Libur Songkran 2019

Liburan Songkran 2019 sudah dimulai. Banyak restoran, tempat belajar ekstra, tempat bermain ataupun kantor mulai tutup. Beberapa sekolah sudah meliburkan kegiatan musim panasnya dari kemarin setelah mereka bermain air bersama-sama di sekolah. Baju bunga-bunga model hawaiii dan pistol air sudah dikeluarkan dari tempat penyimpanan.

beberapa titik malah AQI di atas 200

Joe juga sudah mulai libur dari kemarin. Tapi kami masih belum bisa memutuskan untuk pergi keluar rumah, karena polusi udara tidak meliburkan dirinya dari Chiang Mai. Biasanya tahun-tahun sebelumnya, setiap sebelum menjelang Songkran (bahkan pada hari Songkrannya), akan ada hujan deras di pagi hari, dan itu cukup untuk membersihkan polusi udara. Biasanya, hari Songkran itu sudah merupakan hari bebas polusi, dan semua orang bisa menikmati berpanas-panasan dan bermain air tanpa khawatir jadi sakit karena polusi udara (tapi mungkin bisa sakit karena main siram air dingin di bawah terik matahari).

Berdasarkan website yang mencatat kualitas udara di sekitar Chiang Mai, pagi ini tingkat pm 2.5 masih rata-rata di atas 150 yang mana sudah mencapai titik tidak sehat untuk beraktifitas di luar ruangan yang tidak memiliki filter. Kalau saja kadarnya di bawah 100, mungkin kami akan nekat saja jalan-jalan keluar. Tapi kalau angkanya begini dan suhunya juga sudah mencapai 33 derajat celcius, kami memilih hari ini untuk di rumah saja lagi, menutup pintu dan jendela, memasang filter udara dan AC lalu santai-santai membaca buku, menonton tv atau sekedar bermalas-malasan.

prakiraan cuaca dalam 3 hari ke depan

Suhu udara yang super panas ini selalu terjadi setiap hari Songkran. Kadang-kadang bahkan bisa mencapai 44 derajat celcius. Kombinasi polusi udara, suhu panas dan Joe dapat libur panjang biasanya membuat kami memutuskan mudik hampir setiap liburan Songkran. Tapi liburan tahun ini kami memutuskan untuk tinggal di Chiang Mai karena toh Natal dan Tahun Baru kemarin kami baru saja pulang ke Indonesia.

Kalau melihat memory yang muncul di Facebook saya, kadang-kadang kami pulang ke Jakarta, kadang-kadang pulang ke Medan. Kalau diingat-ingat tapi pulang ke Medan atau ke Jakarta sebenernya akhirnya kepanasan juga. Tapi bedanya, di sana ketemu dengan anggota keluarga dan bebas polusi. Tapi kemarin saya dapat info kalau di Jakarta beberapa hari ini juga ada kabut polusi dari industri dan juga kendaraan bermotor yang ada.

Medan di bulan April yang saya ingat juga cukup panas, walau suhunya gak sepanas di Chiang Mai, bedanya di Medan itu panas dengan humidity yang tinggi. Jadi di Medan itu kepanasan dan keringatan, kalau di Chiang Mai kepanasan dan kulit kering menyengat.

Iseng-iseng, saya melihat prakiraan cuaca di Medan dan Depok untuk berandai-andai kalau pulang bagaimana. Hasilnya ya di sana juga panas, dan humidity tinggi dengan kemungkinan hujan. Kalau sudah melihat begini, berharap hujannya dikirim ke Chiang Mai sebagian, supaya udaranya bersih. Dari sejak Januari, rasanya hujan di sini baru ada 1 kali dan itupun tidak cukup untuk menghapus polusi udara yang tak kunjung berkurang sejak awal bulan Maret yang lalu.

Untuk masalah polusi di Chiang Mai ini, pemerintah setempat sudah melakukan berbagai usaha mulai dari melarang, mendenda pelaku bakar-bakaran lahan, mengusahakan membuat hujan buatan, menyemprotkan air ke udara untuk mengurangi partikel pm2.5, bahkan kemarin saya baca mereka memasang sebuah mesin filter udara yang bisa membersihkan udara dengan jangkauan yang cukup luas (walaupun tidak bisa membersihkan seluruh kota). Sejauh ini usahanya belum berhasil, dan sepertinya seluruh Chiang Mai berharap turunnya hujan menghapus polusi segera datang.

Gak asik kan kalau main siram-siraman sambil pake face mask. Kalau facemasknya basah, gak tahu juga bakal efektif atau nggak. Eh sebenarnya saya gak suka main air basah-basahan. Setiap Songkran saya cuma jadi penonton, tapi ya Jonathan dan Joe biasanya yang ikutan main air, atau minimal biar bisa jalan-jalan ke mall tanpa kuatir jadi sakit karena udaranya gak bagus.

