Harddisk yang tidak pernah cukup

Ini sekedar cerita dan catatan kenapa desktop saya sekarang punya 3 SSD dan 3 HDD, dan kenapa saya punya komputer lain yang jadi server dengan 1 SSD dan 3 HDD. Ceritanya ini juga sekaligus jadi catatan untuk diri sendiri.

Singkatnya kalau Anda rajin bereksperimen seperti saya, ruang harddisk sepertinya akan selalu tidak cukup. Misalnya ingin mengcompile ROM Android (bukan aplikasi Android, tapi source code kernel, OS dan berbagai aplikasi Android yang membentuk ROM Android), satu versi saja butuh disk space 100 GB untuk source codenya dan 150 GB lagi untuk membuild-nya. Sedangkan untuk development aplikasi Android juga butuh space cukup banyak: folder .android saya (yang berisi SDK dan VM, tidak semua versi saya install) sudah 20GB.

Mengcompile Firefox? butuh 30 GB, Chromium butuh 100 GB. Belum lagi ketika eksperimen dengan Raspberry Pi atau yang lain: tiap backup 1 SD Card biasanya seukuran SD cardnya (umumnya saya memakai 8-32 GB, tergantung devicenya).

Bisa dibayangkan juga berapa lama perlu download source code semuanya. Setelah selesai bereksperimen tentu semuanya bisa dihapus, tapi berapa jam lagi harus download jika ingin mulai lagi? kadang masih lebih baik menyimpan versi lama dan ketika ingin bereksperimen dengan versi baru tinggal “git pull” (atau sejenisnya).

Selama lebih dari 5 tahun saya pernah eksklusif memakai Linux di Desktop, bahkan akan saya bela-belain memakai Wine untuk menjalankan aplikasi tertentu yang hanya jalan di Windows. Tapi sejak punya anak, saya ingin lebih banyak bekerja dibandingkan berantem dengan tool. Saat itu Windows sudah cukup bagus. Kebanyakan tools support Windows dan saya tidak perlu mengakali banyak hal, saya juga menyiapkan server Linux terpisah jika ada kebutuhan oprek di Linux. Sudah berkali-kali saya mencoba Linux di VM dan sering ada masalah kecil terutama jika sudah berusaha mengakses hardware, jadi komputer server terpisah lebih masuk akal.

Enam tahun yang lalu saya kembali memakai Windows di Desktop dengan SSD yang ukurannya cuma 60 GB. Tentunya ini nggak cukup untuk berbagai aplikasi dan virtual machine, jadi konfigurasi desktop saat itu:

  • 1 SSD untuk Windows (60 GB)
  • 1 HDD untuk data, program besar, dsb (1 TB)

Waktu itu server Linux dipakai untuk development Linux dan juga sekaligus server media yang berisi musik dan film (dulu Netflix belum masuk Thailand jadi kombinasi antara membajak dan rip dari DVD). Saya mulai dengan 1 HDD saja. Jadi konfigurasi server:

  • 1 HDD (OS + Data, 1 TB)

Suatu saat harddisk yang berisi data di desktop saya rusak, seingat saya itu baru kali pertama saya mengalami harddisk yang tiba-tiba error tidak terbaca tanpa ada gejala apa-apa. Untungnya sebagian data sudah dibackup, tapi tetap butuh waktu restore dan ribet bekerja dengan 1 SSD 60 GB saja. Saya tidak ingin kejadian seperti ini lagi: saya beli 2 HDD yang saya set dengan konfigurasi RAID-1, sekarang konfigurasi desktop:

  • 1 SSD untuk Windows (60 GB)
  • 2 HDD (RAID) untuk data, program, dsb (1 TB)

Saya memakai RAID software Windows, karena jika memakai RAID dari hardware (motherboard/BIOS) jika ada masalah maka recoverynya sulit dan sulit berpindah ke merk lain. Tapi lama-lama harddisk RAID ini penuh karena saya banyak bereksperimen dengan virtual machine (VM). Satu VM bisa belasan hingga puluhan GB. Belum lagi installer masing-masing OS untuk berbagai sistem operasi.

