Ngomongin Kdrama: When the Weather is Fine dan One Spring Night

When the Weather is Fine (WWF) dan One Spring Night (OSN) ini punya beberapa kesamaan. Keduanya bergenre drama romantis dan judulnya sama-sama terkait dengan musim. Kalau WWF mengisahkan musim dingin dan menunggu cuaca yang lebih baik, OSN mengisahkan musim semi yang biasanya dalam cerita banyak kisah cinta bersemi di musim itu. Kesamaan lainnya juga salah satu tokohnya bekerja yang berkaitan dengan buku.

Dari sejak awal, saya sudah ragu mengikuti WWF berdasarkan pengalaman nonton OSN. Memang jalan ceritanya tidak sama, tapi entah kenapa akhirnya buat saya tetap sama: saya berhenti di episode 8. Berhenti ketika tokoh utamanya akhirnya in relationship setelah 7 episode mereka tarik ulur dengan perasaan masing-masing walaupun dari awal terlihat sama-sama saling tertarik.

Jarang-jarang saya meninggalkan tontonan di tengah jalan, bahkan drama Melt Me Softly yang saya akui eksekusinya jelek, masih membuat saya penasaran dan pengen tahu kelanjutan dari kisah dramanya dan saya tonton sampai episode terakhir. Terus kenapa saya meninggalkan 2 drama terkait cuaca dan musim ini? Saya sampai berpikir: kalau ada drama lain yang berjudul seputar cuaca, jangan-jangan bakal sebelas dua belas nih. Sebelum menjawab kenapanya, saya tuliskan dulu resensi ceritanya (yang akan penuh spoiler).

Lanjutkan membaca “Ngomongin Kdrama: When the Weather is Fine dan One Spring Night”

Pandemi dan Kreativitas

Hari ini awalnya saya tidak ingin menuliskan yang berhubungan Covid-19. Saya tahu, sudah banyak yang bosan membaca seputar Corona ini, bahkan kabarnya banyak yang malahan jadi stress berlebih atau lebih dikenal dengan istilah psikosomatis.

sumber: @alexsandropalombo

Dalam usaha mengurangi pikiran tentang pandemi, di sosial media banyak yang berusaha mengajak menyebarkan tantangan dengan menampilkan foto ataupun cerita tentang topik-topik lainnya. Tantangan berantai ini sudah tentu tidak ada yang saya ikuti, karena saya tidak suka dengan segala bentuk pesan berantai.

Lanjutkan membaca “Pandemi dan Kreativitas”

Situasi Chiang Mai Saat Ini

Kemarin 25 Maret 2020, pemerintah Thailand mengeluarkan Emergency decree untuk mengatasi Covid-19. Isinya dalam bahasa Thai, tapi terjemahannya kira-kira seperti yang dibagikan oleh FB Australia in Thailand. Aturan ini diberlakukan di seluruh Thailand mulai 26 Maret sampai 30 April 2020. Masing-masing daerah boleh menambahkan aturan kalau dianggap perlu.

Ini bukan lockdown dan tidak ada curfew, banyak hal memang ditutup, tapi kebutuhan pokok seperti makanan masih tersedia dan kita boleh keluar untuk belanja. Rumah makan hanya boleh beli untuk dibawa pulang dan tidak boleh makan di tempat. Masyarakat dihimbau untuk tidak banyak keluar rumah kalau tidak dibutuhkan. Kalau situasi tidak membaik atau banyak yang bandel, ada kemungkinan diterapkan curfew 24 jam (semoga tidak sampai terjadi).

Beberapa jalan ditutup, supaya semua orang bisa melalui titik pemeriksaan, terutama untuk jalanan antar kota. Pemeriksaan ini lebih ke pemeriksaan suhu tubuh, untuk menghindari kemungkinan penularan antar propinsi.

