Update Chiang Mai dan Langkah Pertama Thailand Menuju Normal Baru

Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan saya sebelumnya mengenai langkah-langkah yang diambil pemerintah Thailand dalam mencegah penyebaran Covid-19. Sekedar catatan untuk dibaca ketika pandemi berlalu.

Chiang Mai Bebas Pasien Covid-19

Setelah hampir sebulan (tepatnya 27 hari) tidak ada penambahan pasien baru, akhirnya Chiang Mai bebas Covid-19. Dari 40 orang yang terinfeksi positif di Chiang Mai, 1 orang meninggal dunia dan sisanya sudah pulang dari rumah sakit dan dinyatakan bebas Covid-19. Saya jadi terpikir lama sekali waktu yang dibutuhkan untuk pasien terinfeksi bisa pulang dari rumah sakit.

Continue reading “Update Chiang Mai dan Langkah Pertama Thailand Menuju Normal Baru”

Chiang Mai Akhirnya Bebas Polusi

Setelah beberapa lama menanti turunnya hujan badai, akhirnya hujan dan angin turun hari Sabtu dan Minggu kemarin di Chiang Mai. Pagi ini seluruh indikator polusi menjadi hijau dan tidak ditemukan adanya titik api lagi di utara Thailand. Kabar baik lainnya, hujan yang datang membuat sungai yang kering kembali mengalir dan persediaan kota mulai terisi lagi.

Hari ini 27 April 2020, tidak ada titik api di utara Thailand (sumber: www.cmupdatenews.com)

Semoga saja, hari ini merupakan hari pertama di tahun 2020 di mana Chiang Mai bebas polusi. Prediksi hujan yang masih akan turun sepanjang minggu ini, diharapkan benar-benar membuat udara Chiang Mai bersih. Semoga saja tidak ada lagi titik api baru karena semua masih terlalu basah untuk terbakar ataupun dibakar.

Chiang Mai Aqi 27 April 2020 (sumber https://aqicn.org/city/chiang-mai/)

Kalau pepatah bilang panas setahun dihapus hujan sehari. Situasi di Chiang Mai dan utara Thailand ini, polusi berbulan-bulan butuh hujan paling tidak seminggu dan tentunya dengan angin kencang kiriman badai musim panas dari Cina.

Continue reading “Chiang Mai Akhirnya Bebas Polusi”

Menanti-nantikan Hujan turun di Chiang Mai

Sejak beberapa hari lalu, saya membaca pengumuman kalau akan ada hujan di utara Thailand sebagai akibat dari badai di Cina Daratan bagian selatan. Setiap hari, saya memeriksa prakiraan cuaca dan berharap pengumuman itu cukup akurat. Sungguh berharap hujan yang cukup banyak untuk menghapuskan polusi di kota Chiang Mai ini selain untuk mengisi persediaan air kota Chiang Mai yang mulai mengering.

Pengumuman akan ada Summer Thunderstorms di Utara Thailand (Sumber: tmd.go.th)

Membaca detail pengumuman ini, sebenarnya hati saya terbagi antara senang dan sedikit khawatir. Senang karena dengan adanya hujan dan angin kencang artinya udara akan terasa sejuk dan bersih, bye bye polusi. Khawatir karena membaca deskripsinya berupa hujan badai disertai kilat yang menyambar dan angin kencang dan kemungkinan hujan batu es juga. Apalagi dilengkapi dengan peringatan untuk tetap berada di dalam ruangan selama hujan berlangsung. Semoga saja tidak semengerikan yang saya bayangkan yang nanti terjadi.

Continue reading “Menanti-nantikan Hujan turun di Chiang Mai”

Apa jadinya Hidup Tanpa Air?

Tubuh kita sebagian besar terdiri dari air. Kita butuh cairan untuk tubuh kita, dan juga butuh air untuk kebutuhan sehari-hari terutama cuci tangan dengan sabun di masa pandemi ini.

Bumi 70 persennya terdiri dari air (sumber: pixabay.com)

Bumi ini sebagian besar terdiri dari air. Air merupakan sumber daya yang bisa diperbaharui. Air mempunyai siklus dan dalam siklusnya berubah wujud sebelum kembali lagi menjadi air. Air seharusnya tidak pernah habis, tapi ada kalanya air bersih tidak mengalir ke rumah kita karena faktor kekeringan/ kemarau panjang dan juga karena airnya masih di jalan dalam bentuk lain dan belum turun menjadi hujan.

Beberapa hari lalu, saya membaca berita kalau di Thailand secara umum mulai kekeringan. Persediaan air di Chiang Mai juga sudah mulai sedikit stok airnya dan dianjurkan untuk mulai menghemat pemakaian air di rumah-rumah. Walaupun di bulan April tidak ada kegiatan main air karena Songkran dibatalkan, ternyata tidak membuat persediaan air di kota ini cukup banyak sampai musim hujan nanti.

