Kenapa Nonton Ulang Drakor?

“What, nonton ulang? Kurang kerjaan bener deh. Ngapain nonton ulang 16 episode atau lebih? Nonton ulang film yang 2 jam sih masih bisa dimengerti, lah ini nonton ulang drama? Emang udah selesai semua drama yang lain ditonton makanya nonton ulang?” Mungkin begitulah komentar orang yang prinsipnya nonton itu tidak mau diulang, sama seperti baca buku cukup sekali, tapi tidak demikian dengan saya.

Daripada lama memilih, kadang-kadang saya pilih yang ada di Watch it Again nya Netflix

Saya terkadang lebih memilih menonton ulang daripada kelamaan mencari tontonan baru. Bukan hanya drama Korea, serial Amerika juga ada kok yang saya tonton ulang. Alasannya bisa bermacam-macam. Waktu nonton ulang, saya sering mendapatkan informasi baru yang sebelumnya tidak diperhatikan waktu nonton pertama.

Nonton ulang ini bisa nonton sebagian, nonton acak langsung di episode tertentu, atau nonton ulang dari awal sampai akhir. Beberapa judul yang pernah saya tonton ulang secara utuh itu misalnya: My Lovely Samsoon, Secret Garden, Hyde Jekyll and Me, What’s Wrong with Secretary Kim, Memories of the Alhambra dan Jealousy Incarnate. Beberapa yang saya tonton sebagian misalnya Her Private Life, Crash Landing on You, The Producers, dan Hospital Playlist.

Kembali ke judul, kenapa nonton ulang? kurang kerjaankah? Alasannya beda-beda. Tergantung situasi juga sih kenapa akhirnya nonton ulang, hehehe.

Continue reading “Kenapa Nonton Ulang Drakor?”

Cerita Supir Taksi di Bangkok tentang Pandemi Covid-19

Tulisan ini merupakan kelanjutan cerita ketika kami ke Bangkok akhir bulan Juni 2020 untuk mengurus paspor saya dan anak-anak. Setelah mengambil paspor dari KBRI Bangkok, kami memanggil taksi untuk mengantarkan kami ke bandara Don Muang. Kami naik pesawat dari Don Muang menuju Chiang Mai.

Di Taksi tetap menggunakan face mask

Jarak dari KBRI Bangkok ke Bandara Don Muang itu sekitar 22,5 km. Sepanjang perjalanan sekitar 1 jam, supir taksi bercerita tanpa henti dalam bahasa Thai dan sesekali berbahasa Inggris. Dari logatnya ketika mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris, saya dan Joe sepakat, kalau bahasa Inggrisnya si tukang taksi ini cukup lumayan. Tapi, karena saya selalu menjawab dalam bahasa Thai, tentu saja dia lebih memilih ngobrol dalam bahasa Thai.

Ceritanya mulai dari pertanyaan tentang situasi Covid di Indonesia, sampai pembangunan BTS Skytrain di Bangkok dari Don Mueang yang menuju ke pusat kota Bangkok. Tulisan ini sekalian juga untuk menceritakan ke Joe tentang apa saja yang diceritakan si supir taksi.

Karena kami naik taksi dari depan kedutaan Republik Indonesia, supir taksi langsung bertanya, “Kalian orang Indonesia ya? mau pulang ke Indonesia atau baru datang dari Indonesia?” Saya jawab kalau kami orang Indonesia tinggal di Chiang Mai, ke Bangkok untuk urusan surat-surat saja.

Supir taksi bertanya lagi, “Indonesia masih tutup karena Covid-19 kan? Saya baca, setiap hari ada sampai di atas seribu orang yang terkena Covid-19?” Saya menghela napas sebelum menjawab, “Iya, tiap hari sekarang ada di atas 1000 orang positif, dan totalnya sudah sekitar 50 ribu orang terkena.” Percakapan ini terjadi hari Selasa, tanggal 30 Juni 2020 lalu, pada waktu itu saya ingat sih 50 ribuan, ketika saya cek lagi ternyata saat itu sudah 55 ribu kasus aktif dan hari ini ketika saya menuliskan sudah lebih dari 60 ribu kasus positif di Indonesia.

