Playground Fun Planet di Central Airport Plaza

Di Mall dekat rumah ada tempat bermain yang baru selesai renovasi. Hari ini saya mengajak anak-anak main di sana. Enaknya homeschooling ya begini, walau hari ini hari Senin, bisa aja main ke mall di pagi hari. Jonathan sudah menyelesaikan tugas hari ini di hari Minggu sore. Padahal kemarin itu saya iseng aja bertanya apakah Jonathan mau mengerjakan pekerjaans sekolah di hari Minggu supaya Senin bisa main-main ke mall, eh ternyata malah bisa selesai dengan cepat loh kemarin.

Biasanya di hari Sabtu, jam 10.30 mall itu sudah buka, tapi ternyata walau kami tiba di mall sudah jam 10.40 eh mall nya masih pada gelap dan pintu yang dibuka baru pintu karyawan saja. Untungnya saya tadi parkirnya di lantai 1, jadi cuma perlu turun 1 lantai dan masuk dari pintu karyawan hehehe. Bagian dalamnya sebagian toko sudah mulai buka (karyawannya sudah rajin datang duluan), tapi kebanyakan toko masih tutup. Saya memutuskan sekalian mau bayar listrik dulu, eh tapi ternyata counter bayar listrik juga bukanya jam 11. Akhirnya kami duduk-duduk dulu deh sambil menunggu counter bayar listrik buka.

kepagian nyampe di mall, mall nya masih gelap

Sambil nunggu, kami sempat juga main Pokemon Go. Untungnya ada tempat duduk yang nyaman di area dekat pembayaran listrik, dan toko dekat situ sudah pada nyala lampunya. Lampu utama mall nya masih mati, jadi kalau toko-tokonya masih gelap semua, kebayang aja ruangan tempat kami duduk pun kemungkinan masih gelap.

Setelah bayar listrik, kami naik ke lantai 4 untuk ke playground baru. Awalnya saya mau anak-anak langsung masuk saja, karena saya lihat harganya cuma ada untuk 2 jam 200 baht dan seharian 500 baht. Eh ternyata lagi ada promosi, 100 baht untuk 45 menit. Karena kami biasa makan jam 12, saya pikir main 45 menit itu paling pas deh, supaya abis main bisa makan dan sehabis makan ya pulang ke rumah.

Lanjutkan membaca “Playground Fun Planet di Central Airport Plaza”

San Kamphaeng Hot Springs

Pemandangannya menyejukkan walaupun matahari bersinar terik

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hot Springs lagi, sekalian Jonathan main dengan teman barunya. Tempat ini gak jauh dari Chiang Mai, cuma sekitar 45 menit nyetir, jalannya juga bagus dan mulus sampai-sampai jalannya dibatasi maksimum 80 km/jam biar orang-orang gak ngebut. Lokasinya di kaki bukit, jadi tidak ada jalanan menanjak.

Walaupun tempat ini tidak terlalu jauh, kami terakhir ke sini ya beberapa tahun lalu pas oppung ke Chiang Mai juga. Entah kenapa pas eyang datang, kami lupa dengan tempat ini, padahal tempat ini sangat cocok untuk bersantai-santai dan tidak banyak berjalan naik turun seperti Doi Pui. Walaupun sudah pernah ke sana sebelumnya, baru hari ini mengetahui ada banyak hal yang bisa dilakukan selain rendam kaki dan rebus telur.

Beberapa tahun lalu, kami datang agak kesorean. Tukang berjualan makanan sudah mau pada tutup (tukang jualan tutup jam 4.30), waktu itu kami cuma sempat rebus telur (bisa beli di sana, telur puyuh 10 biji 40 baht dan telur ayam 3 biji 20 baht). Tiket masuknya masih sama dengan beberapa tahun lalu. Kami masih dapat harga Thai, walaupun di sana ada tulisan kalau harga Thai itu untuk pemegang ID Thai saja. Harga Thai Dewasa 40 baht, anak-anak 20 baht, mobil kalau mau masuk ke dalam juga bayar 40 baht. Harga orang asing dewasa 100 Baht, anak-anak 50 Baht.

