Target Baca Buku

Udah beberapa waktu belakangan ini, kegiatan membaca buku berkurang banyak dibanding sebelumnya. Jonathan tetap membaca banyak buku, walaupun sepertinya banyak juga yang dia bacanya sebagian-sebagian saja. Dibandingkan Jonathan, saya kalah banyak dalam hal membaca.

Setiap tahun, selalu punya target membaca 1 buku 1 bulan (teorinya 1 buku 1 minggu, tapi mari kita realistis dengan 1 buku 1 bulan), tapi kenyataannya seringkali 1 bulan berlalu tanpa menyelesaikan buku yang sudah dimulai di baca.

Waktu BBW kemarin, sudah membeli beberapa buku. Pulang ke Indonesia kemarin juga membeli beberapa buku lagi untuk di baca. Dari semua buku yang di beli, belum ada yang dibaca sampai tuntas. Lemari buku sudah hampir penuh dan perlu di reorganisasi, tapi yang lebih penting lagi buku-buku yang sudah dibeli jangan sampai gak dibaca sampai berdebu.

Di Depok, ada banyak buku yang kami tinggalkan juga waktu kami pindah ke Chiang Mai. Melihat buku-buku yang kami tinggalkan itu, saya jadi ingat masa-masa kami agak rajin beli buku dan baca buku. Entah kenapa, buat saya kegiatan membaca itu seperti kegiatan musiman, padahal katanya, kalau mau lancar menulis sebaiknya rajin membaca juga. Mungkin ini kenapa belakangan agak sulit menulis ya, karena udah lama ga membaca hehehe.

Bulan ini sudah 11 hari, ada 1 buku yang sudah dimulai baca. Bukunya gak tebal, tapi karena ga dilanjutkan ya ga selesai juga. Sepertinya saya perlu juga menargetkan waktu baca setiap harinya, bukan cuma membuat sehari satu tulisan saja.

Dipikir-pikir, membaca fiksi biasanya bisa lebih cepat daripada non-fiksi. Tapi, kemarin malahan banyakan beli buku non-fiksi. Pantesan saja saya kalah banyak membacanya dibandingkan Jonathan. Mungkin saya harus membuat perlombaan dengan Jonathan dalam hal membaca supaya saya juga jadi membaca buku.

Target baca buku bulan ini, saya ingin membaca 20 menit sehari. Kita lihat saja ada berapa banyak buku yang akan selesai sampai akhir bulan. Kira-kira membaca buku itu enaknya pagi, siang atau malam hari ya? Kalau menulis, sepertinya sekarang ini saya hanya bisa menulis malam, karena entah kenapa dari pagi sampai sore selalu saja gak bisa duduk dengan tenang untuk menulis.

Untuk kegiatan membaca sebenarnya ada beberapa kesempatan membaca tanpa gangguan, terutama kalau lagi nganterin Jonathan les, tapi ya kadang-kadang godaan baca sosmed lebih besar daripada baca buku. Mau ekstrim non-aktifkan paket data pas di luar rumah, tapi eh kebanyakan tempat ada WIFi nya, jadi ya godaan online tetap akan ada. Yang lebih dibutuhkan tentunya disiplin untuk melakukan apa yang direncanakan.

koleksi buku Jonathan dari Gramedia Depok

Mengenai membaca, Jonathan mulai bisa membaca bahasa Indonesia juga. Walaupun waktu membaca bersuara dia masih banyak belum bisa membaca dengan benar, tapi dia sudah bisa menikmati beberapa pilihan buku seri Why yang dia beli di Gramedia kemarin. Buku-buku ini dalamnya disajikan dalam bentuk komik. Dari beberapa buku yang dibeli, rasanya sudah hampir semua dia baca. Nantinya tinggal diulang lagi membaca bersuara sambil mengajari kosa kata bahasa Indonesia.

