Dorothy Ingin Pulang dan Singa Pengecut, “The Wonderful Wizard of Oz”

Tulisan ini akan menjadi bagian terakhir membahas karakter yang ada di buku “The Wonderful Wizard of Oz”. Sebelumnya saya sudah menuliskan tentang Tin Woodman yang ingin punya hati dan Scarecrow yang ingin punya otak. tulisan kali ini membahas tokoh utama dari buku ini seorang gadis kecil dari Kansas bernama Dorothy yang ingin Pulang ke Kansas dan usahanya untuk pulang, dan Singa Pengecut yang ingin meminta keberanian supaya hidupnya lebih bahagia.

Dorothy Ingin Pulang

Bagian yang menarik dari tokoh Dorothy buat saya adalah, walaupun tanah Oz merupakan tempat yang lebih indah dari Kansas, tapi dia lebih ingin pulang ke rumahnya untuk bertemu dengan Bibi Em dan Paman Henry. Alasannya ya karena setiap manusia selalu merasa kalau tidak ada tempat yang lebih baik selain rumah sendiri.

The Scarecrow listened carefully, and said, “I cannot understand why you should wish to leave this beautiful country and go back to the dry, gray place you call Kansas.”

“That is because you have no brains” answered the girl. “No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home.”

Alasan Dorothy ingin pulang ke Kansas

Ketika mendengar alasan Dorothy yang sangat sederhana, saya teringat dengan peribahasa “Hujan emas di negeri orang, Hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri.” Sepertinya inilah juga yang dirasakan Dorothy, walaupun tanah Oz indah dibandingkan Kansas, tetap saja dia lebih suka tinggal di Kansas. Dia juga ingin pulang karena tidak ada tempat yang lebih baik daripada rumah sendiri.

Continue reading “Dorothy Ingin Pulang dan Singa Pengecut, “The Wonderful Wizard of Oz””

Scarecrow Pemikir, “The Wonderful Wizard of Oz”

Tulisan kali ini masih melanjutkan membahas karakter di dalam buku “The Wonderful Wizard of Oz”, tentang Scarecrow, salah satu tokoh yang menjadi teman Dorothy dalam usahanya mencari cara kembali ke Kansas dari tanah Oz. Scarecrow dikisahkan terbuat dari jerami dan tidak mempunyai otak. Dia ingin meminta otak kepada penyihir Oz yang tinggal di Emerald City.

Seperti halnya Tin Woodman, sebenernya Scarecrow tidak memiliki hati dan otak, karena seluruh bagian tubuhnya terbuat dari jerami. Tetapi, dia lebih ingin memiliki otak, karena beberapa alasan. Berikut ini beberapa alasan dari Scarecrow kenapa dia memilih otak dan bukan hati.

Scarecrow tidak mau disebut bodoh

“I don’t mind my legs and arms and body being stuffed, because I cannot get hurt. If anyone treads on my toes or sticks a pin into me, it doesn’t matter, for I can’t feel it. But I do not want people to call me a fool, and if my head stays stuffed with straw instead of with brains, as yours is, how am I ever to know anything?”

“All the same,” said the Scarecrow, “I shall ask for brains instead of a heart; for a fool would not know what to do with a heart if he had one.”

Scarecrow, “The Wonderful Wizard of Oz”

Menurut scarecrow, karena dia terbuat dari jerami, dia tidak bisa merasakan sakit. Jadi, dia tidak butuh hati untuk merasakan sesuatu. Tapi dia punya keinginan untuk mengetahui banyak hal. Dan untuk mengetahui banyak hal itulah dia merasa otak dibutuhkan.

Mungkin konsep otak yang dimaksud Scarecrow di sini seperti prosesor untuk memproses dalam mencari penyelesaian masalah dan harddisk untuk menyimpan pengetahuan kali ya buat dia. Makanya dia merasa perlu banget itu ada bentuk fisik otak.

Menurut Scarecrow, kalau dia punya hati tapi tidak punya otak, akhirnya dia akan menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hati dan apa yang dia rasakan karena dia tidak punya otak untuk memikirkannya.

Otak itu yang paling berharga di dunia ini

“I felt sad at this, for it showed I was not such a good Scarecrow after all; but the old crow comforted me, saying, ‘If you only had brains in your head you would be as good a man as any of them, and a better man than some of them. Brains are the only things worth having in this world, no matter whether one is a crow or a man.’

