Mencari Sekolah buat Joshua

Sekarang Joshua berumur 3 tahun 2 bulan dan masih belum dikirim ke sekolah/playgroup atau daycare manapun. Jonathan dulu umur 3 tahun kurang sudah dikirim ke daycare/taman bermain. Sebelumnya ga kepikiran mencari/memilih sekolah aja bisa jadi rumit. Mencari sekolah ini selalu jadi topik yang menarik buat saya karena di sini walaupun ada banyak sekolah, tapi mencari sekolah yang sesuai dengan kami itu ternyata ga mudah. Bahasa, harga, lokasi selain kualitas jadi pertimbangan sebelum mengirim anak ke sekolah/taman bermain.

Waktu Jona masih di daycare, saya bertemu dengan salah seorang ibu yang sama-sama mencari sekolah terbaik buat anak. Kami mengunjungi banyak sekali sekolah di Chiang Mai. Tapi karena teman saya ini orang Thailand kami lebih banyak mengunjungi sekolah Thai atau bilingual yang mengakomodasi orang asing. Dari dulu sekolah Internasional itu mahal, jadi kami ga pernah menargetkan sekolah Internasional. Kalau kata teman saya, anak dikirim ke sekolah Internasional cuma bisa berbahasa Inggris, dan kadang-kadang malah ga punya skill lainnya. Mungkin karena dia memandang sebagai orang lokal tinggal di negara sendiri, dia merasa kemampuan bahasa Inggris itu ga harus jadi kemampuan utama, apalagi kalau sampai harus bayar mahal. Dia juga punya beberapa ponakan yang lulusan sekolah Internasional tapi akhirnya kerjanya biasa saja dan penghasilannya ga berbeda dengan anak-anak lulusan sekolah lokal.

Saya sebagai lulusan sekolah negeri dari SD sampai kuliah, ga bisa argue juga mengenai sekolah Internasional. Kemampuan bahasa itu bisa dipelajari, kami ga pernah menargetkan anak-anak harus bisa bahasa Inggris dulu atau bahasa Thailand dulu, tapi karena kami ga tinggal di Indonesia kami malah menargetkan anak-anak harus tetap bisa berbahasa Indonesia selain bahasa apapun yang mereka suka.

Jonathan bisa bahasa Thai dan Inggris dan sempat cuma prefer bahasa Inggris. Sejak homeschool dan banyak berbahasa Indonesia, dia mulai lebih banyak kosa kata bahasa Indonesianya. Joshua sampai sekarang lebih banyak berbahasa Inggris walaupun mengerti bahasa Indonesia. Tapi belakangan dia juga mulai suka mengucapkan kata-kata bahasa Thai yang dia dengar. Kenapa kami memaksakan anak-anak harus bisa bahasa Indonesia padahal ga tinggal di Indonesia? ya karena mereka orang Indonesia dan oppung/eyangnya ga bisa bahasa Inggris ataupun Thai. Mereka harus bisa bahasa Indonesia biar bisa ngobrol dengan keluarga besar kalau lagi pulang kampung.

Di Chiang Mai, daycare yang gurunya bisa bahasa Inggris itu pilihannya ga banyak, dan harganya 2 kali lipat dari jaman Jona daycare. Kadang2 kepikiran, dulu orangtua kami rasanya ga pusing-pusing amat milih sekolah, mereka akan cari sekolah terdekat negeri yang mereka mampu bayar dan itupun kadang terasa berat tiap awal tahun ajaran karena harus beli baju seragam maupun buku pelajaran dan alat tulis, sepatu dan tas kalau misalnya yang sebelumnya sudah kekecilan/rusak.

Di Chiang Mai ada banyak orang asing. Ada banyak sekolah Internasional dan bilingual, setiap sekolah Thai juga selalu ada English Programnya, tapi dari hasil survei, walau mereka bilang English Programme atau Bilingual umumnya semua pemberitahuan ke orangtua atau penjelasan apapun pakai bahasa Thai. Harga uang sekolah di sini juga sangat beragam, yang pasti untuk sekolah Internasional, rata-rata berkisar mulai dari 250.000 baht/tahun atau diatas 110 juta per tahun. Saya tahu, di Indonesia uang sekolah Internasional juga ga murah, tapi karena kami bukan lulusan sekolah internasional dan merasa bisa berhasil tanpa sekolah internasional, kami jadi merasa sekolah internasional ga sepadan dengan harganya.

Untuk mengeluarkan uang sekolah ratusan juta per tahun sejak anak umur 3 tahun sampai lulus universitas kalau dihitung-hitung bakal jadi beban untuk anak itu juga. Pilihan daycare bisa lebih murah (walau ga murah banget juga), dan untuk umur di bawah 6 tahun, pendidikan formal itu belom dibutuhkan. Anak lebih butuh diajak bermain dan belajar life skill. Saya mencari sekolah paruh waktu buat Joshua, tapi inipun belum berhasil menemukan yang tepat. Dengan kemampuan akademis Joshua yang mulai membaca di umur 3 tahun, sepertinya bakal semakin sulit mencari sekolah yang tepat buat dia. 