Kalau kata Joe: tenang saja, liburan kan baru mulai, siapa tahu besok ada keajaiban. Memang sih, kadang-kadang tanpa diketahui kualitas udara di pagi hari sangat tinggi sekalipun, kalau angin berhembus yang banyak, kualitas udaranya bisa membaik dengan cepat. Jadi tetap berharap dan semoga tetap bisa menikmati liburan kali ini walau mungkin bakal banyakan di rumah.

Imigrasi Chiang Mai 2019

Sebagai pendatang di negeri orang, dalam setahun ada beberapa kali kami harus ke imigrasi Thailand di Chiang Mai. Setiap tahun harus perbaharui ijin tinggal (Visa paling lama berlaku 1 tahun), lalu kalau mau pulang ke Indonesia atau keluar dari Thailand harus urus ijin masuk kembali (re-entry), setiap kembali dari luar negeri dalam waktu 1×24 jam harus lapor alamat (TM 30), dan kalau tinggal lebih dari 90 hari di Thailand tanpa keluar negeri, harus lapor diri masih berada di Thailand (notify 90 days report).

Urusan ke imigrasi ini, dulunya selalu bikin stress. Antriannya panjang dan lama, apalagi waktu punya anak kecil-kecil, saya sering memaksa Joe ikutan juga ke imigrasi karena beberapa hal gak bisa diwakilkan. Urusan fotokopi dokumen juga sering bikin sakit kepala, udah dapat nomor antrian, waktu pemeriksaan dokumen kalau ada yang kurang harus lari ke tukang fotokopi (yang letaknya tentu saja bukan di dalam gedung yang sama), dan kembali lagi menunggu untuk diperiksa lagi dokumennya.

Di komunitas orang asing yang tinggal di Chiang Mai, sering ada pertanyaan: kalau saya mau urusan X, jam berapa saya harus datang ke imigrasi untuk ngantri?. Lalu muncullah orang berbisnis dengan menyediakan jasa mengambilkan nomor antrian. Namanya urusan begini, aturannya sering berubah. Ada masanya di mana untuk mendapatkan antrian, semua orang wajib datang mengantri. Cerita tentang sekeluarga ngantri dari jam 4 pagi di imigrasi bukan hal yang asing lagi di kalangan orang asing di sini.

Untuk urusan ijin tinggal, kami banyak dibantu dari kantor Joe. Kepusingan 1 tahun sekali ini kami hadapi dengan menarik napas panjang dan menyediakan diri berlama-lama di imigrasi. Untuk urusan re-entry dan TM30 kami harus urus sendiri, belakangan prosesnya sudah bisa lebih cepat walaupun ya kadang-kadang masih butuh total 2 jam di imigrasi. Untuk urusan lapor diri 90 hari, ada suatu masa saya menunggu dari jam 9 pagi sampai lewat jam makan siang. Akhirnya waktu itu kami memutuskan untuk membayar agen, mewakili kami melaporkan diri setiap 90 hari.

Melaporkan diri lewat agen ini tentunya harus bayar. Waktu itu biayanya 1 tahun 1000 baht (4 kali lapor diri). Kalau dihitung, per lapor diri 250 baht, dan waktu itu kami masih ber-3. Setelah ada Joshua, saya pikir wah lumayan juga ya setiap datang lapor diri kalau gak pakai agen saya bisa ngantongin duit 1000 baht tuh. Melaporkan diri lewat agen ini repotnya juga kita harus mengantar dan mengambil passport asli kita ke kantor agennya. Salah satu hal yang kadang mengkhawatirkan, mereka sepertinya tidak terlalu hati-hati dalam mencatat siapa yang mengambil passport kita. Padahal buat perantau, passport ini dokumen super penting yang kalau sampai hilang urusannya bisa bikin sakit kepala.

Kemarin saya ke imigrasi untuk lapor diri 90 hari. Terakhir kami ke imigrasi itu tahun lalu sebelum pulang ke Indonesia. Waktu kembali ke sini, hampir lupa dengan urusan lapor alamat telah kembali dalam waktu 24 jam, untungnya gak sampai 3 hari saya ingat dan gak dipermasalahkan. Sejak kantor imigrasi Chiang Mai selesai direnovasi, urusannya ternyata jauh lebih cepat dan mudah.

Biasanya supaya cepat, saya mengisi formulir dan memfotokopi semua dokumen dari rumah. Untuk mendapatkan nomor antrian, semua form dan dokumen harus sudah lengkap, jadi ya lebih baik semua sudah diisi supaya gak berlama-lama di sana. Tapi kemarin karena dengar kabar ada perubahan form dan peraturan, waktu datang saya belum isi form sama sekali dari rumah . Saya bertanya ke petugasnya untuk mendapatkan formulir dan apakah saya perlu fotokopi lagi. Katanya kalau memang kita melakukannya untuk diri sendiri (dan keluarga langsung), kita tidak perlu lagi memfotokopi dokumen, tapi kalau misalnya kita agen, atau mewakili orang lain, tetap saja butuh fotokopi dokumen yang ditandatangani, dan mengisi formulir.

