Plus Minus selama Tinggal di Chiang Mai (12 tahun)

Tanggal 4 Mei 12 tahun yang lalu, saya dan Joe untuk pertama kalinya sampai di Chiang Mai. Kota terbesar di utara Thailand yang memiliki 3 musim dan pernah menjadi tempat berlangsungnya acara Sea Games di tahun 1995. Karena setiap tahun akhirnya menuliskan hal yang serupa, kali ini saya akan coba menuliskannya dalam format yang agak berbeda. Saya akan mencoba menuliskan plus minus atau suka duka selama 12 tahun di sini.

Mari kita mulai dengan hal-hal yang menyenangkan alias plus nya tinggal di sini:

  • Makanannya enak-enak dan mirip dengan masakan Indonesia, harganya dulu sih sama dengan Indonesia, sekarang terasa lebih murah karena pas pulang ke Indonesia kalau makan di luar berasa lebih mahal.
  • Kemana-mana dekat, ke mall bisa cuma beberapa jam saja dan gak pake macet di jalan.
  • Banyak tempat buat anak-anak main yang gratisan dan kalau bayar juga gak terlalu mahal
  • Banyak komunitas orang asingnya yang sangat membantu terutama ketika masa baru awal sampai dan juga waktu baru punya anak
  • Ada komunitas homeschooling berbahasa Inggris ataupun Thai, tinggal pilih saja
  • Internet kencang dan terjangkau harganya
  • Orang yang merokok relatif sedikit, minimal di tempat umum jarang deh berasa asap rokok.
  • Ada musim dingin yang adem dan menyenangkan buat jalan-jalan dengan keluarga
  • Nilai tukar baht cukup stabil terhadap dollar, selama 12 tahun tidak ada kenaikan harga yang terasa banget.
  • Datang berdua sekarang sudah berempat :D, pengalaman hamil dan melahirkan di Chiang Mai, dokter dan rumahsakitnya cukup bagus dan mendukung untung memberikan ASI eksklusif. Suster di rumah sakitnya juga ramah dan baik hati semua walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas tapi hatinya tulus membantu.
  • Dokter gigi di sini bisa ga pake nunggu lama, jadi bisa bikin janji dan datang sesuai dengan jam yang dijanjikan.
  • Banyak dokter di sini bisa berbahasa Inggris, jadi untuk berbagai masalah kesehatan gak usah jadi frustasi karena bingung bahasa, beberapa rumah sakit malah menyiapkan jasa translator untuk pasien dari negara yang tidak berbahasa Inggris.
  • Orang Thai baik hati dan ramah
  • Buah-buahannya enak kalau lagi musim berbuah harganya juga murah
  • Merasa lebih aman daripada di Indonesia, kalaupun kelupaan kunci pintu gak usah kuatir bakal ada maling.
  • Jarang ada pemadaman listrik, kalaupun ada selalu ada pemberitahuan terlebih dahulu. Atau kalaupun terjadi karena hujan badai, paling lama pernah pemadaman itu sekitar 2 jam.
  • Bahasanya strukturnya mirip bahasa Indonesia, jadi lebih mudah mempelajarinya (yang sedikit susah belajar naik turun suaranya aja).

Pantesan aja betah ya tinggal di sini, soalnya banyak plusnya. Nah tapi sebenarnya mana ada sih tempat yang benar-benar sempurna. Pasti adalah kurang-kurangnya dikit, asal gak lebih banyak dari plusnya aja ya.

Berikut ini hal-hal yang bikin tinggal di Chiang Mai jadi kurang nyaman:

  • Ada musim polusi selama bulan Maret sampai pertengahan April. Polusi udara ini benar-benar hal paling gak enak dari kota ini, tapi ya masih bisa diakalin sih dengan filter udara dan mempersedikit pergi selama sebulan dalam setahun. Tahun ini polusinya agak lebih parah dan bertahan sampai awal Mei.
  • Musim panasnya lumayan dashyat, bisa sampai 44 derajat celcius, panas gabung ama polusi bikin malas keluar rumah. Kalau di rumah minimal bisa ngadem pake AC dan pasang filter udara.
  • Belum ada direct flight ke Indonesia, jadi untuk perjalan mudik butuh 1 hari pergi dan 1 hari pulang karena selalu ada transit dulu beberapa jam.
  • Harus ke imigrasi urus visa tinggal tiap tahun, dan lapor diri setiap 90 hari kalau gak keluar dari Thailand. Sekarang sebenarnya hal ini udah mulai gak jadi masalah, karena urusan imigrasi sudah semakin cepat prosesnya dibandingkan 12 tahun lalu.
  • Angkutan umumnya terbatas dan belum cover semua rute, jadi punya kenderaan pribadi itu wajib untuk kemudahan kemana-mana. Sekarang ini angkutan umum sudah lebih banyak daripada 12 tahun lalu, tapi ya tentunya lebih cepat bepergian kalau punya transportasi sendiri, apalagi kalau bawa anak kecil.
  • Gak bisa beli tanah/rumah sebagai orang asing di Thailand (banyak kok pilihan rumah kontrakan dengan range harga terjangkau).
  • Gak ada yang jual indomie kari ayam dan ceres (ini sih emang harus nyetok hahaha).

