Kesan berikutnya…

Huah… dari kemaren pengen posting, tapi ga pengen panjang-panjang, eh akhirnya malah ga posting-posting. Berikut ini fakta mengenai Chiang Mai yang menurut kami cukup untuk membuat kami merasa betah di sini :

  • zona waktu yang sama dengan Indonesia, GMT+7, sehingga tidak perlu repot menyesuaikan waktu untuk menelpon ke orangtua 🙂
  • cuaca yang cukup mirip dengan Bandung, walaupun so far Bandung masih lebih dingin
  • lalu lintas yang tidak terlalu macet, sehingga jarak yang cukup jauh bisa ditempuh dalam waktu yang relatif singkat
  • makanan yang enak dengan harga yang lebih murah daripada di Bandung
  • bumbu masakan yang sama dengan apa yang ditemui di Indonesia, bahkan di sini memakai lebih banyak bumbu daripada kita, sehingga mudah untuk memasak makanan Indonesia yang ingin kita makan (asal tau cara masaknya hehe)
  • internet unlimited 24/7 dengan kecepatan 1Mbps seharga 300 ribu rupiah :), lumayan untuk telpon VOIP ke rumah, download berbagai hal dan tentu saja streaming radio siaran Indonesia, bikin serasa tetap di Indonesia saja
  • tempat tinggal yang sangat dekat dengan pasar tradisional, sehingga bisa belanja sayur dan buah segar dengan mudah walaupun agak repot dalam berkomunikasinya
  • Furniturenya oke punya, masih baru pula.. jadi serasa main The Sims nih 🙂
  • Ada gereja berbahasa Inggris yang memberikan informasi yang sangat berguna untuk permulaan hidup di Chiang Mai, lokasi gereja yang cukup dekat dari tempat tinggal, dan kami berhasil menemukan sepasang orang Amerika yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Mereka sudah 8 tahun di Chiang Mai, dan baru sekarang bertemu orang Indonesia lagi (yeah.. feels like home)

Well, seenak-enaknya di negeri orang, pasti lebih enak di negeri sendiri. Beberapa hal berikut sebagai contoh:

  • Listrik dan Bahan bakar minyak tidak disubsidi, jadi mahal :(, padahal di apartemen perabotannya pada pake listrik dengan watt gede pula, semoga sanggup bayar nih 😐
  • Karena tinggal di apartemen yang ga boleh pake kompor yang ada apinya, jadi agak repot masaknya, harus adaptasi lagi
  • Masalah bahasa dan tulisan yang asing, mana jenis fontnya macem-macem lagi.. harus belajar dulu…
  • Biaya telpon seluler sesama operator sini memang murah, tapi.. biaya SMS jauh lebih murah di Indonesia. Huhuhuhu, SMS Internasional lebih mahal lagi :(, telepon lokal disini itungannya flat sekali angkat mau sampe berbusa juga bayarnya tetep, tapi sayangnya di sini ga ada yang bisa ditelpun 😛
  • Tinggal di rumah masih lebih enak daripada di apartemen, tapi ngurus apartemen lebih mudah daripada ngurus rumah (ceritanya kan di sini tanpa pembantu), umm.. bedanya, kalau di Bandung udah ga bayar sewa lagi, kalau di sini harus bayar sewa lagi deh…
  • Gak ada teh botol…huhuhuhu…. masa kudu ngimpor 🙁

Duh, karena udah malam dan agak ngantuk, ga konsen buat nginget2 lagi, well ntar diupdate lagi kalau ada yang diingat lagi. Segitu dululah. Overall bertemu orang yang bisa berbahasa Indonesia, bahkan bisa memasak rendang (catat, rendang!!), membuat kami merasa senang, ada orang yang bisa jadi tempat bertanya 🙂 .

Kalau ditanya: betah ga di sana? betah-betah aja tuh, setiap tempat ada plus minusnya. Enjoy ajaaa…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *