Mempertanyakan Pemeriksaan Lembar Jawaban Komputer UN

Sebagian orang menyangka mereka tidak lulus SPMB atau UN karena faktor pembacaan lembar Jawaban Komputer. Benarkah hal demikian bisa terjadi? Sebagai orang yang pernah berkecimpung dalam pemrograman OMR (optical mark reader) hardware (di PSDI ITB) dan masih berkecimpung dalam pembuatan software mark reader dengan scanner biasa (untuk Tim Olimpiade Komputer Indonesia), saya akan mencoba menjelaskan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pemrosesan lembar jawaban komputer (LJK) yang diisi oleh peserta.
Lanjutkan membaca “Mempertanyakan Pemeriksaan Lembar Jawaban Komputer UN”

Rasa Malu

Ketika manusia diciptakan, manusia itu telanjang tapi tidak merasa malu. Setelah manusia makan buah dari pohon terlarang, mereka menjadi sadar bahwa mereka telanjang dan menyemat daun Ara untuk menutupi beberapa bagian. Dan ketika Tuhan mencari mereka merasa malu lalu mereka bersembunyi. Disitulah manusia pertama kali merasa malu. Tapi manusia lupa, bahwa mereka tidak bisa bersembunyi dari Sang Pencipta.

Saya tidak sedang akan membahas hal yang religius atau mengajar agama di sini. Posting ini terinspirasi ketika saya membaca milis (mailing list) di mana seorang anggota meminta serial number sebuah perangkat lunak. Lalu ditimpali oleh anggota milis bahwa penggunaan kata Serial Number ataupun Crack dilarang dimilis dan dapat menyebabkan milis di tutup. Awalnya saya pikir : wah milis ini sudah sadar untuk tidak membajak, tapi belum selesai saya berpikir, kalimat berikut dari balasan mail tersebut membuat saya sadar, mereka hanya mengganti istilah dengan kata-kata lain. Artinya, pembajakan tetap merupakan hal yang sah-sah saja buat anggota milis.

Masih dari orang yang sama, dia menyertakan tandatangannya berupa nama lengkap, di mana dia berkuliah, dan juga nomor telepon genggamnya. Jika saya seorang yang punya kewenangan dalam menindak orang yang membajak, sudah pasti dia masuk dalam daftar saya untuk ‘diwajibkan membayar’. Dalam email tersebut dia mencari program bajakan dengan alasan : maklum mahasiswa tidak punya duit. Oh ya? lalu dia mampu membeli aneka gadget yang harganya tidak murah tapi tidak mampu membeli perangkat lunak? Hmm…alasan yang tidak bisa diterima.

Anyway, saya hanya berpikir. Apakah kita yang melakukan tindakan membajak dengan sadar itu tidak punya rasa malu? Kita menggunakan pakaian yang pantas karena kita punya rasa malu. Atau memang sudah tidak ada lagi rasa malu? (sampai-sampai pemerintah merasa perlu mengatur bagaimana cara kita berpenampilan dalam RUU-APP?) Yang jelas, seandainyapun memang sudah sangat sedikit rasa malu itu, walau bagaimanapun juga mencuri itu tetap berdosa. Kita tidak bisa bersembunyi karena Dia tahu semuanya.

Walaupun masih banyak yang melakukan pembajakan, kemarin saya merasa senang mendengar pengakuan seorang teman yang terinspirasi untuk mulai meninggalkan tindakan pembajakan setelah membaca blog tidak membajak yang ditulis Joe. Jangan karena semua orang melakukan pembajakan, kita merasa membajak itu menjadi legal. Padahal membajak tetaplah mencuri, dan pencuri harus dihukum. Maaf jika ada yang merasa ‘tersinggung’ dengan posting ini, saya hanya ingin mengingatkan kembali (siapa tahu Anda belum tahu) bahwa jika Anda pernah kehilangan uang berapapun dari dompet Anda, sama saja rasanya dengan orang yang Anda curi itu (walaupun dia sudah sangat kaya).

Beberapa gosip (gak penting)

Setelah sekian lama ga nonton TV siang-siang, hari ini kembali mengikuti beberapa gosip ga penting dari tanah air. Ga ada gosip yang penting (itu pasti), tapi dari gosip yang ada, mungkin ada yang bisa kita jadikan contoh buruk dan hindari (contoh baik sih ga usah di bahas lah ya). Beberapa gosip yang ingin dikomentari adalah tentang anak diluar nikah, video mesra di handphone, kawin berkali-kali, dan hamil tanpa suami. Lanjutkan membaca “Beberapa gosip (gak penting)”

Istana Building Commodities Center

Ada tempat belanja baru di Bandung, jualannya macam-macam, nama tempatnya disingkat dengan IBCC. Tadi ke sana buat nge’service’ iBook Joe yang sudah dekil dan sekian lama engselnya geser. Di sana ada toko yang mengkhususkan diri dengan produk Apple. Bagian depannya aneh, sekilas mirip ruko-ruko biasa, ternyata di bagian dalamnya ada plazanya yang menjual berbagai barang juga. Yang terasa agak aneh adalah parkir di 2 lantai teratas (biasanya parkir itu di basement).

Tadi tidak sempat menjelajahi semuanya dan sepertinya juga masih belum terisi semua, hanya ke lantai UG yang menjual alat-alat komputer, terus ke lantai elektronik melihat-lihat eh…malah nemu roda kulkas yang di cari-cari selama ini. Sempat nyasar di Ace Hardware yang sangat besar dan terdiri dari beberapa lantai (setidaknya tadi menjelajahi 2 lantai). Ada tempat makan juga walaupun terasa kecil dibandingkan toko-toko yang banyak. Yang menyenangkan dari tempat itu, setidaknya parkir harganya tidak dihitung per jam. Tadi datang jam setengah 7 sampe pulang jam setengah 10 bayar parkir cuma 1500 saja (bandingkan dengan BIP ataupun BEC, pasti dah berasa tuh parkirnya).

secara

Belakangan ini sering dengar kalimat begini :
– Secara gue gitu loh, mana mungkin gue bla bla bla…
– Secara mama yang sayang ke anaknya bla bla bla …
– Secara namanya juga lagi marah bla bla bla …
– Secara gue orang yang bla bla bla …

Saya tidak tahu siapa yang pertama sekali menggunakan kata ‘secara’ seperti itu dan di acara apa, tapi sepertinya semua orang mulai ikut-ikutan menggunakannya, dan entah kenapa saya merasa agak terganggu dengan penggunaan kata itu. Rasanya penggunaanya tidak tepat, dan kalau orang lagi ngobrol dengan saya, ada keinginan untuk bertanya : ‘maksudnya apa sih arti kata secara?’. Hehehe…ada yang bisa menjelaskan??