Review Elfin Book 2.0

Awal tahun 2018, saya kepingin sekali punya agenda, tapi waktu itu saya masih belum bisa memutuskan apakah saya mau punya agenda digital atau agenda biasa. Saya coba mengetik di HP, tapi kok rasanya cape ya ngetik di HP (apalagi waktu itu saya belum tahu mengenai voice typing). Lalu saya pikir, coba beli buku kecil biasa, dan lihat apakah saya bisa terus menuliskan sesuatu di buku. Hasilnya? buku saya malah dipake Joshua untuk menulis A sampai Z dan angka. Untung beli bukunya bukan buku yang mahal hahaha. Lalu tidak sengaja lihat iklan mengenai buku yang bisa dihapus. Saya pikir, wah buku ini cocok nih buat saya bawa-bawa, karena kalaupun dipakai Joshua, nantinya bisa saya hapus.

Iklan yang saya lihat itu namanya Rocket Book, tapi Joe kasih tahu saya ada buku sejenis yang lebih murah namanya Elfin Book. Setelah baca-baca dan tidak menemukan perbedaan secara fungsi, akhirnya saya memutuskan beli yang lebih murah, karena kepikiran andaikata gak terus dipakai ya gak rugi-rugi amat hahaha. Minimal, bisa dipakai kalau Joshua butuh untuk coret-coret.

Lanjutkan membaca “Review Elfin Book 2.0”

Self hosting layanan online

Posting ini meneruskan cerita horor di posting saya sebelumnya di mana saya hampir kehilangan akses account Google tanpa sebab. Di sini saya ingin membahas mengenai self-hosting layanan online, supaya kendali atas layanan online sebisa mungkin ada di tangan kita, tidak mudah semena-mena ditutup pihak lain.

Posting kali ini lebih ditujukan bagi mereka yang memiliki kemampuan teknis mengadministrasi sistem (atau mau belajar melakukan itu). Saya berencana membuat posting lain untuk melindungi account online untuk orang awam.

Meskipun ada banyak layanan online (SAAS atau software as a service) baik gratis maupun berbayar mulai dari penyimpanan file, foto, sampai source code, banyak orang memilih untuk menghosting sendiri berbagai layanan tersebut (istilahnya self-hosting). Ada yang memakai komputer lokal di rumah, ada yang memakai VPS, dan ada juga yang menyewa dedicated server.

Beberapa contoh layanan online yang saya maksud misalnya: email (Gmail, Outlook, Yahoo), hosting blog (Blogspot, WordPress, Medium, dsb), hosting git (github, bitbucket), dan penyimpanan file online (Dropbox, Google Drive, OneDrive)., Tentunya masih banyak lagi jenis layanan online lainnya yang tidak saya sebutkan.

Buat apa hosting sendiri?

Ada banyak alasan kenapa seseorang mulai menghosting layanan sendiri. Ada yang shock karena account onlinenya ditutup sepihak, dan ada juga yang dari dulu merasa curiga dengan layanan gratis (kok bisa gratis?). Beberapa layanan gratis mendapatkan uang dari iklan, beberapa memberikan gratis sampai batas tertentu saja (misalnya untuk Dropbox, jika disk penuh, nanti lama-lama pengguna gratis akan membayar), dan beberapa dikhawatirkan menjual data usernya.

Memakai layanan dari pihak lain memiliki  satu kelebihan utama:  kita tidak perlu memikirkan apa-apa, tinggal pakai. Tapi memakai layanan pihak lain juga memiliki banyak kelemahan:

  • Semua data kita di tangan pihak tersebut, bisa saja dijual, diintip, dihilangkan
  • Pemerintah di negara tertentu bisa meminta pihak online provider memberikan data pada mereka (dan kita tidak tahu)
  • Pihak lain bisa secara sepihak menutup account kita, seperti contoh kejadian yang saya alami di posting sebelumnya
  • Bukan cuma account, tapi keseluruhan layanan online bisa ditutup sewaktu-waktu (ingat Friendster yang sempat memiliki ratusan juta member? Google Reader yang dulu jadi andalan membaca berita? Google Plus yang jadi alternatif Facebook bagi lebih dari 100 juta orang?)
  • Selain ditutup, layanan bisa juga dijual ke pihak lain dan bisa berubah total. Baru-baru ini Yahoo menjual Flickr, tadinya pengguna gratis bisa mengupload data sampai 1 TB, sekarang dibatasi 1000 foto saja

Tidak peduli seberapa besar layanannya, berapa banyak penggunanya (Tahun 2013 flickr memiliki 87 juta anggota, Google plus memiliki 111 juta pengguna aktif), seberapa besar perusahaannya (Google Reader dan Google plus dimiliki oleh Google, Flickr dimiliki oleh Yahoo). Jika sesuatu dirasa tidak menguntungkan, maka kita bisa dipaksa pindah.

Lanjutkan membaca “Self hosting layanan online”

Your Google Account is disabled

Kemarin pagi saya dapat notifikasi yang menyeramkan: Your Google Account is Disabled. Jika tidak meminta restore, ada konsekuensi seram. Ini bukan email phishing, ini email resmi dari Google.

We understand your account is important to you. So if you think this was a mistake, sign in to the disabled account and submit a request to restore it. You’ll need to do this soon, because disabled accounts are eventually deleted, along with your emails, contacts, photos, and other data stored with Google.

Isi email dari Google

Masalahnya ketika saya login, tidak ada penjelasan apapun seperti tertulis dalam dokumen support google di sini (If your account is disabled, you’ll get an explanation). Saya masih bisa mengakses email seperti biasa, setelah cukup panik, beberapa belas menit kemudian muncul email lain, bahwa account Youtube saya suspended. Nah sekarang saya jadi bingung: apakah keseluruhan account saya disabled, atau hanya Youtube saja suspended? atau malah kedua-duanya benar? Saya sempat khawatir mengenai ini

Katanya ada pelanggaran spam, scam, atau deceptive content (bukan copyright violation, atau pelanggaran lain). Dulu di awal saya pernah mengupload video mengenai editor Emacs, dan video beberapa karya saya yang lain , tapi selama 5 tahun  hanya 3 video dalam 3 tahun terakhir (Video yang saya upload juga di Page Facebook kami). Saya juga tidak pernah berkomentar di YouTube (baik positif atau negatif).

Mengenai security, saya juga yakin account saya tidak dihack. Semua komputer saya sudah update ke software terbaru. Bahkan HP utama yang saya miliki juga sudah memakai Android Security update terbaru.  Saya memakai Windows (yang rawan malware) hanya di komputer saya yang sudah terinstall antivirus (sisanya saya hanya mengakses dari Linux dan Ponsel).

Yubikey U2F yang saya gunakan untuk login Google Account

Saya memakai two factor authentication dengan hardware security key yang saya bawa di dompet saya. Saya mendaftarkan phone number recovery yang valid. Saya sering melakukan review terhadap Google Activity (dan juga Facebook Activity) siapa tau ada hal-hal yang tidak sengaja saya klik atau search dari ponsel (karena fitur autocomplete, salah tekan saja bisa membuat kita mencari sesuatu yang aneh). Saya juga bisa mengecek misalnya apakah saya tidak sengaja mengklik untuk membuat komentar di Facebook ataupun Youtube.

Ini juga bukan account baru, saya sudah 14 tahun memiliki email Gmail ini di tahun ketika Gmail diluncurkan. Dulu awalnya dapat dari temannya Risna yang tidak memakai link referal dari Blogger (Hi Dui). Saya suka email ini karena jelas (ejaannya sesuai nama depan saya), dan domain gmail.com sudah banyak dikenal orang.  Ketika mendaftarkan sesuatu secara offline, biasanya saya memakai email gmail ini, karena banyak orang tahu gmail dan jarang sekali salah eja domainnya. Jika saya memakai email lain, kemungkinan salah eja nama domain cukup besar.

Saya bukan sekedar pengguna gratisan, saya sudah subscribe Google Drive sejak beberapa tahun terakhir, saya memakai Google Account ini juga untuk Play Store di Android. Di Android saya sudah membeli banyak app dan buku,  bahkan di hari sebelumnya saya memperbarui subscription Simply Piano yang setahunnya sekitar 600 ribu rupiah.

Andaikan saya kehilangan account Youtube ya sudah saya relakan saja, tapi jika email gmail yang hilang maka ini akan sangat repot. Berbagai recovery email saat ini mengarah ke gmail. Setelah mengisi form untuk unsuspend, malam harinya saya mendapatkan email dari Google yang sedikit melegakan. Katanya tidak ada masalah dengan account Youtube saya, dan saat ini sudah dikembalikan seperti semula.

Tentunya hal seperti ini tetap membuat saya khawatir: jadi sebenarnya ada masalah apa? Apakah hal semacam ini bisa terjadi lagi? Jika terjadi lagi, apakah bisa cepat unsuspend karena insiden ini pasti sudah masuk catatan Google. Bagaimana jika berikutnya email yang tiba-tiba tidak bisa diakses?

Katanya tidak ada maslaah, tapi juga tidak diberitahu kenapa sempat diblok

Demi keamanan saya sudah menggunakan Google Takeout untuk mendownload semua data saya dari Google dan memindahkannya ke OneDrive (dan dari OneDrive saya synchronize ke harddisk di rumah saya). Sebenarnya saya sudah memiliki kekhawatiran hal semacam ini bisa terjadi, jadi selama ini yang saya lakukan:

  • Mendownload email offline secara berkala dengan offlineimap
  • Membuat autoforward semua email penting ke email lain sebagai arsip realtime
  • Mengupload foto tidak hanya ke Google Photos tapi juga ke OneDrive (dan disinkronisasi ke drive lokal di rumah), dan baru-baru ini memakai Seafile (ke server sendiri)

Beberapa layanan tertentu mengijinkan saya memasukkan dua atau lebih email (misalnya Facebook dan Paypal) jadi jika kehilangan akses ke satu email, maka tidak masalah, tapi sayangnya tidak semua layanan mengijinkan ini.

Seperti saya sebutkan di atas, saya memakai alamat @gmail.com karena tidak rawan salah eja di dunia offline ketika mengisi form tulis tangan. Untuk berbagai hal yang online alasan utama memakai email tersebut adalah karena gmail memiliki anti spam yang bagus, kemudian lama-lama jadi terlena karena menganggap akses gmail ini tidak akan hilang. Padahal saya sudah menghosting sendiri kebanyakan layanan yang saya pakai selain email (contohnya blog ini memakai WordPress sendiri, bukan layanan gratisan maupun berbayar).

Meskipun saat ini sepertinya semua sudah baik-baik saja, ini merupakan wake-up call bagi saya untuk mulai menggunakan email yang lain yang berada di bawah kendali saya, email yang memakai domain saya sendiri. Untuk urusan mailbox, saya bisa menyewa jasa dari tempat lain atau bisa saya hosting sendiri di dedicated server sendiri. Andaikan memakai domain milik sendiri dan memakai jasa mail dari layanan lain, saya tetap bisa mengubah MX Record andaikan suatu hari layanan tersebut tutup atau bermasalah.

Semoga pengalaman saya ini juga bisa menyadarkan pihak lain supaya tidak bergantung 100% pada layanan dari satu perusahaan. Saat ini Google memiliki sangat banyak layanan, Andaikan account Anda ditutup, apa yang akan terjadi? Bagaimana kalo kejadiannya ini terhadap sebuah account yang dimiliki perusahaan (banyak yang masih memakai email gratisan @gmail.com)? Di posting berikutnya saya akan membahas lebih banyak mengenai self-hosting layanan online (tidak hanya email).

SosMed, Dulu dan Sekarang

Ini masih nyambung dengan nostalgia dulu dan sekarang e-mail, tapi sekarang mau bahas jejaring pertemanan alias sosmed. Masa awal internet mulai bisa dipakai umum, dengan segala pembahasan positif dan negatif, kebanyakan orang masih menjaga anonimitas. Sekarang ini dunia online sudah jadi ekstensi keberadaan kita di dunia nyata.

Pertama kali join jaringan pertemanan Friendster. Friendster awalnya jauh berbeda dengan Facebook sekarang. Jari kita menambahkan teman, dan diharapkan kita memberi testimony mengenai teman kita tersebut. Friendster berusaha menggabungkan platform blog juga ke jaringan pertemanannya, saya juga sempat ngeblog di Friendster, tapi pada akhirnya saya memilih kembali ke blog ini.

Lanjutkan membaca “SosMed, Dulu dan Sekarang”

E-mail, Dulu dan Sekarang

Saya punya e-mail pertama dulu di layanan e-mail gratisan yahoo. User id e-mail pakai nick name karena merasa anonimity di Internet itu penting. Sempat punya beberapa e-mail gratisan dari layanan lainnya termasuk forwarder supaya e-mailnya lebih singkat ataupun terasa lebih keren. Dari sekian banyak alamat e-mail yang dipakai, yang akhirnya bertahan ya cuma yang pertama dibuat itu. E-mail itu bertahan karena user id nya dipakai juga untuk Yahoo Messenger. 

credit: foto dari huffpost.com
Lanjutkan membaca “E-mail, Dulu dan Sekarang”

Mini PC + TV + HP Xiaomi = Smart TV

Konfigurasi entertainment centre kami sekarang ini memakai Mini PC Windows yang dihubungkan ke TV (via HDMI). Awalnya dulu, kami memasang keyboard wireless ke mini pc nya untuk memilih menu Kodi, Netflix ataupun nonton YouTube di browser. Tapi, masalah dengan yang namanya remote, sama saja dengan keyboard. Kadang-kadang ga ketemu terselip entah di mana, sering juga pas butuh eh baterenya habis.

Mini PC nya kotak hitam di samping mobil-mobilan hijau

Setelah dipikir-pikir, gimana kira-kira supaya mau nonton ga kelamaan nyari remote atau keyboardnya. Untungnya Joe kepikiran untuk mencari aplikasi remote mouse untuk Android. Walaupun namanya remote mouse, tapi dari aplikasi ini, kita juga bisa mengetikkan sesuatu kalau dibutuhkan. Pengaturan aplikasi ini cukup gampang. Baik Mini PC dan HP Android terkoneksi ke jaringan lokal yang sama kalau dirumah. Jadi waktu menyalakan aplikasi ini, kita bisa langsung menemukan Desktop mana yang perlu kita akses secara remote. Selanjutnya ya sama seperti mouse di komputer biasa.

Remote Mouse bisa jadi keyboard juga

Aplikasi remote mouse ini gratis, tapi ada iklannya. Iklannya kecil di bagian atas. Tapi karena dipakainya cuma untuk meremote Mini PC di TV, saya ga terlalu terganggu dengan iklannya. Selain sebagai mouse, seperti saya sebutkan sebelumnya, dari aplikasi ini kita juga bisa mengakses keyboard misalnya untuk mencari kata kunci tertentu di YouTube. Kita juga bisa berpindah aplikasi dengan cepat.

Pindah aplikasi

Masalah berikutnya, kadang-kadang kami juga ga nemu remote TV nya di mana. Sejak memakai Samsung Note 4 yang memiliki fitur infrared, saya jadi agak ketergantungan mencari HP yang ada fitur IR blaster untuk remotenya. Waktu tau hampir semua HP Xiaomi masih punya fitur IR, saya senang sekali. Setiap mau nyalain TV ga perlu repot-repot lagi mencari remote. Tinggal pake HP aja jadi remotenya. Untuk Xiaomi, nama aplikasinya MiRemote. Selain untuk remote TV, bisa juga untuk remote AC atau benda apapun yang di remote dengan infrared.