Udah itu aja, gak nemu lagi apa minusnya tinggal di sini. Semua minusnya juga masih bisa ditolerir makanya masih betah sampai sekarang di sini hehehe.

Pertanyaan yang selalu saya tanyakan setiap tahun: mau sampai kapan di Chiang Mai? Selama masih memungkinkan, masih betah di sini. Gimana dengan kemajuan pelajaran bahasa Thai? Udahlah, udah bisa ngobrol dan baca secukupnya hehehhe. Masih pengen bisa berbahasa Thai yang fasih seperti berbicara, membaca dan menulis bahasa Indonesia sih, tapi ya belum ada kebutuhan untuk benar-benar fasih berbahasa Thailand, jadilah kemampuan berbahasa Thai nya jalan di tempat. Tetap optimis semoga tahun berikutnya bisa lebih fasih lagi baca tulis dan ngobrol bahasa Thai nya biar makin betah di sini hehehhe.

Pengenalan Geometri: Pattern Blocks dan Tangram

Ada banyak permainan anak-anak yang mengajarkan anak untuk mengenal bentuk dan menyusun gabungan bentuk yang ada menyerupai bentuk lain yang lebih besar. Permainan ini sebenarnya secara tidak langsung merupakan pengenalan geometri 2 dimensi kepada anak-anak. Ada 2 mainan yang belakangan ini sedang disukai Joshua, yaitu pattern block dan tangram.

Sebelum kenal tangram, Joshua sudah mengenal menyusun puzzle pattern block dan puzzle magnet kayu yang dibeli sejak jaman Jonathan kecil. Pattern block ini ada banyak kepingan dengan berbagai bentuk. Pattern block pertama yang dia mainkan ada 6 bentuk dengan 6 warna, bentuk segitiga hijau, bujursangkar oranye, jajaran genjang berwarna biru, belah ketupat berwarna coklat muda, trapesium merah dah heksagon kuning.

Cara bermain pattern block ini biasanya anak diminta untuk meletakkan kepingan yang sesuai dengan cetakannya. Dulu saya rajin mencari template dari internet, print dan laminating. Karena bentuk dan warna yang menarik, anak-anak senang menyusun kepingan block yang ada di atas cetakan. Permainan ini membutuhkan banyak kepingan bentuk, dan biasanya jadi pekerjaan ektra untuk membereskannya hehehehe.

sumber: https://www.prekinders.com/pattern-blocks/

Selain mainan pattern block ini, kami juga punya mainan varian pattern block bentuknya berbeda. Mainan ini juga dari bentuk lingkaran, setengah lingkaran, persegi panjang, busur dan segitiga. Bedanya, mainan ini dalam kotak kayu dan bermagnet. Biasanya diberikan kartu berupa gambar yang bisa diikuti anak-anak untuk membentuk gambar besarnya. Joshua sudah menyukai mainan ini sejak dia masih belum berumur 3 tahun. Kalau dulu mainnya belum terlalu bisa mengikuti kartu yang ada, sekarang dia mulai suka mengikuti contoh yang ada.

Belakangan ini, Joshua tertarik dengan Tangram. Awalnya dia kenal tangram dari permainan OSMO Tangram. Tanpa diajarin, dia bisa mengikuti apa yang harus dilakukan dengan aplikasi OSMO Tangram. Dia bisa bermain cukup lama mengikuti berbagai bentuk mulai dari yang sederhana yang tidak menggunakan semua kepingan, sampai ke bentuk yang menggunakan 7 kepingan tangram.

OSMO Tangram ini memberi petunjuk di awal mulai dengan warna apa, dan diletakkan di sebelah mana kepingan warna lain. Kalau misalnya Joshua salah meletakkan dan harus membalik kepingan, aplikasi OSMO nya juga memberi tahu. Bisa dilihat sekilas OSMO Tangram di video YouTube berikut:

Tangram (Hanzi: 七巧板; Pinyinqīqiǎobǎn; harfiah: ‘tujuh papan ketrampilan’) adalah sebuah permainan teka-teki transformasi yang terdiri dari tujuh keping potongan, disebut tans, yang disatukan untuk membentuk pola. Tujuan dari permainan ini adalah untuk membentuk pola tertentu (hanya diberi garis bentuk atau siluet) menggunakan ketujuh potongan, yang mungkin tidak tumpang tindih. Permainan ini dianggap telah diciptakan di Tiongkok semasa Dinasti Song, dan kemudian di bawa ke Eropa oleh kapal dagang pada awal abad ke-19. Ia menjadi sangat populer di Eropa saat itu untuk sementara waktu, dan kemudian populer lagi semasa Perang Dunia I. Permainan ini merupakan salah satu permainan teka-teki transformasi yang paling populer di dunia. Seorang psikolog Tiogkok menyebut tangram sebagai “tes psikologi paling awal di dunia”, walaupun orang membuatnya untuk hiburan dan bukan untuk analisis.