Untuk sebelum umur 6 tahun, saya mencari sekolah yang tidak mahal, guru bisa berbahasa Inggris dan tidak menekankan akademik tapi lebih banyak mengajak anak bermain. Sekolah yang guru-gurunya ga sibuk main HP dan tetap mau perhatikan anak main walaupun judul kelasnya free play. Sekolah/daycare yang ga banyak kasih anak video walaupun itu kasih lagu nursery rhyme. Karena kalau gurunya main HP mulu atau kasih video doang akhirnya sama aja dengan saya dong dan bisa saya lakukan di rumah tanpa bayar atau ribet antar jemput hehehe. 

Pada akhirnya, walaupun saya sangat ingin mengirimkan Joshua ke sekolah supaya saya bisa lebih ringan tinggal ngajarin Jonathan di rumah tanpa harus ajak Joshua main, yang paling tepat sampai sekarang ini ya tidak mengirimkan Joshua ke sekolah. Beberapa pertimbangan nantinya mencari nanny biar bisa ninggalin Joshua dan Jona di rumah kalau mamanya butuh me time.

 

Akhir Sesi 2 ODOP99days

Tanpa terasa, saya sudah memaksakan diri untuk menulis posting blog minimal 1 tulisan seminggu sejak bulan Mei yang lalu. Di awal semangat masih tinggi dan banyak topik yang rasanya ingin dituliskan. Dalam seminggu bisa lebih dari 1 tulisan diposting, tapi semakin mendekati finish, mulai sering jadi nulis kejar setoran. Tulisan ini termasuk tulisan kejar setoran menjelang pergantian minggu.

Kilas balik dengan target ikutan grup ini supaya mulai lagi mengisi blog dan ya kalau bukan karena ikutan grup sudah bisa dipastikan saya sudah berhenti lagi posting blog. Target tercapai walau terkadang menulisnya buru-buru dan sejauh ini tetap tidak memakai gaya bahasa formal.

Pengalaman dari ikutan ODOP99Days ini lumayan banyak, saya jadi menemukan banyak yang rajin menulis (bukan cuma blog), tapi buat mereka menulis itu menjadi karya yang juga bisa menjadi sumber penghasilan. Apakah saya jadi pingin menulis buku? ya sebenernya keinginan menulis buku sudah ada dari dulu, tapi belum pernah benar-benar memaksakan diri untuk mulai menuliskannya (ga baik, jangan ditiru).

Dari sejak Mei, saya juga jadi memaksakan diri membaca minimal 1 buku dalam seminggu. Seharusnya bisa membaca buku lebih banyak lagi, tapi ya belum bisa konsisten untuk duduk membaca buku karena masih lebih tertarik membaca konten sosmed ataupun blogwalking.

Dari sharing teman-teman di grup, menulis itu butuh latihan seperti ketrampilan lainnya. Menulis itu juga sebaiknya menuliskan apa yang memang kita ketahui dan apa yang kita suka untuk tuliskan. Kalau melihat tulisan yang akhirnya saya posting, kebanyakan tulisan seputar homeschooling ataupun anak-anak.

Sebenarnya terkadang banyak sekali opini yang pingin dituliskan, tapi saya merasa kalau opini saya ga bermanfaat untuk orang lain sebaiknya saya simpan sendiri, apalagi kalau dituliskan tidak terstuktur lebih baik jadi draft saja hehehe. Untuk memfasilitasi menulis opini ini grup ODOP juga menyarankan kita setiap harinya menyediakan waktu untuk free writing. Mungkin target saya mengikuti sesi berikutnya nanti berupa harus mulai rutin menulis free writing dan juga membaca.

Buat yang belum tau, ODOP99days ini diperuntukkan untuk wanita usia 18 tahun ke atas, walaupun namanya 0ne day one post, kita dikasih minimal untuk menulis 1 kali dalam seminggu sebanyak 500 kata. Mungkin awalnya terasa sulit untuk menuliskan sebanyak 500 kata, tapi umumnya lama-lama tulisan yang disetorkan jumlahnya bisa sampai ribuan kata. Informasinya bisa diikuti di FB Group ODOP99days.

Dari beberapa tahun yang lalu, Joe memberi tahu saya soal NaNoWriMo (National Novel Writing Month), ini targetnya menuliskan novel selama sebulan di bulan November. Sejauh ini saya dan Joe masih gagal buat ikutan, ide ceritanya mentok mulu dan seringnya juga karena tidak menyediakan waktu secara konsisten untuk menulis.

Kadang-kadang menuliskan novel/cerita fiksi buat saya sulit dibagian percakapan para tokohnya. Kalau lagi membayangkan saja sih saya bisa, tapi giliran nulis saya bingung kebanyakan kata si A atau kata si B. Menuliskan opini begini saja paragraphnya terkadang masih terlalu panjang.

Mudah-mudahan saja kalau tetap berlatih di ODOP99days, tahun ini saya bisa mengikuti NaNoWriMo. Targetnya mungkin ga harus sampe dipublish ya, tapi ya minimal mengasah kemampuan menulis sebagai bentuk bercerita. Kalaupun bukan menulis novel, bisa juga bikin target untuk memulai menuliskan buku yang dari dulu ingin dituliskan. Mari kita lihat bagaimana konsistensi menulis di hari -hari mendatang. Semangat (menyemangati diri sendiri heheehehe).

