Liburan Hari ke-6: Perpustakaan Nasional

Hari ini janjian ketemu dengan Bu Inge di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia . Saya baru tau kalau ada perpustakaan keren seperti pusnas ini. Dulu pernah sekilas baca berita soal perpustakaan yang dilengkapi dengan ruang khusus untuk koleksi anak-anak dengan tempat yang nyaman untuk anak-anak membaca, tapi kalau bukan karena Bu Inge ada acara di pusnas, saya ga kepikiran bakal berkunjung ke pusnas pada liburan kali ini.

maket gedung perpustakaan nasional

Kami berangkat naik Grab lagi dari Depok. Perjalanannya cukup lancar, akan tetapi ketika sudah memasuki kawasan jl. medan merdeka selatan, ada penutupan ruas jalan karena ada demo. Google Map menyarankan memutar mengitari monas dulu, tapi bakal butuh waktu sekitar 20 menit, padahal kalau jalan tinggal 500 meter. Akhirnya kami putuskan untuk jalan saja, toh jalanannya cukup teduh dengan banyaknya pohon-pohon besar di pinggir jalan.

foto dulu sebelum masuk perpustakaan

Kesan pertama melihat bagian depan Perpustakaan Nasional, saya cukup kagum dengan hal-hal yang dipamerkan di gedung depannya di sana. Cara mereka menatanya juga terlihat cukup menarik dan artistik (padahal saya bukan orang yang mengerti banyak mengenai seni). Di bagian belakangnya ada gedung 24 lantai yang menyimpan berbagai koleksi buku. 

Waktu masuk ke lantai dasar, kami mengamati ada toilet dan kafe. Ada direktori apa saja koleksi yang disimpan di setiap lantainya. Tujuan utama kami ketemu Bu Inge yang sedang menghadiri launching buku di ruang serbaguna lantai 4, tapi karena acara mereka belum selesai, kami sempatkan ke lantai 7 untuk melihat ada apa di ruang koleksi bacaan untuk anak-anak.

Di ruangan khusus anak-anak, kita diminta untuk melepaskan sepatu dan meninggalkan makanan dan minuman di luar ruangan. Untuk penyimpanan tas, tersedia loker dengan kunci yang bisa kita pegang. Oh ya layanana perpustakaan ini setahu saya koleksinya hanya bisa dibaca di tempat. Untuk bisa masuk dan membaca di situ, kita tidak harus menjadi anggota. Perpustakaan ini bebas biaya masuk. 

Saya senang melihat berbagai koleksi buku yang ada untuk anak-anak, bahkan ada majalah Bobo segala. Jadi teringat masa kecil di mana kami kadang-kadang dibelikan majalah Bobo. Koleksi buku bersampul tebal (board book) juga cukup lumayan. Buku-buku berbahasa Inggris ataupun bilingual juga banyak tersedia di sana. Ah rasanya waktunya ga cukup banyak untuk browse buku-buku yang ada di sana. 

dekorasi di depan pusnas

Setelah sekitar 30 menit di lantai 7, kami turun ke lantai 4 untuk bertemu dengan bu Inge. Ternyata ada kantin juga di lantai 4, jadilah kami makan di sana saja daripada menghabiskan watu di jalan untuk naik taksi lagi. Bertemu dengan bu Inge itu suatu hal yang ditunggu-tunggu oleh Jonathan. Walaupun Oma Inge (demikian anak-anak memanggil bu Inge) bukanlah nenek kandung mereka, tapi Jonathan dan Joshua bisa senang bermain dengan oma Inge seperti bermain dengan eyang girl nya. 

Selesai makan di lantai 4 kami iseng ke lantai 24 untuk melihat pemandangan yang ada di sana. Sayangnya tidak ada ruang untuk duduk ngobrol dengan enak di lantai 24, anginnya juga cukup kencang di sana, jadi kami ga berlama-lama di luar dan memutuskan kembali ke bagian koleksi anak di lantai 7.

Dari lantai 24 kami turun ke lantai 7 untuk kembali ke ruang baca anak lagi. Sedikit catatan, menunggu lift di lantai 24 memakan waktu lama, karena ketika kami akan turun, tiba-tiba lift yang naik sudah sampai lantai 21 berbalik arah lagi turun. Kalau cuma beberapa lantai, mungkin kami sudah akan turun tangga saja supaya ga lama nunggu liftnya. Saya perhatikan, di setiap lantai yang kami kunjungi ada mushollanya dan kamar kecilnya. Semuanya terlihat cukup bersih. Untuk ukuran sebuah tempat yang free entrance, saya merasa cukup senang berada di pusnas. Catatan lainnya, entah kenapa begitu masuk ke area perpustakaan, sinyal hp pada hilang, untungnya di dalam perpustakaan ada wifi yang gratis untuk umum dan ya cukup lah aksesnya. 

