Beli Buku Bonus Ilmu buat Ibu dan Calon Ibu

Masih ingat buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang pernah saya review sebelumya? udah jadi baca belum?

kalau mau baca review lainnya liat di instagramnya ya

Sedikit resume cerita, buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku ini buku yang menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang punya karir bagus lalu dihadapkan dengan pilihan dalam hidup dengan tanggung jawab yang lebih besar terhadap anak. Bukunya berisikan drama kehidupan yang sangat nyata untuk ibu-ibu muda termasuk masalah si mbak asisten yang mudik dan tak kembali. Dalam buku ini diceritakan bagaimana seorang wanita yang sukses dalam karir bertransformasi menjadi ibu rumahtangga yang awalnya sangat stress dengan semua yang terasa baru dan akhirnya bisa menjadi lebih baik setelah menemukan tips dan trik untuk mempermudah pekerjaan sebagai ibu di rumah. Yang menarik, tips-tips dituliskan bukan seperti membaca buku manual tapi masih tetap dengan cara bercerita keseharian. Tips yang bisa ditemukan termasuk cara mengurus cucian dari menjemur sampai menyetrika, mencuci piring, sampai pengelolaan waktu. Review lengkap semi curcol nya bisa di baca di tulisan sebelumnya.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa dan bisa mengerti situasi ibu-ibu punya anak ada ataupun tanpa asisten. Buku ini juga penting dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga.

Kalau belum jadi baca dan mulai penasaran, jangan ditunda lagi segera beli sekarang juga. Kenapa harus sekarang? karena dengan beli 1 buku, selain dapat ilmu dari bukunya juga lagi ada promosi bisa dapat ilmu tambahan dengan kesempatan mengikuti 4 kulwap dengan topik-topik yang perlu diketahui sebagai ibu (dan calon ibu). Kalau yang beli buku ini pria, bisa kasih kesempatan ikutan kulwapnya ke pasangannya, kakaknya, adiknya atau wanita terdekat yang dirasakan butuh (karena kulwapnya khusus untuk wanita).

Apaan sih kulwap itu? Kulwap itu singkatan dari Kuliah via WhatsApp, jadi gak perlu pergi kemana-mana dan materinya bisa diikuti dari manapun sambil dasteran di rumah. Kalau ga sempat ikutin pada saat kulwap berlangsung, ilmunya bisa dibaca kemudian kok. Pembicara/nara sumbernya biasanya orang yang berbagi ilmu dan ada sesi tanya jawab.

Narasumber kulwapnya 4 emak-emak yang juga psikolog

Nih informasi lengkap mengenai kulwap bonus dari buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku:

“Seorang ibu yang kuat bukanlah ibu yang tidak pernah meminta bantuan orang lain. Tapi ibu yang tahu kapan dia membutuhkan orang lain dan memiliki keberanian untuk mengekspresikannya.

Karena dibutuhkan satu desa untuk bisa membesarkan anak dengan baik. Maka, dibutuhkan juga satu desa untuk menghasilkan ibu yang baik pula.”

-Anna Maghusser-
Www.mother.ly

Kulwap ini hadir untuk memfasilitasi kebutuhan ibu akan hadirnya profesional melalui metode yang bisa diperoleh sambil mengerjakan tugas utama di rumah (dan bahkan sambil dasteran sekalipun) untuk membahas masalah sehari-hari. Nih catat topik, tanggal dan waktunya:

  1. Cara mengatasi stress pada ibu rumah tangga
    Pembicara: Citra Pratiwi, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Klinis Dewasa
    (Tanggal 23 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  2. Saat ibu ada dipersimpangan (Cara mengambil keputusan yang efektif)
    Pembicara: Ernawati, M.Psi., Psikolog
    (Tanggal 29 Oktober 2019 jam 9.00-11.00)
  3. Managemen Waktu bagi Ibu rumah tangga
    Pembicara: Feny Citra, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 30 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  4. Komunikasi dengan pasangan
    Pembicara: Ratih Sondari, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 31 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)

Bagaimana cara ikutan?
Biasanya untuk ikut 4 kulwap ini, anda perlu membayar Rp. 199.000.

Tapi kali ini, bisa didapatkan GRATIS.
Ya GRATIS!!!

