Jangan Membeli karena Lucu

Belakangan ini, saya sedang tergoda melihat tali jam untuk mi band banyak yang lucu-lucu. Harganya juga mulai dari puluhan baht sampai beberapa ratus baht. Sekilas tidak mahal ya. Tapi, walau sudah sering melihat-lihat dan merasa lucu, saya tetap belum membelinya.

Alasan kenapa saya belum membelinya terutama karena saya sudah pernah beli tali yang warna warni untuk mi band 4, dan semua tali itu bisa dipake di mi band 5 juga. Saya merasa ini hanya godaan sesaat. Semua terlihat lucu, saya tidak bisa memilih mana yang benar-benar saya inginkan. Kalau soal butuh, rasanya tidak butuh, karena tali yang ada sekarang juga tidak kurang untuk dipakai.

Terkadang, saya berpikir untuk beli sajalah beberapa, toh harganya tidak terlalu mahal. Tapi, lagi-lagi saya pikir, kalau sekarang saya turuti kemauan membeli hanya karena lucu, setelah ini saya beli apa lagi?

Lanjutkan membaca “Jangan Membeli karena Lucu”

Jauh di Mata, Dekat di Hati

Pertama kali saya merantau jauh dari orang tua dan keluarga itu ketika saya diterima kuliah di Bandung. Saya butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru. Masa itu akses internet belum seperti sekarang yang tersedia dalam genggaman setiap orang. Ponsel pun masih belum seperti sekarang yang menjadi hal yang sepertinya bawaan wajib setiap orang.

Lanjutkan membaca “Jauh di Mata, Dekat di Hati”

Nulis Apa Hari Ini?

Pertanyaan yang setiap hari saya tanyakan selain pertanyaan mau makan apa hari ini, ya tentang mau menulis apa. Ternyata, walaupun sudah menulis hampir setiap hari sepanjang 2020, mencari ide tulisan itu buat saya masih tidak selalu mudah.

Sudah sering hampir menyerah dan tidak menulis, tapi masih berhasil juga mengalahkan kemalasan dan tetap menulis.

Pertama buka dulu laptopnya, lalu mulailah menulis
Lanjutkan membaca “Nulis Apa Hari Ini?”

Tahapan Kegelisahan Saya di Masa Pandemi

Halo September!

Titanic dan Covid-19 (foto dari reddit.com)

Hari ini sudah awal September, dan tentunya walau pandemi masih melanda dunia, kita sudah bisa berkegiatan dengan mengadaptasi kebiasaan baru untuk menjaga tetap aman. Paling aman memang di rumah saja, tapi tentunya kita manusia tidak bisa dikurung di rumah saja dan butuh berkegiatan di luar rumah.

Kalau dulu, di awal merebaknya corona virus di Cina, kita bisa menonton dari jauh betapa mencekamnya sepertinya si virus itu. Orang-orang sangat takut keluar rumah dan kalaupun keluar rumah benar-benar membungkus badan supaya jangan sampai tertular. Sekarang, saya dengar komentar beberapa teman bilang kalau di Indonesia sudah hampir normal, di mana orang-orang kebanyakan tidak memakai masker walau orang terinfeksi masih bertambah banyak setiap hari.

Lanjutkan membaca “Tahapan Kegelisahan Saya di Masa Pandemi”

Ketinggalan Kacamata

Hari Sabtu pagi, hari mengantarkan anak kelas mewarnai. Dari rumah sudah siap-siap bawa laptop untuk menulis sambil menunggu mereka. Lumayan 2 jam daripada bengong. Hari Sabtu lalu, saya cukup berhasil menggunakan waktu dengan mengerjakan sesuatu. Apa daya, ternyata hari ini saya lupa membawa kacamata.

Memaksakan menuis walau penglihatan blur, hehehe…
Lanjutkan membaca “Ketinggalan Kacamata”

Pandemi Masih Akan Lama Berlalu

Saya tau, sudah banyak orang tidak mau membaca cerita pandemi. Setiap membaca katanya bikin stress. Pokoknya ikut protokol kesehatan saja kalau keluar, demikian katanya. Saya masih membaca perkembangan di Thailand yang sudah hampir 50 hari tidak ada transmisi lokal, dan di Indonesia yang sejak pelonggaran rata-ratanya pasien baru rata-rata 1600 orang dalam 3 hari terakhir.