Selain telur rebus, biasanya di sana kita bisa membeli makanan khas Thai seperti Somtam dengan nasi ketan, ayam goreng, mie instan, nasi ketan dalam bambu dan tentu saja ada kopi selain minuman bersoda lainnya. Kalau mau piknik di sana juga bisa saja kita bawa makanan sendiri. Saya perhatikan ada banyak yang bawa tikar dan keluarin makanan sendiri. Seperti umumnya di tempat wisata di Chiang Mai, harga makanan di dalam tempat wisata gak berbeda dengan di luar lokasi. Tapi memang makanannya buat makanan kualitas istimewa, tapi lebih ke makanan selera lokal.

Untuk merebus telur, kita bisa merebusnya langsung di dalam air panas belerang yang panasnya sekitar 105 derajat Celcius. Waktu yang dibutuhkan untuk merebusnya tergantung selera kita apakah mau setengah matang atau matang banget. Semakin lama direbus di air panas, ya tentunya semakin matang. Paling lama sekitar 10 menit, kita sudah mendapatkan telur yang cukup matang. Selama menunggu, kita tidak perlu kuatir keranjang telur kita akan diambil orang, karena di sana orang-orangnya cukup tertib mengambil yang memang punyanya saja. Jadi selama menunggu, kita bisa saja rendam kaki. Air untuk merendam kakinya suhunya berkisar 45 – 55 derajat celcius, harus hati-hati sebelum memutuskan merendam kaki, karena sepertinya ketika suhu di atas 50 derajat, airnya lumayan panas banget.

playground

Selain makan, untuk anak-anak tersedia juga playground. Beberapa mainan kadang-kadang mulai rusak, tapi secara keseluruhan masih cukup fun buat bermain apalagi kalau ada temannya, pasti bisa bermain lebih lama. Kalau bosan main di playground, anak-anak bisa eksplorasi sekitar tempat itu. Lokasinya sangat luas, di sana tersedia juga tempat untuk camping, pijat, kolam renang, privat room untuk rendam badan, ataupun kalau mau menginap tersedia juga kamar penginapan untuk di sewa. Kami belum pernah menginap di sana, tapi sepertinya kalau mau outing bareng teman-teman beberapa keluarga, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi bersama-sama dan menginap 1 malam.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 12.15 dan kembali lagi ke rumah sekitar jam 6.30 malam. Awalnya, kami sudah rencana pulang sektiar jam 4.30 sore, tapi karena saya baru tahu ada kolam renang dan Jonathan tadi pagi gak jadi berenang dengan oppung, jadilah kami memutuskan Jonathan dan oppung berenang dulu. Kolam renangnya air belerang juga, tapi suhunya dijaga sekitar 40 – 41 derajat celcius.

Jona berenang dengan oppung

Untuk berenang dikenakan biaya tambahan, harganya seperti harga masuk juga, orang lokal Dewasa 50 Baht, anak-anak 20 Baht, orang asing Dewasa 100 Baht dan anak-anak 50 Baht. Kolam renangnya tidak ramai, kamar mandi untuk membersihkan badan sehabis berenang juga cukup bersih, malahan di kamar mandi perempuan tersedia hair dryer segala.

Secara keseluruhan, tempat ini cukup bersih. Banyak tempat duduk untuk bersantai dan menikmati makanan. Banyak pohon dan tempat rindang sehingga tidak terganggu dengan terik matahari. Banyak tempat sampah yang bahkan dikategorikan untuk sampah bekas makanan, plastik dan keranjang bekas telur. Banyak tempat penampungan botol atau kaleng yang siap untuk didaurulang. Banyak tempat pijet dan tersedia banyak petunjuk arah dan peta lokasi di mana kita berada, sehingga tidak akan tersesat dan petunjuknya juga ada dalam bahasa Inggris.

Pemandangannya yang indah kombinasi pepohonan, bunga dan langit biru sungguh membuat kami merasa betah berlama-lama di sana. Lain kali semoga bisa mencari informasti mengenai biaya menginap atau camping di sana, supaya bisa bermain lebih puas lagi.

Kejanggalan dalam K-drama Memories of the Alhambra

Serial Memories of the Alhambra sudah tayang episode terakhirnya di Netflix, dan setelah awalnya ragu-ragu untuk mengikutinya, sekarang rada menyesal mengikuti sebelum serinya berakhir. Buat yang belum nonton, tulisan ini mungkin akan susah dimengerti dan akan ada spoilernya, buat yang sudah nonton kemungkinan sedikit banyak bakal merasakan banyak hal yang tidak diselesaikan dalam ceritanya.

