NgeMall di Depok VS Chiang Mai

Katanya kita ga bisa membandingkan 2 hal yang memang berbeda. Depok itu bukan Jakarta, tapi tetap saja lokasinya dipinggiran kota Jakarta, beberapa hal di Depok terjadi ya gak lepas dari lokasinya yang gak jauh dari Jakarta, ibukota negara yang penduduknya sangat padat.

Chiang Mai lokasinya jauh dari Bangkok, walaupun disebut sebagai kota terbesar di utara Thailand, tapi kalau dibandingkan sama Bangkok, jauh lebih kecil dan bahkan masih bisa ditemukan sawah di sini. Saya mau membandingkan dari kesan selama liburan kemarin di Depok dan Jakarta.

Walaupun Depok bukan Jakarta, tapi kesan banyaknya volume kendaraan di jalanan ya selama di Indonesia hampir sama aja, banyak mobil dan terutama motor. Setelah seminggu kembali ke Chiang Mai, saya bisa merasakan kalau Chiang Mai ini sangat sepi kalau dibandingkan dengan Depok.

Untuk kegiatan jalan-jalan ke Mall, di Depok dan Jakarta itu jauh lebih mahal dibandiingkan di Chiang Mai. Banyak hal di mall di Chiang Mai merupakan fasilitas gratisan terutama seputar tempat bermain untuk anak-anak sampai dengan kereta api yang muterin mall.

main lego gratisan

Kalau di Chiang Mai, kami bisa ke mall itu cuma keluar duit untuk makan. Makannya juga cukup kurang dari 800 baht untuk 1 keluarga dan sudah termasuk makan di restoran yang mahal. Untuk kegiatan bermain, anak-anak bisa naik kereta api gratis, main di playground gratisan dan termasuk bermain lego di salah satu toko yang menjual permainan anak-anak.

indoor train di Margo City Depok

Di Depok dan Jakarta, main ke mall itu habisnya lumayan mahal, untuk bermain di tempat bermain harus membayar mulai dari 100rebu/anak. Untuk makanan, biasanya duit yang setara 800 baht itu belum makan kenyang. Saya jarang menemukan tempat bermain gratis di mall Depok dan Jakarta, dan untuk naik kereta api yang keliling mall juga tidak ada yang gratis. Oh ya waktu kami ke Jakarta Aquarium kami menemukan tempat bermain gratis di dalam Central yang sepertinya Central yang sama dari Thailand.

indoor train gratisan di Central Aiport Plaza Chiang Mai

Perbedaan kegiatan ngemall yang cukup berasa adalah waktu masuk parkiran, di Depok dan Jakarta, mencari parkiran itu butuh keahlian supaya dapat. Bayar parkir di mall juga cukup berasa untuk kantong, sedangkan kalau di Chiang Mai, parkir di Mall itu gratis. Beberapa mall di Chiang Mai menerapkan gratis hanya untuk 5 jam pertama, tapi ya kalaupun ngemall sampai lebih dan bayar, udah wajar lah ya rasanya. Mall yang sering kami kunjungi sih bebas parkir walau lebih dari 5 jam, tapi ya tidak diijinkan untuk meninggalkan mobil menginap di parkiran mall.

Di Depok dan Jakarta, waktu masuk ke dalam mall selalu ada pemeriksaan tas dan barang bawaan. Mobil sebelum masuk ke dalam komplek mall juga sering di minta untuk di cek bagian bawahnya. Selama bertahun-tahun tinggal di Chiang Mai, saya tidak pernah ingat ada pemeriksaan mobil ataupun tas waktu masuk ke dalam mall.

Satu hall yang saya heran, mall di Indonesia di akhir pekan padat sekali. Ya di Chiang Mai juga pernah sih melihat mall padat, terutama waktu mall nya baru buka, tapi sepadat-padatnya mall di Chiang Mai, rasanya mall di Indonesia jauuuuuuh lebih padat. Mungkin karena perbedaan kepadatan penduduknya juga ya, dan kalau semua orang kegiatan akhirn pekannya ngemall, ya akhirnya sudah pasti mall nya juga padat.

