Susahnya Menulis Fiksi

Buat sebagian orang, menulis fiksi itu hal yang mudah. Kenapa? karena bisa menyalurkan imajinasi seluas mungkin dan tidak harus masuk akal. Selalu ada pembelaan: namanya juga fiksi. Lalu, kalaupun ceritanya terkadang mirip dengan kisah seseorang, bisa kasih disclaimer kalau semua kemiripan tokoh dan nama hanya kemiripan semata. Teorinya, menulis fiksi itu gampang, segampang berangan-angan di siang bolong.

Tapi buat saya, menulis fiksi itu sulit. Sudah banyak membaca cerita fiksi, sudah banyak menonton drama dan film-film. Sudah banyak melatih imajinasi. Tapi, berkomentar dan menuliskan apa yang kurang atau lebih dari suatu karya fiksi itu tidak sama dengan menghasilkan karya fiksi sendiri.

Lanjutkan membaca “Susahnya Menulis Fiksi”

Fan Fiction: The King Eternal Monarch dan Pandemi

Memasuki tantangan menulis kokoriyaan topik 29, kami harus menuliskan fan fiction dari drama yang sudah ditonton. Sebenarnya, saya belum pernah membuat fan fiction dan tidak terlalu bisa menuliskan fiksi. Tapi, karena semboyan kami “tidak ada topik yang tidak bisa dituliskan”, dan “selalu ada waktu pertama untuk mencoba”, maka kali ini saya pun akan mencoba meneruskan salah satu drama yang saya tidak suka jalan ceritanya terutama endingnya. 

Jong Tae-eul, Lee Gon, dan Kapten Jo Yeong

Biasanya, orang akan menuliskan fan fiction dari drama yang dia suka, tapi saya justru nulis yang ini karena merasa drama ini punya potensi untuk disukai dengan pemilihan pemerannya dan juga visual dari drama yang enak dilihat, tapi sayangnya jalan ceritanya banyak yang membingungkan dan endingnya yang sepertinya bahagia tapi sebenarnya tidak ada tujuan.

Ceritanya

Sebelumnya, untuk yang belum menonton, saya akan memberikan sekilas cerita dari drama ini. Inti drama ini hanya ada di episode pertama dan terakhir. Tengah-tengahnya tidak ada yang terlalu berarti kecuali penjelasan dan usaha-usaha tokoh jahat yang semua berhasil dihapus berkat perjalanan waktu.

Drama ini bercerita tentang Raja Lee Gon (diperankan oleh Lee Min-ho) dari Kerajaan Korea, sebuah dunia rekaan yang berbeda dengan Republik Korea Selatan.  Raja Lee Gon sudah menjadi raja sejak kecil karena orang tuanya dibunuh oleh pamannya. Dia juga hampir jadi korban, kalau saja bukan karena pertolongan sosok misterius yang menghentikan usaha pamannya. Sosok misterius ini membawa sebuah name tag seorang detektif polisi wanita dari Republik Korea bernama Jong Tae-eul (diperankan oleh Kim Go-eun).

Iya, cerita drama ini memang mengangkat tema dunia paralel dan perjalanan waktu. Sejak nonton drama ini, saya memutuskan untuk tidak lagi menonton drama yang memilih tema serupa, kenapa? Karena, walaupun visual dari drama ini sungguh memanjakan mata dengan pemeran yang wajahnya nyaris sempurna dan warna yang indah, tapi plot ceritanya sungguh mengecewakan buat saya.

Sekali lagi, mungkin ini namanya bukan selera ya, tapi sungguh saya kecewa setelah menantikan jalan cerita bergerak maju selama 40 menit  untuk melihat tokoh utama pria, lalu ceritanya maju mundur tidak jelas dan terkadang ada lompatan antar episodenya yang tidak dijelaskan apakah itu kejadian masa lalu atau masa depan. Yang saya ingat dari drama ini hanyalah bagian penuh dengan produk placement alias iklan terutama minuman kaleng dan ayam goreng.

Kisah drama ini intinya adalah rasa penasaran Lee Gon terhadap sosok bernama Jong Tae-eul yang kemudian membawa dia menemukan pintu ke dunia lain. Lalu, ketika dia bertemu dengan Jong Tae-eul, dia pun langsung jatuh cinta karena sudah bertahun-tahun memandang wajahnya di name tag yang dia dapat dari sosok misterius yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya.


