Menulis Surat

Siapa yang masih sering menulis surat? Baik itu surat di kertas maupun surat elektronik? Sepertinya kebiasaan menulis surat kepada teman dan keluarga ini sudah mulai jarang dilakukan. Waktu Jonathan baru lahir, beberapa bulan pertama dan beberapa ulang tahun pertama, Joe dan saya mencoba untuk mengirimkan e-mail ke account yang kami set-up untuk Jonathan sejak dia lahir. Tapi bebeberapa tahun belakangan ini sudah lama tidak dilakukan lagi. Tulisan ini sekaligus pengingat buat saya untuk kembali lagi menuliskan surat untuk Jonathan dan Joshua. Surat buat mereka baca ketika mereka sudah bisa membaca nantinya.

Mengajak Jonathan ke kantor pos di Thailand

Teringat jaman dulu, salah satu kolom di majalah Bobo itu adalah sahabat pena. Saya ga pernah sih punya sahabat pena, tapi Joe pernah cerita dia pernah punya beberapa sahabat pena. Saya juga tau beberapa teman saya yang rajin kirim-kiriman surat dan punya beberapa sahabat pena. Saya ga ikutan kirim-kirim surat sahabat pena karena saya orangnya pemalu dan ga tahu juga mau nanyain apa di surat, ketemu orang baru aja rasanya sulit untuk bertegur sapa. Beda dengan sekarang, kalau sepertinya lawan bicaranya ga aneh-aneh (objektif terhadap mood), gampang sekali untuk ajak orang ngobrol.

Tahun pertama tinggal di Bandung, saya mulai sering berkirim surat. Kebetulan di kampus ada kantor pos, jadi lebih mudah juga untuk mengirimkan surat balasan.  Saya ingat, dulu saya punya 1 kotak khusus menyimpan surat-surat dari keluarga dan dari sahabat masa SMA. Terakhir saya ingat kotak itu ada di rumah mertua, saya coba membaca beberapa surat dari sahabat SMA saya. Lucu rasanya membaca curhatannya. Membaca surat lama sama seperti membaca posting blog lama, beberapa hal sudah terlupakan dan jadi ingat lagi.

Kadang-kadang saya terima surat dari teman SMP atau teman masa bimbingan belajar, kadang agak bertanya-tanya loh kok dia bisa dapat alamat kost saya ya hehehe. Dulu perasaan senang banget kalau terima surat, apalagi kalau suratnya panjang dan berlembar-lembar, serasa deh ketemu dengan orangnya dan ngobrol panjang lebar. Kadang-kadang saya semangat nerima doang, untuk membalas saya tunda-tunda, terus akhirnya ya ceritanya update yang lain-lain lagi. Sebenarnya beberapa hal pertanyaan-pertanyaan dalam surat ga penting banget juga dibalas langsung, yaaa bayangin aja pos biasa itu bisa 10 hari sampai dari Medan ke Bandung, soalnya emang pake perangko yang murah aja hehehe.

Liburan panjang kenaikan tingkat saya pulang ke Medan selama 2 bulan, beberapa teman kuliah ikutan semester pendek di Bandung. Saya ingat, sempat juga beberapa kali surat-suratan dengan teman kuliah. Mereka cerita seputar semester pendek dan update gossip hahahaha, saya cerita kebosanan liburan dan pengen balik ke Bandung, bukan buat kuliah tapi buat bisa hang out sama temen-temen aja.

Masa-masa nulis surat berlembar-lembar itu saya ingat punya angan-angan andai saja bisa kirim surat digital saja yang ga harus kirim via kantor pos (soalnya saya malas ke kantor pos). Saya gak harus nulis di kertas tapi langsung bisa membalas di bagian pertanyaan. Kira-kira yang saya harapkan waktu itu ya adanya e-mail seperti sekarang ini.

