Super Full Moon 2019

Dari beberapa hari lalu, sudah dapat link mengenai super full moon yang akan terjadi hari ini 19 Februari 2019. Tapi karena banyak kesibukan hari ini jadi terlewat informasi kalau badan astronomi Thailand yang ada di Chiang Mai ternyata mengadakan acara mengintip super moon pakai teleskop mereka. Untungnya sekarang ini semua ada di facebook ya, jadi walau ga bisa datang ke sana, bisa juga melihat hasil jepretan yang datang ke sana.

Foto super full moon dari FB page: อุทยานดาราศาสตร์สิรินธร Princess Sirindhorn Astropark

Tadi akhirnya cuma liat keluar dengan mata biasa, sekaligus memberi tahu Jonathan beberapa informasi mengenai super full moon ini. Seperti biasa, cara termudah mengajarkannya setelah melihat langsung adalah memberikan video mengenai apa itu super full moon. Fakta-fakta mengenai super full moon bisa di baca lengkap di sini.

Apa sih super full moon itu? bedanya apa dengan full moon yang bisa dilihat setiap bulannya? Jadi istilah super full moon ini sebenarnya karena bulannya lebih terang dan lebih besar dari biasanya. Super full moon ini belum tentu terjadi setiap tahun, super full moon ini kelihatan di bumi ketika jarak antara bulan dan bumi di titik terdekatnya. Tapi tahun ini cukup spesial, setelah bulan januari ada super blood full moon, bulan ini ada super full moon, dan kedua peristiwa ini bisa dilihat dari kota tempat kami berada.

Waduh apalagi itu blood moon. Ya bulannya kelihatan merah karena ada gerhana bulan total dan refleksi cahaya mataharinya kelihatan merah. Sayangnya, event ini juga saya terlewat tanggal 20 Januari 2019 lalu. Penjelasan yang lengkap mengenai super full blood moon ada di sini. Super blood moon juga tidak selalu terjadi setiap tahun.

Entah kenapa setiap lihat full moon, saya ingat dengan sailor moon. Saya bukan penggemar sailor moon, saya tidak ingat nama tokohnya dan kenapa dia pakai pakaian sekolah. Yang saya ingat hanya bagian: dengan kekuatan bulan, akan menghukummu. Setiap kali dengar bagian itu, saya bertanya-tanya emang kekuatan bulan apaan? bahkan bulan tidak punya sumber cahayanya sendiri. Aduh jadi kemana-mana deh ceritanya.

Lukisan sailor moon buatan Joe dulu

Coba lihat keluar, kira-kira hari ini bulannya lebih terang dari biasanya gak di tempat Anda. Kalau iya, ajak anak melihatnya sekalian kesempatan mengenalkan astronomi ke anak.

Cerita Jaman Kos

Sebelum tidur, Jonathan suka meminta diceritakan mengenai suatu hal dari masa lalu. Setelah mendapatkan cerita mengenai masa kuliah papanya dan mengenal istilah rumah kos, dia sekarang pengen dengar cerita dari saya juga. Dipikir-pikir, kalau dulu orangtua saya bercerita soal masa dulu waktu mereka sekolah, saya sering ga terbayang kira-kira apa yang akan saya ceritakan ke anak cucu saya. Ternyata dari sejak jaman masih kuliah sampai sekarang, sudah banyak hal-hal yang berbeda sekali dengan yang dialami Jonathan sekarang.

Saya ingat, waktu kost pertama dan ke-4, dapurnya itu gak ada yang namanya kompor gas kayak jaman sekarang. Yang disediakan dari tempat kost hanya kompor minyak tanah pakai sumbu, yang untuk meyalakannya saja butuh waktu dan kalau gak hati-hati pancinya gampang gosong.

Waktu kost pertama, saya dibelikan mama saya kompor gas kecil yang tabungnya bisa dibeli di minimarket, tapi tergolong mahal kalau sering-sering dipakai. Kompor itu dipakai untuk masak indomie saja kalau saya pingin sarapan Indomie. Saya lupa kompor itu akhirnya saya bawa ke Jakarta ke kakak saya atau ke Medan. Kompor jenis itu masih ada sampai sekarang dan biasanya digunakan kalau orang-orang mau kemping saja.

