Memrise: Aplikasi Buat Belajar Bahasa

Catatan: review ini saya tulis berdasarkan opini pribadi, dan saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Saya menginstal Memrise sudah lama. Jonathan malah duluan makai Memrise baru saya ikutan. Awalnya, Jonathan iseng-iseng pengen belajar bahasa Spanish katanya. Terus belakangan saya ikutan mencoba instal juga untuk melihat ada bahasa apa saja yang ditawarkan dan seperti apa sih Memrise itu.

Bisa belajar banyak bahasa sekaligus

Sekilas, memrise ini seperti flash card saja. Bedanya kalau flash card biasa itu, kita harus menyiapkan sendiri kata-katanya dan tidak ada suaranya. Dengan Memrise, selain menawarkan untuk mengulang-ulang kosa kata, ada bagian latihan mendengarkan, latihan mengucapkan, latihan mendengar orang lokal berbicara, latihan mengeja, dan juga mulai dari level kata sampai menyusun kalimat. Oh ya, kursus yang kita pilih bisa di download secara offline, jadi tidak ada alasan tidak bisa belajar karena kehabisan paket data.

Saya mulai iseng belajar Korea pakai Memrise beberapa bulan lalu. Memrise ini bisa digunakan secara gratis, tapi ada beberapa fitur yang dibatasi untuk versi gratisnya. Karena melihat saya dan Jonathan waktu itu cukup rajin, akhirnya kami memutuskan untuk membayar subscription Memrise ini. Pertimbangannya, dengan 60 USD per tahun, bisa belajar beberapa bahasa sekaligus, jauh lebih murah daripada pergi ke kursus bahasa. Sekarang ini ada penawaran lifetime subcription dengan biaya 100 USD, tapi kami belum membeli yang lifetime subscription.

informasi subscription

Setelah selesai materi Korean 1, saya sempat berhenti lama, dan baru melanjutkan lagi akhir-akhir ini. Salah satu hal yang sekarang saya jadikan tantangan buat saya adalah, menjaga supaya jangan sampai ada hari bolos belajar. Sejauh ini sudah 27 hari terakhir saya selalu ingat untuk berlatih Korean 2.

Setiap hari kita bisa tentukan berapa banyak target kata baru yang ingin dipelajari. Beberapa hari pertama, saya tidak mau bikin target yang terlalu sulit. Cukup 5 kata baru per hari, dan biasanya cukup 5 menit juga selesai. Belakangan ini saya ganti targetnya menjadi 15 kata baru per hari.

Untuk 15 kata baru ini, karena levelnya juga semakin sulit, saya butuh sekitar 15 – 20 menit setiap harinya. Kalaupun saya gak punya waktu 20 menit yang berkesinambungan, saya bisa belajar 5 menit pagi hari, 5 menit setelah makan siang dan 10 menit sore hari. Pokoknya sih dibikin fun aja seperti main game, karena kadang-kadang saya bisa ngantuk juga belajarnya hahaha.

Oh ya, waktu dulu belajar Korean 1, saya pikir belajar Korea pakai Memrise ini cuma sampai level 2 saja. Tapi belakangan saya lihat, ada 7 kursus yang ditawarkan untuk belajar Korea ini. Jadi tambah semangat buat bikin target sesegera mungkin menyelesaikan Korean 2.

Supaya ada gambaran, berikut ini contoh cara belajar bahasa menggunakan Memrise Korean1. Waktu saya mulai belajar, saya belum membaca sama sekali mengenai alphabet hangeul. Dengan pengulangan yang berkali-kali, lama-lama saya jadi ingat bentuk dan asosiasi dengan bunyinya.

Selain kata, kita juga belajar mengingat frasa dan kalimat. Semua kata-kata ini akan dipelajari dengan berbagai metode. Metode belajarnya tentu saja mengingat kata baru dan mereview kata-kata yang lama. Aplikasi memrise akan secara otomatis memilihkan metode mana yang akan dilakukan, tapi kita juga bisa memilih mau latihan dengan metode yang mana.

berbagai metode belajar dan review

Kadang-kadang saya masih menebak dalam menjawab pertanyaanya. Tapi seringkali jawabannya juga sudah sangat jelas yang mana. Kalau kita salah menjawab, kita akan diberi kata tersebut sebagai kata baru, lalu kita akan banyak dipandu sebelum kemudian diulang lagi setelah 2 atau 3 pertanyaan berikut. Karena adanya pengulangan berkali-kali, lama-lama kita jadi ingat.