Sekilas cerita berkisah seorang investor yang sedang tertarik untuk investasi di game yang menggunakan teknologi augmented reality dengan menggunakan lensa kontak. Pembuat game ini di awal film menelpon dia dan menyuruhnya untuk bertemu di sebuah penginapan di Granada.Tapi ternyata, si programmer game ini gak pernah muncul, sementara si investor malah mulai mencoba main gamenya dan malah jadi ketagihan main dan jadi punya misi hidup untuk menemukan si programmer. Misi hidupnya muncul tanpa alasan, walaupun setelah setahun bermain baru ditunjukkan kalau dia tertarik dengan kakak si programmer. Kisah cintanya cuma selipan, supaya filmnya banyak penonton saja.

Singkat cerita, awalnya penggambaran bermain AR Game nya cukup menarik. Kadang ditunjukkan adegan dia seperti menari-nari sendiri, berantem dengan ruang kosong, terkadang lawannya ditunjukkan berasal dari patung-patung yang ada di sekitar gedung. Selain itu, cara login dan logout nya dan gerakan-gerakan seolah-olah layar ada di depan mata, dan user interfacenya di mana bisa memilih dengan gerakan tangan semuanya cukup menarik dan berharap film ini juga akan mengupas sisi teknologi yang mereka pakai untuk mengembangkan game nya.

Keanehan pertama muncul ketika tokohnya bisa terlogin sendiri tanpa menggunakan lensa kontaknya. Saya kepikiran apakah somehow waktu udah pernah pakai lensa kontaknya, si program jadi tertanam di otak penggunanya? jadi otak mengunduh aplikasi gamenya? awalnya saya pikir lensa kontak itu terhubung dengan handphone, sehingga setiap main pasti dibutuhkan handphonenya, tapi bisa juga lensa kontaknya yang langsung terhubung ke server game dengan teknologi tertentu misalnya. Tapi kalau sampai pengguna bisa autologin tanpa lensa kontaknya, ini jadi ga masuk akal.

Keanehan berikutnya, ketika player dari dunia nyata mati dalam pertarungan antar player, lalu muncul lagi sebagai NPC (non-player character). Pertanyaanya apakah programnya benar-benar sampai merusak otak dan mengakibatkan ketika seorang player duel dan kalah, otomatis otaknya juga akan mengakibatkan dunia nyata dari player itu juga terbunuh. Digambarkan tokoh tersebut keluar darah dari kupingnya, jadi ya saya pikir mungkin saja ada program yang bisa mempengaruhi otak dan mengakibatkan orang tersebut terluka sesuai dengan yang dia alami dalam game.

Di beberapa episode akhir di jelaskan kalau itu adalah akibat dari bug program. Bug program itu sendiri sudah dimulai dari sejak sebelum tokoh utamanya dihubungi oleh si programmer. Yang jadi aneh adalah, kalau dikisahkan sebelumnya player tidak akan beneran mati ketika kalah duel dengan tokoh NPC, kenapa setelah orang dari real life jadi NPC, jika menyerang player beneran jadi bisa bikin player di dunia nyata pun ikut mati. Bahkan di beberapa episode terakhir, NPC yang bukan berasal dari player dunia nyata pun bisa bikin player benar-benar terluka.

Ah mungkin yang baca kalau belum nonton akan bingung dengan penjelasan saya. Tapi ya memang sebenarnya penjelasan dalam film ini malah bikin ceritanya makin gak jelas. Beberapa hal sepertinya tidak terjaga timelinenya. Aturan permainannya juga diubah-ubah sesuai mau-maunya penulis cerita saja.

Salah satu ketidak konsistenan aturan permainannya misalnya: di awal diceritakan kalau player gak bisa bertanya ke NPC yang bernama Emma kalau belum level 5, lalu tokoh tersebut bersusah payahlah supaya bisa naik ke level 5. Nah di episode penjelasan, ditunjukkan kalau seorang player dengan level 1 bisa berkomunikasi dengan si NPC Emma ini. Mungkin mereka ubah sendiri gitu aturan permainannya supaya bisa?

