Ulang tahun Jonathan ke-9

Hari ini Jonathan masuk usia 9 tahun. Seperti tahun lalu, ulang tahunnya tidak dirayakan, tapi cukup dikasih hadiah dan makan bersama. Setelah lama berhomeschool dan jarang melihat perayaan ulang tahun anak lain, Jonathan tidak berharap perayaan ulang tahun.

Tahun ini hadiah yang saya berikan adalah buku Pokemon dan Minecraft. Buku Pokemon nya cukup tebal tapi sudah selesai dibaca dalam beberapa jam saja. Buku Minecraft nya baru satu box yang dibuka. Sebenarnya Jonathan juga meminta sebuah game untuk Nintendo Switch, tapi karena baru akan dirilis Minggu depan, jadi kami belum bisa belikan sekarang.

Meskipun tidak ada kegiatan homeschool hari ini, tapi tetap ada kegiatan kumon. Untungnya hari ini dia bisa cepat sekali menyelesaikannya. Setelah selesai, dia langsung menelpon saya dengan Video Call Facebook Kids dengan WIFI dari tempat kumon.

Setelah itu kami menunggu Risna yang sedang ikut pelatihan di Gereja, dan kemudian diteruskan dengan makan di Bear Hug Caffe.

Makanan dan minuman di tempat ini cocok untuk anak-anak, dihias cantik dan rasanya juga enak.

Sudah banyak perkembangan Jonathan di usia 8 tahun, dan semalam saya ngobrol banyak tentang targetnya di usia 9 tahun. Saya tidak perlu tuliskan di sini, tapi saya berharap keinginan dan target Jonathan bisa tercapai.

Jonathan Belajar Membaca Bahasa Indonesia

Jonathan sudah hampir 9 tahun. Sampai sekarang belum pernah saya kasih pelajaran khusus untuk membaca bahasa Indonesia. Harapannya memang dia bisa belajar sendiri hehehe. Hari ini bangun tidur siang saya menemukan buku pelajaran membaca bahasa Indonesia yang kami beli beberapa tahun lalu. Ternyata, anak kalau sudah bisa bahasa Indonesia lebih mudah membaca bahasa Indonesia tanpa diajari. Tapi tentunya beberapa kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari akan lebih sulit dibacanya.

Bukunya untuk umur 4 – 6 tahun

Menurut tulisan di sampulnya, buku ini untuk umur 4 – 6 tahun. Tapi untuk anak yang selama ini hanya bisa baca bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya cuma dengan kami orantuanya, tidak ada salahnya dicoba suruh baca untuk mengetahui juga pemahamannya terhadap kata-kata dalam bahasa Indonesia.

gak pakai lama belajar bacanya

Beberapa kata yang dia tidak mengerti tapi bisa menebak itu misalnya: paman, bibi, sawah, ladang, desa. Jonathan tidak pernah manggil orang dengan paman dan bibi, adik-adik Joe dia panggil om dan tante, sedangkan dari keluarga saya panggilnya pakai panggilan batak hehehe. Kakek dan nenek saja perlu saya jelaskan lagi, karena dia manggilnya eyang boy dan eyang girl.

Beberapa kata yang dia sulit baca itu seperti: berdesakan, kendaraan dan umumnya kata dengan bunyi ng dan ny yang menggunakan akhiran. Beberapa kata dia selalu baca menggunakan bunyi e yang tajam. Lucunya baca lirik lagu pelangi-pelangi, dia tau bunyi e dalam kata “pelangi”, tapi selalu salah menyebut kata “pelukis” dengan bunyi e yang tajam, lalu kesulitan membaca kata “agung” dan “gerangan”. Kata-kata tersebut memang jarang kami gunakan dalam percakapan sehari-hari. Saya tidak pernah bertanya: “kenapa kamu sedih, ada apakah gerangan?” hihihihi.

