Perjalanan Phuket-Chiang Mai

Liburan kami selesai hari Rabu, tanggal 31 Juli 2019. Jadwal penerbangan berangkat jam 2 dari Phuket. Berdasarkan pengalaman waktu datang, butuh waktu hampir 2 jam dari mendarat sampai ke hotel, jadi kami siap-siap lebih awal dan memesan mobil jemputan untuk datang jam 9.30.

Packing pulang ke rumah itu selalu lebih mudah daripada berangkat, apalagi kami tidak membeli oleh-oleh. Saya baru packing pagi harinya hehehe (jangan ditiru yah).

Packing di pagi hari

Pagi itu Jonathan minta berenang sebelum sarapan. Karena sarapan memang baru tersedia jam 8 pagi, dan entah kenapa kami selalu bangun sebelum jam 7 di saat liburan, ya Jonathan dan papanya berenang dulu deh pagi-pagi.

Biasanya kami sarapan dulu baru mandi, tapi hari itu kami mandi dulu baru sarapan. Jam 8-an kami sarapan santai. Selesai sarapan, cek out hotel dan mobil jemputan sudah datang. Sekitar jam 10 kurang kami sudah berangkat ke bandara.

Untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan saat pulang, biasanya saya akan mengecek beberapa kali semua laci, lemari dan kamar mandi. Cek juga isi tas apakah semua dompet, hp dan passport masih ada di tas. Setelah yakin tidak ada yang ketinggalan baru deh tutup koper dan kunci.

Perjalanan ke bandara Phuket relatif lancar, sekitar jam 11-an kami sudah sampai. Waktu berangkat dari Chiang Mai, kami sempat disuruh menunggu untuk memasukkan bagasi karena kami datang 5 menit lebih awal dari jam cek-in di buka. Saya sempat mikir, kalau belum bisa masukkan bagasi, ya paling harus makan sambil bawa bagasi. Ternyata walau kami datang masih 3 jam sebelum keberangkatan ke Chiang Mai, kami bisa memasukkan bagasi langsung dan bahkan masuk ke ruang tunggu.

Ruang tunggu domestik Phuket Airport

Ruang tunggu domestik di Phuket ini cukup besar dan tidak ada sekat-sekat ruangannya. Ada banyak restoran di dalamnya, jadi sambil menunggu bisa makan siang dulu. Biasanya saya perhatikan hampir di setiap airport yang kami datangi ada McDonalds ataupun KFC, nah kemarin itu saya tidak menemukan sama sekali di bagian dalam. Ada beberapa restoran SubWay dan coffee shop. Sempat agak repot mencari makan siang Joshua, kami pikir menu telur dadar itu gampang dicari di mana saja, ternyata di airport domestik Phuket tidak ada yang jual telur dadar, adanya telur mata sapi. Makanan seperti spaghetti carbonara juga tidak ada. Untungnya Joshua masih cukup kenyang sarapan tadi pagi, jadi dia gak rewel kelaparan hehehe.

Main Tangram menunggu masuk ke pesawat

Harga makanan di Phuket relatif mahal, dan harga makanan di airport lebih mahal lagi. Biasanya, kalau ada KFC atau McDonalds sih kami memilih makan di sana, atau kalau jam terbangnya pas dengan jam makan siang, kami sudah akan memilih prebook meal. Tapi kali ini karena jam terbangnya sudah lewat jam makan siang, kami memilih makan di airport biar ada kegiatan juga dan gak terlalu lapar karena kelewat jam makan siang hehehe.

Ruang tunggu domestik airport Phuket ada banyak restoran di dalamnya

Kami bersyukur, selama kami liburan di Phuket, walaupun bulan Juli itu namanya sedang musim hujan, kami kebagian matahari cerah tanpa hujan sama sekali. Perjalanan berangkat dan kembali ke Chiang Mai juga tidak ada delay dan semua lancar. Di pesawat menuju Chiang Mai, Joshua sukses tidur, sepertinya sudah gak penasaran lagi dan mengerti tinggal pulang ke rumah hehehe. Pesawat mendarat jam 4 sore, setelah ambil bagasi, kami pesan taksi ke rumah. Di Chiang Mai ada taksi ke arah dalam kota 150 baht. Karena rumah kami dekat, kami cukup membayar 150 baht sampai ke rumah. Kalau jaraknya jauh atau bawaannya banyak, harus membayar sedikit lebih mahal. Sekitar jam 4.30 kami sudah sampai di rumah.

Hal yang perlu diingat untuk perjalanan lain kali: jangan lupa cek-in online 48 jam sebelumnya.