Anda cukup membeli buku “Kupilih Jalan Terindah Hidupku” seharga Rp. 38.000 dan langsung bisa mendapatkan satu tempat duduk di masing-masing kulwap di atas.

Jadi, tunggu apa lagi?
Silahkan pesan bukunya dan daftar melalui WA ke +6282113997086

Persediaan terbatas! Jadi jangan sampai ketinggalan.

Naik Sepeda

Menurut beberapa sumber yang saya baca di Internet, kebanyakan anak umur 5-6 tahun (kadang kurang) sudah bisa diajari naik sepeda tanpa roda pembantu (training wheels). Tapi tidak semua anak bisa dan tidak semua anak mau diajari. Ini sekedar cerita bagaimana mengajari Jonathan yang agak telat, baru bisa bersepeda tanpa roda pembantu di usia 8 tahun.

Waktu saya baca di Internet, banyak juga orang tua yang bingung: anaknya sudah berusia X tahun (dengan X lebih dari 6), tapi belum bisa naik sepeda, perlukah dipaksa belajar? jawabannya pun beraneka ragam, ada yang bilang ini penting, dan ada yang bilang tidak penting. Tapi ada beberapa hal yang disetujui hampir semua orang:

  • Sepeda merupakan alat transportasi yang praktis, misalnya untuk dalam kampus atau tempat wisata tertentu
  • Bisa naik sepeda akan membantu nanti kalau mau naik motor, dan bahkan ketika naik mobil (belajar memperhatikan jalan dan lalu lintas)

Sejak umur 6 tahun itu sebenarnya Jonathan sudah dicoba untuk naik sepeda tanpa roda pembantu, tapi masih gagal. Masalah utama Jonathan adalah: tidak punya keinginan untuk bisa naik sepeda biasa. Di berbagai forum yang saya baca juga sama, masalah utama adalah: anaknya tidak mau belajar. Selalu ada alasan: panas, pengen pipis, jatuh sedikit bilang sakit lalu minta berhenti, dsb. Setelah dicoba beberapa kali akhirnya saya menyerah. Tahun berikutnya dicoba lagi, hasilnya masih sama, jadi saya menyerah lagi.

Di tahun sebelumnya saya juga pernah menunjukkan beberapa video Youtube tentang belajar naik sepeda. Tapi itupun masih tidak bisa diikuti. Sebagai catatan, tidak semua metode bisa dicoba karena alasan teknis:

  • banyak metode yang butuh tempat dengan karakteristik tertentu. Misalnya: tempat yang cukup landai tapi agak menurun dan luas
  • sebagian menyarankan melepas pedal sepeda, sedangkan tidak semua sepeda bisa mudah dilepas

Terpikir juga: mungkin sepedanya sudah terlalu kecil, jadi kami ganti sepeda, tapi tetap tidak berhasil.

Sekarang sedang masa liburan Jonathan, jadi tanggal 5 Juni lalu kami memutuskan untuk mencoba lagi. Hari pertama dan kedua masih sama: tidak ada niat belajar dan dalam 10 menit Jonathan sudah menyerah. Akhirnya saya suruh sendiri cari video belajar naik sepeda di Youtube yang menurutnya paling gampang.

Alfred Pennyworth: Why do we fall sir? So that we can learn to pick ourselves up

Setelah Jonathan mencari-cari beberapa video, dia ingin mencoba-coba yang dia lihat, tapi masih gagal juga. Akhirnya salah satu cara yang agak berbahaya dicoba: didorong oleh saya sampai kecepatan yang agak tinggi, lalu saya lepaskan agar dikayuh sendiri. Ini sebenarnya berisiko karena kalau belum bisa seimbang, jatuhnya bisa lumayan keras di aspal. Tapi ternyata Jonathan bisa mengayuh beberapa kayuhan. Dan setelah diulangi lagi: beberapa kayuhan lagi bisa. Sepanjang pagi itu saya terus mendorong dia. Walau sudah bisa mengayuh, dia sudah merasa capek setelah 15 menit latihan dan minta berhenti.

Esok harinya, tanggal 9, saya masih meneruskan mendorong. Tapi Jonathan akhirnya kepikiran berlari sedikit di atas sepeda, lalu pas sepeda mulai jalan, dia bisa mengayuh sampai beberapa meter. Ini titik di mana saya anggap dia sudah bisa: tidak dibantu mulainya, bisa mengayuh, bisa berhenti sendiri.

