Ayo Menulis Setiap Hari bersama KLIP

Udah bosan baca berita dengan judul yang dilebih-lebihkan? Udah bosan baca hoax? Udah bosan baca berita yang simpang siur? Sekarang waktunya kita yang menulis, supaya berita di Internet isinya lebih bervariasi.

Gak usah bingung mau nulis apa, kita bisa menuliskan mulai dari apa yang menjadi hobi kita, buku yang kita baca, kegiatan menarik untuk keluarga dan anak yang kita lakukan, film yang kita tonton, produk menarik yang kita pakai, merekomendasikan hal-hal yang kita anggap layak untuk direkomendasikan, atau bisa juga sekedar puisi dan curhat colongan. Daripada pusing kepala melihat berita yang ada, lebih baik menulis di halaman sendiri. Berbagi cerita ataupun informasi.

Menulis setiap hari itu awalnya terasa sulit, apalagi kalau sendiri. Tapi kalau menulis dengan ada komunitas yang saling mengingatkan dan menyemangati, lama-lama rasanya ada yang hilang kalau gak menulis 1 hari.

sumber: FB KLIP

Kelas Literasi Ibu Profesional tahun 2020 masih menerima pendaftaran sampai tanggal 20 Maret 2020. Masih ada waktu kalau mau bergabung untuk menulis setiap hari.

Lanjutkan membaca “Ayo Menulis Setiap Hari bersama KLIP”

Baca buku: Kim Ji-Yeong Born 1982

Setelah minggu lalu bolos baca buku, kemarin bolos nulis karena memutuskan baca buku Kim Ji-young, Born 1982 sampai selesai. Bukunya sebenarnya tipis, cuma 196 halaman sudah termasuk halaman-halaman yang tidak perlu dibaca. Tapi karena memulainya sudah sore, dan tanggung bacanya, jadilah memilih meneruskan membaca daripada menulis.

cover buku Kim Ji Yeong, sumber: Gramedia Digital

Buku ini aslinya berbahasa Korea, terbit tahun 2016 oleh seorang wanita Korea: Cho Nam-joo, yang pernah bekerja sebagai penulis skrip acara TV. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di tahun 2019 dan saya bacanya di Gramedia Digital.

Kisah dalam buku ini sudah diangkat menjadi film, tapi saya belum menonton filmnya. Tulisan ini merupakan kesan yang saya dapat dari baca bukunya. Terjemahannya terasa cukup enak dibaca, dan emosinya bisa bisa membuat saya merasa seakan-akan buku fiksi ini adalah kisah nyata dari seorang wanita yang lahir dan besar di Seoul, Korea di tahun 1982.

Walaupun buku ini berjudul Kim Ji-Yeong (KJY), tapi saya mau menuliskan kesan tentang wanita-wanita Korea lainnya yang diceritakan dalam buku ini. Selain kisah hidup KJY sejak lahir sampai tahun 2016, ada 3 wanita lain yang diceritakan dalam buku ini yang situasinya mirip dengan KJY: Ibunya Oh Man-Suk, Ketua tim di kantor yang bernama Kim Eun-sil dan istri dari psikiater yang membantunya mengatasi depresi.

Lanjutkan membaca “Baca buku: Kim Ji-Yeong Born 1982”

Udah Ikut KLIP Belum?

KLIP singkatan dari Kelas Literasi Ibu Profesional. Program KLIP 2020 masih seperti tahun 2019 merupakan wadah untuk melatih konsistensi menulis setiap hari selama setahun. Tapi tenang saja, kalau belum ibu-ibu juga boleh gabung kok, tapi memang program ini khusus untuk perempuan.

Mungkin ada yang akan berpikir: aduh nulis tiap hari? mana sempat, banyak urusan lain yang perlu dilakukan, dan mau nulis apa tiap hari? Katanya kan gak baik kalau semua dituliskan di media sosial? Ntar ada orang kepo yang jadi tahu informasi detail kita dan disalah gunakan. Bahaya ah nulis tiap hari, pusing ntar nyari topiknya. Ini salah satu pikiran saya sebelum saya menantang diri sendiri menulis tiap hari.

Tapi program KLIP ini beda. Tidak ada keharusan menulis topik tertentu, kita yang membatasi diri kita di mana kita ingin posting. Tujuan utamanya ya membuat kita membiasakan menulis. Kita yang membatasi informasi apa yang mau kita bagikan ke publik atau cuma dituliskan di googledocs yang hanya bisa dilihat admin. Atau bahkan kalau nulis di diary lalu di foto dan fotonya saja yang diupload ke google doc juga bisa kok. Tidak suka menulis? ya mungkin grup ini bukan buat Kamu kalau gitu hehehe.

