Game Harry Potter: Wizards Unite

Game Harry Potter ini merupakan game terbaru dari Niantic pembuat game Pokemon Go. Karena belakangan mulai jarang main Pokemon Go, iseng deh coba liat Harry Potter. Tulisan ini isinya kesan pertama dari bermain Harry Potter yang baru diinstal beberapa hari. Belum eksplorasi banyak soal game ini, tapi sekilas udah bisa liat kemiripan game ini dengan Pokemon Go.

Secara garis besar, game ini sangat mirip dengan Pokemon Go. Ada banyak terminologi yang bisa diasosiasikan dengan Pokemon Go. Tapi menurut saya, game Harry Potter ini terlalu banyak informasi di awal dan terlalu banyak tulisan yang harus dibaca dan mungkin lebih cocok untuk pemain game yang biasa dengan game di PC. Buat saya yang main game cuma sekedar iseng, game ini agak bikin males mainnya, butuh waktu untuk memahami aturan permainannya. berbeda dengan saya, Jonathan dan Joe sudah lebih dulu main game ini, jadi sekarang ini saya banyak bertanya dengan mereka.

Saya sudah membaca semua buku Harry Potter dan menonton filmnya, tapi saya tidak bisa ingat informasi seperti materi pembuat tongkat sihir ataupun pola yang dibentuk ketika kita menyebutkan metode sihir tertentu. Di game Harry Potter ini kita seperti diajarkan tracing mengikuti pola sihirnya untuk membebaskan objek yang dikutuk yang disebut confoundable (seperti pokemon nya). Di game ini juga ada sejenis pokestop dan pokegymnya. Untuk membebaskan objek yang dikutuk kita harus punya sejenis bolanya yang disebut spell.

Kalau anda penggemar berat harry potter yang sangat mengingat pola-pola yang harus dibentuk dan nama-nama spell yang disebutkan, di dalam game ini ada banyak kata-kata yang mungkin mengingatkan isi bukunya walaupun buat saya ini jadi seperti permainan anak yang sedang belajar tracing lalu dikasih hadiah menempel stiker hehehe.

salah satu pola yang harus diikuti untuk magic spell

Selain terlalu banyak informasi yang harus dibaca, animasi dalam game ini juga sepertinya terlalu berat untuk di HP. Kadang ada kesan HP nya mau hang karena menunggu game dimuat. Tanpa mengerti tujuan mainnya, saya tau-tau sudah di level 5. Kalau di game Pokemon Go, rasanya naik level di awal bisa cepat tapi lama-lama semakin sulit naik level karena butuh point lebih banyak.

Tugas harian game ini juga terlalu banyak dan membutuhkan waktu lama. Misalnya tugas membuat potion: pembuatan potion ini membutuhkan waktu 1 jam lebih. Ya tidak harus ditunggu karena bisa saja aplikasinya ditutup dan akan selesai 1 jam kemudian. Tapi untuk yang langsung ingin melihat potionnya, ada pilihan untuk mengeluarkan koin supaya proses pembuatan potionnya bisa langsung selesai. Dalam banyak hal, game ini juga sepertinya terlalu banyak menawarkan untuk membeli koin.

Kesimpulannya buat saya sekarang ini game ini terlalu rumit dan jadi gak bisa dinikmati. Terlalu berat untuk HP dan untuk memenuhi target harian. Game Pokemon Go jauh lebih menyenangkan dan santai bermainnya.

Apakah saya akan berhenti langsung bermainnya? ya nggak juga sih, sesekali akan tetap di cek karena Joe dan Jonathan yang lebih dulu akan membaca informasi tentang game ini dan saya tinggal bertanya hehehe.

Memilih Printer

Sejak tinggal di Chiang Mai, kami sudah beberapa kali beli printer. Pernah beli yang laser, deskjet, inkjet, bahkan pernah beli yang agak hi-end pada masa itu bisa fax segala (padahal cuma butuh fitur scannernya). Kami juga sudah mencoba berbagai merk printer seperti Lexmark laser, HP deskjet print scan copy fax, Brother inkjet monochrome, Canon inkjet dengan tank yang dimodif maupun Canon inktank print scan copy. Karena kami tidak memakai printer setiap hari, masalah yang paling sering terjadi adalah: tintanya kering! Yang paling menyebalkan adalah: setiap kali butuh ngeprint, selalu butuh waktu untuk membujuk printernya biar bekerja. Setelah printernya bekerja, eh kertasnya kadang-kadang miring masuknya dan berbagai masalah cetak lainnya.

Sebagai homeschooler, printer itu termasuk kebutuhan utama. Walaupun kami membeli kurikulum yang sudah berupa buku kerja, kadang kala ada banyak hal lain yang perlu dicetak untuk bacaan tambahan atau latihan soal. Sebagai orang IT, kami juga sering merasa butuh untuk scan dokumen, foto atau berbagai hal lain. Kebutuhan untuk memfotokopi passport juga ada setiap kali ada urusan ke imigrasi untuk perpanjangan ijin tinggal. Jadi kesimpulannya printer itu kebutuhan untuk kami walaupun tidak digunakan tiap hari.

