Kdrama: Her Private Life dan What’s Wrong with Secretary Kim

Kali ini mau nulis kesamaan 2 kdrama genre romantis komedi yang dibintangi Park Min-young (PMY). Walaupun Her Private Life (HPL) belum habis, tapi sudah bisa dilihat banyak kesamaan ceritanya dengan What’s Wrong with Secretary Kim (WWWSK) drama tahun 2018. Peringatan buat yang belum nonton salah satunya, tulisan ini bakal banyak mengarah ke spoiler hehehe.

Tokoh utama wanita yang perfeksionis

Pemeran wanita utama digambarkan sangat cantik, sangat perfeksionis dan serba bisa. Sebagai sekretaris di WWWSK, Kim Mi-so merupakan seorang sekretaris yang menjadi legenda dan contoh buat semua sekretaris lain, bukan hanya membantu bosnya untuk urusan kantor tapi juga punya inisiatif dan cepat tanggap dalam membantu persoalan yang ada di perusahaan. Karena sudah berpengalaman selama 9 tahun bekerja dengan bosnya, kalau ada permasalahan, dia mendistribusikan pekerjaan dengan cepat bahkan sebelum bos nya menyuruhnya.

Sekretaris Kim Mi-So juga selalu siap sedia semua kebutuhan bos nya, mulai dari saputangan dan dasi bos nya siap sedia di tasnya, dia bisa berbagai bahasa untuk menunjang keperluan pekerjaannya, dia juga siap membelikan bunga untuk wanita yang menjadi pacar bos nya walaupun dia sendiri alergi terhadap bunga. Sekretaris Kim siap sedia 24 jam untuk bosnya sampai tidak sempat memikirkan dirinya sendiri.

Sebagai kurator galeri seni di HPL, Sung Deok-mi juga menjadi chief kurator yang sangat diandalkan, tanggung jawabnya bukan hanya kurator untuk benda seni, tapi juga terlibat mulai dari mengecat dinding, mengatur layout untuk meletakkan benda-benda seni di galeri kalau ada rencana pameran atau pergantian layout. Dia juga mengganti bola lampu kalau ada yang mati. Selain sebagai kurator Sung Deok-mi juga seorang fangirl sejati yang jagoan mengambil foto dan mengedit foto idolanya dengan kamera yang dilengkapi lensa tele. Seperti halnya di kantor, sebagai fangirl Deok-mi juga total dan mengelola sebuah fansite untuk idolanya. Rumahnya juga penuh dengan benda-benda merchandise dari kegiatan fangirlingnya.

Kesamaan lain dari sekretaris Kim Mi-so dan kurator Sung Deok-mi adalah berasal dari keluarga biasa saja dan sudah tidak tinggal bersama orangtua lagi dan menyewa apartemen kecil sederhana.

Tokoh utama pria merupakan atasan langsung dari tokoh utama wanita

Tokoh utama pria di WWWSK diperankan oleh Park Seo-joon sebagai Vice President Lee Young-joon merupakan atasan langsung dari sekretaris Kim Mi-so selama 9 tahun. Lee Young-joon ini juga selalu sukses dalam pekerjaanya dan membuat perusahaan menjadi maju. Tapi walau dia sangat sadar diri bahwa dia ganteng, kaya dan pintar, dia belum pernah benar-benar jatuh cinta dengan wanita. Kalaupun ada wanita yang dia kencani hanya untuk sekedar dilihat orang kalau dia bisa mendapatkan wanita cantik/artis mana saja.

Tokoh utama pria di HPL diperankan oleh Kim Jae-wook sebagai Ryan Gold, seorang seniman yang terkenal dan menjadi direktur galeri seni di mana kurator Sung Deok-mi bekerja. Ryan Gold digambarkan juga sangat sadar diri dengan kegantengannya. Sebagai seniman ternama yang diadopsi dan tinggal di luar Korea, Ryan Gold ini juga tergolong orang kaya dengan rumah besar.

Kesamaan Lee Young-joon dan Ryan Gold lainnya adalah karena sering dinas keluar kantor bareng dengan tokoh utama wanita, mereka jadi sering anterin ke rumah dan lama-lama jadi tertarik dengan bawahannya yang diperankan PMY.