Setelah itu pelajaran masih terus berlanjut: dia harus bisa lebih lama lagi menyeimbangkan diri, tidak hanya beberapa kayuhan. Setelah beberapa hari, akhirnya keseimbangannya sudah lebih bagus. Sekarang semangatnya tinggi sekali untuk naik sepeda sendiri. Sekarang setelah bisa, dia menganggap naik sepeda itu fun, bahkan ketika gerimis pun ingin latihan. Kemarin Jonathan sudah bisa keliling kompleks rumah tidak saya temani.

Senang rasanya akhirnya berhasil mengajari Jonathan. Walau masih khawatir juga kalau dia akan jatuh. Sepupunya yang sudah bisa naik sepeda pernah jatuh dan harus dijahit lalu trauma belum mau naik sepeda lagi. Sebagai hadiah saya pergi bersama Jonathan membelikan sepeda baru, saya juga sekalian membeli sepeda lipat supaya bisa masuk mobil jika ingin dibawa ke tempat wisata yang tidak ada penyewaan sepedanya.

Dari pengalaman mengajari Jonathan, kesimpulan saya: Tiap anak tidak sama, harus ditunggu niatnya dan kemampuannya naik sepeda. Tapi bukan berarti harus ditunggu dengan pasif, menurut saya tetap harus dicoba sambil diberi semangat. Kalau sudah dicoba beberapa kali dan tidak ada kemajuan, mungkin memang belum saatnya dan perlu dicoba lagi beberapa bulan ke depan.

Bawa Anak Potong Rambut

Setiap anak beda-beda, tapi entah kenapa punya anak 2 kalau di bawa potong rambut hasilnya sama susahnya. Waktu kecil, kami sering membiarkan Jonathan gondrong karena setiap di bawa ke tukang cukur pasti nangis-nangis. Udah coba berbagai cara tapi selalu gagal, sekarang kejadian yang sama terjadi dengan Joshua. Akhirnya sekali setahun kami paksa juga bawa dan biarkan anak menangis sambil dipegangin dan dicukur dengan cepat.

Selama 12 tahun di sini, kami selalu pergi ke tukang cukur yang sama di dekat rumah. Tukang cukur ini memang khusus untuk cukur laki-laki, biasanya ya tempat joe cukur rambut. Karena sudah kenal, mereka memaklumi kalau anak kami agak ribut sesekali pas di bawa cukur.

Sejak beberapa waktu lalu, karena sekarang tiap cukur bukan cuma Joe saya tapi juga Jonathan dan Joshua akhirnya saya minta nomor telpon dan kalau mau cukur menelpon dulu (ya, awal-awal mikirnya deket inilah, ngapain nelpon dulu, langsung aja datang hehehe). Tukang cukur ini juga sudah hapal sama kami, jadi kalau nelpon gak perlu sebut nama langsung tau: oh yang mau cukur papanya dan anak 2 ya. Mungkin mereka juga siap-siap bakal ada anak nangis gitu ya hahaa.

udah ga takut suara alat cukur

Oh ya, sampai umur 6 tahun rasanya Jonathan masih suka takut dengan suara alat cukur. Tapi sejak 7 tahun dia sudah mulai berani dan bahkan minta dikeramas segala seperti papanya. Kami pikir, ya kalau dengan begitu dia tidak ketakutan lagi di bawa potong rambut, tidak apa-apa bayar lebih, toh di sini cukur rambutnya bukan di salon mahal.

minta dikeramas juga

Sekarang ini Jonathan berani cukur tapi Joshua masih selalu takut cukur. Joe pergi sama Jonathan saja kalau cukur, lalu Joshua di bawa sendiri di hari lain supaya tidak kelamaan nungguin di tukang cukur. Tentunya sebelum ke tukang cukur, saya yang menelpon biar ga antri lama hehe.

Kalau ingat masa-masa sebelumnya, nanya ke orangtua lain kok anaknya gak masalah di bawa cukur, gak kebayang akhirnya Jonathan bisa duduk sendiri di tukang cukur walaupun menunggu sampai dia agak besar. Ya ada hal-hal yang akhirnya tidak jadi masalah setelah anak tumbuh besar, apalagi kalau anaknya tipe suka meniru papanya hehehe. Nah sekarang ini kami berusaha kasih tunjuk foto-foto dan video Jonathan cukur. Awalnya kami juga pernah bawa Joshua melihat papa dan kakaknya cukur, tapi Joshua tetep saja belum mau cukur dengan sukarela, akhirnya ya Joshua akan lebih sering gondrong sekarang ini hehehe.