Setelah puas ngobrol-ngobrol di lantai 7, kami memutuskan untuk pulang dulu, eeeeh teryata sedang hujan. Akhitnya kami ngopi-ngopi sambil nyemil di kafe yang ada di lantai dasar tadi. Rasa kopinya lumayan lah ya, apalagi setelah beberapa hari cuma dapat kopi instan saja. Karena sudah agak sore, kami memesan makanan untuk anak-anak. Walau kafe nya terlihat kecil, makanan cemilannya lumayan banyak variasinya.

Setelah hujan berhenti, kami pun beranjak pulang. Tapi karena kami pulang bersamaan dengan jam orang pulang kerja, jalanan yang kami lalui banyak macetnya. Bahkan di jalan tol cuma bisa kecepatan 10-20 km / per jam. Sampai di rumah eyang, Joshua sukses tertidur kecapean.

Secara keseluruhan, jalan-jalan ke perpustakaan cukup menyenangkan buat kami karena anak-anak kami menyukai buku. Yang menyenangkan juga harga makanan di pusnas cukup masuk akal dan ga semahal harga makan dimall. Koleksi buku bacaannya ada bahasa Inggris ataupun bilingual yang bisa dibaca anak-anak kami. Semoga di kemudian hari, di daerah-daerah semakin banyak perpustakaan yang bagus isinya seperti di perpustakaan nasional ini.

Liburan Hari ke-5: Bandar Djakarta Ancol

Hari ini dapat undangan makan bersama di Restoran Bandar Djakarta Ancol. Berhubung siangnya Joe ketemu duluan untuk diskusi dengan teman-temannya di daerah Jakarta pusat, saya dan anak-anak memilih untuk nyusul sore hari langsung ke Bandar Jakarta saja. Untuk pertama kalinya sejak liburan ke Jakarta, anak-anak bisa tidur siang dulu deh pada jamnya hahaha.

Bangun tidur, kami siap-siap umtuk ke Bandar Djakarta. Saya menggunakan jasa Grab Car lagi. Perjalanan dari Depok ke Ancol memakan waktu hampir 1 jam. Masuk daerah Ancol dikenakan biaya 25 ribu rupiah per orang dan 25 ribu untuk mobil dan pengemudinya. Ah harusnya tadi datang lebih awal biar sekalian jalan-jalan dulu ya di Ancolnya hehehe. 

Sampai di restoran, Joe yang sudah sampai 30 menit lebih dahulu dan sudah memesan makanan untuk anak-anak, eeh ternyata makanannya belum datang juga. Jadi kami memutuskan menambah memesan minuman dulu. Untuk pertama kalinya, Joshua mau minum jus jeruk di Indonesia. Selama ini semua jus jeruk yang kami pesan ditolak sama Joshua karena terlalu asam hehehe. Saya memesan es cappucino, berharap kopi dari biji kopi seperti di Chiang Mai, tapi ternyata rasanya seperti cappucino dari sachetan (oh well). 

Menunggu makanan datang, saya dan Jonathan jalan-jalan dulu di luar restoran. Karena mulai gelap, saya cuma ambil foto-foto sedikit saja. Untungnya, gak lama menunggu makanan anak-anak datang, jadi kami bisa memberi Joshua dan Jonathan makan dulu supaya nantinya bisa makan seafood dengan tenang. 

Restoran Bandar Djakarta ini sangat besar sekali, saya perhatikan banyak rombongan dari kantor-kantor mengadakan acara makan bersama di sana. Mungkin karena sudah akhir tahun, dan sebentar lagi libur Natal dan Tahun Baru, banyak kantor sejak hari Senin sudah pada ngadain acara makan malam bersama. Restoran ini ruangannya terbuka dan bebas merokok *sigh*. Hal begini sudah tidak diperbolehkan lagi di Chiang Mai, saya merasa kembali diingatkan kenapa saya lebih betah di Chiang Mai daripada Indonesia.

Restoran ini merupakan restoran Sea Food, makanan yang dipesan berupa lobster besar, kepiting asam manis, kepiting bakar, kerang, cumi goreng, ikan gurame goreng, ikan panggang dan sayurannya plecing kangkung dan kailan. Saya dan Joe ga sanggup makan banyak, jadi ya paling kami cicip sedikit ini dan itu.

Menurut saya, testur makanan laut itu mirip-mirip. Susah payah membuka kepiting, isinya ya mirip daging ikan. Cumi-cumi dan lobster juga teksturnya ya hampir sama, agak lebih keras dibanding tekstur ikan tapi ga banyak serat seperti daging. Menurut saya, makanan seafood ini mau dimasak apapun susah sekali meresap ke dalam bumbunya. Paling cocok ya makanannya harus di tambahin saus di luarnya supaya rasanya ada.

Satu kelemahan dari restoran besar adalah: pesanan apapun butuh waktu ekstra untuk segera datang ke meja, apalagi kalau pesananannya itu susulan. Tadi saya ditengah makan baru ingat kalau di Indonesia itu umumnya air minum itu ga diberikan kalau ga dipesan, jadi saya pesan air mineral 2 botol. Pelayan bertanya mau dingin atau biasa, dan saya sudah jawab biasa.