Kenapa saya masih mengikuti perkembangan Covid-19 kalau Thailand sudah aman? Karena gelombang ke-2 itu nyata adanya. Dari yang saya baca di bulan Juni, Cina sempat ada peningkatan pasien baru walau sekarang sudah terkendali, Australia saat ini menutup kota Melbourne dan Mitchell Shire karena ada lonjakan kasus di daerah tersebut. Di Tokyo, Jepang juga ada peningkatan kasus baru setelah pelonggaran. Korea yang juga termasuk sukses menangani Covid-19 mengumumkan kalau mereka menghadapi gelombang baru dari pandemi sejak akhir Juni 2020 yang lalu.

Jadi, walaupun Thailand saat ini aman, belum tentu selamanya aman dengan adanya orang-orang yang mulai diperbolehkan masuk ke Thailand. Belum lagi, saya baca berita tentang beberapa orang yang tertangkap karena berusaha untuk masuk tanpa ijin ke Thailand. Untuk yang masuk dengan ijin, jelas ada protokol pemeriksaan dan karantina 14 hari. Untuk orang yang berusaha masuk tanpa ijin ini, selalu ada kemungkinan mereka masuk membawa penyakit.

Alasan kenapa Covid-19 menyebar dengan cepat (sumber dari Facebook)

Mengamati beberapa hal sejak adanya pelonggaran dan membaca beberapa berita membuat saya menyadari kalau pandemi masih lama akan berlalu. Walau saya tidak putus berharap pandemi cepatlah berlalu, tapi ya saya harus menerima juga kalau saya seorang diri yang mengikuti dan sadar akan bahaya Covid-19, tidak cukup untuk membuat pandemi ini berlalu. Butuh kerjasama dari semua orang di seluruh muka bumi. Iya di seluruh muka bumi, karena kalau tersisa 1 atau 2 pasien saja, dan kita lengah,  bisa membuat pandemi berulang lagi.

Lanjutkan membaca “Pandemi Masih Akan Lama Berlalu”

Physical Distancing Terbawa ke Mimpi

Kemarin, setelah sekian lama, kami sekeluarga pergi berlibur. Kami menginap di sebuah resort dengan dua kamar tidur dan memiliki kolam berenang. Anak-anak senang sekali bermain-main di kolam renang dengan papanya.

Kolam renangnya sebenarnya tidak besar, tapi cukup untuk menyenangkan hati anak-anak bermain air di sore hari yang panas. Hanya ada kami di kolam itu. Setelah capek bermain air, kami kembali ke kamar untuk beristirahat.

Villa itu memiliki dua kamar tidur, ruang TV yang bergabung dengan dapur, dan dua kamar mandi. Kami semua tidur di kamar yang sama di paling depan. Padahal biasanya anak yang besar sudah bisa tidur di kamar sendiri. Kami menutup area ke kamar tidur yang tidak kami tempati karena bulu kuduk rasanya agak berdiri setiap melewati atau melihat kamar yang kosong itu. Perasaan saya agak tidak enak dan merasa seram dengan ruangan yang kami sewa itu.

Di pagi hari, saat baru terbangun saya berkata dalam hati, “bukankah di masa sekarang ini ada peraturan kalau kolam renang harusnya masih ditutup? Kenapa kami kemarin bisa menggunakan kolam renang ya?” Terus, saya jadi memikirkan lagi, kami bahkan tidak memakai masker ketika berenang. “Tapi aneh sekali ah kalau berenang sambil pakai masker,” kata saya dalam hati. Lalu, entah kenapa saya terpikir lagi, “Ah ini sepertinya hanya mimpi, mana mungkin bisa liburan di masa pandemi.” Di saat yang hampir bersamaan kalau itu semua hanya mimpi, saya benar-benar terbangun dari mimpi.

Lanjutkan membaca “Physical Distancing Terbawa ke Mimpi”