Mencari Sekolah buat Joshua

Sekarang Joshua berumur 3 tahun 2 bulan dan masih belum dikirim ke sekolah/playgroup atau daycare manapun. Jonathan dulu umur 3 tahun kurang sudah dikirim ke daycare/taman bermain. Sebelumnya ga kepikiran mencari/memilih sekolah aja bisa jadi rumit. Mencari sekolah ini selalu jadi topik yang menarik buat saya karena di sini walaupun ada banyak sekolah, tapi mencari sekolah yang sesuai dengan kami itu ternyata ga mudah. Bahasa, harga, lokasi selain kualitas jadi pertimbangan sebelum mengirim anak ke sekolah/taman bermain.

Waktu Jona masih di daycare, saya bertemu dengan salah seorang ibu yang sama-sama mencari sekolah terbaik buat anak. Kami mengunjungi banyak sekali sekolah di Chiang Mai. Tapi karena teman saya ini orang Thailand kami lebih banyak mengunjungi sekolah Thai atau bilingual yang mengakomodasi orang asing. Dari dulu sekolah Internasional itu mahal, jadi kami ga pernah menargetkan sekolah Internasional. Kalau kata teman saya, anak dikirim ke sekolah Internasional cuma bisa berbahasa Inggris, dan kadang-kadang malah ga punya skill lainnya. Mungkin karena dia memandang sebagai orang lokal tinggal di negara sendiri, dia merasa kemampuan bahasa Inggris itu ga harus jadi kemampuan utama, apalagi kalau sampai harus bayar mahal. Dia juga punya beberapa ponakan yang lulusan sekolah Internasional tapi akhirnya kerjanya biasa saja dan penghasilannya ga berbeda dengan anak-anak lulusan sekolah lokal.

Saya sebagai lulusan sekolah negeri dari SD sampai kuliah, ga bisa argue juga mengenai sekolah Internasional. Kemampuan bahasa itu bisa dipelajari, kami ga pernah menargetkan anak-anak harus bisa bahasa Inggris dulu atau bahasa Thailand dulu, tapi karena kami ga tinggal di Indonesia kami malah menargetkan anak-anak harus tetap bisa berbahasa Indonesia selain bahasa apapun yang mereka suka.

Jonathan bisa bahasa Thai dan Inggris dan sempat cuma prefer bahasa Inggris. Sejak homeschool dan banyak berbahasa Indonesia, dia mulai lebih banyak kosa kata bahasa Indonesianya. Joshua sampai sekarang lebih banyak berbahasa Inggris walaupun mengerti bahasa Indonesia. Tapi belakangan dia juga mulai suka mengucapkan kata-kata bahasa Thai yang dia dengar. Kenapa kami memaksakan anak-anak harus bisa bahasa Indonesia padahal ga tinggal di Indonesia? ya karena mereka orang Indonesia dan oppung/eyangnya ga bisa bahasa Inggris ataupun Thai. Mereka harus bisa bahasa Indonesia biar bisa ngobrol dengan keluarga besar kalau lagi pulang kampung.

Di Chiang Mai, daycare yang gurunya bisa bahasa Inggris itu pilihannya ga banyak, dan harganya 2 kali lipat dari jaman Jona daycare. Kadang2 kepikiran, dulu orangtua kami rasanya ga pusing-pusing amat milih sekolah, mereka akan cari sekolah terdekat negeri yang mereka mampu bayar dan itupun kadang terasa berat tiap awal tahun ajaran karena harus beli baju seragam maupun buku pelajaran dan alat tulis, sepatu dan tas kalau misalnya yang sebelumnya sudah kekecilan/rusak.

Di Chiang Mai ada banyak orang asing. Ada banyak sekolah Internasional dan bilingual, setiap sekolah Thai juga selalu ada English Programnya, tapi dari hasil survei, walau mereka bilang English Programme atau Bilingual umumnya semua pemberitahuan ke orangtua atau penjelasan apapun pakai bahasa Thai. Harga uang sekolah di sini juga sangat beragam, yang pasti untuk sekolah Internasional, rata-rata berkisar mulai dari 250.000 baht/tahun atau diatas 110 juta per tahun. Saya tahu, di Indonesia uang sekolah Internasional juga ga murah, tapi karena kami bukan lulusan sekolah internasional dan merasa bisa berhasil tanpa sekolah internasional, kami jadi merasa sekolah internasional ga sepadan dengan harganya.

Untuk mengeluarkan uang sekolah ratusan juta per tahun sejak anak umur 3 tahun sampai lulus universitas kalau dihitung-hitung bakal jadi beban untuk anak itu juga. Pilihan daycare bisa lebih murah (walau ga murah banget juga), dan untuk umur di bawah 6 tahun, pendidikan formal itu belom dibutuhkan. Anak lebih butuh diajak bermain dan belajar life skill. Saya mencari sekolah paruh waktu buat Joshua, tapi inipun belum berhasil menemukan yang tepat. Dengan kemampuan akademis Joshua yang mulai membaca di umur 3 tahun, sepertinya bakal semakin sulit mencari sekolah yang tepat buat dia. 

