Joshua dan Angka

Posting ini cuma mau mendokumentasikan beberapa cara Joshua bermain dengan angka, supaya ingat kapan dia semakin mengenal angka. Semua ini mau-maunya dia saja dan gak pernah kami suruh, jadi dia memang kreatif kalau mau belajar sesuatu bisa menemukan caranya sendiri.

Sekarang ini Joshua sudah lancar berhitung sampai beberapa ratus, bahkan menghitung mundur dari 100 kembali ke nol juga dia sering lakukan dengan sabar (saya yang ga sabar nungguin dia ngitung mundur hehehe).

hitung 100 ke 200 pakai punya kakaknya

Oh ya, Joshua paling lancar menghitung dalam bahasa Inggris. Tapi juga dia bisa berhitung sampai 20 dalam bahasa Indonesia dan Thailand. Beberapa waktu lalu dia mulai mempelajari menghitung dalam bahasa Mandarin sampai 10, dan waktu saya belajar angka dalam bahasa Korea, dia juga ikutan menghitung dalam bahasa Korea sampai 20 hehehe.

Selain mainan playdough untuk membuat angka-angka, sekarang ini kalau dikasih ipad ujung-ujungnya juga menulis angka sambil memilih warnanya. Dia akan menuliskan angka, lalu misalnya menyebut five blue. Kalau kita ada disampingnya, kita akan dia tarik untuk ikut menyebutkan five blue.

Kadang-kadang dia sangat rajin, bikin bingkai angka pakai warna hitam, lalu warna tengahnya dia isi warna berbeda. Lalu ya dia minta kita sebut nama angkanya dan warnanya.

Selain menulis angka, dia juga senang mengetik angka. Kalau papanya lagi bekerja dengan laptop, dia akan mengambil alih laptop dan mengetik nomor-nomor.

mengetik angka

Joshua ini memang ada musimnya, sebelumnya musim alphabet, lalu musim berusaha membaca, lalu musim menghapalkan tabel perkalian tanpa mengerti konsep perkalian. Sekarang ini musimnya kembali membentuk angka sambil mempelajari dasar penjumlahan.

Dia suka menjumlahkan dengan jarinya, atau dengan benda-benda yang bisa dia hitung, atau bahkan dengan menggambarkan bulatan-bulatan untuk dihitung di white board.

Saya gak tahu setelah ini musim apalagi untuk Joshua, tapi selama dia mau belajar dengan semangat (tanpa disuruh), saya sih senang karena tandanya dia memang ingin belajar dan mudah-mudahan semangat belajarnya tetap ada sampai besar nantinya.

Joshua dan Playdough

Joshua saat ini berumur 3 tahun 9 bulan. Dia sudah bisa berhitung sampai 100 dari beberapa bulan yang lalu, saya lupa persisnya. Setiap kali dia sedang semangat dengan 1 hal, dia akan mengulang-ulang hal yang sama setiap harinya sampai dia merasa menguasai hal tersebut atau ada hal lain yang lebih menantang buat dia.

Setelah beberapa waktu lalu dia berusaha menghapal tabel perkalian, dia kembali lagi tertarik dengan angka. Kali ini dia punya hobi baru, main playdough. Cetakan playdoughnya ada angka dan huruf, entah kenapa dia cuma mau bikin angka saja. Saya coba tawarkan, mau bikin a b c, dia bilang nggak, mau angka saja.

Sudah beberapa hari ini dia dengan tekun main playdough bikin angka 0 sampai 10, lalu diteruskan sampai beberapa belas. Awalnya tentunya dia minta kami yang bantuin, tapi belakangan dia mulai bisa main sendiri. Pemilihan dough juga ternyata membantu membuat dia bisa main sendiri.

Sebelumnya, kami main playdough homemade. Lalu karena saya belum bikin lagi, papanya inisiatif beliin playdough merek Crayola. Playdough Crayola ini ternyata gampang sekali mengering. Baru dimainkan pagi hari, sorenya sudah jadi kepingan keras seperti sengaja dikeringkan.

Pengalaman mengeringnya playdough crayola, membuat kami membeli merk PlayDoh. Tapi ya ternyata kalau dimainkannya seharian dan gak langsung disimpan, keesokan harinya doughnya terasa agak mengering walau gak seperti Crayola.