Wikipedia: Tangram

Kemarin, dia menemukan mainan tangram baru yang bisa membentuk angka dan huruf selain bentuk-bentuk yang selama ini dia cobakan di OSMO. Dia mengikuti petunjuk menyusun tangram yang terdiri dari 7 kepingan bentuk menjadi bentuk huruf dan angka sesuai dengan contoh yang diberikan. Dan dia mulai berusaha mengingat menyusun kepingan tangram menjadi angka dan huruf tanpa melihat kartunya.

membentuk huruf E

Kelebihan dari puzzle tangram ini dibandingkan dengan puzzle bentuk yang dia mainkan sebelumnya adalah, kepingannya hanya ada 7. Membereskan 7 keping mainan tentunya jauh lebih gampang dibandingkan membereskan banyak kepingan mainan. Dari 7 keping ini bisa menjadi berbagai bentuk. Favorit Joshua tentunya membentuk huruf dan angka.

Sambil bermain Joshua juga seperti presenter yang menyebutkan apa bentuk dan warna yang dia pegang. Lalu juga menyebutkan di sisi mana dia harus letakkan warna yang lain. Lalu setelah selesai dia akan memberi tahu ke saya atau papanya sambil berkata: look, this is A. Sayangnya, kalau divideokan dia malah jadi diam, jadi saya tidak bisa menunjukkan video dia sedang bermain tangram.

Mana yang lebih baik, main OSMO Tangram atau Tangram biasa? Untuk tahap awal, main OSMO Tangram (dimana displaynya ada di iPad) dengan petunjuk apa yang harus dilakukan jika kita salah meletakkan kepingan, cukup membantu dia belajar bermain Tangram. Gambar yang ada dalam aplikasi juga membuat lebih sedikit lagi hal yang harus di bereskan. Sisi negatifnya, ya OSMO Tangram tetap saja membutuhkan iPad, kadang-kadang anak bisa terdistract dan malah jadi main yang lain dan bukan OSMO Tangram lagi.

Template yang bisa ditiru dengan tangram ini juga ada banyak di internet. Banyak juga yang menjual kepingan tangramnya tanpa kartu-kartu, tapi anehnya gambaran yang diberikan untuk ditiru kadang-kadang warnanya tidak sama dengan warna kepingannya dan ini bisa membingungkan untuk anak yang baru belajar tangram. Joshua tapi sudah bisa mengikuti walaupun contoh yang diberikan warnanya tidak sama dengan kepingannya.

menyusun angka 1 tanpa kartu contoh

Bermain tangram dan pattern block ini salah satu bentuk bermain sambil belajar, pelajaran yang didapatkan antara lain:

  • kesempatan untuk mengenalkan bentuk (segitiga, bujursangkar, belah ketupat, heksagon, jajaran genjang, dan lain-lain)
  • belajar warna (setiap keping biasanya punya warna yang berbeda)
  • melatih kemampuan spasial, mereka bisa mengerti hubungan bentuk yang satu dengan yang lain dan membaliknya jika dibutuhkan
  • membantu anak melihat gambaran besar dari bentuk-bentuk yang disusun, terutama untuk anak yang belajar secara visual.
  • bisa digunakan untuk mengenalkan kongruensi, kesamaan dan juga simetri.
  • dan tentunya seperti kegunaan bermain puzzle lainnya, bermain ini bisa membantu melatih kemampuan problem solving pada anak.

Kalau lagi kehabisan ide mau ajak anak main, bisa dicoba dibikin mainan Tangram ini. Saya yakin ada banyak template untuk membentuk kepingan tangram selain template bentuk-bentuk yang ingin disusun dari tangram ini.

Memanfaatkan Waktu untuk Keluarga

Dua hari lalu kami mendapat pengumuman kalau hari ini akan ada pemadaman listrik dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore karena ada kabel yang akan diganti. Seluruh komplek rumah akan terkena pemadaman karena yang diganti itu letaknya persis di depan komplek. Kantor Joe yang juga berada dalam komplek yang sama, jadi diliburkan juga. Berhubung kalau di rumah tanpa listrik sama dengan kepanasan karena gak bisa nyalain AC, kami merencanakan untuk keluar rumah saja ngadem.

Pagi-pagi kami sudah bersiap bangun lebih awal, mandi dan sarapan. Setelah jam 8 kami sudah siap untuk keluar rumah. Ada beberapa pilihan untuk jalan-jalan hari ini. Ke taman, ke kebun binatang atau ke mall. Tapi mall baru buka jam 11 pagi, jadi ya gak bisa juga dong kepagian ke mall hehehe. Akhirnya setelah nanya ke anak-anak maunya ke mana, kami putuskan ke taman saja.

Karena listrik belum padam, kami santai dulu di rumah. Jam 9 lewat sedikit listriknya baru padam. Waktu kami keluar dari komplek, ternyata ada antrian mobil keluar dari komplek. Hampir semua penghuni baru memutuskan keluar komplek setelah listrik padam, padahal pengerjaanya membutuhkan mobil besar yang menghalangi jalan masuk dan keluar dari komplek. Untungnya kami menunggunya tidak terlalu lama. Sekitar 5 menit kami bisa keluar dari komplek.

Di taman, tidak terlalu banyak orang, matahari juga sudah terasa menyengat. Untungnya ada banyak bagian yang cukup teduh oleh pohon-pohon. Setelah bermain sekitar 30 menit di playground, anak-anak mulai kepanasan. Akhirnya kami ngadem di coffeeshop yang juga menjual eskrim di dalam taman.

