Review Homeschooling Grade 3 Term 1

Mulai besok, saya memutuskan untuk meliburkan kegiatan homeschooling Jonathan. Pelajaran kelas 3 yang sudah dimulai sejak bulan Juli dengan jadwal mengerjakan workbook 4 hari seminggu berhasil menyelesaikan lebih dari target materi yang direncanakan semula. Rencananya term ke-2 akan dimulai setelah kembali dari Indonesia. Liburan panjang dulu kayak sekolah-sekolah juga kan ada liburan panjang hehehe.

Kegiatan homeschool grade 3 ini lebih banyak dikerjakan Jonathan secara mandiri. Kegiatannya masih seperti sebelumnya dimulai jam 9 pagi dan selesai sebelum jam 12 siang. Hari tertentu bisa selesai jam 1.30 karena paginya ada kegiatan les piano 1 jam di luar rumah. Dibandingkan tahun sebelumnya, sekarang ini jadwalnya sudah semakin jelas dan saya juga berusaha mencetak jadwal mingguan untuk Jonathan. Kami masih cukup fleksibel, tapi biasanya saya upayakan kalau tidak terpaksa kami tetap kerjakan semuanya dipagi hari.

Kenapa dipagi hari? biar siang hari bisa istirahat atau main-main atau kalau ada kegiatan luar rumah gak harus mikirin harus segera pulang supaya menyelesaikan pekerjaan sekolah. Kadang kalau terpaksa ya bisa juga diliburkan dadakan hahaha. Dengan kegiatan 4 hari sekolah 1 minggu dan rata-rata 3 jam sehari, rasanya Jonathan punya banyak waktu untuk membaca dan beristirahat. 

Dari target kurikulum yang kami pakai, berikut ini jumlah pelajaran yang sudah selesai:

  • Math 5 buku dari 10 buku
  • Reading 5 buku dari 10 buku
  • Language Arts 5 buku dari 10 buku
  • Bible 3 buku dari 5 buku
  • Science 5 buku dari 10 buku
  • Social Studies 4 buku dari 6 buku

Pelajaran Bible dan Social Studies semester depan bisa lebih cepat selesai. Tapi ada juga beberapa rencana yang tidak berlanjut. Awalnya kami ingin juga melakukan pelajaran ekstra dengan papa di malam hari, pelajaran story of the world dan science in the beginning. Tapi karena papanya lagi banyak kerjaan, dan basically pelajaran dari CLE sudah ada social studies dan science, maka kami putuskan menunda melanjutkan 2 buku itu. Rencananya nanti kalau ada waktu di term ke-2 kami akan lanjutkan pelajaran dengan 2 buku tersebut.

Bagaimana dengan nilai akademiknya? Dari hasil test yang dilakukan setiap pelajaran ke-5, ke-10 dan ke-16 (dalam 1 buku ada 16 pelajaran), rata-rata nilainya masih diatas 90. Walau nilai akademik masih bagus, masalah fokus belajar Jonathan masih kurang bagus. Kadang-kadang saya masih harus selalu mengingatkan dia supaya ga bengong, terutama di hari-hari di mana ada libur kejepit, pasti deh fokusnya bubar jalan lagi.

Tulisan Jonathan masih kurang bagus dibandingkan dengan anak seumurnya. Walau begitu, secara umum tulisannya sudah semakin baik, terutama kalau dia ga buru-buru menuliskannya. Mengikuti instruksi kadang masih suka terlewat, misalnya beberapa problem matematika dia masih skip kerjakan. Pengerjaan latihan speed drill matematika untuk persoalan pengurangan juga masih kurang baik. 

Pelajaran yang paling dia sukai sekarang ini Reading, Bible dan Social Studies karena bisa dikerjakan dengan sangat cepat. Untuk pelajaran math dia bisa mengerti konsep baru dengan cepat. Sejauh ini dia sudah mempelajari tabel perkalian sampai perkalian 12 dan mulai dikenalkan dengan konsep pembagian. 

