Perjalanan Phuket-Chiang Mai

Liburan kami selesai hari Rabu, tanggal 31 Juli 2019. Jadwal penerbangan berangkat jam 2 dari Phuket. Berdasarkan pengalaman waktu datang, butuh waktu hampir 2 jam dari mendarat sampai ke hotel, jadi kami siap-siap lebih awal dan memesan mobil jemputan untuk datang jam 9.30.

Packing pulang ke rumah itu selalu lebih mudah daripada berangkat, apalagi kami tidak membeli oleh-oleh. Saya baru packing pagi harinya hehehe (jangan ditiru yah).

Packing di pagi hari

Pagi itu Jonathan minta berenang sebelum sarapan. Karena sarapan memang baru tersedia jam 8 pagi, dan entah kenapa kami selalu bangun sebelum jam 7 di saat liburan, ya Jonathan dan papanya berenang dulu deh pagi-pagi.

Biasanya kami sarapan dulu baru mandi, tapi hari itu kami mandi dulu baru sarapan. Jam 8-an kami sarapan santai. Selesai sarapan, cek out hotel dan mobil jemputan sudah datang. Sekitar jam 10 kurang kami sudah berangkat ke bandara.

Untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan saat pulang, biasanya saya akan mengecek beberapa kali semua laci, lemari dan kamar mandi. Cek juga isi tas apakah semua dompet, hp dan passport masih ada di tas. Setelah yakin tidak ada yang ketinggalan baru deh tutup koper dan kunci.

Perjalanan ke bandara Phuket relatif lancar, sekitar jam 11-an kami sudah sampai. Waktu berangkat dari Chiang Mai, kami sempat disuruh menunggu untuk memasukkan bagasi karena kami datang 5 menit lebih awal dari jam cek-in di buka. Saya sempat mikir, kalau belum bisa masukkan bagasi, ya paling harus makan sambil bawa bagasi. Ternyata walau kami datang masih 3 jam sebelum keberangkatan ke Chiang Mai, kami bisa memasukkan bagasi langsung dan bahkan masuk ke ruang tunggu.

Ruang tunggu domestik Phuket Airport

Ruang tunggu domestik di Phuket ini cukup besar dan tidak ada sekat-sekat ruangannya. Ada banyak restoran di dalamnya, jadi sambil menunggu bisa makan siang dulu. Biasanya saya perhatikan hampir di setiap airport yang kami datangi ada McDonalds ataupun KFC, nah kemarin itu saya tidak menemukan sama sekali di bagian dalam. Ada beberapa restoran SubWay dan coffee shop. Sempat agak repot mencari makan siang Joshua, kami pikir menu telur dadar itu gampang dicari di mana saja, ternyata di airport domestik Phuket tidak ada yang jual telur dadar, adanya telur mata sapi. Makanan seperti spaghetti carbonara juga tidak ada. Untungnya Joshua masih cukup kenyang sarapan tadi pagi, jadi dia gak rewel kelaparan hehehe.

Main Tangram menunggu masuk ke pesawat

Harga makanan di Phuket relatif mahal, dan harga makanan di airport lebih mahal lagi. Biasanya, kalau ada KFC atau McDonalds sih kami memilih makan di sana, atau kalau jam terbangnya pas dengan jam makan siang, kami sudah akan memilih prebook meal. Tapi kali ini karena jam terbangnya sudah lewat jam makan siang, kami memilih makan di airport biar ada kegiatan juga dan gak terlalu lapar karena kelewat jam makan siang hehehe.

Ruang tunggu domestik airport Phuket ada banyak restoran di dalamnya

Kami bersyukur, selama kami liburan di Phuket, walaupun bulan Juli itu namanya sedang musim hujan, kami kebagian matahari cerah tanpa hujan sama sekali. Perjalanan berangkat dan kembali ke Chiang Mai juga tidak ada delay dan semua lancar. Di pesawat menuju Chiang Mai, Joshua sukses tidur, sepertinya sudah gak penasaran lagi dan mengerti tinggal pulang ke rumah hehehe. Pesawat mendarat jam 4 sore, setelah ambil bagasi, kami pesan taksi ke rumah. Di Chiang Mai ada taksi ke arah dalam kota 150 baht. Karena rumah kami dekat, kami cukup membayar 150 baht sampai ke rumah. Kalau jaraknya jauh atau bawaannya banyak, harus membayar sedikit lebih mahal. Sekitar jam 4.30 kami sudah sampai di rumah.

Hal yang perlu diingat untuk perjalanan lain kali: jangan lupa cek-in online 48 jam sebelumnya.