Saya gak punya tips bagaimana membawa anak cukur supaya mereka mau cukur dengan sukarela selain: tunggu saja, pada waktunya mereka akan mengerti dan gak akan takut lagi potong rambut. Setelah anak bisa diajak ngobrol, mereka mungkin gak langsung berani, karena Jonathan sudah mengerti dari sejak sebelum 6 tahun, tapi pada saat waktunya dicukur, dia masih takut. Yang bisa kita lakukan ya kasih contoh, kasih pengertian, temani dan tunjukkan kalau cukur itu hanya sebentar dan toh setahun paling banyak 3 kali ke tukang cukur. Kalau rambut anaknya keriwil, setahun 2 kali juga cukup hehehe.

Review App: Code-a-pillar

Tulisan ini membahas aplikasi gratis Code-a-pillar yang tersedia gratis untuk Android dan iOS. Catatan: tulisan ini opini pribadi, dan saya tidak dibayar untuk menuliskannya.

Selain main Tangram, sekarang ini Joshua suka main game Code-a-pillar dari Fisher Price. Namanya seperti itu karena aplikasinya bertujuan mengajarkan pemrograman sederhana (coding) dengan memberikan instruksi lurus, belok kanan atau belok kiri ke seekor ulat bulu (caterpillar).

Instruksi cara bermainnya diucapkan oleh ulat bulunya, Joshua bisa dengan mudah mengikutinya. Dalam waktu singkat, Joshua boisa menyelesaikan 13 level yang diberikan di dalam aplikasinya, tapi ya dia tetap senang berlatih untuk mengulangi lagi dari awal.

Joshua sudah selesai 13 level

Sekarang ini Joshua mengerti benar mana itu right (kanan) dan left (kiri) walaupun orientasi ulatnya dari berbagai arah. Kalau lurus tentunya dari dulu juga sudah tau hehehe. Selain belajar problem solving/coding, aplikasi ini juga mengajarkan untuk berhitung dan mengenali warna.

video 13 level app Code a pillar

Waktu saya mencari tahu mengenai aplikasi ini, ternyata aplikasi ini merupakan pendamping dari mainan fisik ulat bulu untuk seri belajar: Think & Learn Code-a-pillar. Mainannya terlihat lucu, karena bisa dibongkar pasang untuk menyusun instruksinya. Lalu setelah disusun, tinggal dijalankan untuk melihat hasil dari urutan instruksi yang diberikan. Untuk melihat mainannya bisa dilihat di video berikut:

sumber: https://youtu.be/iYEKD1Befg8

Dan melihat lucunya mainan ini, kami memutuskan untuk memesan mainan ini (yang pengen bapaknya kayaknya, anaknya aja gak tau ada mainannya hahahah). Sebenarnya sekalian juga buat hadiah ulang tahun Joshua yang sebentar lagi 4 tahun, siapa tahu nanti besarnya bisa jadi programmer handal kayak bapaknya hahahha. Mudah-mudahan mainannya sampai pada waktunya dan gak mengecewakan.

App nya sebenarnya sangat sederhana, tapi dengan adanya mainan fisiknya nantinya diharapkan bisa lebih banyak lagi eksplorasi yang dilakukan untuk mengarahkan caterpillarnya, dan sebenarnya code a pillar ini seperti versi lebih awal dari bahasa pemrograman Logo seperti yang ada di buku Secret Coders.

Sayangi Mata

Dulu, waktu saya masih kecil, saya ingat sering dimarahi sama mama saya kalau dilihat membaca dengan posisi tidur ataupun dalam gelap. Sampai dengan tahun lalu, waktu saya belum merasakan terganggu bisa membaca dan melihat apa saja tanpa kacamata, saya merasa bangga bisa melewati masa remaja sampai kepala 4 tanpa kacamata. Tapi ya, segala sesuatu itu ada umurnya, termasuk indera pengelihatan alias mata.