Beberapa menit berlalu, sampai ada 3 pelayan datang ke meja, saya tanyakan mana airnya, dan gak datang juga. Akhirnya datang air minumnya, dan dia bawa yang dingin *sigh*. Lalu datang lagi 1 botol yang biasa dan diberikan ke meja sebelah *sigh*, lalu datang lagi 1 botol dingin lagi. Ya kesimpulannya, pesanlah air minum sebelum anda makan kalau memang anda tipe butuh air minum biasa selesai makan. Untungnya saya pesan air minum bukan karena hampir keselek, kalau misalnya saya pesan udah mau keselek kayaknya bisa berabe deh tadi.

Foto sambil nunggu Grab

Selesai makan, kami foto bersama dan pesen Grab untuk pulang. Perjalanan pulang ke arah Depok ada sedikit macet dibanding berangkat, tapi ya gak sampai berhenti di jalan juga, itupun makan waktu 1,5 jam untuk tiba di rumah. Setelah 5 hari mengukur jalan Depok-Jakarta hampir setiap hari, sepertinya saya mengambil kesimpulan kalau saya ga akan bisa tinggal di kota ini. Butuh waktu dan effort yang sangat besar untuk menuju satu tempat. Rasanya jadi tua di jalan kalau butuh waktu total sekitar 2 atau 3 jam untuk perjalanan pergi dan pulangnya. Ah baru 5 hari liburan kok udah kangen Chiang Mai hehehe.

Liburan Hari ke-4: Jakarta Aquarium

Hari ini, kami dan keluarga adik-adik Joe jalan bareng ke Jakarta Aquarium. Lokasi Jakarta Aquarium ini di Neo SOHO Mall lantai LM dan LG. Sampai di sana, kami makan siang dulu di open Kitchen lantai 3A karena sudah hampir jam 12. Awalnya tempat makannya terlihat sepi. Jam 12 lewat sedikit tiba-tiba banyak sekali orang ada di mall (ya iyalah ya, namanya juga jam makan). Oh ya, mall ini tempat parkirnya di atas gedung mall nya sendiri. Masuk dan keluar parkiran terasa memusingkan karena naik gerakan memutar (spiral) beberapa lantai sampai atas.

Setelah makan, kami menuju lantai LM. Oh ya, harga tiket masuk untuk weekend lebih mahal dibanding hari biasa. Kami cari promosi pake kartu kredit BNI dan Traveloka. Kami beli tiket regular, karena biasanya anak-anak (terutama Joshua) masih takut dengan tontonan 5 Dimensi.  Tapi dengan promosi kartu BNI kami mendapatkan diskon 15 persen. Promosinya dengan 1 kartu hanya bisa untuk membeli 4 tiket dan kami punya 2 kartu BNI. Kami berangkat 12 orang, 6 dewasa dan 6 anak, tapi anak di atas 120 cm dihitung dewasa, jadilah kami harus membeli 7 dewasa dan 4 anak (1 anak masih bayi, dan anak di bawah 2 tahun belum dikenakan biaya).  Jadi kami beli 6 tiket dewasa dan 2 anak dengan kartu BNI dan 1 tiket dewasa plus 2 anak dengan Traveloka (kita ga bisa beli tiket anak doang dengan traveloka, jadi minimal harus ada 1 orang dewasanya).

Promosi begini sering berganti, jadi sebelum ke sana bisa cek dulu promosi yang masih berlaku. Kalau saya baca websitenya, ada juga promosi happy hour di hari biasa dan jam tertentu diskon 50 persen. Ada juga promosi moms and kids, di mana ibunya saja yang bayar dan anak di bawah umur tertentu gratis, Kenapa kami ga pergi hari biasa? karena hari biasa adik-adik Joe kerja, jadi weekend itu kesempatan yang langka buat ngumpul lengkap.

melihat ikan dari atas

Sekarang ke bagian cerita di dalamnya. Kesan pertama, tempatnya remang-remang dengan musik yang bikin ngantuk hehehehe, mungkin biar ikan-ikannya merasa tenang kali ya hehehe. Saya sempat agak kecewa karena di awal yang saya lihat kebanyakan hanya layar display saja dan bukan aquarium beneran, tapi ternyata ada juga bagian aquariumnya, di mana anak-anak bisa melihat ikan-ikan yang besar seperti ikan pari, hiu dan berbagai jenis ikan yang saya gak tau namanya.