Awal bulan ini, printer terakhir kami Canon inktank print scan copy dan bermasalah lagi. Printer ini garansinya ada 2 tahun, tapi dalam 2 tahun sudah 2 kali masuk bengkel. Kejadiannya ya setiap butuh ngeprint dia ga bisa ngeprint dan akhirnya bawa ke service. Karena masih masa garansi, kami gak pernah bayar. Kerusakan pertama karena scannernya rusak yang akhirnya menyebabkan tidak bisa mencetak. Kerusakan kedua tinta berisi penuh tapi selalu dinyatakan tinta habis dan disuruh mengganti tintanya. Lalu diantara kerusakan pertama dan ke-2 , kami juga sudah pernah mengalami tintanya kering tapi bisa diakalin Joe biar bisa bekerja lagi. Kerusakan terakhir yang ketiga kali, printernya sudah diluar masa garansi. Kerusakan kali ini paling parah: printernya tidak mau nyala sama sekali! Ketika dibawa ke service, karena printer sudah diluar masa garansi, kami harus bayar 300 baht untuk pemeriksaan kerusakan, dan kemudian harusnya bayar 1700 baht kalau mau diganti sparepart yang rusak (head printernya). Waktu saya tanya apakah reparasi ini ada garansinya? katanya tidak ada, artinya ada kemungkinan setelah membayar untuk ganti head printer, bisa saja tau-tau printernya rusak lagi. Karena printer Canon itu sudah rusak 3 kali, kami memutuskan untuk beli baru saja (supaya dapat garansi lagi).

Proses memulai pencarian printer dimulai. Dari kebutuhan yang ada, kami butuh printer yang bisa print-scan-copy dan juga kepikiran butuh yang bisa print melalui wifi. Selama ini, setiap kali mau ngeprint, kabel yang terhubung ke komputer sering bermasalah, terus pernah juga komputer yang terhubung ke printer butuh update driver dan updatingnya lamaaaaa banget. Aduh kayaknya printer itu identik dengan masalah deh. Nah fitur printer via wifi ini sudah lama ada, tapi kami belum pernah coba karena dulu harganya masih mahal. Kali ini kami memutuskan untuk mencoba printer yang bisa print via wifi, siapa tahu kalau ngeprint bisa langsung dari handphone, kami bisa lebih sering menggunakan printernya.

Dari hasil survey, ada beberapa pilihan:

HP 415 (4250 baht – garansi 2 tahun)

pilihan pertama

EPSON 3150 (4890 baht – garansi 2 tahun)

Brother DCP-T310 (3750 baht – garansi 1 tahun)

pilihan ke-3

Sebenarnya, waktu mencari online, pilihan sudah jatuh ke HP 415. Terus waktu saya survei ke toko, penjaga tokonya rekomendasi EPSON 3150, katanya EPSON ini memberikan garansi tinta tidak akan kering walau tidak dipakai 2 bulan. Kalaupun kering dan head rusak, selama masa garansi penggantian head sudah termasuk dalam garansi. Printer lain tidak memberikan garansi untuk head nya walaupun masih dalam masa garansi. Nah karena EPSON ini harganya lebih mahal sedikit dibanding HP, saya masih cari-cari pilihan lain lagi, dan ketemu Brother DCP-T310 yang ada displaynya.

Nah akhirnya setelah ada 3 pilihan begini malah makin bingung. Joe tertarik dengan Brother yang ada displaynya, harganya pun paling murah, tapi garansinya hanya 1 tahun. Saya awalnya sudah mau langsung pilih HP saja, tapi baca-baca kecepatan print nya masih lebih cepat si EPSON. Akhirnya, dengan pertimbangan rekomendasi mas-mas toko yang memang tokonya cukup terpercaya, kami pun pilih si EPSON. Lebih mahal memang, tapi harapannya sih bisa terpakai dengan baik selama 2 tahun gak bikin kesel tiap kali butuh ngeprint.

printernya ringan dan mengisi tintanya lebih sederhana daripada canon

Tadi, waktu instalasi, hampir saja kami merasa menyesal pilih EPSON. Jadi di awal instalasi, printer ini butuh pemanasan 10 menit, katanya ini inisialisasi pertama saja. Nah setelah 10 menit itu, printernya bisa mencetak test print untuk mendapatkan password wifi directnya. Tapi loh kok malah blur hasil cetaknya. Terus baca petunjuk butuh nozzle clean dulu. Akhirnya Joe harus keluarkan laptop untuk bisa setup printernya. Masalah berikutnya: laptop Joe gak ada Windowsnya! Untungnya di linux ketemu driver printer EPSON walau bukan seri yang persis, dan untungnya akhirnya setelah 30 menit dan berlembar-lembar mendapatkan hasil blurry dan isinya bintik-bintik doang akhirnya berhasil mensetup printernya setelah berhasil clean nozzle dan mendapatkan password wifi printernya.

Setelah itu sih udah ga ada masalah lagi, bahkan Joe berhasil mengupdate firmware printernya dengan firmware terbaru. Saya juga tinggal menginstal aplikasi Epson iprint dari Google Play di handphone, lalu aplikasinya akan otomatis mencari printernya.

Printernya sekarang sudah ready, dan sudah dicoba mengeprint beberapa dokumen. Joe juga sudah mencoba scan dokumen via wifi, jadi dokumennya diletakkan di printer dan hasil scannya langsung dapat di handphone. Untuk perintah fotokopi juga sudah dicoba dengan menggunakan aplikasi dari handphone.