Nah masalah dengan RAID ini: jika ingin mengupgrade ukuran disk ya harus beli sekaligus 2 disk. Padahal kedua disk ini masih baik-baik saja. Jadi akhirnya saya putuskan: 1 HDD lagi untuk hal-hal yang kurang penting seperti installer, VM, source code open source. Kalaupun rusak tidak apa-apa, datanya bisa dibuat ulang atau didownload ulang. Jadi sekarang konfigurasi desktop:

  • 1 SSD untuk Windows (60 GB)
  • 2 HDD (RAID) untuk foto, dokumen penting (1 TB)
  • 1 HDD (non- RAID) untuk berbagai file besar yang kurang penting (2 TB)

Saya akhirnya mengupgrade SSD desktop dari 60 GB, jadi 180 GB, lalu kemudian jadi 480 GB karena makin banyak hal-hal yang perlu diakses dengan cepat. SSD lama saya pindahkan ke server dengan 2 tujuan: (1) Mudah upgrade kapasitas data karena Sistem operasi ada di SSD terpisah (tidak perlu reinstall/copy), dan (2) server akan lebih booting cepat dengan SSD. Jadi konfigurasi server:

  • 1 SSD (Linux, 60 GB)
  • 1 HDD (Film, musik, 1 TB)

Meskipun saya merasa desktop saya cukup powerful, tapi saya tidak bisa melakukan semua hal di desktop, contohnya: Development atau pentest aplikasi iOS. Saya punya Macbook dan hasil pekerjaannya perlu dibackup. Risna dan saya juga kadang bekerja memakai laptop, ini pun perlu dibackup. Saya memakai git untuk menyimpan source code, dan saya juga butuh backup database, dan berbagai file penting lain. Semua ini saya backup ke server.

Sebagai catatan: saya sudah memakai Dropbox, OneDrive dan Google Drive untuk backup data penting di cloud. Tapi saya juga tidak 100% percaya dengan cloud. Saya juga mengikuti berbagai berita cloud storage dengan seksama. Misalnya banyak yang tidak tahu kalo OneDrive dulunya tidak punya file history (dan kelabakan ketika kena malware) dan baru pada July 2017 mereka mengimplementasikan fitur tersebut. Bagi saya: lebih baik punya backup ekstra daripada ketika butuh file internet sedang mati atau lambat.

Akhirnya saya mulai khawatir karena mulai banyak data penting di server, jadi saya tambahkan 2 HDD (RAID) jadi sekarang konfigurasi server:

  • 1 SSD (Linux, 60 GB)
  • 1 HDD (Film, Musik, 1 TB)
  • 2 HDD (RAID, backup data penting, 2 TB)

Selama beberapa tahun saya tidak butuh sama sekali akses ke desktop Linux. Biasanya hanya butuh akses console (di server) atau sesekali cukup menggunakan VM. Tapi karena ada proyek yang butuh akses desktop Linux untuk hardware tertentu dan tidak cukup memakai VM, maka saya tambahkan lagi 1 SSD lama dari laptop yang hanya 60 GB ke desktop dan saya isi Linux. Dengan ini saya bisa dual boot ke Linux.

  • 1 SSD untuk OS Windows (480)
  • 2 HDD (RAID) untuk foto, dokumen penting (2 TB)
  • 1 HDD (non- RAID) untuk berbagai file besar yang kurang penting (3 TB)
  • 1 SSD untuk OS Linux (60 GB)

Di sini ternyata harddisk Non-RAID (HDD oprekan) menjadi penting untuk bertukar data dengan Windows karena sangat sulit mengakses data di RAID Windows dari Linux dan rawan error.

Sebagai catatan, meskipun lebih dari 95% pekerjaan bisa dilakukan di dalam virtual machine, tapi beberapa hal tetap butuh OS dengan akses hardware langsung. Beberapa hardware dengan mudah saya hubungkan ke server dan diprogram secara remote, tapi tidak semua pemrograman sifatnya non visual.

Contoh: akses GPU langsung di dalam VM cuma bisa dengan konfigurasi hardware/software tertentu dan kadang tetap error. Saya juga cuma punya GPU bagus di desktop, jadi kalau butuh akses GPU di Linux ya harus dual boot.

Contoh lain: Emulator Android x86 sangat lambat di Windows jika memakai prosesor AMD karena sampai bulan lalu tidak mendukung virtualization, dan baru saja ditambahkan fitur supaya virtualization bisa dipakai di Windows dengan prosesor AMD. Untuk prosesor Intel dari dulu ada software Intel® Hardware Accelerated Execution Manager/HAXM di Windows/macOS. Untuk prosessor AMD di Linux bisa memakai KVM (Kernel Based Virtual Machine) tapi dulu tidak ada solusinya di Windows.