Untuk sebelum umur 6 tahun, saya mencari sekolah yang tidak mahal, guru bisa berbahasa Inggris dan tidak menekankan akademik tapi lebih banyak mengajak anak bermain. Sekolah yang guru-gurunya ga sibuk main HP dan tetap mau perhatikan anak main walaupun judul kelasnya free play. Sekolah/daycare yang ga banyak kasih anak video walaupun itu kasih lagu nursery rhyme. Karena kalau gurunya main HP mulu atau kasih video doang akhirnya sama aja dengan saya dong dan bisa saya lakukan di rumah tanpa bayar atau ribet antar jemput hehehe. 

Pada akhirnya, walaupun saya sangat ingin mengirimkan Joshua ke sekolah supaya saya bisa lebih ringan tinggal ngajarin Jonathan di rumah tanpa harus ajak Joshua main, yang paling tepat sampai sekarang ini ya tidak mengirimkan Joshua ke sekolah. Beberapa pertimbangan nantinya mencari nanny biar bisa ninggalin Joshua dan Jona di rumah kalau mamanya butuh me time.

 

Restore Backup Ponsel

Sekitar 20 tahun lalu ketika masih memakai dumb phone, data di ponsel yang perlu dibackup hanya phone book dan SMS. Backup ini sangat diperlukan ketika reset HP (misalnya rusak dan direset ketika reparasi) dan ketika berpindah HP. Kerepotan waktu itu adalah masalah koneksi karena diperlukan kabel data khusus sebelum IR dan Bluetooth banyak digunakan. Setelah ponsel makin berkembang, data kalender juga mulai jadi masalah yang perlu dibackup.

Sekarang biasanya saya butuh backup untuk pindah ponsel atau rooting ponsel. Ketika unlock bootloader Android, biasanya data akan hilang jadi perlu backup lalu restore lagi.  Pernah juga saya butuh backup ketika HP tiba-tiba rusak dan perlu reparasi.

Sekarang masalah backup phone book, SMS, dan kalender sudah otomatis ke cloud sehingga tidak ada masalah restore data dasar ini ke HP baru (atau jika melakukan reset HP). Tapi ternyata sekarang juga masih banyak aplikasi baru yang butuh backup manual.

Posting ini sekedar jadi catatan supaya ingat apa yang harus dilakukan sebelum transfer data ke HP baru atau reset data HP. Posting ini juga bisa dijadikan pembanding beberapa tahun yang akan datang apakah proses backup semakin mudah atau tetap seperti ini.

Sekarang saya memakai Google Photos sehingga semua foto aman dibackup (tanpa batas) dan juga mengupload copynya di One Drive (batasnya 1 TB). Berbagai dokumen saya letakkan di Google Drive atau DropBox sehingga bisa diakses dari PC. Jadi sebenarnya sekarang ini yang masih mengganjal hanya beberapa aplikasi yang butuh aksi khusus sebelum (misalnya membackup data secara manual) dan sesudah pindah ponsel baru(restore manual).

Jenis aplikasi pertama adalah banking. Untuk alasan security, kita perlu mengaktifkan ulang aplikasinya. Ini bisa dimaklumi untuk masalah keamanan.  Jika aplikasi banking dengan mudah bisa direstore dari backup maka jika ada yang berhasil mengakses backup di PC akan bisa merestore aplikasi tersebut di ponselnya.

Untuk alasan security, ada bank yang menutup proses aktivasi di luar jam kerja meskipun semua proses sifatnya online. Mungkin tujuannya adalah jika ada masalah maka bisa ditangani jika aktivasi hanya dilakukan di jam kerja. Sebenarnya ini hal kecil, tapi saya pernah hampir lupa karena melakukan reset HP di malam hari.

Aplikasi yang lain yang berhubungan dengan security seperti Authy dan Keybase juga butuh perlakuan  khusus ketika backup. Keduanya butuh device lain yang aktif untuk memudahkan aktivasi device baru. Khusus untuk Authy (diperlukan untuk 2FA di Cloudflare) dibutuhkan waktu 24 jam untuk reaktivasi aplikasi jika kita cuma punya 1 phone dan mereset phone tersebut. Cara yang benar adalah: menambahkan phone baru, reset ponsel, restore, dan aktifkan kembali dari phone satu lagi.

Jenis aplikasi berikutnya yang butuh backup khusus adalah messaging seperti Whats App (WA) dan Line. WA berusaha menjadi aplikasi yang aman: semua data disimpan di ponsel — tidak di cloud — dan kita sendiri yang harus membackup datanya ke cloud. Ini bisa dilakukan otomatis tiap hari. Masalahnya kadang dalam beberapa jam saja sudah ada puluhan/ratusan pesan masuk, jadi kita harus ingat untuk membackup manual sebelum transfer data ke HP baru (jika tidak, maka sebagian chat akan hilang).