Percakapan scarecrow dan burung gagak

Dari percakapan scarecrow dengan burung gagak, dia merasa kalau dia punya otak maka dia akan menjadi orang yang lebih baik. Kalau kata burung gagak memiliki otak adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Dan Scarecrow pun menganggap demikian.

Kalau dilihat dari cerita secara keseluruhan, walaupun Scarecrow merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa karena tidak punya otak, tapi sebenarnya dia yang paling banyak berpikir dan mengusulkan berbagai solusi ketika mereka menghadapi rintangan diperjalanan.

Berikut ini dua contoh bagian dalam petualangan mereka, di saat yang lain sudah kehabisan ide, akhirnya Scarecrow yang punya solusi.

“What shall we do?” asked Dorothy despairingly.

“I haven’t the faintest idea,” said the Tin Woodman, and the Lion shook his shaggy mane and looked thoughtful.

But the Scarecrow said, “We cannot fly, that is certain. Neither can we climb down into this great ditch. Therefore, if we cannot jump over it, we must stop where we are.”

“I think I could jump over it,” said the Cowardly Lion, after measuring the distance carefully in his mind.

“Then we are all right,” answered the Scarecrow, “for you can carry us all over on your back, one at a time.”

===

So they sat down to consider what they should do, and after serious thought the Scarecrow said:

“Here is a great tree, standing close to the ditch. If the Tin Woodman can chop it down, so that it will fall to the other side, we can walk across it easily.”

“That is a first-rate idea,” said the Lion. “One would almost suspect you had brains in your head, instead of straw.”

Ide Scarecrow dalam menghadapi masalah yang dihadapi

Kalau Kamu Pilih Hati atau Otak?

Kalau dipikirkan lagi, alasan Tin Woodman memilih hati cukup masuk akal. Alasan Scarecrow memilih otak juga tidak salah. Tapi kalau kita harus memilih salah satu, sepertinya jawaban setiap orang tidak akan sama.

Saya sendiri tidak bisa memilih antara hati dan otak, rasanya butuh keduanya walaupun dengan memiliki keduanya tidak otomatis membuat saya orang paling bijaksana ataupun paling cerdas sedunia.

Kalau kamu bagaimana?

Penutup

Saya merasa kagum dengan penulis cerita buku ini. Bagaimana penulis bisa menciptakan tokoh yang menginginkan sesuatu yang secara fisik tidak ada, tapi pada jalinan ceritanya ditunjukkan kalau mereka sebenarnya sudah memiliki apa yang mereka inginkan. Mereka hanya perlu merasa memiliki bentuk fisiknya untuk percaya kalau mereka bisa berpikir ataupun bisa memiliki perasaan.

Banyak dari kita secara tidak sadar seperti Tin Woodman dan Scarecrow yang membutuhkan bentuk fisik atau simbolisme dari sesuatu untuk merasakan sesuatu itu sah. Misalnya dulu waktu pertama kali tidak bisa pulang di masa Natal dan tahun baru ke Medan, saya merasa sedih sekali dan seperti Natal tidak sah karena sendiri. Padahal ya Natal dan Tahun Baru nya esensinya jauh lebih luas daripada kumpul dengan keluarga.

Masa pandemi ini kita butuh menggunakan hati dan pikiran kita lebih lagi. Jangan mau kalah dengan Tin Woodman dan Scarecrow yang merasa tidak bisa mengasihi karena tidak punya hati ataupun merasa bodoh karena tidak punya otak. Padahal mereka tetap bisa mengasihi dan berperasaan selain memikirkan solusi tanpa mereka sadari.

“The Wonderful Wizard of Oz”, Belajar dari Tin Woodman

Buku “The Wonderful Wizard of Oz” merupakan salah satu buku klasik yang terbit tahun 1900 karya L. Frank Baum. Saya sudah sering mendengar judulnya, tapi saya belum pernah benar-benar tahu apa sih cerita dari buku ini. Waktu melihat buku ini ada di Audible Stories, saya memutuskan untuk mendengarkannya sambil membacanya. Setelah menyelesaikan mendengarkannya saya jadi memahami kenapa buku ini sangat populer dan menjadi salah satu buku yang perlu dibaca oleh anak-anak. Ada banyak yang bisa dipelajari dari tokoh-tokohnya, tulisan hari ini saya ingin menceritakan tentang Tin Woodman yang memilih ingin memiliki hati daripada otak.

