Nyobain Apple Music di Thailand

Sejak gak kerja lagi, saya jarang sekali mendengarkan musik. Udah gak pernah tau lagu apa yang baru atau enak di dengar. Joe juga ga terlalu dengerin musik, tapi ya kayaknya dia di kantor karena semua orang pake earphone jadinya juga masihlah nemu 1 atau 2 lagu yang enak didengar.

Oh ya, dari nonton film juga kadang-kadang jadi nemu lagu-lagu enak seperti soundtrack Frozen, Plane, Sing, beberapa lagu anak-anak semuanya pernah dibeli dari itunes. Nah karena kemaren nonton kdrama Phantom jadi inget lagi dulu pernah beli CD Audio Phantom of the Opera abis nonton filmnya (masa itu belum musim beli musik dari iTunes), tapi sekarang ga nemu lagi cd nya di mana. Nah Joe jadi kepikiran untuk mencarinya di Apple Music.

Di Thailand kebetulan promosi mencoba Apple Music itu gratis selama 3 bulan. Nah ya, walaupun waktu daftar harus masukin kartu kredit, tapi bener-bener free of charge selama 3 bulan pertama. Kalau mau dibatalkan setelah 3 bulan juga bisa hehehe. Biasanya sih kalau memang menarik, layanan begini akan kami pakai terus seperti halnya Netflix, ini salah satu usaha untuk hidup legal.

Kembali ke soal dengerin musik, sekarang ini satu-satunya kesempatan saya buat mendengarkan musik itu kalau lagi di mobil. Salah satu bukti kami tidak terlalu mencari musik terbaru adalah: di mobil kami cd musiknya cuma ada 2, musik lagu anak-anak dan musik lagu natal. CD musik itu udah ada sejak Jonathan masih kecil hahahah. Sekarang ini cd nya sudah mulai susah dibaca dan kalau dipasang mulai melompat-lompat nyanyiannya. Oh ya, mobil kami belum ada slot usb buat music playernya, jadi ya makanya dulu burn CD sendiri. Nah, karena CD nya mulai gak bagus, akhirnya sekarang beralih pasang music dari HP aja pake kabel AUX.

Bulan lalu, saya streaming dari YouTube tiap kali pasang musik, akibatnya paket data kritis di akhir bulan hahaha. Nah terus masalah berikutnya, kalau di HP itu, tiap pindah dari aplikasi youtube, lagunya berhenti. Setelah saya komplain masalah ini, Joe bilang: loh kenapa gak pake Apple Music aja? Nah loh, saya kan gak pernah tau soal Apple Music ini kalau gak dikasih tau hahaha. Dengan agak ragu-ragu saya tanya: tapi kan aku gak pake iPhone, emang Apple Music bisa di Android? Hahaha aduh, bener-bener deh mulai gaptek ya jadinya kalau ga banyak mau. Apple Music ini sifatnya ya kayak aplikasi music bawaannya Android juga, bisa tetap jalan di background, bahkan ketika buka aplikasi Google Map atau Pokemon Go, ya tetep denger lagunya, malah jadi denger suara double.

Udah kepanjangan intronya. Singkat cerita, Apple Music itu ada aplikasinya untuk Android juga. Nah, untuk loginnya saya pake aja loginnya Joe biar librarynya juga bareng, tinggal bikin playlist terpisah aja. Berdasarkan pemakaian 2 hari ini saya kesenangan membrowse musik-musik yang ada. Musiknya bisa di dengar streaming ataupun didownload. Bisa menambahkan beberapa playlist tentunya dan kalau gak tau mau nyari lagu apa, ada juga channel sejenis Radio yang playlistnya udah mereka siapin. Ada daftar lagu yang populer sepanjang minggu ini, ada juga top 100 music global dan lokal. Banyak pilihan deh kalau gak tau mau milih apa.

Berikutnya tentunya yang saya lakukan adalah:

  • cari musik Indonesia yang baru maupun yang dulu sering di dengar.
  • dengerin lagu-lagu Thailand juga (nah ini kurang familiar sebenarnya)
  • cari lagu yang sama dengan yang ada dengan playlist di CD mobil yang mulai rusak.
  • gak kalah penting, cari musik ost drama Korea dong!

Terus melengkapi kesenangan hati adalah, banyak lagu yang dilengkapi dengan liriknya, jadi bisa sing along kalau mau, atau kalau mau rajin bisa untuk belajar baca Korea ataupun Thai. Sekarang sih masih ngumpulin playlist aja dulu hehehe. Supaya lebih berguna, bangun pagi sekarang bikin playlist lagu yang semangat tinggi biar lebih semangat nyiapin sarapan dan siap-siap kegiatan harian.

Oh ya, kalau saya lihat harga berlangganan Apple Music ini berbeda di Thailand, Indonesia dan Amerika. Di Asia harganya lebih murah, paling murah itu harga mahasiswa/pelajar. Kalau kata Joe sih, misalnya memang berguna menghibur ya nanti bisa dipertimbangkan bayar. Kalau gak bayar lagi soalnya nantinya file-file yang di download tidak akan bisa diakses juga.