Buku “Metode Ini Ibu Budi” dulu kami beli karena judulnya menarik. Kami pikir, dulu kami belajar membaca dengan keluarga Budi, jadi ya bisa sekalian cerita ke Jonathan bagaimana dulu kami belajar membaca. Walaupun ternyata anggota keluarga Budi dalam buku ini bukan Wati dan Iwan seperti buku jaman dulu hehehe.

Saya pikir Jonathan akan mulai membaca dengan mengeja, ternyata dia bisa langsung membacanya walau perlu diperbaiki sedikit di sana sini. Mungkin karena dia sudah mengenal bunyi alfabet bahasa Indonesia dan karena sejak homeschool dia sudah lebih banyak berbahasa Indonesia di rumah. Beberapa kata masih terasa aneh di kuping waktu dia baca hehehe.

Belajar membaca bahasa apapun memang pada akhirnya butuh latihan. Lebih baik lagi kalau mengerti dengan kata yang dibaca. Waktu pulang ke Indonesia, kami pernah membeli beberapa buku bilingual Inggris – Indonesia, tapi biasanya Jonathan akan langsung membaca bagian bahasa Inggrisnya. Mungkin saatnya membuat jam khusus untuk pelajaran latihan membaca bahasa Indonesia untuk menambah kosa kata dan memperlancar membaca bahasa Indonesia.

Ganti AC Mobil

Tulisan hari ini buat catatan pengingat saja kalau hari ini AC mobil diganti baru keseluruhan sistemnya.

Awalnya sejak 3 minggu lalu merasa kok AC mobilnya gak dingin walau udah diatur suhu paling dingin. Memang Chiang Mai walau sedang musim hujan, tiap sore jam 3-an itu panasnya luar biasa. Jadi saya pikir karena di luar sangat panas aja maka AC nya lama dinginnya.

Pagi hari masih gak masalah dan masih berasa agak dingin AC nya, tapi tiap sore yang terasa cuma angin saja. Kasian Joshua kadang pipinya sampai merah kepanasan. Akhirnya saya bawa ke bengkel untuk di cek apa yang jadi masalahnya. Baru sekitar 3 bulan sebelumnya kami bawa servis AC mobil untuk di bersihkan dan di isi freonnya, jadi saya pikir harusnya bukan masalah kehabisan freon.

Karena bengkel resmi lebih dekat dari bengkel yang biasa kami datangi, saya bawa mobil ke bengkel resmi untuk di cek apa masalahnya. Pengecekan tidak lama, cuma butuh kurang dari 1 jam. Tapi hasilnya ternyata semua sistem AC nya harus diganti karena ada kebocoran yang parah katanya. Selain itu mobilnya harus diinapkan karena butuh 2 hari kerja untuk mengerjakan bongkar pasang sistem AC. Karena waktu itu masih butuh tiap hari pakai mobil, saya tidak bisa langsung meminta mereka mengerjakan ganti AC, jadi saya bilang saya akan datang lagi kalau sudah ada waktu untuk menginapkan mobil di bengkel.

Estimasi harga ganti AC yang diberikan lumayan mahal, saya pikir apakah bengkel resmi ini mahal karena mereka bengkel resmi? Kalimat yang aneh ya, tapi maksudnya begini: saya pernah dengar komentar kalau bengkel resmi ini sering sengaja cari-cari kesalahan kecil sebuah mobil biar mereka dapat kerjaan, padahal kalau di bawa ke bengkel lain bisa jadi dikerjakan dengan harga setengahnya atau bahkan belum perlu diganti. Tapi ya saya pikir ga ada salahnya mengecek ke bengkel yang terakhir membersihkan sistem AC nya, siapa tau mereka bisa kasih estimasi harga lebih murah.

Setelah di cek di bengkel bukan resmi, ternyata hasil pengecekan kesimpulannya sama: semua sistem AC nya harus diganti. Mereka bisa mengerjakannya 1 hari kerja, tapi biayanya lebih mahal sekitar 25 persen dari estimasi bengkel resmi. Terus katanya sparepartnya gak bisa pake yang asli sesuai merk karena sparepart merk mobilnya jarang tersedia.