PlayDoh orange

Tadi pagi, Joshua insist mau main playdough yang orange, selama ini dia tidak menunjukkan punya warna favorit, ternyata sekarang dia mulai punya warna favorit.

Setelah beberapa lama main dengan dough orange yang sudah agak keras, akhirnya saya bujukin supaya ganti warna, dan dia pilih warna biru.

PlayDoh Biru

Hari ini, dia membuat bola-bola untuk dihitung setiap kali selesai membuat angkanya. Jadi dia akan cetak angka, lalu menunjuk sejumlah bulatan dough yang ada sambil berhitung.

Joshua selalu menemukan cara bermainnya sendiri, kadang-kadang saya heran darimana ide dia untuk bermain seperti itu. Tapi biasanya ya saya ikuti saja maunya seperti apa, asal gak harus terus menerus ditemani.

Sepertinya kalau PlayDoh kali ini habis, saya harus bikin sendiri lagi supaya bisa puas mainnya dan gak selalu kekeringan seperti sekarang.

Jonathan dan Global Art

Jonathan dari kecil gak suka mewarnai. Dari dulu kalau menggambar juga ya suka asal-asal saja. Sejak homeschooling, karena saya tidak sabar ajarin teknik gambar warna ataupun yang mengarah ke art, saya daftarkan Jonathan ikutan kelas di Global Art dekat rumah.

Global Art ini franchise international, mereka punya program yang cukup jelas step by stepnya. Tiap level ada buku kerja untuk muridnya, di akhir level anak akan diberi semacam test kecil dan diberi laporan ke orangtua. Sejak ikutan kelas di sana, Jonathan sudah menyelesaikan 2 buku (1 buku kira-kira 10 gambar), dan sekarang sudah hampir menyelesaikan buku ke – 3.

Tujuan saya masukkan Jonathan ke Global Art untuk menjadi bagian dari homeschoolnya karena saya tidak bisa mengajar art. Awalnya saya pikir masa sih mewarnai saja harus dilesin? tapi ternyata setelah sekian lama saya bisa lihat kalau lesnya gak sekedar mewarnai. Ada teknik mewarnai mulai dari menggunakan crayon, pensil warna, cat air dan kadang-kadang ada selingan kelas handicraft juga.

Awalnya, fokusnya memang teknik mewarnai, tapi sekarang ini Jonathan mulai diajarkan untuk membuat ilustrasi. Pertama Jonathan harus menentukan apa cerita dari yang mau digambarkan. Lalu Jonathan diminta untuk membuat sket sendiri. Gurunya akan membantu memberikan sketsa yang lebih bagus, lalu Jonathan diminta untuk menggambar sendiri dan tentunya sambil dipandu. Setelah digambar baru diwarnai.

Jonathan belajar di sana 1 x seminggu, dan sekali datang sekitar 2 jam. Kadang-kadang dia butuh 2 kali datang untuk menyelesaikan 1 pekerjaan. Kelasnya sebenarnya bukan kelas privat, tapi karena kami bisa datang di saat tidak ada anak lain yang datang, jadinya seperti kelas privat. Bagusnya kalau tidak ada anak lain, Jonathan tidak jadi terdistract buat ngobrol atau main mulu.

Di masa-masa liburan sekolah, biasanya akan ada kegiatan khusus selama seminggu (opsional), nah kadang-kadang kalau handicraftnya menarik saya akan ijinkan Jonathan ikutan kelas khusus sekalian kesempatan dia untuk bertemu teman-teman baru.

Sekarang ini Joshua belum saya ikutkan ke Global Art, karena Joshua masih mau disuruh mewarnai walau tetap saja belum rapi. Nanti rencananya kalau dia sudah 4 tahun, mau ikut kelas trial dulu untuk melihat apakah dia bisa belajar di Global Art atau tidak.

Homeschool atau Kirim Anak ke Sekolah?