Mungkin akan ada yang nanya, kenapa gak makai Spotify atau Google Music? Saya sih alasannya sederhana: karena Joe udah daftar Apple Music aja sih dan lagu-lagu yang pernah kami beli dulu semuanya ada di library Apple Music juga. Lagipula Goggle Music belum masuk ke Thailand. Kelemahan Apple Music ini tentunya ada juga, beberapa lagu tidak bisa diakses dari region Thailand. Sejauh ini sih cukuplah, kita lihat saja berapa lama saya bertahan mendengarkan musik setiap hari.

Update 23 April 2019

Ternyata kalau saya dan Joe berbarengan menyalakan Apple Musicnya akan ada peringatan lebih dari 1 device mengakses musik dan menyarankan untuk upgrade ke family plan. Sekarang ini karena lagi masa trial bisa dicoba dengan buka account trial 1 lagi, atau ya udah gantian aja makeya, toh Joe pas jam kerja juga gak terus menerus dengerin musik dan saya di rumah juga ga pasang musik sepanjang hari.

Buku-Buku Homeschool Term Depan

Hari ini pak pos datang pagi-pagi ke rumah, nganter paket buku Homeschool CLE term yang akan datang. Kami pesan dari tanggal 26 Maret 2019 lalu dan baru sampai hari ini. Sengaja sih mesannya dari sekarang, karena pengalaman kalau mesannya berdekatan dengan pergantian tahun ajaran, semua orang juga lagi mesan dan mereka lebih lama lagi memproses orderannya.

Buku-buku CLE ini kami pesan dari situsnya langsung, dikirim dari Amerika dengan ongkos kirim sebesar 20 persen dari harga bukunya. Ongkos kirim internasional ini flat rate, dan dibandingkan dengan kurikulum lainnya, CLE ini yang paling murah ongkos kirimnya. Tapi kami memilih kurikulum ini bukan karena masalah ongkos kirimnya saja, tapi karena kurikulumnya juga sudah teruji dan dipakai lebih dari 30 tahun. Dari pengalaman memakai kurikulum ini sejak Jonathan kelas 2 dan tahun ini akan selesai kelas 3, kami cukup puas dan melihat Jonathan cukup bisa mengerjakan pelajarannya dengan mandiri.

Ayo tebak, buku sebanyak ini harus bayar berapa? buku-buku ini untuk kebutuhan Jonathan kelas 4 semester pertama, kami juga beli buku petunjuk untuk guru supaya saya gampang ngecek kerjaan Jonathan dan juga buku untuk Joshua kalau dia sudah siap untuk mulai kegiatan sekolah di rumahnya. Buku untuk Joshua ini untuk preschool dan TK, jadi bisa dipakai untuk 2 tahun ke depan, tapi ya rencananya sih saya hanya akan memberikan Joshua pekerjaan kalau dia memang mau melakukannya. Saya belum berniat serius menghomeschool Joshua, biar dia puas main-main dulu.

Jonathan senang banget melihat buku-buku semester depan sudah datang, padahal buku untuk kelas 3 sekarang ini masih di buku 9 pertengahan. Kalau semua lancar, paling awal Juni baru selesai semuanya. Tapi ya namanya homeschooling, bisa aja kalau Jonathan lagi semangat dia dibujukin mempercepat selesainya dengan iming-iming biar bisa libur lebih awal hehehe. Masalah kapan akan memulai semester berikut juga tergantung Jonathan, bisa libur cuma 2 minggu, bisa juga libur 1 bulan kalau mau sebelum mulai pelajaran kelas 4.

Tadi Jonathan langsung ambil buku bacaannya, dari dulu dia paling senang membaca cerita-cerita dalam buku pelajaran Reading. Terus dia komen, loh kok Readingnya cuma sampai buku ke – 5? Nah jadi ceritanya kelas 4 itu pelajaran terstuktur membacanya dikurangi, dalam 1 tahun cukup 5 buku saja (biasanya 10), nah pelaksanaanya terserah apakah 5 buku itu dibagi jadi 2 semester atau mau 1 semester selesaikan 5 buku dan semester depannya kasih buku-buku lain atau pelajaran bebas.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, ngapain buku Preschool dan TK buat Joshua udah dipesen sekarang, padahal belum berencana memulai program sekolah di rumah untuk Joshua. Ya, saya pengen lihat aja isinya. Sekarang ini Joshua kemampuan akademisnya sebenarnya sudah seperti anak SD kelas 1, dia udah bisa membaca banyak kata (bahasa Inggris) baik dengan cara sight words ataupun dengan mengeja. Joshua juga sudah mulai mengerti operasi penjumlahan dan pengurangan dan sangat rajin berlatih sendiri. Tapi saya pingin dia dapat dasar yang benar, belajar hal-hal sederhana mulai dari menarik garis lurus dengan cara memegang pensil yang benar. Jadi ya, saya gak akan memburu-buru dia untuk bisa melakukan semua dengan benar, tapi gak ada salahnya mempersiapkan supaya nantinya bisa memulai sedikit demi sedikit.

Nah kembali ke pertanyaan pertama, udah ada yang berhasil nebak harga buku-buku yang kami beli ini? Harganya tentunya lebih murah dari uang sekolah Internasional. Total belanja dengan ongkos kirim cuma 262.50 USD. atau sekitar 3,7 juta rupiah. Mahal? ya nggak dong, itu kan buat 2 anak, yang satu untuk 1 semester (6 bulan), dan anak 1 lagi untuk 2 tahun pelajaran. Biaya bayar gurunya yang mahal, emaknya kudu sedia waktu buat 2 anak hehehe.