Besok akan dicoba lebih banyak lagi. Masalah baru: kertas untuk mencetak habis hahahaha, jadi besok harus beli kertas dulu. Nah klaimnya printer ini untuk tinta yang disertakan dalam paketnya bisa mengeprint ribuan lembar untuk kualitas hitam putih ataupun warna. Niatnya saya akan mencari buku-buku belajar bahasa Indonesia dan mencetaknya supaya Jonathan bisa belajar membaca bahasa Indonesia dari buku cetak dan bukan baca di layar komputer.

Semoga printer kali ini lebih awet daripada printer-printer sebelumnya. Dan semoga dalam 2 tahun ini tidak ada kerusakan berarti untuk si printer.

Matematika SD: Kurikulum Cambridge VS Kurikulum Nasional

Hari ini istirahat dulu dari belajar bahasa Thai. Saya mau cerita pengalaman ikutan KulWAP (Kuliah WhatsApp) dengan topik Matematika SD Kurikulum Cambridge VS Kurikulum Nasional yang diadakan oleh komunitas #emak berbagi.

Beberapa waktu lalu, saya dapat informasi mengenai kulwap ini dari salah satu teman yang saya tahu menghomeschool anaknya sejak dulu. Kami sendiri tidak memakai kurikulum Cambridge ataupun kurikulum Nasional, tapi saya merasa perlu tahu untuk membandingkan dengan kurikulum yang kami pakai.

Sebelum kulwap dimulai, materi sudah diberikan beberapa hari sebelumnya untuk dipelajari. Narasumbernya merupakan guru-guru yang memang berpengalaman mengajar dengan menggunakan kurikulum Cambridge dan juga mempersiapkan murid-murid menghadapi ujian Cambridge, Ujian Nasional maupun untuk homeschooler yang akan mengikuti ujian kejar Paket A.

Mengikuti kulwap begini, saya jadi belajar banyak hal-hal baru juga dan menyadari kalau di Indonesia ada sekolah yang memakai kurikulum lain selain kurikulum nasional. Sebagai ibu homeschooler, saya memilih membeli kurikulum yang sudah jadi karena rasanya tidak sanggup untuk menyusun kurikulum sendiri dan sering ada kekuatiran ada bagian yang terlewat. Setelah membaca garis besar kurikulum Cambridge maupun kurikulum nasional untuk pelajaran Matematika, saya bisa lihat kalau kami masih di jalur yang benar karena pada akhirnya bukan kurikulumnya yang penting, tapi meletakkan fondasi belajar Matematika yang benar supaya anak bisa mengerti dan tidak masalah dengan soal-soal yang lebih kompleks nantinya.

Dalam materi yang diberikan di awal, ada contoh soal untuk ujian akhir Cambridge maupun Kurikulum Nasional. Ada 1 soal yang bikin saya sempat berpikir lama dan bingung hahaha, karena saya tidak bisa langsung melihat relasi dari 2 buah angka dengan pasangan 2 angka lainnya. Tapi sebelum panik karena merasa “loh masa saya ga bisa ujian anak SD!”, saya udah bisa menemukan jawabannya dan jadi teringat inilah pentingnya untuk memberikan variasi contoh soal dari kurikulum lain ke anak, karena bisa saja notasi yang diberikan berbeda dengan yang dia sudah biasa pelajari.

Jonathan sekarang ini masih akan naik kelas 4 SD, masih ada 2 tahun lagi sebelum ujian akhir untuk ke tingkat SMP. Kemarin saya sudah memberikan sedikit contoh soal ujian matematika dalam bahasa Indonesia yang saya dapatkan dari pinjeman di ipusnas. Masalah paling besar bukan dia tidak bisa mengerjakan karena tidak mengerti konsepnya, tapi lebih karena dia tidak mengerti kosakata yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Di dalam kulwap ada juga dibahas, kalau anak perlu dibiasakan dengan kosakata yang digunakan di kumpulan soal matematika baik itu berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Peserta kulwap Matematika ini bukan hanya kalangan homeschooler saja, tapi kebanyakan ya homeschooler. Dari pengalaman hari ini saya jadi kepikiran, kira-kira kalau kami tidak homeschool, saya akan mikirin gak ya kurikulum yang dipakai itu garis besarnya seperti apa? atau saya akan terima beres saja apapun metode yang diajarkan sekolah? Hebatnya, ada beberapa peserta itu anaknya bahkan belum mulai homeschool karena anaknya masih kecil tapi sudah merencanakan akan homeschool.

Dari tanya jawab yang ada selama 3 jam, walaupun saya gak bisa menyimak 100 persen di saat kulwap berlangsung, saya mendapatkan beberapa masukan baru juga untuk cara mengenalkan konsep matematika ke Jonathan dan Joshua. Ada 1 link yang dibagikan yang bisa dicoba dikerjakan bareng anak, tentang melipat dan gunting kertas untuk belajar tentang luas bidang. Nah biar tidak lupa, linknya akan saya sertakan di sini.

Setelah kulwap utama bubar, seperti biasa grupnya belum langsung dibubarkan. Nah kesempatan ini saya pakai untuk mencari teman sesama homeschooler yang anaknya seumuran. Hasilnya? saya dapat banyak teman baru dan komunitas baru. Ternyata memang di Indonesia sudah semakin banyak orang yang memilih Homeschool daripada jalur sekolah formal. Senang rasanya karena punya banyak teman untuk bertanya terutama seputar kurikulum Nasional dan ujian persamaan.