Kami pernah mengirim Jonathan ke sekolah selama 3 tahun sebelum akhirnya memutuskan menghomeschool Jonathan selama 1,5 tahun terakhir ini. Saya ingat, hari pertama kami mulai mantap menghomeschool ketika kami mulai menggunakan kurikulum dari CLE. Akhir Agustus 2017, Jonathan sering sakit, susah tidur cepat dan berakibat masih ngantuk waktu bangun dan di sekolah sering ketiduran. Di sekolah, Jonathan akhirnya lebih sering tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Awal memutuskan homeschool, saya sangat khawatir kalau kami jadi terlena dan tidak mengajarkan apapun ke Jonathan, apalagi saya masih belum menemukan kurikulum yang akan kami pakai. Saya khawatir terlalu santai, dan tahu-tahu waktu berlalu tanpa Jona belajar apapun. Saya sempat sedikit khawatir masalah apakah saya akan kuat secara mental untuk tidak marah-marah kalau Jonathan tidak mengerjakan tugasnya. saya nggak kuatir masalah tidak bisa mengajarkannya atau Jonathan tidak mengerti, saya lebih khawatir Jonathan tidak mau mendengar saya atau menolak mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Setelah membaca dan bertanya banyak hal soal homeschool, saya bersyukur kami menemukan kurikulum yang sesuai buat kami. Karena kurikulum yang kami pakai kami pesan dari Amerika, butuh waktu untuk menunggu kurikulum tiba. Kurikulum yang kami gunakan mempunyai scope dan sequence yang jelas. Ada tes di awal yang dapat digunakan untuk mengetahui anak sebaiknya di kelas berapa. Tiap unit pelajaran dikenalkan sedikit demi sedikit dan diberi soal latihan dan review dari pelajaran sebelumnya. kurikulum ini dilengkapi dengan buku manual untuk guru yang cukup lengkap dan juga kuis dan tes secara berkala. Sejauh ini saya tidak perlu terlalu banyak menjelaskan kepada Jonathan. semua penjelasan yang ada di buku cukup dia mengerti untuk mengerjakan soal latihan yang diberikan. Hasil tesnya selalu rata-rata di atas 90%.

Dalam masa transisi dari sekolah tiap hari menjadi mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah tiap hari, Jonathan kami berikan bahan-bahan mulai dari Brain Quest ataupun buku kumon yang kami peroleh di toko buku lokal. di awal tidak lebih dari 30 menit Jonathan sudah selesai pekerjaan sekolahnya. Jonathan langsung suka dengan rutinnya yang baru, karena dia tidak harus bangun pagi, dan kalau tidur agak larut (jam 10 – an), mama ga stress karena tau dia bisa bangun agak siang.

Waktu buku pelajarannya dari CLE sampai, Jonathan langsung senang sekali dan ga sabar untuk memulai, padahal saya berencana untuk membuat jadwal dulu. Tapi akhirnya kami pun langsung mulai dan saya merevisi jadwal secara bertahap. Karena tahun pertama homeschool saya merasa agak terlambat memulai, ada beban harus menyelesaikan semua dengan cepat. Beberapa bulan pertama kadang-kadang dalam 1 hari, Jonathan mengerjakan 2 unit pelajaran, tentunya kalau Jonathan masih semangat mengerjakannya. Hasilnya dalam waktu 8 bulan, kami menyelesaikan semua pelajaran untuk kelas 2 (yang biasanya dilakukan dalam 10 bulan). Hal ini bisa dilakukan karena hari libur kami tidak sebanyak hari libur sekolah, dan setelah semua selesai, kami libur panjang selama sebulan.

Kegiatan sekolah kami setiap harinya saya alokasikan pagi hari sampai sebelum makan siang. Jadi selesai sarapan dan mandi, langsung deh kerjakan pekerjaan sekolah. Setiap harinya kami belajar 3 atau 4 subjek dan rata-rata setiap subjek 30 -45 menit. Ada hari-hari di mana Jonathan agak bengong dan akhirnya 1 pelajaran memakan waktu lebih dari yang dialokasikan, kadang saya suruh dia berhenti di subjek itu dan ganti subjek. Subjek yang tidak selesai dikerjakan sore hari setelah bangun tidur siang (ya, Jonathan masih tidur siang kadang-kadang). Selesai makan siang, hari-hari tertentu Jonathan ada kegiatan di luar. Biasanya keluar rumah untuk pelajaran seni dan taekwondo atau main ketemu teman. Sekarang ini bisa dibilang setiap hari Jonathan keluar rumah. Secara berkala kami tanyakan apakah Jonathan ingin kembali ke sekolah biasa saja daripada sekolah di rumah? sejauh ini jawabannya selalu dia lebih suka homeschool. Sejak join dengan co-op, dia semakin senang dengan kegiatan homeschool, karena 1 kali seminggu, dia bertemu dengan teman-teman seumurannya sesama anak homeschool dan belajar hal yang berbeda dari yang ada di woworkbookny