Saya sempat agak dilema. Kalau ngikutin hitungan ekonomi tentunya langsung milih masukin bengkel resmi saja. Tapi dilemanya karena harus diinapkan 2 hari kerja (yang mana di sini karena ga ada angkot kalau ga ada mobil itu repot mau kemana-mana). Setelah ditimbang-timbang dan ternyata bisa dapat pinjaman mobil dari bos baik hati, kami masukin mobil ke bengkel resmi.

Hari Rabu besok itu hari libur di Thailand, bengkel juga libur, jadi saya bikin janji untuk masukin mobil Senin pagi supaya bisa selesai Selasa sore (kan itungannya udah 2 hari kerja toh). Untungnya mereka menyanggupi, kalau mereka ga menyanggupi karena alasan banyak kerjaan, bisa-bisa kami masih harus berpanas-panasan sepanjang minggu ini setiap makai mobil.

Sesuai janji, hari ini mobilnya sudah selesai dipasang AC baru. Saya tanya ada garansi gak? Ternyata ada, garansi AC mobilnya 1 tahun atau 20000 km (yang mana duluan sampai). Sebenarnya ada tulisannya di receiptnya, tapi kan tulisannya semua bahasa Thai, kalau ga nanya mungkin saya ga akan tahu. Yang bikin saya senang sparepartnya ya dikasih yang asli sesuai merknya.

Jadi ternyata asumsi bengkel resmi suka mencari-cari alasan biar dapat kerjaan itu gak benar. Tapi salah satu alasan selama ini malas ke bengkel resmi itu karena biasanya mereka bahasa Inggrisnya payah, dan level bahasa Thai saya untuk pembicaraan teknis mobil suka gagap sendiri. Tapi dari pengalaman kali ini, ternyata saya bisa berkomunikasi dengan mereka. Level bahasa Inggris mereka cukup bisa dimengerti dan level bahasa Thai saya juga bisa mereka mengerti hehehe. Saya gak ingat tadi itu saya banyak ngomongnya pake bahasa apa, kadang-kadang milih bahasa itu dah jadi reflek tergantung siapa yang diajak bicara hehehe.

Jadi lain kali sepertinya kalau ada masalah dengan mobil, memang lebih baik ke bengkel resmi ya. Apalagi kalau bengkelnya lebih dekat dari rumah.

Oh ya catatan lain, katanya AC mobil itu rusak karena beberapa alasan, bisa jadi karena udah umurnya (padahal umur mobil kami masih kurang dari 10 tahun), atau katanya bisa jadi “sial” kemasukan sesuatu seperti kerikil ke dalam sistemnya yang merusak AC nya. Saya gak tau juga apakah AC mobil itu seperti ban mobil yang harus diganti setelah sekian km, tapi yang penting sekarang udah ga kepanasan lagi nyetir siang-siang.

Mengajari Anak Menunggu 1 Minggu

Ceritanya minggu lalu Joe pergi 1 minggu ke Abu Dhabi. Perginya Senin dan pulangnya Minggu. Nah, biasanya kami kalau pergi selalu bareng, dan Joe pergi sendiri itu bisa dihitung jari 1 tangan belum abis. Sebenarnya sejak Joshua lahir, pergi kali ini udah yang ke-2 kali, tapi yang pertama gak sampe seminggu dan Joshua belum terlalu mengerti.

Awalnya saya pikir, Joshua akan biasa aja, karena seharian juga biasanya sama saya (kalau Jonathan sudah mengerti arti 1 minggu jadi ya cuma merasa sepi tapi ga terlalu sulit menjelaskannya). Tapi ternyata, saya salah. Udah beberapa waktu belakangan ini memang Joshua manja banget sama Joe, kalau ada Joe, mamanya ga laku deh. Semua hal maunya sama papanya. Saya sih seneng aja, jadi bisa ngerjain yang lain waktu Joshua nempel sama papanya.

