Makanan Indonesia di Chiang Mai

Setelah 13 tahun di Chiang Mai, dan tidak pernah ada restoran Indonesia yang harganya terjangkau dan bertahan lama, akhirnya sekarang saya bisa menikmati berbagai makanan Indonesia hampir setiap hari.

Biasanya sih harus menunggu kalau ada kumpul-kumpul Indonesia di Chiang Mai, masing-masing membawa makanan yang bisa mereka masak. Di saat itu sesekali bisa makan rendang, sayur pecel, bakwan ataupun lontong sayur. Tapi sekarang bisa lebih sering dan gak harus nunggu kumpul-kumpul, apalagi sekarang kan lagi dilarang tuh berkumpul-kumpul.

Ceritanya tahun lalu, di salah satu pertemuan masyarakat Indonesia di Chiang Mai yang digagas oleh KBRI Bangkok, saya berkenalan dengan seorang warga baru yang lokasi rumahnya kira-kira 1 jam perjalanan dari Chiang Mai dan ternyata jago masak.

Awalnya saya bercanda bilang: aduh coba mbak rumahnya di Chiang Mai, saya mau katering deh sama mbak. Ternyata… mbak itu setiap minggunya memang ada jadwal ke Chiang Mai untuk berbelanja berbagai bahan kebutuhan masakannya, jadi dia bersedia sambil membawa pesanan makanan saya.

Awalnya sih pesen makanan yang kira-kira bisa tahan lama seperti cemilan dan kue kering, lalu sekarang sudah bertambah banyak menunya termasuk makanan untuk lauk yang bisa dimasukkan freezer dan bisa jadi makanan untuk beberapa hari hehehe. Di saat himbauan untuk di rumah saja dan tidak kemana-mana seperti sekarang, saya tinggal penuhi kulkas dengan berbagai masakan dari si mbak.

Contohnya hari ini, saya sarapan pagi dengan lupis dan makan siang dengan gudeg nangka pakai telur dan tempe bacem. Supaya awet, lupisnya dikirim terpisah dengan kelapanya dan juga masih dibungkus daun pisang. Di Indonesia saya tidak pernah melihat lupis yang masih terbungkus daun pisang hehehe.

Jadi yang perlu saya lakukan tadi pagi hanyalah memanaskan lupisnya dan kelapa parutnya sebentar, dan tadaaaa sarapan tersedia. Untuk makan siang, saya juga tinggal memanaskan gudeg nangka dan telur, lalu menggoreng tempe bacem. Iya saya memang bisa bikin tempe bacem sendiri, tapi saya lebih suka memesan yang tinggal digoreng karena gak perlu repot mulai dari bikin tempe yang butuh waktu lebih dari 1 hari dan merebus tempenya jadi bacem.

Lanjutkan membaca “Makanan Indonesia di Chiang Mai”

Social distancing yang connecting people

Bukan, ini bukan iklan Nokia.

Saya perhatikan, sejak adanya gerakan dirumah saja atau yang dikenal dengan nama social distancing, timeline media sosial saya jadi lebih ramai. Saya yang sudah lama tidak update status FB , beberapa hari ini jadi share informasi minimal 1 kali.

Bukan, mereka bukan cuma mengupdate masalah seputar Covid-19, tapi juga banyak update tentang kegiatan belajar di rumah ataupun bertukar gambar-gambar lucu untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang harus dihadapi.

Saya perhatikan, beberapa kontak saya yang biasanya juga diam-diam saja seperti saya juga mengupdate entah tentang situasi mereka saat ini, saling berkomentar dengan teman yang lain ataupun berbagi himbauan dari pemerintah di mana mereka berada.

Di WhatsApp grup yang saya ikuti, orang-orang yang biasanya hanya jadi pengamat atau bahkan tidak pernah berkomentar juga jadi bermunculan. Ada yang bertanya ataupun berbagi cerita.

Saya sendiri jadi berusaha menghubungi beberapa teman lama yang merupakan tenaga kesehatan untuk bertanya bagaimana kabar mereka dan kondisi di tanah air. Sebelumnya kami seperti tidak ada bahan obrolan, tapi dengan adanya masalah yang dihadapi bersama, tidak pakai basa-basi rasanya kami tidak pernah lama tanpa komunikasi.