Eits…buat fansnya drama ini, jangan protes dulu ya. Menurut saya, jalan ceritanya selain lambat dan banyak lompatan yang tidak jelas, banyak adegan yang juga tidak jelas kenapa harus begitu. Misalnya saja, kenapa raja Lee Gon harus mengusir Jepang di perbatasan lautnya? Bahkan cerita itu tidak ada kelanjutannya selain mau menunjukkan Lee Gon dengan seragam marinir.

Kalau belum menonton, saya tidak menyarankan untuk menontonnya kecuali cuma ingin melihat visual dari raja Lee Gon dan petualangan yang pada akhirnya tidak ada tujuan.

Spoiler: akhirnya Lee Gon dan Jong Tae-eul bahagia tiap akhir pekan pacaran berkeliling dunia paralel dan menjelajahi waktu. Udah gitu aja, tidak ada masa depan ga sih pacaran doang tanpa tujuan menikah atau membangun keluarga.

Hidup harus punya tujuan

Sini saya ceritakan lanjutannya versi saya.

Cerita dimulai dari titik akhir episode 16 drama TKEM. Setelah berhasil menyatukan tongkat bambu ajaib yang bisa membuka pintu kemana saja seperti pintu doraemon, Lee Gon dan Jong Tae-eul berkeliling dunia dan menjelajahi berbagai periode waktu.

Mereka tidak perlu khawatir dengan adanya efek kupu-kupu, karena apapun yang mereka lakukan tidak akan mengubah masa depan. Mereka hanya bersenang-senang dan mencoba berbagai jenis busana dari daerah yang mereka datangi.

Dalam perjalanan yang mereka lakukan setiap akhir pekan (karena Jong Tae-eul tetap harus bekerja sebagai detektif di kantor polisi Republik Korea dan Raja Lee Gon juga harus memerintah kerajaannya) sesekali mereka akan bertemu dengan kembaran mereka di dunia tersebut. Terkadang mereka juga berusaha memperbaiki sistem dari negara yang mereka datangi kalau mereka merasa ada yang perlu diperbaiki.

Sampai suatu ketika, mereka tak sengaja sampai di masa pandemi sedang terjadi. Iya tahun 2020, mau pergi kemanapun di seluruh dunia mereka melihat ada pandemi dan korban berjatuhan.

Jong Tae-eul mengusulkan kepada Lee Gon kalau mereka harus membantu masa pandemi ini dengan pergi ke masa depan dan mengambil vaksin atau apapun obat yang sudah ditemukan, dan membawanya kembali ke masa 2020. Tapi, tentu saja usahanya tidak semudah itu. Pintu menuju masa depan yang lebih dari 2020 tidak kunjung ditemukan. Mereka malah selalu nyasar ke titik hari yang sama tahun 2020, hanya beda kota saja. 

Karena mereka hanya punya waktu di akhir pekan untuk berkelana, sudah berbulan-bulan mereka mencoba ke masa depan dan sayangnya mereka selalu kembali ke tanggal pertama kali mereka memutuskan membantu mencari obat pandemi, yaitu 23 September 2020.

Mereka berkelana ke berbagai kota di berbagai negara, mulai dari Wuhan, Amerika, Eropa, bahkan Thailand dan akhirnya sampai juga di Indonesia. Mereka agak heran kenapa mereka selalu kembali ke titik yang sama. Tapi ternyata Lee Gon baru memperhatikan, kalau tongkat bambu ajaibnya semakin pendek setiap kali mereka berusaha ke masa depan.

Akhirnya, setelah melihat usaha mereka tidak berhasil dan melihat begitu banyak orang-orang konyol yang anti masker dan tidak takut Covid-19, Jong Tae-eul berubah pikiran dan berkata kepada Lee Gon kalau dia tidak ingin lagi membantu melenyapkan pandemi.

Jong Tae-eul sudah bosan dengan perjalanan tak berakhir dan tanpa tujuan itu. Dia sudah lelah berusaha membantu orang-orang yang sulit dan tidak mau membantu dirinya. Menurut Tae-eul, waktunya untuk fokus terhadap diri mereka berdua daripada memikirkan seluruh dunia.

Lee Gon pun bertanya, apa maunya Jong Tae-eul. Mereka sekarang ini berperjalanan setiap akhir pekan karena masing-masing tidak ada yang bersedia meninggalkan hidupnya. Manalah mungkin seorang raja meninggalkan kerajaannya demi seorang wanita. Seharusnya wanita itu dong yang meninggalkan keluarganya untuk ikut suami, setidaknya demikianlah pendapat Lee Gon.

Jong Tae-eul yang dibesarkan terbiasa mandiri tentu saja tidak terima dengan pandangan Lee Gon kalau wanita harus ikut suami. Jong Tae-eul akhirnya minta putus saja dari Lee Gon. Dia sudah lelah dengan hubungan tanpa status. Sepertinya mereka juga tidak akan pernah bisa bersatu.