Kompor minyak dari tempat kost disediakan minyaknya sama ibu kost dan dibersihkan sama pembantunya ibu kost. Kami menggunakannya biasanya buat masak air kalau mau mandi air hangat. Pernah suatu kali pulang ospek penuh lumpur, saya harus menunggu air agak panas dulu sebelum mandi padahal itu sudah jam 2 dinihari. Untuk langsung tidur tanpa membersihkan badan bukanlah suatu pilihan. Nah tapi saya ingat juga, besoknya saya bablas ketiduran karena udah enaklah ya badan bersih tidur berselimut hangat. Alarm jam berbentuk ayam yang berkokok tak mampu membangunkan saya walaupun terletak di sebelah saya hahaha. Saya kebangun jam 10 pagi!, dan teman-teman kost saya pada protes karena si alarm ayam berkokok selama 30 menit dan saya tak bangun juga hahaha, mereka pikir saya gak di rumah dan cuma lupa mematikan setelan alarm.

Saya pindah kost beberapa kali di Bandung, saya ingat di kost ke-2 dan ke-3 kami punya kompor gas yang isi tabung gasnya kami beli secara patungan. Tapi walau udah ada kompor gas, ya tetap aja ya, kebanyakan dipakai buat masak indomie atau buat mandi air hangat haahaha. Kost-kostan ke-3 kembali lagi pakai kompor minyak tanah. Saya tadi sampai harus mencari video di YouTube untuk menjelaskan ke Jonathan soal bagaimana menyalakan kompor minyak tanah dan bedanya dengan kompor yang digunakan sekarang.

Jadi setelah bercerita bahwa dulu mama gak semudah sekarang buat menyalakan kompor, saya juga bercerita kalau mesin pemanas air itu bukan hal yang selalu ada di Indonesia seperti di sini. Eh tau-tau dia bergeser pertanyaan ke mesin cuci. Kapan mama pertama kali punya mesin cuci?

Jadilah teringat lagi, kalau dulu itu, walaupun waktu tinggal di rumah orangtua saya ada mesin cuci, tapi di kost-kostan itu tidak ada yang namanya mesin cuci. Kalau masih ada uang saku lebih, paling bayar ekstra untuk mencari mbak yang mencucikan dan menyetrika baju. Kadang-kadang di tempat kost ada yang membatasi sehari hanya boleh mencuci 2 potong pakaian. Ada juga yang bebas berapa banyak tapi bayarnya langsung ke mbaknya. Tapi ada juga tempat kost yang gak ada mbaknya. Jadi ada masa di mana saya mencuci baju sendiri manual!. Untungnya sejak jaman kuliah saya gak punya banyak baju berbahan jeans yang berat-berat, jadi urusan mencuci tergolong enteng.

Saya tahu di banyak tempat mencuci manual itu masih merupakan preferensi banyak orang, tapi kalau sekarang ini saya harus mencuci baju 4 orang tanpa mesin, rasanya udah kebayang pengen nangis karena bakal lama selesainya dan juga kapan keringnya hehehe. Memang ya, kalau kita udah terbiasa dengan teknologi, kembali melakukan hal manual itu kerasa jadi berat, padahal kalau dilakukan mungkin aja gak seberat itu (eh tapi saya ogah ah nyuci manual hahaha).

Ceritanya jadi kemana-mana, tapi memang begitu kalau Jonathan sudah mulai bertanya, bisa gak ada habisnya. Biasanya saya yang harus menyudahi ceritanya dan suruh dia ingat menanyakan lanjutannya di kemudian hari kalau memang masih penasaran. Tapi dari bertahun-tahun hidup sebagai anak kost, ada banyak hal yang gak bisa saya lakukan seandainya saya ga pernah dilatih dari rumah. Mana mungkin tiba-tiba saya bisa menyetrika atau tahu memisahkan mencuci baju luntur dan tidak luntur kalau nggak pernah diberitahu/disuruh kerja sama mama saya. Memang ada kemungkinan beberapa lifeskill bisa dipelajari kemudian dari video yang ada di YouTube, tapi rasanya bersyukur aja dari rumah sudah diajari melakukan berbagai hal, sehingga waktu jadi anak kost bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci baju dan menyetrika.

