Text-to-Speech untuk mainan

Joshua sangat menyukai huruf dan angka. Di usianya sekarang (3 tahun) dia sangat suka alfabet. Dia bisa menyebut nama alfabet dalam bahasa Inggris dan Indonesia, bisa mengingat urutan alfabet  dari depan ke belakang dan sebaliknya, bisa menuliskan semua huruf besar dan kecil. Selain itu Joshua juga suka alfabet Thai, dalam sekitar 2 minggu dia sudah mengingat nama semua 44 konsonan dan cara menuliskannya.

Mainan ini bisa mengucapkan kata-kata tertentu, misalnya APPLE, BALL, dsb

Setelah suka alfabet, Joshua suka belajar membaca dan juga menulis, termasuk juga mengetik di komputer. Dia sangat senang dibelikan mainan tablet alfabet di atas. Mainan di atas disertai beberapa buku, di buku itu ada kata-kata yang bisa “diketikkan”, dan setelah selesai  kata itu akan diucapkan oleh tablet tersebut.

Sayangnya jumlah kata-kata yang tidak banyak dan Joshua sudah bosan dengan semuanya. Kadang dia berusaha mengeja kata tertentu tapi tidak keluar suaranya. Tadinya kepikiran untuk membongkar benda itu dan memodifikasi supaya support lebih banyak kata, tapi sepertinya repot dan akan butuh waktu lama.

Setiap kali dekat saya, Joshua akan minta ikutan ngetik di keyboard saya, dan kadang kalau saya sedang bekerja, saya biarkan dia memakai Pinebook , Raspberry Pi atau Laptop yang kebetulan ada di samping saya sekedar untuk mengetik di editor teks atau LibreOffice. Tiap kali mengetik sesuatu dia akan meminta perhatian saya sambil mengucapkan apa yang baru diketiknya: “papa, APPLE”

Supaya lebih seru, saya buatkan web app kecil  dengan JS dan PHP untuk mengucapkan kata yang baru dia ketik. Pengucapannya memakai fitur dari Google Translate. Tampilannya sangat sederhana: masukkan teks dan tekan enter, suaranya akan keluar. Joshua sudah mengerti memakai backspace untuk menghapus karakter yang sudah diketik.

Sebenarnya aplikasi ini tidak butuh server, bisa langsung tembak ke URL Google translate, tapi saya agak khawatir bisa kena rate limit atau ban temporer, atau bahkan protokolnya berubah sama sekali. Jadi saya buatkan sisi server untuk mengontak Google untuk mengucapkan kata-kata, dan menyimpan ke disk dan berikutnya jika kata yang sama diminta lagi maka akan diambil dari disk. Andaikan Google mengubah URL/protokolnya, nanti bisa diganti dengan Text-to-speech offline atau dari layanan lain.

Tampilan program

Kode program baik untuk sisi server maupun client hanya beberapa baris, tapi cukup menghibur Joshua selama beberapa bulan terakhir ini. 

Dan ini kode servernya

Kode singkat tersebut tentunya bisa ditambahi banyak fitur, tapi saat ini masih takut terlalu membingungkan untuk Joshua. Misalnya saya terpikir untuk menambahkan fitur warna pada teks karena dia suka menuliskan nama tokoh Paw Patrol dengan warna yang sama dengan warna pakaian mereka (Marshall merah, Chase biru, dst).

Untuk yang belum tahu: Google sebenarnya punya API text to speech yang resmi, tapi lebih rumit. Untuk sekedar mainan, cara “menembak” URL Google translate sudah cukup, tapi jika ingin dipakai untuk proyek serius, sebaiknya pakailah API-nya yang berbayar. 

Harddisk yang tidak pernah cukup

Ini sekedar cerita dan catatan kenapa desktop saya sekarang punya 3 SSD dan 3 HDD, dan kenapa saya punya komputer lain yang jadi server dengan 1 SSD dan 3 HDD. Ceritanya ini juga sekaligus jadi catatan untuk diri sendiri.

Singkatnya kalau Anda rajin bereksperimen seperti saya, ruang harddisk sepertinya akan selalu tidak cukup. Misalnya ingin mengcompile ROM Android (bukan aplikasi Android, tapi source code kernel, OS dan berbagai aplikasi Android yang membentuk ROM Android), satu versi saja butuh disk space 100 GB untuk source codenya dan 150 GB lagi untuk membuild-nya. Sedangkan untuk development aplikasi Android juga butuh space cukup banyak: folder .android saya (yang berisi SDK dan VM, tidak semua versi saya install) sudah 20GB.