Buku-buku Baru

Post ini sekedar untuk catatan beberapa buku baru yg dibeli belakangan ini. Bulan lalu beli beberapa buku dari Asiabooks.com. Kebetulan lagi ada diskon 20 persen untuk semua buku kalau beli online (ada beberapa toko asiabooks offline juga di sini). Berhubung Jonathan sudah selesai membaca buku Harry Potter 1 dan 2, maka kami beli buku 3 dan 4. Selain itu kami membeli buku set Minecraft.

Semua buku yang dibeli ini sudah dibaca berulang-ulang oleh Jonathan. Untuk Joshua kami membelikan buku wipe and clean 1 set yang isinya ada 5 buku. Sejak buku datang sampai sekarang, entah sudah berapa kali bukunya ditulisin dan dihapus. Untuk papa dan mamanya kayaknya ga beli buku deh, papanya palingan ikutan baca buku Minecraft saja.

Karena buku Fat and Cat sudah beberapa kali dibaca oleh Joshua, pas jalan ke toko buku liat buku Cow Take a Bow dan beberapa cerita lainnya. Papanya langsung semangat beliin buat Joshua, dan benar saja, sejak beli sampai sekarang entah sudah berapa kali dibacakan dan dihapalkan oleh Joshua.

Beberapa waktu lalu ada acara Big Bad Wolf di Bangkok. Saya awalnya ga kepikiran untuk beli-beli, karena ongkos buat ke Bangkoknya saja mahal. Kalau di Jakarta, teman saya cerita antrinya minta ampun dan kalau pergi ke sana harus siap-siap bawa koper dan ya siap-siap pegel ngantri selain bisa kalap liat buku banyak banget. Nah ternyata dari seorang teman yang pernah tinggal di Bangkok dan sekarang pindah ke Chiang mai, saya dikasih tau ada grup buat nitip beli. Waaaah langsung deh ikutan kalap hahaha.

Kerjaan Joshua. Masih ada beberapa yang salah, lumayan lah untuk 3 tahun 2 bulan yang tidak diajari secara khusus

Sebenernya saya masih cukup sukses menahan diri, melihat foto buku banyak banget. Kadang-kadang saya bingung, itu banyak banget buku apa ada yang baca ya? terus bukunya judulnya mirip-mirip gitu modelnya. Buku aktivitas buat anak juga banyak selain buku cerita.

Dari Big Bad Wolf Bangkok akhirnya saya nitip buku dalam bentuk set, karena harganya memang jauh banget hematnya. Jonathan sudah kami belikan dan baca buku Captain underpants 1 sampai 3, tapi kami belum beli lagi karena alasan agak mahal. Akhirnya kemarin nitip beli Capt. Underpants yang set (10 buku). Harga setnya ini kira-kira cukup untuk beli 4 buku satuan.  Selain set itu kami juga beli buku Diary of Wimpykids set dan buku wipe and clean untuk menulis tulisan sambung (cursive). Buku-buku ini semua umumnya untuk Jonathan walaupun buku Capt. underpants saya ikutan baca buat hiburan. Oh ya, saya juga membeli buku The Famous Five-nya Enid Blyton, saya ingin bernostalgia sedikit sekalian mengenalkan ke Jonathan bacaan chapter book saya dulu.

Ketika paket buku BBW sampai, saya baru menyadari saya ga pesan apa-apa untuk Joshua, tapi Joshua ternyata malahan senang dengan buku latihan menulis sambung. Sejak buku itu sampai kayaknya lebih banyak Joshua yang pakai daripada Jonathan. Joshua secara umum lebih senang tulis-tulis daripada Jonathan.

Awalnya, saya kurang setuju Joe beliin buku Captain Underpants buat Jonathan, karena tokoh ceritanya 2 anak sekolah yang agak “usil”, tapi setelah dibaca-baca, sebenarnya mereka bukan usil tapi kreatif. Buku ini juga mengenalkan konsep flip-0-rama. Konsep flip-o-rama ini sebenarnya bukan hal baru, tapi baru buku ini yang saya temukan cukup serius memperkenalkan flip-0-rama.

Buku Captain Underpants ini juga ada ide-ide yang bisa mengembangkan imajinasi anak, misalnya mesin fotokopi dari gambar jadi benda 3dimensi, mesin membesarkan atau mengecilkan, formula untuk memberi kekuatan super, dan pernah juga ada dibahas percobaan science sederhana mencampurkan vinegar dengan baking soda. Setelah membaca beberapa bukunya, menurut saya buku ini masih baik-baik saja untuk hiburan, tapi kita perlu ingatkan anak kita apa yang tidak baiknya dan jangan ditiru.

Sebelumnya saya berusaha mencari buku Famous Five nya Enid Blyton di toko buku di Chiang mai tapi ga pernah ketemu, nah dari foto-foto jasa titip, saya lihat ada 1 buku Famous Five. Berhubung ini buku lama, buku ini udah ga populer lagi sekarang, hampir saja yang dititipin kelewat karena dia ga pernah dengar The Famous Five (ketauan beda generasi). Untung akhirnya dia menemukan dari buku pertama, dan lebih menyenangkannya karena ada versi collection, 1 buku isi 3 judul buku. Saya langsung beli 3 buku koleksi yang ada di pameran itu. Yay dapat deh 9 buku hahaha.