Saya gak tau apa lagi kemajuan yang akan terjadi di masa Jonathan besar nanti, tapi sepertinya dia perlu juga diajari beberapa keahlian untuk mengurus dirinya sendiri. Siapa tahu nanti dia jadi anak kost juga kalau kuliahnya gak tinggal di kota yang sama dengan kami. Karena saya dan Joe sama-sama jadi anak kost setelah masa kuliah, kami juga mengajarkan ke anak-anak kalau mereka juga harus bisa mengurus dirinya sendiri nantinya setelah umur kuliah.

Mengembalikan Hobi Lama

Sebelum punya anak, saya sempat rajin merajut dan belajar jahit. Sejak Jonathan lahir, entah kenapa hobi merajut dan menjahit itu menguap terbang hilang. Mungkin karena saya kurang suka meninggalkan pekerjaan rajutan terlalu lama, akhirnya saya enggan untuk memulai. Beberapa kali mencoba mengembalikan mood, tapi ya akhirnya cuma browsing-browsing pola dan gak mulai juga.

Saya tahu punya anak bukan alasan untuk berhenti berhobi, tapi punya banyak rajutan yang gak kunjung selesai tidak membuat saya jadi rileks malah jadi senewen, maka akhirnya saya tinggalkan saja hal-hal yang bikin senewen. Hobi itu untuk dinikmati, bukan bikin jadi senewen toh hehehe.

Sekarang ini anak-anak sudah mulai besar. Saya merasa sudah waktunya saya punya waktu lagi untuk hobi saya. Anak-anak juga sudah mulai terbiasa bermain sendiri, asal mereka ga mainin benangnya sampai kusut, teorinya saya sudah bisa mulai merajut lagi.

Selama bertahun-tahun, benang dan jarum rajutan masih tersimpan rapi dan di bawa pindah rumah beberapa kali. Tahun ini saya mau kembali merajut lagi. Sepertinya kalau tahun ini masih gagal kembali merajut, harta karun merajutnya bisa di hibahkan saja ke orang-orang yang masih suka merajut.

Saya sudah menemukan komunitas merajut di kota ini, komunitasnya mengadakan pertemuan sekali seminggu dan kebetulan di hari yang sama dengan jadwal Jonathan les. Rencananya sesekali saya mau ikutan datang ketemu, supaya semangat berkaryanya tetap ada.

Selain mencari komunitasnya, kemarin saya memaksa diri untuk memulai mengerjakan hal yang kecil dan bisa selesai sekali duduk. Sambil nonton serial MacGyver, akhirnya selesai juga rajutan bunga rose. Rencananya nanti bunga ini akan ditempelkan di bandana, tapi bandananya belum dibikin hehehe. Sekarang lagi nyari-nyari motif bandana, dan udah dapat beberapa pattern yang bisa ditiru.

Setidaknya, hobi merajut ini bisa kelihatan hasilnya daripada hobi nonton film korea hahaha. Mending kalau nonton koreanya menghasilkan tulisan review, sejauh ini saya masih terlalu malas mereview film-film korea yang sudah saya tonton. Kalau dikombinasikan, bisa juga nonton kdrama sambil merajut hahaha.

Ngomongin kdrama dan merajut, saya ingat di salah satu kdrama yang saya tonton, si cowo merajut syal pink waktu dia sakit. Terus setelah dia sembuh dan mereka ketemu, syalnya dikasihin ke cewenya, dan diujung syalnya ada gulungan benang yang berisi cincin melamar si cewe. Ayo ada yang ingat ini kdrama yang mana? bisa jadi undian berhadiah nih. Hmm sayangnya saya jauh di Thailand, kalau nggak saya kasih hadiah benang deh hehehhe.

Kalau ada yang mau lihat tulisan lama soal hobi lama saya, bisa lihat di blog saya yang ini. Blognya udah gak pernah diupdate lagi. Mungkin nanti kalau udah banyak rajutannya baru deh diupdate lagi di sana.