Review: Domino Train Toy

Beberapa waktu lalu, Joe liat mainan domino train toy, terus tertarik beli. Seperti biasa, yang suka pengen beli mainan itu papanya, mamanya bagian melarang hehehe. Tapi pas Joshua liat, eh dia jadi belajar konsep membariskan dan menjatuhkan mainan. Mainan apa aja yang bisa diberdirikan dia susun berbaris, terus berusaha dia jatuhkan seperti efek menjatuhkan domino. Joshua gak spesifik minta mainan, tapi ya karena liat dia seneng mainan begitu, akhirnya saya setuju beli mainan Domino train toy ini.

balok-balok disusun seperti domino, terus dijatuhkan

Tanggal 4 Juni Joe pesan mainannya dari aliexpress, dan hari ini mainannya sampai. Jonathan dan papanya mencoba mainannya langsung. Train toynya tentu saja butuh batere supaya bisa jalan. Kepingan dominonya pesan yang 60 keping. Lumayan sih trainnya gak berisik. Menjalankan kereta dan menjatuhkan dominonya cukup fun, tapi memasukkan domino ke tray susunan kereta api nya harus satu persatu dan agak repot.

toy train menyusun domino
domino dijatuhkan

Joshua juga senang banget liat toy trainnya menyusun dominonya, tapi kadang dia ga sabar untuk menyusun dominonya ke dalam tray jadi dia memilih untuk memberdirikan sendiri dominonya, lalu menjatuhkannya. Dia juga menyusun dominonya berdasarkan warna yang sama, atau kadang menyusun dominonya seperti huruf dan angka.

Joshua udah mainan domino nya beberapa jam hari ini. Dia selalu begitu, kalau ada mainan baru rajin banget mengeksplorasi dan menciptakan sendiri apa yang bisa dilakukan dengan mainan itu. Sebenarnya salah satu alasan saya awalnya melarang membeli mainan ini adalah: kepingannya ada terlalu banyak, dan repot membereskannya. Tapi tadi sih, saya ajak beresin dia mau beresin. Ya semoga aja tetep begitu ya. Kalau Joshua gak beresin, papanya dah janji akan bantuin beresin hehehe.

Untuk mainan seharga sekitar 15 USD termasuk ongkos kirim, mainan ini cukup fun dan bukan cuma untuk Joshua, Jonathan, papa dan saya juga senang juga menyusun dominonya. Paling senang sih emang pas menjatuhkan dan kalau sukses semua jatuh tanpa berhenti.

Plusnya mainan ini bisa dimainkan sendiri atau sama-sama karena kepingannya cukup banyak. Untuk sekarang ini saya biarkan saja Joshua menyusun kepingannya tidak selalu bisa dijatuhkan sekaligus. Minusnya, mainan ini butuh waktu buat menyusun ke tray kereta, dan juga buat beresinnya hehehe.

Buku: The Wimpy Kid Do-It-Yourself Book

Buku Diary of Wimpy Kid ini belinya udah dari akhir tahun lalu di acara big bad wolf yang diadakan di Chiang Mai. Kami beli 1 set yang berisi 12 buku. Tapi karena bukunya untuk umur 9 tahun dan buku lainnya masih banyak, jadi saya simpan dulu. Nah karena sekarang Jonathan sedang liburan sekolah dan beberapa bulan lagi dia akan berumur 9 tahun, supaya gak main game terus-terusan, saya kepikiran mulai memberikan buku ini buat dia. Tentunya sebelum diberikan, saya perlu untuk melihat isi bukunya juga.

Sebelum mulai membaca buku ceritanya, saya terlebih dahulu memberikan buku versi DIY ini, tujuannya ya siapa tahu Jonathan jadi semangat juga untuk meniru bikin Jurnal bukan diary yang nantinya bisa jadi buku seperti ini hehehe. Lagipula walaupun libur sekolah, nulis Jurnal tiap hari kan jalan terus.

Buku ini cukup menarik dan memberikan banyak ide tentang apa saja yang bisa dituliskan dalam jurnal. Setiap kali buku ini menekankan walaupun judulnya Diary of Wimpy Kid, tapi buku ini bukan diary tapi jurnal. Menurut sudut pandang si anak penulis buku kalau diary itu lebih menceritakan masalah perasaan.

Ini salah satu contoh yang bisa dituliskan di dalam jurnal. Ada banyak bagian yang tinggal diisi. Saya juga jadi kepengen nulis langsung di buku ini, tapi sekarang saya cuma suruh Jonathan baca dan pilih mana yang mau dia tiru dan tuliskan di buku Jurnalnya. Oh ya, sudah beberapa bulan ini Jonathan kembali lagi menuliskan jurnalnya setelah dimarahin karena kelamaan libur nulis jurnal hehehe.

Contoh ide yang bisa dituliskan di dalam Jurnal

Ada banyak ide-ide di dalam buku ini yang terkadang hanya butuh memberi tanda ya dan tidak. Tapi ada juga bagian seperti memikirkan masa depan atau mengingat masa lalu. Intinya buku ini memberikan ide-ide apa saja yang bisa dituliskan di sebuah jurnal.