Kalau diperhatikan dengan seksama, Jakarta Aquarium berusaha memberikan pengetahuan mengenai berbagai ikan yang ada di Indonesia dan juga kesadaran untuk menjaga lingkungan untuk tidak membuang plastik karena bisa membuat kerusakan lingkungan hidup di laut. Setiap display yang ada tersedia tablet yang menjelaskan jenis ikan, ukuran ikan dan di mana ditemukan biasanya. Kalau ke sana sebagai tugas sekolah, tentunya ada banyak sekali yang bisa dilaporkan oleh murid-muridnya. Sayangnya, saya tidak menemukan katalog lengkap ikan yang ditampilkan di website Jakarta Aquariumnya.

kesempatan menyentuh bintang laut

Selain ikan, jakarta aquarium juga menampilkan otter, turtle dan iguana. Anak-anak diberikan kesempatan memegang beberapa kura-kura kecil, bintang laut, ikan pari kecil dan beberapa jenis ikan kecil. Sebelum memegang ikan, harus cuci tangan dengan bersih tanpa sabun, dan setelahnya bisa mencuci tangan menggunakan sabun. 

informasi dalam tablet di berbagai tempat

Di lantai bawah, ada juga display seperti aquarium super besar, di mana kita bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang. Di lantai dasar ini juga ada display jelly fish dan ikan Piranha. Kalau diperhatikan, gerakan ikan piranha sangat sedikit, mereka cenderung terlihat diam. Gerakan jelly fish kalau diperhatikan juga seperti bisa menari-nari dan menghipnotis. Ada 1 ikan yang terlihat seperti rumput yang melayang-layang di air, tapi ya kalau diperhatikan dengan seksama ya ada matanya di bagian bawah.

ikan piranha

Terus terang, ada banyak hal yang saya tidak ketahui nama dan bentuknya sebelumnya dan karena ke Jakarta Aquarium saya jadi tahu, oooh ada ya ikan seperti itu, atau ooh ada ya penghuni laut yang lucu seperti itu. Untuk anak-anak, mungkin melihat sekali saja tidak akan cukup, tapi itulah gunanya memfoto sebanyak-banyaknya untuk kemudian nanti dikeluarkan fotonya dan dicari informasi lebih lanjut di internet heehehe.

Di dekat pintu keluar, ada teater 5D, panggung pertunjukan dan juga tempat untuk membeli foto. Kami tidak membeli fotonya karena harga fotonya 350 ribu rupiah. Saya juga tidak bisa komentar mengenai teater 5D karena kami ga beli tiket untuk masuk 5D. Kami menyempatkan menonton pertunjukan mermaidnya.

pertunjukan mermaid

Ceritanya dinarasikan dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tokoh-tokohnya hanya menari dan berekspresi, panggungnya di lengkapi dengan special effect asap dan lampu-lampu untuk memberi kesan tertentu. Saya cukup kagum dengan kreativitas mereka dalam membuat pertunjukannya walaupun mungkin lebih baik kalau pertunjukannya di lakukan dalam ruangan dan kursi yang lebih nyaman. Saya juga kagum dengan pemain yang bisa menari-nari seperti putri duyung. Mereka pasti harus latihan cukup banyak supaya bisa menahan napas sambil menari-nari dalam aquarium besar.

Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam dari sejak masuk sampai keluar. Anak-anak cukup puas melihat ikan dan juga pertunjukannya, walaupun ada bagian yang buat Joshua terasa menakutkan, karena tokoh ratu jahatnya beneran deh wajahnya jahat banget (hahaha aktingnya berhasil dong ya). 

Secara keseluruhan Jakarta Aquarium cukup menarik untuk anak-anak belajar dan mendapatkan pengalaman memegang ikan-ikan, Tapi saya tidak tahu kenapa harga weekend harus dibedakan dengan harga hari biasa. Satu hal yang terasa sangat berbeda dengan Chiang Mai, harga makanan di dalam Jakarta Aquarium sangat mahal. Milo 1 gelas 25 ribu rupiah (50 baht), padahal harga biasanya diluar kurang dari setengahnya. Kalau mau ke sana, sebaiknya cari harga promosi, bukan akhir pekan dan hari libur dan bawa bekal susu sendiri hahaha.

Cerita Liburan Hari ke -3: Macet Itu Biasa

Hari ke-3 di Depok, kami memutuskan mengunjungi kakak saya di daerah pondok gede/lubang buaya. Pesan grab car, setelah menunggu beberapa saat mobil jemputan datang. Lumayan memang sejak ada fasilitas mobil yang bisa dipesan lewat aplikasi, kalaupun ga ada yang antar kami bisa tetap kesana kemari kalau lagi mudik.

Karena kami ga tau jalan, kami mengandalkan Google maps. Awalnya menurut perkiraan Google Maps bisa tiba dalam waktu 1 jam, kenyataannya baru mau keluar komplek ada penebangan pohon sehingga jalan dialihkan muter. Buat jalanan muternya karena lebih kecil dari jalan utama dan mobil dari 2 arah dialihkan ke komplek yg sama, akhirnya ya makan waktu juga.

Mendekati daerah lubang buaya, ada banyak yang jualan buah bukan hanya di trotoar, tapi ya memakai sebagian jalur lalulintas. Jelas aja dong jalanan jadi macet. Saya bayangkan karena tempat itu bukan pasar, siapa yang mau membeli buah ya minggir di jalan yg harusnya ada flownya, tentunya sumbangsihnya bikin tambah macet lagi.