Saya  lupa kapan persisnya mulai kenal e-mail, tapi masa itu teman-teman dan keluarga saya di Medan belum punya e-mail, mereka bahkan masih ga ngerti apa itu internet. Yang saya ingat, saya sering banget tuh nyuruh-nyuruh teman saya bikin e-mail biar gampang ga harus surat-suratan pake pos. Di rumah saya di Medan juga saya minta adik saya install modem biar bisa konek internet dan belajar e-mail. Tapi ya, ga gampang memandu jarak jauh mengenai dial-up modem suapaya bisa berinternet, masa itu belum banyak yang jual buku how-to seperti sekarang.

Sejak e-mail makin populer dan keberadaan warnet mulai lebih banyak dibandingkan wartel, kebiasaan berikirim surat via pos mulai saya tinggalkan. Kontak dengan teman-teman SMA paling lewat telepon atau ketika saya liburan ke Medan saja. Kontak dengan teman kuliah dan beberapa teman lain ya sudah memakai e-mail. Untuk komunikasi ke rumah lebih sering memakai telepon (ke warnet atau saya di telepon). Rasanya menuliskan surat via pos biasa mulai kurang seru, karena lebih cepat ngobrol langsung, update kabar dan langsung dapat respon. Masa itu, kartu telepon atau wartel menjadi lebih sering dikunjungi daripada kantor pos. Kalau lagi liburan ke Medan saya jadi lebih sering ke Warnet dan udah ga pernah lagi ke kantor pos.

Iseng kirim kartu pos dari tempat wisata

Sekarang, sejak memakai media sosial seperti Facebook dan HP yang terkoneksi dengan internet 24 jam, menulis e-mail pun mulai ditinggalkan. Apalagi mama saya juga sudah kenal teknologi internet, tambah lagi berkurang alasan untuk kirim surat. Kalau mau ngobrol ya tinggal kirimkan pesan via WhatsApp, Facebook, Line dan dulu sempat juga pake BBM.  Kalau lagi malas nulis, sering juga pakai video call. Tapi rasanya sekarang ini malah makin jarang berkomunikasi dengan teman masa SMA, ya sebagian juga karena makin lama makin jarang update kabar, jadi paling taunya kabar dari update status mereka di media sosial.

Teknologi memang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi, tapi entah kenapa ada perasaan teknologi chat bikin saya semakin sulit untuk menuliskan banyak hal seperti ketika saya menuliskan surat. Menulis blog ini saja saya sering kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya pengen saya sampaikan. Kebiasaan chat yang saling berbalasan langsung membuat saya tidak bisa mengkomposisikan apa yang ingin saya sampaikan dalam paragraph yang mudah dimengerti dan tidak bertele-tele.

Dipikir-pikir, waktu menuliskan surat, baik itu surat pos biasa ataupun e-mail, saya masih bisa untuk bercerita dengan menggunakan kalimat lengkap yang jelas, saya menyampaikan secara lengkap hal-hal yang ingin saya sampaikan tanpa interupsi oleh penerima surat. Tentunya saya berharap surat saya bisa dimengerti dan jelas mana yang berita dan mana yang pertanyaan. Sekarang ini, kalau saya disuruh menuliskan surat, rasanya suka bingung sendiri mulai dari mana. Bahkan menuliskan blog ini saja saya sepertinya sudah mulai kemana-mana dan ga fokus lagi. Harus lebih sering posting lagi dan lebih sering menuliskan surat.

