16 Tahun ngeblog bareng Risna

Hari ini ulang tahun kami ngeblog bareng yang ke-16. Kami ngeblog bareng sejak masih jaman pacaran dulu dan terus berlanjut sampai sekarang. Kami ngeblog sejak bebereapa bulan setelah pacaran dan kami menikah hampir 3 tahun setelah ngeblog bareng. Saya lebih sering mengisi tulisan teknis, dan Risna lebih sering menuliskan topik lain.

Meja kerja saya. Sekarang Risna juga sering ngeblog dengan komputer ini.

Berbagai tulisan mengenai sejarah blog ini sudah pernah dituliskan di posting tahun-tahun sebelumnya, misalnya di posting 10 Tahun ngeblog bareng dan pernah juga saya tuliskan bahwa blog ini pernah masuk beberapa situs berita, buku, situs antivirus, dan bahkan pernah masuk TV. Blog ini sudah bertahan lebih lama dari banyak media sosial yang ada sepanjang masa hidup blog ini.

Di ulang tahun blog lalu saya berencana menulis lebih banyak tentang non-teknis, tapi sepertinya sampai saat ini masih kurang banyak. Sekarang ini di masa karantina virus Corona, saya jadi semakin sibuk karena anak-anak tidak punya kegiatan dan jadi banyak energi untuk mengajak saya bermain atau beraktivitas.

Di masa sekarang di mana banyak orang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan digital, saya bersyukur dari dulu kami sudah hidup di dunia digital dengan blog ini menjadi saksinya. Dari sejak punya Nokia 3650 tahun 2003 kami sudah chatting dengan Agile Messenger (yang bisa konek ke Yahoo dan MSN di ponsel Symbian). Saling beremail. Sebelum kebanyakan orang memakai Skype untuk video call di mobile, atau memakai Zoom seperti sekarang, kami sudah pacaran memakai video Call dengan 3G. Sebelum gereja online, saya sudah membuat pembaca Alkitab untuk platform Symbian dan kemudian untuk Blackberry.

Kami juga bersyukur Jonathan sudah di homeschool sebelum semua orang terpaksa menyekolahkan anak di rumah, jadi tidak ada kejutan bagi kami saat ini. Kami juga bersyukur tulisan kami bisa dishare ke mereka yang bertanya mengenai homeschooling.

Dari dulu blog ini adalah milik kami berdua, tapi saya tahu sebagian orang hanya ingin mengikuti tulisan non teknis dari Risna dan sebagian ingin mengikuti tulisan teknis saya. Caranya sebenarnya mudah: klik saja di nama author: rhin untuk melihat tulisan Risna dan yohanes untuk melihat tulisan saya. Sebagai catatan: tidak semua posting kami share di page kami di Facebook.

Sebenarnya saya juga memiliki dua blog lain tinyhack.com untuk tulisan saya yang berbahasa Inggris, dan cintaprogramming.com untuk tulisan saya yang berisi programming, tapi saat ini keduanya jarang saya update. Tulisan security saya biarkan di blog ini saja karena sampai saat ini, ini hanya sekedar jadi pekerjaan sambilan bagi saya.

Saya berharap kami berdua tetap terus bisa menulis di blog ini sampai tua nanti berdua.

16 tahun Ngeblog bareng Joe

Hari ini, 16 tahun yang lalu, kami posting pertama kali di blog ini. Kadang-kadang hampir gak percaya, bisa bertahan ngeblog selama ini. Eh tapi kok belum jadi-jadi juga nih bikin buku? Selamanya blogger nih judulnya? Hehehe.

tulisan pertama saya di blog ini

Seperti biasa, namanya kalau lagi ulang tahun sesuatu, ada kecendurang kilas balik dan melihat-lihat tulisan lama. Jadi teringat lagi, kenapa dulu pilih nama domain compactbyte dan kenapa milih judul blog Amazing Grace.

Sebenarnya, setelah 16 tahun ngeblog (dengan beberapa tahun sempat tidak rajin mengisi karena kebanyakan update facebook), rasanya udah banyak cerita berulang dan hampir semua pernah dituliskan disini (kecuali berita terkini). Tapi, ya hitung-hitung menyegarkan ingatan sendiri, saya mau tulis lagi gimana dulu pertimbangan beli domain dan judul blog.