Oh ya, keanehan yang paling aneh menurut saya adalah, game itu belum dijual oleh si programmer, maka asumsinya perusahaan investor belum punya tuh source code dari game tersebut, tapi kok mereka bisa saja menambahkan items atau tools yang dibutuhkan oleh si investor untuk membantu petualangannya dalam mencari si programmer?

Secara keseluruhan, awalnya berharap film ini bakal menarik seperti menariknya bermain Pokemon Go. Tapi setelah dijelaskan dan penjelasannya rasanya terlalu lamban dan malah bikin makin banyak ketidakjelasan. Setelah menonton sampai akhir, saya merasa kecewa. Main Pokemon Go rasanya lebih seru daripada nonton film ini hehehe. Tadinya mau rekomen ke Joe buat nonton, tapi setelah melihat endingnya dan juga banyak hal yang tidak dijelaskan, saya tidak merekomendasikan nonton ini.

Ada banyak kejanggalan-kejanggalan lain, tapi lain kali saja saya tambahkan.

Grab atau Go-Jek?

Liburan kali ini, kami banyak memanfaatkan jasa Grab dan Go-Jek untuk bepergian. Awalnya karena di Chiang Mai cuma ada Grab, kami lebih sering prefer naik Grab, tapi ternyata dari pengalaman ke puncak dan ke Bogor hari ini, entah kenapa supir Go Car lebih mau untuk menerima pesanan perjalanan ke tempat yang jauh.

Beberapa hari lalu, saya sudah mencoba memesan makanan dengan Grab Food dan ada sedikit masalah, mulai dari restoran yang tidak ditemukan, lalu restoran yang menu tidak update sehingga harus ubah pesanan dan juga restoran yang udah dijelaskam lewat telepon tapi masih salah memberikan pesanan. Hari ini, kami mencoba memesan makanan dengan Go Food. Pesanan kali ini sih mencari sate padang, dan ternyata walau biaya antarnya lebih mahal (10 ribu rupiah), tapi semua berjalan mulus dan gak sampai 30 menit pesanan sudah datang.

Acara dari GO-JEK di perpustakaan nasional di hari ibu untuk para driver Ibu-Ibu

Kalau dilihat dari segi harga pemesanan, seringnya Grab Car selalu lebih murah dibandingkan Go Car. Tapi pengalaman dengan Grab Car beberapa kali di cancel setelah drivernya menerima pesanan. Bahkan sekali pernah juga drivernya ga merespon setelah kami menunggu lebih dari 10 menit padahal di aplikasi dinyatakan driver sudah dijalan dan akan tiba dalam waktu 6 menit. Mungkin aplikasi di HP nya ngehang atau entahlah apa alasannya karena kalau dilihat dari pergerakan mobilnya di aplikasi tidak terlihat tetap jalan. 

Selama beberapa kali bepergian, mungkin karena Go Car lebih mahal maka banyak juga pengguna seperti kami yang awalnya selalu mencoba memakai Grab dulu sebelum akhirnya memilih Go Car karena gak kunjung dapat orang yang mau nganterin ataupun ya udah dicancel berkali-kali jadi merasa lebih baik bayar lebih daripada nunggu lama lagi. Dari beberapa kali memesan Go Car, kami belum pernah di cancel setelah supirnya menerima pesanan kami. 

Terlepas dari Grab Car atau Go Car, sejauh ini pengalaman kami selalu ketemu dengan pengemudi yang ramah dan sopan. Mereka juga menyetirnya cukup baik dan gak membahayakan penumpang. Beberapa kali pernah juga dapat mobil yang agak berbau rokok, mungkin supirnya merokok sambil menunggu orderan, tapi ya setelah beberapa lama baunya bisa hilang. Mobil yang membawa kami ga selalu mobil baru, kadang-kadang mobilnya ya sudah terlihat tua juga, tapi selalu cukup bersih. Bahkan lebih bersih dari mobil kami di Chiang Mai hahahah.

Senyaman-nyamannya disupirin naik Grab atau Go Car ada satu kelemahannya: deg-degan pas nunggu takut di cancel dan kadang di aplikasi dibilang driver akan tiba 8 menit lagi, tapi kenyataanya bisa lebih dari 8 menit. Tapi karena sejauh ini kami pergi itu bukan ke tempat yang sttict harus tiba jam tertentu, ya kami bisa agak santai walaupun pas menunggunya jadi repot dikit karena anak-anak kalau udah disuruh pakai sepatu malah jadi gelisah kalau jemputannya ga kunjung datang.

