Phuket hasil editan Google Photos

Berhubung waktu liburan gak bawa laptop, jadilah saya cuma bisa ngeblog 1 kali dari Phuket. Setelah kembali ke Chiang Mai, ceritanya akan saya lanjutkan sedikit demi sedikit. Sebelum ceritakan perjalanannya, saya mau berbagi foto-foto selama di sana yang diedit oleh Google Photos.

Sudah tahu belum, kalau foto-foto kita diupload ke Google Photos, nantinya dengan algoritma AI (artificial inteligence), Google akan mengedit sebagian foto kita dan membuatnya jadi lebih indah lagi hehehe (lokasi asli dilihat mata langsung tentunya masih lebih indah).

Foto-foto berikut ini diambil dengan HP Joe (iPhone XR), HP saya (Xiaomi Note 5), dan HP Jonathan(Xiaomi Redmi 4X). Foto Panorama yang ada merupakan panorama otomatis oleh Google. Yang kami lakukan cuma foto sekeliling dan upload ke Google Photos.

Pantai Yanui di siang hari
Panorama Pantai Yanui

Foto dan Panorama Pantai Yanui di atas difoto oleh Joe dengan iPhonenya. Setelah diedit oleh Google, saya lebih suka biru langit yang bukan panorama.

Pantai Yanui ini kategorinya pantai kecil. Tapi cukup buat bermain pasir dan tidak ada kapal yang bersandar di sana. Beberapa bagian berupa batu-batuan dan turis yang datang bisa snorkeling.

Jalan ke Prompthep Cape melihat ke arah Windmill

Dekat hotel kami tinggal, ada 2 tempat untuk melihat pemandangan. Kami berjalan kaki ke Promthep Cape, dan dari jalannya kami bisa melihat ke arah Windmill ViewPoint. Ini saya foto menggunakan iPhone Joe sambil istirahat dari perjalanan yang agak menanjak.

Pemandangan dari arah Mercu suar Promthep Cape

Prompthep Cape ini merupakan tempat paling selatan dari Phuket. Selain untuk melihat matahari terbenam, di sini juga ada mercu suar. Ini foto ke arah laut diambil dari dekat mercu suar. Foto ini juga diambil menggunakan iPhonenya Joe.

Menjelang Sunset dari Promthep Cape Restaurant

Kalau ini foto menjelang matahari terbenam yang diambil dari tempat duduk kami di restoran. Mataharinya terbenam ke balik gunung. Waktu kami ke sana, langitnya lagi agak berawan.

Perjalanan menuju View Point Big Budha

Salah satu view point untuk melihat Phuket adalah Big Budha. Sesuai dengan namanya, di tempat ini ada patung Budha yang sangat besar yang dari jauh bisa kelihatan. Foto ini diambil Joe menggunakan iPhone dari dalam mobil ketika sudah cukup dekat ke lokasi Big Budha.

View kota Phuket dari area Big Budha

Kalau ini foto ke arah kota Phuket dari area Big Budha. Foto ini diambil oleh Jonathan dengan HP Xiaomi Redmi 4X.

Panorama dari area Big Budha

Foto panorama dari area Big Budha ini saya yang foto dengan Xiaomi Note 5.

Rawai Kids Park Pool Area

Ini foto waterpark di Rawai Kids Park. Foto ini saya ambil dengan Xiaomi Note 5.

Rawai Kids Park ruang bermain indoor dengan AC

Foto Panorama ruang bermain yang ber AC di Rawai Kids Park, di foto pakai iPhone nya Joe.

Pantai Rawai di sore hari
Pantai Rawai di sore hari

Dua foto Pantai Rawai di atas diambil sekedarnya oleh Joe dengan iPhone sambil gendong Joshua yang mulai ngantuk, tapi setelah diedit oleh Google jadi terlihat lebih bagus hehehe. Pantai Rawai ini lebih panjang dari pantai Yanui, ada banyak kapal besar dan kecil sandar di sini.