Mengcompile Firefox? butuh 30 GB, Chromium butuh 100 GB. Belum lagi ketika eksperimen dengan Raspberry Pi atau yang lain: tiap backup 1 SD Card biasanya seukuran SD cardnya (umumnya saya memakai 8-32 GB, tergantung devicenya).

Bisa dibayangkan juga berapa lama perlu download source code semuanya. Setelah selesai bereksperimen tentu semuanya bisa dihapus, tapi berapa jam lagi harus download jika ingin mulai lagi? kadang masih lebih baik menyimpan versi lama dan ketika ingin bereksperimen dengan versi baru tinggal “git pull” (atau sejenisnya).

Selama lebih dari 5 tahun saya pernah eksklusif memakai Linux di Desktop, bahkan akan saya bela-belain memakai Wine untuk menjalankan aplikasi tertentu yang hanya jalan di Windows. Tapi sejak punya anak, saya ingin lebih banyak bekerja dibandingkan berantem dengan tool. Saat itu Windows sudah cukup bagus. Kebanyakan tools support Windows dan saya tidak perlu mengakali banyak hal, saya juga menyiapkan server Linux terpisah jika ada kebutuhan oprek di Linux. Sudah berkali-kali saya mencoba Linux di VM dan sering ada masalah kecil terutama jika sudah berusaha mengakses hardware, jadi komputer server terpisah lebih masuk akal.

Enam tahun yang lalu saya kembali memakai Windows di Desktop dengan SSD yang ukurannya cuma 60 GB. Tentunya ini nggak cukup untuk berbagai aplikasi dan virtual machine, jadi konfigurasi desktop saat itu:

  • 1 SSD untuk Windows (60 GB)
  • 1 HDD untuk data, program besar, dsb (1 TB)

Waktu itu server Linux dipakai untuk development Linux dan juga sekaligus server media yang berisi musik dan film (dulu Netflix belum masuk Thailand jadi kombinasi antara membajak dan rip dari DVD). Saya mulai dengan 1 HDD saja. Jadi konfigurasi server:

  • 1 HDD (OS + Data, 1 TB)

Suatu saat harddisk yang berisi data di desktop saya rusak, seingat saya itu baru kali pertama saya mengalami harddisk yang tiba-tiba error tidak terbaca tanpa ada gejala apa-apa. Untungnya sebagian data sudah dibackup, tapi tetap butuh waktu restore dan ribet bekerja dengan 1 SSD 60 GB saja. Saya tidak ingin kejadian seperti ini lagi: saya beli 2 HDD yang saya set dengan konfigurasi RAID-1, sekarang konfigurasi desktop:

  • 1 SSD untuk Windows (60 GB)
  • 2 HDD (RAID) untuk data, program, dsb (1 TB)

Saya memakai RAID software Windows, karena jika memakai RAID dari hardware (motherboard/BIOS) jika ada masalah maka recoverynya sulit dan sulit berpindah ke merk lain. Tapi lama-lama harddisk RAID ini penuh karena saya banyak bereksperimen dengan virtual machine (VM). Satu VM bisa belasan hingga puluhan GB. Belum lagi installer masing-masing OS untuk berbagai sistem operasi.

Nah masalah dengan RAID ini: jika ingin mengupgrade ukuran disk ya harus beli sekaligus 2 disk. Padahal kedua disk ini masih baik-baik saja. Jadi akhirnya saya putuskan: 1 HDD lagi untuk hal-hal yang kurang penting seperti installer, VM, source code open source. Kalaupun rusak tidak apa-apa, datanya bisa dibuat ulang atau didownload ulang. Jadi sekarang konfigurasi desktop:

  • 1 SSD untuk Windows (60 GB)
  • 2 HDD (RAID) untuk foto, dokumen penting (1 TB)
  • 1 HDD (non- RAID) untuk berbagai file besar yang kurang penting (2 TB)

Saya akhirnya mengupgrade SSD desktop dari 60 GB, jadi 180 GB, lalu kemudian jadi 480 GB karena makin banyak hal-hal yang perlu diakses dengan cepat. SSD lama saya pindahkan ke server dengan 2 tujuan: (1) Mudah upgrade kapasitas data karena Sistem operasi ada di SSD terpisah (tidak perlu reinstall/copy), dan (2) server akan lebih booting cepat dengan SSD. Jadi konfigurasi server:

  • 1 SSD (Linux, 60 GB)
  • 1 HDD (Film, musik, 1 TB)

Meskipun saya merasa desktop saya cukup powerful, tapi saya tidak bisa melakukan semua hal di desktop, contohnya: Development atau pentest aplikasi iOS. Saya punya Macbook dan hasil pekerjaannya perlu dibackup. Risna dan saya juga kadang bekerja memakai laptop, ini pun perlu dibackup. Saya memakai git untuk menyimpan source code, dan saya juga butuh backup database, dan berbagai file penting lain. Semua ini saya backup ke server.