Setelah es krim habis, kami putuskan masih ada waktu buat ke mall. Mall nya juga cukup dekat dari taman. Belum jam 11 kami sudah tiba di mall. Karena mall baru buka jam 11, kami harus menunggu mall buka dulu baru boleh masuk ke dalam. Untungnya mereka buka beberapa menit sebelum jam 11.

Karena belum lapar, kami memutuskan untuk duduk-duduk dulu menunggu Joshua main. Eh tau-tau dia kabur, dikirain dia kabur ke tempat main lego seperti biasa, ternyata dia kabur ke toko yang menjual mainan. Dia ambil 1 mainan dan kabur dari toko itu. Si penjaga toko sepertinya berusaha mencegah Joshua, tapi Joshua terlalu cepat. Sempat agak panik karena bapaknya yang mengejar Joshua gak melihat dia di tempat lego, baru kemudian kami melihat dia ternyata juga sedang mencari kami untuk minta dibeliin mainan tangram.

Mbak-mbak penjaga tokonya sepertinya agak kesal, walaupun saya sudah minta maaf. Setelah saya bilang saya akan bayar mainan yang diambil Joshua, baru dia agak relaks. Mainannya masih utuh dalam kotak. Ya memang salah kami juga, karena tadinya kami pikir Joshua akan pergi langsung ke tempat main lego, waktu dia kabur duluan kami gak langsung kejar. Baru sekali ini Joshua main ambil mainan begitu. Saya kasih tau Joshua lain kali gak boleh ambil begitu saja, tapi harus bayar dulu baru boleh diambil. Pelajaran buat kami juga, gak boleh biarin Joshua jalan duluan. Untungnya mall nya masih sangat sepi, jadi bisa dilihat kalau dia belok ke tempat yang tidak biasanya.

Membelikan mainan buat Joshua itu tidak pernah mengecewakan. Dia langsung bermain dengan rajinnya. Waktu kami makan dia juga tetap meneruskan main tangram. Besok saya akan tulisan cerita tentang mainan tangram ini. Saya mengerti kenapa Joshua tertarik dengan tangram ini. Selain dia sudah kenal dengan tangram di OSMO, mainan ini memberikan kartu untuk membentuk angka dan huruf dan aneka bentuk lainnya dengan tangram. Ada total 50 hal yang bisa dibentuk dengan tangram. Joshua langsung memulai dengan huruf A, lalu setelah huruf K dia berubah pikiran untuk membentuk angka 1.

Sekitar jam 12, kami memutuskan untuk makan. Selesai makan, saya telpon tetangga saya dan ternyata pekerjaan ganti kabelnya sudah selesai dan listrik sudah menyala seperti semula. Kami memutuskan pulang supaya anak-anak bisa tidur siang. Hari ini Jonathan diliburkan dari mengerjakan buku homeschool, tapi mendapat kesempatan untuk bermain di taman dan mall.

Senangnya hari ini pemadaman listrik tidak berlangsung lama seperti pengumuman. Karena pemadaman listrik, kami jadi bisa punya waktu keluarga di hari Jumat selain Sabtu dan Minggu hehehe. Punya nomor telepon tetangga itu penting, supaya tahu kabar kalau ada pemadaman seperti ini, dan tentunya kalau ada pemadaman yang sudah didahului pengumuman begini, tidak usah merasa kesal atau sebal, kesempatan untuk meliburkan diri dari kegiatan rutin dan jalan-jalan di luar dengan anak. Gak harus yang jauh dari rumah, karena toh terkadang pemadamannya selesai lebih cepat dari jadwal semula. Senang bisa memanfaatkan waktu yang hanya beberapa jam menjadi waktu keluarga. Mati lampu, gak harus mati gaya di rumah hehehe.

Lagu-lagu Badanamu

Pertama kali saya tahu mengenai Badanamu ini, saya hanya tahu lagu-lagu dari YouTubenya saja. Karakter animasi Bada merupakan tokoh seperti bear yang berbulu putih tebal dan ekor yang sangat pendek. Konon setelah baca-baca tokoh Bada ini animasi dari seekor anjing pomeranian. Karakter Bada ini punya banyak teman-teman seperti Mimi, Abby, Punk, Curly, dan Jess.

Gambar dari pinterest: https://www.pinterest.com/badanamu/badanamu-friends/?lp=true

Niat menuliskan mengenai Badanamu ini sudah dari dulu, tapi sudah beberapa kali saya tunda, karena ternyata Badanamu ini bukan cuma lagu saya tapi merupakan sebuah program edukasi lengkap dan bahkan menjual buku juga selain lagu-lagu yang ada di YouTube. Saya kaget juga membaca kalau mereka kantor utamanya ada di Seoul, USA dan China. Saya pikir wah bisa buat belajar bahasa Korea juga, eh tapi ternyata fokus mereka mengajarkan dalam bahasa Inggris saja. Karena saya belum jadi juga mencoba aplikasi ataupun menjadi member dari Badanamu Club, saya tidak bisa bercerita banyak mengenai program lengkap mereka. Sekarang ini saya akan menuliskan kenapa kami menyukai lagu-lagu dari Badanamu (apalagi sekarang bisa dengar di Apple Music juga).

