Bingung Bahasa

Bingung bahasa dalam tulisan ini bukan bingung bahasa yang terjadi pada anak-anak yang besar dengan multi-bahasa. Tapi cerita bagaimana saya bingung bahasa alias lupa sama sekali kosa kata yang harusnya saya sudah tahu hehehe.

Ceritanya sejak tinggal di Thailand, saya belajar bahasa Thailand dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Entah bagaimana, setiap kali menerjemahkan bahasa Thai, saya butuh bepikir dalam bahasa Inggris dulu, lalu kemudian menemukan bahasa Indonesianya.

Terkadang saya butuh untuk menggunakan bahasa Indonesia, Inggris dan Thai sekaligus. Berbeda dengan anak-anak yang bisa switch otomatis, saya sering salah dan keterusan ngomong 1 bahasa tertentu, yang dengar tentu saja jadi bingung hehehe.

Ada satu masa, di mana saya lebih bisa menemukan kosa kata dalam bahasa Thainya daripada menjelaskan bahasa Indonesianya ke Joe. Ada beberapa kata bahasa Thai yang memang tidak bisa diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia. Masalah ini biasanya terjadi karena kosa kata dalam bahasa Indonesianya sudah lama tidak saya gunakan, jadi ya tentunya lupa.

Belakangan saya belajar bahasa Korea dan banyak menonton drama Korea. Sebenarnya kosa kata bahasa Korea saya masih sangat sedikit sekali kalau dibandingkan dengan bahasa Thai.

Seperti halnya belajar bahasa Thai, saya belajar bahasa Korea dengan pengantar bahasa Inggris. Menonton drama korea, saya menggunakan subtitle bahasa Inggris. Demikian juga dengan aplikasi Memrise dan DuoLingo yang saya gunakan untuk belajar bahasa Korea, saya menggunakan bahasa Inggris.

Untuk bahasa Thai, saya sudah bisa bilang level percakapan sehari-hari sudah lumayanlah. Terkadang saya sudah bisa berpikir dalam bahasa Thai juga. Bahasa Korea saya belum bisa dipakai untuk percakapan, buat nonton tanpa subtitle saja masih belum bisa gitu loh.

Kemarin, setelah sekian lama, saya menonton film Thai di Netflix dengan subtitle bahasa Inggris. Untuk menonton film, walaupun saya sudah bisa bahasa Thai, saya masih menggunakan subtitle, karena masih banyak kosa kata gaul dalam bahasa Thai yang saya tidak mengerti, selain terkadang volume suaranya saya pasang pelan jadi ada kata-kata yang tidak terdengar.

Kembali ke cerita nonton film Thai, saya lihat di subtitle ada frasa: “miss you”. Dan saat itu juga entah kenapa yang kepikiran malah bogo sipo alias 보고 싶어, waktu menyadari, saya pikir lah itu mah bahasa Koreanya! Hahahahaha. Ketauan ya genre tontonan drama koreanya.

Terus saya jadi mikir sendiri: eh tunggu dulu, bahasa Thainya “miss you” apa ya? Sampai beberapa menit saya tidak ingat! Bisa saja saya membesarkan volume suaranya dan ulangi beberapa menit terakhir, tapi saya pikir: lah masak itu saja gak ingat sih! Sebelum film berakhir, saya bisa ingat sih akhirnya kalau bahasa Thai nya “miss you” itu khit theung (คิดถึง).

Kalau mau bela diri: emang saya ga pernah memakai kata-kata miss you dalam bahasa Thai, karena belakangan ini saya tidak punya teman Thai yang sering diajak ngobrol. Gak mungkin kan ngomong miss you random ke orang yang baru ketemu hahaha.

Waktu Jonathan masih punya teman playgroup orang Thai, mamanya teman Jonathan jadi teman saya juga, naaah teman saya itu sering tuh ngomong: Risna kemana aja, lama ga kelihatan, kangen deh.

Bahasa itu memang bisa hilang kalau tidak dipakai. Beberapa kosa kata bahasa Thai untuk kegiatan menjahit juga dulu saya banyak tahu waktu masih rajin belajar dengan guru Thai. Belakangan ini setelah 10 tahun berhenti menjahit, saya harus mengingat lagi istilah-istilah menjahit dalam bahasa Thai. Tapi biasanya, kalau kita sudah pernah tahu, kita lebih cepat untuk mengingatnya dan terutama bisa mengerti ketika mendengarnya.