Untuk setiap metode belajar dan review, kita diberi beberapa jenis pertanyaan yang berganti-ganti, misalnya:

  • Setelah menampilkan informasi kata dan penulisan dan pengucapan,
  • berikutnya kita diminta untuk menuliskan ejaannya.
  • Untuk kata yang baru, sudah ada hintnya, tapi setelah beberapa kali, kita akan diminta mengisi sendiri.
  • Ada juga diberikan 3 suara, kita pilih mana yang paling tepat dengan kata yang diminta.
  • Kita diminta mengetikkan kata/kalimat yang kita dengar
  • mendengar orang lokal bicara, lalu memilih mana kalimat yang disebutkan
  • menyusun kata-kata dari kalimat yang kita dengar

Untuk belajar bahasa lain, saya belum coba lagi, tapi kira-kira metodenya akan sama variasinya. Sekilas saya lihat untuk bahasa Mandarin, dimulai dengan romanisasi, lalu lama kelamaan kita juga diminta mengingat alphabetnya. Ada keinginan belajar bahasa lainnya, tapi kita lihat saja nanti ya hehehehe.

Selain Memrise, ada banyak aplikasi lain yang bisa dipakai untuk belajar bahasa. Dulu saya pernah melihat aplikasi Rosetta Stone untuk belajar bahasa Thai. Dari hasil googling, ada juga aplikasi DuoLingo. Tapi akhirnya yang membedakan adalah, tidak semua aplikasi memiliki bahasa yang ingin kita pelajari. Saat ini, saya cukup senang menambah kosa kata bahasa Korea dengan menggunakan aplikasi Memrise ini.

Belajar Bahasa itu Proses

Sejak beberapa minggu lalu, saya pernah nulis kalau saya mulai rutin belajar bahasa Korea. Kali ini mencoba disiplin melakukannya sedikit setiap hari. Tanpa terasa, sudah 26 hari saya tidak pernah bolos mereview kosa kata bahasa Korea di Memrise.

Kemarin, akhirnya saya menyelesaikan kursus bahasa Korea pertama yang saya ikuti di Coursera. Walau udah selesai banyak modul, tapi saya merasa belum terlalu bisa nonton kdrama tanpa subtitle. Saya masih kurang latihan hehehe.

Coursera yang saya ambil kursusnya harusnya 5 minggu, tapi saya selesaikan dalam waktu kurang dari 5 minggu. Menurut saya quiz nya terlalu gampang dan bisa ditebak jawabannya. Jadi lulus 100 persen bukan berarti saya udah menguasai materi 100 persen.

Quiznya juga bisa diulang mengerjakannya walaupun dibatasi 3 kali mengulang sebelum menunggu beberapa jam untuk mencoba lagi. Kalau ada jawaban yang salah, bisa ambil quiz ulang, saya bisa mengganti jawaban dengan pilihan yang lain dan jadilah quiznya bisa lulus 100 persen. Kuisnya tidak di random ulang. Jumlah pertanyaannya juga antara 5 – 7, sangat mudah untuk mengingat apa saja jawaban kita sebelumnya.

Tapi apalah arti lulus 100 persen, kalau kenyataanya tetap gak mengerti materi ataupun gak bisa membaca hangeulnya. Tidak mengerti partikel atau akhiran apa yang harus dipakai untuk mengubah kata dasar menjadi kata kerja ataupun kata lainnya. Pada akhirnya walaupun perlu untuk lulus, tapi lebih perlu pengertian kita sebagai hasil belajar.

Belajar dari coursera ini menambah wawasan beberapa bentuk grammar bahasa Korea, tapi kadang-kadang ada bagian yang seperti melompat dan kurang banyak contoh. Tapi ya itu tugas saya untuk lebih banyak berlatih kalau memang mau bisa fasih bahasa Korea.

Target belajar bahasa Korea supaya bisa nonton kdrama tanpa subtitle masih jauh banget, kosa-kata saya masih sangat sedikit. Kemampuan membaca hangeul juga masih ga berbeda dengan kemampuan membaca bahasa Thai. Ada kalanya saya merasa malas membacanya karena merasa aduh ini apaan sih! Terus akhirnya nebak hahaha.