Pelajaran diluar buku CLE, dia masih ikut kelas piano, taekwondo, kumon bahasa Thai dan kelas menggambar di Global Art. Term 1 ini juga kami mengikuti co-op selama 3 bulan dan dia belajar Beginning Gymnastic, What’s in the Bible dan Fun Science. Pelajaran yang paling dia suka di co-op itu Fun Science, karena setiap kali mereka mengadakan percobaan yang buat dia sangat menarik.

Dipikir-pikir, dengan jadwal homeschooling sekarang ini, Jonathan belajar cukup banyak. Yang kurang itu teman hahaha. Rencananya untuk tahun depan, saya akan masukkan Jonathan ke sebuah program di mana dia bisa bertemu dengan orang yang sama setiap minggunya. 

Kehidupan homeschooling kami juga sekarang ini masih sangat santai. Bangun tidak buru-buru, tidur malam tetap tidak lebih dari jam 10. Siang bisa istirahat. Setiap jumat sore bisa jalan-jalan ke park. Sabtu atau minggu masih bisa ke zoo atau jalan ke tempat lain sama papa. Rencana untuk menambah jadwal berenang belum juga dilaksanakan karena di tempat Jonathan dulu belajar berenang sedang tidak ada guru bahasa Inggrisnya. Saya mencoba mengajar sendiri, tapi dia lebih suka main-main kalau berenang dibandingkan belajar berenang.

Secara berkala kami masih tanyakan ke Jonathan apakah dia mau kembali ke sekolah supaya punya banyak teman (dengan jadwal harus bangun pagi, tidur awal, kemungkinan ada banyak PR). Tapi sejauh ini jawabannya masih sama: mau sekolah di rumah saja. Ah senangnya besok liburan homeschooling, artinya sayanya juga libur mengajar dan ingetin dia kerjain kerjaan sekolahnya hehehee.

Review Mesin Kopi Krups XP5210

Sejak di Chiang Mai, saya berkenalan dengan aneka jenis kopi. Dulunya di Indonesia saya hanya ngerti kopi instan. Starbuck baru marak ketika kami sudah akan ke Chiang Mai, dan karena harga Starbucks pada masa itu terasa mahal, saya ga pernah berpikir mencoba aneka kopi yang fresh dari biji kopi yang digiling sendiri. Paling banter dulu minum kopi tubruk hitam dikasih gula yang banyak supaya manis waktu masih di Medan kalau ada acara kumpulan orang batak hahaha.

Tentukan sendiri seberapa kental selera kopi kita.

Di Chiang Mai, ada banyak yang menjual aneka kopi produksi lokal yang fresh dari biji kopi yang baru dihaluskan. Ada yang organik maupun yang sudah dikemas menjadi franchise. Harganya juga variasi dari 35 baht/gelas sampe 200 baht/gelas, tergantung minumnya di mana dan tokonya punya nama atau tidak. Awalnya saya ga merasakan perbedaan rasa kopi murah dan mahal, apalagi kalau kopinya dikasih es yang banyak dan super manis karena dicampur gula dan susu kental manis. Lah biasa juga minum susu instan.

Lanjutkan membaca “Review Mesin Kopi Krups XP5210”

Big Bad Wolf di Chiang Mai

Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sejak beberapa minggu lalu sudah berencana buat ke acara Big Bad Wolf Book Sale yang pertama kali diadakan di Chiang Mai. Selama ini cuma dengar ceritanya saja. Sebenarnya, buku di rumah sudah banyak, masih banyak juga yang belum selesai dibaca, tapi rasanya sulit menolak kesempatan melihat lautan buku.

Lautan Buku BBW Chiang Mai

Jadwal BBW itu seharusnya dimulai tanggal 30 November – 9 Desember 2018, tapi untuk hari ini mereka membuka untuk presales buat sebagian yang mendapatkan VIP Pass. Tapi kalau dilihat lagi, mereka tidak terlalu mengecek apakah yang datang punya VIP Pass atau tidak. Bagusnya datang hari ini masih belum terlalu ramai dan bisa lebih leluasa untuk browsing buku.

Lanjutkan membaca “Big Bad Wolf di Chiang Mai”

Kota Mana di Indonesia?