Domainnya sudah dibeli beberapa hari sebelumnya, tapi awalnya dibelinya bukan buat bikin blog ini saja. Domain utamanya Compactbyte.com tentunya diisi dengan produk aplikasi buatan Joe. Milih nama domain itu susah ya ternyata. Karena waktu itu kami masih status pacaran, gak kepikir juga mau bikin nama domain dengan gabungan nama kami berdua. Walaupun waktu memutuskan ngeblog bareng, kami cukup yakin serius satu sama lain.

Compactbyte ini dari compact dan byte, jadi maksudnya Joe pengen kalau bikin aplikasi itu yang ukuran bytenya compact/kecil. Tahun 2004, yang namanya paket internet masih sangat memperhitungan ukuran file kalau mendownload. Jadi tantangannya bagaimana membuat aplikasi yang berguna untuk banyak orang, tapi gak memberatkan orang-orang dalam mendownloadnya.

Nah berikutnya kenapa judul blog nya Amazing Grace? Ini sih ceritanya salah satu topik obrolan kami seputar buku, terus Joe cerita tentang buku What’s so Amazing about Grace dan meminjamkannya ke saya. Nah saya baru selesai baca bukunya dan kepikiran eh kita bikin judulnya Amazing Grace aja. Dan sampai sekarang, kami percaya kalau kami bisa menikah, pindah ke Chiang Mai dan punya 2 anak dan tetap ngeblog juga karena Kasih Karunia.

Lucu membaca-baca tulisan lama. Di blog ini ada banyak mencatat berbagai hal, mulai dari pernah dapat HP Nokia dari Bank Niaga, beberapa catatan setting internet dari jaman GPRS (dan sekarang udah hampir 5G). Dari jaman HP dengan keyboard melingkar terus jaman Blackberry, dan sekarang HP qwerty touchscreen tanpa keyboard fisik dengan layar yang semakin besar.

Kalau melihat-lihat tulisan di awal-awal, kami menulis itu dari dulu sampai sekarang ya rada-rada random aja gitu. Kadang ngomongin buku, film, seputar IT, curhat, opini dan bahkan tentang bersantai di rumah itu udah jadi hobi dari dulu.

Beberapa topik yang banyak bertambah tulisannya belakangan ini dan belum ada di awal kami menulis tentunya tentang anak-anak, tentang homeschooling, seputar Chiang Mai, keluhan soal polusi, drama korea dan film-film lainnya, belajar bahasa, dan akhir-akhir ini tulisan yang terinspirasi dari masa pandemi covid-19 (udah ada 2 fiksi, padahal biasanya gak pernah bisa nulis fiksi hehehe).

Kalau diperhatikan, gaya bahasa saya menulis banyak perubahan, walaupun tanda baca gak juga membaik. Isi blog ini lebih sering seperti tumpahan isi kepala yang dituliskan dengan cepat dan gak diedit lagi. Biasanya sih niatnya mau diedit lagi, tapi seringnya gak jadi diedit hehehe.

Tulisan Joe sekarang jadi tambah rumit, apalagi dengan hobinya sekarang yang banyak berhubungan dengan reverse engineering dan hacking. Karena tulisannya harus lebih serius nulisnya, dia jadi agak jarang nulis. Maaf ya buat follower blog yang mengharapkan tulisan Joe, dia lagi sibuk banget sekarang, soalnya dia sering digangguin anak-anak juga hehehe.

Bosan gak sih ngeblog bertahun-tahun? Nggak dong! Apalagi sejak bergabung dengan KLIP, saya tambah rajin dong ngeblognya. Memang, kadang-kadang kehabisan ide mau nulis apa dan kadang-kadang diserang rasa malas karena isi kepala terlalu penuh dan membayangkan menuliskannya dah lelah duluan, tapi tentunya kemalasan bisa dikalahkan dengan niat dan tekat untuk tetap menulis.

Mau sampai kapan ngeblog? Selama masih mungkin. Masih pengen meneruskan topik belajar bahasa Thai dan topik seputar homeschooling yang belakangan ketilep sama topik polusi dan pandemi.

Enaknya ngeblog begini, kalau ada yang nanya apa-apa terutama seputar Chiang Mai, kami tinggal cari di blog dan kasih link blognya, walaupun informasinya kadang-kadang tercampur dengan cerita tentang kami ataupun curhat colongan.