Secara  biaya, walaupun Grab dan GoJek relatif lebih murah daripada taksi argo yang bisa melonjak harganya kalau macet, ya tetap saja akan lebih ekonomis kalau punya mobil sendiri dan memiliki supir pribadi. Sekarang ini gak nyetir di Jakarta alasannya ada dua: pertama ga punya sim Indonesia, mungkin saja SIM Thailand laku, tapi kami ga mau ambil resiko kalau ga terpaksa. Alasan kedua: gak ada mobil yang bisa kami pakai juga hehehe (harusnya ini yang pertama ya, klo ga ada mobil punya sim juga ga ada gunanya).

Ada yang punya cerita mengenai pengalaman naik Grab atau Go Car? atau ada yang selalu hanya memilih Grab atau memilih GoJek dan alasannya?

Nostalgia Hoka-Hoka Bento

Kemarin, waktu lagi bingung mau makan apa, tiba-tiba teringat dengan makanan yang sebenarnya bukan menu khas Indonesia. Dulu sering dikonsumsi sejak jaman mahasiswa sampai kerja. Waktu masih mahasiswa, makanan ini masuk kategori makanan mewah tapi setelah kerja, kalau ada rapat atau dinas di Jakarta, sering banget dapatnya menu makanan dari restoran Hoka-hoka Bento alias HokBen ini sampai bosan hahaha.

HokBen aka Hoka-hoka Bento

Tadi teringat lagi deh untuk memesan menu HokBen, delivery via telepon. Ternyata setelah sekian lama ga beli HokBen, ada beberapa perubahan dari penyajian HokBen ini. Dulu saya ingat, tulisan di kotak depannya masih berupa Hoka-Hoka Bento dengan logo karikaturnya lengkap dengan badan, tangan dan kaki. Sekarang, mungkin karena orang-orang sering menyebut HokBen doang untuk singkatan dati namanya, akhirnya mereka menuliskan nama HokBen doang di kotak kemasannya, dan logonya juga tinggal kepala doang. Karena penasaran, baca wikipedia, ternyata memang Hoka-hoka Bento ganti nama jadi HokBen doang sejak 2013.

Kemasan HokBen sekarang

Saya lupa, kapan terakhir kali makan di HokBen, tapi ternyata, setelah sekian lama rasanya masih tetap sama. Waktu menikmati HokBen, berasa jadi nostalgia teringat jaman doeloe. Masa mahasiswa, kalau ada yang traktir HokBen itu, rasanya mewaaaaah banget. Masa kerja, awal-awal kalau ada konsumsi rapat berupa HokBen rasanya bahagia (bahagia karena gak keluar duit lagi buat beli hahaha). Sampai akhirnya ada masa bosan dengan HokBen, karena kalau mau naik kereta api pulang dinas dari Jakarta ke Bandung atau kalau ada dinas di Jakarta, menu makanan yang sering di beli ya HokBen ini. 

Dulu saya pikir restoran HokBen ini franchise yang aslinya dimiliki orang Jepang karena menunya khas makanan Jepang. Belakangan saya ketahui kalau HokBen ini namanya aja restoran Jepang, tapi kepemilikannya ya asli Indonesia. Jadi teringat dengan restoran Jepang di Thailand yang namanya Oishi, awalnya saya pikir juga restoran asli dari Jepang, ternyata kepemilikannya asli Thailand.

Keunikan yang saya sukai dari makanan HokBen ini menurut saya nasinya lembut sehingga bisa dimakan menggunakan sumpit. Selain menu yakiniku, teriyaki, ekkado, katsu dan lain-lain, yang saya ingat dari HokBen ini juga puding coklat dan puding mangganya. Rasa puding coklatnya agak berubah, kalau dulu ada rasa rum yang agak keras, sekarang aroma rum nya sudah hilang. Tapi pada dasarnya puding coklatnya masih enak sih rasanya.

