They were I called friends

Bukan hal yang pernah terpikirkan olehku, kalau suatu hari teman-temanku yang sekarang ini ku anggap teman baik, teman yang bisa kupercaya, teman yang sering hangout bareng, teman yang…menurutku sudah mengenal dan kukenal cukup baik, suatu hari akan menjadi seperti orang lain saja yang akan menyerangku dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Tidak pernah aku berharap, orang yang sering mendengarkan kejengkelanku, orang yang sering tertawa bersamaku suatu saat menjadi hakim atasku dan tidak mau mendengarkan penjelasan yang paling ilmiah sekalipun dari berbagai sumber yang bukan karanganku sendiri, penjelasan yang paling masuk logika sekalipun tidak diterima, dikalahkan oleh “fenomena” yang tidak berdasar.

Walaupun kejadian seperti ini tidak terpikirkan, tapi kejadian ini bisa saja terjadi. Satu hal kecil yang dibesar-besarkan bisa membuat orang yang tadinya berteman menjadi orang asing satu sama lain. Orang yang tadinya punya jalan pikiran yang kupikir sejalan denganku ternyata selama ini hanya berbuat seolah-olah setuju denganku asal dia bisa memanfaatkanku. Bukan hal yang menyenangkan dimanfaatkan orang lain, bukan hal yang menyenangkan menyadari hal itu, disaat orang tersebut berbalik dan menikam dari belakang.

Teman yang kemarin ‘mengadili’ aku dengan internet yang membuat listrik di kost sering ‘turun’, dulunya adalah teman-temanku yang (tadinya) kupikir paling dekat denganku di kost. Orang yang kupikir sependapat denganku dalam banyak hal. Bukan kepingin mengungkit masa lalu, tapi aku merasa duluuu saat kami akrab, aku bisa memberikan seribu tangan kalau punya untuk membantu mereka kapan saja dan apa saja. Bukan soal materi saja, jika ada masalah yang berhubungan dengan ‘teknologi’ baik itu komputer ataupun gadget, aku akan siap sedia memikirkan solusi terbaik untuk permasalahan mereka. Aku bisa ikut pusing dengan apapun yang jadi masalah mereka.

‘Karena nila setitik rusak susu sebelanga’, itu kata pepatah, dan aku hampir tidak bisa ingat apa noda setitik yang kulakukan kepada mereka. Aku tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang membuat susu sebelanga itu jadi rusak, ada sih kejadian-kejadian kecil yang terjadi tapi sedapat mungkin aku ga menumpahkan nila setitik itu, malahan aku merasa mereka yang menumpahkan noda sebelanga juga :(. Satu dari antara para algojo itu bahkan masih meminjam ‘keyboard’ yang ga kupakai (itu juga punya temanku yang meminjamkan waktu keyboard laptop kecilku dulu bermasalah), satunya duluuuu meminjam kacamata renang dan baru memulangkan entah berapa lama, satunya lagi? ga tau deh apa yang masih ada di dia, yang jelas palu nya masih di aku 😀 hehehe… Algojo si anak elektro sok tahu itu bahkan sempat kutawarin memakai antena tv ku, tapi ga jadi karena AnTV ga dapat di Indovision, dan aku jadinya masih perlu.

Aku bukan sedang mendaftarkan kebaikanku ataupun menjelek-jelekkan orang lain. Aku sedang menyesali kenapa harus begini jadinya. Aku jadi agak trauma dan berpikir, ternyata memang susah ya mencari orang baik, orang jahat sih banyaklah di mana-mana. Aku merasa kedekatan kami dulu hilang ga berbekas, ga ada tuh yang namanya “pernah kenal”, aku bahkan sudah ga bisa mengerti mereka. Aku gak tahu apa yang membuat mereka berubah, atau mungkin mereka yang menganggap aku menjadi berubah dan sombong??? Mungkin memang aku perlu instropeksi diri dalam berteman.

Aku belajar dari kejadian ini, bahwa kebanyakan orang memang hanya mencari ‘kepentingan’ sendiri dalam berteman. Ada sih teman yang so far so good, dan aku tidak pernah berpikir mereka suatu saat akan menikamku dari belakang. Aku berharap, sisa teman yang aku punya, benar-benar teman yang baik, bukan teman yang ‘mencari untung’ dalam berteman. Mungkin salahku juga sih kalau dulu sangat mudah percaya dengan apa yang terlihat, sehingga tidak menyadari kejahatan orang yang kita sebut teman.

2 thoughts on “They were I called friends”

  1. wah tanda2 hrs pindah kost lagi tuh kayaknya.. eniwei gw dah balik.. hayu mari bergosip 🙂

  2. halah kak.. cuekin aja… emang kek gitu orang tu skluarga :mrgreen:
    tapi emang sebaeknya kita berintrospeksi dalam segala kejadian, keluaran, imamat, bilangan,
    serta ulangan yang terjadi dalam kehidupan ini…

    kecup mesra untuknya,
    duwi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.