Mungkin level membaca bahasa Indonesia Jonathan saat ini sama dengan level membaca bahasa Thai buat saya. Jadi kemungkina saya juga perlu cari buku komik untuk melatih kemampuan membaca bahasa Thai saya. Ah sudahlah, daripada pusing baca tulisan cacing, sekarang ini latihan konsisten membaca bahasa Indonesia dan Inggris dulu saja. Kalau sudah bisa konsisten dalam waktu sebulan ini, nanti kita pikirkan untuk membaca tulisan bahasa Thai hehehe. Yuk mari ada yang mau ikutan nemenin saya membaca setiap hari minimal 20 menit?

Mencari Ide Menulis

Baru hari ke-2 tahun 2019 mencoba konsisten untuk menulis sehari satu tulisan, tapi rasanya sudah kehilangan ide mau nulis apa. Ternyata, membangun kebiasaan baik itu memang sulit ya, gara-gara bolos nulis sejak Natal, dilanjutkan bolos nulis sejak tahun baru, rasanya jadi terbiasa untuk tidak menulis setiap hari. Karena hari ini mulai menulisnya juga udah kemaleman, daripada bolos nulis lagi saya akan mencoba menuliskan sumber-sumber mencari ide menulis.

  • Dari bahan obrolan sama pasangan/anak/keluarga: Sumber yang sering jadi ide biasanya adalah dari bahan obrolan. Tapi kadang-kadang gak semua cerita bisa dituliskan di ranah publik, kalau menuliskan di diary mungkin lain ceritanya dan gak perlu berlama-lama mencari ide, apa saja yang terpikir dan terasa langsung deh dituliskan.
  • Dari tontonan atau buku yang dibaca: bisa menuliskan review atau sinopsis dari film atau buku yang pernah ditonton atau dibaca, tapi untuk hal ini saya sering merasa butuh waktu lama menuliskannya, kalau sudah kemalamam pasti gak bisa mereview dengan cepat
  • Dari membaca tulisan orang lain: kadang-kadang ketika membaca tulisan orang lain, terpikir opini kita sendiri dan bisa menuliskan juga dengan versi kita
  • Dari pengalaman atau pengamatan yang kita rasakan sepanjang hari ini atau baru-baru ini: Cerita begini agak sulit pada hari di mana gak pergi ke mana-mana dan hanya ngerjain rutin beberes, masak dan urus anak doang di rumah, karena rasanya tiap hari bisa-bisa ceritanya sama saja :).
  • Dari cerita nostalgia masa lalu atau membandingkan dulu dan sekarang
  • Dari tempat wisata yang dikunjungi atau ada di tempat kita tinggal. Tulisan seperti ini biasanya juga membutuhkan waktu termasuk mencari foto-fotonya, jadi ga bisa ditulis kalau sudah terkantuk-kantuk.
  • Dan ide terakhir adalah menuliskan di mana kita bisa mencari ide menulis seperti yang saya tuliskan ini sambil curhat kalau lagi ga punya ide hahaha.

Katanya menulis harusnya konsisten waktu menulisnya dan sebaiknya pagi hari, udah beberapa bulan mencoba konsisten menulis tiap hari, tapi belum bisa menerapkan menulis di pagi hari. Mudah-mudahan ini karena baru pulang liburan dan rutinnya belum kembali seperti semula.

Saya pernah bikin list topik untuk dituliskan, tapi entah kenapa gak bisa menuliskan sesuai dengan rencana. Kadang-kadang menulis itu cuma butuh dimulai, di awal memang terasa tersendat-sendat, tapi lama kelamaan malahan jadi kepanjangan. Sering juga kalau menulis gak ada topik, bisa ngalor ngidul gak menentu gitu kayak tulisan ini. Kadang-kadang kalau udah mulai ngalor-ngidul malah bingung mau berhentinya gimana hahaha.

Menuliskan ide-ide menulis begini saja rasanya kok ga bisa kepikiran banyak ya, ayo ditunggu sumbang sarannya buat mencari ide menulis apa aja terutama kalau sudah semi mengantuk hehehe.

Jalan-Jalan ke Puncak

Hari ini ga bisa cerita banyak, soalnya ceritanya masih akan bersambung besok. Cuma mau nulis beberapa hal biar ga lupa saja. Jadi hari ini kami ngikut acara Joe dengan teman-temannya ke puncak, acaranya sejenis team building gitu. Nah, karena puncak itu lebih deket dari Depok daripada harus ngumpul jam 6 pagi di pusat kota Jakarta, kami putuskan buat berangkat sendiri.