Awal datang ke Chiang Mai kami ga kepikiran bakal tinggal lama dan betah di sini. Waktu itu kontrak kerja Joe diawali dengan 4 tahun, dan karena kami baru menikah dan belum punya anak, ya saya bilang sama Joe kalau kita tinggal di sini sampai kalau anak-anak masuk SD. Waktu itu saya belum tahu apa itu homeschooling dan tidak terpikir bakal betah di kota yang bahasanya susah dibaca dan susah diucapkan.

Saya gak tahu, kapan persisnya kami akhirnya merasa betah di Chiang Mai dan malah mulai prefer stay di sini daripada pulang. Masalahnya, kalau ditanya: kapan pulang dalam arti kapan kembali ke Indonesia? saya sekarang tergantung pekerjaan Joe saja. Sekarang ini kontrak kerja Joe sifatnya permanen alias selama masih mau kerja di perusahaan di sini. Tapi jawaban yang kami belum bisa tentukan adalah: kalau pulang ke Indonesia bakal tinggal di mana?

Pertimbangan pertama: Jakarta. Saya ga pernah tinggal di Jakarta. Mertua rumahnya di Jakarta pinggiran, tapi ya kalau tinggal di sana kemungkinan stressnya bakal ga jauh beda dengan tinggal di Jakarta. Stress jalanan macet tentunya. Saya ga tahu, kalau tinggal di sekitar Jakarta saya akan berani nyetir atau nggak hehehe. Kemungkinan kalau terpaksa ya bakal nyetir juga kalau emang punya mobil. Kalau kata Joe, tenang aja, sekarang banyak Grab dan GoCar, kita pakai jasa taksi online aja, jadi ga harus stress nyetir di jalan.

Positifnya kalau tinggal di Jakarta, dekat dengan keluarga Joe. Gampang kalau berkhayal mau sering jalan-jalan keliling dunia urusan visa pastinya diurus di Jakarta dan kebanyakan penerbangan berangkat dari Jakarta. Karena kemungkinan besar kami akan memutuskan homeschooling, kemungkinan masalah antar jemput anak sekolah ga akan jadi masalah. Sekarang ini praktisi homeschooling juga semakin banyak di Indonesia, kemungkinan mencari kelompok homeschool gak akan jadi masalah. Di Jakarta banyak sepupu yang hampir seumuran dengan JoJo, jadi pasti ada teman bermain tetap paling nggak sekali seminggu.

Pertimbangan ke-2: Bandung. Sebelum kami tinggal di Chiang Mai, kami berdua lama tinggal di Bandung. Tapi ini ada keraguan, karena terakhir kali kami mengunjungi Bandung, kotanya sudah berbeda sekali dengan yang kami ingat. Jalanannya juga sudah jauh lebih macet. Plusnya, kalau pindah ke Bandung, biarpun macet pastinya ga akan semacet Jakarta. Kalau misalnya, ini misalnya, Joe pengen kembali terlibat mengabdikan diri mendidik mahasiswa menjadi programmer yang bener, ya bisa apply lagi buat jadi dosen heheh.

Pertimbangan lain: Medan, Laguboti, Solo, Batam, Bali. Sebenernya gak gitu pengen pindah ke Medan. Saya meninggalkan kota Medan sudah puluhan tahun lalu. Rute angkot saja saya sudah lupa semua, padahal dulu setiap hari keluar masuk sambu ehhehehe. Salah satu yang dipertimbangkan juga ke Desa Sitoluama, terlibat dengan DEL yang dulu pernah terlibat sebentar. Apalagi sekarang kan kabarnya bandara udara Silangit juga sudah selalu ada penerbangan setiap harinya ke Jakarta.

Kota Solo/Sukoharjo juga sempat jadi pertimbangan. Dengar-dengar kotanya cukup nyaman karena kecil dan ga terlalu crowded, tapi sejak dulu di pegang Jokowi, kotanya jadi cukup maju. Kota Solo juga dekat dengan kampung halaman Joe. Masalahnya kalau tinggal di Solo atau Sukoharjo, nanti saya harus belajar bahasa Jawa dong, padahal bahasa Batak aja saya udah menyerah ga pengen belajar hahahaha.