Dari harganya, menu HokBen ini buat saya sebenernya relatif mahal, tapi ya masih ga semahal makanan di mall di Jakarta. Sayangnya anak-anak cuma suka puddignya saja. Tadi Jonathan lebih memilih makan sate bumbu kacang yang dibeli eyang daripada makan menu HokBen. Lain kali kalau beli berarti bisa beli cuma buat papa mamanya doang, untuk Jonathan dan Joshua bisa dibelikan puddingnya doang hehehe. 

Pengalaman Mesen Grab Food

Ceritanya hari ini mau pesan makanan spaghetti carbonara biar Joshua ga cuma makan nasi telur dadar doang selama di Indonesia. Saya dengar pengalaman orang-orang kalau sekarang gampang pesan makanan bisa pake GrabFood aja, jadi ga usah keluar rumah atau capek menunggu makanan atau macet di jalan. Jadilah saya mencoba untuk menggunakan jasa GrabFood.

Dari dalam aplikasi, saya cari daftar restoran yang jualan carbonara, trus saya pilih yang jaraknya paling dekat dan waktu tunggu nya kurang dari 1 jam. Untuk milihnya tapi gak ada fasilitas mengurutkan berdasarkan waktu tunggu, jadi saya milihnya agak random aja dari beberapa hasil pencari pertama. Menunya terlihat menarik, harganya ga terlalu mahal, reviewnya juga ga jelek. Semuanya terlihat menjanjikan, eh driver Grab nya ga bisa nemu restorannya. Pelajaran pertama: milih restoran harus yang udah pernah tau lokasinya dan namanya ga mirip-mirip kalau di Google. Orderan pertama akhirnya saya cancel deh. Terbuang waktu 15 menit karena tadi juga agak lama milih-milih menunya dan juga nunggu jasa Grabnya mencari restorannya.

Masalah mencari restoran ini, driver grabnya katanya udah ngikutin pin map nya tapi ga nemu. Saya coba cari pake google map juga, karena pengalaman pertama, saya ga tahu kalau kita bisa melihat profil restorannya untuk tahu detail alamat restorannya. Kasian sebenarnya karena driver grabnya jadi ga dapat apa-apa, padahal udah muter-muter nyari. Akhirnya saya cancel dengan alasan restoran tidak ditemukan, saya ga tahu apakah nantinya restoran itu akan dihapus dari list grab food, atau masnya aja kurang cermat mencari. Katanya dia coba telepon ke nomor restorannya, tapi nomornya tidak aktif.

Berikutnya, karena kelihatan mau hujan, mau gak mau masih lebih praktis memesan lewat GrabFood, saya masih mau mencoba peruntungan. Saya ketemu restoran lain yang juga waktu tunggunya ga sampe 1 jam. Orderan berhasil dilakukan dengan lancar, pilih-pliih menu dan dapat drivernya. Setelah driver tiba di lokasi eh ternyata menu nya katanya udah ganti *sigh*. Kayaknya restorannya jarang di order ya, jadi mereka ga gitu perduli untuk mengupdate menu makanannya. Masalahnya, saya bayarnya pake non tunai OVO, kalau ordernya ganti otomatis total harganya bakal ganti.

Karena saya ga menemukan cara mengubah pesanan via aplikasi karena kasus menunya berganti, dan saya capek ngetik via message, saya telpon deh melalui aplikasinya. Ekspektasi saya, saya akan bicara dengan driver Grab nya, ternyata yang nerima orang restorannya. Saya belum nemu cara nelpon drivernya malah. Dengan orang restorannya, saya ubah pesanan dan waktu saya bilang mau ngomong sama mas drivernya, eh malah ditutup *grmbl, mulai emosi rasanya hahaha*. Akhirnya messsage lagi ke mas drivernya, nanyain gimana tuh kalau ganti pesanan, terus kata masnya nanti dibantuin kalau dia sudah antar makanan.

