak suka kalau jadwalnya kelihatan penuh hehehe. Selain jadwal, di aplikasi Calendar kita juga mengeset reminder untuk hal-hal seperti bayar rekening air dan listrik supaya tidak kelupaan.

Tampilan daftar kegiatan

Biasanya, saya mengeset tampilannya per bulan supaya ketahuan kira-kira bulan ini perlu ngapain saja. Kalau sudah diisi, supaya gak keliatan padat, baru saya ubah ke tampilan kegiatan saja. Tapi untuk mendapatkan feeling ada waktu kosong dalam sehari, saya ubah tampilannya per hari.

Kegiatan Jonathan terasa banyak karena berbeda dengan anak yang disekolahkan dan mendapat semua pelajaran di sekolah, Jonathan hampir setiap hari keluar rumah untuk pelajaran tambahan. Jadwal sekarang ini kelas art 1 kali seminggu, taekwondo 2 kali seminggu, kumon Thai 2 kali seminggu, piano 1 jam seminggu dan homeschool group 1 kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu biasanya sengaja dikosongkan untuk kegiatan bersama dengan papanya. Hari Senin sekarang ini kosong, karena kebanyakan tempat kursus tutup di hari Senin.

tampilan kegiatan bulanan

Dengan menyimpan jadwal di HP, sejauh ini saya jarang kelupaan sesuatu. Kemarin saya lupa menambahkan undangan dari rekan kerja Joe ke kalender, nah waktu guru piano Jona nelpon minta pindah jadwal, saya hampir saya lupa kalau Jumat sudah ada jadwal lain. Untungnya masih bisa di geser lagi ke hari lain hehe

Jadwal di HP ini bisa diintegrasi juga dengan kalender dari FB, tapi karena kebanyakan dapat notifikasi ulang tahun dari teman di FB, saya gak tampilkan di kalender saya. Toh kebanyakan kalau saya buka FB akan dapat notifikasi pengingat lagi di hari ulangtahun teman-teman di FB.

Dari dulu sampai sekarang, baru sekarang ini rasanya saya butuh banget mencatat jadwal kegiatan. Dulu mungkin kegiatannya gak banyak ya, dan rutin harian hampir sama, jadi gak butuh dicatat khusus. Sekarang ini yang usia sekolah baru 1 aja udah berasa banyak, gimana kalau nanti Joshua juga udah harus kursus ini itu ya hehehe. Mungkin kalau anak-anak di kirim ke sekolah, jadwalnya akan jauh lebih berkurang dan akhirnya Sabtu dan Minggu diisi dengan les seharian hehehe. Faktor lainnya kemungkinan karena faktor U, udah gak bisa ingat banyak hal hahahha.

Ada yang punya pengalaman sama soal memakai aplikasi Calendar untuk menyimpan jadwal? atau masih lebih suka nulis di buku fisik aja? Atau ada aplikasi yang direkomendasikan yang dirasa lebih oke dari Calendar? Sekarang ini sih buat saya aplikasi Calendar sudah terasa cukup, karena untuk kegiatan berulang, saya bisa tinggal copy dan ganti tanggal. Untuk kegiatan berulang setiap minggunya juga bisa di set sampai kapan berulangnya. Kalau masalah warna-warnanya sekarang ini saya pilih masih agak random, mungkin nantinya harus diasosiasikan untuk kategori kegiatan tertentu, supaya sekali lirik langsung tau kegiatannya apa dan untuk siapa (anak atau diri sendiri).

Tentang Mendidik Emosi Anak

Dinamika setiap keluarga itu berbeda. Dalam setiap keluarga, semua orangtua yang saya kenal berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Seperti kebanyakan orangtua, kami juga terus menerus belajar bagaimana mendidik anak supaya nantinya mereka menjadi manusia yang berhasil. Berhasil di sini bukan berarti nilai sekolah bagus dan atau jadi orang berkecukupan secara materi, tapi tentunya juga berdoa supaya mereka menjadi orang yang punya pribadi dan karakter yang baik.