Joshua, Huruf dan Angka

Sejak berumur 2,5 tahun, Joshua sudah tertarik dengan huruf-huruf dan angka. Dia sudah berusaha menulis ABC di white board, dan menyanyikan lagu ABC sebelum tertidur. Sekarang ini di umur 3 tahun 8 bulan, dia sudah bisa menuliskan alphabet dengan lancar dan menyebutkan namanya dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Dia juga menghapal 44 huruf Thai dan ingat urutannya (saya aja belum bisa). Selain huruf, dia juga menghapal angka dan bisa menghitung 1 sampai 100 (dan sekarang tertarik meneruskan menghitung sampai beberapa ratus).

Saya dan Joe tidak pernah secara khusus mengajari dia untuk mengenal huruf dan angka, menulis ataupun membaca. Tapi karena dia menunjukkan ketertarikan dan selalu bertanya dan meminta kami memberi contoh, ya tentunya kami menjawab keingintahuannya. Metode belajar Joshua biasanya dia akan meminta kami berkali-kali menyebutkan nama dari huruf dan urutannya, meminta diputarkan lagunya, dan tau-tau dia akan berusaha menuliskannya sambil meminta konfirmasi apakah yang dia lakukan sudah benar.

Selain menuliskannya, dia juga suka sekali membentuk huruf dan angka dari benda-benda di sekitarnya. Awalnya, untuk mengalihkan perhatiannya ketika menunggu makanan di restoran, Joe membuat huruf dan angka dengan sumpit. Lalu berikutnya menggunakan toothpick. Belakangan ini, pensil warna juga bukannya di pakai buat mewarnai, tapi dia bentuk jadi huruf dan angka. Ketika bermain lego, dia juga lebih suka membentuk huruf dan angka daripada membangun sesuatu.

Kemarin, waktu bermain di mall, dia ketemu mainan yang memang berupa shape combination puzzle untuk menyusun huruf dan angka. Mainan ini terbuat dari kayu dan cocok juga sekalian melatih motorik halusnya. Sejak dibeli sampai sekarang, entah sudah berapa kali Joshua menyusun huruf A sampai Z dan angka 0 – 9. Kemarin dia sampai susah diajak tidur untuk menghentikannya bermain. Tadi pagi bangun tidur juga langsung cari mainan ini.

Awalnya dia bermain tanpa mengikuti contoh yang ada, jadi agak lambat. Setelah mengikuti contoh yang ada, dia bisa menyusun huruf-hurufnya dengan lebih cepat. Setelah beberapa kali mengikuti contoh, dia menyusun sendiri tanpa contoh dan mulai berimajinasi juga membentuk huruf dengan tangannya.

Entah sampai kapan dia akan suka dengan huruf-huruf dan angka dan mainan sejenis ini. Tapi biasanya setiap ada mainan baru seperti ini, dia bisa asik main cukup lama, sampai akhirnya saya capek beresin dan simpan agak jauh hahahaha.

Joshua dan Piano

Joshua sekarang ini berumur 3 tahun 8 bulan. Sejak dulu keliatan punya ketertarikan dengan alat musik. Tapi karena dia belum lancar komunikasinya jadi belum bisa juga dikursusin piano. Beberapa waktu lalu saya iseng ngajarin dia lagu dari buku piano waktu awal belajar piano, cuma pakai 3 key hitam doang. Nah ternyata, dia bisa ingat dan mengulang-ulang lagu itu walaupun masih pake 1 jari saja.

Gaya serius kayak udah jagoan main piano

Setelah dia berkali-kali mainkan lagu yang sama, saya iseng lagi, kenalin dia untuk bisa do-re-mi-fa-so-la-si-do terus dari situ mundur lagi do-si-la-sol-fa-mi-re-do. Nah gak pake lama, dia bisa ingat juga. Kadang-kadang dia suka main asal-asal, terus mulai secara random dan setelah ketemu nada do, dia tau untuk nerusin sampai do tinggi dan kembali lagi ke do tersebut.

Jadi dalam waktu beberapa hari, kalau saya lagi mau latihan piano, dia pasti ikutan. Dia selalu memulai dengan lagu yang pertama saya ajarkan, dan kemudian do-re-mi berkali-kali. Saya perhatikan, dia masih belum ingat di mana letak do itu sebenarnya, tapi dia pencet random sampai dia ketemu do. Joshua sepertinya sudah mengenali nada.

