Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.

Pecah(kan) Kacanya

Ceritanya hari ini kami ajak anak-anak ke park yang kecil untuk bermain sebentar. Mau ke Rajapreuk takut kehujanan karena beberapa hari ini Chiang Mai hujan lagi (kirain udah abis musim hujannya). Setelah puas bermain-main di playground, Joshua ingat kalau di situ dia pernah makan ice cream sebelum pulang. Jadilah dia belok ke coffee shop dan saya pikir ya sekalian saya juga belum minum kopi.

Meja tempat kami duduk, meja kayu dengan alas kaca diatasnya. Dari sejak awal kacanya sering bergeser karena ga nempel ke mejanya. Karena Joshua bersandar ke meja, kacanya selalu bergeser dan berkali-kali saya geser kembali. Kami sudah memutuskan akan pulang karena ice cream Joshua sudah habis dan rainbow crepe pilihan Jonathan juga sudah habis. Tiba-tiba “prak”, Joshua menyebabkan kacanya terbentuk ke dinding dan kacanya pun pecah.

Sebenarnya bisa saja kami kabur pulang karena mbak-mbak yang jaga coffeeshopnya ga lihat. Tapi saya tahu, itu ga benar.  Saya panggil mbak-mbaknya dan kasih tau, “Mbak maaf, mejanya kacanya pecah”. Mbaknya kaget, dan nanya: “Siapa yang mecahin?” Saya jawab, “Anak saya yang pecahin. Dia memang agak bersandar dan kacanya geser terus, dan tau-tau kejeduk ke dinding dan pecah. Kalau saya perlu ganti, berapa yang harus saya bayar?” Mbaknya langsung sibuk nelpon pemilih coffeeshopnya. Dia juga wajahnya cemas dan lega campur aduk sepertinya. Cemas kaca pecah, lega karena yang mecahin customernya ga kabur.

Setelah pemiliknya tahu, si mbak penjaga bilang sambil merasa ga enak hati: “Maaf, kalau bayar 500 baht gimana? jadi kita setengah-setengah bayarnya, karena kacanya perlu dipesan dulu untuk ukuran ini”. Mungkin dia ga enak hati karena takut saya menolak bayar, karena 500 baht itu cukup mahal. Saya ga tahu harga kaca meja, sebenernya bisa saja saya googling dulu nyari tahu harga, tapi saya pikir ya sudahlah, memang salah kami juga udah tahu mejanya bergeser mulu kacanya tapi masih duduk disitu juga, padahal banyak meja lain yang kosong. Saya bilang: “Ok mbak, ini 500 bahtnya, saya juga minta maaf anak saya pecahkan kaca mejanya”. Setelah itu saya keluar. Tadi supaya ga rusuh waktu ngasih tau mbaknya, anak-anak dan bapaknya udah duluan saya suruh keluar dari toko, dan mereka saya suruh duluan ke mobil waktu tau mbaknya masih harus laporan dulu ke pemilik coffee shop.

Waktu saya jalan keluar, baru aja mau sampai ke mobil, eh tau-tau si mbak manggil-manggil dari pintu keluar satunya lagi. Saya pikir, apa 500 baht kurang ya? Tapi ternyata saya salah. Mbaknya bilang: “Ternyata ada kaca cadangan untuk meja ukuran itu, jadi duitnya saya kembalikan saja”. Wah, saya jadi speechleess. Padahal bisa saja mbaknya mengantongi duit 500 bahtnya kan, eh dia baik hati malah berusaha mengejar saya. Setelah saya menerima duit saya kembali, saya meminta maaf sekali lagi karena anak saya mecahin kaca meja dan berterimakasih karena saya ga harus ganti kaca yang pecah.

