A Series of Unfortunate Events

Memikirkan hal-hal yang terjadi di 2020 di mana banyak kejadian yang tidak nenyenangkan datang silih berganti, saya jadi teringat dengan buku anak yang saya tonton filmnya di tahun 2004 dan sudah pula menjadi serial TV oleh Netflix yang berjudul A Series of Unfortunate Events.

Saya belum membaca bukunya, waktu itu pernah membeli buku versi bahasa Indonesianya, tapi kami tinggal di Indonesia. Saya tidak berhasil menyelesaikan membaca bukunya, karena dari awal ceritanya banyak kejadian menyedihkan.

Biasanya, buku anak-anak itu diberikan akhir yang membahagiakan, atau kisah yang menyenangkan. Tapi, buku ini berbeda. Dari judulnya dan dari bagian awal buku ini, sudah diberitahukan kalau mencari kisah yang membahagiakan, jangan baca buku tersebut.

Oh ya, karena ingat dengan buku tersebut, saya juga jadi ingat dan memulai menonton serialnya di Netflix. Serialnya di Netflix juga cukup menarik dan dari dialognya, saya merasa seakan-akan sedang dibacakan bukunya.

Lanjutkan membaca “A Series of Unfortunate Events”

Nonton Kdrama, Bayar atau Bajak?

Ngomongin nonton film atau serial TV, dari jaman dulu saya sudah tahu ada banyak cara para pemirsa untuk menyalurkan hobi menontonnya. Sejak jaman DVD sampai jaman internet film dan drama tersedia yang resmi maupun bajakan.

Ada yg memilih membeli DVD resmi tapi artinya harus menunggu lama sampai sebuah drama selesai tayang seluruh episode dalam 1 season di TV baru diproduksi DVD nya. Tapi ada juga yang memilih untuk menonton versi bajakannya walaupun kualitasnya kurang memuaskan.

Sekarang ini sudah bukan jaman DVD, teknologi para pembajak juga makin canggih. Tapi yang banyak tidak diketahui oleh pemirsa, kalau memang suka menonton, lebih baik cari versi berbayar daripada versi bajakan.

Beberapa alasan kenapa sebaiknya tidak mencari dari sumber ilegal (selain masalah etika dalam menghargai hasil karya orang lain):

  • Kualitas gambar tidak selalu bagus untuk dilihat.
  • Ada film yang tidak sinkron antara suara dan gambar, hal ini mengganggu kenyamanan menonton.
  • Subtitle film bajakan juga sering memberi makna yang salah atau tidak enak dibacanya.
  • Ada kemungkinan file bajakan yang didownload disusupi virus atau malware.
  • Menonton streaming dari website ilegal juga banyak jebakan iklan yang mengarah ke situs-situs porno.

Ada banyak cara menonton Kdrama yang legal. Bisa gratis atau membayar dengan jumlah yang sebenarnya tidak terlalu mahal dibandingkan mahalnya membayar kuota internet. Sebelum memutuskan mau menonton dari web streaming yang mana, pastikan Anda punya kuota internet yang lebih dari cukup.

Lanjutkan membaca “Nonton Kdrama, Bayar atau Bajak?”

KMovie: “Time to Hunt” (2020) – Penjahat Amatir Mimpi Pensiun di Pantai

Hari ini, saya akan menulis review film Korea lagi. Ini merupakan topik pertama dari tantangan 30 Topik Kokoriyaan bareng teman-teman di group Drama Korea dan Literasi. Film “Time to Hunt” ini baru release April 2020 di Netflix, jadi masih relatif baru.

Berbeda dengan dua film yang pernah kami review bareng sebelumnya yang bertema komedi, film ini genrenya mirip-mirip film Amerika. Netflix memberi rating 18+ untuk film bergenre crime, gangster, heist and gritty movie karena ada banyak adegan kekerasan dan bahasa yang tidak sesuai dengan anak-anak.

Poster Time To Hunt (Source: wikipedia)

Film ini pertama kali ditayangkan tanggal 22 Februari 2020, di acara 70th Berlin International Festival. Film ini juga merupakan film Korea pertama yang masuk seleksi Berlinale Special section. Akhir April 2020, film ini release di seluruh dunia melalui Netflix.

Ceritanya

Cerita di mulai ketika 3 sekawan bertemu dengan temannya yang baru keluar setelah 3 tahun di penjara. Teman yang baru keluar dari penjara ini ternyata seperti pemimpin mereka dalam melakukan kejahatan seperti pencurian. Dia mengorbankan dirinya tertangkap ketika mereka ber-4 mencuri bersama.

