Pemilu 2019: Kami Sudah Memilih

Lanjutan dari postingan sebelumnya cerita pemilu Indonesia 2019. Surat suara yang sudah diterima dari beberapa waktu lalu, akhirnya kemarin kami kirimkan kembali ke KBRI Bangkok.

Isi amplop surat suara itu ada 3 amplop. Amplop nomor 2 merupakan amplop untuk mengirimkan kembali ke KBRI yang sudah ditempeli perangko, jadi tinggal dimasukkan ke kotak pos, atau diberikan ke petugas pos untuk yakin surat suaranya tiba sebelum tanggal 16 April 2019 di Bangkok.

3 amplop dalam amplop besar yang diterima untuk pemilu

Setelah dicoblos, surat suara masuk ke dalam amplop yang diberi nomor 3. Amplopnya jelas diberi label mana amplop suara memilih presiden dan wakilnya, dan mana amplop untuk memilih anggota DPR Pusat. Kalau memang gak sambil melamun, harusnya gak sampai salah masukin ke amplopnya. Masing-masing amplop jangan lupa di lem kembali, lalu dimasukkan ke dalam amplop nomor 2.

Selain 2 amplop surat suara, jangan lupa menandatangani formulir C6, memotong bagian bawahnya dan masukkan juga ke dalam amplop nomor 2. Setelah semua masuk, amplop nomor 2 nya juga di lem dan siap untuk dikirm kembali.

suara dari kami sudah dikirim ke KBRI Bangkok

Senang rasanya sudah menentukan pilihan dan mengirimkan kembali surat suara. Buat teman-teman yang memilih lewat pos, jangan sampai kelupaan kirim kembali segera ya. Batas waktunya harus diterima sebelum tanggal perhitungan suara (17 April 2019).

Pemilu di luar wilayah Indonesia diadakan serentak tanggal 10 April 2019, sedangkan pemilu di Indonesia diadakan serentak tanggal 17 April 2019. Untuk kamu-kamu yang sudah terdaftar memilih lalu mendadak ada tugas kantor, cobalah mencari tahu gimana caranya supaya hak pilihnya gak hilang.

Buat yang sudah siap memilih dan tau mau milih yang mana, ini ada petunjuk cara memilih supaya pilihannya sah. Jangan sampai suaranya jadi hilang karena surat suara tidak sah.

pastikan memberi tanda yang sah supaya suaranya tidak hilang

Saya mengajak teman-teman untuk menjadi warga negara yang baik dengan menggunakan hak suara kita. Jangan ribut-ributnya di timeline medsos aja hehehe. Jangan tanya kami milih siapa, karena itu rahasia 🙂

Yuk, kita sukseskan pesta demokrasi rakyat di Pemilu 2019 dengan menggunakan hak suara kita dengan datang ke TPS di mana kita terdaftar untuk memilih.

Gara-gara Kdrama (2)

Ini hal lain yang jadi efek Kdrama buat saya. Mungkin ada juga teman-teman yang lain juga mengalaminya. Setelah nonton kdrama, saya jadi kepengen mencoba beberapa makanan yang sering disebut-sebut dalam kdrama.

Memang film itu bisa menjadi alat menyebarkan budaya. Saya harus akui, saya jadi cari tahu sedikit banyak tentang Korea setelah menonton beberapa serial kdrama. Biasanya informasi ini dapatnya dari teman-teman sesama pemirsa kdrama juga, dan beberapa dari hasil penasaran menggoogle heheh.

Makanan pertama yang paling bikin saya pengen mencoba itu dulu Instant Ramyeon. Walaupun Indomie Kari Ayam masih jadi selera nomor 1, tapi kalau liat di kdrama ada yang masak mie instan terus makan langsung dari panci nya, wuiiih saya jadi pengen juga hahhaha.

Nah pas lagi ke HongKong saya jadi juga beli Instant Ramyeon, walau bukan di masak di panci gitu haha. Sebenarnya di Chiang Mai ada juga yang jual, tapi merasa lebih mahal dari mie instan lokal, jadi selalu merasa rugi membelinya. Pas di Hongkong, basically makanan semua juga mahal, jadi ya sekalian mencoba deh.