Buku Captain Underpants udah selesai dibaca Jonathan sampai nomor 10, sekarang dia jadi terinspirasi ikut-ikutan bikin komik seperti tokoh dalam cerita captain underpants walau masih agak susah dimengerti. Saya baru selesai baca buku pertama Lima Sekawan. Jonathan juga tertarik dengan cerita Lima Sekawan karena saya bacakan bersuara. Menarik membaca buku lima sekawan versi bahasa Inggris (dulu yang saya baca versi bahasa Indonesia). Saya kagum dengan Enid Blyton yang bisa menulis banyak sekali buku dan karya yang dia tulis sebelum tahun 42 bisa dibaca tanpa terasa janggal di jaman sekarang ini. Gak kalah deh dengan Harry Potter.

Buku Diary of Wimpykids belum saya berikan ke Jonathan, karena pas saya baca lagi reviewnya ternyata ada bagian yang perlu didampingi. Sekarang ini Jonathan masih belum minta juga, jadi ya disimpan dulu. Harapan saya nantinya setelah baca buku Diary of Wimpykids, Jonathan kembali lagi mengerjakan jurnalnya dan siapa tahu mulai rajin mengisi blognya. Kadang-kadang Jonathan punya semangat yang sesaat saja, dan perlu disemangati terus menerus supaya dia tetap kerjakan.

Saya ini bukan orang yang terlalu rajin membaca, tapi saya suka ga bisa menahan diri untuk membeli buku apalagi kalau ada potongan harga. Sekarang ini udah banyak tumpukan buku yang harusnya dibaca, tapi gara-gara baca FB dan kadang-kadang nonton Netflix, jadilah bukunya ga dibaca juga. Joe lebih rajin membaca dari saya, dia bisa baca buku elektronik tanpa terdistract dengan segala pop up yang muncul di HP (Joe lebih sering baca buku teknis dan udah langganan Safari books, jadi jarang beli buku cetak).

Sekarang ini kami juga subscribe ke Kindle Unlimited supaya bisa mengakses lebih banyak buku lagi tanpa harus membelinya. Jonathan sepertinya lebih rajin membaca daripada saya, sekarang ini dia sedang meneruskan baca buku Micro Adventure yang ke-7 yang ke-8 (waktu bikin draft posting ini masih yang ke-7). Saya masih belum meneruskan baca buku Micro Adventure di buku ke-4 dan beberapa buku yang belum selesai di Kindle.

Waduh catatan buku aja jadi panjang gini. Biar ingat punya buku apa aja dan dibaca semuanya hehee.

Restore Backup Ponsel

Sekitar 20 tahun lalu ketika masih memakai dumb phone, data di ponsel yang perlu dibackup hanya phone book dan SMS. Backup ini sangat diperlukan ketika reset HP (misalnya rusak dan direset ketika reparasi) dan ketika berpindah HP. Kerepotan waktu itu adalah masalah koneksi karena diperlukan kabel data khusus sebelum IR dan Bluetooth banyak digunakan. Setelah ponsel makin berkembang, data kalender juga mulai jadi masalah yang perlu dibackup.

Sekarang biasanya saya butuh backup untuk pindah ponsel atau rooting ponsel. Ketika unlock bootloader Android, biasanya data akan hilang jadi perlu backup lalu restore lagi.  Pernah juga saya butuh backup ketika HP tiba-tiba rusak dan perlu reparasi.

Sekarang masalah backup phone book, SMS, dan kalender sudah otomatis ke cloud sehingga tidak ada masalah restore data dasar ini ke HP baru (atau jika melakukan reset HP). Tapi ternyata sekarang juga masih banyak aplikasi baru yang butuh backup manual.

Posting ini sekedar jadi catatan supaya ingat apa yang harus dilakukan sebelum transfer data ke HP baru atau reset data HP. Posting ini juga bisa dijadikan pembanding beberapa tahun yang akan datang apakah proses backup semakin mudah atau tetap seperti ini.

Sekarang saya memakai Google Photos sehingga semua foto aman dibackup (tanpa batas) dan juga mengupload copynya di One Drive (batasnya 1 TB). Berbagai dokumen saya letakkan di Google Drive atau DropBox sehingga bisa diakses dari PC. Jadi sebenarnya sekarang ini yang masih mengganjal hanya beberapa aplikasi yang butuh aksi khusus sebelum (misalnya membackup data secara manual) dan sesudah pindah ponsel baru(restore manual).

Jenis aplikasi pertama adalah banking. Untuk alasan security, kita perlu mengaktifkan ulang aplikasinya. Ini bisa dimaklumi untuk masalah keamanan.  Jika aplikasi banking dengan mudah bisa direstore dari backup maka jika ada yang berhasil mengakses backup di PC akan bisa merestore aplikasi tersebut di ponselnya.

Untuk alasan security, ada bank yang menutup proses aktivasi di luar jam kerja meskipun semua proses sifatnya online. Mungkin tujuannya adalah jika ada masalah maka bisa ditangani jika aktivasi hanya dilakukan di jam kerja. Sebenarnya ini hal kecil, tapi saya pernah hampir lupa karena melakukan reset HP di malam hari.