MiRemote untuk TV

Jadi sekarang ini, di dekat TV kami pasang Mini PC yang terhubung ke jaringan rumah. Mini PC ini kami biarkan selalu menyala. Pemakaian daya mini pc tentunya tidak sebesar pemakaian komputer, jadi tidak masalah kalau dibiarkan menyala. Setiap mau menonton, cukup nyalakan TV dengan MiRemote, atur suara TV juga dengan MiRemote, lalu untuk memilih menonton via YouTube atau Netflix, Iflix ataupun Kodi, kami pilih menunya dengan remote mouse. Biasanya sih HP selalu berada dalam jangkauan dan jarang keselip seperti halnya remote-remote lainnya.  Dengan mini PC, dan HP Xiaomi, TV biasa kami yang sudah berumur lebih dari 6 tahun disulap jadi smart TV deh hehehe.

Ransomware, Reverse Engineering dan Backup

Cukup banyak yang bertanya ke saya mengenai ransomware, selain itu sering juga di group reverse engineering ada yang bertanya: saya kena ransomware (dengan scren capture layar permintaan tebusan), diteruskan dengan: apa yang harus saya lakukan? Tulisan ini akan berusaha menjawab kenapa sulit mengatasi ini, kenapa percuma meminta tolong ke group reverse engineering, dan kenapa sebaiknya Anda perlu membackup file Anda.

Ransomware

Ransomware adalah jenis malware (software jahat) yang memaksa Anda mengirimkan uang ke pembuatnya melalui berbagai cara. Cara yang saat ini paling banyak dipakai adalah mengenkripsi file Anda, lalu jika Anda mengirim uang tebusan, maka Anda akan dikirimi key atau program untuk membuka file Anda. 

Jawaban singkat untuk yang kena ransomware: cobalah ke situs No More Ransom. Jika Anda beruntung, file Anda bisa kembali. Jika tidak, maka harapannya sangat kecil. Coba juga search nama ransomwarenya (jika ada nama yang unik yang muncul di layar ransom) dan coba baca apakah sudah ada yang membuat tool gratis untuk membukanya. Bagian berikut artikel ini hanya ingin menjelaskan kenapa file Anda sulit kembali.

Alternatif lain: Anda bisa membayar tebusan, tapi perlu dicatat: Andaikan Anda membayar uang tebusan, belum tentu file Anda bisa kembali. Tidak ada jaminan dari para penjahat ini bahwa file Anda masih aman. Sebagian ransomware merusak file tanpa bisa dikembalikan dengan cara apapun (membayar atau pun cara lain).

Jika Anda beruntung, kadang sebagian file bisa dikembalikan dengan program untuk melakukan undelete/data recovery. Sebagian malware membuat file baru hasil enkripsi dari file lama, lalu kemudian menghapus file lama. Kadang kala file lama (yang belum dienkrip ini) bisa dikembalikan.

Tips paling utama adalah: backuplah data Anda, sehingga jika ada ransomware maka Anda bisa memformat disk, menginstall ulang OS dan merestore backup.

Reverse Engineering

Saat ini ada ribuan varian ransomware yang mengenkripsi file Anda. Sebagian ini ada yang menginfeksi jutaan komputer, sebagian lagi menginfeksi puluhan atau ratusan komputer saja. Sebagian dari ribuan varian malware ini ada yang berhasil ditemukan kelemahannya dan berhasil dibuat program untuk mengembalikan file tanpa harus membayar ke pembuat malwarenya. 

Bagaimana kelemahan berbagai metode enkripsi di ransomware bisa ditemukan? dengan melakukan Reverse Engineering (bisa dibaca apa itu Reverse Engineering dari tanya jawab di situs ini). Tapi tidak semua enkripsi bisa dibongkar, kadang harus brute force. Dalam kasus tertentu, terkadang key masih ada di memori jika komputer belum dimatikan dan mungkin bisa diekstrak.

Reverse engineering sebuah malware (atau ransomware pada khususnya) butuh waktu lama. Setelah berhasil dibongkar pun, kelemahannya belum tentu ada.  Meminta seseorang melakukan reverse engineering ransomware secara gratis, sama seperti minta tolong ke penyelam untuk secara gratis mengambilkan makanan Anda yang terjatuh ke laut: menyelam itu butuh tenaga, waktu, oksigen, dan kemungkinan makanan Anda sudah dimakan ikan.