Berikutnya yang sering bikin kepengen itu jjajangmyeon (짜장면). Waktu sebelum banyak nonton kdrama, saya sudah pernah mencicipi makanan ini, rasanya cukup unik, dan tiap kali makanan ini disebut di film yang saya tonton, pasti jadi pengen mesen juga. Apalagi melihat mereka mengaduk dulu black bean pastenya sebelum di makan. Nyam nyam.

Menu yang juga menurut saya sebenarnya bisa dicoba bikin sendiri di rumah itu bibimbap (비빔밥). Kalau ini isinya selain nasi ada sayur-sayuran serut, daging tumis dan telur mata sapi dan sejenis chilipaste nya orang korea. Makanan ini juga wajib diaduk sebelum dimakan.

Bibimbap sebelum diaduk

Sayangnya kemaren kelupaan foto chili pastenya, tapi bisa lihat di wiki hehehe, chili pastenya gak pedes kok walau warnanya merah. Sebelum makan Joe bilang gini: kalau di Indonesia orang makan bubur ada tim aduk dan tim gak diaduk, kalau makanan Korea semua wajib diaduk hehehe.

Nah, karena kemarin Jonathan ikut juga, kami pesenin gimbab(김밥) . Makanan ini sekilas mirip rolled sushi. Karena saya belum cari tahu cara membuatnya, jadi belum tau persis bedanya hehe.

Secara keseluruhan, makanan yang kami coba semuanya enak hehehe, kalau rajin kapan-kapan bisa cari tau untuk membikinnya. Untuk sekarang levelnya menikmati dulu saja hehehe.

Oh ya hampir kelupaan, bagian yang selalu terlihat menarik di tata di meja makan orang Korea adalah: ada banyak sekali side dishnya. Kemaren sidedishnya seperti ini nih. Ada bawang bombay iris, acar lobak, kimchi, black bean paste, dan satu lagi saya gak tau namanya apa seperti dadar daun bawang pake tepung doang tapi wanginya kayak tempe mendoan hehehe.

Saya gak begitu suka kimchi, menurut saya rasanya aneh. Acarnya masih oke, bawang bombaynya pastinya dimakan 2 iris doang hahhaa. Untuk dadar daun bawang, lumayanlah bisa ditiru nanti setelah cari tahu resepnya hahaha.

Nah setelah mencoba sedikit dari berbagai jenis makanan yang sering disebut-sebut di kdrama, berikutnya waktu belanja ke Makro saya jadi lebih perhatian kalau ada bumbu bahan masakan korea di jual. Kebetulan tadi melihat 1 deretan rak berisi berbagai paste nya Korea.

Karena saya belum banyak baca apa yang dibutuhkan misalnya mau bikin jjajangmyeon dan bibimbap, jadi saya tadi foto aja dulu biar ingat lain kali kalau mau beli ada di Makro.

Buat penggemar kdrama, ada yang kayak saya ga? gara-gara nonton jadi pengen nyobain makananya dan jadi nyari-nyari bumbu masaknya juga hehehe. Ayo kalau ada yang punya makanan korea yang gampang di bikin, silakan tulis di komentar biar saya bisa ikutan hehehe.

Pelajaran Matematika Jonathan

Saya bersyukur kalau mengajarkan matematika ke Jonathan itu mudah sekali. Dengan kurikulum yang kami pakai, seringkali saya tidak harus menjelaskan apa-apa. Jonathan bisa membaca sendiri dan mengerti dengan baik. Dia bisa mengerjakan soal latihan tanpa kesulitan. Kadang-kadang saya sampai berpikir, jangan-jangan kurikulumnya terlalu mudah?

Sebagai gambaran, pelajaran matematika ini dikerjakan 1 unit per-hari, dan dalam seminggu kami mengerjakan 4 pelajaran. Dalam 1 buku, ada 16 pelajaran yang komposisinya 4 pelajaran lalu 1 quiz, 4 pelajaran berikutnya lalu 1 quiz lagi, 4 pelajaran lalu pelajaran ke 15 review, dan pelajaran ke 16 berupa Test dari keseluruhan buku.