Si pemimpin yang baru keluar dari penjara ini bercerita tentang mimpinya untuk pensiun dari dunia kejahatan. Dia ingin memiliki resort di Kenting Beach, Taiwan yang memiliki pantai berwarna hijau seperti di Hawaii. Tapi untuk itu tentunya dia butuh modal, katanya dengan modal 200 ribu USD, dia bisa mendapatkan 8 ribu USD perbulan (atau perhari ya), intinya sih gak perlu kerja repot-repot lagi tinggal menikmati hasil deh.

Lanjutkan membaca “KMovie: “Time to Hunt” (2020) – Penjahat Amatir Mimpi Pensiun di Pantai”

KMovie “Mr. Zoo: The Missing VIP” (2020)

Review film kali ini merupakan kegiatan review bareng ke-2 bersama teman-teman di WAG drakor dan literasi (iya isinya memang teman-teman yang hobi nonton drama Korea selain menulis setiap hari). Alasan memilih film ini tentu saja karena film yang baru release di awal tahun 2020 ini genrenya drama komedi yang cocok ditonton bersama dengan keluarga.

Poster Film “Mr. Zoo : The Missing VIP” (sumber: IMDB.com)

Judul dari film ini merupakan cara penulisan romanisasi dari nama tokoh utamanya, tapi sebenarnya penulisannya bukan Zoo, melainkan Joo. Tapi namanya romanisasi, tentu saja tidak harga mati. Bunyinya masih mirip-mirip lah ya Joo ataupun Zoo. Dalam ceritanya si mister ini akan punya kemampuan dengan banyak binatang, maka pemakaian kata Zoo sekalian menggambarkan kumpulan hewan yang banyak tampil di film ini.

Kalau mau cari tau apakah film berdurasi 113 menit ini cocok untuk tontonan keluarga Anda, silakan lanjutkan membaca sampai habis. Siapa tahu lagi tidak ada ide mau menonton apa di akhir pekan ini.

Lanjutkan membaca “KMovie “Mr. Zoo: The Missing VIP” (2020)”

Film “Radius” (2017), Jaga Jarak Aman atau Mati

Bukan, ini bukan film tentang pandemi. Dalam tulisan ini saya mau review film “Radius” (2017), jadi bukan mau bahas pandemi Covid-19. Tapi harap maklum kalau dalam tulisan ini di sana sini akan ada beberapa hal yang dikaitkan dengan situasi saat ini.

Poster film Radius (2017) (Sumber: IMDB.com)

Film produksi Kanada bergenre science-fiction thriller tahun 2017 ini dibintangi oleh Diego Klattenhoff, seorang aktor yang dikenal sebagai agen Ressler dalam TV Seri Amerika, “The Blacklist“. Film berdurasi 87 menit ini dari awal sampai akhir cukup menarik untuk disimak karena ada misteri yang membuat saya menonton sambil bertanya-tanya bagaimana kelanjutannya dan cara mereka menyelesaikan persoalannya.

Ceritanya

Ceritanya di mulai dengan tokoh pria yang baru tersadar dari kecelakaan mobil dan kehilangan ingatannya. Dalam keadaan masih setengah sadar, dia semakin bingung karena setiap ada orang atau hewan berada di dekatnya, semuanya langsung jatuh dan mati. Bukan cuma orang yang lewat, bahkan burung yang terbang juga kalau kurang dari jarak tertentu, bisa tiba-tiba jatuh ke tanah.

Lanjutkan membaca “Film “Radius” (2017), Jaga Jarak Aman atau Mati”

KMovie: Exit (2019)

Tulisan ini sebagai bagian kegiatan nulis review film bareng dari grup KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional) yang suka nonton drakor selain literasi. Karena menonton drama korea butuh waktu lebih banyak, yuklah kita nonton film Korea sesekali. Industri film Korea gak kalah keren kok dari film Hollywood.

Sekali-kali nonton film Korea, jangan dramanya saja. Film ini berdurasi 1 jam 43 menit, dan cocok buat hiburan untuk seluruh keluarga. Film bergenre  action, comedy ini bercerita tentang bagaimana seorang yang hobi panjat tebing menyelamatkan keluarga dan dirinya sendiri dari bencana gas beracun yang tersebar di kota Seoul. 

Poster Exit (Sumber: IMDB Exit)

Awalnya saya pikir, bagaimana mungkin cerita bencana dijadikan film komedi? Apa lucunya sebuah bencana? Bencana tentu saja tidak lucu, di bagian inilah dibutuhkan aksi untuk menyelamatkan diri.