Aplikasi chat Line memiliki fitur backup, tapi backup harus dilakukan satu demi satu per conversation secara manual. Biasanya saya menyerah dan membiarkan saja tidak terbackup ketika pindah ke HP baru karena tidak banyak percakapan di Line. Line bisa memakai Facebook untuk login, tapi juga tetap harus verifikasi ponsel. Pengalaman terakhir jika langkah terakhir tidak dilakukan, beberapa teman jadi gagal mengirim pesan.

Beberapa aplikasi seperti Kindle memiliki sifat yang mengesalkan ketika kita reset HP. Semua data kita di cloud, tapi jika kita tidak melakukan “deregister device” sebelum reset HP, maka HP tersebut akan tercantum di cloud dua kali. Masalahnya adalah jika ada konten yang jumlah copynya dibatasi maka itu tetap terhitung di device yang sudah direset tadi. Jika terlupa deregister, solusinya adalah ke situs Amazon dan menderegister device dari cloud.

Sebagian besar game bisa menyimpan data di cloud (dan tersedia API-nya untuk Android dan iOS). Tapi ada game-game yang butuh backup manual seperti Pokemon Quest, Magicarp Jump,  dan Layton Mystery Journey. Game-game ini sifatnya cross platform (misalnya Pokemon Quest juga tersedia di Nintendo Switch), jadi mereka butuh sistem backup yang custom.

Terakhir ada kategori aplikasi yang memang nyebelin karena tidak memiliki fitur backup dan harus disetup manual. Untuk Android jika HP awal dan tujuan diroot maka program tertentu (misalnya Titanium Backup) bisa membackup datanya. Saat ini saya me-root ponsel biasanya setelah sebulan dipakai karena pernah 2 kali mengalami HP rusak tiba-tiba padahal baru dibeli.

Secara umum restore backup ponsel sudah lebih mudah dari jaman dulu, tapi masih banyak yang bisa diperbaiki di masa depan.

Friends are (not) forever?

Berapa banyak teman yang kamu punya di FB? Berapa banyak dari teman itu yang masih tetep kontak denganmu? Berapa banyak temen yang masih saling berkomentar dan atau kasih jempol saja? Berapa banyak yang kamu tungguin update kabar beritanya? Berapa banyak yang kamu kontak langsung setelah mendapati temen kamu ga ada di daftar temen kamu lagi (masa ga punya cara kontak lain selain di FB)?

Berapa banyak teman yang kamu ucapkan selamat ulang tahun bukan karena kamu lihat notifikasi di FB tapi karena kamu sengaja set reminder di calendar pribadimu? Berapa banyak teman yang kamu tahu umur anak-anaknya berapa walau sudah beberapa tahun ga ngobrol (alih-alih nanya mulu tiap ngobrol)? Berapa banyak teman yang kamu selalu bisa ngobrol bukan pas butuh bantuan/ada keperluan doang? Berapa banyak teman di FB yang ga kamu unfriend/hide gara-gara beda pandangan politik atau perbedaan memandang masalah asi/sufor, vaksin/nonvaksin atau karena perbedaan pendapat lainnya?

Ilustrasi dari undraw

Saya bukan orang yang terlalu ramah  dan sebagian besar kenalnya saya orang galak (mungkin karena saya sering ngomong to the point), tapi dibanding Joe, temen saya lebih banyak  mulai dari temen TK sampai temen kuliah yang masih terhubung via FB ataupun sekedar punya nomor telponnya. Beberapa teman tetap saling kontak, beberapa hilang karena mereka ga punya FB atau udah ga tau lagi mau ngomong apa.

Daftar teman saya di FB masih terlalu banyak menurut saya, karena sebagian teman di FB itu saudara dan atau teman sealmamater yang ya kenal tapi ga kenal-kenal banget. Kadang kepikiran buat merampingkan daftar teman, tapi saya pikir nanti bisa salah paham kalau saya putus pertemanan, akhirnya ya sudah sementara ini biarin dulu. Sesekali kalau ada teman di FB yang terlalu rajin jualan ngetag-tag, atau terlalu banyak share politik, berita hoax dan berita yang bikin sakit mata, ya paling temen itu saya unfriend saja. Beberapa saya kasih tau baik-baik kalau saya ga suka di-tag, lalu mereka ga nge-tag saya lagi, beberapa bilang ya udah unfriend aja.

Waktu kuliah seorang teman berkata: tidak ada teman sejati, yang ada kepentingan sejati. Saya waktu itu ga setuju dengan kalimat itu. Masa kuliah itu bisa dibilang saat terlama bersama-sama teman sekelas  (waktu SD belum merasakan serunya punya temen berlama-lama). Makanya saya ga buru-buru lulus 4 tahun. Kalau masa SMP dan SMA saya menanti-nantikan liburan panjang kenaikan kelas, masa kuliah saya merindukan kapan bisa kembali lagi kuliah sampai pas lagi liburan panjang terbawa mimpi lagi kuliah hahaha. Perasaan ga terima aja kalau dibilang kita berteman dengan seseorang itu karena ada “kepentingannya”, masa sih ga ada ketulusan dalam berteman? masa sih? masaaaa??? (eh kok jadi dramatis gini).