Selain edit foto jadi lebih indah, Google Photos juga membuat movie, animasi dan kolase.

Kumpulan foto di Phuket Aquarium

Ini kumpulan sebagian foto di Phuket Aquarium yang dijadikan movie oleh google photos.

Mungkin buat yang udah jago fotografi, foto-foto hasil editan Google ini biasa saja ya, tapi kalau menurut saya sih ya lumayan lah mengingat ini diedit secara otomatis.

Kami membiasakan diri untuk upload foto setiap kali terhubung ke WiFi, dengan cara ini kalau misalnya HP rusak/hilang/gak sengaja terhapus, memorinya sudah tersimpan di Google Photos (harapannya sih HP nya tetap aman ya).

Cerita Liburan: Perjalanan Chiang Mai – Phuket dan Jalan-jalan hari ke-1

Untuk sementara saya berhenti dulu dengan tulisan bahasa Thai, karena sekarang ini kami sedang liburan ke Phuket.

Pantai Yanui Phuket

Setelah 12 tahun tinggal di utara Thailand, akhirnya kami sampai juga di kota Phuket yang lokasinya di bagian selatan Thailand ini. Yaaa seperti halnya ke Bali saja kami baru sekali, walaupun Phuket ini sama-sama di Thailand, kesempatan mengunjunginya baru datang sekarang.

Sebelum berangkat, saya baru menyadari kalau saya sama sekali belum pernah mencari tahu soal Phuket hehehe.

Setelah beli tiket, baru deh bingung mau di bagian mana Phuket nih tinggalnya. Ternyata ada banyak pilihan pantai untuk dikunjungi di Phuket. Phuket juga lebih besar dari Chiang Mai, bentuk wisatanya juga berbeda, kalau di Chiang Mai lebih banyak pegunungan, kalau di sini ya umumnya pantai dan olahraga air.

Karena kami tipe traveler yang maunya santai tanpa banyak itinerary, saya memilih lokasi hotel yang aksesnya dekat ke pantai. Cita-cita awalnya nyari hotel yang ada pantainya langsung, tapi harganya gak pas, akhirnya ya milih hotel yang jalan sekitar 4 menit ke pantai dan juga sekitar 1 km ke tempat yang ramai jadi tujuan wisata di Phuket.

Setelah semua di pesan online, hari Sabtu 27 Juli 2019 kami berangkat naik AirAsia. Dari rumah jam 10.40 pagi, proses drop bagasi selesai jam 11 lewat sedikit. Kami sengaja makan siang di bandara karena penerbangan nya jam 1 siang. Setiba di Phuket jam 3 siang, proses ambil bagasi cukup lancar dan langsung ketemu dengan supir yang sudah dipesan sebelumnya. Cuaca juga cukup cerah, mengingat Chiang Mai sedang gerimis ketika kami tinggalkan.

perjalanan airport menuju hotel

Joshua di pesawat menolak tidur siang, waktu sampai di Phuket dia mulai agak rewel karena mulai ngantuk dan capek. Untungnya dia tidur di mobil selama perjalanan ke hotel. Hotel pilihan kami lokasinya di paling selatan Phuket, bandara Phuket itu lokasinya di Utara, butuh waktu sekitar 2 jam dari mulai mendarat sampai akhirnya bisa nyaman di kamar hotel. Senangnya karena pesan 1 kamar tapi serasa dapat 2 kamar.

kamar hotel dengan 1 tempat tidur besar
bagian depan kamar hotel 1 single bed dan 1 sofa bed yang dipasang sprei juga
kolam renang di depan kamar, ada bagian khusus anak-anak juga
sedikit tempat bermain di depan restoran

Karena sudah jam 5 sore, kami yang awalnya berniat langsung ke pantai mengurungkan niat itu. Joshua juga sampai hotel minta main air di bathtub, sedangkan Jonathan minta berenang. Jadilah papanya nemenin Joshua main air, sedangkan saya nemenin Jonathan berenang.