Halaman Predict Your Future ini mengajak anak membayangkan kira-kira di umur 30 tahun nanti dia akan menjadi seperti apa. Hal ini seperti menuliskan cita-cita dan harapan nantinya akan jadi seperti apa. Menurut saya, mungkin memikirkan jauh ke usia 30 tahun masih akan sulit untuk Jonathan, tapi buku ini juga bisa menjadi jembatan menceritakan papa mamanya seperti apa di usia 30 tahun, dan apa yang bisa dicapai atau diharapkan untuk seorang yang berusia 30 tahun. Saya juga bilang ke Jonathan, kita bisa memprediksi misalnya untuk 5 tahun ke depan kira-kira Jonathan inginnya seperti apa.

Bagian ini seperti menuliskan cita-cita

Nah ini contoh memikirkan masa lalu. Sejauh ini Jonathan sudah belajar juga sedikit tentang sejarah, baik itu sejarah dari cerita kehidupan orang jaman dulu, maupun cerita dinosaurus yang katanya hidup di jaman prasejarah. Bagian ini mungkin agak lebih sulit untuk sekarnag ini diisi, karena yang diingat Jonathan paling cerita mulai dia sekitar 5 tahun.

Bagian ini untuk mengingat masa lalu atau belajar sejarah

Hal lain yang bisa dituliskan dalam jurnal juga berupa komik. Untuk anak yang suka menggambar, mungkin cara bercerita dengan komik ini bisa dieksplorasi juga. Dibuku ini selai nada komik yang tidak selesai, yang mana kita bisa meneruskan sendiri kira-kira apa percakapannya, ada juga bagian kotak-kotak komik kosong yang bisa digambar sendiri.

Mengajak anak bercerita melalui komik

Selain ide-ide mengenai isi sebuah jurnal, di buku ini juga ada komik bergambar beberapa halaman, dan juga halaman kosong yang bisa diisi dengan apa saja. Buku ini cukup membuat Jonathan tertarik untuk meneruskan menulis jurnalnya. Hari ini misalnya Jonathan menuliskan cerita lucu mengenai bilangan romawi II yang di baca ay-ay captain.

Untuk buku ceritanya, saya baru baca sedikit buku pertamanya. Kalau sudah selesai nanti akan dituliskan terpisah. Tapi saya pernah baca review buku ini, bahasa yang digunakan kadang-kadang kurang baik, contohnya di bagian unfinished comic mengenai The Amazing Fart Police. Saya tahu kalau buang angin itu merupakan sesuatu yang terjadi secara natural oleh tubuh, tapi ketika dijadikan lelucon kadang tidak semua orang bisa menerima dan menganggap itu lelucon yang tidak lucu. Jadi ya kalau memberikan buku ini, kita orangtua harus sambil memberitahukan batas-batas bercanda ke orang lain supaya tidak sampai menimbulkan salah paham.

MAIX GO: AIOT Board

Di jaman Artificial Intelligence (AI) dan Internert of Things (IOT), ada beberapa perusahaan yang berusaha menggabungkan keduanya menjadi AIOT (Artificial Intelligence of Things). Salah satunya adalah Sipeed dari China. Perusahaan ini mengembangkan teknologinya berdasarkan instruction set RISC-V (baca: Risk Five) yang sifatnya terbuka. Jika saat ini Intel dan ARM masih menguasai dunia, di masa depan ada kemungkinan RISC-V yang akan jaya.

Sipeed sudah membuat cukup banyak produk, baik chip SOC dengan neural accelerator maupun board-board pendukungnya. Salah satu produk mereka adalah MAIX GO. MAIX GO ini memakai SOC Kendryte K210 dengan instruction set RISC-V 64 Bit dan memiliki accelerator untuk Fast Fourier Transform dan CNN (Convolutional Neural Network). Dengan adanya accelerator tersebut, SOC ini sangat cocok untuk memproses gambar dan suara. Menurut dokumentasinya, jika ukuran model kita kecil (<5.9 Mb fixed point 8-16 bit) maka pemrosesan image real time bisa dilakukan (~30 fps).

Saya memesan board MAIX GO ini ketika ada kampanye Indiegogo bulan November tahun lalu. Paket yang saya ambil seharga 45 USD dengan ongkir 5 USD ke Thailand dengan isi sebagai berikut:

  • 1 x MAIX GO (termasuk batere)
  • 1 x M12 OV2640 Camera
  • 1 x 2.8 inch QVGA LCD
  • 1 x MAIX GO simple case
  • 1 x MAIX R6+1 Microphone Array
  • 1 x MAIX Binocular Camera

Bendanya sebenarnya sudah saya terima sejak akhir Januari dan sudah langsung saya susun, tapi karena beberapa kesulitan awal, baru saya teruskan lagi ngopreknya sekarang. Isi paket utama MAIX GO lengkap: termasuk juga batere (biasanya sulit mengirimkan ini) dan juga obeng kecil serta kabel USB ke USB-C.

Sekarang benda ini sudah tersedia umum dan bisa dibeli di seeed studio atau Aliexpress (tapi lebih mahal). Harga MAIX GO tanpa Microphone Array dan Binocular Camera adalah 40.9 USD. Microphone Array bisa dibeli terpisah seharga 11.9 USD dan Binocular Camera bisa dibeli seharga 13.9 USD. Jadi harga total paket yang sama dengan yang saya pilih waktu crowdfunding adalah: 66.7 USD (belum termasuk ongkir).