Belakangan ini setelah lama ga bertemu dengan teman-teman selain mostly lewat FB saya mulai merasa kalimat itu ada benarnya. Hubungan pertemanan yang masih terpelihara itu biasanya karena ada kepentingan dari kedua belah pihak, manusia kan mahluk sosial jadi pastilah kita membutuhkan manusia lainnya, dan itu juga termasuk kepentingan toh. Kalimat itu bukan berarti kepentingan dalam arti memanfaatkan teman, tapi lebih ke: kita masih berteman karena masih ada irisan kesamaan urusan (aduh apa sih irisan urusan). Ya kadang-kadang kepentingannya ga penting-penting banget juga, cuma seneng aja kan gitu ngumpulin temen lama, sesekali ketemu dan atau kalau ada yang butuh bisa ditanyakan tanpa harus kenalan dulu atau basa-basi.

Sejak jaman Friendster, saya malas menambah teman yang ga kenal. Setelah Friendster digantikan FB, saya makin malas nambah teman hahaha. Saya menambah teman kalau memang kenal (irisan urusannya misalnya sama-sama kota tinggal atau ya dulu pernah juga nambah teman jaman rajin hobi main benang). Beberapa teman yang bertambah karena hobi akhirnya hilang juga karena sejak saya ga hobi main benang lagi ya irisan urusannya hilang, tapi beberapa tetep jadi teman baik karena mereka tetep asik buat diajak ngobrol selain ngomongin benang.

Beberapa tahun terakhir ini, ada banyak ajakan reuni. Pertama kali bertemu di  grup WA atau FB dengan teman-teman sekolah itu rasanya seru banget. Tapi lama-lama sepertinya obrolannya mulai ga seru karena yang diobrolin ga bertambah yang baru.  Sejauh ini, saya belum pernah ikutan ke acara reuni ataupun reuni akbar, karena kalau dipikir-pikir saya memang pingin ketemu beberapa teman tapi saya ga terlalu pengen juga ketemu dengan teman baru. Beberapa teman bilang kan seru punya temen baru dan wawasan baru, atau beberapa teman bilang kan buat networking. Mungkin kalau saya punya bisnis saya akan merasa perlu juga punya banyak teman baru, tapi untuk sekarang ini sepertinya saya memilih untuk memaintain pertemanan dengan yang sudah ada saja.

Menulis Surat

Siapa yang masih sering menulis surat? Baik itu surat di kertas maupun surat elektronik? Sepertinya kebiasaan menulis surat kepada teman dan keluarga ini sudah mulai jarang dilakukan. Waktu Jonathan baru lahir, beberapa bulan pertama dan beberapa ulang tahun pertama, Joe dan saya mencoba untuk mengirimkan e-mail ke account yang kami set-up untuk Jonathan sejak dia lahir. Tapi bebeberapa tahun belakangan ini sudah lama tidak dilakukan lagi. Tulisan ini sekaligus pengingat buat saya untuk kembali lagi menuliskan surat untuk Jonathan dan Joshua. Surat buat mereka baca ketika mereka sudah bisa membaca nantinya.

Mengajak Jonathan ke kantor pos di Thailand

Teringat jaman dulu, salah satu kolom di majalah Bobo itu adalah sahabat pena. Saya ga pernah sih punya sahabat pena, tapi Joe pernah cerita dia pernah punya beberapa sahabat pena. Saya juga tau beberapa teman saya yang rajin kirim-kiriman surat dan punya beberapa sahabat pena. Saya ga ikutan kirim-kirim surat sahabat pena karena saya orangnya pemalu dan ga tahu juga mau nanyain apa di surat, ketemu orang baru aja rasanya sulit untuk bertegur sapa. Beda dengan sekarang, kalau sepertinya lawan bicaranya ga aneh-aneh (objektif terhadap mood), gampang sekali untuk ajak orang ngobrol.

Tahun pertama tinggal di Bandung, saya mulai sering berkirim surat. Kebetulan di kampus ada kantor pos, jadi lebih mudah juga untuk mengirimkan surat balasan.  Saya ingat, dulu saya punya 1 kotak khusus menyimpan surat-surat dari keluarga dan dari sahabat masa SMA. Terakhir saya ingat kotak itu ada di rumah mertua, saya coba membaca beberapa surat dari sahabat SMA saya. Lucu rasanya membaca curhatannya. Membaca surat lama sama seperti membaca posting blog lama, beberapa hal sudah terlupakan dan jadi ingat lagi.