Memang, di rumah saja bukan berarti kita tidak terhubung dengan dunia luar. Dengan adanya teknologi internet saat ini, yang jauh bisa terasa dekat walaupun kadang-kadang ada juga kasus yang dekat malah ngobrolnya balas-balasan di komen sosmed hehehe.

Satu lagi yang saya perhatikan, kabarnya work from home ataupun belajar di rumah bikin orang-orang jadi cepat lapar. Mungkin karena energi habis untuk membaca informasi yang berdatangan, atau kurang kerjaan jadilah makan aja yang terpikir hehehe. Apalagi untuk orang-orang yang mengisi kulkas penuh sebelum masa di rumah saja di mulai.

Sebenarnya, menurut saya, kalau tidak ada masalah polusi seperti kami yang di Chiang Mai, keluar dari rumah untuk melihat langit yang biru dan bermain di halaman rumah boleh-boleh saja. Atau sekedar bekerja sambil memandangi orang yang sesekali lalu lalang. Tapi buat kami, langit biru itu merupakan hal yang langka ditemui. Jadi kami benar-benar harus di dalam rumah saja.

Sebelum tulisan ini berubah jadi curcol soal polusi, baiklah saya akhiri saja. Manfaatkan saja waktu di rumah. Bersyukur saja kalau masih bisa punya pilihan untuk bekerja di rumah atau di rumah saja. Banyak orang yang mungkin berharap bisa di rumah saja tapi tugas dan kewajiban memanggil atau kalau ga kerja ya ga bisa makan.

Kalau lagi bosan, coba untuk mencari hobi baru atau belajar hal baru untuk mengisi waktu. Jangan malah terpikir untuk piknik ke tempat yang ramai. Piknik di halaman rumah saja bersama keluarga.

Kalau HP habis batere ya jangan dipakai sambil charge dengan powerbank. Mungkin itu tandanya waktu untuk keluarga.

Kata siapa social distancing menjauhkan orang-orang? mungkin kita harus jaga jarak secara fisik, tapi semua bisa tetap dekat di hati.

Pamer langit biru dulu ya– hal langka beberapa bulan terakhir

Belajar ala Joshua

Saya termasuk beruntung, tidak perlu susah payah mengenalkan huruf, angka dan membaca ke Joshua. Saya lupa persisnya sejak umur berapa dia menunjukkan ketertarikan dengan huruf dan angka. Tapi di umur belum 5 tahun, dia masih suka sekali dengan huruf dan angka dan sudah bisa membaca.

Nggak ke sekolah bukan berarti gak belajar. Anak-anak belajar dari bermain. Jadi untuk orangtua yang anaknya masih di bawah 6 tahun, gak usah pusing dengan tugas berjibun dari sekolah. Anak gak akan belajar kalau dipaksa, mending juga diajak main.

Beberapa mainan yang selalu dimainkan oleh Joshua tanpa bosan dalam mempelajari huruf dan angka. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk masa-masa di rumah saja ini. Sebagian besar mainan sudah kami punya dari Jonathan kecil, tapi rasanya Joshua lebih banyak memainkan semuanya tanpa bosan.

Kalaupun di rumah saja, saya belum mengatur apa saja yang harus dikerjakan Joshua. Biasanya dia akan memilih sendiri apa yang dia mau. Rumah berantakan tidak masalah, selesai bermain bisa diajak untuk merapihkan. Berikut ini beberapa mainan yang sering dimainkan Joshua siapa tahu bisa jadi inspirasi dalam masa social distancing

LEGO

main lego juga bisa untuk belajar huruf

Lego selain bisa membentuk-bentuk sesuai petunjuk, bisa juga untuk dipakai bikin huruf dan angka. Kalau anak suka dengan hal yang lain, ajak dia membentuk hal-hal lain dengan menggunakan lego.

Lanjutkan membaca “Belajar ala Joshua”

Serba-serbi editor teks

Pekerjaan saya adalah programmer, dan kira-kira 90% waktu saya habiskan untuk mengedit teks, jadi wajar kalau saya ingin memakai editor terbaik. Sekitar 10 tahun yang lalu saya menulis bahwa saya hampir 100% memakai Emacs, tapi setelah itu saya mulai berganti-ganti editor walau editor utama saya tetap Emacs.

Sampai sekarang tidak ada satu editor yang cocok untuk semua hal, jadi akhirnya saya memakai dan menginstall banyak editor teks dan IDE (integrated development environment) untuk berbagai tujuan. Seringkali bermain-main dengan editor dan IDE ini saya jadikan pengisi waktu luang kalau sedang ingin membuang waktu.