Setelah mengisi 4 formulir ( buat sekeluarga harus diisi formulir masing-masing), saya ambil nomor antrian. Eh ternyata lumayan juga, saya dapat nomor 195 – 198 dan yang sedang dilayani itu nomor 190. Gak sampe 5 menit saya sudah dipanggil dan 5 menit kemudian semua sudah selesai.

Sekarang ini, saya juga banyak membaca pujian di komunitas orang asing di Chiang Mai mengenai perubahan kinerja imigrasi di sini. Semua bahagia karena gak perlu lebih dari 15 menit, urusannya beres di imigrasi (asalkan semua dokumen lengkap). Berbagai urusan juga bisa dilakukan online/digital. Beberapa hal malah udah gak meminta fotokopi berlembar-lembar lagi.

Terakhir kali kami urus visa, urusannya sudah semi online juga. Kami datang ke imigrasi tinggal untuk foto diri dan tandatangan saja. Urusan upload data memang sempat memakan waktu agak lama, mungkin karena namanya juga sistem baru, jadi ada saja yang belum sempurna. Dengan urusan yang semakin mudah kalau ke imigrasi begini, kami jadi lebih nyaman tinggal di sini. Gak ada lagi perasaan stress setiap kali harus ke imigrasi hehehe.

Persiapan Songkran

Festival Songkran merupakan perayaan tahun baru di Thailand. Setiap tahunnya Songkran dirayakan di akhir pekan sekitar 13 – 15 April. Biasanya setiap bulan April akan ada libur panjang disekitar hari Songkran. Untuk tahun ini liburnya mulai 12 April sampai hari rabu 17 April. Perayaan Songkran ini lebih meriah daripada perayaan tahun baru Masehi.

Karena liburnya cukup panjang, kebanyakan orang Thai akan berkumpul bersama dengan keluarga besar atau dengan teman-teman. Makan dan minum bersama atau pergi bersama-sama ke tempat di mana orang siram-siraman. Budaya di sini, orang-orang suka berkumpul untuk makan bersama sambil minum bir, karaoke-an atau sekedar ngobrol sampai pagi.

Waktu belanja kemarin, di Makro sudah terlihat menjual perlengkapan yang biasanya dibutuhkan untuk menyambut festival Songkran. Berikut ini benda-benda yang banyak terlihat di banyak tempat di masa perayaan Songkran.

baju motif bunga-bunga

Hampir setiap orang mengenakan baju bermotif bunga-bunga ala Hawaii ini. Petugas kasir di pusat perbelanjaan juga biasanya akan mengenakan seragam khusus dengan motif bunga-bunga ini. Baju motif ini hanya keluar dalam masa Songkran ini saja, sisanya disimpan di lemari hehee. Saya dan Joe sampai sekarang tapi belum punya baju begini hehehe, soalnya di masa Songkran kami malah sering liburan ke Indonesia mumpung liburnya panjang.

Perlengkapan yang dibutuhkan untuk perang air adalah pistol air dan ember besar untuk persiapan refill air. Anak muda di sini kebiasaanya pergi dengan mobil pick up terbuka, membawa ember besar berisi air dingin dan pistol air. Sambil naik mobil keliling pusat kota dan perang air dengan yang lain yang juga melakukan yang sama. Orang asing yang datang berkunjung ke Thailand juga suka ikut-ikutan dengan perang air ini. Makin basah makin seru hehehe.

Selain di pusat kota, kadang-kadang ada juga yang hanya pergi ke jalan besar terdekat dari rumahnya, berkumpul sambil makan dan minum di rumah yang dekat ke jalan besar dan menyirami mobil yang lewat dipinggir jalan. Kalau jalanan macet, ya lumayan bisa banyak yang disiram.

Perlengkapan yang juga dibutuhkan di masa songkran adalah galon minuman untuk membawa air minum dingin dan juga cooler box biasanya untuk membawa bir atau minuman soda lainnya.

Karena kebiasaan perang air sambil minum bir, kadang-kadang ada saja kecelakaan mobil terjadi di masa Songkran. Sejak beberapa tahun terakhir, saya sering melihat peringatan untuk tidak minum alkohol sambil perang air. Tapi ya, masih ada saja yang tidak sayangi diri dan merasa jagoan tidak akan terpengaruh alkohol sambil main air ini.

Tahun lalu dan tahun ini kami tidak pulang ke Indonesia di masa libur Songkran. Jonathan sudah berencana ikut main air di pusat kota. Biasanya yang menemani Jonathan main air itu papanya, saya dan Joshua milih ngadem aja deh di taman dekat tempat orang siram-siraman.

Polusi udara di sekitar hari Songkran biasanya sudah mulai berkurang banyak, apalagi karena beberapa hari menjelang Songkran ada hujan deras, efek dari badai kiriman dari negara sekitar Thailand. Mudah-mudahan tahun ini juga polusi segera berkurang dan nantinya bisa ikutan melihat orang main air tanpa harus pake face mask hehehe.