Oh ya, jadi ingat, waktu masih pacaran saya pernah terima surat dari Joe, ceritanya dia lagi menghemat batere laptop dan ga ada wifi di Airport, jadi untuk mengisi waktu, dia nulis surat ke saya hahaha. Surat fisik begitu bagusnya bisa dibaca berulang-ulang, rasanya membaca surat apalagi dari pacar bikin perasaan makin berbunga-bunga. Jaman awal pacaran, saya dan Joe juga masih sering kirim e-mail. Harus dicari tuh arsipnya buat kenang-kenangan hahahhaa. Kira-kira isi suratnya kayak posting blog ini

Aku Cinta Padamu

 

Kesimpulannya buat saya, menulis surat itu berguna untuk jadi arsip/catatan yang bisa dibaca lagi dikemudian hari. Tapi memang ga ke semua orang sih kita perlu tulis surat, apalagi kalau ga tau juga mau cerita apa. Sekarang ini yang terpikir ya nulis surat ke anak-anak saja. Buat mereka baca kalau mereka besar nanti. Posting blog ini juga mudah-mudah bisa jadi kenangan buat mereka kalau kami sudah ga ada lagi.

Ayo menulis surat/blog buat orang-orang yang kita sayangi. Ingatan manusia ini ada batasnya, tapi kalau dalam bentuk tulisan bisa dibaca dan membawa kita bernostalgia dan menjadi memory yang lebih bertahan lama.

Tentang Sebuah Nama

Saya orang Batak. Lahir dari keluarga marga Saragih, tapi marga itu tidak tercantum di akte kelahiran saya. Kata mama saya, waktu saya lahir di tempat pembuatan akte (DKI Jakarta) ada peraturan tidak boleh memasukkan marga sebagai nama keluarga (entah peraturan apa, atau ada peristiwa apa waktu itu yang menyebabkan tidak dibolehkan). Ternyata sampai sekarang masalah pencantuman nama marga ini masih jadi masalah untuk WNI keturunan.

Jadilah akte lahir saya cuma punya 1 nama. Saya anak ke-3, kakak pertama saya punya 3 nama (nama depan, tengah + marga), kakak ke-2 punya 4 nama (nama depan, tengah, akhir + marga), dan sepertinya waktu saya lahir orangtua saya sudah kehabisan nama hehehe, jadilah akhirnya dikasih 1 nama doang (yang sebenernya bisa juga dipisah jadi 2 nama kalau mau, tapi orangtua saya memberi nama saya sebagai 1 nama). Sebenernya nama yang pendek menguntungkan saya waktu ujian masuk PTN, ga banyak bulatan yang harus saya lingkari hehehe.

Kakak saya dan adik saya punya nama mereka plus marga di aktenya, karena akte kakak saya hilang lalu waktu mama saya urus lagi sudah boleh memasukkan marga ke akte, sedangkan waktu adik saya lahir peraturannya sudah berubah dan boleh mencantumkan marga batak. Kertas akte saya juga cuma selembar kertas tipis yang jaman itu belum kenal yang namanya laminasi. Kadang-kadang saya cemas setiap kali harus membawa kertas aktenya, takut robek dan jadi urusan yang panjang.

Sebelum saya merantau ke Thailand, saya tidak pernah merasakan perlunya mencantumkan nama keluarga di akte saya, toh walaupun itu tidak ada di akte, marga saya tetap melekat dengan saya. Ternyata sekarang ini baru merasakan masalah tidak punya nama belakang.

Masalah pertama muncul waktu mengisi form untuk membeli tiket online, untungnya mereka akhirnya memberi contoh masukkan saja nama yang ada diulang sebagai nama depan dan nama belakang. Masalah berikut muncul ketika mengisi form untuk membuka rekening bank. Di sini, program mereka tidak menghandle seperti di program beli tiket online AirAsia. Akhirnya mereka mengarang sendiri misalnya last name saya jadi : No Surname, ataupun NA dan karena sistemnya tidak konsisten antara satu pihak dan lain, ini bisa membingungkan.

Di Thailand, beberapa form tidak menerima nama latin, jadi kita mau ga mau harus punya nama dalam aksara Thai. Nama kami dalam akte lahir anak-anak dituliskan dalam bahasa Thai walaupun kadang bunyinya ga bisa persis sama karena beberapa huruf di akhir kata akan berubah bunyi dalam aksara Thai. Contohnya, nama saya ris-na akan dibaca jadi rit-na, atau ri-sa-na. Hal ini jadi bahan pertimbangan kami waktu bikin nama anak-anak untuk mudah diucapkan dalam bahasa Indonesia, Inggris maupun Thailand. Untuk anak yang lahir di Thailand, otomatis nama mereka ada dituliskan dalam bahasa Thai di akte kelahirannya.

