Jauh Dekat itu Relatif

Kalau ditanya waktu belajar matematika atau fisika mengenai apa unit yang dipakai untuk mengukur berapa jauh sebuah jarak? jawabannya biasanya meter (atau konversinya ke cm, km tergantung jarak apa yang mau diukur. Tapi, sekarang ini, rasanya jarak tidak lagi diukur semata-mata dengan meter saja. Misalnya nih waktu di Jakarta, diajakin ke suatu tempat, kalau ditanya: eh kalau TMII jauh gak ya dari Depok. Jawabannya: deket kok, cuma sekitar 1 jam. Tapi kalau ditanya: eh kalau dari Monas ke Depok jauh ga ya? jawabannya: jauh itu, naik grab aja kalau lagi rush hour bisa 300ribu ongkosnya, belum lagi berjam-jam sampainya.

Sejak tinggal di Chiang Mai, kebanyakan tempat itu terasa dekat, terutama yang berada di sekitar rumah. Kalau nyetir gak sampai 15 menit walaupun jaraknya 15 km dari rumah, pasti berasa dekat. Kalau jarak tempuhnya 30 menit dekat atau jauh? ya tergantung di mana, kalau di Jakarta 30 menit itu dekat, kalau di Chiang Mai 30 menit nyetir itu terasa jauh (dan memang jarak yang ditempuh lebih jauh pada nyetir 30 menit di Jakarta).

Ada 1 lagi faktor yang bikin perasaan jauh atau dekat itu. Semakin sering kita ke suatu tempat, semakin dekat rasanya. Misalnya, dulu ke taman rajapreuk terasa jauh dari rumah kami, padahal ya nyetirnya 15 – 20 menitan, tapi setelah tahun lalu hampir setiap weekend main ke taman rajapreuk, tempat itu jadi dekat dari rumah. Ada lagi daerah turis di sini, tempat anak muda sering nongkrong, daerah Nimanhaemin, dulunya tempat itu terasa jauh buat kami (karena memang lalu lintasnya juga sering macet), tapi waktu Jonathan ke sekolah deket situ, akhirnya nemu jalan pintas dan jadi terasa dekat. Sekarang gimana rasanya setelah gak ke sana lagi tiap hari? ya mulai terasa gak jauh tapi juga gak deket-deket banget.

Masalah jarak tempuh ke suatu tempat di Chiang Mai sebenarnya sudah mulai ada perubahan juga. Kalau dibandingkan 12 tahun lalu, Chiang Mai yang sekarang ini jalannya tambah banyak. Jalan tambah banyak tapi juga volume kenderaan tambah banyak karena sepertinya penghuni kota ini juga bertambah banyak. Jam-jam tertentu, lalu lintasnya mulai terasa lama di jalan, tapi untungnya jalanannya tetap terjaga kualitasnya gak pada berlubang.

Dulu, di Bandung, rasanya ke mana-mana dekat. Tapi belakangan saya dengar Bandung mulai macet. Terakhir kami pulang, kami gak jadi ke Bandung karena katanya jarak tempuh Jakarta Bandung sekarang ini bisa sekitar 5 jam dan lebih baik naik kereta api daripada mobil sendiri atau bis. Nah sebenearnya ini pasti tergantung jam berapa juga, kemungkinan karena banyak yang gak mau bangun pagi misalnya, jadilah jalanannya penuh di jam orang normal bangun dan bikin jalanan macet. Jadi sepertinya dengan kemacetan yang ada membuat Bandung jadi Jauh dari Jakarta walaupun sudah ada jalan tol.

Dulu, pulang ke Indonesia itu terasa jauh sekali, apalagi karena belum banyak pilihan pesawat dan kadang-kadang transit itu harus nginap dulu karena jadwal pesawat gak ada yang pas untuk langsung sampai di hari yang sama. Beberapa tahun belakangan ini, sudah semakin banyak pilihan maskapai dan juga mau transit di mananya dan rata-rata bisa sampai di hari yang sama (yang beda cuma harga tiketnya saja). Harapannya di kemudian hari Chiang Mai terasa makin dekat dari Indonesia, walaupun jaraknya tidak berubah dari dulu kala.

Pantesan saja ya ada yang bilang jauh di mata bisa dekat di hati, karena jauh dan dekat itu relatif terhadap perasaan hehehe. Tulisan random ini sebenarnya sedang bersyukur bisa tinggal di kota Chiang Mai yang jarak tempuh ke tempat-tempat yang perlu kami kunjungi tidak terlalu lama dan atau terasa jauh.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.