Joe dengan Joshua, saya dengan Jonathan

Semakin dekat dengan waktu keberangkatan, semakin sedikit pilihan tempat duduk. Waktu berangkat kami masih bisa membeli kursi dengan pilihan anak-anak duduk dengan Joe, dan saya diseberang. Waktu pulang, kami hampir lupa cekin dan ga ada pilihan lain, jadinya dapat 2 di kiri dan 2 di kanan, untungnya masih dalam baris yang sama.

Kalau kita perjalanan sendiri, mungkin tidak masalah ditempatkan di mana saja, tapi kalau bawa anak dan keluarga, lebih enak kalau bisa duduk dalam baris yang sama.

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah: pastikan menimbang bawaan sebelum berangkat. Waktu berangkat, timbangan kami lagi habis batere, saya kira-kira aja mikirnya 20 kg itu cukup untuk bawaan kami. Ternyata waktu ditimbang, kelebihan 2 kg. Untungnya, si mbak counter baik hati dan hanya mengingatkan lain kali manage bawaan sesuaikan dengan beban bagasi yang dibeli. Karena sudah tau begitu, waktu pulang kami beli yang 25kg.

Dari pengalaman terbang pada saat bukan jam makan, dipikir-pikir ada baiknya tetap memesan prebook meal terutama untuk anak-anak. Membeli makanan di pesawat seringnya udah kehabisan duluan walaupun kita bersedia membayar lebih mahal. Kalau berangkat dari rumah, bisa juga membawa bekal sesuai dengan makanan yang biasa di makan anak.

Namanya liburan, ada bagian lelahnya tapi ya nikmati saja. Pengeluaran juga pasti ekstra, tapi tentunya sudah ada anggarannya makanya kita berangkat. Rencanakan liburan dengan baik terutama anggarannya, supaya semua bisa menikmati dan gak perlu merasa bersalah kalau membeli makanan yang lebih mahal dari biasanya hehehe.

Cerita liburan Phuket selesai sampai tulisan ini. Lain kali saya akan tuliskan review pengalaman kami mengenai hotel yang kami tempati selama di Phuket.

Cerita Liburan Phuket Hari ke-3: Rawai Kids Park dan Pantai Rawai

Hari Selasa 30 Juli 2019, merupakan hari ke 3 dan sekaligus hari terakhir kami untuk eksplorasi Phuket. Karena sekarang ini lagi musim hujan dan banyak warning mengenai air laut yang sedang agak naik, kami tidak merencanakan untuk naik boat (selain itu Joshua juga selalu menjawab tidak mau kalau diajak naik boat). Jadi rencana hari terakhir ini kami akan eksplorasi sekitar hotel saja.

Pagi hari kami sarapan dulu dan berenang di hotel. Selesai berenang, kami ambil shuttle dari hotel untuk ke Pantai Rawai. Sebelum berangkat, saya baca ada tempat bermain anak-anak di dekat pantai Rawai yang juga ada restorannya. Karena sudah waktunya makan siang, kami memutuskan untuk belok ke arah Rawai Park tersebut.

Shuttlenya lebih besar dari bajaj/tuktuk

Ibu-ibu yang membawa shuttlenya baik hati, kami diantar sampai ke kids park. Kalaupun jalan, dari pantai ke kids park ini ya sekitar 500 m lah.

jam buka dan petunjuk dilarang bawa makanan masuk

Biaya masuk kids park ini untuk hari biasa 200 baht/anak untuk main sepuasnya. Orang dewasa dikenakan biaya juga 100 baht/orang. Untuk weekend dan hari libur, biaya anak-anaknya 350 baht, sedangkan dewasa sepertinya tetap 100 baht. Tempat ini cukup murah kalau dibandingkan tempat bermain di mall di Chiang Mai ataupun di Jakarta. Biaya 200 baht/anak itu bisa akses ke waterpark, playground outdoor, sand area dan juga tempat bermain indoor yang ber AC.

Menu makanan di restorannya harganya juga tidak terlalu mahal. Kami makan ber-4 sekitar 500 baht (ini tentunya tergantung dari porsi makanan yang dipesan juga).

main pasir sebelum makan

Sambil menunggu makanan datang, anak-anak main pasir dulu. Lalu setelah makan, anak-anak main di playground outdoor. Karena kami sudah berenang di hotel, saya tidak membawa baju ganti untuk bermain di area waterparknya. Jonathan kepingin main di waterparknya, tapi ya, mataharinya juga sangat panas waktu itu. Waterparknya kolam dangkal dengan slide dan sesekali ada busa disemprotkan ke kolam. Mungkin lain kali kalau main ke sana bisa dari pagi karena kalau saya baca websitenya mereka menyediakan sarapan jam 7 pagi.

waterpark keliatan dari restoran, tapi anak-anak gak mainan ini lagi karena sudah berenang di hotel

Selesai makan, anak-anak main di playground di luar, setelah itu karena panas kami masuk ke playground indoor.