Belum lama ini ketika saya mengerjakan proyek Raspberry Pi, ternyata tetap harus di depan Pi-nya karena akses kamera dengan tunelling ke HDMI tidak bisa diemulasikan dengan Qemu. Berbahagialah Anda kalau pekerjaan programming Anda masih bisa ditangani dengan emulator/virtual machine.

Setelah proyek yang berhubungan dengan Linux selesai, saya sudah melupakan Linuxnya dan saya biarkan SSD-nya (siapa tahu butuh lagi). Sekarang saya kembali berurusan dengan proyek yang butuh akses Linux. Kali ini 60 GB untuk Linux tidak cukup, dan tadinya terpikir untuk membeli lagi SSD 240 GB atau yang lebih besar, tapi kemudian ingat masih punya SSD lama 60 GB.

Karena masih malas untuk membeli SSD baru (plus harus mengcopy OS), saya colok saja SSD ini. Untungnya casing saya punya slot SATA sehingga jika butuh disk sementara bisa dicolok.

  • 1 SSD untuk Windows (480 GB)
  • 2 HDD (RAID) untuk foto, dokumen penting (2 TB)
  • 1 HDD (non- RAID) untuk berbagai file besar yang kurang penting (3 TB)
  • 1 SSD untuk OS Linux (60 GB)
  • 1 SSD untuk data di Linux (60 GB)

Bagian terakhir ini sifatnya sementara, dan nanti rencananya untuk kedua SSD untuk Linux ini akan saya ganti saja dengan SSD lebih besar.

Sejauh ini saya tidak menyesali konfigurasi saat ini. Setelah memakai RAID ternyata sudah kejadian 2 kali salah satu harddisknya rusak dan bisa segera direcover. Meskipun sepertinya merepotkan punya banyak disk, tapi lebih repot lagi kalau data kita hilang.

Memakai SSD terpisah untuk Windows dan Linux juga terkesan boros (kenapa nggak satu SSD aja dipartisi?). Tapi menurut saya ini lebih reliable, jika SSDnya error saya masih bisa mengakses data dari OS lain, jika ingin mengupgrade salah satunya juga lebih gampang.

Sebagai catatan, tulisan ini dibuat karena saya baru beli HDD 4 TB sebagai pengganti disk 3TB yang sudah mulai penuh. Semoga ini bisa bertahan cukup lama.

Beberapa buku Roald Dahl

Siapa sih Roald Dahl? Singkatnya Roald Dahl itu penulis terkenal, lengkapnya lihat di wikipedia Roald Dahl ya. Dia menulis berbagai cerita dan cukup banyak menulis buku cerita pendek untuk anak-anak. Tapi waktu saya jadi anak-anak, manalah saya tahu buku Roald Dahl, taunya cuma Enid Blyton karena ada film Lima Sekawan diputar di TV, lalu jadi nyari buku Lima Sekawan. Kemungkinan waktu saya kecil, buku-buku Roald Dahl belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sejak mengenalkan chapter book ke Jonathan, saya jadi ikutan membaca buku-buku karya Roald Dahl. Waktu saya menonton film Charlie and the Chocolate Factory, saya tahu kalau film itu dari buku penulis terkenal, tapi saya ga caritahu siapa penulis bukunya dan apa karya lainnya. Tapi setelah tahu, akhirnya buku Roald Dahl Jonathan yang pertama dibeli adalah  buku Charlie and the Chocolate Factory. Sebagai reward selesai membaca buku, kami nonton filmnya di Netflix.

Buku Roald Dahl berikutnya yang Jonathan minta belikan adalah Charlie and the Glass Elevator, dan George’s Marvelous Medicine. Karena Jonathan  menyelesaikan dalam waktu singkat, berikutnya kami belikan buku Matilda. Ketika saya berencana untuk membeli lebih banyak buku Roald Dahl, kebetulan ada yang mau pindah dari Chiang Mai dan menjual satu set buku-buku Roald Dahl dengan harga murah, langsung deh saya beli tanpa pikir panjang. Buku Roald Dahl beli di toko sekitar 300 an baht, buku bekas 1 set yang saya beli ada 15 buku cuma 500 baht saja dan semua buku dalam kondisi bagus walaupun akhirnya ada beberapa buku yang sudah kami punya.