Bertahun-tahun tinggal di Chiang Mai, saya semakin kagum dengan kebaikan dan kejujuran orang-orang di sini. Pegawai di coffee shop yang kemungkinan gajinya ga seberapa, pastilah kalau dapat 500 baht itu bisa buat makan beberapa hari. Tapi dia memilih untuk mengembalikan ke customer, karena kemungkinan itulah yang diperintahkan sama si pemilik toko. Pemilik tokonya juga ga merasa rugi memakai kaca cadangan, padahal kan bisa saja dia bilang oke sekarang pake kaca cadangan, nanti duit yang 500 baht dipakai untuk menyiapkan cadangan berikut siapa tahu pecah lagi tapi ga ketahuan siapa yang mecahin.

Pelajaran hari ini juga kami pakai ke Jonathan untuk mengajarkan kalau kita salah harus mau mengakuinya. Kita perlu minta maaf dan bertanya bagaimana memperbaiki kesalahan kita itu. Kadang mungkin kita harus bayar, tapi bisa jadi setelah kita akui kita ga harus bayar. Jadi ingat dengan lagu Daniel Tiger’s Neighborhood. “Saying I’m sorry is the first step, then how can I help?“.

Mr. Rogers dan Daniel Tiger’s Neighborhood

Dari sejak Jonathan kecil, kami sudah tahu tentang serial Daniel Tiger’s Neighborhood. Sekarang sejak Joshua mulai mengerti juga, kami putar ulang film Daniel Tiger yang dibikin berdasarkan tokoh Mr. Rogers.

Baru-baru ini kami menonton dokumenter mengenai Mr. Rogers dan filosofinya mengenai anak-anak. Sejak dulu sampai sekarang saya terkesan dengan cara-cara dia menghadapi anak-anak yang mana saya masih sangat perlu banyak belajar. Katanya kita harus menaruh kepercayaan pada -anak. Kalau mau tahu siapa itu Mr. Rogers, bisa dibaca di link ini. Singkatnya Mr.Rogers ini orang baik yang perhatian untuk perkembangan anak-anak dan berusaha supaya ada tayangan tv untuk anak-anak yang bermutu.

Ada banyak hal yang dibahas dalam dokumenter tersebut, hal-hal yang mungkin sebelumnya sudah terpikir tapi ga pernah saya renungkan. Tulisan ini bukan mau mengajak merenung tapi sekedar menuliskan hal-hal yang ingin saya ingat dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kami. Dalam dokumenter tersebut ditunjukkan bagaimana dia berargumen untuk mendapatkan dana meneruskan tayangan acara TV nya (dan PBS pada umumnya). Video argumennya ada di Youtube.

Mr. Rogers sewaktu kecilnya pernah menjadi korban bully. Setelah besar, dia tidak pernah menyukai menonton TV, tapi dia terinspirasi untuk menggunakan TV dalam mendidik anak-anak. Mungkin sekarang ini banyak yang bilang: ah no screen time lah, ga bagus itu TV. Tulisan ini bukan mau debat soal screen time.

Mr. Rogers memperlakukan anak-anak semuanya spesial. Katanya kita tidak perlu melakukan sesuatu yang khusus untuk mendapatkan kasih sayang dari orang lain. I like you just the way you are. Anak-anak juga diajarkan untuk menjadi diri sendiri dan menerima orang lain di sekitarnya tanpa membuat orang lain merasa kurang sesuatu. Dalam program TV nya dia juga mengajarkan bahwa ga semua orang sama, dan perbedaan itu biasa aja. Walau berbeda tapi bisa tetap bermain bersama.

Kebanyakan program TV untuk anak-anak yang menghibur seperti Tom dan Jerry, Mickey Mouse ataupun Donald duck sebenarnya kurang mendidik, kerjanya berantem mulu dan kejar-kejaran. Apalagi Donald Duck yang kerjanya ngomel mulu hehehe. Banyak tontonan anak-anak juga menunjukkan adegan tembak-tembakan atau tokoh superhero yang jago berantem dan bisa terbang. Ada banyak kasus di mana anak-anak tidak bisa membedakan apa itu imajinasi dan kenyataan. Anak yang berpikir hanya memakai cape/jubah seseorang bisa terbang bisa jadi cedera ringan sampai parah kalau dia coba-coba lompat dari ketinggian setelah memakai kostum berjubah.

Di acaranya Mr. Rorgers Neighborhood, dia mengenalkan banyak konsep dengan dunia imajinasi. Anak-anak diajak berimajinasi tapi ya disebutkan ayo kita berandai-andai/make believe. Dia juga berusaha memberikan pengertian dengan cara sesederhana mungkin ke anak-anak. Dia selalu berusaha mendengarkan dengan perhatian penuh kalau ada anak yang bertanya atau bercerita.

Sekarang ini salah satu kalimat yang sering disebutkan Joshua adalah: let’s make believe with me. Mungkin Joshua belum ngerti sepenuhnya apa yang harus dilakukan atau apa sih make believe itu, tapi kami berusaha meresponnya untuk mengembangkan imajinasinya juga.

Serial kartun Daniel Tiger yang diproduksi berdasarkan acara Mr.Roger’s Neighborhood mengenalkan instruksi berupa lagu yang mudah diikuti. Beberapa contoh yang dulu sering kami pakai ke Jonathan: When you sick, rest is best. Biasanya kalau Jona lagi sakit, dia suka bosan disuruh tidur terus dan ga boleh lari-larian atau lompat-lompat seperti biasa, tapi kalau diingatkan kalimat itu dia jadi ingat di kartun Daniel Tiger disarankan supaya cepat sembuh ya harus istirahat.

Kalimat yang juga sering sangat berguna adalah ketika udah harus tidur tapi anak-anak masih pengen main ini dan itu. Di film diajarkan: it’s almost time to bed, so choose one more thing to do. Biasanya kalau diingatkan begitu Jonathan ga ngeyel pengen begini begitu lagi.

Sekarang ini, Joshua masih sulit diajarkan untuk ga lari sendiri kalau di mall. Kalimat yang kami pakai meniru Daniel Tiger: Stop, and listen, to stay safe. Biasanya kalau kalimat-kalimatnya diucapkan sambil dinyanyikan, Joshua akan ikuti dan cukup berhasil buat dia berhenti. Dulu dia ga mau pegang tangan saya kalau lagi di luar, tapi sekarang dia sudah lebih mau pegang tangan dan mendengarkan instruksi.

Sebagai orang tua, kami ikut menonton apa yang anak-anak tonton, dan Daniel Tiger ini banyak memberi ide bagaimana mengajarkan sesuatu ke anak-anak. Ada pelajaran potty training, pelajaran ke dokter, ke pantai, taking turn waktu di playground, ada juga soal meminta maaf dan berterimakasih.

Anak-anak juga diajak mengenal emosinya, misalnya: it’s okay to be sad sometimes, little by little you’ll feel better again. Sekarang ini kami sedang mengajarkan Joshua ikut membantu beberes mainan, dan saya sering ajak nyanyi clean up, pick up, put away. Karena nulis blog ini saya jadi googling dan menemukan daftar lengkap lagu yang ada di film Daniel Tiger Neighborhood bisa dilihat di link ini.

Co-op Homeschool di Chiang Mai

Sejak hari Senin lalu, Jonathan dan Joshua ikutan co-op homeschool di Chiangmai. Co-op ini merupakan cooperative dari beberapa keluarga yang menghomeschool anaknya. Di tiap tempat bisa berbeda-beda, tapi ini cerita untuk kami yang di Chiangmai.

Kami mengikuti co-op berbahasa Inggris. Saya kurang tau apakah ada Co-op berbahasa Thai dan udah jelas ga ada bahasa Indonesia hehehe. Pesertanya tidak dibatasi hanya orang asing tapi wajib bisa berbahasa Inggris. Persyaratan lainnya salah satu dari orangtua wajib berpartisipasi mengajar kelas sesuai dengan perencanaan yang dilakukan sebelumnya.  Jadi co-op ini bukan jenis drop-off anak dan bayar guru. Berbeda dengan sekolah, pertemuan setiap Senin ini hanya dilakukan 2 term dalam setahun dan masing-masing term dibagi 3 bulan. Hal ini dilakukan karena banyak juga keluarga homeschooling yang pulang ke negeri asalnya berbulan-bulan, jadi ya tidak terikat harus berada di Chiang Mai sepanjang tahun.