Setelah lewat umur 40, saya mulai merasa kesulitan membaca tulisan yang kecil-kecil atau tanpa pencahayaan yang cukup. Melihat tulisan di komputer saja tanpa pencahayaan yang tepat rasanya sulit. Karena terbiasa hidup tanpa kacamata, walaupun sudah bikin kacamata, saya lebih sering tidak memakai kacamata dan memaksakan diri tanpa kacamata. Rasanya sangat tidak nyaman sekali, mata harus terpicing dan tulisan yang terlihat juga tidak fokus.

Sekarang saya mengerti kenapa mama saya dulu sering mengingatkan untuk memelihara kesehatan mata. Mata ini salah satu indra yang sangat berharga. Walaupun masalah mata kadang bisa dibantu dengan kacamata, tapi adakalanya ancaman kebutaan juga terjadi kalau kita gak menjaga mata dengan baik.

Sekarang ini Jonathan senang sekali membaca. Setiap pagi, bangun tidur dia akan membaca salah satu buku yang ada di kamarnya. Tempat tidurnya sudah jadi kayak rak buku, ada beberapa buku yang dia letakkan di sana. Saya senang dia suka membaca, tapi dia sering membaca tanpa menyalakan lampu atau buka jendela. Sekarang ini giliran saya deh yang selalu mengingatkan Jonathan untuk jangan membaca dalam gelap, dan jaga matanya jangan sampai rusak. Makai kacamata itu sungguh tidak enak, ketergantungan dengan kacamata sudah sering membuat banyak cerita orang tidak bisa melakukan pekerjaanya dengan baik karena ketinggalan kacamata.

Menurut saya, memakai kacamata setelah umur tertentu (dan karena mata memang sudah tua) itu sudah prestasi buat saya. Saya gak pernah mengalami kesulitan membaca tulisan di papan tulis ketika masa sekolah sampai perkuliahan. Tapi tentunya mata rusak bisa dihindari karena saya mendengarkan nasihat orangtua.

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memelihara kesehatan mata:

  1. Jangan membaca di dalam gelap atau tanpa pencahayaan yang cukup
  2. Jangan menonton tv atau gadget terlalu dekat
  3. Jangan kebanyakan melihat layar tv ataupun gadget
  4. Banyak makan sayur dan buah terutama yang mengandung vitamin A
  5. Jangan paksa mata bekerja, kalau sudah terasa lelah, istirahatkan mata dengan memejamkannya
  6. Hati-hati kalau berolahraga, naik motor atau berkegiatan, lindungi mata jangan sampai terbentur atau kemasukan debu.
  7. Jangan sembarangan memakai obat tetes mata tanpa resep dokter. Saya tahu, ada banyak orang yang salah memakai obat tetes mata malah memperparah keadaan mata
  8. Kalau sudah memang harus pakai kacamata, jangan paksakan mata membaca tanpa kacamata. Kacamata itu dibeli untuk membantu kita melihat, bukan buat disimpan doang hehehe (ini sih saya mengingatkan diri sendiri)
  9. Periksa kesehatan mata secara berkala, terutama kalau sudah memakai kacamata atau diatas 40.

Saya tahu, di jaman sekarang ini, anak kecil banyak yang sudah harus memakai kacamata minus. Ada yang karena masalah genetik, tapi ada juga yang karena kebanyakan melihat layar henpon, tablet, komputer ataupun tv. Kalau dulu tantangannya cuma membaca buku dan nonton tv, sekarang ini semakin banyak tantangannya. Kita sebagai orangtua perlu memberi contoh yang baik selain tetap mengawasi dan mengingatkan anak untuk menjaga kesehatan mata.

Pada akhirnya mencegah memang lebih baik daripada mengobati. Kerusakan mata sifatnya tidak bisa kembali seperti semula. Walaupun ada yang namanya operasi lasik yang katanya bisa membantu orang yang tadinya pakai kacamata lalu bisa melihat tanpa kacamata dan berbagai kemajuan di bidang kedokteran untuk kesehatan mata, tapi tentunya mata yang sehat pemberian Tuhan lebih penting daripada beranggapan ah nanti bisa dibantu dengan kacamata atau ah nanti bisa dioperasi biar bisa melihat tanpa kacamata.

Yuk jaga kesehatan mata, kalau sudah terlanjur pakai kacamata pun tetap gak salah untuk memulai menjaga kesehatan mata. Misalnya dengan tidak memandangi layar hp di saat lampu sudah gelap atau nonton berjam-jam tanpa henti karena mau habisin nonton serial yang udah lengkap (ah ini sih lagi-lagi ngomong ke diri sendiri).

