Joshua dan Mewarnai

Kalau sudah mulai sekali malas menulis, biasanya jadi keterusan malas nulis blog. Malasnya bertambah karena ada banyak yang pingin diceritakan, tapi gak punya energi menuliskan. Nah hari ini termasuk hari agak malas menulis. Dalam rangka mengalahkan kemalasan, baiklah menuliskan hasil mewarnai Joshua.

Sejak ikut Global Art, Joshua mulai agak rajin mewarnai di rumah. Kalau dulu, dia hanya mau menulis ABC atau 123 saja. Tapi sekarang, walau kadang harus ditemenin atau disemangati, dia mulai mau menyelesaikan 1 halaman 1 hari. Objek yang diwarnai juga bukan hanya huruf atau angka saja.

Berikut ini hasil karya Joshua di Global Art. Kegiatan mewarnai diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 jam. Sekarang dia mulai lebih mau mendengar instruksi gurunya.

Kegiatan mewarnai ini tujuan utamanya untuk melatih fine motor di jari-jari untuk menulis ataupun pegang sendok. Joshua sudah dari dulu suka menulis, tapi cara dia memegang pensil masih salah.

Saya kasih buku yang ada ABC nya, biar lebih semangat mewarnai

Sekarang ini setiap saya coba kasih contoh pegang alat tulis yang benar, tak lama kemudian dia akan tukar lagi posisi pegang alat tulisnya.

Joshua lebih sering pakai tangan kiri, tapi dia sekarang mau juga pakai tangan kanan sesekali

Sebenarnya dengan cara pegang yang sekarang, tulisan Joshua bisa terlihat rapi. Mewarnai pun dia cukup cepat. Tapi dengan cara pegang yang sekarang, ada gerakan tangan yang terbatas dan bisa jadi mempersulit dikemudian hari.

Hasil mewarnai Joshua belum terlalu rapi. Saya juga tidak pernah memaksa dia memilih warna sesuai apa yang ada di alam. Tapi Joshua selalu memilih warna matahari itu kuning, atau rumput itu hijau.

Karena Joshua sudah bisa membaca, kadang-kadang dia berusaha membaca sendiri instruksinya dan mengerjakan sendiri. Bagian mengerjakannya sih cepat, tapi bagian mewarnainya masih butuh dibujukin hehehe.

Kalau dibiarkan, kadang-kadang dia pengen mengerjakan 1 buku dari depan sampai belakang (untuk yang berkaitan dengan angka-angkanya). Tapi ya untuk bagian mewarnainya, tetap masih harus disemangati hehehe.

Semoga Joshua bisa lebih rapih lagi ke depannya mewarnainya. Semoga juga cara memegang alat tulisnya bisa lebih baik lagi.

Loy Kratong Chiang Mai 2019

Tahun ini, Loy Kratong jatuh tanggal 9 – 12 November. Acara menghanyutkan kratong di sungai area dekat rumah diadakan tanggal 11 dan 12 saja. Tahun-tahun sebelumnya, biasanya yang pergi ke sungai itu Joe dengan Jonathan saja. Tapi tahun ini, gantian saya dan Jonathan yang pergi. Joe di rumah dengan Joshua. Kami tidak membawa Joshua karena biasanya Joshua tidak suka dengan tempat berbau asap dan bunyi petasan yang mengagetkan.

Tahun ini, di area dekat rumah ada larangan menerbangkan lentera khom loy. Secara umum di Chiang Mai dibatasi area yang diijinkan menerbangkan khom loi. Beberapa group juga menghimbau lebih baik tidak menerbangkan khom loi maupun menyalakan petasan dan kembang api supaya tidak menambah polusi udara. Oh ya, biasanya bulan November, udara masih bersih, akan tetapi tahun ini entah kenapa udara nilai aqi udara sudah mulai mengindikasikan udara yang tidak sehat, bahkan sebelum Loy Kratong dimulai.

Awalnya rencananya mau menghanyutkan hasil karya Joshua, tapi eh ternyata kratongnya langsung nyungsep. Jadiya beli 1 lagi seharga 45 baht yang terbuat dari ice cream cone dan dibentuk seperti unicorn. Harga kratong ini bervariasi, ada yang jual 35 baht atau beli 3 seharga 100 baht, ada juga yang jual 50 baht berupa kratong bunga yang agak besar. Tadi karena saya gak berniat lama-lama di sana, saya beli dari tempat yang dekat dengan sungainya saja.