Manfaat dari kegiatan ini selain buat sosialisasi anak homescholer juga untuk para orangtua berkumpul berbagi keahlian mengajarkan yang tidak bisa diajarkan ortu yang lain. Kadang-kadang bisa juga untuk pelengkap kurikulum yang dipakai. Dulu saya ikutan co-op waktu Jonathan masih 3 tahun. Waktu itu niatnya untuk belajar soal homeschool. Memang banyak sekali pertanyaan mengenai memulai homeschooling yang akhirnya terjawab sejak gabung di sana, tapi waktu itu kami ga jadi meneruskan homeschool karena menemukan sekolah yang cukup ideal dengan apa yang kami cari. Jonathan juga anaknya sangat social, jadi kami berpikir memberikan kesempatan buat dia merasakan sekolah.

Tahun ini awalnya kami hampir ga kebagian slot untuk ikutan di co-op. Memang ada batasan jumlah murid perkelas dan jumlah keluarga yang bisa bergabung supaya semua bisa berjalan dengan baik. Tapi beberapa bulan sebelum term dimulai, saya diberitahu ada keluarga yang anaknya kira-kira seumuran Jonathan dan Joshua tiba-tiba harus pulang ke negeri asalnya jadi ada slot yang terbuka. Keluarga tersebut awalnya mengusulkan untuk mengajar sensory class untuk nursery-preschool jadi saya ditanyakan apakah bersedia mengajar kelas itu atau malah mau ngajar kelas Kindergarten yang juga ada slot guru kosong. Karena pengalaman dulu Jonathan ga bisa ditinggal di kelas, saya cari aman saja ngajar kelas di mana Joshua akan ditempatkan alias nursery/preschool.

Contoh kegiatan

Pertemuan co-op berlangsung dari jam 9 pagi sampai sekitar jam 1 siang. Ada 3 sesi kelas yang bisa dipilih tiap murid. Saya kebagian ngajar jam ke-2. Tapi karena namanya co-operative, maka setiap orang harus datang lebih awal untuk persiapan kelas dan juga ikut untuk clean up sebelum bubar. Pertemuan ini menyewa tempat yang ada playgroudnnya, jadi anak-anak bisa bermain di playground juga walaupun mainannya ga banyak.

Kesan setelah 2 kali ke co-op. Awalnya sangat mudah meninggalkan Joshua, karena dia senang liat mainan yang ga biasa dia mainkan di rumah, tapi minggu berikutnya dia mulai aware kalau saya akan ninggalin dia di kelas pertama dan ke-2, dia akan berupaya menarik tangan saya dan ga mengijinkan saya keluar. Tapi ya pas kelas yang saya ajar, dia juga ga selalu berpartisipasi dan malah lebih sering ke sana kemari. Karena ini memang kelas untuk umur di mana anaknya ga bisa duduk diam, saya juga sengaja merencanakan beberaa kegiatan yang flexible dan tidak mewajibkan semua anak harus duduk mendengarkan. Mereka boleh sambil lompat-lompatan asal ga berbahaya.

Buat catatan, minggu pertama saya kasih kegiatan lompat-lompat kertas mengikuti print gambar kaki dan squishy bag. Sangkin hecticnya saya ga ambil foto sama sekali. Minggu ke-2 saya beri kegiatan membaca buku were going on a bear hunt sambil menirukan gerakannya, menempelkan pompom ke trace tangan dan bermain dengan pipe cleaner: membentuk seperti balon, bunga atau kupu-kupu. Oh ya, saya juga membawa mangga, nenas dan pepaya yang sudah dipotong-potong untuk dicicipin (sensory lidah). Anak-anak paling happy disuruh makan buah walaupun ada yang cuma suka pepaya dan ada yang cuma suka nenas selain ada juga yang suka semua buah. Untuk minggu depan belum tau mau dikasih kegiatan apa, biasanya ada banyak ide di internet, saya pilih sesuai dengan apa yang ada di rumah dan ga repot menyiapkannya.