Ceritanya

Film ini bisa dibilang terbagi dua, bagian awalnya lebih ringan dan komedi. Menceritakan latar belakang tokoh pria anak bontot yang sudah dewasa, hobi panjat tebing tapi hidupnya kurang beruntung. Keluarganya sering menjadikan bahan olok-olok karena dia masih tinggal dengan orangtuanya dan belum juga mendapatkan pekerjaan. Kerjanya sehari-hari ya makan tidur selain olahraga di taman tempat anak-anak kecil bermain.

Ibu dari tokoh pria ini akan berulang tahun ke 70, mereka mengadakan pesta agak jauh dari rumahnya. Belakangan diceritakan, ternyata si tokoh pria sengaja memaksa keluarganya menyewa ruang pertemuan di gedung yang jaraknya hampir 2 jam dari rumah mereka karena dia tahu gadis yang pernah dia suka 5 tahun sebelumnya bekerja di gedung pertemuan tersebut.

Trailer film Exit (2019) (Sumber: Youtube EonTalk)

Sedikit kilas balik, tokoh pria bertemu dengan tokoh wanita di tempat mereka berlatih panjat tebing. Cewek ini walau hobi panjat tebing tapi manis loh, jangan bayangkan cewek macho ya! Tapi ceritanya si cewek menolak si pria karena menganggapnya seperti abang saja, ouch.

Sampai di bagian ini, kisah filmnya masih terasa lucu. Percakapan antara tokoh-tokoh yang ada, dan kelakuan dari tokoh yang lain cukup untuk bikin saya senyum-senyum. Misalnya saja tentang ayahnya yang suka nonton drama Korea, rebutan remote dengan ibunya, khas film keluarga.

Berbeda dengan film-film yang terkadang lama dalam membangun latar belakang cerita, film ini menurut saya berjalan cukup cepat dan bahkan berhasil mengusir rasa kantuk yang sebelumnya ada sebelum mulai nonton. Dengan singkat saya bisa merasakan kasihan banget si tokoh pria ini. Bahkan di saat pesta dia sulit untuk jaga image dirinya dihadapan cewek yang dia masih suka, karena kelakuan keluarga besarnya.

Bagian kedua yang penuh aksi dari film ini dimulai ketika pesta ulang tahun usai. Sebelum mereka sempat pulang, ada orang yang menyebarkan gas beracun di area kota gedung pertemuan. Gas beracun ini bisa mengakibatkan orang yang terkena gas akan terluka kulitnya dan jika terhirup ke paru-paru bisa merusak paru-paru. Ketika melihat orang banyak berlari panik dan jalanan sudah mulai kacau, mereka memutuskan untuk masuk kembali ke gedung pertemuan.

Mulai dari titik ini, komedinya berkurang. Yang ada adalah perasaan seru ingin lari di tempat seakan bisa membantu mereka lari menyelamatkan diri dari gas beracun.

Namanya lari dari asap/gas, masuk ke dalam ruangan itu belum tentu aman. Gas itu bisa masuk melalui ventilasi. Jadi, setelah mereka masuk ke gedung pertemuan, mereka perlu mencari tempat yang agak tinggi. Baru merasa sedikit aman, eh gas beracunnya ternyata mulai naik juga. Mereka buru-buru lari menuju atap gedung.

Tentunya karena ini film, tak semudah itu mereka bisa keluar ke atap, karena si manajer gedung pesta ternyata tidak punya kuncinya. Kuncinya tertinggal di lantai dasar yang sudah penuh asap. Lalu bagaimana caranya mereka ke atap gedung? Di sinilah aksi si tokoh pria yang jago panjat gedung jadi berguna. 

Udah segitu aja? Mereka semua langsung selamat? Tentu tidak, karena satu dan lain hal si pria dan wanita tidak muat ke dalam helikopter yang datang menyelamatkan keluarga si pria. Tinggallah mereka berdua di atap gedung menunggu helikopter lain datang menyelamatkan mereka.

Karena asap terus naik dan hampir mencapai gedung tempat mereka berada, mereka mulai memikirkan mencari titik yang lebih tinggi lagi. Bisa dibilang, mulai dari situ isi dari film  ini adalah mereka berlari, memanjat, melompat dan berlari lagi sambil harus mengenakan baju dari jas hujan plastik dan diplester dengan plester besar seadanya. 