Joe dengan Joshua, saya dengan Jonathan

Semakin dekat dengan waktu keberangkatan, semakin sedikit pilihan tempat duduk. Waktu berangkat kami masih bisa membeli kursi dengan pilihan anak-anak duduk dengan Joe, dan saya diseberang. Waktu pulang, kami hampir lupa cekin dan ga ada pilihan lain, jadinya dapat 2 di kiri dan 2 di kanan, untungnya masih dalam baris yang sama.

Kalau kita perjalanan sendiri, mungkin tidak masalah ditempatkan di mana saja, tapi kalau bawa anak dan keluarga, lebih enak kalau bisa duduk dalam baris yang sama.

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah: pastikan menimbang bawaan sebelum berangkat. Waktu berangkat, timbangan kami lagi habis batere, saya kira-kira aja mikirnya 20 kg itu cukup untuk bawaan kami. Ternyata waktu ditimbang, kelebihan 2 kg. Untungnya, si mbak counter baik hati dan hanya mengingatkan lain kali manage bawaan sesuaikan dengan beban bagasi yang dibeli. Karena sudah tau begitu, waktu pulang kami beli yang 25kg.

Dari pengalaman terbang pada saat bukan jam makan, dipikir-pikir ada baiknya tetap memesan prebook meal terutama untuk anak-anak. Membeli makanan di pesawat seringnya udah kehabisan duluan walaupun kita bersedia membayar lebih mahal. Kalau berangkat dari rumah, bisa juga membawa bekal sesuai dengan makanan yang biasa di makan anak.

Namanya liburan, ada bagian lelahnya tapi ya nikmati saja. Pengeluaran juga pasti ekstra, tapi tentunya sudah ada anggarannya makanya kita berangkat. Rencanakan liburan dengan baik terutama anggarannya, supaya semua bisa menikmati dan gak perlu merasa bersalah kalau membeli makanan yang lebih mahal dari biasanya hehehe.

Cerita liburan Phuket selesai sampai tulisan ini. Lain kali saya akan tuliskan review pengalaman kami mengenai hotel yang kami tempati selama di Phuket.

Cerita Liburan Phuket Hari ke-3: Rawai Kids Park dan Pantai Rawai

Hari Selasa 30 Juli 2019, merupakan hari ke 3 dan sekaligus hari terakhir kami untuk eksplorasi Phuket. Karena sekarang ini lagi musim hujan dan banyak warning mengenai air laut yang sedang agak naik, kami tidak merencanakan untuk naik boat (selain itu Joshua juga selalu menjawab tidak mau kalau diajak naik boat). Jadi rencana hari terakhir ini kami akan eksplorasi sekitar hotel saja.

Pagi hari kami sarapan dulu dan berenang di hotel. Selesai berenang, kami ambil shuttle dari hotel untuk ke Pantai Rawai. Sebelum berangkat, saya baca ada tempat bermain anak-anak di dekat pantai Rawai yang juga ada restorannya. Karena sudah waktunya makan siang, kami memutuskan untuk belok ke arah Rawai Park tersebut.

Shuttlenya lebih besar dari bajaj/tuktuk

Ibu-ibu yang membawa shuttlenya baik hati, kami diantar sampai ke kids park. Kalaupun jalan, dari pantai ke kids park ini ya sekitar 500 m lah.

jam buka dan petunjuk dilarang bawa makanan masuk

Biaya masuk kids park ini untuk hari biasa 200 baht/anak untuk main sepuasnya. Orang dewasa dikenakan biaya juga 100 baht/orang. Untuk weekend dan hari libur, biaya anak-anaknya 350 baht, sedangkan dewasa sepertinya tetap 100 baht. Tempat ini cukup murah kalau dibandingkan tempat bermain di mall di Chiang Mai ataupun di Jakarta. Biaya 200 baht/anak itu bisa akses ke waterpark, playground outdoor, sand area dan juga tempat bermain indoor yang ber AC.

Menu makanan di restorannya harganya juga tidak terlalu mahal. Kami makan ber-4 sekitar 500 baht (ini tentunya tergantung dari porsi makanan yang dipesan juga).

main pasir sebelum makan

Sambil menunggu makanan datang, anak-anak main pasir dulu. Lalu setelah makan, anak-anak main di playground outdoor. Karena kami sudah berenang di hotel, saya tidak membawa baju ganti untuk bermain di area waterparknya. Jonathan kepingin main di waterparknya, tapi ya, mataharinya juga sangat panas waktu itu. Waterparknya kolam dangkal dengan slide dan sesekali ada busa disemprotkan ke kolam. Mungkin lain kali kalau main ke sana bisa dari pagi karena kalau saya baca websitenya mereka menyediakan sarapan jam 7 pagi.

waterpark keliatan dari restoran, tapi anak-anak gak mainan ini lagi karena sudah berenang di hotel

Selesai makan, anak-anak main di playground di luar, setelah itu karena panas kami masuk ke playground indoor.