Jonathan sekarang kelas 3, ini contoh pelajaran kurikulum yang kami paka: buku ke-8 (dari 10), pelajaran ke-6. Pelajaran ini sudah sangat jelas sehingga saya gak perlu menambahkan penjelasan apa-apa lagi.

menambahkan banyak angka dengan mencari yang jumlahnya 10

Setiap harinya, ada flashcard yang berganti-ganti, perkalian ataupun penjumlahan. Selain itu ada speed drill. Latihan mengerjakan penjumlahan atau pengurangan atau perkalian dan nantinya juga pembagian sederhana. Menyelesaikan 36 persoalan dalam waktu 1 menit sebanyak-banyaknya.

setiap hari ada speed drill 1 menit

Materi yang sangat sedikit itu sebelumnya kebetulan sudah dijelaskan sama papanya begini: dalam bahasa Indonesia, 2 angka yang huruf depannya sama kalau dijumlahkan hasilnya selalu sama dengan 10.

Mari kita cek:

  • satu + sembilan = sepuluh
  • dua + delapan = sepuluh
  • tiga + tujuh = sepuluh
  • empat + enam = sepuluh
  • lima kasus khusus, karena lima+lima = sepuluh

Jonathan lebih ingat angka dalam bahasa Inggris, sampai beberapa waktu lalu dia selalu tertukar antara enam dan tujuh. Setelah Joshua lancar berhitung bahasa Indonesia, baru Jonathan ikut hapal angka dalam bahasa Indonesia. Trik yang diajarkan dalam bahasa Indonesia diharapkan membuat Jonathan tetap ingat angka dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke pelajaran, setelah membaca materi yang sedikit itu, diberikan soal latihan, lalu review dari pelajaran-pelajaran sebelumnya. Dari sekian banyak soal latihan, untuk latihan materi baru tidak pernah sampai 10 soal latihan.

Dari 4 lembar hal yang perlu dikerjakan Jonathan, rata-rata dia menyelesaikan pelajaran matematika ini dalam waktu 30 menit setiap harinya. Ini kalau dia gak terdistract gangguin adiknya atau malah bengong. Tapi setiap harinya, bisa dibilang dia bisa mengerti apa yang harus dikerjakan tanpa saya harus menerangkan panjang lebar.

Mungkin karena pada dasarnya Jonathan senang membaca, kebanyakan materi sudah lebih dulu dia tahu, yang dia perlukan hanyalah latihan lagi. Kadang-kadang tapi dia juga kurang teliti, persoalan sederhana bisa salah juga.

Contoh pelajaran berikutnya, pelajaran mengalikan orde ratusan dengan satuan. Setelah dia mengerti penjelasan ini, saya jelaskan mengalikan orde ratusan dan puluhan. Sekitar 5 menit dia sudah mengerti dan kalau kemudian hari ada pelajaran itu, saya ga perlu ngajar lagi deh heheh.

Mengalikan 3 digit (ratusan, puluhan dan satuan)

Kami cocok dengan kurikulum CLE yang kami pakai ini. Metode yang dipakai metode tradisional yang gak berbeda dengan cara kami belajar dulu. Saya tahu, banyak anak yang membutuhkan penjelasan lebih hands-on atau menggunakan alat bantu manipulative yang bisa dilihat secara visual, tapi kalau cara tradisional bisa dimengerti, rasanya gak perlu menjelaskan dengan cara yang rumit.

Teringat dengan sebuah video tentang cara mengajarkan perkalian dengan 2 metode. Metode tradisional langsung selesai dan gak butuh waktu lama, metode yang lain belum selesai mengajarkan, metode tradisional udah selesai minum kopi hehehe.

pilih metode mana?

Kadang-kadang, kalau lagi iseng, kami mengajarkan sesuatu yang belum ada di materi CLE. Jonathan sudah belajar bilangan pecahan, tapi belum belajar penjumlahan pecahan. Kami iseng aja mencoba bertanya kira-kira dia akan mengerti gak kenapa menjumlahkan pecahan itu harus disamakan dulu penyebutnya. Ternyata dia bisa menangkap dengan cepat dan minta dikasih soal-soal tambahan.

penjelasan penjumlahan pecahan

Harapannya, Jonathan tetap mudah diajarkan matematika seperti sekarang, supaya saya gak banyak kerjaan ngajarin hahaha. Lumayan tinggal memeriksa kerjaan saja. Nanti kalau Joshua sudah usia sekolah, biar Jonathan saja yang mengajarkan ke Joshua, jadi mamanya bisa tenang hehehe.