Tokoh utama pernah bertemu ketika masih kecil

Di WWWSK, tokoh wanita dan pria pernah bertemu ketika si wanita umur 5 tahun dan pria umur 9 tahun. Karena mereka bertemu dalam setting yang kurang menyenangkan, si tokoh wanita lupa persisnya nama si pria. Kesan yang dia ingat dari anak lelaki umur 9 tahun itu hanya bagian dia merasa dilindungi, dan anak lelaki itu berjanji akan datang lagi menemuinya. Tapi ditunggu-tunggu anak itu tak kunjung datang. Sekretaris Kim masih menyimpan buku catatannya sewaktu kecil tentang anak lelaki yang berjanji akan datang itu. Seperti cerita klise yang selalu terjadi di kdrama, ternyata pria yang dia cari-cari itu sudah lebih dulu menemukan dia, tapi baru diberitahukan sekian tahun kemudian.

Di HPL, sejauh 14 episode ini ada digambarkan kilas balik Ryan Gold bermain di taman dengan anak-anak lain. Lalu di akhir episode 14 digambarkan ibunya kurator Deok-mi menyimpan foto yang bertuliskan nama Korea dari Ryan Gold. Berhubung 2 episode terakhir belum saya tonton, saya hanya bisa berspekulasi kalau jangan-jangan Ryan Gold ini dulunya pernah tinggal di rumah kurator Deok-mi sebelum akhirnya diserahkan ke panti asuhan.

Ide cerita di mana tokoh utamanya sudah pernah bertemu sejak kecil/remaja/cinta pertama merupakan salah satu formula klise dari kdrama. Kalau banyak nonton kdrama pasti bisa sebutkan 5 judul kdrama yang memakai formula ini.

Kencan di Taman Bermain

Baik di WWWSK dan HPL digambarkan kencan pertama tokoh wanita dan pria nya itu di taman bermain. Eh tapi waktu mereka ke taman bermain itu mereka belum jadi pasangan, jadi mungkin bukan kencan ya hitungannya, apa kita sebut pe-de-ka-te pertama gitu? Gak sama persis sih alasan dan setting tempatnya ataupun permainan yang dimainkan, tapi sama-sama pergi berdua di taman bermain, dan setelah itu mereka mulai saling mengenal dan melihat sisi lain bos dan bawahan ini.

Ada cerita tambahan di Kantor

Cerita utamanya ya berkisar di kantor dengan beberapa pameran pendukungnya. Kisah-kisah romantis lainnya juga ada selain kisah pemeran utama. Pemeran pendukung di kantornya juga yang membuat ceritanya terasa lucunya. Di WWWSK setidaknya ada 3 kisah tambahan selain pemeran utam. Di drama HPL belum tahu apakah akan ada pasangan lain selain pasangan pemeran utama, tapi dari beberapa episode terakhir ada kesan bakal ada pasangan lain yang jadian juga.

Penonton berharap pemeran utama jadian beneran

Namanya penonton kdrama, apalagi genre komedi romantis, pasti deh penonton selalu berharap pemeran utamanya jadian beneran. Klip behind the scene juga selalu jadi bagian yang ditunggu-tunggu setelah selesai menonton episode yang ditayangkan. PMY aktingnya memang jago jadi tokoh wanita yang lagi jatuh cinta. Baik itu sebagai sekretaris Kim Mi-so ataupun kurator Sung Deok-mi, PMY bisa bekerja sama dengan baik dengan aktor pria nya seolah-olah memang pasangan beneran. Kalau baca artikel tentang drama WWWSK, semua orang pengen biar pasangan Park Park jadian beneran. Nah ini sekarang di HPL juga banyak penonton berharap PMY jadian beneran dengan KJW.

Kesimpulan

Persamaan di drama WWWSK dan HPL ini terasa banget karena faktor PMY nya. Ceritanya sendiri secara keseluruhan cukup berbeda. Jalan cerita sampai mereka saling jatuh cinta dan konflik yang menghambat mereka jadian juga berbeda. Kalau ditanya mana yang lebih romantis? ya itu sih kembali ke selera penonton. Banyak yang bilang film HPL ini memberikan standar baru untuk romantisnya pasangan di romcom. Tapi kemarin juga waktu ada drama Touch Your Heart, penonton juga selalu bilang aduh manis banget sampai bikin diabetes (ini sepertinya istilah baru kalau lihat adegan yang so sweet penonton jadi diabetes).