Khusus ruang bermain indoor wajib menggunakan kaus kaki. Kalau tidak membawa kaus kaki, kita bisa membeli seharga 40 baht sepasang. Ruangannya cukup luas dan ada banyak pilihan mainan. Setelah agak lelah bermain, kami istirahat dan makan eskrim di area bermain outdoor. Setelah itu, kami pikir anak-anak sudah akan minta pulang, eh ternyata mereka minta masuk ke dalam lagi.

Sekitar jam 4.30 sore, akhirnya kami memutuskan membawa anak-anak jalan ke pantai. Joshua sudah terlihat mengantuk dan kecapean. Kami beli susu di family mart di seberang pantai Rawai dan bermain sebentar di pantai.

Pantai Rawai ini lebih besar daripada pantai Yanui, tapi ada lebih banyak perahu yang sandar di sana. Kami tidak menjalani keseluruhan pantai, jadi tidak melihat di bagian mana kira-kira anak-anak bermain air. Karena Joshua mulai terlihat makin ngantuk, akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel sekitar jam 5.

Karena Shuttle dari hotel hanya ada 1 arah ke pantai dan tidak sebaliknya, kami memanggil grab untuk pulang ke hotel. Sebenarnya kalau Joshua dalam kondisi tidak mengantuk, kemungkinan kami akan jalan pulang, karena jaraknya ke hotel hanya sekitar 1,3km dan jalannya biasa saja. Tapi gak mungkin menggendong Joshua sejauh itu, jadi kami naik Grab saja. Biaya Grab di Phuket tergolong mahal kalau dibandingkan dengan di Chiang Mai. Untuk sampai jarak tertentu sepertinya biaya minimumnya 370 baht.

Pulang ke hotel, Joshua masih melanjutkan tidurnya. Sepertinya dia benar-benar kehabisan tenaga setelah bermain berjam-jam di Rawai Park. Kami memutuskan untuk makan malam di hotel saja dan istirahat supaya perjalan pulang esoknya kami semua dalam keadaan segar.

Cerita Liburan Phuket hari ke-2: Aquarium, Mall dan Big Budha

Hari Senin 28 Juli 2019 merupakan hari libur di Thailand. Awalnya sempat khawatir kalau tempat wisata bakal ramai sekali, tapi ternyata perjalanan masih lancar dan tidak ada tempat yang terlalu padat.

Untuk perjalanan hari tersebut, saya menyewa mobil seharian dengan supir. Setelah cek harga di sana-sini, supir ini sama dengan yang menjemput kami dari bandara. Kalau airport transfer 800 baht (jarak airport ke hotel yang kami tempati hampir 50 km), nah untuk sewa mobil seharian dia bilang dari pagi sampai jam 7 sore (sekitar 10 jam) 2000 baht. Harga di web yang saya temui untuk sewa dengan supir sekitar 8 jam itu semuanya lebih dari 2200 baht.

Selesai sarapan, sekitar jam 9.30 kami sudah menuju Aquarium Phuket. Perjalanan dari hotel ke aquarium lancar dan jalanan relatif sepi. Karena kami punya tiket MusePass, kami tidak perlu membayar sama sekali. Jika harus bayar harga tiket masuk orang asing dewasa 180 baht dan anak-anak 100 baht. Harga orang lokal sekitar setengah dari orang asing.

video beberapa foto selama di aquarium phuket

Aquarium Phuket ini tempatnya lebih kecil dari aquarium Chiang Mai, di luarnya kita bisa berjalan menyusuri pinggiran pantai.

Foto sebelum masuk ke aquarium

Sayangnya di lokasi aquarium tidak ada restoran untuk makan siang, tapi ada coffee shop yang menjual snack, minuman dan es krim selain kopi setelah toko suvenir. Di toko suvenir ini ada puzzle abc yang bisa membuat Joshua betah lama bermain. Kalau orang lokal sini biasanya sudah persiapan bawa bekal untuk piknik, selesai melihat ikan mereka akan duduk dipinggir pantai sambil buka bekalnya.