Lanjutkan membaca “Situasi Chiang Mai Saat Ini”

Mari Hentikan Hoaks

Menurut KBBI, Hoaks mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber.[3] Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran.[4] Menurut Werme (2016), mendefinisikan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.[5] Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta [6]

Wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Berita_bohong

Dari jaman mailing list sampai jaman grup chat, selalu ada saja yang tidak melakukan saring sebelum sharing. Kecepatan jempol share baru baca, atau sekedar baca judul dan langsung ambil kesimpulan, membuat berita bohong menyebar dengan tak terkendali.

Di saat sekarang ini, terutama dalam masa wabah covid-19, hoaks semakin banyak mulai dari siapa yang tertular positif, di mana ada yang positif, apa obatnya untuk membuat tubuh kebal, sampai berita tentang pasien positif yang dikabarkan meninggal karena covid-19.

Belakangan ini banyak teman-teman saya yang bilang: “bosan baca berita Corona, semuanya menakut-nakutin”. Atau ada juga yang bilang: “capek deh menjelaskan ke orang yang suka sebar hoaks tentang corona, dikasih tau ngeyel”.

Periksa hoax atau bukan seputar corona di https://www.covid19.go.id/hoaks-buster/
Lanjutkan membaca “Mari Hentikan Hoaks”

Ngobrolin Kdrama: Itaewon Class

Siapa yang sudah nonton drama Itaewon Class ini? Kalau belum, tontonlah. Ada banyak yang bisa dijadikan quote dari drama itu. Seperti halnya semua drama, akan ada saja hal-hal yang kurang pas dengan prinsip kita, tapi daripada putar ulang CLOY melulu, lebih baik kita nonton drama baru.

Saya menonton ini tanpa ekspektasi apapun. Belum pernah baca sama sekali ataupun melihat video teasernya. Saya mulai mengikuti setelah dramanya ada 6 episode. Kalau lihat posternya di Netflix, saya sebenernya mikir: ah ini cerita anak muda pada hangout malam-malam di daerah klub malam ngapain sih, gak bagus nih pasti ceritanya. Iya, kadang-kadang saya cuma lihat sekilas terus bikin kesimpulan sendiri. Tapi karena waktu itu namanya lagi iseng, saya tonton deh episode 1 nya. Dan…loh kok ternyata alur ceritanya menarik ya. Genrenya bukan romcom pastinya, lebih ke cerita kehidupan tapi bukan melodrama – ah bener-bener males nyari info banget sih.

Tulisan kali ini mungkin akan banyak semi spoiler. Semua foto berisi quote yang ada saya ambil dari internet (dengan kredit tentunya), jadi ada kemungkinan bisa menebak sendiri. Tapi yang pasti, walaupun endingnya ketebak, jalan ceritanya tetap menarik untuk diikuti.

Drama ini ada beberapa bagian berisi adegan kekerasan dan terasa emosional tapi juga ada prinsip yang diajarkan seorang ayah ke anaknya. Anak yang melakukan prinsip yang diajarkan ayahnya, dan Ayah yang bangga dengan prinsip anak walaupun sebenarnya ada jalan yang lebih mudah untuk keluar dari situasi yang dihadapi.

Ceritanya dimulai ketika Park Sae Roi (PSR) pindah sekolah dari kota besar ke kota kecil. Di hari pertama dia masuk sekolah, dia melihat ada anak lagi dibully. Dia bantuin tuh yang dibully dan malah jadi berantem sama pembully. Naaah, ternyata si pembully ini anak orang kaya dan punya kekuasaan, makanya dia biasa bebas membully siapapun. Guru-guru dan teman sekelasnya tidak ada yang berani sama dia, kecuali PSR si murid baru.