Terus kenapa harus setoran sih? kan kadang-kadang ada yang rajin aja gitu nulis tiap hari, tapi suka lupa untuk menyetorkan tulisan. Yaaa kalau gak disetorkan ke dalam form, gimana caranya mbak-mbak pengurus tau kalau kita nulis atau nggak? Makanya kita cuma perlu setor 1 kali sehari. Buat yang tiba-tiba rajin nulis 10 tulisan dalam 1 hari, ya setorannya 1 tulisan per hari dalam 10 hari ke depan juga boleh. Asal jangan menyetorkan tulisan yang sama dalam 10 hari ya (walaupun ini tidak disarankan hahaha).

Walaupun kita disemangati untuk menulis tiap hari, tapi sebenarnya target minimum itu 10 tulisan perbulan. Berarti rata-rata bisa menulis 1 tulisan per 3 hari. Kalau ada bulan yang nggak bisa nulis 10 tulisan gimana? ya tidak apa-apa juga, coba lagi bulan depannya. Dalam setahun usahakan aja bisa nulis 10 tulisan/bulan selama 7 kali. Artinya paling tidak sepanjang 365 hari, kita sudah menulis 70 tulisan.

Tulisannya harus ada batas minimum jumlah katanya nggak? jawabnya nggak. Tulisannya juga bebas kok, bisa berupa puisi atau bahkan status facebook. Pokoknya nulis! Kembali ke kita sendiri, puas gak kalau nulisnya cuma 2 kalimat? Biasanya sih, mulai aja nulis 1 paragraph, nantinya ide untuk paragraph berikutnya pasti berdatangan, dan tiba-tiba kita gak bisa berhenti hahaha.

Mungkin akan ada yang berpikir: ah bulan Januari udah gak bisa 10 tulisan lagi, ga jadi ikut ah, tahun 2021 aja ikutannya. Jangan salah, tahun 2020 masih ada 11 bulan lagi kalau pun Januari tidak bisa nulis minimum 10 tulisan. Mulai aja nulis, biasakan dari sisa bulan Januari ini, dan menyiapkan diri untuk menulis tiap hari di bulan Februari. Grup KLIP masih menerima pendaftaran sampai bulan Maret 2020 untuk program tahun ini.

Satu hal yang paling saya tunggu-tunggu dari grup KLIP ini adalah WAGrup nya. Khusus Januari ini memang belum ada WAG nya, tapi kalau bulan ini berhasil nulis minimum 10 tulisan, bulan depan bakal bisa gabung di WAgrupnya. Nantinya, tiap bulan akan disaring lagi untuk bulan berikutnya. Kalau bisa konsisten tiap bulan nulis minimum 10 tulisan, artinya bakal bertahan terus di WAGrupnya.

Ada apa di WAGrup KLIP? Ada banyak teman-teman yang sama-sama berjuang melatih konsistensi menulis. Akan ada yang setiap hari bertanya-tanya mau nulis apa hari ini ya (ini sih saya biasanya). Ada juga berbagi informasi perlombaan menulis, atau bahkan bisa ada sesi tanya jawab dengan teman sesama anggota yang sudah menerbitkan buku. Dan tentunya ada yang jadi cinderella alias buru-buru nulis menjelang tengah malam untuk disetorkan (ini juga saya hahaha).

piagam dari KLIP – bisa begini berkat WAGrupnya hehehe

WAGrup ini sifatnya tidak wajib kok, kalau misalnya ada yang merasa hp sudah kebanyakan WAGrup dan tidak ingin gabung walaupun berhak masuk, ya tidak masalah juga. Tahun 2019 saya berhasil konsisten menulis tiap bulan juga berkat WAGrup KLIP. Setelah setahun bersama-sama dengan teman-teman KLIP, saya merasa Januari ini agak berat karena terasa ada yang hilang dari kebiasaan bikin ribut di WAG hehehe.

Bulan ini saya sudah mengamankan target menulis, supaya bisa masuk WAG di bulan Februari. Ayoo yang udah gabung KLIP dan belum 10 tulisan, semangaaat, masih ada 9 hari ke depan untuk mencapai target minimum. Untuk yang belum bergabung, bisa baca-baca informasi lengkapnya di FB Grup KLIP dan di tulisan ini dan siapkan diri untuk ikuti tantangan menulis bersama-sama kami.

