Belajar ala Joshua

Saya termasuk beruntung, tidak perlu susah payah mengenalkan huruf, angka dan membaca ke Joshua. Saya lupa persisnya sejak umur berapa dia menunjukkan ketertarikan dengan huruf dan angka. Tapi di umur belum 5 tahun, dia masih suka sekali dengan huruf dan angka dan sudah bisa membaca.

Nggak ke sekolah bukan berarti gak belajar. Anak-anak belajar dari bermain. Jadi untuk orangtua yang anaknya masih di bawah 6 tahun, gak usah pusing dengan tugas berjibun dari sekolah. Anak gak akan belajar kalau dipaksa, mending juga diajak main.

Beberapa mainan yang selalu dimainkan oleh Joshua tanpa bosan dalam mempelajari huruf dan angka. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk masa-masa di rumah saja ini. Sebagian besar mainan sudah kami punya dari Jonathan kecil, tapi rasanya Joshua lebih banyak memainkan semuanya tanpa bosan.

Kalaupun di rumah saja, saya belum mengatur apa saja yang harus dikerjakan Joshua. Biasanya dia akan memilih sendiri apa yang dia mau. Rumah berantakan tidak masalah, selesai bermain bisa diajak untuk merapihkan. Berikut ini beberapa mainan yang sering dimainkan Joshua siapa tahu bisa jadi inspirasi dalam masa social distancing

LEGO

main lego juga bisa untuk belajar huruf

Lego selain bisa membentuk-bentuk sesuai petunjuk, bisa juga untuk dipakai bikin huruf dan angka. Kalau anak suka dengan hal yang lain, ajak dia membentuk hal-hal lain dengan menggunakan lego.

Lanjutkan membaca “Belajar ala Joshua”

Pythagoras dan Menghitung Akar Kuadrat

Catatan: tulisan ini bukan penjelasan rumus pythagoras ataupun cara mencari akar kuadrat, tapi tentang anak yang suka iseng menghitung apa saja untuk latihan soal.

Anak-anak senang sekali bermain di kamar kerja papanya. Mereka kadang-kadang ikut sibuk mengganggu papanya yang sibuk sementara mamanya pura-pura sibuk di dapur atau kadang memang lagi sibuk nulis blog. Ceritanya, papanya baru beli monitor komputer. Jadi tadi dia sibuk mengukur-ukur monitor papanya dan menghitung-hitung di kertas. Saya pikir: kenapa tidak langsung diukur pakai meteran juga diagonalnya? Tapi ya begitulah, kadang-kadang Jonathan suka menantang dirinya sendiri.

Ternyata, Jonathan terinspirasi untuk menghitung diagonal dari monitor itu dengan menerapkan rumus pythagoras dan menghitung akar kuadrat yang dipelajari dari buku The Murderous Maths yang dia baca. Selesai menghitung, dia melaporkan ke papanya, dan papanya cerita ke saya.

Lanjutkan membaca “Pythagoras dan Menghitung Akar Kuadrat”

Kosa kata Bahasa Indonesia Jonathan

Sejak kecil, Jonathan sudah kami ajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Di masa awal, dia sudah bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari lagu-lagu yang dia dengarkan dan buku yang kami bacakan.

Sekitar umur 3,5 tahun, kami masukkan Jonathan ke preschool Thai, dan dia pun mulai bisa berbahasa Thai selain Indonesia dan Inggris.

Setelah umur 4,5 tahun, kami masukkan dia ke sekolah Australia yang hanya menggunakan bahasa Inggris. Sejak saat itu, Jonathan hanya mau berbicara bahasa Inggris (dengan aksen Australia) dan semakin jarang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Thainya.

Sejak mulai homeschool, Jonathan mulai lagi berbicara bahasa Indonesia di rumah selain menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Thainya tetap jadi nomor 3 karena dia tidak punya teman bermain orang Thai (teman Thainya bisa berbahasa Inggris juga). Teman-temannya dari berbagai negara di grup homeschool umumnya bisa berbahasa Inggris. Jadi kalau di luar dia menggunakan bahasa Inggris, sedangkan di rumah bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris.

Setelah beberapa tahun homeschooling, Jonathan sudah semakin bisa berbicara bahasa Indonesia, tapi untuk membaca sampai sekarang (umur 9 tahun) saya belum ajari secara khusus. Kadang-kadang dia sudah mulai bisa membaca teks bahasa Indonesia, tapi dengan nada membaca yang agak aneh terdengar hehehe.

Hari ini, berhubung di Jakarta sedang banyak kegiatan sekolah di rumah, dan banyak aplikasi bahasa Indonesia untuk belajar yang digratiskan, saya pikir ini kesempatan yang tepat untuk mencobakan bagaimana kalau Jonathan harus sekolah dengan materi yang berbahasa Indonesia.