Kemarin, saya iseng lagi, saya pikir daripada dia bosan cuma bisa 2 lagu, saya ajarin lagu dari buku piano juga, nadanya seperti lagu Mary had a little lamb. Nah, kemarin waktu saya ajarin dia masih insist mau lagu yang dia udah tau aja dan do-re-mi. Saya berusaha kasih tau berkali-kali dia gak mau dengar. Tau-tau hari ini, waktu dia lagi merebut main piano dari saya, setelah dia pencet asal-asalan, eh tau-tau dia main Mary Had a Little Lamb ini. Saya kaget tapi seneng juga, karena ternyata dia bisa ingat hahaha.

Awalnya dia sempat salah, tapi setelah beberapa kali, dia seperti bisa mengoreksi diri sendiri dan mengingat tuts mana yang harus di tekan. Karena gak berhasil upload video, kalau mau liat Joshua main piano klik link ini ya: Mary Had a Little Lamb . Lagu ini juga menggunakan 3 tuts hitam saja.

Tadi saya iseng lagi deh, ajarin dia mainkan lagu ABC, dia seneng banget nyanyi ABC soalnya. Nah ini dia gak menolak tangannya saya arahkan supaya bikin lagu ABC, malahan kalau udah selesai dia ngomong let’s sing it again. Tapi tadi sih dia belum bisa ingat semuanya, kalau dia besok-besok bisa lagu ABC saya pastikan akan mengenalkan bermain lagu baru lagi hahaha.

Selain main piano, dia juga suka sekali menyanyi. Lagu yang selalu dia nyanyikan setiap hari ya lagu ABC. Tapi belakangan ini dia bisa cepat menirukan lagu walaupun kemungkinan dia ga ngerti artinya. Waktu ada mama saya, kami berhasil mengajarkan dia lagu bahasa Indonesia. Maksudnya ya supaya dia punya lagu lain selain lagu ABC heehehehe. Untuk lagunya sejauh ini tapi belum berhasil merekam, setiap merekam dia suka rebut HP nya, jadi belum bisa di share gimana contoh Joshua lagi nyanyi bahasa Indonesia.

Tips Menghadapi Musim Polusi di Chiang Mai

Seperti pernah saya tuliskan sebelumnya, setiap tahun di Chiang Mai ada namanya musim polusi. Jadi bukan cuma musim panas, musim hujan, dan musim dingin yang ada di sini. Setiap musim polusi tiba, timeline FB lokal saya pasti ada beberapa post mengenai kualitas udara. Banyak group lokal juga akan membahas dan membuat banyak pendatang baru menjadi resah. Baru sekali saya ketemu dengan seorang yang pernah tinggal di Beijing berkata dengan bahagia: polusi di sini mah gak ada apa-apanya dibandingkan di Beijing hehehe.

Karena udah beberapa tahun mengalami musim polusi, kami sudah tidak terlalu cemas dan cenderung biasa saja hahaha. Tapi ya tentunya, biasa karena udah punya persiapan menghadapi musim ini. Kebanyakan expat di sini memilih mengungsi dari Chiang Mai ke Thailand Selatan atau mudik ke negerinya masing-masing. Tapi kami ga seleluasa itu juga untuk pergi dari Chiang Mai berbulan-bulan. Sebenarnya bisa juga saya dan anak-anak saja yang ngungsi, tapi ah, enakan juga bareng-bareng di sini. Secara keseluruhan, polusinya gak konstan selama 2 bulan kok.

Tips 1. Modal utama adalah alat ukur kadar polusi dan filter udara.

Tulisan ini lengkapnya udah pernah di posting Joe di sini. Kedua alat itu penting, supaya lebih tenang. Kalau dulu cuma melihat angka polusi di website, berarti itu kadar polusi di daerah sensor itu berada. Daerah rumah kami ini banyak tanamannya dan angin cukup banyak, jadi ya walaupun di website dinyatakan kadar polusinya tinggi, daerah sekitar rumah kami seringnya masih baik-baik saja.

