Nulis Apa Hari Ini?

Pertanyaan yang setiap hari saya tanyakan selain pertanyaan mau makan apa hari ini, ya tentang mau menulis apa. Ternyata, walaupun sudah menulis hampir setiap hari sepanjang 2020, mencari ide tulisan itu buat saya masih tidak selalu mudah.

Sudah sering hampir menyerah dan tidak menulis, tapi masih berhasil juga mengalahkan kemalasan dan tetap menulis.

Pertama buka dulu laptopnya, lalu mulailah menulis
Continue reading “Nulis Apa Hari Ini?”

Tahapan Kegelisahan Saya di Masa Pandemi

Halo September!

Titanic dan Covid-19 (foto dari reddit.com)

Hari ini sudah awal September, dan tentunya walau pandemi masih melanda dunia, kita sudah bisa berkegiatan dengan mengadaptasi kebiasaan baru untuk menjaga tetap aman. Paling aman memang di rumah saja, tapi tentunya kita manusia tidak bisa dikurung di rumah saja dan butuh berkegiatan di luar rumah.

Kalau dulu, di awal merebaknya corona virus di Cina, kita bisa menonton dari jauh betapa mencekamnya sepertinya si virus itu. Orang-orang sangat takut keluar rumah dan kalaupun keluar rumah benar-benar membungkus badan supaya jangan sampai tertular. Sekarang, saya dengar komentar beberapa teman bilang kalau di Indonesia sudah hampir normal, di mana orang-orang kebanyakan tidak memakai masker walau orang terinfeksi masih bertambah banyak setiap hari.

Continue reading “Tahapan Kegelisahan Saya di Masa Pandemi”

Ketinggalan Kacamata

Hari Sabtu pagi, hari mengantarkan anak kelas mewarnai. Dari rumah sudah siap-siap bawa laptop untuk menulis sambil menunggu mereka. Lumayan 2 jam daripada bengong. Hari Sabtu lalu, saya cukup berhasil menggunakan waktu dengan mengerjakan sesuatu. Apa daya, ternyata hari ini saya lupa membawa kacamata.

Memaksakan menuis walau penglihatan blur, hehehe…
Continue reading “Ketinggalan Kacamata”

Pandemi Masih Akan Lama Berlalu

Saya tau, sudah banyak orang tidak mau membaca cerita pandemi. Setiap membaca katanya bikin stress. Pokoknya ikut protokol kesehatan saja kalau keluar, demikian katanya. Saya masih membaca perkembangan di Thailand yang sudah hampir 50 hari tidak ada transmisi lokal, dan di Indonesia yang sejak pelonggaran rata-ratanya pasien baru rata-rata 1600 orang dalam 3 hari terakhir.

Kenapa saya masih mengikuti perkembangan Covid-19 kalau Thailand sudah aman? Karena gelombang ke-2 itu nyata adanya. Dari yang saya baca di bulan Juni, Cina sempat ada peningkatan pasien baru walau sekarang sudah terkendali, Australia saat ini menutup kota Melbourne dan Mitchell Shire karena ada lonjakan kasus di daerah tersebut. Di Tokyo, Jepang juga ada peningkatan kasus baru setelah pelonggaran. Korea yang juga termasuk sukses menangani Covid-19 mengumumkan kalau mereka menghadapi gelombang baru dari pandemi sejak akhir Juni 2020 yang lalu.

Jadi, walaupun Thailand saat ini aman, belum tentu selamanya aman dengan adanya orang-orang yang mulai diperbolehkan masuk ke Thailand. Belum lagi, saya baca berita tentang beberapa orang yang tertangkap karena berusaha untuk masuk tanpa ijin ke Thailand. Untuk yang masuk dengan ijin, jelas ada protokol pemeriksaan dan karantina 14 hari. Untuk orang yang berusaha masuk tanpa ijin ini, selalu ada kemungkinan mereka masuk membawa penyakit.