Sebagai catatan: saya sudah memakai Dropbox, OneDrive dan Google Drive untuk backup data penting di cloud. Tapi saya juga tidak 100% percaya dengan cloud. Saya juga mengikuti berbagai berita cloud storage dengan seksama. Misalnya banyak yang tidak tahu kalo OneDrive dulunya tidak punya file history (dan kelabakan ketika kena malware) dan baru pada July 2017 mereka mengimplementasikan fitur tersebut. Bagi saya: lebih baik punya backup ekstra daripada ketika butuh file internet sedang mati atau lambat.

Akhirnya saya mulai khawatir karena mulai banyak data penting di server, jadi saya tambahkan 2 HDD (RAID) jadi sekarang konfigurasi server:

  • 1 SSD (Linux, 60 GB)
  • 1 HDD (Film, Musik, 1 TB)
  • 2 HDD (RAID, backup data penting, 2 TB)

Selama beberapa tahun saya tidak butuh sama sekali akses ke desktop Linux. Biasanya hanya butuh akses console (di server) atau sesekali cukup menggunakan VM. Tapi karena ada proyek yang butuh akses desktop Linux untuk hardware tertentu dan tidak cukup memakai VM, maka saya tambahkan lagi 1 SSD lama dari laptop yang hanya 60 GB ke desktop dan saya isi Linux. Dengan ini saya bisa dual boot ke Linux.

  • 1 SSD untuk OS Windows (480)
  • 2 HDD (RAID) untuk foto, dokumen penting (2 TB)
  • 1 HDD (non- RAID) untuk berbagai file besar yang kurang penting (3 TB)
  • 1 SSD untuk OS Linux (60 GB)

Di sini ternyata harddisk Non-RAID (HDD oprekan) menjadi penting untuk bertukar data dengan Windows karena sangat sulit mengakses data di RAID Windows dari Linux dan rawan error.

Sebagai catatan, meskipun lebih dari 95% pekerjaan bisa dilakukan di dalam virtual machine, tapi beberapa hal tetap butuh OS dengan akses hardware langsung. Beberapa hardware dengan mudah saya hubungkan ke server dan diprogram secara remote, tapi tidak semua pemrograman sifatnya non visual.

Contoh: akses GPU langsung di dalam VM cuma bisa dengan konfigurasi hardware/software tertentu dan kadang tetap error. Saya juga cuma punya GPU bagus di desktop, jadi kalau butuh akses GPU di Linux ya harus dual boot.

Contoh lain: Emulator Android x86 sangat lambat di Windows jika memakai prosesor AMD karena sampai bulan lalu tidak mendukung virtualization, dan baru saja ditambahkan fitur supaya virtualization bisa dipakai di Windows dengan prosesor AMD. Untuk prosesor Intel dari dulu ada software Intel® Hardware Accelerated Execution Manager/HAXM di Windows/macOS. Untuk prosessor AMD di Linux bisa memakai KVM (Kernel Based Virtual Machine) tapi dulu tidak ada solusinya di Windows.

Belum lama ini ketika saya mengerjakan proyek Raspberry Pi, ternyata tetap harus di depan Pi-nya karena akses kamera dengan tunelling ke HDMI tidak bisa diemulasikan dengan Qemu. Berbahagialah Anda kalau pekerjaan programming Anda masih bisa ditangani dengan emulator/virtual machine.

Setelah proyek yang berhubungan dengan Linux selesai, saya sudah melupakan Linuxnya dan saya biarkan SSD-nya (siapa tahu butuh lagi). Sekarang saya kembali berurusan dengan proyek yang butuh akses Linux. Kali ini 60 GB untuk Linux tidak cukup, dan tadinya terpikir untuk membeli lagi SSD 240 GB atau yang lebih besar, tapi kemudian ingat masih punya SSD lama 60 GB.