Karena merasa perlu untuk mengetahui apa yang di baca Jonathan, saya juga ikutan membaca buku Roald Dahl. Saya tidak membaca buku Charlie and the Chocolate Factory, soalnya saya sudah 2 kali menontonnya, saya pikir saya akan baca belakangan. Saya pilih baca buku Matilda, berikutnya buku  George’s Marvelous Medicine, Fantastic Mr. Fox, The Twits, The Girrafe and the Pelly and Me. Semua buku-buku itu sudah dibaca duluan oleh Jonathan. Bahkan ada beberapa buku Roald Dahl lainnya yang Jonathan sudah baca tapi saya belum sempat menyelesaikan juga.

Sebelum saya membeli bundle buku bekas harga murah, Joe awalnya berniat membelikan e-book saja. Tapi waktu mencari daftar bukunya Roald Dahl, kami baru menyadari kalau tidak semua buku Roald Dahl ini untuk anak-anak. Kalau masuk ke website officialnya Roald Dahl juga akan ada pertanyan apakah kita guru, anak-anak atau dewasa. Dan sayapun baru tahu kalau di official websitenya ada lesson plan untuk eksplorasi buku-bukunya di ruang kelas (bagian ini saya belum bisa cerita banyak karena saya juga baru tahu haha).

Kesan saya ketika membaca buku-buku Roald Dahl (peringatan: bakal ada spoiler mengenai beberapa buku, karena saya ga bisa menuliskan kesannya tanpa menuliskan bagian yang bikin kesan tersebut).

Awalnya saya merasa heran, apa iya buku ini untuk anak-anak? apalagi buku pertama yang saya baca Matilda. Kisahnya menurut saya sangat sedih dan banyak percakapan yang kurang pantas diucapkan oleh orangtua ataupun guru. Saya sempat heran, kenapa Jonathan ga nangis baca buku ini, mengingat dia nonton film pokemon aja bisa nangis hehehe. Cerita Matilda berakhir sepertinya bahagia tapi menurut saya menyedihkan karena orangtua Matilda meninggalkan Matilda begitu saja dengan gurunya. Memang sih Matilda lebih bahagia tanpa orangtuanya, dia bisa baca buku dan si ibu guru lebih mengerti dia daripada orangtuanya, tapi kan tetep aja sedih kalau ada cerita anak ditinggal orangtuanya.

Dari cerita George’s Marvelous Medicine, saya juga masih heran, apa iya ini buku anak-anak? kok ya George bikin ramuan dari isi obat-obatan di kamar mandi dan gudang lalu dikasih minum ke neneknya. Heran karena neneknya kok bisa ga langsung mati. Ketika neneknya akhirnya mati, sepertinya mereka ga diceritakan merasa sedih. Aduh ini ngajarin apa sih ke anak-anak?. Tapi saya menyadari, memberikan buku ke anak itu harus didampingi, jadi saya ajak Jonathan ngobrol untuk mengingatkan dia jangan pernah bikin campuran obat seperti di buku George’s Marvelous Medicine. Saya juga bertanya apakah dia merasa takut atau sedih ketika membaca bukunya. Intinya saya jadi punya bahan untuk mengajarkan hal-hal yang berbahaya dan sebaiknya tidak dilakukan.

Buku Fantastic Mr. Fox dan buku The Girrafe and the Pelly and Me jauh lebih baik jalan ceritanya dan tidak sedramatis buku-buku sebelumnya. Diantara membaca 2 buku itu, saya membaca buku The Twits yang lagi-lagi agak dramatis. Dramatis karena nasib tragis Mr. dan Mrs. Twits di akhir cerita walaupun kalau dibaca dari deskripsi tokohnya mereka bukan orang yang baik dan rasanya tidak ada yang akan merasa kehilangan mereka.

Akhirnya sebuah cerita hanyalah cerita, yang lebih perlu gimana kita memaknai cerita tersebut. Mengambil hal yang baiknya dan mengerti kalau di dunia ini ga semua orang baik. Bagaimana supaya bertahan hidup seperti keluarga Fox ketika mereka disudutkan dalam lubangnya dan bagaimana bisa seperti Matilda yang sangat rajin membaca sejak kecil.

Berikutnya masih banyak buku Roald Dahl yang belum saya baca, sejauh ini walaupun ceritanya gak semuanya berakhir bahagia, tapi cerita-ceritanya cukup menghibur.  Motivasi saya membacanya supaya bisa memilih juga mana buku berikutnya sebaiknya yang dibaca Jonathan, dan supaya saya jangan ketinggalan dari Jonathan hehehe.