Kadang-kadang saya terima surat dari teman SMP atau teman masa bimbingan belajar, kadang agak bertanya-tanya loh kok dia bisa dapat alamat kost saya ya hehehe. Dulu perasaan senang banget kalau terima surat, apalagi kalau suratnya panjang dan berlembar-lembar, serasa deh ketemu dengan orangnya dan ngobrol panjang lebar. Kadang-kadang saya semangat nerima doang, untuk membalas saya tunda-tunda, terus akhirnya ya ceritanya update yang lain-lain lagi. Sebenarnya beberapa hal pertanyaan-pertanyaan dalam surat ga penting banget juga dibalas langsung, yaaa bayangin aja pos biasa itu bisa 10 hari sampai dari Medan ke Bandung, soalnya emang pake perangko yang murah aja hehehe.

Liburan panjang kenaikan tingkat saya pulang ke Medan selama 2 bulan, beberapa teman kuliah ikutan semester pendek di Bandung. Saya ingat, sempat juga beberapa kali surat-suratan dengan teman kuliah. Mereka cerita seputar semester pendek dan update gossip hahahaha, saya cerita kebosanan liburan dan pengen balik ke Bandung, bukan buat kuliah tapi buat bisa hang out sama temen-temen aja.

Masa-masa nulis surat berlembar-lembar itu saya ingat punya angan-angan andai saja bisa kirim surat digital saja yang ga harus kirim via kantor pos (soalnya saya malas ke kantor pos). Saya gak harus nulis di kertas tapi langsung bisa membalas di bagian pertanyaan. Kira-kira yang saya harapkan waktu itu ya adanya e-mail seperti sekarang ini.

Saya  lupa kapan persisnya mulai kenal e-mail, tapi masa itu teman-teman dan keluarga saya di Medan belum punya e-mail, mereka bahkan masih ga ngerti apa itu internet. Yang saya ingat, saya sering banget tuh nyuruh-nyuruh teman saya bikin e-mail biar gampang ga harus surat-suratan pake pos. Di rumah saya di Medan juga saya minta adik saya install modem biar bisa konek internet dan belajar e-mail. Tapi ya, ga gampang memandu jarak jauh mengenai dial-up modem suapaya bisa berinternet, masa itu belum banyak yang jual buku how-to seperti sekarang.

Sejak e-mail makin populer dan keberadaan warnet mulai lebih banyak dibandingkan wartel, kebiasaan berikirim surat via pos mulai saya tinggalkan. Kontak dengan teman-teman SMA paling lewat telepon atau ketika saya liburan ke Medan saja. Kontak dengan teman kuliah dan beberapa teman lain ya sudah memakai e-mail. Untuk komunikasi ke rumah lebih sering memakai telepon (ke warnet atau saya di telepon). Rasanya menuliskan surat via pos biasa mulai kurang seru, karena lebih cepat ngobrol langsung, update kabar dan langsung dapat respon. Masa itu, kartu telepon atau wartel menjadi lebih sering dikunjungi daripada kantor pos. Kalau lagi liburan ke Medan saya jadi lebih sering ke Warnet dan udah ga pernah lagi ke kantor pos.

Iseng kirim kartu pos dari tempat wisata

Sekarang, sejak memakai media sosial seperti Facebook dan HP yang terkoneksi dengan internet 24 jam, menulis e-mail pun mulai ditinggalkan. Apalagi mama saya juga sudah kenal teknologi internet, tambah lagi berkurang alasan untuk kirim surat. Kalau mau ngobrol ya tinggal kirimkan pesan via WhatsApp, Facebook, Line dan dulu sempat juga pake BBM.  Kalau lagi malas nulis, sering juga pakai video call. Tapi rasanya sekarang ini malah makin jarang berkomunikasi dengan teman masa SMA, ya sebagian juga karena makin lama makin jarang update kabar, jadi paling taunya kabar dari update status mereka di media sosial.

Teknologi memang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi, tapi entah kenapa ada perasaan teknologi chat bikin saya semakin sulit untuk menuliskan banyak hal seperti ketika saya menuliskan surat. Menulis blog ini saja saya sering kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya pengen saya sampaikan. Kebiasaan chat yang saling berbalasan langsung membuat saya tidak bisa mengkomposisikan apa yang ingin saya sampaikan dalam paragraph yang mudah dimengerti dan tidak bertele-tele.

Dipikir-pikir, waktu menuliskan surat, baik itu surat pos biasa ataupun e-mail, saya masih bisa untuk bercerita dengan menggunakan kalimat lengkap yang jelas, saya menyampaikan secara lengkap hal-hal yang ingin saya sampaikan tanpa interupsi oleh penerima surat. Tentunya saya berharap surat saya bisa dimengerti dan jelas mana yang berita dan mana yang pertanyaan. Sekarang ini, kalau saya disuruh menuliskan surat, rasanya suka bingung sendiri mulai dari mana. Bahkan menuliskan blog ini saja saya sepertinya sudah mulai kemana-mana dan ga fokus lagi. Harus lebih sering posting lagi dan lebih sering menuliskan surat.

