Lebih Memilih Buku Digital

Hari Sabtu lalu, saya memulai membaca buku Mark Manson yang ke-2, judulnya “Everything is F*cked: A Book About Hope”. Awalnya, saya membaca buku fisik, dapat pinjaman dari teman yang baru beli sekaligus buku 1 dan 2 dari Book Depository.

Gayanya mau baca banyak, nyatanya?

Saya membaca sambil menunggu anak-anak yang sedang belajar gambar. Di lokasi yang sama ada coffee shop yang sepi dan nyaman untuk duduk membaca. Jadi saya pikir, saya akan bisa membaca paling tidak beberapa bab dari buku ini.

Ternyata, saya sudah lama sekali tidak membaca buku fisik yang tulisannya kecil. Walau suasana sepi dan harusnya saya bisa konsentrasi membaca, nyatanya saya tidak bisa mengikuti bagian awal dari buku yang bercerita fakta sejarah dari seseorang bernama Pilecki dari Polandia dalam usaha heroiknya membela negaranya Polandia melawan Soviet dan Nazi yang pada masa itu terjepit di tengah-tengah.

Saya baru mulai tertarik ketika bagian buku mulai dengan ciri khas Mark dengan gaya bahasa yang terdengar kasar tapi mengandung kebenaran. Lalu saya pikir, “Oh saya tidak suka dengan fakta sejarah, makanya saya tidak bisa menikmati bagian depan bukunya”.

Continue reading “Lebih Memilih Buku Digital”

Dorothy Ingin Pulang dan Singa Pengecut, “The Wonderful Wizard of Oz”

Tulisan ini akan menjadi bagian terakhir membahas karakter yang ada di buku “The Wonderful Wizard of Oz”. Sebelumnya saya sudah menuliskan tentang Tin Woodman yang ingin punya hati dan Scarecrow yang ingin punya otak. tulisan kali ini membahas tokoh utama dari buku ini seorang gadis kecil dari Kansas bernama Dorothy yang ingin Pulang ke Kansas dan usahanya untuk pulang, dan Singa Pengecut yang ingin meminta keberanian supaya hidupnya lebih bahagia.

Dorothy Ingin Pulang

Bagian yang menarik dari tokoh Dorothy buat saya adalah, walaupun tanah Oz merupakan tempat yang lebih indah dari Kansas, tapi dia lebih ingin pulang ke rumahnya untuk bertemu dengan Bibi Em dan Paman Henry. Alasannya ya karena setiap manusia selalu merasa kalau tidak ada tempat yang lebih baik selain rumah sendiri.

The Scarecrow listened carefully, and said, “I cannot understand why you should wish to leave this beautiful country and go back to the dry, gray place you call Kansas.”

“That is because you have no brains” answered the girl. “No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home.”

Alasan Dorothy ingin pulang ke Kansas

Ketika mendengar alasan Dorothy yang sangat sederhana, saya teringat dengan peribahasa “Hujan emas di negeri orang, Hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri.” Sepertinya inilah juga yang dirasakan Dorothy, walaupun tanah Oz indah dibandingkan Kansas, tetap saja dia lebih suka tinggal di Kansas. Dia juga ingin pulang karena tidak ada tempat yang lebih baik daripada rumah sendiri.

Continue reading “Dorothy Ingin Pulang dan Singa Pengecut, “The Wonderful Wizard of Oz””

Scarecrow Pemikir, “The Wonderful Wizard of Oz”

Tulisan kali ini masih melanjutkan membahas karakter di dalam buku “The Wonderful Wizard of Oz”, tentang Scarecrow, salah satu tokoh yang menjadi teman Dorothy dalam usahanya mencari cara kembali ke Kansas dari tanah Oz. Scarecrow dikisahkan terbuat dari jerami dan tidak mempunyai otak. Dia ingin meminta otak kepada penyihir Oz yang tinggal di Emerald City.

Seperti halnya Tin Woodman, sebenernya Scarecrow tidak memiliki hati dan otak, karena seluruh bagian tubuhnya terbuat dari jerami. Tetapi, dia lebih ingin memiliki otak, karena beberapa alasan. Berikut ini beberapa alasan dari Scarecrow kenapa dia memilih otak dan bukan hati.