Waktu makanan tiba, eh dari 4 menu yang saya pilih, yang diantar cuma 3. Kata mas drivernya, orang restorannya udah dibilangin pesanananya ada 4 tapi si restoran ngotot bilang 3. Terus harga makanan di aplikasi dan bon yang dikasih restorannya juga lebih mahal harga yang dari restorannya. Haish, ya untungnya saya belum kelaparan, dan pesanan utamanya ada, jadi ya sudahlah. Ternyata, kalau ada selisih seperti itu, yang akan membayar dulu itu drivernya, jadi walaupun pesanan via non tunai, duitnya itu masuk ke account drivernya. Jadi tadi karena pesanan dari 4 jadi 3, saya gak perlu nambah malahan masih ada kembalian. Pelajaran ke-2: lain kali pesen makanan bayar cash aja biar gampang kalau totalnya ganti karena ganti orderan (dan lebih baik memang memesan makanan di restoran yang kita sudah tau pasti letak dan menunya, biar ga kejadian lagi seperti hari ini). Untungnya, tujuan utama pembelian tercapai, Joshua sukses makannya ga pake susah dan abis dong 1 porsi sendiri, walaupun menurut saya rasanya ya biasa aja dan beda dari ekspektasi sih hehehe.

Saya pikir-pikir, biaya delivery makanan di sini 4000 rupiah itu gak sampai 10 baht, kalau di Chiang Mai, pemesanan makanan itu biayanya 40 baht (lebih 4x dari biaya delivery di sini). Saya tahu cari duit itu gak gampang, tapi saya jadi kasian dengan driver ojek online yang biaya deliverynya dihargai murah sekali di sini. Kalau andaikan tadi saya harus pergi sendiri mencari restorannya muter-muter, lalu mesen makanan menunya ga ada, dan akhirnya pulang lagi ke rumah, rasanya biayanya pastilah lebih dari 4000 rupiah. Tapi saya tahu, kalau harga deliverynya lebih dari itu, mungkin akan berkurang orang yang menggunakan jasa delivery makanan ini.

Dulu, saya ingat jasa pengiriman makanan itu biasanya dilakukan oleh restorannya. Saya jadi kepikiran, sekarang biaya delivery makanan dari restorannya langsung jadi berapa ya?, Jaman awal kerja di Bandung, dulu saya inget sering banget delivery Hoka-Hoka Bento atau Pizza Hut. Sekarang, kalau biaya deliverynya lebih dari 4000 rupiah, bisa-bisa orang memilih jasa ojek online saja untuk memesan makanan. 

Ada yang punya tips-tips lain sebelum menggunakan jasa Grab Food ini? atau ada yang tahu gimana mengubah pesanan dari aplikasi kalau drivernya udah sampai restoran dan menunya berganti?

Liburan Hari ke-6: Perpustakaan Nasional

Hari ini janjian ketemu dengan Bu Inge di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia . Saya baru tau kalau ada perpustakaan keren seperti pusnas ini. Dulu pernah sekilas baca berita soal perpustakaan yang dilengkapi dengan ruang khusus untuk koleksi anak-anak dengan tempat yang nyaman untuk anak-anak membaca, tapi kalau bukan karena Bu Inge ada acara di pusnas, saya ga kepikiran bakal berkunjung ke pusnas pada liburan kali ini.

maket gedung perpustakaan nasional

Kami berangkat naik Grab lagi dari Depok. Perjalanannya cukup lancar, akan tetapi ketika sudah memasuki kawasan jl. medan merdeka selatan, ada penutupan ruas jalan karena ada demo. Google Map menyarankan memutar mengitari monas dulu, tapi bakal butuh waktu sekitar 20 menit, padahal kalau jalan tinggal 500 meter. Akhirnya kami putuskan untuk jalan saja, toh jalanannya cukup teduh dengan banyaknya pohon-pohon besar di pinggir jalan.

foto dulu sebelum masuk perpustakaan

Kesan pertama melihat bagian depan Perpustakaan Nasional, saya cukup kagum dengan hal-hal yang dipamerkan di gedung depannya di sana. Cara mereka menatanya juga terlihat cukup menarik dan artistik (padahal saya bukan orang yang mengerti banyak mengenai seni). Di bagian belakangnya ada gedung 24 lantai yang menyimpan berbagai koleksi buku. 

Waktu masuk ke lantai dasar, kami mengamati ada toilet dan kafe. Ada direktori apa saja koleksi yang disimpan di setiap lantainya. Tujuan utama kami ketemu Bu Inge yang sedang menghadiri launching buku di ruang serbaguna lantai 4, tapi karena acara mereka belum selesai, kami sempatkan ke lantai 7 untuk melihat ada apa di ruang koleksi bacaan untuk anak-anak.