Khusus ruang bermain indoor wajib menggunakan kaus kaki. Kalau tidak membawa kaus kaki, kita bisa membeli seharga 40 baht sepasang. Ruangannya cukup luas dan ada banyak pilihan mainan. Setelah agak lelah bermain, kami istirahat dan makan eskrim di area bermain outdoor. Setelah itu, kami pikir anak-anak sudah akan minta pulang, eh ternyata mereka minta masuk ke dalam lagi.

Sekitar jam 4.30 sore, akhirnya kami memutuskan membawa anak-anak jalan ke pantai. Joshua sudah terlihat mengantuk dan kecapean. Kami beli susu di family mart di seberang pantai Rawai dan bermain sebentar di pantai.

Pantai Rawai ini lebih besar daripada pantai Yanui, tapi ada lebih banyak perahu yang sandar di sana. Kami tidak menjalani keseluruhan pantai, jadi tidak melihat di bagian mana kira-kira anak-anak bermain air. Karena Joshua mulai terlihat makin ngantuk, akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel sekitar jam 5.

Karena Shuttle dari hotel hanya ada 1 arah ke pantai dan tidak sebaliknya, kami memanggil grab untuk pulang ke hotel. Sebenarnya kalau Joshua dalam kondisi tidak mengantuk, kemungkinan kami akan jalan pulang, karena jaraknya ke hotel hanya sekitar 1,3km dan jalannya biasa saja. Tapi gak mungkin menggendong Joshua sejauh itu, jadi kami naik Grab saja. Biaya Grab di Phuket tergolong mahal kalau dibandingkan dengan di Chiang Mai. Untuk sampai jarak tertentu sepertinya biaya minimumnya 370 baht.

Pulang ke hotel, Joshua masih melanjutkan tidurnya. Sepertinya dia benar-benar kehabisan tenaga setelah bermain berjam-jam di Rawai Park. Kami memutuskan untuk makan malam di hotel saja dan istirahat supaya perjalan pulang esoknya kami semua dalam keadaan segar.

Cerita Liburan Phuket hari ke-2: Aquarium, Mall dan Big Budha

Hari Senin 28 Juli 2019 merupakan hari libur di Thailand. Awalnya sempat khawatir kalau tempat wisata bakal ramai sekali, tapi ternyata perjalanan masih lancar dan tidak ada tempat yang terlalu padat.

Untuk perjalanan hari tersebut, saya menyewa mobil seharian dengan supir. Setelah cek harga di sana-sini, supir ini sama dengan yang menjemput kami dari bandara. Kalau airport transfer 800 baht (jarak airport ke hotel yang kami tempati hampir 50 km), nah untuk sewa mobil seharian dia bilang dari pagi sampai jam 7 sore (sekitar 10 jam) 2000 baht. Harga di web yang saya temui untuk sewa dengan supir sekitar 8 jam itu semuanya lebih dari 2200 baht.

Selesai sarapan, sekitar jam 9.30 kami sudah menuju Aquarium Phuket. Perjalanan dari hotel ke aquarium lancar dan jalanan relatif sepi. Karena kami punya tiket MusePass, kami tidak perlu membayar sama sekali. Jika harus bayar harga tiket masuk orang asing dewasa 180 baht dan anak-anak 100 baht. Harga orang lokal sekitar setengah dari orang asing.

video beberapa foto selama di aquarium phuket

Aquarium Phuket ini tempatnya lebih kecil dari aquarium Chiang Mai, di luarnya kita bisa berjalan menyusuri pinggiran pantai.

Foto sebelum masuk ke aquarium

Sayangnya di lokasi aquarium tidak ada restoran untuk makan siang, tapi ada coffee shop yang menjual snack, minuman dan es krim selain kopi setelah toko suvenir. Di toko suvenir ini ada puzzle abc yang bisa membuat Joshua betah lama bermain. Kalau orang lokal sini biasanya sudah persiapan bawa bekal untuk piknik, selesai melihat ikan mereka akan duduk dipinggir pantai sambil buka bekalnya.

Di aquarium phuket ada pertunjukan singkat yang juga berusaha mengajarkan kesadaran menjaga alam laut. Pertunjukannya ada animatronik mermaid gitu plus film singkatnya. Joshua agak takut melihatnya.

patung mermaid yang bersuara dan bergerak

Waktu kami ke sana, aquarium nya agak panas karena sepertinya AC nya rusak, tapi dibagian pertunjukan AC nya lumayan adem. Sekitar 1 jam, anak-anak mulai bosan keliling aquarium.