Di aquarium phuket ada pertunjukan singkat yang juga berusaha mengajarkan kesadaran menjaga alam laut. Pertunjukannya ada animatronik mermaid gitu plus film singkatnya. Joshua agak takut melihatnya.

patung mermaid yang bersuara dan bergerak

Waktu kami ke sana, aquarium nya agak panas karena sepertinya AC nya rusak, tapi dibagian pertunjukan AC nya lumayan adem. Sekitar 1 jam, anak-anak mulai bosan keliling aquarium.

Belajar tentang umur sampah plastik – kesadaran lingkungan

Tujuan berikutnya mencari makan siang sekaligus ketemu teman saya di mall. Kesan tentang mall di Phuket: bagian food courtnya agak lebih mahal dari di Chiang Mai tapi lebih banyak pilihan makanan halal. Pilihan makanannya sama saja dengan di Chiang Mai, jadi lebih gampang memilih menu makan siangnya. Kami tidak menjelajah keseluruhan mall nya, karena kami menggunakan waktu makan sambil duduk ngobrol saja.

Oh ya, ketemu kak Imit dan keluarga ini bukan kebetulan. Jadi ceritanya, tahun lalu sudah diajakin ketemuan di Thailand selatan, tapi waktu itu kami belum bisa. Nah beberapa bulan lalu kak Imit kasih tau mereka berencana ke Phuket dan bertanya apakah kami ada rencana ke sana juga. Karena kebetulan kami belum ada rencana liburan, dan sudah 12 tahun menunda ke Thailand Selatan dengan berbagai alasan (dan pernah udah beli tiket ga jadi pergi karena belinya sebelum tahu hamil Joshua), jadi kami sempatkan kali ini untuk liburan ke Phuket sekalian ketemuan dengan kak Imit.

Selesai dari mall, kami melanjutkan ke view point Big Budha. Joshua ketiduran di mobil, dan walau sudah ditunggu sampai hampir 30 menit, dia nangis waktu dibawa turun. Akhirnya di Big Budha cuma sempat foto sedikit dan Joshua dibawa lagi ke mobil sama Joe. Saya dan Jonathan yang naik ke atas untuk foto-foto pemandangan kota Phuket dari atas. Bagian Big Budha sedang dalam renovasi, tapi tetap dibuka untuk umum.

Oh ya, untuk ke arah Big Budha ini, perjalanannya agak menanjak dan ada bagian yang kurang bagus. Masuk ke area Big Budha ada aturan pakaian yang tidak boleh terlalu terbuka, mereka meminjamkan sarung/scarf untuk menutupi bagian punggung atau kaki kalau ada yang terlalu terbuka. Banyak orang sembahyang ke sana. Tempat ini tidak memungut biaya alias gratis, tapi ada tempat untuk memberikan donasi jika kita ingin memberikan donasi untuk renovasi tempat ini. Waktu kami ke sana sudah agak sore tapi belum sampai matahari terbenam. Karena Joshua sudah agak rewel, kami tidak menunggu matahari terbenam. Kabarnya pemandangan matahari terbenam di Big Budha juga cukup indah.

Selesai dari Big Budha, kami pulang ke hotel. Kami pesan makan malam di hotel dan istirahat deh. Jonathan minta berenang lagi, tapi karena kami sudah lelah dan gak bisa menemani, kami suruh main di bathtub saja dan janjikan besok pagi berenangnya. Joshua sampai hotel sih udah tenang, apalagi setelah dikasih makan. Mainan di bathtub udah cukup buat dia hehehe.

Phuket hasil editan Google Photos

Berhubung waktu liburan gak bawa laptop, jadilah saya cuma bisa ngeblog 1 kali dari Phuket. Setelah kembali ke Chiang Mai, ceritanya akan saya lanjutkan sedikit demi sedikit. Sebelum ceritakan perjalanannya, saya mau berbagi foto-foto selama di sana yang diedit oleh Google Photos.

Sudah tahu belum, kalau foto-foto kita diupload ke Google Photos, nantinya dengan algoritma AI (artificial inteligence), Google akan mengedit sebagian foto kita dan membuatnya jadi lebih indah lagi hehehe (lokasi asli dilihat mata langsung tentunya masih lebih indah).

Foto-foto berikut ini diambil dengan HP Joe (iPhone XR), HP saya (Xiaomi Note 5), dan HP Jonathan(Xiaomi Redmi 4X). Foto Panorama yang ada merupakan panorama otomatis oleh Google. Yang kami lakukan cuma foto sekeliling dan upload ke Google Photos.

Pantai Yanui di siang hari
Panorama Pantai Yanui

Foto dan Panorama Pantai Yanui di atas difoto oleh Joe dengan iPhonenya. Setelah diedit oleh Google, saya lebih suka biru langit yang bukan panorama.