Pulang ke arah Depok, lagi-lagi Google bilang cuma 1 jam, tapi prakteknya ya malah hampir 2 jam. Alasannya? penutupan jalan karena ada jalan diperbaiki dan rute untuk mutar itu sama dari ke-2 arah, padahal jalan yg dialihkan itu sangat kecil *sigh*.

Saya ga ingin liburan mengeluh macet mulu sehingga ga bisa kemana-mana, tapi saya kagum dan salut dengan semua orang yang bertahan tinggal di Jakarta dan sekitarnya dengan kemungkinan menghadapi macet setiap waktu. Mungkin saya terlalu dimanjakan Bandung tempo dulu dan Chiang Mai, sehingga saya jadi ga biasa hidup berjuang lawan macet. Untungnya Joe juga bukan model orang yang hobi berlama-lama dalam kemacetan, jadi saya rasa Jakarta dan sekitarnya sudah jelas dalam blacklist kalau harus pulang dan menetap di Indonesia.

Main piano dan nyanyi bareng abang Marvel

Anyway, misi kunjungan cukup menyenangkan. Jonathan bisa cukup akur dengan abangnya (anak kakak saya). Jonathan juga bisa dengan cepat ngobrol dengan teman-teman abangnya yang umurnya lebih tua dari dia. Joshua juga ga rewel dan cukup enjoy bernyanyi diiringi piano. Joshua juga mulai tidak terlalu takut dengan orang yang dia baru ketemu. Karena rumah kakak saya di samping gereja, Joshua senang sekali waktu melihat ada pohon natal besar di dalam gereja. Dia mengamati dengan seksama dan sangat tertarik melihat hiasan pohon natal di gereja.

Main bareng Cathy

Pulang dari rumah kakak saya, kami mampir ke rumah adik sepupu Jonathan yang umurnya hampir sama dan dari kemarin datang ke rumah eyang buat nemenin Jonathan dan Joshua main. Setelah puas main-main dan tentunya makan, kami pulang ke rumah eyang. Mudah-mudahan besok-besok kalau keluar rumah lagi ga ketemu macet seperti hari ini, atau mudah-mudahan kami terbiasa dengan macet jadi bisa tetap bersyukur ga nyetir di tengah kemacetan hehehe.

Cerita Liburan (Hari 1 & 2)

Setelah kemarin teler seharian karena nyampe Depok jam 12 malam dan terbangun subuh, kemaren jadi bolos menulis blog. Hari ini hampir bolos lagi, tapi kalau hari ini bolos lagi ada kemungkinan program menulis satu harinya bakal terhenti lama. Supaya nantinya di akhir liburan ga banyak yang harus dituliskan, saya akan tuliskan sedikit cerita 2 hari pertama di Depok.

Sesuai dengan misi utama buat mudik kali ini yaitu mengurus E-KTP,  hari pertama kami ke kantor kelurahan untuk melakukan perekaman data biometrik. Perekaman data mirip dengan pembuatan passport di KBRI Bangkok, bedanya selain foto dan sidik jari, untuk pembuatan e-KTP dilakukan perekaman retina mata juga. Waktu lihat hasil perekaman mata nya, saya pikir eh kok mata saya bagus ya hahahhaa. Proses perekaman data berjalan lancar dan semoga bisa segera memegang hasilnya sebelum pulang ke Chiang Mai.

Pulang dari kantor kelurahan kami berkunjung ke pabrik kaca eyangnya Jonathan sambil nungguin eyangnya kerja dikit di sana. Rencana semula, mau lanjut ke mall, tapi karena masih capek sisa perjalanan hari sebelumnya, akhirnya anak-anak main aja di rumah dengan sepupunya yang pas banget udah libur sekolah sejak hari kemarin.

Hari ini, hari ke-2, kami udah lebih cukup banyak tidur. Siang hari kami ketemu lagi dengan sepupu Jonathan di mall Margo City yang lagi ada tempat main trampoline. Lumayan bisa naik Grab 1 rupiah pake OVO. Dipikir-pikir, biaya main di sini jauh lebih mahal daripada di Chiang Mai. Tadi itu untuk 45 menit bermain, biayanya sekitar 85 ribu rupiah termasuk kaus kaki. Kalau dikurskan ke thai baht, 85ribu itu sekitar 190 baht. Saya ingat, salah satu tempat bermain di mall di Chiang Mai ada yang tarifnya 120 baht/jam untuk weekend, atau sepanjang hari kalau hari biasa. Tapi ada juga sih mall lain yang mengenakan biaya per 3 jam (tapi saya lupa persisnya).