Mumpung masih semangat belajar bahasa Korea, saya memilih untuk melanjutkan kursus lain dari Coursera dan rencananya mau coba belajar dengan kursus gratisan yang ada di YouTube juga.

kursus berikutnya

Kalau baca dari deskripsinya, kursus berikutnya ini harus sudah terbiasa dengan alphabet Korea. Kursus sebelumnya cukup jelas memberi dasar mengenali dan membaca hangeul.

Saya belum berniat membeli buku atau belajar grammarnya secara serius, karena saya tahu kelemahan saya dalam belajar bahasa itu di grammar. Kalau dikasih terlalu banyak terminologi grammar saya merasa eneg duluan. Lagipula saya merasa belajar iseng begini lebih fun daripada pake target tinggi-tinggi hehehe.

Metode belajarnya sejauh ini ya, memakai aplikasi Memrise dengan target mengingat 15 kata per hari. Mengerjakan coursera kalau lagi rajin asal gak sampai lewat batas waktu pengerjaannya. Biasanya saya mengerjakan coursera kalau lagi menunggu Jonathan di tempat kursus.

Gak terlalu ambisius kan targetnya. Oh ya, karena buat saya belajar bahasa itu proses dan latihan, jadi kadang-kadang memang butuh repetisi berkali-kali sampai bisa mengingat makna kata ataupun grammar sebuah kalimat.

Untuk belajar menggunakan coursera, ada aplikasinya di android maupun iphone. Pelajarannya juga bisa di download, jadi bisa belajar secara offline. Jadi bisa dibuka di mana saja. Materi yang diberikan juga video-video singkat sekitar 10 – 15 menit. Selain video, ada file pdf yang merupakan ringkasan dan soal latihan dari materi yang diberikan. Lalu setiap 1 materi biasanya diberikan quiz kecil.

Dipikir-pikir, saya sebenernya telat buat belajar bahasa Korea. Saya ingat, dari jaman saya kuliah, teman-teman saya udah pada rajin nonton kdrama dan tertarik buat belajar bahasanya. Tapi ya, baru sekarang sih punya waktu nonton kdrama, jadi aja baru sekarang tertarik belajar bahasanya hehehe.

Ada yang mau belajar bahasa Korea bareng dengan saya? biasanya kalau ada temannya, yang iseng-iseng begini jadi lebih seru. Biasanya yang tertarik belajar bahasa korea ini karena nonton kdrama atau pengen dengerin lagu-lagu kpop.

GPD Pocket

GPD Pocket merupakan laptop yang sangat mini (UMPC/Ultra Mobile PC) namun memiliki spesifikasi yang sangat bagus. Prosesornya Intel Atom x7-Z8750, dengan RAM 8 GB dan SSD 128 GB. Benda ini relatif mahal (~600 USD) dan sekarang sudah ada GPD Pocket 2 dan GPD MicroPC.

Dulu saya membeli benda ini dengan niat agar bisa membawa komputer mini dan bisa bekerja di mana saja. Tepatnya lagi dulu ingin saya bawa supaya bisa dipakai di perjalanan ke Belanda, tapi sayangnya ketika sampai ada masalah: tidak bisa menyala dan akhirnya harus mengirimkan barangnya ke China untuk mendapatkan penggantinya (dan sampainya ketika saya sudah berangkat ke Belanda).

Secara umum mengetik dengan benda ini tidak mudah. Sebenarnya tombolnya sangat enak ditekan, tapi layout keyboardnya yang membingungkan dan kurang masuk akal. Contohnya: ada tombol capslock kecil di sebelah kiri A yang menurut saya sangat tidak berguna (masih lebih mending jika fungsi capslock memakai tombol FN + sebuah tombol lain).

Meskipun kurang nyaman untuk mengetik banyak teks, benda ini sudah beberapa kali menunjukkan kegunaannya. Ketika saya di luar dan ada masalah yang butuh ditangani segera, saya bisa mengeluarkan laptop ini dan melakukan koneksi dengan sharing 4G dari ponsel.

Benda ini juga berguna untuk mengetes sesuatu yang perlu portabel. Contohnya ketika saya mengetes Pokemon Go Plus. Saya ingin mencatat pattern LEDnya jadi saya bawa keluar untuk mencari pokestop dan pokegym. Contoh penggunaan lainnya adalah ketika saya masih mengetes sensor kualitas udara dan belum membuat displaynya.