Karena masih malas untuk membeli SSD baru (plus harus mengcopy OS), saya colok saja SSD ini. Untungnya casing saya punya slot SATA sehingga jika butuh disk sementara bisa dicolok.

  • 1 SSD untuk Windows (480 GB)
  • 2 HDD (RAID) untuk foto, dokumen penting (2 TB)
  • 1 HDD (non- RAID) untuk berbagai file besar yang kurang penting (3 TB)
  • 1 SSD untuk OS Linux (60 GB)
  • 1 SSD untuk data di Linux (60 GB)

Bagian terakhir ini sifatnya sementara, dan nanti rencananya untuk kedua SSD untuk Linux ini akan saya ganti saja dengan SSD lebih besar.

Sejauh ini saya tidak menyesali konfigurasi saat ini. Setelah memakai RAID ternyata sudah kejadian 2 kali salah satu harddisknya rusak dan bisa segera direcover. Meskipun sepertinya merepotkan punya banyak disk, tapi lebih repot lagi kalau data kita hilang.

Memakai SSD terpisah untuk Windows dan Linux juga terkesan boros (kenapa nggak satu SSD aja dipartisi?). Tapi menurut saya ini lebih reliable, jika SSDnya error saya masih bisa mengakses data dari OS lain, jika ingin mengupgrade salah satunya juga lebih gampang.

Sebagai catatan, tulisan ini dibuat karena saya baru beli HDD 4 TB sebagai pengganti disk 3TB yang sudah mulai penuh. Semoga ini bisa bertahan cukup lama.

Menghindari Mengingat dan Menghapal

Semua orang bisa mengingat banyak hal yang berkesan bagi mereka, tapi jarang yang bisa mengingat semua hal dengan baik. Karena kapasitas memori saya terbatas, saya  berusaha melakukan berbagai cara untuk berusaha tidak menghapal/mengingat sesuatu ini.

Sayangnya saat ini kita belum bisa mengupgrade otak dengan kapasitas memori lebih tinggi

Memahami

Cara pertama untuk tidak perlu mengingat adalah dengan memahami. Jika kita sudah paham sesuatu, maka biasanya kita akan ingat. Beberapa detail bisa dicek di search engine dan bisa melihat catatan. Memahami sesuatu memang tidak mudah baik itu konsep baru, bahasa baru, tools baru, tapi setelah paham akan lebih mudah untuk mengingat sesuatu. Lanjutkan membaca “Menghindari Mengingat dan Menghapal”

AlphaSmart Dana

AlphaSmart Dana adalah device Palm OS lama dengan form factor keyboard yang sudah tidak diproduksi lagi. Device ini dulu cukup populer di banyak sekolah di Amerika, terutama digunakan untuk anak-anak yang kesulitan menulis dengan pulpen/pensil. Device ini saat ini masih populer di kalangan penulis karena beberapa hal: keyboardnya enak dipakai untuk mengetik, minim gangguan (karena tidak bisa mengakses internet), relatif ringan (sekitar 1 kg), memakai 3 Batere AA biasa (atau yang rechargable) dan tahan beberapa puluh jam sebelum perlu mengganti batere lagi. Ada dua versi Dana, Wireless dan non wireless, yang akan dibahas di sini adalah versi wireless yang kami punya.

Stiker biru kecil di tengah Dana itu ditempelkan supaya gampang membedakan dari Dana yang lain.

Untuk mentransfer data ke komputer, ada beberapa opsi. Opsi pertama adalah menggunakan mode keyboard, dengan ini seolah-olah Alphasmart akan “mengetik ulang” isi file ke editor apapun yang terbuka di layar komputer. Dengan cara ini AlphaSmart Dana bisa terkoneksi ke device apa saja yang menerima input dari USB keyboard (termasuk juga tablet atau ponsel, asalkan bisa memberikan cukup daya). Kabel yang digunakan adalah kabel USB printer standar. Opsi kedua adalah dengan menggunakan jaringan WIFI (sayangnya yang disupport hanya WEP). Opsi terakhir adalah dengan menggunakan SD Card Lanjutkan membaca “AlphaSmart Dana”

11 Tahun di Chiang Mai

Wow, siapa sangka kami bisa betah sampai 11 tahun di Chiang Mai. Rasanya dulu kalau dibilang harus di Chiang Mai sampai lebih dari 11 tahun kemungkinan saya bakal bisikin Joe buat cari kota lain aja buat tinggal. Tapi sejak pertama kali mendarat ke kota ini saya langsung suka dengan suasananya. Cuaca di awal Mei agak adem karena mulai memasuki musim hujan, jalanan sepi karena anak sekolah masih pada libur dan warna langitnya cerah.  Awalnya saya pikir kota ini akan dingin seperti Bandung, tapi ternyata nggak.