Pantai Yanui ini kategorinya pantai kecil. Tapi cukup buat bermain pasir dan tidak ada kapal yang bersandar di sana. Beberapa bagian berupa batu-batuan dan turis yang datang bisa snorkeling.

Jalan ke Prompthep Cape melihat ke arah Windmill

Dekat hotel kami tinggal, ada 2 tempat untuk melihat pemandangan. Kami berjalan kaki ke Promthep Cape, dan dari jalannya kami bisa melihat ke arah Windmill ViewPoint. Ini saya foto menggunakan iPhone Joe sambil istirahat dari perjalanan yang agak menanjak.

Pemandangan dari arah Mercu suar Promthep Cape

Prompthep Cape ini merupakan tempat paling selatan dari Phuket. Selain untuk melihat matahari terbenam, di sini juga ada mercu suar. Ini foto ke arah laut diambil dari dekat mercu suar. Foto ini juga diambil menggunakan iPhonenya Joe.

Menjelang Sunset dari Promthep Cape Restaurant

Kalau ini foto menjelang matahari terbenam yang diambil dari tempat duduk kami di restoran. Mataharinya terbenam ke balik gunung. Waktu kami ke sana, langitnya lagi agak berawan.

Perjalanan menuju View Point Big Budha

Salah satu view point untuk melihat Phuket adalah Big Budha. Sesuai dengan namanya, di tempat ini ada patung Budha yang sangat besar yang dari jauh bisa kelihatan. Foto ini diambil Joe menggunakan iPhone dari dalam mobil ketika sudah cukup dekat ke lokasi Big Budha.

View kota Phuket dari area Big Budha

Kalau ini foto ke arah kota Phuket dari area Big Budha. Foto ini diambil oleh Jonathan dengan HP Xiaomi Redmi 4X.

Panorama dari area Big Budha

Foto panorama dari area Big Budha ini saya yang foto dengan Xiaomi Note 5.

Rawai Kids Park Pool Area

Ini foto waterpark di Rawai Kids Park. Foto ini saya ambil dengan Xiaomi Note 5.

Rawai Kids Park ruang bermain indoor dengan AC

Foto Panorama ruang bermain yang ber AC di Rawai Kids Park, di foto pakai iPhone nya Joe.

Pantai Rawai di sore hari
Pantai Rawai di sore hari

Dua foto Pantai Rawai di atas diambil sekedarnya oleh Joe dengan iPhone sambil gendong Joshua yang mulai ngantuk, tapi setelah diedit oleh Google jadi terlihat lebih bagus hehehe. Pantai Rawai ini lebih panjang dari pantai Yanui, ada banyak kapal besar dan kecil sandar di sini.

Selain edit foto jadi lebih indah, Google Photos juga membuat movie, animasi dan kolase.

Kumpulan foto di Phuket Aquarium

Ini kumpulan sebagian foto di Phuket Aquarium yang dijadikan movie oleh google photos.

Mungkin buat yang udah jago fotografi, foto-foto hasil editan Google ini biasa saja ya, tapi kalau menurut saya sih ya lumayan lah mengingat ini diedit secara otomatis.

Kami membiasakan diri untuk upload foto setiap kali terhubung ke WiFi, dengan cara ini kalau misalnya HP rusak/hilang/gak sengaja terhapus, memorinya sudah tersimpan di Google Photos (harapannya sih HP nya tetap aman ya).

Cerita Liburan: Perjalanan Chiang Mai – Phuket dan Jalan-jalan hari ke-1

Untuk sementara saya berhenti dulu dengan tulisan bahasa Thai, karena sekarang ini kami sedang liburan ke Phuket.

Pantai Yanui Phuket

Setelah 12 tahun tinggal di utara Thailand, akhirnya kami sampai juga di kota Phuket yang lokasinya di bagian selatan Thailand ini. Yaaa seperti halnya ke Bali saja kami baru sekali, walaupun Phuket ini sama-sama di Thailand, kesempatan mengunjunginya baru datang sekarang.

Sebelum berangkat, saya baru menyadari kalau saya sama sekali belum pernah mencari tahu soal Phuket hehehe.

Setelah beli tiket, baru deh bingung mau di bagian mana Phuket nih tinggalnya. Ternyata ada banyak pilihan pantai untuk dikunjungi di Phuket. Phuket juga lebih besar dari Chiang Mai, bentuk wisatanya juga berbeda, kalau di Chiang Mai lebih banyak pegunungan, kalau di sini ya umumnya pantai dan olahraga air.