Sampul buku The Wonderful Wizard of Oz (Sumber: Wikipedia)

Awalnya saya hanya mendengarkan saja bukunya di Audible Stories, tapi ketika ada bagian yang menarik dan ingin saya kutip, saya jadi ingat kalau buku ini sudah gratis dan bisa dicari di Project Gutenberg karena sudah masuk dalam domain publik. Ada berbagai format digital yang tersedia untuk buku ini di Project Gutenberg, dan saya memilih untuk mendownload versi Kindle-nya.

Buku ini merupakan novel fantasi untuk anak-anak yang oleh Audible Stories dikategorikan untuk anak level elementary (sekolah dasar). Dari segi cerita ada beberapa hal yang menurut saya anak-anak perlu didampingi untuk membacanya. Selain ceritanya mengandung cerita sihir, ada beberapa bagian di mana ada cerita kekerasan. Tapi adapun kekerasan yang terjadi merupakan bagian dari petualangan tokohnya mendapatkan apa yang mereka harapkan.

Land of Oz By L. Frank Baum (illustrated by John R. Neill) – Tik-Tok of Oz, first published in the United States in 1914., Public Domain, Link

Ringkasan ceritanya bisa dibaca sendiri di Wikipedia, singkatnya buku ini bercerita tentang seorang gadis kecil dari Kansas bernama Dorothy dan anjing nya Toto, yang terbawa oleh topan dan mendarat di negeri Munchkin, tanah Oz. Dalam usahanya untuk kembali ke Kansas, dia bertemu dengan tiga tokoh lainnya yang akan menjadi temannya selama dia mengembara di tanah Oz.

Continue reading ““The Wonderful Wizard of Oz”, Belajar dari Tin Woodman”

Mengajar Kuda Terbang, Sampai Pandemi Berlalu

Akhir tahun 2017, di saat sedang di tengah ketidakpastian akan sesuatu, saya membaca kutipan cerita dari buku Doa Sang Katak 2, tentang seorang lelaki yang akan dihukum mati oleh seorang raja di India. Lelaki ini mengajukan satu hal mustahil untuk mendapatkan hidup satu tahun lagi. Dia bilang dia akan mengajarkan kuda sang raja terbang dalam setahun. Sang raja mengabulkan, dan dia hidup paling tidak untuk satu tahun lagi.

Sampai sekarang kudanya belum bisa terbang, ketidakpastian itu masih tetap tidak pasti. Tapi banyak hal terjadi sejak saat itu, dan ternyata tidak ada gunanya kekhawatiran berlebihan dan sampai sekarang semuanya masih bisa berjalan baik.

Sumber: “Doa Sang Katak 2, Meditasi Dengan Cerita”, Anthony de Mello, SJ
Continue reading “Mengajar Kuda Terbang, Sampai Pandemi Berlalu”

Berduka di Masa Pandemi

Tidak ada manusia yang hidup selamanya, semua orang ada batas umurnya. Di awal pandemi, saya pernah berkata kepada suami semoga keluarga kami yang jauh di Indonesia semua baik-baik saja, karena kami tidak mungkin bisa pulang dengan kondisi penerbangan di masa pandemi ini.

Orangtua kami memang sudah cukup tua, dan mempunyai beberapa keluhan kesehatan sejak beberapa tahun terakhir. Tapi selain berdoa mereka tidak kena infeksi covid-19, juga berharap mereka sehat-sehat saja dan berumur panjang supaya bisa beretemu lagi. Saya rasa setiap orang pasti berharap hal yang sama.

Designed by mindandi / Freepik

Manusia hanya bisa berdoa dan berharap tapi umur di tangan Tuhan. Kami sungguh tidak menduga kalau ibu mertua saya yang kami panggil Emak dipanggil Tuhan di masa pandemi ini. Rasanya? jangan ditanya, saya tidak bisa mendeksripsikannya dengan kata-kata.