Alasan kenapa Covid-19 menyebar dengan cepat (sumber dari Facebook)

Mengamati beberapa hal sejak adanya pelonggaran dan membaca beberapa berita membuat saya menyadari kalau pandemi masih lama akan berlalu. Walau saya tidak putus berharap pandemi cepatlah berlalu, tapi ya saya harus menerima juga kalau saya seorang diri yang mengikuti dan sadar akan bahaya Covid-19, tidak cukup untuk membuat pandemi ini berlalu. Butuh kerjasama dari semua orang di seluruh muka bumi. Iya di seluruh muka bumi, karena kalau tersisa 1 atau 2 pasien saja, dan kita lengah,  bisa membuat pandemi berulang lagi.

Continue reading “Pandemi Masih Akan Lama Berlalu”

Physical Distancing Terbawa ke Mimpi

Kemarin, setelah sekian lama, kami sekeluarga pergi berlibur. Kami menginap di sebuah resort dengan dua kamar tidur dan memiliki kolam berenang. Anak-anak senang sekali bermain-main di kolam renang dengan papanya.

Kolam renangnya sebenarnya tidak besar, tapi cukup untuk menyenangkan hati anak-anak bermain air di sore hari yang panas. Hanya ada kami di kolam itu. Setelah capek bermain air, kami kembali ke kamar untuk beristirahat.

Villa itu memiliki dua kamar tidur, ruang TV yang bergabung dengan dapur, dan dua kamar mandi. Kami semua tidur di kamar yang sama di paling depan. Padahal biasanya anak yang besar sudah bisa tidur di kamar sendiri. Kami menutup area ke kamar tidur yang tidak kami tempati karena bulu kuduk rasanya agak berdiri setiap melewati atau melihat kamar yang kosong itu. Perasaan saya agak tidak enak dan merasa seram dengan ruangan yang kami sewa itu.

Di pagi hari, saat baru terbangun saya berkata dalam hati, “bukankah di masa sekarang ini ada peraturan kalau kolam renang harusnya masih ditutup? Kenapa kami kemarin bisa menggunakan kolam renang ya?” Terus, saya jadi memikirkan lagi, kami bahkan tidak memakai masker ketika berenang. “Tapi aneh sekali ah kalau berenang sambil pakai masker,” kata saya dalam hati. Lalu, entah kenapa saya terpikir lagi, “Ah ini sepertinya hanya mimpi, mana mungkin bisa liburan di masa pandemi.” Di saat yang hampir bersamaan kalau itu semua hanya mimpi, saya benar-benar terbangun dari mimpi.

Continue reading “Physical Distancing Terbawa ke Mimpi”

Surat untuk Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi

Hari ini akhirnya hujan turun di Chiang Mai, entah kenapa jadi ingat belum menuliskan surat untuk tenaga kesehatan yang paling sibuk di masa pandemi ini. Untuk pegawai di dinas kesehatan, untuk para dokter dan perawat yang bekerja di rumah sakit, klinik kesehatan ataupun puskesmas di seluruh dunia. Untuk mereka yang gak punya pilihan untuk bekerja dari rumah.

sumber: freepik.com

Para tenaga kesehatan ini mungkin yang paling berharap pandemi segera berlalu, supaya mereka bisa beristirahat dengan perasaan tenang di rumah dengan keluarga, tanpa ada rasa khawatir jangan-jangan saya sudah terpapar penyakit. Mereka yang bertugas untuk mengurus pasien. Mereka yang harus menjaga dirinya supaya tidak terpapar dengan segala penyakit yang ada selain covid-19.

Iya penyakit bukan cuma 1 saja, ada banyak penyakit lain selain Covid-19, dan semua itu harus dirawat juga. Setiap hari, para tenaga kesehatan ini berhadapan dengan segala penyakit yang kadang tidak terlihat gejalanya. Mereka harus mendiagnosa penyakit pasien dengan serangkaian pertanyaan maupun tes. Kalau pasiennya tidak jujur, semakin sulit penyakit ditemukan, semakin lama harus mencari bagaimana merawatnya dan semakin tinggi kemungkinan mereka terpapar penyakit yang dibawa si pasien (dan ini bukan hanya masa covid-19 saja).