Karena Joshua tidur sesampainya kami di mall, yang main trampoline cuma Jonathan dengan 2 sepupunya. Papanya ke Starbuck biar Joshua bisa tidur lebih tenang. Eh ternyata malah kebangun dianya, ya udah dia ikutan makan cemilan di starbuck aja ama papanya. Saya nungguin Jonathan main. 

Selesai mainan trampoline, kami ke toko buku Gunung Agung. Rasanya entah kenapa walau udah punya banyak buku, tetep aja senang masuk ke toko buku. Joshua yang lagi tertarik dengan angka, mengambil poster angka 1 – 30 dan membaca bahasa Indonesianya (biasanya Joshua tahu satu – sepuluh saja dalam bahasa Indonesia). Tapi sekarang dia jadi tahu satu  sampai tigapuluh. Jonathan juga kami cobakan membaca buku belajar baca bahasa Indonesia, eh ternyata dia udah mulai bisa juga. Saya sih seneng banget, karena selama ini walau saya ga ngajarin membaca bahasa Indonesia secara khusus, kami mengajak dia ngobrol bahasa Indonesia ya tujuannya supaya perbendaharaan kata dia bertambah dan nantinya dia bisa baca bahasa Indonesia sendiri hehehehe.

Pulang dari mall, lanjut lagi pada ngumpul di rumah eyang. Kali ini semua cucu eyang ngumpul lengkap. Rumah jadi ramai deh dan anak-anak bisa main dengan akur tanpa insiden berantem. Ada sih bagian di mana Joshua mendorong-dorong sepupunya yang sebenernya seumuran tapi badannya lebih kecil, tapi ya mereka seperti tahu kalau mereka bersodara dan dorongannya itu cuma bercanda, jadi ya aman tentram bahagia lah eyangnya melihat cucu-cucunya ngumpul.

Liburannya masih panjang, ceritanya disambung besok-besok lagi supaya ga terlalu panjang hehehe.

Review Terbang dengan AirAsia

Berhubung hari ini kami sedang travel pulang ke Indonesia naik AirAsia, sekalian jadi pengen cerita tentang pengalaman naik AirAsia sejak jaman dahulu kala. Mungkin kategori yang tepat bukan review tapi ya cerita-cerita aja hahaha.

sekarang giliran papa jagain anak-anak hehehe

Kami menggunakan AirAsia sejak sebelum menikah, ya maklum aja harga tiket penerbangan lain jauh diatas rate AirAsia. Pilihannya ya pakai AirAsia atau naik kapal laut, tentu saja milih naik pesawat. Masih ingat pengalaman pertama ditinggal pesawat juga ditinggal sama AirAsia (eh semoga nggak ada pengalaman ditinggal berikutnya). Pernah juga perubahan jadwal dadakan yang di majukan beberapa jam dari jadwal awal atau berangkat besok harinya, sehingga kami selesai pesta pernikahan harus buru-buru antar sebagian keluarga Joe ke airport. Ya perubahan jadwalnya sebenar waktu itu tidak harus kami terima, tapi sebagian anggota keluarga kebetulan ga bisa kalau harus dibesokkan lagi menunggu berangkatnya.

Ironisnya, dihari perubahan jadwal itu keluarga Joe ditunggu sampe beberapa menit mereka tutup pintu pesawat. Giliran saya dan Joe beberapa hari kemudian datang terlambat 5 menit dari batasan check in diijinkan 45 menit sebelum take-off eh kami ga boleh dong masuk huhuhu. Padahal oh padahal sebelumnya mereka menerima sampai 5 menit sblom jadwal take-off. Huh tak adil. Eh kok jadi curhat.

Sejak pindah ke Thailand, pilihan untuk pulang juga semakin mahal dengan penerbangan lain, kapal laut juga nggak bisa dipilih hahaa. Air Asia jadi pilihan lagi terutama kalau mau pulang lebih dari 1 x setahun. Waktu awal-awal, kami ga punya banyak pilihan, pulang ke Indonesia harus transit via Kuala Lumpur. Karena waktu itu AirAsia belum ada yang namanya fly thru, kami harus sangat repot sekali. Turun pesawat di Malaysia, keluar dari imigrasi, menunggu bagasi, ambil bagasi, pindah terminal ke terminal keberangkatan berikutnya, masukin bagasi lagi lalu imigrasi untuk keberangkatan ke Indonesia, proses pulang itu bener-bener perjuangan hahaha. Tapi balik ke Chiang Mainya lebih perjuangan lagi, karena ada step tambahan ketika sampai di Kuala Lumpur kami harus menginap di Tunes hotel 1 malam (karena tidak ada jam penerbangan berikutnya di hari yang sama), bangun super pagi untuk berangkat lagi ke Chiang Mai. Bisa aja nginap di tengah kota KL, tapi mana ada jaminan besok paginya nyampe subuh ke bandara buat berangkat lagi. Atau bisa aja ngampar di airport, tapi bayar tunes hotel ga terlalu mahal dan tentunya lebih nyaman daripada ngampar di airport.