Kemarin dapat kesempatan ngobrol-ngobrol dengan orang yang sudah berpengalaman di bidang mendidik anak. Mendidik di sini bukan hanya bidang akademik, tapi juga termasuk bagian karakter dan pribadi (mental health). Beberapa hal supaya gak lupa akan saya tuliskan di sini.

Sebagai orangtua, kita sering membaca buku mengenai topik parenting dan membesarkan anak. Beberapa hal sebenarnya isinya sama saja, tapi gak semuanya juga bisa diterapkan karena ya semuanya kembali ke situasi kita juga. Dari berbagai hal yang mungkin berhasil diterapkan di satu keluarga, belum tentu berhasil di keluarga lain. Tapi yang terpenting itu kita punya garis besar dan terus belajar mengenali anggota keluarga kita.

Hubungan orangtua menjadi contoh pertama untuk anak

Hal pertama yang diingatkan untuk kita orangtua, kita harus mengenali pasangan kita dan tidak pelit dalam mengucapkan kata-kata positif seperti terimakasih, dan juga menyatakan rasa sayang kita. Menyatakan rasa sayang ini bisa dengan gesture, ataupun dengan kata-kata. Ucapkan I love you sesering mungkin dalam sehari, dan kalau bisa secara spesifik sebutkan hal apa yang membuat kita merasa perlu memberi apresiasi. Kasih sayang orangtua satu sama lain akan diperhatikan oleh anak, dan karena anak-anak itu mesin fotokopi dan memory pertamanya adalah memory emosi, mereka juga akan menjadi anak yang penuh kasih terhadap sesama.

Memory pertama anak berupa emosi/perasaan

Untuk anak sampai umur 5 tahun, mereka mengerti sekitarnya berdasarkan apa yang mereka rasakan. Mereka merasa senang, merasa diperhatikan, dan mereka akan mengingat apa yang mereka lakukan ketika mendapatkan perasaan itu. Hal ini contohnya adalah, kalau kita punya lebih dari 1 anak, ketika anak pertama merasa orangtua lebih memperhatikan anak yang kecil, si anak yang besar ini akan meniru kelakuan si adik karena berpikir itulah caranya untuk mendapatkan perhatian orangtuanya. Bahkan kadang-kadang, misalnya kita memarahi anak yang besar karena “nakal” ke adiknya, kemungkinan anak yang besar itu mengulangi kenakalannya ada, karena mereka merasa dimarahi itupun bentuk diperhatikan.

Berikan waktu khusus untuk anak secara rutin

Nah tips yang diberikan untuk mengatasi masalah begini jawabannya sudah jelas, harus ada waktu khusus untuk si anak besar tanpa kehadiran si adik. Berikan pengertian dalam bentuk pengalaman yang meberikan emosi positif ke si anak tersebut. Kalau sudah cukup besar, bisa sambil diberikan pengertian penjelasan mengenai posisi anak tersebut sebagai anak yang lebih besar dan berikan tanggungjawab sesuai dengan umurnya.

Teorinya gampang ya memberikan waktu khusus buat yang besar, tapi prakteknya kadang sulit apalagi misalnya kalau adiknya masih menyusui dan nempel terus sama ibunya. Nah di sini peran bapaknya diperlukan untuk lebih banyak memberikan perhatian buat si sulung. Waktu khusus yang diberikan ini tidak harus keluar rumah atau memakan waktu berjam-jam, bisa jadi setiap harinya 10 menit sebelum tidur, atau dipagi hari ajak anak bermain bersama. Kalau ada waktu libur, bisa juga sekali sebulan pergi berdua anak besar saja.