Waktu saya hamil, saya mendaftarkan nama saya sebagai pasien menggunakan nama akhir Joe sebagai nama keluarga. Masalahnya kadang-kadang saya lupa kalau saya pakai nama Nugroho bukan Saragih, jadi setiap kali ke dokter kandungan perlu waktu lama buat cari kartu pasien saya karena saya salah kasih nama pas daftar hehehe. Bertahun-tahun saya pakai nama belakang Saragih, tentunya ga gampang mengubah reflek mengingat nama belakang saya pakai Nugroho. Untuk membiasakan diri, saya pakai nama akhir Nugroho di profil Facebook saya.

Waktu kami punya anak, kami putuskan untuk memakai nama belakang Joe juga di belakang nama anak-anak. Berbeda dengan marga untuk orang batak, nama belakang yang kami berikan bukan marga untuk orang Jawa. Kami pakai saja nama belakang Joe. Berdasarkan pengalaman saya, kalau tidak ada nama belakang ke depannya akan jadi repot untuk mengisi formulir, dan juga karena kami tinggal di Thailand, nama belakang yang sama dengan Joe supaya orang tahu kalau mereka anak pak Nugroho :). Toh di sini ga banyak orang dengan nama belakang Nugroho, ga seperti di Indonesia hehehe. Untungnya juga menuliskan Nugroho dalam bahasa Thai relatif bisa dibaca dengan tepat, dan ga bernasib seperti nama saya yang berubah bunyi.

Untuk orang batak, marga berguna untuk mengetahui silsilah. Sebagian orang batak bahkan menomori marganya jadi bisa tahu keturunan ke berapa. Kebetulan, saya Batak Simalungun tidak tahu nomor marga dan sepertinya setiap pertemuan keluarga tidak pernah ditanya nomor berapa. Waktu saya pertama kali merantau ke Bandung, ketemu dengan orang batak lain itu serasa jadi bersaudara. Ketika bertemu orang bukan batak, mereka sering reflek bertanya kenal dengan pak ini atau bu itu Saragih yang mungkin saja terkenal karena pejabat atau sering masuk TV. Orang batak pasti tahu kalau ga semua batak saling kenal, tapi tidak demikian dengan orang yang bukan batak.

Beberapa waktu lalu, ada berita di tanah air tentang seorang boru Saragih yang ketangkap tangan KPK, ada juga seorang marga Saragih yang mencalonkan diri jadi Gubernur tapi ternyata ijasahnya palsu. Teman saya yang bukan batak tau-tau bertanya ke saya: wah Ris itu ada saragih begini begitu. Jawaban saya: saya ga kenal dan ga ada hubungannya dengan saya. Memang sebagian orang batak akan merasa malu-maluin marga aja tuh orang. Tapi saya sih ga merasa apa-apa hehehe. Bukan marganya yang bikin dia melakukan itu, memang dasar dianya aja begitu.

Di Thailand sini, banyak anak punya nama keluarga ikut ibunya. Hal ini mereka lakukan karena kalau orangtua bercerai, anak biasanya ikut ibu, dan mungkin juga karena banyak orang punya anak tanpa mendaftarkan pernikahan secara legal (mereka menikah cuma ke kuil saja). Saya ga tahu apakah di Indonesia boleh memakai nama belakang ibunya untuk mendaftarkan anak ke akte lahir. Mungkin kalau namanya bukan marga tapi nama seperti misalnya Anak Syalala atau Putri Sematawayang boleh-boleh saja kali ya, tapi saya ga tahu apakah di akte lahir boleh tidak mencantumkan nama bapaknya. Kalau ada yang tahu, silakan tulis di komen ya.