Scarecrow tidak mau disebut bodoh

“I don’t mind my legs and arms and body being stuffed, because I cannot get hurt. If anyone treads on my toes or sticks a pin into me, it doesn’t matter, for I can’t feel it. But I do not want people to call me a fool, and if my head stays stuffed with straw instead of with brains, as yours is, how am I ever to know anything?”

“All the same,” said the Scarecrow, “I shall ask for brains instead of a heart; for a fool would not know what to do with a heart if he had one.”

Scarecrow, “The Wonderful Wizard of Oz”

Menurut scarecrow, karena dia terbuat dari jerami, dia tidak bisa merasakan sakit. Jadi, dia tidak butuh hati untuk merasakan sesuatu. Tapi dia punya keinginan untuk mengetahui banyak hal. Dan untuk mengetahui banyak hal itulah dia merasa otak dibutuhkan.

Mungkin konsep otak yang dimaksud Scarecrow di sini seperti prosesor untuk memproses dalam mencari penyelesaian masalah dan harddisk untuk menyimpan pengetahuan kali ya buat dia. Makanya dia merasa perlu banget itu ada bentuk fisik otak.

Menurut Scarecrow, kalau dia punya hati tapi tidak punya otak, akhirnya dia akan menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hati dan apa yang dia rasakan karena dia tidak punya otak untuk memikirkannya.

Otak itu yang paling berharga di dunia ini

“I felt sad at this, for it showed I was not such a good Scarecrow after all; but the old crow comforted me, saying, ‘If you only had brains in your head you would be as good a man as any of them, and a better man than some of them. Brains are the only things worth having in this world, no matter whether one is a crow or a man.’

Percakapan scarecrow dan burung gagak

Dari percakapan scarecrow dengan burung gagak, dia merasa kalau dia punya otak maka dia akan menjadi orang yang lebih baik. Kalau kata burung gagak memiliki otak adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Dan Scarecrow pun menganggap demikian.

Kalau dilihat dari cerita secara keseluruhan, walaupun Scarecrow merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa karena tidak punya otak, tapi sebenarnya dia yang paling banyak berpikir dan mengusulkan berbagai solusi ketika mereka menghadapi rintangan diperjalanan.

Berikut ini dua contoh bagian dalam petualangan mereka, di saat yang lain sudah kehabisan ide, akhirnya Scarecrow yang punya solusi.

“What shall we do?” asked Dorothy despairingly.

“I haven’t the faintest idea,” said the Tin Woodman, and the Lion shook his shaggy mane and looked thoughtful.

But the Scarecrow said, “We cannot fly, that is certain. Neither can we climb down into this great ditch. Therefore, if we cannot jump over it, we must stop where we are.”

“I think I could jump over it,” said the Cowardly Lion, after measuring the distance carefully in his mind.

“Then we are all right,” answered the Scarecrow, “for you can carry us all over on your back, one at a time.”

===

So they sat down to consider what they should do, and after serious thought the Scarecrow said:

“Here is a great tree, standing close to the ditch. If the Tin Woodman can chop it down, so that it will fall to the other side, we can walk across it easily.”

“That is a first-rate idea,” said the Lion. “One would almost suspect you had brains in your head, instead of straw.”

Ide Scarecrow dalam menghadapi masalah yang dihadapi

Kalau Kamu Pilih Hati atau Otak?

Kalau dipikirkan lagi, alasan Tin Woodman memilih hati cukup masuk akal. Alasan Scarecrow memilih otak juga tidak salah. Tapi kalau kita harus memilih salah satu, sepertinya jawaban setiap orang tidak akan sama.

Saya sendiri tidak bisa memilih antara hati dan otak, rasanya butuh keduanya walaupun dengan memiliki keduanya tidak otomatis membuat saya orang paling bijaksana ataupun paling cerdas sedunia.

Kalau kamu bagaimana?

Penutup

Saya merasa kagum dengan penulis cerita buku ini. Bagaimana penulis bisa menciptakan tokoh yang menginginkan sesuatu yang secara fisik tidak ada, tapi pada jalinan ceritanya ditunjukkan kalau mereka sebenarnya sudah memiliki apa yang mereka inginkan. Mereka hanya perlu merasa memiliki bentuk fisiknya untuk percaya kalau mereka bisa berpikir ataupun bisa memiliki perasaan.