Populasi orang Indonesia pada saat itu juga masih langka. Sampai dengan 4 tahun pertama rasanya belum ada komunitas orang Indonesia di Chiang Mai seperti sekarang ini (sekarang anak kecilnya aja lebih dari 10 kalo kumpul lengkap). Komunitas orang Indonesia di Chiang Mai ini beraneka ragam, biasanya tiap beberapa tahun ada yang pindah tapi juga selalu ada yang baru datang lagi. Beberapa orang awalnya rencana hanya sebentar saja tapi kemudian jadi betah dan tinggal lama di sini seperti kami.

Banyak yang bertanya ke kami kenapa bisa betah di Chiang Mai, dan apakah anak-anak bisa berbahasa Thai? terus gimana sekolah anak-anak? Ada rencana pulang gak ke Indonesia atau mau selamanya di Chiang Mai?.

Kami betah di sini faktor paling berasa itu aman dan nyaman. Kalau di Indonesia rasanya ke mall atau ke tempat keramaian itu harus waspada 100 persen, terus di banyak tempat yang jelas-jelas ada tulisan dilarang merokok tetap saja berasa banget bau asap rokok (padahal ruang ber AC). Kalau di sini selama 11 tahun kami jarang ketemu orang merokok, dan gak pernah merasa ruangan dalam airport bau rokok. Ini cuma salah satu contoh ya, karena saya sangat sensitif dengan bau asap rokok, jadi biasanya begitu sampe Indonesia, masih di airport saja saya sudah merasa gak nyaman dengan bau rokok dalam ruangan airport, berikutnya perasaan jengkel kalau koper kena kapur dan disuruh buka padahal isinya ga ada yang luar biasa.

Selama 11 tahun di Chiang Mai, dengan frekuensi hampir tiap tahun pulang minimal sekali, kami belum pernah disuruh buka koper di airport. Masalah keamanan di sini juga relatif lebih aman, kami bisa dengan tanpa kuatir meletakkan beberapa perabotan rumah seperti tabung gas, mesin cuci ataupun sepeda anak-anak di luar rumah. Saya inget mertua saya cerita kalau pot bunga yang dia letakkan di dekat pagar rumah saja bisa hilang. Mama saya juga sampai pernah komentar memastikan itu mesin cuci gak hilang kalau diletakkan di luar?.

Sebenernya menuliskan hal soal ketidakamanan dan ketidaknyamanan di Indonesia membuat saya merasa malu, kenapa saya jadi terkesan Indonesia nggak ada bagusnya ya? Indonesia itu banyak hal bagusnya, beberapa kali kamipun mulai bertanya-tanya apakah kami akan selamanya di negeri orang atau pulang saja ke Indonesia. Faktor yang menjadi pertimbangan pulang ya seperti kata pepatah, seenak-enaknya di negeri orang pasti lebih enak di negeri sendiri.

Di sini kami setiap tahun harus mengurus ijin tinggal, lalu setiap 90 hari harus lapor diri ke imigrasi. Setiap mau travel keluar dari Thailand harus urus reentry visa. Semua urusan itu tentunya tidak dibutuhkan kalau tinggal di Indonesia. Makanan di Indonesia juga masih tetap terasa lebih enak, apalagi kalau dimasakin mama atau mertua hahaha.

Beberapa hal lain yang bikin betah di sini adalah akses internet bisa lebih cepat dan lebih stabil. Layanan perbankan juga buka 7 hari seminggu (sampai malam di mall). Daya listrik yang cukup besar buat pasang AC di semua kamar tidur (asal kuat bayarnya) dan relatif jarang ada pemadaman sampe seharian penuh.