Mereka mendapatkan topi masker yang ada oksigen untuk 10 – 15 menit saja yang tersedia sebagai masker darurat di gedung pertemuan. Mereka berlari sambil mencari tempat-tempat di mana ada oksigen untuk tambahan. Untungnya pemerintah kota juga bertindak cepat untuk menyebarkan alat pelindung diri ini di tempat tertentu. Mereka berusaha berlari ke tempat yang lebih tinggi sambil menunggu helikopter yang datang menyelamatkan mereka.

Nah yang bikin seru adalah, entah kenapa helikopternya ga ada yang melihat mereka walaupun mereka lari dari atap satu gedung ke atap gedung lain. Sampai akhirnya ada satu drone ilegal yang melihat mereka yang disiarkan langsung di sebuah saluran TV.

Saya semakin heran, kenapa setelah disiarkan di TV begitu, helikopter penyelamat tetap saja tidak langsung datang. Malahan banyak drone (ilegal) lain yang datang seperti berlomba ingin menyiarkan detik-detik terakhir hidup mereka.

Nah bagaimana kelanjutannya? Apakah mereka akhirnya bisa selamat mencapai titik lebih tinggi daripada gas beracun? Apakah helikopter penyelamat akan datang tepat waktu? Bagaimana cara melenyapkan gas beracunnya? Ini bisa ditonton sendiri. Gak seru kalau semua dikasih tahu di sini, hehe.

Daya Tarik Film Ini

FIlm ini diperankan oleh Cho Jong-Seok dan Lim Yoon-ah. Film ini sudah mendapat banyak award untuk artis dan aktornya, termasuk nominasi award untuk Baeksang Art Award ke-56 yang baru akan diumumkan bulan Juni nanti. Film ini menempati film terlaris ke-3 sepanjang 2019 dengan lebih dari 9,4 juta tiket terjual di Korea.

Akting dari pemeran utama maupun pemeran pendukung semua terasa menyenangkan untuk dilihat. Percakapan yang ada juga bisa menambah kelucuan ataupun ketegangan dari film ini.

Jalan cerita yang cukup cepat dan penjelasan tentang bencana gas beracun sampai penyelesaianya semua diselesaikan dengan tuntas. Saya tidak suka film yang banyak hal dibiarkan menggantung tanpa penjelasan, jadi penyelesaian cerita itu penting buat melihat sebuah film menarik atau tidak.

Saya juga kagum dengan stamina dari tokoh wanitanya. Dia bisa mengimbangi berlari, memanjat dan melompat yang dilakukan oleh tokoh prianya. Mungkin saja mereka pakai pemeran pengganti, tapi pada saat wajahnya di perlihatkan dari dekat, kelihatan cukup meyakinkan si wanita seperti benar-benar berlari tanpa henti.

Penutup

Film ini cukup menarik untuk ditonton bersama keluarga. Kita bisa belajar beberapa teknik menyelamatkan diri jika ada bencana, termasuk memikirkan cara memberi tanda SOS.

Anak saya yang kecil agak takut melihat filmnya, dia takut terutama karena banyak adegan berlarinya, dia sepertinya merasa lelah karena terbawa dengan suasana film pengen ikut lari-lari, hehehe.

Gimana, masih ragu mau nonton atau tidak? Ini beberapa tulisan dari teman-teman saya yang juga mereview film ini. Siapa tau masih butuh sudut pandang lain sebelum memutuskan menontonnya. Mampir yuk ke tulisan teman-teman saya.

Nonton Film Indonesia di Netflix

Belakangan ini mulai bosan dengan drama korea. Sebenarnya banyak yang lagi hits dan jadi pembicaraan, dan direkomendasikan. Mau yang sudah selesai atau yang masih tayang setiap minggunya, ada banyak yang katanya bagus-bagus, seru dan menguras emosi.

Drama korea dengan cerita zombie atau cerita selingkuh, cerita setengah robot atau cerita pengacara yang penuh intrik atau cerita cinta pertama yang kenal dari masih kecil, sebagian besar ada di Netflix. Tapi rasanya dengan anak-anak di rumah saja, kurang baik kalau mereka ikut menonton film-film tersebut.

Beberapa hari lalu saya mulai terpikir untuk menonton film Indonesia saja di Netflix. Salah satu yang membuat saya mulai mencari film Indonesia lagi karena seorang teman yang di Bangkok membagikan kalau film Bumi dan Manusia sudah masuk Netflix Thailand. Nah gara-gara mencari film itu, malah menemukan beberapa film lain yang sepertinya lebih cocok untuk ditonton dengan anak-anak.