Sempat mempertimbangkan Batam juga. Konon Batam karena dekat dengan Singapur, banyak hal juga sudah cukup maju. Tapi sejauh ini kami gak tahu apa-apa soal Batam karena belum pernah ke sana. Kepikiran juga Bali, kemaren liat ada yang bilang kalau Bali itu kota untuk digital nomad juga seperti Chiang Mai. Tapi ya baru pernah sekali ke Bali, jadi ga punya kesan mendalam juga. Kemungkinannya memang bakal mirip Chiang Mai, banyak expat, banyak kuil, banyak tempat pijat dan alamnya indah yang merupakan tujuan wisata.

Sampai sekarang, kami tetap gak merasa klik dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada. Rasanya tinggal di Chiang Mai masih jauh lebih nyaman. Kota yang santai dengan akses internet cepat. Gak banyak mall, banyak coffee shop yang rasanya lebih enak daripada Starbuck dengan harga yang lebih murah dari Starbuck. Banyak komunitas homeschoolers, secara umum ga terlalu macet (sekarang ini macet cuma kalau jam keluar masuk sekolah).

Jadi karena belum bisa memutuskan mau tinggal di mana kalau pulang ke Indonesia, dan ya di sini pekerjaan juga masih ada, ya kami memutuskan untuk tinggal di sini selama kami punya ijin tinggal. Nantinya kalau memang tiba saatnya untuk memutuskan pulang ke Indonesia, semoga sudah menemukan alasan yang kuat untuk memilih kota yang akan menjadi tujuan berikutnya.

Chiang Dao Trip part 2

Tulisan kali ini melanjutkan cerita liburan kami ke Chiang Dao bersama teman-teman komunitas Indonesia di Chiang Mai. Setelah hari sebelumnya kami menjelajah goa Chiang Dao yang lumayan bikin kaki pegel, pagi hari kami bangun agak santai. Sebenarnya ada ajakan untuk melihat lautan kabut jam 5.30 pagi, tapi rasanya tak sanggup untuk bangun sepagi itu hehehe. 

Ada keanehan dengan ayam jago di Chiang Dao, mereka mulai berkokok dari sejak jam 1 pagi. Untungnya anak-anak ga jadi terganggu dari tidurnya dan saya juga tetap bisa tidur dengan nyenyak. Udara menjelang pagi di sana cukup dingin, tadi pagi kami bangun udaranya masih sekitar 20 derajat celcius. 

Karena rombongan tidak ada rencana pergi pagi-pagi, kami memutuskan sarapan di penginapan saja. Kami membawa mie instan cup, ada juga yang bawa roti dan bisa juga membeli sereal di penginapan. Selesai sarapan, anak-anak melakukan eksplorasi disekitar penginapan. Di halaman penginapan kami ditanami sayur-sayuran dan juga mereka mempunyai sebuah ruangan hidroponik.

Di sekitar bungalow ada banyak tanaman bunga dan anak-anak menciptakan permainan sendiri dengan mengamati jumlah kelopak bunga. Saya sempat dengar salah seorang berimajinasi begini: kalau kamu menemukan bunga dengan 4 kelopak, kamu bakal dapat keberuntungan. Lalu mereka juga punya teori mengenai besar kelopak bunga ataupun warnanya. Mereka sangat serius dengan permainan detektif memeriksa kelopak bunga dan mencari petunjuk untuk misteri yang saya kurang tau apa misterinya hahaha.

Sekitar jam 10.30 pagi, kami semua sudah siap-siap cek out dari penginapan menuju lokasi adventure berikutnya. Ada beberapa pilihan yang disarankan oleh Google Trip, salah satunya adalah melihat Wat Tham Pha Plong. Temple ini lokasinya tidak jauh dari penginapan, dan dari reviewnya mendaki 500 lebih anak tangga dengan reward pemandangan yang indah. 

