Buku: Prayer for a Child

Buku Prayer for a Child merupakan buku klasik yang pertama kali terbit tahun 1944 tapi masih menarik untuk dibacakan sampai sekarang. Ditulis oleh Rachel Field dan setiap halamannya berisi ilustrasi gambar oleh Elizabeth Orton Jones.

Kami membeli buku ini dari Amazon waktu Jonathan masih kecil. Buku ini merupakan salah satu buku terpanjang yang dihapal Jonathan sebelum dia bisa membaca dan merupakan salah satu buku rutin yang dibaca sebelum tidur. Saya ingat, waktu kami pulang ke Indonesia buku ini juga kami bawa untuk bacaan sebelum tidur. Setelah Jonathan lancar membaca, dia mulai tertarik membaca buku lain dan buku ini kami simpan untuk adiknya.

Jonathan waktu 3 tahun 7 bulan

Sejak Joshua tertarik dibacakan buku, kami juga sudah membacakan buku ini berkali-kali ke Joshua. Lagi-lagi, walaupun dia dalam buku ini cukup panjang, Joshua juga bisa menghapalkannya sejak dia belum terlalu bisa membaca.

Beberapa lama buku ini sempat ditinggalkan dan baru belakangan ini dibaca lagi. Walau sekian lama gak dibaca, Joshua masih ingat dengan isi buku ini. Joshua sekarang sudah agak bisa membaca, tapi walaupun dia selalu membalik halaman seolah membaca, saya yakin sebagian besar berupa hapalan dan bukan benar-benar bisa dibaca.

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang cukup menarik dari setiap baris doanya. Kata-kata yang digunakan tidak semua sederhana, tapi cukup berima sehingga mudah diingat. Setelah membacakan beberapa kali, baru melihat gambarnya saja saya bisa ingat kalimatnya.

Joshua 3 tahun 10 bulan

Sekarang, setiap malam Joshua membaca buku ini dan meminta saya mengikuti setiap kalimat yang dia ucapkan. Kadang-kadang dia juga sambil menirukan saya yang pernah memakai buku itu untuk bermain: apa yang kamu lihat, atau mengenali objek-objek yang ada.

Secara isi doa, walaupun doa ini ditujukan penulis untuk anak perempuannya Hannah, tapi doa ini bisa juga diucapkan anak laki-laki. Bahkan bisa untuk orang dewasa sekalipun.

Doanya dimulai dengan bersyukur untuk susu dan roti (makanan), bersyukur untuk tempat tidur yang ada, bersyukur untuk mainan yang dimiliki sampai mendoakan semua anak-anak di seluruh dunia jauh maupun dekat.

Buku ini merupakan buku yang bagus untuk mengajari anak berdoa. Kita bisa mengajari anak berdoa bukan hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk semua hal kecil dan besar, mengucap syukur untuk orangtua dan saudara. Tak lupa mendoakan sesama (anak-anak lain).

Walaupun pada saat anak-anak kami membaca buku ini kemungkinan besar mereka belum mengerti sepenuhnya dengan isi doanya, tapi kami senang menemukan buku yang mengajari anak berdoa seperti ini.

Manfaat Menghomeschool Anak

Udah lama gak cerita soal homeschoolingnya Jonathan. Beberapa minggu lalu, Jonathan dan Joshua ikutan summer camp jadi kegiatan homeschoolingnya diliburkan. Campnya itu mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 3 sore. Waktu mereka ikut camp, setiap pagi jadi terasa lebih berat dari hari-hari sekolah di rumah.

Biasanya, kegiatan homeschool di rumah mulai jam 9 -an, tapi tidak ada waktu tempuh jadi ya seselesainya makan mandi baru mulai. Nah kalau kegiatannya bukan di rumah, otomatis pagi-pagi jadi harus lebih awal melakukan semuanya supaya tidak terlambat sampai ke tujuan.

Jadi terpikir, ternyata homeschooling itu jauh lebih santai daripada kirim anak ke sekolah. Selain masalah flexibilitas waktu, saya merasakan beberapa manfaat lain dari menghomeschool anak. Manfaat yang ingin saya tuliskan di sini bukan untuk anak, tapi untuk kami orangtuanya. Setidaknya ini yang kami rasakan.