Buku: Prayer for a Child

Buku Prayer for a Child merupakan buku klasik yang pertama kali terbit tahun 1944 tapi masih menarik untuk dibacakan sampai sekarang. Ditulis oleh Rachel Field dan setiap halamannya berisi ilustrasi gambar oleh Elizabeth Orton Jones.

Kami membeli buku ini dari Amazon waktu Jonathan masih kecil. Buku ini merupakan salah satu buku terpanjang yang dihapal Jonathan sebelum dia bisa membaca dan merupakan salah satu buku rutin yang dibaca sebelum tidur. Saya ingat, waktu kami pulang ke Indonesia buku ini juga kami bawa untuk bacaan sebelum tidur. Setelah Jonathan lancar membaca, dia mulai tertarik membaca buku lain dan buku ini kami simpan untuk adiknya.

Jonathan waktu 3 tahun 7 bulan

Sejak Joshua tertarik dibacakan buku, kami juga sudah membacakan buku ini berkali-kali ke Joshua. Lagi-lagi, walaupun dia dalam buku ini cukup panjang, Joshua juga bisa menghapalkannya sejak dia belum terlalu bisa membaca.

Beberapa lama buku ini sempat ditinggalkan dan baru belakangan ini dibaca lagi. Walau sekian lama gak dibaca, Joshua masih ingat dengan isi buku ini. Joshua sekarang sudah agak bisa membaca, tapi walaupun dia selalu membalik halaman seolah membaca, saya yakin sebagian besar berupa hapalan dan bukan benar-benar bisa dibaca.

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang cukup menarik dari setiap baris doanya. Kata-kata yang digunakan tidak semua sederhana, tapi cukup berima sehingga mudah diingat. Setelah membacakan beberapa kali, baru melihat gambarnya saja saya bisa ingat kalimatnya.

Joshua 3 tahun 10 bulan

Sekarang, setiap malam Joshua membaca buku ini dan meminta saya mengikuti setiap kalimat yang dia ucapkan. Kadang-kadang dia juga sambil menirukan saya yang pernah memakai buku itu untuk bermain: apa yang kamu lihat, atau mengenali objek-objek yang ada.

Secara isi doa, walaupun doa ini ditujukan penulis untuk anak perempuannya Hannah, tapi doa ini bisa juga diucapkan anak laki-laki. Bahkan bisa untuk orang dewasa sekalipun.

Doanya dimulai dengan bersyukur untuk susu dan roti (makanan), bersyukur untuk tempat tidur yang ada, bersyukur untuk mainan yang dimiliki sampai mendoakan semua anak-anak di seluruh dunia jauh maupun dekat.

Buku ini merupakan buku yang bagus untuk mengajari anak berdoa. Kita bisa mengajari anak berdoa bukan hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk semua hal kecil dan besar, mengucap syukur untuk orangtua dan saudara. Tak lupa mendoakan sesama (anak-anak lain).

Walaupun pada saat anak-anak kami membaca buku ini kemungkinan besar mereka belum mengerti sepenuhnya dengan isi doanya, tapi kami senang menemukan buku yang mengajari anak berdoa seperti ini.

Manfaat Menghomeschool Anak

Udah lama gak cerita soal homeschoolingnya Jonathan. Beberapa minggu lalu, Jonathan dan Joshua ikutan summer camp jadi kegiatan homeschoolingnya diliburkan. Campnya itu mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 3 sore. Waktu mereka ikut camp, setiap pagi jadi terasa lebih berat dari hari-hari sekolah di rumah.

Biasanya, kegiatan homeschool di rumah mulai jam 9 -an, tapi tidak ada waktu tempuh jadi ya seselesainya makan mandi baru mulai. Nah kalau kegiatannya bukan di rumah, otomatis pagi-pagi jadi harus lebih awal melakukan semuanya supaya tidak terlambat sampai ke tujuan.

Jadi terpikir, ternyata homeschooling itu jauh lebih santai daripada kirim anak ke sekolah. Selain masalah flexibilitas waktu, saya merasakan beberapa manfaat lain dari menghomeschool anak. Manfaat yang ingin saya tuliskan di sini bukan untuk anak, tapi untuk kami orangtuanya. Setidaknya ini yang kami rasakan.