Pelajaran dari perjalanan kemarin adalah:

  • baca baca dan baca tentang kota tujuan, semua informasi tempat wisata ada di internet
  • booking online biar dapat harga yang oke
  • baca review di trip advisor dan google map untuk tempat yang ingin dituju
  • kalau anak masih kecil sebaiknya hari perjalanan menuju kota tujuan dan jalan-jalannya dipisah, itinerary jalan-jalan juga jangan terlalu padat dan harus fleksibel
  • namanya aja liburan, tapi prakteknya karena anak-anak berada di lingkungan yang baru, bisa jadi mereka malah bikin kita tambah lelah hehehe
  • liburan itu menyenangkan anak-anak, kita ya otomatis merasa senang liat anak kita bergembira walaupun mungkin kitanya lelah
  • karena kami bukan orang yang hobi nyetir, kami memilih memesan mobil dengan supir supaya kami bisa ikut menikmati perjalanan. Memang sih lebih hemat kalau kita nyetir sendiri, tapi yaaa namanya liburan pasti ekstra biaya. Kalau kata Joe mending mrogram 2 jam daripada nyetir 2 jam hehehe. Pada akhirnya kenali jalan-jalan seperti apa yang cocok buat keluarga kita.

Haduh udah panjang aja nih ceritanya. Cerita hari ini lebih singkat dan saya bagikan dalam bentuk foto saja ya.

Kegiatan hari ini masih sekitar hotel. Pagi sarapan di hotel, abis sarapan anak-anak minta berenang. Sekitar jam 11 siang kami baru jalan ke pantai Yanui yang cuma 4 menit dari hotel. Jalannya tidak ada trotoar nya, tapi ya jarang dilewati mobil dan cukup lebar.

main pasir di pantai Yanui
sempatkan foto keluarga hehehe

Kami di pantai cuma sebentar, anak-anak cuma main pasir dan ga berani main air. Ombaknya ga tinggi tapi lautnya lagi berangin gitu deh. Sekitar jam 12 kami makan siang di sana. Selesai makan kami kembali ke hotel buat tidur siang.

Bangun tidur, kami memutuskan jalan ke Prompthep Cape untuk melihat sunset. Awalnya jalannya agak teduh, eh ternyata matahari masih menyengat dan jalannya juga menanjak. Salut sama Joe yang bisa bujukin Joshua jalan sendiri dan gak harus gendong. Jalannya lumayan naik, saya aja ngos-ngosan (ini sih kurang olahraga hehehe).

perjalanan dari hotel ke Promthep Cape
joshua disuruh mencari tanda 50 supaya tetap mau berjalan
foto-foto sambil jalan supaya gak terasa capeknya

Tadinya sempat terpikir apa turunnya pake Grab aja ya, tapi kata Joe turunnya harusnya lebih gampang dan cepat, apalagi udah gak panas.

Sampai di atas, kami foto-foto di mercu suar. Sayangnya ga bisa masuk ke dalam, padahal saya pengen lihat dalamnya mercu suar itu seperti apa.

Mercu suar di prompthep cape
foto di depan mercu suar
foto sambil nunggu makanan datang
restorannya outdoor jadi bisa sambil nunggu matahari terbenam

Selesai foto-foto, kami duduk manis di restoran menunggu matahari terbenam. Sebenarnya matahari terbenam tiap hari ya, tapi namanya lagi jadi turis, kita ikutan aja rame-rame lihat Sunset.

matahari mulai turun ke balik gunung

Seperti perkiraan, jalan turun lebih cepat, apalagi saya dan Jonathan ditawari naik di belakang mobil pick up terbuka. Pengalaman pertama tuh buat saya ditawari naik sama ibu-ibu orang lokal yang baik hati. Mungkin mereka kasihan liat Jonathan hehe, tapi Joshua dan Joe malah udah duluan sampe hotel dan ga ada yang nawarin tumpangan.

Sampai hotel, kami istirahat, mandi dan anak-anak udah langsung tidur deh. Besok rencana sewa mobil plus supir untuk eksplorasi Phuket yang agak jauh dari hotel.