Rincian pesanan

Tadinya kami berniat untuk memesan buku pelajaran Jonathan sekalian untuk 1 tahun, tapi gak jadi karena gak ada tempat nyimpannya juga di rumah. Lagipula, entah kenapa ada perasaan senang aja pas nerima buku-buku homeschool ini. Jadi saya ingin membagi kesenangan saya menjadi 2 kali menerima buku dan bukan cuma sekali hehehhe. Nanti kalau sudah mulai pelajaran kelas 4, pesanan untuk semester berikutnya biasanya akan jauh lebih murah, karena gak perlu beli buku untuk Joshua lagi dan juga buku untuk gurunya sudah digabung dalam pembelian yang sekarang.

Panasnya Chiang Mai di bulan April

Setiap tahun di bulan April, saya sudah tahu Chiang Mai itu panas, tapi saya sering lupa karena kami biasanya traveling di bulan April. Tulisan ini saya tulis dengan niatan biar ingat tahun depan jadwalin kabur dari Chiang Mai sebelum musim polusi dan super panas ini di mulai. Polusi dan panas yang tak berkesudahan ini membuat ide menulis juga hilang (alesan deh).

Biasanya, menjelang Songkran, akan ada hujan sekitar beberapa hari berturut-turut untuk menyejukkan udara yang panas jadi agak mendingan. Tapi ya, tahun ini aduhai ga ada hujan sama sekali. Sepanjang 2019 baru ada 2 kali hujan di Chiang Mai yang saya tahu, tapi itu cuma berlangsung beberapa tetes aja di lokasi kami dan polusi udara tak kunjung berkurang. Di daerah sekitar Chiang Mai malahan beritanya sampai kekeringan air dan banyak tanaman dan hewan kekeringan juga.

Bersyukur sebenarnya ada teknologi pendingin AC, dulu di Indonesia perasaaan baik-baik saja hidup tanpa AC, sejak tinggal di sini kayaknya kalau musim panas begini AC ga menyala duh kok rasanya ga bisa bernapas dengan lega. Kadang-kadang kalau di mobil, udah atur biar suhunya paling dingin sekalipun, tetep aja rasanya masih panas kalau duduknya di depan. Tapi gak mungkin kan nyuruh Jonathan yang nyetir di depan hahahaha.

Biasanya juga, di hari Jumat Agung sekitar sore hari jam 3 akan ada mendung dan hujan walau cuma sebentar. Saya ingat beberapa kali hal ini terjadi entah di Indonesia ataupun di Thailand. Sempat berharap hari ini akan ada hujan, tapi ternyata harapannya belum jadi kenyataan.

Waktu libur Songkran kemarin, kami sukses cuma ke mall dan sisanya di rumah saja. Di satu sisi, liburan di rumah saja itu hemat dan bisa istirahat, tapi di sisi lain, kok rasanya kalau di rumah saja gak berasa liburannya, karena sehari-harinya saya juga ya di rumah ngurusin anak-anak.

Suhu udara sudah seminggu ini berkisar di atas 30 derajat celcius sampai 41 derajat celcius. Kalau melihat prakiraan cuaca 10 hari ke depan, ya sepertinya masih akan seperti ini dan tetap gak ada harapan hujan. Di Lampang (sekitar 1 jam perjalanan dari Chiang Mai), kabarnya hari ini suhu udara mencapai 44 derajat celcius.

Kalau sudah begini, pastinya tagihan listrik bulan ini akan naik tajam dibanding bulan-bulan sebelumnya. Saya ingat, beberapa tahun lalu suhu udara masih agak panas sampai November. Musim hujan datang tapi udara tetap panas. Semoga tahun ini musim panasnya gak berkepanjangan seperti waktu itu.

Kalau masih panas juga gimana dong? ya… mungkin menjadwalkan liburan kali ya ke mana kek yang adem hehehe. Di Medan dan Depok kabarnya udaranya juga lagi panas, tapi ada hujan yang datang dan pergi. Saya udah minta dikirimin ke sini sebenernya hujannya, tapi katanya tukang gojeknya masih ngetem makanya ga sampai-sampai hahaha.

Sebenarnya musim panas ini masih mendingan dibandingkan musim dingin. Kalau dingin sekali, kami gak punya penghangat ruangan. Musim panas ini kami masih bisa ngadem nyalain AC dan mengurangi beraktifitas di luar rumah.

Udara yang panas ini juga sangat-sangat membantu cucian cepat kering. Cuci baju juga tambah bersih, soalnya airnya yang ditampung di tanki jadi panas waktu masuk ke mesin cuci (mesin cuci kami bukan model yang bisa menghangatkan air panas). Cuci piring juga jadi lebih bersih, kalau ada bekas masakan yang berminyak, jadi lebih cepat menghilangkan bekas minyaknya hahahhaa. Satu lagi penghematan di musim panas adalah, kami gak harus nyalain mesin pemanas air di kamar mandi, karena airnya udah panas (tanki air kami kena panas matahari sore).