Ayooo buat teman-teman yang dulu blogger, jangan kelamaan di FB doang, kita ngeblog lagi yuk yuk. Blog ini menyimpan cerita kehidupan kami di dalam 1 tempat yang dipelihara sendiri dan ga usah takut kalau tiba-tiba layanan tutup dan tulisan kita hilang.

Tambah Irit Selama di Rumah Saja

Berbeda dengan cerita teman-teman yang mengeluhkan pengeluaran tambah banyak selama di rumah saja terutama untuk cemilan, saya merasa selama di rumah saja 3 minggu ini pengeluaran tambah irit. Kenapa begitu?

Karena kami keluarga homeschool, pada dasarnya anak-anak ya belajar di rumah saja. Kalaupun ada keluar itu biasanya untuk kegiatan tambahan seperti kelas art, kelas taekwondo, kelas musik dan kelas bahasa Thai. Nah sejak di rumah saja, semua kelas itu juga diliburkan, otomatis biaya kursus yang dibayarkan dihitung untuk pembayaran bulan berikutnya. Jadi pengeluaran untuk biaya kursus berkurang.

Biasanya, antar jemput anak pasti butuh isi bensin paling tidak 2 kali sebulan. Nah sejak di rumah saja, bensin belum diisi sama sekali. Kebetulan memang isi bensin sebelum himbauan dirumahkan ini. Joe masih kerja, tapi ke kantor jalan kaki doang jadi ga kepake tuh bensin. Terus kalaupun harus isi bensin, harga bensin sekarang lagi murah hehehe.

Di tempat kegiatan kursus anak itu biasanya banyak godaan jajanan. Kalau bukan anaknya, ya emaknya atau bapaknya suka tergoda beli cemilan waktu di luar. Dengan semuanya di rumah saja begini, cemilan jadi lebih terkendali dan karena sudah biasa di rumah saja, selera nyemil kami tidak jadi berubah drastis. Biasanya kalaupun di rumah udah bikin kopi, pas antar anak-anak les itu ada godaan buat beli kopi es lagi dan kadang-kadang beli kue-kue juga hehehe.

Sebelum himbauan di rumah saja, walaupun ada polusi, ada juga sih sesekali kalau udara tidak terlalu jelek kami pergi ke mall di akhir pekan. Kalau pergi ke mall, tau sendirikan, bukan cuma buat makan saja, kadang-kadang suka jadi sekalian beli ini beli itu. Godaan di mall itu banyak hehehe, belum kalau anak-anak liat mainan dan pasang tampang memelas pengen dibeliin.

Untuk makanan, karena di rumah saja, otomatis belanjaan lebih direncanakan untuk seminggu supaya gak sering-sering keluar. Dan tentu saja makan di rumah itu lebih irit daripada makan di restoran.

Pengeluaran yang paling terasa selama di rumah saja itu ya untuk listrik dan air. Karena udara panas luar biasa dan juga polusi udara, otomatis nyalain AC dan filter udara yang menggunakan tenaga listrik. AC sih gak selalu nyala 24 jam, tapi filter udara tidak bisa ditawar, hampir 24 jam menyala. Kalau air bertambah bayarnya selain untuk menyiram tanaman dan halaman, juga karena anak-anak dikasih main air di kamar mandi. Kasian gak kemana-mana, jadi ya udah main air aja di kamar mandi hehehehe.

Gimana dengan belanja online? katanya kan selama di rumah saja, malahan jadi tambah banyak belanja online? Kalau untuk soal ini, dari dulu saya tidak suka belanja online. Kalaupun ada yang kami beli online selama masa di rumah saja ini, ya memang karena dibutuhkan, bukan karena bosan ga ada kerjaan terus ya browsing barang-barang belanja gitu.

Sekarang ini mall di Thailand hanya boleh buka bagian makanan dan kebutuhan pokok. Yang namanya barang-barang non makanan itu semua wajib tutup. Jadi kalau ada butuh sesuatu yang non makanan, tidak ada pilihan lain kecuali beli online.

Kalau kalian selama di rumah saja jadi tambah boros atau tambah irit? Kira-kira paling boros di bagian mana?

Cerita Ibadah Online

Mulai hari Minggu kemarin, dan untuk 3 hari Minggu mendatang, gereja di mana kami biasa hadir mengadakan kebaktian melalui live streaming memanfaatkan YouTube broadcast. Selain sebagai tindakan pencegahan penyebaran covid-19, saya rasa tindakan ini bagus juga diambil mengingat polusi di Chiang Mai masih dalam level tidak sehat dan udara yang panas sekitar 39 derajat celcius. Sebelum ada live streaming ini, kami sudah beberapa kali bolos gereja karena polusi dan udara panas, jadi adanya live streaming ini tentunya saya sambut dengan gembira.