Jika Anda ingin belajar membongkar ransomware, maka datang ke group reverse engineering adalah langkah yang tepat. Dari mulai meminta contoh malware, belajar teknik reverse engineering dsb. Tapi jika Anda terkena malware, maka yang harus dilakukan adalah langkah yang sudah saya sebutkan di atas: mencari informasi apakah malwarenya sudah ada yang membongkar dan membuat tool dekripsinya.

Ilmu reverse engineering itu seperti ilmu researcher yang sedang meneliti penyakit tertentu, bukan berfokus pada orang yang kena penyakit tertentu. Dalam kasus orang terkena penyakit (ransomware) maka dia akan pergi ke dokter (Google, administrator sistem, teknisi), yang akan memberi obat hasil penelitian researcher. Jika ternyata penyakitnya baru (ransomware baru) maka diperlukan riset yang tidak sebentar.

Berhati-hatilah ketika Online

Ransomware bisa berjalan di komputer Anda karena beberapa hal:

  • Ada bug di sistem operasi/browser/aplikasi sehingga ketika Anda mengunjungi situs tertentu atau membuka dokumen tertentu, otomatis ransomwarenya berjalan di komputer Anda
  • Ada malware menyebar dari komputer lain di jaringan (contoh kasus Wannacry). 
  • Anda tertipu sehingga menjalankan program ransomware. Tipuan ini biasanya berupa attachment yang tampak seperti dokumen.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan adalah:

  • Backup data Anda
  • Updatelah sistem operasi dan software yang Anda pakai
  • Aktifkan antivirus (sekarang sudah built in di Windows)
  • Jangan mengunjungi situs-situs yang mencurigakan
  • Jangan tergiur berbagai macam hadiah yang tidak jelas
  • Jangan menginstall software yang tidak jelas
  • Hati-hati membuka file yang diterima dari siapapun

Backup

Selain masalah ransomware, kadang saya masih menemukan post di Facebook mengenai orang yang kehilangan laptop beserta semua datanya padahal semuanya sangat penting. Misalnya ada yang kerjaan kantor dan ada juga yang berisi data skripsi bertahun-tahun. Ini sangat menggemaskan karena sekarang membackup data sudah mudah sekali dilakukan dengan berbagai layanan online seperti DropBox, Google Drive, OneDrive, dsb. Di sini saya tidak akan membicarakan backup untuk kantor/enterprise, hanya sekedar backup data pribadi.

Semua layanan drive online punya aplikasi desktop dan mobile yang bisa mengotomasi upload file hanya ketika file tersebut berubah. Jika takut dengan masalah privasi (atau takut misalnya password layanan tersebut suatu hari jebol), kita bisa mengenkripsi file itu sebelum disimpan ke direktori yang di sinkronisasi ke cloud. Aplikasi seperti Word dan Excel juga punya fitur password, jadi file bisa diproteksi ekstra sebelum diupload ke cloud.

Meski menyimpan ke cloud sangat nyaman dan mudah, saya perlu memperingatkan bahwa penyedia jasa cloud bisa menghentikan layanannya kapan saja. Saya menuliskan ini setelah membaca kasus di mana seseorang kehilangan semua datanya di blogger. Ini terjadi terutama jika Anda bandel, misalnya sharing file yang dilindungi undang-undang HAKI (buku, film, app bajakan, dsb).

Hati-hati juga jika Anda suka sharing sesuatu yang bisa dianggap hate speech. Jangan sampai karena ingin menghina pemimpin atau tokoh tertentu, membuat account Anda jadi diblokir. Setidaknya jika memang ingin melakukan itu, pisahkan dari account utama Anda.

Dropbox

We also reserve the right to suspend or end the Services at any time at our discretion and without notice.

Google Drive

Google may also stop providing Services to you, or add or create new limits to our Services at any time.