Setelah menghanyutkan kratongnya, eh Jonathan ketemu anak tetangga yang juga teman di tempat Taekwondo nya. Jadilah tadi bermain-main sebentar, termasuk memperhatikan ada ikan kecil di dekat tempat orang-orang menghanyutkan kratong. Biasanya, platform untuk menghanyutkan kratong di buat agak lebih tinggi dari air sungai. Tahun ini, platform untuk menghanyutkannya sedikit lebih rendah dari air sungai. Jadi kaki kita pasti basah kalau mau menghanyutkan kratongnya.

Kadang-kadang saya kagum dengan cara kerja pemerintah setempat dalam mempersiapkan festival seperti ini. Mereka bisa mengatur debit air sungai supaya agak tinggi dari biasanya, sehingga mempermudah untuk menghanyutkan kratong. Setelah festival selesai, mereka langsung bekerja cepat untuk membersihkan sampah kratongnya dari sungai dan air sungainya kembali lagi seperti biasa (tidak terlalu tinggi).

larangan menerbangkan khom loy

Saya bersyukur di daerah sini tidak diijinkan menerbangkan khom loy. Biasanya setiap tahun, ada lebih dari 3 sampah khomloy jatuh di halaman atau atap rumah. Tapi tahun ini, penduduk setempat cukup taat peraturan dan tidak menerbangkan khom loy. Saya tidak pernah menerbangkan khom loy, karena saya takut khom loy yang saya terbangkan membahayakan rumah atau orang lain.

Sebelum pulang, saya perhatikan selain berjualan kratong, ada beberapa penjual makanan dan minuman dadakan juga di sisi lain jalan. Dibandingkan tahun sebelumnya, rasanya lalu lintas cukup teratur dan tidak terlalu macet. Mungkin karena kemarin sebagian besar orang sudah menghanyutkan kratongnya, jadi hari ini tidak terlalu ramai.

Satu hal yang saya juga kagum dari acara seperti ini adalah kreativitas orang-orang dalam membuat kratong. Jadi kalau dulunya kratong itu terbuat dari pelepah pisang, daun pisang dan hiasan bunga. Sekarang ini orang-orang membuat kratong dari makanan seperti cone ice cream, roti tawar ataupun roti yang diberi warna-warni, dan ada juga yang dari kerupuk. Kemarin saya lihat di timeline FB saya, ada teman yang bikin kratong dari batu es dan dihias dengan makanan roti-roti. Jadi mungkin niatnya supaya tidak menjadi sampah di sungai ya.

Sambil jalan pulang, kami melihat-lihat ada apa lagi yang di jual. Ternyata ada yang jual ikan kecil juga untuk dilepaskan di sungai. Ikan sebungkus (beberapa ekor) seharga 35 baht, atau kalau mau beli 3 seharga 100 baht. Kata Jonathan, tahun depan dia mau melepaskan ikan-ikan supaya ga nyampah di sungai. Saya tulis di sini dan semoga ingat niat ini tahun depan. Cerita tahun lalu juga ada sedikit di tuliskan di sini.

Ulang tahun Jonathan ke-9

Hari ini Jonathan masuk usia 9 tahun. Seperti tahun lalu, ulang tahunnya tidak dirayakan, tapi cukup dikasih hadiah dan makan bersama. Setelah lama berhomeschool dan jarang melihat perayaan ulang tahun anak lain, Jonathan tidak berharap perayaan ulang tahun.

Tahun ini hadiah yang saya berikan adalah buku Pokemon dan Minecraft. Buku Pokemon nya cukup tebal tapi sudah selesai dibaca dalam beberapa jam saja. Buku Minecraft nya baru satu box yang dibuka. Sebenarnya Jonathan juga meminta sebuah game untuk Nintendo Switch, tapi karena baru akan dirilis Minggu depan, jadi kami belum bisa belikan sekarang.