Jong Tae-eul juga sudah menerima kalau Lee Gon itu hanyalah hidup di dunia khayalnya dan bukan kehidupannya sebenarnya. Jong Tae-eul ingin melanjutkan hidup di dunianya dengan melakukan apa yang berarti dan bukan sekedar pacaran tanpa tujuan. Jong Tae-eul juga ingin memiliki keluarga yang normal, seperti semua orang di dunia ini.

Lee Gon pusing kepala dengan tuntutan Jong Tae-ul. Disatu sisi dia sangat mencintai wanita itu. Kenapa sih ngeyel banget diajak jadi ratu hidup senang ga usah kerja keras aja ga mau. Padahal, di kerajaan Corea, kalau Lee Gon bersabda, semua wanita ngantri mau jadi istrinya. Tapi memang inilah kelebihan Jong Tae-ul yang membuat Lee Gon jatuh hati padanya. Wanita itu punya prinsip, walaupun terkadang jadi bikin dia pusing seperti sekarang ini.

Akhirnya, Lee Gon sadar, kalau cinta itu butuh pengorbanan. Walaupun dunianya di kerajaan Corea sangat nyaman bahkan bebas pandemi, walaupun tongkat bambu ajaibnya bisa membuat dia berperjalanan kemanapun tanpa paspor ataupun karantina wajib di masa pandemi, tapi hidup seperti itu tidak ada maknanya. Dia perlu belajar untuk menjalani hidup seperti semua orang lainnya yang perlu bekerja keras dan berkarya. Bukan cuma jalan-jalan keliling dunia sok jadi pahlawan. 

Setelah memikirkan selama sebulan penuh, Lee Gon mempersiapkan Kapten Jo Yeong (diperankan oleh Woo Do-hwan) untuk memimpin kerajaan Corea. Dia mengumumkan pengunduran dirinya di hadapan rakyatnya. Pengunduran dirinya ini juga sekaligus pesta pernikahan dia dan Jong Tae-ul.

Kapten Jo Yeong sempat berusaha meyakinkan Lee Gon untuk memilih wanita lain di kerajaan Corea, tapi dia juga tahu kalau Lee Gon sudah tidak bisa diubah lagi pendapatnya walau ditakut-takuti dengan pandemi yang masih merajalela. Keputusan Lee Gon memang sudah mantap, dia ingin melanjutkan hidup dengan tujuan lebih jelas, walaupun mungkin banyak masalah akan menghadang di depan mata.

Pesta tersebut merupakan terakhir kalinya Lee Gon dan Jong Tae-eul berada di kerajaan Corea. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal di Republik Korea. Lee Gon juga memutuskan untuk membakar tongkat bambu ajaibnya supaya tidak ada lagi orang yang bisa berperjalanan waktu dan mengubah-ubah masa lalu.

Pada akhirnya, Jong Tae-ul dan Lee Gon hidup bahagia dengan berbagai masalah rumahtangga yang mereka hadapi. Tapi mereka bahagia karena mereka selalu bersama dan bekerjasama menyelesaikan masalah bersama dan bukan masalah seluruh dunia ini.

The End.

Penutup

Namanya juga fan fiction ya, jadi harap maklum kalau ceritanya agak terkesan tidak masuk akal. Pada dasarnya, dramanya juga fantasi yang tidak masuk akal, saya hanya menambahkan supaya akhirnya lebih ada tujuan saja versi saya, hehehe…

Fiksi: Kisah Bunga dan Sepatu

Bunga memandang walk-in closetnya. Dia sedang memilih-milih mau pakai sepatu yang mana hari ini. Mungkin pakai yang tingginya 5 cm saja. Hari ini dia cuma berencana ke supermarket di belakang gedung apartemennya. Tapi dia sedang mempertimbangkan, mungkin bisa juga pergi agak jauh dari apartemen, hitung-hitung memanaskan mesin mobilnya yang belum dipakai beberapa hari ini.

Selesai berdandan dan mengenakan sepatu 5 cm, Bunga kembali dihadapkan dengan pilihan: mau pakai tas yang mana ya? Tas backpack kayaknya gak aman dan gak matching dong dengan sepatu 5 cm nya. Tas sandang mau warna biru atau merah garis putih?. Aduh bingung deh, tadi memilih baju saja habis 15 menit, milih sepatu 20 menit, sekarang pilih tas butuh berapa menit lagi?