Kadang-kadang masalah nama keluarga (nama belakang) ini jadi pertanyaan Jonathan juga, kenapa oppung nama belakangnya beda dengan saya, kenapa eyang ga punya nama belakang dan kenapa saya katanya punya marga tapi ga punya nama keluarga di akte. Yang jelas sih, nama belakang itu perlu terutama buat isi form, jadi kalau bisa untuk yang belum punya anak, jangan lupa kasih nama anak jangan cuma 1 nama saja biar mereka ga repot kalau ada form isian yang wajib isi nama belakang. Dan juga pilihlah nama yang tidak terlalu sulit untuk diucapkan berbagai bangsa, jaman sekarang kita harus berpikir suatu saat anak-anak kita akan merantau keliling dunia, dan jangan sampai mereka jadi terkendala karena nama yang kita pilihkan.

Lulusan Kuliah IT seharusnya bisa apa?

Tahun lalu saya membaca mengenai skill yang seharusnya dimiliki lulusan SMK. Entah kenapa tulisan ini beredar lagi di timeline saya tahun ini. Ketika saya baca lagi mengenai skill yang diharapkan, kebanyakan skill ini bahkan tidak dimiliki oleh lulusan Sarjana Informatika/Ilmu Komputer/Teknologi Informasi (berikutnya akan saya singkat jadi: lulusan/sarjana IT).

Sudah menjadi fakta bahwa banyak lulusan IT yang tidak bisa memprogram (silakan baca artikel: Why can’t programmers.. program?). Separah ini:

Like me, the author is having trouble with the fact that 199 out of 200 applicants for every programming job can’t write code at all. I repeat: they can’t write any code whatsoever.

Sebelum diskusi masuk ke masalah pekerjaan, kesuksesan, jiwa entrepreneur, dsb saya ingin menekankan dulu: lulusan apapun dengan skill bagaimanapun bisa bekerja di berbagai bidang yang tidak sesuai jurusan yang diambilnya. Tapi jika sebuah negara ingin bisa maju di bidang tertentu, ya tentunya yang diharapkan adalah lulusan dari bidang tersebut memiliki skill yang baik dan berkontribusi di bidangnya. Lanjutkan membaca “Lulusan Kuliah IT seharusnya bisa apa?”

Kenapa Jarang Ngeblog?

Di masa awal kenal blog, rasanya semua mau dituliskan, tapi beberapa tahun belakangan saya makin jarang menulis di blog. Sebagian besar teman yang dulu ngeblog juga mulai pada berhenti ngeblog dan alasan utamanya ya gara-gara udah ditulis di Facebook. Sebagian teman lupa user id dan password, sebagian besar merasa ga punya waktu buat nulis karena berbagai kesibukan. Saya sendiri termasuk yang gak menyempatkan diri untuk nulis karena berbagai alasan termasuk urus anak.

Kesempatan duduk di depan komputer untuk menulis juga makin jarang sekarang ini. Setiap kali mau mengedit tulisan saya sering diganggu sama Jona atau Joshua. Sekarang yang paling sering gangguin ya Joshua, makanya akhirnya kalau mau nulis ya dari handphone, terus simpan di draft dan kalau ada waktu tanpa gangguan baru diedit. Sekarang sih kalau Joe ga sibuk bisa minta tolong diedit sama Joe sekalian biar Joe yang baca tulisan saya sebelum dipublish.

Setiap kali ada yang memakai komputer, Joshua ingin mengambil alih untuk mengetik huruf dan angka

Dulu selalu ada topik yamg ingin dituliskan sampai akhirnya pas mulai menuliskannya malah ga jadi dipublish dan dibiarkan dalam draft saja karena terlalu panjang rasanya tulisannya. Seringkali setelah tulisan dipublish ternyata saya sudah pernah menuliskan topik yang mirip dan saya bahkan lupa pernah menuliskan topik itu.

Dulu tulisan saya di blog banyak berupa keluhan, sekarang saya berusaha untuk menuliskan hal yang lebih positif dan atau informatif. Ternyata menuliskan hal yang positif dan informatif ini terkadang membutuhkan waktu ekstra untuk editing termasuk menambahkan gambar. Setelah punya anak, niatnya mau rajin menuliskan tentang anak-anak, tapi terkadang ada rasa kuatir juga terhadap orang yang menyalahgunakan informasi mengenai anak-anak kami kalau membagikan terlalu banyak informasi soal anak di blog. Pernah juga terpikir untuk menuliskan seputar mendidik anak, tapi kadang merasa saya juga masih harus belajar banyak. Akhirnya banyak hal hanya saya diskusikan dengan Joe saja dan ga jadi dituliskan.

Sekian lama ga nulis blog, saya bisa merasakan kalau tulisan saya makin tidak terstruktur. Beberapa kali berniat untuk mulai aktif lagi menulis, tapi akhirnya kelupaan lagi.

Sekarang saya mau memaksa diri untuk menulis lagi, saya ikutan grup menulis ODOPfor99days di FB (one posting one day for 99 days). Awalnya agak ragu buat ikutan, tapi Joe menyemangati dan yang penting dimulai saja. Kalau ga pernah dimulai mana bisa rajin ngeblog lagi. Targetnya sih biar konsisten menulis lagi. Menyempatkan diri untuk menulis dan semoga bisa menulis lebih terstruktur nantinya. Karena ini blog berdua, semoga posting saya ga bikin pembaca tulisan Joe jadi bosan karena tulisan saya ga teknis seperti tulisan Joe :).

Supaya saya tidak lupa, beberapa topik yang mungkin dituliskan dalam 99 hari ini ya seputar homeschooling dan Chiang Mai. Ada banyak tulisan kami mengenai Chiang Mai, tapi sebenarnya selalu ada hal baru yang bisa diceritakan soal Chiang Mai, sekalian kalau ada yang bertanya soal kota ini nantinya bisa dikasih link tulisan aja. Topik homeschooling ini sebenarnya sudah lama juga direncanakan untuk ditulis, tapi karena ini tahun pertama kami menghomeschool Jonathan, kadang saya merasa pengalamannya belum banyak. Bisa juga saya menuliskan topik homeschooling secara umum untuk pemula seperti kami. Selain 2 topik diatas, ada kemungkinan muncul topik-topik random tergantung mood menulis. Ah kalau kali ini ga jadi rajin menulis blog, jangan-jangan memang benar blog itu hanya trend sesaat hahaha.

Perang Cyber dan Hacker Indonesia

Beberapa hari yang lalu China melarang security researchernya untuk mengikuti kompetisi pwn2own dan sejenisnya di luar negaranya.  Ini bisa jadi suatu awal yang gawat untuk dunia keamanan cyber baik secara umum, dan juga untuk Indonesia.

Saya mau mundur sedikit: apa sih pwn2own itu? Ini adalah kompetisi hacking di mana hacker diminta menjebol device dengan software terbaru dengan bug yang belum pernah diketahui orang lain sebelumnya (zero-day). Pemenangnya mendapatkan devicenya dan hadiah puluhan sampai ratusan ribu USD (ratusan juta hingga milyaran rupiah).

Bug

Secara singkat: beberapa bug ini memungkinkan orang mengambil alih ponsel, tablet, dan bahkan mobil (mobil pintar) dari jauh tanpa interaksi dari user.  Ini bukan bug kacangan seperti XSS atau SQL injection di website. Lanjutkan membaca “Perang Cyber dan Hacker Indonesia”

Sekarang Windows sudah (lebih) gampang

Ketika membaca lagi posting lama saya, saya menemukan tulisan Siapa Bilang Windows itu Gampang?, yang saya tulis tahun 2009. Sekarang keadaan sudah cukup berubah menjadi lebih baik.