Grade sebelumnya, kegiatan belajar di rumah saya jadwalkan 5 hari seminggu (Senin sampai Jumat), sabtu dan minggu libur karena papanya juga libur kerja. Semester lalu, karena ada kegiatan co-op di hari Senin, saya menjadwalkan 4 hari seminggu mengerjakan workbooknya di rumah. Grade 3 ini kami mulai di bulan Juli 2018, dan sekarang Februari 2019 kami sudah pertengahan buku ke-7. Desember lalu, kami kutin jadwal sekolah biasa, setelah buku ke-5, kami bisa ambil liburan semester, pulang ke Indonesia dan tidak mengerjakan buku sampai pertengahan Januari. Di pertengahan semester atau di saat papanya libur kantor, kami juga akan mengambil jatah libur.

Setelah ada pengalaman di tahun pertama, saya semakin bisa merasakan manfaat dan fleksibilitas dari homeschool. Saya juga udah ga terlalu banyak khawatir seperti di tahun pertama. Mungkin saya belum tau semua hal soal homeschool, tapi dari yang saya baca, tidak ada patokan yang kaku dalam menghomeschool. Homeschool itu upaya mendidik anak di rumah. Saya bisa bilang homeschool itu bukan cuma alternatif, tapi pilihan untuk setiap keluarga. Tidak semua orang harus memilih homeschool, tapi kalau memang bisa melakukannya, homeschool jauh lebih efektif dibandingkan kirim ke sekolah.

Untuk Jonathan homeschool itu sangat terasa manfaatnya dibandingkan belajar di sekolah. Dia tidak harus menghabiskan waktu terlalu lama di sekolah. Dia tidak harus bangun pagi-pagi, dan kalau ada hari di mana dia ga bisa tidur awal, dia selalu bisa bangun agak siang. Selama setahun ini Jonathan ga pernah sakit sampai menyebabkan dia ga bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Setahun ini berat badan Jonathan bertambah cukup signifikan karena dulu di sekolah kalau dia gak suka, dia ga makan siang dan gurunya ga ada yang memperhatikan sebanyak apa dia makan, sedangkan kalau di rumah saya pasti tau asupan makanannya cukup. Sejak gak ikutan co-op, saya menggantikan mengirim Jonathan ke group homeschool partime, di mana dia bertemu dengan anak homeschool lainnya 1 kali seminggu dan dia mendapatkan teman bermain dan belajar.

Buat saya sendiri, terasa lebih ringan sejak ga harus bangun pagi-pagi untuk antar jemput. Karena Jonathan juga sudah bisa membaca dan cepat mengerti sebuah konsep, saya ga harus susah payah mengajarkan sesuatu ke dia. Ada hari-hari di mana saya hanya perlu mengecek pekerjaanya saja. Kalau ada konsep yang dia belum mengerti saya akan beri penjelasan lebih banyak, dan Joe juga bisa bantu untuk memenjelaskan. Kadang-kadang kami berikan video penjelasan dan memberi kesempatan buat dia bertanya, atau belikan buku yang menarik minatnya saat ini.

Jadi kembali ke judul, homeschool atau kirim ke sekolah? sekarang ini saya akan pilih homeschool. Andai kami pulang ke Indonesiapun, saya akan tetap memilh homeschool. Semoga nantinya Joshua juga bisa dihomeschool seperti Jonathan. Semakin dijalani, walau ada hari-hari di mana Jonathan kurang bisa fokus, homeschooling ini lebih menjamin dia belajar sesuatu. Saya bersyukur, Jonathan cukup pintar dan bisa mengerti penjelasan yang diberikan. Masih ada hari-hari di mana saya kurang sabar mengajarkan sesuatu atau Jonathan yang bengong aja atau banyak bicara, tapi secara keseluruhan dia lebih banyak belajar daripada di sekolah.