OneDrive

You or Microsoft may terminate this Agreement immediately for any reason or no reason without notice

Meskipun kasus penutupan tiba-tiba ini relatif jarang, tapi ada banyak contoh yang bisa ditemukan di Internet. Bisa saja seseorang tidak suka pada Anda lalu melaporkan account Anda, dan tergantung orang yang menerima laporan tersebut, mungkin account Anda bisa diblok atau ditutup.

Jika mungkin, backuplah di berbagai layanan sekaligus, jadi jika ada masalah di satu layanan kita bisa memakai layanan yang lain. Saya tahu ini kadang ini tidak bisa karena kendala kuota internet, tapi lakukanlah untuk file-file super penting.

Saya sendiri memakai berbagai kombinasi backup offline dan online. Untuk file-file yang ada di desktop saya memakai layanan yang sudah umum (Google Drive, OneDrive dan Dropbox) serta memakai Backblaze. Bedanya dengan yang lain: Backblaze ini unlimited dan bisa membackup semua harddisk yang ada di komputer, tidak hanya folder tertentu. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan development, saya punya server git personal dengan backup ke Amazon S3.

Backup online juga bisa menjadi target hacker. Sudah ada kejadian username/password Dropbox yang pernah bocor. Perlu diperhatikan juga bahwa fitur cloud kadang berbahaya di tangan peretas. Contohnya adalah kisah beberapa tahun lalu ketika seorang wartawan Wired diretas dan datanya dihapus secara remote dengan fitur security Apple.

Ini membawa saya ke topik berikutnya: buatlah backup offline untuk data super penting Anda. Backup offline ini maksud saya adalah yang non-cloud jadi bisa berupa NAS di rumah, atau bahkan sekedar USB disk.

20160221_145813

Harga USB disk 8 GB (sepertinya ini paling kecil saat ini) sudah sangat murah, di sini sekitar 100 baht (40 ribu rupiah). Jika Anda tidak menyimpan file super besar (seperti film), dan sekedar menyimpan dokumen skripsi/thesis, 8 gb sudah cukup. Kalau menurut Microsoft 5 GB saja sudah banyak:

OneDrive free with 5 GB: enough space for approximately 6,600 Office documents or 1,600 photos

Bahkan handphone yang Anda pegang juga bisa menjadi sarana backup. Jika tidak punya media backup lain, setidaknya copy lah file terpenting ke handphone. Jika filenya sangat penting (misalnya berisi password) maka file itu sebaiknya dienkrip (bahkan ponsel Android dan iOS sekarang sudah memiliki fitur enkripsi built in, jadi datanya cukup aman).

Tentunya jangan tempelkan terus USB-nya ke laptop Anda. Bagaimana jika laptopnya dicuri? hilang juga data backupnya. Backup sebaiknya berada di tempat terpisah (off site). Contoh kejadian yang mungkin terjadi adalah: kebakaran atau bencana lain. Seperti pernah diberitakan: seorang penulis nekat menerjang api untuk menyelamatkan laptopnya yang berisi novel yang ditulisnya.

Jangan lupa sesekali mengetes backup Anda, periksalah bahwa filenya bisa dibuka dan isinya benar, lengkap dan merupakan yang terbaru. Kalau tidak ingat untuk membackup setiap hari, dan bingung menggunakan software backup otomatis, minimal buatlah reminder di kalendar Anda tiap bulan. Andaikan ada masalah, setidaknya Anda nggak perlu mengulangi kerjaan skripsi dua tahun, tapi maksimum hanya sebulan terakhir.

Sebagai pembanding: jaman dulu backup data tidak mudah. Backup bisa dilakukan dengan floppy disk, tapi reliabilitasnya cukup rendah (atau yang cukup punya uang bisa memakai ZIP Drive). Layanan backup online juga belum seperti sekarang ini (teringat kisah pernah ada yang nekat nitip data di FTP kampus, tapi kemudian servernya diformat ulang jadi datanya hilang).

IMG_1190_d57bcd54aaab4b36e7fc2d722996a24a

Jika semua kemudahan sudah ada, tapi Anda tidak menggunakannya karena malas, maka jangan salahkan siapa-siapa selain Anda sendiri.