Kabarnya, Cina yang membendung sungai Mekong juga menjadi salah satu penyebab kurangnya air di Thailand. Jadi memang, air itu bisa diperbaharui, tidak akan habis, tapi bisa saja dikuasai atau ditimbun sendiri di satu lokasi.

Continue reading “Apa jadinya Hidup Tanpa Air?”

Update Chiang Mai, Thailand setelah Sebulan di Rumah Saja

Tanggal 18 Maret 2020 yang lalu, Thailand mulai mengeluarkan pengumuman untuk meliburkan semua kegiatan sekolah dan kursus anak-anak. Masyarakat mulai dihimbau untuk di rumah saja kecuali yang bekerja.

Hari ini sudah sebulan saya di rumah saja bersama anak-anak. Suami tetap bekerja di kantor setiap Senin sampai Jumat. Untungnya kantornya punya aturan yang jelas juga untuk mencegah penyebaran pandemi, jadi saya tidak harus kuatir berlebihan.

Sekitar seminggu sejak pengumuman di rumah saja, tanggal 25 Maret 2020, pemerintah Thailand mengeluarkan Emergency Decree yang intinya mulai memperketat aturan dan menutup banyak toko termasuk mall. Hanya beberapa layanan yang boleh tetap buka seperti bank, pom bensin, farmasi, dan pabrik. Khusus toko, hanya toko yang menjual makanan dan bahan makanan yang diijinkan tetap buka.

Restoran hanya boleh berjualan untuk dibawa pulang dan tidak boleh lagi makan di tempat. Kegiatan berkumpul-kumpul juga mulai dilarang. Hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan bisa dilihat di gambar yang saya dapatkan dari FB Australia in Thailand.

Setelah bertambahnya peraturan, saya pikir cukup sampai disitu, tapi ternyata tidak, tanggal 3 April 2020 pemerintah Thailand menambahkan aturan curfew antara jam 10 malam sampai jam 4 pagi. Ada beberapa pengecualian, tapi intinya semua orang disuruh di rumah saja terutama untuk jam di mana semua orang seharusnya tidur. Masing-masing daerah juga diberikan kebebasan untuk menambahkan aturan jika dianggap perlu untuk mengurangi penyebaran pandemi.

Yang boleh dan yang tidak boleh di Thailand untuk mengurangi penyebaran covid-19 (sumber: FB Australia In Thailand)
Continue reading “Update Chiang Mai, Thailand setelah Sebulan di Rumah Saja”

April 2020 tanpa Perayaan Songkran di Thailand

Hari Songkran, merupakan hari perayaan tahun baru Thailand yang biasanya diperingati setiap tanggal 13 – 15 April. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2020 ini, perayaan Songkran ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Gara-gara apa? apalagi kalau bukan pandemi Covid-19. Saya sudah beberapa kali menuliskan cerita Songkran di Chiang Mai, tapi kalau untuk membaca lengkapnya bisa cek di wikipedia.

Tahun ini, tanggal yang biasanya ditetapkan sebagai hari libur, dijadikan hari kerja, liburnya ditunda untuk perayaan Songkran setelah pandemi berlalu. Orang-orang dilarang mudik (dan pada dasarnya berbagai bis antar kota sudah tidak beroperasi). Di berbagai propinsi keluar larangan menjual minuman beralkohol sejak beberapa hari lalu.

Tradisi yang awalnya dimulai dengan saling memercik air dan belakangan jadi main siram-siraman dengan ember pun ditiadakan sama sekali. Bahkan kalau ada yang bermain siram-siraman di depan rumahnya, bisa ditangkap dan dihukum. Kalau siram tanaman gimana ? ya boleh saja, main air buat anak-anak di rumah sendiri juga boleh, asal gak nyiram orang yang lewat di jalan. Pemerintah Thailand menyarankan untuk kembali ke ritual memercik air ke patung Budha saja. Semua larangan itu untuk mencegah meluasnya penyebaran infeksi Covid-19.

Melihat memori di FB, saya jadi teringat kemeriahan Festival Songkran setiap bulan April beberapa tahun belakangan ini. Orang-orang memakai baju bercorak bunga, memegang pistol air, saling perang air satu sama lain. Penduduk lokal maupun turis, meriah memenuhi jalanan. Beberapa tempat di sepanjang jalan yang dijadikan area orang bermain siram-siraman mendirikan panggung hiburan.

Kebanyakan penduduk Thailand main siram-siraman di siang hari bersama teman dan keluarga baik di depan rumah ataupun di tempat yang ramai dikunjungi. Di malam hari, mereka lanjut berkumpul di rumah untuk makan bersama sambil minum-minum bir. Pernah juga tetangga rumah ngumpulnya bukan cuma makan bersama, mereka juga karaokean sampai pagi.