Hujan

Akhirnya, hujan yang ditunggu datang juga. Walaupun cuma gerimis kecil dan tidak terlalu lama. Tapi cukup membawa angin segar dan harapan positif dari warga kota ini.

Sejak Februari pertengahan, kadar polusi mulai naik turun. Puncaknya beberapa hari lalu kabut asapnya makin tebal dan kebanyakan orang sudah terkena berbagai efek samping dari polusi. Mulai dari mata pedih, sakit tenggorokan, sesak napas, batuk-batuk, migrain dan bahkan ada yang seperti alergi kulit gatal-gatal.

Efek musim polusi biasanya posting di group lokal sini hampir setiap hari ada yang mengeluhkan kenapa tidak ada tindakan dari yang berwenang. Ada juga yang mengeluhkan kenapa banyak yang mengeluh soal polusi, kalau gak suka kan bisa pergi dari kota ini.

Berbagai reaksi muncul ke permukaan, walaupun ada juga beberapa posting positif membagikan tips-tips tetap sehat di musim polusi, atau berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membersihkan polusi di ruangan rumah. Mulai dari memasang filter, meanmabahkan filter di AC, menanam tanaman tertentu dan juga memasang aroma terapi.

hujan, walau cuma sedikit ya tetap hujan

Hari ini, sekitar pukul 9 tadi, hampir semua bersorak sorai gembira di sosial media seolah berseru HORE HUJAAAAAN!!! Posting saya ini juga bentuk lain dari kegembiraan turunnya hujan, walaupun masih merasa kurang banyak hujannya.

Karena melihat begitu banyak yang gembira dengan datangnya hujan, saya jadi teringat percakapan saya dan teman saya di kala SMA. Dari sejak dulu saya menyukai aroma hujan, tepatnya saya suka ketika tanah terkena tetesan air hujan dan debu-debupun berkurang.

Waktu itu teman saya mengeluh karena hujan dan tidak membawa payung. Padahal setelah itu, dia jadi dapat tebengan diantar pulang oleh seseorang yang menyukainya. Saya bilang ke teman saya: hujan itu bawa berkat, liat saja kamu malah jadi dianterin pulang kan, lalu diapun tersipu malu gak bisa mendebat lagi.

Saya suka hujan, karena banyak hal bisa diingat ketika ada hujan. Saya ingat, pertama kali datang ke Chiang Mai sering kena hujan dadakan tiba-tiba. Hujan yang bukan cuma gerimis tapi super deras dan hanya bertahan 5 menit. Hujan yang kalau kita lagi jemur cucian dan gak ingat mindahin sebenernya bakal ngeselin hahaha.

Saya ingat juga, pernah lagi naik motor sama Joe, waktu itu masih pacaran, eh tiba-tiba hujan deras, padahal udah dikiiiit lagi sampai tujuan. Alhasil, karena mikir ah tanggung tinggal dikit lagi, kami gak minggir buat buka jas hujan, dan ya pastinya basah kuyup. Tapi jadi ada memory manis di bawah rintik hujan hahahha.

Kemarin baru menyelesaikan nonton kdrama Goblin. Di film itu juga digambarkan, hujan itu biasanya ada hubungannya dengan keresahan hati si Goblin. Trus temen saya bercerita, ada loh yang abis nonton Goblin jadi baper tiap liat hujan turun. Tuh kan bukti lagi kalau hujan itu memorable hehehe.

Beberapa scene romantis yang memorable di kdrama juga berkaitan dengan hujan dan payung. Ayo buat penggemar kdrama, pasti bisa sebutkan 5 kdrama yang ada payung dan hujannya.

Haduh jadi kemana-mana deh ngomongin hujan. Tulisan ini juga buat mencatat kapan hujan turun di Chiang Mai, buat referensi tahun-tahun berikutnya ketika mengamati pola polusi di Chiang Mai.

Siapa yang tidak suka hujan? saya rasa lebih banyak orang yang suka hujan daripada yang tidak suka hujan. Walaupun mungkin banyak juga yang suka hujan dengan catatan tertentu (asal punya payung), asal gak sepanjang hari, asal gak berhari-hari sampai bikin cucian gak kering dan alasan lainnya.

Hujan itu bawa berkat, hujan itu bawa inspirasi, hujan itu menyejukkan hati. Kalau punya memory di bawah rintik hujan, silakan berbagi di komentar ya 🙂

Air Minum di Chiang Mai

Seperti halnya di Indonesia, air keran di Chiang Mai tidak bisa langsung di minum. Kalau dulu, sebelum musim air dalam galon atau air kemasan, kami memasak air keran sampai mendidih, lalu didinginkan untuk jadi air minum.

Sejak tinggal di Chiang Mai, kami tidak pernah memasak air keran. Di sini praktek yang umumnya dilakukan orang adalah membeli air minum, baik itu kemasan galon isi ulang, atau membeli filter air untuk dipasang di keran air.

Awalnya dulu, kami membeli air dalam botol 5 literan, tapi tentunya terasa mahal, karena minum air itu butuhya banyak. Akhirnya kami beralih ke air botol dalam galon besar. Harga air dalam galon di sini bervariasi mulai dari 18 baht/galon sampai 30 an baht/galon. Air kemasan galon ini bukan seperti merk Aqua yang klaimnya air mineral, tapi merupakan air yang sudah difilter oleh perusahaan yang menjual air minum. Biasanya filter yang dilakukan menggunakan reverse osmosis (RO) .

Selain membeli kemasan air dalam botol kemasan 5 literan, Pilihan untuk air minum yang lebih ekonomis ada 3:

  1. Membeli sendiri filter system dipasang dirumah
  2. Mengisi ulang ke vending mesin RO yang tersedia di banyak tempat
  3. Berlangganan isi ulang air yang sudah difilter diantar ke rumah setiap minggunya.

Masing-masing pilihan ini ada plus minusnya. Kalau membeli sendiri filter RO tentunya mahal, pilihannya akhirnya jatuh ke filter level berikutnya. Misalnya filter merk pure berikut ini:

Beberapa pilihan filter air yang bisa dipasang di rumah

Filter air ini ada berbagai jenis, harganya juga bervariasi. Setiap beberapa bulan filternya harus diganti. Ada yang 3 tabung, atau 4 tabung atau plus sinar uv. Kami pernah membeli filter begini untuk dipasang di rumah, tapi entah kenapa saya tetap gak yakin untuk meminumnya, apalagi karena saya orangnya kurang rajin mengingat sudah berapa bulan dan filter tabung mana yang harus diganti. Harga ganti tabung filternya juga tidak murah, tapi pilihan ini praktis asal ingat untuk ganti filter secara berkala.

Mengisi ulang ke mesin RO sebenarnya cukup murah, dengan 20 baht kita bisa mengisi 1 galon besar. Kalau seminggu kebutuhan memakai 3 galon berarti seminggu cukup 60 baht untuk membeli air. Tapi piihan mengisi ulang ke vending machine itu repot hehehe, dan terlalu berat kalau saya yang melakukannya sendiri.

Pilihan kami saat ini adalah mengisi ulang botol kemasan dengan mobil yang datang mengantarkan ke rumah sekali seminggu. Ada banyak perusahaan yang menyediakan jasa isi ulang air minum yang sudah di filter ini, botol kemasannya juga banyak pilihan. Biasanya pertama kali kita diminta untuk “membeli” dengan botolnya, lalu berikutnya tinggal membeli air isi ulangnya saja. Botol bisa dikembalikan ke mereka kalau kita berhenti berlangganan.

Dari beberapa tahun di Chiang Mai, kami sudah berganti rumah beberapa kali, dan tiap berganti rumah akhirnya berganti langganan air minumnya juga. Sekarang ini kami berlangganan dari perusahaan DewDrop, salah satu yang menyediakan kemasan botol yang bening dan botol kaca.

beberapa pilihan kemasan botol yang tersedia

Umumnya perusahaan air minum lain menjual minuman kemasan dalam botol berwarna putih. Harganya juga lebih murah. Sekarang ini untuk mengisi botol kaca (12 botol) harganya 35 baht, sedangkan mengisi galon bening harganya 30 baht.

Satu hal sangat berasa bedanya dengan air galon di Indonesia adalah, di sini mereka tidak menyediakan tissue basah untuk lap botolnya. Jadi ya, kita lap aja sendiri pakai kain kita yang bersih.