Sebagai kesimpulan, sepertinya kalau kami tinggal di Depok/Jakarta, saya gak akan suka kalau harus tiap minggu ke Mall mengantar anak kursus tertentu. Lebih baik mencari tempat kursusnya yang bukan di area mall. Tapi kalau di Chiang Mai, kegiatan ngemall untuk anter anak kursus itu masih cukup oke dan bahkan kadang saya anggap sekalian hari libur masak dan makan di luar hehehehe.

Nonton TV Indonesia Online

Sebenarnya kami bukan orang yang sering menonton TV, terutama acara TV yang banyak iklannya. Sejak tinggal di Chiang Mai kami sudah terbiasa tidak menonton TV, apalagi siaran TV Indonesia. Tapi setiap kali baru pulang dari Indonesia, karena di sana biasanya selalu ada TV menyala, Jonathan jadi ikutan nonton dan kamipun terpikir untuk mencari tahu bagaimana supaya bisa menonton siaran TV Indonesia.

Waktu pertama kali mengetahui siaran TV Indonesia bisa ditonton dari internet (sekitar tahun 2008), rasanya senang sekali. Tapi setelah tahu, ya akhirnya tetap saja gak ditonton. Waktu itu masalahnya selain kami tidak terlalu merasa ingin menonton, juga nontonnya sering ada buffering dan terputus-putus. Daripada menonton acara terputus-putus, kami memilih menonton TV Series yang sudah di download hehehe.

Beberapa tahun lalu, kami juga memasang parabola di rumah atas permintaan eyang yang berkunjung ke Chiang Mai. Karena hiburan eyang ya nonton TV dan eyang tidak mengerti nonton acara TV Thailand, ya kami pun memasang parabola yang menghadap ke satelit yang menyiarkan siaran TV Indonesia. Seperti biasa, setelah eyang pulang, kami tidak lagi menonton acara TV Indonesia.

Beberapa kali setelah itu, setiap eyang datang, Joe harus mensetting ulang untuk mencari stasiun TV yang biasa di tonton eyang. Masalahnya, tidak semua siaran TV Indonesia berada dalam satelit yang sama, jadi hanya sebagian stasiun TV yang bisa kami tonton. Pernah juga kami merekam beberapa film Paw Patrol berbahasa Indonesia yang disiarkan di TV Indonesia, lalu Joe akan mengedit menghilangkan iklannya untuk ditonton anak-anak supaya mereka juga bertambah kosa kata bahasa Indonesianya.

Waktu pulang terakhir kemarin, Jonathan mengikuti beberapa film anak-anak yang diputar di AnTV dan juga menonton acara Killer Karaoke Indonesia. Waktu sampai di Chiang Mai, Jonathan meminta ke papanya supaya TV di sini bisa menonton siaran AnTV juga. Waktu Joe mencari tahu, eh ternyata siaran ANTV sudah pindah satelit, dan kami harus menggeser arah parabola kalau mau bisa menonton ANTV. Tapi ternyata, kami jadi menemukan kalau ternyata TV Indonesia sekarang ini sudah banyak live stremingnya di Internet dan bisa diakses secara gratis, jadi kami ga perlu susah payah lagi deh sekarang kalau mau nonton TV Indonesia.

hasil pencarian tv online Indonesia di google

Waktu saya memasukkan kata kunci tv online Indonesia ke Google, saya menemukan ada lebih dari 5 situs yang menyediakan jasa streaming TV Indonesia. Saya mencoba beberapa situs yang katanya nonton tanpa buffering. Pada dasarnya, nonton TV Streaming tergantung dengan kecepatan internet juga. Tapi yang saya heran, beberapa situs yang bilang sama-sama live streaming, tapi beda tayangannya bisa sampai lebih dari 2 menit. Karena saya mencobanya sudah tidak di Indonesia lagi, saya tidak tahu situs mana yang benar-benar live streamingnya sama persis dengan siaran TV dengan antena biasa. Kalau lagi nonton pertandingan siaran langsung sepak bola, bisa-bisa dengar tetangga bilang GOL duluan nih hehehe.