Oh ya, jadi ingat, waktu masih pacaran saya pernah terima surat dari Joe, ceritanya dia lagi menghemat batere laptop dan ga ada wifi di Airport, jadi untuk mengisi waktu, dia nulis surat ke saya hahaha. Surat fisik begitu bagusnya bisa dibaca berulang-ulang, rasanya membaca surat apalagi dari pacar bikin perasaan makin berbunga-bunga. Jaman awal pacaran, saya dan Joe juga masih sering kirim e-mail. Harus dicari tuh arsipnya buat kenang-kenangan hahahhaa. Kira-kira isi suratnya kayak posting blog ini

Aku Cinta Padamu

 

Kesimpulannya buat saya, menulis surat itu berguna untuk jadi arsip/catatan yang bisa dibaca lagi dikemudian hari. Tapi memang ga ke semua orang sih kita perlu tulis surat, apalagi kalau ga tau juga mau cerita apa. Sekarang ini yang terpikir ya nulis surat ke anak-anak saja. Buat mereka baca kalau mereka besar nanti. Posting blog ini juga mudah-mudah bisa jadi kenangan buat mereka kalau kami sudah ga ada lagi.

Ayo menulis surat/blog buat orang-orang yang kita sayangi. Ingatan manusia ini ada batasnya, tapi kalau dalam bentuk tulisan bisa dibaca dan membawa kita bernostalgia dan menjadi memory yang lebih bertahan lama.

Tentang Sebuah Nama

Saya orang Batak. Lahir dari keluarga marga Saragih, tapi marga itu tidak tercantum di akte kelahiran saya. Kata mama saya, waktu saya lahir di tempat pembuatan akte (DKI Jakarta) ada peraturan tidak boleh memasukkan marga sebagai nama keluarga (entah peraturan apa, atau ada peristiwa apa waktu itu yang menyebabkan tidak dibolehkan). Ternyata sampai sekarang masalah pencantuman nama marga ini masih jadi masalah untuk WNI keturunan.

Jadilah akte lahir saya cuma punya 1 nama. Saya anak ke-3, kakak pertama saya punya 3 nama (nama depan, tengah + marga), kakak ke-2 punya 4 nama (nama depan, tengah, akhir + marga), dan sepertinya waktu saya lahir orangtua saya sudah kehabisan nama hehehe, jadilah akhirnya dikasih 1 nama doang (yang sebenernya bisa juga dipisah jadi 2 nama kalau mau, tapi orangtua saya memberi nama saya sebagai 1 nama). Sebenernya nama yang pendek menguntungkan saya waktu ujian masuk PTN, ga banyak bulatan yang harus saya lingkari hehehe.

Kakak saya dan adik saya punya nama mereka plus marga di aktenya, karena akte kakak saya hilang lalu waktu mama saya urus lagi sudah boleh memasukkan marga ke akte, sedangkan waktu adik saya lahir peraturannya sudah berubah dan boleh mencantumkan marga batak. Kertas akte saya juga cuma selembar kertas tipis yang jaman itu belum kenal yang namanya laminasi. Kadang-kadang saya cemas setiap kali harus membawa kertas aktenya, takut robek dan jadi urusan yang panjang.

Sebelum saya merantau ke Thailand, saya tidak pernah merasakan perlunya mencantumkan nama keluarga di akte saya, toh walaupun itu tidak ada di akte, marga saya tetap melekat dengan saya. Ternyata sekarang ini baru merasakan masalah tidak punya nama belakang.

Masalah pertama muncul waktu mengisi form untuk membeli tiket online, untungnya mereka akhirnya memberi contoh masukkan saja nama yang ada diulang sebagai nama depan dan nama belakang. Masalah berikut muncul ketika mengisi form untuk membuka rekening bank. Di sini, program mereka tidak menghandle seperti di program beli tiket online AirAsia. Akhirnya mereka mengarang sendiri misalnya last name saya jadi : No Surname, ataupun NA dan karena sistemnya tidak konsisten antara satu pihak dan lain, ini bisa membingungkan.

Di Thailand, beberapa form tidak menerima nama latin, jadi kita mau ga mau harus punya nama dalam aksara Thai. Nama kami dalam akte lahir anak-anak dituliskan dalam bahasa Thai walaupun kadang bunyinya ga bisa persis sama karena beberapa huruf di akhir kata akan berubah bunyi dalam aksara Thai. Contohnya, nama saya ris-na akan dibaca jadi rit-na, atau ri-sa-na. Hal ini jadi bahan pertimbangan kami waktu bikin nama anak-anak untuk mudah diucapkan dalam bahasa Indonesia, Inggris maupun Thailand. Untuk anak yang lahir di Thailand, otomatis nama mereka ada dituliskan dalam bahasa Thai di akte kelahirannya.