Waktu anter Joe pergi ke airport, kami gak turun karena Joshua juga lagi ikutan kegiatan liburan dari Senin sampai Jumat jam 9 pagi sampai 3 sore di Mind Brain and Body (MBB). Pesawat Joe berangkatnya juga pagi, jadi ya sekalian deh anter ke airport, terus anter Joshua. Walau gak banyak dikasih tau, Joshua kayak ngerti, dia ga mau lepasin tangan papanya waktu papanya turun dari mobil dan nangis dikit. Terus dikasih tau kalau Joshua harus ke MBB, nanti Joshua jemput papa setelah 5 kali MBB, masih agak lama juga bujukin biar ga nangis tapi akhirnya dia diam saja.

nangis waktu papanya pergi

Sore harinya, waktu saya jemput dari kegiatan liburannya dia langsung bilang: ayo jemput papa ke airport. Saya harus jelasin lagi kalau Joshua masih harus ke MBB lagi beberapa kali baru jemput papa. Tapi ya seperti biasa walau dia udah ngerti dikit, dia masih nanya lagi: papa di mana? ayo jemput papa. Baru nanya di jawab, beberapa menit kemudian nanya lagi.

Waktu mau tidur, dia juga nyari lagi, mana papa. Di hari Selasa juga begitu lagi, bahkan dia nangis waktu liat pintu rumah udah ditutup dan papanya belum ada di rumah. Akhirnya saya kepikiran bikin tabel yang bisa dia isi supaya dia mengerti titik mana papanya pulang.

Tabelnya sederhana saja, isinya pagi hari dia ke MBB, malam hari tidur. Sekalian ngajarin nama-nama hari. Karena intinya saya mau jelasin dia berapa kali harus MBB dan tidur, saya bikin lah tabel dadakan dan gak rapih yang ternyata cukup berhasil membuat dia gak terlalu nyariin lagi setelah liat tabelnya. Tiap pagi dia kasih tanda sleep, dan pulang dari MBB dia tandain MBB. Jadi dia saya suruh kasih tanda setelah suatu kegiatan dilakukan.

Hari Sabtu, Joshua ada kelas art 1 jam, jadi lebih gampang lagi bikin tabelnya. Tiap dia nanya di mana papa, saya akan kasih tunjuk tabelnya dan bilang, ini kan belum selesai semua. Masih sekian kali MBB dan sekian kali tidur baru kita jemput papa.

Ternyata cara itu membuat dia ga nanya lagi dan gak disuruh juga dia kasih tanda tabelnya. Cara ini juga berhasil menghilangkan kegelisahan lihat pintu rumah ditutup padahal papanya belum pulang. Waktu awalnya Joe video call, Joshua kayak marah dan gak mau ngobrol, tapi setelah ada tabel dia jadi mau ngobrol dikit walau sambil lanjutin main (mulai ga kecarian hahaha).

Yay, Akhirnya papanya pulang.

Hari Minggu, hari yang ditunggu-tunggu Joshua. Waktu saya bilang ayo siap-siap jemput papa, dia langsung ambil sepatu dan ke mobil. Waktu saya manasin mobil, dia gak sabar dan bilang: ayo mama drive, kita jemput papa. Airport di sini itu deket banget dari rumah, saya sengaja jemputnya nunggu Joe udah dapat bagasi dulu biar ga harus turun parkir. Jadi waktu udah tau Joe turun dari pesawat dan nunggu bagasi, saya baru bergerak dari rumah, itupun sengaja melambat-lambatkan diri hehehehe.

Jam jemput papanya itu jam 1.30, jam abis makan siang dan jam nya Joshua tidur siang. Segitu dia gak sabar nunggu mobil jalan, eh waktu mobil jalan dia malah tidur hahahaha. Jadi waktu Joe naik ke mobil, Joshua udah tidur dan gak lihat malahan papanya dijemput. Ketika kembali lagi ke rumah, Joshua menolak waktu papanya mau gendong dia turun dari mobil. Mungkin itu ekspresi ngambeknya kenapa pergi lama banget hehehe. Tapi Joshua ngambek gak pernah lama, sebentar kemudian dia udah biasa lagi dan waktu nerima oleh-oleh juga tambah kesenangan.