Berkenalan dengan Tulisan Thai

Dari beberapa tulisan lalu, saya selalu menyertakan tulisan Thai untuk kata-kata yang digunakan. Mungkin sudah ada yang penasaran, itu kok kayak cacing begitu dan gimana sih membacanya. Sabar ya, kalau ada buku yang bilang fasih membaca dan berbahasa Thai dalam waktu 24 jam, saya jamin itu buku bohong hehehe. Butuh waktu dan latihan yang tekun dengan konsentrasi penuh untuk bisa lancar berbicara dan membaca tulis. Bisa membaca tulisan saja tidak menjamin pasti bisa menulis dengan cepat. Tapi jangan langsung mundur teratur, ada pepatah bilang: Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Seperti saya sebutkan sebelumnya, aksara Thai untuk konsonan ada 44 huruf/bentuk yang merepresentasikan 21 bunyi. Loh kok bunyinya lebih sedikit daripada hurufnya? Ya memang begitu, kadang-kadang untuk bunyi yang sama kita bisa pakai huruf yang berbeda. Bedanya apa? tunggu sabar saya jelaskan hehehe.

Dari 44 konsonan Thai, ada pembagiannya menjadi 3 kelas yang nantinya akan menentukan tinggi rendahnya sebuah silabel/ suku kata dibunyikan. Kelasnya dibagi sebagai berikut:

Kelas menengah (กลาง, klang): ada 9 konsonan

Kelas tinggi (สูง, sung): ada 11 konsonan, tapi 1 konsonan sudah tidak dipakai lagi

Kelas rendah (ต่ำ, tam): ada 24 konsonan, tapi ada 1 konsonan yang sudah tidak dipakai lagi

Jadi dari 44 huruf Thai, yang masih dipakai itu hanya 42 huruf. Konsonan yang sudah tidak dipakai itu masih tetap dihitung karena untuk teks lama ada beberapa kata yang masih menggunakan huruf tersebut.

Terus dari masing-masing kelas itu akan ada huruf dengan bunyi yang sama. Bahkan dari dalam kelas yang sama saja bisa ada beberapa huruf yang merepresentasikan huruf yang sama. Ini kapan-kapan akan dibahas lebih lanjut, tapi untuk sekarang ini contohnya untuk bunyi s kita bisa pakai: ซ ศ ษ ส, huruf pertama ada dalam kelas konsonan rendah sedangkan 3 huruf terakhir itu ada dalam kelas konsonan tinggi. Terus memakainya gimana? ya diingat saja ejaan setiap kata, makanya saya bilang bisa membaca tidak selalu bisa menulis hehehe.

Berikut ini video singkat untuk melihat sekilas 44 konsonan Thai:

Saya sengaja capture bagian awal dari video tersebut untuk bisa melihat lebih jelas 44 konsonan dan pembagian kelasnya.

sumber: capture dari video Youtube di atas

Coba perhatikan huruf-huruf Thai ini, hampir semua huruf ada bagian lingkarannya. Nah penulisan huruf Thai juga ada aturannya, selalu mulai dari titik yang ada lingkarannya. Untuk huruf pertama tidak ada lingkarannya, tapi selalu mulai dari bawah sebelah kiri lalu tanpa mengangkat alat tulis sampe selesai menuliskan gambar kaki kanannya. Jadi bisa saja kita bilang lah kan yang penting hasil akhirnya sama terlihatnya, tapi bukankah lebih baik belajar dengan cara yang benar. Kalau gurunya lihat kita salah menuliskannya, pasti disuruh ulang deh hehehe. Ini saya kasih link ke video cara menuliskan huruf Thai yang di dapat di YouTube juga.

sumber Youtube ThaiPod101.com

Kalau kita belajar bahasa Inggris, kita belajar A is for Apple, atau dalam bahasa Indonesia, kita belajar A itu Ayam. Dalam bahasa Indonesia dan Inggris, ketika mempelajari bunyi huruf, kita bisa menggantikan kata-katanya dengan kata apa saja yang memiliki bunyi huruf tersebut.