Belajar tentang umur sampah plastik – kesadaran lingkungan

Tujuan berikutnya mencari makan siang sekaligus ketemu teman saya di mall. Kesan tentang mall di Phuket: bagian food courtnya agak lebih mahal dari di Chiang Mai tapi lebih banyak pilihan makanan halal. Pilihan makanannya sama saja dengan di Chiang Mai, jadi lebih gampang memilih menu makan siangnya. Kami tidak menjelajah keseluruhan mall nya, karena kami menggunakan waktu makan sambil duduk ngobrol saja.

Oh ya, ketemu kak Imit dan keluarga ini bukan kebetulan. Jadi ceritanya, tahun lalu sudah diajakin ketemuan di Thailand selatan, tapi waktu itu kami belum bisa. Nah beberapa bulan lalu kak Imit kasih tau mereka berencana ke Phuket dan bertanya apakah kami ada rencana ke sana juga. Karena kebetulan kami belum ada rencana liburan, dan sudah 12 tahun menunda ke Thailand Selatan dengan berbagai alasan (dan pernah udah beli tiket ga jadi pergi karena belinya sebelum tahu hamil Joshua), jadi kami sempatkan kali ini untuk liburan ke Phuket sekalian ketemuan dengan kak Imit.

Selesai dari mall, kami melanjutkan ke view point Big Budha. Joshua ketiduran di mobil, dan walau sudah ditunggu sampai hampir 30 menit, dia nangis waktu dibawa turun. Akhirnya di Big Budha cuma sempat foto sedikit dan Joshua dibawa lagi ke mobil sama Joe. Saya dan Jonathan yang naik ke atas untuk foto-foto pemandangan kota Phuket dari atas. Bagian Big Budha sedang dalam renovasi, tapi tetap dibuka untuk umum.

Oh ya, untuk ke arah Big Budha ini, perjalanannya agak menanjak dan ada bagian yang kurang bagus. Masuk ke area Big Budha ada aturan pakaian yang tidak boleh terlalu terbuka, mereka meminjamkan sarung/scarf untuk menutupi bagian punggung atau kaki kalau ada yang terlalu terbuka. Banyak orang sembahyang ke sana. Tempat ini tidak memungut biaya alias gratis, tapi ada tempat untuk memberikan donasi jika kita ingin memberikan donasi untuk renovasi tempat ini. Waktu kami ke sana sudah agak sore tapi belum sampai matahari terbenam. Karena Joshua sudah agak rewel, kami tidak menunggu matahari terbenam. Kabarnya pemandangan matahari terbenam di Big Budha juga cukup indah.

Selesai dari Big Budha, kami pulang ke hotel. Kami pesan makan malam di hotel dan istirahat deh. Jonathan minta berenang lagi, tapi karena kami sudah lelah dan gak bisa menemani, kami suruh main di bathtub saja dan janjikan besok pagi berenangnya. Joshua sampai hotel sih udah tenang, apalagi setelah dikasih makan. Mainan di bathtub udah cukup buat dia hehehe.

Cerita Liburan: Perjalanan Chiang Mai – Phuket dan Jalan-jalan hari ke-1

Untuk sementara saya berhenti dulu dengan tulisan bahasa Thai, karena sekarang ini kami sedang liburan ke Phuket.

Pantai Yanui Phuket

Setelah 12 tahun tinggal di utara Thailand, akhirnya kami sampai juga di kota Phuket yang lokasinya di bagian selatan Thailand ini. Yaaa seperti halnya ke Bali saja kami baru sekali, walaupun Phuket ini sama-sama di Thailand, kesempatan mengunjunginya baru datang sekarang.

Sebelum berangkat, saya baru menyadari kalau saya sama sekali belum pernah mencari tahu soal Phuket hehehe.

Setelah beli tiket, baru deh bingung mau di bagian mana Phuket nih tinggalnya. Ternyata ada banyak pilihan pantai untuk dikunjungi di Phuket. Phuket juga lebih besar dari Chiang Mai, bentuk wisatanya juga berbeda, kalau di Chiang Mai lebih banyak pegunungan, kalau di sini ya umumnya pantai dan olahraga air.

Karena kami tipe traveler yang maunya santai tanpa banyak itinerary, saya memilih lokasi hotel yang aksesnya dekat ke pantai. Cita-cita awalnya nyari hotel yang ada pantainya langsung, tapi harganya gak pas, akhirnya ya milih hotel yang jalan sekitar 4 menit ke pantai dan juga sekitar 1 km ke tempat yang ramai jadi tujuan wisata di Phuket.