Jadi tadi pagi, dia duduk manis menonton depan handphone dan merasa bosan. Sesekali dia akan bertanya: ini apa artinya? itu apa artinya? Dan sayapun menyadari masih banyak sekali kosa kata bahasa Indonesia yang belum pernah Jonathan dengar.

Percakapan kami sehari-hari tidak pernah membicarakan kata-kata: pemulung, ataupun sumber daya alam, budi daya, unggul, deklamasi, makanan pokok dan banyak kata-kata yang ternyata saya juga butuh lama berpikir untuk menjelaskan dengan mudah.

Walaupun banyak tidak mengertinya, Jonathan mau mencoba mengerjakan soal latihan. Saya hanya menyuruh dia menonton kelas streaming pagi, tapi tanpa disuruh dia malah mengerjakan soal latihan Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA terpadu, sambil sesekali bertanya ini apa itu apa. Latihan soal yang dia kerjakan juga bukan dari materi yang dia tonton paginya, tapi ya saya biarkan saja.

Dari pelajaran hari ini, saya jadi tahu bagaimana meningkatkan kosa kata bahasa Indonesia Jonathan. Kasih aja terus soal latihan berbahasa Indonesia selama dia mau. Kalau ada yang tidak jelas jawabannya, bisa cari di wikipedia.

Hari ini dia jadi belajar apa saja makanan pokok di Indonesia selain nasi. Dia juga belajar batu bara itu bahasa Inggrisnya apa, dan berasal dari fosil apa batu bara itu. Ada juga pertanyaan mengenai pohon Jarak, yang mana saya juga tidak tahu apa bahasa Inggrisnya pohon jarak. Dan dia juga belajar apa kegunaan dari jahe, kunyit, dan daun jarak dan daun jambu biji.

Senangnya belajar homeschool itu ya begini. Minggu ini memang saya masih meliburkan dia dari kurikulum utama yang kami pakai, tapi tentunya akan saya pakai kesempatan untuk menambah kosa kata bahasa Indonesia sambil menambah pengetahuan umum yang mungkin tidak pernah saya ajarkan sebelumnya.

Sekolah di Rumah

Catatan: Tulisan ini tidak sedang memperdebatkan definisi homeschool, sekolah di rumah, home based education, distance learning, online learning, learning from home dan metode-metode yang menyebabkan anak belajar di rumah di bawah pengawasan orangtua.

Beberapa hari belakangan ini, saya banyak baca pengumuman di berbagai belahan dunia termasuk di DKI Jakarta mengenai sekolah ditutup dan kegiatan belajar dipindahkan di rumah sebagai salah satu langkah mencegah penyebaran virus covid-19. Berbagai reaksi dari orangtua dan siswa bermunculan.

Saya tidak tahu bagaimana nantinya pelaksanaan dari kegiatan belajar di rumah. Mungkin ada yang dalam bentuk memberikan lembaran kerja untuk dikerjakan di rumah seperti PR tapi lebih banyak dari biasanya. Mungkin ada yang mengadakan pelajaran streaming online – walaupun untuk hal ini saya tidak yakin kesiapan bandwith dari sekolah maupun dari setiap murid. Mungkin akan ada juga di mana orangtua harus mengambil dan mengantarkan hasil kerja anaknya setiap hari. Yang jelas, bagaimanapun pelaksanaannya, orang tua akan jadi lebih repot daripada sebelumnya.

Bagaimana kalau kedua orangtua harus bekerja seharian? Di beberapa negara, selain sekolah ditutup, pegawai kantor juga diperintahkan untuk bekerja dari rumah. Dengan asumsi ini, orangtua bisa mengawasi anaknya untuk mengerjakan pelajaran sekolahnya. Tapi bagaimana kalau kantor orangtuanya masih wajib masuk kerja? siapa yang akan mengawasi kegiatan belajar anak di rumah?

Lanjutkan membaca “Sekolah di Rumah”

Pelajaran Menulis Kreatif Jonathan

Salah satu kegiatan homeschool Jonathan adalah pelajaran menulis kreatif. Kebetulan hari ini saya lagi gak ada ide menulis dan melihat bahan pelajaran Jonathan. Jadi ya sekalian deh dituliskan di sini, siapa tau bisa dipakai untuk teman-teman yang juga lagi belajar menulis kreatif.

Oh ya, pelajaran Jonathan ini menggunakan bahasa Inggris, tapi idenya tentu bisa dipakai untuk menulis dalam bahasa apa saja.

Biasanya, untuk memulai menulis itu lama di bagian mencari ide. Nah untuk mempermudah memulai menulis, kita bisa membuat pohon ide seperti contoh di sini. Jadi kita diminta untuk menuliskan apa yang menjadi subjek utama atau ide utama dari tulisan kita. Lalu dari ide utama itu kita bisa menambahkan hal-hal apa yang ingin kita ceritakan dari subjek utama kita. Lalu setiap cabangnya bisa kita jabarkan lagi menjadi hal-hal yang lebih rinci.

pohon ide untuk mulai menulis

Satu pohon ide ini bisa untuk memulai menulis 1 paragraf, atau bisa juga untuk menulis 1 tulisan lengkap. Tergantung dari berapa banyak cabang dari pohon ide ini berkembangnya. Pohon ide seperti ini sebenarnya bentuk lain dari apa yang kita pelajari di pelajaran bahasa Indonesia waktu SD dulu.

Kalau dulu, kita diminta untuk menulis beberapa pokok pikiran dari sebuah topik tulisan. Lalu kita diminta untuk menuliskan hal-hal lebih detail dari setiap pokok pikiran. Setiap pokok pikiran bisa dikembangkan menjadi 1 paragraf.

Ini contoh pelajaran Jonathan hari ini. Dia diberi daftar hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan tema cerita: Waktu bersama kakek nenek.

tugas menulis kreatif hari pertama

Sekilas terlihat mudah ya, tapi saya malah sudah lupa dulu pernah ngapain aja dengan kakek dan nenek saya. Tapi untuk anak-anak, tentunya karena kejadiannya belum lama berlalu, mereka masih lebih ingat daripada saya yang sudah tidak punya kakek dan nenek lagi (ini sih alasan aja deh, bilang aja malas mikir hehehe).

Pelajaran menulis kreatif biasanya dibagi menjadi 2 hari. Setelah hari pertama diminta menuliskan garis besar dari ide ceritanya, hari berikutnya diminta untuk menuliskan ceritanya secara utuh. Tidak harus panjang, tapi ya sebaiknya lebih dari 1 paragraf. Lalu setelah selesai dituliskan, anak diminta untuk memeriksa beberapa hal lagi.

tugas menulis hari ke-2: menuliskan ide cerita menjadi cerita

Pelajaran menulis kreatif ini sudah ada di buku homeschool Jonathan sejak pelajaran kelas 3. Selama ini, saya tidak terlalu menekankan hasil akhir. Tapi tadi Jonathan bilang dia ingin mencoba menuliskan ceritanya menjadi tulisan di blog. Kalau sudah jadi dia tuliskan, kapan-kapan saya bagikan linknya ya hehehe.

Apakah saya menuliskan tulisan di blog ini menggunakan teknik seperti di buku pelajaran Jonathan? Tentunya tidak hahaha. Menulis blog buat saya seperti bercerita saja, kalau harus tuliskan ide cerita dulu malah bisa tambah panjang ceritanya dan gak selesai-selesai menulisnya.

Biasanya, sebelum menulis, paling ada ide utama dan hal-hal apa saja yang ingin diceritakan. Selanjutnya setelah paragraf pertama, ceritanya mengalir begitu saja.

Kalau menulis tentang cerita drama atau review produk lain lagi caranya. Biasanya walau tidak dituliskan, saya sudah punya inti kelebihan dan kekurangan dari yang ingin direview ataupun hal-hal yang menarik dari drama yang ditonton.

Khusus untuk teman-teman yang tergabung di KLIP: Gimana perjalanan menulis teman-teman bulan ini? siap untuk memasuki bulan Februari? jangan menyerah ya kalaupun bulan ini gak sampai 10 tulisan. Masih ada 11 bulan lagi tahun 2020 untuk tetap menulis. Buat teman-teman yang sudah menulis minimal 10 tulisan, sampai ketemu di WAGrup :).

Joshua dan Pattern Blocks

Joshua sudah lama suka main pattern blocks, tapi selama ini, dia selalu menyusun huruf-huruf dan angka-angka saja. Belakangan ini, dia mulai suka menyusun bentuk-bentuk lain selain huruf.

Awalnya, dia melihat buku Pattern Animals Puzzles for Pattern Blocks yang saya beli bekas sejak Jonathan juga masih kecil. Di dalam buku ini, pattern yang ada mengikuti alphabet. Jadi Joshua susun dulu huruf A, lalu dia ikuti Alligator, lalu huruf B diikuti dengan menyelesaikan Bear dan seterusnya. Setelah mengikuti sampai huruf F, Joshua jadi mau mengerjakan pattern blocks yang bukan hanya huruf-huruf saja dan bukan berdasarkan urutan huruf.