Sekarang ini kombinasi Editor teks dan IDE yang saya pakai:

  • Emacs sebagai editor utama
  • Vim untuk editing cepat di sistem remote
  • Ultraedit untuk membuka file teks yang sangat besar
  • Intellij untuk refactoring Python
  • VSCode untuk platformio dan remote editing
  • Visual Studio untuk C# di Windows
  • Netbeans untuk membuat GUI Java dengan cepat

Saya tuliskan dulu apa sih fitur-fitur yang saya pakai, lalu saya sebutkan kapan saya memakai editor atau IDE di atas.

Sebagai informasi, biasanya saya mengedit file di komputer:

  • Desktop Rumah: RAM 48 GB, Intel Core i5, NVME SSD
  • Laptop: Macbook Pro 2019 (16 inch), RAM 16 GB, NVME SSD

Tapi kadang saya juga mengedit file dengan berbagai komputer lain, termasuk juga pinebook dan pinebook pro.

Berjalan di Console/Mode Teks

Saya sering perlu mengedit teks di sebuah sistem yang tidak memiliki GUI, atau jika dipaksa akan lambat sekali. Contoh: mengedit file di sistem embedded Linux dengan memori yang hanya 32 Megabyte. Banyak editor langsung keluar dari daftar. Untuk keperluan ini akhirnya saya sering memakai vim dan emacs. Editor nano dan pico juga kadang saya pakai jika terpaksa.

Startup vim jauh lebih cepat dari Emacs, tapi saya sering lupa perintah Vim karena semuanya memakai kombinasi huruf yang sulit dihapal. Sekarang saya sudah hapal perintah sederhana untuk navigasi, save, edit, shell, goto line, search replace, split screen, dan managemen tab di Vim, tapi fitur yang lebih advanced belum saya kuasai. Emacs juga bisa dikonfigurasi dengan berbagai shortcut, tapi jika kita lupa sesuatu, kita bisa mengetikkan nama perintahnya (misalnya: remove-trailing-whitespace). VSCode juga memiliki fitur search command semacam ini tapi VSCode tidak berjalan di mode teks.

Search dan Replace

Semua editor punya search dan replace, tapi kemampuannya berbeda-beda. Jika mungkin saya akan melakukan search replace text dengan menggunakan program “sed” saja di command line, tapi kadang saya perlu langsung melihat hasilnya secara interaktif. Vim bagus untuk search/replace dengan regex, tapi untuk search/replace non regex malah sulit (opsi no magic atau sno tetap menganggap karakter $ dan backslash dianggap spesial). Padahal ketika search dan replace kode program itu hampir selalu mengandung karakter spesial. Jadi bagian kecil ini sering mengesalkan.

Kadang jika ingin search replace yang case sensitive, yaitu mengganti teks tapi jika huruf kapital tetap kapital, jika bukan kapital tetap bukan kapital, dan jika diawali kapital tetap diawali kapital, misalnya semua YOHANES jadi JOE, Yohanes jadi Joe dan yohanes jadi joe. Ini sangat terpakai jika kita ingin konsisten dalam memberi nama, misalnya #define di C biasanya huruf kapital, sedangkan nama fungsi huruf kecil semua. Dengan Emacs ini mudah dilakukan (defaultnya itu) tapi ini sulit dilakukan dengan sed dan butuh plugin untuk Vim. Di VS Code, fitur ini baru mulai ada di versi 1.37 (Juli 2019).

Macro

Ini sulit dijelaskan bagi yang tidak pernah memakai fitur Macro. Jika kita ingin mengedit banyak baris teks secara interaktif tapi berulang, kita bisa memakai macro. Contohnya begini, jika kita punya teks banyak baris, seperti ini: sebuah kata diikuti definisi kata tersebut:

cinta suka sekali; sayang benar
cantik elok; molek

Dan kita ingin mengubah dafar tersebut menjadi pemetaan dictionary dengan syntax PHP:

"cinta" => "suka sekali; sayang benar",
"cantik" => "elok; molek",

Dengan mengetahui perintah Emacs dan macro, kita cukup mengetikkan Control-X (, lalu mulai melakukan apa yang harus terjadi di baris itu:

  • ke awal baris dengan Control-A (beginning of line)
  • ketik tanda petik ganda
  • pergi ke kata berikut dengan Alt-f (forward-word)
  • ketik ” => “
  • pergi ke akhir baris dengan Control-E (end-of-line)
  • ketik “,
  • pergi ke baris berikut dengan panah bawah, atau Control-N (next-line)

Lalu kita akhiri macro dengan Control-x ), dan berikutnya untuk mengulangi macronya kita tekan: Control-x e. Jika masih ada lagi berikutnya kita tekan e.