Rencana awal sih mau berangkat pagi-pagilah, jam 7 atau jam 8 maksimum. Tapi namanya mode liburan, susah banget emang mau siap-siap lebih awal. Akhirnya tadi baru jam 9-an ready buat pesen grab car atau go car. Waktu tempuh ke Puncak itu walau deket dari Depok tapi ga semua driver mau nerima. Mesan Grab Car 2 kali, udah diterima eh dicancel sama mereka. Akhirnya mencoba memesan Go Car, dan akhirnya ada 1 yang mau nerima dan ternyata rumahnya masih sekitaran komplek rumah Eyang. Kayaknya tadinya dia udah mau pulang ke rumah setelah bermacet ria ke pusat kota dan ke Margo City. Tapi ya sepertinya emang rejeki kami (dan rejeki dia), akhirnya ada juga yang mau nganterin kami ke puncak.

Pemandangan begini menyejukkan hati banget ya

Karena kami belum pernah ke tempat tujuan di puncaknya, ya kami bermodal ngikutin Google Map. Ternyata oh ternyata, waktu udah deket ke tujuan, si Google ngasih rute jalan yang seolah lebih dekat tapi malah ga bisa lewat mobil. Waktu masuk ke dalamnya udah merasa aneh, kok jalannya kecil banget, gak mungkin bis bisa masuk ke jalanan ini (rombongan yang lain berangkat naik bis). Dan bener aja, jalannya mentok gak bisa terus lagi. Space buat muter mobil sangat kecil, dan untuk mundur jauh sangat mustahil, karena jalannya selain kecil, pinggirannya itu kali dan ga ada pagarnya juga. Untung mas drivernya jagoan, dan berhasil muter mobil walau maju mundur beberapa kali. Kalau saya yang nyetir, rasanya udah pasti bakal nangis doang di situ nunggu ada yang nolongin buat muterin hehhee.

Setelah berhasil keluar dari jalan itu, baru deh Google Map nunjukkin jalan lain yang lebih masuk akal. Yang saya heran, driver, saya dan Joe sama-sama nyalain Google Map dari titik awal, dan semua menunjukkan jalan yang salah itu. Waktu ngobrol dengan teman yang berangkat lebih dahulu, dia juga ternyata disasarin sama Google Map juga, tapi untungnya sebelum terlalu jauh dan melhat jalanan kecil dia nanya ke penginapan yang dia lewatin di sana. Jadi dia ga sampai harus puter balik seperti kami. 

Jam 11 an, kami sampai di tujuan dan pengalaman disasarin sama Google itu bisa dilupakan. Untungnya tempat tujuannya memang indah, jadi bisa menikmati liburan di Puncak. Udara di siang hari masih agak panas, tapi di malam hari suhunya turun sampai 20 derajat. Jadi teringat dengan musim dingin di Chiang Mai deh.

Besok cerita lebih banyak lagi, karena mata udah ketarik dan tadi nyari tertidur dan hampir menyerah untuk ga menulis hari ini. Tapi demi target sehari satu setoran, jadilah bangun lagi. Ngomong-ngomong ada yang pernah dibikin nyasar oleh Google Map juga?

Cerita Liburan Hari ke -3: Macet Itu Biasa

Hari ke-3 di Depok, kami memutuskan mengunjungi kakak saya di daerah pondok gede/lubang buaya. Pesan grab car, setelah menunggu beberapa saat mobil jemputan datang. Lumayan memang sejak ada fasilitas mobil yang bisa dipesan lewat aplikasi, kalaupun ga ada yang antar kami bisa tetap kesana kemari kalau lagi mudik.

Karena kami ga tau jalan, kami mengandalkan Google maps. Awalnya menurut perkiraan Google Maps bisa tiba dalam waktu 1 jam, kenyataannya baru mau keluar komplek ada penebangan pohon sehingga jalan dialihkan muter. Buat jalanan muternya karena lebih kecil dari jalan utama dan mobil dari 2 arah dialihkan ke komplek yg sama, akhirnya ya makan waktu juga.