Masalah pertama dengan hardware ini adalah pada interface serialnya. Benda ini dikenali sebagai serial port, tapi koneksinya tidak stabil (kadang bisa kadang nggak). Ternyata setelah membaca dan mengikuti diskusi telegram, masalahnya adalah pada chip STM32 yang dipakai sebagai interface serial, dan bagian ini perlu diupdate.

The problem is that OS X doesn’t let non-kernel drivers capture HID devices except through the HID APIs (for security reasons – helping prevent keyloggers etc). The CMSIS-DAP python server supplied by mbed libusb which implements it’s own HID layer and accesses the underlying USB stack at a lower level than HID – which Windows and Linux allow, but OS X does not.
The solution is update the firmware of cmsis-dap for maixgo to openec, and then OSX could recognize it.
You need a stlink, and use https://github.com/pavelrevak/pystlink/blob/master/README.md to flash the openec firmware. The openec firmware download URL is: https://github.com/rgwan/open-ec/releases, download and program the firmware flash-zero.bin, re-connect the USB cable of maix-go, and OSX will show new serial port. Use homebrew, install lsusb, and use lsusb command to check whether it work

Diskusi telegram

Masalah pertama untuk mengupdate: saya perlu membongkar lagi board yang sudah saya susun susah payah mengikuti instruksi Instruksi di youtube. Perlu mengikuti Youtube karena tidak ada instruksinya di dalam paket yang disertakan ataupun di websitenya. Tidak mudah juga menebak bagaimana menyusunnya karena tidak jelas juga orientasi LCD-nya harus dicolok ke arah mana (tidak ada labelnya).

Masalah berikutnya: saya harus mencari ST-LINK yang saya miliki. Karena sedang ada kesibukan lain, saya mengurungkan niat dan hampir melupakan board ini. Kemarin teman saya ada yang menanyakan apakah saya sudah mencoba board ini dan baru ingat lagi untuk mencoba. Akhirnya saya mulai membongkar lagi board ini malam ini.

Saya tidak tahu apakah board baru sudah memakai firmware yang baru atau masih harus diupdate manual. Jika masih perlu update manual, maka jangan lupa beli hardware ST-LINK-nya juga. Harga ST-LINK cukup murah dan terpakai juga untuk development STM8 dan STM32, jadi saran saya sih beli saja satu. Sebagai catatan: harga ST-LINK di Aliexpress lebih murah.

Setelah dibongkar ternyata posisi lubang pin untuk memprogram ulang STM32 sulit dijangkau. Tadinya mau saya solder pin header sementara lalu dilepas lagi, tapi ternyata spacing pin headernya juga tidak standar (standar di sini maksud saya seperti Arduino/Raspberry Pi). Tepatnya lagi: beberapa pin header di board ini standar 2.54mm, sebagian lagi tidak. Akhirnya saya memakai kabel dupont yang sudah ada headernya dan ditahan dengan tangan.

Kemudian ada masalah lain: sistem power board ini semuanya terhubung. Jika board ini dimatikan dan saya colok ST-LINK ke pin programming standard (3.3V, GND, DIO dan CLK) maka board ini akan berusaha menyala dan tidak berhasil karena dayanya tidak cukup. Jadi untuk memprogramnya benda ini perlu sambil diberi power via USB juga.

Setelah beberapa kali mencoba akhirnya berhasil juga mengupdate STM32-nya. Untungnya ini hanya perlu dilakukan sekali, jadi saya pastikan booting masih bisa dilakukan, dan setelah itu saya susun lagi boardnya.

Setelah berhasil mengupdate, saya berusaha memflash chip utama dengan Flasher versi Windows. Hasilnya: gagal. Padahal software Windows ini disarankan dan dilink dari website utamanya.

Akhirnya flashing berhasil dilakukan dengan skrip Python kflash.py. Saya mencoba Maixpy versi terbaru. Ini merupakan firmware Python untuk MAIX yang menurut saya sangat mudah digunakan.

Setelah sampai di prompt Python, semua berjalan cukup lancar. Saya mencoba-coba berbagai skrip contoh yang ada di:

https://github.com/sipeed/MaixPy_scripts

dan hampir semuanya berjalan lancar. Jangan lupa untuk deteksi wajah, ada data yang perlu diflash terpisah (sesuai komentar skripnya). Kualitas kamera yang diberikan biasa saja.

Board MAIX Go ini memiliki ESP8285 untuk koneksi WIFI, tapi saya baru mencoba scan access point. Saya belum mencoba seberapa bagus streaming kamera ke WIFI. Perlu dicatat bahwa tidak semua board seri MAIX memiliki WIFI (misalnya MAIX Bit tidak memiliki chip WIFI).

Selain dengan Python, benda ini juga bisa diprogram dengan menggunakan C/C++ tapi inipun belum saya coba. Sejauh ini Python sudah cukup untuk banyak eksperimen. Pemrograman C/C++ bisa dilakukan dari command line ataupun menggunakan IDE Arduino (ada dokumentasi Maixduino di website sipeed tapi isinya masih sangat minim).

Sayangnya dua benda ekstra yaitu Microphone Array dan Binocular Camera belum sempat saya test. Melepas ulang modul kamera dari boardnya cukup sulit (ada beberapa baut yang perlu dilepas) sedangkan hanya ada 1 konektor kamera. Konektor mic array ada di dalam board dan sulit dihubungkan juga. Selain itu saat ini saya belum kepikiran proyek khusus yang memakai benda tersebut.

Ada satu lagi komplain mengenai benda ini yaitu mengenai speakernya. Ada bunyi statik yang selalu ada setiap waktu, dan kadang lebih parah ketika dicolok ke USB. Ternyata ini katanya normal dan jika tidak ingin suara ini, kita harus melepas kabelnya dengan solder. Ini satu-satunya bagian yang memakai kabel dan tidak memakai pin header.

Penutup

Di atas kertas kemampuan K210 sangat bagus, bahkan untuk hal-hal di luar AI dan harganya juga murah. Ada versi board dengan SOC yang sama (K210) MAIX Bit dengan kamera dan LCD hanya 20.9 USD (atau boardnya saja 12.9 USD). Tapi ada banyak hal juga yang agak menghambat chip ini:

  • Instruction set RISC-V belum terlalu dikenal, supportnya belum matang seperti ARM/Intel
  • Chip ini bersaing dengan berbagai SOC ARM yang sekarang juga mulai menyertakan accelerator untuk AI (walau harganya tak semurah K210)
  • Guide berbahasa inggris masih jarang (kebanyakan berbahasa mandarin)

Saat ini menurut saya MAIX masih belum cukup matang untuk Anda yang ingin “langsung jalan”. Namun demikian group Sipeed sangat aktif, github mereka juga masih sangat aktif, jadi sepertinya masa depan benda ini (dan produk sejenis dari Sipeed) cukup cerah.

Kdrama: Her Private Life dan What’s Wrong with Secretary Kim

Kali ini mau nulis kesamaan 2 kdrama genre romantis komedi yang dibintangi Park Min-young (PMY). Walaupun Her Private Life (HPL) belum habis, tapi sudah bisa dilihat banyak kesamaan ceritanya dengan What’s Wrong with Secretary Kim (WWWSK) drama tahun 2018. Peringatan buat yang belum nonton salah satunya, tulisan ini bakal banyak mengarah ke spoiler hehehe.

Tokoh utama wanita yang perfeksionis

Pemeran wanita utama digambarkan sangat cantik, sangat perfeksionis dan serba bisa. Sebagai sekretaris di WWWSK, Kim Mi-so merupakan seorang sekretaris yang menjadi legenda dan contoh buat semua sekretaris lain, bukan hanya membantu bosnya untuk urusan kantor tapi juga punya inisiatif dan cepat tanggap dalam membantu persoalan yang ada di perusahaan. Karena sudah berpengalaman selama 9 tahun bekerja dengan bosnya, kalau ada permasalahan, dia mendistribusikan pekerjaan dengan cepat bahkan sebelum bos nya menyuruhnya.

Sekretaris Kim Mi-So juga selalu siap sedia semua kebutuhan bos nya, mulai dari saputangan dan dasi bos nya siap sedia di tasnya, dia bisa berbagai bahasa untuk menunjang keperluan pekerjaannya, dia juga siap membelikan bunga untuk wanita yang menjadi pacar bos nya walaupun dia sendiri alergi terhadap bunga. Sekretaris Kim siap sedia 24 jam untuk bosnya sampai tidak sempat memikirkan dirinya sendiri.

Sebagai kurator galeri seni di HPL, Sung Deok-mi juga menjadi chief kurator yang sangat diandalkan, tanggung jawabnya bukan hanya kurator untuk benda seni, tapi juga terlibat mulai dari mengecat dinding, mengatur layout untuk meletakkan benda-benda seni di galeri kalau ada rencana pameran atau pergantian layout. Dia juga mengganti bola lampu kalau ada yang mati. Selain sebagai kurator Sung Deok-mi juga seorang fangirl sejati yang jagoan mengambil foto dan mengedit foto idolanya dengan kamera yang dilengkapi lensa tele. Seperti halnya di kantor, sebagai fangirl Deok-mi juga total dan mengelola sebuah fansite untuk idolanya. Rumahnya juga penuh dengan benda-benda merchandise dari kegiatan fangirlingnya.

Kesamaan lain dari sekretaris Kim Mi-so dan kurator Sung Deok-mi adalah berasal dari keluarga biasa saja dan sudah tidak tinggal bersama orangtua lagi dan menyewa apartemen kecil sederhana.

Tokoh utama pria merupakan atasan langsung dari tokoh utama wanita

Tokoh utama pria di WWWSK diperankan oleh Park Seo-joon sebagai Vice President Lee Young-joon merupakan atasan langsung dari sekretaris Kim Mi-so selama 9 tahun. Lee Young-joon ini juga selalu sukses dalam pekerjaanya dan membuat perusahaan menjadi maju. Tapi walau dia sangat sadar diri bahwa dia ganteng, kaya dan pintar, dia belum pernah benar-benar jatuh cinta dengan wanita. Kalaupun ada wanita yang dia kencani hanya untuk sekedar dilihat orang kalau dia bisa mendapatkan wanita cantik/artis mana saja.

Tokoh utama pria di HPL diperankan oleh Kim Jae-wook sebagai Ryan Gold, seorang seniman yang terkenal dan menjadi direktur galeri seni di mana kurator Sung Deok-mi bekerja. Ryan Gold digambarkan juga sangat sadar diri dengan kegantengannya. Sebagai seniman ternama yang diadopsi dan tinggal di luar Korea, Ryan Gold ini juga tergolong orang kaya dengan rumah besar.