Buat saya yang tidak terlalu suka ikutan main siram-siraman dan tidak suka mendengar keributan, sebenarnya ada perasaan lega kalau Songkran itu ditunda. Antara lega dan sedih tepatnya. Lega karena setidaknya gak perlu kuatir terjadi penyebaran virus di keramaian festival Songkran. Sedih melihat kekecewaan anak (dan sebagian besar orang) yang gak bisa ikut main siram-siraman. Udara panas di bulan April yang berkisar di 38 – 41 derajat celcius ini memang cocok untuk main siram-siraman.

Banyak juga pastinya turis yang sudah berencana datang untuk festival Songkran ini harus membatalkan niatnya. Thailand yang menjual festival Songkran ini menjadi daya tarik untuk didatangi turis pastinya terganggu roda perekonomiannya. Dan semua itu ditunda gara-gara pandemi covid-19.

Tahun 2020 ini memang semua jadi di luar kebiasaan. Saya bahkan gak tau, apakah hari ini saya bisa mengucapkan Selamat Tahun Baru Songkran? Beberapa teman orang Thai saya lihat mengenakan baju motif bunga-bunga, tapi belum ada yang mengucapkan Happy Songkran. Sulit sepertinya merasa happy kalau tidak bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-teman. Makan dan minum bersama tertawa dan bercanda berbagi cerita.

Kemarin Paskah, hari ini Songkran, besok apalagi yang akan jadi tidak biasa karena pandemi ini? Tapi memang semua tradisi, festival dan perayaan itu sebenarnya buatan manusia, yang lebih penting kita tidak lupa bersyukur kalau di tengah pandemi ini kita masih bisa menikmati berkatNya. Jangan lupa untuk membantu sesama yang membutuhkan dan mungkin tidak seberuntung kita.

Saya akhiri tulisan ini dengan harapan semoga pandemi cepat berlalu dan semua berjalan normal kembali. Semoga tahun depan, bisa melihat kemeriahan festival Songkran di bulan April lagi.

Physical Distancing dan Good Friday

Ada gak yang mengalami apa yang saya alami. Sekarang ini, setiap melihat foto atau video di mana ada banyak orang ramai-ramai berkerumun, yang pertama terpikir adalah: “Wah mereka kok tidak jaga jarak aman”. Pikiran berikut:”Kok ga pada pake masker sih!” Kemudian saya tersadar, lah itukan foto dan video lama, bukan baru-baru ini.

Tapi jangankan lihat foto dan video lama, kalau melihat drama yang masih on-going tayang setiap minggu saja, saya berpikir: “Wow mereka berani sekali ya tetap produksi film. Kira-kira apa yang mereka lakukan untuk merasa aman di antara kru film atau artisnya tidak ada yang jadi spreader? apakah mereka mengadakan rapid test terlebih dahulu dan mengisolasi kelompok mereka supaya tidak berinteraksi sama sekali dengan dunia luar? Kira-kira kalau ada aktor atau kru film nya yang mengalami gejala, apakah mereka akan berhenti produksi seketika?”

Parah ya? Setelah kurang lebih 3 minggu di rumah saja dengan segala himbauan untuk jaga jarak aman dan memakai masker, rasanya sudah seperti dicuci otak saja. Gimana dengan orang-orang di Wuhan yang katanya lockdown selama 76 hari? Kira-kira setelah berapa hari kondisi di Thailand akan kembali normal?

Himbauan untuk menutup sekolah-sekolah dan lembaga kursus di Thailand di mulai sejak 18 Maret 2020, awalnya direncanakan sampai 30 Maret saja. Pada waktu itu bahkan belum ada rencana pembatalan Festival Songkran dan pesawat domestik dan internasional masih banyak beroperasi.

Lalu, karena semakin banyak kasus positif di seluruh Thailand, setiap hari peraturan bertambah, dan sekarang ini setelah semua sekolah ditutup, Kementrian Pendidikan Thailand mengumumkan tahun ajaran baru yang biasanya dimulai bulan Mei akan diundur dan mulai lagi 1 Juli 2020. Untuk sekolah Internasional, dipersilahkan mengatur tahun ajaran sendiri asalkan pelaksanaanya ya dari rumah masing-masing.

Dengan pengumuman ini, berarti sekolah dan lembaga kursus di Thailand diliburkan selama kurang lebih 100 hari. Selain aturan sekolah, kantor-kantor belum semuanya bekerja dari rumah. Beberapa orang yang kerjanya di mall tentunya sudah dirumahkan karena mall tidak boleh buka kecuali yang menjual makanan saja. Semua orang di luar rumah wajib memakai masker. Beberapa bis antar kota sudah berhenti beroperasi.

Continue reading “Physical Distancing dan Good Friday”