Sebenarnya benda ini bisa diinstall Linux, tapi saya memilih menggunakan Windows. Alasan saya adalah: dulu support Linux masih kurang bagus untuk benda ini dan sekarang sudah malas pindah lagi karena saya sudah punya banyak device lain yang memakai Linux.

Benda UMPC semacam ini masih cukup jarang sehingga orang-orang biasanya kagum melihatnya. Tapi sekarang sudah ada beberapa versi lain yang mungkin lebih baik. GPD MicroPC punya ethernet dan serial port, sangat cocok untuk admin

Beberapa waktu lalu saya memiliki masalah: batere benda ini menggembung. Toko resminya tidak menjual batere, tapi untungnya bisa ditemukan penggantinya di AliExpress. Setelah batere diganti, semua kembali normal.

Secara umum saya merasa benda ini sebagai sesuatu yang “nice to have” bukan sesuatu yang “must have”. Dengan adanya ini saya bisa membawa tas kecil saja ke mana-mana (jalan-jalan di taman atau ke mana saja) dan jika ada keperluan mendadak tetap bisa bekerja. Saya tidak perlu buru-buru pulang atau harus bersusah payah melakukan remote desktop atau SSH dengan ponsel. Dengan RAM dan disk spacenya saya bisa menginstall semua yang saya butuhkan.

Jika saya memang berniat bekerja di suatu tempat dan jelas punya waktu kosong maka saya akan membawa laptop lain yang lebih enak buat mengetik. Misalnya saya sekarang membawa laptop X230 ketika menunggu Jonathan selesai Tae Kwon Do. Waktunya cukup lama (90 menit) dan saya bisa duduk di meja di mall.

Mendinginkan Raspberry Pi

Ini merupakan catatan lama ketika memakai Raspberry Pi untuk pemrosesan yang memakai CPU secara ekstensif. Ketika suhu mencapai 80-85 derajat celcius, maka akan muncul simbol termometer setengah di layar:

Over Temperature (80-85C)
Temperatur tinggi

Simbol ini akan dioverlay di atas tampilan apapun yang muncul di layar. Contohnya seperti ini.

Suhu tepatnya bisa dilihat dengan perintah:

vcgencmd measure_temp

Hasilnya langsung berupa temperatur dalam derajat Celcius. Ini temperatur normal di ruangan saya ketika Pi bekerja ringan.

$ vcgencmd measure_temp
temp=41.7'C

Munculnya simbol temperatur tinggi ini biasanya akan segera diikuti simbol berikutnya berupa termometer yang merah yang menandakan bahwa CPU sudah lebih dari 85 derajat dan akan dithrottle (performancenya dikurangi):

Over Temperature (85C+)
Overheat

Setelah program tidak bisa diakali lagi, hal berikutnya yang dicoba adalah hardware: pertama saya tambahkan heatsink dan hasilnya suhu berkurang 2-3 derajat saja, tapi kemudian panasnya terus naik. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli casing yang memiliki fan.

Fan dalam posisi tidak dicolok (untuk menyalakan perlu dicolok ke pin VCC dan GND)

Dan ternyata berhasil, suhu bisa berkurang cukup drastis, yang tadinya sekitar 85 derajat celcius menjadi sekitar 70 derajat celcius. Tapi ada masalah yang tadinya tidak ada: bunyi fan-nya cukup mengganggu. dalam kasus tertentu Pi ini akan ada di posisi tersembunyi jadi tidak apa-apa, tapi jika kita berniat menaruh Pi di tempat sunyi ini bisa jadi masalah.

Saya tidak punya solusi khusus agar fan menjadi sunyi, jadi sepertinya kita harus memilih antara mendapatkan kecepatan yang lebih rendah karena throttling atau mendapatkan kecepatan tinggi tapi tidak senyap. Solusi yang saya coba hanya yang sederhana saja. Jika putus asa ada juga banyak solusi lain yang lebih kompleks di internet, misalnya memakai liquid cooling.

Demikian catatan singkat ini, semoga bisa membantu mereka yang memiliki masalah Raspberry Pi yang suhunya terlalu tinggi.