Dalam bahasa Thai setiap konsonan punya nama dan ketika mempelajarinya, huruf itu akan selalu punya nama yang sama. Huruf ก selalu untuk ko kai (ก กอ ไก่). Anak-anak Thai menghapalkan 44 hurufnya dengan menyanyikanya. Bisa dilihat di video berikut:

sumber Youtube HappyKid

Saya sekian tahun belajar huruf Thai, gak berhasil hapal urutannya. Waktu Joshua mulai menghapalkan urutan huruf Thai, akhirnya saya ikut hapal hahaha. Iya Joshua sudah hapal semua huruf thai sebelum dia 4 tahun. Jonathan juga sepertinya semakin lancar menghapalnya setelah Joshua hapal :).

Nah karena ini judulnya perkenalan, biar gak keburu pusing duluan sepertinya hari ini cukup dulu informasi mengenai konsonan Thai.

Di YouTube ada banyak sekali video-video yang menjelaskan huruf Thai ini, tapi umumnya ya penjelasannya dalam bahasa Inggris. Tapi kalau diperhatikan videonya dengan seksama, kita gak perlu jagoan bahasa Inggris untuk mengertinya kok hehehe. Video yang saya sertakan di sini juga dari hasil mencari cepat, jadi mungkin bukan yang terbaik, tapi cukup menjelaskan dan saya cari yang paling singkat. Silakan dilihat-lihat dan mulai diingat-ingat. Belajar bahasa Thai ini harus banyak mengingat dan berlatih bicara hehehe.

Yang Perlu diketahui mengenai Thailand

Pepatah berkata lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Karenanya di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Berikut ini hal-hal yang sebaiknya diketahui apa yang boleh dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan di Thailand.

Lèse majesté in Thailand

Di Thailand ada yang namanya Lese majeste. Intinya hormati keluarga kerajaan. Salah satu cara selain tidak membicarakan secara langsung ataupun di sosial media. Satu yang penting dan sering dilupakan adalah di mata uang Thailand selalu ada gambar raja. Kalau koin menggelinding, jangan pernah berusaha menangkapnya dengan kaki, karena itu sudah termasuk tidak menghormati raja. Duit kertas juga sebaiknya jangan sampai lecek dalam menyimpannya. Ketika berbelanja, kita juga sebaiknya memberikan uang dengan gambar raja di atas.

Hormati lagu kebangsaan Thai (National Anthem) dan lagu raja (Royal Anthem)

Setiap hari jam 8 pagi dan jam 6 sore diperdengarkan lagu kebangsaan di televisi, sekolah dan di tempat umum. Di sekolah biasanya sambil menaikkan bendera. Apabila mendengar lagu ini biasanya semua orang diminta untuk berdiri dan diam di tempat untuk menghormatinya. Jadi kalau misalnya sedang di mall dan tiba-tiba semua orang diam tak bergerak, segeralah ikuti dan jangan malah berisik atau berlari-lari.

Selain jam 8 pagi dan jam 6 sore, jika kita hobi nonton, mungkin kita ingin mencoba merasakan nonton di bioskop di Thailand. Sebelum film diputar biasanya akan ada iklan, lalu akan ada lagu raja (royal anthem). Ketika royal anthem di perdengarkan, kita diminta untuk berdiri dan menghormati dengan diam dan tidak menimbulkan keributan, jangan berbisik ngobrol ataupun sambil ngunyah popcorn, karena itu tetep aja tidak sopan. Kalau bawa anak ke bioskop, sebaiknya pastikan anak anda juga mengerti dengan aturan yang ada di bioskop di Thailand. Lagunya tidak lama kok, jadi ya berdiri diam sekitar 2 menit masa tidak bisa sih. Selain di bioskop, biasanya jika ada festival, konser atau acara tertentu, pembukaanya juga akan memperdengarkan lagu kebangsaan ataupun royal anthem ini.