Kalau angka sensor di rumah mulai di atas 60, kami akan mulai menutup semua pintu dan jendela dan menyalakan filter udara. Kami punya 2 filter besar dan 4 filter DIY, cukup untuk seluruh ruangan yang ada. Sekitar 2 hari kemarin sampai kemarin pagi, sensor udara mulai menunjukkan angka di atas 100. Sepanjang pagi sampai sore, filter udara bekerja penuh. Sore hari, ternyata angin berhembus cukup banyak dan udara mulai bersih. Jadi sore dan malam harinya filter bisa di matikan saja. Hari ini angka polusinya juga tidak setinggi 2 hari lalu, jadi kami santai aja gak nyalain filter, tapi malam ini kami nyalakan filter karena angkanya merambat naik lagi. Kalau liat angka tingkat polusi hanya dari website, dari kemarin masih cukup tinggi dikisaran di atas 100, masih kadar berbahaya, tapi karena punya sensor sendiri, kami cukup tenang terutama untuk kegiatan sekitar rumah.

Tips 2. Kurangi merencanakan aktivitas di luar rumah

Di musim polusi, kami mengurangi pergi ke taman. Di tengah musim polusi, biasanya akan ada hari cerah karena sehabis hujan. Nah kalau memang yakin sudah cerah (biasanya cukup berasa dari jarak pandang mata pas nyetir), boleh deh jalan-jalan dadakan ke taman.

Kalau misalnya kita ga punya pilihan dan harus beraktivitas di luar, kita bisa memakai masker untuk memfilter udara yang kita hirup. Masker yang digunakan bukan masker buat kulit wajah ya, tapi masker udara. Masker udara yang dianjurkan kategori masker N95, untuk menyaring partikel yang sangat kecil. Kalau pakai masker biasa, ya sama saja boong. Nah saya sejauh ini gak pernah pakai masker, anak-anak juga ga suka pake masker, tapi saya sedia masker siapa tau butuh suatu saat.

Tips 3. Jaga Kesehatan

Ini sebenarnya udara buruk atau baik harusnya tetap dilakukan ya. Tapi di udara buruk ini, kalau kita ga hati-hati bisa drop banget kena batuk dan teman-temannya. Jaga kesehatan tentunya dengan minum vitamin, makan yang sehat dan minum air putih yang cukup. Beberapa orang yang mengerti juga memakai essential oil.

Berolahraga di udara buruk tidak dianjurkan, kalau mau olahraga lebih baik olahraga di rumah atau di tempat olahraga indoor yang punya filter udaranya. Kalau melakukan aktivitas fisik dan menghirup partikel berbahaya, katanya malah bisa bikin berbagai masalah dengan sistem pernapasan kita.

Dengan tips di atas, mudah-mudahan waktu 2 bulan berlalu tanpa terasa. Pada dasarnya pemerintah Thailand bekerja dengan baik berusaha menanggulangi polusi ini dengan mengeluarkan larangan membakar sisa ladang sejak 1 Maret sampai 30 April, apa daya kadang-kadang polusi terjadi karena kebakaran hutan ataupun kiriman dari negeri tetangga. Bagusnya, kalaupun hal-hal ini tak terelakkan, di tengah musim polusi ini biasanya ada 1 atau 2 badai lewat membawa angin kencang dan hujan selama beberapa hari, jadilah udaranya segar lagi. Selain itu kalau kadar polusinya mengkhawatirkan, pemerintah Thailand juga mengusahakan membuat hujan buatan.

Saya baca berita, di berbagai daerah di Thailand utara sudah mulai diadakan pelarangan bakar-bakaran sejak Februari ini sampai akhir Maret. Sekarang ini ya tetap berharap polusinya gak memburuk, ada hujan dan tetap sehat. Gak mau panik tapi ya tetap harus liat situasi dan kondisi. Sekali lagi saya ingatkan kalau ada yang berniat jalan-jalan ke Chiang Mai, sekarang ini bukan waktu yang tepat. Lebih baik ganti tiket sampai polusi berakhir atau rencanakan akhir tahun atau awal tahun depan saja.