Mini bluetooth audio receiver

Ini sekedar info buat yang belum tahu: dengan 1.69 USD (atau sekitar 25 ribu rupiah dengan kurs saat ini) kita bisa mengubah earphone menjadi earphone bluetooth. Sebenarnya benda ini sudah lama ada, dan sebelumnya sudah pernah beli, tapi hilang entah di mana (agak sulit dicari karena ukurannya relatif kecil). Benda ini juga bisa dihubungkan ke AUX di mobil yang tidak mendukung bluetooth supaya kita bisa memutar lagu dari ponsel ke sound system mobil.


Benda ini sangat mudah dipairing ke iOS maupun Android. Saya cukup sering menemui masalah dengan bluetooth, harus pair/unpair beberapa kali baru nyambung, tapi benda ini bisa langsung terhubung. Ada tombol + dan – yang sekaligus sebagai tombol prev dan next song. Jika kita tekan sekali, maka plus adalah untuk prev song (iya simbolnya ke kanan, harusnya next, tapi saya coba di Apple Music, itu akan ke previous song), jika kita tahan tekan + maka akan memperbesar volume suara.

Range bluetoothnya cukup jauh. Saya sudah mencoba meninggalkan iPhone di lantai 2 dan signalnya masih bagus sampai di lantai 1. Perkiraan saya sekitar 10 meter masih bisa terdengar jelas dan tidak terputus.

Benda ini dicharge menggunakan micro USB, dan sekarang belum saya test baterenya bisa tahan berapa lama. Menurut review orang lain, bisa tahan antara 2-3 jam. Menurut saya ini lebih dari cukup mengingat saya tidak pernah berlama-lama memakai earphone dan HP. Andaikan butuh lebih lama, mudah mengisi benda ini dengan powerbank karena benda ini bisa dicharge sambil dipakai.

Perhatikan bahwa benda ini memakai colokan lightning, jadi headphonenya harus punya colokan lightning (atau memakai adaptor lagi)

Menurut saya benda ini lebih praktis daripada memakai splitter hanya supaya bisa mencharge dan mendengarkan lagu pada saat yang sama. Solusi ini juga jauh lebih murah daripada airpods yang harganya hampir 100 kali lebih mahal (159 USD vs 1.69 USD).

Dual SIM + MicroSD di Ponsel Xiaomi

Kebanyakan ponsel Xiaomi sekarang memiliki slot dimana kita harus memilih antara: dua simcard, atau satu sim card dan micro SD. Sekarang ini saya memilih dual sim card dan membeli ponsel dengan storage yang cukup besar. Saat ini 128 GB masih cukup buat saya karena saya memakai fitur backup foto dari Google Photos dan One Drive (saya mengupload ke kedua layanan tersebut sekaligus).

Dulu saya pernah membaca ada orang yang mengakali masalah dual sim card dan micro SD dengan cara menggerus bagian bawah microSD dan sim card agar keduanya menjadi tipis dan bisa dipakai bersamaan. Tentunya cara ini berbahaya dan repot sekali jika perlu ganti micro SD.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat ada adaptor agar kita bisa memakai keduanya sekaligus di aliexpress. Karena harganya hanya 0.87 USD, saya coba saja pesan. Sudah beberapa hari bendanya sampai dan baru sekarang dicoba.

Pemasangan benda ini agak ribet, tapi juga tidak terlalu sulit. Saya cuma khawatir bendanya akan nyangkut dan tidak bisa dikeluarkan. Setelah berhasil dipasang, semuanya berjalan dengan baik: kedua SIM card terdeteksi, dan Micro SD juga terdeteksi. Saya juga bisa memasang casing HP dan tidak terlalu terlihat dari luar.

SIM card jadi menjuntai di luar

Saya sendiri ragu ini solusi yang baik untuk jangka panjang. SIM card yang berada di luar berarti akan lebih mungkin korosi. Jika sering ganti-ganti card, kemungkinan benda ini juga akan mudah rusak. Tapi untuk seseorang yang sangat butuh space dan dual sim card, solusi ini cukup praktis.

Dengan casing, jika dilihat seksama terlihat menggembung sedikit

Kesan kembali memakai iOS

Selama beberapa tahun terakhir saya memakai iOS hanya untuk pentesting (dan juga ikut pelatihan iOS security di Hong Kong). Tadinya meskipun punya iPad dan iPhone, keduanya usianya cukup tua (keduanya > 5tahun). iPhone 5S sudah terasa sangat lambat, sementara iPad lebih sering dipakai untuk main oleh Joshua (dan sesekali oleh saya jika ada pentest aplikasi iPad). Sebelum iPhone 5S saya memakai iOS di iPod touch dan iPod touch 2nd generation.