Banyak dari kita secara tidak sadar seperti Tin Woodman dan Scarecrow yang membutuhkan bentuk fisik atau simbolisme dari sesuatu untuk merasakan sesuatu itu sah. Misalnya dulu waktu pertama kali tidak bisa pulang di masa Natal dan tahun baru ke Medan, saya merasa sedih sekali dan seperti Natal tidak sah karena sendiri. Padahal ya Natal dan Tahun Baru nya esensinya jauh lebih luas daripada kumpul dengan keluarga.

Masa pandemi ini kita butuh menggunakan hati dan pikiran kita lebih lagi. Jangan mau kalah dengan Tin Woodman dan Scarecrow yang merasa tidak bisa mengasihi karena tidak punya hati ataupun merasa bodoh karena tidak punya otak. Padahal mereka tetap bisa mengasihi dan berperasaan selain memikirkan solusi tanpa mereka sadari.

“The Wonderful Wizard of Oz”, Belajar dari Tin Woodman

Buku “The Wonderful Wizard of Oz” merupakan salah satu buku klasik yang terbit tahun 1900 karya L. Frank Baum. Saya sudah sering mendengar judulnya, tapi saya belum pernah benar-benar tahu apa sih cerita dari buku ini. Waktu melihat buku ini ada di Audible Stories, saya memutuskan untuk mendengarkannya sambil membacanya. Setelah menyelesaikan mendengarkannya saya jadi memahami kenapa buku ini sangat populer dan menjadi salah satu buku yang perlu dibaca oleh anak-anak. Ada banyak yang bisa dipelajari dari tokoh-tokohnya, tulisan hari ini saya ingin menceritakan tentang Tin Woodman yang memilih ingin memiliki hati daripada otak.

Sampul buku The Wonderful Wizard of Oz (Sumber: Wikipedia)

Awalnya saya hanya mendengarkan saja bukunya di Audible Stories, tapi ketika ada bagian yang menarik dan ingin saya kutip, saya jadi ingat kalau buku ini sudah gratis dan bisa dicari di Project Gutenberg karena sudah masuk dalam domain publik. Ada berbagai format digital yang tersedia untuk buku ini di Project Gutenberg, dan saya memilih untuk mendownload versi Kindle-nya.

Buku ini merupakan novel fantasi untuk anak-anak yang oleh Audible Stories dikategorikan untuk anak level elementary (sekolah dasar). Dari segi cerita ada beberapa hal yang menurut saya anak-anak perlu didampingi untuk membacanya. Selain ceritanya mengandung cerita sihir, ada beberapa bagian di mana ada cerita kekerasan. Tapi adapun kekerasan yang terjadi merupakan bagian dari petualangan tokohnya mendapatkan apa yang mereka harapkan.

Land of Oz By L. Frank Baum (illustrated by John R. Neill) – Tik-Tok of Oz, first published in the United States in 1914., Public Domain, Link

Ringkasan ceritanya bisa dibaca sendiri di Wikipedia, singkatnya buku ini bercerita tentang seorang gadis kecil dari Kansas bernama Dorothy dan anjing nya Toto, yang terbawa oleh topan dan mendarat di negeri Munchkin, tanah Oz. Dalam usahanya untuk kembali ke Kansas, dia bertemu dengan tiga tokoh lainnya yang akan menjadi temannya selama dia mengembara di tanah Oz.

Continue reading ““The Wonderful Wizard of Oz”, Belajar dari Tin Woodman”

Mengenal Buku Digital (2)

Tulisan hari ini sambungan dari tulisan sebelumnya. Kalau kemarin kita sudah mengetahui ada beda format statis dan format dinamis dari e-book, hari ini saya akan menuliskan tentang bagaimana memperoleh e-book format dinamis.

Sekedar mengulang sedikit, e-book dengan format statis biasanya dalam bentuk pdf. Buku yang didistribusikan oleh iPusnas dan Gramedia Digital umumnya berupa berkas pdf. E-book yang berbentuk pdf ini biasanya tidak nyaman di baca di gawai yang kecil, akan lebih nyaman membacanya di komputer atau di tablet 10 inci.