Tentunya, reaksi si supir taksi sudah bisa saya duga. Dia membanggakan Thailand yang sudah tidak ada transmisi lokal lebih dari sebulan (hari ini sudah 41 hari tidak ada transmisi lokal), dan total kasus yang terjadi tidak lebih dari 4000 kasus. Dia dengan bersemangat menceritakan kalau sekarang ini sebenarnya dia bahkan berani tidak memakai masker karena sudah merasa aman, tapi ya karena aturannya masih menganjurkan memakai masker, maka dia menuruti saja.

Continue reading “Cerita Supir Taksi di Bangkok tentang Pandemi Covid-19”

KDrama, Meniru dan Ditiru

Hari ini topiknya seputar kokoriyaan lagi. Jadi topik ke-12 ini intinya tentang drama remake. Apa itu drama remake? Ya kalau versi saya drama remake itu kira-kira drama yang dibuat ulang, baik ditiru/diambil tokoh-tokohnya dan garis besar ceritanya sebagian atau keseluruhan.

Meteor Garden (atas) dan Boys over Flowers (bawah)

Drama Korea tidak semuanya asli idenya dari Korea, ada banyak juga yang merupakan tiruan dari negara lain dan bisa tetap sukses. Banyak juga drama Korea yang ditiru oleh negara lain (termasuk Thai dan Indonesia).

Salah satu faktor drama dibuat ulang itu tentunya karena cukup sukses di negara asalnya. Dari berbagai drama Amerika yang saya tonton, ternyata banyak juga yang ditiru dan dibuat ulang versi Koreanya. Misalnya saja Good Wife, Designated Survivor dan Suits.

Continue reading “KDrama, Meniru dan Ditiru”

Siapa Kalian? ITB! ITB! ITB!

Sekali-kali cerita tentang kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Mumpung ITB nya lagi ulang tahun ke-100 (3 Juli 1920 – 3 Juli 2020). Ceritanya panjang kalau mau diceritakan semuanya, jadi mending saya cerita apa yang teringat saja. Kalau mau baca cerita versi Joe, bisa baca di sini.

Beberapa hari ini, ada banyak teman-teman di Facebook yang ganti foto profil dengan bingkai 100 tahun ITB. Saya jadi menyadari ada banyak teman-teman alumni ITB di FB saya, tapi selama ini mereka tidak update status, mungkin mereka bikin akun cuma untuk baca-baca status yang lain saja.

Saya, tentu saja ikutan ganti foto profil dengan lambang gajah duduk itu. Terbayang kalau sekarang tidak sedang masa pandemi, kemungkinan akan ada perhelatan besar diadakan di kampus ITB. Usia 100 tahun itu istimewa, patut dirayakan, tapi ya karena pandemi, marilah meramaikan ulangtahun ITB ke-100 secara virtual di dunia maya.

Continue reading “Siapa Kalian? ITB! ITB! ITB!”

Variety Show Made in Korea

Selain drama, Korea juga memproduksi berbagai acara televisi lainnya, seperti variety show. Saya belum pernah menonton variety show made in Korea. Di rumah, yang suka menonton acara sejenis variety show itu Joe dan anak-anak, saya paling ikut melirik.

Biasanya mereka menonton acara yang ada di Netflix, seperti Nailed It! yang merupakan acara masak-masak kue dan The Floor is Lava yang merupakan permainan di mana pemainnya berusaha berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan berpura-pura lantainya penuh dengan lava, jadi tidak boleh jatuh kalau tidak mau masuk ke lava.

Mereka juga suka dengan acara sejenis White Rabbit Projects yang menceritakan tentang percobaan untuk mengulang sebuah teori tentang berbagai kejadian dalam sejarah terkait teknologi. Acara lain yang pernah juga kami tonton itu Street Food Asia, terutama episode makanan di Indonesia, Thailand dan Korea, sungguh menginspirasi bikin ingin mencoba apa yang ditampilkan di sana.

Lee Seung-gi dan Jasper Liu di Candi Prambanan, Yogyakarta dalam acara Twogether

Nah, setelah sekian banyak nonton acara variety show, saya tidak pernah terpikir untuk menonton variety show yang diproduksi Korea. Padahal ada banyak loh variety show dari Korea. Hari ini, untuk pertama kalinya saya menonton variety show Twogether yang bercerita tentang perjalanan Lee Seung-gi dan Jasper Liu dalam memenuhi misi traveling mereka sebelum bertemu dengan fans.

Kenapa akhirnya saya menonton acara Twogether? Demi menjawab tantangan tulisan dari grup drakor dan literasi. Walau judulnya drakor, topiknya kan seputar kokoriyaan. Aktor Korea juga banyak yang serba bisa, salah satunya Lee Seung-gi ini. Selain sebagai aktor, dia juga bisa mengarang lagu, bernyanyi dan jadi host acara variety show. Untuk Twogether ini, dia bakal berkolaborasi dengan aktor asal Taiwan Jasper Liu (yang sebelumnya saya belum pernah dengar namanya, hahaha).

Saya itu malas nonton variety show Korea karena belum pernah mencoba dan tidak terpikir untuk mencoba saja. Pernah lihat ada di Netflix yang nama acaranya Busted, waktu itu sempat terpikir untuk menonton karena kalau baca deskripsinya seru, aktor dan artisnya main-main jadi detektif begitu, tapi akhirnya belum jadi ditonton juga sampai sekarang.

Hari ini memutuskan menonton Twogether karena melihat ini acara terbaru dari Netflix. Acara ini baru release 26 Juni 2020 lalu, jadi benar-benar baru ya. Nah, iseng lihat episode pertama, awalnya agak merasa bosan, lalu ketika mereka disebut akan travel ke Jogjakarta, saya mulai tertarik untuk meneruskan menonton.

Lee Seung-gi ini tidak bisa bahasa mandarin, sedangkan Jasper Liu tidak bisa bahasa Korea. Sebelum acara ini, mereka sudah belajar beberapa kata dasar, tapi komunikasi mereka akhirnya lebih banyak dengan bahasa Inggris terpatah-patah. Karena acara ini produksi Korea, kebanyakan komentar yang muncul di layar ya menggunakan hangeul (untung ada subtitle Inggris dari Netflix).

Hal lain yang akhirnya membuat saya tertarik meneruskan menonton acara ini adalah ketika mengintip wikipedia dan membaca kota-kota yang mereka kunjungi. Selesai dari Jogja mereka akan ke Bali, dari Bali mereka ke Bangkok, lalu ke Chiang Mai. Walau saya bukan fans mereka, tapi membaca mereka travel ke Chiang Mai membuat saya jadi mulai penasaran pingin melihat kira-kira mereka mengunjungi apa saja di Chiang Mai.

Awalnya saya berniat langsung lompat ke episode di mana mereka mengunjungi Bangkok dan Chiang Mai, tapi kemudian waktu mereka mulai sibuk dengan misi-misi nya di Jogja termasuk mengunjungi Goa Jomblang, tube rafting di Kalisuci dan juga termasuk ke Prambanan saya mulai lupa dengan rasa bosan.

Walaupun mengunjungi Goa dan Tube Rafting bukan hal yang masuk dalam daftar tempat wisata yang ingin saya kunjungi, tapi jadi menarik karena mereka jadi mempromosikan tempat wisata di Indonesia. Saya jadi semakin kepingin tahu juga tempat wisata apa lagi yang akan mereka promosikan selanjutnya.

Mereka memproduksi acara ini mulai September 2019 lalu, jadi memang mereka membuatnya sebelum terjadi pandemi. Ada untungnya sih mereka sudah selesai produksi, jadinya sekarang ini walau tidak bisa travel, pemirsa di rumah bisa seolah ikut traveling bersama mereka. Setidaknya, kalau pandemi berlalu, kemungkinan tempat-tempat yang mereka kunjungi ada peluang semakin ramai dikunjungi wisatawan, minimal wisatawan yang ngefans sama Lee Seung-gi dan Jasper Liu, hehehe.

Lalu tadi, Jonathan ikutan menonton acara Twogether. Berhubung acaranya jalan-jalan di Indonesia, dan Jonathan sudah pernah ke Jogja (walau belum pernah ke Bali), ya kesempatan bagus untuk mengenalkan hal-hal yang menarik dari Indonesia. Walaupun bagian ketemu fans nya ya agak-agak ya gitu deh. Tapi bisa dimengerti, kalau aktor idola mengetuk pintu rumah, fans mana yang gak kehilangan kata-kata atau jadi nyengir-nyengir tiada henti.