Waktu saya hamil, saya mendaftarkan nama saya sebagai pasien menggunakan nama akhir Joe sebagai nama keluarga. Masalahnya kadang-kadang saya lupa kalau saya pakai nama Nugroho bukan Saragih, jadi setiap kali ke dokter kandungan perlu waktu lama buat cari kartu pasien saya karena saya salah kasih nama pas daftar hehehe. Bertahun-tahun saya pakai nama belakang Saragih, tentunya ga gampang mengubah reflek mengingat nama belakang saya pakai Nugroho. Untuk membiasakan diri, saya pakai nama akhir Nugroho di profil Facebook saya.

Waktu kami punya anak, kami putuskan untuk memakai nama belakang Joe juga di belakang nama anak-anak. Berbeda dengan marga untuk orang batak, nama belakang yang kami berikan bukan marga untuk orang Jawa. Kami pakai saja nama belakang Joe. Berdasarkan pengalaman saya, kalau tidak ada nama belakang ke depannya akan jadi repot untuk mengisi formulir, dan juga karena kami tinggal di Thailand, nama belakang yang sama dengan Joe supaya orang tahu kalau mereka anak pak Nugroho :). Toh di sini ga banyak orang dengan nama belakang Nugroho, ga seperti di Indonesia hehehe. Untungnya juga menuliskan Nugroho dalam bahasa Thai relatif bisa dibaca dengan tepat, dan ga bernasib seperti nama saya yang berubah bunyi.

Untuk orang batak, marga berguna untuk mengetahui silsilah. Sebagian orang batak bahkan menomori marganya jadi bisa tahu keturunan ke berapa. Kebetulan, saya Batak Simalungun tidak tahu nomor marga dan sepertinya setiap pertemuan keluarga tidak pernah ditanya nomor berapa. Waktu saya pertama kali merantau ke Bandung, ketemu dengan orang batak lain itu serasa jadi bersaudara. Ketika bertemu orang bukan batak, mereka sering reflek bertanya kenal dengan pak ini atau bu itu Saragih yang mungkin saja terkenal karena pejabat atau sering masuk TV. Orang batak pasti tahu kalau ga semua batak saling kenal, tapi tidak demikian dengan orang yang bukan batak.

Beberapa waktu lalu, ada berita di tanah air tentang seorang boru Saragih yang ketangkap tangan KPK, ada juga seorang marga Saragih yang mencalonkan diri jadi Gubernur tapi ternyata ijasahnya palsu. Teman saya yang bukan batak tau-tau bertanya ke saya: wah Ris itu ada saragih begini begitu. Jawaban saya: saya ga kenal dan ga ada hubungannya dengan saya. Memang sebagian orang batak akan merasa malu-maluin marga aja tuh orang. Tapi saya sih ga merasa apa-apa hehehe. Bukan marganya yang bikin dia melakukan itu, memang dasar dianya aja begitu.

Di Thailand sini, banyak anak punya nama keluarga ikut ibunya. Hal ini mereka lakukan karena kalau orangtua bercerai, anak biasanya ikut ibu, dan mungkin juga karena banyak orang punya anak tanpa mendaftarkan pernikahan secara legal (mereka menikah cuma ke kuil saja). Saya ga tahu apakah di Indonesia boleh memakai nama belakang ibunya untuk mendaftarkan anak ke akte lahir. Mungkin kalau namanya bukan marga tapi nama seperti misalnya Anak Syalala atau Putri Sematawayang boleh-boleh saja kali ya, tapi saya ga tahu apakah di akte lahir boleh tidak mencantumkan nama bapaknya. Kalau ada yang tahu, silakan tulis di komen ya.

Kadang-kadang masalah nama keluarga (nama belakang) ini jadi pertanyaan Jonathan juga, kenapa oppung nama belakangnya beda dengan saya, kenapa eyang ga punya nama belakang dan kenapa saya katanya punya marga tapi ga punya nama keluarga di akte. Yang jelas sih, nama belakang itu perlu terutama buat isi form, jadi kalau bisa untuk yang belum punya anak, jangan lupa kasih nama anak jangan cuma 1 nama saja biar mereka ga repot kalau ada form isian yang wajib isi nama belakang. Dan juga pilihlah nama yang tidak terlalu sulit untuk diucapkan berbagai bangsa, jaman sekarang kita harus berpikir suatu saat anak-anak kita akan merantau keliling dunia, dan jangan sampai mereka jadi terkendala karena nama yang kita pilihkan.

Lulusan Kuliah IT seharusnya bisa apa?

Tahun lalu saya membaca mengenai skill yang seharusnya dimiliki lulusan SMK. Entah kenapa tulisan ini beredar lagi di timeline saya tahun ini. Ketika saya baca lagi mengenai skill yang diharapkan, kebanyakan skill ini bahkan tidak dimiliki oleh lulusan Sarjana Informatika/Ilmu Komputer/Teknologi Informasi (berikutnya akan saya singkat jadi: lulusan/sarjana IT).