Tentang Mendidik Emosi Anak

Dinamika setiap keluarga itu berbeda. Dalam setiap keluarga, semua orangtua yang saya kenal berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Seperti kebanyakan orangtua, kami juga terus menerus belajar bagaimana mendidik anak supaya nantinya mereka menjadi manusia yang berhasil. Berhasil di sini bukan berarti nilai sekolah bagus dan atau jadi orang berkecukupan secara materi, tapi tentunya juga berdoa supaya mereka menjadi orang yang punya pribadi dan karakter yang baik.

Kemarin dapat kesempatan ngobrol-ngobrol dengan orang yang sudah berpengalaman di bidang mendidik anak. Mendidik di sini bukan hanya bidang akademik, tapi juga termasuk bagian karakter dan pribadi (mental health). Beberapa hal supaya gak lupa akan saya tuliskan di sini.

Sebagai orangtua, kita sering membaca buku mengenai topik parenting dan membesarkan anak. Beberapa hal sebenarnya isinya sama saja, tapi gak semuanya juga bisa diterapkan karena ya semuanya kembali ke situasi kita juga. Dari berbagai hal yang mungkin berhasil diterapkan di satu keluarga, belum tentu berhasil di keluarga lain. Tapi yang terpenting itu kita punya garis besar dan terus belajar mengenali anggota keluarga kita.

Hubungan orangtua menjadi contoh pertama untuk anak

Hal pertama yang diingatkan untuk kita orangtua, kita harus mengenali pasangan kita dan tidak pelit dalam mengucapkan kata-kata positif seperti terimakasih, dan juga menyatakan rasa sayang kita. Menyatakan rasa sayang ini bisa dengan gesture, ataupun dengan kata-kata. Ucapkan I love you sesering mungkin dalam sehari, dan kalau bisa secara spesifik sebutkan hal apa yang membuat kita merasa perlu memberi apresiasi. Kasih sayang orangtua satu sama lain akan diperhatikan oleh anak, dan karena anak-anak itu mesin fotokopi dan memory pertamanya adalah memory emosi, mereka juga akan menjadi anak yang penuh kasih terhadap sesama.

Memory pertama anak berupa emosi/perasaan

Untuk anak sampai umur 5 tahun, mereka mengerti sekitarnya berdasarkan apa yang mereka rasakan. Mereka merasa senang, merasa diperhatikan, dan mereka akan mengingat apa yang mereka lakukan ketika mendapatkan perasaan itu. Hal ini contohnya adalah, kalau kita punya lebih dari 1 anak, ketika anak pertama merasa orangtua lebih memperhatikan anak yang kecil, si anak yang besar ini akan meniru kelakuan si adik karena berpikir itulah caranya untuk mendapatkan perhatian orangtuanya. Bahkan kadang-kadang, misalnya kita memarahi anak yang besar karena “nakal” ke adiknya, kemungkinan anak yang besar itu mengulangi kenakalannya ada, karena mereka merasa dimarahi itupun bentuk diperhatikan.

Berikan waktu khusus untuk anak secara rutin

Nah tips yang diberikan untuk mengatasi masalah begini jawabannya sudah jelas, harus ada waktu khusus untuk si anak besar tanpa kehadiran si adik. Berikan pengertian dalam bentuk pengalaman yang meberikan emosi positif ke si anak tersebut. Kalau sudah cukup besar, bisa sambil diberikan pengertian penjelasan mengenai posisi anak tersebut sebagai anak yang lebih besar dan berikan tanggungjawab sesuai dengan umurnya.

Teorinya gampang ya memberikan waktu khusus buat yang besar, tapi prakteknya kadang sulit apalagi misalnya kalau adiknya masih menyusui dan nempel terus sama ibunya. Nah di sini peran bapaknya diperlukan untuk lebih banyak memberikan perhatian buat si sulung. Waktu khusus yang diberikan ini tidak harus keluar rumah atau memakan waktu berjam-jam, bisa jadi setiap harinya 10 menit sebelum tidur, atau dipagi hari ajak anak bermain bersama. Kalau ada waktu libur, bisa juga sekali sebulan pergi berdua anak besar saja.

Pilih sekolah yang dekat dari rumah

Salah satu hal yang di diskusikan masalah memilih sekolah. Kita sebagai orang tua sering memilih sekolah yang kita anggap baik, tapi akhirnya jauh dari rumah. Disarankan, lebih baik memilih sekolah lokal yang dekat dari rumah, daripada memilih sekolah yang travel time nya saja pulang pergi sampai 1 jam lebih. Waktu untuk antar jemput anak itu bikin kita jadi orangtua lelah dan akhirnya semakin malas untuk berinteraksi dengan anak karena sudah lelah di jalan. Untuk anak yang masih usia muda, yang dibutuhkan dari sekolah itu adalah interaksi sosialnya. Misalnya sekolah dekat rumah ini dinilai kurang bagus akademiknya, tidak jadi masalah, karena akademik itu bisa selalu kita yang lengkapi di rumah.

Anak perlu punya waktu dan teman bermain rutin

Untuk anak homeschooling, masalahnya beda lagi. Masalah yang timbul biasanya karena anak tidak punya banyak kesempatan untuk interaksi dengan orang lain, akhirnya si anak akan terus menerus “mengetes” orangtuanya. Karena itu untuk anak homeschool, ada baiknya punya rutin untuk ketemu dengan anak-anak lain, dan lebih baik lagi kalau anak tersebut orang yang sama dan bisa menjalin persahabatan yang baik.

Untuk kegiatan di rumah, anak bisa diberi kesempatan bermain yang misalnya susah merapihkannya atau kotor secara rutin, misalnya sekali seminggu. Sebenarnya lebih baik kalau bisa tiap hari, tapi ya minimal ada jadwal sekali seminggu. Hal ini kebetulan baru kami terapkan juga, paling sedikit sekali seminggu anak-anak main di bak pasir dan main air. Lalu sekali seminggu di bawa ke tempat bermain yang tetap. Sekali seminggu anak di bawa jalan ke taman. Dan paling tidak sekali seminggu main ke mall hehehe.

Expose anak dengan banyak hal, beri penjelasan bila bertentangan dengan nilai dalam keluarga kita

Ada yang bertanya bagaimana menyikapi kalau teman anak di sekolah ada yang kelakuannya kurang baik, apakah kita perlu melarang anak kita berinteraksi dengan anak tersebut? Nah katanya anak itu perlu di ekspose dengan banyak hal, bukan cuma hal positif saja. Tidak apa-apa berteman dengan anak yang kita nilai kurang baik. Di situ anak diajarkan kalau dalam hidup ini tidak semua orang baik, tentunya kita tahu apa yang baik karena ada yang tidak baik. Lalu kita perlu menanamkan nilai apa yang baik dalam keluarga kita dan kenapa kita tidak melakukan hal yang menurut kita tidak baik itu.

Fase penting dalam mendidik emosi anak

Satu hal yang saya baru belajar, ternyata ada 3 fase yang penting dalam mendidik emosi anak: sampai dengan 5 tahun, anak belajar mengenai value keluarga kita berdasarkan apa yang kita contohkan. Anak akan ingat bagaimana perasaan dia terhadap sebuah hal yang terjadi dan memahami berdasarkan perasaan positif atau negatifnya.

Fase berikutnya 5 – 10 tahun, anak mulai bisa diberikan pengertian dengan lebih banyak penjelasan. Akan tetapi, mereka belum benar-benar bisa mengikuti 100 persen untuk melakukan apa yang dia tahu baik dan tidak baik. Di sini kita perlu mereinforce value yang sudah kita ajarkan di usia muda. Kalaupun memberi pilihan ke anak, haruslah ada batasan. Mungkin di sini fase diberi kebebasan dalam batasan yang jelas. Ekspektasi terhadap anak harus jelas, karena anak belum bisa memutuskan sendiri.

Fase berikutnya 10-15 tahun, anak mulai dilatih untuk lebih bertanggung jawab dengan setiap tindakannya. Karena anak setelah 15 tahun bisa jadi tidak tinggal dengan orang tua lagi, maka anak perlu mengerti kalau dia perlu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri (misalnya bangun jam berapa kalau mau ke sekolah jam berapa).

Haduh tulisannya agak random ya, mudah-mudahan yang baca bisa mengerti dan siapa tahu ada yang mau share juga mengenai masalah mendidik anak ini.