Meskipun tidak ada kegiatan homeschool hari ini, tapi tetap ada kegiatan kumon. Untungnya hari ini dia bisa cepat sekali menyelesaikannya. Setelah selesai, dia langsung menelpon saya dengan Video Call Facebook Kids dengan WIFI dari tempat kumon.

Setelah itu kami menunggu Risna yang sedang ikut pelatihan di Gereja, dan kemudian diteruskan dengan makan di Bear Hug Caffe.

Makanan dan minuman di tempat ini cocok untuk anak-anak, dihias cantik dan rasanya juga enak.

Sudah banyak perkembangan Jonathan di usia 8 tahun, dan semalam saya ngobrol banyak tentang targetnya di usia 9 tahun. Saya tidak perlu tuliskan di sini, tapi saya berharap keinginan dan target Jonathan bisa tercapai.

Ibu-ibu dan Cita-Cita Anaknya

Hari ini sebenarnya hampir gak nulis, tapi daripada bolos nulis tiba-tiba terpikir topik obrolan tadi siang dengan sesama ibu-ibu lain tentang mau jadi apa anaknya besar nanti.

Iya, ini bukan anaknya yang punya mau, tapi ibunya yang pingin anaknya besar dengan profesi tertentu dan apa yang dia anggap penting untuk dilakukan sekarang ini untuk mendukung mewujudkan cita-citanya terhadap anaknya nanti.

Teringat beberapa tahun lalu, saya punya teman orang Thai. Sejak anaknya umur 2 tahun, dia sangat giat mencari sekolah, karena dia pingin anaknya menjadi dokter. Jadi menurut teman saya ini, kalau anaknya masuk sekolah tertentu di Chiang Mai, maka peluang anaknya untuk menjadi dokter akan lebih besar, dan anaknya pasti akan pintar. Teman saya ini tidak ingin anaknya masuk sekolah internasional, karena selain mahal, masuk sekolah internasional hasilnya cuma bisa berbahasa Inggris dan tidak pintar hal-hal lain (ini bukan kata saya loh, ini kata teman saya).

Sekarang ini, anaknya sudah masuk ke sekolah idaman ibunya. Apakah anaknya akan jadi dokter? nanti kita kita lihat sekian tahun lagi hehehe.

Lalu ada lagi nih, hari ini ketemu ibu-ibu lain yang anaknya umur sekitar 4 tahun. Anak ini ibunya Thai dan bapaknya bule. Sebelum anaknya sekolah di sekolah bilingual (Thai dan Inggris), anaknya ini cuma bisa berbahasa Inggris. Tapi sekarang, anaknya tidak mau lagi berbahasa Inggris dan selalu berbahasa Thai. Ibunya mulai resah dan berniat memindahkan anaknya ke sekolah Internasional supaya memaksa anaknya kembali berbahasa Inggris.

Saya komentar bilang: bukannya bagus kalau anaknya bisa lebih dari 1 bahasa? dijawabnya: gak penting bisa bahasa Thai, saya cuma pengen anak saya fasih berbahasa Inggris, karena nanti setelah lulus SMA saya mau kirim dia ke Amerika untuk sekolah pilot. Saya dalam hati bilang: emang pilot cuma bisa bahasa Inggris?

Nah pertanyaanya: kalau mau anaknya fasih berbahasa Inggris, kenapa ga tinggal di negara bapaknya aja? Ibunya bilang: enakan tinggal di Thailand, saya cinta negeri ini. Dan saya garuk-garuk kepala karena ibu ini cinta Thailand tapi gak pengen anaknya bisa bahasa Thai. Sebagai pendatang di negeri ini, saya bisa merasakan lebih betah tinggal di sini sejak lebih lancar berkomunikasi dengan bahasa lokal. Gimana sih si ibu, pengen anaknya tinggal di Thailand tapi ga merasa perlu anaknya bisa baca tulis Thai juga.

Ibu punya cita-cita anaknya jadi apa nanti memang baik. Tapi kan belum tentu anaknya punya cita-cita yang sama dengan si ibu. Untuk kasus ibu yang ingin anaknya jadi dokter dan mengupayakan supaya anaknya masuk sekolah favorit, rasanya masih lebih masuk akal. Karena toh, biasanya kalau sekolah favorit, persaingannya cukup tinggi. Memang tidak ada jaminan anaknya bakal jadi dokter, tapi dengan persaingan yang ada di sekolah – dan kalau anak itu ga jadi stress dan tetap santai saja – si anak akan lebih terlatih menghadapi persaingan masa depan di dunia kerja apapun profesinya nanti. Tapi untuk kasus ibu yang ingin anaknya fasih berbahasa Inggris dan tidak menganggap bahasa lokal itu penting rasanya agak aneh.