Acara live streamingnya dimulai pada jam kebaktian seperti biasa. Materi untuk anak-anak sudah dikirim sejak hari Jumat. Jadi kemarin karena sebelum jam 4 sore anak-anak sudah bangun, kami manfaatkan untuk memberikan materi untuk anak-anak terlebih dahulu. Membacakan ayat hapalan dan juga memutar video, lalu memberikan kegiatan mewarnai. Sebentar juga selesai hehehe.

Joshua membaca ayat hapalan
Lanjutkan membaca “Cerita Ibadah Online”

Makanan Indonesia di Chiang Mai

Setelah 13 tahun di Chiang Mai, dan tidak pernah ada restoran Indonesia yang harganya terjangkau dan bertahan lama, akhirnya sekarang saya bisa menikmati berbagai makanan Indonesia hampir setiap hari.

Biasanya sih harus menunggu kalau ada kumpul-kumpul Indonesia di Chiang Mai, masing-masing membawa makanan yang bisa mereka masak. Di saat itu sesekali bisa makan rendang, sayur pecel, bakwan ataupun lontong sayur. Tapi sekarang bisa lebih sering dan gak harus nunggu kumpul-kumpul, apalagi sekarang kan lagi dilarang tuh berkumpul-kumpul.

Ceritanya tahun lalu, di salah satu pertemuan masyarakat Indonesia di Chiang Mai yang digagas oleh KBRI Bangkok, saya berkenalan dengan seorang warga baru yang lokasi rumahnya kira-kira 1 jam perjalanan dari Chiang Mai dan ternyata jago masak.

Awalnya saya bercanda bilang: aduh coba mbak rumahnya di Chiang Mai, saya mau katering deh sama mbak. Ternyata… mbak itu setiap minggunya memang ada jadwal ke Chiang Mai untuk berbelanja berbagai bahan kebutuhan masakannya, jadi dia bersedia sambil membawa pesanan makanan saya.

Awalnya sih pesen makanan yang kira-kira bisa tahan lama seperti cemilan dan kue kering, lalu sekarang sudah bertambah banyak menunya termasuk makanan untuk lauk yang bisa dimasukkan freezer dan bisa jadi makanan untuk beberapa hari hehehe. Di saat himbauan untuk di rumah saja dan tidak kemana-mana seperti sekarang, saya tinggal penuhi kulkas dengan berbagai masakan dari si mbak.

Contohnya hari ini, saya sarapan pagi dengan lupis dan makan siang dengan gudeg nangka pakai telur dan tempe bacem. Supaya awet, lupisnya dikirim terpisah dengan kelapanya dan juga masih dibungkus daun pisang. Di Indonesia saya tidak pernah melihat lupis yang masih terbungkus daun pisang hehehe.

Jadi yang perlu saya lakukan tadi pagi hanyalah memanaskan lupisnya dan kelapa parutnya sebentar, dan tadaaaa sarapan tersedia. Untuk makan siang, saya juga tinggal memanaskan gudeg nangka dan telur, lalu menggoreng tempe bacem. Iya saya memang bisa bikin tempe bacem sendiri, tapi saya lebih suka memesan yang tinggal digoreng karena gak perlu repot mulai dari bikin tempe yang butuh waktu lebih dari 1 hari dan merebus tempenya jadi bacem.

Lanjutkan membaca “Makanan Indonesia di Chiang Mai”

Kosa kata Bahasa Indonesia Jonathan

Sejak kecil, Jonathan sudah kami ajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Di masa awal, dia sudah bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari lagu-lagu yang dia dengarkan dan buku yang kami bacakan.

Sekitar umur 3,5 tahun, kami masukkan Jonathan ke preschool Thai, dan dia pun mulai bisa berbahasa Thai selain Indonesia dan Inggris.

Setelah umur 4,5 tahun, kami masukkan dia ke sekolah Australia yang hanya menggunakan bahasa Inggris. Sejak saat itu, Jonathan hanya mau berbicara bahasa Inggris (dengan aksen Australia) dan semakin jarang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Thainya.