Kalau pembantu harus punya 2, sebagai Ibu Rumahtangga harus bisa semua sendiri

Ini tulisan selingan, minggu kemarin ini Eyang datang dan jadi banyak ngobrol dengan Eyang selain sambil masak dan cucipiring, makanya jadi ga sempet nulis ataupun baca buku. Pekerjaan ibu rumahtangga itu kayaknya aja gak ngapa-ngapain, kayaknya aja ga stress ga mikirin klien atau deadline, tapi sebenernya kalau diliat lagi sejak pagi ada deadline buat bangun siapin makan 3 kali sehari, mikirin menu makan apa, mikirin hal-hal kecil yang sepertinya saking rutinnya jadi beban karena bosan.

Biasanya habis lebaran begini topik paling populer adalah mbak yang ga balik lagi, dan kebanyakan orang bakal sibuk nyari pengganti. Saya jadi teringat beberapa waktu lalu di grup ibu-ibu ada yang mencari seorang mbak untuk urus anak, bersihin rumah dan masak. Komentar yang masuk dari ibu-ibu lainnya adalah: kalau kayak gitu harus cari 2, kasian mbaknya kalau harus lakukan semua. Alasannya masuk akal, katanya supaya anaknya lebih terperhatikan sewaktu mbaknya kerjain bebersih dan urusan domestik lainnya.

Ngajakin Joshua baca buku supaya mamanya bisa cuci piring

Faktanya nyari pembantu 1 aja susah, lah ini disuruh cari 2. Terus komentar lainnya sih bilang ya bisa aja cari 1 doang tapi ibunya harus ikut bantuin juga. Saya tercenung dengan komentar yang ada, karena sebagai ibu yang ga pergi ngantor yang kenal banyak ibu tidak bekerja lainnya di kota ini, saya bisa liat sebagai Ibu kami harus bisa lakukan semuamya, sambil urus rumah, urus cucian, urus anak dan urus diri sendiri tentunya. Makanan ga terhidang dengan sendirinya, walaupun di sini bisa praktis bisa beli dengan harga yang ga terlalu mahal, tapi mikirin menu makan apa berikutnya kadang bikin pusing, apalagi kalau tiap orang punya selera berbeda. Untuk makan di luar lebih ga praktis lagi, karena anak-anak biasanya lebih terdistract buat liat sekeliling daripada makan di rumah jadi makan di rumah lebih jadi pilihan. Lanjutkan membaca “Kalau pembantu harus punya 2, sebagai Ibu Rumahtangga harus bisa semua sendiri”

Memulai Homeschooling

Setelah memutuskan mau homeschooling, kami gak langsung terjun bebas. Homeschooling ini menuntut orangtua untuk belajar lagi, karena kami gak punya pengalaman mengajar anak kecil. Belajar seluk beluk dunia homeschooling terutama memutuskan mau seperti apa style homeschooling kami.

Mulai dari mana?

Kami mulai dengan banyak mencari informasi yang terkait dengan homeschooling dari berbagai sumber, diantaranya:

  • bertanya ke teman-teman yang sudah lebih dulu menghomeschool anaknya
  • cari informasi di internet
  • gabung dengan komunitas homeschooler online dan offline

Sebagai orangtua harus rajin mencari berbagai hal yang sesuai dengan kondisi keluarga dan gaya belajar anak. Orangtua juga harus memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sebagai orangtua harus menentukan/memutuskan mau seperti apa homeschoolingnya.