Fleksibilitas

Kegiatan homeschooling kami biasanya hanya 4 hari seminggu, mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 12 siang. Kalau Jonathan lagi agak bengong, ya kadang baru diselesaikan sekitar jam 1 siang (setelah dia selesai makan). Sekarang ini Joshua belum saya berikan pelajaran yang terstruktur, untuk Joshua setiap harinya intinya bermain dan bermain. Mau mainan mobil-mobilan, lego, playdough, piano, berantakin rumah, coret-coret di papan tulis, bebasss asalkan gak gangguin kakaknya.

Kadang-kadang, kalau ada kebutuhan, kami bisa saja meliburkan hari sekolah. Sebaliknya kalau Jonathan mau, bisa saja di akhir pekan dia mengerjakan pekerjaan sekolahnya supaya lebih cepat selesai dan bisa libur di hari lain.

Masalah fleksibilitas ini tentunya ada plus minus. Walaupun sangat fleksibel, kami tetap punya target kalau 1 tahun ajaran itu tidak lebih dari 10 bulan. Yang paling tersasa sekarang ini sih, dengan homeschooling, saya tidak repot antar jemput ke sekolah.

Ikut belajar

Ini salah satu manfaat yang paling terasa buat saya. Dulu waktu belajar bahasa Inggris, saya gak pernah tahu istilah phonics, dan berbagai istilah untuk grammar bahasa Inggris. Sekarang ini, dengan menghomeschool Jonathan, saya jadi ikut belajar dan seperti mendapat ilmu baru.

Selain pelajaran bahasa Inggris, sekarang ini saya juga jadi ikutan belajar piano. Dari dulu saya tidak pernah belajar alat musik. Menyanyipun gak terlalu hobi. Tapi sejak kami mengkursuskan Jonathan piano, ya saya juga jadi ikutan belajar dari bukunya. Sekarang ini malahan guru piano Jonathan baik hati, saya diajari tanpa biaya tambahan. Jadi bayar 1 yang belajar 2 hehehe.

Sejak menghomeschool, kami juga jadi banyak membelikan buku-buku yang berisikan informasi yang bisa menambah pengetahuan umum Jonathan. Sebelum dia baca, tentunya kami perlu mencari tahu dulu isi buku itu kira-kira apa, lalu kami juga jadi ikut membaca buku-buku seperti Secret Coder, Murderous Maths maupun Horrible Geography. Bacaan seperti itu juga sedikit banyak merefesh apa yang sudah kami ketahui dan menambah banyak fakta yang mungkin sebelumnya kami tidak pernah tahu.

Selain ikut belajar dengan semua yang dipelajari anak, saya juga jadi ikut bersemangat untuk tetap belajar hal-hal baru seperti Joe yang pengen belajar menggambar atau saya yang lagi belajar bahasa Korea.

Tahu persis perkembangan anak

Pendidikan itu dimulai dari rumah. Waktu Jonathan kami kirim ke sekolah, kami tetap memantau perkembangan dia, tapi harus diakui kadang-kadang kami jadi terlalu santai dan berpikir dia belajar di sekolah baik secara akademis, sosialisasi dan juga lifeskill.

Waktu Jonathan disekolahkan, badannya kurus, dia sering sakit dan kami sering dapat keluhan dari sekolah kalau dia tidak fokus di kelas dan mengganggu kegiatan kelas. Kami sudah menyadari soal Jonathan yang mudah teralih perhatiannya karena sekarangpun masih terjadi. Tapi setelah di homeschool dan berat badannya naik dan lebih sehat, saya baru menarik kesimpulan jangan-jangan selama ini Jonathan makannya gak bener di sekolah.

Jonathan memang lambat makannya dan hanya suka makanan tertentu, Di sekolah jam makan itu terbatas, selain itu dia pasti pengen main sama teman-temannya. Jadi ada kemungkinan hampir setiap harinya Jonathan tidak makan siang yang cukup di sekolah, dan itu juga yang membuat dia lebih mudah sakit.

Sekarang ini karena sehari-harinya di rumah, kami tahu persis apa yang dia makan dan berapa jam sehari dia tidur (malah kadang-kadang masih bisa disuruh tidur siang). Untuk masalah gampang teralih perhatian, bisa diminimalkan, karena yang mengganggu cuma Joshua hehehe.