Saya tidak tau apakah di Indonesia ada fenomena yang menganggap bahasa Inggris lebih penting daripada bahasa lokal. Saya termasuk yang tidak bisa berbahasa daerah karena di rumah orang tua saya juga berbahasa Indonesia. Saya bersyukur dari SMP sudah belajar bahasa Inggris, walaupun tidak fasih berbicara tapi saya jadi bisa baca buku-buku teks berbahasa Inggris ketika kuliah dan bisa dipakai untuk belajar bahasa Thai di sini. Waktu saya terpaksa belajar bahasa Thai, saya tidak pernah terpikir akan bisa ngobrol panjang lebar dalam bahasa Thai. Tapi faktor bisa berbahasa Thai membuat saya lebih betah tinggal di sini.

Sejak punya anak, saya sudah tetapkan, walau kami tinggal di Thailand kami mau anak-anak harus bisa berbahasa Indonesia selain Inggris dan Thai. Alasannya supaya kalau mereka pulang atau sekedar liburan ke Indonesia mereka tidak menjadi orang asing di negeri sendiri selain supaya bisa ngobrol dengan eyangnya dan oppung yang tidak bisa bahasa Inggris.

Jonathan awalnya cukup bisa berbahasa Thai selain Indonesia, tapi karena pernah sekolah di sekolah yang hanya berbahasa Inggris, dia sempat menolak berbahasa lain selain bahasa Inggris. Sekarang ini dia mulai bisa lagi berbahasa Indonesia, tapi bahasa Thainya makin kurang terasah karena jarang dipakai. Joshua juga ikut-ikutan Jonathan, lebih banyak berbahasa Inggris (tapi tetap mengerti bahasa Indonesia). Tapi ya, mereka masih kecil dan masih banyak kesempatan untuk belajar bahasa Thai.

Joe dan saya tidak menargetkan cita-cita tertentu untuk anak-anak kami. Saat ini ada kecenderungan mereka berdua suka niru-niru papanya dengan hal yang berkaitan dengan coding dan building block. Tapi ya tetap kami gak menargetkan mereka menjadi programmer ataupun engineer. Siapa tahu mereka malah pengen jadi dokter atau malah jadi seniman.

Sekarang ini kami berusaha mengenalkan mereka dengan berbagai hal dan biarkan mereka memilih mau jadi apa nantinya. Kami tetap berharap anak-anak kami nantinya fluent dengan bahasa Indonesia dan Thai selain bahasa Inggris. Kalau sudah bisa 3 bahasa, harapannya belajar bahasa berikutnya akan lebih mudah. Bukan untuk menjadi ahli bahasa, tapi bahasa itu penting untuk komunikasi dan mencari informasi. Kalau sudah bisa komunikasi dan mengerti cara mendapatkan dan menggunakan informasi, banyak hal lebih mudah untuk dipelajari.

Tulisan ini jadi panjang seperti obrolan ngalor ngidul dengan sesama ibu-ibu tadi siang. Kira-kira menurut pembaca, apakah bahasa lokal itu penting dipelajari atau cukup bahasa Inggris saja? Dan apakah pembaca tipe ibu yang menetapkan cita-cita untuk anak atau membebaskan anak dengan cita-citanya nanti?

Kdrama: Kill Me Heal Me dan Hyde Jekyll and Me

Tulisan ini udah lama jadi draft. Dramanya juga sudah lama ditontonnya. Tapi ya, daripada gak dipublish saya coba lengkapi seingatnya dan mungkin akan ada spoiler (tanpa detail). Karena ini drama lama, saya pikir kebanyakan toh sudah pada nonton, jadi tidak apalah ada spoiler dikit-dikit hehehe.