Dari berbagai situs yang dicoba, ada 1 situs yang cukup lancar di akses dan juga antar mukanya cukup gampang. Mereka juga membedakan antar muka untuk akses dari komputer atau dari handphone.

vidio dot com diakses dari handphone

Karena sekarang ini TV kami sudah terhubung dengan mini komputer untuk menonton Netflix, adanya layanan streaming TV Online ini juga mempermudah kami mengakses menonton TV Indonesia jika dibutuhkan. Parabolanya mungkin bisa diarahkan ke satelit mengakses siaran TV Thailand hehehe.

Mudah-mudahan situs-situs TV Online ini bisa bertahan lama. Saya lihat, selain menyediakan konten streaming TV Online, mereka juga menyediakan layanan mengupload video untuk subscribernya. Ada juga layanan berbayar untuk menonton channel TV/film tertentu. Kalau untuk kebutuhan menonton streaming saja, untungnya kita ga harus repot-repot login atau bayar dan semoga tetap seperti itu.

Kembali ke Rutinitas

Hari Senin kami mulai hari sekolah di rumah kami setelah liburan hampir 1 bulan di Indonesia. Berbeda dengan kegiatan sekolah biasanya, saya memberi tugas sekolah 1 pelajaran saja pada hari pertama dan 2 pelajaran pada hari ke-2. Rencananya baru minggu depan kami akan melakukan kegiatan homeschool secara penuh.

Kegiatan belajar di luar rumah juga sudah dimulai, tadi Jonathan sudah pergi ke kelas Kumon, tapi rencananya kelas Art baru dimulai minggu depan. Mengembalikan kegiatan ke rutin sebelumya bisa saja langsung semuanya sekaligus seperti halnya kalau belajar di sekolah, tapi saya ingin membangun mood sedikit demi sedikit supaya suasana belajarnya bisa tetap menyenangkan buat Jonathan.

Joshua tracing tulisan Thai

Joshua gak mau kalah, walau ga disuruh dia kembali sibuk dengan menulis di white board, menyanyikan berbagai math fact ataupun alphabet. Dia juga ingin mewarnai dan melatih kemampuan tracing huruf Thai selain huruf biasa. Untuk Joshua, saya tetap belum berikan pelajaran khusus, biasanya saya bebaskan dia mau mengerjakan apa dan malahan saya ajakin main mainannnya daripada belajar terus menerus.

Setelah berlibur lama di Indonesia, Joshua bisa menghitung dalam bahasa Indonesia sampai dengan 30 (tiga puluh), kadang-kadang masih gak mengerti cara Joshua mengenai pola urutan dari angka ataupun bagaimana dia menghapalkan berbagai fakta matematika. Sekarang ini Joshua menghapalkan tabel perkalian sampai perkalian 5 dalam bahasa Inggris dan mulai berusaha untuk mengucapkannya juga dalam bahasa Indonesia.

Ngomong-ngomong, waktu kami tiba di Chiang Mai beberapa hari lalu, udara tidak sedingin musim dingin, malahan cenderung panas. Eh tau-tau hari ini dari pagi udaranya dingin dan hujan. Belakangan ini memang cuaca di Chiang Mai agak aneh, ada hujan di musim dingin dan kadang juga ada hujan di musim panas. Untungnya musim hujan jadinya tidak selalu hujan dan sehari-harinya matahari selalu ada walau di musim hujan.

Kalau udara lagi dingin dan hujan rasanya agak enggan untuk melakukan kegiatan keluar rumah. Mudah-mudahan musim dinginnya kembali normal dalam arti hawa dingin dengan matahari yang cerah sehingga bisa enak jalan-jalan keluar rumah.