Sejak mulai homeschool, Jonathan mulai lagi berbicara bahasa Indonesia di rumah selain menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Thainya tetap jadi nomor 3 karena dia tidak punya teman bermain orang Thai (teman Thainya bisa berbahasa Inggris juga). Teman-temannya dari berbagai negara di grup homeschool umumnya bisa berbahasa Inggris. Jadi kalau di luar dia menggunakan bahasa Inggris, sedangkan di rumah bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris.

Setelah beberapa tahun homeschooling, Jonathan sudah semakin bisa berbicara bahasa Indonesia, tapi untuk membaca sampai sekarang (umur 9 tahun) saya belum ajari secara khusus. Kadang-kadang dia sudah mulai bisa membaca teks bahasa Indonesia, tapi dengan nada membaca yang agak aneh terdengar hehehe.

Hari ini, berhubung di Jakarta sedang banyak kegiatan sekolah di rumah, dan banyak aplikasi bahasa Indonesia untuk belajar yang digratiskan, saya pikir ini kesempatan yang tepat untuk mencobakan bagaimana kalau Jonathan harus sekolah dengan materi yang berbahasa Indonesia.

Jadi tadi pagi, dia duduk manis menonton depan handphone dan merasa bosan. Sesekali dia akan bertanya: ini apa artinya? itu apa artinya? Dan sayapun menyadari masih banyak sekali kosa kata bahasa Indonesia yang belum pernah Jonathan dengar.

Percakapan kami sehari-hari tidak pernah membicarakan kata-kata: pemulung, ataupun sumber daya alam, budi daya, unggul, deklamasi, makanan pokok dan banyak kata-kata yang ternyata saya juga butuh lama berpikir untuk menjelaskan dengan mudah.

Walaupun banyak tidak mengertinya, Jonathan mau mencoba mengerjakan soal latihan. Saya hanya menyuruh dia menonton kelas streaming pagi, tapi tanpa disuruh dia malah mengerjakan soal latihan Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA terpadu, sambil sesekali bertanya ini apa itu apa. Latihan soal yang dia kerjakan juga bukan dari materi yang dia tonton paginya, tapi ya saya biarkan saja.

Dari pelajaran hari ini, saya jadi tahu bagaimana meningkatkan kosa kata bahasa Indonesia Jonathan. Kasih aja terus soal latihan berbahasa Indonesia selama dia mau. Kalau ada yang tidak jelas jawabannya, bisa cari di wikipedia.

Hari ini dia jadi belajar apa saja makanan pokok di Indonesia selain nasi. Dia juga belajar batu bara itu bahasa Inggrisnya apa, dan berasal dari fosil apa batu bara itu. Ada juga pertanyaan mengenai pohon Jarak, yang mana saya juga tidak tahu apa bahasa Inggrisnya pohon jarak. Dan dia juga belajar apa kegunaan dari jahe, kunyit, dan daun jarak dan daun jambu biji.

Senangnya belajar homeschool itu ya begini. Minggu ini memang saya masih meliburkan dia dari kurikulum utama yang kami pakai, tapi tentunya akan saya pakai kesempatan untuk menambah kosa kata bahasa Indonesia sambil menambah pengetahuan umum yang mungkin tidak pernah saya ajarkan sebelumnya.

Ketika Joshua Ada Maunya

Polusi di Chiang Mai sudah membuat kami lebih sering di rumah saja daripada keluar rumah. Musim panas juga bikin tambah malas keluar rumah. Tapi sepertinya Joshua mulai bosan di akhir pekan kalau hanya di rumah saja. Entah ide dari mana, dia mengajak papanya untuk mencari tulisan atau bentuk ABC di sekitar lingkungan rumah. Dia menyebutnya Nature Walk ABC. Beberapa kali karena polusi, kami menolak ajakannya. Ketika polusinya hanya di level moderate, papanya ajak dia jalan keliling komplek.

Saya tidak suka memakai masker, dan Joshua juga tidak suka memakai masker. Memang memakai masker ini tidak nyaman. Makanya kami juga mengurangi jalan-jalan di luar rumah dan memilih di rumah saja dengan memasang filter udara. Kami sudah berusaha menjelaskan sebelumnya, tapi setiap kali kami pasang maskernya, Joshua akan langsung melepaskannya.

Yay, akhirnya mau juga Joshua pakai masker ketika polusi
Lanjutkan membaca “Ketika Joshua Ada Maunya”