Begini mulanya: Prinsip yang membuat ayahnya pun harus berhenti bekerja (sumber: @drama_johaa)
Lanjutkan membaca “Ngobrolin Kdrama: Itaewon Class”

Cerita Ibadah Online

Mulai hari Minggu kemarin, dan untuk 3 hari Minggu mendatang, gereja di mana kami biasa hadir mengadakan kebaktian melalui live streaming memanfaatkan YouTube broadcast. Selain sebagai tindakan pencegahan penyebaran covid-19, saya rasa tindakan ini bagus juga diambil mengingat polusi di Chiang Mai masih dalam level tidak sehat dan udara yang panas sekitar 39 derajat celcius. Sebelum ada live streaming ini, kami sudah beberapa kali bolos gereja karena polusi dan udara panas, jadi adanya live streaming ini tentunya saya sambut dengan gembira.

Acara live streamingnya dimulai pada jam kebaktian seperti biasa. Materi untuk anak-anak sudah dikirim sejak hari Jumat. Jadi kemarin karena sebelum jam 4 sore anak-anak sudah bangun, kami manfaatkan untuk memberikan materi untuk anak-anak terlebih dahulu. Membacakan ayat hapalan dan juga memutar video, lalu memberikan kegiatan mewarnai. Sebentar juga selesai hehehe.

Joshua membaca ayat hapalan
Lanjutkan membaca “Cerita Ibadah Online”

Makanan Indonesia di Chiang Mai

Setelah 13 tahun di Chiang Mai, dan tidak pernah ada restoran Indonesia yang harganya terjangkau dan bertahan lama, akhirnya sekarang saya bisa menikmati berbagai makanan Indonesia hampir setiap hari.

Biasanya sih harus menunggu kalau ada kumpul-kumpul Indonesia di Chiang Mai, masing-masing membawa makanan yang bisa mereka masak. Di saat itu sesekali bisa makan rendang, sayur pecel, bakwan ataupun lontong sayur. Tapi sekarang bisa lebih sering dan gak harus nunggu kumpul-kumpul, apalagi sekarang kan lagi dilarang tuh berkumpul-kumpul.

Ceritanya tahun lalu, di salah satu pertemuan masyarakat Indonesia di Chiang Mai yang digagas oleh KBRI Bangkok, saya berkenalan dengan seorang warga baru yang lokasi rumahnya kira-kira 1 jam perjalanan dari Chiang Mai dan ternyata jago masak.

Awalnya saya bercanda bilang: aduh coba mbak rumahnya di Chiang Mai, saya mau katering deh sama mbak. Ternyata… mbak itu setiap minggunya memang ada jadwal ke Chiang Mai untuk berbelanja berbagai bahan kebutuhan masakannya, jadi dia bersedia sambil membawa pesanan makanan saya.

Awalnya sih pesen makanan yang kira-kira bisa tahan lama seperti cemilan dan kue kering, lalu sekarang sudah bertambah banyak menunya termasuk makanan untuk lauk yang bisa dimasukkan freezer dan bisa jadi makanan untuk beberapa hari hehehe. Di saat himbauan untuk di rumah saja dan tidak kemana-mana seperti sekarang, saya tinggal penuhi kulkas dengan berbagai masakan dari si mbak.

Contohnya hari ini, saya sarapan pagi dengan lupis dan makan siang dengan gudeg nangka pakai telur dan tempe bacem. Supaya awet, lupisnya dikirim terpisah dengan kelapanya dan juga masih dibungkus daun pisang. Di Indonesia saya tidak pernah melihat lupis yang masih terbungkus daun pisang hehehe.

Jadi yang perlu saya lakukan tadi pagi hanyalah memanaskan lupisnya dan kelapa parutnya sebentar, dan tadaaaa sarapan tersedia. Untuk makan siang, saya juga tinggal memanaskan gudeg nangka dan telur, lalu menggoreng tempe bacem. Iya saya memang bisa bikin tempe bacem sendiri, tapi saya lebih suka memesan yang tinggal digoreng karena gak perlu repot mulai dari bikin tempe yang butuh waktu lebih dari 1 hari dan merebus tempenya jadi bacem.

Lanjutkan membaca “Makanan Indonesia di Chiang Mai”