Setelah semua di pesan online, hari Sabtu 27 Juli 2019 kami berangkat naik AirAsia. Dari rumah jam 10.40 pagi, proses drop bagasi selesai jam 11 lewat sedikit. Kami sengaja makan siang di bandara karena penerbangan nya jam 1 siang. Setiba di Phuket jam 3 siang, proses ambil bagasi cukup lancar dan langsung ketemu dengan supir yang sudah dipesan sebelumnya. Cuaca juga cukup cerah, mengingat Chiang Mai sedang gerimis ketika kami tinggalkan.

perjalanan airport menuju hotel

Joshua di pesawat menolak tidur siang, waktu sampai di Phuket dia mulai agak rewel karena mulai ngantuk dan capek. Untungnya dia tidur di mobil selama perjalanan ke hotel. Hotel pilihan kami lokasinya di paling selatan Phuket, bandara Phuket itu lokasinya di Utara, butuh waktu sekitar 2 jam dari mulai mendarat sampai akhirnya bisa nyaman di kamar hotel. Senangnya karena pesan 1 kamar tapi serasa dapat 2 kamar.

kamar hotel dengan 1 tempat tidur besar
bagian depan kamar hotel 1 single bed dan 1 sofa bed yang dipasang sprei juga
kolam renang di depan kamar, ada bagian khusus anak-anak juga
sedikit tempat bermain di depan restoran

Karena sudah jam 5 sore, kami yang awalnya berniat langsung ke pantai mengurungkan niat itu. Joshua juga sampai hotel minta main air di bathtub, sedangkan Jonathan minta berenang. Jadilah papanya nemenin Joshua main air, sedangkan saya nemenin Jonathan berenang.

Pelajaran dari perjalanan kemarin adalah:

  • baca baca dan baca tentang kota tujuan, semua informasi tempat wisata ada di internet
  • booking online biar dapat harga yang oke
  • baca review di trip advisor dan google map untuk tempat yang ingin dituju
  • kalau anak masih kecil sebaiknya hari perjalanan menuju kota tujuan dan jalan-jalannya dipisah, itinerary jalan-jalan juga jangan terlalu padat dan harus fleksibel
  • namanya aja liburan, tapi prakteknya karena anak-anak berada di lingkungan yang baru, bisa jadi mereka malah bikin kita tambah lelah hehehe
  • liburan itu menyenangkan anak-anak, kita ya otomatis merasa senang liat anak kita bergembira walaupun mungkin kitanya lelah
  • karena kami bukan orang yang hobi nyetir, kami memilih memesan mobil dengan supir supaya kami bisa ikut menikmati perjalanan. Memang sih lebih hemat kalau kita nyetir sendiri, tapi yaaa namanya liburan pasti ekstra biaya. Kalau kata Joe mending mrogram 2 jam daripada nyetir 2 jam hehehe. Pada akhirnya kenali jalan-jalan seperti apa yang cocok buat keluarga kita.

Haduh udah panjang aja nih ceritanya. Cerita hari ini lebih singkat dan saya bagikan dalam bentuk foto saja ya.

Kegiatan hari ini masih sekitar hotel. Pagi sarapan di hotel, abis sarapan anak-anak minta berenang. Sekitar jam 11 siang kami baru jalan ke pantai Yanui yang cuma 4 menit dari hotel. Jalannya tidak ada trotoar nya, tapi ya jarang dilewati mobil dan cukup lebar.

main pasir di pantai Yanui
sempatkan foto keluarga hehehe

Kami di pantai cuma sebentar, anak-anak cuma main pasir dan ga berani main air. Ombaknya ga tinggi tapi lautnya lagi berangin gitu deh. Sekitar jam 12 kami makan siang di sana. Selesai makan kami kembali ke hotel buat tidur siang.

Bangun tidur, kami memutuskan jalan ke Prompthep Cape untuk melihat sunset. Awalnya jalannya agak teduh, eh ternyata matahari masih menyengat dan jalannya juga menanjak. Salut sama Joe yang bisa bujukin Joshua jalan sendiri dan gak harus gendong. Jalannya lumayan naik, saya aja ngos-ngosan (ini sih kurang olahraga hehehe).

perjalanan dari hotel ke Promthep Cape
joshua disuruh mencari tanda 50 supaya tetap mau berjalan
foto-foto sambil jalan supaya gak terasa capeknya

Tadinya sempat terpikir apa turunnya pake Grab aja ya, tapi kata Joe turunnya harusnya lebih gampang dan cepat, apalagi udah gak panas.

Sampai di atas, kami foto-foto di mercu suar. Sayangnya ga bisa masuk ke dalam, padahal saya pengen lihat dalamnya mercu suar itu seperti apa.