Sekarang ini saya harus menuliskan lagi jadwal harian kegiatan sekolah Jonathan yang baru. Ada beberapa hal yang ingin dipindahkan harinya untuk menambahkan kegiatan yang baru. Rasanya setelah terbiasa dengan beberapa hal di hari yang sama, untuk memindahkan kegiatan ke hari lain kadang-kadang gak mudah juga, apalagi kalau kegiatan itu mempengaruhi pengerjaan pelajaran sekolah.

Kadang saya terpikir, jam homeschooling kami yang udah sangat singkat saja masih bikin saya bingung atur jadwal untuk pelajaran di luar rumah seperti art, piano, bahasa Thai dan taekwondo, gimana ya dulu kami mengatur jadwalnya Jonathan waktu masih ke sekolah Senin sampai Jumat dari pagi sampai sore. Gak heran dulu setiap Sabtu dan Minggu, waktu kami tersita untuk mengantar Jonathan ke berbagai kegiatannya. Sekarang ini setiap Sabtu dan Minggu kami bisa berekreasi bersama-sama atau sekedar bermalas-malasan di rumah (family time).

Ternyata, memiliki rutin itu lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk mengatur anak-anak di bandingkan mode liburan yang kegiatannya berbeda setiap harinya. Dengan adanya rutin yang sama, lebih mudah juga menyuruh anak tidur siang (sekalian ikutan tidur siang kalau perlu).

Salah satu kelebihan dari sekolah di rumah yang di rasakan saat ini, ada fleksibilitas untuk mengubah rutin yang ada kalau dibutuhkan, dan kalau misalnya terasa jenuh atau ada kegiatan khusus, jadwal bisa disesuaikan sewaktu-waktu hehehe. Misalnya seperti sekarang ini, lagi ada oppung yang datang ke Chiang Mai, kami bisa saja sewaktu-waktu meliburkan kegiatan sekolah dan menggantikannya di hari lain hehehe. Kalau ke sekolah mana bisa seperti itu.

Kalau anak punya rutin tertentu, otomatis saya juga rutinnya makin jelas. Kalau anak bisa tidur lebih awal, saya juga jadi bisa punya waktu buat menuliskan blog asalkan idenya sudah ada hehehe.

Mencari Ide Menulis

Baru hari ke-2 tahun 2019 mencoba konsisten untuk menulis sehari satu tulisan, tapi rasanya sudah kehilangan ide mau nulis apa. Ternyata, membangun kebiasaan baik itu memang sulit ya, gara-gara bolos nulis sejak Natal, dilanjutkan bolos nulis sejak tahun baru, rasanya jadi terbiasa untuk tidak menulis setiap hari. Karena hari ini mulai menulisnya juga udah kemaleman, daripada bolos nulis lagi saya akan mencoba menuliskan sumber-sumber mencari ide menulis.

  • Dari bahan obrolan sama pasangan/anak/keluarga: Sumber yang sering jadi ide biasanya adalah dari bahan obrolan. Tapi kadang-kadang gak semua cerita bisa dituliskan di ranah publik, kalau menuliskan di diary mungkin lain ceritanya dan gak perlu berlama-lama mencari ide, apa saja yang terpikir dan terasa langsung deh dituliskan.
  • Dari tontonan atau buku yang dibaca: bisa menuliskan review atau sinopsis dari film atau buku yang pernah ditonton atau dibaca, tapi untuk hal ini saya sering merasa butuh waktu lama menuliskannya, kalau sudah kemalamam pasti gak bisa mereview dengan cepat
  • Dari membaca tulisan orang lain: kadang-kadang ketika membaca tulisan orang lain, terpikir opini kita sendiri dan bisa menuliskan juga dengan versi kita
  • Dari pengalaman atau pengamatan yang kita rasakan sepanjang hari ini atau baru-baru ini: Cerita begini agak sulit pada hari di mana gak pergi ke mana-mana dan hanya ngerjain rutin beberes, masak dan urus anak doang di rumah, karena rasanya tiap hari bisa-bisa ceritanya sama saja :).
  • Dari cerita nostalgia masa lalu atau membandingkan dulu dan sekarang
  • Dari tempat wisata yang dikunjungi atau ada di tempat kita tinggal. Tulisan seperti ini biasanya juga membutuhkan waktu termasuk mencari foto-fotonya, jadi ga bisa ditulis kalau sudah terkantuk-kantuk.
  • Dan ide terakhir adalah menuliskan di mana kita bisa mencari ide menulis seperti yang saya tuliskan ini sambil curhat kalau lagi ga punya ide hahaha.