Saya akui saya pusing dengan berbagai istilah yang ditemukan mengenai homeschool. Ada banyak sekali metode dan pendekatan untuk melakukan homeschooling, ada yang melakukannya secara tradisional seperti memindahkan sekolah ke rumah (jam sekolah tertentu dan jadwal hari sekolah dan libur yang sudah ditentukan di awal tahun ajaran), ada yang memilih untuk membebaskan anak dari beban kurikulum dan hanya mengajarkan apa yang menjadi minat anaknya (unschooling), ada yang ikut kelas online bayar maupun gratis, ada yang mempelajari secara mendalam topik tertentu dengan unit studies. Ada yang mengikuti metode Charlotte Mason, Classical Conversation atau Montessori. Dan banyak istilah lainnya yang selanjutnya bisa di baca di wikipedia mengenai homeschooling.

Setelah menyadari kalau keunikan homeschooling adalah tidak ada yang saklek di sana. Kita selalu bisa sesuaikan menurut kebutuhan anak dan kita tidak harus mengikuti metode atau kurikulum tertentu saja. Sebagai orangtua, kita bisa memilih dan membuat sendiri kurikulum dan materi yang ingin diajarkan ke anak. Orangtua dan anak yang menentukan apakah belajar secara terstruktur atau tidak ada struktur sama sekali. Ada yang memilih untuk belajar tanpa struktur, tapi ada juga yang memilih tetap terstruktur dan tentunya bisa di gabungkan juga semi terstuktur. Sekarang ini bahkan ada beberapa lembaga penyedia jasa homeschooling yang menerima murid secara offline seminggu hanya beberapa hari.

Pertanyaan yang paling sering jadi pertimbangan juga: nanti ijasah anak bagaimana? Untuk sekarang ini , ijasah bisa didapatkan dengan mengikuti ujian persamaan, tergantung di mana kita berada dan kemana tujuan kita. Ada banyak layanan online untuk mengetahui apakah anak kita layak untuk disebut di kelas tertentu. Di negara tertentu ujian tahunan ini merupakan kewajiban homeschooler, tapi akhirnya semua kembali lagi menjadi keputusan orangtua. Keunikan homeschooling adalah, kita tidak terikat dengan kelas anak, karena bisa saja anak usia 8 tahun mempelajari materi yang advanced kalau memang dia sudah mampu dan mengerti.

Beberapa penyedia jasa kurikulum juga menyediakan konsultasi untuk homeschooler untuk menjawab pertanyaan yang mungkin saja orang tua kurang mengerti, atau mereka juga mengadakan kelas tutorial online dan sampai memberikan diploma yang terakreditasi yang nantinya bisa jadi modal untuk memasuki perguruan tinggi. Kami sendiri belum memikirkan sejauh ini, apakah kami hanya akan sementara homeschooling atau akan terus homeschooling sampai anak siap memasuki perguruan tinggi. Sudah banyak orang yang menghomeschool anaknya dan kemudian anaknya masuk perguruan tinggi tanpa ijasah dari sekolah, tapi cukup dengan ujian penerimaan di perguruan tinggi tersebut dan dari bukti yang disiapkan orangtua kalau dia sudah mempelajari hal-hal dasar yang dibutuhkan.

Memilih kurikulum

Sebelum menentukan kurikulum, kita harus tau model belajar anak kita seperti apa dan apa yang menjadi target kita. Ada yang mengasah kemampuan anak di bidang art saja karena melihat anaknya sangat tertarik dengan art, ada juga yang memberikan semuanya dan minat anaknya baru akan kelihatan belakangan.  Ada anak yang suka mempelajari sesuatu secara mendalam dan tidak bosan untuk mengerjakan topik tersebut berulang-ulang (mastery), dan ada juga anak yang lebih suka dikenalkan konsep baru setiap harinya, kerjakan sedikit soal latihan untuk konsep baru dan sisanya mereview konsep yang sudah diajarkan sebelumnya (spiral).