Mercu suar di prompthep cape
foto di depan mercu suar
foto sambil nunggu makanan datang
restorannya outdoor jadi bisa sambil nunggu matahari terbenam

Selesai foto-foto, kami duduk manis di restoran menunggu matahari terbenam. Sebenarnya matahari terbenam tiap hari ya, tapi namanya lagi jadi turis, kita ikutan aja rame-rame lihat Sunset.

matahari mulai turun ke balik gunung

Seperti perkiraan, jalan turun lebih cepat, apalagi saya dan Jonathan ditawari naik di belakang mobil pick up terbuka. Pengalaman pertama tuh buat saya ditawari naik sama ibu-ibu orang lokal yang baik hati. Mungkin mereka kasihan liat Jonathan hehe, tapi Joshua dan Joe malah udah duluan sampe hotel dan ga ada yang nawarin tumpangan.

Sampai hotel, kami istirahat, mandi dan anak-anak udah langsung tidur deh. Besok rencana sewa mobil plus supir untuk eksplorasi Phuket yang agak jauh dari hotel.

HongKong Trip: Disneyland Day 2

Tulisan ini merupakan bagian dari cerita jalan-jalan kami ke HongKong sejak 18 September – 23 September 2018.

Hari berikutnya Rabu 19 September 2018. Anak-anak bangun sebelum jam 7 karena tidur awal malam sebelumnya. Matahari di luar sudah cerah banget. Karena hari sebelumnya kami makan malam masih agak sore, pagi-pagi kami udah lapar. Bersyukur juga udah pesan sarapan di hotel, jadi bisa langsung turun buat sarapan. 

Awalnya saya bingung mau milih makanan apa buat Joshua, akhirnya kami menemukan susu dan sereal di restoran untuk sarapan Joshua. Highlight dari sarapan di hotel adalah berfoto dengan Chef Mickey. Tapi berhubung chefnya cuma menyediakan sesi foto 30 menit, jadi kami harus antri foto juga sebelum Chefnya pergi. Anak-anak yang yang gitu kenal tokoh Mickey ya biasa aja deh hehehe.

Makanan sarapannya ada banyak jenis. Rasanya menurut saya biasa aja, ada pancake dibentuk kepala Mickey, ada buah-buahan, yoghurt, mie, nasi dan macem-macem deh. Tapi kalau kata Joe masih lebih berkesan dengan restoran di Jogja yang pernah kami kunjungi beberapa tahun lalu karena makanannya ada makanan khas Jogja (gudeg) dan ada jamu segala. Makanan di restoran Disneyland menurut saya agak standard, bahkan ga ada omellete yang diisi macam-macam yang biasanya jadi menu yang banyak ditunggu orang sampai ngantri.

Hari ke-2 sebelum ke Disneyland, selesai sarapan kami memutuskan jalan-jalan seputar hotel. Kami ga buru- buru ke Disneyland karena toh jam bukanya jam 10.30 pagi. Kami menemukan playground yang sangat sepi karena sepertinya anak-anak yang lain lebih suka berenang. Kami ga berenang karena saya ga siapin baju berenang, dan keputusan itu tepat karena kolam renangnya terbuka dan jam 8 pagi saja panasnya sudah terasa menyengat. Setelah puas bermain di playground yang menghadap ke laut, kami jalan sedikit mengitari halaman hotel sambil nangkap pokemon dan battle pokegym dan kembali ke kamar.

Karena jam check out hotel sekitar jam 11 dan kami masih mau bermain lagi di Disneyland (kami punya tiket untuk 2 hari), kami putuskan untuk langsung membawa koper ke area Disney supaya ga perlu balik lagi ke hotel. Di hotel juga ada penitipan koper, tapi daripada harus naik turun shuttle lagi sebelum naik taksi, lebih baik kami bawa koper sekalian. Sebenarnya di dalam resort Disneyland, dekat dengan tempat penitipan koper ada stasiun MRT juga, ada sedikit niat untuk naik MRT ke arah hotel berikutnya di kota. Saya bilang sedikit niat, karena kemungkinan besar kami sudah akan sangat lelah sehabis bermain di Disney dan naik MRT sambil membawa koper besar plus anak yang kemungkinan juga minta di gendong itu pastinya akan sangat merepotkan. Tapi ya pada akhirnya kami naik taksi langsung dari tempat bermain Disneylandnya sih karena jalur MRT untuk menuju hotel berikutnya itu memerlukan ganti jalur kereta dan kemungkinan besar jalannya lumayan jauh.