Sepertinya sudah waktunya untuk mulai membuka-buka buku bilingual Thai – Inggris atau menonton film Thai juga. Waktunya untuk mengingat kembali berbagai kosa kata Thai yang pernah dipelajari supaya tidak jadi hilang semuanya.

Investasi Untuk Diri Sendiri

Beberapa hari lalu, saya mencoba untuk menulis blog di handphone (HP) sambil menunggu mobil di bengkel. Hasilnya, saya memang berhasil menulis sampai selesai. Waktu menunggu beberapa jam terasa diisi lebih berguna. Tapi ada perasaan lelah ketika selesai menuliskan posting yang menurut saya tidak terlalu istimewa juga.

Oh ya, tulisan saya hari ini bukan mengenai investasi dalam arti simpan uang hari ini dan nikmati hasilnya kemudian, tapi malahan lebih ke: membeli sesuatu untuk diri sendiri supaya lebih produktif dan nikmati hasil nya kemudian.

Jaman sekarang, hampir semua orang sudah menggunakan smartphone. Banyak yang selalu mengganti hp ketika ada yang lebih baru keluar, banyak juga yang bertahan dengan hp yang ada sampai benar-benar tidak bisa dibenerin lagi.

Dulu saya masih ingat, jaman memakai HP Nokia 3650 yang keypadnya melingkar, dengan koneksi gprs yang tidak bisa dibilang super cepat, saya bersemangat sekali berusaha menulis posting blog dari hp. Tapi kenapa sekarang dengan koneksi internet yang lebih cepat dan keyboard qwerty di hp layar sentuh tidak membuat saya lebih semangat? Jawabannya: karena saya sudah kembali terbiasa mengetik di keyboard komputer.

Handphone sudah menjadi benda yang selalu dibawa kemana-mana. Buat beberapa orang ketinggalan HP sudah seperti ketinggalan dompet atau kunci rumah saja. Dibandingkan membawa laptop, membawa HP tentunya lebih praktis dan ringan. Untuk yang hobi menulis, dan terbiasa menulis kapan saja dan di mana saja, tentunya HP merupakan salah satu benda yang selalu tersedia untuk segera menulis.

Kegiatan mengetik di HP itu bisa dilakukan kapan saja. Kalau kita aktifkan fitur auto complete, kita bahkan bisa menulis jauh lebih cepat. Kalau malas mengetik, bisa juga dengan memanfaatkan voice typing atau menggunakan aplikasi live transcribe.

Buat saya, HP itu lebih untuk komunikasi chat atau membaca saja (selain mengambil foto dan share di media sosial). Belakangan ini saya sudah kembali ke laptop untuk menuliskan apa yang ingin saya ceritakan. Rasanya kecepatan tangan saya mengetik di laptop lebih bisa mengimbangi apa yang ingin saya tuliskan. Pernah juga saya coba menggunakan voice typing, tetap saja rasanya lebih lambat daripada kecepatan mengetik saya.

Saya tidak pernah mengukur kecepatan saya mengetik, tapi untuk menulis blog, kecepatan mengetik di HP jauh lebih lambat daripada kecepatan saya mengetik di laptop. Mengetik di HP untuk isi blog membuat saya frustasi sendiri. Jadi sepertinya saya akan kembali ke laptop saja untuk mengetik/menulis blog dan tidak memaksakan diri mengetik di HP. Saya salut untuk teman-teman saya yang bercerita menulis isi blog sampai buku berawal dari menuliskan di HP nya lalu diedit di PC kemudian.

Hubungannya dengan investasi untuk diri sendiri apa? Nah bagian ini saya teringat dengan apa yang pernah dibilang Joe. Ceritanya Joe ini punya banyak hobi mulai dari bikin program, memeriksa keamanan sebuah aplikasi sampai membongkar aplikasi. Hobinya ini bukan jadi sekedar hobi tapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga.

Kadang-kadang untuk memeriksa keamanan aplikasi itu, butuh sistem yang sudah di jailbreak. Nah, awalnya dia cuma pakai 1 HP, yang bulak balik di jailbreak dan di reset lagi. Terus lama-lama dia merasa buang waktu terlalu lama untuk proses jailbreak dan reset itu, dan memutuskan beli HP 1 lagi. Saya awalnya ngomel-ngomel protes dong, karena saya bilang: buat apa sih punya HP banyak-banyak (emak-emak irit atau pelit emang tipis ya bedanya). Untungnya Joe kasih pengertian ke saya kalau waktu yang terbuang untuk proses jailbreak berkali-kali itu lebih baik dipakai untuk main sama anak. Lagipula beli HP lebih dari 1 itu juga bukan dari anggaran bulanan, tapi sudah jadi modal untuk pekerjaan berikutnya.

Karena Joe bukan cuma omong doang soal waktu digunakan untuk main sama anak dan memang jadi bisa lebih banyak waktu buat main sama anak, sayapun akhirnya menerima. Memang terkadang rasanya sayang beli HP ekstra untuk dipakai testing aplikasi doang, tapi kalau memang itu modal kerja, kenapa tidak? Toh nantinya dengan modal yang dikeluarkan, hasilnya bukan saya menghemat waktu kerja tapi juga bisa digunakan untuk pekerjaan selanjutnya yang artinya penghasilan tambahan. Beli HP ekstra dan mendapatkan penghasilan berlipat dari harga HP? ya baiklah beliin saya juga ya sekalian hahaha.

Terkadang, saya masih agak pelit dengan diri sendiri. Waktu saya mulai mengeluh karena mata saya gak kuat baca tulisan kecil-kecil, Joe menyarankan saya periksa mata dan bikin kacamata. Awalnya, tentu saja saya menolak dan menunda sebisa mungkin. Tapi namanya umur gak bohong ya, kalau mau ngeyel gak pake kacamata ya jangan ngeluh dong soal gak bisa baca tulisan dengan nyaman. Akhirnya saya menyerah dan bikin kacamata deh. Mata juga sesuatu yang sangat berharga, kalau gak dirawat, bisa-bisa kita ga bisa melihat dengan baik lagi.

Selain masalah mata, kesehatan secara umum juga perlu kita prioritaskan untuk kita investasikan. Periksa kesehatan rutin juga perlu dilakukan (ini sih ngomong ke diri sendiri).

Untuk teman-teman yang hobi menulis, investasikan ekstra dengan alat yang paling sering kamu pakai menulis. Kalau memang paling sering menulis di HP, sebaiknya pilih HP yang agak tahan banting. Jangan lupa untuk menyimpan cadangan tulisan di cloud atau sinkronisasi dengan PC. Kalau sampai tulisan hilang karena HP tiba-tiba hang/mati total, aduhai rasanya pasti pengen garuk-garuk dinding kan.

Kalau ada yang punya cerita yang pernah kamu lakukan untuk investasi ke diri sendiri, silakan tuliskan di komentar.

Buku Anak-Anak di iPusnas

Kali ini mau review beberapa buku anak-anak yang pernah dipinjam di iPusnas. Buat yang belum tahu apa itu iPusnas, bisa baca posting saya yang lama di sini. Jonathan memang belum lancar baca bahasa Indonesia, tapi kalau tidak dilatih dari sekarang, kapan lagi belajarnya.

Saya senang sekali menemukan beberapa buku anak-anak di iPusnas ternyata memakai 2 bahasa: Inggris dan Indonesia. Jadi saya berikan tugas ke Jonathan untuk membacanya. Dari setiap buku yang dia baca, saya minta Jonathan menuliskan minimum 10 kata bahasa Indonesia yang dia rasa baru untuknya.

Biasanya, untuk memberikan kenyamanan membaca buku digital, kami membacanya di tablet yang ukurannya cukup besar. Layar handphone tidak cukup besar untuk anak-anak. Jadi kami akan meminjamkan tablet yang tidak terinstal aplikasi sosial media, supaya ketika membaca tidak ada gangguan dari berbagai notifikasi lainnya.

Sejauh ini saya perhatian ada 2 pengarang yang karyanya saya suka dan berikan untuk dibacakan ke anak-anak: Watiek Ideo dan Arleen Amidjaja. Karya-karya mereka selain menggunakan 2 bahasa, ilustrasinya juga bagus dan kosa kata yang digunakan tergolong mudah untuk anak-anak, apalagi yang baru belajar membaca.

Setiap cerita dari karya mereka juga mengajarkan sesuatu ke anak dan ada pesan moralnya. Untuk yang lebih suka membeli buku fisik, beberapa dari buku ini juga memberikan kegiatan untuk dikerjakan anak-anak. Tapi untuk kami yang akses beli buku cuma setahun sekali, meminjam di ipusnas merupakan pilihan yang sangat membantu.

Lanjutkan membaca “Buku Anak-Anak di iPusnas”

Servis Mobil ke Bengkel Resmi

Tulisan ini buat catatan dari pelajaran baru mengenai mobil. Saya tidak mengerti sama sekali mengenai mesin mobil. Kalau ada kerusakan, ya bawa ke ahlinya alias ke bengkel. Bertahun-tahun tinggal di Chiang Mai, saya sangat jarang ke bengkel. Biasanya kalau ke bengkel paling ganti oli atau cek mesin. Lalu kalau ada yang disarankan untuk diganti, asal ada dananya ya diganti saja.

Beberapa tahun pertama di Chiang Mai, kami memakai mobil pinjaman dari kantor Joe. Biasanya saya hanya mendapat instruksi membawa mobil ke bengkel berbahasa Thai kalau mobilnya sudah butuh untuk di servis. Apa saja yang diservis saya tidak pernah bertanya. Kami hanya perlu membayar asuransi tahunan dan mengisi bahan bakarnya.

Pernah juga saya membawa mobil ganti oli ke sebuah bengkel yang banyak cabangnya di seluruh Chiang Mai, lalu ditawari cairan yang katanya bagus untuk mendinginkan mesin dan kita tidak perlu sering-sering memeriksa air radiator. Selama ini saya tahunya diisi air biasa, dan saya tidak pernah memeriksanya karena saya asumsikan ketika mobil saya bawa ke bengkel, mereka akan periksa. Entah kenapa waktu itu saya pikir, baiklah ditambahkan cairan tersebut, toh cairannya tidak mahal. Tak lama kemudian, mobilnya rusak berat dan harus mengganti beberapa part yang berkaitan dengan radiator (saya lupa persisnya karena tidak ingat nama-namanya).

Pelajaran kala itu adalah: jangan percaya dengan rekomendasi sembarang bengkel. Bawa mobil ke bengkel yang selalu sama secara berkala supaya bengkel tersebut punya sejarah perbaikan mobil kita.

Sejak 5 tahun terakhir, kami ganti mobil dan tidak lagi memakai mobil dari kantor Joe. Kami sudah bisa membeli mobil bekas dari sebuah tempat yang direkomendasikan banyak orang. Tempat kami membeli mobil tersebut juga memberi jaminan servis selama setahun pertama (mereka ada bengkelnya juga). Salah satu alasan kami membeli mobil di situ, selain karena direkomendasikan banyak orang, mereka bisa berbahasa Inggris.

Dengan jaminan jasa perbaikan setahun pertama, dan mereka bisa bahasa Inggris, saya tetap tidak belajar mengenai mobil. Setiap kali butuh ganti oli mesin atau ada keluhan, ya kami juga langsung bawa mobil ke bengkel tersebut.

Kami bahkan tidak terpikir untuk membawa ke bengkel resmi, karena biasanya di bengkel resmi biasanya menggunakan bahasa Thai. Walaupun sudah bisa cukup banyak berkomunikasi dalam bahasa Thai, saya masih merasa tidak bisa mengkomunikasikan hal-hal berkaitan dengan mobil. Jangankan dalam bahasa Thai, dalam bahasa Indonesia saja saya belum tentu bisa mengerti istilah-istilah mobil hehehe.

Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya saya memutuskan untuk mencoba bengkel resmi lagi. Selain karena lebih dekat dari rumah, estimasi biaya untuk kebutuhan ganti AC mobil saat itu lebih murah. Bengkel sebelumnya memberi harga lebih mahal sekitar 2500 baht dan itupun katanya tidak punya suku cadang asli.

Hari Kamis lalu, ketika mobil sudah waktunya untuk ganti oli, saya memutuskan untuk ganti oli ke bengkel resmi saja. Ada beberapa keluhan juga mengenai mobil kami belakangan ini. Misalnya pengalaman ketika mesin mobil mati tiba-tiba dan juga di musim dingin kemarin mobilnya sering susah starter walaupun mesin mobil sudah dipanaskan.

Jadi selain ganti oli, saya meminta bengkel resmi untuk memeriksa sistem auto-starter di mobil kami. Oh ya, mobil kami ini jenis otomatis dan untuk menghemat bensin akan mati sendiri ketika kita menginjak rem agak lama, dan ketika kita angkat kaki dari rem biasanya akan menyala lagi. Tapi sejak pengalaman mobil gak nyala lagi ditengah jalan, kami sering nonaktifkan auto-off nya. Efeknya, terkadang setelah kita rem mobil, waktu mulai jalan mobilnya seperti gak punya tenaga dan mesin seperti mau mati.

Setelah diperiksa, kesimpulannya adalah: batere mobil kami cca-nya tidak sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan mobil. Jadi katanya mobil kami butuh batere dengan 600 cca, sedangkan baterai yang dipasang hanya 550 cca. Solusinya tentu saja harus mengganti baterai mobil supaya masalah kekurangan tenaga tidak terjadi lagi.

Bengkel resmi menanyakan: apakah kami mengganti baterai di bengkel lain? Umm…yaa…tentunya, tapi saya pikir, bengkel lain yang kami pakai itu tahu apa yang mereka lakukan, bukan sekedar bengkel asal-asal. Baterai mobil kami sebenarnya baru diganti bulan Juni 2019 yang lalu, biasanya baterai mobil bisa dipakai 2 sampai 3 tahun. Dan sekarang, belum setahun saya harus ganti baterai mobil lagi?

Walaupun dengan berat hati, akhirnya kami memutuskan ganti baterai lagi. Saya tanyakan: ada jaminan gak kalau mobilnya gak akan mengalami masalah yang sama? Nah seperti halnya dengan penggantian AC, mereka juga memberi jaminan garansi 20000 km atau 1 tahun sejak datang ke bengkel. Karena ada jaminan, saya jadi lebih tenang hati.

Pelajaran ke bengkel kali ini adalah: lebih baik ke bengkel resmi, mereka tahu apa yang mereka lakukan dan ada garansinya. Masalah bahasa ternyata sudah bisa saya atasi, asalkan saya bisa menjelaskan dengan pelan-pelan kosa kata saya sudah bisa dimengerti oleh mereka hehehe.

Lagipula untuk bengkel resmi, setiap kali mereka melakukan sesuatu, mereka akan mengkonfirmasi harganya terlebih dahulu ke kita. Kekurangannya memang semua keterangan dalam tanda terima dalam bahasa Thai. Jadi saya harus membuat catatan sendiri apa saja yang dilakukan setiap ke bengkel.

Semoga setelah ini tidak ada lagi kejadian yang butuh ke bengkel. Kalau pembaca punya pengalaman apa dengan bengkel mobil?

Ngobrolin TV Series: Grey’s Anatomy

Siapa yang masih mengikuti serial Grey’s Anatomy yang sekarang sudah sampai ke Season 16 episode 16? Sepertinya tidak banyak yang mengikuti lagi sejak beberapa pemeran awal mulai berkurang.

Pemeran awal serial Grey’s Anatomy (sumber: American Broadcasting Company, 2005)

Episode pertama serial ini ditayangkan bulan Maret 2005, dan sekarang sudah Maret 2020. Dalam kurun waktu 15 tahun, pemerannya saja sudah bertambah umur 15 tahun dan memiliki keluarga dan anak-anak.

Saya mengikuti serial ini tidak dari awal. Pertama mengikuti karena rekomendasi dari seorang teman. Saya lupa persisnya mulai dari kapan. Saya sempat menonton sekaligus beberapa season awal dan setelahnya mengikuti setiap ada episode baru.

Lanjutkan membaca “Ngobrolin TV Series: Grey’s Anatomy”

Bunga di Tepi Jalan

Saya senang sekali, pemandangan setiap pagi saat nyetir itu seperti ini.

bunga kuning bermekaran di kiri dan kanan jalan

Setiap akhir musim dingin dan awal musim panas seperti sekarang, jalan Chiang Mai Hang Dong dan jalan menuju Royal Flora Rajapreuk selalu tampak indah dengan pohon yang daunnya hampir tidak ada dan digantikan dengan bunga kuning bermekaran.

sebagian bunga sudah rontok ke jalan

Melihat keindahan sepanjang jalan, saya terpikir dengan frasa: dari mata turun ke hati. Keindahan kiri dan kanan jalan, membuat hati rasanya senang juga. Setiap pagi hari, melewati jalan ini menjadi penyemangat memulai aktivitas hari.

Lanjutkan membaca “Bunga di Tepi Jalan”

Pedagang Asongan di Chiang Mai

Sejak tahun 2007, salah satu kesan yang paling terasa di kota Chiang Mai adalah tidak macet, lalulintas yang tertib dan tidak ada pengamen ataupun pedagang asongan di lampu merah.

pedagang asongan di lampu merah berjualan jus jeruk

Saya ingat, ketika meninggalkan Bandung, kondisi pedagang asongan ada hampir di setiap lampu merah. Kadang-kadang pedagang asongan ini membantu terutama kalau misalnya sedang haus dan tidak bawa minuman atau kertas tissue.

Lanjutkan membaca “Pedagang Asongan di Chiang Mai”