Mama saya seorang perawat di masa mudanya. Ketika kami mulai agak besar, papa saya meminta mama saya berhenti bekerja di rumah sakit dan bertugas di kantor saja. Sekarang mama saya sudah pensiun bertahun-tahun sebagai pegawai dinas kesehatan yang mengurus pekerjaan bagian rumah sakit. Sedikit banyak, saya tahu juga pekerjaan mama saya di dinas kesehatan. Mereka juga perlu membuat laporan tentang jumlah pasien, tentang penyakit yang paling banyak terjadi di satu daerah, tentang fasilitas apa yang dibutuhkan di satu daerah tertentu.

Terbayang saat ini, di masa pandemi, pegawai dinas kesehatan baik yang bertugas di rumah sakit ataupun yang di kantor, kerjaannya jadi banyak. Mereka tidak punya pilihan untuk di rumah saja. Mereka yang akan disalahkan kalau ada data laporan yang salah ataupun jumlah pasien yang tak kunjung sembuh.

Mungkin mereka tidak pernah berharap bakal bertemu dengan masa pandemi. Jangankan tenaga kesehatan, saya saja masih sering berharap masa pandemi ini hanya mimpi buruk dan segera terbangun dari tidur dan semua kembali ke keadaan yang normal.

Kemarin saya ngobrol dengan ipar saya, seorang dokter yang bertugas di Puskesmas. Ketika saya menanyakan bagaimana kabarnya, dia langsung curhat kalau sejauh ini sudah ketemu dengan 3 pasien positif covid-19 (bukan cuma terduga) dari hasil rapid test. Padahal rapid test ini masih sering memberikan false negatif, tapi kalau hasilnya positif, berarti memang sudah benar-benar positif. Saya tanyakan apakah dia selalu memakai perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) setiap ketemu semua pasien. Katanya mau tak mau ya harus, walau APD yang dipakai bukanlah APD yang sesuai standar dan terkadang harus cuci kering dipakai lagi sampai robek baru ganti.

Saya kaget, saya pikir tenaga kesehatan kita dapat jatah APD untuk melindungi diri dan supaya bisa merawat pasien dengan baik. Ternyata, mereka harus mencari sumbangan sendiri untuk mendapatkan APD. Duh, kalau dokter dan tenaga kesehatan tidak ada jatah APD, bagaimana kalau mereka terpapar lebih dahulu? bisa-bisa semua pasien dengan keluhan lain ikut terpapar juga.

Obrolan dengan ipar saya membuat saya ingin bertanya lagi dengan dokter yang lain. Saya mengontak teman SMA saya yang juga seorang dokter. Kalau menurut teman saya ini, dokter yang bekerja di rumah sakit swasta bisa menolak menemui pasien kalau tidak ada APD. Betapa jauh bedanya dengan nasib dokter di puskesmas ya. Padahal mereka sama-sama dokter dan sama-sama dibutuhkan di masa pandemi ini. 

Saya juga bertanya-tanya apakah suster dan pegawai kesehatan lainnya mendapat jatah APD juga? Kataya, kalau suster harus menyediakan APD sendiri. Padahal setahu saya gaji suster itu jauh lebih rendah daripada gaji dokter, dan mereka juga lebih sering ketemu pasien daripada dokter.

Ah, sekarang saya mengerti kenapa dulu papa saya tidak suka mama saya bekerja di rumah sakit. Saya baca saat ini banyak tenaga kesehatan yang tidak berani pulang ke rumah. Mereka menjaga jarak aman dengan keluarganya karena mereka tidak mau mengambil risiko. Sudah banyak tenaga kesehatan jadi korban pandemi ini.

Mungkin kalau saya yang jadi pegawai kesehatan di masa pandemi, saya akan bolos kerja saja atau berhenti sekalian. Pergi ke rumah sakit saja rasanya sudah bikin gemetar duluan, apalagi kalau harus jadi yang merawat orang sakit tanpa APD di masa pandemi ini.

Tapi memang menjadi tenaga kesehatan itu panggilan hati. Mereka menjadi tenaga kesehatan bukan karena gengsi atau sekedar biar ada pekerjaan. Mereka pastilah memang punya hati untuk melayani. Hati untuk membantu sesama manusia melawan penyakit yang diderita.

Walau tanpa fasilitas APD bukan jadi penghalang buat para tenaga kesehatan untuk mengerjakan tugasnya. Mereka mengupayakan APD sendiri, mereka menjaga kesehatan diri sendiri sambil tetap merawat yang sakit. Mereka tidak mundur walaupun nyawa sendiri taruhannya.

Buat para petugas kesehatan semua dimanapun kamu bertugas, terimakasih saya ucapkan untuk kalian semua. Terimakasih kalau kalian mau tetap bekerja supaya kami bisa di rumah saja. Terimakasih kalau kalian tetap mau merawat semua pasien tanpa memandang status dari si pasien dan jenis penyakit apa saja.

Saya tahu, kalian pasti berharap kami semua mengikuti anjuran yang ada dari pemerintah. Supaya kami tidak keluar rumah kalau tidak terpaksa. Supaya kami jaga jarak aman dengan yang lain. Supaya tidak ada pasien yang bohong waktu diperiksa. Dan pasti kalian berharap besok tidak ketemu pasien dengan gejala ataupun tanpa gejala yang positif covid-19.

Iya, tidak ada yang mau sakit. Semua juga pengen sehat. Semua berusaha untuk meningkatkan imunitas. Saran berjemur, minum vitamin, makan makanan sehat, berolahraga sebagian besar berupaya lakukan. Tapi memang ada juga yang selalu merasa dirinya harus sehat karena kalau tidak kerja tidak makan.

Iya, banyak yang merasa sehat dan tidak bisa diam di rumah saja. Tidak punya kendaraan pribadi, lalu terpapar atau malah menyebarkan di angkutan umum yang berdesakan. Banyak juga yang sudah disarankan untuk isolasi, tapi karena butuh makan harus keluar rumah juga.

Saya hanya bisa berdoa dan berharap pandemi ini segera berlalu. Semoga para tenaga kesehatan juga tetap sehat melalui masa ini. Semoga ada yang segera menemukan titik terang untuk mengakhiri pandemi ini. Entah itu vaksin, atau obat atau cara mendeteksi pasien secara dini untuk mengurangi penyebaran infeksi.

Salam dari Chiang mai untuk tenaga kesehatan di manapun kamu berada. Semoga malam ini kalian bisa beristirahat memulihkan tenaga walau mungkin hanya sebentar saja.

Menanti-nantikan Hujan turun di Chiang Mai

Sejak beberapa hari lalu, saya membaca pengumuman kalau akan ada hujan di utara Thailand sebagai akibat dari badai di Cina Daratan bagian selatan. Setiap hari, saya memeriksa prakiraan cuaca dan berharap pengumuman itu cukup akurat. Sungguh berharap hujan yang cukup banyak untuk menghapuskan polusi di kota Chiang Mai ini selain untuk mengisi persediaan air kota Chiang Mai yang mulai mengering.

Pengumuman akan ada Summer Thunderstorms di Utara Thailand (Sumber: tmd.go.th)

Membaca detail pengumuman ini, sebenarnya hati saya terbagi antara senang dan sedikit khawatir. Senang karena dengan adanya hujan dan angin kencang artinya udara akan terasa sejuk dan bersih, bye bye polusi. Khawatir karena membaca deskripsinya berupa hujan badai disertai kilat yang menyambar dan angin kencang dan kemungkinan hujan batu es juga. Apalagi dilengkapi dengan peringatan untuk tetap berada di dalam ruangan selama hujan berlangsung. Semoga saja tidak semengerikan yang saya bayangkan yang nanti terjadi.

Continue reading “Menanti-nantikan Hujan turun di Chiang Mai”