Biaya penitipan koper dihitung per potong, jadi kami bayar untuk 2 koper (1 besar dan 1 kecil). Hari ke-2 di Disneyland kami sudah lebih tau apa yang akan jadi tujuan kami. Saya sudah membaca-baca deskripsi permainan yang kira-kira juga akan cocok untuk Joshua. Kami memutuskan untuk tidak menyewa stroller, karena kami pikir, nantinya Joshua bisalah tidur pas kami istirahat makan siang. 

Tujuan pertama di hari ke-2 ke Fantasy Land. Pertama naik Flying Dumbo, untungnya di hari ke-2 ini walau matahari cukup menyengat, tapi beberapa waktu ada awan yang cukup membuat udara ga terlalu panas.

Selesai naik Flying Dumbo kami bertujuan ke It’s a small world. Tempat tujuan berikut ini isinya seperti istana boneka di TMII, tapi lagunya Joshua sudah kenal karena ada dalam playlist yang sering diputar di mobil. Tapi sebelum sampai ke it’s a small world, kami naik teacup yang muter-muter dulu karena kebetulan lewat dan antriannya kosong, jadi ya sekalian aja. Lagipula tempatnya juga ada atapnya, jadi cukup teduh.

Joshua cukup senang naik gajah terbang maupun teacup yang muter-muter. Pas masuk ke it’s a small world udaranya paling adem, Joshua langsung semangat banget menuju ke boatnya. Di Disney, semua wahana menyediakan tempat antrian yang cukup panjang, kalau lagi ga ada antrian jadinya jalannya jauh hehehe. Keluar dari It’s A Small World, berasa deh panas lagi.

Selesai dari istana boneka, kami memutuskan untuk ke Toy Story Land dulu sebelum makan, kalau sudah makan kuatir malah mual kalau mainannya agak mutar-mutar.  Mampir sebentar di Tomorrow Land karena Jonathan mau naik roller coaster ala star wars.

Karena Joshua ga bisa ikut naik (ada batasan tinggi 120 cm), saya dan Joshua menunggu di luar. Daripada bengong, saya beli eskrim bentuk kepala Mickey (40 HKD). Saya pikir, anggap aja pengganti beli susu. Selesai Jona dan papanya naik roller coaster ala star wars (yang katanya Jona lebih menyeramkan karena gelap), kami naik flying saucer (ini sebenarnya sama saja dengan flying dumbo).

Sebelum sampai di Toy Story Land, kami lewati Adventure Land lagi dan sedang ada pertunjukan orang Moana. Pertunjukannya pake bahasa Cina dan Inggris, Jona dan Joshua ga gitu tertarik. Ada banyak orang dan tempat duduknya juga sudah penuh. Jadi kami berhenti sebentar doang untuk istirahat sekalian berteduh. Pas lewat lagi, ada beberapa orang foto dengan tokoh Moana versi English. Komentar Joe: sepertinya yang foto dengan Moana bapak-bapak semua, anak-anaknya ga ada malahan hahahaha. Kalau komentar saya: aduh itu rambut Moana ketauan banget rambut palsu, masih bagusan rambut aku hahahahha.

Setelah mampir sana sini, sampai juga di Toy Story Land, Joshua gembira banget liat tulisan ABC sampai Z yang super besar. Jadi agak gak enak sama orang-orang yang berusaha foto di situ, karena ya Joshua lalu lalang sambil bernyanyi-nyanyi gembira walaupun di bawah terik matahari. Setelah di distract, akhirnya sampai ke tujuan Toy Story Land, naik roller coaster yang bisa untuk semua umur dan tidak terlalu ekstrim (Slinky Dog Spin). Tapi ternyata, namanya roller coaster ya sama aja ya, tetep keliatan Joshua kurang suka naik roller coaster. Jonathan yang sudah naik yang lebih ekstrim tentunya cuma ketawa-tawa bahagia aja.

Selesai naik roller coaster, Jonathan pingin naik wahana yang ada Parachute drop. Di wahana ini sebenarnya Joshua bisa saja karena minimal 80 cm, tapi karena kami kuatir Joshua ga enjoy dan antriannya banyak, saya dan Joshua ga ikutan dan menunggu sambil Joshua puas-puasin liat ABC raksasa. Awalnya saya pikir kalau mereka jual versi mainannya, saya akan beli buat Joshua, tapi ternyata gak ada.

Setelah capek liat-liat ABC, akhirnya saya ajak Joshua jalan menunggu di area parachute drop. Saya dudukkan dia di kursi tempat latihan buat orang yang duduk di kursi roda. Eh ternyata dia ngantuk dan tertidur deh disitu. Karena Joe dan Jonathan masih lama diantrian, ya saya biarkan saja Joshua tidur disitu, sambil berharap ga ada orang yang perlu memakai itu (untungnya ga diusir juga sama petugas haha).

