Chiang Mai Zoo

Bertahun-tahun kuliah di Bandung dekat sekali dengan Kebun Binatang, tapi tidak pernah tergerak untuk menjenguk ke dalam. Pengen sih, tapi tidak ada kesempatan dan kadang memang tidak menyempatkan. Kali ini, mumpung Joe baru terima GPS, kami nyobain nyari jalan ke Chiang Mai Zoo menggunakan GPS itu. Horeee berhasil juga sampe ke Chiang Mai Zoo 🙂

Tiket masuk untuk orang lokal dan orang pendatang itu beda. Kami berdua plus mobil total harga tiketnya jadi 250 THB (atau sekitar 70 ribu rupiah). Walau belum pernah masuk ke kebun binatang Bandung, bisa dibilang Chiang Mai Zoo lebih bagus. Jenis hewannya lebih banyak, dan tentu saja, areanya jauh lebih luas. Enaknya, kita bisa berkeliling menggunakan mobil di dalam area Zoo, lalu mencari parkir terdekat dengan jenis hewan yang ingin kita lihat. Kalau kita ingin jalan juga boleh. Daerahnya cukup teduh karena banyak pohon besar yang melindungi. Oh ya, kalau tidak bawa mobil sendiri, di dalam Chiang Mai Zoo ada sejenis bis untuk berkeliling (tapi kami belum mencoba).

Anyway, ada 2 hewan yang tidak ada di kebun binatang di Indonesia (dan juga tidak ada di kebun binatang Bandung). Dengan asumsi sudah banyak binatang yang pernah kami lihat di Taman Safari Cisarua Bogor, maka kami hanya memfokuskan pada binatang yang belum pernah dilihat secara langsung sebelumnya seperti koala dan penguin. Akhirnya, ga harus jauh-jauh ke kutub untuk liat Penguin, dan ga harus ke australia buat liat koala 🙂

SLI Thailand – Indonesia

Hari ini terima tagihan detail Xplor via email. Dan ternyata dari sekitar 13 sms yang dikirimkan di Singapura (waktu transit) dan Thailand, total biayanya 55.000 rupiah. Rate roaming singapura masih lebih murah, ada yang 1857 dan 2609 (tanpa ppn tuh). Kalau roaming dari Thailand setiap sms nya Rp. 3946 (blum ikut ppn juga). Mahal yaaa…. Untungnya itu buat ngirim sms doang, bukan termasuk nerima. Soalnya udah jauh-jauh ke sini tetap aja nerima sms ‘sampah’ dari XL *sigh*, males banget kan kalau harus bayar juga nerima sms tak penting itu.

Kalau dipikir-pikir, tarif sms internasional pake nomor lokal sini dengan operator true juga mahal, yaitu sekitar 9 Baht untuk 1 sms nya, kalau di hitung konversi 1 Baht = Rp.270, maka pake sms sini sekitar Rp. 2430. Tapi sesungguhnya, dibandingkan mengsms, masih lebih mending lagi nelpon aja pake Skype.

Nelpon 1 menit ke Indonesia (telepon rumah) €0.125 (Rp1492), kalau telpon ke rumah di Jakarta malah lebih murah : €0.072 (Rp. 860). Sedangkan kalau nelpon ke HP Indonesia €0.183 (Rp. 2184) tapi masih tetap lebih murah dibandingkan sms ke Indonesia. Well…masih ada alternatif lain tapi sepertinya kami memilih skype. Walau di awal harus beli kreditnya dulu 10 Euro, tapi ya..toh bisa diirit makenya. Selama sebulan ini saja 10 Euro blum abis (tapi sebenernya lain kali mendingan beli kreditnya yang 10 USD aja, biar ga usah banyak-banyak nyimpen duit di Skype). Kayaknya biaya yang selama ini dialokasikan untuk bayar biaya mobile phone bisa dialihkan untuk bayar internet hehehe…

Sebulan di Chiang Mai

Baru sebulan di Chiang Mai, tapi kok rasanya sudah lama banget ya. Setelah sebulan selalu menggeleng tiap orang sini ngomong pake bahasa Thailand, akhirnya mulai belajar bahasanya juga. Hari ini adalah hari pertama belajar. Untuk 5 minggu pertama belajar speaking and listening, mungkin setelah level ini selesai baru melanjutkan kelas menulisnya.

Btw, beberapa update tentang kota ini:

  • ternyata kota ini ga sepi-sepi banget, untuk jam-jam tertentu sudah mulai terlihat kemacetan lalu lintas (walaupun tetep aja masih lebih macet Bandung).
  • pengendara motor disini lebih parah dari pengendara motor di Bandung, bayangin aja, mereka umumnya ga pake helm, terus bawa anjing di boncengan, kadang-kadang sambil mengepit sesuatu di kakinya, dan satu tangan memegang handphone *buset deeeh*, belum lagi mereka suka muncul tiba tiba dari belakang baik dari sebelah kanan maupun dari sebelah kiri
  • sekarang udah nemu pengganti teh botol, ice tea! (perasaan teh botol emang teh hehe, ga terlalu mirip sih, tapi.. cukuplah untuk pelipur lara).
  • cara melafalkan huruf Thai masih lebih mudah untuk orang Indonesia dibandingkan orang Jepang, Amerika ataupun Perancis
  • mulai terbiasa untuk tidak ber sms 😛 (abisnya mahal sih), menelpon menggunakan account skype masih lebih bisa diandalkan
  • kecap manis di sini umumnya encer seperti kecap asin, tapi dengan sedikit usaha kecap manis yang kental bisa ditemukan
  • hawanya ga selalu dingin, ternyata lebih sering panassss, makanya orang disini selalu minum air dengan es batu, dan sepertinya mereka selalu merasa kepanasan

Udah, segitu dulu. Yang jelas, di tempat ini ada banyak kesempatan untuk belajar. Mulai dari belajar nyetir, belajar renang (buat Joe), belajar bahasa Thailand maupun belajar Yoga ataupun Thai Massage. Belum lagi urusan belajar untuk keperluan kerjaan :P. Terkadang memang harus jauh ke negeri orang dulu baru belajar dengan sungguh-sungguh ya :P.