Namanya duka itu sama apapun penyebabnya, rasanya sedih luar biasa. Walaupun kita tahu tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya, kita tidak akan pernah siap kehilangan orang yang kita sayangi. Sebagai orang yang percaya Tuhan, kita harus menerima dan mengikhlaskan. Saya percaya dukacita itu datang tidak sendirian. Akan ada pelangi sehabis hujan.

Saya belajar, rasa duka itu jangan disimpan sendiri tapi dibagikan supaya tidak jadi penyakit. Saya sungguh merasakan tangan Tuhan bekerja menghiburkan kami yang jauh di negeri orang ini. Kami mendapatkan ucapan turut berduka dan doa-doa yang luar biasa dari banyak sekali kerabat dan teman-teman di media sosial dan jalur pribadi ke kami.

Banyak ucapan dari teman-teman yang selama ini sudah lama sekali tidak pernah berinteraksi dan saya pikir sudah tidak aktif lagi di media sosialnya. Sungguh saya berterimakaih untuk semua ucapan yang sudah menguatkan kami.

Saya belum bisa membalas semua ucapan duka sekarang ini. Rasanya untuk menuliskan ini saja, saya memaksakan diri supaya saya tidak larut dengan pikiran sendiri. Saya bersyukur kalau ternyata di masa pandemi ini, masih banyak yang perduli dengan kami.

Dengan bantuan teknologi internet, kami bisa melihat wajah Emak untuk terakhir kali. Kami bisa melihat ibadah kebaktian pelepasan, penutupan peti sampai diantar ke peristirahatannya yang terakhir. Kami berterimakasih dengan semangat gotong royong yang ada,masih ada beberapa orang yang bisa hadir walaupun di masa pandemi.

Masa pandemi memang bukan masa yang normal. Normalnya, mungkin yang hadir akan lebih banyak lagi, tapi ada yang bisa membantu semua sampai dimakamkan saja rasanya sudah luar biasa. Saya juga tidak berharap melihat ada kerumuman orang yang banyak, karena saya juga tidak ingin melihat kedukaan kami membawa kedukaan berikutnya buat orang lain kalau misalnya salah satu yang datang orang tanpa gejala.

Ada satu hal yang selalu jadi pertanyaan kalau ada yang meninggal saat ini. Biasanya akan ada yang bertanya-tanya: jangan-jangan covid-19? Memang ada banyak berita di mana seseorang yang meninggal karena didiagnosa penyakit biasa, belakangan diketahui positif covid-19 atau masuk kategori PDP. Nah untuk hal ini, maka saya merasa lega kalau Emak bisa dimakamkan secepatnya dan kami tetap bisa melihatnya untuk terakhir kali.

Kemarin, ada seorang saudara juga bertanya ke saya, apa penyebab kematian Emak? yang saya tahu Emak memang sudah lama punya penyakit diabetes dan komplikasi ke jantung setahun terakhir ini. Beberapa hari terakhir juga tidak ada keluhan seperti orang yang sakit covid-19 dan kesehatannya selalu dipantau oleh dokter pribadi alias adik ipar saya.

Kepergian Emak kemarin memang sangat mendadak, sore harinya masih sempat main dengan cucu-cucunya. Malam harinya masih sempat minta dibikinkan teh hangat ke bapak, dan teh baru jadi, Emak sudah terbaring pergi begitu saja. Jadi ya, saya hanya bisa menjawab semoga saja bukan covid-19, karena kalau iya, saya tidak bisa bayangkan keluarga kami yang lain akan terkena juga.

Bertanya untuk menunjukkan perhatian dengan rasa ingin tahu itu beda tipis. Tapi sebagai yang berduka, saya juga mengerti kenapa ada pertanyaan tersebut. Sebagai yang berduka, kita juga harus menerima kalau yang datang tidak sebanyak masa normal.

Hari ini saya mendapat berita duka lain dari Medan. Salah seorang kerabat dari papa saya meninggal pasca operasi. Mama saya jadi dilema pergi atau tidak untuk menyampaikan rasa dukacitanya. Sebagai orang batak, pemakaman orangtua di atas umur 60 tahun biasanya bisa berhari-hari dan seperti pesta besar saja, tapi tidak di masa pandemi ini.

Mama saya sudah masuk dalam lanjut usia, sudah 74 tahun, jadi termasuk beresiko tinggi terhadap covid-19. Saya tegaskan ke mama saya, mungkin kerabat yang meninggal memang bukan karena covid, tapi lingkungan rumah sakit dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai area, itu yang berbahaya. Akhirnya mama saya menelpon saja untuk menyampaikan rasa dukanya.