Vim juga memiliki fitur macro, dan sering juga saya gunakan, tapi karena saya tidak hapal dengan banyak perintah Vim, saya lebih sering memakai emacs ketika butuh fitur Macro.

File besar

Cukup sering saya harus berurusan dengan source code yang ukurannya besar, biasanya dihasilkan oleh tools (generated code). Ukuran filenya ratusanribu sampai jutaan baris. Berbagai editor tidak mampu menangani file sebesar ini, emacs tidak mampu, vim mampu, tapi syntax highlightingnya akan didisable secara otomatis (mengeset opsi ttyfast tidak membantu).

VS Code ketika membuka file besar

Setelah mencoba berbagai editor, yang bisa membuka file besar dengan baik tidak banyak. Sebagian besar hanya tersedia untuk Windows. Pilihan akhirnya jatuh ke Ultra Edit (komersial) karena kebetulan mendukung berbagai bahasa yang saya pakai. Paket ultraedit yang saya beli juga memiliki Ultra Compare, yang bisa dipakai untuk file besar (WinMerge dan yang lain mengalami kesulitan dengan file ratusan megabyte). Alternatif lain yang menurut saya bagus adalah 101 Editor (juga komersial).

Shell

Sambil mengetik program, saya sering perlu menjalankan perintah tertentu. Tentunya ada banyak cara untuk menjalankan shell ini sambil menjalankan editor.

Pertama adalah di window terpisah. Ini cocok jika kita memakai tiling Window Manager

Atau di belah layarnya dengan tmux

Jika tidak butuh interaktif, kita bisa menjalankan langsung perintah dan melihat hasilnya (misalnya dengan “!” di vim).

Dengan menggunakan fitur di editor itu sendiri, misalnya vim punya perintah terminal (ini baru di versi 2017 ke atas) dan emacs punya perintah shell. Contoh editor lain yang memiliki ini adalah VSCode

Terminal di dalam Vim

Di Vim dan VSCode, shell ini tidak terasa terintegrasi menurut saya, karena di dalam shellnya, key binding editor jadi tidak berfungi. Di emacs, semua masih berfungsi (pergerakan kursor, copy paste, dsb), jadi misalnya kita ingin mencari output terminal, kita bisa menekan Control-r (reverse search) untuk mencari perintah atau outputnya.

Network Editing

Ada banyak cara mengedit file dari network, tapi pendekatannya biasanya salah satu dari ini:

  • Mount sharenya di lokal (bisa menggunakan sshfs)
  • Ambil filenya ke lokal, edit, lalu kirim kembali ke remote server
  • Jalankan editor atau proses khusus di remote server

Masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jika kita mount direktori remote agar bisa diakses lokal, kadang ini jadi lambat jika diakses IDE (karena berusaha mengindeks seluruh project). Jika saya mengedit file di server, maka semua gerakan kursor jadi lambat, tapi perubahan akan disimpan instan. Sedangkan jika saya mengcopy file dulu di lokal, lalu menekan save, kadang butuh waktu sampai filenya benar-benar tersimpan di remote server.

Dulu saya suka memakai emacs TRAMP (Transparent Remote Access, Multiple Protocol), tapi sekarang saya memilih VSCode. VSCode memiliki fitur codeserver, jadi editornya berjalan di remote, tapi user interfacenya lokal (bahkan bisa via browser). Sayangnya fitur code server ini baru tersedia di x86/x86_64 dan arm/arm64, jadi kalau ingin mengedit file di router yang memakai MIPS biasanya tetap butuh SSH langsung.

Narrowing

Kadang saya ingin berkonsentrasi di satu bagian kode saja, misalnya satu fungsi atau bahkan sepotong bagian fungsi yang besar. Dari berbagai editor yang saya pakai, sepertinya hanya Emacs yang punya fitur narrowing secara default. Ada plugin VIM untuk ini, dan meski sudah ada yang menyarankan agar menjadi fitur VSCode, ini juga katanya sebaiknya menjadi plugin saja.

Ini sepertinya fitur minor, tapi sangat berguna, dengan narrowing, saya bisa melakukan editing apa saja (termasuk search replace) dan saya bisa yakin tidak akan mempengaruhi bagian lain program. Andaikan tidak ada fitur ini, bisa saja saya mengcopy paste bagian yang ingin saya kerjakan ke file baru, tapi saya harus mengcopy lagi hasil edit, jadi cukup merepotkan.

Font dan ligature

Sekarang ini ada beberapa “programming font”, yaitu font yang tujuannya untuk dipakai menampilkan kode. Dalam berbagai font ini berbagai simbol terlihat jelas bedanya, misalnya angka 0 dan huruf O berbeda jelas, demikian juga huruf kapital I, huruf kecil l dan angka 1. Beberapa font bahkan dibundel bersama editor atau IDE tertentu, misalnya IntelliJ punya “Jetbrains Mono” dan Visual Studio Code memakai “Cascadia Code”. Dan banyak juga font lain seperti Fira Code yang tidak ditujukan untuk editor tertentu.

Sebagian programming font ini mendukung ligature. Berbagai operator seperti <= akan ditampilkan cantik dengan simbol ≤. Sebagian programmer tidak suka ini, tapi menurut saya cukup enak untuk dipakai membaca source code. Dari berbagai editor yang saya pakai, saat ini hanya emacs yang tidak mendukung ligature dengan baik. Sebenarnya bisa, tapi repot sekali, tidak seperti editor lain yang mudah.

Zero Latency Typing

Saya sempat terobsesi juga dengan zero latency typing: begitu menekan tombol, karakter seharusnya langsung muncul di layar. Kebanyakan editor tidak bisa seperti ini, jadi ya sudah saya terima aja karena tidak banyak yang bisa saya lakukan. Biasanya jika komputer terlalu lambat, entah itu karena terlalu sibuk mengkompilasi kode atau memang spesifikasinya kurang cepat (misalnya Pinebook/Pinebook Pro), saya akan memakai editor yang lebih ringan.

Editor latency in Windows (text file)
Sumber: Typing with pleasure

Editor vs Integrated Development Environment (IDE)

Memprogram dengan IDE bisa banyak membantu pemrograman, tapi dari dulu saya sering menghindari IDE karena terlalu banyak menyembunyikan berbagai hal dari saya. Jika sedang bekerja baik IDE sangat nyaman dipakai, tapi jika ada error, sering sulit sekali mencari salahnya.

Kebanyakan IDE juga tidak terlalu berguna untuk bahasa C/C++ karena akan bingung ketika ketemu berbagai Macro yang aneh atau template yang kompleks. Jadi akhirnya saya hanya memakai IDE di kasus tertentu saja. Berbagai skrip singkat Python juga tidak butuh IDE, membuat script manual dengan editor lebih cepat daripada setup project IDE.

Kasus pertama adalah jika memang bahasa atau platform target sangat bergantung pada IDE-nya. Contoh: saya memakai Android Studio untuk membuka project Android. Meski saya mengetahui langkah manual/command line untuk mengcompile, source, membuat package dan sign APK (pengetahuan berguna untuk reversing), tapi jika ingin mengedit proyek Android ya saya memakai Android Studio. Demikian juga jika ingin membuka proyek iOS, saya memakai XCode.

Kasus kedua adalah untuk refactoring. Jika saya ingin mengubah-ubah nama dan lokasi file, fitur drag/drop IDE sangat membantu. Tidak semua IDE punya fitur setara untuk hal ini. VSCode memiliki banyak plugin yang menjadikannya seperti IDE, tapi ini masih kalah dari yang sudah matang. Contoh: fitur refactoring kode Python di VSCode masih kalah jauh dibandingkan Intellij/PyCharm.

Kasus berikutnya adalah untuk membuat GUI sederhana. Sering kali saya perlu melakukan reverse engineering kode Android (Java), dan perlu mengetes kodenya. Dengan decompiler saya bisa mendapatkan kode tertentu (kode enkripsi, signing, dsb) dari APK, dan kode ini bisa ditest dengan cepat menggunakan NetBeans di desktop. Saya bisa membuat GUI sederhana untuk memanggil kode yang saya ekstrak tersebut. Membuat program command line memang mudah, tapi jika programnya menerima banyak input, dan ada yang opsional, parsingnya mulai merepotkan dan lebih mudah memakai GUI.

Kasus terakhir adalah jika saya kurang familiar dengan bahasanya. Contohnya: saya memakai Visual Studio untuk editing C# (atau Rider jika sedang memakai Linux/OS X). Pengetahuan saya tentang C# jauh lebih rendah dibandingkan pengetahuan saya mengenai Java. Dengan IDE plus plugin dari ReSharper dari IntelliJ, saya bisa membuat kode C# yang cukup bagus. Setiap kali membuat kode yang kurang bagus, plugin ReSharper bisa memberi ide yang lebih baik.

Internal Editor Teks

Sebagai programmer, dari dulu (dari sejak SMU sekitar 1997) saya tertarik bagaimana mengimplementasikan editor teks. Untuk mengimplementasikan editor teks yang baik dibutuhkan struktur data yang baik pula. Sekedar array of string akan membuat proses insert line, merge line, dsb kurang efisien. Belum lagi berbagai aksi seperti text selection, rectangular selection, undo dan redo.

Sampai sekarang pun masih, dan saya masih mengikuti berbagai perkembangan editor yang ada. Saat ini proyek open source yang menarik adalah xi-editor yang menggunakan struktur data rope. Sayangnya sampai saat ini belum ada front end xi editor ini yang saya sukai.

Penutup

Bermain-main dan mencoba-coba berbagai editor ini sering kali menjadi “kegiatan buang waktu” ketika sedang malas mulai memprogram. Tapi Andaikan hasil dari mengoprek editor ini bisa membuat saya lebih efisien 1% saja per hari (bisa mengetik/mengedit lebih cepat beberapa menit saja totalnya), maka dalam setahun, hasilnya sudah terbayar.

Beberapa contoh yang terpikir oleh saya:Pemakaian macro sudah menghemat banyak sekali waktu karena mempercepat editing berulang. Memilih teks editor Ultraedit untuk membuka file besar menghemat banyak waktu karena hasilnya instan. Dari waktu untuk membuka file saja, sudah hemat banyak waktu.

Ayo Menulis Setiap Hari bersama KLIP

Udah bosan baca berita dengan judul yang dilebih-lebihkan? Udah bosan baca hoax? Udah bosan baca berita yang simpang siur? Sekarang waktunya kita yang menulis, supaya berita di Internet isinya lebih bervariasi.

Gak usah bingung mau nulis apa, kita bisa menuliskan mulai dari apa yang menjadi hobi kita, buku yang kita baca, kegiatan menarik untuk keluarga dan anak yang kita lakukan, film yang kita tonton, produk menarik yang kita pakai, merekomendasikan hal-hal yang kita anggap layak untuk direkomendasikan, atau bisa juga sekedar puisi dan curhat colongan. Daripada pusing kepala melihat berita yang ada, lebih baik menulis di halaman sendiri. Berbagi cerita ataupun informasi.

Menulis setiap hari itu awalnya terasa sulit, apalagi kalau sendiri. Tapi kalau menulis dengan ada komunitas yang saling mengingatkan dan menyemangati, lama-lama rasanya ada yang hilang kalau gak menulis 1 hari.

sumber: FB KLIP

Kelas Literasi Ibu Profesional tahun 2020 masih menerima pendaftaran sampai tanggal 20 Maret 2020. Masih ada waktu kalau mau bergabung untuk menulis setiap hari.

Lanjutkan membaca “Ayo Menulis Setiap Hari bersama KLIP”

Pythagoras dan Menghitung Akar Kuadrat

Catatan: tulisan ini bukan penjelasan rumus pythagoras ataupun cara mencari akar kuadrat, tapi tentang anak yang suka iseng menghitung apa saja untuk latihan soal.

Anak-anak senang sekali bermain di kamar kerja papanya. Mereka kadang-kadang ikut sibuk mengganggu papanya yang sibuk sementara mamanya pura-pura sibuk di dapur atau kadang memang lagi sibuk nulis blog. Ceritanya, papanya baru beli monitor komputer. Jadi tadi dia sibuk mengukur-ukur monitor papanya dan menghitung-hitung di kertas. Saya pikir: kenapa tidak langsung diukur pakai meteran juga diagonalnya? Tapi ya begitulah, kadang-kadang Jonathan suka menantang dirinya sendiri.