Night Myopia

Dengan kaca mataSejak mulai nyetir di Chiang Mai, aku memperhatikan kalau penglihatanku tambah turun kalau malam tiba. Kemarin, diantar Pi Chan, kami ke optometrist, dan setelah dicek, katanya mataku gak apa-apa, cuma minus 0.25, dan tidak perlu pakai kacamata, tapi dia menyarankan agar kami pergi ke dokter mata. Tadi pagi kami pergi ke Dokter mata, dan di sana rame sekali (mungkin karena dokter ini sangat terkenal, lulusan Johns Hopkins Univeristy). Setelah diperiksa, ternyata sepertinya aku menderita Night Myopia.

Aku nggak tau sejak kapan mataku mulai minus 0.25, karena minus 0.25 ini sama sekali nggak mengganggu aktivitas sehari-hari (membaca, nonton subtitle TV dari jarak 5 meter, dll). Di malam hari, di tempat yang pencahayaannya kurang, myopia ini bertambah parah, meski masih bisa lihat segala macam rambu jalan, aku merasa nggak nyaman karena gak bisa lihat aneka tulisan kecil yang biasanya bisa dilihat di siang hari. Akhirnya dokternya menyuruh aku pake kaca mata, dan katanya hanya perlu dipakai waktu nyetir aja (walau di siang hari juga bisa dipake kalo mau).

Sebenarnya ada kemungkinan lain mengapa penglihatan seseorang menurun, yaitu karena masalah retina. Tapi dokternya bilang pemeriksaan retina hanya perlu jika ternyata kacamata tidak membantu. Malam ini kami udah jalan-jalan, dan sepertinya penglihatanku jauh lebih baik dengan kacamata ini.

Belajar

blank book Aku inget banget, aku baru mulai bisa membaca di umur hampir 7 tahun (sebelum naik kelas 2 SD). Dibanding anak-anak lain aku termasuk telat belajar membaca. Aku inget waktu pertama kali mendapat pencerahan tentang membaca. Waktu itu pas di hari pemilu tahun 1987, kami berangkat untuk mencoblos (aku diajak, karena nggak ada orang di rumah). Waktu itu aku tiba-tiba mengerti bagaimana caranya membaca, sepanjang perjalanan aku bertanya ke Mas Yatno (salah satu saudaraku), “mas, kalo B sama A jadi BA ya?” dst. Sekedar informasi, aku baru kenal dengan bahasa Indonesia waktu umur 6 tahun, sebelumnya cuma bisa bahasa Jawa.

Sejak itu aku selalu membaca apa saja. Di kelas 5 SD aku dah bisa ranking 1. Saking inginnya bisa membaca segala macam hal, aku juga belajar membaca cepat. Aku inget waktu kelas 3 SMP, Ibu membelikan buku “Pengenalan Komputer” karangan Jogiyanto, bukunya kira-kira 1000 halaman tebalnya, dan bisa kuselesaikan dalam 2 hari. Kalo aku bener-bener suka sesuatu, aku akan berusaha membaca dengan sungguh-sungguh, misalnya waktu masih tingkat 1 di ITB, aku dah selesai baca buku Tannenbaum (Operating System) sebelum semester pelajaran OS dimulai.

Tapi rajin membaca bukan berarti aku langsung mengerti segala macam hal. Ada beberapa titik pencerahan dalam hidupku, misalnya aku baru ngerti bener tentang integral dan diferensial di kelas 2 SMA, tentang fisika mekanika di kelas 3 SMA. Aku juga kadang nggak ngerti, gimana ya caranya dulu aku bisa lulus semua itu, tanpa pengertian yang jelas.

Lanjutkan membaca “Belajar”

Nonton Film di Chiang Mai

filmSemalam adalah kali pertama kami nonton film di Chiang Mai. Kami nonton di Central Aiport Plaza, di salah satu cabang dari Major Cineplex. Film yang ditonton adalah Pirates of the Caribbean: At World’s End. Harga tiketnya 120 bath per orang (sekitar 30 ribu rupiah), ini mahal dibandingkan Bandung yang tiketnya 15 rupiah di hari biasa.

Berbeda dengan di Bandung (tepatnya BIP), di sini masuk bioskop harus tepat waktu (karena penonton film sebelumnya belum keluar), sedangkan di BIP, kalau tepat waktu bisa telat nonton filmnya (karena sering film diputar 10-15 menit sebelum jam yang tercantum di tiket). Setelah masuk, kami masih disuguhi trailer film-film yang akan datang, dan juga iklan-iklan selama 30 menit. Setelah itu lagu kebangsaan diputar, dan semua orang harus berdiri.
Lanjutkan membaca “Nonton Film di Chiang Mai”

Oh Ibu…

Setiap minggu kedua bulan Mei diperingati sebagai hari ibu di banyak negara (bisa disebut internasional). Saya rasa semua orang juga tahu peran seorang ibu sangat penting untuk setiap orang. Ibu yang mengandung selama 9 bulan, melimpahi dengan kasih sayang, membesarkan dan mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya (ya..tentu saja bapak juga ga kalah memegang peran untuk hadirnya seorang anak, tapi bukan itu yang sedang ingin dikemukakan dalam posting kali ini). Lanjutkan membaca “Oh Ibu…”