Berikut ini ada penjelasan kenapa kita perlu berdiri ketika lagu raja diputar. Oh ya dalam video ini semua ikut bernyanyi, tapi di bioskop, kita tidak perlu ikut bernyanyi, cukup mendengarkan saja dan berdiam diri untuk menghormati.

penjelasan kenapa kita perlu berdiri ketika lagu raja diperdengarkan, sumber dari YouTube

Hormati Image Budha dan Biksu

Penduduk Thailand mayoritasnya beragama Budha. Ketika kita mengunjungi kuil tempat sembahyang agama Budha, kenakan pakaian yang sopan dan tertutup. Jangan berisik ketika ada yang berdoa dan jika membawa anak kecil, pastikan mereka tidak berlari-lari ataupun membuat keributan di dalam kuil. Biasanya di dalam dan sekitar kuil juga akan ada banyak Biksu, jika bertemu, berikan salam hormat dengan menundukkan kepala dan menangkupkan tangan di depan dada.

Kebiasaan lokal lainnya

  • buka sepatu/sendal sebelum memasuki kuil ataupun rumah orang
  • jangan memegang kepala orang sembarangan, hal ini sebenarnya sama dengan di Indonesia, jadi bukan hal baru juga
  • di sini orang tidak punya kebiasaan salaman, jadi ketika bertemu berikan salam dengan menangkupkan 2 tangan di depan dada.
  • jangan tersinggung kalau baru bertemu sudah ditanyakan mengenai umur, kebangsaan, sudah menikah belum. Orang sini suka berbasa basi, jadi ya semua juga ditanya.
  • Tersenyumlah karena orang Thai terkenal dengan keramahan dan semboyan Thailand land of smile.
  • jangan angkat kaki ke meja, jangan suka menunjuk dengan jari, jangan gampang marah-marah, dalam hal ini orang Thai ini punya banyak kemiripan dengan orang Indonesia.

Oke, sekarang sudah tau kan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang jangan dilakukan ketika datang ke Thailand. Sudah bisa direncanakan tuh liburan ke Thailand hehehe.

Plus Minus selama Tinggal di Chiang Mai (12 tahun)

Tanggal 4 Mei 12 tahun yang lalu, saya dan Joe untuk pertama kalinya sampai di Chiang Mai. Kota terbesar di utara Thailand yang memiliki 3 musim dan pernah menjadi tempat berlangsungnya acara Sea Games di tahun 1995. Karena setiap tahun akhirnya menuliskan hal yang serupa, kali ini saya akan coba menuliskannya dalam format yang agak berbeda. Saya akan mencoba menuliskan plus minus atau suka duka selama 12 tahun di sini.

Mari kita mulai dengan hal-hal yang menyenangkan alias plus nya tinggal di sini:

  • Makanannya enak-enak dan mirip dengan masakan Indonesia, harganya dulu sih sama dengan Indonesia, sekarang terasa lebih murah karena pas pulang ke Indonesia kalau makan di luar berasa lebih mahal.
  • Kemana-mana dekat, ke mall bisa cuma beberapa jam saja dan gak pake macet di jalan.
  • Banyak tempat buat anak-anak main yang gratisan dan kalau bayar juga gak terlalu mahal
  • Banyak komunitas orang asingnya yang sangat membantu terutama ketika masa baru awal sampai dan juga waktu baru punya anak
  • Ada komunitas homeschooling berbahasa Inggris ataupun Thai, tinggal pilih saja
  • Internet kencang dan terjangkau harganya
  • Orang yang merokok relatif sedikit, minimal di tempat umum jarang deh berasa asap rokok.
  • Ada musim dingin yang adem dan menyenangkan buat jalan-jalan dengan keluarga
  • Nilai tukar baht cukup stabil terhadap dollar, selama 12 tahun tidak ada kenaikan harga yang terasa banget.
  • Datang berdua sekarang sudah berempat :D, pengalaman hamil dan melahirkan di Chiang Mai, dokter dan rumahsakitnya cukup bagus dan mendukung untung memberikan ASI eksklusif. Suster di rumah sakitnya juga ramah dan baik hati semua walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas tapi hatinya tulus membantu.
  • Dokter gigi di sini bisa ga pake nunggu lama, jadi bisa bikin janji dan datang sesuai dengan jam yang dijanjikan.
  • Banyak dokter di sini bisa berbahasa Inggris, jadi untuk berbagai masalah kesehatan gak usah jadi frustasi karena bingung bahasa, beberapa rumah sakit malah menyiapkan jasa translator untuk pasien dari negara yang tidak berbahasa Inggris.
  • Orang Thai baik hati dan ramah
  • Buah-buahannya enak kalau lagi musim berbuah harganya juga murah
  • Merasa lebih aman daripada di Indonesia, kalaupun kelupaan kunci pintu gak usah kuatir bakal ada maling.
  • Jarang ada pemadaman listrik, kalaupun ada selalu ada pemberitahuan terlebih dahulu. Atau kalaupun terjadi karena hujan badai, paling lama pernah pemadaman itu sekitar 2 jam.
  • Bahasanya strukturnya mirip bahasa Indonesia, jadi lebih mudah mempelajarinya (yang sedikit susah belajar naik turun suaranya aja).

Pantesan aja betah ya tinggal di sini, soalnya banyak plusnya. Nah tapi sebenarnya mana ada sih tempat yang benar-benar sempurna. Pasti adalah kurang-kurangnya dikit, asal gak lebih banyak dari plusnya aja ya.

Berikut ini hal-hal yang bikin tinggal di Chiang Mai jadi kurang nyaman:

  • Ada musim polusi selama bulan Maret sampai pertengahan April. Polusi udara ini benar-benar hal paling gak enak dari kota ini, tapi ya masih bisa diakalin sih dengan filter udara dan mempersedikit pergi selama sebulan dalam setahun. Tahun ini polusinya agak lebih parah dan bertahan sampai awal Mei.
  • Musim panasnya lumayan dashyat, bisa sampai 44 derajat celcius, panas gabung ama polusi bikin malas keluar rumah. Kalau di rumah minimal bisa ngadem pake AC dan pasang filter udara.
  • Belum ada direct flight ke Indonesia, jadi untuk perjalan mudik butuh 1 hari pergi dan 1 hari pulang karena selalu ada transit dulu beberapa jam.
  • Harus ke imigrasi urus visa tinggal tiap tahun, dan lapor diri setiap 90 hari kalau gak keluar dari Thailand. Sekarang sebenarnya hal ini udah mulai gak jadi masalah, karena urusan imigrasi sudah semakin cepat prosesnya dibandingkan 12 tahun lalu.
  • Angkutan umumnya terbatas dan belum cover semua rute, jadi punya kenderaan pribadi itu wajib untuk kemudahan kemana-mana. Sekarang ini angkutan umum sudah lebih banyak daripada 12 tahun lalu, tapi ya tentunya lebih cepat bepergian kalau punya transportasi sendiri, apalagi kalau bawa anak kecil.
  • Gak bisa beli tanah/rumah sebagai orang asing di Thailand (banyak kok pilihan rumah kontrakan dengan range harga terjangkau).
  • Gak ada yang jual indomie kari ayam dan ceres (ini sih emang harus nyetok hahaha).

Udah itu aja, gak nemu lagi apa minusnya tinggal di sini. Semua minusnya juga masih bisa ditolerir makanya masih betah sampai sekarang di sini hehehe.

Pertanyaan yang selalu saya tanyakan setiap tahun: mau sampai kapan di Chiang Mai? Selama masih memungkinkan, masih betah di sini. Gimana dengan kemajuan pelajaran bahasa Thai? Udahlah, udah bisa ngobrol dan baca secukupnya hehehhe. Masih pengen bisa berbahasa Thai yang fasih seperti berbicara, membaca dan menulis bahasa Indonesia sih, tapi ya belum ada kebutuhan untuk benar-benar fasih berbahasa Thailand, jadilah kemampuan berbahasa Thai nya jalan di tempat. Tetap optimis semoga tahun berikutnya bisa lebih fasih lagi baca tulis dan ngobrol bahasa Thai nya biar makin betah di sini hehehhe.