Rasa pegal hasil eksplorasi goa hari sebelumnya masih terasa di kaki bagian atas, tapi ya masa sih 500 tangga saja ga bisa. Maka kami memutuskan ayolah kita naik ke atas, toh undakannya kecil-kecil, pastilah ga seberapa dibandingkan eksplorasi goa kemarin. Dan ya, setelah 200 tangga pertama, saya sebenarnya hampir menyerah hahaha. 

Di sepanjang jalan, ada banyak tulisan-tulisan yang menyejukkan dan menyemangati. Di peristirahatan setelah tangga ke 200, disediakan balsem kalau ada yang membutuhkan. Setelah tangga ke 200 itu ada pemberitahuan dan penyemangat kalau 300 tangga berikutnya akan lebih mudah. Dan memang benar, karena setelah 200 tangga non stop naik, ada beberapa tangga menurun sebelum akhirnya naik dan naik lagi. 

Di tangga entah ke berapa, ada peristirahatan lagi, kali ini Templenya sudah kelihatan. Lagi-lagi tergoda untuk berhenti saja sampai situ. Tapi Joshua masih semangat bilang, up mama, up papa. Jonathan dan beberapa anak lain juga kayak ga punya rasa capek, mereka sudah duluan agak jauh di depan dengan salah satu teman kami.

Setelah sampai di atas, rasanya senang sekali kami tidak menyerah di tengah jalan. Saya perhatikan, sebelum sampai ke puncak, mereka cukup memikirkan para pengunjung, sekitar beberapa puluh tangga sebelum puncak, tersedia air minum gratis, dan juga ada toilet untuk umum. Saya kagum dengan cara mereka merawat tempat itu, padahal untuk masuk ke tempat itu tidak dipungut biaya sama sekali, mereka hanya membuat kotak donasi untuk siapa yang ingin donasi saja.

Setelah menghabiskan beberapa menit di daerah temple untuk beristirahat dan foto-foto, kami memutuskan untuk turun. Tentunya, perjalanan turun tidak seberapa dibandingkan perjalanan naik, walaupun kaki rasanya mulai sakit lagi. Untungnya ada pegangan di sepanjang tangga. Joshua juga cukup bisa jalan sendiri, dan tidak seperti waktu di goa yang minta digendong terus.

Sampai di bawah, waktu sudah menujukkan pukul 12, kami memutuskan untuk makan di sekitar situ juga, supaya setelah itu bisa langsung pulang ke Chiang Mai. Tentunya semua sudah kehabisan tenaga untuk eksplorasi berikutnya. Restoran yang kami pilih, merupakan restoran dari penginapan di sekitar goa di Chiang Dao juga. Suasana restoran The Nest 2 juga cukup nyaman. Selesai makan, anak-anak masih bisa bermain di sebuah pondokan yang menyediakan mainan untuk anak-anak. Mungkin lain kali ke Chiang Dao, bisa juga dicoba untuk menginap di The Nest.

Setelah puas makan dan bermain, kami pun kembali ke Chiang Mai. Kali ini, karena tidak ada rencana untuk berhenti mengunjungi tempat tertentu, kami menyetir santai saja. Berangkat dari The Nest 2 sekitar jam 2.30 dan tiba di rumah jam 4 lewat dikit (hampir persis 90 menit). Weekend yang menyenangkan walaupun agak pegel-pegel hehehe. Mungkin lain kali kalau ke Chiang Dao bisa benar-benar untuk relaks dan bukan untuk adventure ataupun eksplorasi yang menyebabkan badan kaget karena biasanya ga rutin olahraga tiba-tiba diajak eksplorasi goa dan naik 500 anak tangga hehehe. 

Chiang Dao

Hari ini, kami jalan-jalan ke Chiang Dao bareng temen-temen Indonesia di Chiang Mai. Cuma 4 keluarga Indonesia, ga sebanyak rencana semula. Tapi ada 1 teman dari teman, keluarga Thai Singapura, jadi total ada 9 orang dewasa dan 7 anak-anak berusia antara 3.5 tahun – 8 tahun.

