Seharian di Namsan Seoul Tower Korea dan Sekitarnya

안녕!

Ketemu lagi kali ini dengan topik kokoriyaan. Topik 30 alias topik terakhir dari tantangan menulis 30 topik bersama dengan teman-teman di grup drakor dan literasi. Rasanya, perasaan ini campur aduk. Antara lega akhirnya sampai finish, senang sudah menemukan banyak bahan bacaan seputar topik drama Korea dan turunannya, dan juga agak sedih karena topiknya habis.

Kegiatan menulis bersama ini juga merupakan sarana berlatih yang baik buat saya untuk menuliskan sesuatu berdasarkan topik yang ditentukan. Biasanya, saya selalu merasa tidak bisa menuliskan yang sudah ditentukan topiknya. Ternyata, dengan modal niat dan tentu baca sana sini, topik yang berhubungan dengan dunia drama Korea bisa membuat saya beranjak dari zona nyaman.

Langsung saja ya kita ke topik terakhir ini. Topik yang bisa jadi seperti mimpi di siang hari, mengingat sekarang ini belum bisa jalan-jalan dengan bebas. Tapi, boleh saja sekarang susun rute yang ingin dituju, biar ketika waktunya tiba, tinggal buka contekan sebelum jalan-jalan dilakukan.

Topik 30. Kalau Ke Korea setelah jadi drakorian, pengen lihat apa saja/ngapain saja? 

Salah satu daya tarik dari drama Korea, selalu ada seperti promosi pariwisatanya. Dalam 1 drama, bisa disebutkan beberapa kota dan beberapa tempat yang biasanya jadi daya tarik dari kota tersebut.

Dari sekian banyak tempat yang ada dalam drama, buat saya hanya ada beberapa tempat yang sepertinya menarik untuk dikunjungi. Tapi yang paling jadi tujuan wajib buat saya tentu saja Namsan Seoul Tower.

Sumber: https://www.seoultower.co.kr/en/intro/index
Continue reading “Seharian di Namsan Seoul Tower Korea dan Sekitarnya”

Meneruskan Blog Lama atau Bikin Blog Baru?

Saya mengenal blog dari sejak tahun 2002. Blog ini bukan blog pertama saya. Sebelum menulis bareng Joe, kami masing-masing punya blog sendiri. Setelah punya blog bersama ini, kami juga masih punya halaman sendiri-sendiri. Kami juga pernah menulis untuk blog anak-anak kami. Sekarang ini, saya dan Joe menulis hanya di blog bersama ini.

Beberapa blog yang sudah lama tidak diupdate
Continue reading “Meneruskan Blog Lama atau Bikin Blog Baru?”

Game “Human Resource Machine” dan “7 Billion Humans”

Dari dulu, yang suka main game di rumah kami itu Joe, walaupun dia bukan pemain game serius yang tidak bisa berhenti main game. Saya pernah suka main game The Sims, tapi sudah lama pensiun main game karena kalau sudah mulai main saya susah berhenti.

Game yang sering dipilih Joe seringnya tipe puzzle. Salah satu game yang paling jadi favoritnya Seri Game Professor Layton. Game Professor Layton ini tipenya ada cerita misterinya dan juga memecahkan persoalan dengan berpikir komputasi.

Salah satu game yang juga pernah dimainkan Joe namanya Human Resource Machine. Game ini menggunakan konsep pemrograman sederhana dan menggunakan animasi yang lucu.

Contoh Puzzle Human Resource Machine
Continue reading “Game “Human Resource Machine” dan “7 Billion Humans””

Jauh di Mata, Dekat di Hati

Pertama kali saya merantau jauh dari orang tua dan keluarga itu ketika saya diterima kuliah di Bandung. Saya butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru. Masa itu akses internet belum seperti sekarang yang tersedia dalam genggaman setiap orang. Ponsel pun masih belum seperti sekarang yang menjadi hal yang sepertinya bawaan wajib setiap orang.

Nasib Perantau Masa Kuliah

Setiap hari Jumat, beberapa teman yang berasal dari Jakarta terlihat sangat antusias untuk pulang ke rumahnya. Mereka bilang, kangen sama keluarga, kalau ga sama keluarga ya janjian sama teman SMA. Pulang itu hal yang mudah buat mereka, tinggal pilih mau naik bis atau kereta api, atau ada juga yang punya mobil pribadi gantian nyetir dengan teman-teman ke Jakarta.

Pulang itu suatu kemewahan buat saya. Pilihan untuk pulang dari Bandung itu harus naik kereta api atau bis dulu ke Jakarta, lalu naik pesawat dari Jakarta ke Medan. Bisa juga naik kapal laut dari Jakarta, tapi tentunya akan memakan waktu lebih lama lagi tiba di Medan.