Berhentilah Jadi Script Kiddie

Saya sering mau ketawa tapi juga merasa sedih, kasihan dan juga marah kalau liat ada posting tentang ajakan DDOS sebuah situs. Ketawa karena mereka berusaha men-DDOS situs yang dilindungi Cloudflare (atau cloud firewall lain) dan ketawa karena mereka memakai tools-tools tua yang parah. Kalau memilih target jangan malu-maluin lah, ibaratnya mau menyerang klub malam maksiat tapi yang diserang malah papan iklan klub malam tersebut di pinggir jalan.

Copy paste ajakan semacam ini sangat banyak yang beredar di Facebook/WA/Telegram

Di posting ajakan mereka biasanya juga diberikan daftar tool yang bisa dipakai. Saya lihat ada batch file yang sekedar melakukan ping, dan ada salah satu tool DDOS Android bahkan mengirimkan IMEI dan Device ID ke server yang diserang, jadi memudahkan untuk dilacak balik. Mereka ini benar-benar script kiddies yang memakai skrip yang bahkan tidak mereka mengerti.  Sebagai catatan “kiddie” di sini bukan menunjukkan umur, tapi skill yang seperti anak-anak.

Sebagai catatan ada banyak teknik DDOS yang menarik dan ada yang spesifik satu OS/server/aplikasi tertentu. Di tulisan ini DDOS yang saya maksud di sini hanya DDOS generik dengan ping (ICMP), UDP, dan request flooding. Lanjutkan membaca “Berhentilah Jadi Script Kiddie”

Menjelang Homeschool Tahun ke-2

Sejak awal bulan Juni, Jonathan sudah selesai mengerjakan semua materi kelas 2 yang kami pakai. Kami memakai kurikulum Christian Light Education. Ada 10 buku masing-masing untuk pelajaran Math, Reading dan Language Art (Grammar, Phonics, Penmanship dan creative writing). Ada 5 buku masing-masing untuk Science, Bible dan Social Studies. Untuk tahun pertama menjalani homeschool, bisa dibilang kami menyelesaikan semuanya cukup cepat, mengingat kami mulai tanggal 30 October 2017 dan selesai 5 Juni 2018.

Tahun pertama kami jalani tanpa perencanaan yang banyak. Saya ga merencanakan jadual secara detail. Untungnya kurikulum yang kami pakai sudah dibagi 1 unit pelajaran per hari, semua instruksi juga jelas dan karena 1 unit hanyak beberapa halaman, Jonathan ga butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Biasanya saya akan membuat jadwal per minggu. Setiap akhir pekan saya membaca cepat bahan untuk minggu depan, apakah kira-kira ada topik baru yang sulit dan butuh saya jelaskan.

Kurikulum yang kami pakai berupa workbook. Untuk tiap unit, dikenalkan sebuah topik baru, diberikan contoh soal dan jawabannya, lalu review beberapa topik sebelumnya. Setiap topik akan direview beberapa kali. Untuk pelajaran social studies dan Bible diberikan dalam bentuk cerita. Pelajaran yang butuh waktu agak lama buat Jonathan selesaikan Language Art, terutama untuk bagian creative writing dan penmanship. Untuk pelajaran lain, 1 pelajaran biasanya dia selesaikan rata-rata 30 menit, kecuali kalau dia lagi ga fokus dan mikirin mainan lain.

Beli beberapa buku waktu ada diskon di asiabooks.com

Sejak menghomeschool Jonathan, saya mengikuti beberapa group homeschooling, terutama yang memakai kurikulum yang sama. Saya jadi tahu, kalau di negara tertentu mereka harus melaporkan jumlah hari sekolah dalam setahun dan juga scope materi pelajaran yang mereka pelajari tahun tersebut. Untuk level high school (SMA) nantinya mereka harus menghitung kredit mata pelajaran. Bagian yang ini saya belum baca banyak karena saya mau fokus untuk kebutuhan saat ini saja. Lanjutkan membaca “Menjelang Homeschool Tahun ke-2”

HP Murah sudah cukup

Sejak kenal smartphone Nokia 3650, kami tidak lagi bisa memakai feature phone dan selalu memakai smartphone.  Setelah mencoba berbagai ponsel yang murah maupun mahal, kesimpulan saat ini: HP murah (asal bukan yang murah banget) sudah cukup .