Satu produk yang kami bawa dari Indonesia untuk memudahkan menuang air galon ke dispenser bikin tukang antar air kami terkagum-kagum. Tutup botol ini saya gak tahu sebutannya apa di Indonesia, tapi dulu saya memang bawa dari Indonesia dan tidak menemukannya di Thailand sini.

Waktu terakhir pulang ke Depok, kami melihat kalau sekarang sudah ada dispenser yang tidak perlu mengangkat galon ke atas, tapi cukup disimpan di laci bawahnya saja. Entah kapan dispenser model begitu masuk ke Thailand, tapi sepertinya kalau ada bisa lebih praktis supaya gak harus repot waktu tukar galon.

Polusi Chiang Mai 2019

Tinggal di Chiang Mai itu menyenangkan, asal gak ada musim polusi. Kemarin dan hari ini, merupakan hari dimana kadar polusinya paling tinggi selama kami di Chiang Mai, dan mudah-mudahan gak ada lagi yang lebih tinggi di kemudian hari.

Kemarin pagi, melihat keluar saja terasa banget kabut pekat. Sinar matahari terhalang asap. Waktu keluar rumah, terasa seperti ada tetangga lagi bakar sampah. Cek di website, wah diatas 300, udah level hazardous. Cek pakai sensor yang kami punya, wah ternyata diatas 500!. Pantesan bangun pagi tenggorokan yang dari kemrin mulai terasa gatal semakin parah.

Saya gak tahu persisnya kenapa tiba-tiba kemarin polusinya meninggi. Saya belum dapat berita persisnya, tapi biasanya kalau sampai tinggi begini karena ada kebakaran hutan. Musim panas yang sangat kering membuat hutan cenderung mudah terbakar. Beberapa tahun lalu biasanya yang terjadi ada yang membakar sisa ladang, lalu ada juga yang membuka lahan di hutan untuk bertanam jamur, lalu tanpa sengaja menyebabkan kebakaran hutan.

Sebenarnya pemerintah Thailand sudah mengeluarkan larangan dan menerapkan denda untuk siapa yang ketahuan membakar sisa panen sejak 1 Maret sampai 31 Maret, tapi sepertinya orang-orang nekat bakarnya malam-malam sembunyi-sembunyi. Kabarnya juga, asap ini gak sepenuhnya dari kota di utara Thailand, tapi juga sebagian dari negara tetangga di utara Thailand.

Untungnya sudah punya filter udara. Tutup semua pintu dan jendela dan nyalakan semua filter. Supaya efektif, saya usahakan filter bekerja di ruangan yang kecil saja. Jonathan ada ujian taekwondo kemarin, jadi Joe dan Jonathan mau tak mau harus ke mall.

Di mobil, kami juga punya filter udara, dulunya filter udara ini dapat gratis waktu beli filter besar 8 tahun lalu, dan berasa sekali kegunaanya kalau lagi polusi begini. Lokasi taekwondo Jonathan itu di mall, memang mall itu indoor, tapi karena di mall tidak ada filter udara, banyak orang di dalam mall tetap pakai masker penutup hidung.

Mask yang disarankan untuk menghadapi polusi saat ini itu harus yang bisa memfilter PM2.5, jadi bukan sekedar mask biasa. Joe sudah beberapa hari ini pakai setiap jalan ke kantor karena dia sempat batuk parah.

Saya dan anak-anak biasanya cuek, dan akhirnya memutuskan membeli mask untuk Jonathan pakai di mall. Sebenarnya harga mask nya gak mahal, yang Joe beli harganya 150 baht dan cukup bagus, tapi ya makai mask itu tidak nyaman. Jonathan sudah cukup besar untuk diberi pengertian tetap memakai mask walau tidak nyaman, tapi Joshua sampai sekarang gak suka disuruh pakai mask, jadi memang lebih aman untuk di rumah saja.

Seperti kata teman saya, asap ini asalnya pasti karena ada api, walau tidak tau apinya dari mana, saya bersyukur sore hari ini walau belum ada hujan tapi ada angin yang cukup untuk membuat kadar polusi jauh berkurang di bawah 100.