Sementara menunggu Joshua tidur, sebagai pemain Pokemon Go, kami mengambil alih satu Gym di area Parachute Drop.

Joshua masih kami biarkan tidur dikursi itu sekitar 25 menit, lalu kami gendong jalan sambil cari restoran.

Untungnya ga jauh berjalan dari situ kami menemukan restoran yang cukup adem dan ada menu nasi goreng segala di Explorer’s Club Restaurant di Mystic Point. Beberapa menu di restoran ini juga ada label Halalnya. Sambil menunggu saya order makanan, Joshua masih tidur sekitar 15 menit lagi.

Kami memutuskan  menutup perjalanan mengunjungi istana boneka lagi. Tapi setelah keluar dari Small World, Joshua mau naik Tea Cup lagi. Di sini HP Joe jatuh ke bawah Tea cupnya dan walaupun udah gorilla glass plus screen guard, HP Joe retak layarnya plus lensa kamera belakangnya juga retak. Masih nyala bisa dipakai, tapi layarnya ada bagian yang agak tajam dan berbahaya buat tangan, plus kamera depan belakang jadi blur.

Tadinya sudah cukup mau pulang, tapi karena wahana Winnie The Pooh lagi kosong dibanding hari sebelumnya, kami memutuskan masuk dulu ke Winnie The Pooh Storytime. 

Gak berasa, hari ke-2 kami bisa lebih banyak menikmati berbagai wahana. Tau-tau udah sore dan kami memutuskan untuk pulang supaya ga terlalu gelap sampai di hotel daerah Tsim Tsa Tsui. Kami naik taksi merah ke arah Tsim Tsa Tsui. Jonathan sangat terkesan dengan kode warna taksi di Hong Kong. Waktu dari Airport ke Disneyland, kami naik taksi berwarna biru, dari Disneyland ke Tsim Tsa Tsui kami naik taksi berwarna merah. Ada 1 jenis taksi lagi warna hijau tapi kami ga naik.

Sampai hotel Butterfly on Prat, sekitar jam 7-an, masukkin koper dan kami memutuskan makan di restoran Thailand sebelah hotel. Pelayan restorannya sebagian kurang bisa bahasa Inggris tapi bisa bahasa Thai, jadi mesennya malah pake bahasa Thai. Jauh-jauh ke Hong Kong pesen makanan Thai pake bahasa Thai hehehe.

Udah terlalu capek untuk menjelajah Hong Kong di waktu malam. Mampir di Cirlce K dan 7 Eleven akhirnya nemu susu coklat buat Joshua. Dan di sini lah saya mengalami kaget masalah sedotan, plastik bag dan merasa mini marketnya benar-benar mini dan barangnya ga sebanyak di Chiang Mai hehehe.

Hotelnya edkat McDonald’s, Circle K dan 7-Eleven

Kesimpulan hari ke-2: Kalau anak masih kecil, rasanya kurang optimal ke Disneyland. Sebaiknya menunggu anak tingginya 140 cm supaya bisa naik semua wahana dan harapannya kalau udah cukup besar, cukup kuat juga buat berjalan-jalan seharian menjelajahi Disneyland. Datang ke sana di hari biasa dan bukan musim liburan sekolah sangat membantu untuk tidak mengalami antrian panjang, tapi ya keputusan untuk langsung ke Disneyland di hari yang sama setiba di Hong Kong juga jadi ga efektif  di Disneylandnya.

Kalau mau lebih hemat, bisa juga menginap di area kota (bukan di Disneyland Resort), ke Disneyland hari berikutnya setelah sampai di Hong Kong, misalnya selesai sarapan naik MRT ke Disneyland, puas-puasin deh seharian dari jam 11.30 sampe jam 8 malam di Disneyland. Jadi bisa menghemat ga perlu titip koper segala, ataupun sewa stroller dan anak-anak juga udah segar tenaganya setelah tidur malam yang cukup. Bawa perbekalan makanan dan minuman dari Circle K atau 7 Eleven di kota, karena harga minuman di luar Disneyland berkisar 7 – 15 HKD saja.

Tapi ya, kami memang bukan traveler sejati. Udah tau ada aplikasi Disneyland sejak sebelum berangkat tapi tetap saja akhirnya di baca setelah sampai di sana hahahha. Jangan ditiru ya, kalau mau lebih fun lagi, sebaiknya baca informasi yang sudah banyak tersedia di internet, jadi gak kayak kami yang akhirnya banyakan jalannya daripada naik wahananya di hari pertama hehehhee.