Kesamaan Lee Young-joon dan Ryan Gold lainnya adalah karena sering dinas keluar kantor bareng dengan tokoh utama wanita, mereka jadi sering anterin ke rumah dan lama-lama jadi tertarik dengan bawahannya yang diperankan PMY.

Tokoh utama pernah bertemu ketika masih kecil

Di WWWSK, tokoh wanita dan pria pernah bertemu ketika si wanita umur 5 tahun dan pria umur 9 tahun. Karena mereka bertemu dalam setting yang kurang menyenangkan, si tokoh wanita lupa persisnya nama si pria. Kesan yang dia ingat dari anak lelaki umur 9 tahun itu hanya bagian dia merasa dilindungi, dan anak lelaki itu berjanji akan datang lagi menemuinya. Tapi ditunggu-tunggu anak itu tak kunjung datang. Sekretaris Kim masih menyimpan buku catatannya sewaktu kecil tentang anak lelaki yang berjanji akan datang itu. Seperti cerita klise yang selalu terjadi di kdrama, ternyata pria yang dia cari-cari itu sudah lebih dulu menemukan dia, tapi baru diberitahukan sekian tahun kemudian.

Di HPL, sejauh 14 episode ini ada digambarkan kilas balik Ryan Gold bermain di taman dengan anak-anak lain. Lalu di akhir episode 14 digambarkan ibunya kurator Deok-mi menyimpan foto yang bertuliskan nama Korea dari Ryan Gold. Berhubung 2 episode terakhir belum saya tonton, saya hanya bisa berspekulasi kalau jangan-jangan Ryan Gold ini dulunya pernah tinggal di rumah kurator Deok-mi sebelum akhirnya diserahkan ke panti asuhan.

Ide cerita di mana tokoh utamanya sudah pernah bertemu sejak kecil/remaja/cinta pertama merupakan salah satu formula klise dari kdrama. Kalau banyak nonton kdrama pasti bisa sebutkan 5 judul kdrama yang memakai formula ini.

Kencan di Taman Bermain

Baik di WWWSK dan HPL digambarkan kencan pertama tokoh wanita dan pria nya itu di taman bermain. Eh tapi waktu mereka ke taman bermain itu mereka belum jadi pasangan, jadi mungkin bukan kencan ya hitungannya, apa kita sebut pe-de-ka-te pertama gitu? Gak sama persis sih alasan dan setting tempatnya ataupun permainan yang dimainkan, tapi sama-sama pergi berdua di taman bermain, dan setelah itu mereka mulai saling mengenal dan melihat sisi lain bos dan bawahan ini.

Ada cerita tambahan di Kantor

Cerita utamanya ya berkisar di kantor dengan beberapa pameran pendukungnya. Kisah-kisah romantis lainnya juga ada selain kisah pemeran utama. Pemeran pendukung di kantornya juga yang membuat ceritanya terasa lucunya. Di WWWSK setidaknya ada 3 kisah tambahan selain pemeran utam. Di drama HPL belum tahu apakah akan ada pasangan lain selain pasangan pemeran utama, tapi dari beberapa episode terakhir ada kesan bakal ada pasangan lain yang jadian juga.

Penonton berharap pemeran utama jadian beneran

Namanya penonton kdrama, apalagi genre komedi romantis, pasti deh penonton selalu berharap pemeran utamanya jadian beneran. Klip behind the scene juga selalu jadi bagian yang ditunggu-tunggu setelah selesai menonton episode yang ditayangkan. PMY aktingnya memang jago jadi tokoh wanita yang lagi jatuh cinta. Baik itu sebagai sekretaris Kim Mi-so ataupun kurator Sung Deok-mi, PMY bisa bekerja sama dengan baik dengan aktor pria nya seolah-olah memang pasangan beneran. Kalau baca artikel tentang drama WWWSK, semua orang pengen biar pasangan Park Park jadian beneran. Nah ini sekarang di HPL juga banyak penonton berharap PMY jadian beneran dengan KJW.

Kesimpulan

Persamaan di drama WWWSK dan HPL ini terasa banget karena faktor PMY nya. Ceritanya sendiri secara keseluruhan cukup berbeda. Jalan cerita sampai mereka saling jatuh cinta dan konflik yang menghambat mereka jadian juga berbeda. Kalau ditanya mana yang lebih romantis? ya itu sih kembali ke selera penonton. Banyak yang bilang film HPL ini memberikan standar baru untuk romantisnya pasangan di romcom. Tapi kemarin juga waktu ada drama Touch Your Heart, penonton juga selalu bilang aduh manis banget sampai bikin diabetes (ini sepertinya istilah baru kalau lihat adegan yang so sweet penonton jadi diabetes).

Pada dasarnya semua kdrama itu ya formulanya hampir sama. Kalau memang suka dengan genre romcom yang gak pake banyak konflik misalnya orangtua yang tidak merestui karena perbedaan level kekayaan, atau ada orang lain yang sangat jahat dan selalu berupaya mencelakakan pemeran utama ya bolehlah tonton HPL dan WWWSK. Unsur komedi dan romantisnya dari 2 drama ini cukuplah buat jadi hiburan. Masih mending nonton beberapa drama komedi kan daripada melodrama yang pemerannya nangis-nangis dan selalu dilanda kesusahan.

Cukup dulu ngomongin kdramanya, minggu ini HPL berakhir dan berikutnya kita tunggu apakah endingnya HPL akan seperti WWWSK juga.