Pada dasarnya semua kdrama itu ya formulanya hampir sama. Kalau memang suka dengan genre romcom yang gak pake banyak konflik misalnya orangtua yang tidak merestui karena perbedaan level kekayaan, atau ada orang lain yang sangat jahat dan selalu berupaya mencelakakan pemeran utama ya bolehlah tonton HPL dan WWWSK. Unsur komedi dan romantisnya dari 2 drama ini cukuplah buat jadi hiburan. Masih mending nonton beberapa drama komedi kan daripada melodrama yang pemerannya nangis-nangis dan selalu dilanda kesusahan.

Cukup dulu ngomongin kdramanya, minggu ini HPL berakhir dan berikutnya kita tunggu apakah endingnya HPL akan seperti WWWSK juga.

Mainan Code-a-pillar

Beberapa minggu lalu saya menuliskan review app Code-a-pillar. Ketika browsing untuk mencari tahu lebih banyak sebelum menuliskan reviewnya kami baru tau kalau app ini ada mainan fisiknya. Setelah menimbang-nimbang dan melihat beberapa videonya, akhirnya kami memesan online dari ebay. Harga mainan ini dengan ongkos kirim ke Thailand sekitar 53.95 USD atau sekitar 1717 Thai Baht. Mainan ini harganya cukup reasonable, karena mainan playdough aja bisa hampir 1000 baht.

Hari ini mainannya sudah tiba di Chiang Mai. Termasuk cepat juga, padahal estimasi awalnya tibanya minggu ke-2 Juni. Niat awalnya sih mau dibuka pas Joshua ulang tahun, tapi kata papanya: ah udahlah mending dikasih sekarang, biar lebih puas mainnya. Alasan lain sih sekalian memeriksa apakah mainannya seperti yang diharapkan dan tidak ada masalah.

Hari ini saya banyak kegiatan antar jemput Jonathan dan Joshua tidur siang ditinggal di rumah karena ada si mbak. Waktu saya datang, Joshua sudah bangun, dia langsung bawa-bawa mainan ini minta dibukain. Saya pengennya dia main sama papanya saja, karena saya belum masak buat makan malam, tapi dia gak sabar dan berkali-kali minta dibukain hehehe.

code-a-pillar masih dalam kemasan
Continue reading “Mainan Code-a-pillar”

Buku: People Can’t Drive You Crazy If You Don’t Give Them the Keys

cover buku

Kesan pertama saya: panjang banget ya judulnya. Padahal buku ini cuma 210 halaman. Dari judulnya saja udah kebayang kan isinya kalau buku ini kategori selfhelp. Saya dapat buku ini pas ada teman yang share sedang ada promosi gratisan versi kindle-nya, jadi saya pikir, ya cobalah dibaca, apakah ada tips-tips menghindari orang-orang yang kadang bikin kita merasa lepas kontrol karena gak bisa mengatasi emosi. Buku ini juga bisa dibaca gratis kalau berlangganan kindle unlimited. Ada versi audible nya juga buat didengarkan.

Banyak yang merasa semakin lama dunia ini semakin gila dan banyak orang yang bikin kita kehilangan kesabaran dan ikutan gila. Sebenarnya sejak tinggal di Chiang Mai, bisa dibilang saya secara ga langsung mempraktikkan judul buku ini dengan tidak mudah bereaksi kalau ada hal yang bikin frustasi. Kadang-kadang kayaknya menghadapi anak balita rasanya lebih bikin emosi daripada orang dewasa yang banyak tingkah.

daftar isi buku

Dari daftar isi buku ini, semakin kebayang isi bukunya seperti apa. Contoh-contoh yang diberikan cukup menarik dan ada juga yang memang pernah terjadi dengan saya. Contoh yang paling nyata saya praktikkan adalah: kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan apa yang respon kita terhadap suatu keadaan. Kita juga harus bisa menerima ada hal-hal yang diluar kendali kita, dan kalau memang ada orang super ngeselin sebaiknya dihindari saja daripada kita berusaha keras membuat dia gak ngeselin tapi tanpa hasil.

Ada contoh mengenai berurusan dengan keluarga. Kalau cuma kenalan atau orang lain bahkan teman di facebook, kita bisa dengan mudah hindari berhubungan dengan mereka dengan cara memutuskan hubungan pertemanan atau gak usah ajakin ngobrol. Nah gimana dengan keluarga ? kita ga mungkin kan memutuskan hubungan dengan keluarga kita. Nah untuk hal ini akhirnya kembali ke mengubah perspektif kita dan berusaha meminimalisasi ketemu/kontak biar gak sering rusuh hehehe. Kalaupun tahu akan bertemu, kita perlu mempersiapkan mental kita untuk tidak cepat bereaksi dan menerima kalau kadang-kadang kita akan menerima komentar-komentar yang belum tentu sesuai dengan prinsip kita (ini sih lebih gampang teori daripada praktik ya).

Banyak contoh-contoh dalam buku ini yang bikin saya mengangguk-angguk setuju. Tapi saya juga belum bisa 100 persen melakukannya terutama kalau lagi lelah dan menghadapi anak bertingkah. Tapi ya kuncinya mungkin jangan tidur larut biar besoknya punya energi menghadapi anak hehehe.

Di akhir buku ini disebutkan 7 kunci untuk memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, bisa dilihat dari daftar isinya. Tapi diakhir buku ada kesimpulan bagaimana 12 tips untuk memiliki melakukan 7 kunci itu.

12 tips untuk memiliki hubungan yang sehat

Saya coba tuliskan lagi 12 tips untuk memiliki hubungan yang sehat:

  • pisahkan kebiasaan gila dari orangnya, kemungkinan kita juga punya (hindari kegilaanya bukan orangnya)
  • percayalah perubahan selalu mungkin dilakukan
  • jangan merasa bertanggung jawab atas pilihan orang lain (yang mungkin saja salah)
  • jangan bergantung pada orang lain
  • jangan berharap orang lain berubah, lebih memungkinkan untuk mengubah diri sendiri
  • kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mengubah bagaimana respon kita atas apa yang telah terjadi di masa lalu
  • percaya selalu ada harapan untuk masa depan
  • jangan mau jadi korban dengan membiarkan orang lain mengendalikan hidup kita
  • perubahan itu butuh waktu (belajar sabar)
  • semua sukses butuh usaha dan selalu ada risiko gagalnya
  • selalu persiapkan diri kalau tahu akan ketemu orang yang sering bikin kita emosi, pilih kata yang baik untuk hasil yang lebih baik
  • pilih untuk berpikir lalu merespon daripada langsung bereaksi menghadapi kegilaan yang ada

Saya tidak tahu apakah buku ini sudah ada versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia atau belum, tapi bahasa Inggrisnya cukup mudah dicerna dan tidak banyak istilah yang sulit seperti buku-buku selfhelp lain. Kalaupun tidak baca bukunya, semoga dari tulisan ini ada hal yang bisa dipakai untuk membantu kita menghadapi orang-orang yang bikin kita jadi ‘gila’.

Review dan Rating

Kenapa saya suka menulis review/opini tentang sebuah produk/layanan? Karena sebelun membeli sesuatu, menonton film, membaca buku atau mencoba sesuatu saya suka mencari tahu apa pendapat orang lain terlebih dahulu. Review yang saya tuliskan sudah tentu bersifat opini pribadi, karena saya tidak selalu bisa membandingkan produk tersebut dengan produk sejenis. Dengan membaca review dari orang lain saya mendapat gambaran dari yang mau saya beli, jadi saya menulis review juga untuk membantu orang lain yang mencari informasi mengenai produk tertentu.

Saya juga sering memperhatikan berapa bintang peringkat yang paling banyak diberikan orang-orang. Khusus untuk layanan restoran/penginapan saya juga sering membaca bagian komentar negatifnya. Hal ini tentunya untuk mencari tahu apakah kemungkinan terburuk yang dihadapi kalau membeli produk tersebut. Namanya opini, tiap orang bisa jadi memiliki pendapat yang berbeda-beda untuk sebuah produk, tapi kalau kebanyakan orang kasih bintang 5 tapi ada juga yang kasih bintang 1, saya simpulkan mungkin dia lagi kurang beruntung saja, atau memang punya standar lebih tinggi dari orang kebanyakan.

Berbeda dengan kebiasaan mencari tahu review yang kurang bintang, saya malah jarang menuliskan sesuatu yang menurut saya tidak saya sukai. Tapi sejauh ini, saya tidak pernah menemukan produk yang bikin saya ingin mereview kejelekan sebuah produk habis-habisan sih. Kalaupun ada produk yang biasa-biasa saja, biasanya ya paling kasih bintang pertengahan dengan komentar apa yang bikin bintangnya berkurang.

Bagaimana dengan memilih film yang ingin ditonton? Nah kalau ini sih biasanya saya membaca reviewnya setelah selesai menonton, karena biasanya review film itu lebih seru dibaca kalau ada spoilernya hehehe. Jadi apa yang membuat saya memutuskan menonton sebuah film? ya biasanya liat trailernya, lalu baca ringkasan ceritanya, lihat siapa yang main, dan kalau itu film seri seperti kdrama saya tonton episode pertamanya.

Teman saya bilang: jangan menilai sebuah film seri dari 1 episode, tapi buat saya kalau episode 1 tidak membuat saya tertarik menonton lanjutannya, ya mending nonton serial lain hehehe. Ada juga kalau beberapa menit pertama sudah bikin saya tak tahan menontonnya karena jalan cerita yang terlalu lambat, ya udah saya berhenti menontonnya. Kalau ada sedikit rasa penasaran, saya akan tonton episode terakhirnya dulu sebelum akhirnya kembali ke depan. Saya memang gak terlalu terganggu dengan spoiler, karena buat saya yang penting itu jalan ceritanya bukan akhir ceritanya saja.

Kalau baca buku lain lagi yang menentukan. Biasanya saya baca buku kalau judulnya menarik dan banyak review dari orang-orang. Pernah juga saya baca bukunya supaya gak ketinggalan kalau temen lagi ngobrol. Duluuuuu saya gak tertarik dengan Harry Potter. Tapi karena teman-teman saya kalau ngumpul sibuk membahas Harry Potter, saya jadi mencoba baca. Walaupun bacanya tersendat-sendat karena waktu itu saya belum terbiasa baca buku dalam bahasa Inggris, akhirnya saya selesai juga membacanya dan jadi mengerti kalau teman saya lagi seru ngobrol. Ternyata setelahnya, pas ketemu sama Joe jadi bisa melanjutkan membaca buku Harry Potter bareng waktu buku berikutnya keluar hehehhe.

Selain film dan buku, yang sering saya baca reviewnya itu aplikasi. Biasanya sebelum menginstal sebuah aplikasi di handphone, saya suka baca reviewnya juga untuk melihat kalau mencoba versi gratisnya apakah akan sangat terganggu dengan iklannya atau tidak. Beberapa aplikasi bisa tetap dipakai tanpa bayar, beberapa aplikasi meminta kita memasukkan informasi kartu kredit untuk mendapatkan masa percobaan gratis dalam periode tertentu. Untuk aplikasi yang meminta informasi pembayaran di awal biasanya tidak jadi saya pakai dan saya cari aplikasi sejenis.

Hampir kelupaan, duluuuu saya suka membaca review gadget. Masa di mana smart phone terlihat sangat smart dengan variasi harga yang bisa sangat terasa, penting untuk membaca rincian spesifikasi mana yang paling optimal dengan harga terjangkau. Sekarang ini saya sudah gak terlalu baca lagi karena biasanya sudah tau mau gadget apa dan budget berapa. Selain itu biasanya hal begini saya serahkan sama Joe, saya tinggal pakai hehehe.

Untuk review tempat wisata ataupun penginapan, kami tidak terlalu sering juga jalan-jalan kecuali di Chiang Mai, jadi yang saya tulis lebih ke cerita jalan-jalannya bukan reviewnya hehehe.

Kadang-kadang mereview sesuatu ini terkesan mempromosikan sesuatu tanpa dibayar. Memang kalau banyak yang memberi review positif tentunya banyak yang akan memilih produk tersebut, tapi tentunya sebuah produk dapat banyak review positif karena memang cukup baik, bukan karena orang lain ikut-ikutan saja. Saya sih gak keberatan mempromosikan produk yang saya rasa berguna tanpa dibayar, sukur-sukur produk itu akan semakin baik dikemudian hari dan harganya juga bisa semakin terjangkau.

Belajar Piano dengan App

Note: tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman belajar piano menggunakan aplikasi Simply Piano dari JoyTunes, saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Sejak Jonathan belajar piano di kursus, sebenarnya saya sudah ikut-ikutan belajar piano. Tapi saya gak punya kemampuan memainkan musik sama sekali. Dari dulu takut sama not toge (not balok), dan cuma kenal do re mi karena pernah ikut paduan suara di gereja. Saya gak bisa juga mencari tau lagu itu seperti apa kalau belum pernah dengar sebelumnya, jadi bisa dibilang saya menghapalkan nadanya setelah diajarkan.

Continue reading “Belajar Piano dengan App”

Buku: Bila Hidup Sebuah Permainan, Inilah Aturannya

Judul bukunya panjang banget ya hahaha, udah judul sepanjang itu, masih ada lagi lanjutan judul kecilnya: sepuluh aturan untuk menghadapai tantangan hidup.

Buku ini saya beli tahun 2004 di toko buku mahasiswa di kampus. Buku terjemahan terbitan Gramedia ini sebenarnya tipis, cuma 152 halaman, tapi butuh waktu lama buat saya untuk mencernanya. Hampir semua baris bisa di jadikan kutipan dan juga saya garis bawahi hehehe.

Isi buku ini secara keseluruhan garis besarnya ada di dalam halaman depan berikut ini dengan judul sepuluh aturan untuk jadi manusia.

Buku ini termasuk kategori selfhelp. Isi bukunya memberikan penjelasan lebih detail mengenai tiap aturan. Kalau dilihat dari daftar isinya, kira-kira itulah poin-poin dari setiap aturannya. Tapi bagaimana maksud dari setiap poinnya? ya itulah yg dijelaskan dalam paragraph-paragraph yang ada dalam buku ini.

Setelah membaca buku ini, saya agak bertanya-tanya kenapa penulis memberi judulnya bila hidup ini sebuah permainan, inilah aturannya. Judul lebih singkat seperti judul rangkuman diatas juga sudah mencerminkan isi buku ini. Dan lagi, saya kurang setuju kalau hidup ini sebuah permainan hehehe, tapi saya mengerti maksudnya penulis intinya mau menuliskan dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan, ada hal-hal dasar yang perlu kita pahami supaya kita tidak langsung menyerah kalah.

Anda memiliki sebuah tubuh

Ya tiap orang cuma punya satu tubuh, jadi untuk itu kita harus bisa menerima diri sendiri, menghargai diri sendiri, menghormati diri sendiri dan juga tidak lupa menikmati hidup dengan panca indra yang ada dalam tubuh kita. Kesimpulan saya: dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Pelajaran akan disajikan kepada Anda

Terimalah pelajaran itu dengan tangan terbuka, tentukan pilihan dari pelajaran yang tersaji, terimalah kalau keadilan dalam hidup ini bukan berarti sama rata sama rasa, dan muliakanlah diri Anda dengan segala kekurangan yang ada. Kesimpulan saya: terimalah kalau lagi diajar supaya bisa belajar.

Tidak ada kesalahan, yang ada hanya pelajaran

Kita belajar lebih banyak dari apa yang kita anggap kegagalan daripada kesuksesan. Untuk memudahkan proses belajar, kita perlu menguasai pelajaran dasar mengenai welas asih, sikap memaafkan diri sendiri maupun orang lain, etika memperlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan, dan rasa humor untuk menertawakan kesulitan yang ada dan jangan malah jadi stress berkepanjangan. Kesimpulan saya: lagi-lagi harus terus belajar, lebih mudah berteori daripada pelaksanaanya nih.

Sebuah pelajaran diulang terus sampai anda menguasainya

Belajar tidak pernah selesai, jadi adakalanya kita harus berserah diri (terima nasib) lagi di”hajar”, punya komitmen untuk terus belajar sampai menguasainya, punya kerendahan hati dan kelenturan supaya bisa ngerti apa sih yang harus dipelajari. Kesimpulan saya: kalau belum lulus ya harus mengulang pelajaran lagi, jadi siswa abadi.

“Di sana” tidak lebih baik daripada “di sini”

Banyak yang berpikir akan bahagia kalau punya A, B, C atau berada di suatu tempat tertentu. Padahal seharusnya kita mensyukuri saja dengan apa yang kita punya sekarang, jangan terikat dengan suatu materi atau suatu tempat, merasa kelimpahan dengan apa yang dia miliki (bukan apa yang diingini), berdamai hidup di masa ini (bukan hari kemarin atau hari esok). Kesimpulan saya: apa yang ada sekarang ini udah yang terbaik.

Orang lain hanya cermin dari dirimu

Penilaian kita terhadap orang lain sebenarnya cerminan dari cara berpikir kita. Kita perlu punya toleransi terhadap orang lain, karena setiap orang tidak bisa memakai standar kita. Melihat orang lain dengan perspekftif yang lebih jernih, belajar untuk menyembuhkan luka batin di diri sendiri supaya lebih bisa menerima orang lain dan mendukung orang lain sebagai bentuk mendukung diri sendiri. Kesimpulan saya: ketika kita menilai orang lain, sebenarnya kita sedang berkaca ke diri sendiri dan menetapkan standar kita ke orang lain tersebut.

Apa yang anda perbuat dengan kehidupan Anda, tergantung kepada Anda

Aturan ini sebenarnya udah cukup jelas, manalah kita menggantungkan perbuatan kita kepada orang lain. Kita harus menerima tanggungjawab penuh untuk setiap kelakuan kita, melepaskan hal-hal yang terasa menghambat, membuang ketakutan yang ada, percaya dengan kekuatan diri sendiri dan berani untuk mengambil resiko dalam petualangan hidup. Kesimpulan saya: tetap optimis, Kamu Bisa!

Semua jawaban ada dalam diri Anda

Kita perlu mendengarkan diri sendiri, percaya pada diri sendiri, dan mengumpulkan ilham dari dalam diri sendiri. Bagian ini agak terlalu teoritis, terlalu banyak hal yang mengalihkan perhatian jadi tidak mudah mencari jawaban dari dalam diri sendiri. Kesimpulannya saya: fokus!

Anda akan lupa semua ini di saat kelahiran Anda

Aturan yang ini saya gak paham dan terkesan biar jadi 10 aturan saja. Lah jelas-jelas pas kita lahir kita baru akan menerima pelajarannya, jadi harusnya bukan lupa pada saat kelahiran, tapi lebih tepat pelajaran dimulai di saat Anda dilahirkan. Protes aja ya, sana bikin buku sendiri kalau mau bikin aturan sendiri hehehe.

Baca buku selfhelp begini sebenarnya gak selalu membantu buat saya, karena terkadang bahasanya muter-muter dan terlalu mengawang-awang. Buku ini berusaha menjelaskan ke sasaran, tapi mungkin karena buku terjemahan ada bagian di mana saya merasa kurang bisa memahami bukunya. Tapi kalau disuruh baca buku versi bahasa Inggrisnya, kayaknya kapan-kapan aja deh heehehe.

Semoga dari review buku ini, walaupun banyak bagian yang kurang bisa dipahami, bisa mendapatkan hal-hal untuk direnungkan dalam menghadapi tantangan hidup. Kalau mau lebih detail penjelasannya, silakan cari bukunya, saya gak yakin masih ada di gramedia hehehe.

Review: Kumon Thai

Catatan: Tulisan ini merupakan review mengenai belajar membaca dan menulis bahasa Thai di Kumon Thailand, saya tidak dibayar untuk tulisan ini.

Sejak Homeschool, Jonathan saya ikutkan kelas Kumon Thai sebagai bagian dari belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Awalnya saya tahu Kumon itu untuk Matematika dan Bahasa Inggris saja, eh ternyata ada juga untuk pelajaran bahasa Thai.

Setelah ikutan tes, Jonathan mulai dari level paling awal Word Building Block (7A) dan sekarang sudah sampai level Sentence Building Block (B I) dalam waktu 2 tahun. Lama? ya nggak juga, karena setiap level itu diulang sampai anaknya bisa lulus testnya untuk naik level. Jadi dipastikan anaknya memang sudah mampu untuk naik level.

Continue reading “Review: Kumon Thai”