Film Kill Me Heal Me (KMHM), tayang lebih dahulu (7 Januari – 12 Maret 2015) daripada Hyde Jekyll and Me (HJM) tayang (21 Januari – 26 Maret 2015). Jadi bisa dibilang HJM ini kalah start dari KMHM sekitar 2 minggu dengan hari dan jam penayangan yang sama di stasiun yang berbeda.

Dari ratingnya drama KMHM lebih sukses daripada HJM, padahal menurut saya ceritanya sama-sama menarik untuk ditonton walau temanya sama. Tapi memang kalau mengikuti 2 film yang temanya sama dan harus memilih jam tayang, pastilah akhirnya pemirsa akan meneruskan yang sudah duluan ditonton.

Kesamaan:

  • sama-sama membahas DID (Disassociative identity disorder) atau dikenal dengan kepribadian ganda
  • tokoh yang mengidap DID ini sama-sama anak orang kaya yang masih memegang keputusan penting di perusahaan orangtuanya
  • sama-sama menggunakan teknologi (smart watch dan cctv di rumah) untuk berusaha memonitor kondisi fital dan keep track kegiatan dirinya (antisipasi kalau kepribadian lain muncul)
  • pribadi utama digambarkan berusaha melakukan meditasi untuk mencegah kepribadian lain muncul
  • penyebab utama dari kepribadian ganda ini sama-sama trauma masa kecil, menyalahkan diri sendiri dan metode diri untuk bertahan hidup
  • tentunya ceritanya gak lengkap tanpa tokoh wanita yang menjadi trigger mulai dari awal pribadi terpecah ataupun muncul kembali dan pada akhirnya menjadi kunci untuk penyembuhan
  • pribadi alternate digambarkan duluan jatuh cinta dengan tokoh wanita, kemudian pribadi utamanya ikutan jatuh cinta juga (jadi perebutan wanita deh)
  • pribadi alternate ada yang ingin ambil alih dan menjadi pribadi utama
  • ada klise di mana tokoh wanita tinggal dengan tokoh pribadi utama (alasannya beda tapi intinya sama untuk membantu proses penyembuhan)
  • ada scene di amusement park dan ada scene kembang api.

Perbedaan:

  • KMHM punya kepribadian sampai 6, HJM hanya 3 (dan yang ditunjukkan hanya 2)
  • di KMHM pribadi utama tidak punya metode untuk berkomunikasi dengan pribadi yang lain dan masing-masing pribadi bisa muncul tanpa trigger khusus, sedangkan di HJM karena hanya ada 2 karakter yang diceritakan, digambarkan mereka punya cara berkomunikasi dan bahkan punya pembagian waktu siang untuk pribadi utama dan malam untuk pribadi alternate
  • di KMHM pribadi utama orang yang baik sedangkan salah satu pribadi alternate yang dominan digambarkan lebih agresif dan dekat dengan kekerasan. di HJM pribadi utama digambarkan egois dan dingin, tidak lebih baik daripada pribadi alternate yang suka menolong, ramah dan murah senyum
  • tokoh wanita di KMHM psikiaternya, tokoh wanita di HJM pegawai nya yang kebetulan berperan penting untuk proses menemukan psikiaternya yang diculik dan tentunya psikiaternya ini diperlukan untuk proses kesembuhannya.
  • di KMHM keluarga tokoh utama tidak aware kalau anaknya punya kepridadian ganda, sedangkan di HJM keluarga mengetahui dan dengan aktif berusaha mencari dokter untuk menyembuhkan anaknya dari DID

Kesan tentang HJM bisa di baca di posting saya sebelumnya. Intinya walau ada beberapa bagian kurang masuk akal dengan penggunaan hipnotis, tapi jalan ceritanya diselesaikan dengan tuntas dan tidak ada kesan terburu-buru.

Kesan tentang KMHM:

Jalan cerita awalnya sangat lambat dan membosankan. Saya sempat hampir berhenti di episode pertama. Tapi setelah melewati 2 episode dan muncul beberapa kepribadian ceritanya mulai terasa menarik dan bikin penasaran. Tapi beberapa episode terakhir juga kembali membosankan dan rasanya lambat sekali. Pada akhirnya, ada kesan mengakhiri cerita dengan terburu-buru.