Sudah ada package manager yang namanya chocolatey sejak sekitar 2012. Sekarang saya tak perlu pusing mendownload, menginstall, dan mengupdate software. Misalnya saya butuh virtualbox, saya cukup mengetikkan:

choco install virtualbox

Dulu, setiap kali Windows menampilkan dialog “Finding Solution”, atau “Searching Driver Online”, saya sudah pesimis, dan biasanya solusinya tidak berhasil dan drivernya tidak ketemu. Sekarang proses mencari solusi dan mencari driver sudah benar-benar jalan. Bahkan ketika saya beli Clone Arduino dari China, ketika saya colok, dia mencari drivernya online, ketemu, dan langsung berjalan lancar.

Antivirus sekarang sudah built ini di Windows, dan tidak terlalu membebani sistem lagi.

Waktu saya menulis posting sebelumnya, saya belum terlalu mencoba powershell. Saya sempat mencoba powershell 1.0 dan masih ada banyak keterbatasannya, tapi semakin lama powershell ini semakin powerful, dan cukup bagus untuk scripting.

Mengenai beberapa software yang saya komplain sebelumnya, sebagian besar sudah lebih baik. PDF Reader sudah built in, Office saat ini bisa didapatkan dengan harga terjangkau, bahkan Internet Explorer sudah cukup baik untuk browsing sehari-hari. Untuk masalah development, saat ini microsoft memberikan Visual Studio Community Edition gratis.

Beberapa hal memang masih kurang nyaman (misalnya kadang butuh reinstall software ketika pindah harddisk, untung ini tidak sering saya lakukan). Mengenai konfigurasi secara remote, server ssh dari Bitvise sudah bagus, dan kalau butuh akses remote, saya bisa memakai TeamViewer.

Saya merasa saya adalah orang yang reasonable, saya tidak fanatik teknologi tertentu, jika ada teknologi yang bagus, saya akan mencoba dan berpindah jika memang suka. Saat ini saya cukup suka memakai Windows sehingga mau memakainya di laptop sebagai OS default, sementara di desktop saya masih dual boot Windows/Linux.

Produk Apple

Komputer pertama saya adalah Apple II, jadi saya sudah lama memakai produk Apple. Saya juga sempat memakai notebook apple ketika masih memakai Power PC (waktu itu namanya adalah Apple iBook, beda dengan software Apple iBooks ya). Saya membeli Macbook generasi pertama tak lama setelah keluar. Saya yang menyarankan semua komputer di kantor memakai produk Apple (dan sampai sekarang di kantor masih memakai Apple). Saya punya iPod Nano generasi kedua, dan sekarang juga masih punya iPod Touch, iPad, iPhone 5s, MacBook Pro, dan Mac Mini.

2874448573_84f2871238_b

Meski saya cukup suka produk Apple,saat ini saya mulai menghindari banyak produk Apple.

Hal pertama yang saya tidak suka dari produk Apple adalah harga. Dari dulu harganya memang cukup mahal, tapi sekarang ini untuk kategori tertentu (misalnya kategori laptop) harganya sudah berlebihan. Contoh: MacBook Pro (non retina) sekitar 15 juta, memorinya masih 4 GB, Masih Core i5, HD 500 GB. Sedangkan laptop Windows saya harga sekitar 7 juta, sudah Core i7, HD 1 TB memorinya mudah diupgrade, harddisknya juga, bahkan saya bisa memakai mSata 256 GB SSD + 1 TB HDD.

Saya cukup senang ketika Apple masih membolehkan kita mengupgrade komponen sendiri, karena upgrade memori atau HDD bisa kita lakukan dengan lebih murah (karena dari vendor lain, atau karena kita mengupgrade 1 tahun setelahnya, sehingga harganya sudah turun).

Lanjutkan membaca “Produk Apple”