Kami ketemu lagu-lagu Badanamu ini secara gak sengaja. Sejak Joshua suka mendengar berbagai lagu ABC, phonics dan counting, kadang-kadang dia suka menunjuk ke lagu yang direkomendasikan oleh YouTube. Begitu mendengarkan lagu-lagunya, saya langsung suka. Ada beberapa alasan kenapa saya jadi suka dengan lagu Badanamu ini.

  • karakternya lucu dan menggemaskan
  • musicnya enak didengar dan bikin bersemangat
  • liriknya (ini penting) juga cukup banyak mengajarkan hal positif untuk anak-anak
  • ada program phonics juga, mengenalkan bunyi setiap huruf dalam alphabet
  • ada program membaca juga, dan sepertinya ini salah satu yang bikin Joshua bisa cepat membaca
  • ada program mengenalkan emosi juga
  • ada nursery rhymes juga

Bukan cuma Joshua, saya dan Joe juga suka mendengarkan lagu-lagu dari Badanamu ini. Bahkan kalau pagi-pagi, saya pasang lagu ini buat memberi semangat menyiapkan sarapan pagi.

Coba dengarkan lagu ini:

Rise and Shine

Liriknya sebagai berikut:

Rise and Shine
CHORUS
Wake up now.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day! (x2)
VERSE 1
If you make your bed and brush your teeth.
Fold your clothes nice and neat.
Eat your breakfast, eat your greens.
Your momma won’t complain about a thing.
CHORUS
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.
Rise and shine.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day!
VERSE 2
If you comb your hair, rinse your face.
Scrub your toes and wash your feet.
Take a shower and soap with suds.
Your momma will give you so much love.
CHORUS
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.
Wake up now.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day! (x2)
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.

Rise and Shine, Badanamu

Jonathan aja kalau bangun pagi malas-malasan di kasih lagu ini langsung jadi semangat hehehe. Joshua sih dikasih lagu apa aja bakal semangat. Dan kalau dilihat dari liriknya, ini seperti versi lain dari lagu bangun tidur ku terus mandi jaman saya masih kecil hehhee. Ada bagian merapihkan tempat tidur juga dan ya abis itu semua baru deh main.

Lagu berikutnya yang saya juga sekarang pakai untuk mengajarkan Joshua sikat gigi, cuci muka dan sisiran judulnya Brush brush brush.

Brush brush brush

Lirik lagunya:

VERSE 1
I wanna be clean,
So I brush my teeth.
Up and down,
And underneath.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I brush my teeth
Because it’s good for me.
Good for me!
Brush brush brush! X 4
VERSE 2
I wanna be clean,
So I wash my face.
Up and down,
And all over the place.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I wash my face
Because it’s good for me.
Good for me!
Wash wash wash! X 4
VERSE 3
I wanna be clean,
So I brush my hair.
Side to side,
And up in the air.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I brush my hair
Because it’s good for me.
Good for me!
Brush brush brush! X 4

Brush brush brush, Badanamu

Joshua sampai sekarang masih suka males kalau diajarin sikat gigi, tapi kalau saya kasih sikat gigi sambil nyanyiin lirik lagu ini, dia jadi mau disikat giginya. Setelah sikat gigi setelah itu cuci muka. Selesai mandi nyanyiin bagian sisir rambut. Semua dalam 1 lagu hehehe.

Nah ini lagu berikut (yang terakhir akan saya share di sini), lagu tentang semua adalah pemenang.

Everyone is a Winner

1, 2, 3, 4, whoa, here we go
It’s time to play
Time to play
1, 2, 3, 4, whoa, here we go
It’s time to play
Time to play the games
CHORUS
And everyone is a winner
Even if you lose sometimes
So let’s try our best to deliver
Let’s have the time of our lives
The first game up
To try to win the cup
Is a three-legged race
So try to stay up
But if you fall, I will pick you up
And carry you across the goal line
(CHORUS)

The second game up
To try to win the cup
Is a tug-of-war
So don’t give up
But if you fail, don’t get upset
I will help you on your feet again
(CHORUS) x2

Everyone is a Winner, Badanamu

Bagus-bagus kan liriknya, ini lagu bukan cuma buat anak kecil, tapi ya buat orang dewasa juga rasanya masih enak buat didengar. Bahkan kadang-kadang kata Joe, beat nya lagu Badanamu ada juga yang seperti lagu party (padahal gak pernah tuh pergi ke party yang pake lagu-lagu disko hahaha).

Lagu-lagu Badanamu di Apple Music

Sekarang ini, lagu-lagu Badanamu jadi lagu yang hampir setiap hari kami dengarkan dari Apple Music. Lagu-lagu Project Pop dan Korean minggir dulu deh ya hehehe. Kami senang menemukan ini dalam bentuk musicnya saja karena artinya bisa diperdengarkan tanpa menambah screentime ke anak-anak.

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Badanamu ini bukan hanya lagu saja, di YouTube channelnya juga bisa dilihat ada pelajaran menggambar karakter yang ada dalam Badanamu. Kalau dari websitenya saya lihat mereka juga ada app nya. Kalau gak ingat ongkos kirim, saya tertarik beli buku-bukunya juga hahaha. Tapi untuk sekarang sepertinya cukup lagu-lagu di Apple Music dan YouTube saja. Kalau suatu hari kami memutuskan untuk mencoba appsnya pasti akan saya tulis reviewnya.