Oh ya, mungkin akan ada yang bertanya-tanya: tantangan menulis ini ada hadiahnya apa? Hadiahnya tentu saja kepuasan pribadi dan teman-teman baru sesama penggemar literasi. Karena selain tantangan menulis, tahun 2020 ini ada tantangan membaca buku juga. Lalu ada kesempatan untuk memilih tulisan yang kita anggap terbaik dari minggu sebelumnya. Dengan berbagi link di grup, berarti juga menambah pembaca blog kita (kalau yang menulis di blog). Yuk yuk ditunggu ya untuk latihan konsistensi menulis bersama KLIP.

Refleksi: Sehari Satu Tulisan 2019 bersama KLIP

Gak terasa, hari ini sudah hari terakhir untuk mengumpulkan tulisan untuk program sehari satu tulisan 2019 bersama KLIP. Apaan sih KLIP itu? Mungkin ada yang bertanya-tanya selama ini kenapa ada di setiap postingan saya.

KLIP itu singkatan dari Kelas Literasi Ibu Profesional. Terus mungkin ada yang mikir: apakah yang tergabung di sini hanya boleh ibu-ibu saja (sudah menikah?) jawabnya tidak harus ibu-ibu, tapi syaratnya wanita. Atau mungkin ada yang bertanya-tanya apakah yang bergabung di sini maksudnya ibu-ibu bekerja? gak juga, bebas ibu bekerja maupun ibu bekerja di rumah. Terus kenapa namanya ibu profesional? Karena awalnya terbentuk komunitas ini dari komunitas ODOP99days (one day one post selama 99 hari dalam setahun) yang dibentuk oleh komunitas Ibu Profesional.

Terus apakah setelah setahun menulis semua otomatis jadi ibu profesional? haish mana ada sih yang otomatis, dan ini cuma kelas literasinya, untuk orang-orang yang suka menulis atau suka curhat dalam bentuk tulisan juga boleh.

Nah kembali ke awal. Jadi setelah setahun (ya walaupun belum 365 hari, tapi anggaplah sudah setahun ya), gimana pencapaian selama ini? Sudah nulis apa saja?

Pencapaian 2019

Buat saya pencapaian terbesar adalah berhasil mengisi blog ini secara konsisten dan bahkan ada beberapa kali bisa menulis 30 hari dalam sebulan (sebelumnya bertahun-tahun blog ini gak saya isi). Beberapa topik yang terbanyak itu cerita mengenai tempat wisata maupun event di Chiang Mai dan memulai posting belajar tulisan Thai (walau belum selesai), keisengan belajar bahasa (memulai belajar bahasa Korea dan iseng sempat belajar bahasa Belanda dan Rusia pakai aplikasi), review aneka hal mulai dari aplikasi, buku, gadget, film dan tentunya cerita seputar kdrama.

Kalau dulu, disuruh nulis setiap hari, pasti saya akan langsung bilang: aduh mau nulisin apa sih di blog? ntar yang baca bosen loh. Tapi ternyata dengan sedikit memaksakan diri, setiap hari bertanya: nulis apa ya hari ini? ternyata ada aja hal yang bisa dituliskan. Sebenarnya ada lebih banyak lagi hal yang pingin dituliskan, tapi terkadang kalau menuliskannya tidak langsung selesai, mood untuk meneruskan tulisan sudah hilang.

Dengan kegiatan menulis ini, saya juga jadi menemukan komunitas yang saling menyemangati. Jadi KLIP ini selain ada di FB juga ada di WA Group. Dari WAG KLIP saya jadi berkenalan lebih banyak dengan wanita-wanita yang multitasking dan tidak pernah berhenti belajar. Makanya nih beberapa tulisan tahun ini juga dari keisengan belajar bahasa atau nyoba-nyoba aplikasi. Kadang-kadang memaksakan menyelesaikan baca buku juga biar bisa dituliskan (walaupun ini masih kurang banyak hasilnya).

Target yang Belum Kesampaian di 2019

Nah setelah menulis banyak, dan melihat teman-teman di group yang tulisannya bagus-bagus, ada perasaan: wah saya bisa gak ya kayak gitu? menulis itu ternyata bukan hanya butuh konsistensi, tapi juga harus selalu berlatih. Gak bisa deh jadi penulis yang moody, harus bisa menyediakan waktu dan kerangka berpikir yang baik. Aduh ini sih udah belajar dari jaman sekolah dulu, tapi entahlah kenapa saya sungguh sulit menulis dengan mengikuti kerangka karangan. Berarti PR buat saya adalah latihan menulis mengikuti kerangka karangan.