Katanya menulis harusnya konsisten waktu menulisnya dan sebaiknya pagi hari, udah beberapa bulan mencoba konsisten menulis tiap hari, tapi belum bisa menerapkan menulis di pagi hari. Mudah-mudahan ini karena baru pulang liburan dan rutinnya belum kembali seperti semula.

Saya pernah bikin list topik untuk dituliskan, tapi entah kenapa gak bisa menuliskan sesuai dengan rencana. Kadang-kadang menulis itu cuma butuh dimulai, di awal memang terasa tersendat-sendat, tapi lama kelamaan malahan jadi kepanjangan. Sering juga kalau menulis gak ada topik, bisa ngalor ngidul gak menentu gitu kayak tulisan ini. Kadang-kadang kalau udah mulai ngalor-ngidul malah bingung mau berhentinya gimana hahaha.

Menuliskan ide-ide menulis begini saja rasanya kok ga bisa kepikiran banyak ya, ayo ditunggu sumbang sarannya buat mencari ide menulis apa aja terutama kalau sudah semi mengantuk hehehe.

Cerita Tahun Baru 2019

Sejak bolos nulis setelah Natal lalu, rencana untuk update cerita liburan setiap hari jadi makin buyar. Ternyata menulis setiap hari dalam suasana liburan itu agak sulit, apalagi kalau banyak kegiatan di luar rumah seharian, atau kalau anak-anak kurang sehat. Walaupun hari ini sudah hari ke-6 di tahun 2019, masih boleh dong ucapi Selamat Tahun Baru 2019 buat para pembaca blog kami.

Supaya gak lupa, saya mau menuliskan tentang cerita sejak awal 2019 sampai kami pulang ke Chiang Mai. Kalau di update tiap hari mungkin ceritanya akan lebih panjang lagi, tapi ya tulisan ini seperti ringkasan saja hehehe.

Malam Tahun Baru banyak petasan dan kembang api di sekitar rumah eyang. Bahkan lebih banyak dari kembang api dibandingkan di lokasi rumah kami sekarang di Chiang Mai. Untungnya gak sampai bikin Joshua bangun. Jonathan yang tadinya sudah tidur, malah senang terbangun lihat kembang api. Pemandangannya tidak seperti melihat dari condo lantai 18, tapi ya lumayanlah karena kami melihatnya dari lantai rumah eyang.

Tanggal 1 Januari, mama saya datang dari Medan. Senang rasanya karena di bawain kue buatan mama seperti yang biasanya disuguhkan di rumah ketika hari tahun baru di Medan. Walaupun kami ga jadi ke Medan, jadinya merasakan suasana Medan di Jakarta.

Yay, kue tahun baru asli masakan mama saya

Tanggal 2 Januari, dapat kesempatan ketemu dengan beberapa saudara dari bapak saya yang tinggal dan berkunjung di Jakarta. Karena sekarang sudah ada 3 generasi, walaupun pertemuan hanya singkat, terasa sangat meriah. Jadi teringat masa kecil dulu kalau lagi tahun baru di Siantar, wow lebih ramai lagi orang-orangnya. Pertemuannya sangat singkat karena Jonathan kurang enak badan dan perjalanan dari Grand Indonesia ke Depok bakal memakan waktu lebih dari 1 jam dan kalau kemalaman sampainya kami khawatir Jonathan tambah sakit lagi.