Buat yang mau ikutan main air, udah taukan apa saja yang harus disiapkan, nah segera booking tiket pesawat ya, masih 2 minggu lagi kok hehehe. Kalau gak mau kena polusi, bisa ikutan main airnya di Bangkok saja. Perang-perangan air ini ada hampir di setiap kota di Thailand kok, bukan cuma di Chiang Mai saja.

Air Minum di Chiang Mai

Seperti halnya di Indonesia, air keran di Chiang Mai tidak bisa langsung di minum. Kalau dulu, sebelum musim air dalam galon atau air kemasan, kami memasak air keran sampai mendidih, lalu didinginkan untuk jadi air minum.

Sejak tinggal di Chiang Mai, kami tidak pernah memasak air keran. Di sini praktek yang umumnya dilakukan orang adalah membeli air minum, baik itu kemasan galon isi ulang, atau membeli filter air untuk dipasang di keran air.

Awalnya dulu, kami membeli air dalam botol 5 literan, tapi tentunya terasa mahal, karena minum air itu butuhya banyak. Akhirnya kami beralih ke air botol dalam galon besar. Harga air dalam galon di sini bervariasi mulai dari 18 baht/galon sampai 30 an baht/galon. Air kemasan galon ini bukan seperti merk Aqua yang klaimnya air mineral, tapi merupakan air yang sudah difilter oleh perusahaan yang menjual air minum. Biasanya filter yang dilakukan menggunakan reverse osmosis (RO) .

Selain membeli kemasan air dalam botol kemasan 5 literan, Pilihan untuk air minum yang lebih ekonomis ada 3:

  1. Membeli sendiri filter system dipasang dirumah
  2. Mengisi ulang ke vending mesin RO yang tersedia di banyak tempat
  3. Berlangganan isi ulang air yang sudah difilter diantar ke rumah setiap minggunya.

Masing-masing pilihan ini ada plus minusnya. Kalau membeli sendiri filter RO tentunya mahal, pilihannya akhirnya jatuh ke filter level berikutnya. Misalnya filter merk pure berikut ini:

Beberapa pilihan filter air yang bisa dipasang di rumah

Filter air ini ada berbagai jenis, harganya juga bervariasi. Setiap beberapa bulan filternya harus diganti. Ada yang 3 tabung, atau 4 tabung atau plus sinar uv. Kami pernah membeli filter begini untuk dipasang di rumah, tapi entah kenapa saya tetap gak yakin untuk meminumnya, apalagi karena saya orangnya kurang rajin mengingat sudah berapa bulan dan filter tabung mana yang harus diganti. Harga ganti tabung filternya juga tidak murah, tapi pilihan ini praktis asal ingat untuk ganti filter secara berkala.

Mengisi ulang ke mesin RO sebenarnya cukup murah, dengan 20 baht kita bisa mengisi 1 galon besar. Kalau seminggu kebutuhan memakai 3 galon berarti seminggu cukup 60 baht untuk membeli air. Tapi piihan mengisi ulang ke vending machine itu repot hehehe, dan terlalu berat kalau saya yang melakukannya sendiri.

Pilihan kami saat ini adalah mengisi ulang botol kemasan dengan mobil yang datang mengantarkan ke rumah sekali seminggu. Ada banyak perusahaan yang menyediakan jasa isi ulang air minum yang sudah di filter ini, botol kemasannya juga banyak pilihan. Biasanya pertama kali kita diminta untuk “membeli” dengan botolnya, lalu berikutnya tinggal membeli air isi ulangnya saja. Botol bisa dikembalikan ke mereka kalau kita berhenti berlangganan.

Dari beberapa tahun di Chiang Mai, kami sudah berganti rumah beberapa kali, dan tiap berganti rumah akhirnya berganti langganan air minumnya juga. Sekarang ini kami berlangganan dari perusahaan DewDrop, salah satu yang menyediakan kemasan botol yang bening dan botol kaca.

beberapa pilihan kemasan botol yang tersedia

Umumnya perusahaan air minum lain menjual minuman kemasan dalam botol berwarna putih. Harganya juga lebih murah. Sekarang ini untuk mengisi botol kaca (12 botol) harganya 35 baht, sedangkan mengisi galon bening harganya 30 baht.

Satu hal sangat berasa bedanya dengan air galon di Indonesia adalah, di sini mereka tidak menyediakan tissue basah untuk lap botolnya. Jadi ya, kita lap aja sendiri pakai kain kita yang bersih.

Satu produk yang kami bawa dari Indonesia untuk memudahkan menuang air galon ke dispenser bikin tukang antar air kami terkagum-kagum. Tutup botol ini saya gak tahu sebutannya apa di Indonesia, tapi dulu saya memang bawa dari Indonesia dan tidak menemukannya di Thailand sini.