Buku: Aku Belajar Tapi Gak Sekolah

Buku karya anak-anak yang belajar di rumah

Beberapa waktu lalu, seorang teman di FB membagikan informasi mengenai buku ini. Sebagai keluarga yang juga memilih jalan sekolah di rumah ini, saya langsung tertarik untuk membacanya, apalagi karena buku ini ditulis bukan oleh orangtuanya, tapi oleh anak yang menjalani kehidupan bersekolah di rumah. Buku ini ditulis oleh 20 anak berusia antara 10 – 17 tahun yang bergabung dalam sebuah komunitas homeschool, dibimbing oleh 3 orang mentor yang menghomeschool anak-anaknya selain juga berkarya di bidangnya. Buku ini juga menjadi salah satu hasil karya belajar menulis yang merupakan kegiatan homeschool mereka di komunitas homeschool Klub Oase.

Komunitas untuk keluarga yang bersekolah di rumah ini sangat dibutuhkan, bukan saja untuk anak bersosialisasi, tapi juga untuk orangtua bertukar ide dan pengalaman. Tahun lalu saya sempat bergabung dengan komunitas lokal di sini, tapi komunitasnya terlalu besar dan akhirnya saya merasa terlalu melelahkan. Tahun ini saya memilih komunitas yang lebih kecil di mana anak-anak bertemu sekali seminggu dengan kegiatan bermain dan belajar bersama.

Buku ini cukup tebal, lebih dari 300 halaman. Tapi karena ceritanya tidak bersambung kita bisa memilih mau baca cerita siapa terlebih dahulu dengan memilih dari daftar isinya.

Tulisannya dikelompokkan menjadi 5 kategori. Mulai cerita awal perjalanan memilih homeschool, bagaimana kegiatan sehari-hari anak homeschool, bagaimana mereka bersosialisasi, apa saja naik turunnya kegiatan homeschoolers dan apa yang menjadi cita-cita mereka.

Sebagai orang yang menghomeschool anaknya, saya bisa mengerti apa yang dirasakan anak-anak itu. Bagian awal mula homeschool itu ada yang menjadi keputusan orangtua, dan tidak sedikit juga menjadi keputusan anak itu sendiri. Tapi siapapun yang memutuskan dan apapun alasan mulainya, dari cerita mereka saya bisa melihat mereka semua merasa bersyukur belajar di rumah. Mereka juga menjadi anak-anak yang bisa belajar mandiri dan belajar bertanggung jawab mulai dari perencanaan kegiatan mingguan, menetapkan target dan sampai pelaksanaanya termasuk aktif dalam kegiatan-kegiatan pameran hasil karya.

Setiap keluarga punya alasan dan inginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Di dalam buku ini saya lihat banyak anak yang memutuskan/meminta untuk dihomeschool karena merasa beban berat di sekolah, dan juga tidak lepas dari adanya bullying. Saya sendiri tidak pernah dibully waktu sekolah, tapi jangan-jangan tanpa sadar saya yang membully teman saya, karena saya ingat waktu saya SD ada teman yang membagi uang jajannya ke saya tanpa saya minta supaya dia bisa nyontek PR saya (waktu itu saya kelas 1 SD dan ya belum mengerti kalau sebaiknya saya tidak menerima uang dari teman dan tidak memberi contekan PR).

Sedikit hal yang mengganggu dalam buku ini. Saya kadang bingung ketika anak yang sama menulis tentang hal yang berbeda. Di satu bagian dia bercerita sedang persiapan ujian masuk universitas tertentu, di bagian lain dia bercerita kalau dia sudah melupakan target masuk universitas yang itu. Mungkin ada baiknya juga kalau ceritanya dikelompokkan berdasarkan anaknya. Jadi misalnya si A bercerita mulai dari awal dia homeschooling bagaimana, lalu bagaimana kegiatan hariannya, bagaimana dia bersosialisasi, bagaimana roller coaster yang dia hadapi dan apa harapan dia 20 tahun mendatang. Jadi pembaca bisa lebih dapat gambaran misal si A ini hobinya menggambar dan berapa banyak sehari dia menggambar dan apakah 20 tahun ke depan dia berharap berkarya dari gambarnya atau mau kuliah lalu menjadi pengajar gambar.

Sebenarnya, di semua tulisan ada jelas anak mana yang menulis dan di halaman belakang buku ada profil anak tersebut, tapi karena saya bukan tipe yang bisa dengan cepat mengingat nama dan fakta tentang masing-masing anak (dan ada 20 anak), kadang-kadang jadi bingung dan harus baca buku bolak -balik untuk mengingat lagi ini anak yang mana yah.