Ternyata, Jonathan terinspirasi untuk menghitung diagonal dari monitor itu dengan menerapkan rumus pythagoras dan menghitung akar kuadrat yang dipelajari dari buku The Murderous Maths yang dia baca. Selesai menghitung, dia melaporkan ke papanya, dan papanya cerita ke saya.

Lanjutkan membaca “Pythagoras dan Menghitung Akar Kuadrat”

Kosa kata Bahasa Indonesia Jonathan

Sejak kecil, Jonathan sudah kami ajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Di masa awal, dia sudah bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari lagu-lagu yang dia dengarkan dan buku yang kami bacakan.

Sekitar umur 3,5 tahun, kami masukkan Jonathan ke preschool Thai, dan dia pun mulai bisa berbahasa Thai selain Indonesia dan Inggris.

Setelah umur 4,5 tahun, kami masukkan dia ke sekolah Australia yang hanya menggunakan bahasa Inggris. Sejak saat itu, Jonathan hanya mau berbicara bahasa Inggris (dengan aksen Australia) dan semakin jarang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Thainya.

Sejak mulai homeschool, Jonathan mulai lagi berbicara bahasa Indonesia di rumah selain menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Thainya tetap jadi nomor 3 karena dia tidak punya teman bermain orang Thai (teman Thainya bisa berbahasa Inggris juga). Teman-temannya dari berbagai negara di grup homeschool umumnya bisa berbahasa Inggris. Jadi kalau di luar dia menggunakan bahasa Inggris, sedangkan di rumah bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris.

Setelah beberapa tahun homeschooling, Jonathan sudah semakin bisa berbicara bahasa Indonesia, tapi untuk membaca sampai sekarang (umur 9 tahun) saya belum ajari secara khusus. Kadang-kadang dia sudah mulai bisa membaca teks bahasa Indonesia, tapi dengan nada membaca yang agak aneh terdengar hehehe.

Hari ini, berhubung di Jakarta sedang banyak kegiatan sekolah di rumah, dan banyak aplikasi bahasa Indonesia untuk belajar yang digratiskan, saya pikir ini kesempatan yang tepat untuk mencobakan bagaimana kalau Jonathan harus sekolah dengan materi yang berbahasa Indonesia.

Jadi tadi pagi, dia duduk manis menonton depan handphone dan merasa bosan. Sesekali dia akan bertanya: ini apa artinya? itu apa artinya? Dan sayapun menyadari masih banyak sekali kosa kata bahasa Indonesia yang belum pernah Jonathan dengar.

Percakapan kami sehari-hari tidak pernah membicarakan kata-kata: pemulung, ataupun sumber daya alam, budi daya, unggul, deklamasi, makanan pokok dan banyak kata-kata yang ternyata saya juga butuh lama berpikir untuk menjelaskan dengan mudah.

Walaupun banyak tidak mengertinya, Jonathan mau mencoba mengerjakan soal latihan. Saya hanya menyuruh dia menonton kelas streaming pagi, tapi tanpa disuruh dia malah mengerjakan soal latihan Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA terpadu, sambil sesekali bertanya ini apa itu apa. Latihan soal yang dia kerjakan juga bukan dari materi yang dia tonton paginya, tapi ya saya biarkan saja.

Dari pelajaran hari ini, saya jadi tahu bagaimana meningkatkan kosa kata bahasa Indonesia Jonathan. Kasih aja terus soal latihan berbahasa Indonesia selama dia mau. Kalau ada yang tidak jelas jawabannya, bisa cari di wikipedia.

Hari ini dia jadi belajar apa saja makanan pokok di Indonesia selain nasi. Dia juga belajar batu bara itu bahasa Inggrisnya apa, dan berasal dari fosil apa batu bara itu. Ada juga pertanyaan mengenai pohon Jarak, yang mana saya juga tidak tahu apa bahasa Inggrisnya pohon jarak. Dan dia juga belajar apa kegunaan dari jahe, kunyit, dan daun jarak dan daun jambu biji.

Senangnya belajar homeschool itu ya begini. Minggu ini memang saya masih meliburkan dia dari kurikulum utama yang kami pakai, tapi tentunya akan saya pakai kesempatan untuk menambah kosa kata bahasa Indonesia sambil menambah pengetahuan umum yang mungkin tidak pernah saya ajarkan sebelumnya.