Foto dulu sebelum makan dan nyemil-nyemil bareng

Tanggal 3 Januari, karena Jonathan masih belum sehat maka kami ga pergi jauh-jauh. Saya cuma anterin mama saya untuk ketemu inangudanya (adik dari mamanya mama saya) yang rumahnya ada deket rumah eyang. Kami pergi ke sana naik Grab dan cuma 15 menit, lalu pulangnya eh dianterin sama Tulang dan gantian deh berkunjung ke rumah eyangnya Jona.

Dianterin sambil kunjungan balasan oleh tulang dan oppung Citanduy Depok

Tanggal 4 Januari, hari terakhir liburan kami. Karena Jonathan masih kurang begitu semangat makan dan terlihat lemas, kami putuskan saya dan anak-anak di rumah eyang saja. Joe pergi sendiri karena ada undangan ke BSD. Siang harinya, kakak saya datang ke rumah eyang. Eh ternyata kakak saya sampai malam ngobrol di rumah Eyang dan ya karena malam terakhir di Jakarta jadilah gak terasa ngobrol sampai malam, apalagi adiknya Joe juga datang dan jadilah makin ramai obrolannya.

Makin malam makin rame

Tanggal 5 Januari, kami pulang ke Chiang Mai. Oppung ikut ke Chiang Mai, yay senangnya. Kami berangkat dari rumah Eyang sekitar jam 10 pagi. Jadwal berangkat jam 1.30 dan tiba di Bangkok jam 5.10 sore. Setelah melewati imigrasi, kami kembali ke ruang tunggu untuk penerbangan berikutnya. Untungnya semua penerbangan sesuai jadwal. Kami berangkat dari Don Mueang jam 7.30 malam dan tiba di Chiang Mai jam 8.30 malam. Karena harus mengambil bagasi ke terminal internasional padahal mendarat di terminal domestik, lalu kembali ke terminal domestik untuk naik taksi, kami baru tiba di rumah menjelang pukul 10 malam.

Walaupun sudah lelah, tapi rasanya senang sekali sampai di rumah. Untungnya udara di Chiang Mai tidak terlalu dingin. Cukup dinginnya untuk tidak meyalakan AC, tapi ya tidak sampai menggigil kedinginan.

Sejak beberapa hari sebelum pulang, Joshua dan Jonathan sepertinya sudah rindu Chiang Mai. Joshua sudah beberapa kali menyebut-nyebut Central Airport Plaza, ini adalah mall yang dekat rumah dan sering kami datangi untuk sekedar makan dan bermain berbagai permainan gratisan yang disediakan di mall tersebut. Jonathan juga sepertinya sudah rindu Chiang Mai, dia gak terlalu selera makan beberapa hari terakhir, dan beberapa kali menyebutkan pengen pulang ke Chiang Mai.

Hari ini 6 Januari 2019, sepulang gereja kami ke Central Airport Plaza untuk makan dan sedikit bermain. Joshua makan dengan lahap dan Jonathan yang sudah beberapa hari susah makan semakin membaik makannya. Selesai makan, kami naik kereta api gratisan. Turun dari kereta api, seperti biasa Joshua pergi ke tempat bermain lego gratisan. Senang rasanya melihat anak-anak langsung adaptasi kembali dengan kota Chiang Mai.

Makan malam di mall sesuai permintaan anak-anak (dan saya yang malas masak)

Pepatah bilang daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Tapi sepertinya buat anak-anak, peribahasanya tidak berlaku, karena mereka lahir dan besarnya di negeri orang.

Liburan di Indonesia sudah berakhir, tapi rasanya akan butuh waktu untuk mengembalikan rutinitas kegiatan homeschooling. Rencana awal, tanggal 7 Januari kami sudah akan memulai kegiatan homeschooling, tapi sepertinya, saya perlu menyusun ulang jadwal kegiatan sekolah dengan menambah porsi kegiatan sekolah sedikit demi sedikit selama minggu pertama. Alasannya karena saya juga masih dalam mode liburan haahaha. Saya juga perlu kembali dengan rutinitas sehari satu tulisan.