Bulan Januari saya membeli iPhone XR (ini yang termurah yang mendukung prosessor A12) dan bulan ini saya membeli iPad (yang biasa bukan yang mini ataupun Pro). Pembelian iPhone tujuannya untuk pentesting (dan sudah terpakai), sementara iPad untuk membaca buku dan melihat materi Coursera (sekaligus hadiah untuk diri sendiri sudah menyelesaikan 6 Course di Coursera).

Sekarang saya ingin menuliskan kesan memakai kedua benda tersebut. Saya awali dengan iPhone. Hal yang saya suka sejauh ini adalah: kameranya bagus dan cepat, kadang merasa agak menyesal nggak sekalian beli XS yang kameranya lebih bagus lagi tapi perbedaan harganya cukup tinggi. iPhone XR juga waterproof sehingga bisa dipakai untuk berfoto di kolam renang.

Dari sisi software, saya tidak melihat sesuatu yang menarik di banding Android. Kebanyakan aplikasi memang lebih indah, tapi karena keterbatasan yang diberikan Apple, fungsionalitasnya kurang. Contoh: ingin ssh tunelling? koneksinya terbatas sekian menit saja.

Contoh lain: Pythonista merupakan implementasi Python yang bagus (berbayar, cukup mahal 9.99 usd) dan bisa dipakai untuk membuat program dengan antarmuka yang cantik. Tapi Pythonista tidak bisa dipakai untuk belajar machine learning (contoh: tidak ada package tensorflow).

Ketika memakai keyboard Google, sering kali keyboardnya kembali ke default keyboard (default keyboard memang akan selalu dipakai untuk input password, tapi dalam kasus ini switching ke keyboard default terjadi secara random). Akhirnya masalah ini selesai setelah menghapus keyboard default.

Mungkin hanya kebetulan saja, tapi berbagai aplikasi yang saya pakai semuanya memiliki banyak masalah kecil. Contohnya Quiz di Coursera kadang gagal terload (padahal berjalan baik di Android). WordPress untuk iOS juga lebih sering error dibanding WordPress for Android (tapi secara umum aplikasi ini emang agak kurang stabil di kedua platform). Aplikasi Alkitab yang ada juga kurang bagus di banding Android. Bahkan yang berjalan baik di Android seperti Bible.is sering crash di iOS.

Fitur face unlock di iPhone XR sangat bagus dan akurat serta sangat nyaman digunakan. Tapi saat ini di Chiang Mai sedang polusi berat, dan fitur face unlock yang bagus ini jadi tidak bisa dipakai ketika saya memakai dust mask. Dalam saat seperti ini sangat terasa bahwa fingerprint di Poco F1 lebih berguna.

Beberapa aplikasi lain menurut saya sama saja baik di Android dan iOS, tidak terasa bedanya sama sekali. Contoh aplikasinya: AliExpress, Facebook, Telegram, Netflix, Reddit, Twitter, Instagram, dan berbagai aplikasi Google (Youtube, Photos, Maps, Translate). Game yang saya mainkan hanya Pokemon Go dan ini loadingnya sedikit lebih cepat di iPhone XR dibanding Poco F1.

Saya hanya memakai iPad untuk membaca dan rasanya cukup nyaman. Saya belum membeli Apple Pencilnya, jadi belum tahu apakah akan terpakai atau tidak. Di banding iPad 3, iPad yang baru ini lebih ringan jadi lebih enak dipegang. Kecepatannya sekarang juga sudah bagus sehingga tidak lambat membuka PDF. Batere iPad juga tahan lama, lebih lama dari berbagai tablet Android yang pernah saya pakai.

Setelah mencoba lebih dari sebulan, saya kembali lebih sering memakai ponsel Android saya dan akan terus memakai iPad. Jika bukan karena memakai ponsel iPhone XR untuk pentesting (dan saya mendapatkan uang pembelian iPhone XR ini dari reward menemukan bug), saya merasa manfaat iPhone ini kurang sepadan dengan harganya untuk pemakaian sehari-hari (not worth the price).