Sudah menjadi fakta bahwa banyak lulusan IT yang tidak bisa memprogram (silakan baca artikel: Why can’t programmers.. program?). Separah ini:

Like me, the author is having trouble with the fact that 199 out of 200 applicants for every programming job can’t write code at all. I repeat: they can’t write any code whatsoever.

Sebelum diskusi masuk ke masalah pekerjaan, kesuksesan, jiwa entrepreneur, dsb saya ingin menekankan dulu: lulusan apapun dengan skill bagaimanapun bisa bekerja di berbagai bidang yang tidak sesuai jurusan yang diambilnya. Tapi jika sebuah negara ingin bisa maju di bidang tertentu, ya tentunya yang diharapkan adalah lulusan dari bidang tersebut memiliki skill yang baik dan berkontribusi di bidangnya. Lanjutkan membaca “Lulusan Kuliah IT seharusnya bisa apa?”

Kenapa Jarang Ngeblog?

Di masa awal kenal blog, rasanya semua mau dituliskan, tapi beberapa tahun belakangan saya makin jarang menulis di blog. Sebagian besar teman yang dulu ngeblog juga mulai pada berhenti ngeblog dan alasan utamanya ya gara-gara udah ditulis di Facebook. Sebagian teman lupa user id dan password, sebagian besar merasa ga punya waktu buat nulis karena berbagai kesibukan. Saya sendiri termasuk yang gak menyempatkan diri untuk nulis karena berbagai alasan termasuk urus anak.

Kesempatan duduk di depan komputer untuk menulis juga makin jarang sekarang ini. Setiap kali mau mengedit tulisan saya sering diganggu sama Jona atau Joshua. Sekarang yang paling sering gangguin ya Joshua, makanya akhirnya kalau mau nulis ya dari handphone, terus simpan di draft dan kalau ada waktu tanpa gangguan baru diedit. Sekarang sih kalau Joe ga sibuk bisa minta tolong diedit sama Joe sekalian biar Joe yang baca tulisan saya sebelum dipublish.

Setiap kali ada yang memakai komputer, Joshua ingin mengambil alih untuk mengetik huruf dan angka

Dulu selalu ada topik yamg ingin dituliskan sampai akhirnya pas mulai menuliskannya malah ga jadi dipublish dan dibiarkan dalam draft saja karena terlalu panjang rasanya tulisannya. Seringkali setelah tulisan dipublish ternyata saya sudah pernah menuliskan topik yang mirip dan saya bahkan lupa pernah menuliskan topik itu.

Dulu tulisan saya di blog banyak berupa keluhan, sekarang saya berusaha untuk menuliskan hal yang lebih positif dan atau informatif. Ternyata menuliskan hal yang positif dan informatif ini terkadang membutuhkan waktu ekstra untuk editing termasuk menambahkan gambar. Setelah punya anak, niatnya mau rajin menuliskan tentang anak-anak, tapi terkadang ada rasa kuatir juga terhadap orang yang menyalahgunakan informasi mengenai anak-anak kami kalau membagikan terlalu banyak informasi soal anak di blog. Pernah juga terpikir untuk menuliskan seputar mendidik anak, tapi kadang merasa saya juga masih harus belajar banyak. Akhirnya banyak hal hanya saya diskusikan dengan Joe saja dan ga jadi dituliskan.

Sekian lama ga nulis blog, saya bisa merasakan kalau tulisan saya makin tidak terstruktur. Beberapa kali berniat untuk mulai aktif lagi menulis, tapi akhirnya kelupaan lagi.

Sekarang saya mau memaksa diri untuk menulis lagi, saya ikutan grup menulis ODOPfor99days di FB (one posting one day for 99 days). Awalnya agak ragu buat ikutan, tapi Joe menyemangati dan yang penting dimulai saja. Kalau ga pernah dimulai mana bisa rajin ngeblog lagi. Targetnya sih biar konsisten menulis lagi. Menyempatkan diri untuk menulis dan semoga bisa menulis lebih terstruktur nantinya. Karena ini blog berdua, semoga posting saya ga bikin pembaca tulisan Joe jadi bosan karena tulisan saya ga teknis seperti tulisan Joe :).

Supaya saya tidak lupa, beberapa topik yang mungkin dituliskan dalam 99 hari ini ya seputar homeschooling dan Chiang Mai. Ada banyak tulisan kami mengenai Chiang Mai, tapi sebenarnya selalu ada hal baru yang bisa diceritakan soal Chiang Mai, sekalian kalau ada yang bertanya soal kota ini nantinya bisa dikasih link tulisan aja. Topik homeschooling ini sebenarnya sudah lama juga direncanakan untuk ditulis, tapi karena ini tahun pertama kami menghomeschool Jonathan, kadang saya merasa pengalamannya belum banyak. Bisa juga saya menuliskan topik homeschooling secara umum untuk pemula seperti kami. Selain 2 topik diatas, ada kemungkinan muncul topik-topik random tergantung mood menulis. Ah kalau kali ini ga jadi rajin menulis blog, jangan-jangan memang benar blog itu hanya trend sesaat hahaha.