Pengalaman berduka di masa pandemi ini mengajarkan saya 3 hal:

  • Hal pertama: sampaikan dukacita tanpa bertanya-tanya penyebabnya, apalagi dengan nada menuduh jangan-jangan covid-19. Karena belum tentu semua orang menerima dengan baik maksud pertanyaannya dan malah bisa membuat yang berduka jadi tambah kesal.
  • Hal kedua: jangan memaksakan diri untuk datang ke acara duka, apalagi jika kita termasuk golongan beresiko tinggi atau bukan keluarga langsung. Karena walaupun mungkin yang meninggal bukan karena covid-19, selalu ada resiko bertemu orang tanpa gejala di keramaian. Utamakan keselamatan diri sendiri terlebih dahulu
  • Hal ketiga: internet bukan lagi sekedar dunia maya dengan anonimity dan nama palsu. Internet sudah menjadi perluasan dunia kita yang sebenaranya. Semua komentar duka yang disampaikan di sosial media ataupun jalur pribadi, sama tulusnya dengan ucapan langsung. Bahkan emoji yang ada juga sudah merupakan reaksi dari lingkungan sosial kita.

Masa pandemi ini, bisa dibilang sebagai masa kegelapan. Ada kesedihan di mana-mana. Kesedihan karena kehilangan orang yang kita sayangi ataupun karena kehilangan pekerjaan atau hal-hal lainnya. Semoga pandemi segera berlalu, dan kita bisa berduka ataupun berbagi tawa dengan lebih normal seperti dulu.

Paskah 2020: Memisahkan Makna Paskah dari Tradisi

Selamat Paskah untuk yang merayakan!

Biasanya Hari Paskah ngapain aja? jalan-jalan? liburan? ziarah ke kuburan? mendekorasi telur paskah dan mencari telur-telur yang diumpetin? gereja subuh-subuh? kumpul sama keluarga? ikut sakramen perjamuan kudus di gereja? atau tidur seharian karena udara terlalu panas dan malas keluar rumah?

Kalau saya, pernah melakukan hampir semua jawaban di atas kecuali ziarah ke kuburan dan mendekorasi telur paskah dan kegiatan mencari telur paskah. Keluarga kami tidak menjalankan tradisi ke kuburan subuh-subuh paskah, tapi saya tau ada banyak orang di Sumatera Utara yang menjalankan tradisi itu dulu (entah sekarang).

Untuk kegiatan mendekorasi telur paskah ataupun mencari telur paskah, sejak saya kecil saya tidak pernah melakukannya. Di gereja yang kami ikuti sekarang di Chiang Mai, anak-anak juga tidak ada kegiatan itu di gereja. Saya bahkan tidak pernah mencari tahu kenapa sih orang-orang sibuk mendekorasi telur dan mencari telur di hari Paskah, karena buat saya itu bukan makna dari Paskah, kegiatan-kegiatan itu hanya tradisi untuk memeriahkan hari Paskah.

Bagusnya, ketika masa sekarang ini, saya tidak perlu repot menyiapkan telur buat dihias anak-anak, karena anak-anak juga tidak dibiasakan dengan kegiatan telur-telur itu. Ah dasar aja emak malas! Ya sebenarnya kombinasi antara malas dan menurut saya telur itu bukan bagian penting dari Paskah.

Waktu masa kuliah, saya ingat pernah ke gereja jam 5 subuh untuk ibadah paskah. Ngapain subuh-subuh? ya karena adanya jam segitu, dan sengaja pergi subuh biar siangnya bisa jalan-jalan heehhe. Tapi itu cuma 1 kali, seringnya saya ibadah Paskah jam gereja biasa saja, sekali-kalinya pergi subuh itu juga karena ramai-ramai sama teman kos, biar pernah merasakan saja.

Beberapa kali hari Paskah kami sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia, karena di sini biasanya libur Songkran itu di bulan April agak panjang. Kami lebih sering memilih pulang di bulan April ke Indonesia daripada bulan Desember, biar liburnya bisa lebih lama. Harga tiket pesawatnya biasanya relatif lebih murah di bulan April daripada Desember.