Saya memang sudah lama sekali tidak menonton film Indonesia. Sejak tinggal di Chiang Mai tahun 2007, saya hanya tahu film Indonesia yang ramai dibicarakan di sosial media saja. Itupun saya tidak selalu tertarik untuk menontonnya. Kalaupun tertarik, kadang sulit mendapatkan filmnya.

FIlm Indonesia di Netflix

Awal berlangganan Netflix, sebenarnya sudah pernah melihat ada film Indonesia. Waktu itu heran ada film judulnya What’s up with Love?, ternyata itu film Ada apa dengan Cinta yang judulnya diterjemahkan ke bahasa Inggris. Terus ada juga beberapa film lain, tapi umumnya film lama yang mana sudah saya tonton sebelumnya.

Biasanya film yang ramai dibicarakan itu kalau diangkat dari buku. Bukunya laris, lalu difilmkan. Semua berbondong-bondong menonton lalu kecewa karena katanya cerita di buku lebih bagus daripada filmnya. Ya iyalah ya, saya belum pernah menemukan ada film yang diangkat dari buku bisa lebih bagus dari bukunya. Tapi kalau belum sempat baca bukunya, menonton filmnya bisa memberi gambaran ingin baca bukunya atau tidak.

Selain yang saya ambil gambarnya dari aplikasi Netflix ini, ada banyak lagi film Indonesia lainnya. Tapi saya pikir, karena mau menontonnya dengan anak-anak, sebaiknya pilihan ke film yang ada pelajarannya. Kemarin pilihan pertama, nonton Laskar Pelangi yang judulnya diterjemahkan menjadi Rainbow Troops.

Untungnya, film Indonesia di Netflix ini filmnya juga diberi subtitle bahasa Inggris. Untuk anak saya yang belum begitu terbiasa menonton film Indonesia, adanya subtitle ini cukup membantu dia untuk memahami jalan ceritanya.

Saya tahu film Laskar Pelangi ini sudah lama, dan saya tahu film ini diangkat dari buku karya Andrea Hirata dan kabarnya terinspirasi dari kisah nyata. Menonton film Laskar Pelangi ini membuat saya ingin membaca bukunya. Apalagi semua teman saya bilang kalau bukunya jauuuuh lebih bagus daripada filmnya. Iya saya pengen baca tapi belum menemukan bukunya.

Saya mencoba cari buku digital Laskar pelangi di beberapa tempat belum ketemu juga. Di Ipusnas dan Gramedia Digital tidak ada, di Google Playbook dan Kindle Amazon malah nemu buku yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Mandarin. Kalau mencari buku fisiknya, akan lebih sulit lagi, apalagi sekarang ini belum tahu kapan penerbangan Thailand – Indonesia normal kembali.

Poster Film Bumi Manusia di Netflix

Film berikut yang ingin saya tonton itu film Bumi Manusia atau yang diterjemahkan Netflix jadi The Earth of Mankind. Film ini juga diangkat dari bukunya Pramoedya Ananta Toer. Tapi kalau lihat ratingnya, kemungkinan ini ditonton tanpa anak-anak.

Banyak teman saya bilang lebih baik baca bukunya daripada nonton filmnya. Tapi persoalan yang sama dengan Laskar Pelangi, belum ketemu bukunya. Lagipula tidak ada salahnya menonton dulu, nanti cari bukunya kemudian.

Ada beberapa film yang menarik perhatian saya. Kalau dari judulnya sih bisa untuk sekalian belajar sejarah Indonesia. Tapi harus dicari tahu dulu ini filmnya berdasarkan sejarah Indonesia atau sudah dijadikan fiksi semata. Kalau mau ajak anak-anak juga harus memperhatikan rating usia penontonnya juga.

Poster Film Guru Bangsa Tjokroaminoto di Netflix

Kalau dari judul yang ada di foto sebelumnya, saya ingin menonton film Soekarno, Habibie, Guru Bangsa Tjokroaminoto, 3 Srikandi, Athirah, Sokola Rimba, Sang Pemimpi, dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Banyak juga yah.

Rencananya, kalau memang filmnya ratingnya cocok untuk anak-anak, nontonnya bisa untuk hiburan setelah jam belajar selesai. Padahal nontonnya juga buat sambil belajar juga. Belajar bahasa Indonesia dan belajar sejarah Indonesia.

Ada rekomendasi film Indonesia lain di Netflix yang menarik untuk ditonton bersama atau tanpa anak-anak?