Karena kami tipe traveler yang maunya santai tanpa banyak itinerary, saya memilih lokasi hotel yang aksesnya dekat ke pantai. Cita-cita awalnya nyari hotel yang ada pantainya langsung, tapi harganya gak pas, akhirnya ya milih hotel yang jalan sekitar 4 menit ke pantai dan juga sekitar 1 km ke tempat yang ramai jadi tujuan wisata di Phuket.

Setelah semua di pesan online, hari Sabtu 27 Juli 2019 kami berangkat naik AirAsia. Dari rumah jam 10.40 pagi, proses drop bagasi selesai jam 11 lewat sedikit. Kami sengaja makan siang di bandara karena penerbangan nya jam 1 siang. Setiba di Phuket jam 3 siang, proses ambil bagasi cukup lancar dan langsung ketemu dengan supir yang sudah dipesan sebelumnya. Cuaca juga cukup cerah, mengingat Chiang Mai sedang gerimis ketika kami tinggalkan.

perjalanan airport menuju hotel

Joshua di pesawat menolak tidur siang, waktu sampai di Phuket dia mulai agak rewel karena mulai ngantuk dan capek. Untungnya dia tidur di mobil selama perjalanan ke hotel. Hotel pilihan kami lokasinya di paling selatan Phuket, bandara Phuket itu lokasinya di Utara, butuh waktu sekitar 2 jam dari mulai mendarat sampai akhirnya bisa nyaman di kamar hotel. Senangnya karena pesan 1 kamar tapi serasa dapat 2 kamar.

kamar hotel dengan 1 tempat tidur besar
bagian depan kamar hotel 1 single bed dan 1 sofa bed yang dipasang sprei juga
kolam renang di depan kamar, ada bagian khusus anak-anak juga
sedikit tempat bermain di depan restoran

Karena sudah jam 5 sore, kami yang awalnya berniat langsung ke pantai mengurungkan niat itu. Joshua juga sampai hotel minta main air di bathtub, sedangkan Jonathan minta berenang. Jadilah papanya nemenin Joshua main air, sedangkan saya nemenin Jonathan berenang.

Pelajaran dari perjalanan kemarin adalah:

  • baca baca dan baca tentang kota tujuan, semua informasi tempat wisata ada di internet
  • booking online biar dapat harga yang oke
  • baca review di trip advisor dan google map untuk tempat yang ingin dituju
  • kalau anak masih kecil sebaiknya hari perjalanan menuju kota tujuan dan jalan-jalannya dipisah, itinerary jalan-jalan juga jangan terlalu padat dan harus fleksibel
  • namanya aja liburan, tapi prakteknya karena anak-anak berada di lingkungan yang baru, bisa jadi mereka malah bikin kita tambah lelah hehehe
  • liburan itu menyenangkan anak-anak, kita ya otomatis merasa senang liat anak kita bergembira walaupun mungkin kitanya lelah
  • karena kami bukan orang yang hobi nyetir, kami memilih memesan mobil dengan supir supaya kami bisa ikut menikmati perjalanan. Memang sih lebih hemat kalau kita nyetir sendiri, tapi yaaa namanya liburan pasti ekstra biaya. Kalau kata Joe mending mrogram 2 jam daripada nyetir 2 jam hehehe. Pada akhirnya kenali jalan-jalan seperti apa yang cocok buat keluarga kita.

Haduh udah panjang aja nih ceritanya. Cerita hari ini lebih singkat dan saya bagikan dalam bentuk foto saja ya.

Kegiatan hari ini masih sekitar hotel. Pagi sarapan di hotel, abis sarapan anak-anak minta berenang. Sekitar jam 11 siang kami baru jalan ke pantai Yanui yang cuma 4 menit dari hotel. Jalannya tidak ada trotoar nya, tapi ya jarang dilewati mobil dan cukup lebar.

main pasir di pantai Yanui
sempatkan foto keluarga hehehe

Kami di pantai cuma sebentar, anak-anak cuma main pasir dan ga berani main air. Ombaknya ga tinggi tapi lautnya lagi berangin gitu deh. Sekitar jam 12 kami makan siang di sana. Selesai makan kami kembali ke hotel buat tidur siang.