KMHM ini lebih terasa komedinya, apalagi ketika tokoh utamanya menjadi seorang gadis remaja yang berlaku seperti fangirl. Akting Ji Sung cukup meyakinkan dan sangat berkesan ketika dia mengejar-ngejar Park Seo Joon dan berteriak Oppaaa. Sepertinya bagian komedi ini yang bikin saya bertahan menonton sampai selesai.

Penyelesaian masalah kepribadian ganda di KMHM ini agak terlalu mudah. Tidak ada metode hipnotis seperti di HJM, tapi lebih ke mengingat peristiwa di masa kecilnya, berdamai dan memaafkan masa lalu dan dengan mudah semua kepribadian alternate mengundurkan diri dan berjanji tidak akan keluar lagi.

Tahun 2015 saya belum nonton kdrama, jadi saya tidak mengikuti drama ini ketika sama-sama ditayangkan. Saya bahkan baru tahu belakangan kalau ada tema senada dengan HJM.

Saya menonton HJM lebih dahulu dari KMHM dan buat saya temanya menarik setelah sebelumnya mulai bosan dengan tema kdrama yang temanya begitu-begitu saja hehehe. HJM saya tonton tahun 2018 dan KMHM baru tahun ini. Walau temanya sama, pendekatan penyelesaian masalahnya berbeda dan punya daya tarik masing-masing.

Jadi kalau mau nonton yang mana dulu dong? ya bebas mau yang mana karena KMHM dan HJM ada di Netflix dan bisa dilewatkan kalau ada bagian yang membosankan hehehe.

Jonathan Belajar Membaca Bahasa Indonesia

Jonathan sudah hampir 9 tahun. Sampai sekarang belum pernah saya kasih pelajaran khusus untuk membaca bahasa Indonesia. Harapannya memang dia bisa belajar sendiri hehehe. Hari ini bangun tidur siang saya menemukan buku pelajaran membaca bahasa Indonesia yang kami beli beberapa tahun lalu. Ternyata, anak kalau sudah bisa bahasa Indonesia lebih mudah membaca bahasa Indonesia tanpa diajari. Tapi tentunya beberapa kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari akan lebih sulit dibacanya.

Bukunya untuk umur 4 – 6 tahun

Menurut tulisan di sampulnya, buku ini untuk umur 4 – 6 tahun. Tapi untuk anak yang selama ini hanya bisa baca bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya cuma dengan kami orantuanya, tidak ada salahnya dicoba suruh baca untuk mengetahui juga pemahamannya terhadap kata-kata dalam bahasa Indonesia.

gak pakai lama belajar bacanya

Beberapa kata yang dia tidak mengerti tapi bisa menebak itu misalnya: paman, bibi, sawah, ladang, desa. Jonathan tidak pernah manggil orang dengan paman dan bibi, adik-adik Joe dia panggil om dan tante, sedangkan dari keluarga saya panggilnya pakai panggilan batak hehehe. Kakek dan nenek saja perlu saya jelaskan lagi, karena dia manggilnya eyang boy dan eyang girl.

Beberapa kata yang dia sulit baca itu seperti: berdesakan, kendaraan dan umumnya kata dengan bunyi ng dan ny yang menggunakan akhiran. Beberapa kata dia selalu baca menggunakan bunyi e yang tajam. Lucunya baca lirik lagu pelangi-pelangi, dia tau bunyi e dalam kata “pelangi”, tapi selalu salah menyebut kata “pelukis” dengan bunyi e yang tajam, lalu kesulitan membaca kata “agung” dan “gerangan”. Kata-kata tersebut memang jarang kami gunakan dalam percakapan sehari-hari. Saya tidak pernah bertanya: “kenapa kamu sedih, ada apakah gerangan?” hihihihi.

Buku “Metode Ini Ibu Budi” dulu kami beli karena judulnya menarik. Kami pikir, dulu kami belajar membaca dengan keluarga Budi, jadi ya bisa sekalian cerita ke Jonathan bagaimana dulu kami belajar membaca. Walaupun ternyata anggota keluarga Budi dalam buku ini bukan Wati dan Iwan seperti buku jaman dulu hehehe.