Lalu dia melihat pattern block magnetic yang sangat tipis dan terkadang sulit memegangnya karena tipisnya. Awalnya, saya tidak berikan untuk dia mainkan, karena terlalu tipis, dan toh sudah ada pattern block magnetic yang lebih tebal dan mudah dipegang. Tapi beberapa hari ini, dia selalu meminta magnetic pattern blocks: The Farm sambil menunjuk lemari tempat saya menyimpannya.

Mainan ini dibeli sejak Jonathan umur 3 tahun-an (gambar dari Amazon)

Hari ini, selesai mandi dan makan sore, dia ingat lagi dan minta main pattern block The Farm. Akhirnya saya menyerah dan mengijinkan dia main, dengan syarat habis main harus dirapikan dan tidak boleh dilempar-lempar kepingan mainannya. Belakangan ini Joshua suka melempar mainan ke kolong-kolong kursi, jadi saya perlu mengingatkan dia supaya tidak repot mengambil kepingan tipis dari kolong kursi.

Karena pola yang diberikan di dalam kotak mainan ada nomornya, dia mengikuti berdasarkan nomor. Lumayan juga dia main beberapa jam hari ini.

Waktu Joshua melihat buku petunjuknya, dia malah jadi pengen mengikuti contoh membuat heksagon dengan menggunakan trapesium, diamond dan segitiga.

Sebenarnya, pola yang ada di buku pattern animals jauh lebih sulit daripada The Farm. Tapi Joshua senang aja main The Farm, serasa menemukan mainan baru. Waktu saya coba bujuk dia untuk menyusun pola The Farm dengan kepingan pattern block yang lama, dia tidak mau dan bersikeras menggunakan kepingan yang tipis. Tapi ternyata dia menepati janji dengan tidak melempar-lempar kepingannya dan menyimpan kembali semuanya setelah selesai main.

Mudah-mudahan berikutnya dia tetap mau menyusun pattern blocks yang berupa puzzle bentuk-bentuk lainnya dan bukan terus menerus ABC atau angka saja.

Joshua dan Mewarnai

Kalau sudah mulai sekali malas menulis, biasanya jadi keterusan malas nulis blog. Malasnya bertambah karena ada banyak yang pingin diceritakan, tapi gak punya energi menuliskan. Nah hari ini termasuk hari agak malas menulis. Dalam rangka mengalahkan kemalasan, baiklah menuliskan hasil mewarnai Joshua.

Sejak ikut Global Art, Joshua mulai agak rajin mewarnai di rumah. Kalau dulu, dia hanya mau menulis ABC atau 123 saja. Tapi sekarang, walau kadang harus ditemenin atau disemangati, dia mulai mau menyelesaikan 1 halaman 1 hari. Objek yang diwarnai juga bukan hanya huruf atau angka saja.

Berikut ini hasil karya Joshua di Global Art. Kegiatan mewarnai diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 jam. Sekarang dia mulai lebih mau mendengar instruksi gurunya.

Kegiatan mewarnai ini tujuan utamanya untuk melatih fine motor di jari-jari untuk menulis ataupun pegang sendok. Joshua sudah dari dulu suka menulis, tapi cara dia memegang pensil masih salah.

Saya kasih buku yang ada ABC nya, biar lebih semangat mewarnai

Sekarang ini setiap saya coba kasih contoh pegang alat tulis yang benar, tak lama kemudian dia akan tukar lagi posisi pegang alat tulisnya.

Joshua lebih sering pakai tangan kiri, tapi dia sekarang mau juga pakai tangan kanan sesekali

Sebenarnya dengan cara pegang yang sekarang, tulisan Joshua bisa terlihat rapi. Mewarnai pun dia cukup cepat. Tapi dengan cara pegang yang sekarang, ada gerakan tangan yang terbatas dan bisa jadi mempersulit dikemudian hari.

Hasil mewarnai Joshua belum terlalu rapi. Saya juga tidak pernah memaksa dia memilih warna sesuai apa yang ada di alam. Tapi Joshua selalu memilih warna matahari itu kuning, atau rumput itu hijau.

Karena Joshua sudah bisa membaca, kadang-kadang dia berusaha membaca sendiri instruksinya dan mengerjakan sendiri. Bagian mengerjakannya sih cepat, tapi bagian mewarnainya masih butuh dibujukin hehehe.

Kalau dibiarkan, kadang-kadang dia pengen mengerjakan 1 buku dari depan sampai belakang (untuk yang berkaitan dengan angka-angkanya). Tapi ya untuk bagian mewarnainya, tetap masih harus disemangati hehehe.

Semoga Joshua bisa lebih rapih lagi ke depannya mewarnainya. Semoga juga cara memegang alat tulisnya bisa lebih baik lagi.