Tahun ini, awalnya kami juga ada rencana pulang ke Indonesia di bulan April untuk merayakan Paskah di Indonesia. Tapi ya manusia bisa berencana, Tuhan menentukan. Dengan adanya Covid-19, kami gak bisa pulang deh.

Jadi sebenarnya apa sih makna peringatan Paskah itu? Saya sudah pernah menuliskan tentang ini di tulisan lama, baiklah saya tuliskan lagi di sini. Hari Paskah merupakan hari di mana umat Kristiani memperingati tentang Yesus yang bangkit setelah mati di kayu salib pada Jumat agung, dan dikubur selama 3 hari. Yesus bangkit dan hidup kembali, mengalahkan kematian itu.

Terus kenapa Yesus harus mati? Menurut iman Kristen, manusia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri dari dosa walaupun berbuat baik sebanyak-banyaknya. Manusia butuh Juruselamat untuk menyelamatkan dari dosa. Satu-satunya jalan keselamatan itu ya hanya melalui pengorbanan Yesus di kayu salib – makanya Dia harus mati. Dan kebangkitan Yesus di hari ke-3 menjadi bukti kemenangan Yesus terhadap kematian diperingati sebagai hari Paskah.

Pada ibadah Paskah, biasanya diadakan sakramen perjamuan Kudus sebagai peringatan dari kematian dan kebangkitan Yesus. Nah karena tahun ini ibadah online, gimana dong? Kalau gak ikutan perjamuan kudus, gak sah dong Paskahnya? Ya gak gitu juga dong, itu kan untuk peringatan saja. Bukan sesuatu yang wajib. Namanya juga memperingati, sama seperti kita mengingat orang-orang yang kita kasihi dengan melakukan hal-hal yang mungkin kita pernah lakukan bersama mereka.

Saya perhatikan, beberapa gereja yang menyelenggarakan ibadah online cukup kreatif, mereka mengajak anggota gerejanya untuk menyiapkan roti dan anggur untuk mengikuti sakramen perjamuan kudus dari rumah. Ibadah yang kami ikuti hari ini tapi tidak seperti itu, tapi seperti saya sebutkan, gak ada perjamuan kudus juga tidak jadi masalah. Makna Paskah itu bukan di kegiatannya dan bukan di tradisinya, tapi peringatan kebangkitan Yesus.

Manusia bisa diselamatkan hanya dengan kasih karunia. Jadi bukan dengan kegiatan-kegiatan tradisi. Hanya dengan kasih karunia, melalui kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan Yesus manusia bisa diselamatkan dari dosa-dosa. Jadi jangan sedih kalau tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun yang lain karena hanya bisa ibadah online dan tanpa perjamuan kudus.

Sekali lagi, selamat Paskah untuk kita yang merayakannya!

Terserah, tapi…

Setiap hari kita makan 3 kali sehari. Kadang-kadang sampai pusing memutuskan mau makan apa siang ini. Pergi ke food court, ada banyak pilihan, tapi malah jadi pusing mau makan apa. Dulu waktu jaman belum ada anak, setiap mau makan Joe bertanya: makan apa kita? terus saya jawab terserah. Terus Joe memutuskan makan sesuatu dan seringnya saya bilang: tapi kan itu baru kemarin. Sampai akhirnya Joe kesel dan bilang: lah katanya terserah, giliran dipilihin protes. Ya udah putuskan mau makan apa.

Kata Joshua: aku mau semuanya am nyam nyam nyam…

Nah sebenarnya pernah juga, saya lagi ga kepengen makanan tertentu, lalu bertanya ke Joe: mau makan apa kita? Dia jawab: terserah. Sebenarnya terserahnya Joe ini maksudnya apapun yang saya pilih dia gak akan protes, tapi karena sayapun lagi ga punya ide, malah jadi kesel dan bilang: kalau aku tau mau makan apa, ya gak akan nanya lah.

Kata “terserah” ini kadang-kadang memang mengesalkan. Tapi sebenarnya lebih mengesalkan kata terserah yang pertama. Kalau kita bilang terserah dan pasti ikut dengan usulan yang diberikan, ya gak masalah. Atau bisa juga mungkin pertanyaannya diganti biar tidak dapat jawaban terserah.

Continue reading “Terserah, tapi…”