Continue reading “Mengenal Buku Digital (2)”

Mengenal Buku Digital

Apa itu Buku Digital

Buku digital atau lebih dikenal dengan sebutan e-book, merupakan buku dalam bentuk digital/berkas dan tidak dicetak di atas kertas seperti buku biasa. Ada berbagai format e-book dan berbagai cara untuk membaca buku digital. Dalam tulisan ini saya akan coba tuliskan perbedaan dari beberapa format e-book.

E-book merupakan singkatan dari electronic book dengan kata lain, buku dalam format elektronik atau disebut juga sebagai buku digital. Sesuai dengan namanya, buku digital ini tidak dicetak di atas kertas.

Kalau kita mendengar kata e-book, apa yang pertama terbayang? Buku gratis? Buku yang tulisannya kecil dan kurang nyaman dibaca di layar HP 5 inci? Buku yang harus dibaca di komputer atau tablet? Atau buku yang bisa dibaca di mana saja tanpa harus merasa berat membawanya karena semua bisa dibawa di telepon genggam kita.

Saya pernah membaca tulisan yang menyebutkan kalau e-book itu sebagai buku digital gratis. Padahal tidak semua e-book itu gratis. E-book merupakan salah satu bentuk lain untuk penulis mendistribusikan buku karyanya sehingga bisa menjangkau lebih banyak orang. Jadi e-book tidak selalu gratis, kita bisa membelinya dari melalui toko buku digital, yang terkenal saat ini adalah Google Play Books dan Amazon Kindle Store.

Sebelum didistribusikan, untuk mencegah pembajakan buku, berkas e-book biasanya diberi tambahan DRM (Digital Rights Management). Saya tidak akan membahas masalah bajak membajak buku di sini, saya asumsikan semua orang sudah punya kesadaran untuk tidak lagi membeli/mencari buku bajakan dan mau membayar buku untuk memberi apa yang menjadi hak penulis.

Kelebihan dan Kekurangan E-book

Karena bentuknya berupa berkas yang bisa diunduh, penulis bisa memangkas biaya produksi cetak di kertas dan ongkos pengiriman sehingga biasanya e-book bisa dijual dengan harga lebih murah. Akan tetapi, karena e-book rentan terhadap pembajakan, banyak penulis yang tidak mau menjual bukunya melalui jalur ini. Untuk jenis buku yang memiliki banyak skema dan gambar yang terkadang membutuhkan dua halaman, bentuk e-book ini tidak terlalu jadi pilihan dan tetap lebih nyaman dibaca di buku biasa.

Untuk orang yang gemar membaca tapi memiliki keterbatasan penyimpanan buku di rumah, membaca buku dalam bentuk digital tentu tidak membuat kegiatan membaca berkurang kenikmatan. Mereka tidak perlu juga memikirkan di mana buku yang terakhir saya beli, karena semua bisa disimpan di gawai yang selalu mereka bawa setiap hari. Buku yang berupa novel, atau buku yang tidak memberikan gambar diagram yang banyak biasanya tidak akan membuat terasa perbedaannya ketika dibaca di atas kertas ataupun di layar.

Sebagian orang masih mengeluhkan ketika membaca e-book di gawai, matanya cepat lelah atau terlalu banyak distraksi dari notifikasi lain yang masuk terutama kalau membacanya di telepon genggam. Untuk orang yang memang sangat suka membaca, ada pilihan untuk membeli gawai khusus untuk membaca e-book, sehingga tidak perlu terganggu dengan notifikasi lain. Dalam satu e-reader, kita bisa mengunduh banyak sekali e-book ke dalamnya.

Beberapa orang masih lebih suka dengan buku fisik, karena ada aroma bukunya. Ada juga teman saya yang bilang, lebih puas mencoret/memberi warna di buku fisik daripada menambahkan catatan atau memberi highlight di e-book.

Perbedaan format e-book

Kita bisa mengelompokkan format e-book menjadi dua jenis yaitu format statis dan format dinamis. Format statis yang saya maksudkan di sini formatnya sudah tidak bisa diubah lagi, sedangkan format dinamis tentunya masih bisa diubah berbagai pengaturan teks untuk kemudahan membacanya.