Setelah papanya di rumah dan buka oleh-oleh, dia baru ingat belum kasih tanda di tabel penantiannya. Dia warnai deh bintangnya dan di bawah kasih tanda centang (mungkin niruin saya kasih tanda centang kalau semua udah selesai).

Sebenarnya, cara membuat tabel ini bisa untuk berbagai hal, termasuk untuk mengajari anak rutin harian. Anak-anak lebih mudah mengerti kalau melihat (visualisasi) apa yang dilakukan berikutnya. Bisa juga selain dikasih tanda hati, kita nempelin stiker. Tapi saya ga ingat nyimpan stiker di mana, dan tabel asal-asal saya ternyata udah cukup buat Joshua, jadi saya gak nyari deh itu stiker ada di mana hehehe.

Joshua dan Global Art

Kalau dulu pernah cerita soal Jonathan belajar di Global Art. Sekarang Joshua sudah kami ikutkan juga. Awalnya masih agak ragu-ragu mendaftarkannya karena di rumah saja kalau diajakin mewarnai masih sulit dan ujung-ujungnya malah nulis ABC lagi.

Jadi sejak 3 minggu lalu, dicobalah bawa Joshua ke Global Art. Untuk anak umur Joshua (4 tahun) program yang diberikan ada 2 pilihan: 1 kali seminggu atau 2 kali seminggu dengan durasi setiap pertemuan maksimum 1 jam. Sebelum masuk juga diberikan sejenis assesment dulu untuk melihat apakah anaknya sudah bisa ikutan kelas atau tidak.

Awalnya, tentu saja karena Joshua belum kenal gurunya, agak sulit mengarahkan dia untuk mengerjakan tugasnya. Tapi tanpa disuruh, Joshua kadang-kadang langsung mengerjakan lembar assesment lalu beralih ke lembar lain untuk menulis ABC hehehe. Tapi akhirnya kembali lagi dan menyelesaikan assesmentnya.

Kami daftarkan Joshua seminggu belajar 1 kali 1 jam saja. Ini juga biar dia belajar mendengarkan instruksi dari guru sekalian melatih motorik halusnya untuk memegang alat tulis yang benar. Sebenarnya Joshua sudah bisa menulis dengan bagus, tapi cara pegang pensilnya masih gak benar dan kalau diteruskan nantinya dia yang akan kesulitan sendiri.

Setelah di asesment, akhirnya Joshua mulai kelas pertamanya. Di Global Art ini untuk tiap tingkatan ada kurikulum yang harus diikuti anak. Jadi untuk umur 4 tahun biasanya diajarkan untuk menarik garis dan menggambar bentuk. Lalu nanti mewarnainya. Sebenarnya, Joshua udah sering mewarnai bentuk, tapi selalu ya masih keluar garis dan atau kalau ada bentuk di dalam bentuk lainnya, dia suka main tabrak aja semua diwarnai hanya 1 warna yang sama. Tapi dengan kesabaran gurunya, sambil dikasih selingan nulis ABC, jadi juga dia mewarnai bentuk.

Minggu ke-2 dia menggambar telapak tangan, mewarnai tangan kecil dan tangan besar dengan warna yang berbeda. Masih dia kerjakan dengan sangat cepat, sehingga dia punya waktu untuk menuliskan huruf A sampai Z di kertas lain dengan menggunakan kuas cat air.

Gak mau mewarnai buku, maunya bikin huruf aja

Hari ini minggu ke-3, dari rumah dia semangat sekali mau ke global art. Saya pikir, oke deh dia udah mulai suka mewarnai. Ternyata….jreng jreng, dia cuma mau menulis huruf A sampai Z besar dan kecil. Gurunya bilang, menarik garis untuk gambar bulan sabit dan bintangnya aja dia ga mau ikutin. Tapi ya gurunya masih berusaha ikuti maunya, di setiap lembaran dia tulis huruf besar A dan huruf kecil a, lalu gurunya gambar objek berawalan huruf a – apple. Terus gurunya suruh warnai tuh applenya. Dia ga mau hahahaha.

Jadi hari ini dia berhasil menyelesaikan kartu huruf A sampai Z yang dia tuliskan huruf besar dan kecil, lalu setiap kartu diberi ilustrasi oleh gurunya dengan gambar yang berawalan huruf tersebut. Itu kertas sebenarnya bukan bagian dari kurikulum, tapi gurunya sengaja bikin kertasnya udah dipotong dari bekas kerjaan anak lain yang udah dipotong ukuran flashcard gitu dan kartu-kartunya disatukan dengan benang. Gurunya kreatif ya, jadikan anaknya senang punya kartu huruf mainan baru hehehe.

Rencananya kalau ada waktu, minggu ini saya akan ajakin Joshua untuk mewarnai tiap objek yag sudah digambarkan oleh gurunya. Tapi ya kalau dia tidak mau apa boleh buat. Mungkin memang dia lebih suka huruf dan angka daripada mewarnai. Atau ya cari materi mewarnai huruf-huruf terus mamanya aja yang memaksakan diri jadi guru hihihi.

Gempa Di Chiang Mai

Hari ini hampir bolos nulis karena ga ada ide, eh tau-tau ada gempa. Sebenarnya saya ga merasakan, tapi banyak yang bertanya apakah merasakan. Waktu saya cek di internet, ternyata memang ada gempa dengan kekuatan 4.1 SR di Chiang Mai setelah beberapa menit sebelumnnya gempa di Myanmar dan kemarin di Pai yang mana masih daerah yang berdekatan dengan Chiang Mai.

sumber: http://www.earthquake.tmd.go.th/en/local.html

Gempa hari ini bukan yang pertama kalinya yang terasa di Chiang Mai selama kami di sini. Saya ingat awal kami tinggal di Chiang Mai sempat ada beberapa kali gempa kecil, tapi pusatnya dari negara tetangga. Gempanya cukup besar jadi terasa sampai ke Chiang Mai dan kejadiannya siang-siang dan kami ada di kantor. Pas ada goyangan gempa, awalnya mikir apa pusing karena kebanyakan liat layar, terus waktu yakin itu gempa sebelum panik eh gempanya sudah berhenti.

Terus pernah juga tanggal 24 Maret 2011 gempanya malam-malam dan rumah kami waktu itu masih di apartemen lantai 18 dan udah ada Jonathan tapi masih bayi. Gempanya lumayan besar 6.9 SR pusatnya di Myanmar dan agak lama, tanpa mikir panjang Joe gendong Jonathan dan saya menyusul di belakang turun lewat tangga 18 lantai. Sampai bawah, ketemu banyak orang yang juga wajah panik gitu. Tapi untungnya waktu itu gempanya gak lama berhenti. Setelah menenangkan diri dengan sesama penghuni yang panik, akhirnya balik ke unit masing-masing. Kembali ke unit perasaan masih tetap waspada. Oh ya, kenapa bisa ingat tanggalnya? karena waktu itu ditulis di blog Jonathan hehhehe.

Setelah kejadian itu, ada juga beberapa kali merasakan gempa selama tinggal di apartemen, tapi entah kenapa kami sering tidak merasakannya. Terus pernah sekali merasakan sedikit, terus cuma berdoa aja gempanya gak lama dan tetep diam aja di dalam rumah (sambil siap-siap lari kalau gak berhenti juga sih). Untungnya biasanya gempanya berhenti sebelum kami panik hehe.