Waktu kami ikutan co-op dan ngobrol dengan sesama orangtua yang menghomeschool anaknya, saya bisa melihat kalau anak homescholer juga cara belajarnya beda-beda. Ada anak yang belajar itu harus visual, misalnya untuk belajar math harus ada alat bantu fisiknya. Ada anak yang bisa mengerti dengan membuat craft terlebih dahulu. Saya juga jadi mengerti kenapa ada banyak sekali metode dan kurikulum homeschooling yang terbentuk.

Yang terpenting adalah anak punya kemampuan untuk belajar mandiri dan menerapkan apa yang dia pelajari dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi bekal di kemudian hari. Untuk saat ini kami tetap tidak kuatir dengan maslaah ijasah, karena jaman sekarang bukan ijasah yang dibutuhkan untuk jaminan masa depan, tapi yang diutamakan skill dan keuletan. Mau gigih berusaha dan tidak gampang menyerah.

Joshua, Huruf dan Angka

Sejak berumur 2,5 tahun, Joshua sudah tertarik dengan huruf-huruf dan angka. Dia sudah berusaha menulis ABC di white board, dan menyanyikan lagu ABC sebelum tertidur. Sekarang ini di umur 3 tahun 8 bulan, dia sudah bisa menuliskan alphabet dengan lancar dan menyebutkan namanya dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Dia juga menghapal 44 huruf Thai dan ingat urutannya (saya aja belum bisa). Selain huruf, dia juga menghapal angka dan bisa menghitung 1 sampai 100 (dan sekarang tertarik meneruskan menghitung sampai beberapa ratus).

Saya dan Joe tidak pernah secara khusus mengajari dia untuk mengenal huruf dan angka, menulis ataupun membaca. Tapi karena dia menunjukkan ketertarikan dan selalu bertanya dan meminta kami memberi contoh, ya tentunya kami menjawab keingintahuannya. Metode belajar Joshua biasanya dia akan meminta kami berkali-kali menyebutkan nama dari huruf dan urutannya, meminta diputarkan lagunya, dan tau-tau dia akan berusaha menuliskannya sambil meminta konfirmasi apakah yang dia lakukan sudah benar.

Selain menuliskannya, dia juga suka sekali membentuk huruf dan angka dari benda-benda di sekitarnya. Awalnya, untuk mengalihkan perhatiannya ketika menunggu makanan di restoran, Joe membuat huruf dan angka dengan sumpit. Lalu berikutnya menggunakan toothpick. Belakangan ini, pensil warna juga bukannya di pakai buat mewarnai, tapi dia bentuk jadi huruf dan angka. Ketika bermain lego, dia juga lebih suka membentuk huruf dan angka daripada membangun sesuatu.

Kemarin, waktu bermain di mall, dia ketemu mainan yang memang berupa shape combination puzzle untuk menyusun huruf dan angka. Mainan ini terbuat dari kayu dan cocok juga sekalian melatih motorik halusnya. Sejak dibeli sampai sekarang, entah sudah berapa kali Joshua menyusun huruf A sampai Z dan angka 0 – 9. Kemarin dia sampai susah diajak tidur untuk menghentikannya bermain. Tadi pagi bangun tidur juga langsung cari mainan ini.

Awalnya dia bermain tanpa mengikuti contoh yang ada, jadi agak lambat. Setelah mengikuti contoh yang ada, dia bisa menyusun huruf-hurufnya dengan lebih cepat. Setelah beberapa kali mengikuti contoh, dia menyusun sendiri tanpa contoh dan mulai berimajinasi juga membentuk huruf dengan tangannya.

Entah sampai kapan dia akan suka dengan huruf-huruf dan angka dan mainan sejenis ini. Tapi biasanya setiap ada mainan baru seperti ini, dia bisa asik main cukup lama, sampai akhirnya saya capek beresin dan simpan agak jauh hahahaha.

Joshua dan Piano

Joshua sekarang ini berumur 3 tahun 8 bulan. Sejak dulu keliatan punya ketertarikan dengan alat musik. Tapi karena dia belum lancar komunikasinya jadi belum bisa juga dikursusin piano. Beberapa waktu lalu saya iseng ngajarin dia lagu dari buku piano waktu awal belajar piano, cuma pakai 3 key hitam doang. Nah ternyata, dia bisa ingat dan mengulang-ulang lagu itu walaupun masih pake 1 jari saja.

Gaya serius kayak udah jagoan main piano

Setelah dia berkali-kali mainkan lagu yang sama, saya iseng lagi, kenalin dia untuk bisa do-re-mi-fa-so-la-si-do terus dari situ mundur lagi do-si-la-sol-fa-mi-re-do. Nah gak pake lama, dia bisa ingat juga. Kadang-kadang dia suka main asal-asal, terus mulai secara random dan setelah ketemu nada do, dia tau untuk nerusin sampai do tinggi dan kembali lagi ke do tersebut.

Jadi dalam waktu beberapa hari, kalau saya lagi mau latihan piano, dia pasti ikutan. Dia selalu memulai dengan lagu yang pertama saya ajarkan, dan kemudian do-re-mi berkali-kali. Saya perhatikan, dia masih belum ingat di mana letak do itu sebenarnya, tapi dia pencet random sampai dia ketemu do. Joshua sepertinya sudah mengenali nada.

Kemarin, saya iseng lagi, saya pikir daripada dia bosan cuma bisa 2 lagu, saya ajarin lagu dari buku piano juga, nadanya seperti lagu Mary had a little lamb. Nah, kemarin waktu saya ajarin dia masih insist mau lagu yang dia udah tau aja dan do-re-mi. Saya berusaha kasih tau berkali-kali dia gak mau dengar. Tau-tau hari ini, waktu dia lagi merebut main piano dari saya, setelah dia pencet asal-asalan, eh tau-tau dia main Mary Had a Little Lamb ini. Saya kaget tapi seneng juga, karena ternyata dia bisa ingat hahaha.

Awalnya dia sempat salah, tapi setelah beberapa kali, dia seperti bisa mengoreksi diri sendiri dan mengingat tuts mana yang harus di tekan. Karena gak berhasil upload video, kalau mau liat Joshua main piano klik link ini ya: Mary Had a Little Lamb . Lagu ini juga menggunakan 3 tuts hitam saja.

Tadi saya iseng lagi deh, ajarin dia mainkan lagu ABC, dia seneng banget nyanyi ABC soalnya. Nah ini dia gak menolak tangannya saya arahkan supaya bikin lagu ABC, malahan kalau udah selesai dia ngomong let’s sing it again. Tapi tadi sih dia belum bisa ingat semuanya, kalau dia besok-besok bisa lagu ABC saya pastikan akan mengenalkan bermain lagu baru lagi hahaha.

Selain main piano, dia juga suka sekali menyanyi. Lagu yang selalu dia nyanyikan setiap hari ya lagu ABC. Tapi belakangan ini dia bisa cepat menirukan lagu walaupun kemungkinan dia ga ngerti artinya. Waktu ada mama saya, kami berhasil mengajarkan dia lagu bahasa Indonesia. Maksudnya ya supaya dia punya lagu lain selain lagu ABC heehehehe. Untuk lagunya sejauh ini tapi belum berhasil merekam, setiap merekam dia suka rebut HP nya, jadi belum bisa di share gimana contoh Joshua lagi nyanyi bahasa Indonesia.

Cerita Homeschooling Kami

Salah satu manfaat dari homeshooling yang kami rasakan adalah, anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Seperti sekolah biasa, saya menetapkan jam sekolah setiap harinya dan ada jadwal mingguan. Jam sekolah kami setiap hari selesai sarapan lalu mandi, sekolah dimulai sampai jam 12 siang. Kalaupun belum selesai, bisa dilanjutkan sampai jam 1.30 lalu tidur siang. Dalam prakteknya, ada hari-hari di mana bangun kesiangan lalu tidak bisa menyelesaikan target harian sebelum makan siang. Saya juga menetapkan jadwal hari libur, tapi ya hari libur inipun bisa digeser kalau memang ada keperluannya.