Aplikasi yang lain yang berhubungan dengan security seperti Authy dan Keybase juga butuh perlakuan  khusus ketika backup. Keduanya butuh device lain yang aktif untuk memudahkan aktivasi device baru. Khusus untuk Authy (diperlukan untuk 2FA di Cloudflare) dibutuhkan waktu 24 jam untuk reaktivasi aplikasi jika kita cuma punya 1 phone dan mereset phone tersebut. Cara yang benar adalah: menambahkan phone baru, reset ponsel, restore, dan aktifkan kembali dari phone satu lagi.

Jenis aplikasi berikutnya yang butuh backup khusus adalah messaging seperti Whats App (WA) dan Line. WA berusaha menjadi aplikasi yang aman: semua data disimpan di ponsel — tidak di cloud — dan kita sendiri yang harus membackup datanya ke cloud. Ini bisa dilakukan otomatis tiap hari. Masalahnya kadang dalam beberapa jam saja sudah ada puluhan/ratusan pesan masuk, jadi kita harus ingat untuk membackup manual sebelum transfer data ke HP baru (jika tidak, maka sebagian chat akan hilang).

Aplikasi chat Line memiliki fitur backup, tapi backup harus dilakukan satu demi satu per conversation secara manual. Biasanya saya menyerah dan membiarkan saja tidak terbackup ketika pindah ke HP baru karena tidak banyak percakapan di Line. Line bisa memakai Facebook untuk login, tapi juga tetap harus verifikasi ponsel. Pengalaman terakhir jika langkah terakhir tidak dilakukan, beberapa teman jadi gagal mengirim pesan.

Beberapa aplikasi seperti Kindle memiliki sifat yang mengesalkan ketika kita reset HP. Semua data kita di cloud, tapi jika kita tidak melakukan “deregister device” sebelum reset HP, maka HP tersebut akan tercantum di cloud dua kali. Masalahnya adalah jika ada konten yang jumlah copynya dibatasi maka itu tetap terhitung di device yang sudah direset tadi. Jika terlupa deregister, solusinya adalah ke situs Amazon dan menderegister device dari cloud.

Sebagian besar game bisa menyimpan data di cloud (dan tersedia API-nya untuk Android dan iOS). Tapi ada game-game yang butuh backup manual seperti Pokemon Quest, Magicarp Jump,  dan Layton Mystery Journey. Game-game ini sifatnya cross platform (misalnya Pokemon Quest juga tersedia di Nintendo Switch), jadi mereka butuh sistem backup yang custom.

Terakhir ada kategori aplikasi yang memang nyebelin karena tidak memiliki fitur backup dan harus disetup manual. Untuk Android jika HP awal dan tujuan diroot maka program tertentu (misalnya Titanium Backup) bisa membackup datanya. Saat ini saya me-root ponsel biasanya setelah sebulan dipakai karena pernah 2 kali mengalami HP rusak tiba-tiba padahal baru dibeli.

Secara umum restore backup ponsel sudah lebih mudah dari jaman dulu, tapi masih banyak yang bisa diperbaiki di masa depan.

Friends are (not) forever?

Berapa banyak teman yang kamu punya di FB? Berapa banyak dari teman itu yang masih tetep kontak denganmu? Berapa banyak temen yang masih saling berkomentar dan atau kasih jempol saja? Berapa banyak yang kamu tungguin update kabar beritanya? Berapa banyak yang kamu kontak langsung setelah mendapati temen kamu ga ada di daftar temen kamu lagi (masa ga punya cara kontak lain selain di FB)?

Berapa banyak teman yang kamu ucapkan selamat ulang tahun bukan karena kamu lihat notifikasi di FB tapi karena kamu sengaja set reminder di calendar pribadimu? Berapa banyak teman yang kamu tahu umur anak-anaknya berapa walau sudah beberapa tahun ga ngobrol (alih-alih nanya mulu tiap ngobrol)? Berapa banyak teman yang kamu selalu bisa ngobrol bukan pas butuh bantuan/ada keperluan doang? Berapa banyak teman di FB yang ga kamu unfriend/hide gara-gara beda pandangan politik atau perbedaan memandang masalah asi/sufor, vaksin/nonvaksin atau karena perbedaan pendapat lainnya?

Ilustrasi dari undraw

Saya bukan orang yang terlalu ramah  dan sebagian besar kenalnya saya orang galak (mungkin karena saya sering ngomong to the point), tapi dibanding Joe, temen saya lebih banyak  mulai dari temen TK sampai temen kuliah yang masih terhubung via FB ataupun sekedar punya nomor telponnya. Beberapa teman tetap saling kontak, beberapa hilang karena mereka ga punya FB atau udah ga tau lagi mau ngomong apa.

Daftar teman saya di FB masih terlalu banyak menurut saya, karena sebagian teman di FB itu saudara dan atau teman sealmamater yang ya kenal tapi ga kenal-kenal banget. Kadang kepikiran buat merampingkan daftar teman, tapi saya pikir nanti bisa salah paham kalau saya putus pertemanan, akhirnya ya sudah sementara ini biarin dulu. Sesekali kalau ada teman di FB yang terlalu rajin jualan ngetag-tag, atau terlalu banyak share politik, berita hoax dan berita yang bikin sakit mata, ya paling temen itu saya unfriend saja. Beberapa saya kasih tau baik-baik kalau saya ga suka di-tag, lalu mereka ga nge-tag saya lagi, beberapa bilang ya udah unfriend aja.