Mendekati daerah lubang buaya, ada banyak yang jualan buah bukan hanya di trotoar, tapi ya memakai sebagian jalur lalulintas. Jelas aja dong jalanan jadi macet. Saya bayangkan karena tempat itu bukan pasar, siapa yang mau membeli buah ya minggir di jalan yg harusnya ada flownya, tentunya sumbangsihnya bikin tambah macet lagi.

Pulang ke arah Depok, lagi-lagi Google bilang cuma 1 jam, tapi prakteknya ya malah hampir 2 jam. Alasannya? penutupan jalan karena ada jalan diperbaiki dan rute untuk mutar itu sama dari ke-2 arah, padahal jalan yg dialihkan itu sangat kecil *sigh*.

Saya ga ingin liburan mengeluh macet mulu sehingga ga bisa kemana-mana, tapi saya kagum dan salut dengan semua orang yang bertahan tinggal di Jakarta dan sekitarnya dengan kemungkinan menghadapi macet setiap waktu. Mungkin saya terlalu dimanjakan Bandung tempo dulu dan Chiang Mai, sehingga saya jadi ga biasa hidup berjuang lawan macet. Untungnya Joe juga bukan model orang yang hobi berlama-lama dalam kemacetan, jadi saya rasa Jakarta dan sekitarnya sudah jelas dalam blacklist kalau harus pulang dan menetap di Indonesia.

Main piano dan nyanyi bareng abang Marvel

Anyway, misi kunjungan cukup menyenangkan. Jonathan bisa cukup akur dengan abangnya (anak kakak saya). Jonathan juga bisa dengan cepat ngobrol dengan teman-teman abangnya yang umurnya lebih tua dari dia. Joshua juga ga rewel dan cukup enjoy bernyanyi diiringi piano. Joshua juga mulai tidak terlalu takut dengan orang yang dia baru ketemu. Karena rumah kakak saya di samping gereja, Joshua senang sekali waktu melihat ada pohon natal besar di dalam gereja. Dia mengamati dengan seksama dan sangat tertarik melihat hiasan pohon natal di gereja.

Main bareng Cathy

Pulang dari rumah kakak saya, kami mampir ke rumah adik sepupu Jonathan yang umurnya hampir sama dan dari kemarin datang ke rumah eyang buat nemenin Jonathan dan Joshua main. Setelah puas main-main dan tentunya makan, kami pulang ke rumah eyang. Mudah-mudahan besok-besok kalau keluar rumah lagi ga ketemu macet seperti hari ini, atau mudah-mudahan kami terbiasa dengan macet jadi bisa tetap bersyukur ga nyetir di tengah kemacetan hehehe.

30 Hari Mencari Ide Blog

Kalau dulu ada film 30 hari mencari cinta, sepanjang bulan November ini buat saya 30 hari mencari ide untuk menulis. Ikut tantangan menulis selama 30 hari sepanjang bulan November yang digagas dari grup ODOP. Hasilnya? walau kadang ide itu datangnya menjelang tengah malam, 29 dari 30 berhasil saya lakukan. Absen 1 hari karena ikut ketiduran pas nemenin Joshua tidur hahaha.

Awalnya saya sering diprotes ama Joe karena mulai jarang nulis blog. Dalam setahun kadang saya cuma nulis 3 post: menyambut tahun baru, mengingat betapa tahun di Chiang Mai dan ya kadang topik random. Berbagai alasan sih yang bikin berhenti ngeblog, diantaranya ya ga mood.

Beberapa bulan lalu, saya tergerak buat ikut ODOP99days. Walau namanya one day one post alias sehari 1 posting, tapi persyaratannya minimal 1 minggu 1 postingan 500 kata atau lebih dengan topik bebas. Saya pikir, ini pemanasan yang bagus buat saya. Targetnya ga muluk-muluk, asal terpenuhi syarat minimum aja udah bagus dong. Selama beberapa bulan saya berhasil menuliskan 1 blog 1 minggu. 

Lanjutkan membaca “30 Hari Mencari Ide Blog”

Oh November Challengeku!