Joshua yang sudah bosan selama berhari-hari gak boleh main di luar rumah, sejak pagi beberapa kali sudah pengen main di luar. Setelah cek kadar polusi pm2.5 hanya sekitar 60, kami pun ijinkan dia main di luar.

belum benar-benar bebas polusi, tapi cukup aman untuk main sebentar di luar

Banyak orang asing di Chiang Mai yang selama ini merasa Chiang Mai sangat menyenangkan, langsung berubah pikiran ingin pindah saja dan kembali ke negerinya masing-masing. Tapi kalau kami sih sejauh ini masih gak merasa kecut dengan polusi begini. Yang penting siapkan perlengkapan menghadapi polusi, toh polusinya gak sepanjang tahun.

Tahun ini, Joshua dan Joe sudah duluan batuk pilek sejak beberapa minggu lalu, saya baru kena minggu ini dan kalau liat di memory facebook saya selalu tumbangnya tanggal segini ini. Tahun ini mudah-mudahan Jonathan tetap sehat, sejauh ini dia yang paling sehat di antara kami ber-4.

Harapannya 2 hari ini merupakan puncak polusi, dan setelah ini hujan turun, atau angin kencang dan polusi segera berlalu. Saya ingat sejak beberapa tahun lalu, menjelang akhir Maret akan ada hujan beberapa hari, dan awal April udara berangsur-angsur semakin bersih dan semua kembali normal.

Tulisan ini juga buat mengingat lagi, tahun-tahun berikutnya sebaiknya tanggal segini pergi liburan dari Chiang Mai mengungsi dari polusi hehehe. Kalau pembaca ada yang niat jalan-jalan ke Chiang Mai juga supaya tahu, jangan datang di musim polusi ke Chiang Mai (sekitar Februari pertengahan sampai awal April).

Joshua dan Angka

Posting ini cuma mau mendokumentasikan beberapa cara Joshua bermain dengan angka, supaya ingat kapan dia semakin mengenal angka. Semua ini mau-maunya dia saja dan gak pernah kami suruh, jadi dia memang kreatif kalau mau belajar sesuatu bisa menemukan caranya sendiri.

Sekarang ini Joshua sudah lancar berhitung sampai beberapa ratus, bahkan menghitung mundur dari 100 kembali ke nol juga dia sering lakukan dengan sabar (saya yang ga sabar nungguin dia ngitung mundur hehehe).

hitung 100 ke 200 pakai punya kakaknya

Oh ya, Joshua paling lancar menghitung dalam bahasa Inggris. Tapi juga dia bisa berhitung sampai 20 dalam bahasa Indonesia dan Thailand. Beberapa waktu lalu dia mulai mempelajari menghitung dalam bahasa Mandarin sampai 10, dan waktu saya belajar angka dalam bahasa Korea, dia juga ikutan menghitung dalam bahasa Korea sampai 20 hehehe.

Selain mainan playdough untuk membuat angka-angka, sekarang ini kalau dikasih ipad ujung-ujungnya juga menulis angka sambil memilih warnanya. Dia akan menuliskan angka, lalu misalnya menyebut five blue. Kalau kita ada disampingnya, kita akan dia tarik untuk ikut menyebutkan five blue.

Kadang-kadang dia sangat rajin, bikin bingkai angka pakai warna hitam, lalu warna tengahnya dia isi warna berbeda. Lalu ya dia minta kita sebut nama angkanya dan warnanya.

Selain menulis angka, dia juga senang mengetik angka. Kalau papanya lagi bekerja dengan laptop, dia akan mengambil alih laptop dan mengetik nomor-nomor.

mengetik angka

Joshua ini memang ada musimnya, sebelumnya musim alphabet, lalu musim berusaha membaca, lalu musim menghapalkan tabel perkalian tanpa mengerti konsep perkalian. Sekarang ini musimnya kembali membentuk angka sambil mempelajari dasar penjumlahan.

Dia suka menjumlahkan dengan jarinya, atau dengan benda-benda yang bisa dia hitung, atau bahkan dengan menggambarkan bulatan-bulatan untuk dihitung di white board.

Saya gak tahu setelah ini musim apalagi untuk Joshua, tapi selama dia mau belajar dengan semangat (tanpa disuruh), saya sih senang karena tandanya dia memang ingin belajar dan mudah-mudahan semangat belajarnya tetap ada sampai besar nantinya.