Wanita

Hari ini baca artikel di detik yang berjudul: PKS Godok Wacana Gerbang Kereta Khusus Wanita. Ada banyak hal yang langsung terlintas di benak saya membaca judul tersebut. Mulai dari yang positif tapi kebanyakan negatif. Wanita itu katanya lebih lemah dari pria, jadi perlu dilindungi (padahal kalau saja pria disuruh mengalami apa yang dialami wanita, pasti mereka ga lebih kuat). Memang, kulit pria lebih tebal dan kasar sedangkan wanita kulitnya lebih halus, tapi itu lebih karena wanita diciptakan lebih indah dibanding pria.

Yang saya bayangkan begini: kalau ada kereta api khusus wanita, maka semua orang yang ada dalam kereta api adalah wanita. Bukan hanya penumpang wanita, tapi masinis sampai dengan tukang bersih-bersih harus wanita. Kenapa begitu? bayangan saya adalah sama saja dengan salon yang pernah saya datangi. Ada ruang khusus wanita di salon itu, dan bayangkan kerusuhan yang terjadi ketika seorang pria yang hendak mengambil handuk kotor masuk ke ruangan (ruangan khusus wanita ini biasanya lebih disukai oleh wanita yang mengenakan kerudung dalam kesehariannya). Lalu bayangkan kalau ditengah perjalanan terjadi masalah teknis, atau hal-hal yang tidak diinginkan, let say ada kejadian seorang wanita menjadi beringas dan hendak mendorong wanita yang lainnya keluar, jangan-jangan tidak ada yang berani melerai malah ada yang ikutan bantuin dorong, atau malah cuma bilang : “eh lihat, ada yang dorong-dorongan tuh”, atau yang mau nolongin malah ikut jadi korban. Saya tidak bilang wanita tidak mampu melakukan semua hal tanpa pria(justru pria yang tidak akan bisa melakukan semua hal tanpa wanita), tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Mungkin saya berpikir terlalu jauh, apa sih yang akan terjadi dalam ruang kereta api khusus wanita? Ada banyak hal yang mungkin saja terjadi, dan mungkin saja ada kejadian yang tidak baik. Pertanyaan berikutnya, apa yang akan terjadi kalau semua tempat saya datangi selalu diberi label khusus wanita? (demikian juga dengan khusus pria?). Kapan dan di mana lagi ada cerita “Perkenalan di Kereta”, atau “Pertemuan Pertama” (judul khayalan). Bayangkan kalau saya bersekolah di tempat yang khusus wanita, jangan-jangan akhirnya wanita hanya bisa bertemu pria ketika mereka dijodohkan dan orang yang pacaran tidak bisa melakukan kegiatan bersama (karena restoranpun dikhawatirkan menjadi khusus wanita atau khusus pria, tidak ada makan malam romantis dong :P). Yang lebih parah lagi, apa ga kuatir kalau dalam gerbong khusus wanita ada penyuka sesama jenis? Apakah mereka juga harus dibuatkan kereta khusus?. Lebih parah lagi karena wanita lebih sering ketemu wanita saja, jangan-jangan akan tambah banyak penyimpangan kecenderungan menyukai sesama tersebut (dan di kalangan pria juga akan terjadi hal yang sama).

Intinya, sesuatu yang seragam itu tidak selalu baik. Jangan beri kotak buat gender. Jangan terlalu menjadi pahlawan dan merasa wanita perlu di simpan saja dalam sangkar (bahkan yang terbuat dari emas sekalipun) untuk menjaga wanita. Wanita tidak selemah itu. Saya pribadi sebagai wanita tidak suka dalam komunitas yang terlalu banyak wanita (contohnya di kost saya). Terlalu banyak gossip, bisik-bisik tetangga, rasa curiga dan rasa-rasa lain yang lebih menguras emosi. Saya lebih suka di saat saya terlalu emosional ada pria yang bisa memberitahu saya untuk menggunakan logika daripada menggunakan emosi.

Satu tanggapan pada “Wanita”

  1. mmm,aneh juga ya,sebagai sesama wanita knp malah gak suka ada gerbong kreta khusus wanita.:???:
    Liat dari tulisannya ko si ‘wanita yang gak s7 para rekan2 nya sesama wanita diwanitakan’ ini udah menyoroti buanyak kemungkinan negatif dan membutakan diri -serta pembaca- dari seabreg hal2 positif, seperti terhindarnya wanita dari pelecehan sexual, tertindas secara fisik (tergencet kanan kiri), korban kriminal (pencopetan tas). Memang gerbong khusus wanita gak menutup kemungkinan ada copet, tapi masalah yang lebih berharga dari itu, yaitu kehormatan diri bisa terlindungi dwuonk? kali si penulis ini gak pernah naek kreta or angkutan umum yang penuh n mesti berdiri yeh? pulang pergi naek mobil pribadi? yee,gak usah ngomong kalo bgitu :roll:, cobain dlu rasanya dilecehkan dkendaraan umum, baru nulis artikel bgini…!:mrgreen:
    Ya ampspun menanggapi ketakutan or lets say keparanoidan penulis tentang krusakan mesin,skarang ada telpon mbak! emang you kalo mbak pergi naek mobil pribadi bawa2 montir d bagasi? gak kaan? tinggal telpon, datang tuh montir. begitu juga d kreta.adaw, heran deh pemikirannya aneh n parno buanged,:lol: trus kalo ada yang lesbong,brp banyak sih? trus seberani apa sih mereka? heran,negatif banget pikirannya ya,gimana mau maju kalo pemikirannya always negatif bgicu mbaaak?:cool:
    yah,sebagai aktivis hak asasi wanita, aqu heran buanget aja dengan pemikiran wanita kaya mbak..:shock:
    mudah2an cuma satu d indonesia. jadi para feminis, seperti aqu and rekan2ku bisa menggolkan visi and misi luhur penghargaan kepada wanita, ibu dari peradaban manusia:wink:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.