The Sims…

Gue main the sims lagi… ada 4 anak dari Pleasant View yang dikirim ke university (aduh lupa nama uni nya). Mereka adalah teman sejak kecil, si kembar Angela dan Lilith Pleasant, Dirk (lupa marganya) dan Dustin Broke. Mereka hebat, setiap semester masuk dalam Dean List. Nilainya A+ dengan IP 4.0 melulu. Setiap hari mereka mengerjakan tugas dan term paper. Sementara gue? main the Sims dan makan mulu, kagak pernah work out hehe…

Ceritanya Angela dan Lilith anak kembar yang tidak akur. Kerjaannya teasing each other every day. Singkat kata mereka musuhan. Tapi karena gue paksa, akhirnya mereka bisa saling bercerita, bahkan hang out dan sekarang udah jadi temen (walaupun blum jadi best friends). Hebat ya…kalau dunia nyata ini mana ada yang maksain biar orang musuhan jadi akur. Buktinya…yang perang tetep aja perang, gak damai-damai sampai sekarang.

Ada teori yang bilang dunia ini adalah panggung sandiwara dan Tuhan sebagai sutradaranya. Main the Sims itu ibarat jadi sutradara yang nentuin tokohnya akan sukses atau nggak. Nah, ga pernah tuh gue mainin biar tokohnya gak sukses. Tuhan gimana ya? emang Dia merencanakan manusia perang? merencanakan kenaikan BBM biar rusuh? merencanakan manusia miskin? kayaknya gak gitu deh…

Ah..tulisan ini bisa jadi berat, soalnya yang nulis lagi lapar 😀

Hari-hari selanjutnya

Mulai bosan menulis tiap hari… padahal niatnya ingin konsisten menulis tiap hari, sekalian latihan menulis diary . Ternyata…pantas saja aku tak pernah bisa punya diary, wong aku ga bisa konsisten nulis tiap hari gitu loh..

Besok bakal sibuk seharian, setidaknya bisa pulang sore 😀 (semoga besok bisa menikmati mie pangsit…nyam nyam…)

Day 3 — A Cold Day

sunset
Brr…aku terbangun oleh hawa yang sangat dingin, ku tarik selimut untuk memberikan kehangatan lebih, tapi ternyata hawa yang sangat dingin itu tak mau pergi. Ku lirik jam di henpon, astaga belum juga jam 5 pagi. Ku paksakan diriku untuk tidur lagi, masih ada waktu 2 jam sebelum alarm berbunyi. Tapi ternyata sulit untuk tidur lagi, selama sisa 2 jam itu rasanya berkali-kali aku terbangun, dan…lagi-lagi karena dinginnya itu loh. Daripada ga bisa tidur, sebelum alarm berbunyi aku bangun saja, menggerak-gerakkan badan supaya lebih terasa hangat. Sikat gigi dan langsung mandi. Sebelum jam 8 udah sarapan dan siap menanti pasien lagi. Tiap hari seperti ini bukan sekedar 9 to 5 tapi malahan 8 – tired 🙂 Lanjutkan membaca “Day 3 — A Cold Day”

Day 2

area kampus
Hari ini sebenarnya tidurku masih belum cukup juga, tapi mulai terbiasa untuk memaksakan diri bangun langsung sikat gigi dan mandi tanpa mengisi perut dulu. Jam 8 kurang sudah sarapan di kantin dan jam 8 sudah sampai di ruang jaga menunggu pasien datang satu persatu (loh kata siapa yang punya pasien cuma dokter?) Hari ini tidak seperti hari kemarin, mungkin karena sudah memasukin kehidupan baru dan mulai pencarian hal baru, para siswa tidak lagi terlihat mengerubung di depan ruang dosen. Mungkin saja mereka menyempatkan diri untuk tidur lebih lama hari ini. Toh belum ada janji bertemu dengan dosen, ya toh? Lanjutkan membaca “Day 2”

Day 1

menunggu...
Suara ayam berkokok dengan nyaring membangunkanku. Aku menggeliatkan badan dengan malas. Masih terasa lelah dan pegal linu, ingin menarik selimut dan melanjutkan tidur lagi. Kurang tidur akibat perjalananan kemarin rasanya membuat badan tidak mau bekerjasama dengan otak. Setengah sadar…pengen nimpukin ayam yang berkokok, tiba-tiba teringat…argh…bodohnya aku itu bukan bunyi ayam berkokok, tapi bunyi alarm HP yang tadi malam ku set volumenya hampir penuh karena takut ga terbangun pagi ini. Huh…sudah waktunya bangun dong kalo begitu?. Lanjutkan membaca “Day 1”

Di Tepi Danau Toba, Daku Duduk dan Mengetik :)

Cerita dimulai ketika telepon genggamku berdering di suatu pagi menjelang siang yang cukup terik. Ternyata telepon yang sudah cukup lama dinanti-nantikan dan membuatku tak bisa membuat rencana yang fix. Perjalanan yang sudah direncanakan sejak beberapa minggu sebelumnya tapi belum mendapat kepastian akhirnya mendapat kepastian juga. Langsung telepon sana telepon sini untuk mengabar-ngabari dan memesan ini dan itu, tidak ketinggalan membeli beberapa peralatan ‘emergency’ untuk bertahan hidup selama 2 minggu di sebuah tempat yang konon katanya sangat tenang dan dingin tentunya, udara gunung dan hawa danau bercampur jadi satu. Lanjutkan membaca “Di Tepi Danau Toba, Daku Duduk dan Mengetik :)”