Lanjutkan membaca “Fiksi: Kisah Bunga dan Sepatu”

Fiksi: Wedding in Time of Corona

Catatan: cerita ini fiksi belaka, nama, tempat, peristiwa, kronologi semuanya dari imajinasi saya saja.

Bunga merasa galau segalau-galaunya. Rencana pernikahan termasuk resepsi yang sudah disusun sejak tahun lalu alamat kacau balau. Siapa sangka ada wabah yang tiba-tiba mendunia. Padahal tinggal 3 hari lagi hari H itu tiba. Hari yang untuk merencanakannya saja butuh mencari hari di mana Bunga dan Abang bisa ambil cuti panjang, dan sekarang terancam buyar?

Semua sudah dipesan dan dibayar lunas, gedung pertemuan, katering sesuai jumlah undangan, dekorasi dan baju pengantin juga sudah diambil dari tukang jahitnya. Sengaja dia ambil cuti besar dan dari 3 minggu lalu pulang ke kotanya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bunga tidak ingin merepotkan orang tuanya yang sudah berumur di atas 70 tahun, kakak-kakaknya juga tidak mungkin bisa membantu karena mereka sudah lama tidak tinggal di kota ini lagi.

Si Abang, calon suaminya nyaris tidak dapat terbang ke Indonesia, untung saja masih sempat menukar tiket pesawat dan bisa berangkat sebelum kota tempat mereka tinggal lock down dan masuk ke Indonesia tanpa masalah. Bunga dan Abang memang bekerja di luar negeri, dan untungnya bos Bunga lebih fleksibel daripada bos si Abang. Bunga sudah bisa pulang duluan dan ambil cuti besar selama 2 bulan, Abang cuma dapat cuti 1 bulan.

Sekarang si Abang masih dalam masa mengkarantina dirinya sendiri, dan hari H itu tepat 2 minggu sejak dia tiba di Indonesia. Bunga bahkan belum bisa bertemu langsung dengan Abang, untungnya ada video call sehingga mereka tetap bisa berkomunikasi tatap muka.

Keluarga Abang dan kerabat Bunga sudah banyak yang mengabari kalau mereka tidak akan bisa datang menghadiri pernikahan Bunga. Mereka semua terkena efek dari semakin ketatnya aturan keluar ataupun masuk dari setiap negara di dunia ini dan juga karena ada himbauan untuk di rumah saja.

Kakak-kakaknya yang tinggal hanya 3 jam dari kota mereka tinggal juga memutuskan untuk tidak datang, kakak pertama memang tenaga kesehatan, jadi dia tidak bisa ijin dan sedang sangat dibutuhkan saat ini. Kakak ke-2 sedang hamil besar anak ke-2, jadi dia tidak mau ambil resiko berperjalanan dengan membawa balita dan perut besar. Keluarga besar dari papa mamanya juga banyakan dari luar pulau, dan hanya sedikit yang berani ambil resiko untuk naik pesawat terbang.

Kemarin dia sempat ribut dengan Abang yang mengusulkan kalau mereka cukup catatan sipil dan minta pengesahan secara agama saja dulu dan menunda resepsinya lain kali. Bunga merasa, si Abang kayak tidak ngerti aja, ini kan hari di mana Bunga ingin merasa jadi ratu sehari. Hari yang harusnya hari paling bahagia.

Bunga ngotot bilang ke Abang, masak sama virus aja takut. Bunga mengusulkan untuk ambil tindakan pencegahan, misalnya desinfeksi ruangan dan sediakan handsanitizer sebagai souvenir – walaupun Bunga tidak tahu di mana harus mencari 2000 hand sanitizer. Tapi namanya Bunga sedang ngotot, dia bahkan terpikir bisalah bikin sendiri mengikuti berbagai video tentang pembuatan hand sanitizer.

Bunga sempat berpikir, apakah ini tandanya dia gak jodoh dengan Abang ya? atau mungkin Bunga yang salah fokus. Kemarin kakak pertamanya bercerita, kalau mereka sudah kewalahan di rumah sakit. Pasien yang harus ditangani hampir melebihi kapasitas rumah sakit dan bahkan harus dialihkan ke rumah sakit lain. Ratusan pasien yang masih menunggu hasil test tapi harus diperlakukan secara hati-hati kalau tidak mau ketularan. Belum lagi ada rekan mereka yang walaupun sudah sangat berhati-hati dengan pakaian dan masker yang selalu terpakai, sekarang juga sedang diisolasi dan menunggu hasil karena sudah mempunyai gejala yang sama.