Waktu terakhir pulang ke Depok, kami melihat kalau sekarang sudah ada dispenser yang tidak perlu mengangkat galon ke atas, tapi cukup disimpan di laci bawahnya saja. Entah kapan dispenser model begitu masuk ke Thailand, tapi sepertinya kalau ada bisa lebih praktis supaya gak harus repot waktu tukar galon.

Polusi Chiang Mai 2019

Tinggal di Chiang Mai itu menyenangkan, asal gak ada musim polusi. Kemarin dan hari ini, merupakan hari dimana kadar polusinya paling tinggi selama kami di Chiang Mai, dan mudah-mudahan gak ada lagi yang lebih tinggi di kemudian hari.

Kemarin pagi, melihat keluar saja terasa banget kabut pekat. Sinar matahari terhalang asap. Waktu keluar rumah, terasa seperti ada tetangga lagi bakar sampah. Cek di website, wah diatas 300, udah level hazardous. Cek pakai sensor yang kami punya, wah ternyata diatas 500!. Pantesan bangun pagi tenggorokan yang dari kemrin mulai terasa gatal semakin parah.

Saya gak tahu persisnya kenapa tiba-tiba kemarin polusinya meninggi. Saya belum dapat berita persisnya, tapi biasanya kalau sampai tinggi begini karena ada kebakaran hutan. Musim panas yang sangat kering membuat hutan cenderung mudah terbakar. Beberapa tahun lalu biasanya yang terjadi ada yang membakar sisa ladang, lalu ada juga yang membuka lahan di hutan untuk bertanam jamur, lalu tanpa sengaja menyebabkan kebakaran hutan.

Sebenarnya pemerintah Thailand sudah mengeluarkan larangan dan menerapkan denda untuk siapa yang ketahuan membakar sisa panen sejak 1 Maret sampai 31 Maret, tapi sepertinya orang-orang nekat bakarnya malam-malam sembunyi-sembunyi. Kabarnya juga, asap ini gak sepenuhnya dari kota di utara Thailand, tapi juga sebagian dari negara tetangga di utara Thailand.

Untungnya sudah punya filter udara. Tutup semua pintu dan jendela dan nyalakan semua filter. Supaya efektif, saya usahakan filter bekerja di ruangan yang kecil saja. Jonathan ada ujian taekwondo kemarin, jadi Joe dan Jonathan mau tak mau harus ke mall.

Di mobil, kami juga punya filter udara, dulunya filter udara ini dapat gratis waktu beli filter besar 8 tahun lalu, dan berasa sekali kegunaanya kalau lagi polusi begini. Lokasi taekwondo Jonathan itu di mall, memang mall itu indoor, tapi karena di mall tidak ada filter udara, banyak orang di dalam mall tetap pakai masker penutup hidung.

Mask yang disarankan untuk menghadapi polusi saat ini itu harus yang bisa memfilter PM2.5, jadi bukan sekedar mask biasa. Joe sudah beberapa hari ini pakai setiap jalan ke kantor karena dia sempat batuk parah.

Saya dan anak-anak biasanya cuek, dan akhirnya memutuskan membeli mask untuk Jonathan pakai di mall. Sebenarnya harga mask nya gak mahal, yang Joe beli harganya 150 baht dan cukup bagus, tapi ya makai mask itu tidak nyaman. Jonathan sudah cukup besar untuk diberi pengertian tetap memakai mask walau tidak nyaman, tapi Joshua sampai sekarang gak suka disuruh pakai mask, jadi memang lebih aman untuk di rumah saja.

Seperti kata teman saya, asap ini asalnya pasti karena ada api, walau tidak tau apinya dari mana, saya bersyukur sore hari ini walau belum ada hujan tapi ada angin yang cukup untuk membuat kadar polusi jauh berkurang di bawah 100.

Joshua yang sudah bosan selama berhari-hari gak boleh main di luar rumah, sejak pagi beberapa kali sudah pengen main di luar. Setelah cek kadar polusi pm2.5 hanya sekitar 60, kami pun ijinkan dia main di luar.

belum benar-benar bebas polusi, tapi cukup aman untuk main sebentar di luar

Banyak orang asing di Chiang Mai yang selama ini merasa Chiang Mai sangat menyenangkan, langsung berubah pikiran ingin pindah saja dan kembali ke negerinya masing-masing. Tapi kalau kami sih sejauh ini masih gak merasa kecut dengan polusi begini. Yang penting siapkan perlengkapan menghadapi polusi, toh polusinya gak sepanjang tahun.

Tahun ini, Joshua dan Joe sudah duluan batuk pilek sejak beberapa minggu lalu, saya baru kena minggu ini dan kalau liat di memory facebook saya selalu tumbangnya tanggal segini ini. Tahun ini mudah-mudahan Jonathan tetap sehat, sejauh ini dia yang paling sehat di antara kami ber-4.

Harapannya 2 hari ini merupakan puncak polusi, dan setelah ini hujan turun, atau angin kencang dan polusi segera berlalu. Saya ingat sejak beberapa tahun lalu, menjelang akhir Maret akan ada hujan beberapa hari, dan awal April udara berangsur-angsur semakin bersih dan semua kembali normal.

Tulisan ini juga buat mengingat lagi, tahun-tahun berikutnya sebaiknya tanggal segini pergi liburan dari Chiang Mai mengungsi dari polusi hehehe. Kalau pembaca ada yang niat jalan-jalan ke Chiang Mai juga supaya tahu, jangan datang di musim polusi ke Chiang Mai (sekitar Februari pertengahan sampai awal April).

Buat yang Ingin Tinggal di Chiang Mai

Banyak orang yang setelah jalan-jalan ke Chiang Mai, jadi tertarik tinggal di Chiang Mai. Setiap tahunnya juga ada mahasiswa dari Indonesia yang mengikuti program perkuliahan di Chiang Mai University. Nah kali ini saya mencoba menuliskan hal-hal yang sering ditanyakan untuk yang berencana tinggal di Chiang Mai.

Pastikan punya Ijin Tinggal

Namanya jadi tamu di negeri orang, kita harus punya ijin tinggal yang legal. Kalau berencana tinggal karena urusan sekolah, biasanya sebelum datang ke Chiang Mai harus urus visa belajar dari Indonesia yang nantinya di konversi di Chiang Mai sesuai dengan lamanya waktu belajar. Sebagai orang Indonesia, kita bisa datang ke Thailand tanpa visa untuk tinggal selama 30 hari, tapi lebih dari situ, kita harus keluar dulu untuk bisa masuk lagi dan dapat ekstra hari. Kalau kita datang tanpa visa, kita tidak akan bisa urus ijin tinggal dari dalam negeri Thailand, jadi mendingan biar ga habis ongkos mundar-mandir, pastikan cari tahu mengenai visa yang sesuai untuk kebutuhan kita yang selanjutnya nanti dikonversi menjadi visa yang lebih lama ijin tinggalnya.

Untuk tinggal menetap di Thailand, kita harus urus Visa setiap tahun dan lapor diri setiap 90 hari ke imigrasi terdekat. Untuk pertama kalinya, jika kita datang ke Thailand sudah jelas akan bekerja di mana atau sekolah di mana, kita bisa urus visa di kedutaan Thailand di Indonesia atau negara lain selain Thailand untuk mendapat ijin tinggal 3 bulan pertama. Setelah kita tiba di Thailand, kita bisa urus supaya bisa mendapatkan ijin tinggal selama 1 tahun. Nah untuk tahun berikutnya, kita bisa urus untuk mendapatkan ijin tinggal 1 tahun dari imigrasi dalam Thailand (tentunya dengan surat-surat yang dilengkapi dari tempat kita bekerja/sekolah).

Kalau misalnya pengen tinggal di Thailand, tapi sudah masuk usia pensiun, ada juga pilihan untuk mendapatkan ijin tinggal yang namanya retirement visa. Atau misalnya kita ke Thailand karena ingin menyekolahkan anak dan sambil santai-santai saja tinggal di Chiang Mai, kita bisa mengurus visa edukasi untuk anak (dari sekolah di mana anak terdaftar), lalu kita orangtua jadi dependen terhadap visa anak. Masalahnya dengan visa edukasi anak ini, 1 anak hanya bisa memberikan ijin tinggal kepada 1 orangtua. Jadi kalau punya anak cuma 1, salah satu orangtuanya ga bisa dapat visa dependen deh. Tapi kalau punya 2 anak, masalah jadi beres hehehe.

Masalah visa ini gak bisa saya jelaskan detail karena peraturannya bisa berubah-ubah. Tapi secara umum ya kalau mau tinggal lama di Thailand, caritau dulu bagaimana persyaratan untuk urusan visa, supaya gak mondar-mandir juga harus keluar dari Thailand mengurus visanya.

Tinggal di Apartemen vs Rumah

Di Chiang Mai banyak apartemen studio ataupun 1 atau 2 kamar. Waktu awal kami datang ke Chiang Mai, karena cuma berdua saja, kami cukup dengan tinggal di apartemen studio, tapi lama-lama ya dengan adanya anak, tinggal di rumah lebih enak. Biaya tinggal di apartemen juga relatif lebih mahal. Dengan harga sewa yang sama, kita bisa dapatkan kontrakan rumah yang lebih lega ukurannya dan bahkan kadang plus halaman. Tapi semuanya kembali kebutuhan kita, kalau misalnya tinggal sendiri dan masih single, ada juga banyak kamar kontrakan seperti kost-kostan dengan harga mulai 2000 baht/bulan. Di sekitar kampus Chiang Mai University selain banyak kontrakan kost-kostan juga ada banyak berjualan makanan yang harga mahasiswa.

Tinggal di apartemen itu kita merasa aman, tapi umumnya di apartemen kita tidak bisa memakai kompor gas, harus pakai kompor listrik/induksi. Selain itu, apartemen di Chiang Mai juga tidak mengijinkan memelihara hewan peliharaan apapun. Biaya listrik dan air juga hitungannya lebih mahal daripada tagihan listrik dan air di rumah.

Biasanya, menentukan lokasi tinggal berdasarkan apa kebutuhan kita juga. Misalnya untuk anak sekolah di lokasi tertentu, bisa cari rumah atau apartemen di daerah sana. Di sini, kontrak rumah itu bisa bikin perjanjian untuk setahun tapi dibayar bulanan. Bisa juga bikin kontrak untuk 3 bulan. Semakin singkat masa perjanjiannya biasanya akan semakin mahal harganya. Kalau masih single, ada banyak hotel backpacker yang biayanya mulai dari 150 baht/hari.

Untuk yang berencana tinggal lama di Chiang mai, pastikan memiliki kendaraan seperti motor atau mobil. Di Chiang Mai sistem transportasinya belum bagus, jadi untuk mempermudah kemana-mana sebaiknya punya kendaraan sendiri (dan pastikan punya surat ijin mengemudi yang masih berlaku). SIM dari Indonesia bisa dipakai di awal, tapi kalau mau tinggal lama, ada baiknya segera urus SIM lokal Thailand dengan cara mengikuti ujian di sini. Ujiannnya bahasa Inggris kok, jadi gak usah kuatir, dan waktu yang dibutuhkan gak lebih dari 1 hari. Kalau gak mau ikut ujian, kita bisa urus SIM Internasional dari Indonesia, lalu di Chiang Mai nantinya tinggal di konversi saja menjadi SIM lokal.

Biaya Hidup

Selain biaya kontrakan rumah/kamar, dan setelah punya kendaraan yang biayanya lebih murah daripada naik taksi ke mana-mana, biaya yang perlu dipikirkan tinggal masalah makan. Untuk biaya makan, orang lokal umumnya lebih sering beli daripada masak sendiri.

Biaya makanan 1 porsi mulai dari 30 baht. Kalau mode hemat berarti 1 hari 100 baht, tapi ya masa sih makannya ga variasi hehehe. Kalau mau lebih hemat lagi, ya selalu bisa belanja ke pasar dan masak sendiri. Harga bahan makanan di sini masih lebih murah daripada di Jakarta. Bisa juga masak nasi doang di rumah dan belanja lauk yang sudah di masak di pasar hehehe.

Gimana untuk biaya rekreasi? tergantung rekreasi apa, kalau mau ke taman kota ya gratis buat olahraga, hangout sama temen atau anter anak main-main. Kalau mau duduk-duduk ngopi, di Chiang Mai ada banyak coffee shop yang harganya bervariasi mulai dari 35 baht/cup sampai di atas ratusan. Starbuck juga ada beberapa di Chiang Mai, tapi kami lebih memilih membeli kopi produksi lokal. Harga nonton bioskop relatif lebih mahal dibanding harga di Indonesia, tapi kalau gak salah kalau hari Rabu bisa nonton cuma 100 baht saja. Sudah lama gak ke bioskop, perlu cek lagi buat memastikan masih ada gak promosi 100 baht itu. Semua bioskop di Chiang Mai setau saja bisa dipesan online, jadi ya ga ada alasan kehabisan tiket.

Lain-lain

Saat ini komunitas orang Indonesia di Chiang Mai masih sedikit dan tidak sampai 100 orang, karena banyak yang silih berganti datang dan pergi. Kalau ingin bertemu dengan teman-teman dari Indonesia lainnya, bisa tinggalkan komen di sini atau kontak kami di facebook page kami.

Liburan Hari ke-6: Perpustakaan Nasional

Hari ini janjian ketemu dengan Bu Inge di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia . Saya baru tau kalau ada perpustakaan keren seperti pusnas ini. Dulu pernah sekilas baca berita soal perpustakaan yang dilengkapi dengan ruang khusus untuk koleksi anak-anak dengan tempat yang nyaman untuk anak-anak membaca, tapi kalau bukan karena Bu Inge ada acara di pusnas, saya ga kepikiran bakal berkunjung ke pusnas pada liburan kali ini.

maket gedung perpustakaan nasional

Kami berangkat naik Grab lagi dari Depok. Perjalanannya cukup lancar, akan tetapi ketika sudah memasuki kawasan jl. medan merdeka selatan, ada penutupan ruas jalan karena ada demo. Google Map menyarankan memutar mengitari monas dulu, tapi bakal butuh waktu sekitar 20 menit, padahal kalau jalan tinggal 500 meter. Akhirnya kami putuskan untuk jalan saja, toh jalanannya cukup teduh dengan banyaknya pohon-pohon besar di pinggir jalan.

foto dulu sebelum masuk perpustakaan

Kesan pertama melihat bagian depan Perpustakaan Nasional, saya cukup kagum dengan hal-hal yang dipamerkan di gedung depannya di sana. Cara mereka menatanya juga terlihat cukup menarik dan artistik (padahal saya bukan orang yang mengerti banyak mengenai seni). Di bagian belakangnya ada gedung 24 lantai yang menyimpan berbagai koleksi buku. 

Waktu masuk ke lantai dasar, kami mengamati ada toilet dan kafe. Ada direktori apa saja koleksi yang disimpan di setiap lantainya. Tujuan utama kami ketemu Bu Inge yang sedang menghadiri launching buku di ruang serbaguna lantai 4, tapi karena acara mereka belum selesai, kami sempatkan ke lantai 7 untuk melihat ada apa di ruang koleksi bacaan untuk anak-anak.

Di ruangan khusus anak-anak, kita diminta untuk melepaskan sepatu dan meninggalkan makanan dan minuman di luar ruangan. Untuk penyimpanan tas, tersedia loker dengan kunci yang bisa kita pegang. Oh ya layanana perpustakaan ini setahu saya koleksinya hanya bisa dibaca di tempat. Untuk bisa masuk dan membaca di situ, kita tidak harus menjadi anggota. Perpustakaan ini bebas biaya masuk. 

Saya senang melihat berbagai koleksi buku yang ada untuk anak-anak, bahkan ada majalah Bobo segala. Jadi teringat masa kecil di mana kami kadang-kadang dibelikan majalah Bobo. Koleksi buku bersampul tebal (board book) juga cukup lumayan. Buku-buku berbahasa Inggris ataupun bilingual juga banyak tersedia di sana. Ah rasanya waktunya ga cukup banyak untuk browse buku-buku yang ada di sana. 

dekorasi di depan pusnas

Setelah sekitar 30 menit di lantai 7, kami turun ke lantai 4 untuk bertemu dengan bu Inge. Ternyata ada kantin juga di lantai 4, jadilah kami makan di sana saja daripada menghabiskan watu di jalan untuk naik taksi lagi. Bertemu dengan bu Inge itu suatu hal yang ditunggu-tunggu oleh Jonathan. Walaupun Oma Inge (demikian anak-anak memanggil bu Inge) bukanlah nenek kandung mereka, tapi Jonathan dan Joshua bisa senang bermain dengan oma Inge seperti bermain dengan eyang girl nya. 

Selesai makan di lantai 4 kami iseng ke lantai 24 untuk melihat pemandangan yang ada di sana. Sayangnya tidak ada ruang untuk duduk ngobrol dengan enak di lantai 24, anginnya juga cukup kencang di sana, jadi kami ga berlama-lama di luar dan memutuskan kembali ke bagian koleksi anak di lantai 7.

Dari lantai 24 kami turun ke lantai 7 untuk kembali ke ruang baca anak lagi. Sedikit catatan, menunggu lift di lantai 24 memakan waktu lama, karena ketika kami akan turun, tiba-tiba lift yang naik sudah sampai lantai 21 berbalik arah lagi turun. Kalau cuma beberapa lantai, mungkin kami sudah akan turun tangga saja supaya ga lama nunggu liftnya. Saya perhatikan, di setiap lantai yang kami kunjungi ada mushollanya dan kamar kecilnya. Semuanya terlihat cukup bersih. Untuk ukuran sebuah tempat yang free entrance, saya merasa cukup senang berada di pusnas. Catatan lainnya, entah kenapa begitu masuk ke area perpustakaan, sinyal hp pada hilang, untungnya di dalam perpustakaan ada wifi yang gratis untuk umum dan ya cukup lah aksesnya. 

Setelah puas ngobrol-ngobrol di lantai 7, kami memutuskan untuk pulang dulu, eeeeh teryata sedang hujan. Akhitnya kami ngopi-ngopi sambil nyemil di kafe yang ada di lantai dasar tadi. Rasa kopinya lumayan lah ya, apalagi setelah beberapa hari cuma dapat kopi instan saja. Karena sudah agak sore, kami memesan makanan untuk anak-anak. Walau kafe nya terlihat kecil, makanan cemilannya lumayan banyak variasinya.

Setelah hujan berhenti, kami pun beranjak pulang. Tapi karena kami pulang bersamaan dengan jam orang pulang kerja, jalanan yang kami lalui banyak macetnya. Bahkan di jalan tol cuma bisa kecepatan 10-20 km / per jam. Sampai di rumah eyang, Joshua sukses tertidur kecapean.

Secara keseluruhan, jalan-jalan ke perpustakaan cukup menyenangkan buat kami karena anak-anak kami menyukai buku. Yang menyenangkan juga harga makanan di pusnas cukup masuk akal dan ga semahal harga makan dimall. Koleksi buku bacaannya ada bahasa Inggris ataupun bilingual yang bisa dibaca anak-anak kami. Semoga di kemudian hari, di daerah-daerah semakin banyak perpustakaan yang bagus isinya seperti di perpustakaan nasional ini.