Kurikulum yang kami pilih CLE (Christian Light Education) merupakan kurikulum dengan pendekatan spiral yang sudah cukup lengkap dan menyediakan layanan homeschool plus yang memberikan diploma untuk pesertanya. Tentunya orangtua yang harus aktif mengirimkan hasil kuis dan test tiap bulannya dan laporan mengenai jumlah hari sekolahnya, lalu akan diverifikasi oleh CLE dan mereka akan mengeluarkan diploma.

Untuk sekarang ini kami belum mendaftarkan program homeschool plus karena kami belum merasa membutuhkan diploma untuk Jonathan. Jonathan bisa mengerjakan buku latihannya dengan mandiri dan dia bisa bertanya kepada kami kalau ada konsep baru yang dia tidak mengerti.

Pelajaran yang kami beli dari CLE untuk kelas 2 ini adalah: Math, Language Art, Reading, Social Studies, Science dan Bible. Dalam 1 tahun ajaran ada 10 buku latihan yang harus dikerjakan dan masing-masing berisi 13 unit latihan, 2 kali kuis  dan 1 test. Jonathan mengerjakan 1 unit sehari untuk setiap pelajaran. Biasanya setiap minggu ke-1 dan ke-2 akan ada kuis di hari Jumat, dan minggu ke-3 ada review dan Test. Kalau rata-rata 1 buku dikerjakan dalam 1 bulan, dibutuhkan waktu kira-kira 10 bulan untuk menyelesaikan 1 tahun ajaran. Karena kami kemarin mulainya akhir Oktober, saya pikir kami akan ketinggalan banyak dari tahun ajaran sekolah umumnya. Ternyata sekarang ini kami sudah di buku terakhir dan sudah menjelang Test buku terakhir.

Mengatur Jadwal Sekolah

Homeschool yang kami lakukan cukup fleksibel. Tapi untuk membiasakan diri punya jadwal yang teratur setiap harinya, kami tentukan kalau jam mengerjakan pelajaran cukup pagi hari sebelum makan siang. Lalu setelah jam makan siang, Jonathan bisa tidur siang, baca buku atau kegiatan les art, bahasa Thai, piano atau Taekwondo.

Setiap hari Jonathan harus mengerjakan 1 unit dari 3 sampai 4 pelajaran. Kalau ada kegiatan dipagi hari, kadang-kadang dikerjakan siang dan sore hari. Kami juga membuat jadwal libur, biasanya mengikuti jadwal Joe libur kantor atau kalau ada yang datang berkunjung ke Chiang Mai. Selama beberapa bulan ini, tidak setiap hari sekolah itu mulus. Kadang-kadang faktor cuaca dan kesehatan juga mempengaruhi mood Jonathan dalam mengerjakan soal latihannya.

Kalau saya ditanya sejauh apa saya merencanakan jadwal pelajaran Jonathan? saya biasanya merencanakan setiap sabtu/minggu untuk pelajaran 1 minggu ke depan. Buku Teaching Guide sangat membantu dalam mempersiapkan bahan dan juga memeriksa hasil pekerjaan Jonathan. Ada orangtua yang mempersiapkan jadwal langsung untuk sepanjang tahun ajaran. Saya awalnya coba untuk menjadwalkan beberapa bulan sekaligus, tapi biasanya selalu ada yang meleset jadi saya mencoba untuk lebih fleksibel supaya ga jadi stress.

Homeschool preschool?

Selama Jonathan belajar, Joshua biasanya akan mengganggu dan pengen ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sekali materi homeschool untuk anak usia prasekolah, tapi saat ini saya belum berencana memberikan materi pelajaran terstruktur untuk Joshua. Biarkan saja dulu dia puas bermain, kalaupun dia tertarik dengan alphabet, angka, perkalian dan penjumlahan, saya anggap itu semua for fun saja. Sekarang ini Joshua sudah bisa mengeja semua kata yang dia liat, bahkan dia seperti sudah bisa ingat bacaan dari beberapa kata, tapi saya dan Joe belum berencana memberikan pelajaran khusus membaca untuk dia.