Di ruangan khusus anak-anak, kita diminta untuk melepaskan sepatu dan meninggalkan makanan dan minuman di luar ruangan. Untuk penyimpanan tas, tersedia loker dengan kunci yang bisa kita pegang. Oh ya layanana perpustakaan ini setahu saya koleksinya hanya bisa dibaca di tempat. Untuk bisa masuk dan membaca di situ, kita tidak harus menjadi anggota. Perpustakaan ini bebas biaya masuk. 

Saya senang melihat berbagai koleksi buku yang ada untuk anak-anak, bahkan ada majalah Bobo segala. Jadi teringat masa kecil di mana kami kadang-kadang dibelikan majalah Bobo. Koleksi buku bersampul tebal (board book) juga cukup lumayan. Buku-buku berbahasa Inggris ataupun bilingual juga banyak tersedia di sana. Ah rasanya waktunya ga cukup banyak untuk browse buku-buku yang ada di sana. 

dekorasi di depan pusnas

Setelah sekitar 30 menit di lantai 7, kami turun ke lantai 4 untuk bertemu dengan bu Inge. Ternyata ada kantin juga di lantai 4, jadilah kami makan di sana saja daripada menghabiskan watu di jalan untuk naik taksi lagi. Bertemu dengan bu Inge itu suatu hal yang ditunggu-tunggu oleh Jonathan. Walaupun Oma Inge (demikian anak-anak memanggil bu Inge) bukanlah nenek kandung mereka, tapi Jonathan dan Joshua bisa senang bermain dengan oma Inge seperti bermain dengan eyang girl nya. 

Selesai makan di lantai 4 kami iseng ke lantai 24 untuk melihat pemandangan yang ada di sana. Sayangnya tidak ada ruang untuk duduk ngobrol dengan enak di lantai 24, anginnya juga cukup kencang di sana, jadi kami ga berlama-lama di luar dan memutuskan kembali ke bagian koleksi anak di lantai 7.

Dari lantai 24 kami turun ke lantai 7 untuk kembali ke ruang baca anak lagi. Sedikit catatan, menunggu lift di lantai 24 memakan waktu lama, karena ketika kami akan turun, tiba-tiba lift yang naik sudah sampai lantai 21 berbalik arah lagi turun. Kalau cuma beberapa lantai, mungkin kami sudah akan turun tangga saja supaya ga lama nunggu liftnya. Saya perhatikan, di setiap lantai yang kami kunjungi ada mushollanya dan kamar kecilnya. Semuanya terlihat cukup bersih. Untuk ukuran sebuah tempat yang free entrance, saya merasa cukup senang berada di pusnas. Catatan lainnya, entah kenapa begitu masuk ke area perpustakaan, sinyal hp pada hilang, untungnya di dalam perpustakaan ada wifi yang gratis untuk umum dan ya cukup lah aksesnya. 

Setelah puas ngobrol-ngobrol di lantai 7, kami memutuskan untuk pulang dulu, eeeeh teryata sedang hujan. Akhitnya kami ngopi-ngopi sambil nyemil di kafe yang ada di lantai dasar tadi. Rasa kopinya lumayan lah ya, apalagi setelah beberapa hari cuma dapat kopi instan saja. Karena sudah agak sore, kami memesan makanan untuk anak-anak. Walau kafe nya terlihat kecil, makanan cemilannya lumayan banyak variasinya.

Setelah hujan berhenti, kami pun beranjak pulang. Tapi karena kami pulang bersamaan dengan jam orang pulang kerja, jalanan yang kami lalui banyak macetnya. Bahkan di jalan tol cuma bisa kecepatan 10-20 km / per jam. Sampai di rumah eyang, Joshua sukses tertidur kecapean.

Secara keseluruhan, jalan-jalan ke perpustakaan cukup menyenangkan buat kami karena anak-anak kami menyukai buku. Yang menyenangkan juga harga makanan di pusnas cukup masuk akal dan ga semahal harga makan dimall. Koleksi buku bacaannya ada bahasa Inggris ataupun bilingual yang bisa dibaca anak-anak kami. Semoga di kemudian hari, di daerah-daerah semakin banyak perpustakaan yang bagus isinya seperti di perpustakaan nasional ini.