Target lain yang juga belum kesampaian itu pengen menulis fiksi. Bukan buku, tapi sekedar nulis-nulis aja entah itu cerpen atau cerbung. Tapi tulisannya yang 100 persen fiksi – dan bukan dari kisah siapa-siapa. Tapi karena selalu ada perasaan: aduh ntar ini jadi kayak cerita si itu atau wah ini kok kayak kisah nyata si anu dan takut dia tersinggung, akhirnya gak jadi-jadi. Mungkin harus belajar bikin dunia imajinasi 100 persen dengan kemampuan yang tidak nyata? – ah ini mah tambah susah kali.

Rencana Menulis 2020

Nah ini sungguh sulit. Belakangan ini lagi dilanda kemalasan luar biasa untuk menulis di blog (padahal Facebook juga ga diupdate udah beberapa bulan). Jadi sepertinya untuk mengalahkan si malas, mari kita pasang target baru lagi. Tentunya dengan tetap mengikuti program KLIP 2020 yang sedang disusun oleh tim admin.

Satu lagi yang ingin dilakukan itu mencari teman buat nulis bareng estafet. Jadi pernah kepikiran, latihan nulis fiksi dengan bergantian meneruskan cerita yang dituliskan orang lain. Misalnya tiap orang dibatasi selama 5 menit. Kalau ada 3 orang dan dikerjakan selama 30 menit, kira-kira ceritanya akan seperti apa? Ceritanya menulis bebas aja, penasaran apakah ceritanya akan sesuai dengan imajinasi awal penulis pertama, atau jadi bisa dikembangkan lebih lagi. Ada yang mau mencoba menulis bareng saya?

Selain rencana-rencana yang ditulis ini, ada niat merapihkan blog-blog saya yang lain yang pernah ditulis. Belakangan ini hobi merajut dan menjahit sudah dimulai, jadi ya bisa juga beberapa tulisan akan muncul di blog saya yang risna.info.

Akhirnya tulisan ini selesai juga. Terimakasih untuk teman-teman di KLIP terutama para admin yang sudah membuat saya harus merenungkan perjalanan menulis ini hehehe. Buat pembaca yang budiman, walaupun ini tulisan setoran terakhir KLIP tahun ini, bukan berarti ini tulisan saya terakhir tahun ini ya, siapa tahu setelah gak wajib setoran saya masih pengen nulis-nulis tahun ini hehehe.

Yang pasti 2020, Joe juga akan lebih rajin menulis di sini. Saya tau darimana? karena sejak saya rajin mengisi blog ini, dia malah gantian kurang rajin ngisi blog. Beberapa hal di tahun 2019 ini mungkin terlewat tidak/belum kami tuliskan (karena saya tipe malas nulis yang udah kelewatan), nanti biar Joe aja yang tulis yang udah lewat hehehe.

Terimakasih sudah membaca tulisan ini sampai selesai, dan nantikan cerita-cerita kami selanjutnya.

iseng foto di salah satu mall di Chiang Mai

Beli Buku Bonus Ilmu buat Ibu dan Calon Ibu

Masih ingat buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang pernah saya review sebelumya? udah jadi baca belum?

kalau mau baca review lainnya liat di instagramnya ya

Sedikit resume cerita, buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku ini buku yang menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang punya karir bagus lalu dihadapkan dengan pilihan dalam hidup dengan tanggung jawab yang lebih besar terhadap anak. Bukunya berisikan drama kehidupan yang sangat nyata untuk ibu-ibu muda termasuk masalah si mbak asisten yang mudik dan tak kembali. Dalam buku ini diceritakan bagaimana seorang wanita yang sukses dalam karir bertransformasi menjadi ibu rumahtangga yang awalnya sangat stress dengan semua yang terasa baru dan akhirnya bisa menjadi lebih baik setelah menemukan tips dan trik untuk mempermudah pekerjaan sebagai ibu di rumah. Yang menarik, tips-tips dituliskan bukan seperti membaca buku manual tapi masih tetap dengan cara bercerita keseharian. Tips yang bisa ditemukan termasuk cara mengurus cucian dari menjemur sampai menyetrika, mencuci piring, sampai pengelolaan waktu. Review lengkap semi curcol nya bisa di baca di tulisan sebelumnya.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa dan bisa mengerti situasi ibu-ibu punya anak ada ataupun tanpa asisten. Buku ini juga penting dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga.