Setelah tinggal di Chiang Mai kami juga jadi merasa biasa makan pake ketan sebagai pengganti nasi. Dulu di Indonesia makan ketan itu dianggap cemilan, udah makan ketan masih harus makan nasi lagi. Awal-awal di sini saya juga merasa aneh makan siang pake somtam (papaya salad) dan nasi yang rasanya sekilas seperti asinan bogor tapi sekarang hal itu udah jadi ga aneh lagi. Makanan yang paling signifikan beda dengan di Indonesia adalah menu pork. Mayoritas penduduk Thailand beragama Buddha, sebagian vegetarian tapi mayoritas menu makanan pasti ada pork nya. Saya masih inget, jaman mahasiswa di Bandung, menu makanan yang ada porknya dianggap istimewa dan dicari-cari seperti barang langka, di sini menu dengan beef yang menjadi makanan langka.

Setelah 11 tahun di Chiang Mai, saya makin merasa betah karena vocabulary bahasa Thai saya sudah semakin banyak. Membaca tulisan Thai masih tetap jadi tantangan karena ga ada kebutuhan yang mengharuskannya saya membaca banyak tulisan Thai. Anak-anak di rumah malah kebanyakan berbahasa Inggris.

Jonathan kebanyakan bicara bahasa Inggris sejak disekolahkan ke sekolah internasional. Sejak tahun lalu kami memutuskan Jonathan sekolah di rumah saja, dan sekarang dia mulai banyak juga bicara bahasa Indonesia. Kami juga mendaftarkan Jonathan kumon Thai dan dia mulai bisa membaca dan menulis bahasa Thai.

Joshua masih belum mau ke daycare, bulan Maret lalu kami coba kirim ke daycare, tiap hari masih nangis dan baru 2 minggu sekolah dia ketularan batuk pilek parah, jadi kami ga terusin kirim dia ke daycare. Joshua kebanyakan kosakatanya menggunakan bahasa Inggris, sepertinya karena buku yang kami bacakan dan lagu nursery rhymes yang dia lihat dan dengar juga berbahasa Inggris. Jonathan juga seringnya ajak Joshua komunikasi pakai bahasa Inggris. Joshua ngerti bahasa Indonesia, dia tapi masih lebih suka belajar apapun dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan kalau makin besar Joshua mau belajar bahasa Indonesia dan Thai juga.

Waduh tulisan mau update singkat jadi panjang aja.Ga bisa meresumekan 11 tahun dalam beberapa paragraph saja. Tapi sepertinya cukup dulu updatenya, semoga besok bisa melanjutkan tulisan seputar Chiang Mai.

Seri Buku Micro Adventure

Ini cuma kisah singkat mengenai seri buku cerita yang saat ini mulai disukai Jonathan: Micro Adventure. Seri ini diterbitkan di tahun 1980-an  oleh Scholastic dan cukup terkenal pada masanya.  Satu hal yang menarik dari buku-buku ini adalah: di dalamnya ada program dalam bahasa BASIC yang bisa diketikkan dan merupakan bagian dari cerita.

Jonathan sedang menyalin kode dari buku ke QBasic di Dosbox
Jonathan sedang menyalink kode dari buku ke QBasic di Dosbox

Buku pertama yang selesai dibaca Jonathan adalah Space Attack, buku ini terbit tahun 1984.

Di awal cerita buku pertama ada pesan rahasia yang harus didekrip. Sebenarnya bisa didekrip manual (caesar cipher), tapi lebih menarik jika didekrip dengan program. Lanjutkan membaca “Seri Buku Micro Adventure”

Liburan Songkran 2018

Songkran merupakan tahun baru Thailand, dan merupakan hari yang sangat dirayakan di Thailand, seperti Lebaran di Indonesia atau Natal di negara mayoritas Kristen.  Libur utama Songkran sendiri hanya 3 hari, tapi seperti Natal/Lebaran, biasanya kantor akan libur sekitar seminggu.

Selama 11 tahun di sini, kami lebih sering pulang ketika Songkran, karena selain libur panjang, polusi udara di Chiang Mai biasanya sedang buruk. Polusi ini dikarenakan pembakaran ladang dari Thailand (sedikit, kurang dari 200 titik api) dan dari negara sekitar (banyak, ribuan titik api). Tapi sesekali kami tinggal di Chiang Mai. Dan tahun ini kami tinggal di Chiang Mai.

Menurut cerita dari penduduk Chiang Mai, dulu perayaan utama Songkran hanyalah memercik air sebagai simbol pensucian dan menghapus nasib sial, tapi sekarang dirayakan dengan festival saling siram air (dengan ember dan pistol air). Sebagai anak kecil, Jonathan sangat menyukai perang air ini, dan tahun lalu dia kecewa karena harus pulang ke Indonesia di masa Songkran. Lanjutkan membaca “Liburan Songkran 2018”