Internet vs Listrik: Mengajari yang tak mau belajar

Aku lagi bingung, mengenai kebodohan orang dan kesoktahuan orang, terutama orang yang iri. Ceritanya begini: Di kost mbak Risna akhir-akhir ini mulai sering listrik mati lagi. Dengan daya 2200 watt yang dibagi 19 orang (lebih dari setengah punya komputer, dan hampir semua punya TV), maka sebenarnya dayanya tidak cukup. Mereka masih beruntung sampai sekarang ini karena selalu ada yang pergi, jadi pemakaian daya tidak pernah penuh. Namun sekarang hampir semua orang ada di kost.

Mbak Risna sedang dituduh menyebabkan listrik mati di rumah, karena menggunakan *Internet* via koneksi wireless ke ISP. Mereka menyangka demikian karena adanya antena di luar yang mereka pikir tentunya membutuhkan daya yang besar.

Di kost mereka, menurut peraturan, mbak Risna boleh membawa komputer. Namun sebagian orang menyatakan bahwa mbak Risna tidak boleh “menyalakan” Internet. Dengan menggunakan analogi yang sangat aneh (analogi telepon seluler), salah seorang lulusan S1 elektro bahkan menyatakan bahwa ketika mendownload akan dibutuhkan daya yang sangat besar karena membutuhkan transmisi radio yang kuat. Padahal, Wifi card yang dipakai mbak Risna adalah versi PCI, yang menurut spesifikasi PC, hanya bisa memberikan tegangan maksimum 5 volt pada arus 5 ampere (25 watt, namun biasanya PCI card hanya akan memakai 5-15 watt).

Tadi mbak risna dan anggota kost lain mengadakan rapat untuk menjelaskan duduk masalah, dan dalam rapat tersebut mbak Risna merekam semua percakapan mereka dengan MP3 Player. Setelah saya dengarkan, saya gak percaya dengan kekeraskepalaan satu group yang bodoh, padahal ada yang sudah lulus S2! (group yg lain pro Mbak Risna). Sebelum dengan berani mengatakan mereka bodoh, perlu dicatat bahwa mbak Risna juga sudah memprint aneka artikel dan meresumekan fakta pemakaian listrik di kost (yang tidak mau mereka baca dan mengerti).

Jadi menurut mereka: mbak Risna boleh memakai PC (tadinya hanya laptop), tapi tidak boleh memakai Internet, karena menambah daya yang besar. Sedangkan ada anak baru yang memakai komputer dengan daya total > 250 watt tidak apa-apa. Sebagai catatan. PC mbak Risna sudah saya set sangat hemat enegergi, termasuk memakai monitor LCD yang membutuhkan daya 1/3 monitor CRT.

Dengan sejuta penjelasan, mereka tetap berpikir bahwa Internet pasti butuh listrik. Saya jadi inget iklan Internet Goes to Schoolnya telkom, salah satu pernyataan orang awam adalah “Ati-ati jangan lupa pake sendal, nanti Internetnya nyetrum”. Ternyata bukan cuma orang awam yang masih buta Internet.

*Duh, kalo gak memperatikan privasi, mau posting audio/MP3-nya, lucu*

Catatan: Sebelum ada yang protes mengenai penggunaan daya: memang akan ada perbedaan pemakaian listrik ketika komputer beroperasi (misalnya jika disk berputar untuk menyimpan download, atau ketika cdrom digunakan), namun perbedaan tersebut tidak cukup signifikan untuk membuat perbedaan > 50 watt yang membuat listrik padam.

Yah, mungkin pernyataan ini benar:
Never argue with an idiot. They drag you down to their level then beat you with experience.

3 thoughts on “Internet vs Listrik: Mengajari yang tak mau belajar”

  1. Kalau penjelasan nggak mempan, coba di-demokan. Lakukan tes dengan dua kondisi, internet dipakai dan nggak… kalau dua-duanya menghasilkan hasil yang sama, coba dilihat mereka bakal berargumen apa lagi. Kalau beda, there must be something wrong.

  2. Emang rencana mau beli wattmeter nih, sekalian yang digital biar yang ga ngerti baca alat atau ga bisa perkalian (watt=voltXampere) atau penjumlahan bisa liat sendiri bahwa daya 2200watt di rumah emang kurang kalo ada 10 orang yang nyalain komputer 🙁

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.