Waktu kuliah seorang teman berkata: tidak ada teman sejati, yang ada kepentingan sejati. Saya waktu itu ga setuju dengan kalimat itu. Masa kuliah itu bisa dibilang saat terlama bersama-sama teman sekelas  (waktu SD belum merasakan serunya punya temen berlama-lama). Makanya saya ga buru-buru lulus 4 tahun. Kalau masa SMP dan SMA saya menanti-nantikan liburan panjang kenaikan kelas, masa kuliah saya merindukan kapan bisa kembali lagi kuliah sampai pas lagi liburan panjang terbawa mimpi lagi kuliah hahaha. Perasaan ga terima aja kalau dibilang kita berteman dengan seseorang itu karena ada “kepentingannya”, masa sih ga ada ketulusan dalam berteman? masa sih? masaaaa??? (eh kok jadi dramatis gini).

Belakangan ini setelah lama ga bertemu dengan teman-teman selain mostly lewat FB saya mulai merasa kalimat itu ada benarnya. Hubungan pertemanan yang masih terpelihara itu biasanya karena ada kepentingan dari kedua belah pihak, manusia kan mahluk sosial jadi pastilah kita membutuhkan manusia lainnya, dan itu juga termasuk kepentingan toh. Kalimat itu bukan berarti kepentingan dalam arti memanfaatkan teman, tapi lebih ke: kita masih berteman karena masih ada irisan kesamaan urusan (aduh apa sih irisan urusan). Ya kadang-kadang kepentingannya ga penting-penting banget juga, cuma seneng aja kan gitu ngumpulin temen lama, sesekali ketemu dan atau kalau ada yang butuh bisa ditanyakan tanpa harus kenalan dulu atau basa-basi.

Sejak jaman Friendster, saya malas menambah teman yang ga kenal. Setelah Friendster digantikan FB, saya makin malas nambah teman hahaha. Saya menambah teman kalau memang kenal (irisan urusannya misalnya sama-sama kota tinggal atau ya dulu pernah juga nambah teman jaman rajin hobi main benang). Beberapa teman yang bertambah karena hobi akhirnya hilang juga karena sejak saya ga hobi main benang lagi ya irisan urusannya hilang, tapi beberapa tetep jadi teman baik karena mereka tetep asik buat diajak ngobrol selain ngomongin benang.

Beberapa tahun terakhir ini, ada banyak ajakan reuni. Pertama kali bertemu di  grup WA atau FB dengan teman-teman sekolah itu rasanya seru banget. Tapi lama-lama sepertinya obrolannya mulai ga seru karena yang diobrolin ga bertambah yang baru.  Sejauh ini, saya belum pernah ikutan ke acara reuni ataupun reuni akbar, karena kalau dipikir-pikir saya memang pingin ketemu beberapa teman tapi saya ga terlalu pengen juga ketemu dengan teman baru. Beberapa teman bilang kan seru punya temen baru dan wawasan baru, atau beberapa teman bilang kan buat networking. Mungkin kalau saya punya bisnis saya akan merasa perlu juga punya banyak teman baru, tapi untuk sekarang ini sepertinya saya memilih untuk memaintain pertemanan dengan yang sudah ada saja.

Ball Lightning dan trilogi The Three-Body Problem

Beberapa hari yang lalu buku Ball Lightning versi bahasa Inggris akhirnya diterbitkan dan dengan cepat saya selesaikan. Buku ini aslinya ditulis tahun 2004 oleh Liu Cixin dan bisa dibilang sebagai prequel dari  trilogi The Three-Body Problem yang sudah diterjemahkan duluan beberapa tahun yang lalu.

Dari dulu ingin menulis mengenai trilogi ini, tapi selalu ditunda, nah dengan adanya buku yang baru terbit ini, ada alasan untuk menulis seri ini.  Saya akan menyampaikan pendapat saya, dengan sedikit kutipan cerita yang semoga tidak menjadi spoiler (anggap saja seperti menonton trailer film). Semua buku ini saya baca secara elektronik di Kindle.

Hampir semua buku science fiction yang saya baca, terutama dalam kategori Hard science fiction (kategori sci-fi dengan penekanan pada akurasi sains) berasal dari negara barat. Buku seri trilogi The Three-Body Problem ini buku scifi pertama yang saya baca yang asalnya dari negeri China. Saya tidak bisa membaca dalam bahasa aslinya untungnya terjemahannya menurut saya sangat bagus, setidaknya tidak membuat saya bingung.

Biasanya buku scifi lain akan berfokus pada segala sejarah, teknologi dan lembaga yang ada di Amerika atau Eropa, tapi buku ini fokusnya adalah China. Hal ini saja sudah cukup membuat buku ini menarik, tapi scifi-nya juga sangat menarik dari berbagai sudut pandang.

Bagian pertama buku pertama (bab 1-3) memang agak membosankan dan kurang terasa aura buku scifi sampai akhir bab 3. Ceritanya di awali dengan masa Cultural Revolution di China dan menjadi pengantar pengembangan karakter. Tapi setelah melewati bagian ini ceritanya menjadi sangat menarik.

