Digital Fortress, Life Of Pi, e-Book di PDA

Barusan dah selesai baca Digital Fortress, seperti yang disarankan oleh mbak cepi dan setelah membandingkan beberapa review di Internet untuk memutuskan buku mana yang harus kubaca duluan. Dari segi cerita, buku ini cukup bagus, tapi ada banyak kesalahan fakta, bahkan yang sederhana (misalnya Dan Brown tidak tahu bahwa 1 karakter itu tidak sama dengan satu bit, jadi key sepanjang 64 bit mestinya hanya 8 karakter ASCII, atau bahkan kurang jika yang dipakai adalah encoding lain, misalnya UCS-2). Gaya ceritanya di buku ini lebih baik di banding dengan Da Vinci Code.
Lanjutkan membaca “Digital Fortress, Life Of Pi, e-Book di PDA”

Menstabilkan USB Infrared Okion di Win XP

Beberapa waktu lalu, setelah upgrade komputer, gw dengan semangat 45 mencoba online pake Nokia 6585 + kartu Fren menggunakan koneksi usb infrared. Ceritanya gw beli dongle usb irda merk OKION selain karena relatif murah dibanding yang lain, Irda ini sudah terbukti bisa digunakan oleh Joe di Linux maupun di Windows 2000 nya. Tapi ternyata…gw sempet kecewa karena entah kenapa, walaupun drivernya sudah di instal ternyata koneksinya sangat tidak stabil, baru juga berapa menit koneksi HP dinyatakan wireless link interrupted…huhuhu…kecewa…kecewa… Lanjutkan membaca “Menstabilkan USB Infrared Okion di Win XP”

Menginstall Internet Explorer ….. di Linux

Sudah menjadi masalah bagi banyak orang bahwa masih ada saja website penting (Seperti e-Banking) yang situsnya tidak bisa bekerja dengan baik jika tidak dibuka dengan IE. Jadi meskipun sudah bersusah payah pindah ke Linux, kadang-kadang orang masih perlu pergi ke Windows (reboot, atau rdesktop/vnc ke komputer lain) hanya untuk mengakses situs tertentu saja (terutama situs yang penting). Kadang-kadang Konqueror sudah cukup buat mengakses web site yang butuh IE, tapi kadang tetap tidak bisa.

Sejak dulu, sudah ada beberapa orang yang bisa menginstall IE di Linux dengan aneka macam cara, namun sekrang sudah ada cara yang sangat mudah untuk menginstall IE (dan bahkan Windows Media Player serta MSN juga) di Linux memakai Wine. Caranya cukup download wine dari sini, download skrip installer di sini, ekstrak skripnya, dan jalankan setup. Cuma itu aja. Nanti skrip tersebut akan otomatis mendownload IE dan menginstallnya. Yang menakjubkan adalah, skrip tersebut akan mensimulasi “reboot”, jadi kita nggak perlu me-reboot komputer 🙂

Nah sekarang IE siap di jalankan. Tapi jangan heran ya kalo IE-nya lambat dan nggak senyaman Firefox 😛

VPN Mobile 8 (Fren) di Linux

VPN Mobile 8 (Fren) di Linux

Mobile-8 (alias Fren) saat ini menyediakan fitur VPN ke beberapa ISP (tepatnya 10 ISP), jadi penggunanya bisa memilih mau browsing via ISP mana. Sayangnya petunjuk koneksinya hanya tersedia untuk Windows (di sini).

Setelah mencari-cari client VPN di Linux dan mendownload, akhirnya hari ini sempat mencoba VPN M8 (Fren) di Linux, dan hore …. berhasil dengan mudah, koneksinya juga lumayan cepet (tapi harus pilih2 dulu mau VPN ke ISP mana, ada ISP yang lambat ke server tertentu (sekarang ini lagi VPN ke Biznet).

Buat yang tertarik untuk ber-VPN di Linux, kunjungi aja http://pptpclient.sourceforge.net/, ikuti petunjuk di situ, dan cobalah VPN-nya. Gampang banget, tinggal install beberapa paket dan ada konfigurasi GUI-nya.

Membandingkan Operator CDMA

Ini adalah perbandingan subjektif dari hasil mencoba semua operator CDMA (kecuali Star One, belum ada di bandung, belum sempat nyoba di Jakarta)

Flexi
Murah (aku pake yang Pasca), tapi kalo di dalem rumah signalnya kurang kuat, terutama di daerah cisitu dan dago (kalo di luar rumah sih bagus), tapi tergantung rumahnya juga sih. Di berbagai tempat yang dikunjungi (yang kamarnya agak tersembunyi di dalam, yang gak dapet sinar matahari), signal flexi biasanya lebih jelek dari Esia maupun Fren.

Koneksi data juga lumayan cepet, apalagi ada opsi make telkomnet instan, jadi bisa download-download file gede.

Fren
Satu-satunya CDMA yang bisa dibawa ke luar kota, bahkan di kampungku yang gak dapet signal telkomsel, Fren dapet lho. Tarifnya murah kalo sesama Fren, (flat rate se-Indonesia, tapi Indonesia-nya cuma pulau Jawa :P). Aku baru nyoba yang Pra bayar, abonemen Pasca-nya mahal sih.

Buat koneksi data cepet, apalagi ada opsi buat memakai VPN dari 10 ISP (yang tarifnya cuma 3rupiah/kb).

Esia
Esia ini baru dicoba, tapi ternyata sangat memuaskan. Signalnya bagus, tarifnya sangat murah (apalagi sesama esia). Dan kemarin mbak Risna beli pake ngerumpi (yang dijual terpisah dari HP Nokia paket dengan harga 75 ribu di BEC, termasuk mahal, ada yang jual antara 35 ribu [ini yang dah abis] sampai 125 ribu). Paket ngerumpi ini gratis telepon lokal (dan ke sesama Esia termasuk esia jakarta) selama sebulan, dan gratis SMSan ke mana aja sebulan.

Sayang Esia belum bisa data.

Pengalaman ber-CDMA

Sudah agak lama aku make HP dengan teknologi CDMA. HP pertama adalah Sanex 5xxx (lupa tepatnya seri berapa, yang harganya dulu 800 ribu) dengan kartu Flexi pascal bayar. HP-nya cukup lucu bentuknya (cukup mungil), tapi susah buat ngetik SMS, cuma ada 1 game dan gamenya berisik.

Terus HP kedua (tepatnya PDA phone) adalah Thera Audiovox, flexinya dipindah (di-inject ke hp ini karena gak mendukung RUIM), dan ditambah dengan Fren (Thera-nya bisa menyimpan dua nomor [dua nam]). HP-nya boros banget baterenya, udah gitu gak bisa ngirim SMS ke short number, tapi lumayan buat browsing di PDA. Sayangnya fasilitas data HP ini gak bisa dipake di PC.

Lanjutkan membaca “Pengalaman ber-CDMA”

Tarif Operator GSM

Demi Cepi gw berusaha ngebrowse hunting harga sana sini, tapi agak repot, soalnya para operator itu bener2 deh ga ada yang rajin update webnya. Yang paling repot adalah nyari tarif INDOSAT baik itu matrix, mentari maupun IM3, Matrix dan Mentari ada tapi terakhir di update tahun 2003, sedangkan untuk M3 gw liat ke webnya ga nemu link tarif sama sekali 🙁 Lanjutkan membaca “Tarif Operator GSM”