Perjalanan dari Bandung ke Medan membutuhkan waktu kurang lebih setengah hari. Waktu itu belum seperti sekarang ada rute pesawat terbang dari Bandung langsung ke Medan. Berangkat subuh dari Bandung, terkadang tibanya malam sampai di rumah Medan.

Perjalanan dari Bandung ke bandara Soekarno Hatta waktu itu paling cepat 3 jam, menunggu pesawat datang sampai benar-benar duduk di pesawat bisa 2 atau 3 jam. Penerbangan Jakarta – Medan sekitar 2,5 jam, lalu proses turun dari pesawat ambil bagasi dan sebagainya bisa memakan waktu 30 menit lagi. Kalau di total perjalanan dari Bandung sampai Medan butuh 10 jam.

Nasib Perantau Setelah Menikah

Awal kami tinggal di Chiang Ma, perjalanan pulang ke Indonesia masih sangat sedikit pilihannya. Paling cepat perjalanan dari rumah di Chiang Mai sampai ke rumah tujuan di Depok atau Medan itu membutuhkan waktu 12 jam. Terkadang kami malah harus menginap dulu di Kuala Lumpur atau Singapura sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Menjadi perantau selama puluhan tahun, akhirnya mengajarkan saya untuk tidak cengeng dengan alasan rindu. Pulang itu mahal, jadi saya tidak pernah menuruti perasaan ‘homesick’ dan berkata ke diri sendiri walau mereka jauh di mata, toh dekat di hati.

Pilihan untuk membayar kerinduan waktu itu hanya melalui surat atau pergi ke warung telepon untuk ngobrol sebentar dengan orangtua. Kenapa sebentar? ya kalau lama-lama mahal, kalau mau murah teleponnya harus di atas jam 11 malam, tapi kan tidak baik kalau keluyuran tengah malam sendirian. Lagipula, kalau ngobrolnya lama akhirnya bayarnya mahal. Ngobrol sambil melihat angka-angka yang harus dibayar bergerak naik itu rasanya jadi tidak fokus.

Saya ingat, waktu itu menelepon dengan sambungan jarak jauh hanya saya lakukan untuk menelepon orang tua saya. Untuk komunikasi dengan teman-teman saya gunakan surat biasa. Menulis surat bisa berlembar-lembar, sampai pegal rasanya menuliskannya. Waktu balasannya datang, saya sudah lupa, waktu itu nanya apa aja ya, hehehe.

Itu semua usaha yang dilakukan dahulu, untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga yang jauh di mata supaya tetap dekat di hati. Saat ini, dengan adanya koneksi internet dan ponsel pintar, komunikasi itu ada dalam genggaman. Kapan saja di mana saja, bisa kirim pesan teks ataupun telepon suara, bahkan bisa dengan saling melihat wajah melalui panggilan video.

Nasib Perantau di Masa Pandemi

Lalu pandemi terjadi. Pulang bukan lagi suatu pilihan. Semua disarankan di rumah saja untuk mengurangi penyebaran infeksi. Mulai dari masa Songkran di Thailand, sampai masa Idul Fitri di seluruh dunia, pandemi menghalangi orang bertemu dan berkumpul melepas rindu.

Beberapa keluarga terpisah berbulan-bulan, termasuk di masa yang biasanya dijadikan masa berkumpul dengan keluarga ini. Penerbangan internasional yang ditutup menyebabkan semua orang seperti terjebak di negara manapun dia berada pada saat pandemi terjadi.

Lalu sekarang ini, panggilan video menjadi seperti pengganti dari pertemuan langsung. Tapi tentu saja rasanya tak sama. Memang bisa saja kita bilang jauh di mata dekat di hati, tapi sesungguhnya akan lebih baik lagi kalau bisa dekat di mata makin nempel di hati.

Mudik itu Mahal, Jendral!

Saat ini, sudah 6 bulan sejak pertama kali Thailand menutup penerbangan Internasional. Beberapa keluarga akhirnya bisa berkumpul kembali, tapi tentunya dengan segudang syarat yang membaca daftarnya saja bikin sakit kepala.

Pulang ke Indonesia, butuh syarat test bebas Covid, harganya untuk orang asing di sini rata-rata di atas 3000 baht. Saat ini sepertinya masuk Indonesia tidak ada kewajiban karantina kalau sudah mengantongi surat bukti tidak terpapar Covid-19, tapi siapa yang tahu peraturannya kapan berganti?

Kembali ke Thailand, lebih sulit lagi. Selain syarat memiliki surat bukti tidak terpapar Covid-19 yang dilakukan dalam jarak waktu 72 jam sebelum terbang, setiap orang juga wajib memiliki asuransi dengan nilai pertanggungan 100.000 USD, lalu semuanya itu harus diusulkan ke kedutaan Thailand untuk mendapatkan surat certificate of entry (COE), yang mana COE ini diberikan spesifik untuk tanggal tertentu. Jika ada delay dari pihak penerbangan, akhirnya tidak jadi terbang deh.

Persyaratan masuk ke Thailand, update 1 Juli 2020

Buat urusan tiket, test swab dan urusan asuransi saja entah berapa biayanya. Tapi itu semua tidak cukup, ada lagi biaya karantina wajib ketika memasuki Thailand yang mana paling murah harganya 32.000 Baht, alias kurang lebih 15 juta per orang.

Total untuk kami sekeluarga kalau nekat pulang ke Indonesia dan kembali lagi ke Thailand kayaknya bisa bikin rusak kalkulator saya menghitungnya. Kalaupun ada uangnya untuk membayar semuanya, kok rasanya seperti buang-buang duit. Saat ini, terjadi resesi di mana-mana, saatnya mengatur keuangan dengan sebaik-baiknya, sampai pandemi berlalu dan ekonomi pulih kembali.

Kadang-kadang terpikir, mungkin lebih “murah” kalau mama saya saja yang diminta datang ke Chiang Mai, apalagi mulai 1 Oktober akan ada Visa Turis Khusus yang bisa untuk jangka panjang (90 hari, dan bisa diperpanjang 2 kali, total 9 bulan). Tapi, dipikir-pikir lagi, manalah mama saya betah berlama-lama di negeri yang dia tidak bisa bahasanya.

Penutup

Saat ini, saya bersyukur kalau saya sudah terlatih untuk tidak cengeng dengan perasaan rindu rumah. Beruntung dengan adanya teknologi internet di ponsel, telepon video menjadi sesuatu yang mudah dilakukan oleh hampir semua orang. Saya bisa melihat wajah mama saya ketika ngobrol menggunakan ponsel. Dan saat ini harus merasa cukup dengan kondisi ini.

Bertahun-tahun jadi perantau, saat ini merupakan saat terberat karena tidak adanya kepastian kapan semua kembali normal. Tidak tahu apakah masih akan bertemu dengan keluarga yang jauh di mata, tapi selalu dekat di hati.

Susahnya Menulis Fiksi

Buat sebagian orang, menulis fiksi itu hal yang mudah. Kenapa? karena bisa menyalurkan imajinasi seluas mungkin dan tidak harus masuk akal. Selalu ada pembelaan: namanya juga fiksi. Lalu, kalaupun ceritanya terkadang mirip dengan kisah seseorang, bisa kasih disclaimer kalau semua kemiripan tokoh dan nama hanya kemiripan semata. Teorinya, menulis fiksi itu gampang, segampang berangan-angan di siang bolong.

Tapi buat saya, menulis fiksi itu sulit. Sudah banyak membaca cerita fiksi, sudah banyak menonton drama dan film-film. Sudah banyak melatih imajinasi. Tapi, berkomentar dan menuliskan apa yang kurang atau lebih dari suatu karya fiksi itu tidak sama dengan menghasilkan karya fiksi sendiri.

Continue reading “Susahnya Menulis Fiksi”

Langit Biru Setelah Banjir Berlalu di Chiang Mai

Langit Chiang Mai hari ini biru sekali. Tentu saja saya langsung mengabadikannya dengan jepretan kamera ponsel saya. Mengabadikan birunya langit yang ada ditengah musim hujan dan badai tropis yang melewati sebagian daerah Thailand termasuk Chiang Mai.

langit biru, awan putih, bikin pengen nyanyi
Continue reading “Langit Biru Setelah Banjir Berlalu di Chiang Mai”

Mencoba Bel Pintu Tanpa Baterai

Dari sejak ngontrak rumah di Chiang Mai, rumah yang kami tempati sistem belnya sudah rusak kabelnya. Jadi kami selalu mengakali dengan membeli bel tanpa kabel. Biasanya bel tersebut butuh baterai, baik untuk bagian penerima yang mengeluarkan suara maupun yang dipencet. Masalah berikut yang muncul adalah: baterainya tidak tahan lama dan lama-lama jadi malas ganti baterai. Nah sekarang ini kami mencoba memakai bel pintu yang tanpa baterai.

Bel yang di pencet tanpa baterai, penerimanya dicolok di rumah

Teorinya, bel ini bisa tanpa baterai karena ketika tombolnya dipencet, tenaga yang dihasilkan dari gerakan pencet itu cukup untuk mengirimkan sinyal ke penerimanya. Lalu bagian penerimanya tentu saja butuh listrik untuk membunyikan melodi yang bisa kita dengar. Jadi tidak ada lagi kebutuhan akan baterai.

Continue reading “Mencoba Bel Pintu Tanpa Baterai”