Judul buku ini dari masalah fisika: three-body problem, menentukan posisi dan gerakan 3 benda jika diketahui informasi awal (massa, kecepatan, dan posisi) benda-benda tersebut dengan menggunakan hukum Newton. Ini berhubungan erat dengan bagian dari cerita, mengenai peradaban alien yang tinggal di tata surya dengan 3 matahari, dan mereka memiliki masalah karena tidak bisa meramalkan posisi ketiga matahari tersebut.

Dari sudut pandang ilmu komputer, akurasi buku ini sangat baik. Ini wajar karena penulisnya adalah seorang computer engineer. Contohnya di buku pertama (The Three-Body Problem) dia menggambarkan sebuah komputer yang terdiri dari banyak prajurit. Ini cuplikan dari buku pertama di mana John Von Neuman bertemu Qin Shi Huang:

Von Neumann turned to the three soldiers again. “Let’s form another component. You, Output: if you see either Input 1 or Input 2 raise a black flag, you raise the black flag. There are three situations where that will be true: black-black, white-black, black-white. When it’s white-white, you raise the white flag. Understand? Good lad, you’re really clever. You’re the key to the correct functioning of the gate. Work hard, and the emperor will reward you! Let’s begin operation. Raise! Good, raise again! Raise again! Perfect. Your Imperial Majesty, this component is called an OR gate.”

Then, Von Neumann used the three soldiers to form a NAND gate, a NOR gate, an XOR-gate, an XNOR-gate, and a tristate gate. Finally, using only two soldiers, he made the simplest gate, a NOT gate, or an inverter: Output always raised the flag that was opposite in color from the one raised by Input.

Von Neumann bowed to the emperor. “Now, Your Imperial Majesty, all the gate components have been demonstrated. Aren’t they simple? Any three soldiers can master the skills after one hour of training.”

“Don’t they need to learn more?” Qin Shi Huang asked.
“No. We can form ten million of these gates, and then put the components together into a system. This system will then be able to carry out the calculations we need and work out those differential equations for predicting the suns’ movements. We could call the system… um…”
“A computer,” Wang said.

Dari sudut pandang computer security, buku kedua cukup menarik: apa yang harus dilakukan jika pihak musuh punya teknologi untuk memonitor semua aksi kita tidak peduli di mana kita berada dan teknologi komunikasi kita, tapi tidak mengetahui niat kita.

Meskipun bukunya banyak bercerita tentang sains dan teknologi, tapi cerita mengenai aspek manusianya juga sangat banyak (ada kisah cintanya juga). Bagaimana bumi akan bereaksi kalau ternyata alien itu nyata? buku ini mencoba menggali aspek sosialnya tidak hanya teknologinya.

Meskipun ditulis pertama, tapi buku Ball Lightning diterjemahkan belakangan. Seharusnya terjemahan bukunya selesai tahun lalu, tapi tertunda hingga baru dirilis beberapa hari yang lalu. Buku ball lightning ceritanya cukup menarik, tapi menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan buku-buku berikutnya.

Ada karakter yang muncul di buku berikutnya dan ada kejadian yang berhubungan, tapi teknologi yang ada tidak dipakai di buku trilogi The Three-body Problem. Menurut saya buku Ball Lightning ini menarik tapi ceritanya tidak sedalam The Three-Body problem.

Demikian ulasan buku Trilogi Three-Body Problem. Semoga banyak yang tertarik untuk membaca bukunya, karena sepertinya film yang sudah direncanakan belum jadi juga.  Kalau belum tertarik juga, mungkin pujian dari Barack Obama ini bisa membantu memutuskan:

What are some of those books?

It’s interesting, the stuff I read just to escape ends up being a mix of things — some science fiction. For a while, there was a three-volume science-fiction novel, the “Three-Body Problem” series —

Oh, Liu Cixin, who won the Hugo Award.

— which was just wildly imaginative, really interesting. It wasn’t so much sort of character studies as it was just this sweeping —

It’s really about the fate of the universe.

Exactly. The scope of it was immense. So that was fun to read, partly because my day-to-day problems with Congress seem fairly petty — not something to worry about. Aliens are about to invade

Oh iya, selagi menunggu buku Ball Lightning ini, saya sempat membaca juga The Wandering Earth yang merupakan koleksi cerpen dari penulis yang sama. Cerita-ceritanya bervariasi, ada yang menarik, dan ada juga yang membosankan tapi secara keseluruhan cukup menarik.

Belajar Sejarah

Sejak memasuki grade 3, selain memakai CLE kami menambahkan pelajaran sejarah sebagai salah satu materi yang dipelajari oleh Jonathan. Setelah mencari rekomendasi dari group yang diikuti, akhirnya pilihan jatuh ke Story of The World. Sesuai namanya, pelajaran sejarah ini mempelajari sejarah dunia.

Sesuai namanya, Story of The World isinya dalam bentuk cerita

Kemarin, topik yang dipelajari adalah mengenai Shamsi Adad, seorang diktator di kerajaan Assyrian. Pelajaran sebelumnya mengenai Hammurabi yang memerintah di Babylonia. Kedua kerajaan tersebut berada di Mesopotamia. Perbedaan dari Hammurabi dan Shamsi Adad ini dari cara mereka menjadi raja. Pertanyaan yang menarik dari akhir pelajaran adalah: siapakah raja yang lebih baik Hammurabi atau Shamsi Adad?