Kalau belum jadi baca dan mulai penasaran, jangan ditunda lagi segera beli sekarang juga. Kenapa harus sekarang? karena dengan beli 1 buku, selain dapat ilmu dari bukunya juga lagi ada promosi bisa dapat ilmu tambahan dengan kesempatan mengikuti 4 kulwap dengan topik-topik yang perlu diketahui sebagai ibu (dan calon ibu). Kalau yang beli buku ini pria, bisa kasih kesempatan ikutan kulwapnya ke pasangannya, kakaknya, adiknya atau wanita terdekat yang dirasakan butuh (karena kulwapnya khusus untuk wanita).

Apaan sih kulwap itu? Kulwap itu singkatan dari Kuliah via WhatsApp, jadi gak perlu pergi kemana-mana dan materinya bisa diikuti dari manapun sambil dasteran di rumah. Kalau ga sempat ikutin pada saat kulwap berlangsung, ilmunya bisa dibaca kemudian kok. Pembicara/nara sumbernya biasanya orang yang berbagi ilmu dan ada sesi tanya jawab.

Narasumber kulwapnya 4 emak-emak yang juga psikolog

Nih informasi lengkap mengenai kulwap bonus dari buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku:

“Seorang ibu yang kuat bukanlah ibu yang tidak pernah meminta bantuan orang lain. Tapi ibu yang tahu kapan dia membutuhkan orang lain dan memiliki keberanian untuk mengekspresikannya.

Karena dibutuhkan satu desa untuk bisa membesarkan anak dengan baik. Maka, dibutuhkan juga satu desa untuk menghasilkan ibu yang baik pula.”

-Anna Maghusser-
Www.mother.ly

Kulwap ini hadir untuk memfasilitasi kebutuhan ibu akan hadirnya profesional melalui metode yang bisa diperoleh sambil mengerjakan tugas utama di rumah (dan bahkan sambil dasteran sekalipun) untuk membahas masalah sehari-hari. Nih catat topik, tanggal dan waktunya:

  1. Cara mengatasi stress pada ibu rumah tangga
    Pembicara: Citra Pratiwi, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Klinis Dewasa
    (Tanggal 23 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  2. Saat ibu ada dipersimpangan (Cara mengambil keputusan yang efektif)
    Pembicara: Ernawati, M.Psi., Psikolog
    (Tanggal 29 Oktober 2019 jam 9.00-11.00)
  3. Managemen Waktu bagi Ibu rumah tangga
    Pembicara: Feny Citra, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 30 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  4. Komunikasi dengan pasangan
    Pembicara: Ratih Sondari, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 31 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)

Bagaimana cara ikutan?
Biasanya untuk ikut 4 kulwap ini, anda perlu membayar Rp. 199.000.

Tapi kali ini, bisa didapatkan GRATIS.
Ya GRATIS!!!

Anda cukup membeli buku “Kupilih Jalan Terindah Hidupku” seharga Rp. 38.000 dan langsung bisa mendapatkan satu tempat duduk di masing-masing kulwap di atas.

Jadi, tunggu apa lagi?
Silahkan pesan bukunya dan daftar melalui WA ke +6282113997086

Persediaan terbatas! Jadi jangan sampai ketinggalan.

Review Buku: Catatan Harian Menantu Sinting

Ini salah satu buku genre MetroPop yang tidak sengaja saja temukan di ipusnas. Setelah selesai baca, saya baru tahu kalau buku ini awalnya juga dimulai dari wattpad. Saya tertarik membacanya karena kisahnya tentang wanita Batak menikah dengan orang Batak dan pernah tinggal serumah dengan mertua perempuannya yang pastinya orang Batak juga. Setelah mereka pisah rumah, mertuanya masih rajin juga datang ke rumah mereka, jadilah kerunyaman menantu dan mertua berkelanjutan, apalagi dengan penantian 8 tahun menunggu punya anak, jadilah mertuanya tambah bikin kesel dengan tuntutan supaya cepat-cepat punya anak dan segala mitos seputar orang hamil.