Acara Twogether ini hanya ada 8 episode, dan belum tahu apakah akan dilanjutkan atau tidak. Tapi sebenarnya konsepnya menarik kalau pun aktornya diganti-ganti. Sepanjang 3 episode yang sudah saya tonton, saya tidak melihat mereka mengiklankan produk tertentu selain mengiklankan tempat wisatanya. Dalam acaranya diberitahukan dengan jelas harga tiket masuk ke tempat wisata yang dikunjungi dan apa saja fasilitas dari harga tersebut. Entah ya kalau sisa 5 episodenya bakal banyak product placement.

Tapi buat saya, acara ini bakal saya teruskan tonton, setidaknya bisa ditonton bareng Jonathan. Terutama karena episode berikutnya mereka akan jalan-jalan ke Bangkok dan Chiang Mai.

Kalau mau tau lebih banyak tentang berbagai variety show dari Korea, bisa baca tulisan teman-teman saya berikut ini: Dea, Gita, Lithaetr, Lala, Rijo, Lendyagasshi, RaniRTyas, Rian, Dian K, Ima, dan Dwi.

Ke Imigrasi Chiang Mai di Masa Pandemi Covid-19

Ini balada jadi penumpang di negeri Thailand. Setiap kita bikin paspor baru, selanjutnya kita harus memindahkan semua stempel yang pernah kita terima selama keluar masuk Thailand ke paspor yang baru. Kalau beberapa waktu lalu ke imigrasi untuk lapor diri 90 hari bisa dilakukan dengan drive thru, maka untuk urusan kali ini tidak bisa. Jadi harus parkir mobil dan menyelesaikan urusan ke loket.

Hari Kamis, 2 Juli 2020, waktunya memindahkan stempel dari paspor lama ke paspor baru yang kami urus di Bangkok akhir Juni. Saya tidak dapat parkir di area imigrasi, ya sudah parkir diseberangnya.

Berdiri 3 detik di pintu untuk disemprot sanitizer

Secara umum urusan hari ini berjalan lancar, jangan bandingkan dengan tahun-tahun awal kami di sini. Mulai dari mencari parkir juga lebih mudah, kalau parkiran di area imigrasi penuh, kita bisa parkir di seberangnya dengan membayar 20 baht. Ada banyak orang asing yang bisa berbahasa Inggris menjadi volunteer yang siap membantu kita mendapatkan formulir dan memberitahu persyaratan apa yang harus dilengkapi, lalu menyuruh kita ke loket tujuan.

Continue reading “Ke Imigrasi Chiang Mai di Masa Pandemi Covid-19”

Penerbangan Bangkok Chiang Mai Akhir Juni 2020

Tulisan perjalanan pulang ini sengaja dipisah dengan pengalaman berangkat. Walau beda sehari, ternyata persyaratannya berbeda. Secara keseluruhan, perjalanan pulang ke Chiang Mai lebih lancar dan tidak pakai kegiatan isi formulir yang bikin stress.

Pagi-pagi, saya tanya Joe jam berapa jadwal pesawat kami pulang. Joe bilang jam 5.50 sore. Lalu kami pikir, kalau berangkat dari daerah kota jam 3 siang, masih santai lah tiba di bandara sekitar jam 4-an. Tapi kemarin, setelah selesai ambil paspor jam 2 siang, kami pikir ya lebih baik awal deh ke bandaranya, lebih baik awal daripada terlambat dan siapa tau kena macet.

Jalanan di Bangkok sudah cukup ramai, tapi memang belum semacet dulu. Mungkin juga karena kegiatan sekolah baru di mulai tanggal 1 Juli dan kami berangkat di jam sepi, perjalanan cukup lancar dan kami tiba di bandara Don Mueang sekitar jam setengah empat, padahal kami tidak masuk jalan tol.

Suasana Don Mueang Bangkok, semua orang pakai masker

Awalnya saya pikir, ah masih terlalu awal sampainya, belum bisa untuk drop bagasi. Supaya anak-anak tidak capek, saya suruh mereka duduk dulu dan saya pergi ke counter untuk drop bagasi (kami sudah check-in online sebelum berangkat). Sebelum bertanya ke petugas, saya buka dulu email yang dikirimkan Joe sebelumnya. Ketika melihatnya saya kaget, loh ini jam berangkatnya jam 4.35, bukan jam 5.50 seperti Joe bilang.

Continue reading “Penerbangan Bangkok Chiang Mai Akhir Juni 2020”