Ilustrasi dari proyek Undraw

Sebelum bisa menjawab siapa yang lebih baik, saya harus mereview lagi pelajaran mengenai Hammurabi ke Jonathan. Waktu saya sekolah, mungkin pernah dengar nama Hammurabi, tapi saya belum pernah dengar nama Shamsi Adad. Kemungkinan lain, pernah belajar tapi udah lupa hahaha. Salah satu benefit menghomeschool adalah kembali membuka pelajaran supaya bisa mengajar anak, setidaknya kalau belum pernah belajar mengenai ini, saya jadi belajar.

Hammurabi dikenal sebagai raja yang memperkenalkan penggunaan peraturan yang tertulis dan dijadikan acuan dalam mengambil keputusan hukuman. Peraturan yang ditetapkan Hammurabi dituliskan dan dijadikan acuan kalau terjadi pelanggaran di kerajaan Babylonia. Beberapa peraturannya menurut saya agak terlalu kejam karena hukumannya bisa berupa potong lidah atau tangan selain bayar denda. Tapi ya mungkin begitulah cara yang berhasil dilakukan di masa itu.

Berbeda dengan Hammurabi, Shamsi Adad memerintah secara diktator dengan cara kekerasan. Cita-citanya menjadi penguasa alam semesta dengan cara menaklukan lewat perang. Cara perangnya juga kadang-kadang cukup licik, bukan cuma perang dengan pasukan yang banyak, tapi dengan strategi dan meracuni lawan supaya daerahnya bisa diakuisisi. Kalau ada yang tidak menaati perintahnya langsung saja dibunuh. Caranya ini bisa membuat kerajaan Assyrian menjadi cukup luas, tapi akhirnya ketika dia sudah tua, kerajaanya bisa diambil alih oleh Hammurabi dari kerajaan Babylonia.

Kesimpulannya mana yang lebih baik, punya aturan yang jelas (walaupun mungkin aturannya tidak selalu terasa fair tapi ya ada aturan) dibandingkan dengan pemerintahan yang tidak ada aturan yang tertulis dan semua tergantung pada 1 individu. Perintah dari individu ini sifatnya mutlak dan tak terbantahkan, kalau dia sudah bersabda dan tidak dituruti maka orang yang ga nurut ini dihukum mati, kalau orang Medan bilang “sukak-sukaknya aja”. Kalau orang yang memerintah hatinya baik sekalipun tetap saja pola pemerintahan di mana hanya 1 orang yang punya suara ini hasilnya pasti kurang baik.

Untuk menjelaskan kenapa yang satu lebih baik dari yang lain (walaupun tidak ideal), saya dan Joe gak langsung bilang si A lebih baik tapi kami tanya ke Jonathan mana yang menurut dia lebih baik dan apa alasannya.

Dulu bagi saya, pelajaran sejarah ini membosankan dan hapalan mati. Saya ingat ujiannya saya ngapalin isi buku catatan dan gurunya mempertanyakan hampir semua isi buku catatan. Jadi dalam 2 jam saya harus memindahkan isi catatan yang saya hapal mati hahaha. Bedanya dengan pelajaran sejarah yang kami pakai ini, Jonathan bisa belajar dengan mendengarkan audio book sambil membaca bukunya. Setelah mendengarkan ceritanya, selanjutnya ada kegiatan menjawab pertanyaan memastikan anaknya denger dan ngerti, lalu mencari lokasi yang disebutkan dalam peta. Sekarang ini kebanyakan masih sekitar ancient world Egypt, Mesopotamia dan sekitarnya.

Kurikulumnya ini sebenernya bisa untuk kelas 3 sampai high school, ada 4 volume dan kami baru mulai di volume 1. Beberapa homeschoolers bahkan menggunakan kurikulum ini berulang (jadi setelah selesai 4 volume mereka mulai lagi dari volume pertama). Kalau rajin, ada kegiatan craft nya dijelasin di bukunya, tapi untuk sekarang ini kami memilih ga mengerjakan craftnya dulu tapi sekarang cukup kegiatan mewarnainya saja heheh.

Mewarnai tokoh dalam buku SOTW

Rencananya kalau menemukan buku pelajaran sejarah Indonesia, kami juga akan kenalkan sejarah Indonesia ke Jonathan. Untuk sekarang kami cuma kasih tau sedikit mengenai kehidupan papa mamanya jaman dulu dan bedanya dengan dia sekarang sebagai cerita pengantar tidur. Atau juga dia ingat perang Diponegoro itu 1825 – 1830 karena pernah disampaikan sebagai joke. Jonathan juga tau kalau Indonesia mendapatkan kemerdekaannya setelah perang melawan Belanda dan Jepang sedangkan Thailand tidak pernah dijajah.

Jonathan senang mendengarkan cerita-cerita dan cukup bisa lama ingat akan fakta-fakta yang kami sampaikan. Dia juga kami ajarin siapa Presiden Indonesia sekarang ini. Pelajarannya kadang agak random, karena waktu kasih tau soal Indonesia dipimpin presiden, dia akan bertanya kenapa Thailand ada Raja dan Indonesia nggak ada? Nah jadilah penjelasannya soal jenis-jenis pemerintahan yang ada. Kalau ada yang punya rekomendasi pelajaran sejarah Indonesia silakan komen ya.