Penulisnya juga orang Batak

Saya tidak kenal sih dengan penulisnya, dan kurang tahu juga apakan ini berdasarkan kisah nyata. Tapi ya, mungkin buat yang tinggal sama mertua bisa merasakan beberapa hal terjadi juga. Saya walau Batak tidak menikah dengan pria Batak dan tidak pernah tinggal dengan mertua, kebetulan mertua saya juga baik-baik saja. Walau kami agak lama punya anak, mertua saya gak jadi mengesalkan nyuruh cepat-cepat punya anak. Di satu titik sebelum 50 halaman membacanya, saya merasa banyak bagian cerita yang kurang lucu karena terlalu berlebihan.

Secara umum ceritanya lucu, dialog-dialog ala Batak dengan bantuan footnote yang banyak cukuplah buat pembaca non batak mengerti, walaupun saya yakin kelucuannya akan terasa berkurang ketika harus mengecek maksud dari kata ‘apa’ yang terlalu banyak digunakan mertua si Minar. Tapi bagian yang bikin saya agak malas-malasan menyelesaikan buku ini adalah terlalu banyak bagian vulgar yang sebenarnya bisa saja dihilangkan tanpa mengurangi kesan kalau mertua si Minar ini sungguh luar biasa nyentrik dan cepat menghabiskan stok sabar menantu. Setelah selesai membaca, waktu saya mencari tahu lebih lanjut tentang buku ini, ternyata ada rating 21+, jadi ya… salah saya sendiri gak cari tahu tentang bukunya sebelum membaca ya. Buku ini cuma 231 halaman, tapi butuh beberapa hari menyelesaikannya. Beda dengan buku Resign! dan Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang buat saya lebih bikin penasaran dan bisa selesai dalam waktu 1 hari 1 buku.

Daftar isi

Kalau dilihat dari daftar isinya, sebenarnya judulnya bukan menantu sinting, tapi mertua yang bikin menantu sinting. Tapi ya, saya bisa mengerti kalau lebih sopan judulnya menantunya yang sinting daripada mertuanya.

Beberapa bagian dalam buku ini juga memberikan gambaran kelakuan orang Batak, misalnya pentingnya anak laki-laki buat orang Batak, penamaan yang berubah setelah mempunyai anak atau cucu, beberapa perubahan cara menyebut nama kalau terlalu susah di lidah menjadi ucok dan butet. Penjelasan tentang sapaan di keluarga Batak juga ada di buku ini. Untuk orang yang bukan Batak, selesai membaca buku ini kemungkinan bertambah kadar kebatakannya dengan huruf e tajam di sana sini.

Sebenarnya saya kurang suka menulis kritik, tapi ya mungkin ini namanya opini ya. Walaupun banyak yang memberikan pujian lucu dan kocak, tapi buat saya buku ini kurang direkomendasikan, apalagi kalau gak biasa dengan istilah Batak. Saya menuliskan ini siapa tahu ada yang berharap banyak dari buku ini dan ternyata gak sesuai dengan harapan. Hal-hal yang bikin saya kurang cocok itu antara lain:

  • saya gak menemukan si Minar ini boru apa. Padahal di dalam cerita, ada nama lengkap Sahat dan Mamaknya. Mungkin saya yang kelewat?, gak penting? ya pentinglah biar tau Minar ini asli Batak atau pura-pura Batak (hahaha apaan sih komentar gak penting juga).
  • Terlalu banyak generalisasi tentang orang Batak di buku ini. Saya kuatir kalau ada orang non batak mau nikah dengan orang Batak jadi keburu salah paham dan ambil asumsi yang salah. Misalnya nih ya tentang orang Batak makan daging anjing, ya… walaupun itu fakta, tapi saya gak pernah melihat ada orang Batak yang tiap lihat anjing hidup langsung menetes air liurnya dan pengen masak langsung itu anjing. Kalau udah terhidang aja kali di meja makan baru di makan.
  • Mertua si Minar ini ceritanya tinggal di Jakarta, kayaknya sejauh saya mengenal orang-orang Batak yang tinggal di Jakarta ataupun Bandung, mereka udah lebih modern dan ngomongnya udah gak Batak kali. Entahlah ya, kalau ternyata saya aja yang udah kurang banyak bergaul dengan orang batak. Tapi saudara-saudara saya yang Batak ada banyak banget tinggal di Jakarta, dan mereka udah gak kentara lagi loh bataknya kalau ngomong bahasa Indonesia.

Tapi ya sekali lagi, namanya juga review saya ini sifatnya opini, apa yang kurang pas buat saya bisa jadi lebih dari cukup buat yang lain. Kalau mau mencoba melihat sedikit isi dari buku ini sebelum repot-repot minjam di ipusnas ataupun membelinya, bisa baca sebagian isinya di wattpadnya. Untuk membacanya bisa dari browser tanpa harus login kok.