Applikasi untuk Mengenal Huruf Thai

Tulisan ini masih ada sambungannya dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Nah kalau misalnya mantap nih mau jalan-jalan atau tinggal di Chiang mai, hal berikut yang perlu diketahui adalah bahasa Thai itu berbeda dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Tulisannya bukan dengan alphabet a-z seperti yang kita kenal dan satu hal lagi yang sangat perlu diperhatikan, bahasa Thai itu bahasa yang tonal. Jadi kalau kita mengucapkan sesuatu, nada naik turun suara kita bisa membuat kata yang transliterasinya sama berbeda makna.

Nah supaya familiar dengan huruf-huruf Thai, kalau ada yang mau mengenal 44 konsonan, 32 vokal, tone marks dan angka dalam tulisan Thai, bisa coba donlot aplikasi KengThai. Aplikasi ini ada versi lite yang bisa dipakai secara gratis dan cukuplah kalau mau pengenalan tahap awal. Kalau misalnya punya anak kecil, nah aplikasi ini juga cocok buat anak kecil belajar tracing huruf Thai hehehe. Aplikasi ini tersedia di AppStore untuk iOS maupun GooglePlay untuk Android.

Ada banyak aplikasi untuk belajar bahasa Thai, tapi saya suka dengan aplikasi ini untuk mengenalkan hurufnya dulu. Aplikasi ini juga mengenalkan cara menulis huruf Thai. Berbeda dengan menuliskan alphabet latin, menuliskan huruf Thai ada aturannya, bukan sekedar asal terlihat sama bentuknya. Setiap huruf Thai juga ada namanya dan bunyinya. Kalau sudah bisa mengingat sebagian besar informasi dari game ini, tahap berikutnya baru deh mencoba aplikasi untuk belajar bahasa Thai.

Dulu, waktu saya di awal belajar bahasa Thai, aplikasi ini belum ada. Saya kursus bahasa Thai untuk percakapan saja dan tidak langsung belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Kalau saya mengulang dari awal, rasanya saya akan memilih untuk belajar membaca dan menulis langsung sambil belajar percakapannya. Sekarang ini setelah nyaman bisa berbahasa Thai, ada kemalasan tersendiri untuk memaksakan diri membaca dan menulis bahasa Thai, apalagi karena tidak ada kebutuhan.

Joshua dan Jonathan belajar menulis huruf Thai menggunakan applikasi ini, selain juga dengan bantuan poster di rumah dan buku-buku yang bisa di trace yang bisa di beli dengan murah. Dibandingkan aplikasi lain, aplikasi ini antar mukanya lebih besar dan lebih gampang untuk tracingnya. Gambarnya juga cukup menarik dan suaranya cukup jelas untuk ditirukan. Sekarang ini, Joshua sudah bisa mengingat keseluruhan 44 konsonan Thai, tapi karena dia masih belum mengerti konsep menggabungkan konsonan dan vokal, dia belum bisa diajarkan untuk membaca bahasa Thai yang menggabungkan konsonan dan vokalnya.

Setelah belajar mengenal huruf, tahap berikutnya adalah mengenal kata-kata dalam bahasa Thai. Nah untuk ini akan saya tuliskan di posting terpisah. Belajar bahasa itu tidak cukup dengan 1 app atau 1 buku saja. Kunci dari belajar bahasa adalah kita harus menggunakan bahasa itu. Contohnya, walaupun bertahun-tahun sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, tapi untuk menulis dalam bahasa Inggris, grammar saya masih sering kacau. Untuk bahasa Thai juga vocabulary yang tidak dipakai banyak yang saya lupa walaupun pernah belajar.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi app atau buku untuk belajar bahasa Thai, silakan tulis di komen ya.