Saya pikir Jonathan akan mulai membaca dengan mengeja, ternyata dia bisa langsung membacanya walau perlu diperbaiki sedikit di sana sini. Mungkin karena dia sudah mengenal bunyi alfabet bahasa Indonesia dan karena sejak homeschool dia sudah lebih banyak berbahasa Indonesia di rumah. Beberapa kata masih terasa aneh di kuping waktu dia baca hehehe.

Belajar membaca bahasa apapun memang pada akhirnya butuh latihan. Lebih baik lagi kalau mengerti dengan kata yang dibaca. Waktu pulang ke Indonesia, kami pernah membeli beberapa buku bilingual Inggris – Indonesia, tapi biasanya Jonathan akan langsung membaca bagian bahasa Inggrisnya. Mungkin saatnya membuat jam khusus untuk pelajaran latihan membaca bahasa Indonesia untuk menambah kosa kata dan memperlancar membaca bahasa Indonesia.

Warna warni Mi Band 4

Bulan Maret 2019 saya mencoba dan menuliskan tentang Mi Band 3. Tadinya saya pikir saya tidak akan ganti jam lagi sampai mi bandnya rusak, tapi ternyata beberapa bulan lalu ada versi Mi Band 4 yang di release dengan beberapa fitur tambahan dari Mi Band 3, di antaranya layar berwarna dan bisa tracking untuk berenang dan dengan harga yang sama dengan harga release Mi Band 3 fiturnya juga lebih baik.

Setelah menunda-nunda dan tetap mau bertahan dengan mi band 3 saja, akhirnya jadi juga beli Mi Band 4 nya bulan September lalu karena Joe juga mau pakai Mi Band 3 nya. Setelah pemakaian beberapa bulan dengan Mi Band 4, baru deh ingat kalau belum nulis soal Mi Band 4 ini.

jadi juga beli tali warna warni

Dengan adanya display berwarna di Mi Band 4, kita bisa memilih berbagai tampilan wajah jam nya. Nah daripada cuma wajahnya yang berubah, saya akhirnya jadi juga beli tali jam warna warni nya. Tali jamnya juga gak mahal dan kebetulan kompatibel untuk Mi Band 3 dan Mi Band 4 ( jadi Joe juga bisa ganti-ganti warna tali kalau iseng). Karena ongkos kirimnya 30 baht dan harga talinya 9 baht, akhirnya kami beli 5 warna sekaligus (ongkos kirimnya sama saja kirim 1 dan 5).

Selain jadi iseng ganti-ganti warna tali dan display, kelebihan Mi Band 4 dari versi Mi Band 3 yang paling terasa itu di bagian batere tahan lebih lama beberapa hari. Klaimnya memang bisa untuk 20 hari, tapi karena saya mengaktifkan sleep tracking dan heart rate monitor, paling lama saya harus mencharge Mi Band ini sekitar 12 hari (rata-rata 10 hari kalau ingat sudah saya charge). Daya tahan batere berkurang kalau kita aktifkansleep monitoring dan heart rate monitornya.

seminggu batere masih di atas 50 persen

Heart rate detection bisa di set setiap menit sampai per 30 menit. Semakin kecil interval pengecekan, semakin cepat batere berkurang. Saya sekarang set jarak pengecekan heart rate setiap 5 menit.

Kadang-kadang punya device dengan banyak fitur, tidak selalu semua fiturnya kita aktifkan. Fitur yang paling sering saya gunakan dari mi band 4 ini antara lain:

  • memperhatikan apakah target jumlah langkah per hari sudah tercapai atau belum
  • memperhatikan pola tidur (berapa jam tidur, berapa jam tidur lelapnya)
  • memperhatikan denyut jantung rata-rata harian dan ketika tidur
  • notifikasi kalau ada panggilan masuk (karena hp saya selalu silent)
  • notifikasi message dari Joe (yang lain notifikasinya saya matikan hahaha)
  • notifikasi alarm dan calendar

Saya tahu ada banyak jenis smart band beredar sekarang ini dan masing-masing punya fitur andalannya. Saya pilih Mi Band 4 ini karena harganya tidak lebih dari 1500 baht dan fiturnya cukup untuk saya. Fitur olahraga belum pernah saya pakai. Rencananya mau kembali berolahraga sebelum 2019 berakhir hehehehe.