Nah pernah juga saya ingat pengalaman gempa setelah pindah ke rumah biasa dan bukan di apartemen lagi. Waktu itu Joe di kantor dan saya cuma berdua sama Jonathan (Joshua belum ada). Waktu merasakan gempa, entah kenapa malah panik dan buru-buru gendong Jonathan keluar rumah. Jonathannya malah heran, lagi main kok digendong keluar rumah. Tapi ya abis dikasih tau ada gempa, pertanyaanya tambah panjang apa itu gempa dan malah pengen rasain lagi haahha.

Hari ini, barusan ini saya bersyukur sih gak merasakan gempanya. Soalnya tadi itu udah siap-siap tidur (kamar tidur di lantai 2). Kalau pas merasakan gempanya, kemungkinan besar saya akan panik dan harus turun dan keluar rumah. Joshua udah berat banget, gak mungkin juga digendong turun kan hehehe.

Sekarang ini ada perasaan sedikit kuatir apakah masih akan ada gempa susulan (dan berdoa tidak ada gempa susulan di sekitar sini). Tapi ya namanya alam tidak bisa kita yang mengatur. Jadi daripada cemas kuatir dan jadi gak bisa tidur, mending berdoa sebelum tidur supaya apapun yang terjadi tetap dalam lindunganNya.

Kalau dipikir-pikir, saya lebih suka tidak merasakan gempa ketika gempa terjadi. Perasaan kuatir dibandingkan perasaan panik itu lebih bisa dikendalikan perasaan kuatir. Namanya panik, kadang-kadang bikin kuatirnya lebih berkepanjangan dan berhalusinasi sendiri berasa-rasa goyang padahal gak ada apa-apa. Kalau cuma dikasih tau: eh ada gempa tadi, berasa gak? bisa jawab enteng: nggak berasa (dalam hati berdoa semoga ga ada susulan). Tapi ya bisa lebih tenang.

Kalau pembaca gimana? lebih suka merasakan gempa atau tidak merasakan?

Selamat ulang tahun kekasihku

Dulu waktu jaman pacaran dengan Risna, saya pernah harus menunggu pesawat lama sekali di bandara di Hanoi. Waktu itu di situ tidak banyak yang bisa dilakukan (mungkin sekarang sudah jauh berbeda). Dulu saya sudah memakai smartphone tapi baterenya sudah hampir habis. Jadi akhirnya saya mengisi waktu dengan menuliskan surat cinta dengan kertas dan pulpen untuk Risna yang saya berikan ketika sampai di Indonesia.

Sekarang saya sedang menunggu di bandara Bangkok menuju ke Abu Dhabi untuk mengikuti event CTF ini dan pesawatnya baru akan berangkat beberapa jam lagi. Cerita mengenai event CTF ini akan menyusul nanti (intinya saya diundang bergabung oleh tim PDKT).

Besok adalah ulang tahun Risna, dan nanti malam ketika pergantian hari di Thailand, saya akan sedang berada di jalan. Jadi sekarang saya tuliskan dulu ucapan selamatnya supaya nanti bisa dijadwalkan terbit nanti malam.

Selamat ulang tahun istriku sayang. Saya bahagia dan bangga bisa bersamamu sampai sekarang ini, dan semoga sampai usia kita berdua sampai lanjut. Rasa cinta saya masih bertambah sejak dulu pertama kali jatuh cinta padamu. Sudah banyak harapan dan impian yang kita capai bersama. Kita sudah dikaruniai dua anak yang lucu, pintar dan sehat dan meskipun kita belum kaya raya, hidup kita tidak berkekurangan.

Saya bangga punya istri yang pintar dan bisa mendidik kedua anak kita. Meskipun Jonathan sering bermalasan dalam homeschool dan Joshua perlu diperhatikan khusus, tapi kamu masih bisa sabar. Selain sudah mahir berbahasa Thai, yang sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari, kamu juga masih mau belajar banyak bahasa lain. Saya juga bangga punya istri yang cekatan, bisa mengurus rumah dengan baik, menyetir dan mengantar anak ke berbagai tempat les.

Sekali lagi: selamat ulang tahun, semoga kita berdua selalu dikarunia kesehatan dan kebahagian bersama anak-anak kita.