Doi Chiang Dao

Chiang Dao lokasinya gak jauh dari Chiang Mai sekitar 80 km atau 1.5 jam driving, tapi ini kali pertama buat kami ke sini. Kami berangkat santai, sekitar jam 10 dari rumah, dan karena berhenti dulu di jalan, kami sampai di penginapan sekitar jam 12 siang. Kami menginap di Chiang Dao Story Camp,  tidak jauh dari tujuan wisata Chiang Dao Cave.

Sebagian dari rombongan memilih tenda dan sebagian tinggal di bungalow sederhana. Setelah menurunkan bawaan, kami memutuskan untuk makan siang di dekat tempat wisata tujuan utama di Chiang Dao, Selesai makan dan istirahat, sekitar jam 2.30 kami pun memutuskan masuk ke Goa di Chaing Dao.

Bungalow di Chiang Dao Story Camp

Sebenarnya, saya dan Joe bukan orang yang terlalu suka adventure, tapi kami pikir, ya sesekali melihat goa supaya Jonathan melihat stalaktit dan stalagmit dan juga kami pikir kebanyakan tempat wisata di Thailand sudah cukup dirapihkan, jadi tidak akan terlalu sulit. Tapi ternyata….cukup sulit hahaha.

Biaya masuk ke dalam Goa, harga Thai 20 baht, harga asing 40 baht, anak-anak gratis. Di dalam goa, kami bisa menyewa guide yang juga akan membawakan lampu petromax. Biaya guide 200 baht untuk 5 orang, dan lampunya 200 baht. Karena kami ada 9 orang dewasa, kami menyewa 2 orang guide (2 lampu). Oh ya, bagian goa ini ada 2, bagian yang masih sangat asli tanpa lampu dan bagian yang sudah dipasang lampu di sepanjang goanya.

Awalnya jalannya cuma naik tangga biasa, saya pikir, oke ini cuma bakal capek naik turun saja,. Lalu di bagian dalam, mulailah jalannya pun tidak rata dan kadang agak licin. Lalu ada bagian di mana kami harus menunduk untuk bisa masuk ke bagian goa berikutnya. Ada 3 pintunya dan bagian pertamanya merupakan pintu paling gampang.

Explorasi Goa sambil gendong anak 22 kg.

Pintu ke-2 berupa lorong sekitar 1 meter. Untuk melewati bagian ini, bener-bener perlu keterampilan merangkak. Kalau ga malu sama yang lain, saya sudah pengen balik kanan pulang hahaha. Ternyata pintu masuk goa ke-3 lebih sulit lagi karena walau lorongnya agak lebih besar dari yang sebelumnya, tapi ternyata lorongnya lebih panjang. Di bagian ini, saya salut dengan Joe yang bisa sambil bawa Joshua melewati lorong goa nya.

Selanjutnya rutenya cukup mudah. Dalam hati saya cukup yakin jalan keluar goa nya pasti bukan dari jalan yang sama dengan masuk dan akan lebih mudah rutenya. Asumsi saya ada benarnya, tapi ternyata tidak lebih mudah karena kami harus turun melewati tangga yang cukup terjal, yang untungnya sebagian besar ada pegangannya (sebagian hanya cukup 1 orang lewat dan sebagian anak tangga sangat tinggi bahkan untuk saya. Di bagian ini saya pikir, mungkin lebih mudah kalau keluar dari jalan masuknya tadi, saya salut melihat guidenya bisa melewati rute dalam goa dengan memakai sendal jepit!.

Singkat cerita, sampai di luar goa kami ditawarkan untuk melihat bagian goa yang sudah terpasang lampu-lampunya. Tapi ya semua sudah letih, terutama Joe yang sebagian besar harus menggendong Joshua yang sudah 22 kg. Salut dengan Joe bisa turun tangga sambil gendong anak. Salut juga dengan Jonathan bisa turun tangga yang sangat curam (kayaknya saya lebih deg2an dibanding Jonathan).

Sampai penginapan, sorenya kami makan bersama barbeque-an. Teman-teman rombongan sangat berpengalaman mempersiapkan acara begini. Mereka sudah mempersiapkan daging dan sayur-sayuran untuk dipanggang dan saya bisa tinggal makan hehehe. Bersyukur kalau hari ini cuacanya cerah dan tidak hujan seperti prakiraan cuaca pada saat kami memutuskan untuk jadi jalan-jalan hari ini.