Tantangan dalam homeschool

Tantangan sekolah di rumah biasanya adalah bagaimana bisa konsisten dalam mengatur jadwal sekolah. Bagaimana supaya anak tetap termotivasi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Bagaimana supaya anak tetap punya teman bermain dan ga merasa kesepian di rumah. Bagaimana supaya anak menyukai belajar dan ga merasa terpaksa dalam mengerjakan pelajarannya. Kami pemula dalam homeschool ini, tapi seiring berjalan waktu, semua tantangan pasti ada jalan keluarnya. Nanti di postingan berikut saya akan tuliskan bagaimana contoh hari-hari sekolah kami.

Mengajarkan Computational Thinking dan Coding Pada Anak-Anak

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar apa itu Computational Thinking. Sudah ada banyak materi online, bahkan kursus online dari Google juga ada. Computational Thinking adalah cara berpikir untuk menyelesaikan masalah yang diinspirasi dari cara orang menyelesaikan masalah di ilmu komputer. Computational thinking perlu dipakai untuk membuat program komputer, tapi juga bisa diaplikasikan ke berbagai bidang lain.

Computational thinking bisa dan perlu diajarkan pada orang di berbagai usia, tapi saya hanya akan berfokus pada anak-anak di posting ini.  Mungkin sebagian akan langsung berpikir: anak-anak kok diajari seperti itu, harusnya diajari seni, kreativitas, agama, sopan-santun, dsb. Pencetus istilah computational thinking pernah menyatakan ini:

I FEEL VERY DEEPLY COMMITTED TO THE IDEA that, although rationality isn’t everything, and passion and interests and faith of various sorts count as much–nevertheless, rationality is a force for the good, and the more people that are capable of rational, critical thinking–the better the world will be; the more that have access to knowledge about the rest of the world–the better the world will be.”

–Seymour Papert, Mathematician, Computer Scientist, Educator

Computational thinking menurut saya adalah life skill yang berguna untuk mempermudah hidup. Berbagai pendekatan menyelesaikan masalah dalam computational thinking bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya bagaimana menyusun buku secara terurut, bermain sudoku, bermain catur, merencanakan perjalanan, menyusun jadwal. Bahkan membaca cerita detektif dan misteri akan lebih menyenangkan jika kita memiliki cara berpikir yang logis.

Saat ini ada inisiatif internasional yang bernama Bebras yang memperkenalkan computational thinking kepada pelajar mulai sekitar kelas 3 SD sampai usia SMU. Berbeda dengan olimpiade informatika atau coding challenge yang perlu memprogram, dan olimpiade matematika yang sangat teoretis, tantangan Bebras berada di antara keduanya.

Walaupun saya tidak meminta Jonathan jadi programmer, tapi karena dia melihat saya tiap hari berada di depan komputer, ngoprek segala macam hardware, termasuk membuatkan dia berbagi mainan, dia jadi curious. Jadi pelajaran yang saya berikan pada Jonathan lebih banyak untuk menjawab keingintahuannya. Hal penting bagi saya saat ini adalah: saya tidak ingin memaksakan kemampuan Jonathan dan membebaninya dengan hal yang kompetitif.

Saya memakai layar di kiri, sambil membuka file PDF di layar kanan untuk diketik ulang oleh Jonathan di laptop kecil.

Topik seperti matematika dianggap sulit, tapi sebenarnya bisa dijelaskan pada anak-anak dengan banyak pengalaman sehari-hari. Hal-hal kecil seperti menghitung benda yang kita miliki, menghitung kembalian, dan menghitung waktu bisa diajarkan. Misalnya kita bisa bertanya seperti ini “kira-kira butuh 10 menit untuk pergi ke sana, jadi kita perlu berangkat jam berapa?”. Lanjutkan membaca “Mengajarkan Computational Thinking dan Coding Pada Anak-Anak”