Pilih sekolah yang dekat dari rumah

Salah satu hal yang di diskusikan masalah memilih sekolah. Kita sebagai orang tua sering memilih sekolah yang kita anggap baik, tapi akhirnya jauh dari rumah. Disarankan, lebih baik memilih sekolah lokal yang dekat dari rumah, daripada memilih sekolah yang travel time nya saja pulang pergi sampai 1 jam lebih. Waktu untuk antar jemput anak itu bikin kita jadi orangtua lelah dan akhirnya semakin malas untuk berinteraksi dengan anak karena sudah lelah di jalan. Untuk anak yang masih usia muda, yang dibutuhkan dari sekolah itu adalah interaksi sosialnya. Misalnya sekolah dekat rumah ini dinilai kurang bagus akademiknya, tidak jadi masalah, karena akademik itu bisa selalu kita yang lengkapi di rumah.

Anak perlu punya waktu dan teman bermain rutin

Untuk anak homeschooling, masalahnya beda lagi. Masalah yang timbul biasanya karena anak tidak punya banyak kesempatan untuk interaksi dengan orang lain, akhirnya si anak akan terus menerus “mengetes” orangtuanya. Karena itu untuk anak homeschool, ada baiknya punya rutin untuk ketemu dengan anak-anak lain, dan lebih baik lagi kalau anak tersebut orang yang sama dan bisa menjalin persahabatan yang baik.

Untuk kegiatan di rumah, anak bisa diberi kesempatan bermain yang misalnya susah merapihkannya atau kotor secara rutin, misalnya sekali seminggu. Sebenarnya lebih baik kalau bisa tiap hari, tapi ya minimal ada jadwal sekali seminggu. Hal ini kebetulan baru kami terapkan juga, paling sedikit sekali seminggu anak-anak main di bak pasir dan main air. Lalu sekali seminggu di bawa ke tempat bermain yang tetap. Sekali seminggu anak di bawa jalan ke taman. Dan paling tidak sekali seminggu main ke mall hehehe.

Expose anak dengan banyak hal, beri penjelasan bila bertentangan dengan nilai dalam keluarga kita

Ada yang bertanya bagaimana menyikapi kalau teman anak di sekolah ada yang kelakuannya kurang baik, apakah kita perlu melarang anak kita berinteraksi dengan anak tersebut? Nah katanya anak itu perlu di ekspose dengan banyak hal, bukan cuma hal positif saja. Tidak apa-apa berteman dengan anak yang kita nilai kurang baik. Di situ anak diajarkan kalau dalam hidup ini tidak semua orang baik, tentunya kita tahu apa yang baik karena ada yang tidak baik. Lalu kita perlu menanamkan nilai apa yang baik dalam keluarga kita dan kenapa kita tidak melakukan hal yang menurut kita tidak baik itu.

Fase penting dalam mendidik emosi anak

Satu hal yang saya baru belajar, ternyata ada 3 fase yang penting dalam mendidik emosi anak: sampai dengan 5 tahun, anak belajar mengenai value keluarga kita berdasarkan apa yang kita contohkan. Anak akan ingat bagaimana perasaan dia terhadap sebuah hal yang terjadi dan memahami berdasarkan perasaan positif atau negatifnya.

Fase berikutnya 5 – 10 tahun, anak mulai bisa diberikan pengertian dengan lebih banyak penjelasan. Akan tetapi, mereka belum benar-benar bisa mengikuti 100 persen untuk melakukan apa yang dia tahu baik dan tidak baik. Di sini kita perlu mereinforce value yang sudah kita ajarkan di usia muda. Kalaupun memberi pilihan ke anak, haruslah ada batasan. Mungkin di sini fase diberi kebebasan dalam batasan yang jelas. Ekspektasi terhadap anak harus jelas, karena anak belum bisa memutuskan sendiri.

Fase berikutnya 10-15 tahun, anak mulai dilatih untuk lebih bertanggung jawab dengan setiap tindakannya. Karena anak setelah 15 tahun bisa jadi tidak tinggal dengan orang tua lagi, maka anak perlu mengerti kalau dia perlu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri (misalnya bangun jam berapa kalau mau ke sekolah jam berapa).

Haduh tulisannya agak random ya, mudah-mudahan yang baca bisa mengerti dan siapa tahu ada yang mau share juga mengenai masalah mendidik anak ini.

Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.