Format statis

Format yang paling umum dikenal dan bisa dibaca di berbagai gawai adalah format PDF (Portable Document Format). Format ini merupakan format yang dikembangkan oleh Adobe untuk menyimpan dokumen yang siap untuk dicetak. Dalam format PDF ini, semua gambar dan tulisan di dalamnya mulai dari ukuran huruf, aturan spasi dan tata letak teks dan gambar yang ada didalamnya sudah diatur. Ketika dokumen berformat PDF ditampilkan di gawai manapun akan selalu terlihat sama, termasuk ketika kita cetak ke kertas.

Membuat dokumen kita menjadi dokumen berformat .pdf ini sangat mudah. Kita selalu bisa membuat pilihan mencetak ke bentuk pdf. Proteksi dari file pdf ini bisa dilakukan dalam bentuk memberi password sebelum membuka file pdfnya. Kita bisa membuka format pdf ini dengan menginstal aplikasi pdf reader di telepon genggam ataupun komputer kita.

Format dinamis

Format dinamis yang paling banyak dipakai saat ini adalah berkas berakhiran .mobi dan .epub. Kedua format ini memiliki kesamaan buku yang kita baca bisa diubah ukuran dan jenis hurufnya maupun pengaturan spasinya. Bayangkan saja format buku ini sebenarnya berupa hormat HTML (Hypertext Markup Language) yang isinya hanya file teks yang dikecilkan dengan teknik kompresi yang disepakati, lalu nama berkasnya diberikan akhiran .mobi atau .epub.

Format .mobi pertama sekali dikembangkan sejak jaman mobipocket lalu dibeli oleh Amazon dan ditambahkan DRM untuk mendistribusikan buku di Kindle Store. Format .epub merupakan format yang lebih umum dipakai saat ini untuk e-book. Kata epub sendiri diambil dari singkatan electronic publication. Untuk membuka file bertipe .epub kita membutuhkan aplikasi epub reader.

Format dinamis ini lebih nyaman untuk dibaca karena kita selalu bisa mengatur ukuran hurufnya lebih besar. Saya pribadi lebih suka membaca e-book yang formatnya dinamis daripada format statis.

Layanan untuk mendapatkan buku (membeli atau meminjam)

Ada berbagai tempat untuk mendapatkan e-book. Ada yang menampilkan buku dalam format .pdf, ada juga yang menampilkan dalam format .mobi dan .epub. Saat ini untuk buku-buku yang saya sering pinjam dari ipusnas ataupun gramedia digital semua bukunya berupa pdf. Untuk membacanya dengan nyaman, saya membutuhkan tablet 10 inci atau di komputer. Membaca format pdf di telepon genggam yang hanya berukuran 5 inci sangat menyiksa mata.

Pilihan lain adalah membeli buku dari kindle store atau google playbook. Untuk 2 tempat ini, akan saya ceritakan di tulisan terpisah.

Baca Buku: Susahnya jadi Ibu

Masih ada yang belum tau ipusnas? Ipusnas itu aplikasi dari perpustakaan nasional di mana kita bisa meminjam buku digital. Saya pernah menuliskan reviewnya di sini. Sejak mengenal aplikasi ini, sudah banyak buku berbahasa Indonesia yang saya pinjam dan berhasil selesaikan termasuk buku untuk anak-anak.

Di masa di rumah saja, aplikasi seperti ipusnas (selain Kindle dan Gramedia Digital), sangat bermanfaat sekali untuk mengalihkan perhatian dari berita-berita soal pandemi. Ada banyak buku dari berbagai kategori bisa kita baca.

Kemarin, setelah sesi Rabu buku KLIP via Zoom, saya iseng mencoba mencari Buku Grace Melia di ipusnas, tapi malah nemu bukunya yang lain yang dia tulis berdua dengan temannya Annisa Steviani. Awalnya dari melihat judulnya saya pengen tahu apa sih susahnya jadi ibu, sama gak ya dengan apa yang saya pikirkan.

Cover buku Susahnya jadi Ibu (sumber: ipusnas)

Mungkin kalau saya bacanya sebelum mengalami jadi ibu dari 2 anak, saya akan berpikir: “ah masa sih gitu aja susah?”. Tapi karena saya sudah mengalami tahapan-tahapan yang diceritakan dalam buku ini, saya hanya senyum-senyum setuju waktu membacanya dan berharap buku ini dibaca oleh para calon ibu atau ibu muda untuk persiapan apa yang akan dihadapi di depan mata.

Continue reading “Baca Buku: Susahnya jadi Ibu”