Chiang Mai sekarang ini sedang dingin terutama di pagi hari. Sore hari udaranya cukup enak, matahari bersinar tapi suhu udara tidak terlalu panas. Cuaca yang sangat bagus untuk lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah. Biasanya, kalau memang ada janji main bareng temen di playground, jadwal belajar bisa digeser ke sore dan malam hari, atau ya diliburkan saja hari itu.

Anak-anak lebih suka belajar tanpa meja

Jonathan biasanya saya suruh mengerjakan pekerjaanya di meja makan (yang tentunya sudah dibersihkan selesai sarapan). Dulunya saya siapkan meja belajar di ruang terpisah, tapi karena Joshua juga sering pengen ikut-ikutan sama Jonathan, meja makan menjadi solusi karena lebih besar dan bisa duduk sama-sama. Tapi kadang-kadang mereka juga lebih senang menulis sambil tiduran, atau menulis di atas sofa. Karena Joshua sebenarya belum mulai kegiatan sekolah formal, saya bebaskan saja Joshua menulis di mana dia mau, tapi belakangan Jonathan juga ikutan maunya nulis bukan di meja yang disarankan.

Hari ini, suhu udara di pagi hari berkisar 17 – 19 derajat Celcius. Bangun pagi merupakan tantangan tersendiri hahaha. Udara yang dingin juga membuat daya tahan tubuh menurun. Enaknya ya bangun jangan pagi-pagi banget. Hari ini, Jonathan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sekolahnya sesuai jadwal. Karena tidur siang lebih penting, pekerjaan sekolah dilanjutkan setelah bangun tidur.

Sebelum melanjutkan pelajaran, anak-anak main di trampolin dan perosotan dulu. Setelah puas bermain, saya ambil meja untuk Jonathan mengerjakan pekerjaanya di luar rumah. Joshua ga mau kalah, dia juga mau ikut-ikutan belajar menulis.

Joshua gak butuh meja untuk menulis, dia lebih suka tiduran di lantai. Saking asiknya menulis, dia bergeser dari arah perosotan sampai arah trampolin. Jonathan bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya lebih cepat dari biasanya walau di luar banyak gangguan. Mungkin besok-besok bisa di coba untuk lebih sering belajar di luar seperti ini hehehe.

Kalau di kirim ke sekolah, mungkin kesempatan untuk belajar di luar seperti ini tidak banyak, dan ada kecenderungan anaknya bakal main doang dan ga mau disuruh ngerjain pelajarannya. Kalau berdua doang begini, tadi bisa main cukup lama tapi tidak lama banget, dan waktu saya suruh menyelesaikan pekerjaan sekolah yang ditinggal tidur siang, Jonathan langsung mengerjakan tanpa tawar menawar karena sudah puas bermain.

Kegiatan Homeschooling kami sekarang ini sudah berjalan dengan speed seperti biasa. Kalau semester lalu kami mengikuti co-op di hari Senin, semester ini kami mengikuti kegiatan group homeschool yang diadakan setiap hari Selasa. Bedanya, semester ini group homeschoolnya ada gurunya, jadi saya bisa meninggalkan anak-anak di sana dan harapannya saya jadi bisa punya me-time.

Hari Selasa lalu, Joshua masih nangis-nangis waktu saya tinggal walaupun ada Jonathan juga di sana. Tapi ya akhirnya dia diam juga walaupun belum mau mengikuti kegiatan yang dilakukan bersama. Sebenarnya, memang Joshua belum perlu diberikan kegiatan belajar terstruktur, karena dia itu super rajin belajar sendiri hehehe. Saya mengirim dia ke grup homeschool supaya dia punya teman bermain dan mengasah kemampuan sosialnya. Besok hari Selasa lagi, semoga saja Joshua sudah lebih enjoy dan gak nangis-nangis waktu saya tinggalkan.

Kalau cuaca lagi bagus seperti sekarang, dan anak-anak akur bermain dan gak susah waktu di suruh mengerjakan pekerjaan sekolah, rasanya kegiatan homeschool terasa jauh lebih menyenangkan. Semoga saja ada lebih banyak hari-hari seperti ini daripada hari-hari di mana anak sulit konsentrasi dan saya harus bawel baru kerjaan selesai hehehehe.