Kalau ngomongin panas matahari begini, jadi agak kepikiran, coba yaaa panel surya udah murah, harusnya dipasang aja tuh di atap rumah, terus energi dari matahari dikonversi jadi listrik disimpan ke batere, terus disalurkan untuk nyalain AC. Kalau kata Joe, mudah-mudahan nanti kalau udah mampu punya rumah sendiri bisa tuh direncanakan bikin seperti itu, dan mudah-mudahan pada waktu itu teknologinya semakin mantap dan harganya makin terjangkau.

Aduh jadi kemana-mana deh. Ya demikian sekilas laporan cuaca dari Chiang Mai heehhe.Mulai garing kayak kerupuk di goreng kering sama cuaca panas nih.

Tambahan 20 April 2019: Ternyata walaupun prakiraan cuaca bilang kemungkinan hujan cuma 20 persen, hari ini hujan turun super deras (badai) sekitar 1 jam. Di beberapa tempat di Chiang Mai ada pohon tumbang dan pemadaman listrik. Akhirnya hujan yang tertunda itu datang juga. Setelah hujan udaranya cuma sebentar adem, sekarang udah tetep panas lagi hehhee, tapi ya lumayanlah daripada nggak sama sekali.

Catatan dari Nonton Phantom: Waspada di Dunia Digital

Ceritanya masih nyambung dengan postingan Joe. Karena liburan panjang kali ini kualitas udara masih kurang baik dan panasnya juga minta ampun, kami memutuskan untuk menonton ulang kdrama Phantom tahun 2012 yang kami pernah nonton bareng di tahun 2013. Entah kenapa, walau namanya nonton ulang, misterinya masih terasa baru karena saya udah lupa semua siapa penjahatnya dan bagaimana mereka mengungkapkannya.

Waktu pertama kali nonton kdrama ini, saya belum jadi penggemar kdrama seperti sekarang, malahan dulu Joe yang ajakin nonton serial ini hehehe. Mana saya tahu dulu siapa itu So Ji Sub ataupun Lee Yeon He. Kdrama ini memang berbeda genrenya dengan kdrama yang biasanya saya tonton, tapi lebih mirip dengan serial dari Amerika. Ceritanya berkisah seputar upaya tim investigasi cyber untuk mengungkapkan kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di dunia nyata makanya Joe mau nonton hehehe. Jadi kayak serial CSI Cyber.

Ceritanya banyak sisi teknis dan berusaha memecahkan misteri siapa pelaku kejahatannya, tapi dalam 20 episode ada 1 misteri besar dan beberapa misteri kecil-kecil yang berusaha mereka pecahkan. Jadi berbeda dengan drama genre romance yang tujuan akhirnya male lead jadian sama female lead, drama ini seperti beberapa drama dijadikan satu drama besar. Cocok buat jadi tontonan bareng pasangan biar gak sendirian nonton kdramanya hehehehe.

Memang sejak dunia digital sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, orang jahat ya kepikiran aja gitu memanfaatkan celah yang ada untuk berbuat jahat. Dari beberapa episode yang sudah ditonton, saya ingin menuliskan beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya kita tidak menjadi korban dari dunia digital ini.

  1. Gantilah password/pascode secara berkala
  2. Gunakan password yang berbeda untuk account yang berbeda dan device yang berbeda
  3. Kalau kita punya access point di rumah, pastikan ada passwordnya, supaya gak sembarang orang bisa masuk ke komputer di rumah kita
  4. Jangan suka nulis hate comment di forum internet, walaupun kita pakai nama samaran, ada saja cara orang jahat menemukan identitas asli kita.
  5. Jangan buka attachment iming-iming gratisan kalau gak pernah subscribe ke layanan tersebut.
  6. Account e-mail menggunakan nama kita bisa diciptakan siapapun, jadi kalau menerima e-mail dari orang yang namanya kita kenal tapi kita tidak merasa memberitahu e-mail kita, tetap berhati-hati karena bisa jadi bukan orang yang kita kenal itu yang mengirimkan e-mail ke kita.

Ada beberapa kejanggalan dalam cerita kejahatan di Phantom ini. Misalnya, penjahatnya itu sampai beberapa episode gak ketangkap, tapi motifnya terkadang terlalu biasa saja. Kalau kata Joe: ya sebenarnya siapa saja bisa melakukan kejahatan digital dengan mudah, kalau dia agak cerdas maka dia bisa melakukannya supaya agak sulit dilacak. Tapi sebenarnya namanya kriminal sebagian besar melakukannya karena mereka mentalnya gak sehat. Jadi bisa saja karena stress mereka jadi fokus memikirkan dan menyusun rencana jahat yang susah untuk diusut. Sama saja dengan kejahatan non digital, polisi akan butuh waktu untuk menguraikan apa saja kemungkinan yang ada dan petunjuk mana yang nantinya akan membantu sampai ke penyelesaian masalah.

Dipikir-pikir, nonton film kok serius amat yah, ya begitu emang kalau nonton bareng enaknya bisa dibahas apa yang gak pas hehehehe. Karena nontonnya baru sampai episode 8, tulisannya nanti disambung kalau sudah selesai ditonton ulang semuanya.

Bedanya nonton yang sekarang dengan dulu, kalau dulu gak kenal ini aktornya main di mana saja, dan dulu kalau ada tulisan-tulisan hangeul muncul saya gak ngerti sama sekali, sekarang tentunya udah bisa sekalian latihan dikit-dikit dari apa yang sudah dipelajari. Ada bagusnya juga lupa endingnya bagaimana, jadi walaupun namanya nonton ulang, rasaya seperti baru nonton aja hehehe.

Libur Songkran 2019

Liburan Songkran 2019 sudah dimulai. Banyak restoran, tempat belajar ekstra, tempat bermain ataupun kantor mulai tutup. Beberapa sekolah sudah meliburkan kegiatan musim panasnya dari kemarin setelah mereka bermain air bersama-sama di sekolah. Baju bunga-bunga model hawaiii dan pistol air sudah dikeluarkan dari tempat penyimpanan.

beberapa titik malah AQI di atas 200

Joe juga sudah mulai libur dari kemarin. Tapi kami masih belum bisa memutuskan untuk pergi keluar rumah, karena polusi udara tidak meliburkan dirinya dari Chiang Mai. Biasanya tahun-tahun sebelumnya, setiap sebelum menjelang Songkran (bahkan pada hari Songkrannya), akan ada hujan deras di pagi hari, dan itu cukup untuk membersihkan polusi udara. Biasanya, hari Songkran itu sudah merupakan hari bebas polusi, dan semua orang bisa menikmati berpanas-panasan dan bermain air tanpa khawatir jadi sakit karena polusi udara (tapi mungkin bisa sakit karena main siram air dingin di bawah terik matahari).

Berdasarkan website yang mencatat kualitas udara di sekitar Chiang Mai, pagi ini tingkat pm 2.5 masih rata-rata di atas 150 yang mana sudah mencapai titik tidak sehat untuk beraktifitas di luar ruangan yang tidak memiliki filter. Kalau saja kadarnya di bawah 100, mungkin kami akan nekat saja jalan-jalan keluar. Tapi kalau angkanya begini dan suhunya juga sudah mencapai 33 derajat celcius, kami memilih hari ini untuk di rumah saja lagi, menutup pintu dan jendela, memasang filter udara dan AC lalu santai-santai membaca buku, menonton tv atau sekedar bermalas-malasan.

prakiraan cuaca dalam 3 hari ke depan

Suhu udara yang super panas ini selalu terjadi setiap hari Songkran. Kadang-kadang bahkan bisa mencapai 44 derajat celcius. Kombinasi polusi udara, suhu panas dan Joe dapat libur panjang biasanya membuat kami memutuskan mudik hampir setiap liburan Songkran. Tapi liburan tahun ini kami memutuskan untuk tinggal di Chiang Mai karena toh Natal dan Tahun Baru kemarin kami baru saja pulang ke Indonesia.

Kalau melihat memory yang muncul di Facebook saya, kadang-kadang kami pulang ke Jakarta, kadang-kadang pulang ke Medan. Kalau diingat-ingat tapi pulang ke Medan atau ke Jakarta sebenernya akhirnya kepanasan juga. Tapi bedanya, di sana ketemu dengan anggota keluarga dan bebas polusi. Tapi kemarin saya dapat info kalau di Jakarta beberapa hari ini juga ada kabut polusi dari industri dan juga kendaraan bermotor yang ada.

Medan di bulan April yang saya ingat juga cukup panas, walau suhunya gak sepanas di Chiang Mai, bedanya di Medan itu panas dengan humidity yang tinggi. Jadi di Medan itu kepanasan dan keringatan, kalau di Chiang Mai kepanasan dan kulit kering menyengat.

Iseng-iseng, saya melihat prakiraan cuaca di Medan dan Depok untuk berandai-andai kalau pulang bagaimana. Hasilnya ya di sana juga panas, dan humidity tinggi dengan kemungkinan hujan. Kalau sudah melihat begini, berharap hujannya dikirim ke Chiang Mai sebagian, supaya udaranya bersih. Dari sejak Januari, rasanya hujan di sini baru ada 1 kali dan itupun tidak cukup untuk menghapus polusi udara yang tak kunjung berkurang sejak awal bulan Maret yang lalu.

Untuk masalah polusi di Chiang Mai ini, pemerintah setempat sudah melakukan berbagai usaha mulai dari melarang, mendenda pelaku bakar-bakaran lahan, mengusahakan membuat hujan buatan, menyemprotkan air ke udara untuk mengurangi partikel pm2.5, bahkan kemarin saya baca mereka memasang sebuah mesin filter udara yang bisa membersihkan udara dengan jangkauan yang cukup luas (walaupun tidak bisa membersihkan seluruh kota). Sejauh ini usahanya belum berhasil, dan sepertinya seluruh Chiang Mai berharap turunnya hujan menghapus polusi segera datang.

Gak asik kan kalau main siram-siraman sambil pake face mask. Kalau facemasknya basah, gak tahu juga bakal efektif atau nggak. Eh sebenarnya saya gak suka main air basah-basahan. Setiap Songkran saya cuma jadi penonton, tapi ya Jonathan dan Joe biasanya yang ikutan main air, atau minimal biar bisa jalan-jalan ke mall tanpa kuatir jadi sakit karena udaranya gak bagus.