Menurut saya, buku ini perlu dibaca oleh orang-orang dalam kategori berikut:

  • anak sekolah yang merasa beban sekolah sangat tinggi
  • anak sekolah yang merasa bosan dengan rutinitas sekolahnya
  • anak sekolah yang punya minat untuk pelajaran tertentu
  • orangtua yang selalu merasa stress setiap musim ulangan umum anaknya
  • orangtua yang tertarik dan pingin tahu apa itu homeschool
  • siapa saja yang selalu meragukan kerabatnya yang menghomeschool anak-anaknya

Saya senang sekali membaca buku ini, kami baru melakukan homeschool sekitar 2 tahun, masih banyak pertanyaan dan keraguan setiap tahun ajaran baru, tapi dari membaca pengalaman anak-anak yang sudah dihomeschool baru 2 tahun sampai sudah 8 tahun, semuanya bahagia dengan pilihan homeschool. Mereka juga terlihat menjadi anak yang kreatif dan juga bisa belajar mandiri. Saya gak meragukan kalaupun mereka nantinya memilih kuliah demi mendapat ijasah dengan alasan memperluas pilihan ketika dewasa, mereka tidak akan punya kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman kuliah dan tidak ada masalah mengikuti kegiatan belajar di tingkat universitas. Bahkan mereka bisa lulus dengan cepat karena mereka terbiasa belajar mandiri.

Kalau kamu termasuk yang mempertanyakan anak homeschool ngapain aja dan apa bedanya dengan sekolah formal, dan juga mempertanyakan bagaimana nanti ijasahnya, nah coba deh baca buku ini untuk melihat lebih dekat kegiatan anak-anak homeschool. Menurut saya, mereka gak akan kurang kesempatannya di masa depan dari anak-anak yang dikirim ke sekolah biasa, malahan kalau dilakukan dengan benar, anak-anak homeschool ini bisa lebih berhasil karena mereka sudah lebih terlatih untuk fokus dengan apa yang mereka suka dan mencari tahu bagaimana melakukan sesuatu dengan benar.

Saya berharap komunitas homeschool di Indonesia juga semakin banyak. Siapa tahu suatu saat kami harus kembali ke Indonesia, jadi kami bisa bergabung dengan komunitas lokal yang ada.

Ngeblog Tiap Hari

Sejak bulan Mei tahun 2018 yang lalu, tanpa sengaja saya bergabung dengan grup yang memberikan tantangan untuk menulis setiap hari. Waktu itu, walaupun nama grupnya one day one post (ODOP) alias 1 post 1 hari, tapi kewajiban nulisnya cuma 1 tulisan per minggu. Sebelum gabung di grup itu, saya sudah sangat malas ngeblog. Ada sejuta alasan kenapa gak ngeblog, tapi bisa disimpulkan jadi 1 kata: malas.

Setelah join komunitas ODOP, saya mulai memaksakan diri ngeblog lagi. Kenapa memaksakan diri? ya kalau gak memaksakan diri, pastilah kemalasan menang hehehe, lagian masak sih dalam 7 hari seminggu gak bisa menemukan hal menarik untuk dituliskan? Udah banyak hal dalam hidup ini terlewat begitu saja tidak terdokumentasikan akibat kemalasan bertahun-tahun gak ngeblog. Padahal, dari tulisan yang ada, saya senang bernostalgia membaca kembali cerita-cerita lama.

Dari bulan Mei sampai Oktober, saya cukup sukses mulai rutin ngeblog minimal 1 kali seminggu. Lalu bulan November 2018, grup ODOP memberikan tantangan untuk menulis tiap hari. Saya pun mulai bertanya ke diri sendiri: bisa gak ya nulis tiap hari? apa coba bikin topik perhari?. Berharap setelah menulis 21 hari secara rutin, menulis blog akan menjadi sesuatu yang lebih mudah untuk dilakukan.

Bulan November 2018, saya belum sukses menulis tiap hari, tapi bisa menulis hampir tiap hari. Beberapa hari bolong karena ketiduran akibat menunda menulis sejak pagi. Saya tidak bisa mengikuti topik yang sudah direncanakan, entah kenapa kadang-kadang walau sudah ditentukan topiknya, rasanya ada penolakan dari dalam diri untuk menulis sesuai topik dan sibuk mencari topik lain untuk ditulis hahaha.

Setelah melihat keberhasilan cukup banyak anggota group menulis hampir setiap hari di bulan November, bulan Desember kembali diadakan tantangan menulis tiap hari, dengan minimum 10 tulisan dalam sebulan. Di bulan Desember, saya bisa menulis lebih dari 20 tulisan, tapi ya ada juga hari-hari di mana kalau sudah berhenti, keesokan harinya tergoda untuk tidak menulis lagi, apalagi akhir bulan setelah merasa cukup memenuhi target minimum.

Tahun 2019, grup ODOP berubah nama jadi Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Idenya sama, mengajak para wanita untuk aktif kegiatan tulis menulis dan dunia literasi. Tantangannya nerusin menulis tiap hari, dengan aturan minimum 10 tulisan perbulan. Untuk pelaksanaanya dibagi menjadi 3 sesi. Hadiahnya apa? kepuasan pribadi karena bisa konsisten membangun kebiasaan baik menulis setiap hari. (plus piring cantik kalau dapat sponsor hahahahhahaha).

Gak terasa, hari ini merupakan hari terakhir bulan April. Hari ini akhir dari sesi 1 tantangan KLIP untuk menulis tiap hari. Untuk saya sendiri, Januari sampai Maret saya masih ada bolos 1 atau 2 hari karena ketiduran dan lagi gak ada ide menulis. Baru bulan ini saya sukses menulis tiap hari, dan untungnya bulan ini hanya 30 hari. Seminggu terakhir ini, sudah sering tergoda untuk berhenti menulis, karena toh minimumnya sudah tercapai hehehe.

Besok akan dimulai sesi 2 dari kegiatan KLIP. Tantangannya agak berubah sedikit. Intinya sih tetap menulis, tapi diarahkan untuk menulis yang isi tulisannya berguna untuk orang lain. Sepertinya harus mulai berlatih memaksakan diri menulis dengan lebih terencana. Setahun latihan memaksa ngeblog, masa gak bisa memaksa ngeblog pakai topik sih.

Udah kepikiran sih beberapa hal yang akan dituliskan dalam 4 bulan ke depan. Mudah-mudahan tetap bisa konsisten menulis di blog ini, walaupun gak tau siapa yang baca dan kemungkinan banyak fansnya Joe yang kecewa karena tulisannya kurang teknis hehehehe.

Jonathan Belajar Berenang (lagi)

Jonathan lagi diajarin gurunya

Setelah sekian lama ditunda, akhirnya Jonathan akan mulai latihan berenang lagi. Sebenarnya Jonathan sudah dikenalkan untuk berenang dari sejak masih kecil banget di bawa ke kolam renang waktu masih di condo. Setelah Jonathan mulai ke daycare juga pernah diikutkan kelas renang untuk pengenalan air. Tapi karena on off dan ganti guru melulu, terakhir itu Jonathan berenti latihan berenang sewaktu dia berumur sekitar 4 tahun.

Sejak Jonathan mulai di homeschool, sudah ada wacana untuk kembali membawa dia ke kelas berenang, tapi guru yang dulu mengajar dia pindah ke Bangkok, dan belum ketemu guru yang bisa berbahasa Inggris. Tahun ini, akhirnya saya menemukan informasi mengenai guru renang yang mengajarkan dengan bahasa Inggris, gurunya tepatnya native Australia, jadi ya mari kita mulai lagi.

Karena lama gak belajar, satu-satunya yang tersisa dari pelajaran sebelumnya adalah Jonathan gak takut air doang. Dia bisa ngapung, tapi ya segala tekniknya harus diulang lagi. Saya juga selama ini berusaha sesekali membawa dia untuk berenang, tapi karena tidak rutin dan saya juga ga pernah belajar bagaimana mengajarkan berenang, ya gak berhasil.

Hari ini pertemuan ke-2 dari kelas yang akan diadakan 10 pertemuan. Kami datang agak lebih awal supaya Jonathan bisa main air dulu sebelum mulai belajar. Saya perhatikan, dia mulai bisalah mengapung maju dengan gerakan kaki saja. Tapi untuk angkat kepala untuk ambil nafas dia belum bisa. Susah mendeskripsikannya, tapi saya melihat ada progress cukup berarti dibandingkan dengan sebelumnya.

Saya dulu belajar berenang dari orangtua saya, kami ke kolam renang juga tidak rutin. Gaya renang yang diajarkan itu saya ingat gaya dada. Nah setelah bisa berenang gaya dada, baru kemudian setelah kuliah dan ikut unit renang dan mata kuliah renang saya belajar gaya bebas, gaya punggung dan gaya dada. Namanya belajar, saya cuma sampai sebatas tau dan bisa sedikit, tapi untuk berenang saya tetap lebih menguasai gaya dada.

Dari memperhatikan kelas berenang untuk anak-anak selama mengantar Jonathan berenang, saya perhatikan kalau yang diajarkan pertama kali itu gaya bebas. Saya kurang tahu alasannya, tapi secara pribadi, buat saya gaya bebas itu lebih melelahkan. Kalau gaya dada, saya bisa berenang dengan santai dan gak pakai ngos-ngosan napasnya hehehe.

Gimana dengan Joshua? Joshua belum dibawa belajar berenang. Sekarang ini Joshua baru diajak main-main air dulu. Joshua suka main air, tapi karena kami agak terlambat mengenalkan dia dengan berenang, kadang-kadang masih terlalu takut untuk masuk ke kolam. Awal tahun baru kemarin kami sempat beberapa kali bawa dia ke kolam berenang, tapi sejak polusi udara yang belum hilang 100 persen, kami belum jadi lagi untuk membawa dia berenang.

Mudah-mudahan Jonathan cepat bisa berenangnya. Kalau dia sudah benar-benar bisa berenang, nanti Joshua gantian bisa dikursuskan (biar pengeluarannya gak dobel hehehhe). Sementara ini ya dikenalkan dengan air dulu. Siapa tahu malah Joshua bisa diajarin sama saya nantinya hahaha.

Hot hot hot

Musim panas begini, olahraga paling menyegarkan itu memang renang. Tapi juga, kebanyakan kolam berenang di sini kalau pagi hari udah langsung kena sinar matahari terik. Kalau sore hari, air kolamnya anget. Jadi harus cari kolam yang ideal untuk berenang yang tidak bikin kulit gosong. Berharap polusi segera hilang juga dari Chiang Mai, supaya gak perlu merasa kuatir beraktifitas di luar ruangan yang tak memiliki filter.