Di posting ini sekedar ingin cerita HP yang pernah kami beli, dari mulai iPhone dan Samsung baru yang harganya 10 jutaan, sampai HP saat ini yang harganya hanya 3 jutaan. Berikut dengan alasan kenapa selalu berganti dan cukup di HP biasa saja.

iPhone 5s dan Samsung Note 4. Dulunya harga barunya masing-masing sekitar 10 juta rupiah.

HP Mahal tidak selalu bagus

HP termahal pertama yang dibeli adalah iPhone 5s 32 GB. iPhone ini diluncurkan September 2013 di Amerika dan kami beli Desember 2013 (belum lama setelah masuk Thailand), jadi harganya masih sangat mahal (sekitar 10 juta rupiah). Risna mendapati bahwa iPhone ini terlalu kecil, mengetik juga tidak terlalu enak (karena sebelumnya memakai Blackberry keyboard fisik lalu Blackberry Z10 touch screen yang keyboard virtualnya memang lebih baik). Lanjutkan membaca “HP Murah sudah cukup”

GPU Raspberry Pi

Salah satu kelebihan Raspberry Pi (RPI) dibandingkan Single Board Computer (SBC) lain adalah: harganya relatif murah dan memiliki GPU yang terdokumentasi resmi dan bisa dimanfaatkan dengan berbagai API low level. Beberapa SBC lain ada yang harganya lebih murah (misalnya Orange Pi) tapi dokumentasinya kurang, dan beberapa yang lain lebih powerful (misalnya NVidia Jetson) dengan dokumentasi yang cukup baik dari produsen (tapi masih kurang dari komunitas) tapi harganya 10x lipat dari RPi 3.

GPU Raspberry Pi cukup powerful, dan bisa melakukan beberapa hal menarik misalnya: tunelling dari kamera (dengan konektor CSI) langsung ke layar, colorspace conversion, video/image encoding and decoding,  resizing, dan overlay. Kita juga bisa meminta agar data dari kamera langsung dijadikan texture untuk OpenGL ES.

Secara praktis tunnelling artinya satu komponen ke komponen lain bisa bekerja langsung tanpa buffer. Contoh nyatanya begini: kita bisa membuat aplikasi yang kelihatan smooth karena data dari kamera tampil langsung di layar dengan kecepatan tinggi (30 fps) tanpa memakai CPU sama sekali. Sementara di latar belakang kita bisa mengambil gambar, memproses (misalnya face detection) dan menampilkan hasilnya.

Proses ini membypass windowing system, jadi bisa jalan bahkan tanpa X Window (mode teks sekalipun).

Video dari kamera bisa ditampilkan di mode teks

Fitur texture OpenGL ES artinya kita bisa menampilkan gambar kamera atau video (dari file atau jaringan) langsung di permukaan  misalnya kubus atau teko. Selain itu kita bisa menggunakan pixel shader untuk memproses data tanpa memakai CPU, contohnya membuat filter kamera secara real time, atau bahkan melakukan preprocessing untuk algoritma machine learning. Data yang sudah diproses bisa dibaca dan diproses lebih lanjut di CPU dengan glReadPixels. Lanjutkan membaca “GPU Raspberry Pi”

Kenapa Masih Main Pokemon Go

Sejak ada Pokemon Go (pertengahan tahun 2016), Joe semangat sekali main dan semangatnya ketularan ke Jonathan. Awalnya saya malas main, karena saya ga ngerti apa sih pokemon itu, lagipula saya pikir pokemon itu kan singkatan dari pocket monster, ngapain saya ngajarin anak soal monster. Bisa dibilang saya membuat kesimpulan tanpa tahu apa itu game pokemon. Salah satu alasan saya ga mau main pokemon juga karena saya takut ketagihan. Dulu saya pernah main The Sims dan kalau sudah mulai, saya ga bisa berhenti dan bisa bergadang berhari-hari. Sejak itu saya memilih tidak memulai main game baik itu game minesweeper apalagi candy crush.

Bulbasaur, Charmander dan Squirtle merupakan pilihan starter Pokemon

Lama-lama, dengan setengah hati, karena saya sering ga mengerti obrolan Jonathan dan Joe, akhirnya saya join juga main Pokemon Go. Di awal-awal saya main seingatnya saja, dan merasa ga gitu seru juga karena mainnya ga bisa di rumah doang, tapi harus jalan-jalan keluar mencari pokestop, battle di gym, nangkepin pokemon dan itu semua ga mungkin jadi addiction kalau cuma di rumah saja (di dekat rumah nggak ada pokestop/poke gym). Lanjutkan membaca “Kenapa Masih Main Pokemon Go”