Sepertinya cukup dulu baca buku genre MetroPop nya, mau cari buku anak-anak dululah di ipusnas. Kalau ada yang punya rekomendasi, tuliskan di komentar ya.

Review Buku: Kupilih Jalan Terindah Hidupku

Sudah 2 hari bolos nulis blog, ceritanya di grup KLIP ada yang share novel tentang dunia kerja, terus ternyata bukunya ada di app ipusnas. Ternyata karena ceritanya menarik, keterusan baca deh. Buku 200 an halaman selesai 1 hari (biasanya baca buku 1 bulan gak selesai haha). Tapi emang buku yang dibaca novel bahasa Indonesia jadi lebih cepat bacanya. Saya lupa terakhir baca novel bahasa Indonesia itu kapan.

Cover buku di aplikasi ipusnas

Kemarin, mbak Erna teman di grup menulis KLIP kasih tahu kalau bukunya yang baru terbit November 2018 lalu ada di ipusnas juga. Beberapa waktu lalu ada acara giveawaynya tapi gak bisa ikutan karena ntar pasti susah ongkir, terus mikirnya ntar aja nyari pas pulang. Tertarik beli karena kami di grup dapat cerita proses penulisan buku sampai terbit itu berapa lama dan bagaimana. Nah, waktu dikasih tau ada di ipusnas, saya langsung pinjam biar gak kehabisan stok.

Pengalaman baca di hari pertama, baca e-book di layar hp itu sungguh menyiksa. Jadi buat baca buku ini saya pinjam ipad Joe biar puas layarnya hehehe. Ternyata bacanya lebih cepat dari buku sebelumnya (buku sebelumnya ditulisnya besok aja ya). Saya mulai baca buku ini jam 3.30 sore waktu nungguin Jonathan les, eh waktu Jonathan selesai les udah selesai hampir setengahnya. Pulang ke rumah harus sediakan makanan dan makan malam dulu. Padahal hati ini penasaran. Selesai makan dan beberes semuanya, baru bisa baca lagi. Buku setebal 200 an halaman ini selesai hari itu juga. Bangga dengan diri sendiri tiba-tiba rajin baca hahaha.

Ah kebanyakan pengantar belum sampai ke review buku deh. Buku ini awalnya saya pikir kisah nyata, tapi waktu baca nama tokohnya loh kok namanya Mia bukan Erna. Terus baru menyadari kalau ini fiksi. Ceritanya diawali tentang seorang wanita bernama Mia yang punya tanggung jawab di kantor dan punya 2 anak di rumah. Walau saya tidak punya masa galau harus memilih pekerjaan dan anak, tapi saya bisa melihat kalau cerita ini bukan fiksi yang mengada-ada. Cerita ini bisa jadi kisah nyata kehidupan seorang wanita bekerja yang juga merangkap sebagai ibu muda. Mungkin bukan kisah nyata penulis, tapi bisa jadi kisah nyata seseorang deh.

Awal buku penuh drama

Setengah buku pertama bercerita drama suka duka dan perjuangan seorang ibu muda. Kegelisahan hati antara tanggung jawab di kantor dan di rumah. Keharusan memilih antara karir di kantor atau mengasuh anak, ditambah dengan bumbu salah paham dengan mama yang bantu jagain anak dan rasa cemburu karena anak sulung lebih dekat dengan neneknya, dan drama semakin lengkap dengan mbak yang ijin mudik dan tak kembali karena memutuskan kawin di kampung.

Kegalauan seorang Mia ini bukan hal yang baru dikalangan ibu-ibu muda. Dilema karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah dan keinginan untuk tetap berkarya di kantor terutama juga untuk membantu kebutuhan finansial keluarga.

Kesalahpahaman dengan ibunya yang akhirnya ngambek dan ga mau tinggal di rumahnya dan tidak adanya mbak yang membantu mengurus rumah, akhirnya membawa Mia menetapkan hati untuk memilih meninggalkan kantor dan fokus dengan keluarga.