Kalau kata Joe: tenang saja, liburan kan baru mulai, siapa tahu besok ada keajaiban. Memang sih, kadang-kadang tanpa diketahui kualitas udara di pagi hari sangat tinggi sekalipun, kalau angin berhembus yang banyak, kualitas udaranya bisa membaik dengan cepat. Jadi tetap berharap dan semoga tetap bisa menikmati liburan kali ini walau mungkin bakal banyakan di rumah.

Kenapa Masih Ngeblog

Alkisah, sekitar bulan Oktober di tahun 2000 saya mulai jadi blogger. Postingnya menggunakan blogspot.com. Sekitar tahun 2004, Joe ngajakin ngeblog bareng aja, biar dia yang urusin hosting, template dan lain sebagainya. Saya pikir lumayan ya saya ga usah mikirin hal-hal teknis, kalau mau nulis ya nulis aja. Eh tapi, ternyata karena ga harus “ngurusin” blog, beberapa tahun malahan saya jadi malas nulis dan sempat diingetin Joe buat mulailah menulis lagi.

Kenapa saya bisa tahu persis kapan saya mulai ngeblog? karena walaupun blog lama itu sudah ditutup, arsipnya masih ada dan bisa saya lihat. Tulisan saya dulu sangat personal dan emosional hahahah. Contoh tulisan personal dan gak penting adalah: dari membaca arsip blog lama, saya bisa tahu kapan saya beli hp siemens kuning m35. Isi postingnya juga ya cuma beberapa baris, seperti status facebook saja hehee. Gak penting banget ya.

Setahun terakhir ini, saya kembali rajin ngeblog. Awalnya, memaksakan diri dengan ikutan grup yang memberikan tantangan minimum 1 posting 1 minggu. Menulis blog itu sebenarnya gampang, gak ada aturan baku, apalagi kalau blog pribadi. Tapi menulis di media yang kita gak tahu siapa saja yang membaca, kita perlu memperhatikan jangan sampai tulisan kita menjadi boomerang ataupun terlalu banyak memberikan informasi yang tidak seharusnya jadi konsumsi umum.

Pernah ada pernyataan soal blog itu hanya trend sesaat. Setelah kemarin blogwalking di blog saya sendiri dan menemukan hampir semua teman ngeblog dulu sudah gak ngeblog lagi, saya pikir ada benarnya kegiatan ngeblog itu trend sesaat, sekarang ini sudah digantikan dengan kegiatan posting ke sosial media yang juga trendnya berganti-ganti. Tapi blog itu sendiri (sebagai media) bukan trend sesaat, masih banyak blog menarik hingga saat ini. Sekarang ini saya menemukan ada banyak sekali blogger yang aktif mengajak menulis/kegiatan literasi.

Banyak blogger yang sangat serius, serius hanya menulis topik tertentu dengan tata bahasa yang benar. Serius membangun imagenya di kalangan penulis, dan banyak juga blogger yang akhirnya jadi penulis buku . Penulis buku juga banyak yang tetap ngeblog sebagai sarana untuk mempromosikan bukunya. Akhirnya ngeblog ini gak jauh-jauh dari dunia literasi.

Dalam 15 tahun ngeblog bareng, kami juga punya beberapa blog yang kami coba pisahkan untuk membahas topik tertentu. Semua tulisan kami itu ada yang masih tetap dipublish, walaupun blognya sudah tidak di update lagi. Saya punya 2 blog lain yang sepertinya tidak akan di update lagi, tapi isinya masih berguna jadi dibiarkan saja gak ditutup.

Waktu anak-anak lahir, Joe juga bikinkan blog masing-masing, tapi akhirnya kami kurang rajin untuk mengupdatenya (selain kadang ada rasa kuatir kalau terlalu banyak upload foto anak atau cerita soal anak, nanti ada yang salah gunakan foto-fotonya dan atau jadi melanggar privasi anak).

Sekarang ini kami memutuskan untuk lebih banyak mengisi blog ini saja. Joe masih akan menulis hal-hal super teknis di blog nya yang lain, dan hal-hal agak teknis di sini. Saya masih akan menulis berbagai topik random yang belakangan ini mulai terkategori antara kehidupan di Chiang Mai, bahasa Thai, kdrama, homeschooling, dan seputar anak-anak. Joe juga masih akan menuliskan hal-hal non teknis di sini. Topik non teknis yang ditulis dengan style orang teknis contohnya ini nih: susahnya jadi hantu cewek film Jepang. Terus, ada yang tahu gak kalau tulisan Jadilah Bintang ini bukan tulisan saya.

Ada banyak cerita tentang blog ini, kepikiran 15 tahun ini nulis apa ja sih? banyak topik yang sama ditulis berulang kali. Banyak juga hal yang sekedar opini dituliskan dan waktu saya baca lagi, opini saya belum berubah dan bahkan hampir menuliskan hal yang sama lagi. Kadang-kadang karena tidak ada topik khusus, saya malah kesulitan mencari ide tulisan. Ada hari-hari di mana saya punya banyak hal yang pengen saya tuliskan, tapi tidak ada waktu, ada juga hari-hari di mana saya punya banyak waktu tapi gak punya ide tulisan.

Sebelum menuliskan tulisan ini, saya iseng membaca-baca random tulisan kami yang lama. Membaca juga komentar-komentar yang mungkin dulu kelewat gak pernah saya baca. Saya baru ingat pernah menulis protes soal persepsi mengenai cerita romantis, dan ternyata banyak komentar yang saya belum baca.