Fleksibilitas

Kegiatan homeschooling kami biasanya hanya 4 hari seminggu, mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 12 siang. Kalau Jonathan lagi agak bengong, ya kadang baru diselesaikan sekitar jam 1 siang (setelah dia selesai makan). Sekarang ini Joshua belum saya berikan pelajaran yang terstruktur, untuk Joshua setiap harinya intinya bermain dan bermain. Mau mainan mobil-mobilan, lego, playdough, piano, berantakin rumah, coret-coret di papan tulis, bebasss asalkan gak gangguin kakaknya.

Kadang-kadang, kalau ada kebutuhan, kami bisa saja meliburkan hari sekolah. Sebaliknya kalau Jonathan mau, bisa saja di akhir pekan dia mengerjakan pekerjaan sekolahnya supaya lebih cepat selesai dan bisa libur di hari lain.

Masalah fleksibilitas ini tentunya ada plus minus. Walaupun sangat fleksibel, kami tetap punya target kalau 1 tahun ajaran itu tidak lebih dari 10 bulan. Yang paling tersasa sekarang ini sih, dengan homeschooling, saya tidak repot antar jemput ke sekolah.

Ikut belajar

Ini salah satu manfaat yang paling terasa buat saya. Dulu waktu belajar bahasa Inggris, saya gak pernah tahu istilah phonics, dan berbagai istilah untuk grammar bahasa Inggris. Sekarang ini, dengan menghomeschool Jonathan, saya jadi ikut belajar dan seperti mendapat ilmu baru.

Selain pelajaran bahasa Inggris, sekarang ini saya juga jadi ikutan belajar piano. Dari dulu saya tidak pernah belajar alat musik. Menyanyipun gak terlalu hobi. Tapi sejak kami mengkursuskan Jonathan piano, ya saya juga jadi ikutan belajar dari bukunya. Sekarang ini malahan guru piano Jonathan baik hati, saya diajari tanpa biaya tambahan. Jadi bayar 1 yang belajar 2 hehehe.

Sejak menghomeschool, kami juga jadi banyak membelikan buku-buku yang berisikan informasi yang bisa menambah pengetahuan umum Jonathan. Sebelum dia baca, tentunya kami perlu mencari tahu dulu isi buku itu kira-kira apa, lalu kami juga jadi ikut membaca buku-buku seperti Secret Coder, Murderous Maths maupun Horrible Geography. Bacaan seperti itu juga sedikit banyak merefesh apa yang sudah kami ketahui dan menambah banyak fakta yang mungkin sebelumnya kami tidak pernah tahu.

Selain ikut belajar dengan semua yang dipelajari anak, saya juga jadi ikut bersemangat untuk tetap belajar hal-hal baru seperti Joe yang pengen belajar menggambar atau saya yang lagi belajar bahasa Korea.

Tahu persis perkembangan anak

Pendidikan itu dimulai dari rumah. Waktu Jonathan kami kirim ke sekolah, kami tetap memantau perkembangan dia, tapi harus diakui kadang-kadang kami jadi terlalu santai dan berpikir dia belajar di sekolah baik secara akademis, sosialisasi dan juga lifeskill.

Waktu Jonathan disekolahkan, badannya kurus, dia sering sakit dan kami sering dapat keluhan dari sekolah kalau dia tidak fokus di kelas dan mengganggu kegiatan kelas. Kami sudah menyadari soal Jonathan yang mudah teralih perhatiannya karena sekarangpun masih terjadi. Tapi setelah di homeschool dan berat badannya naik dan lebih sehat, saya baru menarik kesimpulan jangan-jangan selama ini Jonathan makannya gak bener di sekolah.

Jonathan memang lambat makannya dan hanya suka makanan tertentu, Di sekolah jam makan itu terbatas, selain itu dia pasti pengen main sama teman-temannya. Jadi ada kemungkinan hampir setiap harinya Jonathan tidak makan siang yang cukup di sekolah, dan itu juga yang membuat dia lebih mudah sakit.

Sekarang ini karena sehari-harinya di rumah, kami tahu persis apa yang dia makan dan berapa jam sehari dia tidur (malah kadang-kadang masih bisa disuruh tidur siang). Untuk masalah gampang teralih perhatian, bisa diminimalkan, karena yang mengganggu cuma Joshua hehehe.

Dengan homeschool, kami juga tau persis sampai mana level pemahaman Jonathan untuk suatu topik. Untuk lifeskill nya kami juga tahu bagian mana yang masih perlu dilatih lagi dengan memberikan dia tanggung jawab membantu saya di rumah.