Mungkin buat yang belum mengalami, atau buat yang tidak pernah mengalami, akan berpikir: ah enak ya berhenti kerja, di rumah kan gak ngapa-ngapain. Tapi buat saya yang kebagian jatah ngurus anak di rumah sepanjang hari, cerita tentang Mia ini sangat nyata. Mia yang biasanya kerja di kantor, udah jadi supervisor, tiba-tiba di rumah seharian ngurusin 2 anak tanpa mbak dan tanpa siapa-apa. Suaminya bantuin gak? Bantuin juga tapi dalam cerita ini suaminya kasih syarat kalau apapun keputusan Mia, rutin sang suami tidak akan berubah, termasuk bangun siang di akhir pekan. Waktu baca ini dalam hati saya pengen nimpuk tuh suaminya bilang: lah elu kerja Senin-Jumat terus minta santai di akhir pekan, terus istri lu kapan istirahatnya? lu kata istri lu kacung? hahaha. Tapi emang kenyataanya banyak kok suami yang begitu (untungnya Joe gak gitu dan saya masih ada mbak walau part time hihihi).

Setelah menjalani drama demi drama menjadi ibu rumah tangga tanpa pengalaman mengurus rumah tanpa asisten, Mia mulai tergoda untuk kembali kerja lagi saja karena katanya masih dibutuhkan di kantor. Di saat itu Mia mendapat mimpi sekaligus pencerahan. Mau tau pencerahannya apa? baca bukunya hahhaha.. gak mau spoiler.

baca sampai habis, terutama bagian rumus mengurus rumahtangga

Setelah mendapat pencerahan, dari bagian tengah ke akhir cerita, buku ini banyak ilmunya. Bukan berarti nggak ada drama lagi, tapi ya udah punya banyak bekal menghadapi dramanya. Dengan cara yang tidak membosankan, tips mengenai mencuci piring, menjemur pakaian, menyetrika baju diceritakan dalam buku ini. Kedengarannya sepele ya, tapi tips itu untungnya saya sudah pelajari dari mama saya jaman masih remaja. Tapi walaupun tips-tips tersebut bukan hal baru buat saya, saya yakin banyak ibu-ibu muda yang mungkin belum tahu tips tersebut. Penyajian tipsnya juga menarik, bukan dalam bentuk bullet poin presentasi hahaha.

Di bagian akhir buku ini, Mia merumuskan kehidupan keluarga seperti organisasi kantor. Nah bagian ini saya suka banget. Kalau bagian ini saya yakin hasil perenungan mendalam penulis di saat malam-malam bergadang sambil ngurus bayi hehehe.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa. Buku ini juga penting untuk dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga. Sukur-sukur, suaminya gak kayak suami Mia dalam cerita ini yang gak mau berubah rutin hanya karena Mia berhenti kerja. Padahal kan Mia biasanya ada asisten, nah ini gak ada mbak pula (tetep aja saya protes bagian itu hahaha).

Haduh jadi panjang nih review atau curhat sih? hahaha. Saya sih kesimpulannya suka dengan buku ini. Jarang menemukan buku tentang ibu rumah tangga dalam bentuk novel dengan berbagai percakapan yang saya bisa bayangkan kejadiannya.

Semoga ya, bagian terakhir buku ini jadi kenyataan buat penulis buku. Buku ini kalau difilmkan juga bisa jadi edukasi buat ibu-ibu rumahtangga dan sistem pendukungnya. Hal penting lain juga dalam buku ini diceritakan bagaimana pentingnya komunikasi dengan pasangan dan juga punya kemandirian ekonomi.

Saya sendiri gak mengalami dilema seperti Mia. Sebelum anak pertama lahir, kami dengan sadar memutuskan kalau saya harus berhenti kerja. Tinggal di negeri orang tanpa keluarga yang bisa dititipkan ataupun betapa tidak enaknya kalau harus punya pengasuh orang Thai, bisa-bisa anak kami jadi orang Thai. Saya lebih beruntung dibandingkan Mia, keputusan yang kami ambil berdua didukung penuh dengan Joe, dan Joe bukan tipe yang bilang: rutin saya tidak berubah ya. Waktu anak-anak masih bayi, ada hari-hari di mana saya bangun siang dan Joe yang sediakan sarapan hehehe. Prinsipnya punya anak berdua kita urus berdua dong. Setelah anak besar, ya kalau saya bangun siang, paling sarapannya jadi pada kesiangan hahahhaa.

Kesimpulannya buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca semua orang yang sedang galau menghadapi kerjaan rumah yang tak kunjung selesai, ataupun kegalauan antara pilihan rumah dan kantor. Semua drama akan berlalu kalau kita tahu caranya. Mungkin judul lain buku ini adalah: Yang perlu diketahui sebelum terjun bebas jadi ibu rumah tangga.