Dari tulisan di blog ini, kami juga sering mendapatkan beberapa pertanyaan dari orang-orang non batak yang akan menikah dengan orang batak. Tapi karena kasus tiap orang beda, kami mana bisa sih kasih patokan soal nikah aja atau jangan nikah hehehe.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih belum aktif menulis lagi, kami bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Chiang Mai. Waktu bertemu dia bilang gini: mbak, mas, nulisnya sering-sering dong, saya senang pas ketemu blognya jadi lebih kebayang Chiang Mai itu seperti apa.

Seberapa randomnya tulisan kami, senang kalau ada yang mendapatkan informasi atau sekedar perspektif baru. Semoga tahun ini bisa tetap konsisten menulis setiap hari dan bisa semakin banyak berbagi cerita, opini dan pandangan dalam hidup ini.

Manfaat Menghomeschool Anak

Udah lama gak cerita soal homeschoolingnya Jonathan. Beberapa minggu lalu, Jonathan dan Joshua ikutan summer camp jadi kegiatan homeschoolingnya diliburkan. Campnya itu mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 3 sore. Waktu mereka ikut camp, setiap pagi jadi terasa lebih berat dari hari-hari sekolah di rumah.

Biasanya, kegiatan homeschool di rumah mulai jam 9 -an, tapi tidak ada waktu tempuh jadi ya seselesainya makan mandi baru mulai. Nah kalau kegiatannya bukan di rumah, otomatis pagi-pagi jadi harus lebih awal melakukan semuanya supaya tidak terlambat sampai ke tujuan.

Jadi terpikir, ternyata homeschooling itu jauh lebih santai daripada kirim anak ke sekolah. Selain masalah flexibilitas waktu, saya merasakan beberapa manfaat lain dari menghomeschool anak. Manfaat yang ingin saya tuliskan di sini bukan untuk anak, tapi untuk kami orangtuanya. Setidaknya ini yang kami rasakan.

Fleksibilitas

Kegiatan homeschooling kami biasanya hanya 4 hari seminggu, mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 12 siang. Kalau Jonathan lagi agak bengong, ya kadang baru diselesaikan sekitar jam 1 siang (setelah dia selesai makan). Sekarang ini Joshua belum saya berikan pelajaran yang terstruktur, untuk Joshua setiap harinya intinya bermain dan bermain. Mau mainan mobil-mobilan, lego, playdough, piano, berantakin rumah, coret-coret di papan tulis, bebasss asalkan gak gangguin kakaknya.

Kadang-kadang, kalau ada kebutuhan, kami bisa saja meliburkan hari sekolah. Sebaliknya kalau Jonathan mau, bisa saja di akhir pekan dia mengerjakan pekerjaan sekolahnya supaya lebih cepat selesai dan bisa libur di hari lain.

Masalah fleksibilitas ini tentunya ada plus minus. Walaupun sangat fleksibel, kami tetap punya target kalau 1 tahun ajaran itu tidak lebih dari 10 bulan. Yang paling tersasa sekarang ini sih, dengan homeschooling, saya tidak repot antar jemput ke sekolah.

Ikut belajar

Ini salah satu manfaat yang paling terasa buat saya. Dulu waktu belajar bahasa Inggris, saya gak pernah tahu istilah phonics, dan berbagai istilah untuk grammar bahasa Inggris. Sekarang ini, dengan menghomeschool Jonathan, saya jadi ikut belajar dan seperti mendapat ilmu baru.

Selain pelajaran bahasa Inggris, sekarang ini saya juga jadi ikutan belajar piano. Dari dulu saya tidak pernah belajar alat musik. Menyanyipun gak terlalu hobi. Tapi sejak kami mengkursuskan Jonathan piano, ya saya juga jadi ikutan belajar dari bukunya. Sekarang ini malahan guru piano Jonathan baik hati, saya diajari tanpa biaya tambahan. Jadi bayar 1 yang belajar 2 hehehe.

Sejak menghomeschool, kami juga jadi banyak membelikan buku-buku yang berisikan informasi yang bisa menambah pengetahuan umum Jonathan. Sebelum dia baca, tentunya kami perlu mencari tahu dulu isi buku itu kira-kira apa, lalu kami juga jadi ikut membaca buku-buku seperti Secret Coder, Murderous Maths maupun Horrible Geography. Bacaan seperti itu juga sedikit banyak merefesh apa yang sudah kami ketahui dan menambah banyak fakta yang mungkin sebelumnya kami tidak pernah tahu.

Selain ikut belajar dengan semua yang dipelajari anak, saya juga jadi ikut bersemangat untuk tetap belajar hal-hal baru seperti Joe yang pengen belajar menggambar atau saya yang lagi belajar bahasa Korea.

Tahu persis perkembangan anak

Pendidikan itu dimulai dari rumah. Waktu Jonathan kami kirim ke sekolah, kami tetap memantau perkembangan dia, tapi harus diakui kadang-kadang kami jadi terlalu santai dan berpikir dia belajar di sekolah baik secara akademis, sosialisasi dan juga lifeskill.