Kenal dengan semua teman anak

Dengan homeschool, tidak ada yang namanya rapat orang tua guru, dan tentunya saya kenal dengan semua teman bermain Jonathan. Biasanya untuk sosialisasi pasti saya ketemu juga dengan temannya dan juga orangtua dari temannya. Kadang-kadang malah, secara gak langsung bukan cuma Jonathan yang punya teman, tapi kami juga jadi berteman dengan orangtua temannya itu.

Kalau dikirim ke sekolah, kemungkinan kita tidak kenal semua teman anak kita, kita juga belum tentu kenal dengan orangtua dari teman anak kita. Dengan mengenali teman dan keluarga temannya, kita bisa tahu seperti apa pengaruh yang diterima anak kita dari pertemanannya.

Team work dengan pasangan

Menghomeschool itu butuh komitmen. Hari-hari sekolah tidak selalu penuh dengan bunga, lebih sering penuh dengan tantangan kalau Jonathan lagi susah fokus. Saya ini bukan orang yang super sabar, kalau Jonathan lagi susah dibilangin (bukan karena dia gak ngerti pelajarannya, biasanya karena dia ngeyel saja), saya memilih berhenti pelajaran tersebut dan minta tolong Joe untuk menyelesaikan topik tersebut.

Kadang-kadang, mungkin Jonathan juga bosan liat mamanya sepanjang hari, jadi beberapa pelajaran saya minta Joe yang ajarin dan beri penilaian. Misalnya untuk creative writing (dalam bahasa Inggris), saya merasa masih kurang bisa menulis dalam bahasa Inggris, jadi saya minta Joe yang ajarin. Untuk pelajaran science, ada beberapa hal yang perlu melakukan eksperimen. Jonathan biasanya senang melakukan eksperimen ini dengan papanya, jadi ya sekalian deh saya minta Joe yang pegang pelajaran science.

Dengan menghomeschool, saya dan Joe jadi belajar bagi tugas supaya anak dapat pendidikan tapi juga tidak merasakan itu jadi beban. Kami jadi lebih sering berdiskusi untuk merencanakan apakah ada kegiatan yang perlu dikurangi atau diganti. Kami berdua mengevaluasi perkembangan anak-anak, termasuk mempertimbangkan apakah Joshua sudah perlu dikursuskan sesuatu atau tidak.

Hemat

Karena kami homeschool bukan mengirim ke lembaga homeschool dan bukan membeli kurikulum yang mahal. Pilihan homeschool ini bisa dibilang sangat murah bila dibandingkan mengirim anak ke sekolah. Kami tidak keluar biaya uang sekolah, tapi kami cukup membeli buku, buku dan buku hehehe.

Karena belajarnya di rumah, ya otomatis tidak ada biaya transport. Kalaupun ada kegiatan tambahan di luar rumah, rasanya anak yang sekolahpun sering ada kegiatan tambahannya. Faktor yang paling berasa, karena gak perlu antar jemput, ya jadinya hemat bensin deh hehehe.

Kesimpulan

Ketika kami memutuskan untuk homeschool Jonathan, kami sempat dilema dengan banyak hal. Apalagi kami homeschool itu awalnya bukan karena idealisme, tapi lebih karena terkondisikan. Sampai sekarang masih ada beberapa hal yang belum bisa kami jawab terutama masalah ijasah. Masalah ijasah ini ada pentingnya, tapi lebih penting lagi untuk punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian.

Fokus kami sekarang ini supaya anak-anak punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian. Untuk ijasah kami tetap pikirkan. Kami yakin, kalau anak punya kemampuan belajar mandiri, tidak akan ada masalah untuk ambil ujian persamaan sebelum ujian untuk masuk perguruan tinggi.

Mau homeschool sampai kapan? ya selama masih lebih banyak manfaatnya dan kami mampu, kami akan tetap homeschool. Tidak semua orang cocok menghomeschool dan tidak semua anak cocok dihomeschool. Semuanya tujuannya untuk membekali anak dengan pendidikan, demi masa depan yang cerah hehehe.

Joshua dan Piano (2)

Joshua (3 tahun 10 bulan) gaya belajarnya unik, dia tidak suka diajarin berlama-lama. Kalau dia tertarik, dia yang akan minta kita berkali-kali menyanyikannya. Kalau tidak tertarik, ya dia tidak akan bisa dipaksa. Setelah bulan Februari dia belajar lagu Mary had a little lamb, dan mengerti untuk mencari do-re-mi-fa-so-la-si-do di tuts piano, saya mencoba mengajarkan dia lagu ABC (yang nadanya sama dengan twinkle-twinkle little star).

Awalnya ketika saya ajarkan, dia hanya mau menyanyikannya dan tidak mau mencoba sendiri.Dia malah menyuruh saya yang main berkali-kali. Saya suruh dia menirukan, tapi dia malah pura-pura ga melihat. Kalau saya berhenti main, dia tarik tangan saya dan letakkan di tuts piano dan bilang: lets sing it again. Setelah itu dia pergi dan bernyanyi tanpa mau mendengarkan kalau diajarin. Karena saya pikir dia tidak tertarik, ya sudah saya tidak paksa.

Beberapa hari belakangan ini, dia tertarik lagi dengan piano. Dia mulai dengan mencari d0-re-mi lagi. Saya mengajarkan lagu ABC dengan menyanyikan solmisasi (do-d0-sol-sol-la-la-do), nah Joshua ternyata ingat kata-katanya. Waktu dia menemukan piano mainan kecil (yang dibeli seharga 60 baht), dia langsung mengerti melihat ada tulisan do-re-mi nya di tutsnya. Setelah mencoba-coba sendiri beberapa kali, dia bisa 1 bait pertama.

Setelah itu saya mencoba mengenalkan mana tuts do dan sol di piano. Beberapa kali dia menolak untuk diajari. Dia memang tipe yang lebih suka coba-coba dan cari tau sendiri. Eh usahanya berhasil, kemarin dia sudah bisa membunyikan lagu ABC di piano kecilnya.

mainan piano kecil

Piano kecil ini dulu dibeli buat menghibur Joshua kalau lagi duduk di stroller. Sudah pernah diganti baterenya karena lama gak dimainkan lalu mati. Piano murahan ini cukup tahan banting, karena kadang-kadang dilempar sama Joshua kalau dia bosan. Tapi ternyata jadi berguna untuk dia transisi ke piano besar.

Setelah berhasil main di piano kecil, dia mulai mencoba meletakkan piano kecilnya didepannya, untuk dapat contekan mana do-re-mi. Terus dia coba-coba dan bisa deh akhirnya.

akhirnya bisa nyanyi ABC di piano besar

Selain berhasil memainkan lagu ABC, dia juga mencoba memainkan lagu yang biasa dia nyanyikan untuk berhitung angka yang dia pernah dengar dari youtube. Jadi Joshua memang punya kemampuan mendengarkan nada, lalu mencobakannya di piano.

mencoba sendiri lagu yang sering dinyanyikan

Sekarang ini Joshua memainkan piano masih memakai 2 jari saja, bahkan kadang-kadang hanya 1 jari. Tapi setelah dia bisa 3 lagu, dia semakin sering berlatih sendiri. Saya tidak pernah belajar piano waktu kecil, saya baru belajar piano setelah punya anak. Salah satu keuntungan dari homeschooling adalah: saya juga jadi harus ikut belajar.

Saya mencoba mengajarkan Joshua untuk menggunakan semua jarinya untuk bermain piano. Tapi sejauh ini dia belum mau. Sepertinya jari-jarinya memang belum kuat untuk menekan tuts piano.

Senang rasanya kalau anak tertarik untuk mempelajari sesuatu, walaupun sulitnya dia ga mau diajari dan jadinya suka gemes sendiri karena belajarnya jadi lama. Saya berusaha untuk bersabar dan membiarkan saja dia dengan apa maunya. Setidaknya karena hari ini dia tertarik dengan piano (selain playdough), dia tidak mencari gadget/youtube hehehe.

Setelah Joshua tertarik main piano, Jonathan yang biasanya susah disuruh berlatih jadi lebih tertarik juga untuk ikut main piano. Memang ya, kalau punya 2 anak itu bagusnya anak yang 1 akan membuat anak yang lain pengen ikut-ikutan. Joshua dulu tertarik dengan abc dan numbers juga karena sering melihat Jonathan belajar. Sekarang Jonathan yang biasanya malas berlatih piano jadi gak mau kalah dan berlatih juga.

duet main piano

Memang katanya gak baik membanding-bandingkan anak karena setiap anak itu berbeda. Tapi ya, memang sebaiknya punya anak jangan cuma 1. Sekarang ini, walaupun umurnya berbeda hampir 4 tahun, Jonathan dan Joshua sudah mulai bisa main bersama dan saling membuat yang lain pengen ikutan melakukan hal yang sama. Sejauh ini sih hal-hal yang mereka tiru masih hal yang baik, dan semoga terus seperti itu.