Dengan homeschool, kami juga tau persis sampai mana level pemahaman Jonathan untuk suatu topik. Untuk lifeskill nya kami juga tahu bagian mana yang masih perlu dilatih lagi dengan memberikan dia tanggung jawab membantu saya di rumah.

Kenal dengan semua teman anak

Dengan homeschool, tidak ada yang namanya rapat orang tua guru, dan tentunya saya kenal dengan semua teman bermain Jonathan. Biasanya untuk sosialisasi pasti saya ketemu juga dengan temannya dan juga orangtua dari temannya. Kadang-kadang malah, secara gak langsung bukan cuma Jonathan yang punya teman, tapi kami juga jadi berteman dengan orangtua temannya itu.

Kalau dikirim ke sekolah, kemungkinan kita tidak kenal semua teman anak kita, kita juga belum tentu kenal dengan orangtua dari teman anak kita. Dengan mengenali teman dan keluarga temannya, kita bisa tahu seperti apa pengaruh yang diterima anak kita dari pertemanannya.

Team work dengan pasangan

Menghomeschool itu butuh komitmen. Hari-hari sekolah tidak selalu penuh dengan bunga, lebih sering penuh dengan tantangan kalau Jonathan lagi susah fokus. Saya ini bukan orang yang super sabar, kalau Jonathan lagi susah dibilangin (bukan karena dia gak ngerti pelajarannya, biasanya karena dia ngeyel saja), saya memilih berhenti pelajaran tersebut dan minta tolong Joe untuk menyelesaikan topik tersebut.

Kadang-kadang, mungkin Jonathan juga bosan liat mamanya sepanjang hari, jadi beberapa pelajaran saya minta Joe yang ajarin dan beri penilaian. Misalnya untuk creative writing (dalam bahasa Inggris), saya merasa masih kurang bisa menulis dalam bahasa Inggris, jadi saya minta Joe yang ajarin. Untuk pelajaran science, ada beberapa hal yang perlu melakukan eksperimen. Jonathan biasanya senang melakukan eksperimen ini dengan papanya, jadi ya sekalian deh saya minta Joe yang pegang pelajaran science.

Dengan menghomeschool, saya dan Joe jadi belajar bagi tugas supaya anak dapat pendidikan tapi juga tidak merasakan itu jadi beban. Kami jadi lebih sering berdiskusi untuk merencanakan apakah ada kegiatan yang perlu dikurangi atau diganti. Kami berdua mengevaluasi perkembangan anak-anak, termasuk mempertimbangkan apakah Joshua sudah perlu dikursuskan sesuatu atau tidak.

Hemat

Karena kami homeschool bukan mengirim ke lembaga homeschool dan bukan membeli kurikulum yang mahal. Pilihan homeschool ini bisa dibilang sangat murah bila dibandingkan mengirim anak ke sekolah. Kami tidak keluar biaya uang sekolah, tapi kami cukup membeli buku, buku dan buku hehehe.

Karena belajarnya di rumah, ya otomatis tidak ada biaya transport. Kalaupun ada kegiatan tambahan di luar rumah, rasanya anak yang sekolahpun sering ada kegiatan tambahannya. Faktor yang paling berasa, karena gak perlu antar jemput, ya jadinya hemat bensin deh hehehe.

Kesimpulan

Ketika kami memutuskan untuk homeschool Jonathan, kami sempat dilema dengan banyak hal. Apalagi kami homeschool itu awalnya bukan karena idealisme, tapi lebih karena terkondisikan. Sampai sekarang masih ada beberapa hal yang belum bisa kami jawab terutama masalah ijasah. Masalah ijasah ini ada pentingnya, tapi lebih penting lagi untuk punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian.

Fokus kami sekarang ini supaya anak-anak punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian. Untuk ijasah kami tetap pikirkan. Kami yakin, kalau anak punya kemampuan belajar mandiri, tidak akan ada masalah untuk ambil ujian persamaan sebelum ujian untuk masuk perguruan tinggi.

Mau homeschool sampai kapan? ya selama masih lebih banyak manfaatnya dan kami mampu, kami akan tetap homeschool. Tidak semua orang cocok menghomeschool dan tidak semua anak cocok dihomeschool. Semuanya tujuannya untuk membekali anak dengan pendidikan, demi masa depan yang cerah hehehe.