Oh ya, sedikit catatan, walaupun ada iklan 4G di pintu masuk goa, tapi Joe mengecek begitu masuk ke dalam bagian goa yang gelap, gak ada tuh koneksi internet sama sekali hehehe. Kirain iklannya itu menunjuukan mereka sudah memasang hotspot di banyak tempat di dalam goa.

Secara keseluruhan, pengalaman hari ini anak-anak cukup enjoy berlari-larian dan bermain bersama. Tapi kayaknya saya ga akan masuk goa di Thailand lagi sampai anak-anak cukup mandiri dan bisa membantu saya nantinya hahahaha.

Mini PC + TV + HP Xiaomi = Smart TV

Konfigurasi entertainment centre kami sekarang ini memakai Mini PC Windows yang dihubungkan ke TV (via HDMI). Awalnya dulu, kami memasang keyboard wireless ke mini pc nya untuk memilih menu Kodi, Netflix ataupun nonton YouTube di browser. Tapi, masalah dengan yang namanya remote, sama saja dengan keyboard. Kadang-kadang ga ketemu terselip entah di mana, sering juga pas butuh eh baterenya habis.

Mini PC nya kotak hitam di samping mobil-mobilan hijau

Setelah dipikir-pikir, gimana kira-kira supaya mau nonton ga kelamaan nyari remote atau keyboardnya. Untungnya Joe kepikiran untuk mencari aplikasi remote mouse untuk Android. Walaupun namanya remote mouse, tapi dari aplikasi ini, kita juga bisa mengetikkan sesuatu kalau dibutuhkan. Pengaturan aplikasi ini cukup gampang. Baik Mini PC dan HP Android terkoneksi ke jaringan lokal yang sama kalau dirumah. Jadi waktu menyalakan aplikasi ini, kita bisa langsung menemukan Desktop mana yang perlu kita akses secara remote. Selanjutnya ya sama seperti mouse di komputer biasa.

Remote Mouse bisa jadi keyboard juga

Aplikasi remote mouse ini gratis, tapi ada iklannya. Iklannya kecil di bagian atas. Tapi karena dipakainya cuma untuk meremote Mini PC di TV, saya ga terlalu terganggu dengan iklannya. Selain sebagai mouse, seperti saya sebutkan sebelumnya, dari aplikasi ini kita juga bisa mengakses keyboard misalnya untuk mencari kata kunci tertentu di YouTube. Kita juga bisa berpindah aplikasi dengan cepat.

Pindah aplikasi

Masalah berikutnya, kadang-kadang kami juga ga nemu remote TV nya di mana. Sejak memakai Samsung Note 4 yang memiliki fitur infrared, saya jadi agak ketergantungan mencari HP yang ada fitur IR blaster untuk remotenya. Waktu tau hampir semua HP Xiaomi masih punya fitur IR, saya senang sekali. Setiap mau nyalain TV ga perlu repot-repot lagi mencari remote. Tinggal pake HP aja jadi remotenya. Untuk Xiaomi, nama aplikasinya MiRemote. Selain untuk remote TV, bisa juga untuk remote AC atau benda apapun yang di remote dengan infrared.

MiRemote untuk TV

Jadi sekarang ini, di dekat TV kami pasang Mini PC yang terhubung ke jaringan rumah. Mini PC ini kami biarkan selalu menyala. Pemakaian daya mini pc tentunya tidak sebesar pemakaian komputer, jadi tidak masalah kalau dibiarkan menyala. Setiap mau menonton, cukup nyalakan TV dengan MiRemote, atur suara TV juga dengan MiRemote, lalu untuk memilih menonton via YouTube atau Netflix, Iflix ataupun Kodi, kami pilih menunya dengan remote mouse. Biasanya sih HP selalu berada dalam jangkauan dan jarang keselip seperti halnya remote-remote lainnya.  Dengan mini PC, dan HP Xiaomi, TV biasa kami yang sudah berumur lebih dari 6 tahun disulap jadi smart TV deh hehehe.