Bunga mencoba curhat ke sebuah forum wedding organizer. Ternyata, Bunga tidak sendirian, ada banyak mengalami dilema yang sama. Beberapa memutuskan untuk membatalkan, ada juga yang menunda untuk tanggal yang tidak diketahui. Tapi, tunggu dulu, ada satu usulan yang membuat Bunga yang tadinya galau jadi lebih tenang.

Namanya Adinda, dia juga berencana menikah 3 hari lagi, tapi baru kemarin calon suaminya harus swab test karena mengalami gejala yang sama dengan pasien-pasien lainnya. Adinda bahkan menyewa gedung dengan kapasitas 3 kali lebih besar dari undangan Bunga.

Adinda dan calon suaminya memutuskan untuk tetap menikah dengan catatan sipil dan secara agama saja setelah nantinya calon suaminya membaik. Untuk makanan yang sudah dipesan, dia minta kerjasama dari kateringnya supaya makanan prasmanan diganti menjadi nasi kotak saja. Nantinya makanan itu akan dibagi-bagikan untuk tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19, termasuk juga untuk pasien-pasien yang ada. Selain itu juga akan dibagikan ke perkampungan masyarakat yang semakin sulit mendapatkan penghasilan.

Untuk biaya dekorasi, dokumentasi, dan sewa gedung, mereka akan mengusulkan supaya 60 persen dari duit yang sudah dibayarkan disumbangkan untuk membantu pengadaan berbagai keperluan melawan virus ini. Jadi pihak wedding organizer bisa tetap mendapatkan 40 persen walaupun mereka tidak bekerja. Tanpa diduga, beberapa pihak bersedia mengembalikan 90 persen, dan tergerak untuk menyumbang.

Bunga langsung mengirim pesan ke Adinda dan bertanya apa yang membuat dia memutuskan seperti itu? Adinda menjelaskan kalau menurut dia esensi dari pernikahan itu bukanlah pesta yang meriahnya. Mau seperti apapun usaha pencegahan, dengan adanya banyak orang berkumpul dari berbagai tempat, pasti ada kemungkinan penularan.

Bahkan sebelum calon suaminya mengalami gejala yang sama, mereka sudah mulai mempertimbangkan untuk membatalkan resepsi besarnya, akan tetapi keluarga besar mendesak karena alasan gengsi keluarga. Mereka merasa, dengan calon Adinda menjadi orang dalam pengawasan, keluarga besarnya yang tadinya anggap enteng dengan virus ini akhirnya tersadar, sebagian bahkan sudah mulai cemas karena beberapa hari sebelumnya masih berinteraksi dengan calon suami Adinda.

Adinda sih sudah pasrah, kalaupun dia juga terinfeksi, ya… setidaknya dia tidak menjadi spreader ke tamu-tamu yang lebih banyak lagi di resepsi pernikahannya. Adinda malah merasa bersyukur sudah ketahuan sebelum resepsi, gimana kalau gejalanya muncul sehari setelah resepsi, lalu gimana kalau 50 persen dari undangannya jadi terinfeksi juga? Pastilah rasanya akan sangat bersalah sekali. Bagaimana mungkin bisa berbahagia sepanjang pernikahan kalau diawali dengan membawa bencana ke banyak orang? Lagipula, apa sih esensi pernikahan itu? apakah lebih penting selebrasinya? atau komitmen menjadi pasangan suami istrinya?

Bunga berterima kasih ke Adinda dan langsung menelpon si Abang. Bunga menceritakan semuanya ke Abang dan akhirnya Bunga merasa lebih tenang. Akhirnya mereka sudah mendapatkan kesepakatan baru. Bunga juga akan meniru Adinda dengan sedikti modifikasi.

Bunga dan Abang akan tetap mengesahkan pernikahan secara agama dan negara 3 hari lagi, tapi tidak lagi di gedung pertemuan besar. Nantinya mereka akan membagikan link live streaming untuk disaksikan para undangan. Bunga juga akan meminta jika para undangan ingin memberi hadiah, bisa berupa uang untuk didonasikan untuk membantu tim tenaga kesehatan dalam memerangi virus ini.

Bunga sudah bisa tersenyum sekarang. Setiap masalah pasti ada jalan keluar, asal kita mau melihat apa sih fokus permasalahannya. Virus ini tidak akan bisa mengalahkan niat 2 orang yang saling mencintai untuk berkomitmen menjadi suami istri. Walaupun tanpa resepsi yang megah, pernikahan mereka tetap sah dengan acara agama dan catatan sipil. Dan yang pasti, mereka tidak perlu menanggung beban mental kalau sampai hari bahagia mereka membawa bencana buat orang lain yang terinfeksi.

— dan mereka hidup bahagia selamanya —