Waktu Jonathan disekolahkan, badannya kurus, dia sering sakit dan kami sering dapat keluhan dari sekolah kalau dia tidak fokus di kelas dan mengganggu kegiatan kelas. Kami sudah menyadari soal Jonathan yang mudah teralih perhatiannya karena sekarangpun masih terjadi. Tapi setelah di homeschool dan berat badannya naik dan lebih sehat, saya baru menarik kesimpulan jangan-jangan selama ini Jonathan makannya gak bener di sekolah.

Jonathan memang lambat makannya dan hanya suka makanan tertentu, Di sekolah jam makan itu terbatas, selain itu dia pasti pengen main sama teman-temannya. Jadi ada kemungkinan hampir setiap harinya Jonathan tidak makan siang yang cukup di sekolah, dan itu juga yang membuat dia lebih mudah sakit.

Sekarang ini karena sehari-harinya di rumah, kami tahu persis apa yang dia makan dan berapa jam sehari dia tidur (malah kadang-kadang masih bisa disuruh tidur siang). Untuk masalah gampang teralih perhatian, bisa diminimalkan, karena yang mengganggu cuma Joshua hehehe.

Dengan homeschool, kami juga tau persis sampai mana level pemahaman Jonathan untuk suatu topik. Untuk lifeskill nya kami juga tahu bagian mana yang masih perlu dilatih lagi dengan memberikan dia tanggung jawab membantu saya di rumah.

Kenal dengan semua teman anak

Dengan homeschool, tidak ada yang namanya rapat orang tua guru, dan tentunya saya kenal dengan semua teman bermain Jonathan. Biasanya untuk sosialisasi pasti saya ketemu juga dengan temannya dan juga orangtua dari temannya. Kadang-kadang malah, secara gak langsung bukan cuma Jonathan yang punya teman, tapi kami juga jadi berteman dengan orangtua temannya itu.

Kalau dikirim ke sekolah, kemungkinan kita tidak kenal semua teman anak kita, kita juga belum tentu kenal dengan orangtua dari teman anak kita. Dengan mengenali teman dan keluarga temannya, kita bisa tahu seperti apa pengaruh yang diterima anak kita dari pertemanannya.

Team work dengan pasangan

Menghomeschool itu butuh komitmen. Hari-hari sekolah tidak selalu penuh dengan bunga, lebih sering penuh dengan tantangan kalau Jonathan lagi susah fokus. Saya ini bukan orang yang super sabar, kalau Jonathan lagi susah dibilangin (bukan karena dia gak ngerti pelajarannya, biasanya karena dia ngeyel saja), saya memilih berhenti pelajaran tersebut dan minta tolong Joe untuk menyelesaikan topik tersebut.

Kadang-kadang, mungkin Jonathan juga bosan liat mamanya sepanjang hari, jadi beberapa pelajaran saya minta Joe yang ajarin dan beri penilaian. Misalnya untuk creative writing (dalam bahasa Inggris), saya merasa masih kurang bisa menulis dalam bahasa Inggris, jadi saya minta Joe yang ajarin. Untuk pelajaran science, ada beberapa hal yang perlu melakukan eksperimen. Jonathan biasanya senang melakukan eksperimen ini dengan papanya, jadi ya sekalian deh saya minta Joe yang pegang pelajaran science.

Dengan menghomeschool, saya dan Joe jadi belajar bagi tugas supaya anak dapat pendidikan tapi juga tidak merasakan itu jadi beban. Kami jadi lebih sering berdiskusi untuk merencanakan apakah ada kegiatan yang perlu dikurangi atau diganti. Kami berdua mengevaluasi perkembangan anak-anak, termasuk mempertimbangkan apakah Joshua sudah perlu dikursuskan sesuatu atau tidak.

Hemat

Karena kami homeschool bukan mengirim ke lembaga homeschool dan bukan membeli kurikulum yang mahal. Pilihan homeschool ini bisa dibilang sangat murah bila dibandingkan mengirim anak ke sekolah. Kami tidak keluar biaya uang sekolah, tapi kami cukup membeli buku, buku dan buku hehehe.

Karena belajarnya di rumah, ya otomatis tidak ada biaya transport. Kalaupun ada kegiatan tambahan di luar rumah, rasanya anak yang sekolahpun sering ada kegiatan tambahannya. Faktor yang paling berasa, karena gak perlu antar jemput, ya jadinya hemat bensin deh hehehe.

Kesimpulan

Ketika kami memutuskan untuk homeschool Jonathan, kami sempat dilema dengan banyak hal. Apalagi kami homeschool itu awalnya bukan karena idealisme, tapi lebih karena terkondisikan. Sampai sekarang masih ada beberapa hal yang belum bisa kami jawab terutama masalah ijasah. Masalah ijasah ini ada pentingnya, tapi lebih penting lagi untuk punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian.

Fokus kami sekarang ini supaya anak-anak punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian. Untuk ijasah kami tetap pikirkan. Kami yakin, kalau anak punya kemampuan belajar mandiri, tidak akan ada masalah untuk ambil ujian persamaan sebelum ujian untuk masuk perguruan tinggi.

Mau homeschool sampai kapan? ya selama masih lebih banyak manfaatnya dan kami mampu, kami akan tetap homeschool. Tidak semua orang cocok menghomeschool dan tidak semua anak cocok dihomeschool. Semuanya tujuannya untuk membekali anak dengan pendidikan, demi masa depan yang cerah hehehe.