Pernah sekali, sebelum kami punya anak, karena begitu repotnya perjalanan akhirnya kami iseng sekalian mampir sana sini. Jadi sebelum kembali ke Thailand, kami mampir dulu ke KL untuk berkunjung ke teman yang tinggal di KL, lalu kami mampir ke Singapur menginap 1 malam di Singapur. Dari Singapur kami terbang ke Bangkok, dan di hari yang sama dari Bangkok terbang ke Chiang Mai. Dipikir-pikir iseng banget ya hahaha. Kebetulan waktu itu dihitung-hitung dengan detour sedikit biayanya ga jadi jauh lebih mahal, dan karena teman-teman kami baik hati, kami ga perlu bayar hotel hahaha.

Setelah punya anak pertama, pulang pertama kali kami memutuskan naik Singapore Air demi kenyamanan perjalanan. Tapi perjalanan berikutnya untungnya sudah ada pilihan untuk fly thru  dan bisa terbang di hari yang sama jadi kami kembali naik Air Asia hehehe.

Sekarang ini, perjalanan dengan AirAsia jauh lebih nyaman. Selain bisa langsung terbang di hari yang sama tanpa repot keluar masuk bagasi, sekarang ini kami bisa memilih berapa banyak bagasi yang harus kami beli karena toh kami ga pernah bawa barang terlalu banyak, kami bisa memesan makanan terlebih dahulu secara online dan bisa memilih kursi dan cek in online. Sistem Air Asia sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu, kadang-kadang masih ada masalah ketika check in, atau membeli makanan. Kemarin kami harus mengkombinasikan penggunaan aplikasi AirAsia mobile dan web ketika membayar untuk bagasi, kursi dan makanan.

Beberapa waktu lalu, untuk bisa terbang langsung ke Indonesia dengan fly thru, kami hanya bisa memilih transit di Bangkok (DMK), padahal saya sering melihat kalau rute pilihannya CNX-KUL, lalu KUL-CGK atau KUL-KNO, seringnya harganya lebih murah daripada via DMK. Tapi belakangan ini saya perhatikan aplikasi airasia sudah bisa juga fly-thru via KUL. Sekarang ini, jadi ada pilihan transit mau di Bangkok atau KL.

Hari ini, setelah sekian lama ga transit di KL dengan AirAsia, kami mampir di KL lagi. Terakhir mampir sini sudah beberapa tahun lalu sebelum ada Joshua. Eh pernah sekali mampir sini naik Malindo Air, sayangnya rutenya udah ga ada lagi. Waktu naik Malindo kami transitnya super sebentar, dan gate nya sebelahan jadi ga melihat banyak hal di KLIA. Sekarang ini kami transit beberapa jam, makanya sempat nulis ini sambil nunggu pesawat berikutnya. Hal yang paling menyenangkan, masih di pesawat udah bisa konek free wi-fi Airport yang bisa digunakan selama 24 jam. Jadi sambil nunggu gini bisa tetep online, main pokemon juga bisa haha.

Oh ya, kadang-kadang kami memilih penerbangan lain karena waktu di cek harganya penerbangan lain lebih murah daripada AirAsia, tapi hal ini jarang sekali terjadi. Sejauh ini pengalaman terbang dengan Air Asia baik-baik saja, semoga ke depannya semakin baik lagi.

Tentang Drama Korea

Tulisan kali ini saya tidak secara khusus mereview drama Korea tertentu, cuma mau menuliskan kesan-kesan setelah menonton sekian banyak TV Seri K drama. Saya gak tahu persisnya udah nonton berapa banyak, soalnya belum pernah menuliskan listnya (kapan-kapan tulis listnya kalau mau nulis review satu persatu hahahaha).

Dulu, jaman teman-teman saya pada ramai  ngomongin drama Korea, saya ga ikutan karena kalau dengar cerita mereka kesannya K-drama isinya romance doang. Tapi mungkin juga mereka dulu nontonnya emang yang genre romance doang ya. Dulu alasan ga nonton selain belum tertarik, ga ada waktu, juga ga mau beli /nyewa CD, sedangkan yang diputar di TV yang saya ingat cuma Meteor Garden dan ini bukan K-drama.

Beberapa waktu lalu, waktu iseng-iseng liat di Netflix, saya gak sengaja melihat serial Boys Over Flowers yang katanya versi koreanya Meteor Garden. Awalnya cuma pengen lihat apakah mereka cuma beda pemeran dengan cerita yang sama persis, atau mereka adaptasi sendiri. Ternyata walau garis besarnya sama, tapi karena saya nonton Meteor Gardennya udah lama banget, ya akhirnya saya keterusan juga nontonnya hahaha.