Hari Senin kemarin, bangun pagi setelah jalan-jalan, si kecil badannya hangat dan memang malam sebelumnya mulai batuk-batuk. Kami semuanya masih kecapean sepulang jalan-jalan. Setiap hari Senin kami ada kegiatan homeschool co-op dan kemarin merupakan hari terakhir dari term ini. Saya dan Joe akhirnya berbagi tugas, Papanya ijin kerja setengah hari untuk nemenin si kecil di rumah dan saya menemani si sulung ke co-op.

Hari terakhir co-op ada kegiatan penutupan juga, di mana sebagian kelas menunjukkan apa yang mereka pelajari sepanjang term ini, baik berupa prakarya yang dipamerkan maupun pertunjukan. Dari 3 kelas yang diikuti Jonathan, 2 diantaranya dijadwalkan untuk tampil unjuk kebolehan. Kalau saja dia ga harus tampil, pastinya saya ga akan datang ke acara itu karena Joshua masih demam. Akhirnya sore harinya Joshua ditinggal lagi dengan papanya.

Acaranya dimulai tepat waktu, kami terlambat sedikit tapi untungnya jadwal performnya bukan yang pertama. Kagum juga dengan kemampuan anak-anak homeschoolers yang mampu belajar sesuatu dalam 11 kali pertemuan. Jonathan mengikuti kelas beginning gymnastics dan menunjukkan kalau dia bisa rolling forward dan berjalan di balance beam tanpa jatuh. Kelas yang dia tampilkan berikutnya menampilkan gerakan tangan dari cerita What’s in the Bible. Untuk kelas Beginning Gymnastics mereka bahkan memberikan semacam sertifikat untuk peserta kelasnya.

Dengan kondisi kaki masih super pegal, saya juga berhasil menyelesaikan tugas mengajar kelas preschool di hari terakhir.  Karena minim persiapan, saya cuma bacakan 2: From Head to Toe nya Eric Carle dan buku interactive suara-suara hewan di Farm oleh Eric Carle juga: Around the Farm. Anak-anak saya ajak untuk menirukan gerakan di dalam buku pertama dan menirukan suara hewan di buku kedua.

Setelah membaca buku, karena masih ada waktu mereka main clay (yang sedikit lebih liat dibandingkan playdough) dan saya bebaskan berimajinasi menghiasnya dengan googly eyes dan pipe cleaner. Mengajar anak preschool kelas sensory merupakan pengalaman pertama saya untuk mencoba lebih kreatif, karena setiap minggunya saya harus memikirkan apa yang menarik untuk anak-anak usia 3 – 4 tahun.

Dan setelah semua kegiatan co-op hari ini, saya yang niatnya menemani Joshua tidur lalu bangun kemudian untuk menuliskan hal-hal ini ternyata sukses ketiduran! Terbangun jam 3 pagi rasanya ada yang kurang, dan kaget oh no, hari ke-19 terlewat begitu saja. So, belajar dari pengalaman, saya memutuskan untuk bangun menuliskan cerita hari kemarin sebelum akhirnya tertunda lagi karena berbagai alasan. 

Oh well, semoga setelah bolong 1 hari, untuk hari berikutnya saya ga patah semangat dan jadi berhenti meneruskan november challenge ini. Supaya ga lupa, baiklah di recite lagi mantranya: If it’s important to you, you will find a way. If not, you will find an excuse. Alasan capek jalan-jalan dan anak sakit harusnya tidak membuat berhenti menyelesaikan November challenge ini. 

Topik Skripsi Jurusan Informatika

Saya masih sering dimintai konsultasi untuk  skripsi mahasiswa. Saya dengan senang hati akan membantu berbagai pertanyaan konkrit yang diajukan, tapi ada satu hal yang tidak akan saya berikan jawabannya: pak bisa minta topik skripsi?

Saya sendiri sudah lama tidak di dunia kampus. Berbagai pertanyaan ini sebagian dari orang yang dikenal di Internet, sebagian lagi karena dirujuk oleh para dosen saya dulu di ITB, teman-teman yang sekarang jadi dosen di berbagai universitas, dan juga adik saya yang juga dosen.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar apa itu skripsi, kenapa harus menulis skripsi, dsb karena semua bisa dicari di Internet dan bisa ditanyakan ke dosen masing-masing. Saya hanya ingin meminta supaya yang bertanya merenungkan sedikit mengenai ini: Anda kuliah beberapa tahun di universitas tujuannya apa? apakah Anda sudah mengerti ilmu yang diajarkan, atau berharap nanti secara ajaib tiba-tiba menguasai ilmu ketika sudah bekerja?

Inilah kesempatan Anda untuk mengeksplorasi satu topik secara mendalam dengan waktu yang cukup lama tidak seperti tugas kuliah yang sebentar saja. Anda dibolehkan memilih topik sendiri, tidak dipaksa seperti pada tugas kuliah.  Bagi sebagian orang, bahkan ini yang menjadi titik awal mereka mendalami bidang tertentu.

Menurut saya dunia Informatika/Komputer itu sangat luas dan fleksibel dan mudah dihubungkan ke dunia apa saja. Suka bercocok tanam? bisa dibuat sistem terkomputerisasi, dari mulai otomatis menyiram tanaman sampai sistem informasi untuk mempermudah penjualan hasil bumi. 

Suka game tertentu? bisa dieksplorasi apakah bisa dimenangkan menggunakan Machine Learning/AI. Jika lebih suka topik yang berhubungan dengan grafik/game mungkin bisa membuat game engine sejenis. Suka main game multiplayer dan sering dicurangi? mungkin bisa membahas masalah security multiplayer online game.

Sesekali jalan-jalan ke perpustakaan (foto lama perpustakaan ITB)

Berbagai skripsi lama yang di perpustakaan kampus juga bisa dilihat dan bisa direnungkan: apakah topik ini jadi menarik atau lebih berguna jika dibuat versi mobilenya? apakah lebih akurat jika menggunakan Machine Learning? (bahkan topik ML ini ada banyak pendekatan untuk satu masalah). Bahkan topik dari jurusan lain juga bisa dilihat, misalnya identifikasi penyakit pada tanaman: apakah bisa menggunakan machine learning? apakah bisa dibuat versi mobile yang akurat supaya bisa langsung dipakai di lapangan?

Topik skripsi juga tidak harus selalu lebih rumit dari yang sudah pernah ada.  Beberapa topik bisa dibuat versi sederhananya misalnya dengan tujuan agar bisa dijadikan alat bantu pengajaran, atau disederhanakan supaya bisa berjalan di sistem dengan spesifikasi lebih rendah (misalnya embedded system).

Untuk skripsi S1, riset yang perlu dilakukan tidak harus original (untuk level S2/S3 perlu lebih original), artinya boleh saja topiknya serupa dengan yang sudah ada dengan pendekatan/implementasi yang sedikit berbeda. Tapi tentunya tetap tidak boleh menyalin/plagiat. Ada banyak algoritma dan juga teknologi (mulai dari, bahasa pemrograman, sistem operasi, dan hardware yang berbeda) yang bisa membedakan dari skripsi lain yang sudah ada.

Saran saya jika sekarang masih jauh dari skripsi: coba carilah topik yang menarik bagi Anda dan banyaklah membaca berita terbaru untuk mencari inspirasi. Silakan bertanya pada dosen di kampus jika memang dosen tersebut bisa membimbing Anda. Ada beberapa dosen yang memiliki proyek dan memang butuh seseorang mengeksplorasi satu topik tertentu dari riset/proyek dosen tersebut. Tapi perlu diperhatikan bahwa saya pernah menemui adanya dosen yang membuat daftar topik skripsi yang ngawur atau terlalu mengada-ada (mungkin karena terlalu banyak mahasiswa bertanya, jadi dia mengarang saja semuanya).

Semoga tulisan ini cukup memberikan inspirasi supaya Anda tidak bingung lagi mencari topik skripsi. Semoga Anda bisa belajar mengambil keputusan sendiri (topik skripsi), dan bertanggung jawab menyelesaikan keputusan yang Anda ambil itu. Ini (biasanya) adalah tugas terakhir Anda di kampus yang menjadi persiapan sebelum Anda pergi ke dunia kerja (atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi).