Ketika Jumlah Like Menjadi Penting

Hari ini, 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional di Indonesia. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan Selamat hari Guru untuk para guru di Indonesia.

Tahun 2020 ini, banyak orang tua yang harus turun tangan mendampingi anak belajar di rumah akibat pandemi. Tanpa bermaksud berdebat tentang makna kata guru, saya merasa para orang tua ini juga perlu diselamati karena mereka menjadi guru pendamping selama belajar di rumah. 

Hari ini, saya juga ingin menuliskan beberapa hal yang belakangan ini saya baca tentang dinamika belajar yang terjadi di Indonesia.

Lanjutkan membaca “Ketika Jumlah Like Menjadi Penting”

Just Do It, Nothing is Impossible

Beberapa waktu belakangan ini, saya banyak menulis hal-hal baru yang saya pelajari sejak adanya situs Drakor Class. Walau terkesan dadakan, tapi jadi juga saya dan teman-teman yang hobi nulis dan nonton drakor membuat situs ini. Sejak 10 Oktober 2020, sampai hari ini, situs ini sudah mengajarkan banyak hal baru buat saya.

Setiap mendapatkan pengalaman yang baru, rasanya menyenangkan sekali. Prinsip tidak ada kata terlalu tua untuk belajar membuat saya menikmati perjalanan belajar bersama teman-teman di Drakor Class. Ada satu prinsip lagi yang membuat kami terkesan impulsif, yaitu prinsip: lakukan saja! alias Just Do It!

Lanjutkan membaca “Just Do It, Nothing is Impossible”

Mencari Topik Menulis Setiap Hari

Setelah selesai dengan tantangan menulis kokoriyaan sebanyak 30 topik bersama grup drakor dan literasi, sekarang ini saya kembali lagi harus memikirkan topik tulisan apa lagi yang mau ditulis setiap harinya. Sebenarnya ada banyak sih contoh-contoh topik tulisan untuk 30 hari, tapi sejauh ini saya belum menemukan yang cocok untuk saya tuliskan.

Topik Seputar Drama Korea

Karena tidak menemukan topik yang sesuai, makanya kemarin kepikiran untuk menulis 30 topik seputar Korea, dan yang bikin lebih seru karena dikerjakan bareng-bareng.

Awalnya, setelah menyusun 30 topik kokoriyaan, sempat terpikir untuk mengerjakannya setiap hari 1 topik. Untung saja tidak jadi karena beberapa topik ternyata cukup sulit dan butuh untuk berpikir ekstra untuk bisa menyelesaikannya.

Topik bulan pertama
Lanjutkan membaca “Mencari Topik Menulis Setiap Hari”

Menghargai Recehan

Hari ini saya lagi agak rajin membereskan kertas-kertas tagihan air dan listrik, dan juga beberapa kertas bon pembelian di minimarket. Setelah memilih kertas yang mau dibuang dan disimpan, saya melihat tumpukan koin recehan yang biasanya di lokasi yang sama dengan kertas-kertas tadi. Kerajinan saya bergeser dari membereskan kertas jadi membereskan koin recehan yang terakhir kami kategorikan sekitar tahun lalu.

Koin dibagi menjadi 3 tempat, supaya gampang menggunakannya
Lanjutkan membaca “Menghargai Recehan”

Memulai Hari dengan Sarapan Pagi di Rumah

Sejak kecil, saya terbiasa untuk sarapan bersama seluruh anggota keluarga. Saya ingat, mama saya akan sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami sambil berusaha membangunkan kami dan menyuruh mandi. Karena mama saya wanita bekerja, dia akan masak sarapan pagi sekaligus untuk makan siang, sedangkan untuk makan malam akan dimasak sepulang kerja.

Setiap orang memilih sarapan yang berbeda

Sarapan Itu Penting

Sarapan itu memberikan energi untuk kegiatan di pagi hari. Saya pernah baca, salah satu jenis diet yang menyarankan skip sarapan pagi. Dalam bahasa Inggris, sarapan pagi itu memakai kata breakfast, yang katanya artinya berbuka puasa dan tidak harus dilakukan pagi-pagi. Katanya bisa saja makan pertama itu dimulai jam 12 siang. Tapi buat saya, lebih baik tidak makan malam daripada tidak sarapan pagi.

Lanjutkan membaca “Memulai Hari dengan Sarapan Pagi di Rumah”

Susahnya Menulis Fiksi

Buat sebagian orang, menulis fiksi itu hal yang mudah. Kenapa? karena bisa menyalurkan imajinasi seluas mungkin dan tidak harus masuk akal. Selalu ada pembelaan: namanya juga fiksi. Lalu, kalaupun ceritanya terkadang mirip dengan kisah seseorang, bisa kasih disclaimer kalau semua kemiripan tokoh dan nama hanya kemiripan semata. Teorinya, menulis fiksi itu gampang, segampang berangan-angan di siang bolong.

Tapi buat saya, menulis fiksi itu sulit. Sudah banyak membaca cerita fiksi, sudah banyak menonton drama dan film-film. Sudah banyak melatih imajinasi. Tapi, berkomentar dan menuliskan apa yang kurang atau lebih dari suatu karya fiksi itu tidak sama dengan menghasilkan karya fiksi sendiri.

Lanjutkan membaca “Susahnya Menulis Fiksi”