Beberapa judul yang populer memang terkenal karena aktor dan aktrisnya. Saya lupa apa serial berikut yang saya tonton, tapi beberapa serial awal yang saya tonton jalan ceritanya hampir bisa ditebak. Akan ada kilas balik, ada amnesia, ada yang kalau ketemu berantem mulu terus akhirnya jadi pasangan, ada cinta beda latar belakang ekonomi, dan kebanyakan walau awalnya jalan ceritanya berjalan dengan cepat, di tengah-tengah akan ada beberapa episode yang jalan ceritanya terasa lambat sekali dan banyak kilas balik dari episode-episode sebelumnya dan akhirnya semua diselesaikan secara terburu-buru di episode terakhir.

Udah tau pattern kayak gitu tapi tetep aja ya ditonton, salah siapa coba hahaha. Saya akhirnya sempat berhenti nonton karena mulai bosan dengan cerita yang gitu-gitu aja. Tapi ternyata setelah berhenti beberapa lama, saya menemukan serial kdrama yang jalan ceritanya ga cuma kisah cinta.

Salah satu kdrama yang topiknya hampir ga ada kisah cintanya itu seri yang tayang di Netflix Life. Ceritanya seputar konflik politik  antara manajemen di rumah sakit yang berorientasi profit dengan dokter yang berorientasi menyelamatkan pasien. Biasanya saya menonton kdrama yang sudah selesai seasonnya, serial Life ini salah satu yang saya tonton waktu masih harus menunggu 2 episode per minggu. Walaupun ceritanya berlangsung di rumah sakit, tapi tidak banyak cerita mengenai penyakit pasien tertentu. Kalaupun ada diceritakan soal pasien, karena pasien itu ada hubungannya dengan konflik kepentingan yang terjadi.

Salah satu seri yang saya tonton mengangkat cerita seorang pria terkena kanker payudara. Sebelum nonton film ini saya gak pernah tahu (dan seperti dikisahkan di film ini kalau kebanyakan orang gak pernah tahu) kalau pria juga bisa terkena kanker payudara. Dalam serial ini diceritakan mulai dari simptom awal, pemeriksaan awal, treatment yang dijalani sampai reaksi orang-orang ketika mengetahui seorang pria terkena kanker payudara. Walaupun ada kisah cintanya, film ini jadi bisa memberi edukasi juga supaya kita lebih aware dengan penyakit ini. 

Ide cerita yang juga menarik mengenai seorang yang punya kepribadian ganda dan jatuh cinta pada wanita yang sama. Walaupun penyelesaian ceritanya menurut saya gak masuk akal, tapi cukup menark melihat 1 aktor memerankan 2 karakter yang sangat berbeda. Dalam serial ini diceritakan juga mengenai hypnotis itu bukan sihir tapi science. Ada bagian cerita dimana psikiater bisa menghipnotis orang secara massal dengan bunyi atau benda tertentu. Saya kurang tahu mengenai hipnotis, tapi saya jadi ingat dengan banyak cerita kejahatan dimana pelakunya menghipnotis korban sehingga tanpa sadar memberikan uang atau transfer atm dan sebagainya. Tapi di film itu disebutkan, biasanya orang bisa terhipnotis kalau yang dihipnotis menaruh kepercayaan ke orang yang menghipnotisnya. 

Ada juga kdrama bercerita mengenai seorang spy yang sedang dalam pelarian lalu menjadi baby sitter tetangganya. Film ini menarik karena ada actionnya juga dan ibu-ibu komplek yang sangat canggih dalam mencari informasi. Jadi walaupun film ini berkisah mengenai agen rahasia, tapi banyak unsur komedinya juga jadi terasa lebih ringan, jangan dibandingkan dengan film Mission Impossible.

Walaupun sejak menonton Life saya bertekat ga akan menonton kdrama yang masih on-going, tapi ya kadang-kadang kalau lihat trailernya menarik saya akhirnya nonton juga tuh episode pertamanya untuk menentukan akan meneruskan menonton atau tidak. Sekarang ini sedang tergoda nonton Memories of the Alhambra. Film ini menarik karena walau saya sebelumnya ga tau apa itu Alhambra, di mana itu kota Granada, tapi karena dikisahkan tokohnya bermain game dengan augmented reality yang dilihat menggunakan contact lens dan adegan berantem melawan tokoh-tokoh yang muncul secara virtual. Entah kenapa malah teringat game pokemon hahaha. Sekarang ini baru ada 4 episode, dari 2 episode yang sudah ditonton, di akhir episode selalu ada hal yang bikin penasaran. Sepertinya saya akan menunda dulu menonton film ini sampai selesai di bulan Januari nanti (daripada saya penasaran tiap minggu hahaha).

Ada banyak alasan orang nonton k-drama, tapi buat saya ide ceritanya paling menentukan dibanding aktor dan aktrisnya. Biasanya trailer dan episode pertama bisa menentukan apakah filmnya cukup menarik atau tidak untuk ditonton. Kalau di episode pertama saja ceritanya sudah bertele-tele dan lamban, sudah pasti gak akan saya terusin hehehe. 

Kalau ada rekomendasi film (terutama k-drama) yang jalan ceritanya menarik, bagi-bagi judulnya ke saya ya hehehe.