Bangun tidur, kami memutuskan jalan ke Prompthep Cape untuk melihat sunset. Awalnya jalannya agak teduh, eh ternyata matahari masih menyengat dan jalannya juga menanjak. Salut sama Joe yang bisa bujukin Joshua jalan sendiri dan gak harus gendong. Jalannya lumayan naik, saya aja ngos-ngosan (ini sih kurang olahraga hehehe).

perjalanan dari hotel ke Promthep Cape
joshua disuruh mencari tanda 50 supaya tetap mau berjalan
foto-foto sambil jalan supaya gak terasa capeknya

Tadinya sempat terpikir apa turunnya pake Grab aja ya, tapi kata Joe turunnya harusnya lebih gampang dan cepat, apalagi udah gak panas.

Sampai di atas, kami foto-foto di mercu suar. Sayangnya ga bisa masuk ke dalam, padahal saya pengen lihat dalamnya mercu suar itu seperti apa.

Mercu suar di prompthep cape
foto di depan mercu suar
foto sambil nunggu makanan datang
restorannya outdoor jadi bisa sambil nunggu matahari terbenam

Selesai foto-foto, kami duduk manis di restoran menunggu matahari terbenam. Sebenarnya matahari terbenam tiap hari ya, tapi namanya lagi jadi turis, kita ikutan aja rame-rame lihat Sunset.

matahari mulai turun ke balik gunung

Seperti perkiraan, jalan turun lebih cepat, apalagi saya dan Jonathan ditawari naik di belakang mobil pick up terbuka. Pengalaman pertama tuh buat saya ditawari naik sama ibu-ibu orang lokal yang baik hati. Mungkin mereka kasihan liat Jonathan hehe, tapi Joshua dan Joe malah udah duluan sampe hotel dan ga ada yang nawarin tumpangan.

Sampai hotel, kami istirahat, mandi dan anak-anak udah langsung tidur deh. Besok rencana sewa mobil plus supir untuk eksplorasi Phuket yang agak jauh dari hotel.

Catatan Oprekan Liburan

Pulang ke Indonesia kali ini cukup lama dari tanggal 12 Desember 2018 dan baru masuk kerja besok, tanggal 7 Januari. Sebenarnya nggak banyak yang dioprek selama liburan ini, tapi ini sekedar jadi catatan, plus ada beberapa barang yang baru sampai ketika kami sedang di Depok yang siap dioprek bulan ini.

Liburan kali ini saya berusaha meminimasi bawaan, tapi tetap ingin bisa ngoprek hardware. Kali ini saya coba membawa Pi Zero W yang sudah diberi case USB, sehingga bisa langsung dicolok ke komputer untuk powernya. Saya juga sudah setup agar Pi Zero W-nya mengemulasikan USB Ethernet, jadi bisa langsung diakses dari komputer/laptop.

Ini saya pakai untuk iseng-iseng membaca data dari beberapa kartu NFC yang saya temui. Saat ini tidak ada temuan baru yang menarik.

Waktu libur saya sempat ngoprek dan nemu bug. Sementara ini saya nggak kasih tau dulu bugnya apa, tapi sayangnya tidak ada bounty dari perusahaan tersebut. Tapi ada teman saya di situ yang mengurusin security dan pinter bikin cake, jadi ditodong aja, hasilnya Cheese Cake ini.

Dari sejak beberapa tahun lalu saya teringat sebuah game lama, tapi lupa judulnya, dan bahkan lupa di platform mana (NES atau Sega Mega Drive, dulu punya 2 console ini). Yang saya ingat cuma satu: tokohnya membawa anjing dalam petualangannya, anjingnya bisa dibuat agar terbang mengelilingi tokohnya, terus terbang menerjang musuhnya. Karena sulit mencari deskripsi ini (dan adik-adik saya juga lupa), jadi saya putuskan untuk mencoba memainkan semua game NES dan kalau tidak ketemu, akan mencoba semua game Sega Mega Drive.

Saya menggunakan 3DS untuk mencoba-coba game-game NES-nya, jadi bisa dilakukan di mana saja. Saya juga membawa 3DS dalam liburan ini dan untungnya sampai huruf C sudah ketemu judul yang saya cari: Conquest of the Crystal Palace. Walau sudah menemukan ini, saya masih akan meneruskan mencoba semua game NES.

Ini adegan yang saya ingat

Sesampainya di Chiang Mai, sudah ada beberapa paket menunggu.

Nggak semua isi paket dibahas di posting kali ini

Yang pertama adalah decoder ring hadiah dari Flare-On. Jonathan sedang suka bermain-main sebagai detektif/spy dan senang memainkan ini.

Ini hadiah dari menyelesaikan flare-on 2018

Paket lainnya adlaah Foldscope, mikroskop origami kertas. Ceritanya mikroskop ini dibuat dengan biaya 1 USD (tentunya dijual dengan harga lebih dari harga pembuatan), tapi untuk bisa mendapatkannya tidak bisa beli satuan. Harga termurah adalah 35 USD (dapat 20 Foldscope) belum termasuk ongkos kirim.

Jonathan memakai Foldscope

Beberapa waktu yang lalu kernel Linux mensupport satu arsitektur CPU baru: C-SKY dari China. Ini mungkin akan menjadi arsitektur baru terakhir yang akan ditambakan ke Linux karena sekarang semua memakai arsitektur populer atau RISC-V yang terbuka. Karena penasaran saya membeli satu development board untuk CPU ini dan baru sampai ketika saya sudah di Depok. Saat inielum sempat dicoba lebih lanjut.

Booting CSKY
Ini boardnya

Demikian catatan oprekan kali ini. Semoga tahun ini akan bisa menulis lebih banyak oprekan lain.

Istana Anak-Anak TMII

Foto di depan Istana Anak-anak

TMII singkatan dari Taman Mini Indonesia Indah. Dulu taunya ya tempat melihat versi kecil dari Indonesia. Untuk masuk ke area TMII dikenakan biaya 25000/orang. Di dalam TMII ada berbagai tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Rasanya sehari tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat di dalam TMII.

Peta Taman Mini Indonesia Indah

Hari ini kami menghabiskan waktu hampir 5 jam cuma di bagian Istana Anak-Anak yang ada di TMII. Secara keseluruhan tempat ini cukup menyenangkan buat anak-anak bermain. Tiket masuk tidak mahal (10000 rupiah per orang) dan ada berbagai permainan ekstra dengan tambahan bayaran antara 5000 – 15000 rupiah. Kalaupun memilih untuk tidak menaiki wahana apapun, ada banyak area playground gratis dan panggung pertunjukan yang tidak bayar lagi.

Di dalam area Istana anak-anak ada beberapa toko yang berjualan makanan, cemilan, minuman dan es krim dengan harga di bawah harga mall. Sebelum pintu masuk juga ada beberapa jualan makanan dan minuman. Saya perhatikan, beberapa miniatur rumah daerah juga disulap menjadi tempat makan.

Beberapa penjual makanan sebelum pintu masuk Istana Anak-Anak.

Sebelum masuk ke dalam, saya pikir, kenapa ya gak dijual tiket terusan TMII, jadi kita bisa main apa saja sepuasnya tanpa harus mikirin bayar ini itu lagi. Tapi setelah kami menghabiskan 5 jam untuk 1 tempat, saya mengerti kalau dengan cara sekarang ini kita tidak harus bayar mahal, anak-anak bisa bermain sepuasnya. Kami hanya perlu membayar beberapa mainan saja di dalam Istana Anak-anak, karena walaupun ada beberapa wahana mini seperti di dunia fantasi dengan harga murah, anak-anak tidak tertarik menaikinya. Kalau anak tidak tertarik, tentu saja kita gak menawarkan hahaha.

Dari pengalaman hari ini, kami masih pengen ke TMII lagi tapi mungkin buat liburan berikutnya. Sedikit hal yang agak mengganggu saya ketika di Istana Anak-Anak ya, masalah asap rokok dan sampah. Saya tahu kalau ini masih masalah umum di Indonesia, tapi saya agak sedih melihat tempat bermain anak-anak di mana orangtuanya membuat anak-anak menjadi perokok pasif.

pengunjung ramai sekali

Untuk masalah sampah, kalau dulu mungkin masalahnya kurangnya tempat sampah. Hari ini saya perhatikan kalau tempat sampah sudah cukup banyak, tapi sepertinya mungkin masalah kebiasaan orang yang terlalu banyak datang ini bukan tipe orang yang biasa membuang sampah pada tempatnya kali ya. Kadang saya herannya ada tempat sampah sangat dekat, tapi ada saja yang meninggalkan sampahnya di dekat tempat sampah itu. Padahal tinggal 1 langkah lagi mungkin dia bisa memasukkan sampahnya ke dalam tempatnya.

Dipikir-pikir, daripada bermain ke playground mall, main ke tempat ini lebih puas bermain dan gak merobek kantong hehehe. Tadi udaranya juga cukup baik, matahari bersinar tapi ada angin yang berhembus memberikan rasa adem. Ramalan cuaca akan hujan, tapi ternyata gerimisnya datang setelah kami sudah di jalan pulang. Harapannya semoga tempat ini harganya kalaupun naik ga banyak naiknya, tapi ya perawatannya juga semakin baik dan siapa tahu dikemudian hari ada larangan merokok di kawasan bermain Istana Anak-anak ini.